Anda di halaman 1dari 39

TUGAS MUSKULOSKELETAL

FRAKTUR SUPRAKONDILER HUMERUS

Angga kurnia
Fisioterapi 2009

Siti Hajiyah
021111022
Fisioterapi 2011
Tugas Akhir Muskuloskeletal

BINAWAN
INSTITUTE OF HEALTH SCIENCES
PROGRAM FISIOTERAPI

Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala,karena berkat rahmatNya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Fraktur Supracondilar Humerus.Makalah
ini diajukan guna memenuhi tugas mata akhir kuliah Muskuloskeletal.
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.Makalah ini masih jauh dari sempurna,oleh
karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Jakarta, Januari 2014

Penyusun

ii

DAFTAR ISI
Halaman Judul..i
Kata Pengantar.ii
Daftar Isi.iii
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang..1
1.2 Rumusan Masalah1
1.3 Tujuan.1
1.4 Manfaat Penulisan2
BAB II Isi
2.1 Anatomi Supracondilar Humerus.3
2.2 Epidemiologi5
2.3 Definisi Fraktur Supracondilar Humerus.5
2.4 Etiologi Fraktur Supracondilar Humerus.6
2.5 Manifestasi Klinis8
2.6 Patofisiologi Fraktur Supracondilar Humerus9
2.7 Komplikasi Fraktur Supracondilar Humerus.11
2.8 Diagnosa Fraktur Supracondilar Humerus12
2.9 Pemeriksaan Penunjang..15
2.10 Penatalaksanaan.17
BAB III Penutupan
3.1 Kesimpulan.
Daftar Pustaka

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Fraktur supracondilar (metafisis humerus distal daerah proksimal dari siku) adalah
fraktur siku yang paling sering terjadi pada anak-anak.Terjadi sering pada usia antara 3-10
tahun.Pasien anak menahan lengan dalam pronasi dan menolak untuk flexsi karena
nyerinya.Cidera neurovascular sering terjadi pada displacement yang berat.Karena
mengalir a.bracialis maka cidera sebaiknya ditangani sebagai emergency
akut.Pembengkakan,jika berat,dapat menghambat aliran arteri atau vena.Pemeriksaan
neurovascular yang cermat diperlukan.Compartement syndrome pada lengan bawah volar
dapat terjadi 12-24 jam.Volkmanns contracture karena iskemia intrakompartement dapat
mengikuti.Pin sering digunakan untuk memfiksasi fraktur setelah reduksi terbuka atau
tertutup.Fraktur supracondilar yang umumnya tanpa gangguan neurovascular dapat dibidai
dengan posisi siku fleksi 90,dan lengan bawah dibidai dalam pronasi atau posisi netral.

1.2 Rumusan Masalah


1) Bagaimana gambaran anatomi pada fraktur supracondilar humerus?
2) Bagaimana epidemiologi pada fraktur supracondilar humerus?
3) Apa yang dimaksud dengan fraktur supracondilar humerus?
4) Bagaimana etiologi pada fraktur supracondilar humerus?
5) Apa saja manifestasi klinis pada fraktur supracondilar humerus?
6) Bagaimana patofisiologi pada fraktur supracondilar humerus?
7) Apa saja komplikasi pada fraktur supracondilar humerus?
8) Apa diagnose pada fraktur supracondilar humerus?
9) Apa saja pemeriksaan penunjang pada fraktur supracondilar humerus?
10) Bagaimana penatalaksanaan pada fraktur supracondilar humerus?

1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui anatomi pada fraktur supracondilar humerus
2) Untuk mengetahui epidemiologi pada fraktur supracondilar humerus
3) Untuk mengetahui definisi fraktur supracondilar humerus
4) Untuk mengetahui etiologi pada fraktur supracondilar humerus
5) Untuk mengetahui manifestasi klinis pada fraktur supracondilar humerus
6) Untuk mengetahui patofisologi pada fraktur supracondilar humerus
7) Untuk mengetahui komplikasi pada fraktur supracondilar humerus

8) Untuk mengetahui diagnose pada fraktur supracondilar humerus


9) Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada fraktur supracondilar humerus
10) Untuk mengetahui penatalaksanaan pada fraktur supracondilar humerus

1.4 Manfaat
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak
khususnya kepada mahasiswi/mahasiswa untuk menambah pengetahuan dan wawasan
mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kasus fraktur supracondilar humerus

BAB II
Isi
2.1 Anatomi Supracondilar Humerus
Humerus (arm bone) merupakan tulang terpanjang dan terbesar dari ekstremitas
superior. Tulang tersebut bersendi pada bagian proksimal dengan skapula dan pada bagian
distal bersendi pada siku lengan dengan dua tulang, ulna dan radius.
Humerus adalah tulang lengan panjang yang kokoh, yang membentang dari bahu ke
siku. Anatomi humerus terutama terkait dengan poros,ujung atas dan ujung bawah.Ujung atas
membentuk sendi bahu bulat dan berartikulasi dengan glenoid rongga.Ujung bawah tidak
teratur dalam bentuk karena untuk mendukung berbagai gerakan,seperti siku menekuk
(fleksi),rotasi (pronasi dan supinasi ).Ujung bawahjuga disebut kondilus humeri, berartikulasi
dengan radius tulang serta tulang ulna untuk membentuk sendi siku.Beberapa otot-otot penting
lengan berasal baik atau melampirkan pada poros tulang humerus,seperti brachalis,trisep,dan
sebagainya,yang memberikan gerakan pada siku dan sendi bahu (Orthopedmapia,
2011).Tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas), korpus, dan ujung
bawah.
1.Kaput
Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang membuat
sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian dari banguan sendi
bahu. Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher
anatomik.Disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomic terdapat sebuah
benjolan,yaitu Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih
kecil yaitu Tuberositas Minor.Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus
intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep.Dibawah tuberositas terdapat
leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur.

2.Korpus
Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih. Disebelah
lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut tuberositas deltoideus (karena
menerima insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah
belakang, batang, dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada
saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis.

3.Ujung Bawah
Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi dibentuk
bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi sebelah dalam berbentuk
gelendong-benang tempat persendian dengan ulna dan disebelah luar etrdapat
kapitulum yang bersendi dengan radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah
humerus terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial. (Pearce, Evelyn C, 1997)

Suprakondilar humerus terletak di bagian distal dari humerus, tulang tersebut kurang
kuat dibanding tempat lain karena adanya fossa koronoid,fossa olekranon dan fossa
radii.Kolum medial suprakondilar lebih tipis dan substansi tulang dibandingkan dengan kolum
lateral suprakondilar.Sendi siku mampu melakukan gerakan fleksi dan ekstensi, dimana
gerakan fleksi dilakukan oleh muskulus brachialis,muskulus biceps,muskulus brachiiradialis dan
muskulur pronator teres.Sedangkan gerakan ekstensi dilakukan oleh muskulus triseps dan
muskulus anconeus.Dari proyeksi anteroposterior,perlu dinilai sudut yang dibentuk oleh garis
longitudinal humerus dan garis yang melalui korona kapitulum humeri, sudut ini disebut sudut
biwman. Normal didapatkan sudut bowman sebesar 80-89 derajat,bila didapatkan sudut ini
kurang dari 50, dikatakan bahwa posisi tulang tersebut tidak acceptable.Sudut yang lain yaitu
sudut antara diaphisis dan metaphisis sebesar 90 derajat.Proyeksi lateral,normal didapatkan
garis anterohumeral akan melewati pusat osifikasi pada kondilus humeri dan bagian distal dari
kondilus akan membentuk sudut ke anterior sebesar 40 derajat.Berdasarkan pergeseran
fragmen distal 3 tipe dari fraktur suprakondilar:
a.

Fragmen tanpa pergeseran

b.

Fragmen dengan pergeseran tetapi masih ada kontak

c.

Fragmen distal dan proksimal tidak ada kontak

2.2 Epidemiologi
Di Amerika Serikat,fraktur diafisis humerus terjadi sebanyak 1,2% kasusdari seluruh
kejadian fraktur,dan fraktur proksimal humerus terjadi sebanyak 5,7% kasus dari seluruh
fraktur.Sedangkan kejadian fraktur distal humerus terjadi sebanyak 0,0057% kasus dari seluruh
fraktur.
Walaupun berdasarkan datatersebut fraktur distal humerus merupakan yang paling
jarang terjadi,tetapi telahterjadi peningkatan jumlah kasus,terutama pada wanitu tua dengan
osteoporosis.
Fraktur proksimal humerus sering terjadi pada usia dewasa tua dengan umur rata-rata
64,5 tahun.Sedangkan fraktur proksimal humerus merupakan fraktur ketiga yang paling sering
terjadi setelah fraktur pelvis dan fraktur distalradius.Fraktur diafisis humerus lebih sering pada
usia yang sedikit lebih muda yaitu pada usia rata-rata 4-8 tahun
2.3 Definisi Fraktur Supracondilar Humerus
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa.Fraktur suprakondiler humerus adalah fraktur 1/3 distal
humerus tepat proksimal troklea dan capitulum humeri. Garis fraktur berjalan melalui apeks
coronoid dan fossa olecranon,biasanya fraktur transversal.Merupakan fraktur yang paling sering
terjadi pada anak-anak.Paling sering ditemukan setelah fraktur antebraki.Fragmen distal dapat
tertarik ke posterior atau anterior.Pada orang dewasa,garis fraktur terletak sedikit lebih
proksimal daripada fraktur suprakondiler pada anak dengan garis fraktur kominutif,spiral disertai
angulasi.
Sedangkan fraktur terbuka adalah fraktur yang terdapat hubungan langsung dengan
dunia luar. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka
dan berat ringannya fraktur, sebagaimana yang terlihat pada tabel dibawah ini

Derajat
I

Luka
Laseralisasi < 2 cm

Fraktur
Sederhana,

dislokasi

fragmen disekitarnya
II

Laseralisasi > 2 cm

III

Luka, lebar, rusak hebar atau hilanng Segmental,


jaringan disekitarnya

Dislokasi fragmen jelas


fragmen

tulang ada yang hilang

Kemudian Gustillo et al. (1984) membagi tipe III dari klasifikasi Gustillo dan
Anderson(1976) menjadi tiga subtipe, yaitu tipe IIIA, IIIB dan IIIC.
a.IIIA terjadi apabila fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak, walaupun adanya
kerusakan jaringan lunak yang luas dan berat.

b.IIIB fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringan lunak sehingga tulang
terlihat jelas atau bone expose, terdapat pelepasan periosteum, fraktur kominutif.
Biasanyadisertai kontaminasi masif dan merupakan trauma high energy tanpa memandang
luas luka.

c.III C terdapat trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar kehidupan bagian distal
dapat dipertahankan tanpa memandang derajat kerusakan jaringan lunak.

2.4 Etiologi Supracondilar Humerus


Ada 2 mekanisme terjadinya fraktur yang menyebabkan dua macam jenis fraktur
suprakondiler yang terjadi:
a.

Tipe ekstensi (sering terjadi 99% kasus).Bila melibatkan sendi,fraktur suprakondiler tipe
ekstensi diklasifikasikan sebagai fraktur transkondiler atau interkondiler. Fraktur terjadi akibat
hyperextension injury (outstretched hand) gaya diteruskan melalui elbow joint, sehingga terjadi
fraktur proksimal terhadap elbow joint. Fragmen ujung proksimal terdorong melalui periosteum
sisi anterior dimana ada m.brachialis terdapat, ke arah a. brachialis dan n. medianus. Fragmen
ini mungkin menembus kulit sehingga terjadi fraktur terbuka.
Klasifikasi fraktur suprakondiler humeri tipe ekstensi dibuat atas dasar derajat displacement:

Tipe I

: undisplaced

Tipe II

: partially displaced

Tipe III

: completely displaced

b. Tipe fleksi (jarang terjadi). Trauma terjadi akibat trauma langsung pada aspek posterior elbow
dengan posisi fleksi. Hal ini menyebabkan fragmen proksimal menembus tendon triceps dan
kulit.
Klasifikasi fraktur suprakondiler humeri tipe fleksi juga dibuat atas dasar derajat displacement:

Tipe I

: undisplace

Tipe II

: partially displaced

Tipe III

: completely displaced

Penyebab fraktur humerus diantaranya adalah karena peristiwa trauma.Fraktur yang


disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan,yang dapat berupa pemukulan,
penghancuran,penekukan,pemuntiran atau penarikan.
a.

Trauma Langsung
Trauma langsung Tulang dapat patah pada tempat yang terkena, jaringan lunak rusak.

b.

Trauma tak langsung


Tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena itu,
kerusakan jaringan lunak pada fraktur mungkin tidak ada.

Fraktur humerus juga dapat terjadi akibat:


a. Fraktur kelelahan atau tekanan Akibat dari tekanan yang berulang-ulang sehingga dapat
menyebabkan retak yang terjadi pada tulang.
b. Kelemahan abnormal pada tulang / fraktur patologik
Fraktur yang dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh
tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (osteoporosis tulang).
Tekanan pada tulang dapat berupa:
1. Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral.
2. Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal.
3. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur,impaksi, dislokasi,atau
fraktur dislokasi.
4. Kompresi vertikal yang dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah.
5. Trauma oleh karena remuk.
6. Trauma karena tarikan pada ligament atau tendon akan menarik sebagian tulang.

2.5 Manifestasi Klinis Fraktur Supracondilar Humerus


Manifestasi klinik atau gambaran klinis pada fraktur humerus adalah:
a. Nyeri
Nyeri continue / terus-menerus dan meningkat karena adanya spasme otot dan kerusakan
sekunder sampai fragmen tulang tidak bisa digerakkan.
b. Deformitas atau kelainan bentuk
Perubahan tulang pada fragmen disebabkan oleh deformitas tulang dan patah tulang itu sendiri
yang diketahui ketika dibandingkan dengan daerah yang tidak luka.

c. Gangguan fungsi
Setelah terjadi fraktur ada bagian yang tidak dapat digunakan dan cenderung menunjukkan
pergerakan abnormal,ekstremitas tidak berfungsi secara teratur karena fungsi normal otot
tergantung pada integritas tulang yang mana tulang tersebut saling berdekatan.
d. Bengkak / memar
Terjadi memar pada bagian atas lengan yang disebabkan karena hematoma pada jaringan
lunak.
e. Pemendekan
Pada fraktur tulang panjang terjadi pemendekan yang nyata pada ekstremitas yang disebabkan
oleh kontraksi otot yang berdempet di atas dan di bawah lokasi fraktur humerus.
f.

Krepitasi
Suara detik tulang dapat didengar atau dirasakan ketika fraktur humeri digerakkan disebabkan
oleh trauma lansung maupun tak langsung.

g. Denyut nadi a. Radialis yang berkurang (pulsellessness)


h. Pucat (pallor)
i.

Rasa semutan (paresthesia)

j.

Kelumpuhan (paralisis)

2.6 Patofisologi Fraktur Supracondilar Humerus


Daerah suprakondiler humeri merupakan daerah yang relatif lemah pada ekstremitas
atas.Di daerah ini terdapat titik lemah,dimana tulang humerus menjadi pipih disebabkan adanya
fossa olecranon di bagian posterior dan fossa coronoid di bagian anterior,akibatnya baik pada
cedera hyperextensi atau flexi lengan bawah tenaga trauma ini akan diteruskan lewat elbow
joint.
Fraktur terjadi akibat jatuh bertumpu pada tangan terbuka dengan siku agak flexi dan
lengan bawah dalam keadaan pronasi.
Pada sebagian besar fraktur supracondilar,garis fraktur brbentuk oblique dari anterior ke
cranial posterior,dengan pergeseran fragmen distal kearah posterior cranial.Fraktur
supracondilar humeri jenis extensi selalu disertai dengan rotasi fragmen distal ke medial dan
hinging cortex lateral.
Walaupun rotasi merupakan suatu komponen utama dari beberapa jenis fraktur
supracondilar,namun rotasi tidak selalu terjadi.Fraktur komunitif sendiri jarang dijumpai.

Gambar.fraktur supracondilar humerus dengan pergeseran fragmen kea rah


anterior dan mengenai a.bracialis dan n.medianus
Pada fraktur derajat pergeseran dapat terjadi.Salah satu bentuk pergeseran adalah
angulasi ke anterior dan medial,dengan pemisahan fragmen fraktur.Jenis pergeseran yang lain
adalah tidak adanya kontak antar fragmen dan kadang-kadang pergeseran cukup besar.Ujung
distal dari fragmen proximal yang tajam yang mengarah ke anterior caudal akan menusuk
sehingga menimbulkan kerusakan pada musculus bracialis,disamping itu akan terjadi
penekanan arteri/vena bracialis atau nervus radialis dan nervus medianus.Pada pergeseran
yang hebat atau yang besar,salah satu dari struktur-struktur tersebut dapat saja terjepit
(interposisi) diantara fragmen fraktur.
Fraktur supracondilar humerus jenis flexi jarang dijumpai,biasanya terjadi akibat jatuh
yang mengenai elbow joint dalam keadaan flexi.Garis fraktur mulai cranial mengarah ke
posterocaudal dan fragmen distal mengalami pergeseran ke arah anterior.Jenis fraktur ini harus
dibedakan dari fraktur jenis extensi karena reposisi dan imobilisasinya dalam keadaan extensi.

Gambar.Mekanisme cedera fraktur supracondiler humerus flexion type

2.7 Komplikasi Fraktur Supracondilar Humerus


a. Dislokasi bahu
Fraktur-dislokasi baik anterior maupun posterior sering terjadi. Dislokasi biasanya dapat
direduksi secara tertutup dan kemudian diterapi seperti biasa.
b. Cedera saraf
Kelumpuhan saraf radialis dapat terjadi pada fraktur humerus bila tidak ada tindakan yang
berarti.
c. Lesi saraf radialis
Yaitu ketidakmampuan melakukan ekstensi pergelangan tangan sehingga pasien tidak mampu
melakukan fleksi jari secara efektif dan tidak dapat menggenggam lagi.
d. Kekakuan sendi
Kekakuan pada sendi terjadi jika tidak dilakukan aktivitas lebih awal.
e. Non-union Penyembuhan tulang tidak terjadi walaupun telah memakan waktu lama karena :
1.

Terlalu banyak tulang rusak pada cedera sehingga tidak ada yang menjembatani fragmen

2.

Terjadi nekrosa tulang karena tidak ada aliran darah.

3.

Anemi endoceime imbalance (ketidakseimbangan endokrin atau penyebab sistemik yang

lain).
f.

Apabila terjadi penekanan pada arteri brakialis, dapat terjadi komplikasi yang disebut dengan
iskemia Volkamanns.Sering disertai edema lengan bawah dan kompartemen sindrom yang

makin menghebat yang mengakibatkan nekrosis otot dan saraf tanpa menyebabkan gangren
perifer. Nyeri hebat ditambah satu tanda positif (nyari saat ekstensi jarisecar pasif,
lenganbawah yang nyeri tekan dan tegang,tak ada nadi dan tumpulnya sensasi) membutuhkan
tindakan yang cepat.Timbulnya sakit,denyut arteri radialis yang berkurang,pucat,rasa
kesemuatan,dan kelumpuhan merupakan tanda-tanda klinis adanya iskemia ini.

2.8 Diagnosa Fraktur Supracondilar Humerus


Menegakkan diagnosis fraktur dapat secara klinis meliputi anamnesis lengkap dan
melakukan pemeriksaan fisik yang baik,namun sangat penting untuk dikonfirmasikan dengan
melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen untuk membantu mengarahkan dan
menilai secara objektif keadaan yang sebenarnya.
Pemeriksaan subyektif dan obyektif menyeluruh dari fisioterapis atau dokter sangat
penting untuk membantu diagnosis fraktur supracondylar. X-ray diperlukan untuk
mengkonfirmasi diagnosis. Penyelidikan lebih lanjut seperti scan MRI, CT atau bone scan
mungkin diperlukan, dalam beberapa kasus, untuk membantu diagnosis dan menilai keparahan
cedera.

Anamnesa
Biasanya anak datang dengan suatu trauma (traumatic,fraktur) baik yang hebat
maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan
anggota gerak.Anamnesa harus dilakukan dengan cermat,karena fraktur tidak
selamanya terjadi didaerah trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah
lain.Anak biasanya dating karena adanya nyeri,pembengkakan,gangguan fungsi
anggota gerak,krepitasi atau dating dengan gejala lain.
Pada anak yang masih sangat kecil sering terdapat kesulitan untuk mendapatkan
anamnesa,terutama jika tidak ada saksi yang melihat saat terjadinya trauma

Pemeriksaan fisik
Dalam pemeriksaan fisik,ada beberapa hal yang umumnya dapat terlihat pada
fraktur supracondilar humerus :

1) Elbow joint dalam posisi extensi atau semiflexi dengan daerah siku tampak bengkak

Gambar.s-shaped elbow

2.angulasi berbentuk huruf s padasiku yang merupakan tanda fraktur kompit (tipe III) yang
terjadi akibat fraktur pada dua titik angulasi

3.pucker sign,merupakanidentasi kulit anterior akibat penetrasi fragmen proximal ke


m.bracialis.pucker sign menandakan fracture mungkin akan sulit dilakukan dengan manipulasi
sederhana
Pemerikasaan neurovascular yang teliti dilakukan dengan pemeriksaan integritas n.medianus,n
radialis dan n.ulnaris serta cabang2 nya.capillary refill dan pulsasi distal harus diperiksa
Tanda2 cedera pd n.medianus,ulnaris dan radialis
1.n radialis
*wrist drop dapat terjadi akibat kelemahan m ekstensor radialis,juga ketidakmampuan extensi
pada sendi MCP atau elevasi ibu jari

2.n medianus
*okay sign

*pointing sign
3.n ulnaris
*frogment sign
Pasien diminta menahan kertas diantara ibu jari dan telunjuk sedang pemerikas
berusaha untuk menarik kertas tersebut :flexi ibu jari sendi interphalageal yang keras
menandakan kelemahan m.adduktor pollics dan m.interosseseus dorsalis 1 akibat kompensasi
dari m.flexor pollicis longus dan disebur frogment sign

2.9 Pemerikasaan Penunjang


a.

Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang,pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan sinar
rontgen (x-ray).Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang
sulit,maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral.Dalam keadaan tertentu
diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang
dicari karena adanya superposisi.Pemeriksaan penunjang dengan radiologi proyeksi AP/LAT,
untuk melihat tipe ekstensi atau fleksi.
Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan
penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan.Hal yang harus dibaca pada x-ray:

1.

Bayangan jaringan lunak.

2.

Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi.

3.

Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.

4.

Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.


Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:

a. Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit
divisualisasi.Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada
satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
b. Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang
vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.
c. Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.
d. Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang
dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.

b.

Pemeriksaan Laboratorium

1. Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
2. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam
membentuk tulang.
3. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino
Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.

c.

Pemeriksaan lain-lain

a. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab


infeksi.
b. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih
dindikasikan bila terjadi infeksi.
c.

Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.

d.

Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.

e.

Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.

f.

MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

2.10 Penatalaksanaan Fraktur Supracondilar Humerus


Karena fraktur supracondylar adalah rotasi tidak stabil dan memiliki tingkat tinggi
komplikasi neurovaskular,maka harus dianggap sebagai keadaan darurat ortopedi.Bagi fraktur
yang displaced,tidak stabil atau tidak dapat dikurangi tanpa membahayakan suplai
darah,pengobatan biasanya melibatkan pengurangan anatomi (yaitu re-alignment dari fraktur
dengan manipulasi hati-hati di bawah anestesi) diikuti dengan fiksasi eksternal maupun internal
bedah untuk menstabilkan patah tulang (misalnya menggunakan pin). Hal ini dapat diikuti
dengan menggunakan belat, gips, sling atau penjepit untuk beberapa minggu.

Dameron menyatakan 4 tipe dasar terapi,berdasarkan jenis fraktur,yaitu:


1.Side-arm skin traction
2.Overhead skeletal traction
3.Closed reduction and casting,dengan atau tanpa percutaneous pinnng
4.Open reduction internal fixation

Berdasarka klasifikasi Gartland,tipe I yaitu fracture nondisplaced,dapat diterapi dengan


fiksasi eksternal seperti pemasangan plaster cast.Fraktur tipe II merupakan fraktur displaced
sehingga sulit direduksi dan dijaga kestabilannya melalui metode eksternal.Pada fracture tipe III
reduksi sulit dilakukan dan stabilitas tulang hamir mustahil tanpa fiksasi internal.

Gambar.fikasasi internal dari supracondilar humerus


A dan B :fraktur supracondilar tipe III,displaced berat
C dan D :setelah reduksi tertutup dan percutaneus pinning
E dan F :hasil yang baik setelah pelepasan pin
Menjaga reduksi dengan extensi siku dapat dilakukan untuk mendapatkan gambaran
radiologis yang bagus dan menghindari cubitus varus atau valgus.Mendapatkan gambaran
radiologis yang baik untuk menentukan apakah terdapat cubitus varus atau valgus merupakan
masalah besar dalam terapi fraktur.Beberapa metode traksi overhead dan traksi side-arm telah
direkomendasikan.Gamabaran radiologi yang lebih baik terkadang dapat diambil pada posisi
ini,walaupun dibutuhkan perawatan dirumah sakit yang lebih lama.Terdapat 3 alasan utama
terjadinya deformitas cubitus varus atau valgus,yaitu:
-Ketidakmampuan menginterprestasinkan gambaran raduologi yang tidak memadai
-Ketidakmampuan menginterprestasikan gambaran radiologi karena kurangnya pengetahuan
mengenai patologis fraktur

-Kegagalan reduksi

a) Terapi Fracture Supracondilar Tipe Extensi


Fraktur supracondilar humerus tipe exstensi terjadi akibat jatuh pada lengan dengan
posisi extensi dengan atau tanpa tekanan abduksi atau adduksi.Terapi yang dapat dilakukan dapat
berupa terapi non operatif atau terapi operatif.
Terapi non operatif
-Indikasinya adalah untuk fraktur non displaced atau displaced minimal
-Splint posterior long arm dipasang pada flexi siku 90derajat jika edema,dan jika status
neurovascular memungkinkan.dengan posisi lengan bawah netral
-Imobilisasi dengan splint posterior dilanjutkan 1-2 mingg,kemudian latihan ROM mulai
dilakukan.Splint dapat dilepaskan setelah 6 minggu,saat gambaran radiologi menunjukkan
tanda penyembuhan
-Evaluasi radiologis diperlukan untuk mendeteksi kegagalan reduksi fraktur
Terapi Operatif
-Indikasi dari terapi adalah fraktur displaced,fraktur yang disertai trauma vascular,fracture
intraarticular,dan fraktur terbuka
-Open reduction and internal fikasasi (ORIF).Fiksasi plate digunakan pada masing-masing
collum,dapat parallel atau pada sudut 90derajat.Fiksasi plate merupakan pilihan terapi,karena
metode ini memungkinkan latihan ROM sejak awal pemasangan.
-Latihan ROM harus dimulai segera setelah pasien mampu mentoleransi terapi

Tipe I :Imobilisasi dengan cast atau splint pada posisi flexsi 60-90derajat yang diindikasi
utuk rentan waktu 3 minggu

Tipe II :Umumnya dapat direduksi dengan metode tertutup yang diikuti pemasangan
cast.Fraktur tipe II mungkin membutuhkan pemasangan pin jika stabil,atau jika reduksi
tidak dapat ditahan tanpa flexi berlebihan yang berisko menimbulkan cedera saraf

Tipe III :Dilakukan reduksi tertutup dan pemasangan pin.Traksi mungkin dibutuhkan
untuk fraktur komunutif dengan pembengkakan atau kerusakan jaringan lunak.ORIF
dibutuhkan untuk fraktur rotasi tidak stabil,fraktur terbuka dan fraktur dengan gangguan
neurocascular.

Prinsip Reduksi :
-Displacement dikoreksi pada plane coronal dan horizontal sebelum plane sagital

-Hyperextensi siku dengan traksi longitudinal digunakan untuk memperoleh aposisi


-Flexi siku dilakukan saat tekanan posterior diberikan pada fragmen distal
-Stabilisasi dengan control displacement pada plane coronal,sagittal,dan horizontal
-Pin lateral diletakan pertama kali untuk mendapatkan stabilisasi proviosional.jika pin medila
dibutuhkan,siku diextensikan sebelum pemasangan pin untuk melindungi n.ulnaris
Komplikasi :
-Kontraktur iskemik Volkmann

Komplikasi ini dapat terjadi akibat compartemt syndrome yang tak terdeteksi dengan
gangguan neurovascular.Pemeriksaan neurovascular serial dengan atau tanpa monitor
tekanan compartment perlu dilakukan

-Kekakuan

Penurunan sudut condilar shaft hingga 20derajat dapat ditoleransi dengan gerakan
kompensasi dari bahu

Pembentukan tulang heterotropic dapat terjadi

b) Terapi Fraktur Supracondilar Tipe Flexi


Fraktur supracondilar humerus tipe flexi biasanya berkaitan dengan lesi terbuka,dimana
fragmen proksimal yang tajam menancap tendon m.triceps brachii dan menembus kulit ang
menutupi.Fraktur ini terjadi karena tekanan terhadap aspek posterior dari siku saat posiusi flexi.
Terapi Operatif :
-ORIF

Fiksasi plate digunakan pada tiap collum,baik pararel maupun membentuk 90derajat.

-Latihan ROM harus dimulai segera setelah pasien mampu metoleransi terapi.
Tipe I :Imobilisasi dengan cast pada posisi hampirextensi diindikasikan untuk 2-3minggu
Tipe II :Reduksi tertutup diikuti percutaneous pin dengan 2 pin lateral atau crossed pin
Tipe III :Reduksi umumnya sulit dilakukan.sebagian besar membutuhkan tindakan ORIF
dengan crossed pin
Imobilisasi dengan cast,siku flexi 90derajat dan lengan bawah pada posisi netral,harus
dilakukan 2-3 minggu post operasi,yaitu hingga cast dan pin dapat dilepaskan.Pasien haru
dengan latihan ROM dan pembatasan aktifitas selama 4-6 minggu berikutnya.

Clossed Reduksi
Reduksi tertutup dengan splint atau cast dapat dilakukan untuk fraktur supraconduilar
displaced,namun reduksi yang gagal dan manipulasi berulang dapat mengakibatkan kekakuan

sendi siku dan kerusakan epifisis.Pemasangan cast direkomendasikan hanya untuk fraktur
undisplaced.Kriteria untuk reduksi tertutup adalah reduksi yang mudah,fraktur
stabil,pembengkakan minimal dan tidak ada gangguan vascular.
Reduksi pada fraktur dapat dilakukan pada posisi ekstensi dan reduksi dijaga melalui
penggunaan triceps bridge dengan menahan siku pada posisi flexi jika pembuluh darah dapat
mentoleransi metode ini

Gambar.tehnik reduksi supracondilar fraktur humerus


Teknik Reduksi :
Diagram A
Stabilkan bahu pasien.Asisten dapat menahan bahu dengan cara meletakan handuk
disekelilingnya.(1) tarik untuk melepaskan fraktur dan memperbaiki angulasi.Extensikan siku
pasien secara gentle.Pegang bagian pergelangan tangan dan lengan bawah distal.Tarik denga
cukup keras kearah longitudinal minimal 1 menit searah jarum jam.(2) pemeriksaan akan
merasakan disimpaksi fracture dan pelepasan jaringan luak yang terperangkap diantara fraktur
Diagram B
Koreksi displace medial dan lateral.Fragmen distal umumnya bergeser kemedial.Traksi
biasanya dilakukan untuk memperbaiki.Rasakan fragmen distal melaui siku pasien bila
memungkinkan.Geser fragmen distal ke midline dari lengan.
Diagram C
-Koreksi displace posterior
-selama melakukan traksi longitudinal dengan lengan kanan
-tekan oleocranon dengan ibu jari

-mulai flexikan dengan ibu jari menekan oleocranon


-lakukan ini sementara asisten menjaga traksi pada axial
-tetap tekan oleocranon dengan ibu jari
-lakukan rotasi eksternal pada lengan melebihi bagian normal
Diagram D
Flexi komplit,fleksi melebihi 90derajat tidak meningkatkan reuksi namun dapat menstabilan
reduksi penutupan tendon m.triceps di sekeliling fragmen distal dan memfiksasinya.Ini juga
mempengaruhi fragmen lain.Displace lateral pada fragmen distal tidak dapat dikoreksi.
Posisi ujung olecrnon merupakan acuan paling baik untuk melakukan reduksi
maksimal.Ujung olecranon harus segaris dengan aksis humerus atau sedikit lebih
anterior.Posisi kedua epicondylus dan olecranon harus dipaksa.
Diagram E,F,G
Periksa pulsasi pasien,hal ini dapat dipersulit oleh adanya edema.Jika pulsasi tidak meraba
pada posisi flexi,ekstensikan hingga pulsasi muncul.
Setelah pasien terbangun,yakinkan pasien dapat melakukan flexi dan ekstensi jari-jari
tangan.Periksa fungsi n.medianus dan n.ulnaris.
Traksi Olecranon

Gambar.traksi melalui olecranon untuk fraktur supracondilar Tshape.Jika olecranon intak,K-wire dapat dimasukan dan ditekan Gissan strrup atau digunakan
Steinmann yang lebih tipis
Traksi olecranon jarang digunakan saat ini.Teknik ini menggunakan pin ukuran medium
yang ditempatkan pada bagian proksimal olecranon.Tulang masuk pada 1.5 cm dari ujung

olecranon.Lengan bawah dan pergelangan tanggan dusupport oleh traksi kulit dengan posisi
siku flexi 90derajat.
Salah satu komponen yang paling penting dari rehabilitasi setelah fraktur supracondylar
adalah bahwa pasien terletak cukup dari setiap kegiatan yang meningkatkan rasa sakit mereka.
Kegiatan yang menempatkan stres berat melalui humerus juga harus dihindari terutama
mengangkat, berat bantalan atau kegiatan mendorong.Istirahat dari kegiatan menjengkelkan
memungkinkan proses penyembuhan berlangsung tanpa adanya kerusakan lebih lanjut.
Setelah pasien dapat melakukan kegiatan ini sakit hilan, kembali secara bertahap ke kegiatan
ini diindikasikan asalkan tidak ada peningkatan gejala.Ini harus dilakukan selama periode
minggu ke bulan dengan arahan dari fisioterapis mengobati.
Mengabaikan gejala atau mengadopsi sikap 'no pain, no gain' kemungkinan akan
menyebabkan kerusakan lebih lanjut dan dapat memperlambat penyembuhan atau mencegah
penyembuhan patah tulang sama sekali.
Pasien dengan fraktur supracondylar harus melakukan fleksibilitas tanpa rasa sakit dan
latihan penguatan sebagai bagian dari rehabilitasi mereka untuk memastikan hasil yang
optimal.Hal ini sangat penting,karena fleksibilitas jaringan lunak dan kekuatan dengan cepat
hilang dengan imobilisasi.Fisioterapis dapat memberikan saran yang latihan yang paling tepat
untuk pasien dan kapan mereka harus dimulai.
b) Fisioterapi Pada Kasus Fraktur Supracondilar Humerus
1) Problematika Fisioterapi
Problematik fisioterapi yang didapat akibat terjadinya fraktur supracondyler
humeri dapat digolongkan kedalam berbagai fase atau tingkat dari impairment atau
sebatas kelemahan misalnya: adanya nyeri, bengkak yang mengenai sampai
menyebabkan keterbatasan Lingkup Gerak Sendi (LGS),dan terjadi kelemahan otot.
Dampak lebih lanjut adalah adanya suatu bentuk functional limitation atau fungsi
yang terbatas, misalnya fungsi dari regio elbow untuk fleksi,ekstensi, pronasi,dan
supinasi dan tidak terkecuali gangguan ADL yang akan menjadi berkurang atau bahkan
hilang dalam kurun waktu tertentu.Disamping itu akan timbul permasalahan berupa
disability atau ketidakmampuan melakukan kegiatan tertentu seperti perawatan diri,
seperti berpakaian,mandi, ke toilet,dan sebagainya.
2) Intervensi Fisioterapi

Untuk mengatasi problematik tersebut di atas modalitas fisioterapi berupa alat


yang digunakan adalah IRR (Infra Red Rays). IRR untuk memperlancar sirkulasi darah
superfisial dan pre-elemenary exercise.IRR adalah pancaran gelombang elektromagnetik
dengan panjang gelombang 7.700 4 juta A, yang mana jika sinar oleh kulit maka panas
akan timbul pada tempat sinar tadi diabsorbsi.
Adapun untuk modalitas fisioterapi lainnya adalah
a) Manual therapy (terapi manipulasi)
Manual therapy atau terapi manipulasi pertama kali dikembangkan oleh John Mennel
(1907) yang dimulai dengan manipulasi spinal.Maxer dkk mengembangkan teknik sendi
peripheal dengan konsep biomekanik.Dalam hal ini manual therapy yang digunakan ada dua,
yaitu massage untuk menurunkan oedema dan traksi-translasi untuk menambah lingkup gerak
sendi.
b) Exercise Therapy
Exercise therapy atau terapi latihan merupakan salah satu modalitas fisioterapi yang
pelaksanaannya menggunakan gerak tubuh baik secara aktif maupun pasif untuk
pemeliharaan dan perbaikan kekuatan,ketahanan dan kemampuan kardiovaskuler,
mobilitas dan fleksibilitas,stabilitas,rileksasi,koordinasi,keseimbangan dan kemampuan
fungsional.Dan terapi latihan yang digunakan ada empat, yaitu
1) Pasif exercise tujuannya adalah sebagai bertujuan untuk melatih otot secara pasif,
oleh karena gerakan berasal dari luar atau terapis sehingga dengan gerak relaxed passive
exercise ini diharapkan otot menjadi rileks dan menyebabkan efek pengurangan atau
penurunan nyeri akibat incisi serta mencegah terjadinya keterbatasan gerak serta menjaga
elastisitas otot
2) Active exercise bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kekuatan otot,
mengurangi bengkak,mengembalikan koordinasi dan keterampilan motorik untuk aktivitas
fungsional
3) Hold relax bermanfaat untuk rileksasi otot otot dan menambah LGS.(Kisner, 1996)
4) Free Active Movement yaitu Pendulum Exercise,dilakukan sesegera mungkin pada
minggu-minggu awal post operatif
3) Intervensi lain
Meskipun manajemen fisioterapi sudah tepat,beberapa pasien dengan kondisi ini tidak
membaik secara sempurna dan mungkin memerlukan intervensi lain.Fisioterapis atau dokter
dapat memberikan nasihat tentang jalan terbaik dari manajemen ketika hal ini terjadi.Ini

mungkin termasuk penyelidikan lebih lanjut seperti X-ray, CT scan, MRI atau bone
scan,imobilisasi dengan gips atau rujukan ke pihak medis yang berwenang untuk dapat
memberikan nasihat tentang intervensi yang mungkin sesuai untuk memperbaiki kondisi
tersebut.Kadang-kadang,pasien yang awalnya dikelola secara konservatif mungkin memerlukan
operasi untuk menstabilkan patah tulang dan cangkok tulang untuk membantu penyembuhan
patah tulang.

Kasus Fraktur Supracondilar Humerus


A. ASSESMENT
1. Identitas pasien
Nama

: An.Omesh

Umur

: 9 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: JL.Melati Raya RT 09/06

Hobi

: Olah raga

Diagnose medis

: Post Fraktur Supracondilar Sinistra

2. Riwayat Penyakit
a. Keluhan utama
Keluhan lengan kiri sakit saat digerakan dan tidak bisa mengangkat
lengan atau pasien tidak dapat gerakan ekstensi elbow dan flexsi elbow
terbatas
b. Riwayat penyakit sekarang
Fraktur pada 1/3 distal humerus,terjadi 1 bulan lalu.Fraktur pada
supracondylar humerus sinistra.Pasien telah melakukan pemasangan
plate/penn pada sisi medial dan lateral humerus.Kemudian pasien tidak
dapat melakukan gerakan ekstensi elbow,dapat melakukan gerakan flexsi
elbow namun masih terhambat.
Persambungan fraktur masih sekitar 50%,pasien juga mengeluhkan
sering merasa kesemutan pada jari tengah,jari manis dan kelingking

c. Riwayat penyakit terdahulu

Pasien tidak pernah mengalami fraktur sebelumnya


3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
1) Tekanan darah

: 90/70 mmHg

2) Denyut nadi

: 72 x/menit

3) Frekuensi pernapasan: 24 x/menit


4) Suhu tubuh

: 36C

5) Berat badan

: 25 Kg

6) Tinggi badan

: 130 cm

b. Inspeksi
1) Static
a) Adanya deformitas
b) Adanya oedem minimal
2) Dinamis
a) Pasien datang dengan ditemani orang tua nya ke fisioterapi
c. Palpasi
a) Nyeri tekan pada lengan kiri
b) Bagian yang cedera lebih hangat
c) Ada spasme (m.bisep bracii,m.bracialis )pada lengan kiri
d) Ada nya tonjolan pada supracondylar
d. Pemeriksaan fungsi gerak dasar
a) Pemeriksaan gerak aktif
No Gerakan

Hasil

Flexi-Ekstensi

Terbatas

Pronasi-Supinasi

Terbatas

b) Pemeriksaan gerak pasif


No Gerakan

Hasil

Flexi-Ekstensi

Terbatas

Pronasi-Supinasi

Terbatas

e.Tes Daya Tahan Isometrik

No Gerakan

Hasil

Flexi-Ekstensi

Pronasi-Supinasi

Tidak Melawan dan


Nyeri
Tidak Melawan dan
Nyeri

f.Pengukuran Skala Nyeri


No

Jenis

Hasil

Nyeri Diam

Ringan

Nyeri Tekan

Sedang

Nyeri Gerak

Berat

g.Pengukuran MMT
Grade
5

100%

Normal
4 Good

Definisi
Pasien mampu melawan gravitasi dan melawan tahanan
maksimal

75%

Pasien mampu melawan gravitasi dan melawan tahanan


minimal

50%

Fair
2 Poor

Pasien mampu melawan gravitasi tapi tidak mampu


melawan tahanan

25%

Pasien mampu melawan gerakan tapi tidak mampu


melawan gravitasi

5%

Ada sedikit kontraksi tapi tidak ada pergerakan sendi

0%

Tidak ada kontraksi

Trace
0
Zero

h.Pengukuran ROM
No

ROM

Flexi

Ekstensi

Pronasi

Supinasi

Normal

0-150

0-5

0-90

0-80

Hasil

0-130

0-5

0-40

0-40

Pengukuran

Hasil pengukuran nilai ROM menusut ISOM


S (ekstensi-flexi) : 5-0-130
R (Supinasi-Pronasi) : 40-0-40
i.Antropometri
Lingkar Segmen

Kanan

Kiri

5 cm

30 cm

25 cm

10 cm

35 cm

30 cm

15 cm

40 cm

35 cm

Lengan

B.

PROBLEM FISIOTERAPI

1.

Mengurangi nyeri gerak pada lengan sebelah kiri

2.

Adanya oedema pada lengan sebelah kiri

3.

Persambungan fraktur masih 50%

4.

Keterbatasan gerak fungsional pada lengan sebelah kiri.

C.

DIAGNOSA FISIOTERAPI
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada lengan sebelah kiri berkaitan dengan nyeri,

oedema,keterbatasan gerak pasca immobilisasi pada fraktur supracondylar humerus.


D.

PERENCANAAN FISIOTERAPI

1.

Jangka Pendek

a.

Menurunkan atau menghilangkan nyeri.

b.

Menurunkan atau menghilangkan oedema.

c.

Mempercepat persambungan fraktur dan proliferasi jaringan tulang

d.

Meningkatkan ROM pada lengan sebelah kiri.

e.

Memelihara dan meningkatkan kekuatan otot-otot lengan sebelah kiri.

2.

Jangka Panjang
Mengembalikan dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien dalam melaksanakan

ADL secara mandiri

E.

INTERVENSI FISIOTERAPI

1. Program Fase Akut (0-1 Minggu) Periode Immobilisasi


No

Problem / Tujuan FT
Nyeri

Modalitas Terpilih
Tens

Dosis
F : 1 x sehari
I : 20-40 mA
T : regional
T : 15 menit

Reaksi Inflamasi (Jika masih ada)

Rest

F : setiap hari
I : 3 jam perubahan posisi
T : dibantu berbalik
T : 3 jam per posisi

Ice

F : setiap hari
I : 3 menit, jeda 2 menit, 4x R
T : kompres
T : 10-15 menit

Compres

F : setiap hari
T : soft collar
T : 1 minggu

F : setiap hari

Elevasi

I:T : bantal yang tinggi


T : 1 minggu

Mempercepat penyembuhan

Ultrasound

F : 2-3 kali/minggu

fraktur dan proliferasi jaringan

I : 0,7-3 Mhz

tulang

T : CoPlanar
T : 10 menit

Spasme Otot

Kontraksi Statis

F : setiap hari
I : 8x hitungan, 15-20x repetisi
(tergantung kekuatan pasien)
T : gerakan dasar region
T : 3 menit

Mencegah mucle weakness pada

Aktif dan Pasif

F : 1x sehari

ekstremitas sekitar (Elbow)

Exercise

I : 5x hitungan, 3x repetisi
T : gerakan dasar regio
T : 3 menit

2. Program Fase Sub-Akut (2-4 minggu) Periode Immobilisasi


No
1

Problem / Tujuan FT
Mencegah stiffness joint ekstremitas

Modalitas Terpilih
Aktif Exercise

sekitar

Dosis
F : setiap hari
I : 8x hitungan, 3x
repetisi
T : gerakan dasar
regio
T : 3 menit

Mencegah

penurunan

(m.bisep bracii)

kekuatan

otot Isometric Exercise

F : setiap hari
I : 8x hitungan, 3x
repetisi
T : flexi ekstensi
elbow
T : 3 menit

Mencegah spasme otot

Kontraksi statis

F : setiap hari
I : 8x hitungan, 15-30x
repetisi
T : gerakan dasar
T : 3 menit

3. Program Fase Kronik (4-8 minggu) Periode Immobilisasi


No
1

Problem/Tujuan Fisioterapi
Mencegah limitasi ROM Elbow

Modalitas Terpilih
Aktif Exercise

Dosis
F : 1x per hari
I : 8x hitungan, 5x
repetisi
T : gerakan dasar
regio
T : 1 menit

4. Program Fase Kronik (8-12 minggu)


No
1

Problem/Tujuan Fisioterapi
Meningkatkan LGS elbow

Modalitas Terpilih
Hold Relax

Dosis
F : 1x per hari
I : 5x hitungan, 8x
repetisi
T : gerakan dasar
T : 10 menit

Mendidik Kembali n.Radialis

Assisted aktif exercise F : 1x per hari


I : 8x hitungan,3x
repetisi
T : gerakan dasar
regio
T : 10 menit

Mencegah mucle weakness elbow

Isometrik exercise

F : 1x per hari
I : 8x hitungan, 3x
repetisi
T : gerakan dasar

region
T : 30 detik
4

Meningkatkan kekuatan otot elbow

Strengthening

F : 1x per hari
I : 8x hitungan, 3x
repetisi
T : gerakan dasar
T : 30 detik

5. Program Fase Kronik (12-16 Minggu)


No
1

Problem/Tujuan Fisioterapi
Mencegah kontraktur otot pada elbow

Modalitas Terpilih

Dosis

Stretching Exercise

F : 1x per hari
I : 15x hitungan, 3x
repetisi
T : gerakan dasar
regio
T : 5 menit

Strengthening

F : 1x per hari

Exercise

I : 8x hitungan, 3x
repetisi
T : gerakan dasar
regio
T : 5 menit

Isometrik Kontraksi pada Elbow

Strengching dan Strengthening pada elbow

BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Fraktur supracondilar (metafisis humerus distal daerah proksimal dari siku) adalah
fraktur siku yang paling sering terjadi pada anak-anak.Terjadi sering pada usia antara 3-10
tahun.Fraktur suprakondiler humerus adalah fraktur 1/3 distal humerus tepat proksimal troklea
dan capitulum humeri. Garis fraktur berjalan melalui apeks coronoid dan fossa
olecranon,biasanya fraktur transversal.
Ada 2 mekanisme pada fraktur supracondilar humerus yaitu tipe flexi dan tipe ekstensi.
Penyebab fraktur humerus diantaranya adalah karena peristiwa trauma.Fraktur yang
disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan,yang dapat berupa pemukulan,
penghancuran,penekukan,pemuntiran atau penarikan.
Intervensi fisioterapi pada kasus post op fraktur suprakondilar humerus adalah Tens
untuk mengurangi nyeri dan US untuk memepercepat persambungan tulang dan proliferasi
jaringan tulang,kemudian exercise yang berupa kontraksi isometric,hold relax,aktif
exercise,pasif exercise,strengching dan strengthening.

Daftar Pustaka
www.google.com
http://www.ahlibedahtulang.com/artikel-187-fracture-supracondylair-humeri-padaanak.html
http://nurarifahm.blog.com/2012/12/18/fraktur-supracondyler-humeri/
http://www.scribd.com/doc/136571502/BAB-II-Fk-Suprakondiler