Anda di halaman 1dari 22

TIDAK BISA BUANG AIR KENCING

LI 1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI MAKRO DAN MIKRO PROSTAT


Lo 1.1 Makro

Prostat merupakan organ kelenjar fibromuskular yang mengelilingi urethra pars prostatica. Prostat
mempunyai panjang + 3 cm dengan berat + 20 gram dan terletak di antara collum vesicae di atas dan
diaphragma urogenitale di bawah.
Prostat dikelilingi oleh capsula fibrosa. Di luar capsula terdapat selubung fibrosa, yang merupakan
bagian lapisan visceral fascia pelvis. Prostat yang berbentuk kerucut mempunyai basis prostatae yang terletak
superior dan berhadapan dengan collum vesicae; dan apex prostatae yang terletak di inferior dan berhadapan
dengan diaphragma urogenitale. Kedua ductus ejaculatorius menembus bagian atas fascies posterior prostatae
untuk bermuara ke urethra pars prostatica pada pinggir lateral utriculus prostaticus
Kelenjar prostat yang jumlahnya banyak tertanam di
dalam campuran otot polos dan jaringan ikat, dan ductusnya
bermuara ke urethra pars prostatica. Prostat secara tidak
sempurna terbagi menjadi lima lobus:

Lobus anterior terletak di depan urethra dan


tidak mempunyai jaringan kelenjar.

Lobus medius/medianus adalah kelenjar


berbentuk baji yang terletak di antara urethra dan ductus
ejaculatorius. Permukaan atas lobus medius berhubungan
dengan trigonum vesicae, bagian ini mengandung banyak
kelenjar.

Lobus posterior terletak dibelakang urethra


dan di bawah ductus ejaculatorius, juga mengandung
kelenjar.

Lobi prostatae dexter dan sinister terletak di


samping urethra dan dipisahkan satu dengan lainnya oleh
alur vertikal dangkal yang terdapat pada fascies posterior
prostatae. Lobi laterales mengandung banyak kelenjar.
Gambar 1-1. Vesica urinaria, prostat, dan urethra; potongan sagittal

Batas-batas prostat
Batas superior : basis prostat melanjutkan diri sebagai collum vesica urinaria, otot polos
berjalan tanpa terputus dari satu organ ke organ yang lain.
Batas inferior : apex prostat terletak pada permukaan atas diafragma urogenitalis. Uretra
meninggalkan prostat tepat diatas apex permukaan anterior.
Anterior : permukaan anterior prostat berbatasan dengan simphisis pubis, dipisahkan dari
simphisis oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat pada cavum retropubica(cavum
retziuz). Selubung fibrosa prostat dihubungkan dengan permukaan posterior os pubis dan
ligamentum puboprostatica. Ligamentum ini terletak pada pinggir garis tengah dan
merupakan kondensasi vascia pelvis.

Posterior : permukaan posterior prostat berhubungan erat dengan permukaan anterior


ampula recti dan dipisahkan darinya oleh septum retovesicalis (vascia Denonvillier).
Septum ini dibentuk pada masa janin oleh fusi dinding ujung bawah excavatio rectovesicalis
peritonealis, yang semula menyebar ke bawah menuju corpus perinealis.
Lateral : permukaan lateral prostat terselubung oleh serabut anterior m. levator ani waktu
serabut ini berjalan ke posterior dari os pubis.
Ductus ejaculatorius menembus bagisan atas permukaan prostat untuk bermuara pada
uretra pars prostatica pada pinggir lateral orificium utriculus prostaticus.
Vaskularisasi Prostata
Cabang arteria vesicalis inferior dan arteria rectalis media.
Venae membentuk plexus venosus prostaticus, yang terletak di antara capsula prostatica
dan selubung fibrosa. Plexus venosus prostaticus menampung darah dari vena dorsalis
profunda penis dan sejumlah venae vesicales, selanjutnya bermuara ke vena iliaca interna.

Persarafan prostat
Berasal dari pleksus hipogastrikus inferior dan membentuk pleksus prostatikus. Prostat
mendapat persarafan terutama dari serabut saraf tidak bermielin. Beberapa serat ini berasal
dari sel ganglion otonom yang terletak di kapsula dan di stroma. Serabut motoris, mungkin
terutama simpatis, tampak mempersarafi sel-sel otot polos di stroma dan kapsula sama seperti
dinding pembuluh darah.
LO.1.2 Mikroskopik
Prostat melingkari pangkal urethra yang keluar dari vesica urinaria. Kelenjar ini merupakan
kumpulan
dari 30-50 kelenjar tubuloalveolar kompleks yang kecil-kecil, bermuara ke
dalam urethra pars prostatica, melalui 15-30 saluran keluar kecil. Kelenjar-kelenjar kecil terletak
di mukosa dan dikelilingi oleh kelenjar-kelenjar submukosa. Kelenjar utama terletak di bagian tepi

dan merupakan klenjar terbesar.Keseluruhan kelenjar dibungkus oleh simpai fibroelastik yang
mengandung banyak serat otot polos di sebelah dalam dan kaya akan plexus venosus. Bagianbagian kelenjar terbenam di dalam stroma padat yang di bagian tepiberlanjut pada simpai.
Stromanya juga fibroelastik dan
mengandung sejumlah berkas serat
otot polos. Alveoli dan tubuli
kelenjar sangat tidak teratur dan
sangat beragam bentuk dan
ukurannya. Alveoli dan tubuli
bercabang berkali-kali, keduanya
memiliki lumen yang lebar. Lamina
basal kurang jelas dan epitelnya
sangat
berlipat-lipat.
Jenis
epitelnya selapis atau bertingkat dan bervariasi dari silindris hingga kubis rendah,
tergantung pada status endokrin dan kegiatan kelenjar. Sitoplasma mengandung banyak

Gambar 1-4. Mikroskopik prostat; jaringan penyambung stroma (St), pembuluh darah
(BV), otot polos (SM), epitel silindris (CC), sel basal (BC), konkremen prostat (Pc)

butir sekret, lisosom, dan butir lipid. Saluran keluar mempunyai lumen yang tidak teratur dan
mirip tubuli sekretorius yang kecil. Sekret prostat merupakan cairan seperti susu, bersifat agak alkali,
kaya dengan enzim proteolitik, terutama fibrinolisin yang membantu pencairan semen. Sekret juga
mengandung sejumlah besar fosfatase asam. Pada kanker prostat, terdapat peningkatan kadar enzim
fosfatase asam di dalam darah. Pada sajian, sekret terlihat sebagai massa granular yang asidofilik.
Seringkali mengandung bahan-bahan bulat atau bulat telur yang disebut konkremen prostat (korpora
amilasea) yang merupakan kondensasi sekret yang mungkin mengalami perkapuran

Li 2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FISIOLOGI PROSTAT


Fisiologi Prostat
Sekret kelenjar prostat adalah cairan seperti susu yang bersama-sama sekret dari
vesikula seminalis merupakan komponen utama dari cairan semen. Semen berisi sejumlah
asam sitrat sehingga pH nya agak asam (6,5). Selain itu dapat ditemukan enzim yang bekerja
sebagai fibrinolisin yang kuat, fosfatase asam, enzim-enzim lain dan lipid. Sekret prostat
dikeluarkan selama ejakulasi melalui kontraksi otot polos. kelenjar prostat juga menghasilkan
cairan dan plasma seminalis, dengan perbandingan cairan prostat 13-32% dan cairan vesikula
seminalis 46-80% pada waktu ejakulasi. Kelenjar prostat dibawah pengaruh Androgen Bodies
dan dapat dihentikan dengan pemberian Stilbestrol.
Cairan prostat merupakan 70% volume cairan ejakulat dan berfungsi memberikan makanan
sperma dan menjaga agar spermat tidak cepat mati di dalam tubuh wanita, dimana sekret
vagina sangat asam (PH: 3,5-4). Dengan demikian sperma dapat hidup lebih lama dan dapat
melanjutkan perjalanan menuju tuba uterina dan melakukan pembuahan
Peran androgen dan faktor pertumbuhan fibroblast dalam pembangunan prostat.
review ini berfokus pada peran androgen dan faktor pertumbuhan fibroblas (FGFs)
dalam mengatur pertumbuhan dan perkembangan prostat. Telah diketahui bahwa androgen

dan interaksi epitel mesenkim-diperlukan untuk pembentukan dan pertumbuhan prostat, tetapi
sedikit yang diketahui dari molekul mediator yang mengatur organogenesis prostat. Parakrin
sinyal dari mesenkim ke epitel adalah elemen kunci pembangunan prostat dan tindakan
androgen dalam sel mesenchymal sangat penting bagi perkembangan prostat. Temuan ini telah
menyebabkan hipotesis bahwa androgen mengatur ekspresi faktor pertumbuhan parakrinakting.
Meskipun beberapa keluarga faktor pertumbuhan berperan dalam mengatur
pertumbuhan prostat, keluarga FGF berisi anggota yang telah dipelajari paling komprehensif
dalam hal pertumbuhan prostat dan morfogenesis bercabang. Peran FGFs dalam pembangunan
prostat dijelaskan secara rinci, karena dua anggota fungsi keluarga FGF sebagai faktor
parakrin-bertindak mesenchymal di prostat. Telah menunjukkan bahwa FGF7 dan FGF10
memainkan peran penting dalam pengembangan prostat namun mereka tampaknya tidak diatur
langsung oleh androgen. model saat ini mengusulkan bahwa ekspresi faktor pertumbuhan
(termasuk FGF7 dan 10) diatur langsung oleh androgen. Namun, ada kemungkinan bahwa
peraturan androgen adalah tidak langsung dan model yang menguraikan peraturan androgen
tidak langsung faktor pertumbuhan diusulkan
Li 3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN BENIGNA PROSTATE HYPERPLASIA

3.1. Definisi
BPH adalah kondisi patologis yang paling umum pada pria dan penyebab kedua yang paling
sering untuk intervensi medis pada pria diatas usia 60tahun (smeltzer, 2001 : 1625)
BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria lebih tua
dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran
urinarius ( Doenges, 1999 : 671)
BPH atau disebut tumor prostate jinak adalah pertumbuhan berlebihan dari sel prostate yang
tidak ganas. pembesaran prostate jinak akibat sel sel prostate memperbanyak diri melebihi
kondisi normal, biasanya dialami laki laki berusia di atas 50 tahun.
BPH adalah hiperplasia kelenjar periuretra yang mendesak jaringan prostat yang asli ke
perifer dan menjadi simpai bedah (capita selecta, edisi 3)

Kriteria Pembesaran Prostat


Untuk menentukan kriteria prostat yang membesar dapat dilakukan dengan beberapa cara,
diantaranya adalah :
1. Rektal grading
Berdasarkan penonjolan prostat ke dalam rektum :
derajat 1 : penonjolan 0-1 cm ke dalam rektum
derajat 2 : penonjolan 1-2 cm ke dalam rektum
derajat 3 : penonjolan 2-3 cm ke dalam rektum
derajat 4 : penonjolan > 3 cm ke dalam rektum
2. Berdasarkan jumlah residual urine
derajat 1 : <>
derajat 2 : 50-100 ml

3.

4.

derajat 3 : >100 ml
derajat 4 : retensi urin total
Intra vesikal grading
derajat 1 : prostat menonjol pada bladder inlet
derajat 2 : prostat menonjol diantara bladder inlet dengan muara ureter
derajat 3 : prostat menonjol sampai muara ureter
derajat 4 : prostat menonjol melewati muara ureter
Berdasarkan pembesaran kedua lobus lateralis yang terlihat pada uretroskopi :
derajat 1 : kissing 1 cm
derajat 2 : kissing 2 cm
derajat 3 : kissing 3 cm
derajat 4 : kissing >3 cm6
3.2. Memahami dan menjelaskan etiologi BPH
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat, tetapi
beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar
dehidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).7 Beberapa teori atau hipotesis yang diduga
sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah:
1. Teori Hormonal
Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan hormonal, yaitu antara hormon
testosteron dan hormon estrogen. Karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi
testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer dengan pertolongan enzim aromatase,
dimana sifat estrogen ini akan merangsang terjadinya hiperplasia pada stroma, sehingga timbul
dugaan bahwa testosteron diperlukan untuk inisiasi terjadinya proliferasi sel tetapi kemudian
estrogenlah yang berperan untuk perkembangan stroma. Kemungkinan lain ialah perubahan
konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan menyebabkan produksi dan potensiasi faktor
pertumbuhan lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran prostat.
Pada keadaan normal hormon gonadotropin hipofise akan menyebabkan produksi hormon androgen
testis yang akan mengontrol pertumbuhan prostat. Dengan makin bertambahnya usia, akan terjadi
penurunan dari fungsi testikuler (spermatogenesis) yang akan menyebabkan penurunan yang
progresif dari sekresi androgen. Hal ini mengakibatkan hormon gonadotropin akan sangat
merangsang produksi hormon estrogen oleh sel sertoli. Dilihat dari fungsional histologis, prostat
terdiri dari dua bagian yaitu sentral sekitar uretra yang bereaksi terhadap estrogen dan bagian perifer
yang tidak bereaksi terhadap estrogen.
2. Teori Growth Factor (Faktor Pertumbuhan)
Peranan dari growth factor ini sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat. Terdapat empat
peptic growth factor yaitu: basic transforming growth factor, transforming growth factor 1,
transforming growth factor 2, danepidermal growth factor.
3. Teori peningkatan lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati

4. Teori Sel Stem (stem cell hypothesis)


Seperti pada organ lain, prostat dalam hal ini kelenjar periuretral pada seorang dewasa berada dalam
keadaan keseimbangan steady state, antara pertumbuhan sel dan sel yang mati, keseimbangan ini
disebabkan adanya kadar testosteron tertentu dalam jaringan prostat yang dapat mempengaruhi sel
stem sehingga dapat berproliferasi. Pada keadaan tertentu jumlah sel stem ini dapat bertambah
sehingga terjadi proliferasi lebih cepat. Terjadinya proliferasi abnormal sel stem sehingga
menyebabkan produksi atau proliferasi sel stroma dan sel epitel kelenjar periuretral prostat menjadi
berlebihan.
5. Teori Dehidrotestosteron (DHT)
Testosteron yang dihasilkan oleh sel leydig pada testis (90%) dan sebagian dari kelenjar adrenal
(10%) masuk dalam peredaran darah dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi sex hormon binding
globulin (SHBG). Sedang hanya 2% dalam keadaan testosteron bebas. Testosteron bebas inilah yang
bisa masuk ke dalam target cell yaitu sel prostat melewati membran sel langsung masuk kedalam
sitoplasma, di dalam sel, testosteron direduksi oleh enzim 5 alpha reductasemenjadi 5
dehidrotestosteron yang kemudian bertemu dengan reseptor sitoplasma menjadi hormone receptor
complex.
Kemudian hormone receptor complex ini mengalami transformasi reseptor, menjadi nuclear
receptor yang masuk kedalam inti yang kemudian melekat pada chromatin dan menyebabkan
transkripsi m-RNA. RNA ini akan menyebabkan sintese protein menyebabkan terjadinya
pertumbuhan kelenjar prostat
3.3 epidemiologi
Merupakan tumor jinak paling sering pada laki-laki, dan insidensinya berhubungan dengan
bertambahnya usia. Faktor risiko BPH masih belum jelas.Beberapa penelitian menunjukkan adanya
predisposisi genetik, dan beberapa kasus dipengaruhi oleh ras. Prevalensi BPH secara histologi pada
otopsi didapatkan peningkatan dari sekitar 20% pada pria usia 41-50 tahun, menjadi 50% pada pria
usia51-60 tahun, dan >90% pada pria usia lebih dari 80 tahun

Li 3.4 patofisiologi
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan akan menghambat
aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat
mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi
yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot
detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot
detrusor ini disebut fase kompensasi.
Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih

sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejalagejala
prostatismus.
Dengan semakin meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensasi
dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Tekanan
intravesikal yang semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada
kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari
buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesico-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan
mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal.
Pada BPH terdapat dua komponen yang berpengaruh untuk terjadinya gejala yaitu komponen
mekanik dan komponen dinamik. Komponen mekanik ini berhubungan dengan adanya pembesaran
kelenjar periuretra yang akan mendesak uretra pars prostatika sehingga terjadi gangguan aliran
urine (obstruksi infra vesikal) sedangkan komponen dinamik meliputi tonus otot polos prostat dan
kapsulnya, yang merupakan alpha adrenergik reseptor. Stimulasi pada alpha adrenergik reseptor
akan menghasilkan kontraksi otot polos prostat ataupun kenaikan tonus. Komponen dinamik ini
tergantung dari stimulasi syaraf simpatis, yang juga tergantung dari beratnya obstruksi oleh
komponen mekanik.
3.5. Memahami dan menjelaskan manifestasi klinis BPH
a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
Keluhan pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) terdiri atas gejala obstruksi dan gejala iritasi,
seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3-1. Gejala Obstruksi dan Iritasi
Obstruksi
Hesitansi
Pancaran miksi lemah
Intermitensi
Miksi tidak puas
Menetes setelah miksi

Iritasi
Frekuensi
Nokturia
Urgensi
Disuria

Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan LUTS, beberapa ahli/organisasi urologi membuat
sistem skoring yang secara subyektif dapat diisi dan dihitung sendiri oleh pasien. Sistem skoring
yang dianjurkan oleh WHO adalah Skor Internasional Gejala Prostat atau IPSS (International
Prostatic Symptom Score). Sistem skoring IPSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan
dengan keluhan miksi (LUTS) dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup
pasien. Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0-5, sedangkan
keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai 17. Dari skor IPSS itu, dapat
dikelompokkan gejala LUTS dalam tiga derajat, yaitu (1) ringan: skor 0-7, (2) sedang: skor 8-19,
dan (3) berat: skor 20-35.
Timbulnya gejala LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot vesica urinaria untuk
mengeluarkan urine. Pada suatu saat, otot vesica urinaria mengalami kepayahan (fatigue) sehingga
jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi urine akut.

Timbulnya dekompensasi vesica urinaria didahului oleh beberapa faktor pencetus, antara lain:

Volume vesica urinaria yang tiba-tiba terisi penuh, yaitu pada cuaca dingin, menahan kencing
terlalu lama, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang mengandung diuretikum (alkohol,
kopi), dan minum air dalam jumlah yang berlebihan

Massa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau mengalami
infeksi prostat akut

Setelah mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor atau yang
dapat mempersempit leher vesica urinaria, antara lain golongan antikolinergik atau -adrenergik.
b. Keluhan pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat penyulit hiperplasia prostat pada saluran kemih bagian atas berupa gejala obstruksi,
antara lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis), atau
demam (yang merupakan tanda adanya infeksi atau urosepsis).
c. Gejala di luar saluran kemih
Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis atau hemoroid.
Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan
peningkatan tekanan intraabdominal.

3.6. Memahami dan menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding BPH


a. Anamnesis : gejala obstruktif dan gejala iritatif
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus spingter
ani, reflek bulbo cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain seperti benjolan di dalam
rektum dan tentu saja teraba prostat. Pada perabaan prostat harus diperhatikan : 1. Konsistensi
prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal)
2. Adakah asimetris

3. Adakah nodul pada prostate


4. Apakah batas atas dapat diraba
5. Sulcus medianus prostate
6. Adakah krepitasi
Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan prostat teraba membesar, konsistensi
prostat kenyal seperti meraba ujung hidung, permukaan rata, lobus kanan dan kiri simetris, tidak
didapatkan nodul, dan menonjol ke dalam rektum. Semakin berat derajat hiperplasia prostat,
batas atas semakin sulit untuk diraba. Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi prostat
keras dan atau teraba nodul dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada batu
prostat akan teraba krepitasi.
Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas
kadangkadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pielonefritis akan disertai
sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba apabila sudah
terjadi retensi total, daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk mengetahui adanya
hernia. Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab
yang lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa navikularis atau
uretra anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis, condiloma di daerah meatus.
Pada pemeriksaan abdomen ditemukan kandung kencing yang terisi penuh dan teraba
masa kistus di daerah supra simfisis akibat retensio urin dan kadang terdapat nyeri tekan
supra simfisis.

Diagnosis Banding
Kelemahan detrusor kandung kemih
1. kelainan medula spinalis
2. neuropatia diabetes mellitus
3. pasca bedah radikal di pelvis
4. farmakologik
Kandung kemih neuropati, disebabkan oleh :
1. kelainan neurologik

2.
3.
4.
5.

neuropati perifer
diabetes mellitus
alkoholisme
farmakologik (obat penenang, penghambat alfa dan parasimpatolitik)

Obstruksi fungsional :
1. dis-sinergi detrusor-sfingter terganggunya koordinasi antara kontraksi detrusor dengan
relaksasi sfingter
2. ketidakstabilan detrusor
Kekakuan leher kandung kemih :
1. Fibrosis

Resistensi uretra yang meningkat disebabkan oleh :


1. hiperplasia prostat jinak atau ganas
2. kelainan yang menyumbatkan uretra
3. uretralitiasis
4. uretritis akut atau kronik
Prostatitis akut atau kronis
3.7MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PENATALAKSANAAN

BENIGNA

PROSTAT HYPERPLASIA
TERAPI FARMAKOLOGIS
Tidak semua pasien hiperplasia prostat perlu menjalani tindakan medik. Kadang-kadang
mereka yang mengeluh LUTS ringan dapat sembuh sendiri tanpa mendapatkan terapi apapun
atau hanya dengan nasehat dan konsultasi saja. Namun, di antara mereka akhirnya ada yang
membutuhkan terapi medikamentosa atau tindakan medik yang lain karena keluhannya
semakin parah. Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah:

memperbaiki keluhan miksi,

meningkatkan kualitas hidup,

mengurangi obstruksi infravesica,

mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal,


residu urine setelah miksi, dan

mencegah progresifitas penyakit.

Hal ini dapat dicapai dengan medikamentosa, pembedahan, atau tindakan endourologi yang
kurang invasif.
Medikamentosa

Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk:

mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik penyebab


obstruksi infravesica dengan obat-obatan penghambat -adrenergik (-adrenergik
blocker), dan

mengurangi volume prostat sebagai komponen statik dengan cara menurunkan


kadar hormon testosteron/dihidrotestosteron (DHT) melalui penghambat 5reduktase. Selain kedua cara di atas, sekarang banyak dipakai terapi menggunakan
fitofarmaka yang mekanisme kerjanya masih belum jelas.
Penghambat reseptor -adrenergik
Caine adalah yang pertama kali melaporkan penggunaan obat penghambat adrenergik
sebagai salah satu terapi BPH. Pada saat itu dipakai fenoksibenzamin, yaitu -blocker yang
tidak selektif dan ternyata mampu memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan
miksi. Namun, obat ini tidak disenangi oleh pasien karena dapat menyebabkan komplikasi
sistemik yang tidak diharapkan, di antaranya adalah hipotensi postural dan kelainan
kardiovaskuler lainnya.
Pada penggunaan terapi untuk BPH, pemberian 1-bloker menyebabkan relaksasi otot-otot
trigon dan sfingter di leher kandung kemih serta otot polos kelenjar prostat yang membesar,
sehingga memperbaiki aliran urine serta gejalagejala lain yang menyertai obstruksi prostat
tersebut.
Dalam golongan ini termasuk derivat kuinazolin dan beberapa obat lain, misalnya
indoramin dan urapidil.
Dalam kelompok ini (1-blocker selektif) termasuk prazosin sebagai prototipe, terazosin,
doksazosin, alfulozin, dan tamsulozin. Semuanya merupakan antagonis kompetitif pada
reseptor 1 yang sangat selektif dan sangat poten. Prazosin, terazosin, doksazosin, dan
alfulozin mempunyai potensi yang sama pada reseptor 1A, 1B, dan 1D. Tamsulozin lebih
selektif untuk reseptor 1A (dan 1D) dibanding terhadap 1B, sehingga lebih kuat memblok
reseptor 1A di prostat. Karena itu tamsulozin efektif untuk pengobatan BPH dengan hanya
sedikit efek terhadap darah.

Farmakodinamik. Efeknya yang utama adalah hasil hambatan reseptor 1 pada otot polos
arteriol dan vena, yang minmbulkan vasodilatasi dan venodilatasi sehingga menurunkan
resistensi perifer dan aliran baik vena. Penurunan resistensi perifer menyebabkan penurunan
tekanan darah, tetapi biasanya tidak menimbulkan refleks takikardi. Hal ini disebabkan:
o 1-bloker tidak memblok 2 prasinaps sehingga tidak meningkatkan pelepasan
NE dari ujung saraf (yang akan merangsang jantung melalui reseptor 1 yang
tidak diblok),

o penurunan aliran balik vena menyebabkan berkurangnya peningkatan curah


jantung dan denyut jantung (berbeda dengan vasodilator murni, misalnya
hidralazin, yang tidak menyebabkan venodilatasi),
o bekerja sentral untuk mengurangi pelepasan NE dari ujung saraf di perifer, dan
o menekan fungsi baroreseptor pada pasien hipertensi.
Karena efek vasodilatasinya, maka aliran darah di organ-organ vital (otak, jantung, ginjal)
dapat dipertahankan, demikian juga dengan aliran darah perifer di ekstremitas.
Kelompok obat ini cenderung mempunyai efek yang baik terhadap lipid serum pada
manusia, menurunkan kolesterol LDL dan trigliserid serta meningkatkan kadar kolesterol
HDL.
Farmakokinetik. Semua derivat kuinazolin diabsorpsi dengan baik pada pemberian oral,
terikat kuat pada protein plasma (terutama 1-glikoprotein), mengalami metabolisme yang
ekstensif di hati, dan hanya sedikit yang diekskresi utuh melalui ginjal.
Perbedaan utama terletak pada waktu paruh eliminasinya. Prazosin mempunyai waktu paruh
2-3 jam sehingga harus diberikan 2-3 kali sehari. Terazosin mempunyai waktu paruh 12 jam,
sehingga harus diberikan 1-2 kali sehari. Sedangkan dosazosin dengan waktu paruh 20-22
jam dapat diberikan sekali sehari. Tamsulozin mempunyai waktu paruh 5-10 jam, alfulozin
3-5 jam.
Efek samping. Efek samping utama yang potensial dapat terjadi pada pemberian 1bloker
adalah fenomen dosis pertama, yakni hipotensi postural yang hebat dan sinkop yang terjadi
30-90 menit setelah pemberian dosis pertama. Hal ini disebabkan oleh penurunan tekanan
darah yang cepat pada posisi berdiri akibat mula kerja yang cepat tanpa disertai refleks
takikardia sebagai kompensasi, bahkan diperkuat dengan oleh kerja sentral mengurangi
aktivitas simpatis; di samping dosis awal yang terlalu besar. Fenomen ini juga terjadi pada
peningkatan dosis yang terlalu cepat atau pada penambahan antihipertensi kedua pada pasien
yang telah mendapat 1-bloker dosis besar. Toleransi terhadap fenomen ini terjadi dengan
cepat, mekanismenya tidak diketahui. Risiko terjadinya fenomen ini dapat dikurangi dengan
memberikan dosis awal yang rendah (1 mg prazosin) sebelum tidur, meningkatkan dosis
dengan perlahan, dan menambahkan antihipertensi kedua dengan hati-hati. Pada pemberian
1-bloker, tekanan darah harus diukur pada waktu berdiri maupun berbaring untuk melihat
adanya efek postural ini. Fenomen dosis pertama ini kecil kemungkinan terjadinya pada
pemberian doksazosin, karena selain dilakukan titrasi dosis yang hati-hati, obat ini
mempunyai mula kerja yang lambat (yang menyertai masa kerjanya yang panjang) sehingga
penurunan tekanan darah terjadi secara perlahan (gradual).
Efek samping yang paling sering berupa pusing (hipotensi postural), sakit kepala, ngantuk,
palpitasi, edema perifer, dan mual.

Penghambat 5-reduktase

Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron (DHT) dari
testosteron yang dikatalisis oleh enzim 5-reduktase di dalam sel-sel prostat. Menurunnya
kadar DHT menyebabkan sintesis protein dan replikasi sel-sel prostat menurun.
Telah dilaporkan bahwa pemberian obat ini (finasteride) 5 mg/hari yang diberikan sekali
setelah enam bulan mampu menyebabkan penurunan prostat hingga 28%; hal ini
memperbaiki keluhan miksi dan pancaran miksi.

Fitofarmaka
Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki gejala akibat
obstruksi prostat, tetapi data-data farmakologis tentang kandungan zat aktif yang mendukung
mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Kemungkinan
fitoterapi bekerja sebagai anti-estrogen, anti-androgen, menurunkan kadar sex hormone
binding globulin (SHBG), inhibisi basic fibroblast growth factor (bFGF) dan epidermal
growth factor (EGF), mengacaukan metabolisme prostaglandin, efek antiinflamasi,
menurunkan outflow resistance, dan memperkecil volume prostat.
Di antara fitoterapi yang banyak dipasarkan adalah Pygeum africanum, Serenoa repens,
Hypoxis rooperi, Radix urtica, dan masih banyak lainnya.

5.2 TERAPI NONFARMAKOLOGIS (OPERATIF)


5.2.1 Watchfull waiting
Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS <7, yaitu keluhan
ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien tidak mendapatkan terapi apapun
dan hanya diberi penjelasan mengenai hal-hal yang mungkin dapat memperburuk
keluhannya, misalnya:
jangan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam,
kurangi konsumsi makanan atau minuman yang dapat mengiritasi vesica
urinaria (kopi atau cokelat),
batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin,
jangan menahan kencing terlalu lama.
Secara periodik, pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya apakah keluhannya
menjadi lebih baik (sebaiknya menggunakan skor yang baku), di samping itu, dilakukan
pemeriksaan laboratorium, residu urine, atau uroflometri. Jika keluhan miksi bertambah
buruk daripada sebelumnya, mungkin perlu dipikirkan untuk memilih terapi yang lain.
Pembedahan terbuka

Beberapa macam teknik operasi prostatektomi terbuka adalah metode dari Millin, yaitu
melakukan enukleasi kelenjar prostat melalui pendekatan retropubic infravesica, Freyer
melalui pendekatan suprapubic transvesica, atau transperineal. Prostatektomi terbuka adalah
tindakan yang paling tua yang masih banyak dikerjakan saat ini, paling invasif, dan paling
efisien sebagai terapi BPH. Prostatektomi terbuka dapat dilakukan melalui pendekatan
suprapubic transvesical (Feyer) atau retropubic infravesical (Millin). Prostatektomi terbuka
dianjurkan untuk prostat yang sangat besar (>100 gram).
Penyulit yang dapat terjadi setelah prostatektomi terbuka ialah inkontinesia urine (3%),
impotensia (5-10%), ejakulasi retrogad (60-80%), dan kontraktur leher vesica urinaria (35%). Perbaikan gejala klinis sebanyak 85-100%, dan angka mortalitas sebanyak 2%.
TURP (Reseksi prostat transurethra)
Reseksi kelenjar prostat dilakukan transurethra dengan mempergunakan cairan irigan
(pembilas) agar daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. Cairan
yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionic, yang dimaksudkan agar tidak terjadi
hantaran listrik pada saat operasi. Cairan yang sering dipakai dan harganya cukup murah
yaitu H2O steril (aquades).
Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik, sehingga cairan ini dapat
masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka pada saat reseksi.
Kelebihan H2O dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air
atau dikenal dengan sindroma TURP. Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai
gelisah, kesadaran somnolen, tekanan darah meningkat, dan terdapat bradikardi. Jika tidak
segera diatasi, pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh dalam koma dan
meninggal. Angka mortalitas sindroma TURP ini adalah sebesar 0,99%.
Untuk mengurangi risiko timbulnya sindroma TURP, operator harus membatasi diri untuk
tidak melakukan reseksi lebih dari 1 jam. Di samping itu, beberapa operator memasang
sistostomi suprapubic terlebih dahulu sebelum reseksi yang diharapkan dapat mengurangi
penyerapan air ke sirkulasi sistemik. Penggunaan cairan non ionik lain selain H2O yaitu
glisin, yang dapat mengurangi risiko hiponatremia pada TURP, tetapi karena harganya
cukup mahal, beberapa klinik urologi di Indonesia memilih pemakaian aquades sebagai
cairan irigasi.

Kontrol berkala
Setiap pasien hiperplasia prostat yang telah mendapatkan pengobatan perlu dikontrol secara
teratur untuk mengetahui perkembangan penyakitnya. Jadwal kontrol tergantung pada
tindakan apa yang sudah dijalaninya.
Pasien yang hanya mendapatkan pengawan (watchfull waiting) dianjurkan kontrol setelah 6
bulan, kemudian setiap tahun untuk mengetahui apakah terjadi perbaikan klinis. Penilaian
dilakukan dengan pemeriksaan skor IPSS, uroflometri, dan residu urine pasca miksi.
Pasien yang mendapatkan terapi penghambat 5-reduktase harus dikontrol pada minggu ke12 dan bulan ke-6 untuk menilai respon terhadap terapi. Kemudian setiap tahun untuk
menilai perubahan gejala miksi. Pasien yang menjalani pengobatan penghambat adrenergik harus dinilai respons terhadap pengobatan setelah 6 minggu dengan melakukan
pemeriksaan IPSS, uroflometri, dan residu urine pasca miksi. Kalau terjadi perbaikan gejala
tanpa menunjukkan penyulit yang berarti, pengobatan dapat diteruskan. Selanjutnya kontrol
dilakukan setelah 6 bulan dan kemudian setiap tahun. Pasien setelah menerima pengobatan
secara medikamentosa dan tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan, perlu dipikirkan
tindakan pembedahan atau terapi intervensi yang lain.
Setelah pembedahan, pasien harus menjalani kontrol paling lambatt 6 minggu pasca operasi
untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyulit. Kontrol selanjutnya setelah 3 bulan
untuk mengetahui hasil akhir operasi.
Pasien yang mendapatkan terapi invasif minimal harus menjalani kontrool secara teratur
dalam jangka waktu lama, yaitu setelah 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan, dan setiap tahun. Pada
pasien yang mendapatkan terapi invasif minimal, selain dilakukan penilaian terhadap skor
miksi, dilakukan juga pemeriksaan kultur urine.
PENCEGAHAN
Untuk menghindari gangguan prostat, pria yang berusia 40 tahun ke atas perlu
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

Menjalankan pola hidup yang sehat. Cara yang paling sederhana adalah
mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung antioksidan yang penting bagi
prostat, seperti tomat, alpukat, dan kacang-kacangan.

Cukupi kebutuhan lemak essensial. Asam lemak omega-3 dan mineral seng
(Zn) dapat mengurangi gejala gangguan prostat. Makanan yang kaya akan katekin,
terutama epigalokatekin galat (epigallocatechinsgallate), selenium, sulforafan, dan
vitamin C mendorong kemampuan sistem kekebalan tubuh dan menghilangkan racun
pencetus kanker (karsinogenik). Tidak hanya itu, zat-zat tersebut juga meningkatkan
pembentukan enzim penumpas sel tumor dan kanker, termasuk kanker prostat.


Sering mengkonsumsi kubis-kubisan. Beberapa hasil penelitian menyebutkan
pria yang sering mengkonsumsi kubis-kubisan kurang berisiko mendapatkan
gangguan prostat.

Periksalah kesehata prostat secara rutin ke dokter. Ini untuk mengantisipasi


munculnya gangguan pada prostat. Jika ditemukan adanya masalah, maka masalah
tersebut dapat ditangani dan diterapi dengan cepat.

Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS <7, yaitu keluhan
ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien tidak mendapatkan terapi apapun
dan hanya diberi penjelasan mengenai hal-hal yang mungkin dapat memperburuk
keluhannya, misalnya:

jangan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam,

kurangi konsumsi makanan atau minuman yang dapat mengiritasi vesica


urinaria (kopi atau cokelat),

batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin,

jangan menahan kencing terlalu lama.

3.8. Memahami dan menjelaskan komplikasi BPH


KOMPLIKASI HIPERPLASIA PROSTAT
Retensi urine akut. Retensi urine yang terjadi dapat menimbulkan rasa sakit
dan ketidakmampuan untuk berkemih. Pemasangan kateter diperlukan untuk
mengosongkan vesica urinaria. Beberapa pasien dengan BPH menjalani operasi
untuk mengatasi retensi urine akut ini.
Infeksi saluran kemih.
Batu kandung kemih. Keadaan ini terjadi jika vesica urinaria (dalam waktu
yang cukup lama) tidak kosong sepenuhnya.
Kerusakan ginjal. Hal ini paling sering disebabkan karena infeksi dan retensi
Urin akut BPH juga dapat menyebabkan hidronefrosis (pembengkakan ginjal
akibat penumpukan urine).

Gambar 4-1. Penyulit dan komplikasi hiperplasia prosta

3.9. Memahami dan menjelaskan prognosis BPH

Dubia ad bonam

Lebih dari 90% pasien mengalami perbaikan sebagian atau perbaikan dari gejala
yang dialaminya. Sekitar 10 20% akan mengalami kekambuhan penyumbatan dalam 5
tahun.

Penelitian pun menunjukan bahwa pria dengan BPH yang tidak mendapatkan terapi,
3155% mengalami perburukan gejala dan hanya 1-5% yang berkembang menjadi komplikasi

4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PEMERIKSAAN PENUNJANG BENIGNA


PROSTAT HYPERPLASIA
Pemeriksaan Patologi Anatomi
1. Mikroskopis :
Jaringan prostat terdiri dari stroma dan asini kelenjar prostat. Asini dilapisi epitel kubis
proliferative, sebagian asini dengan lumen melebar kistik, dalam lumen terdapat corpora
amylaceae. Stroma jaringan ikat fibromuskuler berserbukan sel limfosit.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berperan dalam menentukan ada tidaknya komplikasi.
1. Darah : Ureum dan Kreatinin
- Elektrolit
- Blood urea nitrogen

- Prostate Specific Antigen (PSA)


- Gula darah
2. Urin : Kultur urin + sensitifitas test
- Urinalisis dan pemeriksaan mikroskopik
- Sedimen
Sedimen urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi
pada saluran kemih. Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang
menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa
antimikroba yang diujikan.
Faal ginjal diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya penyulit yang mengenai
saluran kemih bagian atas. Sedangkan gula darah dimaksudkan untuk mencari
kemungkinan adanya penyakit diabetes mellitus yang dapat menimbulkan kelainan
persarafan pada vesica urinaria.
Pemeriksaan pencitraan
1.
Foto polos abdomen (BNO)
BNO berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa
prostat dan kadangkala dapat menunjukkan bayangan vesica urinaria yang penuh terisi
urin, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. Selain itu juga bisa menunjukkan
adanya hidronefrosis, divertikel kandung kemih atau adanya metastasis ke tulang dari
carsinoma prostat.
2.
Pielografi Intravena (IVP)
Pemeriksaan IVP dapat menerangkan kemungkinan adanya:
- kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis
- memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh adanya indentasi
prostat (pendesakan vesica urinaria oleh kelenjar prostat) atau ureter di sebelah distal
yang berbentuk seperti mata kail atau hooked fish
- penyulit yang terjadi pada vesica urinaria yaitu adanya trabekulasi, divertikel, atau
sakulasi vesica urinaria
- foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin
3.
Sistogram retrograd
Apabila penderita sudah dipasang kateter oleh karena retensi urin, maka sistogram
retrograd dapat pula memberi gambaran indentasi.
4.
USG secara transrektal (Transrectal Ultrasonography = TURS)
Untuk mengetahui besar atau volume kelenjar prostat, adanya kemungkinan pembesaran
prostat maligna, sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat, menentukan
volume vesica urinaria dan jumlah residual urine, serta mencari kelainan lain yang
mungkin ada di dalam vesica urinaria seperti batu, tumor, dan divertikel.
5.
Pemeriksaan Sistografi
Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine
ditemukan mikrohematuria. Sistografi dapat memberikan gambaran kemungkinan tumor
di dalam vesica urinaria atau sumber perdarahan dari atas bila darah datang dari muara
ureter, atau batu radiolusen di dalam vesica. Selain itu juga memberi keterangan

mengenai basar prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat
penonjolan prostat ke dalam uretra.
6.
MRI atau CT jarang dilakukan
Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan dengan bermacam macam potongan.
Pemeriksaan Lain
1. Uroflowmetri
Untuk mengukur laju pancaran urin miksi. Laju pancaran urin ditentukan oleh:
- daya kontraksi otot detrusor
- tekanan intravesica
- resistensi uretra
Angka normal laju pancaran urin ialah 10-12 ml/detik dengan puncak laju pancaran
mendekati 20 ml/detik. Pada obstruksi ringan, laju pancaran melemah menjadi 6 8
ml/detik dengan puncaknya sekitar 11 15 ml/detik. Semakin berat derajat obstruksi
semakin lemah pancaran urin yang dihasilkan.
2. Pemeriksaan Tekanan Pancaran (Pressure Flow Studies)
Pancaran urin melemah yang diperoleh atas dasar pemeriksaan uroflowmetri tidak dapat
membedakan apakah penyebabnya adalah obstruksi atau daya kontraksi otot detrusor
yang melemah. Untuk membedakan kedua hal tersebut dilakukan pemeriksaan tekanan
pancaran dengan menggunakan Abrams-Griffiths Nomogram. Dengan cara ini maka
sekaligus tekanan intravesica dan laju pancaran urin dapat diukur.
3. Pemeriksaan Volume Residu Urin
Volume residu urin setelah miksi spontan dapat ditentukan dengan cara sangat sederhana
dengan memasang kateter uretra dan mengukur berapa volume urin yang masih tinggal
atau ditentukan dengan pemeriksaan ultrasonografi setelah miksi, dapat pula dilakukan
dengan membuat foto post voiding pada waktu membuat IVP. Pada orang normal sisa
urin biasanya kosong, sedang pada retensi urin total sisa urin dapat melebihi kapasitas
normal vesika. Sisa urin lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk
melakukan intervensi pada penderita prostat hipertrofi.
Tes PSA (Prostate-Specific Antigen/antigen khusus prostat)
Tes darah ini bertujuan untuk mengukur kadar protein yang dikeluarkan oleh kelenjar
prostat. Bila kadarnya tinggi mengindikasikan kanker prostat. Namun peningkatan
kadar PSA kadang juga dapat disebabkan oleh pembesaran prostat, infeksi atau
peradangan prostat.
Jika nilai tes PSA anda tinggi, maka dokter akan menyarankan melakukan biopsi
prostat untuk mengetahui apakah Anda benar menderita kanker prostat. Biopsi
prostat dilakukan untuk mendapatkan sampel jaringan prostat yang kemudian
diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi ada tidaknya sel kanker.
Pemeriksaan ultrasonik (transrectal ultrasound) merupakan cara lain untuk
mendeteksi kanker prostat. PSA adalah suatu enzim yang disintesis hampir secara
eksklusif oleh prostat. PSA diukur sebagai suatu antigen oleh immunoassay.
Beberapa modifikasi diajukan untuk memperbaiki kemampuan diagnostiknva:

- Telah dianjurkan rentng acuan yang sudah disesuaikan dengan usia, dengan batas
atas meningkat setiap penambahan usia satu dekade. Konsentrasi dalam serum
bervariasi sesuai volume prostat, yang meningkat seiring dengan usia, sehingga
apabila digunakan hanya satu rentang acuan (<4,0 ng/ mL) akan banyak dijumpai
hasil positif-palsu. Sayangnya, pada praktiknya, pemakaian hanyak rentang acuan
tampaknya menurunkan sensitivitas untuk mendeteksi beberapa kasus kanker prostat
- Kecepatan PSA berasal dari pengukuran setiap tahun; peningkatan tahunan sebesar
1,0 ng/mL atau lebih mungkin mengisyaratkan kanker prostat Densitas PSA (atau
indeks PSA) dihitung dengan membagi konsentrasi PSA serum dengan volume
prostat (diperoleh dari penentuan ukuran secara ultrasonografis). Secara logika,
koreksi volume harus mempertimbangkan peningkatan pengeluaran PSA dari
kelenjar yang mengalami hipertrofi jinak, sehingga ekskresi berlebihan dari
karsinoma akan lebih jelas tampak. Sayangnya, pada praktiknya densitas PSA tidak
terlalu sensitif dalam mendeteksi kanker.
Kuantifikasi PSA babas dan terikat mungkin bermanfaat. PSA terdapat dalam serum
dalam tiga bentuk: bebas, terikat ke alfa-antikimotripsin (AACT), dan terikat ke
alfamakroglobulin (AMG). PSA babas dan PSA yang terikat ke ACCT (PSA terikat)
bereaksi dengan antibodi yang digunakan dalam immunoassay, walaupun dengan
derajat yang berbeda. PSA yang terikat ke AMG tidak bereaksi dengan antibodi.
Laki-laki tanpa kanker prostat cenderung memiliki lebih banyak PSA bebas daripada
laki-laki dengan kanker prostat. Karena itu, akhir-akhir ini hanyak usaha yang
dilakukan untuk mengukur PSA bebas dan terikat untuk semakin meningkatkan
kekuatan diagnostik. Dalam sebuah penelitian klinis besar baru-baru ini, pengukuran
persentase PSA bebas memang berguna dalam membedakan penyakit prostat jinak
dan ganas, terutama apabila PSA total hanya meningkat sedang dalam rentang yang
tidak jelas (misal 4 10 ng/mL)
5 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PANDANGAN ISLAM TENTANG PEMERIKSAAN
DAN PENATALAKSANAAN KELAINAN PADA SALURAN
KEMIH LAKI-LAKI
Sebagaimana hukum asalnya, bila ada dokter lelaki yang ahli, maka dialah yang
wajib menjalankan pemeriksaan atas seorang pasien lelaki. Bila tidak ada dokter wanita
non muslim yang dipilih. Jika masih belum ditemukan, maka dokter wanita muslim yang
melakukannya. Bila keberadaan dokter muslim tidak tersedia, bisa saja dokter nonmuslim
yang menangani.
Akan tetapi harus diperhatikan, dokter wanita yang melakukan pemeriksaan
hanya boleh melihat tubuh pasien wanita itu sesuai dengan kebutuhannya saja, yaitu saat
menganalisa penyakit dan mengobatinya, serta harus menjaga pandangan. Dan juga, saat
dokter wanita menangani pasien lelaki, maka pasien lelaki itu harus disertai mahram, atau
istrinya, atau lelaki yang dapat dipercaya supaya tidak terjadi khalwat.

Dalam semua kondisi di atas, tidak boleh ada orang lain yang menyertai dokter
wanita kecuali yang memang diperlukan perannya. Selanjutnya, para dokter wanita itu
harus menjaga kerahasiaan si pasien lelaki.
Bertolak dari keterangan di atas, bagaimanapun keadaannya, sangat diperlukan
kejujuran kaum wanita dan keluarganya tentang masalah ini. Hendaklah terlebih dulu
beriktikad untuk mencari dokter laik-laki. Tidak membuat bermacam alasan dikarenakan
malas untuk berusaha. Semua harus dilandasi dengan takwa dan rasa takut kepada Allah,
kemudian berusaha untuk mewujudkan tujuan-tujuan mulia di atas.
Allah Taala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-Anam ayat 119:










119







(padahal) sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu. Kecuali apa yang terpaksa.
Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus
mengikuti rambu-rambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak.
Keberadaan mahram adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala
seorang muslimah terpaksa harus bertemu dan berobat kepada dokter yg berlainan jenis,
ia harus didampingi mahram atau suami/istrinya saat pemeriksaan. Tidak berduaan
dengan sang dokter di kamar praktek atau ruang periksa.

Syarat ini disebutkan Syaikh Bin Baz rahimahullah untuk pengobatan pada bagian tubuh yang
nampak, seperti kepala, tangan dan kaki. Jika obyek pemeriksaan menyangkut aurat, meskipun
sudah ada perawat laki-laki umpamanya maka keberadaan suami atau wanita lain (selain
perawat) tetap diperlukan, dan ini lebih baik untuk menjauhkan dari kecurigaan