Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN TINJAUAN PUSTAKA

STASE IKAKOM 1 PUSKESMAS KECAMATAN CILINCING


JAKARTA UTARA

NAMA

: Linda Mahardhika

JUDUL

: Diabetes Melitus Tipe 2

PEMBIMBING: dr.Annisa

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
PRODI PENDIDIKAN DOKTER
JAKARTA 2013-2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan pertolongan
Nya saya dapat menyelesaikan laporan kasus ini. Dalam laporan ini saya juga
mengucapkan terimakasih kepada dr.Annisa yang telah membimbing di Program
Kepanitraan Klinik IKAKOM 1 di Puskesmas Cilincing. Dalam laporan ini saya
membahas Laporan Kasus yang berjudul Dermatitis Seboroik. Pada saat ini seperti
kita ketahui bersama bahwa, Dermatitis Seboroik merupakan penyakit kulit yang cukup
banyak terjadi di lingkungan kita yang sekiranya dapat memberikan masalah serius pada
penderitanya dalam segala segi kehidupan baik segi sosial,ekonomi,budaya,dan
psikologi. Demikian laporan kasus ini saya buat, untuk segala kekurangan saya ucapkan
terimakasih sebesar besarnya.

Jakarta,Agustus 2013

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dermatitis seboroik merupakan suatu istilah yang digunakan untuk golongan
kelainan kulit yang didasari oleh faktor konstitusi yang predileksinya di tempattempat seboroik. 1
Dermatitis seboroik merupakan dermatosis papulo squama yang kronis serta
mudah dikenali. Bisa terjadi pada bayi dan dewasa dan seringkali dihubungkan
dengan peningkatan produksi sebum (seborrhea) dari kulit kepala serta folikel
yang banyak mengandung kelenjar subasea dari wajah. Kulit yang terkena
biasanya berwarna merah muda, terjadi pembengkakan, dan ditutup dengan
squama kuning-coklat. Penyakit ini gejala klinisnya sangat bervariasi dari ringan
sampai berat, termasuk psoriasis atau pityriasis dan eritroderma. 2
Dermatitis seboroik merupakan salah satu manifestasi kulit yang paling umum
pada pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Oleh karena itu,
pertanda lesi pada dermatitis seboroik harus dicermati secara tepat pada pasien
yang berisiko tinggi seperti pasien HIV. 2

1.2 Tujuan
Penyusunan laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui teori tentang dermatitis
seboroik yang dirangkum dari berbagai literatur dan jurnal .

1.3 Manfaat
Penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi
mengenai kasus-kasus Dermatitis Seboroik yang didapatkan Puskemas Kecamatan
Cilincing.

BAB II
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama

: Nn.A

Tempat tanggal lahir

:-

Umur

: 16 tahun

Jenis kelamin

: Wanita

Alamat

: Bekasi

Tanggal masuk

: 15 Agustus 2013

No.Reka medik

:-

Anamnesis
Keluhan Utama

: Pesien mengeluh gatal pada kulit kepala

Keluhan tambahan

: Gatal di sertai sisik warna putih,keluhan di rasakan juga di


bagian belakang telinga dan hidung.

Riwayat penyakit sekarang

: Pasien merasa gatal di beberapa bagian kulit kepala dan


saat

di

garuk

merasa

terkelupas,

saat

terkelupas

meninggalkan luka yang di rasa lengket,perih. dan keluhan


tersebut sejak 1 bulan yang lalu, dan semakin menyebar di
seluruh bagian kulit kepala, keluhan tersebut juga di rasa
pada bagian belakang telinga kanan dan kiri serta di
temukan juga pada bagian lipatan hidung kanan dan kiri.
Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit keluarga

Pasien Belum pernah merasa sakit seperti ini

Ayah : Tidak memiliki keluahan yang sama, riwayat

gatal (-),asma (-)

Ibu : Tidak memiliki keluahan yang sama, riwayat

gatal (-),asma (-)

Riwayat pengobatan

Hanya menggunakan shampo anti ketombe yang beli


di jual di pasaran.

Riwayat alergi

Riwayat Psikososial

Alergi makanan (-)

Alergi debu (-)

Bahan Kimi (-)

Obat (-)

Merokok (-)

Mengkonsusmsi alkohol (-)

Menggunakan alat pribadi berpasangan (-)

Mandi 1 kali 1 hari

Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum

: Nampak sakit ringan

Kesadaran

: compos mentis

Status Gizi :
BB sebelum sakit

: 53 kg

TB

: 164 cm

Kesimpula

: Normal

Tanda Vital :
Tekanan darah

: 100/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernapasan

: 19 x/menit

Tipe

: Regular

Suhu

: 36,5 C

Status generalis :
Kepala

: normocephal, rambut hitam, distribusi merata,terdapat


skuama putih,eritema (+).

Mata

sclera

ikterik

Konjungtiva

(-)/(-),

konjungtiva

anemis

(-)/(-).

bulbi ikterik (-)/(-), sekret (-)/(-),gangguan

penglihatan (-)/(-).
Hidug

: Deviasi septum nasi (-)/(-).sekret (-)/(-),epestiksis (-)/(-),


skuama putih pada lipatan hidung (+)/ (+).

Telinga

: Normotia,gangguan pedengaran (-)/(-),serumen (-)/(-)


skuama putih (+)/(+).

Mulut

Leher

Bibir : kering (-),anemis (-),sianosis (-)

Mulut : kering (-),hiperemis (-), lidah tremor (-)

Pembesaran kelenjar tiroid (-)

Pemeriksaan KGB (-)

Thorax
Paru Paru
Inspeksi

: Normoches, simetris ka/ki, retraksi -/-

Palpasi

: Vocal fremitus ka/ki sama getarannya

Perkusi

: dx: Paru-hepar : midclavicula ics 5


Sx: paru-lambung : axilaris ics 6
Paru dx:sx, sonor:sonor

Auskultasi

: vasicular+/+, wheezing -/-, rhonky -/-

Jantung
Inspeksi

: Ictus kordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba ICS 5 mid clavicula sinistra

Perkusi

:-

Auskultasi

: BJ 1 dan BJ 2 murni regular, gallop (-),murmur (-)

Abdomen
Inspeksi

: Abdomen datar

Auskultasi

: BU normal 7x/m

Palpasi

: Nyeri tekan abdomen (-). Nyeri tekan epigastrium (-),


hepatomegali (-). Spleno megali (-)

Perkusi

: Timpani pada ke 4 kuadran abdomen.

Ekstremitas atas
Akral

: Hangat

CRT <2 detik

: +/+

Edema

: -/-

Ekstremitas atas
Akral

: Hangat

CRT <2 detik

: +/+

Edema

: -/-

Resume :
Pasien wanita 16 tahun datang ke Puskesma karena merasa gatal di bagian kulit kepala
dan saat di garuk terkelupas, saat terkelupas meninggalkan luka yang di rasa
lengket,perih. dan keluhan tersebut sejak 1 bulan yang lalu, keluhan tersebut juga di rasa
pada bagian belakang telinga kanan dan kiri serta di temukan juga pada bagian lipatan
hidung kanan dan kiri.

Assesment
S: Pasien merasa gatal di bagian kulit kepala dan saat di garuk merasa terkelupas, saat
terkelupas tmeninggalkan luka yang di rasa lengket,perih. dan keluhan tersebut sejak 1
bulan yang lalu, dan semakin menyebar di seluruh bagian kuli kepala, keluhan tersebut
juga di rasa pada bagian belakang telinga kanan dan kiri serta di temukan juga pada
bagian lipatan hidung kanan dan kiri.
Pf: -Skuama putih di rambut, eritema (+)
-Skuama putih, eritema (+) pada post auricula dextra dan sinistra serta sela hidung
A: Wd: Dermatitis Seboroik
dd: Dermatitis Atopic
P: Rdx: KOH (di luar puskesmas)
Rth: - Shampo Ketokonazole (Selsun) 2-3x/minggu

BAB

Dexamentasone 0,5 mg 1x1

Gentamisin Topikal

CTM 4 mg 1x1

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Dermatitis seboroik adalah penyakit kulit yang kronis, peradangan kulit yang kambuh
dimana tempat predileksinya adalah di daerah yang banyak memiliki kelenjar sebasea.
Kelainan ini ditandai oleh scaling dan patch eritematosa yang kurang jelas, dengan
variasi tingkat dan karakteristik morfologi yang tergantung pada daerah kulit yang
terkena. Kulit kepala hampir selalu terkena, tempat predileksi lainnya (dalam urutan
frekuensi) adalah wajah, dada, dan daerah intertriginosa. 3
Sedangkan menurut Gerd Plewig dan Thomas Jansen, dermatitis seboroik merupakan
dermatosis papulo squama yang kronis serta mudah dikenali. Bisa terjadi pada bayi dan
dewasa dan seringkali dihubungkan dengan peningkatan produksi sebum (seborrhea) dari
kulit kepala serta folikel yang banyak mengandung kelenjar subasea dari wajah.

2.2 Epidemiologi

Dermatitis seboroik dapat di jumpai pada 2 puncak umur yang berbeda dalam kehidupan,
satu pada masa bayi dalam 3 bulan pertama kehidupan dan yang kedua sekitar dekade
ketujuh kehidupan. Tidak ada data yang akurat pada data dari dermatitis seboroik pada
bayi. Pada orang dewasa diyakini lebih banyak dari kasus psoriasis, mempengaruhi
setidaknya 3% sampai 5% dari populasi. Pria teridentifikasi lebih sering terjangkit
daripada perempuan di semua kelompok umur. Tidak ada kecenderungan yang mengarah
pada jenis ras. Dermatitis seboroik ditemukan pada 85 % pasien yang terinfeksi HIV. 2
Pada tahun 1971-1974 National Health and Nutrition Examination Survey meneliti
sampel pasien antara usia < 1 tahun sampai dengan usia 74 tahun. Hasil penelitian
didapatkan 70 % pasien mengalami dermatitis seboroik pada rentang umur 3 bulan
sampai dengan 1 tahun. Dimana didapatkan hasil 46,64 % pada pasien laki-laki dan 55,56
% pada pasien wanita.3
Dermatitis Seboroik lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Berdasarkan pada
suatu survey pada 1.116 anakanak , dari perbandingan usia dan jenis kelamin,
didapatkan prevalensi dermatitis seboroik menyerang 10% anak lakilaki dan 9,5% pada
anak perempuan. 4,5
Prevalensi semakin berkurang pada setahun berikutnya dan menurun pada umur lebih
dari 4 tahun. Kebanyakan pasien (72%) mengidap dermatitis seboroik yang ringan. 5

2.3 Etiopatogenesis

Dermatitis seboroika disebabkan meningkatnya status seboroika yaitu aktivitas


kelenjar sebasea yang hiperaktif sehingga sekresi sebumnya meningkat.1
Selain itu dermatitis seoroika juga dapat dipengaruhi faktor predisposisi. Beberapa
faktor predisposisinya yaitu :

a. Hormon
Dermatitis seboroik dijumpai pada bayi dan pada usia pubertas. Pada bayi
dijumpai pecime trans plasenta yang meninggi beberapa bulan setelah lahir
dan penyakitnya akan membaik bila kadar pecime ini menurun.
b. Jamur Pityrosporum ovale
Penelitian lain menunjukan bahwa Pityrosporum ovale (Malassezia ovale),
jamur lipofilik, dijumpai banyak pada penderita dermatitis seboroik.
Pertumbuhan P. ovale yang berlebihan dapat mengakibatkan reaksi
inflamasi, baik akibat produk metabolitnya yang masuk ke dalam epidermis
maupun karena sel jamur itu sendiri melalui aktivasi sel limfosit T dan sel
Langerhans.
c. Perbandingan komposisi lipid dikulit berubah
jumlah kolesterol, trigliserida, pecimen meningkat; dan kadar squelen,asam
lemak bebas dan wax ester menurun.
d. Iklim
e. Genetik stasus seboroik ( seborrhoeic state ) yang diturunkan secara gen.
f. Lingkungan
g. Hormon
h. Neurologik

Meskipun banyak teori mengenai dermatitis seboroik, namun penyebabnya masih


belum diketahui. Penyakit ini berhubungan dengan kelenjar minyak pada kulit,
walaupun produksi sebum meningkat namun tidak selalu menjadi patokan. Bahkan
jika penyakit ini tidak memberikan gejala, maka dermatitis seboroik bukan
merupakan penyakit yang terdapat pada kelenjar sebaceous. Tingginya insiden
dermatitis seboroik pada bayi baru lahir berbanding lurus dengan aktivitas kelenjar
sebaceous pada usia ini. Telah dibuktikan bahwa bayi yang baru lahir memiliki
kelenjar sebasea yang banyak dengan sekresi sebum yang tinggi yang hampir
mirip pada orang dewasa. Pada saat bayi, produksi sebum dan dermatitis seboroik
berhubungan sangat erat. 2
Dermatitis dapat terjadi terutama pada wajah, telinga, kulit kepala, dan bagian atas
yang banyak mengandung folikel sebasea. Dua penyakit yang lazim pada daerah
ini adalah: dermatitis seboroik dan jerawat. Pada pasien dengan dermatitis
seboroik, kelenjar sebasea seringkali terlihat pada penampang pecimen pecimen
al. Dalam sebuah penelitian lipid di kulit, permukaan
kulit tidak meningkat tetapi komposisi lipid terjadi peningkatan kolesterol,
trigliserida, dan pecimen, dan penurunan squalene, asam lemak bebas, dan ester
lilin. Dermatitis seboroik lebih sering terjadi pada pasien dengan parkinsonism,
dimana sekresi sebum meningkat. 2
Dermatitis seboroik dilaporkan juga diduga dapat disebabkan karena faktor psikis
seperti stres, tetapi tidak ada data yang mendukung. 3
Banyak percobaan telah dilakukan untuk menghubungkan penyakit ini dengan
infeksi oleh bakteri atau Pityrosporum ovale yang merupakan flora normal kulit
manusia. Pertumbuhan P.ovale yang berlebihan dapat mengakibatkan reaksi
inflamasi, baik akibat produk metabolitnya yang masuk ke dalam epidermis

maupun karena sel jamur itu sendiri, melalui aktivasi sel limfosit T dan sel
Langerhans. 1
Dermatitis seboroik sangat berhubungan dengan glandula subasea, glandula
subasea aktif pada bayi baru lahir, kemudian akhirnya menjadi tidak aktif selama
9-12 tahun yang disebabkan karena stimulasi hormon androgen dari ibu berhenti.
Meskipun kematangan kelenjar subasea merupakan faktor timbulnya dermatitis
seboroik, namun tidak ada hubungan yang kuantitatif antara keaktifan kelenjar
tersebut dengan suseptibilitas untuk menjadi dermatitis seboroik. Dermatitis
seboroik dapat disebabkan oleh proliferasi epidermis yang meningkat seperti pada
psoriasis. 1
Pada orang yang memiliki faktor predisposisi, timbulnya dermatitis seboroik dapat
disebabkan oleh faktor kelelahan, stres emosional, infeksi, atau defisiensi imun. 1
2.5 Predileksi
Tempat predileksi biasanya pada daerah yang berambut karena banyak kelenjar sebasea:
a. Bayi
Ada 3 bentuk, yaitu cradle cap, glabrous (daerah lipatan dan tengkuk) dan
generalisata (penyakit Leiner) yang terbagi menjadi familial dan non-familial.
b. Orang dewasa
Berdasarkan daerah lesinya dermatitis seboroik terjadi pada kulit kepala (pitiriasis
sika dan inflamasi), wajah (blefaritis marginal, konjungtivitis, pada daerah
lipatan/ sulcusnasolabial, area jenggot, dahi, alis), daerah fleksura (aksilla, infra
mamma, umbilicus, intergluteal, paha), badan (petaloid, pitiriasiform) dan
generalisata (eritroderma, eritroderma eksoliatif), retroaurikula, telinga, dan di
bawah buah dada.

2.5 Pemeriksaan penunjang (Histopatologi)


Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien dermatitis seboroik adalah pemeriksaan
histopatologi walaupun gambarannya kadang juga ditemukan pada penyakit lain, seperti
pada dermatitis atau psoriasis. Gambaran histopatologi tergantung dari stadium penyakit.

Pada bagian epidermis. Dijumpai parakeratosis dan akantosis. Pada korium, dijumpai
pembuluh darah melebar dan sebukan perivaskuler. Pada dermatitis seboroik akut dan
subakut, epidermisnya ekonthoik, terdapat infiltrat limfosit dan histiosit dalam jumlah
sedikit pada perivaskuler superfisial, spongiosis ringan hingga sedang, hiperplasia
psoriasiform ringan, ortokeratosis dan parakeratosis yang menyumbat folikuler, serta
adanya skuama dan krusta yang mengandung netrofil pada ostium folikuler. Gambaran
ini merupakan gambaran yang khas. Pada dermis bagian atas, dijumpai sebukan ringan
limfohistiosit perivaskular. 2

2.6 Diagnosa
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada berbagai
gejala dari gambaran klinis yang ditemukan pada dermatitis seboroik juga dapat dijumpai
pada dermatitis atopik atau psoriasis, sehingga diagnsis sangat sulit untuk ditegakkan
oleh karena baik gambaran klinis maupun gambaran histologi dapat serupa. Oleh sebab
itu, perlu ketelitian untuk membedakan dermatitis seboroik dengan penyakit lain sebagai
diferensial diagnosis. Psoriasis misalnya juga dapat ditemukan pada kulit kepala, kadang
disamakan dengan dermatitis seboroik, yang membedakan ialah adanya plak yang
mengalami penebalan pada liken simpleks. 3
Pemeriksaan spesimen yang diambil dari scraping kulit yang dangkal dipersiapkan
dengan kalium hidroksida (KOH) mungkin berguna untuk menyingkirkan diagnosa tinea
capitis. Biopsi kulit jarang dilakukan, tetapi dapat berguna untuk menyingkirkan
diagnosis lain seperti lupus eritematosus. 3

2.8 Diagnosa Banding


Diagnosis dari dermatitis seboroik dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gejala
klinis. Diagnosis banding dapat ditegakkan berdasarkan keluhan dan gejala klinis, umur
dan ras. Kondisi yang membingungkan atau mirip dengan dermatitis seboroik adalah
psoriasis, dermatitis atopic, dan tinea kapitis pada anak-anak.2,5

Diagnosis banding dermatitis seboroik, antara lain sebagai berikut: 2,5


1. Psoriasis
Predileksi didaerah eksentor ( lutut, siku dan punggung ) dan kulit kepala.
Dijumpai skuama yang lebih tebal, kasar, berlapis-lapis, putih seperti mutiara dan
tak berminyak disertai tanda tetesan lilin dan auspitz. Selain itu ada gejala yang
khusus untuk psoriasis.
2. Pitiriasis rosea
Distribusi kelainan kulit simetris dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal
anggota badan.skuamanya halus dan tidak berminyak. Sumbu panjang lesi sejajar
dengan garis kulit.
3. Tinea
Tinea kapitis, dijumpai alopesia, kadang-kadang dijumpai keroin. Pada tinea
kapitis dan tinea krusi, eritem lebih menonjol dipinggir dan pinggirnya lebih aktif
dibandingkan tengahnya.
4. Dermatitis Atopik Bentuk Infantil Dapat Menyerupai Dermatitis Seboroik
Muka
Dermatitis Atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai
gatal. Biasanya terjadi pada bayi atau anak-anak. Skuama kering dan difus,
berbeda dengan dermatitis seboroik yang skuamanya berminyak dan kekuningan.
Selain itu, pada dermatitis atopik dapat terjadi likenfikasi.
5. Kandidosis menyerupai Dermatitis Seboroik pada lipatan paha dan perianal.
Perbedaannya kandidosis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas
dengan satelit-satelit disekitarnya. Kandidiasis adalah penyakit jamur yang
disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida albicans. Kandidosis
kadang sulit dibedakan dengan dermatitis seboroik jika mengenai lipatan paha dan
perianal. Lesi dapat berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik dan basah.
Perbedaannya ialah pada kandidiasis terdapat eritema berwarna merah cerah
berbatas tegas dengan satelit-satelit di sekitarnya. Predileksinya juga bukan pada
daerah-daerah yang berminyak, tetapi lebih sering pada daerah yang lembab.

Selain itu, pada pemeriksaan dengan larutan KOH 10 %, terlihat sel ragi,
blastospora atau hifa semu.
6. Otomikosi dan otitis eksterna
Otomikosi dan otitis eksterna menyerupai D.S. yang menyerang saluran telinga
luar. Bedanya pada otomikosis akan terlihat elemen jamur pada sedian langsung.
Otitis eksterna menyebabkan tanda-tanda radang,jika akut terdapat pus.
7. Liken simpleks kronikus
Peradangan kulit kronis yang gatal, sirkumskrip ditandai dengan kulit tebal dan
garis kulit tampak lebih menonjol (likenfikasi). Tidak biasa terjadi pada anak
tetapi pada usia ke atas, berbeda dengan DS yang sering juga terjadi pada bayi
dan anak-anak. Timbul sebagai lesi tunggal pada daerah kulit kepala bagian
posterior atau sekitar telinga. Tempat predileksi di kulit kepala dan tengkuk,
sehingga kadang sukar dibedakan dengan DS. Yang membedakannya ialah
adanya likensifikasi pada penyakit ini.
8. SLE
Penyakit yang basanya bersifat akut, multisistemik dan menyerang jaringan
konektif dan vaskular. SLE sulit dibedakan dengan DS, oleh karena pada SLE
juga dapat dijumpai skuama. Yang dapat membedakan ialah lesi SLE berbentuk
seperti kupu-kupu, tersering di area molar dan nasal dengan sedikit edema,
eritema dan atrofi. Terdapat gejala demam, malaise, serta tes antibodi-antinuklear
(+).

2.7 Penatalaksanaan
Terapi untuk Mengobati Dermatitis seboroik
________________________________________
Terapi Pemakaian
Anti-inflamasi (imunomodulator) agen
Steroid sampo
Fluocinolone (Synalar) Dua kali per minggu
Topical steroid
Fluocinolone Harian
Betametason valerat lotion (Beta-Val) Harian
Desonide krim (Desowen) Harian
Kalsineurin topikal inhibitor
Tacrolimus salep (Protopic) * Harian
Pimecrolimus krim (Elidel) * Harian
Keratolytics
Asam salisilat sampo Dua kali per minggu
Tar sampo Tiga kali per minggu
Seng pyrithione shampoo (juga memiliki sifat anti jamur) Dua kali per minggu
Antijamur
Ketokonazol shampo (nizoral) Tiga kali per minggu
Selenium sulfida shampoo (Selsun) Dua kali per minggu
Alternatif obat
Minyak pohon teh sampo Harian
________________________________________

Anti-inflammatory (immunomodulatory ) agents


Pengobatan konvensional untuk dermatitis seboroik pada pasien dewasa dilakukan
di kulit kepala dimulai dengan topical steroid atau inhibitor kalsineurin. Terapi ini
dapat diberikan sebagai shampo, seperti fluocinolone (Synalar), topikal steroid
solusi, lotion diberikan pada kulit kepala, sedangkan krim pada kulit. Dermatitis

seboroik biasanya menggunakan topical steroid sekali atau dua kali sehari. Topical
steroid secara efektif dapat mengobati dermatitis seboroik. 5

Keratolytics
Keratolytics yang banyak digunakan untuk mengobati dermatitis seboroik adalah
tar, asam salisilat, dan seng pyrithione shampoo. Pyrithione seng memiliki efek
non spesifik keratolitik dan anti jamur dan dapat diberikan dua atau tiga kali per
minggu. Pasien harus membasuh kulit kepala dengan shampoo setidaknya selama
lima menit untuk memastikan meresap ke kulit kepala. Pasien juga dapat
menggunakannya pada daerah lainnya seperti wajah. 5

Anti jamur
Sebagian besar anti jamur menyerang malassezia pada penyakit dermatitis
seboroik. Gel ketokonazol (Nizoral) dipakai sehari sekali dikombinasikan dengan
oncedaily rejimen desonide (Desowen) selama dua minggu, berguna untuk
dermatitis seboroik yang berada di wajah. Sampo yang mengandung selenium
sulfida (selsun) atau azol sering digunakan, dapat dipakai 2-3 x selama seminggu.
Ketokonazol dan beberapa azoles (misalnya, itrakonazol [Sporanox], ketokonazol)
juga memiliki sifat anti-inflamasi.

Alternatif pengobatan
Terapi alami menjadi semakin populer. Pohon teh minyak (Melaleuca minyak)
produk asli penduduk Australia. Terapi ini tampaknya efektif dan dapat ditoleransi
dengan baik bila digunakan sehari-hari sebagai shampo.5

BAB III
KESIMPULAN

Menurut Gerd Plewig dan Thomas Jansen, dermatitis seboroik merupakan dermatosis
papulo squama yang kronis serta mudah dikenali. Bisa terjadi pada bayi dan dewasa dan
seringkali dihubungkan dengan peningkatan produksi sebum (seborrhea) dari kulit kepala
serta folikel yang banyak mengandung kelenjar subasea dari wajah. 2
Dermatitis seboroik dapat di jumpai pada 2 puncak umur yang berbeda dalam kehidupan,
satu pada masa bayi dalam 3 bulan pertama kehidupan dan yang kedua sekitar dekade
ketujuh kehidupan. Tidak ada data yang akurat pada data dari dermatitis seboroik pada
bayi. Pada orang dewasa diyakini lebih banyak dari kasus psoriasis, mempengaruhi
setidaknya 3% sampai 5% dari populasi di Amerika Serikat. Pria teridentifikasi lebih
sering terjangkit daripada perempuan di semua kelompok umur. Tidak ada
kecenderungan yang mengarah pada jenis ras. Dermatitis seboroik ditemukan pada 85 %
pasien yang terinfeksi HIV. 2
Dermatitis seboroika disebabkan meningkatnya status seboroika yaitu aktivitas kelenjar
sebasea yang hiperaktif sehingga sekresi sebumnya meningkat.1
Selain itu dermatitis seoroika juga dapat dipengaruhi faktor predisposisi. Beberapa faktor
predisposisinya yaitu : 1,2,3,4,5
a. Hormon
Dermatitis seboroik dijumpai pada bayi dan pada usia pubertas. Pada bayi
dijumpai pecime trans plasenta yang meninggi beberapa bulan setelah lahir dan
penyakitnya akan membaik bila kadar pecime ini menurun.
b. Jamur Pityrosporum ovale
Penelitian lain menunjukan bahwa Pityrosporum ovale (Malassezia ovale), jamur
lipofilik, dijumpai banyak pada penderita dermatitis seboroik. Pertumbuhan P.
ovale yang berlebihan dapat mengakibatkan reaksi inflamasi, baik akibat produk
metabolitnya yang masuk ke dalam epidermis maupun karena sel jamur itu sendiri

melalui aktivasi sel limfosit T dan sel Langerhans.

c. Perbandingan

komposisi

lipid

dikulit

berubah,

jumlah

kolesterol,

trigliserida,
pecimen meningkat; dan kadar squelen,asam lemak bebas dan wax ester
menurun.
d. Iklim
e. Genetik stasus seboroik ( seborrhoeic state ) yang diturunkan secara gen.
f. Lingkungan
g. Hormon
h. Neurologik

Tempat predileksi biasanya pada daerah yang berambut karena banyak kelenjar sebasea
2,4,5

:
a. Bayi
Ada 3 bentuk, yaitu cradle cap, glabrous (daerah lipatan dan tengkuk) dan
generalisata (penyakit Leiner) yang terbagi menjadi familial dan non-familial.
b. Orang dewasa
Berdasarkan daerah lesinya dermatitis seboroik terjadi pada kulit kepala (pitiriasis
sika dan inflamasi), wajah (blefaritis marginal, konjungtivitis, pada daerah
lipatan/ sulcusnasolabial, area jenggot, dahi, alis), daerah fleksura (aksilla, infra
mamma, umbilicus, intergluteal, paha), badan (petaloid, pitiriasiform) dan
generalisata (eritroderma, eritroderma eksoliatif), retroaurikula, telinga, dan di
bawah buah dada.

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada berbagai
gejala dari gambaran klinis yang ditemukan pada dermatitis seboroik juga dapat dijumpai
pada dermatitis atopik atau psoriasis, sehingga diagnsis sangat sulit untuk ditegakkan
oleh karena baik gambaran klinis maupun gambaran histologi dapat serupa. Oleh sebab
itu, perlu ketelitian untuk membedakan dermatitis seboroik dengan penyakit lain sebagai

diferensial diagnosis. Psoriasis misalnya juga dapat ditemukan pada kulit kepala, kadang
disamakan dengan dermatitis seboroik, yang membedakan ialah adanya plak yang
mengalami penebalan pada liken simpleks. 3
Diagnosis dari dermatitis seboroik dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gejala
klinis. Diagnosis banding dapat ditegakkan berdasarkan keluhan dan gejala klinis, umur
dan ras. Kondisi yang membingungkan atau mirip dengan dermatitis seboroik adalah
psoriasis, dermatitis atopic, dan tinea kapitis pada anak-anak.2,5
Menurut Gerd Plewig & Thomas Jansen di dalam buku atlas dermatologis fitzpatrick,
secara umum, terapi bertujuan agar sisik dan krusta bisa terlepas, menghambat kolonisasi
ragi, mengontrol infeksi sekunder, dan mengurangi eritema yang gatal. Pasien dewasa
harus diberi informasi tentang sifat kronis penyakit ini dan memahami bahwa tujuan
terapi ini hanya untuk mengendalikan penyakit bukan untuk menyembuhkan. 2
Tujuan utama dari terapi dermatitis seboroik adalah mengontrol gejala yang ditimbulkan,
karena pada saat ini, tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Berbagai
terapi yang digunakan untuk dermatitis seboroik adalah menggunakan kortikosteroid
ringan, antijamur, imunomodulator, dan shampoo. 4
Meskipun kortikosteroid ringan lebih efektif dalam mengontrol gejala, namun penyakit
ini bisa kambuh dengan cepat bila terapi steroid dihentikan. Anti jamur bisa
dipertimbangkan untuk digunakan sebagai terapi utama. Karena dermatitis seboroik
adalah suatu penyakit yang kronis dan dapat kambuh. 4

DAFTAR PUSTAKA

1. Juanda A, Dermatosis eritroskuamosa. Dalam Juanda A, Hamzah M, Aisah S, Ilmu


penyakit kulit dan kelamin. Edisi keempat. Cetakan kedua. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia ; 2005 : 200-2
2. Plewig G. Seborrheic dermatitis. In Fitzpatrick TB, Eisen AZ, Wolff K, Freedberg IM,
Austen KF. Dermatology in general medicine. Volume 1. Fourth edition. United States of
America : Mc Grow Hill ; 1993 : 1569-73
3. Naldi, Luigi., Rebora, Alfredo. 2009. Seborrheic Dermatitis. N Engl J Med, vol.360 :
387-396.

4. Boni E. Elewski, 2009. Safe and Effective Treatment of Seborrheic Dermatitis.


University of Alabama, Birmingham. Supported by an educational grant from Ortho
Dermatologics, a division of Ortho-McNeil-Janssen Pharmaceuticals, Inc

5. Schwartz, Robert A., M.D., Janusz, Christopher A., And Janniger, Camila K. 2006.
Seborrheic Dermatitis : An Overview. Am Fam Physician, vol.74 : 125-30.