Anda di halaman 1dari 33

Makna Adil dalam al-Quran

Term-term adil yang digunakan dalam al-Quran terdapat tiga bentuk, yaitual-mizan, aladl, dan al-qisth. Ketiga term ini akan diuraikan, sesuai dengan konteks ayatnya masing-masing.
1. Term al-Mizan
Kata al-mizan dalam berbagai bentuknya terulang dalam al-Quran pada 16 ayat. Konteks ayatayat tersebut ada yang menunjukkan penyempurnaan takaran dan timbangan, ada yang
menunjukkan keseimbangan, dan ada pula yang membicarakan tentang timbangan di hari
kiamat.
Tujuh ayat yang berkenaan dengan perintah menyempurnakan timbangan dan takaran dalam
transaksi jual beli. Lima di antaranya (QS al-Muthaffifin: 3, QS al-Isra: 35, QS al-Syuara: 182,
QS al-Rahman: 9, dan QS al-Anam: 152) yang merupakan perintah langsung bagi umat Islam
untuk melaksanakannya. Sedangkan dua di antaranya (QS al-Araf: 84 dn QS Hd: 83) yang
mengisahkan bahwa perintah seperti itu ditetapkan pula bagi penduduk Madyan (kaum Nabi
Syuaib) di masa lampau.
Tiga ayat yang menerangkan bahwa pada penciptaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang
ada di dalamnya, terdapat keseimbangan dan berpasang-pasangan (QS al-Hijr: 19, QS alRahman: 7, dan 8).
Dua ayat yang mengungkapkan bahwa Allah yang menurunkan al-Quran dan neraca ke atas
dunia ini, agar manusia dapat menegakkan keadilan dengan baik (QS al-Syra: 17 dan QS alHadid: 25).
Tujuh ayat menyangkut timbangan di hari kiamat. Allah akan menyiapkan timbangan di hari
kiamat (QS al-Kahfi: 105 dan QS al-Anbiya: 47); siapa yang berat timbangan amal
kebaikannya, maka ia akan beruntung (QS al-Araf: 8, QS al-Muminn: 102, dan QS al-Qariah:
6); siapa yang ringan timbangan amal kebaikannya, maka ia akan merugi (QS al-Muminn: 103
dan QS al-Qariah: 8).
2. Term al-Adl
Kata al-adl dalam berbagai bentuknya, terulang sebanyak 24 ayat dalam al-Quran. Makna kata
tersebut mempunyai konotasi yang bervariasi, sesuai dengan konteks ayatnya.

Kata al-adl ada yang bermakna keseimbangan, yakni QS al-Infithar: 7. Ayat ini menjelaskan
bahwa Allah menciptakan manusia dan menyempurnakan kejadiannya dengan susunan tubuh
yang seimbang. Al-adl, terkadang juga berkonotasi tebusan (QS al-Anam: 70, QS alBaqarah: 48 dan 122). Kata ini juga ada yang berkonotasi sekutu (QS al-Anam: 1, 150, dan
QS al-Naml: 60), yakni orang-orang kafir yang menyekutukan Allah.
Kata al-adl yang bermakna keadilan melputi berbagai ayat, baik yang berkenaan dengan
kesaksian, tulisan, lisan, dan lain-lain. Keadilan yang dimaksud ditujukan kepada orang yang
bersengketa, baik terhadap kawan, lawan, atau kepada isteri-isteri bagi suami yang berpoligami.
3. Term al-Qisth

Kata al-qisth dalam berbagai bentuknya, terulang sebanyak 20 ayat. Maknaal-qisth dalam ayatayat tersebut hanya menunjukkan kepada keadilan, meski konotasinya berlainan.
Perintah berlaku adil (dalam arti umum) dengan term al-qisth, dapat ditemukan pada QS alMumtahanah: 8, QS al-Hujurat: 9, QS al-Maidah: 42, QS al-Araf: 29, dan QS al-Nisa: 135.
Perintah mengurus anak yatim dengan adil, terdapat QS al-Nisa: 127. Perintah menjadi saksi
yang adil, ditemukan dalam QS al-Maidah: 8. Untuk orang-orang yang tidak berlaku adil, di
akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam neraka jahannam (QS Ynus: 47 dan 54).
Surga Makalah
*Dikutip dari Berbagai Sumber

ISLAM DAN
AKULTURASI BUDAYA
LOKAL
Oleh: Irfan Salim, Lc.
http://media.isnet.org/islam/Etc/Akulturasi.htm
l

Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang OASE

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program


Kerja | Koleksi | Anggota

Untuk strategi pengembangan Islam di Indonesia,


kita perlu bervisi ke depan. Karena budaya
menyentuh seluruh aspek dan dimensi cara
pandang, sikap hidup serta aktualisasinya dalam
kehidupan manusia. Selain itu, gerakan kultural
lebih integratif. Kita patut mencontoh metodologi
Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di
Tanah Jawa. Sunan Kalijaga begitu melihat proses
keruntuhan feodalisme Majapahit, ia mendorong
percepatan proses transformasi itu, justeru dengan
menggunakan unsur-unsur lokal guna menopang

efektifitas segi teknis dan operasionalnya. Salah


satu yang ia gunakan adalah wayang.
Muqaddimah

Ketika seorang pakar menyentak kesadaran kita


dengan isu mengganti "Assalamu'alaikum" dengan
ucapan "Selamat Pagi" sebagai dalih sampel dari
pribumisasi Islam, kita pun bertanya; "Apa tujuan
di balik pernyataan itu?" Sikap pro dan kontra pun
bermunculan. Kemudian pertanyaan tadi bisa
dilanjutkan; apakah ada ketegangan antara agama
yang cenderung permanen dengan budaya yang
dinamis? Bagaimana hubungan ajaran agama yang
universal dengan setting budaya lokal yang
melingkupinya? Lalu, bagaimana sikap salaf dalam
mengakomodasi tradisi dan nilai-nilai Islam.
Kemudian apakah syara' menjustifikasi hal itu?
Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaanpertanyaan di atas.
Universalisme Islam

Universalisme (al-'Alamiyah) Islam adalah salah


satu karakteristik Islam yang agung. Islam sebagai
agama yang besar berkarakteristikkan: (1)
Rabbaniyyah, (2) Insaniyyah (humanistik), (3)
Syumul (totalitas) yang mencakup unsur
keabadian, universalisme dan menyentuh semua
aspek manusia (ruh, akal, hati dan badan), (4)
Wasathiyah (moderat dan seimbang), (5)
Waqi'iyah (realitas), (6) Jelas dan gamblang, (7)
Integrasi antara al-Tsabat wa al-Murunah
(permanen dan elastis).
Universalisme Islam yang dimaksud adalah bahwa
risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap
ras dan bangsa serta untuk semua lapisan
masyarakat. Ia bukan risalah untuk bangsa tertentu
yang beranggapan bahwa dia-lah bangsa yang
terpilih, dan karenanya semua manusia harus
tunduk kepadanya.
Risalah Islam adalah hidayah Allah untuk segenap
manusia dan rahmat-Nya untuk semua hamba-Nya.
Manifesto ini termaktub abadi dalam firman-Nya:

"Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad)


kecuali sebagai rahmah bagi seluruh alam".
"Katakanlah (Muhammad) agar ia menjadi juru
peringatan bagi seru sekalian alam.4
Ayat-ayat di atas yang nota bene Makkiyah, secara
implisit membantah tuduhan sebagian orientalis
yang menyatakan bahwa Muhammad Saw tidak
memproklamirkan pengutusan dirinya untuk
seluruh umat manusia pada awal kerisalahannya,
akan tetapi setelah mendapat kemenangan atas
bangsa Arab.5
Universalisme Islam menampakkan diri dalam
berbagai manifestasi penting, dan yang terbaik
adalah dalam ajaran-ajarannya.6 Ajaran-ajaran
Islam yang mencakup aspek akidah, syari'ah dan
akhlak (yang sering kali disempitkan oleh sebagian
masyarakat menjadi hanya kesusilaan dan sikap
hidup), menampakkan perhatiannya yang sangat
besar terhadap persoalan utama kemanusiaan. Hal
ini dapat dilihat dari enam tujuan umum syari'ah
yaitu; menjamin keselamatan agama, badan, akal,
keturunan, harta dan kehormatan. Selain itu risalah
Islam juga menampilkan nilai-nilai
kemasyarakatan (social values) yang luhur, yang
bisa di katakan sebagai tujuan dasar syari'ah yaitu;
keadilan, ukhuwwah, takaful, kebebasan dan
kehormatan. 7
Semua ini akhirnya bermuara pada keadilan sosial
dalam arti sebenarnya. Dan seperti kita tahu,
bahwa pandangan hidup (world view,
weltanschaung) yang paling jelas adalah
pandangan keadilan sosial.8
Kosmopolitanisme Kebudayaan Islam

Selain merupakan pancaran makna Islam itu


sendiri serta pandangan tentang kesatuan kenabian
(wahdat al-nabawiyah; the unity of prophet)
berdasarkan makna Islam itu, serta konsisten
dengan semangat prinsip-prinsip itu semua,
kosmopolitanisme budaya Islam juga mendapat
pengesahan-pengesahan langsung dari kitab suci
seperti suatu pengesahan berdasarkan konsep-

konsep kesatuan kemanusiaan (wihdat alinsaniyah; the unity of humanity) yang merupakan
kelanjutan konsep kemahaesaan Tuhan
(wahdaniyat atau tauhid; the unity of god).
Kesatuan asasi ummat manusia dan kemanusiaan
itu ditegaskan dalam firman-firman:
"Ummat manusia itu tak lain adalah ummat yang
tunggal, tapi kemudian mereka berselisih (sesama
mereka) jika seandainya tidak ada keputusan
(kalimah) yang telah terdahulu dari Tuhanmu,
maka tentulah segala perkara yang mereka
perselisihkan itu akan diselesaikan (sekarang
juga)".9
"Ummat manusia itu dulunya adalah ummat yang
tunggal, kemudian Allah mengutus para nabi untuk
membawa kabar gembira dan memberi peringatan
dan bersama para nabi itu diturunkannya kitab suci
dengan membawa kebenaran, agar kitab suci itu
dapat memberi keputusan tentang hal-hal yang
mereka perselisihkan..." 10
Para pengikut Nabi Muhammad diingatkan untuk
selalu menyadari sepenuhnya kesatuan
kemanusiaan itu dan berdasarkan kesadaran itu
mereka membentuk pandangan budaya kosmopolit,
yaitu sebuah pola budaya yang konsep-konsep
dasarnya meliputi, dan diambil dari dari seluruh
budaya ummat manusia. 11
Refleksi dan manifestasi kosmopolitanisme Islam
bisa dilacak dalam etalase sejarah kebudayaan
Islam sejak jaman Rasulullah, baik dalam format
non material seperti konsep-konsep pemikiran,
maupun yang material seperti seni arsitektur
bangunan dan sebagainya. Pada masa awal Islam,
Rasulullah Saw berkhutbah hanya dinaungi sebuah
pelepah kurma. Kemudian, tatkala kuantitas kaum
muslimin mulai bertambah banyak, dipanggillah
seorang tukang kayu Romawi. Ia membuatkan
untuk Nabi sebuah mimbar dengan tiga tingkatan
yang dipakai untuk khutbah Jumat dan munasabahmunasabah lainnya. Kemudian dalam perang
Ahzab, Rasul menerima saran Salman al-Farisy
untuk membuat parit (khandaq) di sekitar Madinah.

Metode ini adalah salah satu metode pertahanan ala


Persi. Rasul mengagumi dan melaksanakan saran
itu. Beliau tidak mengatakan: "Ini metode Majusi,
kita tidak memakainya!". Para sahabat juga meniru
manajemen administrasi dan keuangan dari Persi,
Romawi dan lainnya. Mereka tidak ! keberatan
dengan hal itu selama menciptakan kemashlahatan
dan tidak bertentangan dengan nas. Sistem pajak
jaman itu diadopsi dari Persi sedang sistem
perkantoran (diwan) berasal dari Romawi.12
Pengaruh filsafat Yunani dan budaya Yunani
(hellenisme) pada umumnya dalam sejarah
perkembangan pemikiran Islam sudah bukan
merupakan hal baru lagi. Seperti halnya budaya
Yunani, budaya Persia juga amat besar sahamnya
dalam pengembangan budaya Islam. Jika dinasti
Umawiyah di Damascus menggunakan sistem
administratif dan birokratif Byzantium dalam
menjalankan pemerintahannya, dinasti Abbasiyah
di Baghdad (dekat Tesiphon, ibu kota dinasti Persi
Sasan) meminjam sistem Persia. Dan dalam
pemikiran, tidak sedikit pengaruh-pengaruh
Persianisme atau Aryanisme (Iranisme) yang
masuk ke dalam sistem Islam. Hal ini terpantul
dengan jelas dalam buku al-Ghazali (ia sendiri
orang Parsi), Nashihat al-Mulk, siyasat namah
(pedoman pemerintahan), yang juga banyak
menggunakan bahan-bahan pemikiran Persi. 13
Islam, Bias Arabisme dan Akulturasi Timbal Balik
dengan Budaya Lokal
Walaupun Islam sebagai agama bersifat universal
yang menembus batas-batas bangsa, ras, klan dan
peradaban, tak bisa dinapikan bahwa unsur Arab
mempunyai beberapa keistimewaan dalam Islam.
Ada hubungan kuat yang mengisyaratkan
ketiadaan kontradiksi antara Islam sebagai agama
dengan unsur Arab. Menurut Dr. Imarah, hal ini
bisa dilihat dari beberapa hal :
Pertama, Islam diturunkan kepada Muhammad
bin Abdullah, seorang Arab. Juga, mukjizat
terbesar agama ini, al-Quran, didatangkan dengan
bahasa Arab yang jelas (al-Mubin), yang dengan

ketinggian sastranya dapat mengungguli para


sastrawan terkemuka Arab sepanjang sejarah.
Sebagaimana memahami dan menguasai al-Quran
sangat sulit dengan bahasa apapun selain Arab.
Implikasinya, Islam menuntut pemeluknya jika
ingin menyelami dan mendalami makna
kandungan al-Quran, maka hendaknya
mengarabkan diri.
Kedua, dalam menyiarkan dakwah Islam yang
universal, bangsa Arab berada di garda depan,
dengan pimpinan kearaban Nabi dan al-Quran,
kebangkitan realita Arab dari segi "sebab turunnya
wahyu" dengan peran sebagai buku catatan
interpretatif terhadap al-Qur'an dan lokasi
dimulainya dakwah di jazirah Arab sebagai
"peleton pertama terdepan" di barisan tentara
dakwahnya.
Ketiga, jika agama-agama terdahulu mempunyai
karakteristik yang sesuai dengan konsep Islam
lokal, kondisional dan temporal, pada saat Islam
berkarakteristikkan universal dan mondial, maka
posisi mereka sebagai "garda terdepan" agama
Islam adalah menembus batas wilayah mereka.14
Walaupun begitu, menurut pengamatan Ibnu
Khaldun, seorang sosiolog dan sejarawan muslim
terkemuka, bahwa di antara hal aneh tapi nyata
bahwa mayoritas ulama dan cendekiawan dalam
agama Islam adalah 'ajam (non Arab), baik dalam
ilmu-ilmu syari'at maupun ilmu-ilmu akal. Kalau
toh diantara mereka orang Arab secara nasab,
tetapi mereka 'ajam dalam bahasa, lingkungan
pendidikan dan gurunya. 15
Lebih lanjut, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa
bersamaan dengan meluasnya daerah Islam,
muncullah banyak masalah dan bid'ah, bahasa
Arab sudah mulai terpolusikan, maka dibutuhkan
kaidah-kaidah Nahwu. Ilmu-ilmu syari'at menjadi
keterampilan atau keahlian istinbath, deduktif,
teoritisasi dan analogi. Ia membutuhkan ilmu-ilmu
pendukung yang menjadi cara-cara dan metodemetode berupa pengetahuan undang-undang
bahasa Arab dan aturan-aturan istinbath, qiyas

yang diserap dari aqidah-aqidah keimanan berikut


dalil-dalilnya, karena saat itu muncul bid'ah-bid'ah
dan ilhad (atheisme). Maka jadilah ilmu-ilmu ini
semua ilmu-ilmu keterampilan yang membutuhkan
pengajaran. Hal ini masuk dalam golongan
komoditi industri, dan sebagaimana telah
dijelaskan, bahwa komoditi industri adalah
peradaban orang kota sedangkan orang Arab
adalah sangat jauh dari hal ini.16 Ibnu Khaldun
menyebutkan, intelektual-intelektual yang
mempunyai kontribusi sangat besar dalam ilmu
Nahwu seperti Imam Sibawaih, al-Farisi, dan alZujjaj. Mereka semua adalah 'ajam. Begitu juga
intelektual-intelektual dalam bidang hadits, ushul
fiqih, ilmu kalam dan tafsir. Benarlah sabda
Rasulullah; "Jika saja ilmu digantungkan diatas
langit, maka akan diraih oleh orang-orang dari
Persia".17
Kita lihat juga bahwa budaya Persia; budaya yang
pernah jaya dan saat Islam masuk; ia sedang
menyusut, adalah memiliki pengaruh yang
demikian dalam, luas, dinamis dan kreatif terhadap
perkembangan peradaban Islam. Lihat saja alGhazali, meskipun ia kebanyakan menulis dalam
bahasa Arab sesuai konvesi besar kesarjanaan saat
itu, ia juga menulis beberapa buku dalam bahasa
Persi. Lebih dari itu, dalam menjabarkan berbagai
ide dan argumennya, dalam menandaskan
mutlaknya nilai keadilan ditegakkan oleh para
penguasa, ia menyebut sebagai contoh pemimpin
yang adil itu tidak hanya Nabi saw dan para
khalifah bijaksana khususnya Umar bin Khattab,
tetapi juga Annushirwan, seorang raja Persia dari
dinasti Sasan.18
Menarik untuk diketengahkan juga walaupun saat
ini Persia atau Iran menjadikan Syiah sebagai
madzhab, namun lima dari penulis kumpulan
hadits Sunni dan Kutub as-Sittah berasal dari
Persia. Mereka adalah Imam Bukhari, Imam
Muslim al-Naisaburi, Imam Abu Dawud alSijistani, Imam al Turmudzi dan Imam al-Nasai.
Dari paparan di atas, menunjukkan kepada kita
betapa kebudayaan dan peradaban Islam dibangun

diatas kombinasi nilai ketaqwaan, persamaan dan


kreatifitas dari dalam diri Islam yang universal
dengan akulturasi timbal balik dari budaya-budaya
lokal luar Arab yang terislamkan. Pun tidak hendak
mempertentangkan antara Arab dan non Arab.
Semuanya tetap bersatu dalam label "muslim".
"Yang terbaik dan termulia adalah yang paling
taqwa".19
"yang paling suci, yang paling banyak dan ikhlas
kontribusi amal-nya untuk kemulian Islam".20
Akulturasi Islam dengan Budaya di Indonesia

Seperti di kemukakan di atas, Islam adalah agama


yang berkarakteristikkan universal, dengan
pandangan hidup (weltanchaung) mengenai
persamaan, keadilan, takaful, kebebasan dan
kehormatan serta memiliki konsep teosentrisme
yang humanistik sebagai nilai inti (core value) dari
seluruh ajaran Islam, dan karenanya menjadi tema
peradaban Islam.21
Pada saat yang sama, dalam menerjemahkan
konsep-konsep langitnya ke bumi, Islam
mempunyai karakter dinamis, elastis dan
akomodatif dengan budaya lokal, selama tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam itu
sendiri. Permasalahannya terletak pada tata cara
dan teknis pelaksanaan. Inilah yang diistilahkan
Gus Dur dengan "pribumisasi Islam".
Upaya rekonsiliasi memang wajar antara agama
dan budaya di Indonesia dan telah dilakukan sejak
lama serta bisa dilacak bukti-buktinya. Masjid
Demak adalah contoh konkrit dari upaya
rekonsiliasi atau akomodasi itu. Ranggon atau atap
yang berlapis pada masa tersebut diambil dari
konsep 'Meru' dari masa pra Islam (Hindu-Budha)
yang terdiri dari sembilan susun. Sunan Kalijaga
memotongnya menjadi tiga susun saja, hal ini
melambangkan tiga tahap keberagamaan seorang
muslim; iman, Islam dan ihsan. Pada mulanya,
orang baru beriman saja kemudian ia
melaksanakan Islam ketika telah menyadari

pentingnya syariat. Barulah ia memasuki tingkat


yang lebih tinggi lagi (ihsan) dengan jalan
mendalami tasawuf, hakikat dan makrifat.22
Hal ini berbeda dengan Kristen yang membuat
gereja dengan arsitektur asing, arsitektur Barat.
Kasus ini memperlihatkan bahwa Islam lebih
toleran terhadap budaya lokal. Budha masuk ke
Indonesia dengan membawa stupa, demikian juga
Hindu. Islam, sementara itu tidak memindahkan
simbol-simbol budaya Islam Timur Tengah ke
Indonesia. Hanya akhir-akhir ini saja bentuk kubah
disesuaikan. Dengan fakta ini, terbukti bahwa
Islam tidak anti budaya. Semua unsur budaya dapat
disesuaikan dalam Islam. Pengaruh arsitektur India
misalnya, sangat jelas terlihat dalam bangunanbangunan mesjidnya, demikian juga pengaruh
arsitektur khas mediterania. Budaya Islam
memiliki begitu banyak varian. 23
Yang patut diamati pula, kebudayaan populer di
Indonesia banyak sekali menyerap konsep-konsep
dan simbol-simbol Islam, sehingga seringkali
tampak bahwa Islam muncul sebagai sumber
kebudayaan yang penting dalam kebudayaan
populer di Indonesia.
Kosakata bahasa Jawa maupun Melayu banyak
mengadopsi konsep-konsep Islam. Taruhlah,
dengan mengabaikan istilah-istilah kata benda
yang banyak sekali dipinjam dari bahasa Arab,
bahasa Jawa dan Melayu juga menyerap kata-kata
atau istilah-istilah yang berkenaan dengan ilmu
pengetahuan. Istilah-istilah seperti wahyu, ilham
atau wali misalnya, adalah istilah-istilah pinjaman
untuk mencakup konsep-konsep baru yang
sebelumnya tidak pernah dikenal dalam khazanah
budaya populer. 24
Dalam hal penggunaan istilah-istilah yang diadopsi
dari Islam, tentunya perlu membedakan mana yang
"Arabi-sasi", mana yang "Islamisasi". Penggunaan
dan sosialisasi terma-terma Islam sebagai
manifestasi simbolik dari Islam tetap penting dan
signifikan serta bukan seperti yang dikatakan Gus
Dur, menyibukkan dengan masalah-masalah semu

atau hanya bersifat pinggiran. 25 Begitu juga


penggunaan term shalat sebagai ganti dari
sembahyang (berasal dari kata 'nyembah sang
Hyang') adalah proses Islamisasi bukannya
Arabisasi. Makna substansial dari shalat mencakup
dimensi individual-komunal dan dimensi
peribumisasi nilai-nilai substansial ini ke alam
nyata. Adalah naif juga mengganti salam Islam
"Assalamu'alaikum" dengan "Selamat Pagi, Siang,
Sore ataupun Malam". Sebab esensi doa dan
penghormatan yang terkandung dalam salam tidak
terdapat dalam ucapan "Selamat Pagi" yang
cenderung basa-basi, selain salam itu sendiri
memang dianjurkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya.
'Urf sebagai justifikasi yang dinamis

Dalam syariat Islam yang dinamis dan elastis,


terdapat landasan hukum yang dinamakan 'urf. 'Urf
adalah sesuatu yang menjadi kebiasaan dan
dijalankan oleh manusia, baik berupa perbuatan
yang terlakoni diantara mereka atau lafadz yang
biasa mereka ucapkan untuk makna khusus yang
tidak dipakai (yang sedang baku). 26
Dari segi shahih tidaknya, 'urf terbagi dua: 'urf
shahih dan fasid. Yang pertama adalah adat
kebiasaan manusia yang mengharamkan yang halal
dan menghalalkan yang haram, seperti kebiasaan
seorang istri tidak dapat pindah ke rumah suaminya
kecuali setelah menerima sebagian dari mahar,
karena mahar terbagi dua; ada yang didahulukan
dan ada yang diakhirkan. Sedangkan yang
diberikan oleh si peminang pada saat tunangan di
anggap hadiah bukan bagian dari mahar.27 'Urf
Shahih ini wajib diperhatikan dalam proses
pembuatan hukum dan pemutusan hukum di
pengadilan yang disebabkan adat kebiasaan
manusia, kebutuhan dan kemashlahatan mereka.
'Urf Fasid adalah adat kebiasaan manusia
menghalalkan yang haram dan mengharamkan
yang halal seperti kebiasaan makan riba, ikhthilath
(campur baur) antara pria dan wanita dalam pesta.
28 'Urf ini tidak boleh digunakan sumber hukum,
karena bertentangan dengan syariat.

Validitas 'urf dalam syariah diambil dari ayat;


"Berilah permaafan, perintahkan dengan yang
makruf dan berpalinglah dari orang-orang yang
bodoh". 29 "Dan dari ucapan Ibnu Mas'ud; "Apa
yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka
menurut Allah adalah baik. Dan sebaliknya yang
dipandang jelek oleh mereka, menurut Allah
adalah jelek". 30
Dari dua dalil ini para fuqaha madzahib arba'ah
menjadikan 'urf sebagai landasan hukum.
Dalam banyak hal, syara' tidak memberikan
batasan-batasan yang kaku, akan tetapi
memberikan kelonggaran kepada 'urf untuk
menentukan hukumnya. Seperti dalam ayat;
"Kewajiban suami memberikan rizki dan pakaian
kepada mereka (isteri-isterinya) dengan makruf. 31
"Dan bagi wanita-wanita yang ditalak, (berhak
diberi) harta secara makruf". 32
Artinya, 'ufrlah yang menghukumi dan membatasi
nafkah kepada istri dan harta mut'ah bagi isteri
yang ditalak.
Karenanya, ulama ushul merumuskan sebuah
kaidah, "al-'adah muhakkamah". Dan 'urf memiliki
i'tibar (pertimbangan) dalam syara'. Imam Malik
membangun banyak hukum-hukumnya atas dasar
amal penduduk Madinah. Abu Hanifah dan
pengikutnya berselisih pendapat dalam beberapa
masalah karena menimbang perbedaan 'urf. AlSyafi'i tatkala tinggal di Mesir merubah sebagian
hukum yang ia tetapkan di Bagdhad karena
perbedaan 'urf.33 Bahkan, Imam al-Qarafi alMaliki, menjelaskan dalam kitabnya; "al-Ahkam",
bahwa melanggengkan hukum-hukum yang
dasarnya 'urf dan adat, sementara adat kebiasaan
itu selalu berubah adalah menyalahi ijma' dan tidak
mengetahui agama. 34
Khatimah

Jika demikian, jelaslah perjalanan sejarah


rekonsiliasi antara Islam sebagai agama dan
budaya lokal yang melingkupinya serta adanya

landasan hukum legitimatif dari syara' berupa 'urf


dan mashlahah. Maka untuk strategi
pengembangan budaya Islam di Indonesia, kita
perlu bervisi ke depan. Kenapa harus budaya?
Karena budaya menyentuh seluruh aspek dan
dimensi cara pandang, sikap hidup serta
aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Selain
itu, gerakan kultural lebih integratif dan massal
sifatnya. Sehubungan dengan hal ini, kita patut
mencontoh metodologi Sunan Kalijaga dalam
menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Sunan Kalijaga
begitu melihat proses keruntuhan feodalisme Maja
pahit dan digantikan oleh egalitarianisme Islam, ia
mendorong percepatan proses transformasi itu,
justeru dengan menggunakan unsur-unsur lokal
guna menopang efektifitas segi teknis dan
operasionalnya. Salah satu yang ia gunakan adalah
wayang, juga gamelan yang dalam gabungannya
dengan unsur-unsur upacara Islam populer adalah
menghasilkan tradisi sekatenan di pusat-pusat
kekuasaan Islam seperti Cirebon, Demak,
Yogyakarta dan Surakarta. Dalam seni musik Islam
misalnya, yang mengandung elemen-elemen isi,
tujuan, cara penyajian yang islami, kenapa justru
alat musiknya seperti rebana yang lebih
diperhatikan.35 Alat musik itu, menurut hemat
saya, masuk dalam katagori 'urf. Ia bisa berubah
sesuai dengan perkembangan jaman. **
Catatan kaki

1. Dr. Yusuf Qardhawi, Al-khashaish al-'aamiyah


al-Islam (Beirut cet. VIII, 1993) hal. 3
2. QS. Al-Anbiya: 107
3. QS Al-A'raf : 158
4. QS Al-Furqan: 1
5. Qardhawi, op cit hal. 107-108.
6. Lihat: Universalisme Islam dan
Kosmopolitanisme Peradaban Islam oleh
Abdurrahman Wahid dalam "Kontekstualisasi
Doktrin Islam dalam Sejarah". Editor: Budhy

Munawwar Rahman. (Yayasan Paramadina, cet. I,


Mei 1994) hal. 515.
7. Dr. Yusuf Qardhawi, "Madkhal li al-Dirasat alIslamiyah" (Beirut, cet. I,1993) hal. 61
8. Abdurrahman Wahid, "Pribumisasi Islam dalam
Islam Indonesia, Menatap Masa Depan" (Jakarta,
cet. I, 1989) hal. 442
9. QS. Yunus: 19
10. QS Al-Baqarah: 213
11. Dr. Nurkholis Madjid, "Islam, Doktrin dan
Peradaban", (Jakarta, cet. II, 1992) hal. 442
12. Qardhawi, Khashais, op cit,hal. 253
13. Madjid, op cit,, hal. 444
14. Dr. Muhammad Imarah, "Al-Islam wa al'Arubah (al-Haiahal-Mashriyah al-'Ammah li alKitab, 1996) hal. 11-12
15. Ibnu Khaldun, "Muqaddimah Ibnu Khaldun"
(Beirut, cet. VII, 1989) hal. 543
16. Ibid hal 544
17. Ibid hal 544
18. Madjid, op cit, hal. 547-548
19. QS. Al-Hujurat: 13
20. QS. Al-Mulk: 2
21. Dr. Kuntowijoyo, "Paridigma Islam" (Mizan,
cet. III, 1991)hal. 229
22.Abdurrahman Wahid, "Pribumisasi Islam dalam
Islam Indonesia, Menatap Masa Depan" (P3M,
Jakarta cet. I, 1989) hal. 92

23. Kuntowijoyo, op cit hal. 92


24. Ibid, hal. 235
25. Wahid, op cit hal. 92
26.QS Al-'Ankabut:
27. Dr. Wahbah Zuhaili, "Ushul Fiqh al-Islami"
(Beirut, cet.I,1986) jilid II, hal. 833
28. Ibid hal. 830
29. Ibid hal. 30
30. QS. Al- A'raf: 199
31.Terhadap al-hadits ini, al-Zaira'i berkata;
ghaarib marfu'. Yang benar, al-hadit ini mauquf
kepada Ibnu Mas'ud. Lih. "Nashbu al Rayah" IV:
133. (Diriwayatkan oleh Ahmad al-Bazzar dan alThabrani dalam kitab "al-Kabir" dari Ibnu Mas'ud,
rijal- nya tsiqat (Majma' al-Zawai I:178)
32. QS Al-Baqarah : 223
33. Dr. Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh,
Kairo, hal. 90
34. Qardhawi, dalam kisah "Khashaish", op cit hal.
246
35.Seperti yang dipahami oleh kalangan tekstualis
yang lebih ekstrim.

Irfan Salim Zubeir, Lahir di Jakarta, 21 Juli 1973. Ia


adalah mahasiswa program S.2. Fak. Dirasah Islamiyah,
Universitas Al-Azhar. Tulisan ini diangkat dari diskusi
mingguan yang diadakan oleh LESPISI (lembaga Studi
Pemikiran dan Shahwah Islamiyah) Cairo.
Beranda
Budaya

Sosial & Budaya


Budaya
Akulturasi
Akulturasi Budaya Antara Tradisi Islam

Dengan Tradisi Lokal

Cara Menyikapi Akulturasi Budaya


Antara Tradisi Islam dengan Tradisi
Lokal
Oleh: AnneAhira.com Content Team

Bagus sekali

Manusia disebut juga dengan istilah homo


humanus, yakni manusia yang berbudaya.
Budaya itu sendiri merupakan produk dari
masyarakat. Karena itu, perubahan nilai-nilai
agama pada masyarakat akan berpengaruh
pula pada perubahan budayanya.
Jika Anda hidup pada tahun-tahun awal
setelah kedatangan Islam di Indonesia, maka
Anda akan terlibat dalam proses akulturasi
budaya secara langsung. Lebih jelasnya,
Anda akan menyaksikan munculnya
perkawinan, tumpang tindih, atau akulturasi
budaya antara tradisi Islam dengan tradisi
lokal.
Namun sebelumnya, Anda harus tahu bahwa
sebelum Islam masuk ke Indonesia, budaya
masyarakat yang telah ada sebelumnya
adalah produk dari agama Hindu dan Budha.
Hindu yang berasal dari India dan Budha yang
berasal dari Cina.
Di sisi lain, tentu Anda juga akrab dengan ayat
Al Kafirun ayat 6, Untukmu Agamamu, dan
Untukku agamaku. Ayat itu memberikan garis
tegas yang memisahkan Islam dengan agama
lain. Sehingga, sering kali muncul konflik di

tengah akulturasi budaya antara tradisi Islam


dengan tradisi lokal, yang notabenenya
adalah akulturasi antara tradisi Islam dengan
agama non-Islam, yakni Hindu dan Budha.
Salah satu bentuk akulturasi yang sempat
memanas di antara kaum muslim adalah
masalah yasinan. Di dalam yasinan, terdapat
akulturasi tradisi Islam dengan pembacaan
surat yasin serta kalimah thoyibah dan tradisi
lokal (Hindu dan Budha) berupa berkumpulkumpul. Lantas, bagaimana cara menyikapi
akulturasi budaya antara tradisi islam dengan
tradisi lokal?
Tidak mengedepankan kekerasan
Jihad Islam merupakan jihad perdamaian, dan
Islam sama sakali tidak mengajarkan
bentuk kekerasan, alih-alih menyulut
peperangan. Untuk menyeru pada kebaikan
dan mencegah dari kemungkaran. Islam
memberikan tuntunan dengan cara,
1. Tangan atau kekuasaan. Jika Anda

seorang pemimpin, maka sebaiknya


pergunakan kekuasaan atau wibawa Anda.
2. Ucapan. Yakni dengan menegur,
menasehati, atau memberikan hikmah
kebajikan.
3. Hati. Yakni dengan mendoakan agar orang
yang Anda maksudkan dapat
melaksanakan kebaikan atau menjauhi
kemungkaran. Hal ini merupakan selemahlemahnya iman seorang muslim.

Sekali lagi, Islam tidak mengajarkan


pemaksaan dan kekerasan sedikit pun.
Sehingga, jika Anda bertemu
dengan konflik dalam akulturasi budaya
tersebut, janganlah mendahulukan kekerasan.
Berbicaralah padanya dengan lemah lembut,
dan jika tidak berhasil juga, berlepas dirilah
darinya. Just do it, Ok J
Memahami Universalisme Islam

Selanjutnya, Anda perlu memahami betapa


Islam itu memberikan nilai-nilai yang
universal. Universal di sini memberikan arti
bahwa Islam mengandung beberapa nilai
yang memang berlaku pada segala jenis
manusia, segala tempat, dan segala zaman.
Oleh karena itu, wajar saja bila muncul
perbedaan pendapat akibat dari usaha
mengkontekstualisasikan atau menerapkan
kembali nilai-nilai Islam pada masalah yang
sedang terjadi.
Asalkan akulturasi tersebut tidak melewati
batas-batas universalismeIslam, maka jangan
pernah Anda melibatkan diri dalam konflik
yang muncul di sana. Karena jika tetp
melakukannya, maka Anda telah melakukkan
hal yang percuma. Ingat! Ijtihad yang salah
tetap mendapatkan satu pahala bukan?!
Mempelajari Makna di Balik Simbol-simbol
Dengan melakukan hal ini,
tingkat toleransi Anda pun akan semakin
melebar. Jika Anda tidak mengetahui makna
di balik simbol-simbol, khususnya pada yang
berbau kejawen, maka Anda bisa serta merta
menghukuminya dengan syirik atau apapun
itu.
Contoh yang baik dalam hal ini adalah
pembakaran menyan. Di tengah Masyarakat,
pembakaran menyan dimaknai dengan
pemanggilan roh halus atau jin. Sehingga
sangat mudah untuk menjatuhi label syirik
pada mereka yang mempraktikan
pembakaran menyan tersebut.
Akan tetapi, ketika Anda mengetahui bahwa
menyan juga digunakan sebagai pengharum
ruangan, sehingga mempermudah untuk
mencapai ke tingkatan khusuk, maka?! Yup,
persepsi Anda berubah dan tidak perlu lagi
berkutat panjang pada konflik yang muncul
akibat dari akulturasi budaya

antara tradisi islam dengan tradisi lokal.

Perkembangan dan Akulturasi Islam di Indonesia


SEP 26
Posted by Rusdi Mustapa http://history1978.wordpress.com/2011/09/26/perkembangan-danakulturasi-islam-di-indonesia/1978
Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini tentu
bukanlah sesuatu yang asing bagi Anda, karena di mass media mungkin Anda sudah sering
mendengar atau membaca bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki penganut agama Islam
terbesar di dunia
Agama Islam masuk ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir pantai, kemudian diteruskan ke
daerah pedalaman oleh para ulama atau penyebar ajaran Islam. Mengenai kapan Islam masuk ke
Indonesia dan siapa pembawanya terdapat beberapa teori yang mendukungnya. Untuk lebih
jelasnya silahkan Anda simak uraian materi berikut ini.
Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islam di Indonesia
Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur
Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori
Gujarat, teori Makkah dan teori Persia.
Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke
Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.
Untuk mengetahui lebih jauh dari teori-teori tersebut, silahkan Anda simak uraian materi berikut
ini.
1. Teori Gujarat
Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal
dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
1. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.
2. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia Cambay Timur
Tengah Eropa.
3. Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak khas
Gujarat. Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M.
Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat
timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga bersumber

dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak ( Perureula) tahun
1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak
pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

2. Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori
Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan
pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:
1. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam
(Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton
sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.
2. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafii, dimana pengaruh mazhab Syafii
terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat/India adalah penganut
mazhab Hanafi.
3. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir.
4. Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yang mendukung
teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke
Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses
penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

Proses masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia pada dasarnya dilakukan dengan jalan damai
melalui beberapa jalur/saluran yaitu melalui perdagangan seperti yang dilakukan oleh pedagang
Arab, Persia dan Gujarat.
Pedagang tersebut berinteraksi/bergaul dengan masyarakat Indonesia. Pada kesempatan tersebut
dipergunakan untuk menyebarkan ajaran Islam. Selanjutnya diantara pedagang tersebut ada yang
terus
menetap,
atau
mendirikan
perkampungan,
seperti
pedagang
Gujarat
mendirikan perkampungan Pekojan.
Dengan adanya perkampungan pedagang, maka interaksi semakin sering bahkan ada yang sampai
menikah dengan wanita Indonesia, sehingga proses penyebaran Islam semakin cepat berkembang.
Perkembangan Islam yang cepat menyebabkan muncul tokoh ulama atau mubaliqh yang
menyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren.
Pondok pesantren adalah tempat para pemuda dari berbagai daerah dan kalangan masyarakat
menimba ilmu agama Islam. Setelah tammat dari pondok tersebut, maka para pemuda menjadi
juru dakwah untuk menyebarkan Islam di daerahnya masing-masing.
Di samping penyebaran Islam melalui saluran yang telah dijelaskan di atas, Islam juga disebarkan
melalui kesenian, misalnya melalui pertunjukkan seni gamelan ataupun wayang kulit. Dengan
demikian Islam semakin cepat berkembang dan mudah diterima oleh rakyat Indonesia.

Di pulau Jawa, peranan mubaligh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali yang dikenal
dengan sebutan walisongo yang merupakan suatu majelis yang berjumlah sembilan orang. Majelis
ini berlangsung dalam beberapa periode secara bersambung, mengganti ulama yang wafat / hijrah
ke luar Jawa. Dari penjelasan tersebut apakah Anda sudah paham, kalau sudah paham simak
uraian materi berikutnya tentang periode penyebaran islam oleh para ulama/wali tersebut.
1. Periode I : Penyebaran Islam dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq (-), Ahmad
Jumadil Qubra, Muhammad Al-Magribi, Malik Israil, Muhammad Al-Akbar, Maulana Hasannudin,
Aliyuddin dan Syeikh Subakir (-).
2. Periode II : Penyebaran Islam digantikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel Denta), Jafar
Shiddiq (Sunan Kudus), Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
3. Periode III : hijrahnya Maulana Ishaq dan Syeikh Subakir, dan wafatnya Maulana Hassanudin dan
Aliyuddin maka penyebar Islam pada periode ini dilakukan oleh Raden Paku (Sunan Giri), Raden
Said (Sunan Kalijaga), Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Raden Qashim (Sunan Drajat).
4. Periode IV : Penyebar Islam selanjutnya adalah Jumadil Kubra dan Muhammad Al-Maghribi dan
kemudian digantikan oleh Raden Hasan (Raden Patah) dan Fadhilah Khan (Falatehan).
5. Periode V : Untuk periode ini karena Raden Patah menjadi Sultan Demak maka yang
menggantikan posisinya adalah Sunan Muria.

Para wali / ulama yang dikenal dengan sebutan walisongo di


Pulau Jawa terdiri dari :
1. Maulana Malik Ibrahim, dikenal dengan nama Syeikh Maghribimenyebarkan Islam di Jawa
Timur.
2. Sunan Ampel, dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya.
3. Sunan Bonang, adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim,
menyebarkan Islam di Bonang (Tuban).
4. Sunan Drajat, juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin, menyebarkan Islam
di daerah Gresik/Sedayu.
5. Sunan Giri, nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri (Gresik).
6. Sunan Kudus, nama aslinya Syeikh Jafar Shodik menyebarkan ajaran Islam di daerah Kudus.
7. Sunan Kalijaga, nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan ajaran Islam di
daerah Demak.

8. Sunan Muria, adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid menyebarkan
islamnya di daerah Gunung Muria.
9. Sunan Gunung Jati, nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di Jawa Barat
(Cirebon).

Sembilan wali yang sangat terkenal di pulau Jawa, Masyarakat Jawa sebagian memandang para
wali memiliki kesempurnaan hidup dan selalu dekat dengan Allah, sehingga dikenal dengan
sebutan Waliullah yang artinya orang yang dikasihi Allah.
Wujud Akulturasi Kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Islam
Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang
dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha seperti yang pernah Anda pelajari pada modul
sebelumnya. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses
bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling
mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya
Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari
proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut
perilaku masyarakat Indonesia.
1. Seni Bangunan
Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, istana.
Wujud akulturasi dari masjid kuno memiliki ciri sebagai berikut:
a. Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil dari
tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah
dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut denganMustaka.
b. Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang ada di luar Indonesia
atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan
atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan merupakan budaya asli Indonesia.
c. Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan
di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan makam.

Mengenai contoh masjid kuno dapat memperhatikan Masjid Agung Demak, Masjid Gunung Jati
(Cirebon), Masjid Kudus dan sebagainya. Selain bangunan masjid sebagai wujud akulturasi
kebudyaan Islam, juga terlihat pada bangunan makam. Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada
bangunan makam terlihat dari:

a. makam-makam kuno dibangun di atas bukit


atau tempat-tempat yang keramat.
b. makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing,nisannya juga
terbuat dari batu.
c. di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubba.
d. dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam
atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap
dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
e. Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan biasanya makam
tersebut adalah makam para wali atau raja. Contohnya masjid makam Sendang Duwur di Tuban.
Bangunan istana arsitektur yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga memperlihatkan
adanya unsur akulturasi dari segi arsitektur ataupun ragam hias, maupun dari seni patungnya
contohnya istana Kasultanan Yogyakarta dilengkapi dengan patung penjaga Dwarapala (Hindu).
2. Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias
Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme (hasil
perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian, ditengah ragam hias suluran terdapat
bentuk kera yang distilir.
Ukiran ataupun hiasan, selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapura-gapura atau pada
pintu dan tiang. Untuk hiasan pada gapura.

3. Aksara dan Seni Sastra

Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap


bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang
tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang
dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda-tanda a, i, u seperti
lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang
banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.
Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode
berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu Budha dan sastra
pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni
tulisan/ aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab

Islam adalah seni sastra yang


Islam yang banyak mendapat
sastra tersebut terlihat dari
Melayu (Arab Gundul) dan isi

ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.
Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:
a. Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat
ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran
(karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat
Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).

b. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap


sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
c. Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk
Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
d. Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi
ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.
Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.
4. Sistem Pemerintahan
Dalam pemerintahan, sebelum Islam masuk Indonesia, sudah berkembang pemerintahan yang
bercorak Hindu ataupun Budha, tetapi setelah Islam masuk, maka kerajaan-kerajaan yang
bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya dan digantikan peranannya oleh kerajaankerajaan yang bercorak Islam seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka dan sebagainya.
Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan seperti halnya para
wali dan apabila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan dicandi/dicandikan tetapi dimakamkan
secara Islam.
5. Sistem Kalender

Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah


mengenal Kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam kalender Saka ini
ditemukan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon, wage dan kliwon. Apakah
sebelumnya Anda pernah mengetahui/mengenal hari-hari pasaran? Setelah berkembangnya Islam

Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan
peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).
Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama bulan seperti Muharram
diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa. Sedangkan nama-nama hari tetap
menggunakan hari-hari sesuai dengan bahasa Arab. Dan bahkan hari pasaran pada kalender saka
juga dipergunakan.
Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya 1 Muharram
1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.
Demikianlah uraian materi tentang wujud akulturasi kebudayaan Indonesia dan kebudayaan Islam,
sebenarnya masih banyak contoh wujud akulturasi yang lain, untuk itu silahkan diskusikan dengan
teman-teman Anda, mencari wujud akulturasi dari berbagai pelaksanaan peringatan hari-hari
besar Islam atau upacara-upacara yang berhubungan dengan keagamaan.

ADAT ISTIADAT DALAM PERSPEKTIF SYARIAT http://assalafiyyah.blogspot.com/2010/12/adat-istiadat-dalam-perspektif-syariat.html


A. Prolog

Terdapat dua hal yang secara dominan mempengaruhi dinamika dan struktur
sosial masyarakat, khususnya Jawa, yaitu agama dan budaya lokal. Dalam
masyarakat Jawa, dua hal tersebut memiliki peranan penting dalam membentuk
karakter khusus perilaku sosial yang kemudian sering disebut sebagai jati diri
orang Jawa. Karakter khusus dimaksud mewarnai hampir di semua aspek sosial
masyarakat Jawa baik secara politik, ekonomi maupun sosial budaya.
Struktur sosial masyarakat Indonesia (Jawa khususnya) bisa kita klasifikasikan
ke dalam tiga golongan, yakni santri, priyayi dan abangan. Klasifikasi ini
membuktikan adanya dominasi agama dan budaya lokal dalam membentuk
struktur sosial. Masyarakat santri merupakan representasi dari dominasi agama,
sementara masyarakat priyayai dan abangan adalah representasi dari kuatnya
pengaruh budaya lokal. Elaborasi agama dan budaya lokal pada akhirnya
menampilkan corak sosial masyarakat Jawa yang agamis akan tetapi masih
berpegang teguh pada budaya leluhur dalam interaksi sosial.
Permasalahan yang sebenarnya bukan terletak pada pilihan seseorang terhadap
salah satu diantara konsep agama dan budaya atau menerapkan keduanya,
akan tetapi kesadaran terhadap perbedaan nilai-nilai substantif yang dikandung
oleh agama dan budaya. Agama diyakini memiliki nilai-nilai transenden
sehingga sering dipahami sebagai suatu dogma yang kaku. Sementara nilai-nilai

budaya relatif dipandang lebih fleksibel sesuai kesepakatan-kesepakatan


komunitas untuk dijadikan sebagai standar normatif.
Karena adanya perbedaan karakter agama dan budaya itulah maka seringkali
nilai-nilai agama dipertentangkan dengan nilai-nilai budaya lokal yang
sebenarnya telah sama-sama mempengaruhi perilaku sosial seseorang.
Oleh karenanya, diperlukan sebuah kearifan serta pandangan kritis terhadap
konsep-konsep agama dan budaya lokal yang membentuk perilaku normatif
masyarakat Jawa agar tidak terjadi kesalahan dalam memandang nilai-nilai
luhur budaya lokal serta tidak terjebak dalam penerapan ajaran agama yang
statis, dogmatis dan kaku yang tercerabut dari nilai-nilai Islam yang rahmatan
lil 'alamin.

B. Perilaku Normatif Budaya Lokal

Penciptaan manusia yang dibekali akal pikiran menjadikan ia sebagai makhluk


yang mampu berkreasi membentuk perilaku-perilaku normatif dan melepaskan
mereka dari perilaku-perilaku binatangisme. Kreatifitas akal pikiran ini pada
tahapan berikutnya menjadikan manusia sebagai suatu komunitas yang
memiliki adat istiadat, tradisi, budaya dan peradaban, yaitu gagasan-gagasan
tertentu atau sudut pandang tertentu yang berkaitan dengan apa yang
umumnya dianggap baik (maslahah) oleh akal dan pikiran. Suatu tingkah laku
yang secara naluri akal pikiran dianggap baik dan diyakini memberikan
kemaslahatan serta mendapatkan kesepakatan secara kolektif, maka tingkah
laku tersebut akan mejadi perilaku normatif masyarakat yang disebut adat
istiadat, tradisi, budaya atau peradaban.
Pada gilirannya, perilaku normatif ini (adat budaya) akan menjadi sudut
pandang (pedoman) tersendiri yang diadopsi manusia dalam mengarahkan
tingkah laku kehidupan dan interaksi sosialnya. Dengan kata lain, perilaku
seseorang akan selalu diarahkan dan dibimbing oleh pengaruh sudut pandangsudut pandang adat atau budaya yang mengitari lingkungan sekitarnya, baik
dalam konteks hubungan horizontal yang berkaitan dengan interaksi
kemasyarakan seperti konsep politik, ekonomi, moral dll. maupun hubungan
vertikal yang berkaitan dengan akidah, keyakinan dan ritual ibadah.
Pengaruh adat istiadat atau budaya terhadap kehidupan politik bisa kita
saksikan misalnya (di Indonesia) dengan kemunculan partai-partai politik yang
memiliki idiologi nasionalis, dalam ranah ekonomi dapat kita lihat dari
pertarungan sistem ekonomi kapitalis yang hanya memberikan peluang kepada
kaum pemodal dan cendrung menindas wong cilik, dengan sistem ekonomi lokal
yang peduli dan ramah dengan pelaku ekonomi tingkat bawah. Fakta ini
membuktikan adanya titik singgung antara sistem asing dengan sistem yang

merupakan budaya lokal. Dalam ranah moralitas bisa kita amati betapa orang
Jawa begitu mengedepankan nilai-nilai kesopanan, gotong-royong dan teposliro (toleran) dalam kehidupan bermasyarakat dan jauh dari sikap individualis,
hedonis dan liberalis.
Demikian juga pengaruh adat istiadat atau budaya terhadap kehidupan
keagamaan bisa kita jumpai dari beragam ritual di masyarakat. Lebih-lebih di
masyarakat Jawa, fenomena ini sangat kental sekali mewarnai kehidupan
mereka. Seperti dalam masa kehamilan ada acara telon-telon ketika kandungan
usia 3 bulan, tingkepan ketika kandungan usia 6 bulan dll. Dalam kelahiran bayi
ada acara sepasaran, selapanan, piton-piton, tiron-tiron dll. Dalam pernikahan
ada istilah acara ngunggahke beras, temu manten dengan berbagai ritual dan
seremonialnya, seperti kedua mempelai diminumi, disiram air bunga, menginjak
telor, dibuatkan bermacam-macam asesoris dari janur kuning berupa kembar
mayang dll. Dalam kematian ada acara telung dinonan, pitung dinonan, patang
puluh dinonan, satus dinonan, sewu dinonan dengan membuat kue berupa
apem, menyebar beras kuning dan lain seterusnya.
Adat istiadat tersebut juga bisa kita jumpai dalam momen-momen tertentu,
seperti ritual selamatan ketika hendak membangun rumah, ketika akan
menggarap sawah atau kebun, ketika panen, membuat bubur ketika bulan AsSyuro, membuat ketupat ketika lebaran dan lain sebagainya. Lebih dari itu,
dalam kehidupan masyarakat Jawa juga kita jumpai adat tradisi yang dikenal
dengan istilah hitungan primbon. Yaitu suatu metode hitungan yang mengacu
pada weton (kelahiran) untuk menentukan hari baik yang biasanya digunakan
pertimbangan dalam memilih jodoh, karir atau pekerjaan dan lain sebagainya.
Demikianlah diantara aneka ragam ritula-ritual yang dapat kita jumpai dalam
kehidupan masyarakat Jawa, yang kesemuanya telah menjadi adat tradisi yang
diwarisi secara turun-menurun dari para leluhur dan diyakini sebagai perilaku
yang baik dan memberikan kemaslahatan. Bahkan dalam tataran tertentu,
orang yang tidak mengindahkan adat tradisi tersebut akan dianggap gak ilok
(tabu) oleh masyarakat.

C. Tinjauan Hukum Syar'i

Apabila ditinjau melalui konteks legal-formal (baca: fiqh), secara umum nuansa
ritual-ritual seperti di atas pada dasarnya merupakan praktek ibadah yang
memiliki motif tawasul atau tafa'ul, yang melibatkan faktor keyakinan dan
tasaruf.

1. Tawasul

Dalam kacamata Islam (Ahli Sunnah wal Jama'ah), ritual tawasul dianggap legal
apabila disertai keyakinan yang lurus dan terbebas dari unsur-unsur syirik.
Dalam arti, tawasul hanya diposisikan sebagai sarana ikhtiar (wasilah) untuk
memohon kepada Allah dan tetap meyakini hakikatnya hanya Allah semata
yang mutlak memiliki qudrah dalam segalanya, dan bukan pihak yang dijadikan
obyek tawasul. Allah berfirman:

Keyakinan bahwa makhluk memiliki kekuatan tersendiri yang telah diciptakan


olah Allah dalam diri makhluk (sebagaimana paham Mu'tazilah), menurut
akidah Ahli Sunnah dianggap fasik dan bid'ah, bahkan menurut sebagian ulama
divonis kafir. Demikian juga tidak dibenarkan (jhil) keyakinan bahwa hakikat
segalanya berasal dari Allah tetapi masih meyakini dalam sunnatullah ada
hubungan kausalitas (sebab-akibat) yang lazim secara akal.
Menurut paham Ahli Sunnah, hubungan kausalitas bisa dibenarkan apabila
diyakini kelaziman sebab-akibat terjadi hanya secara dah rabbniyyah
(kebiasaan iradah Allah). Dalam arti, ketika ada sebab, maka musabab
"biasanya" pasti ada, dan boleh jadi "kebiasaan" tersebut tidak terjadi. Dalam
akidah Ahli Sunnah, hukum kausalitas hanya bersifat kebiasaan, yang dalam
suatu waktu boleh tidak berlaku.

2. Tafa'ul
Adapun ritual tafa'ul (menaruh harapan baik pada sesuatu) dalam Islam
dianggap legal, lantaran tafa'ul secara substansial memiliki esensi positif yang
bisa mengantarkan pada kewajiban husnudhan kepada Allah.
Dengan demikian, apabila dalam tafa'ul masih terbersit kekhawatiran atau
ketakutan akan terjadinya hal-hal negatif jika tidak melakukan ritual, dan
kekhawatiran tersebut tanpa alasan yang mendasar secara adat, maka ritual
tersebut sudah di luar konsep tafa'ul yang diperbolehkan. Sebab, ritual yang
demikian sudah termasuk praktek mengundi nasib yang diharamkan dalam
Islam karena tergolong sikap su'udhan kepada Allah. Dalam sebuah hadits
Qudsi, Rasulullah saw. bersabda:

"Aku (Allah), sesuai dengan prasangka


berprasangka baiklah kepada-Ku".

hamba-Ku

terahadap-Ku,

maka

Kekhawatiran atau ketakutan (khauf) akan terjadinya hal-hal negatif yang


menimpa, dalam Islam disebut sikap tathayyur atau tasy'um. Kekhawatiran
atau ketakutan seperti ini termasuk sikap su'udhan kepada Allah yang tidak
diperbolehkan kecuali memang didasari oleh kebiasaan (dah) yang
mutharridah (pasti) atau aktsariyyah (umum).

Dengan demikian, segala bentuk ritual tafa'ul karena ada motif kekhawatiran
atau ketakutan hukumnya haram sepanjang kekhawatiran atau ketakutan
tersebut tidak dilatari adanya kebiasaan (dah) yang mutharridah (pasti) atau
aktsariyyah (umum). Di samping itu, legalitas tawasul atau tafa'ul di dalamnya
juga harus terhindar dari unsur idl'atul ml. Yaitu menasarufkan materi tanpa
ada nilai kemanfaatan yang kembali secara langsung maupun tidak langsung,
seperti sesaji yang dibiarkan tanpa dimanfaatkan.

C. Akulturasi Ajaran Agama dan Tradisi Budaya

Islam, dengan segenap universalitas syariat yang dibawanya adalah agama


yang sempurna dan paripurna sebagai pedoman segala dimensi kehidupan
manusia. Allah swt. berfirman:

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu". (QS. Al-Maidah : 3)

Kesempurnaan dan keparipurnaan Islam sebagai pedoman kehidupan bersifat


integral-universal yang melampaui batas-batas geografis dan zaman. Nilai-nilai
ajaran Islam bersifat absolut, abadi dan berlaku untuk semesta sepanjang
masa, berlaku untuk seluruh budaya dan peradaban serta berlaku untuk segala
suku bangsa manapun. Allah swt. berfirman:

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam". (QS. Al-Anbiya' : 107)

Tidak ada satu pun dimensi kehidupan manusia yang luput dan tak tersentuh
oleh hukum Islam, termasuk adat-istiadat maupun tradisi budaya dan
peradaban. Islam memiliki aturan formal yang baku dan tegas mengenai
legalitas ritual-ritual yang dipengaruhi tradisi atau budaya lokal seperti yang
telah diuraikan di sub sebelumnya.
Kendati demikian, kehadiran Islam sebagai agama sebenarnya bukanlah untuk
menolak segala adat atau budaya yang telah berlaku di tengah masyarakat.
Tradisi dan budaya yang telah mapan dan memperoleh kesepakatan kolektif
sebagai perilaku normatif, maka Islam tidak akan merubah atau menolaknya
melainkan mengadopsinya sebagai bagian dari budaya Islam itu sendiri dengan
membenahi dan menyempurnakannya berdasarkan nilai-nilai budi pakerti luhur
yang sesuai dengan ajaran-ajaran syariat. Rasulullah saw. bersabda:

"Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keluhuran budi pakerti."

Sekedar untuk menyebut contoh bahwa kehadiran Islam bukan untuk menolak
segala tradisi yang telah berlaku adalah disyariatkannya ritual Sa'i di bukit
Shafa dan Marwa, di mana pada pra-Islam ritual Sa'i sudah menjadi adat orangorang Jahiliah. Hal ini seperti tergambar jelas dalam asbbun nuzl surat AlBaqarah : 158

"Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka
barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada
dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya". (QS. Al-Baqarah : 158)

Dalam ranah hukum Islam, kita juga bisa jumpai beberapa contoh lain yang
diadopsi dari adat budaya Jahiliyah dan dilestarikan ke dalam Islam seperti
diyh, qasmah, qirdl, memasang qiswah (selambu) Ka'bah dan lain
sebagainya dari perilaku-perilaku normatif sosial yang bisa diterima
kebenarannya oleh aqlus salim. Sepanjang adat tradisi dan budaya lokal secara

subtansial tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka Islam akan


menerimanya menjadi bagian dari tradisi dan budaya Islam itu sendiri.
Rasulullah saw. bersabda:

"Apa yang dilihat baik oleh orang Islam, maka hal itu baik pula di sisi Allah".

Apabila ditilik dari latar belakang historisnya, sebenarnya tidak diragukan


bahwa ritual-ritual masyarakat Jawa seperti diuraikan di atas bukan berasal dari
ajaran Islam melainkan dari peninggalan adat tradisi budaya lokal yang diwarisi
dari masyarakat Hindu-Buda sebelum kehadiran Islam di Jawa, yang kemudian
dilestarikan dalam amaliah keagamaan masyarakat Islam Jawa setelah ada
usaha akulturasi antara ajaran agama dengan budaya lokal yang dipelopori oleh
Sunan Kali Jaga sebagai strategi dakwahnya. Yaitu mengadopsi budaya-budaya
lokal kemudian memasukkan ruh-ruh keislaman ke dalamnya. Seperti tetap
melestarikan adat tingkepan, selapanan, telon-telon, piton-piton, telung
dinonan, pitung dinonan, dll. namun mengisinya dengan amaliah-amaliah Islam
seperti membaca Al-Qur'an, shalawat, tahlil, mengirim doa untuk leluhur,
sedekah dan ibadah-ibadah lain yang dianjurkan dalam Islam.
Strategi dakwah dengan akulturasi ajaran agama dan budaya ini terbukti lebih
efektif dalam keberhasilan penyebaran Islam di Jawa dibanding penerapan
ajaran agama yang terlalu dipaksakan yang tak jarang justru mengundang
penolakan dan menimbulkan problem-problem sosial yang mengganggu
stabilitas politik, keamanan, sosial dan ekonomi secara umum dan justru bisa
menghilangkan akar budaya masyarakat Jawa yang dikenal ramah, toleran dan
permisif.
Dalam firman-Nya, Allah swt. telah mengajarkan bagaimana etika dalam
mengajak umat menuju jalan Allah, yaitu dengan cara-cara yang lemah lembut,
tidak arogan dan dengan bahasa serta sikap yang penuh hikmah. Allah swt.
berfirman:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap


mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka". (QS. Ali Imran : 159)

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. Al-Anbiya' : 107)

Lebih dari itu, adalah fakta bahwa penerimaan terhadap Islam di Jawa tidak
terlepas dari strategi dakwah yang secara elegan mau menerima bahkan
mengadopsi nilai-nilai budaya lokal yang secara substansial tidak bertentangan
dengan Islam. Dalam konteks seperti ini, akulturasi bisa dipahami sebagai
penengah antara ketaatan beragama yang bersifat dogmatis dengan
penghargaan terhadap nilai-nilai tradisi budaya lokal yang bersifat fleksibel dan
berakar pada kolektifitas.

D. Sebuah Refleksi

Dalam konteks dakwah penyebaran Islam, seharusnya kita mampu


memposisikan diri sebagai orang yang bisa menerima kehadiran agama dan
nilai-nilai luhur suatu budaya secara proporsional, dan jangan sampai
memposisikan diri sebagai orang yang hanya mengakui nilai-nilai agama
sebagai satu-satunya konsep yang mengarahkan perilakunya tanpa peduli pada
nilai-nilai budaya lingkungan sekitar. Demikian juga sebaliknya, jangan sampai
kita tampil di masyarakat sebagai orang yang hanya berpakem pada budaya
dan tradisi tanpa pertimbangan-pertimbangan yang bersumber dari agama.
Sebab, bagaimanapun perilaku normatif dan budaya Jawa dengan kekhasan
yang dimilikinya, telah turut menentukan model pengamalan ajaran agama
Islam masyarakat Jawa.
Oleh karenanya, diperlukan sikap yang bijak dalam memahami dan
mengaktualisasikan ajaran Islam dalam perilaku dan interaksi sosial. Dengan
pemahaman seperti ini, ide gerakan pribumisasi ajaran Islam di Jawa ataupun
Indonesia, diharapkan akan bisa dicapai. Karena, membumikan ajaran-ajaran
keislaman ke dalam tradisi dan budaya lokal yang secara substansial tidak
bertentangan dengan Islam kiranya jauh lebih penting dari pada usaha arabisasi
seperti yang digalakkan oleh sementara kalangan yang cenderung hanya
mementingkan sisi platform dan performa Islam daripada nilai-nilai dan ruh
keislaman yang lebih luhur dan mendalam. WaAllahu A'lam.