Anda di halaman 1dari 20

NUTRISI PADA TUMBUHAN

LAPORAN PRAKTIKUM
untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisiologi Tumbuhan
yang dibimbing oleh Ibu Prof. Dr. Herawati Susilo, M.Sc. Ph.D
dan Ibu Balqis, S.Pd, M.Si

Kelompok 4
Offering B
Anggota:
Auliyah Shofiyah
Firmanya Marsudi Wicaksana
Luluk Faricha
Muhammad Marjoko Wibisono
Vilda Rima Aulia Zahroh

130341614790
130341614810
130341614805
130341603374
130341614807

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2014

A. Topik

: Nutrisi Pada Tumbuhan

B. Tujuan

: Praktikum ini bertujuan untuk

Mengetahui elemen-elemen yang dibutuhkan oleh suatu tumbuhan

Membedakan pengaruh defisiensi suatu elemen terhadap pertumbuhan


tanaman

C. Dasar Teori :
Tumbuhan memerlukan nutrisi untuk hidup dari lingkungannya. Nutrisi
yang esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan terdiri dari
makro dan mikro nutrien. Unsur makro diperlukan tanaman dalam jumlah
yang relatif banyak, sedangkan unsur mikro diperlukan tumbuhan dalam
jumlah yang relatif sedikit (Kriangsek, 1986).
Makronutrien merupakan unsur yang sangat diperlukan oleh tanaman
dalam jumlah yang banyak. Yang terbagi lagi dalam unsur esensial dan unsur
non esensial. Elemen makronutrien yang tergolong di dalam unsur esensial
ialah Karbon (C), Hidrogen (H) , Oksigen (O) ,Nitrogen (N), Fosforus(P) dan
Kalium(K). Unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen cukup mudah
diperoleh tanaman melalui udara dan air. Menurut (Dahlia,2000) kelompok
makronutrien terdiri atas C,H,O,P,K,N,S,Ca,Fe, dan Mg. Sedangkan
kelompok mikroelemen terdiri atas Mn,B,Zn,Cl, dan Mo. Elemen makro
berfungsi unuk proses elektrokimia, pembentuk struktur tumbuhan dan terlibat
aktif dalam reaksi katalitik. Elemen mikro hanya melakukan fungsi katalitik.
Unsur-unsur esensial tersebut diperlukan oleh tumbuhan untuk proses
tumbuh dan berkembang serta sangat penting dalam melengkapi siklus
hidupnya. Oleh karena itu, keberadaan unsur-unsur esensial ini tidak dapat
digantikan oleh unsur-unsur yang lainnya, selain fungsi dari unsur-unsur
tersebut bersifat langsung. Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi sehingga
suatu unsur dapat disebut sebagai unsur esensial: yang pertama Unsur tersebut
diperlukan untuk menyelesaikan satu siklus hidup tanaman secara normal
yang kedua unsur tersebut memegang peran yang penting dalam proses
biokhemis tertentu dalam tubuh tanaman dan peranannya tidak dapat
digantikan atau disubtitusi secara keseluruhan oleh unsur lain. Serta yang

ketiga, peranan dari unsur tersebut dalam proses biokimia tanaman dibutuhkan
secara langsung (Rahayu, 2011).
Apabila tanaman tidak mendapatkan unsur tersebut tidak dapat
menyelesaikan siklus hidup secara penuh, unsur yang bersangkutan terlibat
langsung dalam proses metabolisme, fungsi fisiologisnya tidak dapat
digantikan oleh unsur lain. Pada kondisi tertentu, tanaman dapat kekurangan
salah satu unsur hara yang diperlukan yang berakibat pada timbulnya gejalagejala defisiensi yang kadangkala gejala tersebut sangat khas untuk unsur
tertentu (Rahayu, 2011).
Jika ketersediaan unsur hara esensial kurang dari jumlah yang
dibutuhkan tanaman, maka tanaman akan terganggu metabolismenya yang
secara

visual

dapat

terlihat

dari

penyimpangan-penyimpangan

pada

pertumbuhannya. Gejala kekurangan unsur hara ini dapat berupa pertumbuhan


akar, batang atau daun yang terhambat (kerdil) dan klorosis pada berbagai
organ tanaman (Salim, 2011).
Peranan dari setiap unsur hara mineral dalam pertumbuhan tanaman
dikemukakan secara singkat di dalam uraian-uraian di bawah ini .
1. Kalsium (Ca)
Defisiensi unsur

Ca

meyebabkan

terhambatnya

pertumbuhan

sistem

perakaran, selain akar kurang sekali fungsinyapun demikian terhambat, gejalagejalanya yang timbul tampak pada daun, dimana daun-daun muda selain
berkeriput mengalami perubahan warna, pada ujung dan tepi-tepinya klorosis
(berubah menjadi kuning) dan warna ini menjalar diantara ujung tulang-tulang
daun, jaringan-jaringan daun pada beberapa tempat mati. Kuncup-kuncup
yang telah tumbuh mati. Defisiensi unsur Ca menyebabkan pula pertumbuhan
tanaman demikian lemah dan menderita. Hal ini dikarenakan pengaruh
terkumpulnya zat-zat lain yang banyak pada sebagian dari jaringanjaringannya. Keadaan yang tidak seimbang inilah yang menyebabkan lemah
dan menderitanya tanaman tersebut atau dapat dikatakan karena distribusi zatzat yang penting bagi pertumbuhan bagian yang lain terhambat ( tidak lancar)
(Salim, 2011).

2. Besi (Fe)
Defisiensi zat besi sesungguh-nya jarang sekali terjadi. Terjadinya gejalagejala pada bagian tanaman terutama daun yang kemudian dinyatakan sebagai
kekurangan tersedia-nya zat Fe (besi) adalah karena tidak seimbang
tersedianya zat Fe dengan zat kapur pada tanah yang berkelebihan kapur dan
yang bersifat alkalis. Jadi masalah ini merupakan masalah pada daerah
daerah yang tanahnya banyak mengandung kapur. Gejala-gejala yang tampak
pada daun muda, mula-mula secara setempat-tempat berwarna hijau pucat atau
hijau kekuningan-kuningan, sedang tulang-tulang daun tetap berwarna hijau
serta jaringan-jaringannya tidak mati. Selanjutnya pada tulang-tulang daun
terjadi klorosis yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi warna kuning
dan ada pula yang menjadi putih. Gejala selanjutnya yang paling hebat terjadi
pada musim kemarau, daun-daun muda yang banyak yang menjadi kering dan
berjatuhan (Salim, 2011).
3. Nitrogen (N)
Unsur ini penting bagi tanaman dapat disediakan oleh manusia melalui
pemupukan. Nitrogen umumnya diserap oleh tanaman dalam bentuk NO3- dan
NH4+ walaupun urea (H2NCONH2) dapat juga dimanfaatkan oleh tanaman
karena urea secara cepat dapat diserap melalui epidermis daun. Jarang sekali
bahwa urea diabsorpsi melalui akar karena di dalam tanah urea dihidrolisa
menjadi NH4+.
Nitrogen yang diserap ini di dalam tanaman diubah menjadi N, -NH, -NH2.
bentuk reduksi ini kemudian diubah menjadi senyawa yang lebih kompleks
dan akhirnya menjadi protein.Protein di dalam sel-sel vegetatif tanaman,
umumnya adalah peranan fungsional daripada struktural. Sebagian besar
berupa enzym dan sisanya berupa nucleoprotein dimana sebagian terdapat di
dalam kromosom. Dengan demikian maka protein bersifat seperti katalisator
dan sebagai pemimpin dalam proses metabolisme. Protein-protein yang
fungsional tidak stabil, mereka selalu pecah dan kemudian membentuk
kembali.
Kekurangan N biasanya menyebabkan pertumbuhan tanaman tertekan dan
daun-daun menjadi kering. Gejala chlorosis mula-mula timbul pada daun yang

tua sedangkan daun-daun muda tetap berwarna hijau. Kenyataan ini


membuktikan mobilitas N di dalam tanaman. Apabila akar tanaman tidak
dapat mengambil N cukup untuk pertumbuhannya maka senyawa N di dalam
daun-daun yang tua menjalani proses autolysis. Dalam hal ini protein dirubah
menjadi bentuk yang larut dan ditranslokasi ke bagian-bagian yang muda
dimana jaringan meristemnya masih aktif. Pada keadaan kandungan N yang
rendah sekali, daun akan menjadi coklat dan mati (Salim, 2011).
4. Magnesium (Mg)
Magnesium diabsorpsi dalam bentuk ion Mg dan merupakan satu-satunya
mineral yang menyusun chlorophyl. Dengan demikian maka peranan Mg
menjadi cukup jelas. Kadar Mg dalam tanaman berkisar antara 0.1 0.4
%.Walaupun sebagian besar magnesium dijumpai di dalam chloropyl, tetapi
sering juga cukup banyak dijumpai di dalam biji. Nampaknya ia mempunyai
hubungan dengan metaolisme fosfat dan juga memegang peranan khusus
dalam mengaktifkan beberapa sistem enzym. Mg juga berperan dalam sintesa
protein dan Mg diduga mendorong pembentukkan rantai polypeptide dari
asam-asam amino. Oleh sebab itu kekurangan g mengakibatkan jumlah Nprotein menurun dan N-protein meningkat (Gardner, 1991).
5. Fosfor ( P )
Fosfor (P) merupakan unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar
(hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil dibandingkan Nitrogen
dan Kalium. Tetapi fosfor dianggap sebagai kunci kehidupan (Key of life).
Unsur Fosfor di tanah berasal dari bahan organik, pupuk buatan dan mineralmineral di dalam tanah (apatit). Tanaman menyerap fosfor dalam bentuk ion
ortofosfat (H2PO4-) dan ion ortofosfat sekunder (HPO4-). Unsur P masih
dapat diserap dalam bentuk lain, yaitu bentuk pirofosfat dan metafosfat,
bahkan kemungkinan unsur P diserap dalam bentuk senyawa oraganik yang
larut dalam air, misalnya asam nukleat dan phitin.
Fosfor yang diserap tanaman dalam bentuk ion anorganik cepat berubah
menjadi senyawa fosfor organik. Fosfor ini mobil atau mudah bergerak antar
jaringan tanaman. Kadar optimal fosfor dalam tanaman pada saat
pertumbuhan vegetatif adalah 0.3% - 0.5% dari berat kering tanaman.Fungsi

fosfor (P) adalah untuk pembelahan sel, pembentukan albumin, pembentukan


bunga, buah dan biji. Selain itu fosfor juga berfungsi untuk mempercepat
pematangan

buah,

memperkuat

batang,

untuk

perkembangan

akar,

memperbaiki kualitas tanaman, metabolisme karbohidrat, membentuk


nucleoprotein (sebagai penyusun RNA dan DNA) dan menyimpan serta
memindahkan energi seperti ATP. Unsur Fosfor juga berfungsi untuk
meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakiT (Rosmarkam dan
Yuwono,2002).
D. Alat dan Bahan
Alat

Bahan
Botol berwarna gelap
Kapas
Labu takar
Gelas ukur
Batang pengaduk
Beaker glass
Kertas label
Benang bol
mistar

Tanaman kacang
hijau
KNO3
MgSO4
KH2PO4
CaCl2
NaCl
FeEDTA

E. Langkah Kerja
Membuat larutan hidroponik
Disiapkan KNO3 sebanyak 1 gram, MgSO4 ,KH2PO4,CaCl2 masing-masing
0,5 gram , NaCl Sebanyak 0,25 gram , dan FeEDTA 0,01 gram

Dibuat larutan hidroponik larutan lengkap dan larutan defisiensi ,Mg,P,Ca,


dan Fe
Disiapkan botol berwarna gelap
Beri label pada masing-masing botol
Di tuang larutan tersebut pada botol berwarna gelap sesuai dengan label yang
Menanam tanaman dalam larutan hidroponik
diberikan
Ditutup botol tersebut dengan baik

Dikecambahkan biji kacang hijau pada kapas basah hingga muncul daun pertama

Siapkan 6 botol berwarna gelap denganvolume 150 ml


Di isi masing-masing botol dengan 140 ml larutan sach dalam berbagai macam
defisiensi mineral
Diberi label pada setiap botol sesuai dengan defisiensi garam mineralnya

Ditandai batas atas larutan dengan spidol


Diambil 6 tanaman kacang hijau
Diukur dan dicatat tinggi setiap tanaman meliputi : rerata penjang akar, jumlah
akar, panjang dan lebar daun, jumlah daun, warna dan keadaan daun

Masukan masing-masing tanaman dalam botol yang telah berisi larutan sach
dalam berbagai macam defisiensi mineral
Diganjal tanaman dengan menggunakan kapas yang juga berfungsi sebagai
penutup botol
Diletakan botol pada tempat yang cukup mendapat sinar
Diamati pertumbuhan tanaman setiap 2 hari sekali selama 3 minggu
Ditambahkan aquades bila jumlah larutan dalam botol berkurang sampai batas
atas dan diganti larutan sach setiap 10 hari
Hasil

F. Data Pengamatan
Hari

Perlakuan

Lebar

Panjang

Warna daun dan

daun

daun

keadaan daun

Lengkap

0,8; 0,9

2,6; 2,8

Hijau

Normal

Defisiensi N

0,8; 0,9

2,7; 2,7

Hijau

Normal

ke1

Defisiensi

0,8; 0,8

2,6;, 2,7

Hijau

Normal

Defisiensi P

0,8; 0,9

2,7; 2,6

Hijau

Normal

Defisiensi Ca

0,7; 0,9

2,6; 2,3

Hijau

Normal

Defisiensi Fe

0,7; 0,9

2,5; 2,7

Hijau

Normal

Lengkap

0,9; 1

2,9; 3

Hijau

Normal, segar

Defisiensi N

0,9; 0,9

2,8; 2,9

Hijau

Normal, segar

Defisiensi

0,9; 0,9

2,8; 2,8

Hijau

Normal, segar

Defisiensi P

0,9; 0,9

2,9; 2,8

Hijau

Normal, segar

Defisiensi Ca

0,9; 1

2,8; 2,6

Hijau

Normal, segar

Defisiensi Fe

0,9; 1

2,8; 3

Hijau

Normal, segar

Lengkap

1,1; 1,2

3,5; 3,4

Hijau

Normal, segar

Defisiensi N

1,0; 1,1

3,4; 3,6

Hijau muda

Menekuk

Mg

Mg

di

ujung
Defisiensi

1,0; 1,1

3,3; 3,5

Hijau muda

Kusut dan tipis

1,1; 1,1

3,4; 3,2

Hijau

Menekuk

Mg
Defisiensi P

di

ujung

Defisiensi Ca

1,1; 1,1

3,2; 3,2

Hijau muda

Normal

Defisiensi Fe

1,1; 1,3

3,4; 3,6

Hijau

Normal

Lengkap

1,1; 1,2

3,5; 3,8

Hijau

Normal, segar

Defisiensi N

1,2; 1,2

3,4; 3,8

Hijau muda Menekuk


kekuningan

Defisiensi

1,1; 1,1

3,4; 3,8

Mg
Defisiensi P

ujung

Hijau muda Kusut


kekuningan

1,2; 1,3

3,4; 3,3

Hijau muda

Sedikit
melengkung

Defisiensi Ca

1,1; 1,1

3,1; 3,1

Hijau muda Normal, segar


kekuningan

Defisiensi Fe

1,3; 1,4

3,4; 3,8

Hijau muda

Sedikit

di

melengkung
5

Lengkap

1,2; 1,3

3,6; 3,8

Hijau

Normal, segar

Defisiensi N

1,2; 1,3

3,5; 3,9

Hijau

melengkung

Defisiensi

1,2; 1,2

3,6; 4

Hijau

Kusut

1,3; 1,3

3,5; 3,5

Hijau

Sedikit

Mg
Defisiensi P

melengkung
Defisiensi Ca

Defisiensi Fe

1,2; 1,3

1,3; 1,4

3,2; 3,3

3,5; 3,8

Hijau

Melengkung

kekuningan

ujung

Hijau muda

Melengkung
ujung

Lengkap

1,4; 1,4

3,7; 3,9; 1,1

Hijau

Normal, segar

Defisiensi N

1,3; 1,3

3,6; 3,8

Hijau

Melengkung

kekuningan
Defisiensi

Mati

Mati

Mg
Defisiensi P

Hijau muda Kusut


kekuningan

1,3; 1,4

3,6; 4

Hijaumuda

Melengkung

kekuningan

Defisiensi Ca

Mati

Mati

Kekuningan

Kusut

Defisiensi Fe

1,4; 1,4

3,6; 3,8

Hijau

Sedikit layu

Lengkap

1,4; 1,6

3,9; 4,1; 1,3

Hijau

Normal, segar

Defisiensi N

1,3; 1,4

3,6; 3,8

Hijau

Sedikit layu

kekuningan
Defisiensi

Mati

Mati

Mg
Defisiensi P

Hijau muda Kusut


kekuningan

1,3;1,4

3,8; 4,1

Hijau

Sedikit layu

kekuningan
Defisiensi Ca

Mati

Mati

Kekuningan

Kusut

Defisiensi Fe

1,4; 1,4

3,8, 3,9

Hijau

Sedikit layu

di

di

No

Perlakuan

Panjang Batang (cm)

Panjang Akar (cm)

Awal

Akhir

Awal

Akhir

Lengkap

15,9

19,5

0,6

0,9

Defisiensi N

15,3

17,6

0,5

0,8

Defisiensi Mg

14,8

17,6

0,5

0,7

Defisiensi P

14,4

16,4

0,7

1,0

Defisiensi Ca

14,8

16,1

0,4

0,8

Defisiensi Fe

13,7

18,1

0,5

0,9

G. Analisa Data
Pada praktikum ini, kecambah kacang hijau ditanam dalam berbagai jenis
defisiensi pada larutan Sach. Defisiensi tersebut adalah defisiensi pospor,
nitrogen, magnesium, besi, dan kalsium. Sebagai pembanding, terdapat
kecambah kacang hijau yang ditanam dalam media larutan Sach yang
nutrisinya lengkap.
Semua daun mengalami pertumbuhan tanaman yang cukup baik.
Pertumbuhan tanaman yang diukur adalah panjang daun dan lebar daun.
Sedangkan panjang batang dan akar diukur pada hari pertama dan terkahir.
Tumbuhan dengan nutrisi lenkap merupakan tumbuhan dengan panjang daun
dan lebar daun terbesar daripada tumbuhan dengan defisiensi. Hal ini karena
nutrisinya tercukupi dehingga tumbuhand apat melakukan metabolisme
dengan baik.
Pada tumbuhan dengan defisiensi pospor, keadaan daun menekuk di
bagian ujung. Warna daun tampak berbeda dibandingkan dengan tanaman
pada media nutrisi lengkap. Daun tampak berwarna lebih muda.
Pada tumbuhan defisiensi nitrogen, daun tidak mengalami perpanjangan
pada pengukuran ke 5. Daun menekuk di ujung. Warna daun berbeda dari
tumbuhan media nutrisi lengkap. Warna daun tidak segar dan terlihat
berwarna lebih muda. Tanaman dengan defisiensi nitrogen merupakan
tanaman dengan pertumbuhan terlambat. Hal ini menunjukkan bahwa nitrogen
merupakan unsur yang makromolekul dalam tumbuhan.

Pada tumbuhan defisiensi magnesium, terlihat warna daun lebih muda.


Tulang daun tampak berwarna lebih muda. Daun melengkung dan tampak
layu. Tumbuhan mati pada pengukruan ke 5.
Pada defisiensi kalsium tumbuhan mati pada pengukuran hari ke 5.
Tumbuhan tidak mengalami pemanjangan dan pelebaran daun yang berarti.
Daunnya tampak keriput dan berwarna kekuningan. Kematian tumbuhan
adalah nekrosis.
Pada tanaman dengan defisiensi Fe, pemanjangan dan pelebaran daun
terjadi secara normal. Namun daun mengalami perubahan warna. Awalnya
daun berwarna sedikit lebih muda. Namun tulang daun berwarna tetap.
Kemudian tulang daun berwarna kekuningan juga.
H. Pembahasan
Tumbuhan memerlukan bermacam-macam mineral, baik kelompok
makronutrien maupun mikronutrien. Unsur-unsur ini dapat diperoleh
tumbuhan dari lingkungan atau media hidupnya. Unsur-unsur tersebut diserap
tumbuhan dalam bentuk kation anion, molekul sederhana (misal: air, CO2, dan
gas-gas lainnya) serta molekul organik sederhana. Sebagian unsur nutrisi
dibutuhkan dalam kadar cukup banyak dan sebagian yang lain dalam kadar
yang sedikit. Menurut taraf kebutuhan tersebut nutrisi tumbuhan dibedakan
menjadi tiga kelompok elemen, yakni makronutrien, mikronutrien, dan unsur
lain berupa trace element.
a. Makronutrient meliputi unsur C, N, H, O, S, P, Ca, Fe dan Mg
b. Micronutrient meliputi unsur K, Na, Mn, B, Zn, Cu dan Mo.
c. Trace element meliputi unsur Al, Si, Au, Ni
Semua tanaman membutuhkan unsurunsur hara esensial. Terdapat 16
unsur hara esensial bagi tumbuhan, sebagian besar diperoleh dari dalam tanah
yaitu sebanyak 13 jenis, sisanya yaitu C, H, dan O berasal dari udara.
Berdasarkan perbedaan konsentrasinya yang dianggap berkecukupan dalam
jaringan tumbuhan, maka unsur hara esensial dibedakan menjadi unsur makro
dan unsur mikro. Yang tergolong unsur makro (C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan
S) adalah unsur esensial dengan konsentrasi 0,1 % (1000 ppm) atau lebih;
sedangkan unsur dengan konsentrasi kurang dari 0,1 % digolongkan sebagai

unsur mikro (Cl, Fe, B, Mn, Zn, Cu dan Mo). Kekurangan unsur hara akan
menyebabkan terjadinya hambatan dalam pertumbuhan dan gejala-gejala lain
yang dapat mengganggu mutu pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya
menurunkan produksi yang dihasilkan (Filter, 1991).
Suatu tanaman dapat tumbuh, berkembang dan berproduksi sampai
menyelesaikan suatu siklus hidup dengan sempurna biasanya membutuhkan
enam belas unsur esensial. Keenambelas unsur hara tersebut terbagi kedalam
dua bagian besar yaitu unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara
makro terdiri dari 9 unsur sedangkan unsur mikro atau trace element terdiri
dari 7 unsur. Unsur hara makro biasanya dibutuhkan tanaman dalam jumlah
yang lebih besar atau lebih banyak dibandingkan unsur hara mikro yaitu
dalam satuan gram-kg/tanaman (Dwijoseputro, 1983).
Unsur mikro sendiri dibutuhkan sekitar mg gram/tanaman saja.
Kenyataan yang sering kita jumpai dilapang, petani kadang hanya
memberikan unsur hara makro saja sedangkan pemberian unsur hara mikro
itu sendiri sering dilupakan. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat kita
seringkali berpendapat bahwa penggunaan pupuk konvensional sudah cukup
memberikan nutrisi bagi perkembangan maupun pertumbuhan tanaman.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa selama ini masyarakat petani merasa
tanamannya telah diberikan nutrisi yang cukup dengan pemupukan
konvensional tersebut. Dengan penggunaan dosis yang ada, mereka merasa
sudah cukup karena produksi yang dihasilkan tidak begitu mengecewakan
(Dartius, 1991). Menurut Barker dan David (2010), gangguan metabolisme
yang diakibatkan oleh defisiensi nutrien memberikan hubungan antara fungsi
elemen dan kenampakan abnormal yang terlihat. Gejala yang tampak
memperlihatkan kekurangan nutrisi pada tanaman.
Berdasar sifat kemudahan ditranslokasikan dari satu organ ke bagian organ
yang lain, unsur nutrisi dibedakan menjadi unsur mobile (dapat
dipindahkan) dan immobile (sukar / tidak dapat dipindahkan). Unsur-unsur
mobile antara lain N, P, K, Mg dan Zn (Salisburry, 1992). Bila tumbuhan
kekurangan suplai unsur-unsur mobile yang dibutuhkan, terutama bagi
jaringan yang sedang tumbuh dan berkembang, maka tumbuhan akan

mengambilkan unsur tersebut dari jaringan

yang sudah mengalami

kemunduran, seperti daun-daun tua. Dengan demikian defisiensi unsur mobile


akan ditampakkan pada jaringan tua. Sebaliknya, defisiensi unsur immobile
akan langsung

tampak pada jaringan-jaringan muda. Untuk mengamati

secara lebih cermat mengenai kebutuhan mineral bagi tumbuhan, umumnya


dilakukan dengan suatu dengan teknik kultur pasir atau kultur air.
Pada praktikum ini kami membuat larutan hidroponik yang dibuat dengan
larutan Sach. Masing-masing larutan memiliki defisiensi.

1. Defisiensi Fosfor (P)


Fosfor (P) merupakan orthofosfat yang memegang peranan penting
dalam kebanyakan reaksi enzim pada fosforilase. Fosfor merupakan bagian
dari inti sel sehingga sangat penting dalam pembelahan sel, serta
perkembangan jaringan meristem. Fosfor dapat merangsang pertumbuhan
perakaran dan tanaman, mempercepat pembungan, mempercepat pemasakan
biji serta penyusun lemak dan protein (Sarief, 1985).
Unsur hara P dapat mendukung peristiwa pembelahan sel, pembelahan
albumin, merangsang pertumbuhan akar halus dan akar serabut serta
merangsang peningkatan kualitas hasil tanaman dan memperkuat batang
tanaman agar tidak mudah roboh. Unsur fosfor diperlukan tanaman dalam
jumlah banyak. Menurut Suprapto (1991) hara fosfor diserap oleh tanaman
sepanjang masa pertumbuhannya.
Fungsi unsur fosfor dalam pertumbuhan yaitu merangsang perakaran
sehingga tanaman lebih tahan terhadap kekeringan (Suprapto, 1991). Pada
tanaman pospor banyak ditemukand alam bentuk pospat ester. Pospat ester
penting dalam membuat DNA dan RNA. Pospor juga membentuk ATP dan
ADP. Gejala kekurangan unsur hara P adalah memperlambat pembentukan
bunga, buah dan biji, pembelahan sel batang mudah roboh. Karakteristik
utama defisiensi adalah berkurangnya warna hijau pada daun. Terkadang,
pigmen biru dan ungu terakumulasi sehingga memberikan warna daun hijau
keunguan dan menyebabkan titik nekroses. Pada beberapa kasus, pigmen biru
da ungu juga terakumulasi (Hopkins, 2004). Penjelasan tersebut sesuai dengan

pengamatan. Pada tumbuhan dengan defisiensi pospor, keadaan daun


menekuk di bagian ujung. Warna daun tampak berbeda dibandingkan dengan
tanaman pada media nutrisi lengkap. Daun tampak berwarna lebih muda.
2. Defisiensi Nitrogen
Meskipun atmosfer diperkirakan mengandung 80% nitorgen, hanya
prokariot jenis tertentu yang mampu menangkap nitrogen. Tanaman menyerap
nitrogen dari tanah dalam bentuk ion nitrat anorganik dan ion amonium. Pada
tanaman, NO3- akan tereduksi mejadi NH4+ sebelym dapat membentuk asam
amno, protein, dan molekul yang mengandung nitrogen lainnya. Nitrogen
adalah konstituen dalam banyak molekul penting seperti protein, asam
nukleat, hormon dan klorofil. Sehingga gejala kekurangan yang nampak
adalah pertumbuhan yang lambat dan terhambat dan klorosis pada daun.
Nitrogen bersifat mobile dalam tanaan. Ketika daun tua kuning dan mati,
nitrogen dimobilisasi. Terutama dalam bentuk amina dan amides dan
dieksport dari daun uta ke daun muda. Kondisi kekurangan nitrogen dapat
menyebabkan akumulasi antosianin pada banyak spesies. Nitrogen dapat
menstimulasi pertumbhan sistem akar (Hopkins, 2004)
Nitrogen (N) merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman,
sebab nitrogen penyusun dari semua protein, asam nuklei serta protoplasma
secara keseluruhan (Sarief, 1985). Menurut Harjadi (1997) ketersediaan unsur
N pada tanaman dapat membantu pembentukan klorofil dan dapat
meningkatkan pertumbuhan tanaman. Nitrogen sangat diperlukan dalam
pembentukan bagian bagian vegetativ seperti daun, batang dan akar. Apabila
terlalu banyak akan menghambat pembungaan dan pembuahan tanaman
kedelai (Sarief, 1985).
Apabila tanaman kekurangan unsur hara N maka tanaman akan mengalami
kekerdilan, terbatasnya pertumbuhan akar, serta menguningnya dedauan
tanaman yang ada. Menurut Irwan (2001), tanaman kekurangan unsur hara N
dalam pertumbuhan tanaman akan kurus, tidak segar (warna hijau muda) daun
tua berubah kuning, buah tumbuhan kerdil dan mempercepat waktu
pemasakan buah walaupun belum waktunya. Pada pengamatan, pada
tumbuhan defisiensi nitrogen, daun tidak mengalami perpanjangan pada

pengukuran ke 5. Daun menekuk di ujung. Warna daun berbeda dari


tumbuhan media nutrisi lengkap. Warna daun tidak segar dan terlihat
berwarna lebih muda merupakan gejala dari klorosis daun. Tanaman dengan
defisiensi nitrogen merupakan tanaman dengan pertumbuhan terlambat.
3. Defisiensi Mg
Magnesium didistribusikan dalam bentuk kation divalen. Magnesium
terdapat dalam jumlah yang kurang di tanah namun dibutuhkan tanaman
dalam jumlah yang banyak. Defisiensi magnesium terjadi pada tanah asam.
Magnesium penting dalam stabilisasi struktur ribosom dan sebagai aktivator
untuk beberapa enzim penting. Mg2+ juga aktivator untul ribulosebisphospate
carboxylase dan phospoenolphyruvate carboxylase.
Unsur Mg merupakan bagian pembentuk klorofil, oleh karena itu
kekurangan Mg yang tersedia bagi tanaman akan menimbulkan gejala gejala
yang tampak pada bagian daun, terutama pada daun tua. Klorosis tampak pada
diantara tulang-tulang daun, sedangkan tulang-tulang daun itu sendiri tetap
berwarna hijau. Bagian diantara tulang-tulang daun itu secara teratur berubah
menjadi kuning dengan bercak kecoklatan. Daun-daun ini mudah terbakar
oleh terik matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak
yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut. Defisiensi
Mg menimbulkan pengaruh pula pada pertumbuhan biji, bagi tanaman yang
banyak menghasilakn biji hendaknya diperhatikan pemupukannya dengan
MgSO4, MgCO3 dan Mg(OH)2 (Hopkins, 2004)
Defisiensi

magnesium

menyebabkan

timbulnya

warna

keputihan

sepanjang kanan dan kiri tulang daun pada daun tua dengan warna keunguan
sepanjang pinggir daun. Gejala ini dapat merupakan indikasi bahwa tanah
tersebut masam, terutama timbul pada tanaman muda dengan pengolahan
tanah yang kurang intensif.
Pada tumbuhan defisiensi magnesium, terlihat warna daun lebih muda.
Tulang daun tampak berwarna lebih muda dan terlihat nyata lebih muda. Hal
ini karena Mg merupakan unsur penyusun klorofil sehingga akan
menyebabkan gangguan secara lngsung pada klorofil. Daun melengkung dan
tampak layu. Tumbuhan mati pada pengukruan ke 5.

4. Defisiensi Fe
Defisiensi zat besi sesungguh-nya jarang sekali terjadi. Terjadinya gejalagejala pada bagian tanaman terutama daun yang kemudian dinyatakan sebagai
kekurangan tersedia-nya zat Fe (besi) adalah karena tidak seimbang
tersedianya zat Fe dengan zat kapur pada tanah yang berkelebihan kapur dan
yang bersifat alkalis. Jadi masalah ini merupakan masalah pada daerah
daerah yang tanahnya banyak mengandung kapur.
Gejala-gejala yang tampak pada daun muda, mula-mula secara setempattempat berwarna hijau pucat atau hijau kekuningan-kuningan, sedang tulangtulang daun tetap berwarna hijau serta jaringan-jaringannya tidak mati.
Selanjutnya pada tulang-tulang daun terjadi klorosis yang tadinya berwarna
hijau berubah menjadi warna kuning dan ada pula yang menjadi putih. Gejala
selanjutnya yang paling hebat terjadi pada musim kemarau, daun-daun muda
yang banyak yang menjadi kering dan berjatuhan. Kekurangan besi dapat
menyebabakan kurangnya klorofil dan degenerasi struktur kloroplas. Klorosis
muncul pertama kali pada daun muda karena mobilitas besid angat rendahdan
tidak mudah dibagi dari daun tua. Klorosis bisa saja menyebar pada vena daun
(Hopkins, 2004). Pada tanaman dengan defisiensi Fe, pemanjangan dan
pelebaran daun terjadi secara normal. Namun daun mengalami perubahan
warna. Awalnya daun berwarna sedikit lebih muda. Namun tulang daun
berwarna tetap. Kemudian tulang daun berwarna kekuningan. Hal ini
menunjukkan kekurangan Fe menyebabkan nekrosis pada daun.
5. Defisiensi Kalsium (Ca)
Unsur Ca perannya sedikit dalam tumbuhan. Ca berperan sebagai
pembentuk dinding sel tanaman. Fungsinya adalah untuk mengeraskan bagian
kayu tanaman, merangsang pembentukan akar halus, mempertebal dinding sel
tanaman, dan merangsang pertumbuhan biji (Wiryanta, 2008). Gejala
kekurangan kalsium ditunjukkan dengan munculnya gejala berupa matinya
titik tumbuh pada pucuk dan akar, kuncup bunga dan buah gugur prematur,
warna buah yang tidak merata, buah retak-retak, misalnya pada tomat, tangkai
bunga membusuk, terutama pada tomat dan cabai, buah kosong karena bijinya
gagal terbentuk, misalnya pada kacang, daun muda berwarna cokelat dan terus

menggulung, misalnya pada jagung, serta daun terpilin dan mengerut,


terutama pada tembakau (Novizan, 2005).
Kalsium diambil dalam bentuk kation divalen. Kalsium banyak terdapat di
tanah dan jarang mengalami kekurangan. Kalsium penting karena berperan
dalam mitosis spinle selama pembelahan sel dan membentuk kalsium di
lamela tengah dai sel. Kalsium juga dibutuhkan untuk intregitas fisik dan
messenger kedua pada bebrapa hormon dan respon lingkungan (Hopkins,
2004)
Defisiensi unsur Ca menyebabkan terhambatnya pertumbuhan sistem
perakaran. Daun muda akan terdeformasi dan nekrosis. Selain jumlah yang
kurang, fungsinyapun terhambat. Gejala-gejalanya yang timbul tampak pada
daun, dimana daun-daun muda selain berkeriput mengalami perubahan warna,
pada ujung dan tepi-tepinya klorosis (berubah menjadi kuning) dan warna ini
menjalar diantara ujung tulang-tulang daun, jaringan-jaringan daun pada
beberapa tempat mati. Kuncup-kuncup yang telah tumbuh mati. Defisiensi
unsur Ca menyebabkan pula pertumbuhan tanaman lemah dan kekurangan.
Hal ini dikarenakan pengaruh terkumpulnya zat-zat lain yang banyak pada
sebagian dari jaringan-jaringannya. Keadaan yang tidak seimbang inilah yang
menyebabkan lemah dan kurangnya tanaman tersebut atau dapat dikatakan
karena distribusi zat-zat yang penting bagi pertumbuhan bagian yang lain
terhambat (tidak lancar).
I. Kesimpulan
1. Terdapat 16 macam elemen yang dibutuhkan oleh tumbuhan dalam

pertumbuhannya.

Elemen

tersebut

dibagi

dalam

makroelemen

dan

mikroelemen. Makroelemen dibutuhkan dalam jumlah banyak meliputi unsur


C, N, H, O, S, P, Ca, Fe dan Mg. Mikroelemen dibutuhkan dalam jumlah
sedikit meliputi unsur K, Na, Mn, B, Zn, Cu dan Mo.
2. Defisiensi P menyebabkan daun berwarna kekuningan dan tanaman tampak

mudah roboh. Defisiensi N menyebabkan tanaman menajdi kurus dan daun


berwarna

kekuningan.

Defisiensi

Mg

menyebabkan

daun

berwarna

kekuningan dan tulang daun megalami klorosis. Defisiensi Fe menyebabkan


terjadinya klorosis pada tulang daun. Defisiensi Ca menyebabkan daun

berekriput dan mengalami perubahan warna di ujung dan tepinya dan daun
mengalami nekrosis.
J. Diskusi
1. Golongkanlah garam-garam mineral yang digunakan dalam pembuatan
larutan hidroponik ke dalam elemen makro dan elemen mikro
Jawab : Makronutrien: KNO3, MgSO4, KH2PO4, FeEDTA, CaCl2
Mikronutrien : NaCl
2. Jelaskan perbedaan dari masing-masing defisiensi garam mineral hasil
pengamatan saudara
Jawab

: Defisiensi P menyebabkan daun berwarna kekuningan dan


tanaman tampak mudah roboh. Defisiensi N menyebabkan
tanaman menajdi kurus dan daun berwarna kekuningan.
Defisiensi Mg menyebabkan daun berwarna kekuningan dan
tulang daun megalami klorosis. Defisiensi Fe menyebabkan
terjadinya

klorosis

pada

tulang

daun.

Defisiensi

Ca

menyebabkan daun berekriput dan mengalami perubahan warna


di ujung dan tepinya dan daun mengalami nekrosis.

3. Apakah efek suatu elemen nutrisi bersifat linier ?


Jawab

: Ya, efek dari suatu elemen akan berdampak pada yang lain, hal
ini berkaitan dengan fungsi elemen tersebut. Elemen memiliki
fungsi dalam metabolism sel maupun dalam pembentukan
jaringan. Sehingga jika terjaadi defisiensi makan akan berdampak
pada yang lain.

4. Apakah ada efek sinergis antar element nutrisi sehingga defisiensi suatu
elemen akan memengaruhi fungsi elemen lain ?
Jawab : Ya, karena fungsi dai elemen makro dan mikro saling
melengkapi. Jika kekurangan salah satu elemenakan berdampak pada
metabolism sel tumbuhan tersebut. Setiap elemen memiliki fungsi spesifik.

K. DAFTAR RUJUKAN

Dahlia; Lukiaty, B. Dan Kusumaputri, L.T. 2000. Petunjuk Praktikum Fisiologi


Tumbuhan. Malang: JICA.
Dartius. 1991. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. USU-Press. Medan.
Dwijoseputro, D. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
Filter, A. H. dan R. K. M. Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. UGM
Press. Yogyakarta.
Gardner , F. P. , R.B.Pearce, Roger.L.M . , 1991, Fisiologi Tanaman Budidaya.
UI Press. Jakarta. hal 130.
Harjadi, S. S. 1996. Pengantar Agronomi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hopkins, W.G. 2004. Introduction to Plant Physiology. 3rd.Huner NPA. USA:
Jhon Wiley dan Sons.
Irwan, W.A. 2006.

Budidaya Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merill).

Universitas Padjajaran: Jatinangor.


Kriangsek, M.U. , 1986. The Use of Chemical and Organic Fertilizer Rice-Fish
Culture System. Unpublished MS Thesis. CLSU. Munos. Nueva Ecija.
Philippines.
Novizan, 2005. Petunjuk Pemupukan Yang Efektif. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Rahayu, Yuni Sri, Yuliani, Lukas S. Budipramana. 2011. Panduan Praktikum
Ilmu Hara. Jurusan Biologi: UNESA.
Rosmarkam, A. dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta :
Kanisius.
Salim,

Hidayat,

Siti

Mariam.

2011. Media

dan

nutria

Tanaman.

(Online),http://www.scribd.com//Media-Dan-Nutrisi-Tanaman-Ktnt-IIIYg-Sudah-Diperbaiki -), diakses tanggal 25 Oktober 2014).


Salisbury, dan Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.
Sarief, 1985. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.
Suprapto, H.S., 1999. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.

Lampiran