Anda di halaman 1dari 30

BAB IX

GETARAN AKIBAT PELEDAKAN


6.1. Gelombang Seismik
Gelombang seismik adalah gelombang yang menjalar melalui bumi,
gelombang ini menggambarkan penyebaran energi melalui bumi yang padat.
Peneybaran gelombang yang lain adalah gelombang suara, gelombang cahaya dan
lain sebagainya.
Gempa bumi menghasilkan gelombang seismik, selain gelombang seismik
yang di hasilkan alam, banyak sumber-sumber gelombang seismik sebagai akibat
perbuatan manusia. Salah satu contoh adalah gelombang seismik hasil peledakan.
Gelombang seismik dibagi menjadi dua, gelombang badan (body wave)
gelombang permukaan (surface wave).
Gelombang badan (body wave) merambat melalui masa batuan, menembus
kebawah kedalam bagian dalam dari masa batuan. Dua macam gelombang badan,
yaitu: gelombang tekan (compressional waves) dan gelombang geser (shear
waves).
Gelombang tekan adalah jenis gelombang tekan-tarik yang akan
menghasilkan pemadatan (kompresi) dan pemuaian (dilatasi) pada arah sama
dengan arah perambatan gelombang.

Gambar 117: Gelombang Tekan

Gelombang geser adalah gelombang transversal (melintang). Yang bergetar


tegak lurus pada arah dari perambatan gelombang.

Gelombang permukaan (surface waves) gelombang yang merambat diatas


permukaan tetapi tidak merambat menembus batuan. Kedalam batuan yang
dipengaruhi oleh gerak gelombang adalah kira-kira satu panjang gelombang.
Gambar 118: Gelombang Geser

Gelombang permukaan dihasilkan oleh gelombang badan yang tertahan oleh


kondisi fisik dan geometris dalam perjalan menuju kebagian dalam masa batuan.
Gelombang permukaan menghasilkan gerakan tanah terbesar dan adalah pembawa
energi terbesar, lihat gambar 117 dan 118.
Apa yang menyebabkan gelombang seismik?
Gelombang seismik adalah gelombang elastis. Elastisitas adalah suatu sifat
dari material yang menyebabkan material tersebut dapat memperoleh kembali
bentuk dan ukuran semulasetelah dikenakan deformasi (perubahan bentuk).
Batuan adalah sangat elastis dan menghasilkan gelombang elastis atau seismik
apabila mengalami deformasi.
Deformasi dapat terjadi dalam dua macam jalan: yaitu perubahan volume
karena kompresi (compression) atau perubahan bentuk karena geseran (shear).
Material menahan deformasi dan tahanan ini disebut modulus elastis. Apabila
deformasi adalah kompresi tahanan diukur oleh bulk modulus, jika deformasi
adalah gesekan, tahanan diukur oleh modulus of rigidity jadi ada dua tipe
gelombang seismik yaitu gelombang kompresi dan gelombang gesek.
Gambar 119: Gelombang-gelombang Seismik

Operasi seperti peledakan dan lain sebagainya selalu akan menghasilkan


getaran atau gelombang seismik. Tujuan dari peledakan umunya adalah
memecahkan batuan. Pekerjaan ini membutuhkan sejumlah energi yang cukup
sehngga memebihi/melampaui kekuatan batuan atau melampaui batas elastis.

Apabila hal tersebut terjadi batuan akan pecah. Proses pemecahan berjalan terus,
energi makin lama makin berkurang sampai pada tingkat lebih kecil dari kekuatan
batuan, sehingga proses pemecahan terhenti.
Energi yang tersisa akan menjalar melalui batuan, mengakibatkan deformasi
dalam batuan tetapi tidak memecahkan batuan, karena masih dalam batas elastis.
Hal ini akan menghasilkan gelombang seismik. (lihat gambar 119).
6.2. Parameter Gelombang
Sifat-sifat dasar yang menguraikan gerakan gelombang disebut parameter
gelombang.
Gelombang gerak harmonic digambarkan dalam gambar 120 dan dinyatakan
dalam persamaan:
y = A sin ( t)
y = simpangan (perpindahan) pada seberang waktu
t = waktu
A = amplitude
=2r
T = periode, cycle
f = frekuensi, jumlah getaran per detik
maka: f =

atau T =
Gambar 120: Parameter Gelombang Gerak Harmonik

Panjang gelombang L adalah jarak dari crest ke crest atau dari trough ke trough,
diukur dalam feet adalah periode gelombang kali kecepatan perambatan
(propagasi).
L = V.T

6.3. Parameter Getaran


Parameter getaran adalah sifat-sifat dasar dari gerakan digunakan untuk
menguraikan karakter dari gerakan tanah. Parameter tersebut adalah: perpindahan,
kecepatan dan percepatan.
Apabila gelombang seismik melalui batuan, maka partikel batuan bergetar
atau berpindah dari posisi rest position semula (rest position). Hal ini adalah
disebut perpindahan. Apabila partikel dipindahkan dan bergerak maka mempunyai
kecepatan dan menggunakan gaya yang besarnya sebanding dengan percepatan
partikel.
Parameter dasar didefinisikan sebagai berikut:
Perpindahan : adalah jarak dimana partikel batuan bergerak dari posisi semula,
satuannya dalam per sekian inch, biasanya perseribu.
Kecepatan

: adalah kecepatan dimana partikel batuan bergerak, ketika


meninggalkan posisi semula. Mulai dari nol, meningkat ke
maximum dan kembali ke nol. Satuan dalam inch per detik.

Percepatan : adalah percepatan pada perubahan kecepatan partikel. Gaya yang


digunakan oleh getaran partikel adalah sebanding dengan
percepatan partikel. Percepatan diukur dalam persekian g
(acceleration of gravity, g = 32.2 ft/detik)
Seismograf getaran biasanya mengukur kecepatan partikel karena kerusakan
baku didasarkan pada kecepatan partikel. Disamping itu ada displacement
seismograph, acceleration seismograph dan selocity seismograph.

6.4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Geataran


Dua faktor prinsip yang mempengaruhi tingkat getaran hasil dari ledakan
suatu muatan bahan peledak, yaitu: jarak dan ukuran (jumlah) muatan.

Beberapa penelitian telah dilakukan dalam usaha menentukan hubungan


antara factor-faktor tersebut dengan tingkat getaran. Hasil penelitian US Burean of
Mines dalam Bulletin 656 (Nicholls, Johnson dan Duvall 1971) adalah sebagai
berikut:
V=H

[ ]

V = kecepatan partikel. In per detik


D = Jarak dari tempat peledakan ke sensor, per 100 feet
(contoh: jarak 500 ft. D = 5)
w = muatan maximum bahan peledak per delay, pound
H = kecepatan partikel (intercept)
= eksponen, scaling factor
Efek dari faktor berat muatan dan jarak dapat diuji masing-masing secara terpisah.
6.4.1. Ukuran Muatan
Faktor paling penting yang mempengaruhi terjadinya getaran adalah ukuran
(jumlah) muatan bahan peledak.
Apabila muatan ditambah maka tingkat getran akan bertambah, tetapi
hubungan ini bukan merupakan hubungan sederhana. Contoh muatan 2 kali lipat
jumlahnya tidak menghasilkan getaran 2 kali lipat.
Gambar 121: Kecepatan Partikel Lawan Berat Muatan

Dari hasil penelitian didapat bahwa kecepatan partikel akan berbanding


lurus dengan muatan bahan peledak berpangkat tertentu, yaitu:
V W

Dimana: V = kecepatan, in per detik


W = berat maksimum bahan peledak pe delay, pound
= eksponen
= sebanding dengan
Menurut hasil penelitian US Burren of Mines, harga adalah sekitar o.8, maka:
V W0.8
Hubungan tersebut, digambarkan dalam grafik pada gambar 121.
6.4.2. Jarak
Apabila jarak dari tempat peledakan bertambah, getaran akibat peledakan
semakin kecil. Percobaan dengan cairan muatan bahan peledak yang sama
beratnya diledakkan di tempat yang berlain-lainan. Setiap peledakan direkam oleh
seismograf berturut-turut pada jarak yang ditambah. Dari hasil percobaan didapat
bahwa kecepatan partikel akan berbanding terbalik dengan jarak berpangkat
tertentu, yaitu:
V=
Dimana: V = kecepatan partikel, in per detik
D = jarak
b = eksponen
= sebanding dengan
Gambar 122: Kecepatan Partikel Lawan Jarak
Harga b menurut US Burrean of Mines berkisar di 1.6, maka:
V=

Hubungan tersebut digambarkan dalam grafik pada gambar 122.


6.5. Hukum Perambatan (Propagation Law)
Dua hubungan yang menyatakan ketergantungan kecepatan partikel pada
berat muatan dan jarak dapat dikombinasikan dan dikembangkan kedalam hokum
perambatan, menjadi:
V=
V=H
Dimana: H = konstanta (constant of proportionality)
W = muatan maksimum bahan peledak per delay
D = jarak
, dimana = Kb

V=H

[ ]b

V=H

US. Bereau of Mines menyatakan hubungan ini dalam bentuk:

[ ]

V=H

Harga terletak disekitar o.5 atau akar dari dari muatan sebagai scaling faktor.
Harga numerical dari H, dan adalah berbeda untuk setiap komponen. Untuk
komponen longitudinal atau radial dapat dinyatakan sebagai berikut:
Vr = 0.052

Apabila dilakukan penyederhanaan:


= 0.5

]- 1.63

W0.512 menjadi W0.5 atau


= -1.6 dan
D dalam feet sebagai ganti per seratus feet maka:

[ ]-1.6

V = 100

Menurut Du Pont Blaster handbook, 1977, hokum perambatan adalah:


V = 160

[ ]-1.6

Dari rumus-rumus dapat dihitung kecepatan partikel yang diharapkan dari


peledakan sejumlah muatan bahan peledak pada jarak yang telah ditentukan
jauhnya dari tempat peledakan.
Harga kecepatan partikel yang dihitung dari dua persamaan diatas akan berbeda,
oleh sebab itu harga hanya dianggap sebagai ballpark figures digunakan sebagai
petunjuk konservatif.
Ground factors harga H dan tergantung pada daerah dimana peledakan
dilakukan. Parameter yang menentukan adalah geologi setempat, jenis batuan dan
tanah penutup. Harga agak seragam tetapi harga H berubah agak luas dan
mungkin dipengaruhi oleh banyak faktor lain.
Kondisi tanah yang mempengaruhi getaran adalah batu singkapan (rock
outcrop), tanah penutup normal dan tanah penutup yang sangat tebal. Batu
singkapan akan menghasilkan getaran frekuensi tinggi sedangkan tanah penutup
yang sangat tebal akan menghasilkan getaran frekuensi rendah. Tanah penutup
normal terletak diantaranya. Perpindahan bertambah penting pada tanah penutup
yang tebal. Sebaliknya berkurang pada batu singkapan.

6.6. Kontrol Getaran


Peledakan tunda (delay blasting) adalah suatu teknik peledakan dengan cara
meledakkan sejumlah besar muatan bahan peledak tidak sebagai satu muatan
(single charge) tetapi suatu seri dari muatan-muatan yang lebih kecil. Maka
getaran yang dihasilkan terdiri dari kumpulan getaran kecil bukan getaran besar.
Metode ini sangat efektif dengan perkembangan dari delay cap atau
millisecond delay blasting cap dan juga perkembangan metoda delay lainnya
sehingga pada saat ini tersedian sejumlah system delay blasting yang efektif.
Contoh:
Suatu peledakan terdiri dari 40 lubang, 250 lb bahan peledak per lubang,
total muatan 1000 lb, diledakkan seketika. Pada jarak 1000 ft, tingkat
getaran yang diperlukan dapat dihitung

ooooo ooooo ooooo ooooo ooooo


ooooo ooooo ooooo ooooo ooooo
40 lubang

V = 100

]-1.6

V = 2.5 ips
Ini adalah kecepatan partikel tinggi berbahaya. Apabila dipergunakan dua
delay untuk mengurangi tingkat getaran. Peledakan dibagi menjadi dua seri atau
bagian terdiri dari 20 lubang, dengan 5000 lb per delay.
ooooo ooooo ooooo ooooo ooooo

MS1

ooooo ooooo ooooo ooooo ooooo

MS2

Tingkat getaran pada jarak 1000 ft adalah:

[ ]-1.6

V = 100

V = 1.4 ips
Delay berkurang menjadi 10 dan muatan per delay 2500 lb, kecepatan partikel
pada jarak 1000 ft dapat dihitung:
MS1 ooooo ooooo ooooo ooooo ooooo MS3
MS2 ooooo ooooo ooooo ooooo ooooo MS4

[ ]-1.6

V = 100

V =0.83 ips
Dari contoh diatas terlihat bahwa pengurangan tingkat getaran dapat dicapai
dengan mempergunakan delay. Untuk mengetahui mengapa peledakan delay
adalah efektif dalam pengurangan tingkat getaran perlu mengerti perbedaan antara
kecepatan partikel (particle velocity) dan kecepatan perambatan (propagation
velocity atau transmission velocity).
Kecepatan perambatan adalah kecepatan gelombang seismik merambat
melalui batuan, berkisar antara 2000 20000 feet per detik tergantung pada jenis
batuan. Untuk suatu daerah dengan batuan tertentu kecepatan relatif konstan.
Kecepatan perambatan tidak dipengaruhi oleh besarnya energi (input energy).
Gelombang kejut yang dihasilkan dari memukul batuan dengan martil akan
merambat dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan perambatan gelombang
kejut yang dihasilkan dari ledakan 1000 pound bahan peledak.
Gambar 123: Peningkatan Kecepatan Partikel
Kecepatan partikel adalah kecepatan partikel bumi bergetar sekitar posisi
semula (rest position). Kecepatan partikel adalah fungsi dari energi (input energy).
Energi yang besar menghasilkan kecepatan partikel yang tinggi pula. Hal tersebut
dapat terlihat dalam gambar 123.

Peledakan

delay mengurangi

tingkat

getaran

sebab

setiap

delay

menghasilkan masing-masing gelombang seismik yang kecil yang terpisah.


Gelombang hasil delay pertama telah merambat pada jarak tertentu sebelum delay
selanjutnya meledak. Kecepatan perambatan tergantung pada jenis batuannnya.
Contoh:
Kecepatan perambatan dalam batuan = 10000 ft per detik. Apabila delay
kedua meledak 25 milidetik lebih lambat, gelombang pertama telah
menempuh jarak 250 ft (10000 x 0.025 = 250). Gelombang kedua
merambat dengan kecepatan sama, sehingga tidak dapat mengejar
gelombang pertama. Proses ini digambarkan dalam gambar 124.
6.6.1. Scaled distance law
Cara yang praktis dan efektif untuk mengontrol getaran adalah dengan
menggunakan scaled distance, sehingga memungkinkan pelaksanaan lapangan
menentukan jumlah muatan bahan peledak yang dipergunakan atau jarak aman
untuk muatan bahan peledak yang jumlahnya telah ditentukan.
Scaled distance:
SD =

Dimana D = jarak dari tempat peledakan ke bangunan, feet


W = muatan maksimum bahan peledak per delay, pound.
Untuk muatan bahan peledak 1225 pound, diledakan pada jaran 2000 ft dari
bangunan, harga scaled distance adalah:
SD =

= 57

Menurut Nicholls, Johnson dan Duvall dalam bulletin 654 (1971), harga scaled
distance 50 adalah batas peledakan yang aman, apabila tidak ada pengukuran
seismik. Banyak regulatory agencies menentukan scaled distance 60.

Gambar 124: Gelombang Seismik Pada Peledakan Tunda


Secara umum, harga scaled distance yang besar (SD > 50) menunjukkan kondisi
getaran yang aman, atau kerusakan yang akan terjadi kecil, demikian juga
sebaliknya.
US Bereau of Mines menentukan scaled distance = 50 sebagai batas peledakan
yang aman untuk getaran.
Contoh:
SD =

W=

= 60

[ ]2

Untuk D = 1200 ft, maka


W=

[ ]-2

W = 400 pound per delay


Apabila jumlah muatan bahan peledak diketahui, 196 pound maka jarak aman
dapat dihitung
D = 60
D = 840 feet
Bangunan pada jarak 840 ft atau lebih adalah aman.
6.6.2. Scaled distance yang disesuaikan
Peraturan scaled distance menunjukkan kondisi-kondisi dimana pekerjaan
peledakan tidak boleh dilakukan. Pengaturan kembali scaled distance law
diperlukan seandainya harga S.D tidak lagi sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan
operasi. Pengaturan ini didasarkan pada alas an bahwa tingkat getaran akibat

peledakan selalu berada dalam batas aman. Pernyataan tersebut diatas dapat dan
harus dibuktikan oleh pengukuran seismik. Ada beberapa cara pengaturan scaled
distance law, yaitu:
6.6.2.1.

Metode rata-rata

Hitung scaled distance value untuk suatu seri peledakan, didasarkan pada
muatan bahan peledak dan jarak terdekat dari bangunan untuk setiap peledakan.
Setiap pledakan dicatat dengan seismograf dan masih betul-betul dalam batas
yang diizinkan (aman). Hitung scaled distance value rata-rata dari peledakan
tersebut scaled distance rata-rata ini harus disyahkan oleh pejabat yang berwenang
dan disebut working scaled distance, yang akan dipakai sebagai pedoman kerja
selanjutnya.
TABEL XLIX
SCALED DISTANCE RATA-RATA
Scaled distance rata-rata
Shot

SD

264

64

33

290

100

29

243

81

27

196

49

28

279

81

31

256

64

SDrata-rata =

=
= 30

6.6.2.2. Particle velocity vs scaled distance


Metode ini meliputi pengukuran seismik dan perhitungan scaled distance
value dari data.
Data harus tersebar dari harga yang rendah sampai harga yang tinggi, dapat
diperoleh dengan cara peledakn berturut-turut dan setiap kali peledakan letak
seismograf diubah sehingga jarak menjadi semakin jauh. Data dalam table L.
Gambar 125: Kecepatan Partikel Lawan Scaled Distance
Gambarkan data pada kertas grafik log-log dengan sumbu tegak particle
velocity dan scaled distance pada sumbu mendatar. Gambar garis lurus
sehingga semua titik-titik terletak dibawah garis. Garis ini disebut envelope
line.
Untuk menentukan scaled distance dapat dilakukan sebagai berikut:
Apabila particle velocity yang diinginkan 2.0 inch/detik, tarik garis mendatar
mulai dari titik 2.0 inch/detik da akan memotong envelope line. Dari titik potong
ini ditarik garis tegak kearah sumbu scaled distance dan akan memotong pada
harga 14. Harga tersebut adalah working scaled distance untuk particle
velocity yang dihasilkan oleh peledakan akan kurang dari 2.0 inch/detik.
Biasanya untuk faktor keamanan, harga, working scaled distance ditambah.
Sebagai contoh diambil harga 20 sebagai ganti 14.

TABEL L
SCALED DISTANCE PARTICLE VELOCITY
Scaled distance - particle velocity
Shot

SD

200

289

11.8

390

400

19.5

PV

560

324

31.1

725

310

41.2

835

256

52.2

6.6.3. Scaled distance chart


Scaled distance chart dapat dibuat pada kertas grafik log-log untuk
bermacam-macam harga dari scaled distance. Sebagai contoh scaled distance =
50. Dari harga tersebut dapat dihitung jumlah muatan bahan peledak untuk
bermacam-macam jarak.
SD =

W=

= 50

[ ]

D (dipilih)

W (dihitung)

50

1000

400

Dengan cara menggambarkan titik (50.1) dan (1000.400) pada kertas loglog dan menghubungkannya dengan garis lurus, kita mendapatkan curva scaled
distance dengan 50 = 50. Demikian selanjutnya dengan cara yang sama untuk =
SD 10. 20. 60 dan 100. Lihat gambar 126.
Scaled distance chart dapat dipakai untuk menentukan berat suatu bahan
peledak untuk sembarang jarak denganscaled distance (SD) yang telah ditentukan.
Diumpamakan tingkat operasi peledakan yang diperbolehkan SD = 20, beberapa
muatan yang diinginkan untuk jarak ft dari tempat peledakan?
Tarik garis tegak dari jarak 100 ft pada sumbu jarak sampai memotong SD =
20 tegak berat muatan, akan memotong pada titik berat muatan 25 lb.

6.7. STANDARD VIBRASI


Telah banyak riset dilakukan selama bertahun-tahun dalam suatu usaha
untuk memahami dan mengontrol getaran. Adapun hasilnya adalah sebagai
berikut:
Gambar 126: KURVA SCALED DISTANCE
1. Thoenen dan Windes (1942)
Acceleration index
Daerah aman

- kuarang dari 0.1 g

Daerah peringatan

- antara 0.1 g 1.0 g

Daerah rusak

- lebih besar dari 1.0 g

2. Crandell, F.J (1949)


Energy ratio Index
ER =
Dimana a = percepatan, ft/detik2
f = frekuensi, Hz
Daerah aman

- ER kurang dari 3

Daerah peringatan

- ER antara 3 6

Daerah berbahaya

- ER lebih besar dari 6

Energy ratio mempunyai dimensi kecepatan dan ER = 1 disamakan dengan


particle velocity 1.9 inch/detik
3. Longefors, Westerberg dan kihlstrone (1958)
Velocity Index
Tidak ada kerusakan

- kurang dari 2.8 inch/detik

Retakan kecil

- 4.3 inch/detik

Retakan

- 6.3 inch/detik

Retakan berat

- 9.1 inch/detik

4. Edward dan Northwood (1960)


Velocity index

Daerah aman kurang dari 2.0 inch/detik


Kerusakan 4.0 - 5.0 inch/detik
5. Nicholls, Johnson dan Duvall (1971), USMB Bulletin, 656, 1971
Velocity index
Daerah aman

- kurang dari 2.0 inch/detik

Kerusakan

- lebih besar dari 2.0 inch/detik

Dari sejumlah penelitian dapat disimpulkan bahwa kecepatan partikel


dianggap merupakan ukuran yang terbaik untuk menilai kemungkinan kerusakan.
Standard getaran yang aman dalam Bulletin 656 ditetapkan sebagai berikut:
Standard getaran yang aman didasarkan pada pengukuran dari masing-masing
komponen dan apabila kecepatan partikel sembarang komponen melebihi 2.0
inch/detik, kerusakan mungkin akan terjadi.
Dalam praktek kecepatan partikel 2.0 inch/detik ditetapkan sebagai batas
aman didasarkan pada pengukuran dari masing-masing komponen dan apabila
kecepatan partikel sembarang komponen melebihi 2.0 inch/detik ditetapkan
sebagai batas aman (safe limit). Tingkatan getaran hasil dari penyelidikan lain
yang dipakai dalam bulletin 656 adalah, (lihat gambar 127):
Ambang kerusakan (4.0 inch per detik)
Pembukaan retakan lama
Pembukaan retakan bari
Benda-benda lepas tergeser
Kerusakan ringan (5.4 inch/detik)
Plaster rontok
Jendela pecah
Retakan kecil pada tembok gedung tidak melemahkan bangunan

Kerusakan berat (7.6 inch/detik)


Retakan besar pada tembok gedung
Penggeseran pondasi (foundation bearing walls)
Melemahkan bangunan
6.8. KRITERIA KERUSAKAN
Dari penelitian US Burden of Mines, laporan RI 8507 (siskind et al, 1990),
ternyata getaran gedung/bangunan akibat getaran tanah frekuensi rendah
mengakibatkan penambahan tingkat pemindahan dan regangan, hal ini merupakan
persoalan yang serius. Disini terlihat bahwa kerusakan tergantung pada frekuensi,
tingkat aman dari getaran tanah berkisar antara 0.5 2.0 inch/detik. Didasarkan
pada frekuensi.
Gambar 128: Tingkat Vibrasi Yang Aman
Tabel LI
Tingkat Vibrasi Yang Aman Untuk Struktur Rumah Tinggal
Safe Levels of Blasting Vibrations for Residential Structures

Ground Vibration peak particle


Type of Structure

Bodern homes, drywall


Interiors
Older homes, plaster on Wood lath
contruction for interior wals

velocity, in/sec
at low frequency

At high frequency

(<40 Hz)

(>40 Hz)

0.75

2.0

0.50

2.0

Scale distance (S.D) 70 disarankan sebagai batas aman dimana alat seismic
tidak dipergunakan atau tidak tersedia, tingkat getarannya adalah berkisar antara
0.08-0.15 inc/detik.

Potensi kerusakan untuk peledakan frekuensi rendah (<40 Hz) adalah lebih
besar dari pada peledakan frekuensi tinggi (>40 Hz). Criteria aman untuk
peledakan yang menghasilkan getaran tanah frekuensi rendah adalah 0.75
inc/detik untuk bangunan modern dan 0.50 inch/detik untuk bangunan lama.
Frekuensi untuk diatas 40 Hz, kecepatan partikel aman maximum adalah 2.0
inch/detik, lihat tabel LI dan gambar 128. Kemungkinan kerusakan dari peledakan
yang menghasilkan kecepatan partikel puncak dibawah 0.5 inch/detik tidak saja
kecil tetapi menurun secara lebih cepat dari pada perkiraan untuk seluruh harga
tingkat getaran.
Alternatif yang disarankan untuk kriteria tingkat peledakan seperti dalam
gambar 129, kriteria alternatif ini lebih kompleks. Dengan melibatkan
perpindahan dan kecepatan, masing-masing dipakai untuk beberapa harga
frekuensi. Ini berarti bahwa penunjuk kerusakan yang terbaik adalah kecepatan
partikel puncak sebagai fungsi dari frekuensi dibawah 40 Hz.
Pada frekuensi dibawah 40 Hz kecepatan maksimum berkurang dengan laju
penurunan sama dengan perpindahan (constant peakdisplacement) sebesar 0.008
inch, pada frekuensi yang berhungan dengan 0.75 inch/detik untuk drywall dan
0.50 inch/detik untuk plaster, kecepatan partikel adalah konstan.
Gambar 129: Alternatif Kriteria Tingkat Peledakan
Batas perpindahan maksimum yang disarankan untuk frekuensi yang rendah
sekali (<4 Hz). Kecepatan partikel puncak 2.0 inch/detik atau kurang tidak akan
menimbulkan kerusakan.
Peraturan OSM (United State Office Surfice Mining)
Pada tahun 1983, OSM mengelurkan peraturan mengenai penggunaan bahan
peledak untuk mengontrol getaran tanah dan air blast. Mereka tidak
memasukkan semua saran-saran USBM, tetapi dibuat bentuk yang lebih fleksibel
dalam memenuhi persyaratan pelaksanaan dan mencegah kerusakan harta benda.

Operator diberi kesempatan salah satu dari tiga metoda yang dipakai untuk
memenuhi peraturan OSM. Tiga metoda tersebut adalah:
Metoda 1: Kriteria batas kecepatan partikel
Metoda 2: Kriteria persamaan scaled distance
Metoda 3: Kriteria blast level chart.
6.8.1. Metoda 1
Setiap peledakan dipantau dengan seismograf sehingga selalu dapat
mencatat kecepatan partikel puncak. Asalkan kecepatan partikel maksimum
berada dibawah tingkat harga yang tercantum dalam tabel LII dianggap masih
sesuai. Apabila harga tingkat getaran untuk jarak yang telah ditentukan
melampaui harga tingkat getaran dalam table LII, dapat mengakibatkan penalty
yang dijatuhkan oleh OSM.
Tabel LII
Kecepatan Partikel Maksimum Yang Diizinkan Pada Berbagai
Jarak Dari Daerah Peledakan
Maksimum Permitted Particle Velocities at Various Distances
Blast Site

Maximum allowable peak particle


Distance from blast site (m)

velocity (inch/sec)

0 to 300

1.25

310 to 5.000

1.00

5.001 and beyond

0.75

6.8.2. Metoda 2
Perencanaan peledakan menurut Tabel LIII ditentukan oleh faktor scaled
distance untuk bermacam-macam jarak antara tempat tinggal/pemukiman dengan
tempat peledakan. Faktor scaled distance berubah tergantung pada jarak, hal ini
juga menggambarkan perubahan batas dari kecepatan partikel puncak.

Scaled distance = SD
= SD
D = jarak dari tempat peledakan ke tempat tinggal, feet
W = berat bahan peledak, pound per delay
D = SD W1/2
W=[

]2

Contoh:
1. D = 200 ft, harga SD = 50. Berat bahan peledak yang aman per delay adalah:
W=[
W=[

]
]2

= 16 lb
2. D = 2000 ft, harga SD = 55. Berat peledak yang diinginkan per delay adalah:
W=[
W=[

]
]2

= 1322 lb

Gambar 130: Kecepatan Partikel Lawan Frekuensi Sebagai Petunjuk Kerusakan


Akibat Peledakan

Apabila rencana peledakan berdasarkan harga-harga dalam table LIII


menjadi sangat terbatas, maka OSM member kelonggaran untuk modifikai scaled
distance factor untuk daerah penambangan tertentu.
Operator mengumpulkan data kecepatan partikel dari bermacam-macam
scaled distance, dari data tersebut dibuat grafik hubungan antara kecepatan
partikel terhadap scaled distance, dengan cara menggambarkan data dalam kertas
log-log. Data yang dikumpulkan tersebut harus menunjukkan bahwa kecepatan
partikel tidak akan melebihi batas maksimum yang diinginkan dengan tingkat
kepercayaan 95 %.
Setelah modifikasi scaled distance tersebut diatas disetujui oleh yang
berwenang, maka scaled distance factor ini hanya berlaku untuk dipakai dalam
tambang yang bersangkutan.
6.8.3. Metoda 3
Dengan mempergunakan grafik gambar 130, dimana batas kecepatan
partikel bertambah tergantung pada frekuensi.
Metoda ini memerlukan analisis frekuensi dan kecepatan partikel yang
diakibatkan oleh peledakan. Pengukuran dilakukan pada setiap peledakan.
Kecepatan-kecepatan partikel pada frekuensi tertentu yang terletak
diseberang tempat dibawah garis tebal pada grafik dianggap aman. Sedangkan
sebarang harga diatas garis akan menambah kemungkinan terjadi kerusakan
bangunan pemukiman dan mengganggu penghuni.
Contoh: kecepatan partikel sebarang komponen (longitudinal, transverse
atau vertical) dicatat 1.0 inch/detik pada frekuensi 50 Hz. Tidak terjadi kerusakan,
dilain pihak apabila kecepatan partikel tercatat 1.0 inch/detik pada frekuensi 6 Hz,
kemungkinan terjadi kerusahan dan gangguan karena hal ini terletak diatas garis
tebal pada grafik.

6.9. Kerusakan Akibat Peledakan Dalam Terowongan


Penelitian peledakan yang dilakukan pada terowongan bawah tananh tidak
sebanyak seperti peledakan dipemukiman. Kriteria peledakan untuk terowongan
agak lebih karakteristik dan disesuaikan untuk setiap daerah tertentu, oleh sebab
itu hanya dibuat hubungan empiris saja. Beberapa peneliti telah membuat criteria
sebagai berikut:
1. Langefors et al. memperkirakan batuan lepas pada kecepatan partikel
melebihi 12 inch/detik dan batuan akan retak pada 24 inch/detik.
2. Oriard menyatakan bahwa massa batuan akan mengalami kerusakan pada
kecepatan partikel diatas 25 inch/detik.
3. Bauer dan Galder meramalkan keruskan untuk massa batuan berdasarkan
tegangan yang dihasilkan oleh kecepatan partikel dalam gerakan tanah
disebabkan oleh peledakan. Kriteria ini disusun dalam tabel LIV.
Tabel LIV
Kriteria Kerusakan Pada Massa Batuan
Damage Criteria for Rock Masses

Peak particle velocity (in/sec)

Effects on rocks mass

Less than 10

No fracturing of intact rock

10 25

Minor tensite slabbing will occur

25 100

Strong tensite and some, radical cracking

Greater than 100

Complete breakup at rock massess

Source: Bauer and Galder, 1978

Di Sudbury Basin Mine Ontario, kerusakan dilaporkan terlihat dalam bentuk


tensile slabbing. Pada kecepatan partikel puncak mendekati 14 inch/detik. Suatu
terowongan jalan angkut bawah tanah di Labrador, kecepatan partikel puncak,
persamaannya adalah sebagai berikut:
V=
V = kecepatan partikel puncak, inch/detik

ST = dynamic tensile strength dari massa batuan, psi


PM = mass density dari batuan, lb/det2/ft4
CL = kecepatan gelombang longitudinal dalam batuan,
ft/detik
6.10. Air Blast
Air blast adalah hasil dari suatu peledakan yang tidak kita inginkan.
Kerusakan karena air blast dan gangguan langsung dihubungan dengan
faktor-faktor: rencana peledakan, cuaca, kondisi lapangan dan reaksi manusia.
Memahami teori air blast dan hubungannya dengan faktor-faktor diatas
akan membantu juru ledak bekerja pada tingkat yang paling menguntungkan dan
sesuai dengan spesifikasi peraturan.
Dalam kondisi atmorfir normal, tekanan udara 14.7 lb/inch dan berat 0.075
lb/cu ft.
Mekanisme perambatan gelombang suara adlah perpindahan momentum,
melalui perpindahan molekul satu ke molekul yang lain. Air blast atau gangguan
ini merambat sebagai gelombang kompresi yang merambat melalui atmosfir.
Dibawah kondisi cuaca tertentu dan rencana peledakan yang kurang
sempurna dapat dihasilkan air blast yang merambat pada jarak yang jauh.
Kecepatan suara di udara pada permukaan laut dan 320 F adalah 1086 ft per
detik. Kecepatan akan bertambah 1% setiap kenaikan suhu udara 100 F.
Bilamana sesuatu bergerak lebih cepat dari kecepatan suara diudara akan
dapat menyebabkan air blast.
Beberapa literature hubangan d/t 1100 ft/detik dipakai dengan tidak
menyebutkan suhu atau kecepatan angin dan ini dapat menimbulkan persoalan air
blast yang serius. Oleh sebab itu rencana peledakan harus mempertimbangkan

suhu udara, sebab kecepatan suara di udara berubah dengan berubahnya suhu,
lihat Gambar 131.
Gambar 131: Kecepatan Suara Di Udara Lawan Suhu
6.10.1. Panjang gelombang suara di udara
Panjang gelombang suara dapat dihitung dengan persamaan
=
= panjang gelombang suara diudara, ft
V= kecepatan suara diudara pada suhu tertentu, ft/detik
f = frekuensi gelombang suara, Hz
Contoh, panjang gelombang suara di udara pada suhu 32o F (V = 1.086 ft/detik)
berubah tergantung frekuensi, tabel LV.
Tabel LV
Panjang Gelombang di Udara Lawan Frekuensi
Wavelength in Air versus Frequency

Frequency (Hz)

Wavelength in air

543

217

10

109

20

54

30

36

40

27

50

22

100

11

500

1000

5000

0.2

10000

0.1

20000

0.054

6.10.2. Overpressure
Air blast adalah gelombang tekanan yang dirambatkan di atmosfir dari
tempat peledakan, ada 2 macam:
1. Suara dapat didengar (audible sound)
2. Suara tidak dapat didengar (subaudible sound atau concussion)
Audible air blast mempunyai frekuensi dibawah 20 Hz.
Air blast diukur dan dilaporkan sebagai overpressure, yaitu tekanan udara lebih
dan diatas tekanan atmosfir yang normal. Overpressure dinyatakan dalam pound
per inch persegi (psi) atau dalam decibels (dB). Hubungan antara psi dan dB
adalah sebagai berikut:
dB = 20 log [

atau
psi = 2.9 x 10-9 x anti log [

dB = sound level, decibels


P = overpressure, psi
Po = overpressure dari suara paling rendah yang masih dapat
didengar, 29 x 10-9 psi
Gambar 132: Konversi Overpressure (dB dan psi)
Pada gambar 132 adalah overpressure dalam dB dan psi.
Ada 4 macam air blast overpressure yang penting, yaitu:

1.

APP Air Pressure Pulse, dihasilkan dari langsung perpindahan batuan di


muka peledakan

2.

RPP Rock Pressure Pulse, dihasilkan dari getaran tanah

3.

GRP Gas Release Pulse, gas terlepas dari ledakan bahan peledak melalui
tetakan batu

4.

SRP Stemming Release Pulse, gas terlepas dari blow-out stemming


GRP dan SRP adalah merupakan yang paling sering sebagai penyebab

kerusakan dan keluhan. Harga-harga dalam tabel LVI adalah merupakan harga
tingkat air blast maksimum yang dianggap masih aman. Tingkatan air blast,
overpressure yang menyebabkan retakan pada plaster adalah lebih tinggi daripada
yang menyebabkan pecahnya gelas-gelas pada bangunan.
Tabel LVI
Tingkat Airblast Yang Aman
Safe Air Blast Levels

0.1 Hz high pass system 134 dB


2 Hz high pass system ....................... 133 dB
5 or 6 Hz high pass system .. 129 dB
6 slow (events not exceeding 2 sec. duration) ... 105 dB
Source: Siskind et al. 1980, p. 66

6.10.3. Kondisi Cuaca dan Atmosfir


Kondisi-kondisi atmosfir seperti suhu inverse (temperature inversion) dan
angin permukaan dapat mempengaruhi tekanan air blast, gambar 133, melukiskan
macam-macam kondisi atmosfir yang mungkin terjadi dan kemungkinan
persoalan-persoalan yang akan terjadi akibat temperature inversion atau
bertambahnya suhu dengan bertambahnya ketinggian.
Apabila hal ini terjadi dapat menambah tekan puncak (peak pressure)
sampai 5 10 kali lebih besar.
Gambar 133: Pengaruh Altitude dan Suhu Pada Perambatan Air Blast

Arah dan kecepatan angin juga dapat mempengaruhi arah rambatan dari
gelombang air blast. Gelombang air blast akan membelok dalam arah tiupan
angin, tergantung dari kecepatan angin tersebut.
Kenyataan menunjukkan bahwa kecepatan angin didekat permukaan tanah
lebih kecil daripada kecepatan angin pada tempat yang lebih tinggi, hal tersebut
bahkan menyebabkan rays membelok atau melengkung kembali kea rah
permukaan bumi oleh angin.
Apabila terdapat kondisi suhu inverse, kecepatan angin dan arah angin yang
tepat didaerah peledakan, mungkin hal ini dapat menghasilkan suatu titik pusat
angin turun dengan overpressure yang tinggi dari daerah peledakan., gambar 133
e.
Keluhan air blast mungkin didengar apabila titik pusat tersebut dekat
dengan pemukiman, sedangkan didaerah yang lebih dekat dengan daerah
peledakan tidak terdengar keluhan.
Angin turun memfokuskan gelombang air blast menurut laporan dapat
meningkatkan overpressure sampai sebesar 100 kali.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ash, R.L., The Mechanics of Rock Breakage. Pit & Quarry Magazine, Sept./Oct.,
1963.
2. -----------, Blasting Practice. ICI Nobels Explosive Co. Ltd., 4th ed., 1972.
3. -----------, Blasters Handbook, Du Pont 16th ed., 1977.
4. -----------, Blasters Handbook, Du Pont 14th ed., 1963.
5. -----------, Surface Mining Supervisory Training Program Shovel/Truck, by Bucyrus
Erie Company., 1979.
6. K. Mc Gregor., The Drilling of Rock, CR Book Ltd, London, 1976.
7. -----------, Rock Fragmentation by Blasting No. 2, Lulia University of Technology,
Sweden. 1983.
8. -----------, Surface Drilling and Blasting. Tamrock, 1988.
9. Calvin J. Konya., Rock Blasting, US Departement of Transportation., 1985.
10. A Brinton Carson., General Excavation Methods. McGraw-Hill Book Company.,
New York Toronto London Sydney, 1961.
11. Lyle V. A. Sendlein, Hasan Yazicigil and Claire L. Carison., Surface Mining
Environamental Monitoring and Reclamation Handbook, Elsiver New
York Amsterdam Oxfort., 1983.
12. -----------, Explosive and Rock Blasting, Atlas Powder Company., 1987.
13. Stig O Olofson., pplied Explosive Technology for Contruction and Mining. Nora
Boktryckeri AB., 1988.
14. -----------, Atlas Copco Qinde Book. Underground Equipment., Atlas Copco,
Sweden 1986/1987.
15. -----------, Atlas Copco Manual, 4th ed., Atlas Copco, 1982.
16. CE Gregory, Explosive for North American Engineers, John Brendon & Sohn,
4131 Reinkamp-Baerl, 1973.
17. Howard L. Hartman John Wiley & Sond., Introductory Mining Engineering,
New York, 1987.

18. Richard A Dick., Factors in Selecting and Applying Commercial Explosives and
Blasting Agents. Burean of Mines.
19. Hemphill,G.B., Blasting Operations McGraw-Hill Book Co., New York, 1981.
20. Gustaafsson, R., Swedish Blasting Technique. SPI, Sweden, 1973.
21. Langefors, Kihlstroom The Modern Technique of Rock lasting, John Wiley & Sons
Co., New York, 1973.