Anda di halaman 1dari 12

Pengukuran Suhu Efek Radiasi

I.

Pendahuluan
Suhu adalah suatu sistem yang dapat diartikan sebagai suatu sifat yang
menentukan bahwa sistem tersebut setimbang termal dengan sistem yang lainnya
atau tidak. Jika dua buah sistem atau lebih berada pada kesetimbangan termal,
maka sistem tersebut akan dikatakan mempunyai suhu yang sama. Pada dasarnya,
suhu berkaitan erat dengan energi kinetik molekul senyawanya.
Suhu juga dapat didefinisikan sebagai kondisi dimana benda (potensial)
yang menentukan suatu perpindahan kalor menuju ataupun dari benda yang lain.
Secara bisa disebut tingkat atau derajat kepanasan atau derajat kedinginan. Suhu
menunjukan derajat panas suatu benda. Mudahnya kita dapat menjelaskan bahwa
semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut.
Secara mikroskopis suhu menunjukan energi yang dimiliki oleh suatu
benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam
bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Semakin tinggi
eneri atom-atom penyusun benda, semakin tinggi pula suhu benda tersebut. Suhu
sering disebut juga dengan istilah temperatur. Dengan naiknya suatu suhu, maka
kecepatan reaksinya akan besar, jadi konversinya akan besar pula.
Secara kualitatif, kita dapat mengetahui bahwa suhu adalah sensasi dingin
atau panasnya suatu benda yang dirasakan ketika menyentuhnya. Jika ditinjau
secara kuantitatif, kita dapat mengetahui dengan
dengan menggunakan
termometer. Kata termometer diambil dari dua kata yaitu thermo yang berarti
panas dan meter yang artinya mengukur ( to measure ). Suhu dapat diukur
menggunakan termometer yang berisi air raksa atau alkohol.
Pengukuran suhu dibagi menjadi dua yaitu metode kontak dan metode nonkontak. Pengukuran suhu dengan metode kontak salah satunya adalah dengan
menggunakan termometer air raksa. Sedangkan, pengukuran suhu dengan metode
non-kontak salah satunya adalah dengan memanfaatkan radiasi. Pada makalah ini
akan dibahas pengukuran suhu dengan efek radiasi.

II.

Pembahasan
A. Radiasi
Radiasi dalam istilah fisika, pada dasarnya adalah suatu cara perambatan
energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium.
Beberapa contohnya adalah perambatan panas, perambatan cahaya, dan
perambatan gelombang radio. Selain radiasi, energi dapat juga dipindahkan dengan
cara konduksi, kohesi, dan konveksi.
Secara garis besar radiasi digolongkan ke dalam radiasi pengion dan radiasi
non-pengion.

Radiasi pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan proses ionisasi
(terbentuknya ion positif dan ion negatif) apabila berinteraksi dengan materi. Yang
termasuk dalam jenis radiasi pengion adalah partikel alpha, partikel beta, sinar
gamma, sinar-X dan neutron. Setiap jenis radiasi memiliki karakteristik khusus.
Yang termasuk radiasi pengion adalah partikel alfa (), partikel beta (), sinar
gamma (), sinar-X, partikel neutron.
Radiasi non-pengion (elektromagnetik) adalah jenis radiasi yang tidak akan
menyebabkan efek ionisasi apabila berinteraksi dengan materi. Radiasi nonpengion tersebut berada di sekeliling kehidupan kita. Yang termasuk dalam jenis
radiasi non-pengion antara lain adalah gelombang radio (yang membawa informasi
dan hiburan melalui radio dan televisi); gelombang mikro (yang digunakan dalam
microwave oven dan transmisi seluler handphone); sinar inframerah (yang
memberikan energi dalam bentuk panas); cahaya tampak (yang bisa kita lihat);
sinar ultraviolet (yang dipancarkan matahari).
Radiasi yang dihasilkan oleh suatu panas disebut Radiasi Termal. Definisi
formal dari radiasi termal adalah radiasi elektromagnetik yang dipancarkan dari
permukaan sebuah objek yang bergantung pada temperatur objek.
B. Radiasi Termal
Radiasi termal dihasilkan ketika energi panas dari partikel bermuatan yang
bergerak dalam atom pada objek diubah menjadi radiasi elektromagnetik pada
permukaan benda. Frekuensi dari gelombang yang dipancarkan radiasi termal
adalah suatu kemungkinan yang hanya bergantung pada temperatur benda.
Hukum Kirchhoff tentang radiasi termal adalah pernyataan umum dalam
menghitung emisi dan absorpsi objek yang dipanaskan. Hukum ini diajukan
oleh Gustav Kirchhoff pada tahun 1859, dibuat berdasarkan hukum keseimbangan
termodinamika.
Setiap permukaan suatu benda dapat memancarkan radiasi termal yang
mempunyai spektrum intensitas bergantung pada suhu dan karakteristik permukaan
benda tersebut. Karakteristik radiasi termal dari permukaan benda mengikuti
hukum kuadrat terbalik dan hukum Stefan-Botlzman (Maddu, 2008).
Frekuensi gelombang yang dipancarkan radiasi termal mengikuti sebuah
distribusi probabilitas yang bergantung hanya pada temperatur. Untuk
sebuah benda hitam sempurna distribusi ini dinyatakan oleh hukum radiasi
Planck. Hukum Wien menyatakan frekuensi yang paling mungkin dari radiasi yang
dipancarkan, dan hukum Stefan-Boltzmann menyatakan intensitas panasnya.
Saat temperatur T > 0 K, semua objek akan mengalami radiasi gelombang
elektromagnetik. Jika benda ini adalah benda hitam sempurna, benda itu akan
memancarkan energi setara dengan energi yang diserapnya berdasarkan persamaan
radiasi benda hitam. Secara umum, jika benda itu bukan benda hitam sempurna,
maka akan meradiasikan sejumlah energi yang memiliki rasio berdasarkan benda
hitam sempurna, yang disebut emisivitas. Objek yang berada pada kesetimbangan
termal dengan radiasi lingkungan akan lebih banyak menyerap energi. Hal ini

menunjukkan bahwa benda hitam sebagai emiter penyerapan radiasi yang baik (
Blatt, 1992 )
Hukum Kirchhoff menyatakan bahwa pada keseimbangan termal, tingkat
emisi suatu benda atau permukaan setara dengan jumlah penyerapannya.
Penyerapan (absorptivitas) yang dimaksud adalah fraksi cahaya (atau energi) yang
diserap suatu benda atau permukaan. Dalam bentuk yang lebih umum, energi ini
harus diintegralkan berdasarkan semua jenis panjang gelombang cahaya dan sudut
datang cahaya. Dalam beberapa kasus, tingkat emisi dan penyerapan hanya dapat
didefinisikan berdasarkan panjang gelombang dan sudut datang tertentu.
Hukum Kirchhoff memiliki kesimpulan bahwa emisivitas tidak bisa melebihi
jumlah energi yang diserap (berdasarkan hukum kekekalan energi), sehingga tidak
mungkin suatu benda memancarkan energi radiasi yang lebih besar dibandingkan
benda hitam sempurna pada kesetimbangan.
Energi yang diemisikan suatu benda berbeda dengan energi yang dipantulkan
benda. Hukum Kirchhoff dinyatakan sebagai, Pemantul energi yang buruk adalah
pemancar energi yang baik. Namun, pemantul energi yang baik merupakan
pemancar energi yang buruk.
C. Emisivitas
Emisivitas adalah rasio energi yang diradiasikan oleh material tertentu dengan
energi yang diradiasikan oleh benda hitam (black body) pada temperatur yang
sama. Ini adalah ukuran dari kemampuan suatu benda untuk meradiasikan energi
yang diserapnya. Benda hitam sempurna memiliki emisivitas sama dengan 1 (e=1)
sementara objek sesungguhnya memiliki emisivitas kurang dari satu. Emisivitas
adalah satuan yang tidak berdimensi. Pada umumnya, semakin kasar dan hitam
benda tersebut, emisivitas meningkat mendekati 1.
Emisivitas bergantung pada faktor diantaranya temperatur, sudut elevasi emisi,
dan panjang gelombang 9 lamda dan radiasi. Sering diasumsikan dalam
dunia teknik bahwa emisivitas tidak bergantung pada panjang gelombang, sehingga
emisivitas konstan. Hal ini dikenal dengan istilah "asumsi benda abu-abu".

Ketika menyinggung tentang permukaan benda yang tidak hitam, deviasi dari
ciri khas benda hitam ditentukan oleh struktur geometri dan kompisisi kimia, dan
mengikuti hukum Kirchoff tentang radiasi termal: emisivitas setara dengan rasio
penyerapan energi (untuk benda pada equilibrium termal), sehingga objek yang
tidak menyerap semua energi cahaya yang meradiasinya tidak akan meradiasikan
energi yang sama banyak dengan benda hitam ideal.
Perpindahan panas secara radiasi terjadi tanpa adanya media yang
menghubungkan antara pengirim radiasi (benda panas) ke penerima radiasi (benda
tidak panas). Sebenarnya, semua benda yang suhunya di atas 0 K akan melepaskan
panasnya secara radiasi ke benda di sekelilingnya, tinggal tergantung, benda mana
yang paling panas, itulah yang akan menjadi pemberi radiasi panas, sementara
yang lebih dingin akan menjadi penerima.
Karena semua benda diatas suhu oK meradiasikan panas, maka basis untuk
melakukan penghitungan perpindahan panas secara radiasi adalah menggunakan
suhu mutlak ( Kelvin).
Besarnya panas yang diradiasikan oleh suatu benda dirumuskan melalui
hukum Stefan-Boltzmann.

Dimana A adalah luas permukaan radiasi, Ts adalah suhu mutlak permukaan


benda yang mengemisikan panas secara radiasi. Konstanta Stefan-Boltzmann
dinyatakan dengan huruf yunani sigma dan besarnya adalah:

Sementara, adalah emisivitas permukaan (emissivity) yang nilainya


bervariasi antara 0 hingga 1. Benda dengan emisivitas 1 disebut dengan black
body.
Pada kasus khusus, dimana sebuah benda (surface, s) dengan luas permukaan
yang relatif kecil dibandingkan permukaan benda yang mengelilinginya
(surrounding, surr), laju perpindahan panas radiasi dapat dirumuskan dengan:

III.

Pengukuran Suhu Efek Radiasi


Pengukuran suhu dengan efek radiasi umumnya menggunakan pirometer.
Sebuah pirometer adalah perangkat non-kontak yang dapat digunakan untuk
menentukan suhu dari permukaan benda.
Pirometer berasal dari Yunani kata untuk api, "" (Pyro), dan meter, yang
berarti untuk mengukur. Pirometer pada awalnya diciptakan untuk menunjukkan
suatu perangkat yang mampu mengukur suhu benda-benda di atas lampu pijar
(yaitu benda terang untuk mata manusia).
Pengukuran suhu efek radiasi memiliki dua metode untuk mengukur radiasi,
yaitu dengan pirometer optis (pirometer pita sempit) dan pirometer radiasi total.
Pirometer optis digunakan untuk mengukur logam panas karena jika alat ini
dikalibrasi dengan baik akan sangat sempurna mengukur temperatur logam diatas
1500 F (816C). Sedangkan pirometer radiasi total dapat digunakan untuk
aplikasi aplikasi dengan benda bergarak atau yang berada pada jarak jauh.

A. Pirometer Optis (Pirometer pita sempit)


Pirometer optis adalah sebuah instrumen pengukuran temperatur yang
menggunakan prinsip radiasi benda panas. Pyrometer optis secara visual
membandingkan tingkat kecerahan permukaan benda dengan referansi sebuah
sumber radiasi tertentu. Benda referensi yang digunakan biasanya berupa filamen
tungsten yang dipanaskan secara elektrik. Di dalam alat ini juga digunakan sebuah
filter warna merah sehingga secara visual didapatkan gelombang tertentu yang
dapat dikomparasi dengan titik referensi. Alat ini dapat menentukan temperatur
permukaan benda dengan angka emisivitas ( ) 1,0.

Gambar 1. Prinsip kerja pirometer optis

Pirometer optik, lebih dikenal dengan nama dissapearing filament pyrometer,


memanfaatkan sifat tampak (kasat mata) dari radiasi yang diemisikan oleh sebuah
benda panas. Radiasinya terfokuskan pada sebuah filamen sehingga baik radiasi
dan filamen dapat dilihat pada lensa mata (gambar 2.55). Filamen dipanaskan oleh
arus listrik sampai filamen dan benda panas terlihat berwarna sama, gambar
filamen lalu menghilang ke dalam latar belakang benda panas. Arus filamen
dengan demikin adalah ukuran temperatur. Filter merah antara lensa mata dan
filamen biasa digunakan untuk mempermudah penyesuaian warna filamen dan
benda panas. Filter merah yang lain dapat memperluas jangkauan pengukuran
instrumen.

Pirometer optik atau disappearing filament pyrometer memiliki jangkauan


pengukuran sekitar 6000C sampai 30000C, akurasi pembacaan sekitar

0,5 %, dan

tidak ada kontak langsung dengan benda panas. Dengan demikian instrumen ini
dapat digunakan untuk aplikasi aplikasi dengan benda bergerak atau yang berada
pada jarak jauh.
Pyrometer optik sangat cocok digunakan untuk mengukur logam panas karena
jika alat ini dikalibrasi dengan baik akan sangat sempurna mengukur temperatur
logam diatas 1500F (816C). Sehingga alat ini sangat ideal untuk digunakan pada
industri industri yang melibatkan proses pemanasan logam seperti boiler,
perlakuan panas untuk logam dan lain sebagainya. Ini dikarenakan sensor serat
optik memiliki bahan isolasi elektrikal. Namun pyrometer ini tidak cocok jika
digunakan untuk mengukur temperatur gas, karena gas panas tidak memancarkan
radiasi secara kasat mata.

Kelas lain dari pyrometer tergantung dari variasi dalam pancaran energi
radiasi monokromatik dengan

temperatur.

Piranti

ini

sering

dinamakan

sebagai pyrometer optis karena mereka biasa melibatkan panjang gelombang hanya
pada bagian gelombang tampak dari spektrum. Kita mengetahui bahwa intensitas
pada beberapa panjang gelombang tertentu adalah sebanding dengan temperatur.
Apabila intensitas dari satu objek cocokdengan yang lain, maka temperaturnya
adalah sama. Dalam pyrometer optis, intensitas dari filamen platinum yang
dipanaskan akan berubah-ubah hingga menjadi cocok dengan objek yang akan
ditentukan temperaturnya. Karena sekarang temperaturnya sama dan temperatur
filamen dikalibrasikan terhadap seuatu setting panas, temperatur dari suatu objek
dapat ditentukan.

Gambar 3.
Suatu pyrometer optis yang cocok dengan intensitas dari
objek yang dipanaskan, filamen yang dikalibrasikan,
biasanya sebagai panjang gelombang dalam merah
Gambar 3 memperlihatkan sistem khusus untuk implementasi dari suatu
pyrometer optis. Dalam gambar tersebut, sistem difokuskan pada objek yang akan
diukur temperaturnya, dimana pem-filter-an dilakukan hanya pada panjang
gelombang yang diinginkan, yang biasanya adalah merah. Pengamat juga melihat
filamen platinum yang ditumpangkan pada citra dari objek. Pada pemanasan
rendah filamen akan terlihat gelap terhadap latar belakang objek, seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 4a. pada saat filamen dipanaskan, akan muncul sebagai
filamen yang terang terhadap latar belakang objek, seperti yang diperlihatkan pada
Gambar 4c. Di suatu tempat dintara nya adalah titik pada saat kecerahan dari
filamen dan objek yang diukur adalah cocok. Pada setting inim filamen tidak
muncul dengan pembandingan latar belakang objek, dan temperatur objek dapat
dibaca dari penghubung filamen pemanas.

Bagan a. Filamen dipanaskan terlalu rendah

Bagan b. Panas filamen di-set tepat

Bagan c. Panas filamen terlalu tinggi

Gambar 4.
Contoh dari penampakan filamen selama
pengesetan pyrometer optis.
Jangkauan dari piranti pyrometer optis ditentukan dalam bagian akhir pada
titik dimana objek menjadi cahaya tampak dalam merah (~500 K) dan secara jelas
dibatasi oleh titik leleh dari platinum pada batas akhir (~3000 K). Akurasi adalah
tipikal pada 5 K hingga 10K yang merupakan fungsi dari operator kesalahan
(error) dalam penyesuaian intensitas dan koreksi emisivitas untuk objek. Piranti
tersebut tidak mudah diadaptasikan untuk mengontrol proses, karena mereka
membutuhkan perbandingan optis yang teliti, biasanya oleh operator manusia.
Aplikasi-aplikasinya lebih menonjol dalam pengukuran spot dimana monitoring
secara konstan atau kontrol temperatur tidak diperlukan.

B. Pirometer Radiasi Total


Pirometer radiasi (juga dikenal sebagai radiasi pyrometers) mengukur radiasi
ini dalam rangka untuk menghitung suhu benda. Tingkat total radiasi emisi per
detik diberikan oleh:
E = KT4

Gambar 5. Grafik Perbandingan TIngkat Emisi dan Panjang Gelombang

Pilihan metode terbaik mengukur radiasi yang dipancarkan tergantung pada


suhu. Pada temperatur rendah, yang puncak dari fungsi kepadatan spektral daya
terletak pada daerah inframerah kisaran (0,72-1.000 m).
Logam panas memancarkan radiasi dengan nilai tertentu yang besarnya
ditangkap oleh pyrometer jenis ini untuk menentukan temperatur logam tersebut.
Pyrometer tipe ini memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi, kepresisian, serta
rentan pembacaan temperatur yang lebih lebar.

Alat ini sangat baik membaca temperatur logam 538oC. Satu kelebihan yang
paling penting dari alat ini adalah tidak membutuhkan kontak langsung dengan
material yang temperaturnya akan diukur dan pembacaan temperatur secara visual,
sehingga ia dipasang di sebuah titik yang tidak terjangkau oleh pandangan
manusia, seperti di dalam furnace boiler.

Instrumen ini mengukur jumlah radiasi yang diemisikan oleh sesuatu benda
panas melalui sebuah elemen resistansi atau termofil (rangkaian beberapa
termokopel).
Pirometer radiasi total memfokuskan radiasi dari benda panas ke dalam
detektor radiasi. Gambar 7. menampilkan bentuk kasar dari sebuah instrumen yang
menggunakan sebuah cermin untuk memfokuskan radiasi pada detektor. Beberapa
bentuk instrumen yang lain menggunakan lensa untuk memfokuskan radiasinya.

Detektor pada umumnya berupa sebuah termofil dengan sambungan


termokopel yang dapat mencapai 20 atau 30 buah, sebuah elemen resistansi,
ataupun sebuah termistor. Detektor ini dikatakan sebagai sebuah detektor broad
band karena dapat mendeteksi radiasi pada pita frekuensi lebar sehingga
keluarannya merupakan penjumlahan dari daya yang diemisikan pada setiap
panjang

gelombangnya,

serta

berbanding

lurus

dengan

pangkat

empat

temperaturnya (hukum stefan-boltzman). Akurasi dari pirometer radiasi total


broadband biasanya sekitar

0,5% dengan rentang pengukuran antara 00C

30000C. Konstanta waktu (ukuran seberapa cepat sistem bereaksi terhadap


perubahan temperatur dan merupakan waktu yang diperlukan untuk mencapai
sekitar 63% nilai akhir) untuk instrumen ini bervariasi antara 0,1 detik bagi
detektor yang hanya tediri dari 1 termokopel atau termistor manik manik kecil,
hingga beberapa detik bagi detektor termofil yang melibattkan banyak termokopel.
Beberapa instrumen menggunakan chopper (pemotong) mekanis berputar uuntuk
memotong radiasi sebelum mengenai detektor. Tujuannya untuk memperoleh

10

keluaran detektor yang berubah ubah mengingat penguatan sinyal akan lebih
mudah jika tegangannya merupakan tegangan bolak balik. Dengan demikian
akan merupakan sebuah keuntungan apabila level radiasinya rendah. Akan tetapi
chopper hanya dapat digunakan untuk detektor yang mempunyai konstanta waktu
yang sangat kecil, sehingga cenderung digunakan untuk detektor, termistor
berbentuk manik manik kecil.

IV.

Tanya dan Jawab


Pertanyaan:
1. Apa saja aplikasi dari pirometer optik dan pirometer radiasi?
2. Apakah pirometer radiasi bisa mengukur suhu tubuh?
3. Mengapa pirometer optik tidak akurat bila terekspos oleh cahaya?
4. Apakah warna filamen filter dipengaruhi oleh suhu objek?
5. Faktor apa yang memengaruhi pengukuran suhu dengan pirometer optik
hanya pada suhu 600 oC 2000 oC?
6. Jarak maksimum dalam pengukuran pirometer radiasi?
7. Apakah dalam pengukuran suhu dengan pirometer radiasi dapat
dipengaruhi oleh objek lain disekitarnya?
8. Apakah dalam pengukuran suhu efek radiasi dapat dipengaruhi oleh radiasi
benda hitam?

Jawaban:
1. Pirometer optik dan radiasi biasanya digunakan pada pabrik, seperti pada
furnace boiler. Dan Pirometer optik sangat baik untuk menguku suhu pada
logam panas (dalam pembuatan logam).
2. Pirometer radiasi bisa mengukur tubuh, karena tubuh juga mengemisikan
radiasi. Tetapi, pengukuran suhu tubuh dengan alat ini tidak baik, karena
radiasinya dapat merusak tubuh.
3. Pirometer optik sangat sensitif terhadap cahaya. Jadi jika dalam mengukur
suhu suatu objek, dan pirometer optik terekspos oleh maka hasilnya tidak
akurat dikarenakan ada gangguan dari cahaya tersebut. Oleh karena itu alat
ini tidak baik jika digunakan pada luar ruangan.

11

4. Ya, jika filamen filter (merah) akan berubah warna akibat menyerap radiasi
yang diemisikan oleh objek yang diukur suhunya.
5. Pirometer optik menyerap radiasi infra merah yang dipancarkan objek.
Radiasi

infra

merah

mencakup

bagian

terbatas

dari

spektrum

elektromagnetik, yakni dari range cahaya tampak 0.78 m sampai 14 m


yang berguna dalam pengukuran suhu. Diatas atau dibawah panjang
gelombang ini level energi sangat rendah, dimana detektor tidak cukup peka
untuk mendeteksi.
6. Jarak maksimum dalam pengukuran menggunakan pirometer yaitu relatif,
karena semakin tinggi suhu suatu objek maka semakin besar radiasi yang
dipancarkan, oleh karena itu jika pirometer dianggap dapat menyerap /
memfokuskan radiasi dan dalam jarak yang aman maka itulah jarak
maksimumnya.
7. Tidak, pirometer radiasi hanya fokus menyerap radiasi objek yang diukur.
8. Tidak, radiasi dari benda hitam (bukan objek yang diukur) tidak
mempengaruhi pengukuran benda yang diukur.

V.

Kesimpulan
Pengukuran suhu efek radiasi didasarkan pada suhu suatu benda yang dapat
ditentukan melalui pengukuran radiasi termal benda itu. Instrumen yang
digunakan yaitu pyrometer optik dan pyrometer radiasi. Pyrometry adalah salah
satu teknik pengukuran suhu tanpa kontak fisik, tetapi suhu fluida dideteksi
dengan mengukur radiasi elektromagnetik. Pada pyrometer optik lensa digunakan
untuk menyatukan (focus) energi radiasi dari bodi, pada pyrometer radiasi total
radiasi energi diterima oleh detector (thermocouple, thermophile), dan diteruskan
ke recorder, sehingga suhu benda tersebut dapat dibaca suhunya.

12