Anda di halaman 1dari 104

PENGARUH KECUKUPAN MODAL DAN EFISIENSI OPERASIONAL TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT. BPRS AMANAH UMMAH LEUWILIANG BOGOR

Oleh: IMA KHATIMAH
Oleh:
IMA KHATIMAH

KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM) FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/ 2010

1

2

PENGARUH KECUKUPAN MODAL DAN EFISIENSI

OPERASIONAL TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT. BPRS AMANAH UMMAH LEUWILIANG BOGOR SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas
OPERASIONAL TERHADAP PROFITABILITAS
PADA PT. BPRS AMANAH UMMAH
LEUWILIANG BOGOR
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar
Sarjana Ekonomi Islam (S.E.I)
Oleh:
IMA KHATIMAH
NIM. 105046101596
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I
Pembimbing II
INDOYAMA NASARUDIN, SE. MAB.
NIP. 19741127 200112 1 002
ABDURRAUF, MA.
NIP. 19731215 200501 1 002

KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1431 H/2010

3

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Jakarta, 24 September 2010 Dekan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Prof. Dr. H. Muhammad Amin
Jakarta, 24 September 2010
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH),
Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH,MA, MM
NIP. 19550505 198203 1 012
Panitia Ujian Munaqasyah
Ketua
: Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH,MA, MM (
NIP. 19550505 198203 1 012
Sekretaris
: H. Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag, MH.
NIP. 19740725 200112 1 001
(
Pembimbing I : Indoyama Nasarudin, SE. MAB.
NIP. 19741127 200112 1 002
Pembimbing II: Abdurrauf, MA
NIP. 19731215 200501 1 002
(
(
Penguji
I
:
(
Penguji
II
:
Dawud Arif Khan, SE.AK, M.Si, CPA
NIP. -
Dr. H. Afifi Fauzi Abbas, M.A
NIP. 19560906 198203 1 004
(

Skripsi yang berjudul PENGARUH KECUKUPAN MODAL DAN EFISIENSI OPERASIONAL TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT. BPRS AMANAH UMMAH LEUWILIANG BOGOR, telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 24 September 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) pada Program Studi Muamalat (Ekonomi Islam).

)

)

)

)

)

)

4

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa: 1. Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Syarif Hidayatullah
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1.
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2.
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.
Hidayatullah Jakarta.

Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (S1) di Universitas

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN)

Jika di kemudian hari terbukti bahwa hasil karya ini bukan hasil karya asli

saya atau merupakan hasil jiplakan dari orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Jakarta, 24 September 2010

Ima Khatimah

ABSTRAK

Profitabilitas merupakan salah satu indikator kinerja perbankan memperoleh keuntungan, yang dapat dicapai
Profitabilitas
merupakan
salah
satu
indikator
kinerja
perbankan
memperoleh keuntungan,
yang dapat dicapai
deskriptif komparatif.
berlawanan arah.

yang

menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam memaksimalkan aktiva guna

diantaranya dengan memantapkan

struktur modal dan meningkatkan efisiensi operasional. Penelitian ini menganalisis

pengaruh kecukupan modal (CAR) dan efisiensi operasional (BOPO) terhadap

profitabilitas (ROA) pada PT. BPRS Amanah Ummah Leuwiliang Bogor periode

1998- 2009 dengan menggunakan metode analisis regresi berganda dan analisis

Berdasarkan hasil uji signifikansi terhadap fungsi regresi menunjukkan bahwa

CAR dan BOPO secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA.

Adapun secara parsial, CAR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Sedangkan

BOPO secara parsial berpengaruh signifikan terhadap ROA. Dari fungsi regresi

berganda diketahui pula bahwa pengaruh CAR terhadap ROA adalah bersifat positif

atau searah. Sebaliknya, pengaruh BOPO terhadap ROA adalah bersifat negatif atau

Selain

itu,

hasil

penelitian

ini

menunjukkan bahwa besarnya kontribusi

pengaruh CAR dan BOPO terhadap ROA adalah sebesar 45,20%. Sedangkan sisanya

sebesar 54,80% dipengaruhi oleh faktor- faktor lain yang tidak diteliti dalam analisis

penelitian ini. Adapun variabel dominan yang mempengaruhi besarnya ROA pada

BPRS Amanah Ummah periode 1998- 2009 adalah rasio BOPO dimana besarnya

kontribusi pengaruh BOPO terhadap profitabilitas (ROA) adalah sebesar 40,32%.

v

KATA PENGANTAR

 begitu mengagumkan.

begitu mengagumkan.
Dalam
penulisan
skripsi
ini,
alhamdulillah
begitu
banyak
masih dalam tahap pembelajaran.
Terselesaikannya
skripsi
ini
tidak
terlepas
dari
bantuan
dan

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis persembahkan kepada Allah

Tuhan Yang Maha Menganugerahkan kekuatan dan kemudahan dalam menjalani

setiap tahap dalam hidup ini. Rabb yang hingga kini tak hentinya mencurahkan

rahmat, ilmu, petunjuk, dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan dinamika yang indah. Shalawat dan salam teruntuk teladan terbaik

Nabi Muhammad SAW., keluarga, sahabat, dan pengikutnya atas inspirasi yang

pengalaman,

pelajaran, dan hikmah yang penulis peroleh yang diharapkan semua itu mampu

membuat penulis lebih dewasa dan bermanfaat bagi masyarakat luas tentunya.

Penulis juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam skripsi ini karena

dukungan

berbagai pihak. Oleh karena itu, ijinkanlah penulis menghaturkan rasa terima kasih

yang tidak terhingga kepada:

1.

Bapak Prof. DR. H. Muhammad Amin Suma, SH., MH., MM. sebagai Dekan

Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta.

vi

2. Ibu DR. Euis Amalia, M. Ag. selaku Ketua Program Studi Muamalat dan Bapak

H. Ah. Azharuddin Lathif, M. Ag., MH. selaku Sekretaris Program Muamalat. 3. dan mengarahkan penulis
H. Ah. Azharuddin
Lathif, M. Ag., MH. selaku Sekretaris Program
Muamalat.
3.
dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4.
memberikan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi.
5.
karyawan
atas
kesediaannya
bekerjasama
dan
membantu
penulis
memperoleh data- data yang dibutuhkan.
6.
Umi
tercinta
yang
senantiasa
memberikan
semangat
dikala
lelah
dan

Studi

Bapak Indoyama Nasarudin, SE. MAB. dan Bapak Abdurrauf MA. sebagai Dosen

Pembimbing Skripsi yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing

Ibu DR. Isnawati Rais, MA. selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah

Direktur PT. BPRS Amanah Ummah Leuwiliang Bogor, Ibu Dian, dan seluruh

dalam

Kedua orangtuaku H. Ahmad Soelaiman BA. dan Hj. Sunarsih serta seluruh

keluarga besar atas doa dan dukungannya yang tiada henti. Terima kasih teruntuk

mau

menerima penulis apa adanya. Terima kasih pula untuk Abi yang dibalik diamnya

tersimpan sejuta harapan kepada penulis untuk bisa menjadi yang terbaik dan

meneruskan perjuangannya yang gigih.

7. Staf perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum dan Perpustakaan Utama UIN

Syarif Hidayatullah beserta jajarannya yang telah membantu penulis dalam

memperoleh data- data yang dibutuhkan.

vii

8. Teman- teman di Perbankan Syariah khususnya kelas PS B atas waktu, perhatian,

berada di tengah- tengah kalian. 9. memberikan kontribusi yang besar dalam proses penulisan skripsi ini.
berada di tengah- tengah kalian.
9.
memberikan kontribusi yang besar dalam proses penulisan skripsi ini.
masyarakat luas. Amiin.
Penulis

dukungan, dan jalinan persahabatan yang hangat. Teruntuk kelompok KKN di

Bantar Sari, terima kasih atas kesediaannya membuka ruang kepada penulis untuk

Seluruh rekan- rekan yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, namun telah

Akhir kata hanya kepada Allah SWT. jualah penulis memanjatkan doa

semoga Allah memberikan balasan kebaikan amal mereka dengan berlipat ganda.

Semoga dengan adanya skripsi ini dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi

Jakarta, 24 September 2010

viii

DAFTAR ISI

ABSTRAK v KATA PENGANTAR vi DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL xii DAFTAR GAMBAR xiv DAFTAR
ABSTRAK
v
KATA PENGANTAR
vi
DAFTAR ISI
ix
DAFTAR TABEL
xii
DAFTAR GAMBAR
xiv
DAFTAR ISI
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
1
B. Pembatasan dan Rumusan Masalah
7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
8
D. Review Kajian Terdahulu
9
E. Metode Penelitian
12
F. Sistematika Penulisan
22

BAB

II

LANDASAN TEORI

A. Profitabilitas

1. Pengertian Profitabilitas

2. Return On Assets (ROA)

B. Kecukupan Modal

1. Pengertian Kecukupan Modal

ix

24

25

27

2. Capital Adequacy Ratio (CAR)

28

3. Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) BPRS 30 C. Efisiensi Operasional 1. Pengertian Efisiensi 32
3. Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)
BPRS
30
C. Efisiensi Operasional
1. Pengertian Efisiensi
32
2. Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional
(BOPO)
33
D. Pengaruh Kecukupan Modal (CAR) terhadap Profitabilitas
(ROA)
36
E. Pengaruh Efisiensi Operasional (BOPO) terhadap
Profitabilitas (ROA)
37
BAB
III
DESKRIPSI DATA
A. Sekilas tentang PT. BPRS Amanah Ummah Leuwiliang
Bogor
38
B. Permodalan PT. BPRS Amanah Ummah
39
C. Efisiensi Operasional PT. BPRS Amanah Ummah
43
 

D.

Profitabilitas PT. BPRS Amanah Ummah

45

BAB

IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

 

A.

Analisis Statistik

51

 

1. Fungsi Regresi

52

2. Interpretasi Fungsi Regresi

52

3. Uji Asumsi Klasik

53

x

4.

Uji F

56

5. Uji t 57 6. Koefisien Determinasi (R 2 ) 60 7. Koefisien Determinasi Parsial
5. Uji t
57
6. Koefisien Determinasi (R 2 )
60
7. Koefisien Determinasi Parsial
60
B.
Analisis Deskriptif Komparatif
62
BAB
V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
83
B. Saran
85
DAFTAR PUSTAKA
87
LAMPIRAN
89

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Tingkat ROA Menurut BI 26 Tabel 2.2 Klasifikasi Tingkat CAR Menurut BI
Tabel 2.1
Klasifikasi Tingkat ROA Menurut BI
26
Tabel 2.2
Klasifikasi Tingkat CAR Menurut BI
28
Tabel 2.3
Klasifikasi Tingkat BOPO Menurut BI
34
Tabel 3.1
Rasio CAR BPRS Amanah Ummah periode 1998- 2009
39
Tabel 3.2
Perhitungan ATMR BPRS Amanah Ummah per 31 Des 2007
39
Tabel 3.3
Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum BPRS Amanah
Ummah per 31 Des 2007
41
Tabel 3.4
Rasio BOPO BPRS Amanah Ummah periode 1998- 2009
43
Tabel 3.5
Perhitungan BOPO BPRS Amanah Ummah 1998- 2009
44
Tabel 3.6
Rasio ROA BPRS Amanah Ummah periode 1998- 2009
46
Tabel 3.7
Perhitungan ROA BPRS Amanah Ummah 1998- 2009
46
Tabel 4.1
CAR, BOPO, dan ROA BPRS Amanah Ummah 1998- 2009
51
Tabel 4.2
Fungsi Regresi Berganda
52
Tabel 4.3
Hasil Uji Multikolinieritas
54

Halaman

Tabel 4.4

Hasil Uji Autokorelasi

54

Tabel 4.5

Hasil Uji F

56

Tabel 4.6

Hasil Uji t

57

Tabel 4.7

Hasil Koefisien Determinasi

60

Tabel 4.8

Hasil Koefisien Determinasi Parsial

60

xii

Tabel 4.9

Perubahan CAR, BOPO, dan ROA BPRS Amanah Ummah

65

Tabel 4.10 Komparasi Perubahan CAR, BOPO, dan ROA BPRS Amanah Ummah 66 Tabel 4.11 Perubahan
Tabel 4.10
Komparasi Perubahan CAR, BOPO, dan ROA BPRS Amanah
Ummah
66
Tabel 4.11
Perubahan Aktiva, Laba, Pendapatan Operasional, dan Beban
Operasional BPRS Amanah Ummah
67

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Hasil Uji Heteroskedasitas 53 Gambar 4.2 Hasil Uji Normalitas 55 Gambar 4.3 Daerah
Gambar 4.1
Hasil Uji Heteroskedasitas
53
Gambar 4.2
Hasil Uji Normalitas
55
Gambar 4.3
Daerah Penolakan dan Penerimaan Ho dalam Uji F
57
Gambar 4.4
Daerah Penolakan dan Penerimaan Ho dalam Uji t (CAR)
58
Gambar 4.5
Daerah Penolakan dan Penerimaan Ho dalam Uji t (BOPO)
59
Gambar 4.6
Fluktuasi CAR BPRS Amanah Ummah Periode 1998- 2009
62
Gambar 4.7
Fluktuasi BOPO BPRS Amanah Ummah Periode 1998- 2009
63
Gambar 4.8
Fluktuasi ROA BPRS Amanah Ummah Periode 1998- 2009
64
Gambar 4.9
Pembiayaan BPRS Amanah Ummah Tahun 2004 Per Jangka
Waktu
73

Halaman

xiv

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan para pelaku usaha. Salah satu pelaku usaha yang memiliki
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
dan para pelaku usaha.
Salah
satu
pelaku
usaha
yang
memiliki
peran
strategis
dengan sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 56,5%. 1
pembangunan
ekonomi
khususnya
pembangunan
sektor
riil,

Pembangunan di bidang ekonomi merupakan salah satu masalah yang

sangat penting untuk diperhatikan dalam rangka mewujudkan pembangunan

nasional. Membangun ekonomi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peranan

beberapa pihak antara lain pemerintah, lembaga-lembaga di sektor keuangan,

dalam

membangun ekonomi Indonesia adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

(UMKM). Hal ini ditinjau dari peran UMKM pada beberapa aspek yakni unit

usaha UMKM merupakan 99,9% dari total usaha di Indonesia dan mampu

menyerap 77,67 juta tenaga kerja atau 96,8% dari tenaga kerja nasional,

Untuk menjaga sektor UMKM yang memiliki peranan penting dalam

dibutuhkan

lembaga keuangan yang tepat dan strategis untuk melayani jasa perbankan

bagi masyarakat tersebut salah satunya adalah Bank Pembiayaan Rakyat

Syariah (BPRS). Kunci keberhasilan BPRS selain menggunakan prinsip

1 Imam Hartono, “Ringkasan Eksekutif: Analisis Efisiensi Bank Perkreditan Rakyat di Wilayah Jabodetabek dengan Pendekatan Data Envelopment Analysis”, artikel diakses pada 25 April 2010 dari http://elibrary.mb.ipb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=mbipb-12312421421421412 -imamharton-796&q=Analisis efisiensi BPR.

1

2

syariah dalam operasionalnya adalah dalam pemberian pelayanan kepada

UMK antara lain lokasi yang dekat dengan masyarakat yang membutuhkan, prosedur pelayanan yang sederhana dan
UMK antara lain lokasi yang dekat dengan masyarakat yang membutuhkan,
prosedur
pelayanan
yang
sederhana
dan
proses
yang
cepat,
serta
mengutamakan pendekatan personal dengan masyarakat setempat. 2
Industri BPRS saat ini berkembang dengan pesat. Terbukti dengan
banyaknya BPRS baru yang lahir dan terus menyedot dana serta memberi
pembiayaan pada masyarakat. Lima tahun lalu, jumlah BPRS di Indonesia
hanya sekitar 80 unit. Hingga April 2009, jumlah BPRS meningkat menjadi
143 BPRS. 3
Tidak
hanya
dari
segi
jumlah,
laba
bersih
BPRS
mengalami
pertumbuhan
tahunan
sebesar
45% mencapai
Rp
41,35
miliar di
akhir
September 2009, total Dana Pihak Ketiga (DPK) BPRS per akhir September
2009 tumbuh 29% mencapai Rp 1,16 triliun, dan total pembiayaan BPRS juga
mengalami pertumbuhan sebesar 22% menjadi Rp 1,52 triliun di akhir
September 2009 dimana sebanyak 54% pembiayaan mengucur ke sektor
mikro kecil dan menengah. 4

Di sisi lain, kebijakan perbankan yang dilakukan Bank Indonesia

tahun 2010 salah satunya akan diarahkan kepada peningkatan peran BPR

2 Imam Hartono, “Ringkasan Eksekutif: Analisis Efisiensi Bank Perkreditan Rakyat di Wilayah Jabodetabek dengan Pendekatan Data Envelopment Analysis”.

3 Andri Indradie, “BI Prediksi Aset Bank Syariah bisa Mencapai Rp 97 Triliun”, artikel diakses 6 Juni 2010 dari http://www.kontan.co.id/index.php/keuangan/news/35170/BI-Prediksi-Aset-

Bank-Syariah-Bisa-Mencapai-Rp-97-Triliun.

4 Herry Prasetyo, “Per September, Laba BPRS Tumbuh 45%”, artikel diakses pada 6 Juni 2010 dari http://www.kontan.co.id/index.php/news/24287/Per-September-Laba-BPRS-Rumbuh-45.

3

termasuk

BPRS

dalam

pembiayaan

keuangan

mikro

dan

penguatan

kebutuhan SDM yang kompeten, dan mempertegas posisinya community bank yaitu fokus pada perannya sebagai
kebutuhan
SDM
yang
kompeten,
dan
mempertegas
posisinya
community
bank
yaitu
fokus
pada
perannya
sebagai
pendukung
pengembangan perekonomian lokal. 5
mampu
bersaing
dengan
BPR
konvensional
maupun
dengan
perekonomian yang kadang tidak menentu.

ketahanannya. Kebijakan ini akan ditempuh diantaranya dengan memberikan

insentif untuk mendorong peningkatan modal, memfasilitasi terpenuhinya

sebagai

dalam

Pesatnya perkembangan BPRS dan tingginya cita- cita arah kebijakan

perbankan tahun 2010 serta lahirnya seperangkat Peraturan Bank Indonesia

(PBI) seperti PBI No: 9/17/2007 tentang penilaian tingkat kesehatan BPRS,

PBI No: 8/22/2006 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)

BPRS, dan PBI No: 8/24/2006 tentang kualitas aktiva BPRS, serta peraturan

lainnya mengharuskan pihak manjemen BPRS bersungguh- sungguh dalam

melakukan peningkatan terhadap kinerja keuangannya. Selain agar BPRS

lembaga

keuangan lainnya, juga agar BPRS dapat terus bertahan di tengah kondisi

Salah satu indikator kinerja perbankan adalah tingkat profitabilitas

yang berhasil dicapai. Profitabilitas merupakan kemampuan manajemen bank

dalam memaksimalkan aktiva guna memperoleh keuntungan. Profitabilitas

menunjukkan besarnya bagi hasil yang diperoleh nasabah sehingga akan

5 “Arah Kebijakan Perbankan Tahun 2010 (Pertemuan Tahunan Perbankan, 22 Januari 2010)”, artikel diakses pada 25 April 2010 dari http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Ikhtisar+ Perbankan/Arah+Kebijakan+Perbankan/.

4

mempengaruhi tingkat loyalitas nasabah dan berdampak pada kemampuan

bank dalam menjalankan perannya sebagai financial intermediary. usaha dengan kebutuhan permodalan guna mempertinggi
bank dalam menjalankan perannya sebagai financial intermediary.
usaha
dengan
kebutuhan
permodalan
guna
mempertinggi
menyerap
risiko
usaha,
dan
dengan
melakukan
peningkatan
operasional agar mampu mendorong profitabilitas ke tingkat lebih tinggi.
diatur
oleh
Bank
Indonesia
merupakan
hal
yang
amat
penting

Untuk mencapai tingkat profitabilitas yang diharapkan perlu dilakukan

berbagai usaha dan strategi guna mendukung tercapainya tingkat kesehatan

perbankan yang optimal. Usaha tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan

memantapkan kembali struktur modal perbankan yang menyelaraskan skala

kemampuan

efisiensi

Upaya memenuhi tingkat kecukupan modal sebagaimana yang telah

untuk

diperhatikan karena tingkat kecukupan modal mencerminkan kemampuan

bank dalam menanggung risiko kerugian yang mungkin timbul. Selain itu,

tingkat modal yang tinggi akan meningkatkan cadangan kas yang dapat

digunakan untuk memperluas pembiayaan, memperluas jaringan kantor serta

penyediaan fasilitas kantor yang modern dan sistem telekomunikasi yang

canggih, sehingga dapat membuka peluang lebih besar dalam meningkatkan

profitabilitas bank.

Pentingnya

memenuhi

tingkat

kecukupan

modal

terlihat

dari

ditutupnya dua BPR oleh Bank Indonesia sepanjang tahun 2009, yakni BPR

Tripanca Setiadana Lampung dan BPRS Babussalam Jawa Barat disebabkan

ketidakmampuannya memenuhi modal minimum 4%. Tidak hanya itu, BI

5

juga

mengkarantina

17

BPR

dalam

pengawasan

khusus

karena

rasio

setara dengan 27% dari total BPR yang beroperasi saat ini, yaitu 1.768 BPR. 6 operasional
setara dengan 27% dari total BPR yang beroperasi saat ini, yaitu 1.768 BPR. 6
operasional
merupakan
kemampuan
bank
dalam
mengatur
porsi
operasional
yang
harus
dikeluarkan
seefisien
mungkin
dengan
besarnya
pendapatan
operasional
yang
didapat
sehingga
profitabilitas.
Sebaliknya,
inefisiensi
operasional
bank
dikurangi untuk menutupi besarnya beban operasional bank.

kecukupan modalnya (CAR) di bawah empat persen. Jumlah BPR yang

bermodal cekak saat ini masih banyak. BI mencatat, per akhir Maret 2009 lalu

ada 477 BPR yang belum memenuhi aturan modal minimum. Jumlah itu

Di sisi lain, efisiensi operasional perbankan juga merupakan faktor

penting dalam upaya meraih tingkat kinerja keuangan yang optimal. Efisiensi

biaya

tetap

memaksimalkan pelayanan kepada nasabah guna menghasilkan pendapatan

operasional yang optimal. Tingginya efisiensi operasional bank menandakan

meningkatkan

menunjukkan

rendahnya profitabilitas karena keuntungan yang didapat sebagiannya harus

Selama tahun 2009 BPR tampak kesulitan menggenjot pertumbuhan

laba akibat tekanan krisis keuangan global. Hal ini tercermin pada pencapaian

laba BPR per Agustus 2009 yang hanya berhasil mencetak Rp737 miliar,

tidak lebih besar dari pencapaian pada Agustus 2008 sebesar Rp753 miliar.

Faktor yang membuat BPR tertatih menumbuhkan laba antara lain disebabkan

6 Eko Nopiansyah, “Modal Cekak, Belasan BPR Dikandangkan”, artikel diakses pada 6 Juni 2010 dari http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2009/05/14/brk,20090514-176322, id.html.

6

tingkat efisiensi BPR yang menurun. Hal ini nampak pada besarnya BOPO

BOPO per Agustus 2008 yang levelnya masih 78,69%. 7 bertahan BPRS Amanah Ummah dalam menghadapi
BOPO per Agustus 2008 yang levelnya masih 78,69%. 7
bertahan
BPRS
Amanah
Ummah
dalam
menghadapi
terjangan
keuangan
global
terlihat
pula
dalam
kapabilitas
manajemennya
11 tahun terakhir. 8
membahas
“Pengaruh
Kecukupan
Modal
dan
Efisiensi

BPR per Agustus 2009 yang merangkak naik menjadi 82,20% dibanding

Lain halnya dengan BPRS Amanah Ummah Leuwiliang Bogor. Bank

yang berdiri sejak tahun 1992 ini justru mampu meningkatkan profitabilitas

dengan rasio ROA di tahun 2009 mencapai 4,01% yakni rasio ROA tertinggi

yang pernah diperoleh bank tersebut sejak 11 tahun terakhir. Kemampuan

krisis

dalam

memenuhi kecukupan modal dengan CAR di tahun 2009 sebesar 15,52% jauh

diatas ketentuan modal minimum, dan mampu pula meningkatkan efisiensi

operasional bank dengan rasio BOPO di tahun 2009 melesat turun ke angka

74,17% yakni rasio BOPO terendah yang pernah dicetak bank tersebut sejak

Dari pemaparan di atas, mendorong minat dan gagasan penulis untuk

Operasional

terhadap Profitabilitas pada PT. BPRS Amanah Ummah Leuwiliang

Bogor” dan mengangkatnya menjadi bahan dan judul skripsi sebagai tugas

akhir jenjang S1 yang sedang penulis tempuh.

7 Tofik Iskandar, “Gawat BPR Makin Terdesak”, artikel diakses pada 24 Juli 2010 dari http://

bprkotakediri.com/?p=188.

8 Laporan Kinerja Akhir Tahun 2009 PT. BPRS Amanah Ummah Leuwiliang Bogor.

7

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh kecukupan modal dan
1.
Pembatasan Masalah
Identifikasi
masalah
dalam
penelitian
ini
adalah
bagaimana
pengaruh
kecukupan
modal
dan
efisiensi
operasional
terhadap
profitabilitas pada BPRS dan seberapa besar pengaruhnya. Agar masalah
lebih terfokus dan spesifik, maka penulis membatasi permasalahan yang
akan diteliti sebagai berikut:
a.
Data yang digunakan adalah Annual Report atau Laporan Tahunan PT.
BPRS Amanah Ummah mulai dari tahun 1998 hingga tahun 2009.
b.
Lokasi
penelitian
adalah
PT.
BPRS
Amanah
Ummah
Jl.
Raya
Leuwiliang No.1 Leuwiliang Bogor 16640 Telp: (0251) 8647279, fax:
(0251) 8648579, e-mail: bprsau@telkom.net.
c.
Variabel yang digunakan adalah CAR, BOPO, dan ROA.
d.
Metode analisis yang digunakan yaitu analisis statistik dengan model
analisis regresi berganda, dan dilengkapi dengan analisis deskriptif
komparatif.

2. Rumusan Masalah

Untuk

memudahkan

dalam

melakukan

penelitian

mengenai

pengaruh kecukupan modal (CAR) dan efisiensi operasional (BOPO)

terhadap profitabilitas (ROA) PT. BPRS Amanah Ummah Leuwiliang

Bogor, penulis merumuskan permasalahan tersebut sebagai berikut:

8

a. Apakah

berpengaruh

kecukupan

modal

(CAR)

dan

efisiensi

Amanah Ummah Leuwiliang Bogor? b. Berapa besar pengaruh kecukupan modal (CAR) dan Amanah Ummah Leuwiliang
Amanah Ummah Leuwiliang Bogor?
b. Berapa
besar
pengaruh
kecukupan
modal
(CAR)
dan
Amanah Ummah Leuwiliang Bogor?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
a.
BPRS Amanah Ummah Leuwiliang Bogor.
b.
Amanah Ummah Leuwiliang Bogor.

operasional (BOPO) terhadap profitabilitas (ROA) pada PT. BPRS

efisiensi

operasional (BOPO) terhadap profitabilitas (ROA) pada PT. BPRS

Mengetahui ada atau tidaknya pengaruh kecukupan modal (CAR) dan

efisiensi operasional (BOPO) terhadap profitabilitas (ROA) pada PT.

Mengetahui besarnya pengaruh kecukupan modal (CAR) dan efisiensi

operasional (BOPO) terhadap profitabilitas (ROA) pada PT. BPRS

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang bisa didapat dari penelitian ini adalah:

a. Bagi penulis

Memperdalam

pengetahuan

dan

wawasan

tentang

analisis

profitabilitas dan faktor- faktor yang mempengaruhinya berdasarkan

analisis terhadap Laporan Tahunan PT. BPRS Amanah Ummah.

9

b. Bagi PT BPRS Amanah Ummah

Sebagai sarana evaluasi untuk terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi khususnya terhadap
Sebagai sarana evaluasi untuk terus melakukan perubahan ke
arah yang lebih baik lagi khususnya terhadap kinerja keuangan bank.
c. Bagi ilmu pengetahuan
Menambah
khazanah
intelektual
bagi
perkembangan
perbankan syariah khususnya mengenai profitabilitas BPRS.
d. Bagi masyarakat
Sebagai
kontribusi
positif
dalam
rangka
menyediakan
informasi
mengenai
kondisi
PT.
BPRS
Amanah
Ummah
dan
mensosialisasikannya kepada masyarakat.
D.
Review Kajian Terdahulu
Penelitian ini menggunakan ide dasar dari penelitian yang dilakukan
oleh :
1.
Nur Khasanah Sebatiningrum, jurusan Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial,
Universitas Negeri Semarang, 2006, “Pengaruh Capital Adequacy Ratio

(CAR),

Likuiditas,

dan

Efisiensi

Operasional

terhadap

Profitabilitas

Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta”.

Pokok masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa

besar kontribusi tingkat CAR, LDR, dan BOPO terhadap besarnya ROA

perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakartra baik secara simultan

maupun secara parsial. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 22 bank

10

dengan menggunakan metode analisis regresi berganda. Hasil penelitian

adalah rasio CAR dimana besarnya kontribusi CAR secara terhadap besar kecilnya profitabilitas adalah sebesar
adalah
rasio
CAR
dimana
besarnya
kontribusi
CAR
secara
terhadap besar kecilnya profitabilitas adalah sebesar 17,81%.
2.
Tbk (Januari 2005- April 2008)“.

secara simultan menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara CAR,

LDR, dan BOPO terhadap ROA. Secara parsial antara besarnya CAR,

LDR, dan BOPO akan berpengaruh secara masing- masing terhadap ROA.

Dari fungsi regresi berganda dapat diketahui adanya pengaruh

CAR dan LDR yang sifatnya positif dan pengaruh BOPO yang sifatnya

negatif. Besar sumbangan CAR, LDR, dan BOPO terhadap ROA adalah

sebesar 55,6% dan sisanya 44,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak

diteliti. Adapun variabel dominan yang mempengaruhi besarnya ROA

parsial

Desi Ariyani, jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009, “Analisis Pengaruh CAR, FDR,

BOPO, dan NPF terhadap Profitabilitas PT. Bank Muamalat Indonesia

Pokok masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

CAR, FDR, BOPO, dan NPF terhadap profitabilitas bank syariah yang

diwakili oleh ROE. Penelitian ini menggunakan data CAR, FDR, BOPO,

NPF, dan ROE dalam laporan keuangan bulanan PT. BMI periode Januari

2005- April 2008 yakni masing- masing berjumlah 40 data dan diolah

dengan metode regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

11

CAR dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap ROE, sedangkan FDR

dan NPF tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE. dominan yang mempengaruhi profitabilitas (ROE) sebesar 17,53%. 3.
dan NPF tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE.
dominan yang mempengaruhi profitabilitas (ROE) sebesar 17,53%.
3.
Imam
Gozali,
Program
Studi
Ilmu
Ekonomi,
Fakultas
2004- Oktober 2006)”.

Besarnya kemampuan variabel independen (CAR, FDR, BOPO,

dan NPF) menjelaskan variabel dependen (ROE) yaitu sebesar 79,9% dan

sisanya 20,1% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam

model. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa BOPO menjadi variabel

Ekonomi,

Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 2007, “Pengaruh CAR, FDR,

BOPO, dan NPL terhadap Profitabilitas Bank Syariah Mandiri (Januari

Pokok masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

CAR, FDR, BOPO, dan NPL terhadap profitabilitas bank syariah yang

diwakili rasio ROE. Penelitian ini menggunakan data CAR, FDR, BOPO,

NPL dan ROE dalam laporan keuangan bulanan BSM periode Januari

2004- Oktober 2006 yakni masing- masing berjumlah 34 data yang diolah

dengan metode regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

CAR berpengaruh signifikan dan negatif terhadap ROE. FDR berpengaruh

positif dan signifikan terhadap ROE. BOPO berpengaruh positif dan

signifikan terhadap ROE, sedangkan NPL berpengaruh signifikan dan

bernilai negatif terhadap ROE.

12

Adapun besarnya kemampuan variabel independen (CAR, FDR,

digunakan. keuangan tahunan pada PT. BPRS Amanah Ummah periode 1998- 2009 yakni masing- masing berjumlah
digunakan.
keuangan tahunan pada PT. BPRS Amanah
Ummah
periode 1998- 2009 yakni masing- masing berjumlah 11 data observasi.
analisis
yaitu
analisis
statistik
dan
analisis
deskriptif
komparatif
lebih komprehensif mengenai permasalahan yang sedang dibahas.

BOPO, dan NPL) menjelaskan variabel dependen (ROE) sebesar 76,5%,

dan sisanya sebesar 23,5% dijelaskan oleh variabel lain diluar model yang

Meskipun penelitian ini menggunakan ide dasar dari ketiga penelitian

di atas, tentu penelitian ini memiliki ciri khas tersendiri yakni pokok masalah

yang dibahas adalah untuk mengetahui pengaruh kecukupan modal (CAR)

dan efisiensi operasional (BOPO) terhadap tingkat profitabilitas yang diwakili

oleh Return On Assets (ROA). Sumber data yang digunakan adalah laporan

Leuwiliang Bogor

Data tersebut diolah dengan menggunakan gabungan dua metode

yang

membandingkan perubahan nilai CAR, BOPO, dan ROA di periode- periode

tertentu yang diharapkan dapat memberikan kesimpulan dan interpretasi yang

E. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yakni penelitian

untuk

mengetahui

pengaruh

operasional

(BOPO)

terhadap

kecukupan

modal

(CAR)

dan

efisiensi

profitabilitas

(ROA)

pada

PT.

BPRS

13

Amanah Ummah Leuwiliang Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian

dilakukan berbagai metode statistik untuk menganalisis data yang terjadi di lapangan. 2. Data Penelitian angka
dilakukan
berbagai
metode
statistik
untuk
menganalisis
data
yang terjadi di lapangan.
2. Data Penelitian
angka dan berskala interval. Adapun sumber data yang digunakan adalah:
a.
oleh PT. BPRS Amanah Ummah dari tahun 1998 hingga tahun 2009.
b.

statistik inferensial parametrik, dimana setelah data dikumpulkan maka

lalu

menginterpretasikan hasil analisis tersebut. Sedangkan pendekatan yang

digunakan adalah pendekatan empiris yaitu pendekatan berdasarkan fakta

Jenis data yang diolah dalam penelitian ini adalah data kuantitatif

karena variabel- variabel yang diteliti merupakan data yang berbentuk

Data Primer, yakni data yang 100% berasal dari sumber aslinya

langsung berupa Laporan Tahunan (Annual Report) yang terdiri dari

Laporan Keuangan Tahunan dan informasi umum yang disediakan

Data Sekunder, adalah data yang 50% sudah disiapkan pihak lain yaitu

institusi ataupun lembaga berupa data mengenai teori- teori dan

perkembangan dunia perbankan yang mendukung penelitian yang

tersedia di berbagai literatur kepustakaan dan situs internet.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik

pengumpulan

data

yang

digunakan

adalah

metode

dokumentasi terhadap Laporan Tahunan PT. BPRS Amanah Ummah,

14

literatur kepustakaan, karya ilmiah, artikel, dan data elektronik yang

terdapat di berbagai situs internet mengenai masalah yang sedang dibahas. 4. Variabel Penelitian Variabel yang
terdapat di berbagai situs internet mengenai masalah yang sedang dibahas.
4. Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a) Return On Assets (ROA)
Variabel ROA merupakan variabel dependen dalam penelitian
ini. Data ROA bersumber dari Laporan Tahunan PT. BPRS Amanah
Ummah mulai dari tahun 1999 hingga tahun 2009 yakni berjumlah 11
data yang diperoleh dengan cara membandingkan laba sebelum pajak
terhadap total aset yang dimiliki dalam periode tertentu.
b) Capital Adequacy Ratio (CAR)
Variabel
CAR
merupakan
variabel
independen
dalam
penelitian ini
yang bersumber dari
Laporan
Tahunan PT.
BPRS
Amanah Ummah dari tahun 1998 hingga tahun 2008 yakni berjumlah
11 data yang diperoleh dengan membandingkan modal terhadap total
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) dalam periode tertentu.

c) Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

Variabel BOPO adalah variabel independen dalam penelitian

ini yang bersumber dari Laporan Tahunan PT. BPRS Amanah Ummah

mulai dari tahun 1999 hingga tahun 2009 yakni berjumlah 11 data

yang diperoleh dengan cara membandingkan total beban operasional

terhadap total pendapatan operasional dalam periode tertentu.

15

Perbedaan penggunaan range data CAR dan ROA yakni dengan

ROA dibandingkan di periode yang sama. Adapun teknik penarikan sampel dalam penelitian dan ROA dalam
ROA dibandingkan di periode yang sama.
Adapun
teknik
penarikan
sampel
dalam
penelitian
dan
ROA
dalam
Laporan
Tahunan
PT.
BPRS
Amanah
dimasukkan sebagai sampel karena terbatasnya data yang tersedia.
5. Teknik Pengolahan Data
dapat mempermudah proses pengolahan data lebih cepat dan tepat.
6. Metode Analisis

asumsi bahwa kecukupan modal (CAR) di tahun t (misal tahun 1998) baru

akan dirasakan pengaruhnya terhadap tingkat profitabilitas (ROA) bank di

periode berikutnya yaitu t+1 (tahun 1999). Sedangkan data BOPO dan

ini

menggunakan teknik sampling jenuh yakni data mengenai CAR, BOPO,

Ummah

Leuwiliang Bogor mulai dari tahun 1998 hingga tahun 2009 seluruhnya

Guna mengubah data mentah menjadi data yang dapat terbaca

dengan baik, maka dalam penelitian ini digunakan teknik pengolahan data

melalui program statistik SPSS for Windows versi 13.0 yang diharapkan

Guna mengetahui ada atau tidaknya pengaruh kecukupan modal

(CAR) dan efisiensi operasional (BOPO) terhadap profitabilitas (ROA),

maka data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan

dua metode yakni metode analisis statistik dan metode analisis deskriptif

komparatif yang membandingkan perubahan nilai variabel CAR, BOPO,

dan ROA di periode tertentu.

16

Metode analisis statistik dalam penelitian ini menggunakan model

analisis regresi berganda karena variabel independennya (CAR dependen (ROA). 9 Rumus regresi berganda dicari dengan
analisis
regresi
berganda
karena
variabel
independennya
(CAR
dependen (ROA). 9 Rumus regresi berganda dicari dengan persamaan:
Y = a + b 1 X 1 + b 2 X 2 + e
Keterangan :
Y : variabel dependen atau variabel terikat (ROA)
a : konstanta persamaan regresi
: koefisien regresi
b 1, b 2
X
: variabel independen atau variabel bebas (CAR)
1
X
: variabel independen atau variabel bebas (BOPO)
2
e : error terms atau faktor pengganggu
khususnya kolom Unstandardized Coefficients.
Sebelum
dilakukan
uji
signifikansi
terhadap
hipotesis,
regresi
yang baik
harus
memenuhi
uji
asumsi
klasik
(terbebas

dan

BOPO) memiliki hubungan kausalitas (sebab akibat) terhadap variabel

Fungsi regresi dapat di lihat pada tabel coefficient output statistik

fungsi

dari

masalah

multikolinieritas,

heteroskedasitas,

dan

autokorelasi,

serta

memenuhi

uji normalitas) sebagai berikut:

 

a)

Masalah heteroskedasitas adalah terjadinya ketidaksamaan varians

residual

dari

satu

pengamatan

ke

pengamatan

yang

lain.

Cara

9 Ety Rochaety, dkk., Metodologi Penelitian Bisnis dengan Aplikasi SPSS, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2007), h.138.

17

mendeteksi heteroskedasitas dengan melihat ada atau tidaknya pola

dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedasitas. b) Masalah multikolinieritas menunjukkan regresi
dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedasitas.
b) Masalah multikolinieritas menunjukkan
regresi bebas dari multikolinieritas. 10
c) Masalah
autokorelasi
yaitu
adanya
korelasi
antara
pengganggu
pada
suatu
periode
dengan
kesalahan
pada
masalah autokorelasi. 11

tertentu pada Scatter Plot yang terdapat dalam output statistik. Jika

tidak ada pola yang jelas, serta titik- titik menyebar di atas dan

adanya korelasi di antara

variabel bebas. Untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dilakukan

dengan mencari besarnya Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai

Tolerance-nya pada tabel Coefficients output statistik. Jika nilai VIF

kurang dari 10 dan nilai Tolerance-nya lebih dari 0,1 maka model

kesalahan

periode

sebelumnya. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dengan

melihat nilai D-W (Durbin Watson) pada tabel Model Summary output

statistik. Jika angka D-W diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada

d) Uji normalitas adalah untuk menentukan apakah variabel berdistribusi

normal atau tidak. Pengujian normalitas dapat dilihat dari grafik

normal Probability Plot output statistik. Apabila variabel berdistribusi

10 Singgih Santoso, Latihan SPSS Statistik Parametrik, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2000), h.214.

11 Singgih Santoso, Latihan SPSS Statistik Parametrik, h.144.

18

normal, maka penyebaran plot akan berada di sekitar dan di sepanjang

garis 45 o . 12 Setelah uji asumsi klasik, langkah selanjutnya adalah dengan melakukan pengujian
garis 45 o . 12
Setelah uji asumsi klasik, langkah selanjutnya adalah dengan
melakukan pengujian hipotesis (testing hypothesis) terhadap hasil regresi
untuk
mengetahui
kebenaran
dari
hipotesis
yang
dibuat
yang
akan
membawa kepada kesimpulan untuk menolak atau menerima hipotesis. 13
Adapun hipotesis null (H o ) dan hipotesis alternatif (Ha) dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
H o :
Kecukupan Modal (CAR) dan Efisiensi Operasional (BOPO) tidak
berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas (ROA).
Ha :
Kecukupan
Modal
(CAR)
dan
Efisiensi
Operasional
(BOPO)
berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas (ROA).
Agar
dapat
menginterpretasikan
hasil
regresi
dengan
benar,
dibutuhkan pengujian statistik yang relevan terhadap hipotesis yakni
pengujian secara simultan (Uji F) dan pengujian secara parsial (Uji t).
a)
Uji F. Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah variabel CAR

dan BOPO secara simultan atau bersama- sama berpengaruh signifikan

terhadap ROA, yaitu dengan cara: 14

1)

Membandingkan F hitung dengan F tabel

12 Singgih Santoso, Latihan SPSS Statistik Parametrik, h.253.

13 Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Pengantar Statistika, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h.119.

14 Ety Rochaety, dkk., Metodologi Penelitian Bisnis dengan Aplikasi SPSS, h.119.

19

Jika F hitung F tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima

Jika F hitung  F tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak jumlah sampel yang
Jika F hitung  F tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak
jumlah sampel yang diteliti.
2)
signifikansi () sebesar 0,05 (5%)
Sig. penelitian  0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima
Sig. penelitian  0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak
ANOVA output statistik.

F hitung dapat dilihat pada tabel ANOVA output statistik.

Sedangkan F tabel didapat dari tabel F. 15 Cara mencari nilai F tabel

yaitu dengan cara menghitung numerator (df1/pembilang = k – 1)

dan denumerator (df2/penyebut = n – k) serta derajat kebebasan

() yang digunakan dimana k adalah jumlah variabel dan n adalah

Membandingkan taraf signifikansi (sig) penelitian dengan taraf

Nilai sig. penelitian dapat diperoleh dengan melihat tabel

Jika Ho ditolak, berarti minimal ada satu variabel bebas yang

berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat dan model layak

digunakan. Jika Ho diterima, maka tidak ada satupun variabel bebas

yang berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya.

15 Junaidi, “Titik Persentase Distribusi F Probabilita = 0.05”, artikel diakses pada 11 Juni 2010 dari http://junaidichaniago.files.wordpress.com/2010/04/tabel-f-0-05.pdf.

20

b) Uji t. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel CAR

dan BOPO secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel ROA dengan cara: 16 1) Membandingkan t
dan BOPO secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel
ROA dengan cara: 16
1)
Membandingkan t hitung dengan t tabel
Jika t hitung  t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima
Jika t hitung  t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak
T
hitung
dapat
dilihat
pada
tabel
Coefficients
output
statistik. Sedangkan t tabel didapat dari tabel t. 17 Cara mencari
nilai t tabel yaitu dengan menentukan taraf signifikansi 0,05 dan
menghitung besarnya derajat kebebasan (DK = n – k) dimana n
adalah banyaknya sampel dan k adalah banyaknya variabel.
2)
Membandingkan taraf signifikansi (sig) penelitian dengan taraf
signifikansi () sebesar 0,05 (5%)
Sig. penelitian  0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima
Sig. penelitian  0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak
Nilai sig. penelitian bisa dilihat pada tabel Coefficients

output statistik.

Jika

Ho

ditolak,

maka

variabel

bebas

secara

parsial

berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya. Sebaliknya jika

16 Ety Rochaety, dkk., Metodologi Penelitian Bisnis dengan Aplikasi SPSS, h.115. 17 Junaidi, “Titik Persentase Distribusi t d.f = 1-200”, artikel diakses pada 11 Juni 2010 dari

http://junaidichaniago.files.wordpress.com/2010/04/tabel-t.pdf.

21

Ho diterima berarti variabel bebas secara parsial tidak berpengaruh

signifikan terhadap variabel terikat. determinasi (R 2 ) dan penghitungan koefisien determinasi parsial. Dalam
signifikan terhadap variabel terikat.
determinasi (R 2 ) dan penghitungan koefisien determinasi parsial.
Dalam penelitian
ini,
penghitungan koefisien
a) Koefisien determinasi
(R 2 ) .
dengan penghitungan berikut: 18
2
Koefisien Determinasi
=
R
X
100%
Semakin
besar
nilai
koefisien
determinasi

Setelah dilakukan pengujian terhadap hipotesis guna mengetahui

ada atau tidaknya pengaruh CAR dan BOPO terhadap ROA baik secara

simultan maupun parsial, maka untuk mengetahui besar kecilnya pengaruh

CAR dan BOPO terhadap ROA perlu dilakukan penghitungan koefisien

determinasi

dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi variabel CAR

dan BOPO secara simultan terhadap tingkat ROA. Angka koefisien

determinasi dapat dilihat pada tabel Model Summary output statistik

menunjukkan

semakin besar pengaruh atau kontribusi CAR dan BOPO secara

simultan terhadap ROA. Sebaliknya, semakin kecil nilai koefisien

determinasi

menggambarkan

semakin

kecilnya

pengaruh

atau

kontribusi CAR dan BOPO secara simultan terhadap ROA.

b) Koefisien Determinasi Parsial. Dalam penelitian ini, penghitungan koefisien determinasi

parsial dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh atau

18 Algifari, Analisis Regresi: Teori, Kasus dan Solusi, (Yogyakarta: BPFE Yogyakarta, 2009),

h.45.

22

kontribusi masing- masing variabel CAR dan BOPO secara parsial

Correlations) pada tabel Coefficients output statistik. 19 Koefisien Determinasi Parsial = (Partial Correlations) 2 X
Correlations) pada tabel Coefficients output statistik. 19
Koefisien Determinasi Parsial = (Partial Correlations) 2 X 100%
secara parsial terhadap ROA.
F. Sistematika Penulisan
membagi skripsi ini menjadi lima bab dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN

terhadap ROA. Besarnya nilai koefisien determinasi parsial dapat

dihitung dengan cara mengkuadratkan angka korelasi parsial (Partial

Semakin besar nilai koefisien determinasi parsial menunjukkan

semakin besar pengaruh atau kontribusi masing- masing variabel CAR

dan BOPO secara parsial terhadap ROA. Sebaliknya, semakin kecil

nilai koefisien determinasi parsial menggambarkan semakin kecilnya

pengaruh atau kontribusi masing- masing variabel CAR dan BOPO

Agar pembahasan lebih terarah dan mudah dipahami, maka penulis

Bab ini berisi latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan

masalah, tujuan dan manfaat penelitian, review kajian terdahulu, metode

penelitian, dan sistematika penulisan.

19 Nur Khasanah Sebatiningrum, “Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Likuiditas, dan Efisiensi Operasional terhadap Profitabilitas Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”, (Skripsi S1 Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, 2006), h.87.

23

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini menjelaskan mengenai pengertian profitabilitas, Return On Assets (ROA), pengertian kecukupan modal, Capital
Bab ini menjelaskan mengenai pengertian profitabilitas, Return On
Assets (ROA), pengertian kecukupan modal, Capital Adequacy Ratio (CAR),
Kewajiban
Penyediaan
Modal
Minimum
(KPMM)
BPRS,
pengertian
efisiensi,
Beban
Operasional
terhadap
Pendapatan
Operasional
(BOPO),
Pengaruh
Kecukupan
Modal
(CAR)
terhadap
Profitabilitas
(ROA),
dan
Pengaruh Efisiensi Operasional (BOPO) terhadap Profitabilitas (ROA).
BAB III DESKRIPSI DATA
Bab ini berisi informasi sekilas tentang PT. BPRS Amanah Ummah
dan deskripsi data mengenai aspek permodalan, efisiensi operasional, dan
profitabilitas pada PT. BPRS Amanah Ummah.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini dipaparkan hasil analisis statistik berupa fungsi regresi
yang terbentuk, interpretasi fungsi regresi, uji asumsi klasik (heteroskedasitas,
multikolinieritas, autokorelasi, dan normalitas), uji signifikansi (Uji F dan Uji
t), koefisien determinasi (R 2 ), dan koefisien determinasi parsial, serta analisis

deskriptif komparatif di tiap periode pengamatan.

BAB V KESIMPULAN

Bab ini berisi kesimpulan dan saran sebagai hasil dari penelitian yang

dilakukan sehingga diharapkan dapat berguna untuk kegiatan lebih lanjut.

24

BAB II

LANDASAN TEORI A. Profitabilitas 1. Pengertian Profitabilitas Profitabilitas atau kemampuan menghasilkan laba
LANDASAN TEORI
A. Profitabilitas
1.
Pengertian Profitabilitas
Profitabilitas
atau
kemampuan
menghasilkan
laba
merupakan
ukuran seberapa baik suatu sistem berfungsi menurut besarnya laba yang
berhasil dicetaknya. 20 Laba adalah tujuan dengan alasan: 21
a.
Dengan laba yang cukup dapat dibagi keuntungan kepada pemegang
saham,
meningkatkan
dana
cadangan
modal
dan
memperluas
kesempatan
masyarakat
untuk
meminjam
dana
sehingga
akan
menaikkan kredibilitas bank di mata masyarakat.
b.
Laba merupakan penilaian keterampilan pimpinan. Pimpinan bank
yang cakap dan terampil umumnya dapat mendatangkan keuntungan
yang lebih besar dari pada pimpinan yang kurang cakap.
c.
Meningkatkan
daya
tarik
bagi
pemilik
modal
(investor)
untuk
menanamkan modalnya dengan membeli saham yang dikeluarkan oleh

bank. Pada gilirannya bank akan mempunyai kekuatan modal untuk

memperluas penawaran produk dan jasanya kepada masyarakat.

20 Benyamin Molan, Glosarium Prentice hall untuk Manajemen dan Pemasaran, (Jakarta:

Prenhallindo, 2002), h.123.

21 O.P. Simorangkir, Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), h.152.

25

d.

Bila tingkat laba bank bertambah diharapkan lalu lintas keuangan

terjamin sehingga pemerintah dan masyarakat merasa tenang. Bank syariah merupakan lembaga keuangan syariah bank
terjamin sehingga pemerintah dan masyarakat merasa tenang.
Bank
syariah
merupakan
lembaga
keuangan
syariah
bank
syariah
terutama
diperoleh
dari
selisih
antara
pendapatan
penanaman
dana
dan
biaya-
biaya
yang
dkeluarkan
selama
tertentu. Untuk dapat memperoleh hasil
perbankan salah satunya dapat dihitung dengan Return on Assets (ROA).
2. Return On Assets (ROA)

yang

berorientasi laba (profit). Laba bukan hanya untuk kepentingan pemilik,

tetapi juga sangat penting untuk pengembangan usaha bank syariah. Laba

atas

periode

yang optimal, bank syariah

dituntut untuk melakukan pengelolaan dananya secara efisien dan efektif

baik atas dana- dana yang dikumpulkan dari masyarakat (Dana Pihak

Ketiga), serta dana pemilik bank syariah maupun atas pemanfaatan atau

penanaman dana tersebut. 22 Profitabillitas atau rentabilitas dalam dunia

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen

bank dalam mengelola aset guna memperoleh keuntungan (laba) secara

keseluruhan. ROA dihitung dengan rumus sebagai berikut: 23

ROA =

Laba Sebelum Pajak

Total Aktiva

X 100%

22 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Yogyakarta: EKONISIA, 2005), h.101. 23 Farah Margaretha, Manajemen Keuangan bagi Industri Jasa, (Jakarta: Grasindo, 2007),

h.61.

26

Besarnya

nilai

untuk

laba

sebelum

pajak

dapat

dilihat

pada

biasanya menggunakan laba sebelum zakat dan pajak. periode berjalan sebelum dikurangi pajak. Sedangkan total pada
biasanya menggunakan laba sebelum zakat dan pajak.
periode
berjalan
sebelum
dikurangi
pajak.
Sedangkan
total
pada
bank
lain,
piutang,
pembiayaan
dengan
prinsip
bagi
menurut Bank Indonesia secara rinci adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1
Klasifikasi Tingkat ROA Menurut BI
Tingkat ROA
Predikat
Di atas 1,22%
Sehat
0,99% – 1,22%
Cukup sehat
0,77% – 0,99%
Kurang sehat
Di bawah 0,77%
Tidak sehat
Sumber: www.bi.go.id

perhitungan laba rugi bank, sedangkan total aktiva dapat dilihat pada

laporan neraca bank. Adapun penghitungan ROA untuk bank syariah

Laba sebelum pajak adalah laba rugi bank yang diperoleh dalam

aktiva

merupakan komponen yang terdiri dari kas, giro pada BI, penempatan

hasil,

pembiayaan dengan prinsip jual beli, pembiayaan dengan prinsip sewa,

pinjaman qardh, aktiva tetap, dan lain-lain. 24 Klasifikasi tingkat ROA

ROA adalah salah satu indikasi kesehatan keuangan perbankan.

Semakin besar ROA, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai

dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset.

24 Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005), h.22.

27

Sebaliknya, semakin kecil ROA menggambarkan kinerja perbankan yang

kurang baik dalam mengelola aset guna menghasilkan laba. B. Kecukupan Modal 1. Pengertian Kecukupan Modal
kurang baik dalam mengelola aset guna menghasilkan laba.
B. Kecukupan Modal
1. Pengertian Kecukupan Modal
kegiatan
operasional,
penyangga
terhadap
kemungkinan
seluruh risiko usaha yang dihadapi bank.
Untuk
memastikan
bahwa
industri
perbankan
yang
harus
dimiliki
bank
dan
mengeluarkan
ketentuan

Permodalan berfungsi sebagai sumber utama pembiayaan terhadap

terjadinya

kerugian, dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan

bank dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi. Modal

yang dimiliki oleh suatu bank pada dasarnya harus cukup untuk menutupi

memiliki

permodalan yang cukup dalam mendukung kegiatan usahanya, Bank

Indonesia bertanggung jawab menentukan jumlah minimum permodalan

mengenai

permodalan minimum (regulatory capital). Pemenuhan regulatory capital

tersebut menjadi salah satu komponen penilaian dalam pengawasan bank

yang tercermin dari pemenuhan rasio kecukupan modal. 25 Kecukupan

modal perbankan salah satunya diukur dengan Capital Adequacy Ratio

(CAR).

25 Ferry N Idroes, Manajemen Perbankan: Pemahaman Pendekatan 3 Pilar Kesepakatan Basel II terkait Aplikasi Regulasi dan Pelaksanaaannya di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), h.66.

28

2. Capital Adequacy Ratio (CAR)

CAR adalah perbandingan antara total modal dengan aset tertimbang menurut risiko yang oleh Bank Indonesia
CAR
adalah
perbandingan
antara
total
modal
dengan
aset
tertimbang
menurut
risiko
yang
oleh
Bank
Indonesia
diterjemahkan
menjadi
KPMM
(Kewajiban
Penyediaan
Modal
Minimum). 26
CAR
dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Modal Bank
CAR =
X 100%
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)
BI
menetapkan
ketentuan
modal
minimum
bagi
perbankan
sebagaimana ketentuan dalam standar Bank for International Settlements
(BIS) bahwa setiap bank umum diwajibkan menyediakan modal minimum
sebesar 8% dari total Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). 27
Adapun Klasifikasi tingkat CAR menurut Bank Indonesia secara rinci
adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2
Klasifikasi Tingkat CAR Menurut BI
Tingkat CAR
Predikat
8% ke atas
Sehat
6,4% - 7,9%
Kurang Sehat
di bawah 6,4%
Tidak Sehat

Sumber: www.bi.go.id

CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh

aktiva bank yang mengandung risiko (pembiayaan, penyertaan, surat

26 Benyamin Molan, Glosarium Prentice hall untuk Manajemen dan Pemasaran, h.16. 27 Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), h.40.

29

berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal bank,

disamping memperoleh dana- dana dari sumber- sumber di luar bank seperti dana masyarakat, pinjaman (utang),
disamping memperoleh dana- dana dari sumber- sumber di luar bank
seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain- lain. Dengan kata
lain,
CAR
adalah
rasio
kinerja bank
untuk
menunjang
aktiva
yang
mengandung risiko, misalnya pembiayaan yang diberikan. 28
Rasio CAR merupakan alat pengukur kinerja keuangan bank.
Selain itu, CAR juga menggambarkan kondisi perbankan diantaranya:
a.
Indikasi permodalan apakah telah memadai (adequate) untuk menutup
risiko kerugian yang timbul dari penanaman dana dalam aktiva-aktiva
produktif
karena
setiap
kerugian
akan
mengurangi
modal.
CAR
mengukur
kemampuan
permodalan
bank
dalam
mengantisipasi
penurunan
aktiva
dan
menutup
kemungkinan
terjadinya
kerugian
dalam pembiayaan. CAR yang tinggi mencerminkan semakin baiknya
permodalan karena modal dapat digunakan untuk menjamin pemberian
pembiayaan. CAR yang rendah mencerminkan bahwa permodalan
bank kurang baik karena bank kurang mampu menutup kemungkinan

terjadinya kegagalan dalam pembiayaan.

b. Kemampuan membiayai operasional dan membiayai seluruh aktiva

tetap dan inventaris bank. CAR yang tinggi menunjukkan cukupnya

modal untuk melaksanakan kegiatan usahanya dan dapat melakukan

pengembangan bisnis serta ekspansi usaha dengan lebih aman.

28 Farah Margaretha, Manajemen Keuangan bagi Industri Jasa, h.63.

30

c. Kemampuan

bank

dalam

meningkatkan

profitabilitas.

CAR

yang

lebih besar bagi bank untuk meningkatkan profitabilitas. d. kelangsungan usaha bank menjadi terganggu. 3. Kewajiban
lebih besar bagi bank untuk meningkatkan profitabilitas.
d.
kelangsungan usaha bank menjadi terganggu.
3. Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) BPRS
Berdasarkan
PBI
Nomor:
8/22/PBI/2006
tentang
(ATMR). Perhitungan modal pada BPRS adalah sebagai berikut: 29
a.

tinggi menunjukkan bank tersebut memiliki tingkat modal yang cukup

besar dalam meningkatkan cadangan kas yang dapat digunakan untuk

memperluas pembiayaannya, sehingga akan membuka peluang yang

Ketahanan dan efisiensi perbankan. Bila CAR rendah, kemampuan

bank untuk survive pada saat mengalami kerugian juga rendah. Modal

sendiri cepat habis untuk menutup kerugian yang dialami dan akhirnya

Kewajiban

Penyediaan Modal Minimum (KPMM) BPRS, bank wajib menyediakan

modal minimum sebesar 8% dari Aktiva Tertimbang Menurut Risiko

Modal inti terdiri dari modal disetor, agio saham, dana setoran modal,

modal sumbangan, cadangan umum, cadangan tujuan, laba ditahan

setelah diperhitungkan pajak, laba tahun lalu setelah diperhitungkan

pajak, serta laba tahun berjalan setelah diperhitungkan taksiran pajak

dan kekurangan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif paling

29 “Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor: 8/22/PBI/2006 Tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah (BPRS)”, artikel diakses 24 Juli 2010 dari http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/37E4E7E8-9507-4788-86C3-533A57C17

BF4/11955/pbi_82207.pdf

31

tinggi

50%.

Modal

inti

diperhitungkan

dengan

faktor

pengurang

berupa goodwill, disagio, rugi tahun lalu, dan rugi tahun berjalan. b. Modal pelengkap diperhitungkan paling
berupa goodwill, disagio, rugi tahun lalu, dan rugi tahun berjalan.
b.
Modal pelengkap diperhitungkan paling tinggi 100% dari modal inti
yang terdiri dari selisih penilaian kembali aktiva tetap, cadangan
umum dari Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif paling tinggi
1,25% dari ATMR, modal pinjaman (modal kuasi), dan investasi
subordinasi
paling
tinggi
sebesar
50%
dari
modal
inti
dengan
memenuhi persyaratan tertentu.
Adapun
perhitungan
kebutuhan
modal
minimum
pada
BPRS
adalah sebagai berikut: 30
a.
Melakukan penjumlahan ATMR, yaitu:
1)
ATMR
aktiva
neraca
(mengalikan
nilai
nominal
aktiva
yang
bersangkutan dengan bobot risiko aktiva neraca tersebut).
2)
ATMR aktiva administratif (mengalikan nilai nominal rekening
administratif
yang
bersangkutan
dengan
bobot
risiko
aktiva
administratif tersebut).

b. Jumlah kewajiban penyediaan modal minimum BPRS adalah 8% dari

jumlah ATMR (ATMR aktiva neraca + ATMR aktiva administratif).

c. Dihitung jumlah modal inti dan modal pelengkap.

30 “Surat Edaran Bank Indonesia (SE BI) No. 9/14/Dpbs/2007 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) BPRS, Jakarta, 21 Juni 2007”, artikel diakses 24 Juli 2010 dari http://

www.bi.go.id/NR/rdonlyres/567A219D-023D-404C-A62F-4B253DD30040/12143/SENo914DP

bSTgl21Juni2007.pdf.

32

d.

Membandingkan jumlah modal dengan kewajiban penyediaan modal

minimum tersebut sehingga dapat diketahui kelebihan kekurangan modal dari BPRS yang bersangkutan. C. Efisiensi
minimum
tersebut
sehingga
dapat
diketahui
kelebihan
kekurangan modal dari BPRS yang bersangkutan.
C. Efisiensi Operasional
1. Pengertian Efisiensi
dari cara manajemen memproses input menjadi output. 31

atau

Agar mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat, tuntutan

konsumen yang meningkat dan pesatnya kemajuan teknologi informasi,

maka pengelolaan bank secara efisien merupakan faktor penting untuk

dapat terus bertahan. Efisiensi adalah “melakukan sesuatu secara tepat (do

the things right)”. Efisiensi didefinisikan sebagai hubungan antara input

dan output yang dihasilkan dengan sumber daya yang dipakai untuk

melakukan aktivitas operasional. Bank dikategorikan efisien tergantung

Efisiensi yang harus dilakukan perbankan adalah mengoptimalkan

input yang ada agar manghasilkan output yang maksimal. Input pada

perbankan syariah terdiri dari tiga pihak. Dana pihak pertama berasal dari

dana para pemodal dan pemegang saham. Dana pihak kedua berasal dari

pinjaman lembaga keuangan (bank dan bukan bank) dan pinjaman dari

Bank Indonesia. Dana pihak ketiga berasal dari dana simpanan, tabungan,

dan deposito. Setelah input terkumpul di bank, selanjutnya bank syariah

31 Benyamin Molan, Glosarium Prentice Hall untuk Manajemen dan Pemasaran, h.44.

33

dapat

menghasilkan

output

berupa

penyaluran

dana

dalam

bentuk

maka bank tetap harus akhirnya akan mengurangi tingkat laba yang dihasilkan bank. Bank yang dalam
maka bank tetap harus
akhirnya akan mengurangi tingkat laba yang dihasilkan bank.
Bank
yang
dalam
kegiatan
usahanya
tidak
efisien
mengakibatkan
ketidakmampuan
bersaing
dalam
mengerahkan
yang
membutuhkan
sebagai
modal
usaha.
Efisiensi
pada
optimal,
penambahan
jumlah
dana
yang
disalurkan,
biaya
kompetitif,
peningkatan
pelayanan
kepada
nasabah,
keamanan
kesehatan
perbankan
yang
meningkat.
Salah
satu
alat
yang
digunakan untuk mengukur efisiensi perbankan adalah rasio BOPO.
2. Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
pendapatan
operasional.
BOPO
digunakan
untuk
mengukur

pembiayaan dan jasa. Jika terdapat dana yang tidak digunakan pada bank

memberikan bagi hasil kepada nasabah dan

akan

dana

masyarakat maupun dalam menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat

perbankan

terutama efisiensi biaya akan menghasilkan tingkat keuntungan yang

lebih

dan

dapat

Rasio BOPO adalah perbandingan antara biaya operasional dengan

tingkat

efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. 32

BOPO dihitung dengan rumus sebagai berikut:

BOPO =

Beban Operasional

Pendapatan Operasional

X 100%

32 Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan, h.119.

34

Yang termasuk beban operasional adalah semua jenis biaya yang

berkaitan langsung dengan kegiatan usaha bank. Beban inventaris, dan sebagainya. 33 menurut Bank Indonesia secara
berkaitan
langsung
dengan
kegiatan
usaha
bank.
Beban
inventaris, dan sebagainya. 33
menurut Bank Indonesia secara rinci adalah sebagai berikut:
Tabel 2.3
Klasifikasi Tingkat BOPO Menurut BI

operasional

terdapat dalam laporan laba rugi yang diperoleh dengan menjumlahkan

biaya bagi hasil, biaya tenaga kerja, biaya umum dan administrasi, biaya

Penyusutan dan Penyisihan Aktiva Produktif, biaya sewa gedung dan

Sedangkan yang termasuk pendapatan operasional adalah semua

pendapatan yang merupakan hasil langsung dari kegiatan usaha bank yang

benar- benar telah diterima. Pendapatan operasional didapat dalam laporan

laba rugi yang diperoleh dengan menjumlahkan pendapatan jual beli,

pendapatan sewa, pendapatan bagi hasil, pendapatan administrasi, dan

pendapatan operasional lainnya yang terdiri dari provisi dan komisi serta

dividen yang diterima dari saham yang dimiliki. Ketentuan tingkat BOPO

Tingkat BOPO

Predikat

Di bawah 93,52%

Sehat

93,52% - 94,72%

Cukup sehat

94,72% - 95,92%

Kurang sehat

Di atas 95,92%

Tidak sehat

Sumber: www.bi.go.id

33 Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan, h.111.

35

Selain sebagai indikator kinerja dan kesehatan bank, efisiensi yang

diwakili oleh rasio BOPO juga memberikan gambaran mengenai: a. penggunaan aktiva untuk menghasilkan laba. b.
diwakili oleh rasio BOPO juga memberikan gambaran mengenai:
a.
penggunaan aktiva untuk menghasilkan laba.
b.
ketidakmampuan bank dalam mengatur dan mengendalikan biaya.
c.
Sebaliknya,
tingginya
BOPO
berarti
tinggi
pula
beban
ditanggung bank dan berimbas negatif terhadap laba yang didapat.
d.

Kemampuan manajemen perbankan dalam mengelola sumber daya

(aktiva) yang ada untuk menghasilkan keuntungan optimal. Semakin

rendah BOPO maka semakin tinggi efisiensi operasional bank dalam

Kemampuan bank dalam hal pengendalian biaya. Semakin rendah

BOPO berarti semakin efisien bank tersebut dalam mengendalikan

biaya operasionalnya. Sebaliknya, tingginya BOPO mengindikasikan

Kemampuan bank dalam menghasilkan profitabilitas. BOPO yang

rendah mencerminkan tingginya kemampuan bank dalam menekan

biaya operasional sehingga mampu mendorong naiknya profitabilitas.

yang

Kemampuan bank dalam meminimalkan risiko operasional. Risiko

operasional berasal dari kerugian operasional bila terjadi penurunan

keuntungan yang dipengaruhi oleh struktur biaya operasional bank dan

kemungkinan terjadinya kegagalan atas jasa- jasa dan produk- produk

yang ditawarkan oleh bank. Rendahnya BOPO menunjukkan tingginya

kemampuan bank dalam meminimalkan risiko operasional.

36

D. Pengaruh Kecukupan Modal (CAR) terhadap Profitabilitas (ROA)

Setiap penciptaan aktiva, disamping berpotensi terhadap kemungkinan terjadinya risiko kerugian atas investasi pada
Setiap
penciptaan
aktiva,
disamping
berpotensi
terhadap kemungkinan terjadinya risiko kerugian atas investasi pada aktiva. 34
risiko
yang
mungkin
timbul
dan
menunjukkan
kapabilitasnya
semuanya itu akan berpengaruh positif terhadap profitabilitas (ROA) bank.

menghasilkan

keuntungan juga berpotensi menimbulkan risiko. Oleh karena itu, pemenuhan

kecukupan modal (CAR) yang harus disediakan bank menjadi penting untuk

diukur guna menjaga keamanan pemilik dana terutama dana masyarakat

Tingginya CAR mencerminkan kemampuan bank dalam menanggung

dalam

mengantisipasi adanya penurunan aktiva sehingga dana nasabah terlindungi

dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Selain itu, CAR yang tinggi

yakni adanya permodalan yang cukup mampu menambah aktiva dan membuat

pembiayaan menjadi lebih luas dengan tingkat risiko yang kecil sehingga

Penambahan modal dapat juga mengurangi profitabilitas, jika dengan

penambahan modal tersebut bank menanamkannya dalam bentuk aktiva yang

kurang produktif atau menanamkannya dalam bentuk aktiva produktif tetapi

tidak menggunakan prinsip kehati-hatian (investasi yang rugi) sehingga tidak

akan mendatangkan cash flow secara maksimal. Dengan demikian laba bank

akan tetap atau bahkan turun dan menyebabkan ROA turun pula.

34 Zainul Arifin, Dasar- Dasar Manajemen Bank Syariah, (Jakarta: Pustaka Alfabet, 2005),

h.135.

37

E. Pengaruh Efisiensi Operasional (BOPO) terhadap Profitabilitas (ROA)

pendapatan operasional. Kedua hal ini mempengaruhi tingkat penggunaan aktiva untuk menghasilkan keuntungan.
pendapatan
operasional.
Kedua
hal
ini
mempengaruhi
tingkat
penggunaan aktiva untuk menghasilkan keuntungan.
semakin
efisien
aktiva
bank
dalam
menghasilkan
keuntungan
menurunkan rasio ROA.
Dengan
tingginya
biaya
yang
dikeluarkan
dalam

Hasil akhir dari aktivitas bank akan menghasilkan biaya dan juga

efisiensi

operasional bank yaitu kemampuan bank untuk menghasilkan keuntungan dari

penggunaan aktiva agar dapat menutupi biaya-biaya operasional. Semakin

efisien biaya operasional, maka semakin efisien pula bank tersebut dalam

Tingkat efisiensi operasional diukur dengan rasio BOPO. Semakin

rendah BOPO menunjukkan semakin tinggi efisiensi operasional bank yakni

yang

ditunjukkan dengan meningkatnya profitabilitas (ROA). Sebaliknya, tingginya

rasio BOPO mencerminkan inefisiensi operasional bank yang ditandai dengan

tingginya beban operasional dan akan berakibat pada berkurangnya laba dan

menghasilkan

keuntungan yang dicapai bank, maka akan mengakibatkan rendahnya efisiensi

operasional bank dan selanjutnya berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas

yang semakin menurun. Tetapi jika peningkatan biaya operasional bank

mampu diiringi dengan kenaikan pendapatan operasional yang lebih besar,

maka akan berpengaruh terhadap kenaikan ROA.

38

BAB III

DESKRIPSI DATA A. Sekilas Tentang PT. BPRS Amanah Ummah Leuwiliang Bogor Syariah di Bogor Barat
DESKRIPSI DATA
A. Sekilas Tentang PT. BPRS Amanah Ummah Leuwiliang Bogor
Syariah di
Bogor Barat
Indonesia
Khaldun
(UIKA)
Bogor
sebagai
bukti
atas
kapabilitasnya
meningkatkan kinerja keuangan dan memperluas jaringan usaha.
50.400.384.429,- dengan 59,94% didominasi oleh tabungan masyarakat.

BPRS Amanah Ummah adalah salah satu Bank Pembiayaan Rakyat

yang beroperasi berdasarkan prinsip-

prinsip syariah Islam yang bertujuan menumbuhkan ekonomi masyarakat.

BPRS yang diresmikan pada tanggal 8 Agustus 1992 ini telah memiliki kantor

cabang di Jl. RE. Martadinata No.2 Bogor dan kantor kas di Universitas Ibnu

dalam

BPRS Amanah Ummah senantiasa berperan aktif dalam menjalankan

fungsi intermediasi melalui penghimpunan dana dan menyalurkannya kepada

masyarakat dalam bentuk pembiayaan. Dana pihak ketiga yang merupakan

sumber pendanaan utama BPRS Amanah Ummah di tahun 2009 mencapai Rp

Performa prima BPRS Amanah Ummah juga terlihat pada sisi total

aset yang berhasil dibukukan di tahun 2009 sebesar Rp 57.244.983.000,-

dengan 70,43% dari total aset yakni sebesar Rp 40.319.379.000,- merupakan

pembiayaan yang dikucurkan kepada masyarakat yang mampu memberikan

kontribusi terbesar terhadap pos pendapatan bank dengan fokus pada sektor

Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

39

B. Permodalan PT. BPRS Amanah Ummah

1. Perhitungan CAR Berikut data rasio CAR PT. BPRS Amanah Ummah periode 1998- 2009 berdasarkan
1.
Perhitungan CAR
Berikut data rasio CAR PT. BPRS Amanah Ummah periode 1998-
2009 berdasarkan ikhtisar keuangan dalam Laporan Keuangan Tahunan:
Tabel 3.1
Rasio CAR BPRS Amanah Ummah Periode 1998- 2009
TAHUN
1998
1999
2000
2001
2002
2003
(%)
16,61
13,24
11,94
18,64
17,20
16,69
TAHUN
2004
2005
2006
2007
2008
2009
(%)
11,93
11,46
15,13
15,35
16,03
15,52
Di bawah ini disajikan perhitungan rasio CAR pada PT. BPRS
Amanah Ummah periode 31 Desember 2007 sebagai berikut:
a.
Perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)
Tabel 3.2
Perhitungan ATMR BPRS Amanah Ummah per 31 Des 2007
NO
AKTIVA
NOMINAL
BOBOT
ATMR
1
Kas
648.406.200
0
-
Sertifikat
2 Wadiah Bank
-
0
-
Indonesia
Pembiayaan yg
dijamin dgn
uang kas,
valas, emas,
2.801.510.889
0
-
3 mata uang
emas, serta
simpanan
berjangka dan

40

tabungan pada bank ybs Giro, simpanan berjangka, sertifikat 4 berjangka, tabungan, serta tagihan lainnya kpd
tabungan pada
bank ybs
Giro, simpanan
berjangka,
sertifikat
4 berjangka,
tabungan, serta
tagihan lainnya
kpd bank lain
9.110.760.578 20%
1.822.152.116
Pembiayaan
kpd bank lain
5 atau
Pemerintah
Daerah
- 20%
-
Pembiayaan yg
dijamin oleh
6 bank lain atau
Pemerintah
Daerah
- 20%
-
Pembiayaan
Kepemilikan
Rumah (KPR)
7 yg dijamin
- 50%
-
hipotik prtama
dgn tujuan
untuk dihuni
Tagihan
kepada atau
tagihan yg
dijamin oleh
8 atau surat
berharga yg
diterbitkan
atau dijamin
oleh:
a. BUMD
-
100%
-
b. Perorangan
21.713.767.743
100%
21.713.767.743
c. Koperasi
-
100%
-
d. Perusahaan
-
100%
-
lainnya
e. Lain- lain
-
100%
-
9
Aktiva tetap
148.369.415
100%
148.369.415

41

dan inventaris (nilai buku) Aktiva lainnya 10 selain tersebut 427.348.353 100% 427.348.353 di atas JUMLAH
dan inventaris
(nilai buku)
Aktiva lainnya
10
selain tersebut
427.348.353
100%
427.348.353
di atas
JUMLAH ATMR
24.111.637.627
Sumber: Laporan Tahunan BPRS Amanah Ummah Tahun 2007
b.
Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum
Tabel 3.3
Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum BPRS Amanah Ummah
per 31 Des 2007
JUMLAH
NO
KETERANGAN
JUMLAH
KOMPONEN
1
Modal Inti
a. Modal disetor
2.000.000.000
2.000.000.000
b. Modal sumbangan
-
-
c. Cadangan umum
247.975.177
247.975.177
d. Cadangan tujuan
192.100.619
192.100.619
e. Laba ditahan
58.902.842
58.902.842
f. Laba tahun- tahun lalu
-
-
g. Rugi tahun- tahun lalu
-
-
h. Laba thn brjalan(50%THP)
1.068.888.669
403.724.962
i. Rugi tahun berjalan
-
-
j. Kekurangan pembentukan
-
-
PPAP
k.
Goodwill
-
-
Jumlah modal inti
3.567.867.307
2.902.703.600
2
Modal pelengkap
a. Cadangan revaluasi aktiva
tetap
-
-
b. PPAP (maks. 1,25% dari
ATMR)
247.807.518
247.807.518
c. Modal pinjaman
550.000.000
550.000.000
d. Pinjaman subordinasi
(maks. 50% dr modal inti)
-
-
Jumlah modal pelengkap
797.807.518
797.807.518

42

Jumlah modal pelengkap yang diperhitungkan (maks. 100% dari modal inti) 797.807.518 JUMLAH MODAL 3.700.511.118 MODAL
Jumlah modal pelengkap yang
diperhitungkan (maks. 100% dari
modal inti)
797.807.518
JUMLAH MODAL
3.700.511.118
MODAL MINIMUM
(8% x ATMR)
1.928.931.010
Kelebihan atau kekurangan modal
1.771.580.108
Rasio CAR = JUMLAH MODAL/
ATMR x 100%
15,35%
Sumber: Laporan Tahunan BPRS Amanah Ummah tahun 2007
2.
Upaya Pemenuhan Kecukupan Modal
Pertumbuhan usaha tentu harus diiringi dengan tercapainya skala
ekonomi operasional yang lebih optimal. Untuk itu diperlukan dukungan
permodalan yang lebih besar yang dapat mendukung pengembangan usaha
bank. Untuk mencapai tujuan tersebut, BPRS Amanah Ummah di setiap
tahunnya
mengalokasikan
laba
ditahan
dan
dana
cadangan
dengan
sejumlah persentase tertentu yang disepakati, serta menerbitkan saham
secara bertahap di tahun 2001, 2003, 2004, 2006, 2008, dan 2009 guna
menambah permodalan.
Upaya BPRS Amanah Ummah dalam memenuhi kecukupan modal
juga terlihat dari keputusan bank di tahun 2008 untuk memindahkan pos

cadangan tujuan kepada pos cadangan umum dalam rangka memenuhi

ketentuan UU PT No.40 Tahun 2007 Pasal 70 yaitu cadangan umum

minimal 20% dari modal disetor.

Penerbitan

saham

di

tahun

2008

juga

diarahkan

untuk

meningkatkan

jaringan

usaha bank

dalam

bentuk

pembukaan

kantor

43

cabang sebagaimana yang telah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia

(PBI) No:8/25/PBI/2006. Adapun penerbitan saham di tahun 2009 sehingga modal disetor berjumlah Rp 3 Milyar
(PBI)
No:8/25/PBI/2006.
Adapun
penerbitan
saham
di
tahun
2009
sehingga modal disetor berjumlah Rp 3 Milyar adalah dalam rangka
meningkatkan sisi permodalan dan ekspansi pembiayaan sehingga BPRS
Amanah Ummah tetap memiliki Financial Buffer yang kuat.
C.
Efisiensi Operasional PT. BPRS Amanah Ummah
1.
Perhitungan BOPO
Berikut data rasio BOPO PT. BPRS Amanah Ummah periode
1998- 2009 berdasarkan ikhtisar keuangan dalam Laporan Keuangan
Tahunan:
Tabel 3.4
Rasio BOPO BPRS Amanah Ummah Periode 1998- 2009
TAHUN
1998
1999
2000
2001
2002
2003
(%)
84,22
84,89
80,65
85,01
78,40
82,17
TAHUN
2004
2005
2006
2007
2008
2009
(%)
79,92
81,93
79,91
81,26
74,67
74,17

Adapun perhitungan rasio BOPO PT. BPRS Amanah Ummah

periode 1998- 2009 berdasarkan angka yang terdapat pada laporan laba

rugi dalam Laporan Keuangan Tahunan adalah sebagai berikut:

Beban Operasional

BOPO =

X 100%

Pendapatan Operasional

44

Tabel 3.5

Perhitungan BOPO BPRS Amanah Ummah 1998- 2009 TAHUN Beban Operasional (Rp) Pendapatan Operasional (Rp) BOPO
Perhitungan BOPO BPRS Amanah Ummah 1998- 2009
TAHUN
Beban
Operasional (Rp)
Pendapatan
Operasional (Rp)
BOPO (%)
1998
684.640.000
811.483.000
84,37
1999
1.063.972.000
1.253.404.000
84,89
2000
1.345.363.000
1.668.123.000
80,65
2001
1.900.869.000
2.236.211.000
85,00
2002
2.123.569.000
2.776.552.000
76,48
2003
2.708.655.000
3.320.891.000
81,56
2004
3.252.630.000
4.145.201.000
78,47
2005
3.589.556.000
4.459.852.000
80,49
2006
3.918.316.000
4.959.404.000
79,00
2007
4.452.554.000
5.579.940.000
79,80
2008
5.639.541.000
7.192.457.000
78,40
2009
7.198.509.000
9.216.509.000
78,10
2.
Upaya Efisiensi Operasional
Dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan produktivitas
pegawai
yang
akhirnya
dapat
mengoptimalkan
tingkat
efisiensi
operasional
dalam
hal
beban
tenaga
kerja,
BPRS
Amanah
Ummah
senantiasa memberikan berbagai pendidikan dan pelatihan baik yang
diselenggarakan
pihak
internal
maupun
eksternal
bank
secara
terus

menerus dan berkesinambungan di tiap tahunnya sebagai perbekalan

untuk pegawai baru dan peningkatan kemampuan pegawai secara umum.

Upaya BPRS Amanah Ummah dalam mencapai kinerja yang baik

juga perlu diiringi dengan peningkatan kesejahteraan karyawan untuk

memotivasi

para

karyawan

untuk

berprestasi

lebih

baik

lagi

yang

45

dilakukan dengan menerapkan pola kebijakan pemberian reward berupa

bonus tahunan berdasarkan hasil penilaian kinerja Muamalat. Adapun langkah cabang Bogor pada tahun 2007.
bonus
tahunan
berdasarkan
hasil
penilaian
kinerja
Muamalat.
Adapun langkah
cabang
Bogor
pada
tahun
2007.
Selain
itu,
untuk

(Performance

Appraisal) seluruh pegawai, pemberian tunjangan hari raya, tunjangan

seragam, tunjangan pernikahan, tunjangan kelahiran anak, asuransi rawat

inap dari asuransi Takaful, dan program dana pensiun dari DPLK Bank

yang diambil BPRS Amanah Ummah untuk

menekan biaya dana (cost of fund) adalah dengan mengadakan kerja sama

Linkage Program pembiayaan dengan Bank Muamalat Indonesia (BMI)

mendukung

pengembangan pasar dan peningkatan layanan nasabah, di tahun 2005

bank mengembangkan software perbankan dengan tampilan kecepatan

proses transaksi yang lebih cepat dan dapat menggabungkan data di kantor

kas ke pusat data secara real time dengan dukungan jalur komunikasi

online antara kantor pusat dengan kantor cabang dan kantor kas. Hal ini

tentunya dapat meningkatkan efisiensi kerja operasional yang berdampak

positif terhadap kemajuan bank.

D. Profitabilitas PT. BPRS Amanah Ummah

1. Perhitungan ROA

Berikut data rasio ROA PT. BPRS Amanah Ummah periode 1998-

2009 berdasarkan ikhtisar keuangan dalam Laporan Keuangan Tahunan:

46

Tabel 3.6

Rasio ROA BPRS Amanah Ummah Periode 1998- 2009 TAHUN 1998 1999 2000 2001 2002 2003
Rasio ROA BPRS Amanah Ummah Periode 1998- 2009
TAHUN
1998
1999
2000
2001
2002
2003
(%)
3,12
3,18
2,86
2,61
3,62
2,93
TAHUN
2004
2005
2006
2007
2008
2009
(%)
2,92
2,26
3,96
3,83
3,88
4,01
Adapun
perhitungan
rasio
ROA
PT.
BPRS Amanah
Ummah
periode 1998- 2009 berdasarkan angka yang terdapat pada laporan laba
rugi dan laporan neraca dalam Laporan Keuangan Tahunan adalah sebagai
berikut:
Laba Sebelum Zakat dan Pajak
ROA =
X 100%
Total Aktiva
Tabel 3.7
Perhitungan ROA BPRS Amanah Ummah 1998- 2009
TAHUN
Laba sebelum Zakat
dan Pajak (Rp)
Total Aktiva
ROA (%)
(Rp)
1998
128.253.000
3.665.174.000
3,50
1999
189.432.000
4.801.262.000
3,95
2000
322.760.000
7.494.661.000
4,30
2001
335.317.000
9.365.061.000
3,58
2002
638.988.825
11.918.974.908
5,36
2003
655.060.432
15.543.940.304
4,21
2004
895.823.710
20.916.556.788
4,28
2005
865.946.507
23.681.835.926
3,66
2006
1.036.031.239
28.096.774.085
3,69
2007
1.149.860.224
34.613.797.466
3,32
2008
1.584.473.280
44.100.181.840
3,59
2009
1.911.088.147
57.244.983.392
3,34

47

2. Strategi Peningkatan Profitabilitas

Dalam meningkatkan profitabilitas, BPRS Amanah melakukan berbagai upaya dan strategi sebagai berikut: a. investasi
Dalam
meningkatkan
profitabilitas,
BPRS
Amanah
melakukan berbagai upaya dan strategi sebagai berikut:
a.
investasi
yang
tertuju
pada
kegiatan
ekonomi
yang
yang
relatif
besar,
konsisiten
pada
Usaha
Kecil
dan
dengan akad berbasis jual beli dan sewa.
b.
Membentuk
Kualitas
Aktiva
Produktif
(KAP)
yang
baik
mengimbangi tingginya pembiayaan dengan:
1)
acuan
standar
SOP
dalam
melakukan
analisis

Ummah

Memaksimalkan produktivitas aktiva dengan meningkatkan struktur

pembiayaan efektif seperti fokus pada pembiayaan modal kerja dan

produktif,

menghindari jumlah pembiayaan yang terkonsentrasi pada jumlah

Menengah

(UKM), dan memasarkan pembiayaan berbasis akad Mudharabah dan

Musyarakah kepada nasabah yang lokasinya dekat dengan bank guna

memudahkan pembinaan dan telah teruji karakter dan kemampuannya

untuk

Menyempurnakan dan mensosialisasikan panduan kebijakan dan

pembiayaan

termasuk

menetapkan

limit

pembiayaan

dan

memberikan

pendidikan dan pelatihan bagi Account Officer (AO) baik oleh

2)

pihak

internal

maupun

eksternal

bank

untuk

meningkatkan

kemampuan analisis pembiayaan.

Meningkatkan

supervisi

dan

monitoring

kepada

nasabah

pembiayaan pasca dropping serta revaluasi hasil kerja terutama

48

pembinaan debitur- debitur bermasalah yaitu kolektibilitas 3 dan 4

dengan mengefektifkan Satuan Tugas Khusus (STK) dengan fokus dan target yang nyata. 3) Membentuk dana
dengan mengefektifkan Satuan Tugas Khusus (STK) dengan fokus
dan target yang nyata.
3)
Membentuk dana cadangan Penyisihan dan Penyusutan Aktiva
Produktif (PPAP) yang memadai sesuai ketentuan yang berlaku.
4)
Mengasuransikan aktiva tetap dan aktivitas kas (penyetoran dan
pengambilan dana) dengan asuransi cash in transit dan asuransi
jaminan gadai emas.
c.
Menyeimbangkan
kenaikan
aktiva
dengan
menambah
jumlah
karyawan
bagian
marketing
dengan
membekali
dan
membenahi
Sumber Daya Insani (SDI) agar lebih produktif.
d.
Meluncurkan produk baru yaitu Rahn (Gadai Emas Syariah) di tahun
2007
yang
mampu
memberikan
kontribusi
positif
terhadap
total
pendapatan bank.
e.
Dalam rangka memperluas customer based, bank membuka kantor kas
di Ciluar Bogor di tahun 2001, relokasi kantor kas dari Jl. Raya Ciluar

Bogor ke Jl. Dramaga Pasar Dramaga Bogor di tahun 2003 untuk

perluasan jaringan dan target pasar yang jelas, pembukaan kantor kas

UIKA Bogor di tahun 2005, pembukaan kantor cabang pertama di Jl.

RE. Martadinata Bogor di tahun 2009, dan merekrut Account Officer

(AO)

untuk

ditempatkan

di

daerah-

daerah

kota

Bogor

guna

49

memperluas pasar selain tetap berorientasi di daerah- daerah yang

selama ini merupakan pasar tetap BPRS Amanah Ummah. f. Meningkatkan brand image dan menambah fee
selama ini merupakan pasar tetap BPRS Amanah Ummah.
f.
Meningkatkan brand image dan menambah fee based income melalui
upaya kerjasama dengan:
1)
Bank Permata Syariah di tahun 2007 melalui penempatan mesin
EDC (Electronic Draft Capture) sehingga BPRS Amanah Ummah
dapat
melakukan
berbagai
transaksi
kartu
debet
diantaranya
pembayaran telepon/ listrik/ pulsa, dan transfer (masuk jaringan
ATM bersama) dengan kurang lebih 30 bank, pemindahbukuan,
dan lain- lain.
2)
Bank Syariah Mandiri (BSM) di tahun 2009 dalam hal ATM co-
branding dimana nasabah dapat menarik dana di ratusan ATM
tanpa harus menjadi nasabah BSM.
3)
Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor dengan membangun
software input setoran pembayaran kuliah mahasiswa sekaligus
juga data pelaporannya sehingga dapat diakses oleh pihak UIKA

dengan mudah dan pembuatan kartu mahasiswa sekaligus kartu

ATM.

g. Fokus hasil kinerja bukan hanya aspek finansial saja, melainkan juga

terhadap

tanggung

jawab

sosial

dalam

rangka

meningkatkan

kesejahteraan masyarakat (Corporate Social Responsibility) yang akan

meningkatkan kepercayaan masyarakat dan secara tidak langsung

50

meningkatkan keuntungan BPRS Amanah Ummah seperti penyaluran

zakat produktif, beasiswa pendidikan, dan zakat produktif, pembangunan sarana maupun kegiatan- kegiatan keagamaan.
zakat
produktif,
beasiswa
pendidikan,
dan
zakat
produktif,
pembangunan sarana maupun kegiatan- kegiatan keagamaan.
h.
masyarakat
yang
secara
tidak
langsung
akan
Syariah
(DPS)
atas
pemenuhan
aspek
syariah
dalam

pembiayaan kebajikan (Qardhul Hasan), penghimpunan dana ZIS dari

bank dan nasabah yang disalurkan kepada para mustahik dalam bentuk

serta

memberikan berbagai sumbangan kepada pondok pesantren, lembaga

pendidikan, Dewan Keluarga Masjid (DKM), dan lain- lain untuk

Upaya BPRS Amanah Ummah dalam meningkatkan kepercayaan

meningkatkan

keuntungan juga dilakukan dengan cara mempertahankan perolehan

tetap predikat SEHAT untuk ukuran kinerja sesuai dengan ketentuan

dan penilaian Bank Indonesia, predikat Wajar Tanpa Syarat dari

Kantor Akuntan Publik (KAP) independen yang ditunjuk bank untuk

mengaudit rutin kinerja tahunan bank, pernyataan Dewan Pengawas

pedoman

operasional dan pelaksanaan produk dan jasa, serta penyajian laporan

keuangan berkala an-audited kepada seluruh nasabah melalui papan

informasi.

51

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN E. Analisis Statistik Data yang diperlukan baik dalam proses analisis statistik
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
E.
Analisis Statistik
Data yang diperlukan baik dalam proses analisis statistik maupun
analisis
komparatif
adalah
data
yang
bersumber
dari
ikhtisar
keuangan
Laporan Tahunan PT. BPRS Amanah Ummah berupa data rasio CAR, BOPO,
dan ROA mulai dari tahun 1998 hingga tahun 2009 sebagai berikut:
Tabel 4.1
CAR, BOPO, dan ROA BPRS Amanah Ummah 1998- 2009
CAR
BOPO
ROA
TAHUN
(%)
TAHUN
(%)
TAHUN
(%)
1998
16.61
1999
84.89
1999
3.18
1999
13.24
2000
80.65
2000
2.86
2000
11.94
2001
85.01
2001
2.61
2001
18.64
2002
78.40
2002
3.62
2002
17.20
2003
82.17
2003
2.93
2003
16.69
2004
79.92
2004
2.92
2004
11.93
2005
81.93
2005
2.26
2005
11.46
2006
79.91
2006
3.96
2006
15.13
2007
81.26
2007
3.83
2007
15.35
2008
74.67
2008
3.88
2008
16.03
2009
74.17
2009
4.01

Sumber: Laporan Tahunan PT. BPRS Amanah Ummah

Langkah awal dalam melakukan analisis statistik adalah mengolah

data pada tabel 4.1 di atas dengan menggunakan rumusan statistik inferensial

dalam program SPPS for Windows versi 13.0 yang kemudian menghasilkan

output statistik dengan analisis sebagai berikut:

52

1. Fungsi Regresi

Tabel 4.2 Fungsi Regresi Berganda Coefficients Unstandardized Coefficients Model B Standar Error (Constant) 11,606
Tabel 4.2
Fungsi Regresi Berganda
Coefficients
Unstandardized Coefficients
Model
B
Standar Error
(Constant)
11,606
4,163
CAR
0,030
0,068
BOPO
-0,109
0,047
Sumber: Data olahan SPSS 13.0
Berdasarkan tabel 4.2 maka fungsi regresi yang terbentuk adalah:
Y
= 11,606
+
0,03 CAR
-
0,109 BOPO
Standar Eror
= (4,163)
(0,068)
(0,047)
2. Interpretasi Fungsi Regresi
Interpretasi fungsi regresi di atas adalah sebagai berikut:
a.
Nilai 4,163 adalah besarnya standar eror dari konstanta fungsi regresi.
b.

Nilai konstanta = 11,606, menunjukkan bahwa jika nilai CAR dan

BOPO adalah nol maka nilai profitabilitas Y (ROA) adalah 11,606.

Nilai koefisien regresi CAR = 0,03, menunjukkan bahwa jika CAR

mengalami kenaikan 1% maka ROA akan mengalami kenaikan pula

sebesar 0,03% dengan asumsi variabel lain dianggap tetap (ceteris

paribus). Hubungan searah ini dapat dilihat dari koefisien CAR pada

fungsi regresi yang bernilai positif. Nilai 0,068 merupakan standar

eror bagi penghitungan CAR dalam fungsi regresi.

53

c. Nilai koefisien regresi BOPO = - 0,109, menunjukkan bahwa jika

standar eror bagi penghitungan BOPO dalam fungsi regresi. 3. Uji Asumsi Klasik Sebelum melakukan pengujian
standar eror bagi penghitungan BOPO dalam fungsi regresi.
3.
Uji Asumsi Klasik
Sebelum
melakukan
pengujian
signifikansi
terhadap
perlu dilakukan uji asumsi klasik terhadap fungsi regresi sebagai berikut:
a.
Uji Heteroskedasitas
Gambar 4.1
Hasil Uji Heteroskedasitas
Scatterplot
Dependent Variable: ROA
2
1
0
-1
-2
Regression Studentized Residual

BOPO mengalami kenaikan sebesar 1% maka ROA akan mengalami

penurunan sebesar 0,109% dengan asumsi variabel lain dianggap tetap

(ceteris paribus). Hubungan berlawanan arah ini terlihat dari koefisien

BOPO pada fungsi regresi yang bernilai negatif. Nilai 0,047 adalah

hipotesis,

-1

0

1

2

Regression Standardized Predicted Value

Sumber: Data olahan SPSS 13.0

54

Berdasarkan

gambar

4.1

terlihat

bahwa

plotnya

tidak

fungsi regresi tersebut terbebas dari masalah heteroskedasitas. b. Uji Multikolinieritas Tabel 4.3 Hasil Uji
fungsi regresi tersebut terbebas dari masalah heteroskedasitas.
b. Uji Multikolinieritas
Tabel 4.3
Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficients a
Collinearity Statistics
Model
Tolerance
VIF
(Constant)
CAR
0,928
1,077
BOPO
0,928
1,077
Sumber: Data olahan SPSS 13.0
tolerance
untuk
variabel
CAR
dan
BOPO
adalah
0,928
tersebut terbebas dari masalah multikolinieritas.
c. Uji Autokorelasi

membentuk pola tertentu maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada

Berdasarkan tabel 4.3 terlihat bahwa angka VIF baik untuk

variabel CAR maupun BOPO sebesar 1,077 (VIF 10) dan angka

(nilai

Tolerance 0,1), maka dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi regresi

Tabel 4.4

Hasil Uji Autokorelasi

Model Summary b

Model

R

R Square

Adjusted R

Std. Error of the Estimate

Durbin-

Square

Watson

1

0,673 a

0,452

0,315

0,50339

1,701

Sumber: Data olahan SPSS 13.0

55

Pada tabel 4.4 terlihat bahwa nilai Durbin Watson adalah

sebesar 1,701 (nilai Durbin Watson ada diantara -2 hingga +2) maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
sebesar 1,701 (nilai Durbin Watson ada diantara -2 hingga +2) maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi regresi tersebut terbebas dari
masalah autokorelasi.
d.
Uji Normalitas
Gambar 4.2
Hasil Uji Normalitas
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: ROA
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
Observed Cum Prob
Expected Cum Prob

Sumber: Data olahan SPSS 13.0

Berdasarkan gambar 4.2 nampak bahwa plotnya mendekati

garis diagonal atau tersebar di sepanjang garis 45 0 , maka dapat ditarik

kesimpulan bahwa fungsi regresi tersebut telah memenuhi asumsi

normalitas.

56

Dari uji asumsi klasik di atas diketahui bahwa fungsi regresi

yang terbentuk merupakan model regresi yang baik dan layak digunakan karena terbebas dari masalah
yang
terbentuk
merupakan
model
regresi
yang
baik
dan
layak
digunakan
karena
terbebas
dari
masalah
multikolinieritas,
heteroskedasitas,
dan
autokorelasi,
serta
telah
memenuhi
asumsi
normalitas.
4.
Uji F
Tabel 4.5
Hasil Uji F
ANOVA
Sum of
Mean
Model
df
F
Sig.
Squares
Square
1
Regression
1,674
2
0,837
3,303
0,09
Residual
2,027
8
0,253
Total
3,701
10
Sumber: Data Olahan SPSS 13.0
Dari tabel 4.5 terlihat bahwa nilai F hitung adalah sebesar 3,303
Sedangkan F tabel didapat dengan cara menghitung:
Numerator (df1 = k - 1)  3 - 1 = 2
Denumerator (df2 = n - k)  11 - 3 = 8

Derajat kebebasan () = 0,05

maka nilai F tabel = 4,46

Dari perhitungan nilai F diketahui bahwa F hitung F tabel (3,303

4,46) maka Ho diterima dan Ha ditolak (F hitung berada di daerah

penerimaan Ho).

57

Gambar 4.3

Daerah Penolakan dan Penerimaan Ho dalam Uji F Ho Ditolak Ho Ditolak Ho Diterima F
Daerah Penolakan dan Penerimaan Ho dalam Uji F
Ho Ditolak
Ho Ditolak
Ho Diterima
F tabel
F hitung
F tabel
-4,46
3,303
4,46
pada PT. BPRS Amanah Ummah Leuwiliang Bogor.
5. Uji t
a. Uji Variabel CAR

Selain itu, dari tabel 4.5 diketahui pula bahwa nilai probabilitas

(sig penelitian) 0,05 (0,09 0,05) maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Dengan demikian, secara statistika dapat disimpulkan bahwa kecukupan

modal (CAR) dan efisiensi operasional (BOPO) secara simultan (bersama-

sama) tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat profitabilitas (ROA)

Tabel 4.6

Hasil Uji t

Coefficient

Model

t

Sig.

1

(Constant)

2,788

0,024

CAR

0,434

0,676

BOPO

-2,325

0,049

Sumber: data olahan SPSS 13.0

58

Dari tabel 4.6 tertera nilai t hitung untuk variabel CAR sebesar

0,434. Sedangkan t tabel untuk taraf signifikansi 0,05 dengan derajat kebebasan (DK = n –
0,434. Sedangkan t tabel untuk taraf signifikansi 0,05 dengan derajat
kebebasan (DK = n – k  11 – 3 = 8) adalah sebesar 2,306.
Sedangkan, dari penghitungan nilai t untuk variabel CAR
diketahui bahwa t hitung  t tabel (0,434  2,306) maka Ho diterima
dan Ha ditolak (t hitung berada pada daerah penerimaan Ho).
Gambar 4.4
Daerah Penolakan dan Penerimaan Ho dalam Uji t Variabel CAR
Ho Ditolak
Ho Ditolak
Ho Diterima
t tabel
t hitung
t tabel
-2,306
0,434
2,306
Selain itu, dari tabel 4.6 diketahui pula bahwa nilai probabilitas
(sig penelitian) untuk variabel CAR  0,05 (0,676  0,05), maka Ho

diterima dan Ha ditolak. Dengan demikian, secara statistika dapat

disimpulkan bahwa kecukupan modal (CAR) secara parsial tidak

berpengaruh signifikan terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada PT.

BPRS Amanah Ummah Leuwiliang Bogor.

59

b. Uji Variabel BOPO

Berdasarkan tabel 4.6 tertera nilai t hitung untuk variabel BOPO adalah sebesar –2,325. Sedangkan t
Berdasarkan tabel 4.6 tertera nilai t hitung untuk variabel
BOPO
adalah
sebesar
–2,325.
Sedangkan
t
tabel
untuk
taraf
signifikansi 0,05 dengan derajat kebebasan (DK = n – k  11 – 3 = 8)
adalah sebesar 2,306.
Sedangkan dari penghitungan nilai t untuk variabel BOPO
diketahui bahwa nilai t hitung  t tabel (-2,325  -2,306), maka Ho
ditolak dan Ha diterima (t hitung berada pada daerah penolakan Ho).
Gambar 4.5
Daerah Penolakan dan Penerimaan Ho dalam Uji t Variabel BOPO
Ho Ditolak
Ho Ditolak
Ho Diterima
t hitung
t tabel
t tabel
-2,325
-2,306
2,306
Selain itu, dari tabel 4.6 diketahui pula nilai probabilitas (sig

penelitian) untuk variabel BOPO 0,05 (0,049 0,05), maka Ho

ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, secara statistika dapat

disimpulkan

bahwa

efisiensi

operasional

(BOPO)

secara

parsial

berpengaruh signifikan terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada PT.

BPRS Amanah Ummah Leuwiliang Bogor.

60

6. Koefisien determinasi (R 2 )

Tabel 4.7 Hasil Koefisien Determinasi Model Summary b Adjusted R Std. Error of the Estimate
Tabel 4.7
Hasil Koefisien Determinasi
Model Summary b
Adjusted R
Std. Error of
the Estimate
Durbin-
Model
R
R Square
Square
Watson
1
0,673 a
0,452
0,315
0,50339
1,701
Sumber: Data olahan SPSS 13.0
Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahwa nilai koefisien determinasi
(R Square) sebesar 0,452. Angka tersebut menunjukkan bahwa variabel
ROA dapat dijelaskan oleh variabel CAR dan BOPO sebesar 45,20%.
Atau
dengan
kata
lain,
secara
statistika
besarnya
kontribusi
pengaruh kecukupan modal (CAR) dan efisiensi operasional (BOPO)
terhadap perubahan tingkat profitabilitas (ROA) pada PT. BPRS Amanah
Ummah Leuwiliang Bogor adalah sebesar 45,20%. Sedangkan sisanya
sebesar
54,80%
dipengaruhi
oleh
faktor-
faktor
lain
yang
tidak
dimasukkan dalam analisis penelitian ini.
7.
Koefisien Determinasi Parsial

Tabel 4.8

Hasil Koefisien Determinasi Parsial

Coefficients

Model

 

Correlations

Zero- order

Partial

Part

CAR

0,287

0,152

0,114

BOPO

-0,663

-0,635

-0,608

Sumber: Data Olahan SPSS 13.0

61

a. Kontribusi CAR terhadap ROA

Berdasarkan tabel 4.8 diketahui bahwa angka korelasi parsial (Partial Correlations) untuk variabel CAR sebesar
Berdasarkan tabel 4.8 diketahui bahwa angka korelasi parsial
(Partial
Correlations)
untuk
variabel
CAR
sebesar
0,152
maka
koefisien determinasi parsial untuk variabel CAR adalah sebesar:
(0,152) 2 X 100% = 2,31%
Dengan
demikian
dapat
ditarik
kesimpulan
bahwa
secara
statistika,
kontribusi
pengaruh
kecukupan
modal
(CAR)
terhadap
perubahan
tingkat
profitabilitas
(ROA) pada
PT.
BPRS
Amanah
Ummah Leuwiliang Bogor adalah sebesar 2,31%, sedangkan sisanya
dipengaruhi oleh faktor- faktor lain.
b.
Kontribusi BOPO terhadap ROA
Berdasarkan tabel 4.8 diketahui pula bahwa angka korelasi
parsial (Partial Correlations) untuk variabel BOPO sebesar -0,635
maka koefisien determinasi parsial untuk variabel BOPO adalah:
(- 0,635) 2 X 100% = 40,32%
Dengan
demikian,
dapat
ditarik
kesimpulan
bahwa
secara

statistika, varibel yang memberikan kontribusi pengaruh paling besar

terhadap

perubahan

tingkat

profitabilitas (ROA) pada PT.

BPRS

Amanah

Ummah

Leuwiliang

Bogor

adalah

efisiensi

operasional

(BOPO) yakni sebesar 40,32%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh

faktor- faktor lain.

62

F. Analisis Deskriptif Komparatif

Sebelum melakukan analisis deskriptif komparatif, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu mengenai fluktuasi masing-
Sebelum melakukan analisis deskriptif komparatif, ada baiknya kita
mengetahui terlebih dahulu mengenai fluktuasi masing- masing rasio CAR,
BOPO, dan ROA pada PT. BPRS Amanah Ummah yang disajikan dalam
bentuk diagram garis (Line Chart) beserta Linear Trendline guna mengetahui
kecenderungan masing- masing variabel apakah meningkat atau menurun
selama periode pengamatan (1998- 2009).
Gambar 4.6
Fluktuasi CAR BPRS Amanah Ummah Periode 1998- 2009
20
18
18,64
16
16,61
17,2 16,69
14
15,13 15,35 16,03 15,52
12
10
13,24 11,94
11,93 11,46
8
6
4
2
0
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
CAR
Linear (CAR)
Dari
gambar 4.6 terlihat bahwa fluktuasi CAR pada PT.
BPRS

Amanah Ummah periode 1998- 2009 cenderung tidak meningkat ataupun

menurun karena Linear Trendline rasio CAR bergerak mendatar dari sisi kiri

ke sisi kanan. Hal ini menggambarkan bahwa bank mampu menjaga rasio

63

kecukupan modalnya di berbagai kondisi. Meski CAR beberapa kali turun

selalu berada di atas batas minimum yang ditentukan Bank Indonesia. Gambar 4.7 Fluktuasi BOPO BPRS
selalu berada di atas batas minimum yang ditentukan Bank Indonesia.
Gambar 4.7
Fluktuasi BOPO BPRS Amanah Ummah Periode 1998- 2009
85,01
86
84,22 84,89
84
82,17
81,93
81,26
82
80,65
79,92
79,91
80
78,4
78
76
74,67 74,17
74
72
70
68
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
BOPO
Linear (BOPO)

hingga pernah mencapai titik terendah di 11,46% di tahun 2005, namun CAR

Berdasarkan gambar 4.7 terlihat bahwa fluktuasi rasio BOPO pada PT.

BPRS Amanah Ummah periode 1998- 2009 adalah cenderung menurun

karena Linear Trendline BOPO bergerak turun dari sisi kiri ke sisi kanan. Hal

ini

menunjukkan

bahwa

bank

dari

tahun

ke

tahun

berikutnya

mampu

meningkatkan efisiensi operasional dan

mampu memperbaiki kapabilitas

manajemennya dalam mengendalikan biaya guna menghasilkan laba optimal.