Anda di halaman 1dari 25

2.2.

8
2.2.10

Penatalaksanaan Medis & Keperawatan .


WOC ....

2.3 Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan Pada Klien Gastroenteritis


2.3.1

Pengkajian .

2.3.2

Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon ...

2.3.3

Perumusan NANDA, NOC, dan NIC .

2.3.4

Evaluasi

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ..
3.2 Saran ..
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gastroenteritis biasa disebut diare adalah salah satu penyakit yang banyak terjadi di
Indonesia. Gastroenteritis dapat menyerang pada semua kelompok usia. Tidak jarang
penyakit ini menyebabkan kematian pada si penderita. Hal ini dikarenakan oleh
ketidakmampan si penderita menoleransi kehilangan elektrolit dan cairan dari tubuhnya.
Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang
memberikan gejala diare dengan atau tanpa dehidrasi disertai muntah. Gastroenteritis
diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan
frekuensi yang lebih banyak dari biasa (Sowdent, 2005).
Angka kejadian diare, di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih
tinggi. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 angka kematian akibat
diare 23 per 100 ribu penduduk. Selama tahun 2006 sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi
melaporkan KLB diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980
dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Hal tersebut, utamanya disebabkan rendahnya
ketersediaan air bersih, sanitasi buruk dan perilaku hidup tidak sehat (Tadda, asri. 2010).
Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya diare, seperti
masyarakat harus menyadari bahwa kesehatan itu lebih dari segalanya. Berdasarkan hal di
atas penulis menyusun makalah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gastroenteritis .
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana anatomi fisiologi sistem percenaan?
1.2.2 Bagaimana landasan teoritis penyakit gastroenteritis?
1.2.3 Bagaimana landasan teoritis asuhan keperawatan pada klien gastroenteritis?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologi dari sistem pencernaan.
1.3.2 Untuk mengetahui dan mengerti tentang landasan teoritis penyakit gastroenteritis.

1.3.3

Untuk mengetahui dan mengerti tentang landasan teoritis askep pada klien

gastroenteritis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah
sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi
zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian
makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran
pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus
besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar
saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
1. Mulut
Mulut adalah suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan
dan manusia. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari
sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus. Mulut merupakan jalan masuk untuk
sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan
dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana,
terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Sedangkan penciuman dirasakan oleh saraf
olfaktorius di hidung dan teriri dari berbagai macam bau.
Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi
belakang (molar, geraham) menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah
dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzimenzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim
(misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses
menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.
2. Tenggorokan ( Faring)
Tenggorokan adalah penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari
bahasa yunani yaitu Pharynk. Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu
kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan
terhadap infeksi, disini terletak persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya
dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang. Keatas bagian
4

depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana,
keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut
ismus fausium. Tekak terdiri dari; Bagian superior = bagian yang sangat tinggi dengan
hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior = bagian
yang sama tinggi dengan laring.
Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan
tekak dengan ruang gendang telinga, Bagian media disebut orofaring, bagian ini berbatas
kedepan sampai diakar lidah. Bagian inferior disebut laring gofaring yang menghubungkan
orofaring dengan laring
3. Kerongkongan (Esofagus)
Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu
makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui
kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. Sering juga disebut esofagus(dari
bahasa Yunani: i, oeso membawa, dan , phagus memakan). Esofagus
bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang.
Menurut histology Esofagus dibagi menjadi tiga bagian: bagian superior (sebagian besar
adalah otot rangka), bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus), serta bagian
inferior (terutama terdiri dari otot halus).
4. Lambung
Lambung adalah organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang
keledai. Terdiri dari 3 bagian yaitu Kardia, Fundus, Antrum. Makanan masuk ke dalam
lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan
menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke
dalam kerongkongan. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara
ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting :
1) Lendir
Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap
kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada
terbentuknya tukak lambung
2) Asam klorida (HCl)
5

Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin
guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai
penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.
3) Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)
a) Usus halus (usus kecil)
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak
di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah
yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding
usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu
melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga
melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
Lapisan usus halus ; lapisan mukosa ( sebelah dalam ), lapisan otot melingkar
( M sirkuler ), lapisan otot memanjang (M Longitidinal) dan lapisan serosa
( Sebelah Luar ). Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari
(duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).
b) Usus dua belas jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak
setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian
usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai dari
bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz. Usus dua belas jari
merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh
selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat
sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari
pankreas dan kantung empedu. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin
duodenum digitorum, yang berarti dua belas jari. Lambung melepaskan
makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian
pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter
pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh,
duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti
mengalirkan makanan.
c) Usus Kosong (jejenum)
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian
kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus
penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara
2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus
penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium. Permukaan
6

dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili),
yang memperluas permukaan dari usus. Secara histologis dapat dibedakan
dengan usus dua belas jari, yakni berkurangnya kelenjar Brunner. Secara
hitologis pula dapat dibedakan dengan usus penyerapan, yakni sedikitnya sel
goblet dan plak Peyeri. Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus
penyerapan secara makroskopis. Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune
yang berarti lapar dalam bahasa Inggris modern. Arti aslinya berasal dari
bahasa Laton, jejunus, yang berarti kosong.
d) Usus Penyerapan (illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada
sistem pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak
setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum
memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap
vitamin B12 dan garam-garam empedu.
e) Usus Besar (Kolon)
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu
dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus
besar terdiri dari : Kolon asendens (kanan), Kolon transversum, Kolon
desendens (kiri), Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum). Banyaknya
bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan
dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga
berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting
untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa
menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya
terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan
terjadilah diare.
f) Usus Buntu (sekum)
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, buta) dalam istilah anatomi
adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon
menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan
beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar,
sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau
seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.
g) Umbai Cacing (Appendix)
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi
pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang
7

parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam


rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen). Dalam anatomi
manusia, umbai cacing atau dalam bahasa Inggris, vermiform appendix (atau
hanya appendix) adalah hujung buntu tabung yang menyambung dengan
caecum. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang
dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari 2
sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung umbai
cacing bisa berbeda bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas
tetap terletak di peritoneum. Banyak orang percaya umbai cacing tidak
berguna dan organ vestigial (sisihan), sebagian yang lain percaya bahwa
apendiks mempunyai fungsi dalam sistem limfatik. Operasi membuang umbai
cacing dikenal sebagai appendektomi.
h) Rektum dan anus
Rektum (Bahasa Latin: regere, meluruskan, mengatur) adalah sebuah
ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan
berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara
feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih
tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja
masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB).
Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam
rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk
melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan
dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan.
Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan
feses akan terjadi.
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan
limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh
(kulit) dan sebagian lainnya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur
oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang
air besar BAB), yang merupakan fungsi utama anus.
2.2

Landasan Teoritis Penyakit


2.2.1 Defenisi Gastroentritis
Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus
yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,etall.1996).
8

Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau
bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya
(FKUI,1965).
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang
disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wongs,1995).
Dari ketiga defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa Gastroentritis (GE)
adalah terjadinya peradangan pada lambung dan usus yang disebabkan oleh bakteri,
virus dan parasit yang pathogen dimana gejala yang umum terjadi adalah diare
(bentuk tinja yang encer) dalam frekuensi yang lebih banyak dari biasanya.
2.2.2 Klasifikasi
Gastroenteritis (diare) dapat di klasifikasi berdasarkan beberapa faktor :
1) Berdasarkan lama waktu :
a. Akut : berlangsung < 5 hari
b. Persisten : berlangsung 15-30 hari
c. Kronik : berlangsung > 30 hari
2) Berdasarkan mekanisme patofisiologik
a. Osmotik, peningkatan osmolaritas intraluminer
b. Sekretorik, peningkatan sekresi cairan dan elektrolit
3) Berdasarkan derajatnya
a. Diare tanpa dehidrasi
b. Diare dengan dehidrasi ringan/sedang
c. Diare dengan dehidrasi berat
4) Berdasarkan penyebab infeksi atau tidak
a. Infektif
b. Non infeksif
5) Berdasarkan penyebab organik atau tidak
a. Organik adalah bila ditemukan penyebab anatomik, bakteriologik, hormonal,
atau toksikologik.
b. Fungsional merupakan bila tidak ditemukan penyebab organik.
Klasifikasi dehidrasi
Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter, yaitu :
1. Berdasarkan jumlah cairan tubuh yang hilang dan keadaan klinis pasien, dehidrasi
dapat diklasifikasikan kedalam 3 kelompok yaitu :
a. Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5 % bb)
Gambaran kliniks : torgor kulit sudah mulai berkurang,suara serak, belum
jatuh dalam persyok.
9

b. Dehidrasi sedang (hilang cairan 5-8 %bb)


Gambaran klinis : togor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau
syok,nadi cepat, napas cepat dan dalam.
c. Dehidrasi berat (hilang cairan 8-10% bb)
Gambaran klinis : kelanjutan dari tanda dehidrasi sedang, kesadaran menurun,
otot-otot kaku., dan sianosis.
2. Berdasarkan bj (berat jenis) plasma
a. Dehidrasi ringan, (bj plasma 1,032 -1,040)
b. Dehidrasi sedang (bj plasma 1,028 -1,032)
c. Dehidrasi berat (bj plasma 1,025 -1,028)
2.2.3
Etiologi
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral : Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab
utama diare pada anak meliputi infeksi enteral sebagai berikut :
a) Infeksi bakteri
: Vibrio, ecoli, salomonela, shigela, complylobacter,
virginia, aeromonas, dll.
b) Infeksi virus
: enterovirus (virus echo, loksicicihie, plyomielitis)
adenovirus, rotavirus,
aslecovirus, dll.
b. Infeksi parasit
: cacing (oscaris, trichuris, dxyuris, strongloides) protozoa
(eutamoebo hystolitica, glardia lambia, trichomonashominis) jamur (candida
albicaus).
a) Infeksi parenteral : Infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti: otitis media
akut, tonsilitis, broncop, pneumonia, ensetalitis, dll. Keadaan ini terutama pada
bayi dan anak berumur dibawah 2 th.
c. Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi karohidrat : disakarida (intoleransi ketosa, maltosa dan sukrosa)
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan laktosa).
a) Faktor makanan, makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
b) Faktor psikologis, rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak
yang lebih besar).(Abdul Latief, 2007)
2.2.4 Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis terdiri dari faktor infeksi, faktor malabsorbsi, faktor
makanan, dan faktor psikologis. Pertama, faktor infeksi akan mengalami reaksi
inflamasi sehingga terjadi peningkatan sekresi cairan dan elektrolit yang
menyebabkan isi rongga usus meningkat. Kedua, faktor malabsorbsi makanan di usus
menyebabkan tekanan osmotik meningkat dan terjadi pergeseran cairan & elektrolit
10

ke usus, sehingga juga meneybabkan isi rongga usus meningkat. Ketiga faktor
makanan, dimana faktor makanan disini adlah makanan yang beracun, basi maupun
alergi terhadap makanan dimana hal ini akan menyebabkan gangguan motilitas usus.
Keempat, faktor psikologis (cemas atau rasa takut yag berlebih) yang menyebabkan
adanya rangsangan simpatis dan juga terjadi gangguan motilitas usus. Gangguan
motilitas usus terbagi menjadi 2, yaitu hipermotilitas dan hipomotilitas. Hipermotilitas
akan menyebabkan terjadinya peningkatan sekresi air & elektrolit, sedangkan
hipomotilitas

akan

menyebabkan

adanya

pertumbuhan

bakteri.

Terjadinya

peningkatan di isi rongga usus, sekresi air dan elektrolit, serta adanya pertumbuhan
bakteri menyebabkan terjadi penyakit gastroenteritis.
Gastroenteritis memiliki gejala dehidrasi yaitu kehilangan cairan & elektrolit
tubuh dimana pada saat itu terjadi penurunan volume cairan ekstra sel dan juga terjadi
penurunan cairan interstesial yang menyebabkan turgor kulit menurun, maka dalam
hal ini timbul masalah yaitunya kekurangan volume cairan dan cemas pada kliennya.
Gejala yang kedua yaitu kerusakan mukosa usus yang menyebabkan si penderita
merasakan nyeri. Gejala yang ketiga adalah sering terjadinya defekasi yang
menyebabkan terjadi resiko kerusakan integritas kulit. Gejala selanjutnya adalah
terjadinya peningkatan eksresi sedangakan asupan nutrisi tidak terpenuhi, pada hal
terjadi ketidakseimbangan nutrisi.
2.2.4

Manifestasi Klinis
1. Nyeri perut ( abdominal discomfort )
2. Rasa perih di ulu hati
3. Mual, kadang-kadang sampai muntah
4. Nafsu makan berkurang
5. Rasa lekas kenyang
6. Perut kembung
7. Rasa panas di dada dan perut
8. Regurgitasi ( keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba )
9. Diare
10. Demam
11. Membran mukosa mulut dan bibir kering
12. Lemah

2.2.6 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik berguna untuk mengetahui data subjektif dari klien. Pada
pemeriksaan fisik abdomen sistem yang sering digunakan adalah inspeksi, auskultasi,
palpasi dan perkusi (IAPP) . Tempatkan klien pada posisi supine. Kontur dan
11

simetrisitas dari abdomen diinspeksi dengan mengidentifikasi penonjolan lokal,


distensi, atau gelombang peristaltik. Auskultasi dilakukan sebelum perkusi dan
palpasi (yang dapat meningkatkan motilitas usus dan dengan demikian merubah
bising usus). Karakter, lokasi dan frekuensi bising usus dicatat. Palpasi digunakan
untuk mengidentifikasi massa abdomen atau area nyeri tekan.
Pada pemeriksaan pada klien gastroenteritis umumnya terdapat:

Turgor kulit menurun, Mata mulai cekung


Asites (+) BB menurun, Bising Usus Meningkat.
Membran mukosa mulut tampak kering
BAK 3-5x/hari, 75 100 cc tiap BAK, warna kuning agak pekat
BAB encer 2-3 kali atau lebih dalam sehari.
Hb 10,6 gr% (N : 11-14 gr%)
Konjungtiva subanemis
Mukosa bibir pucat, agak kering
Klien terlihat letih/ lemah dan pucat

2.2.7 Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik


Pemeriksaan laboratorium yang meliputi :
1. Pemeriksaan Tinja
Makroskopis dan mikroskopis.
pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest,
bila diduga terdapat intoleransi gula.
Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
2. Pemeriksaan Darah
pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit ( Natrium, Kalium, Kalsium, dan
Fosfor ) dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.
Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.
3. Intubasi Duodenum ( Doudenal Intubation )
Untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif,
terutama dilakukan pada penderita diare kronik.
1.2.8
Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
1. Medis
a.

Pemberian cairan, jenis, cara dan jumlah pemberian cairan

b.

Dietetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan


tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :
a) Memberikan asi.
b) Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin,
mineral, dan makanan yang bersih.
c) Obat-obatan: berikan antibiotic, anti sekresi, dan anti spasmolitik
12

Keperawatan
Penyakit diare walaupun semua tidak menular (misal diare karena faktor
malabsorbsi), tetapi perlu perawatan di kamar yang terpisah dengan perlengkapan
cuci tangan untuk mencegah infeksi (selalu tersedia disinfektan dan air bersih) serta
tempat pakaian kotor sendiri. Ini bertujuan untuk mempercepat penyembuhan.
1.2.9
Komplikasi
1. Dehidrasi
2. Renjatan hipovolemik
3. Kejang
4. Bakterimia
5. Mal nutrisi
6. Hipoglikemia
7. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.

13

14

2.3 Landasan Teori Asuhan Keperawatan


2.3.1 Pengkajian
A. Identitas Klien
Nama
:
Umur
:
Jenis Kelamin
:
Alamat
:
Agama
:
Pekerjaan
:
Pendidikan
:
No. RM
:
Tanggal masuk
:
Diagnosa medis
:

Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Primer
a. Airway
Klien dengan gastroenteritis biasanya didapatkan kondisi dengan karakteristik adanya
mual dan muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi, alergi atau keracunan zat
makanan
b. Breathing
Pada klien GED dapat ditemkan abnormalitas metabolik atau ketidak seimbangan asam
basa yang dapat menimbulkan gangguan pernapasan.
c. Circulation
Pada klien GED ditemukan penurunan kadar kalium darah di bawah 3,0 mEq / liter (SI :
3 mmol / L) sehingga menyebabkan disritmia jantung (talukardio atrium dan ventrikel,
febrilasi ventrikel dan kontraksi ventrikel prematur).
d. Disability
Pada klien GED terjadi penurunan tingkat kesadaran karena dehidrasi dengan gejala
seperti gelisah, kulit yang lembab, lengket dan dingin dan berkeringat tidak muncul
sampai total volume darah yang hilang sebesar 10-20% sehingga dapat menyebapkan
terjadinya syok hipovolemik.
e. Exposure
Klien GE biasanya mengalami dehidrasi akibatnya dapat terjadi peningkatan suhu tubuh
karena proses infeksi sekunder.
15

1. Keluhan Utama
Biasanya klien sering mengeluhkan Feces semakin cair, muntah, terjadinya
dehidrasi, dan berat badan menurun.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien masuk rumah sakit dengan keluhan berat badan menurun dari
biasanya, nafas cepat, mudah letih dan sakit kepala. Klien juga tidak mau makan,
nyeri dada, cepat kenyang, nyeri abdomen, mual dan muntah, serta feses yang
encer.
3. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Biasanaya klien mengatakan pernah mengkonsumsi alkohol dan obat obatan
seperti OAINS/NSAID, Kortikosteroid, Aspirin. Sering jajan disembarang
tempat sehingga kebersihannya tidak terjaga.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada keluarga klien yang menderita penyakit yang sama.
2.3.2 Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
1. Pola Persepsi Manajemen Kesehatan
Biasanya klien tidak mengetahui penyebab penyakitnya, Kebersihan klien
sehari-sehari kurang baik.
2. Pola Nutrisi Metabolik
Biasanya klien tidak mau makan, dan klien mengalami penurunan berat badan.
3. Pola Eliminasi
Biasanya klien BAB lebih dari 4 kali sehari, dan BAK jarang.
4. Pola Latihan dan Aktivitas
Biasanya klien mengalami gangguan aktivitas karena kondisi tubuh yang
lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen, aktivitas klien dibantu
keluarga/ orang lain.
5. Pola Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan istirahat dan tidur karena adanya distensi
abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
6. Pola Persepsi dan Kognitif
Biasanya klien masih dapat menerima informasi namun kurang berkonsentrasi
karena nyeri pada abdomennya.
7. Pola Persepsi dan Konsep Diri

16

Biasanya klien mengalami gangguan konsep diri karena kebutuhan


fisiologisnya terganggu sehingga aktualisasi diri tidak tercapai pada fase sakit.
8. Pola Peran dan Hubungan
Biasanya klien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan peran klien
pada kehidupan sehari-hari mengalami gangguan (ex: tidak dapat menjalankan
peran sebagai ibu rumah tangga).
9. Pola Seksual Reproduksi
Biasanya klien mengalami gangguan seksual- reproduksi (ex: tidak teraturnya
siklus menstruasi).
10. Pola Koping Toleransi Stress
Biasanya klien mengalami kecemasan yang berangsur-angsur dapat menjadi
pencetus stress.
11. Pola Nilai & Kepercayaan
Biasanya klien tidak dapat melaksanakan sholat seperti biasanya Karena
posisi klien dalam keadaan tirah baring.
TUMBUH KEMBANG ANAK
Berdasarkan pengertian yang didapat,penulis menguraikan tentang pengertian dari
pertumbuhan adalah berkaitan dengan masa pertumbuhan dalam besar, jumlah, ukuran atau
dengan dimensi tentang sel organ individu, sedangkan perkembangan adalah menitik
beratkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ individu termasuk
perubahan aspek dan emosional.
Anak adalah merupakan makhluk yang unik dan utuh, bukan merupakan orang
dewasa kecil, atau kekayaan orang tua yang nilainya dapat dihitung secara ekonomi.
Tujuan keperawatan anak adalah meningkatkan maturasi yang sehat bagi anak, baik secara
fisik, intelektual dan emosional secara sosial dan konteks keluarga dan masyarakat.
Tumbuh kembang pada bayi usia 6 bulan :
a.

Motorik halus.
Mulai belajar meraih benda-benda yang ada didalam jangkauan ataupun diluar.
Menangkap objek atau benda-benda dan menjatuhkannya
Memasukkan benda kedalam mulutnya.
Memegang kaki dan mendorong ke arah mulutnya.
Mencengkram dengan seluruh telapak tangan.
17

b.

c.

d.

Motorik kasar.
Mengangkat kepala dan dada sambil bertopang tangan.
Dapat tengkurap dan berbalik sendiri
Dapat merangkak mendekati benda atau seseorang.
Kognitif.
Berusaha memperluas lapangan.
Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain.
Mulai mencari benda-benda yang hilang.
Bahasa.
Mengeluarkan suara ma, pa, ba walaupun kita berasumsi ia sudah dapat memanggil
kita, tetapi sebenarnya ia sama sekali belum mengerti.

DAMPAK HOSPITALISASI TERHADAP ANAK


Separation ansiety
a) Tergantung pada orang tua
b) Stress bila berpisah dengan orang yang berarti
c) Tahap putus asa : berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, main, menarik diri,
sedih, kesepian dan apatis
d) Tahap menolak : Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan
denga.n orang lain dan menyukai lingkungan

2.3.3 Perumusan Diagnosa (NANDA), Perumusan Kriteria Hasil (NOC), dan


Perumusan Intervensi Keperawatan (NIC)
NANDA

NOC

NIC

Kekurangan volume cairan berhubunganKeseimbangan

Manajemen cairan

dengan kehilangan volume cairan aktif.

Aktivitas

cairan

Defenisi: keadaan individu yang mengalamiIndicator


-Monitor

penurunan cairan intravaskuler, interstisial,


dan / atau cairan intrasel. Diagnosis ini- Fungsi

eliminasi

18

merujuk

ke

dehidrasi

yang

merupakannormal

keseimbangan cairan

kehilangan cairan saja tanpa perubahan


dalam natrium.

- Keseimbangan
intake

dan

- Mencegah komplikasi

outputakibat

kadar

cairan

cairan

yang abnormal

- TTV normal

- Monitor TTV

Hidrasi

Terapi Intravena

Indicator

- Periksa order untuk


terapi intravena

- Tidak ada tandatanda dehidrasi

- Jelaskan

prosedur

kepada pasien
- Keseimbangan
intake

dan

ouput- Pilih

cairan

dan

intravena

siapkan
infusion

pump sesuai indikasi


- TTV normal
- Monitor TTV
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dariStatus
kebutuhan tubuh berhubungan denganasupan

nutrisi: Monitoring cairan


makananAktivitas:

ketidakmampuan mengabsorbsi makanan. dan cairan


Defenisi: asupan nutrisi tidak mencukupiIndicator:

- Monitor intake dan

untuk memenuhi kebutuhan metabolic.

output cairan
- Mampu

makan

secara normal (oral) - Monitor berat badan


minum-Kaji tentang riwayat
jumlah dan tipe intake
secara normal
- Mampu

cairan
- Tidak

dan

pola

terjadieliminasi

19

penurunan

badan- Monitor TTV

yang berarti
- TTV normal
Nyeri akut berhubungan dengan agenControl nyeri

Manajemen nyeri

injuri.

Aktivitas:

Indicator:

Defenisi: pengalaman emosional dan sensori


yang tidak menyenangkan yang muncul dari- Mengenali
kerusakan jaringan secara aktual danpenyebab
potensial

atau

menunjukkan

factor- Lakukan
nyeri

secara

komperhensif termasuk

kerusakan.

Serangan mendadak atau perlahan dari- Adanya perubahanlokasi,


durasi,
intensitas ringan sampai berat yangnyeri
diantisipasi atau diprediksi, durasi nyeri
kurang dari 6 bulan.

pengkajian

karakteristik,
frekuensi,

kualitas,

dan

factor

Level nyeri

presipitasi

Indicator:

- Tingkatkan istirahat

- Nyeri berkurang

- Evaluasi pengalaman

- Pola istirahat cukup


adekuat
- Ekspresi wajah saat
nyeri normal

nyeri masa lampau


-Berikan
untuk

analgetik
mengurangi

nyeri
Analgesic
administarton
Aktivitas:
- Tentukan

lokasi,

karakteristik, kualitas,
dan

derajat

sebelum

nyeri

pemberian

20

obat
- Cek orderan tentang
jens obat, dosis, dan
frekuensi

- Cek riwayat alergi


- Monitor

TTV

sebelum dan sesudah


pemebrian analgesic
Resiko

kerusakan

integritas

berhubugan dengan eksresi.

kulitIntegritas jaringan:Monitoring elektrolit


membrane

kulitAktivitas:

Defenisi: perubahan yang beresiko untukdan mukosa


kulit menjadi buruk.

-Monitor

Indicator:

keseimbangan
- Tidak ada lesi
- Tidak

ada

asam

basa
tanda- Monitor

dan gejala infeksi

kehilangan

cairan/elektrolit
- Sediakan diet yang
sesuia

dengan

ketidakseimbangan
cairan
- Monitor TTV
Manajemen elektrolit
Aktivitas:

21

- Timbang BB tiap hari


- Pertahankan

intake

yang akurat
- Berikan terapi IV
- Pantau TTV
Cemas berhubungan dengan stress

Control cemas

Penurunan kecemasan

Defenisi: perasaan gelisah yang tak jelas dari Indicator:

Aktivitas:

ketidaknyamanan atau kegiatan yang disertai


respon autonom (sumber tidak spesifik atau- Tidak ada
tidak diketahui oleh individu), perasaankecemasan
keperihatinan

disebabkan

terhadap bahaya.

dari

tanda- Tenangkan klien


- Berusaha memahami

antisipasi
- Melaporkan
adanya

tidakkeadaan klien

gangguan
- Sediakan

persepsi sensori

untuk
- Tidak

aktivitas
menurunkan

adaketegangan

manifestasi perilaku
- Berikan

kecemasan

untuk
- TTV normal

cemas

pengobatan
menurunkan

dengan

cara

yang tepat
Koping
-Monitor TTV
- Menunjukkan
fleksibilitas peran

Peningkatan koping

-Melibatkan

Aktivitas:

keluarga

dalam
membuat keputusan -Hargai

pemahaman

pasien tentang proses


- Peduli

terhadap
22

kebutuhan keluarga penyakit


-Tentukan kemampuan
klien untuk mengambil
keputusan.

2.3.4 Evaluasi
1.
2.
3.
4.

Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.


Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.
Integritas kulit kembali normal.
Nyeri tidak lagi dirasakan.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Gastroenteritis (biasa disebut diare) adalah peradangan pada lambung dan usus
yang disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang pathogen dimana gejala yang
umum terjadi adalah diare (bentuk tinja yang encer) dalam frekuensi yang lebih
banyak dari biasanya. Gastroenteritis dapat menyerang semua usia. Masalah
keperawatan yang sering terjadi pada penderita gastroenteritis adalah kekurangan

23

volume cairan, nyeri akut, resiko kerusakana integritas kulit, san ketidakseimbangan
nutrisi: kurangan dari kebutuhan tubuh.
3.2

Saran
Dengan adanya makalah ini penulis berharap agar masalah kesehatan
khususnya gastroenteritis teratasi dengan baik, pola hidup sehat bisa lebih diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari. Dan semoga makalah ini bermanfaat, dapat menambah
ilmu pengetahuan bagi pembaca dan khususnya penulis sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Butcher, Howard. dkk. 2008. Nursing Intervention Classification (NIC): Fifth Edition.
Miscourt: Mosby Elsevier.
Heardman, Heather. 2009. Nuring Diagnosis: Definition & Classification. United Kingdom:
Markono Print Media.

24

http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-gastroenteritis/,

diakses

pada tanggal 18 januari 2013.


http://seputarsehat.com/asuhan-keperawatan-gastroenteritis, diakses pada tanggal 18
januari 2013.
Muttaqin, Arif. 2010. Pengkajian Keperawatan (Aplikasi Pada Praktek Klinis). Jakarta:
Salemba Medika.
Swanson, Elizabeth. dkk. 2008. Nursing Outcome Classification (NOC). Fourth Edition.
Missouri: Mosby Elsevier.
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Williams & Wilkins. 2008. Nursing: Memahami Berbagai Macam Penyakit. Jakarta Barat:
Indeks.

25