Anda di halaman 1dari 3

NAMA

: SETIO SAPUTRO

NIM

: D0111077

JURUSAN

: ILMU ADMINISTRASI

KELAS

:A

AJARAN HEDONISME DAN PENGGARUHNYA


Hedonisme berasal dari bahasa Yunani hedone yang berarti kesenangan.
Dalam filsafat Yunani hedonisme sudah ditemukan oleh Aristippos dari Kyrene (sekitar
433-355 s.M), seorang murid Sokrates. Sokrates telah bertanya tentang tujuan terakhir
bagi kehidupan manusia atau apa yang sungguh-sungguh baik bagi manusia, tapi ia
sendiri tidak memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan itu dan hanya mengeritik
jawaban yang dikemukakan oleh orang lain. Aristippos menjawab : yang sungguh baik
bagi manusia adalah kesenangan. Hal ini terbukti karena sudah sejak masa kecilnya
manusia merasa tertarik akan kesenangan dan bila telah tercapai ia tidak mencari
sesuatu yang lain lagi. Sebaliknya, ia selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan
Filsuf Yunani lain yang melanjutkan hedonisme adalah Epikuros (341-270
s.M), yang memimpin sebuah sekolah filsafat di Athena. Epikuros pun melihat
kesenangan (hedone) sebagai tujuan kehidupan manusia. Menurut kodratnya setiap
manusia mencari kesenangan, tapi pengertiannya tentang kesenangan lebih luas
daripada pandangan Aristippos. Walaupun tubuh manusia merupakan asas serta akar
segala kesenangan dan akibatnya kesenangan badani harus dianggap paling hakiki ,
namun Epikuros mengakui adanya kesenangan yang melebihi tahap badani.
Pada dasarnya Hedonisme dapat dipahami sebagai pandangan hidup yang
menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak
mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.
Hedonisme menurut Susanto (2011) adalah sesuatu dianggap baik bila mengandung
kenikmatan bagi manusia. Namun, kaum hedonis memiliki kata kesenangan menjadi
kebahagiaan. Adapun hedonisme menurut Burhanuddin (1997) adalah sesuatu itu
dianggap baik, sesuai dengan kesenangan yang didatangkannya. Disini jelas bahwa
sesuatu yang hanya mendatangkan kesusahan, penderitaan dan tidak menyenangkan,

TUGA ESSAI FILSAFAT

dengan sendirinya dinilai tidak baik. Orang-orang yang mengatakan ini, dengan
sendirinya, menganggap atau menjadikan kesenangan itu sebagai tujuan hidupnya.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa hedonisme merupakan ajaran
atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan
tindakan manusia. Maka tidak heran jika ajaran ini sangat mudah tersebar luas di
masyarakat dunia termasuk Indonesia. Kehidupan yang hedone bukan berasal dari
budaya Indonesia. Namun, era globalisasi melalui perkembangan teknologi dan
informasi menjadikan gaya hidup hedonis semakin merajalela meracuni kalangan
masyarakat, baik itu dari segi kaum muda sampai pada kam tua. Hal itu dapat
dicontohkan dengan menyebarnya tempat tempat hiburan malam. Dari kaum muda
hingga kaum tua datang menghabiskan waktu bersenang-senang, berfoya-foya, berjudi,
minum-minuman keras, dan sebagainya. Selain itu, mereka juga menghamburkan uang
utuk pergi ke pusat perbelanjaan untuk memuaskan segala keinginannya. Hedonisme
juga merubah gaya berpakaian bagi para faham yang menganutnya, pada umunya
mereka berpakaian setengah telanjang, bahkan tidak malu malu mengumbar auratnya
didepan umum. Sudah banyak sekali masyarakat disekitar kita yang menjalani gaya
hidup tersebut, bahkan mendapatkan dukungan dari ligkungan sekitar, khususnya di
kota-kota besar.
Contoh lain yang kita hadapi saat ini misalnya, segala media informasi dari
berbagai penjuru berusaha terus menginvasi diri kita melalui life style. Gaya hidup yang
terus disajikan bagaikan fast food melalui media televisi. Gambaran yang ada seperti
mimpi tentang kehidupan orang miskin yang tiba-tiba kaya layaknya dalam telenovela.
Sinetron cinta yang terus mengguyur dan memprovokasi kita untuk merealisasikan cinta
lewat bercinta membuat kita gila dan terbuai kehidupan duniawi. Cerita sinetron yang
kian jauh dari realita ternyata telah menyihir para pemirsa. Dengan setengah sadar para
penikmat sinema telah tergiring untuk meniru dan menjadikannya paradigma baru
dalam menikmati hidup di masa muda.
Dan ketika Hedonisme sudah menjadi pegangan hidup para muda mudi
banyak nilai-nilai luhur kemanusiaan para remaja luntur, bahkan hilang. Kepekaan
sosial mereka terancam tergusur manakala mereka selalu mempertimbangkan untung
rugi dalam bersosialisasi. Masyarakat terlihat seperti mumi hidup yang tak berguna bagi
mereka. Dan mereka seolah menjadi penjaga kerajaan kenikmatan yang tak seorangpun

TUGA ESSAI FILSAFAT

boleh mengendus apalagi mencicipinya. Orang lain hanya boleh melongo melihat
kemapanan mereka.Sungguh mereka menjadi sangat tidak peduli. Akibatnya ketika ada
orang yang membutuhkan uluran tangan, mereka menyembunyikan diri dan enggan
berkorban.
Sebagai Warga Negara Indonesia tentu kita sangat menyayangkan dan tidak
ingin hal itu terjadi lebih meluas lagi di Negara ini. Akan tetapi salah satu faktor yang
menjadikan budaya itu terjadi adalah karena masyarakat Indonesia sendiri kurang
selektif dalam menyikapi perubahan modernisasi. Sikap ini ditunjukkan dengan
menerima setiap bentuk hal-hal baru tanpa adanya seleksi/filter. Kondisi ini akan
menempatkan segala bentuk kemajuan zaman sebagai hal yang baik dan benar, padahal
tidak semua bentuk kemajuan zaman sesuai dengan budaya masyarakat kita. Jika
seseorang atau suatu masyarakat hanya menerima suatu modernisasi tanpa adanya filter
atau kurang selektif, maka unsur-unsur budaya asli mereka sedikit demi sedikit akan
semakin terkikis oleh arus modernisasi yang mereka ikuti. Akibatnya, masyarakat
tersebut akan kehilangan jati diri mereka dan ikut larut dalam arus modernisasi yang
kurang terkontrol, seperti halnya gaya hidup hedonis yang marak terjadi pada saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anneahira. Pengaruh Budaya Hedoidme Terhadap Generasi Muda. Diakses pada 23


November 2014, dari http://www.anneahira.com/hedonisme.htm
K Bertens.2005. Etika, Jakarta: Gramedia.
Kurniawan, Didik. 2012. Filsafat Hedonisme Gaya Hidup Masa Kini. Diakses pada 23
November 2014, dari http://pascamatematika.blogspot.com/2012/11/filsafathedonisme-gaya-hidup-masa-kini.html

TUGA ESSAI FILSAFAT