Anda di halaman 1dari 23

KEPUTIHAN

Li 1. M&M Anatomi Genitalia Eksterna & Interna


Lo 1.1 Makro
-

Genitalia eksterna

Genitalia interna

Lo 1.2 Mikro

OVARIUM
Merupakan Kelenjar ganda.
Produk eksokrin adalah ovum
Produk endokrin adalah hormon yang diperlukan untuk: :
Perkembangan sifat kelamin (ESTRADIOL/ESTROGEN)
Perubahan Siklik Endometrium (PROGESTERON)

Ovarium dibungkus Epitel Germinatif berupa Selapis


Kuboid yg menyatu dengan mesotel.

Di bawah epitel tersebut terdapat jaringan ikat padat


yaitu Tunika albuginea.
Struktur ovarium terdiri dari :
a)
Korteks di bagian luar,terdiri dari :

Stroma padat , mengandung folikel


ovarium. Stroma berbentuk jala retikulin dengan sel bentuk
gelendong.
Sebelum pubertas hanya terdapat folikel primitive.
Kematangan seks adanya folikel yg berkembang dan
hasil akhirnya berupa korpus luteum, folikel atretis.
Saat menopause folikel menghilang dan korteks jadi tipis
dan terdiri dari jaringan ikat fibrosa.
b) Medula dibagian dalam, terdiri dari :
Jaringan ikat fibroelastis berisi pembuluh darah besar, limf
dan saraf.
Pertumbuhan dan Perkembangan
1. Folikel Primordial
Folikel utama saat neonatus (400rb-2juta)
Folikel terdiri dari oosit primer yang dikelilingi
sel folikel gepeng.
Oosit berdiameter 40 mm dengan inti
besar,eksentrik,sitoplasma berbutir halus.
Tahap awal perkembangan folikel.
2. Folikel Tahap Perkembangan
Folikel berkembang dengan ukuran folikel berbeda.
Pertumbuhan distimulasi FSH sehingga oosit membesar.
Epitel folikel berubah menjadi kuboid dan berproliferasi menjadi epitel berlapis
(MULTI LAMINAR) dan Zona Pelusida terbentuk.
Ruang-ruang kecil (berisi cairan muncul diantara kerumunan sel epitel dan dapat
membentuk ruang besar (ANTRUM) dan berisi cairan folikel (liquor foliculi).
a) Folikel Primer (Unilaminar dan Multilaminar)

Sel folikular berubah dari gepeng menjadi kuboid.


Tidak ada ruang berisi liqour foliculi.
Zona pelusida mulai terbentuk akhir fase folikel primer/msk fs folikel sekunder.
b) Folikel Sekunder
Terbentuk membrana basalis.
Sel folicular > 1 lapis.
Zona Pelusida (bingkai).
Ruang folicular kecil-kecil.
Stroma mbtk Teka Folikel :
TEKA INTERNA : Sel kuboid, banyak
vaskularisasi.
TEKA EKSTERNA : Terdiri dari jaringan penyambung kolagen
c) .Folikel Tersier
Ruang-ruang kecil bersatu membentuk
Antrum.
Lapisan sel folikular = sel granulosa
membatasi antrum.
Sel telur ke tepi dan sel folicular
membentuk gundukan yg menjorok ke
antrum = KUMULUS OOFORUS.
Sel granulosa yang tersusun radier terhadap ovum disebut KORONA RADIATA.
Membrana vitrea
d) Folikel Graaf
Siap Ovulasi.
Lapisan Granulosa menjadi lebih
tipis.
Antrum bertambah luas.
Korona radiata tetap ada saat
spermatozoa membuahi oosit.

e) Folikel Atretis
Hanya 450 matur.
Folikel yang gagal berkembang akan layu,
sehingga disebut folikel atretis.
Atresia
dapat
terjadi
dalam
setiap
perkembangan folikel.
Korpus luteum

Dibentuk oleh sel granulosa & sel theca setelah terjadi ovulasi.
Setelah ovulasi, ruptur dinding folikel.
Proses luteinisasi sel granulosa sehingga terbentuk
korpus luteum.
Sel granulosa menjadi hipertropi, berbentuk
polihedral, inti besar.
Terdapat pigmen kuning dalam sel granulosa.
Sel theca invasi korpus dengan pembuluh darah,
juga mengalami luteinisasi.
Sel theca lebih kecil dan gelap, letak di lipatan
jaringan.
Menghasilkan Estrogen dan Progesteron

Korpus Albikans
Korpus luteum menstruasi yang mengalami
degenerasi menghilang dangan autolisis dan
sisa sel difagosit oleh makrofag. Tempatnya
diduduki
jaringan
parut
dan
membentukKorpus Albikans, yg bersifat
aselular dan penuh serat hialin.
Korpus albikans tetap ada selama periode
tertentu, dan lambat laun direabsorbsi stroma.
Proses tersebut berlangsung berbulan-bulan
atau bertahun-tahun.
TUBA UTERINA
1. Bagian Intramural (Pars Interstitial): terletak di bagian dalam dinding uterus.
2. Istmus : dibentukbagian tuba, berdekatan dengan uterus merupakan segmen sempit.
3. Ampula : Lebih lebar daripada istmus , mengandung lipatan mukosa bercabang, tempat
tersering terjadi pembuahan.
4. Infundibulum : Segmen paling ujung (distal), bentuk corong membuka, dekat ovarium.
Jari-jari/jumbai melebar ke arah ovarium disebut FIMBRIAE.

1.
b.

Secara histologi, dinding tuba uterina terdiri dari 3 lapis :


TUNIKA MUKOSA
a.
Epitel selapis torak, tdd 2 jenis sel yaitu bersilia dan tdk bersilia
Bersilia :
Membantu pergerakan cairan
Bersama kontraksi otot luar mengangkut oosit/embrio ke uterus
Mempermudah pergerakan spermatozoa ke arah ovum

c.

Tidak bersilia :
Sel rendah mensekresi mukus, tersebar diantara sel bersilia
Membantu transport ovum
Menghalangi bakteri bergerak ke arah rongga peritoneum
UTERUS
Saluran berdinding tebal, berfungsi untuk menyalurkan sperma ke tempat fertilisasi, sebagai tempat
terjadinya implantasi dan perkembangan embrio.
Dindingnya terdiri atas 3 lapis :
1. Endometrium (Mukosa) : bagian dalam dilapisi epitel selapis silindris bersilia dan terdapat pula
kelenjar uterus yang bermukosa dari permukaan.
2. Miometrium (dinding otot): terdapat 3 lapisan otot yang batas-batasnya kurang jelas. Tiga lapisan
otot tersebut adalah
Lapisan Sub vascular : serat-serat otot tersusun memanjang
Lapisan Vaskular : lapisan otot tengah tebal, serat tersusun melingkar dan serong dengan
banyak pembuluh darah.
Lapisan Supravaskular : lapisan otot luar memanjang tipis.
3. Peritoneum : adalah serosa khas khas terdiri selapis sel mesotel yang ditunjang oleh jaringan ikat
tipis.

ENDOMETRIUM

Mukosa tdd epitel selapis torak, memp. Kelenjar tubuler simplek yg menjulur dr
permukaan ke lamina propria

Lapisannya dibagi 2 bagian :


A.
Stratum fungsional
1. Lap. Yg mengalami penebalan dan kemudian dilepaskan (buang) pada saat
menstruasi dan diganti lagi selama siklus mens
2. Menurut beberapa ahli dibagi jadi:
- zona kompakta (superfisialis)
- Zona spongiosa (profunda)
B.
Stratum basale
1. Bag. Yg tersisa selama menstruasi, mengandung bag.Basal kel. Endometrium yg
menyediakan epitel dan lamina propria baru untuk regenerasi endometrium
2. Jadi sebagai sumber stem cell untuk membentuk lapisan baru
PENDARAHAN ENDOMETRIUM
Pendarahan dlm dinding rahim penting dlm menunjang siklus haid pd endometrium Sepasang a.
Uterina bercabang a. Arcuata bercabang mjd 2 jenis :
A. Lurus (straight arteries) str. Basal
A. Spiral (coiled arteries) str. Fungsional
Pdrhn ganda ini penting dlm pelepasan siklus str. Fungsional .
Spiralis hilang, a. Lurus tetap ada
Pemb.Limf banyak dan membtk jalinan di seluruh lap. Ddg rahim kecuali daerah superfisial
mukosa.Serat saraf bermielin mbtk jalinan di bwh epitel .Serat saraf tak bermielin mensarafi
berkas otot , pembuluh darah dan miometrium
SERVIKS

Serviks mempunyai serabut otot polos, namun terutama terdiri dari atas jaringan kolagen,
ditambah dengan elastin serta pembuluh darah. Peralihan serviks yang terutama yang berupa
jaringan kolagen ke korpus uteri yang terutama berupa jaringan muskuler,meskipun umumnya
mendadak namun bisa juga sedikit demi sedikit,
sehingga terentang sepanjang 10 mm.Serviks yang
berbentuk silinder pada nullipara panjangnya sekitar 3
cm dan diameter 2,5 cm.
Mukosa kanalis servikalis meskipun secara
embriologis merupakan kelanjutan dari endometrium,
namun setelah mengalami perubahan sedemikian rupa
sehingga potongan melintangnya menyerupai sarang
tawon.Mukosanya terdiri dari satu lapisan epitel
kolumnar yang sangat tinggi, menempel pada membrana basalis yang tipis.Nukleus yang oval
terletak dekat dasar sel kolumner yang bagian atasnya terlihat agak jernih karena berisi
mukus.Sel sel ini mempunyai banyak silia.Terdapat banyak kelenjar servikalis yang
memanjang dari permukaan mukosa endoserviks langsung menuju jaringan ikat di sekitarnya,
karena tidak terdapat submukosa demikian, kelenjar inilah yang berfungsi mengeluarkan sekret
yang kental dan lengket
Sediaan Serviks
VAGINA
Terdiri dari 3 lapisan
Tunika mukosa
- Epitel blps gepeng tanpa lapisan tanduk,berbentuk
lapisan mendatar yang disebut ruggae
- krn estrogen, epitel mensintesis glikogen
Deskuamasi dikeluarkan
- lamina propria tdd jar peny. jarang dg elastin & pemb
darah
Tunika muskularis : Kaya serat otot polos
Tunika adventitia : Kaya serabut elastin
Labia
Labia mayor terdiri dari lipatan-lipatan kulit
yang menutupi kumpulan jaringan adiposa. Pada orang
dewasa, permukaan luar ditutupi oleh rambut kasar
dengan kelenjar keringat dan sebasea. Labia majora
adalah homolog dengan skrotum pada pria. Labia
minora terdiri dari inti yang sangat vaskular, jaringan

ikat longgar tertutup oleh epitel skuamosa berlapis yang sangat menjorok oleh papilla jaringan
ikat. Kedua permukaan labia minora tidak terdapat rambut, tetapi banyak terdapat kelenjar
sebasea besar.
Klitoris
Klitoris adalah suatu badan yang terbentuk dari dua corpora cavernosa yang tertutup
dalam lapisan jaringan ikat fibrosa dan dipisahkan
oleh septum yang tidak lengkap. Ujung bebas dari
klitoris
berakhir
dalam
tuberkulum,
kecil
membulat,serta kelenjar clitoridis. Klitoris dibungkus
oleh lapisan tipis epitel skuamosa berlapis
nonkeratinized , juga terkait dengan banyak ujung
saraf khusus. Klitoris tidak memiliki korpus
spongiosum , oleh karena itu tidak dilalui oleh uretra.
Kelenjar vestibular/ kelenjar Bartholin
Vestibulum adalah celah antara labia minora yang di dalamnya merupakan bukaan vagina
dan uretra. dibatasi oleh epitel skuamosa berlapis dan mengandung banyak kelenjar vestibular
kecil. Terdapat kelenjar lendir tubuloalveolar yang mengeluarkan cairan, pelumas jelas berlendir.
Kelenjar utama sesuai dengan kelenjar bulbourethral dari laki-laki.
(Junqueira, 2007)

Li 2. M&M Keputihan
2.1 Definisi
Leukorrhea (lekore) atau fluor albus atau keputihan ialah cairan yang keluar dari saluran genitalia wanita
yang bersifat berlebihan dan bukan merupakan darah. Menurut kamus kedokteran Dorlan leukorrhea
adalah sekret putih yang kental keluar dari vagina maupun rongga uterus. Walaupun arti kata lekore yang
sebenarnya adalah sekret yang berwarna putih, tetapi sebetulnya warna sekret bervariasi tergantung
penyebabnya. Lekore bukan penyakit melainkan gejala dan merupakan gejala yang sering dijumpai
dalam ginekologi.
2.2 Epidemiologi

Penyebab tersering dari leukorea patologis pada wanita hamil adalah vaginosis bakterial yang
kejadiannya dua kali lebih sering dari kandidiasis vaginal. 50% kasus vaginosis bacterial adalah
asimtomatik sehingga prevalensi yang sebenarnya masih belum diketahui. Penyebab infeksi
tersering adalah kandidiasis vulvovaginal yang menyerang sekitar 75% wanita selama masa
reproduksi mereka.

Leukorea atau keputihan merupakan keluhan dari alat kandungan yang banyak ditemukan di
poliklinik KIA, Kebidanan dan Kulit Kelamin. Frekuensi leukorea di bagian Ginekologi RSCM
Jakarta adalah 2,2% dan di RS Sutomo Surabaya adalah 5,3%.
2.3 Klasifikasi
Leukorrhea Fisiologis
Yaitu sekret dari vagina normal yang berwarna jernih atau putih, menjadi kekuningan bila kontak dengan
udara yang disebabkan oleh proses oksidasi. Normalnya hanya ditemukan pada daerah porsio vagina.
Secara mikroskopik terdiri dari sel-sel epitel vagina yang terdeskuamasi, cairan transudasi dari dinding
vagina, sekresi dari endoserviks berupa mukus, sekresi dari saluran yang lebih atas dalam jumlah
bervariasi serta mengandung berbagai mikroorganisme terutama Lactobacillus doderlein. Memiliki pH <
4,5 yang terjadi karena produksi asam laktat oleh Lactobacillus dari metabolisme glikogen pada sel epitel
vagina.
Leukorrhea fisiologis terdapat pada keadaan sebagai berikut :
Bayi baru lahir sampai dengan usia 10 hari, hal ini disebabkan pengaruh estrogen di plasenta terhadap
uterus dan vagina bayi.
Premenarche, mulai timbul pengaruh estrogen
Saat sebelum dan sesudah haid
Saat atau sekitar ovulasi, keadaan sekret dari kelenjar pada serviks uteri menjadi lebih encer
Adanya rangsangan seksual pada wanita dewasa karena pengeluaran transudasi dinding vagina
Pada kehamilan, karena pengaruh peningkatan vaskularisasi dan bendungan di vagina dan di daerah
pelvis
Stress emosional
Penyakit kronis, penyakit saraf, karena pengeluaran sekret dari kelenjar serviks uteri juga bertambah
Pakaian (celana dalam ketat, pemakaian celana yang jarang ganti, pembalut)
Leukorrhea yang disebabkan oleh gangguan kondisi tubuh, seperti keadaan anemia, kekurangan gizi,
kelelahan, kegemukan, dan usia tua > 45 tahun
Leukorrhea Patologis
Leukorrhea dikatakan tidak normal jika terjadi peningkatan volume (khususnya membasahi pakaian), bau
yang khas dan perubahan konsistensi atau warna. Penyebab terjadinya leukorrhea patologis bermacammacam, dapat disebabkan oleh adanya infeksi (oleh bakteri, jamur, protozoa, virus) adanya benda asing
dalam vagina, gangguan hormonal akibat menopause dan adanya kanker atau keganasan dari alat
kelamin, terutama pada serviks.
2.4 Etiologi
Leukorrhea Fisiologis
Yaitu sekret dari vagina normal yang berwarna jernih atau putih, menjadi kekuningan bila kontak dengan
udara yang disebabkan oleh proses oksidasi. Normalnya hanya ditemukan pada daerah porsio vagina.
Secara mikroskopik terdiri dari sel-sel epitel vagina yang terdeskuamasi, cairan transudasi dari dinding
vagina, sekresi dari endoserviks berupa mukus, sekresi dari saluran yang lebih atas dalam jumlah
bervariasi serta mengandung berbagai mikroorganisme terutama Lactobacillus doderlein. Memiliki pH <
4,5 yang terjadi karena produksi asam laktat oleh Lactobacillus dari metabolisme glikogen pada sel epitel
vagina.
Leukorrhea fisiologis terdapat pada keadaan sebagai berikut :

Bayi baru lahir sampai dengan usia 10 hari, hal ini disebabkan pengaruh estrogen di plasenta terhadap
uterus dan vagina bayi.
Premenarche, mulai timbul pengaruh estrogen

Saat sebelum dan sesudah haid


Saat atau sekitar ovulasi, keadaan sekret dari kelenjar pada serviks uteri menjadi lebih encer
Adanya rangsangan seksual pada wanita dewasa karena pengeluaran transudasi dinding vagina
Pada kehamilan, karena pengaruh peningkatan vaskularisasi dan bendungan di vagina dan di daerah
pelvis
Stress emosional
Penyakit kronis, penyakit saraf, karena pengeluaran sekret dari kelenjar serviks uteri juga bertambah
Pakaian (celana dalam ketat, pemakaian celana yang jarang ganti, pembalut)
Leukorrhea yang disebabkan oleh gangguan kondisi tubuh, seperti keadaan anemia, kekurangan gizi,
kelelahan, kegemukan, dan usia tua > 45 tahun

Leukorrhea Patologis
Leukorrhea dikatakan tidak normal jika terjadi peningkatan volume (khususnya membasahi pakaian), bau
yang khas dan perubahan konsistensi atau warna. Penyebab terjadinya leukorrhea patologis bermacammacam, dapat disebabkan oleh adanya infeksi (oleh bakteri, jamur, protozoa, virus) adanya benda asing
dalam vagina, gangguan hormonal akibat menopause dan adanya kanker atau keganasan dari alat
kelamin, terutama pada serviks.
1. INFEKSI
Penyebab leukorrhea terbanyak adalah infeksi pada vagina (vaginitis) dan seviks (servisitis). Ada atau
tidaknya bau, gatal dan warna dapat membantu menemukan etiologinya. Sekret yang disebabkan oeh
infeksi biasanya mukopurulen, warnanya bervariasi dari putih kekuningan hingga berwarna kehijauan.
Vaginitis paling sering disebabkan oleh Candida spp., Trichomonas vaginalis, Vaginalis bakterialis.
Sedangkan servisitis paling sering disebabkan oleh Chlamidia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae.
Selain itu penyebab infeksi yang lain adalah infeksi sekunder pada luka, abrasi (termasuk yang
disebabkan oleh benda asing), ataupun terbakar.
a. Chlamydia trachomatis
Chlamydia trachomatis merupakan salah satu dari empat spesies genus chlamydia yang merupakan
bakteri khusus yang hidup sebagai parasit intrasel. Chlamydia trachomatis adalah infeksi bakteri menular
seksual yang ditemukan diseluruh dunia. Chlamydia trachomatis bersifat dimorfik yaitu organisme ini
terdapat dalam dua bentuk, dalam bentuk infeksiosa, Chlamydia trachomatis merupakan sferoid
berukuran kecil, tidak aktif secara metabolis, dan mengandung DNA dan RNA serta di sebut badan
elementer. Sferoid-sferoid ini memperoleh akses ke sel penjamu melalui endositosis dan setelah berada
didalam berubah menjadi organisme yang secara metabolis aktif yang bersaing dengan sel penjamu
memperebutkan nutrien. Organisme ini memicu timbulnya siklus replikasi
dan setelah kembali memadat menjadi EB sampai sel penjamu pecah,
terjadi ratusan EB untuk menginfeksi sel-sel sekitarnya. Chlamydia
trachomatis memiliki afinitas terhadap epitel uretra, serviks, dan
konjungtiva mata. Pada laki-laki uretritis,epididimitis dan prostatitis
adalah manifestasi infeksi tersering. Pada perempuan yang tersering
adalah servisitis, diikuti oleh uretritis, bartolinitis dan akhirnya penyakit
radang panggul.dapat juga menginfeksi faring dan rektum orang yang
melakukan hubungan seks oral atau anal reseptif. Bayi dapat terinfeksi
sewaktu dilahirkan dan mengalami konjungtivitis dan pneumonia. Infeksi
oleh Chlamydia trachomatis tidak menimbulkan imunitas terhadap infeksi
di kemudian hari.

b. Candida albicans
Secara normal dapat ditemukan di mulut, tenggorokan, usus, dan kulit laki-laki dan pada perempuan sehat
sering di jumpai di vagina perempuan asimtomatik. Candida albicans merupakan spesies penyebab pada
lebih dari 80% kasus infeksi kandida pada genitalia. Pertumbuhan berlebihan candida albicans adalah
penyebab tersering vaginitis dan vulvovaginitis. C.tropicalis dan C.glabrata adalah dua spesies lain yang
menyebabkan vulvovaginitis. Secara ketat, kandidiasis tidak dianggap ditularkan secara seksual, namun
Candida albicans dapat dibiak dr penis 20% laki-laki pasangan perempuan yang mengidap vulvovaginitis
kandida rekurens.
Candida albicans bersifat dimorfik, selain ragi-ragi dan pseudohifa, ia juga
bisa menghasilkan hifa sejati. Dalam media agar atau dalam 24 jam pada
suhu 37 C atau pada suhu ruangan, spesies candida menghasilkan koloni
halus, berwarna crem dengan aroma ragi. Dua tes morfologi sederhana
membedakan Candida albicans yang paling patogen dari spesies candida
lainnya yaitu setelah inkubasi dalam serum selama sekitar 90 menit pada
suhu 37, sel-sel ragi candida albicans akan mulai membentuk hifa sejati
atau tabung benih, dan pada media yang kekurangan nutrisi, candida
albicans menghasilkan chlamydospora bulat dan besar.

c. Gardnerella vaginalis
Gardnerella vaginalis pada keadaan normal ditemukan dalam saluran pernapasan. Namun, bakteri ini
terdapat pada kira-kira 30% flora normal vagina wanita normal. Organisme ini merupakan basil gram
negatif yang biasanya ditemukan bersamaan dengan keberadaan bakteri anaerob. Mungkin terjadi
penularan melalui hubungan seksual, karena 90% laki-laki terinfeksi.
Menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang dianggap
sebagai bagian dari mikroorganisme normal dalam vagina karena sering
ditemukan. Bakteri ini biasanya mengisi penuh sel epitel vagina dengan
membentuk bentukan khas dan siebut dengan clue cell. Gardnerella
menghasilkan asam amino yang diubah menjadi senyawa amin yang
menimbulkan bau amis seperti ikan. Cairan vagina tampak warna keabuabuan.
d. Human papillomavirus
Salah satu anggota grup papilovirus, dapat menyebabkan kondiloma akuminata.
Virus ini ditularkan secara seksual umumnya mengenai kedua pasangan dan
menyerang kelompok umur yang sama dengan penyakit lainnya.
HPV diketahui sebagai penyebab kanker kongenital, termasuk karsinoma serviks.
Papillomavirus menggambarkan konsep bahwa strain virus alamiah bisa berbeda
dalam potensi onkogenik. Yang paling sering di temukan HPV-16 atau HPV-18,
walaupun beberapa kanker mengandung DNA dari HPV tipe 31 atau tipe 45.
Adalah suatu pathogen DNA yang menyebabkan timbulnya berbagai tumor jinak,
(kutil), dan beberapa lesi pramaligna dan maligna. Ditandai dengan kutil-kutil yang kadang sangat banyak
dan dapat bersatu membentuk jengger ayam yang berukuran besar. Cairan di vagina sering berbau tanpa
rasa gatal.
Virus ini mampu berikatan dengan beragam sel dan subtype-subtipe tertentu, memperlihatkan preferensi
untuk tempat-tempat anatomis tertentu. Infeksi HPV dapat menyebabkan kanker serviks, penis dan anus.
HPV tipe-6 dan 11 merupakan penyebab utama kutil genital dan tidak berkaitan dengan keganasan.
HPV sangat menular yang sering terjadi di amerika. Penularan HPV genital hanya semata-mata melalui
hubungan kelamin, walaupun autoinokulasi dan penularan melalui fomite juga dapat terjadi. Infeksi dapat

di tularkan kepada neonates saat persalinan. Factor resiko terbesar untuk timbulnya HPV adalah jumlah
pasangan seks, merokok, pemakaian kontrasepsi oral (KO) dan kehamilan dapat meningkatkan
kerentanan terhadap infeksi HPV. Sebagian besar infeksi HPV akan sembuh dan tidak terdeteksi setelah 2
tahun. Imunitas yang terbentuk bersifat spesifik-tipe, sehingga individu masih rentan terhadap infeksi oleh
HPV tipe lain.
e. Herpes simplek virus
Terdapat dua tipe virus herpes yang berbeda tipe 1 dan tipe 2. Susunan genom mereka sama dan
menunjukan kesesuaian urutan substansi. Tetapi mereka dapat dibedakan melalui
analisis pembatasan enzim dari DNA virus. Keduanya secara serologis bereaksi
silang, tetapi terdapat beberapa protein unik pada setiap tipe. Cara penularan
mereka berbeda, HSV-1 menyebar melalui kontak, biasanya melibatkan air liur
yang terinfeksi sementara HSV-2 ditularkan secara seksual atau melalui infeksi
genitalia maternal kepada bayi yang baru lahir. Ini menimbulkan gambaran klinis
yang berbeda pada infeksi manusia.
Adalah penyakit virus menular dengan afinitas pada kulit, selaput lendir dan system syaraf.Macamnya
ada HSV-1 dan HSV-2. HSV-1 menyerang daerah orofaring, menyebabkan lesi di wajah, mulut dan
bibir.Walaupun virus ini dapat juga menyebabkan harpes genitalis primer. HSV-2 pterdapat di daerah
genital. HSV tidak dapat di sembuhkan.Pada orang yang imunokompeten.Infeksi biasanya ringan dan
swasirna.
HSV disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan mukosa atau setiap kerusakan di kulit.Virus
herpes tidak dapat hidup di luar lingkungan yang lembab. HSV mempunyai kemampuan untuk
menginvasi beragam sel melalui fusi langsung dengan membrane sel. Untuk dpat masuk ke dalam sel,
tidak memerlukan proses endositosis.
HSV-1 dan HSV-2 menanyebabkan infeksi kronik yang di tandai dengan masa-masa infeksi aktif dan
latensi. Pada infeksi primer aktif, virus menginvasi sel penjamu dan cepat berkembang biak
menghancurkan sel penjamu dan melepaskan lebih banyak virion untuk menginfeksi sel-sel di sekitarnya.
Dan virus menyebar melalui saluran limfe ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan
limfadenopati.Tubuh melakukan imunitas seluler dan humoral yang menahan infeksi tetapi tidak dapat
mencegah kekambuhan infeksi aktif.
Setelah infeksi awal, timbul masa laten. Selama masa ini, virus masuk ke dalam sel-sel sensorik yang
mensyarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi di sepanjang akson untuk bersembunyi di dalam
ganglion radiksdorsalis tempat virus berdiam tanpa menimbulkan sitotosisitas atau gejala pada manusia
pejamunya. Virion dapat menular baik, dalam fase aktif maupun masa laten.
HSV lebih sering di jumpai pada wanita, mungkin karena luas permukaan mukosa saluran genitalia
perempuan yang lebih luas dan terjandinya kerusakan mikro di mukosa selama hubungan
kelamin.Dibandingkan dengan populasi umum, orang yang terinfeksi HIV lebih rentan terhadap infeksi
HSV dan menularkan penyakit ini. Karena infeksi HSV tidak mengancam jiwa dan sering ringan atau
asimtomatik, sehingga banyak orang yang tidak menyadari akan besarnya penyakit ini.
Pada awal infeksi tampak kelainan kulit sepert melepuh terkena air panas yang kemudian pecah dan
menimbulkan luka seperti borok, dan pasien merasa sakit.
f. Trichomonas vaginalis
Trikomiasis disebabkan oleh protozoa parasitik tricomonas
vaginalis. T.vaginalis adalah organisme oval berflagela yang
berukuran setara dengan sebuah leukosit. Organisme terdorong
oleh gerakan-gerakan dari flagelnya. Trigomonad mengikat dan
akhirnya mematikan sel-sel penjamu, memicu respon imun
humoral dan seluler yang tidak bersifat protektif terhadap infeksi
berikutnya. Agar dapat bertahan hidup, trikomonad harus

berkontak langsung dengan eritrosit, dan hal ini dapat mejelaskan mengapa perempuan lebih
rentan terhadap infeksi daripada laki-laki. Trichomonas vaginalis tumbuh paling subur pada pH
antara 4,9 dan 7,5 dengan demikian haid, kehamilan, pemakaian kontrasepsi oral, dan tindakan
sering mencuci vagina merupaka predisposisi timbulnya trikomoniasis. Bayi perempuan yang
lahir dari ibu yang terinfeksi dapat mengalami infeksi Trikomonas vaginalis. Bayi perempuan
rentan karena pengaruh hormon ibu pada epitel vagina bayi. Dalam beberapa minggu, seiring
dengan dimetabolismenya hormon-hormon ibu, epitel vagina bayi menjadi resisten terhadap
Trichomonas vaginalis dan infeksi sembuh bahkan tanpa pengobatan.Infeksi Trichomonas
vaginalis ditularkan hampir secara eksklusif melalui hubungan seksual. Walaupun trikomonad
diketahui dapat bertahan hidup sampai 45menit pada fomite, namun cara penularan fomite ini
sangat jarang terjadi. Risiko terinfeksi Trichomonas vaginalis meningkat seiring dengan jumlah
pasangan seks dan lama aktivitas seksual.

2. NON INFEKSI
a. Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan
Kadang-kadang pada wanita ditemukan cairan dari vagina yang tercampur dengan urine atau feses.
Hal ini dapat terjadi akibat adanya fistel uterovagina, fistel rektovagina yang disebabkan kelainan
kongenital, cedera persalinan, radiasi pada kanker alat kandungan atau akibat kanker itu sendiri.
b. Benda asing
Adanya benda asing seperti kotoran tanah atau biji-bijian pada anak-anak ataupun tertinggalnya
tampon maupun kondom pada wanita dewasa, adanya cincin pesariumpada wanita yang menderita
prolaps uteri serta pemakaian alat kontrasepsi seperti IUD dapat merangsang pengeluaran sekret yang
jika berlebihan menimbulkan luka akan sangat mungkin terjadi infeksi penyerta dari flora normal
dalam vagina.
c. Hormonal
Perubahan hormonal estrogen dan progesteron yang terjadi dapat dikarenakan adanya perubahan
konstitusi dalam tubuh wanitu itu sendiri atau karena pengaruh dari luar misalnya karena obat/cara
kontrasepsi, dapat juga karena penderita sedang dalam pengobatan hormonal.
Estrogen turun vagina menjadi kering dan lapisan sel tipis, kadar glikogen berkurang, dan basil
doderlein berkurang memudahkan infeksi karena lapisan sel epitel tipis, mudah menimbulkan luka
flour albus
d. Kanker
Pada kanker terdapat gangguan dari pertumbuhan sel normal yang berlebihan sehingga
mengakibatkan sel bertumbuh sangat cepat secara abnormal dan mudah rusak, akibatnya terjadi
pembusukan dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah yang bertambah untuk memberikan
makanan dan oksigen pada sel kanker tersebut. Pada Ca cerviks terjadi pengeluaran cairan yang
banyak disertai bau busuk akibat terjadinya proses pembusukan tadi, dan acapkali disertai adanya
darah yang tidak segar.
e. Vaginitis atrofi
Usia pra pubertas, masa laktasi, pasca menopause dan beberapa keadan yang menyebabkan
kurangnya estrogen, akan menyebabkan meningkatnya pH vagina. Naiknya pH akan menyebabkan
pertumbuhan bakteri normal dalam vagina menjadi berkurang, tetapi sebaliknya pH yang meningkat
akan memicu pertumbuhan bakteri patogen di vagina. Kurangnya estrogen akan menyebabkan
penipisan mukosa vagina sehingga mudah terluka dan terinfeksi

f.

Menopouse
Pada wanita yang telah mengalami menopouse terjadi penurunan aktivitas hormonal seperti estrogen
yang berdampak pada penurunan aktivitas organ genital. Seperti vagina menjadi lebih keras,
menipisnya epitel dan kurangnya degenerasi sel epitel. Hal ini dapat mempermudah terjadinya infeksi
yang pada akhirnya dapat menimbulkan keputihan

g. Erosi
Daerah merah sekitar ostium uteri internum yakni epitel kolumner endoserviks terkelupas, mudah
terjadi infeksi penyerta dari flora normal di vagina sehingga timbul fluor albus.
h.Stress
Stressor dapat merangsang sekresi adenokorteks yang berakibat meningkatkan glukokortikoid dan
aktivitas saraf simpatis, diikuti pelepasan katekolamin. Hipotalamus bereaksi mengontrol sekresi
Adrenocorticopin (ACTH) yang berhubungan dengan sekresi hormon peptida termasuk vasopresin,
oksitosin, dan Corticotropin Releasing Factor (CRF). Hormon peptida ini berperan mengatur fungsi
imun. Dalam keadaan stres, sekresi Growth Hormone (GH) juga meningkat, stress yang lama dapat
menekan fungsi gonad. Reseptor spesifik yang terdapat pada neuroendokrin dapat mempengaruhi
aktifitas sel. Sel makrofag yang telah aktif akan melepaskan suatu mediator yaitu interleukin 1 (IL-1).
Mediator ini sangat bermanfaat bagi limfosit lain sehingga dapat membunuh sel-sel asing.

Penelitian dari Dasgupta (2003) melaporkan bahwa ada impuls langsung dari stressor yang mengenai
hipokampus yang diteruskan ke resptor estrogen di vagina melalu Nerve Pathway khusus sehingga
terjadi supresi estrogen yang berakibat pergeseran pH vagina.
h. Penggunaan obat-obatan
Penggunaan obat-obat imunosupresan seperti kortikosteroid dan penggunaan antiseptik genital secara
berlebihan dapat menurunkan kemampuan imunitas organ genital dan juga menyebabkan kematian
flora normal organ genital. Hal ini menyebabkan mudahnya terjadi infeksi daerah vagina yang dapat
menimbulkan keputihan.
2.5 Patofisiologi
A. Sumber Cairan
1. Vulva
Cairan yang berasal dari vulva tidak termasuk sekret vagina akan tetapi penderita mengeluh
keputihan karena tidak mengetahui asal cairan tersebut. Cairan ini dapat berasal dari kelenjar
Bartholin yang mempunyai peranan penting dalam pelumasan introitus dan mukosa vulva berupa
lendir yang meningkat pada aktifitas seksual. Lendir juga berasal dari daerah periurethral tempat
bermuaranya saluran Skene.

2. Vagina
Walau vagina tidak mempunyai kelenjar akan tetapi cairan dapat keluar dari permukaan secara
transudasi. Cairan bersifat asam karena adanya asam laktat yang diproduksi oleh
mikroorganisme terutama bakteri Doderlein.
3. Serviks
Kelenjar mukosa serviks adalah penghasil lendir utama. Lendir jernih, basah, jumlah dan
kekentalannya bervariasi bergantung dari fase siklus menstruasi. Jumlah terbanyak ialah saat
ovulasi, selain karena pengaruh hormon, juga disebabkan oleh hiperemia.
4. Uterus
Kelenjar endometrium yang sebelumnya tidak aktif, baru aktif pada fase post ovulasi dan sedikit
dari cairan ini dapat turun ke vagina, jumlahnya kecil sekali kecuali bila terjadi kelainan dalam
hal vaskularisasi, kelainan faktor endokrin, adanya neoplasma atau infeksi.
5. Tuba
Walau jarang tetapi mungkin terjadi dalam keadaan tertentu misal salpingitis yang kemudian
cairannya masuk uterus dan selanjutnya turun ke vagina.
B. Komponen Sekret Vagina yang Normal
Sekret vagina terdiri dari beberapa komponen yang meliputi air, elektrolit, mikroorganisme, sel-sel epitel
dan senyawa organik seperti asam lemak, protein dan karbohidrat. Komponen-komponen ini bergabung
untuk menghasilkan sekret vagina dengan pH kurang dari 4,5. Sel epitel berasal dari epitel toraks serviks
dan epitel gepeng vagina. Flora vagina yang normal terdiri dari mikroorganisme yang mengkolonisasi
cairan vagina dan sel epitel. Leukosit, meskipun normalnya terdapat pada fase sekresi siklus menstruasi,
biasanya hanya ditemukan dalam jumlah kecil.
C. Pengaruh Hormon Seks
Cairan vagina dan flora mikroba dipengaruhi oleh hormon-hormon seks. Peningkatan volume dan
penurunan viskositas cairan vagina terjadi setelah ovulasi, dalam hal ini hormon progesteron memegang
peranan. Estrogen meningkatkan kadar glukosa dalam cairan vagina. Tidak jelas apakah estrogen
meningkatkan pergantian glikogen atau kandungan glikogen sel-sel epitel, yang kemudian dapat
mempengaruhi jenis organisme yang mengkolonisasi epitel. Sehingga wanita premenarche dan pasca
menopause lebih banyak mempunyai bakteri anaerob daripada wanita menstruasi. Wanita dalam masa
reproduksi mempunyai lebih banyak bakteri fakultatif yang sebanding termasuk laktobasilus daripada
wanita dengan kadar estrogen rendah.
D. Pengaruh pH dan Glukosa atas Flora Vagina
Dua faktor lain yang mempengaruhi jenis organisme yang terdapat dalam flora vagina adalah pH dan
terdapatnya glukosa. Kandungan glikogen epitel vagina pasti meningkat pada wanita yang menstruasi
(dalam masa reproduksi) dibandingkan wanita yang tidak dalam masa reproduksi. Kandungan asam
laktat dalam vagina menimbulkan pH yang sangat asam (kurang dari 4,5). Asam laktat diproduksi tidak
hanya oleh metabolisme laktobasilus yang menggunakan glukosa sebagai substrat tetapi juga oleh
metabolisme bakteri lain yang menggunakan glikogen sebagai substrat dan oleh metabolisme sel-sel
epitel vagina yang juga menggunakan glikogen sebagai substrat. Kemudian pH rendah ini menyokong
pertumbuhan organisme asidofilik seperti laktobasilus. Terdapatnya laktobasilus mungkin menjadi pusat
pembatasan pertumbuhan bakteri lainnya. Kolonisasi laktobasilus vagina yang berat menghambat
pertumbuhan organisme lain melalui metabolisme sendiri dengan mempertahankan pH yang rendah
dengan menggunakan glukosa untuk menghasilkan asam laktat, dengan memproduksi hidrogen peroksida
yang menghambat pertumbuhan bakteri anaerob, dan dengan menggunakan glukosa tersebut
memusnahkan organisme lain karena substrat untuk metabolismenya telah dipergunakan. Di antara
wanita pasca menopause, kandungan glikogen sel yang rendah karena pengurangan kadar estrogen
diperkirakan bertanggung jawab terhadap peningkatan pH vagina. Pada lingkungan pH yang tinggi ini

efek penghambatan dan persaingan laktobasilus dihilangkan dengan demikian organisme-organisme lain
terutama yang anaerob akan berproliferasi.
E. Mikro-Ekosistem Epitel Vagina
Sel-sel epitel mempunyai tempat bagi perlekatan bakteri dan kemampuan bakteri tertentu untuk
menempati tempat tersebut berbeda-beda di antara pasien yang satu dengan lainnya. Beberapa wanita
sangat rentan terhadap infeksi karena selnya mengandung tempat yang mudah dilekati bakteri. Flora
normal yang menempel pada sel-sel epitel vagina dan merupakan mikro-ekosistem epitel vagina akan
menghambat pertumbuhan organisme patologik yang berlebihan dengan paling sedikit dua mekanisme.
Pertama flora normal pasti menggunakan kedua zat gizi substrat yaitu glukosa dan glikogen. Kedua
dengan menghasilkan produk metabolik yang menghambat penempelan dan proliferasi organisme yang
berpotensi patogen. Analog dengan mikro flora oral, vagina mungkin mengandung banyak ekosistem
mikroba tersendiri, yang bervariasi dalam jarak beberapa milimeter di dalam epitel vagina.
F. Mikroorganisme yang Terdapat dalam Sekret Vagina yang Normal
Organisme yang ditemukan pada sekret vagina dalam konsentrasi setinggi 10 satuan pembentukkoloni/mm3 cairan. Konsentrasi organisme anaerob biasanya kira-kira 5 kali konsentrasi organisme
aerob. Rata-rata 5-10 organisme ditemukan dari vagina, meskipun pengambilan bahan contoh ulangan
dapat menemukan lebih banyak bakteri. Organisme fakultatif yang paling menonjol adalah spesies
laktobasilus, korinebakteria, streptokokus, stafilokokus epidermis dan Gardnerella vaginalis. Sebenarnya
semua wanita paling sedikit mempunyai satu organisme fakultatif dan salah satu organisme fakultatif ini
dapat ditemukan pada 40-80% wanita. E. coli, merupakan organisme koliformis virulen yang tersering
ditemukan, dapat ditemukan dari hanya kira-kira 20% wanita dan pada wanita inipun hanya terdapat
secara sepintas. Organisme anaerob yang paling menonjol adalah peptostreptokokus, peptokokus,
laktobasilus anaerob, eubakteria; Bacteroides sp., yang ditemukan secara keseluruhan atau sendiri-sendiri
pada 20-60% wanita. Candida albicans, organisme jamur tersering ditemukan, terdapat 5-10% wanita.
Mycoplasma hominis terdapat pada 20-50% dan Ureaplasma urealyticum terdapat pada 50-70% wanita
asimtomatik yang aktif berhubungan seksual. Jadi sulit sekali menentukan kapan keadaan disebut
patologis bila hanya berdasarkan ditemukannya suatu jenis kuman tertentu.
G. Mekanisme Infeksi Vagina
Jika keseimbangan kompleks mikroorganisme berubah, maka organisme yang berpotensi patogen, yang
merupakan bagian flora normal misalnya C. albicans pada kasus monilia serta G. vaginalis dan bakteri
anaerob pada kasus vaginitis nonspesifik, berproloferasi sampai suatu konsentrasi yang berhubungan
dengan gejala. Pada mekanisme infeksi lainnya, organisme yang ditularkan melalui hubungan seksual
dan bukan merupakan bagian flora normal seperti Trichomonas vaginalis dan Neisseria gonorrhoeae
dapat menimbulkan gejala. Gejala yang timbul bila hospes meningkatkan respon peradangan terhadap
organisme yang menginfeksi dengan menarik leukosit serta melepas prostaglandin dan komponen respon
peradangan lainnya. Gejala ketidaknyamanan dan pruritus vagina berasal dari respon peradangan vagina
lokal terhadap infeksi T. vaginalis dan C. albicans. Organisme tertentu yang menarik leukosit termasuk
T. vaginalis, menghasilkan sekret purulen. Di antara wanita dengan vaginitis nonspesifik, baunya
disebabkan oleh terdapatnya amina yang dibentuk sebagai hasil metabolisme bakteri anaerob. Amina
tertentu, khususnya putresin dan kadaverin, sangat berbau busuk. Lainnya seperti histamin dapat
menimbulkan ketidaknyamanan oleh karena efek vasodilatasi lokal. Produk metabolisme lain yang
dihasilkan pada wanita dengan non spesifik vaginitis seperti propionat dan butirat dapat merusak sel-sel
epitel dengan cara yang sama seperti infeksi ginggiva. Eksudat serviks purulenta tersering disebabkan
oleh N. Gonorrhoeae, C. Trachomatis atau Herpesvirus hominis, karena organisme penginfeksi ini
menarik leukosit. Adanya AKDR dapat menimbulkan endometritis ringan dan atau servisitis, tempat
leukosit dikeluarkan ke dalam vagina melalui serviks.
Patofisiologi Keputihan

Pada keadaan normal, cairan/sekret yang keluar dari vagina wanita dewasa sebelum menopause terdiri
dari sel epitel vagina (terutama yang paling luar/superfisial yang terkelupas dan dilepaskan ke dalam
rongga vagina), beberapa sel darah putih (leukosit), cairan transudasi dari dinding vagina, sekresi dari
endoserviks berupa mukus, sekresi darri saluran yang lebih atas dalam jumlah yang bervariasi serta
mengandung berbagai organisme terutama Lactobasilus Doderlein (batang gram positif, flora vagina
terbanyak); beberapa jenis bakteri lain kokus seperti Streptokokus dan Stapilokokus, dan Eschericia coli.
Peranan basil doderlein dianggap menekan pertumbuhan mikroorganisme patologis karena basil
Doderlein mempunyai kemampuan mengubah glikogen dari epitel vagina yang terlepas menjadi asam
laktat, sehingga vagina tetap dalam keadaan asam dengan pH 3,0-4,5 pada wanita dalam masa reproduksi.
Suasana asam inilah yang mencegah tumbuhnya mirkoorganisme patologis.

Bila terjadi suatu ketidakseimbangan suasana flora vagina yang disebabkan oleh beberapa faktor maka
terjadi penurunan fungsi basil Doderlein dengan berkurangnya jumlah glikogen karena fungsi proteksi
basil Doderlein berkurang maka terjadi aktivitas dari mikroorganisme patologis yang selama ini ditekan
oleh flora normal vagina. Progresifitas mikroorganisme patologis secara klinis akan memberikan suatu
reaksi inflamasi di daerah vagina. Sistem imun tubuh akan bekerja membantu fungsi dari basil Doderlein
sehingga terjadi pengeluaran lekosit PMN maka terjadilah fluor albus

2.6 Manifestasi
Gejala klinis Kandidiosis Vulvovaginal (KV)
Duh tubuh vagina disertai gatal pada vula
Disuria eksternal dan dipareunia superfisial
Pada pemeriksaan tampak vulva eritem, edem dan lecet
Pada pemeriksaan spekulum tampak duh tubuh vagina dengan jumlah yang bervariasi, konsistensi
dapat cair atau seperti susu pecah
Pada kasus yang lebih berat pemeriksaan inspekulo menimbulkan rasa nyeri pada penderita. Mukosa
vagina dan ektoserviks tampak eritem, serta pada dinding vagina tampak gumpalan putih seperti keju.
Pemeriksaan pH vagina berkisar 4-4,5
Infeksi Protozoa: Trichomoniasis
Gejala klinis
Asimtomatis pada sebagian wanita penderita trichomoniasis

Bila ada keluhan, biasanya berupa cairan vagina yang banyak, sekitar 50% penderita mengeluh bau
yang tidak enak disertai gatal pada vulva dan dispareunia.
Pada pemeriksaan, sekitar 75% penderita dapat ditemukan kelainan pada vulva dan vagina. Vulva
tampak eritem, lecet dan sembab. Pada pemasangan spekulum terasa nyeri, dan dinding vagina
tampak eritem
Sekitar 2-5% serviks penderita tampak gambaran khas untuk trichomoniasis, yaitu berwarna kuning,
bergelumbung, biasanya banyak dan berbau tidak enak
Pemeriksaan pH vagina >4,5

Infeksi Bakteri: Vaginosis Bakterial (VB)


Vaginosis bakterial merupakan sindroma atau kumpulan gejala klinis akibat pergeseran lactobacilli yang
merupakan flora normal vagina yang dominan oleh bakteri lain, seperti Gardnerella vaginalis, Prevotella
spp, Mobilancus spp, Mycoplasma spp dan Bacteroides spp. Vaginosis bakterial merupakan penyebab
vaginitis yang sering ditemukan terutama pada wanita yang masih aktif secara seksual, namun demikian
Vaginosis bakterial tidak ditularkan melalui hubungan seksual.
Gejala klinis
Asimtomatik pada sebagian penderita vaginosis bakterialis
Bila ada keluhan umumnya berupa cariran yang berbau amis seperti ikan terutama setelah melakukan
hubungan seksual
Pada pemeriksaan didapatkan jumlah duh tubuh vagina tidak banyak, berwarna putih, keabu-abuan,
homogen, cair, dan biasanya melekat pada dinding vagina
Pada vulva atau vagina jarang atau tidak ditemukan inflamasi
Pemeriksaan pH vagina >4,5 , penambahan KOH 10% pada duh tubuh vagina tercium bau amis
(whiff test)
Pada sediaan apus vagina yang diwarnai dengan pewarnaan gram ditemkan sel epitel vagina yang
ditutupi bakteri batang sehingga batas sel menjadi kabur (clue cells
Kandidosis Vulvovaginalis Trichomoniasis Vaginosis
Bakterial
PENYEBAB
C.albicans
T.vaginalis
G.vaginalis
Bakteri anaerob
Mycoplasma
KELUHAN
bau duh tubuh
Bau asam
Bau
Bau amis
vagina
lecet pada vulva
+
+
Jarang
iritasi pada vulva
+
+
Jarang
dispareunia
+
+
Jarang
GEJALA
Vulvitis/vaginitis
+
+
Jarang
Duh tubuh vagina
Jumlah
Sedikit-sedang
Banyak
Sedang
Warna
Putih
Kuning
Putih Keabuan
konsistensi
Encer/menggumpal/cheesy
Encer/berbusa
Encer/berbusa.
plaques
purulen
Homogen, tipis,
melekat pada
dinding vagina
DIAGNOSIS
pH vagina
> 4,5
> 4,5
4,5
Whiff test
seringkali
(+)
(+)
(-)

Mikroskopis
KOH 10%

Bentuk ragi/sel tunas


Pseudohifa bentuk ragi
(+)

Gram

NaCl

Gerakan
Trichomonas (+)
Banyak sel
PMN

Clue cells,
PMN sedikit,
lactobacilli
sedikit (-)

2.7 Diagnosis dan diagnosis banding

Diagnosis penyebab leukorea dapat dicari dengan memperoleh:


a. Anamnesis
Dengan anamnesis harus terungkap apakah lekore ini termasuk fisiolgis atau patologis. Selain
disebabkan karena infeksi harus difikirkan juga kemungkinan ada benda asing atau neoplasma.
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan speculum harus diperhatikan sifat cairannya seperti kekentalan, warna, bau
serta kemungkinan adanya benda asing, ulkus dan neoplasma (kelompok khusus). Pemeriksaan
dalam dilakukan setelah pengambilan sediaan untuk pemeriksaan laboratorium
c. Pemeriksaan laboratorium
Dibuat sediaan basah NaCl 0,9% fisiologis untuk trikomoniasis, KOH 10% untuk kandidias,
pengecatan gram untuk bakteri penyebab gonore. Pemeriksaan tambahan dilakukan bila ada
kecurigaan keganasan. Kultur dilakukan pada keadaan klinis ke arah gonore tetapi hasil
pemeriksaan gram negatif. Pemeriksaan serologis dilakukan bila kecurigaan ke arah klamidia.
Diagnosis penyebab infeksi:
1. Trikomoniasis
Anamnesis: sering tidak menunjukkan keluhan, kalau ada biasanya berupa duh tubuh
vagina yang banyak dan baerbau maupun dispareunia, perdarahan pasca coitus dan
perdarahan intermestrual.
Jumlah leukorea banyak, berbau, menimbulkan iritasi dan gatal. Warna sekret putih,
kuning atau purulen. Konsistensi homogen, basah, frothy atau berbusa (foamy). Terdapat
eritem dan edema pada vulva disertai dengan ekskoriasi. Sekitar 2-5% tampak strawberry
cervix yang sangat khas pada trichomonas.
Laboratorium: pH>4,5 dan Sniff test (+)
Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan larutan garam fisiologis terlihat
pergerakan trichomonas berbentuk ovoid, ukuran lebih besar dari PMN dan mempunyai
flagel, leukosit (+) dan clue cell dapat (+)

2. Kandidosis vulvovaginal
Anamnesis: keluhan panas, atau iritasi pada vulva dan keputihan yang tidak berbau. Rasa
gatal/iritasi disertai keputihan tidak berbau atau berbau asam. Keputihan bisa banyak,
putih keju atau seperti kepala susu/krim, tetapi kebanyakan seperti susu pecah. Pada
dnding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju (cottage cheeses). Pada vulva/dan
vagina terdapat tanda-tanda radang, disertai maserasi, psuedomembran, fissura dan lesi
satelit papulopustular.
Laboratorium: pH vagina<4,5 dan Whiff test (-)
Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan KOH 10% atau dengan pewarnaan
gram ditemukan blastopora bentuk lonjong, sel tunas, pseudohifa dan kadang kadang hifa
asli bersepta.
3. Vaginosis bacterial
Anamnesis: Mempunyai bau vagina yang khas yaitu bau amis terutama waktu
berhubungan seksual, namun sebagian besar dapat asimtomatik
Keputihan dengan bau amis seperti ikan. Sekret berlebihan, banyaknya sedang sampai
banyak, homogen, warna putih atau keabu-abuan, melekat pada dinding vagina. Tidak
ada tanda-tanda inflamasi.
Laboratorium:pH >4,5 biasanya berkisar antara 5-5,5 dan Whiff test (+)
Mikroskopik: clue cell (+) jarang terdapat leukosit
4. Servisitis Gonore
Anamnesis: Gejala subjektif jarang ditemukan. Pada umumnya wanita datang berobat
kalau sudah ada komplikasi. Sebagian besar penderita ditemukan pada pemeriksaan
antenatal atau pemeriksaan keluarga berencana
Duh tubuh serviks yang mukopurulen. Serviks tampak eritem, edema, ektopi dan mudah
berdarah pada saat pengambilan bahan pemeriksaan.
Laboratorium: kultur
Mikroskopik: Pemeriksaan sedian langsung dengan pengecatan gram ditemukan
diplokokus gram negatif, intraseluler maupun ekatraseluler.
5. Klamidiasis
Anamnesis: gejala sering tidak khas, asimtomatik, atau sangat ringan
Eksudat seviks mukopurulen, erosi seviks, atau folikel-folikel kecil (microfollicles)
Laboratorium: pemeriksaan serologis untuk deteksi antigen melalui ELISA
Mikroskopik: dengann pengecatan giemsa akan ditemukan badan elementer dan badan
retikulat
Test PAPsmear
Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV (human papiloma virus) dan
prakanker cervix. Ketepatan sitologinya kurang lebih 90% pada dysplasia keras (karsinoma in
situ) dan 76% pada dysplasia ringan/sedang.
PAPsmear merupakan tes skrining untuk mendeteksi dini perubahan atau abnormalitas dalam
serviks sebelum sel-sel tersebut menjadi kanker.

Kanker leher rahim merupakan jenis kanker yang sering terjadi pada wanita, juga merupakan
penyebab kematian nomor satu dari jenis kanker yang menyerang wanita. Penyebabnya yaitu
adanya perubahan gen mikroba seperti; virus HPV (human papilloma virus), radiasi atau
pencemaran bahan kimia.Kanker leher rahim stadium dini yang cepat ditangani dapat sembuh
100%.
Diagnoosis banding
a. Jamur Candida
Warnanya putih susu, kental, berbau agak keras, disertai rasa gatal pada vagina. Akibatnya, mulut vagina menjadi
kemerahan dan meradang. Biasanya, kehamilan, penyakit kencing manis, pemakaian pil KB, dan rendahnya daya
tahan tubuh menjadi pemicu. Bayi yang baru lahir juga bisa tertular keputihan akibat Candida karena saat
persalinan tanpa sengaja menelan cairan ibunya yang menderita penyakit tersebut.
b. Parasit Trichomonas Vaginalis
Ditularkan lewat hubungan seks, perlengkapan mandi, atau bibir kloset. Cairan keputihan sangat kental, berbuih,
berwarna kuning atau kehijauan dengan bau anyir. Keputihan karena parasit tidak menyebabkan gatal, tapi liang
vagina nyeri bila ditekan.
c. Kuman (bakteri)
Bakteri Gardnella-Infeksi ini menyebabkan rasa gatal dan mengganggu. Warna cairan keabuan, berair, berbuih, dan
berbau amis. Juga menyebabkan peradangan vagina tak spesifik. Biasanya mengisi penuh sel-sel epitel vagina
berbentuk khas clue cell. Menghasilkan asam amino yang akan diubah Menjadi senyawa amin bau amis,berwarna
keabu-abuan.Beberapa jenis bakteri lain juga memicu munculnya penyakit kelamin.Gonococcus, atau lebih dikenal
dengan nama GO. Warnanya kekuningan, yang sebetulnya merupakan nanah yang terdiri dari sel darah putih yang
mengandung kuman Neisseria gonorrhoea. Kuman ini mudah mati setelah terkena sabun, alkohol, deterjen, dan
sinar matahari. Cara penularannya melalui senggama..
Keputihan akibat infeksi virus juga sering ditimbulkan penyakit kelamin, seperti condyloma, herpes, HIV/AIDS.
Condyloma ditandai tumbuhnya kutil-kutil yang sangat banyak disertai cairan berbau. Ini sering pula menjangkiti
wanita hamil. Sedang virus herpes ditularkan lewat hubungan badan. Bentuknya seperti luka melepuh, terdapat di
sekeliling liang vagina, mengeluarkan cairan gatal, dan terasa panas. Gejala keputihan akibat virus juga bisa
menjadi faktor pemicu kanker rahim.
e. Chlamydia trachomatis, kuman ini sering menyebabkan penyakit mata
trakhoma. Ditemukan di cairan vagina dengan pewarnaan Diemsa.
f. Treponema pallidium,
adalah penyebab penyakit kelamin sifilis. Penyakit ini dapat terlihat sebagai kutil-kutil kecil di liang senggama dan
bibir kemaluan (Mims, 2004).
2.8 Tatalaksana

Tujuan pengobatan:
- Menghilangkan gejala
- Memberantas penyebabrnya
- Mencegah terjadinya infeksi ulang
- Pasangan diikutkan dalam pengobatan
- Fisiologis: tidak ada pengobatan khusus, penderita diberi penerangan untuk
menghilangkan kecemasannya
Candida albicans
Topikal:
-

Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu

Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari

Mikonazol nitrat 2% 1 x ssehari selama 7 14 hari


Sistemik:

Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari

Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari

Nimorazol 2 gram dosis tunggal

Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal

Pasangan seksual dibawa dalam pengobatan

Chlamidia trachomatis
-

Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari (Illustrated of textbook gynecology)

Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral

Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila

Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14 hari

Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari

Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama 10 hari

Gardnerella vaginalis
-

Metronidazole 2 x 500 mg

Metronidazole 2 gram dosis tunggal

Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari

Pasangan seksual diikutkan dalam pengobatan

Neisseria gonorhoeae
-

Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau

Amoksisiklin 3 gr im

Ampisiillin 3,5 gram im atau

Ditambah: Doksisiklin 2 x 100mg oral selama 7 hari atau tetrasiklin 4 x 500 mg oral
selama 7 hari

Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari

Tiamfenikol 3,5 gram oral

Kanamisin 2 gram im

Ofloksasin 400 mg/oral

Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase


-

Seftriaxon 250 mg im atau spektinomisin 2 mg im atau ciprofloksasin 500 mg oral

Ditambah: Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari atau tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7
hari.

Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari

Virus herpeks simpleks


Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas
-

Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari

Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari

Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi sekunder


2.9 Pencegahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menjaga kebersihan daerah vagina


Membilas vagina dengan cara yang benar
Jangan suka bertukar-tukar celana dalam bersamaan dengan teman wanita lainnya
Jangan menggunakan handuk bersamaan.
Lebih hati-hati dalam menggunakan toilet umum
Bagi wanita yang sudah melakukan hubungan seksual, tiap tahun melakukan PAPsmear unt
uk mendeteksi perangai sel-sel yang ada di leher rahim
2.10 Komplikasi

Komplikasi yang sering adalah bila kuman telah menaiki panggul sehingga terjadi penyakit yang
dikenal dengan radang panggul.
Komplikasi jangka panjang yang lebih mengerikan, yaitu kemungkinan wanita tersebut akan
mandul akibat rusak dan lengketnya organ-organ dalam kemaluan terutama tuba falopi dan juga
dapat menyebabkan infertilitas. Komplikasi juga dapat terdapat pada pria yaitu komplikasi non
spesifik dapat menjalar ke prostat dan menimbulkan infeksi buah zakar dan saluran kemih.
Terinfeksinya kelenjar yang ada di dalam bibir vagina. Bisul kelenjar tersebut harus disedot
keluar karena tidak dapat disembukan dengan obat. Komplikasi pada wanita sering menimbulkan
radang saluran telur. Infeksi nonspesifik pada wanita sering tanpa keluhan maupun gejala
2.10
Prognosis
Prognosis baik, baik penyebab bakteri, parasit, dan jamur, hal ini apabila penaganan diaksanakan dengan
cepat dan tepat. Komplikasi dapat terjadi dalam penanganan yang lamban, begitu juga prognosis yang
buruk pada penyebab virus seperti pada HPV dan HSV.
Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon terhadap pengobatan dalam
beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan perawatan kesehatan akan menentukan
pengobatan yang lebih efektif
Vaginosis bakterial mengalami kesembuhan rata rata 70 80% dengan regimen pengobatan
Kandidiasis mengalami kesembuhan rata rata 80 -95 %
Trikomoniasis mengalami kesembuhan rata rata 95 %
Li 3. Pandangan Islam tentang keputihan

Keputihan bisa terjadi dalam keadaan tidak normal, yang umumnya dipicu kuman penyakit dan
menyebabkan infeksi. Akibatnya, timbul gejala-gejala yang sangat mengganggu, seperti
berubahnya warna cairan menjadi kekuningan hingga kehijauan, jumlah berlebih, kental, lengket,
berbau tidak sedap, terasa sangat gatal atau panas. Dalam khazanah Islam, keputihan jenis
ini biasa disebut dengan cairan putih kekuningan (sufrah) atau cairan putih kekeruhan (kudrah).
Terkait dengan kedua hal ini, di kitab shahih Bukhari disebutkan bahwa Sahabat bernama Ummu
Athiyyah radhiallahu anha berkata: Kami tidak menganggap al-kudrah (cairan keruh) dan assufrah (cairan kekuningan) samadengan haidhBerdasarkan hadits tersebut dapat disimpulkan:
1. Hukum orang yang mengalami keputihan tidak sama dengan hukum orang yang mengalami
menstruasi. Orang yang sedang keputihan tetap mempunyai kewajiban melaksanakan shalat
dan puasa, serta tidak wajib mandi.
2. Cairan keputihan tersebut hukumnya najis, sama dengan hukumnya air kencing. Oleh
karenanya, apabila ingin melaksanakan shalat, sebelum mengambil wudhu, harus
istinjak,dan membersihkan badan atau pakaian yang terkena cairan keputihan terlebih
dahulu.