Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN TUTORIAL BLOK PSIKIATRI

SKENARIO 1
TETANGGA SAYA BERPERILAKU ANEH

KELOMPOK B15
MUHAMMAD HILMY L

G0012136

ROSI DWI MULYONO

G0012194

PURNOMO ANDIMAS E

G0012166

ARIYADI BUDI SETYOAJI

G0012028

FARIS BUDIYANTO

G0012074

RISNA ANNISA M

G0012188

ITSNA ULIN NUHA

G0012098

DENALIA AURIKA

G0012054

RADEN RORO ANINDYA P

G0012170

KHILYAT ULIN NUR Z.

G0012108

EMILLYA SARI

G0012070

SHINTA RETNO W.

G0012210

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA

A. Latar Belakang
TETANGGA SAYA BERPERILAKU ANEH
Sejak kurang lebih 2 minggu ini tetangga saya, seorang laki-laki
berusia 24 tahun berperilaku aneh dan tidak seperti biasanya, yaitu sering
bicara sendiri, tidak mau mandi, dan mondar-mandir ke luar-masuk rumah.
Hal ini terjadi setelah dia dikeluarkan dari tempat kerjanya di Jakarta,
sehingga saya menduga dia sedang mengalami stress yang berat. Saat pulang
ke rumahnya dari Jakarta, dia tampak bingung dengan pakaian kusut dan
kumal seprti tidak pernah dicuci.
Setelah 1 pekan di rumah dan tidak tampak perbaiakan walaupun
sudah diobati oleh beberapa paranormal, akhirnya dia dibawa ke rumah sakit
jiwa. Dokter jaga di RSJ mengatakan bahwa pada pasien didapatkan waham,
halusinasi, dan depersonalisasi sehingga berperilaku aneh.
Dokter jaga mengatakan bahwa pasien harus dirawat di rumah sakit
selama beberapa hari untuk penanganan yang lebih baik.

B. Rumusan Masalah
1.

Apa konsep sehat dan sakit secara kejiwaan?

2.

Bagaimana ciri-ciri sehat mental?

3.

Apa saja gejala-gejala gangguan jiwa?

4.

Apa saja pemeriksaan klinis penunjang sesuai dengan kebutuhan pasien?

5.

Bagaimana pengelolaan kesehatan mental dan pasien gangguan jiwa?

6.

Apa saja tindakan, preventif, promotif, dan rehabilitatif gangguan jiwa


dengan mempertimbangkan faktor pencetus?

7.

Apa

saja

komplikasi

gangguan

jiwa

serta

pencegahan

dan

penatalaksanaan?

C. Tujuan Pembelajaran
Dalam tutorial skenario 1 diharapkan mahasiswa mampu untuk:
1.

Menjelaskan konsep sehat dan sakit secara kejiwaan

2.

Menjelaskan ciri-ciri sehat mental

3.

Mengenali gejala-gejala gangguan jiwa

4.

Mengusulkan pemeriksaan klinis penunjang sesuai dengan kebutuhan


pasien

5.

Melakukan pengelolaan kesehatan mental dan pasien gangguan jiwa

6.

Merancang tindakan, preventif, promotif, dan rehabilitatif gangguan jiwa


dengan mempertimbangkan faktor pencetus

7.

Menjelaskan

komplikasi

gangguan

jiwa

serta

pencegahan

dan

penatalaksanaan

D. Hipotesis
Dari gejala-gejala yang disebutkan di skenario, kemungkinan pasien
mengalami gangguan jiwa yang dipicu oleh stresor berupa dikeluarkan dari
tempat kerja

BAB II
PEMBAHASAN

JUMP 1 : Klarifikasi Istilah


1. Waham: kelainan jiwa dengan keyakinan yang salah dan dipertahankan
dengan kokoh walaupun bertentangan dengan yang sebenarnya
2. Depersonalisasi: perasaan subjektif yang tidak menyenangkan seperti tidak
dapat merasakan emosi
3. Halusinasi: pengalaman indera tanpa adanya rangsang sensorik dari luar.
4. Stres: kondisi tidak dapat menyesuaikan keadaan dengan kenyataan pada
dirinya. Dipengaruhi oleh faktor psikis, sosbud dan fisik biologic.
5. Paranormal: orang yang dipercaya memiliki indera ke enam atau memiliki
kekuatan supranatural
6. Perilaku aneh: perilaku tidak sesuaidengan keadaan yang tentukan oleh
lingkungan sekitar

JUMP 2 : Menentukan Masalah


1. Mengapa pasien berperilaku aneh pada kasus dalam skenario tersebut?
2. Adakah hubungan antara stress berat dengan perilku aneh yang dialami
pasien?
3. Mengapa pasien dibawa ke paranormal terlebih dahulu selanjutnya baru di
bawa ke Rumah Sakit Jiwa?
4. Mengapa pasien harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa?
5. Bagaimana

pasien

bisa

mengalami

waham,

halusinasi,

depersonalisasi?
6. Bagaimana penanganan pada pasien tersebut?
7. Apa saja macam-macam waham, halusiasi dan depersonalisasi?
8. Apa saja faktor prediposisi waham, halusinasi dan depersonalisasi?
9. Diagnosis Banding dalam kasus?
10. Prognosis dan komplikasi?

dan

JUMP 3 : Menganalisis Permasalahan dan membuat penyataan sementara


mengenai permasalahan

MACAM-MACAM WAHAM :
1. Waham tersistematisasi : keyakinan palsu yang digabungkan oleh suatu
tema/peristiwa tunggal. Misalnya, pasien dimata matai oleh agen rahasia,
mafia atau bos.
2. Waham yang sejalan dengan mood : waham yang isinya sesuai dengan
mood.

Misalnya,seorang

pasien

depresi

percaya

bahwa

ia

bertanggungjawab untuk penghancuran dunia


3. Waham yang tidak sejalan dengan mood : waham dengan isi yang tidak
mempunyai hubungan dengan mood atau merupakan mood netral.
Misalnya,pasien depresi mempunyai waham control/siar pikiran
4. Waham nihilistik : persaan palsu bahwa dirinya,orang lain dan dunia
adalah tidak ada dan berakhir.
5. Waham kemiskinan : keyakinan palsu bahwa pasien kehilangan atau
akan terampas semua harta miliknya
6. Waham somatik : keyakinan palsu menyangkut fungsi tubuh pasien.
Misalnya,keyakinan bahwa otak pasien berakar atau mencair
7. Waham paranoid : termasuk waham persekutorik dan waham
referensi,kontrol dan kebesaran (dibedakan dari ide paranoid kecurigaan
lebih kecil dari bagian waham) :
a. Waham persekutorik : keyakinan palsu bahwa paseien sedang
diganggu,ditipu dan disiksa. Sering ditemukan pada pasien yang
senag menuntut yang mempunyai kecendurungan patologis untuk
mengambil tindaka hukum karena panganiyaan yang dibayangkan
b. Waham

kebesaran

gambaran

kepentingan,kekuatan,atau

identitas sesorang yang berlebihan


c. Waham referensi : keyakinan palsu bahwa perilaku orang lain
ditujukan kepada dirinya,bahwa peristiwa,benda benda,atau orang
lain mempunyai kepentingan tertentu dan tidak biasanya.
Umumnya dalam bentuk negatif,diturunkan dari ide referensi (
dimana seseorang secara salah merasa bahwa ia sedang dibicarakn

oleh orang lain,misalnya percaya bahwa ditelevisi atau diradio


berbicara pada dirinya atau membicarakan dirinya)
8. Waham menyalahkan diri : keyakinan palsu tentang penyesalan yang
dalam dan salah
9. Waham bizzare : perasaan palsu bahwa kemauan,pikiran atau perasaan
pasien dikendalikan tenaga dari luar. Keyakinan palsu yang aneh,mustahil
dan tidak masuk akal.
A. Penarikan pikiran (thought withdrawal) : waham bahwa pikiran
pasien dihilangkan dari ingatannya oleh orang lain/tenaga lain
B. Penanaman pikiran (thought insertion) : waham bahwa pikiran
ditanam dalam pikiran pasien oleh orang/tenaga lain
C. Siaran pikiran (thought broadcasting) : waham bahwa pikiran
pasien dapat didengar oleh orang lain,seperti pikiran mereka sedang
tersiar keluar.
D. Pengendalian pikiran (thought control) : waham pbahwa pikiran
pasien dikendalikan oleh orang/tenaga lain.
10. Waham ketidaksetiaan ( waham cemburu) : keyakinan palsu yang
didapatkan dari kecemburuan patologis bahwa kekasih paien adalah tidak
jujur
11. Erotomania : keyakinan palsu,lebih sering pada wanita dibndingkan laki
laki,bahwa seseorang sangat mencintainya.
12. Pseudologica phantastica : suatu jenis kebohongan diman sesorang
tampak percaya terhadap kenyataan fantasinya dan bertindak atas
kenyataan,disertai dengan sindrom munchausen,berpura pura sakit
berulang

PREDIPOSISI WAHAM
Faktor Lingkungan
1. Gagal dalam tahapan yang sehat
2. Disingkirkan orang lain dan merasa kesepian
3. Hubungan yang tidak harmonis dengan orang lain
4. Perpisahan dengan orang lain yang dicintai
5. Kegagalan yang dialami

Faktor Biologis
6. Keturunan (genetik)
7. Cacat lahir
8. Teori biokimia

Faktor Psikososial
9. Keluarga : kekacauan keluarga
10. Interpersonal
11. Psikodinamik : ego yang lemah menyebabkan peningkatan kecemasan.

HUBUNGAN STRESS BERAT DENGAN KELUHAN

Ada beberapa tipe stres, Hebb (dalam Sarafino, 1997) mempergunakan


istilah yang dapat membedakan tipe stres, yaitu :
a) Distress
Merupakan stres yang berbahaya dan merusak keseimbangan fisik,
psikis atau sosial individu ,
b) Eustress
Merupakan
kesejahteraan

stres

individu.

yang

menguntungkan

Anthonovsky

dan

(dalam

konstruktif

bagi

Sherridan

dan

Radhmacher,1992) menambahkan bahwa stres juga dapat bersifat netral yaitu


tidak memberikan efek buruk maupun baik. Ini terjadi bila intensitas atau
durasi stresor sangat kecil atau kemampuan adaptasi individu sangat baik
sehingga stresor dapat dikendalikan.

Berdasarkan gejalanya, stress dibagi menjadi tiga tingkat yaitu :


a.Stress Ringan
Stres ringan adalah stresor yang dihadapi setiap orang secara teratur,
seperti terlalu banyak tidur, kemacetan lalu-lintas, kritikan dari atasan. Situasi
seperti ini biasanya berlangsung beberapa menit atau jam. Stresor ringan
biasanya tidak disertai timbulnya gejala. Ciri-cirinya yaitu semangat
meningkat, penglihatan tajam, energi meningkat namun cadangan energinya
menurun, menyelesaikan pelajaran meningkat, sering merasa letih tanpa

sebab, kadang-kadang terdapat gangguan sistem seperti pencernaan, otot,


perasaan tdk santai.

b. Stress Sedang
Berlangsung lebih lama dari beberapa jam sampai beberapa hari.
Situasi perselisihan yang tidak terselesaikan dengan rekan ; anak yang sakit;
atau ketidakhadiran yang lama dari anggota keluarga merupakan penyebab
stres sedang. Ciri-cirinya yaitu sakit perut, mules, otot-otot terasa tegang,
perasaan tegang, gangguan tidur, badan terasa ringan.

c. Stress Berat (Distress)


Adalah situasi kronis yang dapat berlangsung beberapa minggu sampai
beberapa bulan, seperti perselisihan perkawinan terus menerus; kesulitan
finansial yang berkepanjangan; berpisah dengan keluarga; berpindah tempat
tinggal; mempunyai penyakit kronis dan termasuk perubahan fisik, psikologis,
sosial pada usia lanjut. Makin sering dan makin lama situasi stres, makin
tinggi resiko kesehatan yang ditimbulkan. Stress berat ada yang berdampak
positif dan juga negatif, dampak stress positif seperti contohnya keinginan
untuk tampil bagus yang disebut dengan positive fight of light. Sedangkan
yang berdampak negatif contohnya disebabkan karena adanya tekanan
perkejaan efeknya berupa perubahan yang tiba-tiba. Pada stress berat, fight of
light mengaktifkan HPA Axis kemudian melepaskan kortisol secara
berlebihan yang menyebabkan toksik pada hipocampus. Akibat hipocampus
yang toksik, terjadi penurunan kulaitas memori dan penurunan neurogoenesis
otak dan penurunan kemampuan belajar. Peningkatan hormol kortisol
menyebabkan peningkatan detak jantung. Stres yang berkepanjangan dapat
mempengaruhi kemampuan untuk meyelesaikan tugas perkembangan.
Ciri-cirinya yaitu sulit beraktivitas, gangguan hubungan sosial, sulit
tidur, negativistik, penurunan konsentrasi, takut tidak jelas, keletihan
meningkat, tidak mampu melakukan pekerjaan sederhana, gangguan sistem
meningkat, perasaan takut meningkat. Pada pasien dalam kasus skenario
terjadi gangguan melakukan pekerjaan sederhana yaitu tidak mau mandi.
Terjadi juga gangguan perilaku seperti mondar mandir yang tidak jelas. Jadi

dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami stress berat dan kemudian


menjadi berperilaku aneh seperti yang ditunjukan dalam skenario.

ALASAN PASIEN HARUS DIRAWAT DI RSJ


Gangguan Psikopatologis dibedakan menjadi 3 macam yaitu gangguan
psikiatri, gangguan neurologi dan gangguan psikoneurolisis. Pasien harus
dirawat di RS karena sudah masuk daam tahap gangguan psikiatri bagian
psikosis. Dan pada tahap psikosis, terdapat resiko sosial yang membahayakan
dirinya sendiri sekaligus membahayakan orang lain.
Ganggun psikiatri :
GANGGUAN

PSIKOSIS

NEUROSIS

Perilaku umum

Seluruh aspek, tidak bsa Sebagian


berkontak dengan realita

Gejala

Afek luas

Ada waham

Emosi dangkal

Terjadi

kepribadian

kontak dengan realita


-

Somatik

dan

bervariasi
-

Emosi ringan

terus

menerus
Orientasi

Disorientasi tempat, waktu Jarang terjadi disorientasi


dan orang

Pemahaman

Tidak merasa dirinya sakit

Sadar

dia

mengalami

gangguan jiwa
Resiko Sosial

Membahayakan

diri Jarang atau tiak bahaya

sendiri dan orang lain


Penyembuhan

Harus dirawat di Rumah Tidak harus di rawat di RS


Sakit

Jiwa

dan

kemblai ke normal

sulit

JUMP 4 : Menginventarisasikan permasalahan-permasalahan secara sistematis


dan pernyataan sementara mengenai permasalahan-permasalahan pada langkah
3.

Laki-laki 24
tahun

Diagnosis Banding

keluar dari
kerja

distress dan faktor


prediposisi

Pemeriksaan Psikiatri :
1. Waham
2. Halusinasi
3. Depersonalisasi

Keluhan berupa :
bingung, pakaian kusut
dan kumal, sering
bicara sendiri, tidak
mau mandi, mondarmandir.

Penanganan

Pemeriksaan
Lanjutan

JUMP 5 : Merumuskan tujuan pembelajaran


1. Bagaimana

pasien

bisa

mengalami

waham,

halusinasi,

dan

depersonalisasi?
2. Bagaimana penanganan pada pasien tersebut?
3. Apa saja macam-macam halusiasi dan depersonalisasi?
4. Apa saja faktor prediposisi halusinasi dan depersonalisasi?
5. Diagnosis Banding dalam kasus?
6. Prognosis dan komplikasi?

JUMP 6 : Mengumpulkan informasi baru (Belajar mandiri di rumah )


JUMP 7 : Melaporkan, membahas, dan menata kembali informasi baru yang
diperoleh

PATOFISIOLOGI HALUSINASI
Halusinasi adalah persepsi atau tanggapan dari suatu panca indera tanpa
adanya suatu stimulus dari eksternal.
Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada
dalam rentang respon neurobiologis (USU, 2012). Ini merupakan respon persepsi
paling

maladaptif.

Jika

individu

yang

sehat

persepsinya

akurat,

mampu

mengidentifikasi dan menginterprestasikan stimulus berdasarkan informasi yang


diterima melalui panca indera (pendengaran, penglihatan, penghidu, pengecapan, dan
perabaan), pasien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus panca indera
walaupun sebenarnya stimulus tersebut tidak ada.
Diantara kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena sesuatu hal
mengalami kelainan persepsi yaitu salah mempersepsikan stimulus yang diterimanya
yang disebut sebagai ilusi. Pasien mengalami ilusi jika interpretasi yang dilakukannya
terhadap stimulus panca indera tidak akurat sesuai stimulus yang diterima. Rentang
respon halusinasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Adaptif

Maladaptif

Pikiran logis

Kadang pikiran terganggu

Gangguan proses berpikir

Persepsi akurat

Ilusi

Halusinasi

Emosi konsisten dengan Emosi


pengalaman

berlebihan

atau Tidak ada emosi

kurang

Perilaku sesuai

Perilaku tidak terorganisir

Hubungan positif

Perilaku tidak biasa

Isolasi diri

Menarik diri
Tabel 1. Konsep respon neurobiologis. (USU, 2012).

Tabel 2. Tahapan, karakteristik, perilaku halusinasi (USU, 2012)


Tahap

Mengalami

Tahap I
Memberi

Karakteristik

rasa

nyaman, kesepian,

tingkat ansietas sedang, ketakutan,

Perilaku

ansietas, Tersenyum,
rasa

bersalah, sendiri,
mencoba bibir

tertawa
menggerakkan

tanpa

secara murni Halusinasi berfokus pada pikiran yang pergerakan

mata

suara,
yang

merupakan

suatu dapat

kesenangan.

menghilangkan cepat, respon verbal yang

ansietas,

dan

pikiran lambat,

diam

dan

pengalaman sensori masih berkonsentrasi.


ada

dalam

kontrol

kesadaran (non psikotik).


Pengalaman

Tahap 2
Menyalahkan,

sensori Terjadi

tingkat menakutkan,

merasa denyut jantung, pernafasan

kecemasan berat, secara dilecehkan


umum halusinasi.

peningkatan

oleh dan

tekanan

darah,

pengalaman

sensori perhatian pada lingkungan

tersebut,

merasa berkurang,

mulai

kehilangan

kontrol

konsentrasi

dan terhadap

pengalaman

menarik diri dari orang sensorinya


lain ( non psikotik ).

kehilangan

kemampuan membedakan
halusinasi dengan realitas.

Klien

Tahap 3
Mengontrol
kecemasan

menyerah

tingkat menerima
berat

pengalama sulit berhubungan dengan

dan sensorinya (halusinasi), isi orang

pengalaman tidak dapat halusinasinya


ditolak.

dan Perintah halusinasi ditaati,

lain.

menjadi terhadap

Perhatian
lingkungan

aktraktif dan kesepian bila berkurang, hanya beberapa


pengalaman

sensori detik dan tidak mampu

berakhir ( psikotik ).

mengikuti

perintah,

tampak

tremor

dan

berkeringat.
Tahap 4

Pengalaman

sensori Perilaku

panik,

resiko

Klien sudah dikuasai oleh menjadi pengancam dan tinggi mencederai, agitasi
halusinasi, klien panik.

halusinasi
berlangsung
beberapa jam / hari.

dapat atau

katatonik,

tidak

selama mampu berespon terhadap


lingkungan

MACAM MACAM HALUSINASI


Halusinasi merupakan persepsi sensoris yang palsu dan tidak disertai dengn
stimuli eksternal yang nyata; mungkin terdapat atau tidak terdapat interpretasi waham
tentang pengalaman halusinasi.

Macam-macam halusinasi:
a. Halusinasi hipnagogik
Persepsi sensoris yang terjadi saat akan tertidur, biasanya dianggap sebagai
fenomena yang nonpatologis.
b. Halusinasi hipnopompik
Persepsi palsu yang terjadi saat terbangun dari tidur, biasanya dianggap
nonpatologis.
c. Halusinasi dengar (auditoris)
Persepsi bunyi yang palsu, biasanya suara tetapi juga bunyi-bunyi lain, seperti
music; merupakan halusinasi yang paling sering pada gangguan psikiatrik.
d. Halusinasi visual
Persepsi palsu tentang pengelihatan yang berupa citra yang berbentuk (sebagai
contoh, orang) dan citra yang tidak berbentuk (sebagai contoh, kilatan
cahaya); paling sering pada gangguan organik.
e. Halusinasicium (olfaktoris)
Persepsi membau yang palsu; paling sering pada gangguan organik.
f. Halusinasi kecap gustatoris)
Persepsi tentang rasa kecap yang palsu, seperti rasa kecap yang tidak
menyenangkan yang disebabkan oleh kejang; paling sering pada gangguan
organik.
g. Halusinasi raba (taktil; haptic)
Persepsi palsu tetang perabaan atau sensai permukaan, seperti dari tungkai
yang teramputasi (phantom limb), sensasi adanya gerakan pada atau di bawah
kulit (kesemutan).
h. Halusinasi somatik
Sensasi palsu tentang sesuatu hal yang terjadi di dalam atau terhadap tubuh,
palin sering berasal dari visceral (juga dikenal sebagai halusinasi kenestetik).
i. Halusinasi liliput
Persepsi yang palsu di mana benda-benda tampak lebih kecil ukurannya (juga
dikenal sebagai mikropsia).
j. Halusinasi yang sejalan dengan mood (mood-congruent hallucination)
Halusinasi di mana isi halusinasi adaah konsisten dengan mood yang tertekan
atau manik (sebagai contoh, pasien yang mengalami depresi mendengar suara
yang mengatakan bahwa pasien adalah orang yang jahat; seorang pasien

manik mendengar suara yang mengatakan bahwa pasien memiliki harga diri,
kekuatan, dan pengetauan yang tinggi).
k. Halusinasi yang tidak sejalan dengan mood (mood-incongruent hallucination)
Halusinasi di mana isinya tidak konsisten dengan mood yang tertekan atau
manik (sebagai contoh, pada depresi, halusinasi tidak melibatkan tema0tema
tersebut seperti rasa bersalah, penghukuman yang layak diterima, atau
ketidakmampuan; pada mania, halusinasi tidak mengandung tema-tema
tersebut seperti harga diri atau kekuasaan yang tinggi).
l. Halusinosis
Halusinasi yang paling sering adalah halusinasi dengar, yang berhubungan
dengan penyalahgunaan alcohol kronis dan terjadi dalam sensorium yang
jernih, berbeda dengan delirium tremens (DTs), yaitu halusinasi yang terjadi
dalam konteks sensorium yang berkabut.
m. Sinestesia
Sensasi atau halusinasi yang disebabkan olhe sensai lain (sebagai contoh,
suatu sensasi auditoris yang disertai atau dicetuskan oleh suatu sensasi visual;
suatu bunyi dialami sebagai dilihat, atau suatu penglihatan dialami sebegai
didengar).
n. Trailing phenomenon
Kelainan persepsi yang berhubungan dengan obat-obat halusinogen di mana
benda yang bergerak dilihat sebagai sederetan citra yang terpisah dan tidak
kontinu.

FAKTOR PREDISPOSISI HALUSINASI


Beberapa faktor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon
neurobiologi seperti pada halusinasi antara lain :
a. Faktor genetis.
Telah diketahui bahwa secara genetis schizofrenia diturunkan melalui
kromosom-kromosom tertentu namun demikian kromosom yang ke berapa
yang menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap
penelitian. Diduga letak gen schizofrenia ada di kromosom nomor 6 dengan
konstribusi

genetik

tambahan

nomor

4,5,15,dan

22

(buchanan

&

carpenter,2000). Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami


schizofrenia 50 % jika salah satunya mengalami schizophrenia, sementara jika

di zigote peluangnya sebesar 15 %. Jika seorang anak yang salah satu orang
tuanya mengalami schizophrenia berpeluang 15% mengalami schizophrenia,
sementara bila kedua orang tuanya schizophrenia maka peluangnya menjadi
35 %.
b. Faktor Neurobiologi
Ditemukan bahwa kortek pre frontal dan kortek limbik pada klien
schizophrenia tidak

pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada klien

schizophrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak yang abnormal.


Neurotransmiter juga ditemukan tidak normal, khususnya dopamin,serotonin,
dan glutamat.
c. Studi Neurotrasmiter
Schizophrenia

diduga

ketidakseimbangan, neurotransmiter.

juga

disebabkan

oleh

adanya

Dopamin berlebihan, tidak seimbang

dengan kadar serotonin.


d. Teori Virus.
Paparan virus influensae pada trimester ke3 kehamilan dapat menjadi
faktor predisposisi schizophrenia.
e. Psikologis.
Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor predisposisi
schizophrenia antara lain anak yang diperlakukan oleh ibu yang pencemas,
terlalu melindungi, dingin dan tak

perperasaan,

sementara ayah yang

mengambil jarak dengan anaknya.

INTERPRETASI KELUHAN
Pada skenario pertama Blok Psikiatri ini, kami menafsirkan beberapa keluhan
tersebut. Seorang penderita berusia 24 tahun mengeluhkan gejala-gejala sebagai
berikut: sering bicara sendiri, tidak mau mandi, mondar-mandir ke luar masuk rumah,
sepulangnya dari Jakarta ia bingung dengan pakaian yang kusut dan kumal. Menurut
pengamatan kami, gejala bicara sendiri yang tidak mempunyai tujuan menandakan
gangguan proses pikir primer, yaitu istilah umum untuk pikiran yang tidak logis dan
magis, serta tidak normal (pada pasien psikosis). Penderita tampak mondar-mandir ke
luar rumah artinya adalah pasien mengalami kegelisahan, penyebabnya dapat
bermacam-macam, seperti gangguan perilaku motorik (katatonia), proses pikiran, dan

waham/delusi. Pasien juga bingung dengan pakaian yang kusut dan kumal,
menandakan bahwa pasien mengalami gangguan mood dan afek (mood labil & afek
menyempit). Pasien mengeluh tidak mau mandi, artinya pasien diduga mengalami
stress berat serta kemampuan sosial pasien menurun sebagai akibat depersonalisasi.

TATALAKSANA

Penatalaksanaan pasien skizofrenia adalah dengan pemberian obat-obatan dan


tindakan lain, yaitu:
a. Psikofarmakologis
Obat-obatan yang lazim digunakan pada gejala halusinasi pendengaran yang
merupakan gejala psikosis pada pasien skizofrenia adalah obat-obatan anti
psikosis.
Kelas kimia

Nama generik

Dosis harian

Fenotiazin

Asetofenazin

60-120 mg

Klorpromazin

30-800 mg

Flufenazine

1-40 mg

Mesoridazin

30-400 mg

Perfenazin

12-64 mg

Proklorperazin

15-150 mg

Promazin

40-120 mg

Tioridazin

150-800 mg

Trifluoperazin

2-40 mg

Trifluopromazin

60-150 mg

Klorprotiksen

75-600 mg

Tiotiksen

8-30 mg

Butirofenon

Haloperidol

1-100 mg

Dibenzodiazepin

Klozapin

300-900 mg

Dibenzokasazepin

Loksapin

20-150 mg

Dihidroindolon

Molindone

15-225 mg

Tioksanten

b. Terapi kejang listrik (ECT)


c. Terapi aktivitas kelompok

Penanganan pertama pada pasien dengan halusinasi adalah:


a. Membantu pasien mengenali halusinasinya

Anamnesis pasien untuk mengetahui apa yang didengar atau


dilihatnya

Waktu munculnya halusinasi

Frekuensi munculnya halusinasi

b. Mengontrol halusinasi

Menghardik halusinasi
Pasien mampu melawan halusinasinya dengan tidak melakukan apa
yang halusinasinya perintahkan.

Bercakap-cakap dengan orang lain


Pasien diharapkan mampu mengalihkan perhatian terhadap
halusinasinya dengan bercakap-cakap dengan orang lain.

Beraktivitas secara terjadwal


Tidak adanya kesempatan pasien untuk berdiam diri mencegah
pikiran pasien menjadi kosong sehingga halusinasinya dapat
berkurang.

Melatih pasien menggunakan obat secara teratur

c. Evaluasi
Evaluasi keberhasilan perawatan terhadap pasien halusinasi;

Pasien mampu mempercayai dokter dan mampu menceritakan


masalah yang dihadapi

Pasien menydari bahwa halusinasinya tidak benar,tidak ada objek


nyata atas halusinasinya

Pasien dapat mengontrol halusinasi

Keluarga mampu merawat pasien di rumah

Tindakan yang dilakukan pada pasien waham


a. Membina hubungan saling percaya
b. Membantu orientasi realitas

Tidak membantah atau mendukung waham pasien

Menyakinkan pasien dalam keadaan aman

Mengobservasi pengaruh waham pada aktivitas sehari-hari

Memberikan pujian jika penampilan dan orientasi pasien sesuai dengan


realitas

c. Mendiskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi sehingga


menimbulkan kecemasan, takut dan marah pada pasien
d. Meningkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan emosinal
pasien
e. Mendiskusikan tentang kemampuan positif yang dimiliki
f. Mendiskusikan obat yang diminum
g. Melatih minum obat yang benar

PROGNOSIS

Perjalanan penyakit skizofrenia yang umum adalah memburuk dan remisi.


Setelah sakit pertama kali, kemungkinan pasien dapat berfungsi dengan normal untuk
waktu lama (remisi). Keadaan ini diusahakan dapat terus dipertahankan. Namun yang
terjadi biasanya pasien mengalami kekambuhan. Tiap kekambuhan yang terjadi
pasien mengalami deteriosasi sehingga ia tidak dapat kembali ke fungsi sebelum ia
kambuh. Kadang, setelah episode psikotik lewat, pasien menjadi depresi dan ini bisa
berlangsung seumur hidup.
Seiring dengan berjalanya waktu, simptom positif hilang, berkurang, atau
tetap ada, sedangkan simptom negatif relatif sulit dihilangkan bahkan bertambah
parah.
Beberapa penelitian bahwa lebih dari priode 5 sampai 10 tahunsetelah
perawatan psikiatrik pertama kali dirumah sakit karena skizofrenia, hanya kira-kira
10-20% pasien dapat digambarkan memiliki hasil yang baik. Lebih dari 50% pasien
memiliki hasil yang buruk dengan perawatan di rumah sakit yang berulang.
Rentang angka pemulihan yang dilaporkan didalam literatur adalah dari 10-60% dan
perkiraan yang beralasan adalah bahwa 20-30% dari semua pasien skizofrenia mampu
untuk menjalani kehidupan yang agak normal. Kira-kira 20-30% dari pasien terus
mengalami gejala yang sedang dan 40-60% dari pasien terus terganggu secara
bermakna oleh gangguanya selama seluruh hidupnya.

Secara umum prognosis skizofrenia tergantung pada :


1. Usia pertama kali timbul (onset) : makin muda makin buruk
2. Mula timbul akut atau kronik : bila akut lebih baik
3. Cepat serta teraturnya pengobatan yang didapat
4. Ada tidaknya faktor pencetus : jika ada lebih baik
5. Ada tidaknya faktor keturunan : jika ada lebih jelek
6. Keadaan sosial ekonomi : jika rendah semakin buruk
7. Fungsi kognitif : jika makin bagus, semakin baik
8. Dukungan dari lingkungan dan keluarga
KOMPLIKASI
Jika skizofrenia tidak segera ditangani dengan baik akan berakibat :
1. Keinginan atau usaha bunuh diri
2. Prilaku merusak diri sendiri
3. Depresi
4. Penyalahgunaan alkohol, obat-obatan terlarang maupun obat yang diresepkan
5. Konflik keluarga
6. Menjadi pelaku atau korban kejahatan

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan gejala yang disampaikan oleh tetangga pasien dan hasil
pemeriksaan maka terdapat beberapa diagnosa yaitu skizoafektif, skizoform,
psikotik akut dengan predominan waham, depresi berat dengan gangguan
psikotik.

Dari diskusi yang telah kami lakukan, pasien tersebut mengarah pada psikotik
akut dengan predominan waham yang memiliki kriteria utama, yaitu:
1. onset gejala harus akut (2 minggu atau kurang dari keadaan nonpsikotik
sampai jelas psikotik)
2. waham dan halusinasi harus ada sudah ada dalam sebagian besar waktu
sejak berkembangnya keadaan psikotik yang jelas
3. tidak terpenuhinya kriteria skizofrenia dan psikotik polimorfik akut

B. Saran
Pada pelaksanaan diskusi telah berjalan lancar tetapi terdapat sedikit
kerancuan dalam menentukan onset atau waktu dari perjalanan penyakit
pasien. Sehingga dalam pemeriksaan psikiatri harus dilakukan secara
terstruktur demi mempermudah penegakan diagnosis penyakit. Pemeriksaan
lanjutan dapat dilakukan untuk membantuk dalam menegakkan diagnosis.
Diperlukan adanya edukasi tentang gangguan kejiwaan kepada
keluarga dan masyarakat dimana sebagian besar dari mereka masih memegang
kepercayaan tentang kekuatan supranaturan sebagai penyebab perilaku aneh
pada seorang individu. Kesadaran masyarakat dapat berdampak pada
prognosis dimana penanganan lebih awal pada gangguan jiwa mampu
menghasilkan luaran yang lebih bagus

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
USU (2012). Konsep halusinasi.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24963/4/Chapter%20II.pdf
pada November 2014

diakses

Stuart, GW and Laraia, 2001, Principle and Practise of Psychyatric Nursing, 7 ed,St
Louis : The CV Mosby Year Book.