Anda di halaman 1dari 20

Nama :

Anisa Kautsar Juniardi

NIM :

F0311016

Mengukur dan Mengendalikan


Aktiva yang Dikelola

Di beberapa unit usaha, fokus utamanya adalah pada laba yang


pengukurannya dari hasil selisih antara beban dan pendapatan. Dan untuk unit
usaha yang lain, laba tersebut dibandingkan dengan sebuah aktiva, yang nantinya
akan digunakan untuk menghasilkan sebuah laba. Didalam dunia nyata,
perusahaan lebih sering menyebutnya dengan istilah yaitu pusat laba,

tetapi

dalam bab ini akan sering disebut sebagai kata pusat investasi, untuk menyebut
sebuah pusat tanggung jawab.
Pusat investasi mempunyai semua masalah pengukuran yang yang berguna
untuk menentukan sebuah beban dan pendapatan. Pusat investasi ini menimbulkan
sebuah permasalahan baru tentang bagaiman cara untuk mengukur aktiva yang
akan digunakan, khususnya untuk aktiva mana yang akan dimasukan , Dan untuk
bagaimana menilai sebuah aktiva tetap dan aktiva lancar, Sebuah metode
penyusutan yang akan digunakan untuk aktiva tetap, kemudian aktiva perusahaan
mana yang perlu dialokasikan dan kewajiban manakah yang perlu dikurangi.
Salah satu tujuan utama dari organisasi bisnis adalah untuk
memaksimalkan tingkat pengembalian terhadap ekuitas pemegang saham,(adalah

tentang nilai sekarang bersih dari arus kas di masa yang akan datang). Dengan
Menghitung tingkat pengembalian adalah sebuah cara pengukuran yang paling
bagus atas kinerja para manajer di tiap unit usaha. Nilai tambah ekonomis atau
sering disebut (econmic value added atau EVA) secara konsep mempunyai sebuah
keunggulan daripada nilai yang lain seperti tingkat pengembalian investasi yang
disebut (return of investmen atau ROI) untuk mengevaluasi kinerja para manajer
manajer yang berada di unit usaha. Dan untuk beberapa unit usaha , mempunyai
fokus pada laba yang berasal dari selisih antara beban dan pendapatan.

Dalam struktur analisis ini akan membahas mengenai perlakuan alternatif


terhadap aktiva dan perbandingan antara ROI dengan EVA. Dua cara tersebut
membahas mengenai laba yang dikaitkan dengan aset yang digunakan, dan
alternatif apa yang paling menarik digunakan untuk menyediakan sebuah
informasi yang akan berguna sebagai pengambilan keputusan yang baik dan benar
, dan untuk pengukuran kinerja ekonomi di bagian unit usaha

Tujuan pengukuran dalam menggunaan aset yang merupakan analogi dari


sebuah tujuan pusat laba ada 2 , yaitu :
1. Yang pertama untuk memberikan sebuah informasi yang akan digunakan
untuk membuat sebuah keputusan yang tepat dan efektif mengenai aset
yang sering digunakan dan untuk memotivasi para manajer.
2. Yang kedua sebagai pengukur kinerja untuk unit usaha sebagai contoh
suatu entitas ekonomi.

Acuan terletak pada laba tanpa perlu khawatir terhadap aset yang yang
akan digunakan untuk menghasilkan laba, hal tersebut tidak bisa mencukupi untuk
disebut proses pengendalian. Kecuali, untuk sebagian jenis organisasi dan jasa
tertentu yang tidak terlalu signifikan jumlah modalnya, tujuan utama sebuah
perusahaan yang berpaku pada laba yaitu untuk mendapatkan return atau tingkat
pengembalian yang sesuai dengan tujuan atas modal yang digunakan dalam
mencapai laba tersebut.

Pihak manajemen senior seharusnya akan mengalami kesulitaan saat


membandingkan kinerja dari satu unit dengan kinerja unit lainnya , atau kata lain
dengan unit yang sama di lain perusahaan. Membandingan sebuah laba yang
berbeda tidakan akan mempunyai arti jika unit usaha tersebut mengunakan
sumber daya yang berbeda pula, dengan makna lain semakin banyak sumber daya
yang digunakan berbeda. Dan pada intinya semakin besar dan banyak sumber
daya yang dipakai makai semakin besar pula laba yang didapat.

Biasanya, para manajer dibagian unit usaha mempunyai dua sasaran


kinerja. Yang pertama yaitu mereka harus mendapatkan laba yang cukup dari
sumber daya yang digunakan tersebut . Yang kedua,

mereka diperbolehkan

menggunakan sumber daya tambahan, dan apabila hanya penggunaan sumber data
tersebut dapat menghasilkan tingkat pengembalian yang menjanjikan.
Para manajer dibagian unit usaha mempunyai dua sasaran kinerj, sebagai
berikut:

1)

Yang pertama mereka harus mendapatkan laba yang memadahi dari sumber

daya yang digunakan.


2)

Yang kedua mereka diperbolehkan menggunakan sumber daya tambahan,

dan apabila hanya penggunaan sumber data tersebut dapat menghasilkan tingkat
pengembalian yang menjanjikan
.
Tujuan

inti dari menghubungkan laba dengan investasi yaitu sebagai

memotivasi para manajer dibagian unit usaha guna mencapai tujuan atau sasaran
yang sudah dijelaskan diatas.

Tingkat pengembalian atas investasi atau disebut

(ROI) merupakan

sebuah rasio perbandingan. Pembilangnya dalam rasio ini adalah pendapatan yang
terdapat di laporan keuangan. Penyebutnya adalah aset aset yang digunakan
untuk mencapai sasaran yang ditetapkan tersebut.

Nilai tambahan ekonomi atau disebut (EVA) merupakan jumlah uang,


bukan sebuah rasio. EVA didapatkan dari hasil pengurangkan beban modal atau
disebut (capital charge) dari hasil laba operasi bersih atau disebut (net operating
profit). Dan beban modal yang diperoleh dari sebuah hasil perkalian antara jumlah
aset yang digunakan yang seperti diatas dengan suatu tingkat tarif tertentu.

EVA Versus ROI


Setiap perusahaan memiliki unit pusat investasi usahanya mengevaluasi
Unit - berbasis ROI, dibandingkan dengan penggunaan EVA. 3 keuntungan ROI :
1. ROI merupakan laporan komprehensif di mana semua mempengaruhi laporan
keuangan yang tercermin dalam rasio.
2. ROI mudah dihitung, mudah dipahami, dan sangat signifikan secara absolut.
3. ROI denominator dapat diterapkan di unit organisasi yang memiliki tanggung
jawab profitabilitas, tidak termasuk jenis-jenis usaha. Kinerja unit menjadi dapat

diperbandingkan. Berbeda dengan EVA, EVA tidak terdapat dasar perbandingan


semacam ini. Namun EVA memiliki 4 keunggulan. Alasannya :
a. Pertama, dengan EVA seluruh unit usaha memiliki target keuntungan
investasi yang sama. Sebagai perbandingan, pendekatan ROI sangat
berbeda dalam pemberian insentif investasi disetiap unt bisnis. Contoh,
unit bisnis yang memiliki 30 persen ROI akan cenderung gagal kecuali
unit ekspansi bisa mencapai ROI 30 persen atau lebih untuk penambahan
aset; tingkat pengembalian yang kurang dari target tersebut akan
menurunkan ROI yang telah dicapai secara keseluruhan sekarang. Jadi,
kesempatan ROI yang hilang di setiap unit usaha investasi di atas biaya
modal tetapi di bawah 30 persen. Demikian, unit usaha kini juga mencapai
ROI rendah, mengatakan pada 5 persen akan mendapatkan keuntungan
dari ROI atas jumlah aset tambahan atas 5persen. Sebagai konsekunsinya
ROI menciptakan bias terhadap sedikit pada ekspansi dalam bisnis yang
memiliki keuntungan tinggi, sementara pada saat yang sama, unit
rendahmelakukan menguntungkan pada tingkat di bawah tingkat
pengembalian investasi jauh di bawah tingkatpengembalian ditolak oleh
unit menguntungkan tinggi.
b. Keputusan-keputusan yang meningkatkan ROI suatu pusat investasi dapat
menurunkan laba keseluruhan. Penggunaan EVA sebagai ukuran berkaitan
dengan permasalahan tersebut. Metode ini berhubungan dengan investasi
aset yang ROI nya berada diantara biaya modal dan ROI yang sekarang
dicapai oleh investasi tersebut. Jika kinerja pusat investasi diukur dengan
EVA, maka investasi yang menggunakan laba di atas biaya modal akan

meningkatkan EVA dan oleh karena itu, akan lebih menarik bagi para
manajer. Penggunaan EVA sebagai ukuran yang berhubungan dengan
masalah tersebut. Metode ini berhubungan dengan ROI investasi asetnya
adalah antara biaya modal dan ROI yang sekarang dicapai oleh pusat
investasi. Jika kinerja pusat investasi dalam ukur dengan EVA, investasi
yang menghasilkan keuntungan di atas biaya modal dan EVA karena itu
akan meningkat, serta akan lebih menarik bagi manajer.
c. EVA adalah tingkat suku bunga yang berbeda dapat digunakan untuk jenis
aktiva yan berbeda pula. Degan demikian, para manajer unit usaha harus
bertindak secara konsisten ketika memutuskan untuk berinvestasi pada
aktiva yang baru. Selain itu jenis aktiva yang sama mungkin diperlukan
untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang sama pula, terlepas dari
profitabilitas unit bisnis.
d. Keempat EVA berlawanan dengan ROI, memiliki korelasi positif yang
lebih kuat terhadap perubaha-perubahan dalam nilai pasar perusahaan,
adalah bahwa EVA, berbeda dengan ROI. Stakeholder merupakan pemilik
kepentingan yang penting di dalam suatu perusahaan. Beberapa alasan
mengapa penciptaan oleh pemegang saham menjadi sangat penting :
a) Mengurangi resiko pengambilalihan (takeover)
b) Menciptakan nilai dalam pertukaran untuk merger dan akuisisi agresif
c) Mengurangi biaya modal, sehingga memungkinkan investasi yang lebih cepat
untuk pertumbuhan di masa depan.

EVA bisa diukur dengan cara :


EVA = Laba bersih Beban modal
Atau
EVA = Modal yang digunakan (ROI- Biaya modal)
Dilihat dari kelemahan ROI, namun itu dapat digunakan untuk kalangan yang
luas. Namun lingkup dari kesalahan tersebut tidak dapat ditentukan karena tidak
semua manajer sanggup mengakui kesalahan tersebut dan manajer sendiri banyak
yang tidak menyadari adanya banyak kesalahan.

Penggunana EVA sangat diperlukan untuk pengukuran kinerja . Namun EVA


mempunyai titik kelemahan dalam perhitungan aset tetap, yaitu EVA tidak dapat
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aset tetap. Terkecuali dengan
metode anuitas.

MENGUKUR AKTIVA YANG DIGUNAKAN

1. Kas
Semua perusahaan pasti mengendalikan kas secara terpusat disebabkan
karena pengendalian pusat Mungkin memakai saldo kas lebih kecil dibandingnkan
dengan setiap unit usaha yang memegang sejumlah saldo kas dan kemudaian
digunakan unuk menyeimbangkan dan menyelaraskan perbedaan antara arus kas
keluar dan arus kas masuk. Dan berdampak, saldo kas aktual yang berada pada
tingkat unit usaha biasanya akan lebih kecil dibandingkan dengan sejumlah saldo
kas yang digunakan, apabila unit usaha adalah sebuah perusahaan independent.
Maka akan banyak perusahaan yang memakai rumus untuk menghitung kas yang
kemudian akan dimasukkan dalam dasar - dasar investasi.

Ada alasan mengapa memasukkan kas pada jumlah yang lebih banyal dan
besar dibandingkan saldo yang biasanya dipegang oleh bagian suatu unit usaha
dimana jumlah saldo yang lebih besar ini diperlukan dan digunakan untuk
perbandingan dengan perusahaan luar. Sebagian perusahaan akan mengabaikan
unsur kas didalam dasar- dasar investasi. Alasannya adalah karena jumlah saldo
kas tersebut mendekati kewajiban lancer atau sering disebut (current liabilities).
Jika terjadi demikian maka jumlah piutang dan perusahaan akan semakin
mendekati jumlah modal kerja atau yang disebut (working capital)

2. Piutang

Memasukkan unsur-unsur piutang dalam harga jual atau didalam harga


pokok

penjualan

Adalah

sebuah

hal

yang

masih

diperdebatkan

dan

diperbincangkan. Karena suatu pihak dapat berargumen bahwa apabila investasi


riil dari suatu unit dalam piutang akan hanya berupa dan sebesar harga pokokk
penjualann dan bahwa tingkat pengembalian yang memuaskan dan memadai atas
hasil investasi ini mugkin sudah dapat mencukupi. Dilain pihak ada sebuah
argumen juga bahwa piutang ini mungkin berguna untuk mengatakan bahwa
setiap unit usaha dapat dan diperbolehkan menginvestasikan kembali uang yang
didapatkan dari piutang, dan oleh karena itu, piutang tersebut harus dimasukkan
pada tingkat harga jualnya. Yang dilakukan untuk mengambil dan memutuskan
alternatif yang lebih sederhana biasanya dengan cara memasukan piutang sesuai
dengan nilai buku, dari hasil yaitu harga jual dikurangi saldo dari penyisihan atas
piutang tak tertagih. Jika setiap unit usaha tidak dapat mengendalikan penagihan
maupun kreditnya, maka penghitungan piutang harus berdasarkan rumus. Rumus
yang digunaka tersebuh harus konsisten dengan periode untuk pembayaran
normal.

3. Persediaan
Biasanya persediaan dicatat jumlahnya pada akhir periode walaupun
secara konsep dengan metode rata-rata antar periode lebih baik. Apabila
perusahaan menggunakan (last in, first out atau LIFO) sebagai tujuan akuntansi
keuangannya, dan metode penilaian lain yang sering digunakan dalam pelaporan
laba pada unit usaha, karena saldo persediaan metode LIFO biasanya sangat
rendah pada saat terjadinya inflasi.

Apabila persediaan barang dalam proses atau sering disebut (work-inprocess) Mendapatkan dana melalui pembayaran dimuka atau yang disebut
(advance payment) atau mendapat dari pembayaran cicilan atau (progress
payment) dari seorang konsumen, jika seperti ini yang biasa terjadi yaitu, jika
barang yang dibutuhkan memakan waktu produksi yang lama. Kemudian
pembayaran tersebut akan dikurangi, berdasarkan dari jumlah persediaan kotor
atau biasa disebut (gross inventory amounts), atau bisa saja dilaporkan sebagai
kewajiban. Sebagian besar perusahaan mengurangkan akun utang usaha dari
sebuah persediaan dengan dasar dasar bahwa utang tersebut mencerminkan
sebuah pendanaan atas sebagian besar persediaan dari pemasok, dan tanpa
mengunakan biaya untuk unit usaha. Kemudian modal perusahaan yang akan
digunakan untuk persediaan merupakan selisih antara jumlah utang dan
persediaan kotor. Apabila unit usaha tersebut juga bisa mempengaruhi terhadap
periode

pembayaran

yang

diperbolehkan

dari

pemasok,

dan

akhirnya

memasukkan unsur unsur yang berkaitakan dengan utang dalam perhitungan itu
dapat mendorong manajer untuk menemukan persyaratan pemmbayaran yang
terbaik dan efektif.

4. Modal Kerja secara Umum

Yang keempat , Disini perlakuan atas modal kerja sangat beragaman dan
bermacam - macam. Pada intinya, perusahaan harus memasukkan seluruh aktiva
lancarnya ke menuju ke dasar - dasar investasi dengan cara tidak mengeliminasi

kewajiban lancar perusahaan. Metode tersebut mempunyai sebuah alasan dari


berasal dari sudut pandang motivasional apabila

unit usaha tidak bisa

mempengaruhi kewajiban lancar lainnya atau hutangnya. Tetapi dalam metode


tersebut terlalu menyatakan terlalu tinggi atau (overstate) untuk jumlah modal
korporat yang akan digunakan untuk mendanai unit usaha, dan disebabkan
kewajiban lancar merupakan sumber modal, kebanyakan dengan biaya bunga
dinilai sama dengan nol. Dari beberapa pihak, seluruh kewajiban lancar bisa saja
dikurangkan dari sektor aktiva lancar.

5. Properti, Pabrik, dan Peralatan

Didalam akuntansi keuangan, sebenarnya aktiva tetap pada awalnya


dicatat pada biaya perolehan, kemudian biaya ini dihapus atau dihilangkan
sepanjang umur ekonomis dengan cara melalui penyusutan. Dan sebagian besar
perusahaan biasanya menggunakan pendekatan yang sama untuk mengukur
profitabilitas berdasarkan aktiva dari unit - unit usaha. Hal ini bisa saja
menyebabkan pemasalahan serius didalam pemakaian sistem tersebut.
Permasalahan tersebut berupa, adalah :
1. Yang pertama yaitu Akuisisi peralatan baru
2. Yang kedua yaitu Nilai buku kotor
3. Yang ketiga yaitu Disposisi aktiva
4. Yang empat yaitu Penyusutan Anuitas
5. Yang kelima yaitu Metode penilaian yang lain

6. Aset-aset yang disewagunausahakan

Terdapat banyak sekali perjanjian tentang sewa guna usaha merupakan


perjanjian dana, yang dimaksud disini yaitu perjanjian yang dapat memberikan
alternatif yang tepat untuk mengunakan aktiva yang bisa saja didapat melalui
pendanaan dengan modal dan utang. Ada juga sewa guna usaha finansial, adalah
sebuah sewa guna usaha yang berjangka panjang dan setara dengan nilai sekarang
yang berasal dari arus beban sewa, dan dilaporakan sama dengan utang di neraca.
Keputusan pendanaan biasanya diatur dan dilaksanakan oleh kantor pusat. Karena
hal ini , terdapat pembatasan biaya dan adanya kebebasan manajer unit usaha
untuk melakukan sewa guna usaha atas sebuah aktiva.

7. Aktiva yang Menganggur

Sebuah unit usaha pasti terdapat aktiva yang menganggur dan kemudian
dapat digunakan oleh unit bisnis lain, dengan kata lain unit usaha tersebut dapat
saja memperbolehkan untuk mengeluarkan aktiva berdasarkan dasar investasinya.
Tujuan dari perizinan ini untuk mengerakan para manajer dibagian unit usaha
untuk melepaskan aktiva yang menggangur tersebut keunit lain yang ada
kemungkinan memerlukannnya. Tetapi , dalam kasus aktiva tersebut tidak
digunakan oleh unit usaha lain maka solusinya adalah menjual atau menganti
tersebut untuk memberikan hal yang bisa menimbulkan tndakan yang
disfungsionall.

8. Aktiva Tidak Berwujud

Terdapat keuntungan dalam mengkapitalisasi aktiva tidak berwujud sperti


contohnya R&D dan pemasaran, hal tersebut kemudain diamortisasiakan
berdasarakan masa manfaat aktiva tersebut. Metode itu akan bisa saja mengubah
pandangan manajer unit usaha untuk mengelurakan biaya semacam ini. Dengan
cara menghitung aktiva semacam ini bisa saja merupakan investasi jangka
panjang, dan pada akhirnya unit usaha akan memperoleh lebih sedikit manfaat
jangka panjang yang berasal dari pengurangan atas pos pos tersebut.

9. Kewajiban Tidak Lancar

Sebuah unit usaha akan menerima sejumlah modal permanennya dari


sekumpulan dana dana korporat. Korporat memperoleh sejumlah dana tersebut
dari hasil pemberi pinjaman , laba ditahan dan investor modal. Untuk pihak unit
usaha, jumlah tersebut termasuk relevan , tetapi jumlah tersebut tidak relevan
dengan sumber daya dari mana sejumlah dana berasal. Bagaimanapun , dalam
situasi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan , pendanaan sebuah unti usaha
akan dianggap aneh bagi unit usaha tersebut.

10. Beban Modal

Dan disini kantor korporat menentukan sendiri tarif yang akan digunakan
untuk mengukur jumlah beban modal. Dana dari tarif tersebut seharusnya akan
lebih tinggi dari pada tarif yang berasal dari korporat sebagai pendanaan dengan
utang, karena dana yang terlibat merupakan hasil campuran dana modal dan utang
yang lebih tinggi. Dan pada akhirnya tarif tersebut ditetapkan berada dibawah
estimasi modal perusahaan yang akan berakibat EVA atas rata rata yang ada
diunit usaha, bisa berada diatas nol.

11. Survei-survei Praktek


Sebagian besar perusahaan memasukkan unsur aktiva tetap sebagai dasar
investasi
Ke dalam nilai buku bersih. Perusahaan-perusahaan tersebut melakukan hal
tersebut karena ini merupakan jumlah dimana aktiva aktiva tersebut kemudian
dicatat ke dalam laporan keuangan, dan oleh karena itu, sesuai dengan laporan
keuangan tersebut dapat dilihat bahwa sejumlah modal yang akan digunakan
dalam divisi tersebut.

PERTIMBANGAN TAMBAHAN DALAM MENGEVALUASI


MANAJER
Dengan menganalisis dar kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam
penggunaan metode ROI, sangat menarik karena tetap banyak perusahaan yang
menggunakan metode ini. Kesalahan konsep umum dalam penggunaan ROI yang

berkaitan

dengan

evaluasi

kinerja,

yaitu

mengenai

fakta

yang

dapat

mengakibatkan adanya perilaku disfungsional dari setiap manajer unit usaha


perusahaan. Tidak heran, banyak sekali manajer unit-unit usaha yang tidak
menyadari kesalahan yang telah terjadi.
Penggunaan dari EVA sebagai suatu metode untuk mengukur kinerja
sangatlah dianjurkan. Tetapi, EVA masih tidak mampu untuk menyelesaikan
seluruh permasalahan terkait dengan asset tetap, kecuali jika didukung dengan
penggunaan metode anuitas. Dalam penggunaan metode nilai buku kotor (gross
book value), suatu unit usaha dapat meningkatkan kemampuan EVA perusahaan
dengan mengadopsi tindakan yang berlawanan dengan kepentingan perusahaan.
Berbeda dengan metode nilai buku kotor, bila perusahaan menggunakan metode
nilai buku bersih (net book value), EVA secara otomatis akan meningkat seiring
dengan berlalunya waktu penggunaan. EVA dapat menyelesaikan permasalahan
yang timbul akibat dari perbedaan potensi laba setiap unit-unit bisnis dalam
perusahaan.
Beberapa aktiva dapat dinyatakan terlalu rendah nilainya begitu telah
dilakukannya kapitalisasi, sementara aktiva lainnya berada dalam kondisi yang
sama ketika dibebankan. Walaupun pembelian awal aktiva tetap seringkali
dikapitalisasi, sebagian besar investasi dalam biaya permulaan, pengembangan
suatu produk baru, dan sebagainya bisa saja dihapuskan sebagai beban, dengan
demikian tidak akan dapat terlihat dalam dasar investasi. Hal ini khususnya
diterapkan di unit-unit pemasaran. Pada unit unit tersebut, besarnya jumlah
investasi perusahaan seringkali terbatas pada piutang, persediaan, perabotan, dan
juga peralatan kantor. Saat sekelompok unit usaha yang memiliki tingkat

tanggungjawab yang berbeda, diberikan peringkat atau ranking, akan terlihat


bahwa unit-unit yang memiliki kegiatan pemasaran yang relatif besar akan
memiliki EVA yang lebih besar pula begitu sebaliknya.
Hal itu dapat dijadikan pertimbangan oleh perusahaan, beberapa
perusahaan lalu membuat keputusan, yaitu dengan memutuskan untuk
mengeluarkan setiap unsur-unsur yang berkaitan dengan asset tetap atas dasar
investasi. Perusahaan lalu membebankan beban bunga sebagai aset yang bisa
dikendalikan, dan pengendalian aset tetap dengan menggunakan aktiva terpisah.
Aktiva yang dapat dikendalikan pada dasarnya merupakan modal kerja. Dasar
untuk menilai perusahaan bisa menggunakan laporan laporan ekonomi . Nilai
tersebut disebut break value, yaitu estimasi jumlah yang akan diterima oleh
pemegang saham jika ada masing-masing unit yang dijual. Misalnya saja ketika
perusahaan dalam kondisi tingkat persediaan yang terlalu tinggi, hal itu akan
menimbulkan pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu dan resiko kerusakan akan
meningkat. Sedangan ketika perusahaan dalam kondisi tingkat persediaan yang
terlalu rendah, maka dapat menyebabkan kekurangan persediaan yang kemudian
berlajut dengan gangguan produksi serta hilangnya peluang bisnis.
Investasi dalam bentuk aktiva tetap dikendalikan oleh proses anggaran
modal sebelum terjadinya dan juga oleh audit setelah penyelesaian (post
completing audit) guna menentukan adanya arus kas yang diantisipasi
kemungkinan terwujudnya. Breakup value sangat berguna untuk organisasi luar
yang akan mengambil penawaran pengambil alihan perusahaan dan laporan
tersebut sangat beguna untuk menilai suatu tawaran.

MENGEVALUASI KINERJA EKONOMI SUATU ENTITAS


Pembahasan sampai saat ini masih terfokus pada pengukuran kinerja dari
manajer - manajer unit usaha. Laporan manajemen dibuat tiap bulan atau per
kuartal sementara laporan kinerja ekonomi umumnya dibuat dengan selang waktu
yang tidak tetap, misalnya dalam selang beberapa tahun hanya dibuat sekali.
Secara konsep, nilai dari suatu usaha adalah nilai sekarang dari pendapatan
yang akan datang di masa depan. Hal tersebut dapat dihitung dengan
mengestimasi berapa jumlah arus kas untuk setiap tahun di masa depan dan
mendiskontokannya pada tarif laba yang telah ditentukan sebelumnya. Analisis ini
dilakukan untuk lima atau sepuluh tahun yang akan datang.
Laporan - laporan ekonomi adalah instrumen yang diagnostik. Laporan
tersebut dapat memberikan indikasi mengenai apakah strategi unit usaha yang ada
sekarang ini sudah memuaskan. Fungsi lainnya adalah untuk mengevaluasi
kemungkinan keputusan apa yang harus diambil untuk suatu unit usaha ekonomi
atas suatu unit usaha agar dapat memperlihatkan bahwa rencana yang dibuat
sekarang ini atas produk, pabrik, peralatan, atau strategi baru yang lain.
Selain itu, laporan - laporan ekonomi dapat juga dijadikan sebagai dasar untuk
memperoleh nilai perusahaan secara menyeluruh. Nilai semacam ini disebut
dengan breakup value, yang merupakan estimasi jumlah yang akan atau dapat
diterima oleh pemegang saham perusahaan jika masing - masing unit usaha
tersebut dijual. Laporan tersebut akan menunjukkan unit usaha mana yang terlihat
menarik dan dapat memeberikan informasi bahwa manajemen senior telah salah
mengalokasikan waktu mereka yang terbatas, seperti, menghabiskan waktu terlalu

banyak untuk unit usaha yang tidak banyak memberikan kontribusi pada
profitabilitas total dari perusahaan.
Perbedaan yang paling terlihat antara kedua jenis laporan tersebut adalah laporan
ekonomi lebih fokus pada profitabilitas di masa depan daripada profitabilitas
sekarang ini atau yang telah berlalu.
Pusat investasi pada dasarnya memiliki semua masalah terkait dengan pengukuran
yang terkait dalam penentuan beban dan pendapatan. Pusat investasi dapat
menimbulkan permasalahan baru mengenai bagaimana mengukur aktiva yang
digunakan, khususnya aktiva yang mana, bagaimana menilainya, metode
penyusutan apa, aktiva perusahaan mana, dan juga kewajiban mana yang harus
dilakukan pengurangan.
Tujuan penting dari organisasi bisnis adalah untuk mengoptimalkan tingkat
pengembalian atas ekuitas pemegang saham, seperti, nilai sekarang bersih dari
arus kas masa depan. Tidaklah praktis untuk menggunakan pengukuran semacam
ini untuk mengevaluasi kinerja dari para manajer unit usaha per bulan atau per
kuartal. Menghitung tingkat pengembalian merupakan pengukuran yang paling
baik atas kinerja dari para manajer unit usaha. Nilai tambah ekonomis (economic
value added - EVA) pada dasarnya memiliki keunggulan lebih daripada dengan
menggunakan tingkat pengembalian investasi (return on investment - ROI) dalam
mengevaluasi setiap kinerja dari para manjer unit usaha.
Selain pos - pos laporan laba rugi, pada saat menetukan tujuan laba tahunan harus
memiliki tarif bunga yang eksplisit terhadap saldo yang nantinya akan

diproyeksikan ke dalam pos modal kerja yang dapat dikendaliakan, terutama


piutang dan persediaan.