Anda di halaman 1dari 4

Pada prinsipnya, dalam jangka waktu lama cream pemutih memang dapat menghilangkan atau mengurangi

hiperpigmentasi pada kulit. Berkurangnya hiperpigmentasi, maka kulit akan terlihat lebih putih. Zat pengubah
pigmen seperti ini tentu dapat menimbulkan dampak dikemudian hari, sebab ada proses fisiologis normal yaitu
pembentukan pigmen yang diganggu. Penggunaan terus-menerus justru akan menimbulkan pigmentasi dengan
efek permanen. Akhirnya, kulit bisa menjadi lebih hitam dari pada sebelumnya

Biasanya semua pemutih instan akan menimbulkan efek rebound saat pemakaian dihentikan, yaitu memberikan
respon yang berlawanan. Pada awalnya memang terlihat bagus (dalam beberapa hari saja, kulit menjadi lebih
mulus, kenyal, dan lebih putih), akan tetapi saat pemakaian dihentikan kulit akan menjadi gelap dan dapat
timbul flek-flek atau kulit menjadi merah seperti udang rebus, kasar, bahkan mengelupas seperti kulit

Sebagian besar pemutih kulit wajah bekerja dengan menghambat pembentukan melanin melalui jalur inhibisi pada
enzim tironase dan bahkan ada yang bersifat toksik terhadap melanin. Kulit wajah yang lebih putih dan hilangnya
bintik-bintik hitam, bisa diperlihatkan dalam waktu 6 bulan setelah penggunaan. Efek samping dari penggunaan
pemutih kulit, bisa berupa kulit kemerahan dan iritasi, rasa gatal dan terbakar, pengelupasan kulit dan merangsang
terjadinya kanker kulit (Yasmin, 2008). Ada beragam jenis bahan aktif pemutih kulit dengan tingkat efektifitas yang
berbeda-beda. Bahan aktif tersebut antara lain :
Hidrokuinon (HQ) dapat dijumpai dimana saja dan tersedia dalam berbagai kosmetik dan bentuk tanpa resep
lainnya untuk pemutih kulit wajah. Bahan ini dipertimbangkan sebagai salah satu penghambat yang paling efektif
terhadap melanogenesis invito dan invivo. HQ menyebabkan hambatan reversible metabolisme seluler dengan
mempengaruhi sintesis DNA dan RNA. Efek sitotoksis HQ tidak berbatas pada melanosit, tetapi menghambat
metabolisme seluler sel non-melanosit dengan dosis yang lebih tinggi, sehingga HQ dapat dipertimbangkan sebagai
agen sitotoksik melanosit poten dengan sitotoksik melanosit spesifik yang relative tinggi (Counter, 2003).
Hidroquinon Bahan ini termasuk golongan obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter.
Hidroquinon yang banyak dipakai sebagai penghambat pembentukan melanin yang dapat menyebabkan
hiperpigmentasi, padahal melanin berfungsi sebagai pelindung kulit dari sinar ultraviolet, sehingga terhindar dari
resiko
sinar matahari secara langsung, hidroquinon dapat mengakibatkan noda hitam dan benjolan kekuningan pada kulit
yang disebut sebagai okrosinosis yang sifatnya permanen
sebagai akibat terhambatnya produksi melanin kulit yang berfungsi melindungi kulit dari sinar ultraviolet.
oleh karena itu Badan POM menetapkan ambang batas kandungan hidroquinon di bawah 2%(BPOM, 2007). Bahaya
pemakaian obat keras ini tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan rasa
terbakar juga dapat menyebabkan kelainan pada ginjal (Nephropaty), kanker darah (Leukimia) dan kanker sel hati
(Hepaoceluller adenoma) (Yasmin, 2008).
2. Monobenzyl Ether HQ
Monobenzyl Ether Hidroquinon (MBEH) sama dengan HQ yang termasuk agen kimia golongan fenol atau
ketakol. MBEH hamper selalu menyebabkan depigmentasi ireversibel kulit. Sisa MBEH telah ditemukan dalam
desinfektan, germisida, baki hidangan dari karet, selotif dan apron karet. Dalam dermatologi seharusnya dipakai
untuk menghilangkan daerah yang tersisa selain kulit normal pada pasien untuk vitiligo umum dan sukar
disembuhkan. Mekanisme yang diduga terjadi pada pigmentasi oleh MBEH adalah dengan penghancuran melanosit
selektif melalui pembentukan radikal bebas dan penghambatan kompetitif system enzim tirosinase (James, 2009).
3. Merkuri
Merkuri (Hg)/air raksa termasuk logam berat berbahaya yang dalam konsentrasi dapat bersifa racun.
Pemakaian merkuri (Hg) dalam krim pemutih dapat menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit
yang akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit, serta pada pemakaian dengan
dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan permanent pada susunan saraf otak, ginjal, dan gangguan perkembangan

janin bahkan paparan jangka pendek dalam dosis tinggi dapat menyebabkan muntah-muntah, diare dan kerusakan
ginjal, serta merupakan zat karsinogenik (menyebabkan kanker) pada manusia (Arief, 2007).
4. Arbutin
Arbutin berasal dari ekstrak tanaman bearberry, yang dulu sering digunakan oleh bangsa jepang. Jika dibandingkan
dengan hidroquinon, maka daya pemutih arbutin tidak sekuat hidroquinon. Produk yang mengandung arbutin
dapat dijual secara bebas tanpa resep dokter. Selain bearberry, arbutin juga ditemukan pada tanaman gandum dan
kulit buah pear. Bahan ini berfungsi sebagai pemutih kulit wajah (skin lightening) yang bekerja dengan cara
menghambat pembentukan melanin dalam kulit yaitu dengan
menghambat aktivitas tirosin. Karena arbutin tidak menghidrolisa HQ bebas, agen selanjutnya tidak
bertanggung jawab terhadap efek inhibitor arbutin pada melanogenesis. Penghambatan sintesis melanin (kira-kira
39%) terjadi pada konsentrasi 5x10
5. Asam azelaik
Secara alami asam azelaik didapat dari saturasi pityrosporum ovale, asam azelaik mempunyai efek
antiproliferatif dan sitotoksik terhadap melanosit. Efek selanjutnya terjadi karena penghambatan yang agak kuat dari
retioreduksin reduktase, enzim yang terlibat dalam aktivasi oksireduktase mitokondria dan sintesi DNA. Walaupun
asam azelaik pada awalnya digunakan untuk pengobatan akne, ternyata juga berhasil pada pengobatan lentiginosis,
rosasea dan hiperpigmentasi paska inflamasi. Selain berfungsi sebagai antibakteri, keratolitik, komedogenik dan anti
inflamasi. Asam azelaik juga mampu mengurangi pigmentasi pada kulit terutama bagi mereka yang berkulit gelap
dan bekas jerawat warna coklat atau untuk kasus melasma. Asam azelaik 20% dilaporkan mempunyai efektivitas
yang sama dengan HQ 4% dalam mengatasi kulit gelap tersebut. Efek samping dari bahan ini berupa iritasi kulit,
rasa gatal, dan terbakar hingga pengelupasan kulit (James, 2009).
6. Asam kojik
Sebelum digunakan sebagai pemutih kulit, asam kojik telah banyak digunakan sebagai bahan tambahan pada
makanan yang digunakan untuk menjaga kualitas warna makanan. Asam kojik marupakan metabolit jamur yang
biasa dihasilkan oleh spesies jamur aspergillus, acetobacter, dan penicillium. Asam kojik menghambat aktivitas
katekolase tirosin, yang dibatasi enzim esensial dalam biosintesis pigmen kulit melanin. Melanosit yang diobati
dengan asam kojik menjadi nondendritik, dengan penurunan jumlah melanin. Kemudian asam kojik mencari
oksigen reaktif yang dilepaskan secara berlebihan dari sel atau yang dihasilkan dalam jaringan atau darah. Biasanya
konsentrasi asam kojik yang digunakan sebagai kosmetik berkisar antara 1-4%. Kelebihan asam kojik dibandingkan
bahan pemutih lainnya adalah kestabilannya dalam suatu produk kosmetik. Akan tetapi dari hasil penelitian asam
kojik lebih mengiritasi dibandingkan HQ sehingga 5 mol/L. selain bekerja dengan menghambat tirosin, arbutin juga
bekerja dengan mengelupas kulit epidermis (eksfoliasi). Beberapa pabrik melaporkan arbutin sebagai obat
depigmentasi yang efektif pada konsentrasi 1% (James, 2009).
lebih baik dikombinasikan dengan kortikosteroid topical untuk mencegah masalah tersebut. Beberapa
penelitian kontroversial menyimpulkan bahwa penggunaan asam kojik dalam dosis tinggi dapat bersifat karsinogenik
(James, 2009).
7. Licorice ekstract
Glabiridin (glicyrrhia glabra) merupakan kandungan utama dari ekstract licorice yang mampu memutihkan
kulit. Cara kerjanya yaitu menghambat melanogenesis (pembentukan pigmen kulit) dan juga mencegah terjadinya
proses inflamasi di kulit. Beberapa riset menunjukkan bahwa penggunaan glabiridin 0,5% secara topical dapat
menghambat sinar UV-B yang dapat memicu terbentuknya pigmentasi dan kemerahan pada kulit (James, 2009).
8. Vitamin E
Sebuah literature jepang melaporkan bahwa penggunaan vitamin E (tocoferol) secara oral ternyata efektif
untuk mengatasi masalah hiperpigmentasi pada wajah, terutama jika dikombinasikan dengan vitamin C. beberapa
riset lainnya juga menemukan bahwa derivate tokoferol ini merupakan penghambat pembentukan melanin yang

lebih kuat jika dibandingkan dengan abutin dan asam kojik. Derivate vitamin E juga dapat digunakan untuk
memeperbaiki dan mencegah terbentuknya pigmentasi wajah yang dipicu oleh radiasi sinar UV, sebaik cara kerja
vitamin E sebagai antioksidan.
Asam askorbat (vitamin C) merupakan salah satu antioksidan sama seperti vitamin E. Vitamin ini banyak ditemukan
pada jeruk dan sayuran berwarna hijau. Kandungan vitamin C sangat populer dan banyak digunakan dalam produk
perawatan kulit, namun sayangnya produk vitamin C masih banyak yang belum stabil. Bentuk vitamin C yang stabil
adalah derivat vitamin C yang disebut sebagai magnesium-L-ascorbyl-2-phospate. Salah satu penelitian
menyatakan bahwa derivat vitamin C yang digunakan secara topikal pada pasien melasma dan lentigo senilis
menunjukkan efek mencerahkan yang cukup signifikan. Hanya saja, harga produk vitamin C yang stabil ini relatif
lebih mahal ketimbang vitamin C biasa (James, 2009 9. Vitamin C
Pemilihan kosmetik pemutih Sebelum membeli kosmetika sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
a. Kenali jenis kulit dengan tepat
untuk menentukan kelainan atau masalah kulit yang timbul sehingga perlakukan yang tepat dapat diberikan
untuk memperbaikinya.
b. Memilih produk kosmetika yang mempunyai nomor registrasi dari Depkes.
Suatu produk kosmetika yang tidak memiliki nomor regristrasi, kemungkinan memiliki kandungan zat-zat
yang tidak diizinkan pemakaiannya atau memiliki kadar yang melebihi ketentuan, sehingga dapat menimbulkan efek
samping yang berbahaya. Hal yang perlu diperhatikan tersebut adalah berkaitan dengan kandungan hidroquinon dan
merkuri yang terdapat pada produk kosmetika.
c. Hati-hati dengan produk yang sangat cepat memberikan hasil.
Suatu produk kosmetika yang memberikan hasil yang sangat cepat (misalnya produk pemutih) tidak menutup
kemungkinan produk tersebut mengandung zat yang melebihi kadar atau standar yang sudah ditetapkan oleh Depkes
dan penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter.
d. Membeli kosmetika secukupnya pada tahap awal
a. Setiap pertamakali menggunakan produk, tidak bisa diketahui apakah produk tersebut cocok digunakan
atau tidak, oleh karena itu perlu mencobanya terlebih dahulu dalam jumlah sedikit.
Perhatikan keterangan-keterangan yang tercantum pada label atau kemasan.
Perlu diperhatikan informasi yang tertera pada kemasan mengenai unsur bahan yang digunakan, tanggal
kadaluarsa serta nomor registrasinya, karena tidak semua produsen mencantumkan atau mendaftarkan produknya ke
Badan Pengawasan Obat dan Makanan, sehingga tidak terjamin keamanannya.
b. Memilih produk kosmetik, terutama kosmetik pemutih, perlu adanya sikap hati-hati dan teliti, agar tidak
terjadi kesalahan yang fatal. Apabila kosmetik yang sekarang banyak beredar di pasaran, terkadang tidak
mencantumkan informasi yang cukup. Sedangkan kosmetik tersebut banyak diminati oleh masyarakat
pada kalangan menengah ke bawah karena harganya yang murah dan khasiatnya cepat (BPOM RI,
2007).
Post Peeling
Pasien sebaiknya diingatkan mengenai fase-fase penyembuhan post peeling :
a. Superficial TCA peeling
Eritem ringan-sedang dengan kulit sedikit mengelupas, berlangsung sampai 4 hari. Pasien mungkin mengalami edema
ringan.
b. Medium-depth peeling
Kulit yang dipeeling akan terasa dan tampak kencang. Lesi pigmentasi yang ada sebelumnya akan berubah warna
menjadi lebih gelap keabuan sampai coklat. Eritem dan edema yang terjadi bervariasi. Edema dapat berlangsung
beberapa hari (puncaknya 48 jam) dan minta pasien untuk mengelevasi kepala saat tidur. Deskuasmasi terbuka terjadi

pada hari ke-3 disertai dengan munculnya eksudat serous. Reepitelisasi selesai pada hari ke-7 s/d hari ke-10, dimana
kulit akan nampak pink.
Yang sebaiknya dilakukan post peeling TCA, sebagai berikut :
a. Cuci muka dengan lembut 2 x/hari dengan cleanser non detergen
b. Memakai sabun asam asetat 4 x/hari (0,25%, 1 sendok makan cuka putih dalam 1 liter air hangat)berdaya antiseptik
dan berefek debridasi
c. Pelembab untuk mencegah kulit kering dan pembentukan kerak kulit
d. Pasien dilarang menggosok kulitnya atau mengambil kulit yang terdeskuamasi karena dapat menimbulkan skar
e. Jika pasien mengeluhkan pruritus dan risiko menggaruk, berikan steroid topikal ringan seperti hidrokortison 1%
f. Jika reepitelisasi sudah selesai, pasien dapat menggunakan krim pelembab
g. Lanjutkan perawatan pre peeling (tabir surya spektrum luas, krim bleaching, tretinoin/vitamin C, kombinasi dengan
agen exfolian seperti -hydroxyacid.
h. Superficial TCA peeling dapat diulang tiap 4-6 minggu, namun medium-depth TCA peeling tidak boleh diulang dalam
jangka waktu 6 bulan sampai sembuh sempurna.
Post Peeling jeisner
Pada post peeling pasien sebaiknya memakai cleanser dan pelembab. Peeling jessner selesai dalam waktu 2-7 hari. Make
up dapat digunakan untuk menyamarkan
peeling. Peeling yang berlebih, eritem ataupun iritasi post peeling dapat diatasi menggunakan steroid dari potensi
rendah-tinggi tergantung derajat iritasi/inflamasi.

Pengelupasan kulit dapat dilakukan beberapa hari sekali tergantung jenis kulit wajah. Untuk kulit kering dan
sensitif antara 7-14 hari sekali, kulit normal 5 hari sekali dan kulit berminyak 3-5 hari sekali. Pastikan tidak ada
luka atau infeksi pada wajah saat melakukan pengelupasan dan jangan melakukan peeling terlalu sering agar
kulit memiliki kesempatan regenerasi. Perawatan pengelupasan dilakukan 1 kali seminggu untuk kulit normal
dan untuk kulit berminyak dapat dilakukan 2 kali dalam seminggu. Setelah selesai pengelupasan, khusus untuk
kulit sensitif serta kering, bubuhkan segera pelembab wajah yang sesuai dengan jenis kulit dan setelah dilakukan
peeling hindari sinar matahari secara langsung.