Anda di halaman 1dari 23

Laporan Akhir

Praktikum Rekayasa Material


Modul C Proses Pengerolan Logam (Rolling of Metals)

Oleh :

Nama

: F. X. Arnold Giovanni Heryanto

NIM

: 13112029

Kelompok

:9

Anggota (NIM) :
1.
2.
3.
4.
5.

Rika Yolanda (13112140)


Robertus Kristianto S. (13112091)
Mohamad Luthfi (13112056)
Achmad Syahied (13112003)
Robert (13112068)

Tanggal Praktikum

: 5 November2014

Tanggal Penyerahan Laporan

: 10 November 2014

Nama Asisten (NIM)

: Dyllon Satria (13710016)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material


Kelompok Keahlian Ilmu dan Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Proses pengerolan seringkali dilakukan untuk memproduksi logam
berbentuk batang atau pelat. Logam berbentuk batang atau pelat ini pada
umumnya akan digunakan sebagai bahan dasar untuk pemrosesan lebih lanjut
hingga pada akhirnya menjadi produk. Oleh karenanya, pelat atau batang hasil
pengerolan ini harus dikontrol kualitasnya agar produk yang dibuat dari
batang atau pelat ini juga terjaga kualitasnya.
Gaya-gaya pengerolan akan amat berpengaruh terhadap hasil pengerolan.
Untuk mengontrol kualitas pengerolan maka pemahaman terhadap faktorfaktor yang mempengaruhi gaya pengerolan amatlah penting. Selain faktorfaktor tersebut, pemahaman terhadap cacat yang dapat terjadi pada pengerolan
dan penyebab dari cacat tersebut juga tidak kalah penting karena suatu produk
hasil buatan manusia tidak akan pernah sempurna. Maka dari itu
dibutuhkanlah suatu percobaan yang dirancang untuk memahami proses
pengerolan.
1.2.Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini antara lain:
1. Memahami gaya-gaya yang bekerja pada proses pengerolan
2. Memahami parameter proses pengerolan
3. Memahami asumsi-asumsi yang digunakan dalam menurunkan persamaan
gaya pengerolan
4. Memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada proses pengerolan
5. Memahami tahapan-tahapan dalam proses pengerolan
6. Memahami perubahan sifat mekanik yang terjadi akibat proses pengerolan

BAB II
DASAR TEORI

Proses pengerolan adalah proses deformasi plastis pada logam dengan cara
melewatkan logam tersebut di antara roll. Proses ini banyak digunakan dalam
pengerjaan suatu logam karena dapat memproduksi dalam jumlah banyak dalam
waktu singkat. Proses pengerolan dilakukan oleh suatu sistem yang disebut rolling
mills. Rolling mills terdiri dari roll, bantalan, rumah, dan penggerak untuk
menggerakkan dan memberi gaya pada roll-nya. Rolling mills dapat
diklasifikasikan berdasarkan jumlah dan susunan dari roll yang digunakan.
Berikut contoh-contoh klasifikasi rolling mills:

Gambar 1 - Klasifikasi rolling mills


(http://img.alibaba.com/img/news/10/00/70/68/1256624124480_us_backyard1_839.jpg)

Proses pengerolan seringkali dibagi menjadi dua kategori berdasarkan


temperatur saat pengerolan dilakukan yaitu cold rolling dan hot rolling. Cold
rolling yaitu proses pengerolan yang dilakukan di bawah temperatur rekistralisasi
suatu logam sedangkan hot rolling merupakan proses pengerolan yang dilakukan
di atas temperatur rekistralisasi logam yang diroll. Keunggulan cold rolling
dibanding hot rolling yaitu dimensi produk akan lebih akurat, permukaan produk
akan lebih halus, dan kekuatan serta kekerasan produk akan
meningkat.Kekurangan dari cold rolling yaitu keuletan produk akan berkurang
dan reduksi maksimum yang dapat dicapai pada cold rolling akan lebih rendah
dibanding dengan hot rolling. Untuk mengatasi hal ini maka dapat dilakukan
annealing pada logam hasil pengerolan tersebut.
Annealing yaitu proses heat treatment pada benda kerja agar sifat
mekaniknya berubah kembali menjadi ulet. Ada 3 tahapan pada proses annealing
yaitu proses rekoveri, rekistralisasi, dan pertumbuhan butir. Rekoveri yaitu
pengembalian sifat mekanis material tanpa perubahan pada struktur mikronya.
Proses rekistralisasi yaitu penggantian struktur mikro pada benda kerja menjadi
butiran-butiran yang bebas regangan. Setelah rekistralisasi terjadi maka efek dari
strain hardening sudah hilang. Apabila benda kerja terus dipanaskan melebihi
temperatur rekistralisasinya maka akan terjadi pertumbuhan butir (grain growth)
menjadi butiran-butiran yang lebih besar.
Suatu logam yang diroll akan mengalami tegangan tekan dari roll dan juga
akan mengalami tegangan geser permukaan akibat gesekan antara benda kerja
dengan roll. Gaya geser ini juga berguna untuk menarik benda kerja menuju roll.
Berikut gambar gaya-gaya yang terjadi saat pengerolan:
Keterangan:
N = neutral point
Pr = gaya radial
F = tangential friction
force
Lp = panjang proyeksi
busur kontak
h0 = tebal benda sebelum
diroll
hf = tebal benda setelah
diroll
R = radius roll
= sudut kontak

Gambar 2 - Gaya-gaya saat proses pengerolan (Dieter, G. E.,Mechanical Metallurgy,hal.594)

Komponen vertical dari Pr disebut beban pengerolan (rolling load) dan sering
dilambangkan dengan huruf P. Beban pengerolan yaitu gaya penekanan roll
terhadap benda kerja. Tekanan pengerolan (p) yaitu beban pengerolan dibagi
dengan luas area kontak. Area kontak antara logam dengan roll sama dengan
perkalian antara lebar pelat (b) dan panjang proyeksi busur kontak (Lp).
1
2 2

1
0
= 0
0 2
4

Sehingga tekanan pengerolan dapat didefinisikan sebagai

Distribusi tekanan pengerolan sepanjang busur kontak dapat dilihat pada gambar
berikut

Gambar 3 - Distribusi tekanan pengerolan sepanjang busur kontak


(Dieter, G. E.,Mechanical Metallurgy,hal.595)

Tekanan naik hingga tekanan terbesar terjadi pada titik netral (neutral point), N, lalu
turun. Titik netral (neutal point) atau titik tanpa slip (no-slip point) yaitu suatu titik pada
benda dan roll pada mana kecepatan permukaan roll sama dengan kecepatan pelat
sehingga tidak terjadi slip. Tekanan terbesar terjadi pada titik ini karena pada titik ini
terjadi reduksi ketebalan terbesar di antara titik-titik kontak lainnya.

Agar pelat dapat masuk di antara roll tanpa bantuan maka komponen gaya
horizontal dari gaya gesek harus sama dengan atau lebih dari komponen gaya horizontal
dari gaya normal Pr. Kondisi pembatas agar pelat dapat masuk di antara roll tanpa
bantuan yaitu
cos = sin
sin

=
= tan
cos
=

Namun

= tan

Sehingga

Benda kerja dapat masuk ke antara roll apabila koefisien gesek roll dan benda kerja
sama dengan atau lebih dari tangen sudut kontak.
Untuk suatu kondisi dengan koefisien gesek yang sama maka suatu roll dengan
diameter lebih besar akan dapat mengeroll pelat yang lebih tebal dibandingkan roll
dengan diameter yang lebih kecil. Hal ini dikarenakan meskipun sudut kontaknya sama,
panjang proyeksi busur kontak nya akan berbeda. Lp dapat ditulis sebagai

Pada mana adalah reduksi yang dilakukan dalam proses pengerolan


tan =
Dari persamaan sebelumnya,
Atau

= 2

2
2

tan =

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi proses pengerolan antara lain:


1.
2.
3.
4.

Diameter roll
Ketahanan benda kerja terhadap deformasi
Gesekan antara roll dan benda kerja
Ada atau tidaknya front tension dan back tension pada bidang pelat

Beban pengerolan merupakan perkalian dari tekanan pengerolan dan area kontak.
Mengabaikan gesekan maka tekanannya adalah tegangan luluh dari material dan area
kontak adalah panjang proyeksi busur kontak dikali dengan lebar pelat logam. Sehingga,

= =

Tegangan luluh pada regangan bidang digunakan ketika tidak ada perubahan pada lebar
pelat. Ketika pelebaran terjadi pada pengerolan maka tegangan luluh uniaksial yang
digunakan.
Dengan perhitungan di atas dan dengan beberapa asumsi, antara lain:
1. Busur kontak sirkular
2. Koefisien gesek konstan pada semua titik kontak
3. Tidak ada pelebaran lateral yang terjadi sehingga pengerolan dapat dianggap
kasus plane strain
4. Deformasi homogeny
5. Kecepatan roll konstan
6. Deformasi elastis dapat diabaikan jika dibandingkan dengan deformasi
plastisnya
7. Kriteria distorsi energi untung yielding pada plane strain berlaku.
Maka gaya pengerolan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
=

1
0 ( 1)

3
2

Dengan = / dan adalah ketebalan rata-rata pelat antara masuk dan keluar roll.
Faktor

muncul karena pengerolan dianggap sebagai kasus plane strain sehingga aliran

tegangannya merupakan aliran tegangan pada plane strain.


Gaya pengerolan ini dapat dianggap terkonsentrasi pada suatu titik yang berjarak a dari
pusat roll, seperti terlihat pada gambar:
Sehingga akan terjadi torsi sebesar:
=

Dengan demikian, untuk satu putaran dengan dua buah


roll dibutuhkan energi sebesar:
= (2)2

Atau daya yang bekerja sebesar

Gambar 4 - Momen pada proses


pengerolan (Dieter, G.
E.,Mechanical Metallurgy,hal.595)

4
()
60000

Pada proses pengerolan akan terjadi beberapa fenomena, antara lain:


1. Roll Flattening
Yaitu peristiwa deformasi elastis pada roll yang menyebabkan bentuk roll berubah
menjadi lebih rata pada bagian yang kontak dengan benda kerja. Hal ini
menyebabkan radius dari roll akan bertambah besar dan gaya pengerolan pun
bertambah.
2. Roll Bending
Yaitu peristiwa deformasi pelastis pada roll yang menyebabkan roll menjadi bengkok
dan tidak paralel lagi. Hal ini akan menyababkan cacat pada produk. Biasanya untuk
mengatasi hal ini maka bentuk roll diberi crown sebaga kompensasi dari deformasi
yang terjadi. Berikut penggambarannya:

Gambar 5 - Deformasi pada roll dan cara mengatasinya (Wikipedia.org)

3. Strain hardening
Yaitu perubahan struktur pada logam akibat terjadi deformasi plastis sehingga
kekuatan dan kekerasan pada logam bertambah, namun logam akan menjadi lebih
getas.
Fenomena-fenomena tersebut akan menyebabkan kecacatan pada produk. Berikut
contoh cacat yang terjadi pada produk:

Gambar 6 - Cacat yang mungkin terjadi pada proses pengerolan


(Dieter, G. E.,Mechanical Metallurgy,hal.595)

BAB III
DATA PRAKTIKUM

Tanggal

: 5 November 2014

Penguji

: Rika, Arnold, Robertus, M. Luthfi, Robert, Syahied

Asisten

: Dyllon Satria

3.1.Data Uji Tarik


Material : Tembaga (Cu)
Lo= 141,456 mm
Tanneal = 700-1200F
A= 64.05 mm2
P
(N)
15900
15940
16360
16420

(N/mm2)
248.24
248.87
255.43
256.36

(mm)
3
3.5
4
4.5

e
(mm/mm)
0.0212
0.0247
0.0282
0.0318

1+e
(mm/mm)
1.0212
1.0247
1.0282
1.0318

(N/mm2)
253.51
255.03
262.65
264.52

(mm/mm)
0.0210
0.0244
0.0279
0.0313

3.2.Kurva Uji Tarik


300
y = 397.19x0.1171

Stress (N/mm2)

250
200

Engineering Stress-strain

150

True Stress-strain

100

Linear (Engineering
Stress-strain)
Power (True Stress-strain)

50
0
0

0.01

0.02

0.03

Strain (mm/mm)

0.04

0.05

3.3.Kurva Uji Tarik Cu Bahan Roll

300

Stress (N/mm2)

250
200
150

Engineering

100

"True"

50
0
0

0.02

0.04

Strain (mm/mm)

0.06

0.08

3.4.Kurva Kalibrasi Load Cell

Kurva Voltase dan Gaya


Pengerolan
0.5

Load (N)

0.4

y = 0.0004x + 0.0046

0.3

Volt-load

0.2
Linear (Voltload)

0.1
0
0

500

1000

Volt (mV)

Dari kurva didapat hubungan:


() = 0.0004 + 0.0046

3.5.Data Kekerasan Mikro


Reduksi
RHE1
0
71
1 (25%)
74
2 (50%)
85
3 (75%)
87

RHE2
74
80
86
90

3.6.Pengukuran dan Perhitungan Parameter Pengerolan Pelat

3.7.Kurva Hubungan Voltase dan Gaya Pengerolan

Load (N)

Kurva Voltase dan Gaya Pengerolan


0.45
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0

y = 0.0004x + 0.0046

Volt-load
Linear (Volt-load)

200

400

600

800

1000

Volt (mV)

3.8.Kurva Hubungan Tahap Reduksi dan Energi yang Dibutuhkan

Kurva Tahap Reduksi dan Energi


120.0000

Energi (J)

100.0000
80.0000
60.0000

Pengukuran

40.0000

Perhitungan

20.0000
0.0000
0%

20%

40%
Tahap Reduksi

60%

80%

3.9.Kurva Kekerasan Mikro Terhadap Regangan

Kurva Hubungan Kekerasan dan


Regangan
Kekerasan (HRE)

100
80
60
40

Regangan

20
0
0

0.5

1.5

Regangan

3.10.

Foto-foto proses

Gambar 7 -Foto Proses Pengerolan

3.11.

Gambar Struktur Mikro

Gambar 8 - Struktur Mikro Produk Pengerolan. Dari kiri ke kanan, reduksi 25%, 50%, 75%, dan
setelah proses annealing

3.12.

Foto-foto hasil proses

Gambar 9 - Foto Hasil Pengerolan. Dari atas ke bawah, reduksi 25%, 50%, dan 75%

BAB IV
ANALISIS DATA

Dari kurva uji tarik pada bagian 3.2 dapat didapatkan hubungan antara true
stress dan true strain. Caranya adalah dengan melakukan curve fitting
menggunakan persamaan pangkat (memenuhi persamaan = ) . Didapatlah
persamaan:
= 397.19 0.1171

Sehingga harga K=397.19 dan n=0.1171. Harga K dan n dari literatur (Dieter)
yaitu K=320 dan n=0.54. Harga yang didapat ini cukup berbeda jauh apalagi pada
harga n. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh material tembaga yang diuji
tidaklah sama dengan tembaga yang digunakan pada literatur. Hal lain yang
memungkinkan hal ini yaitu pada literatur tembaga yang digunakan sudah
mengalami anneling sedangkan tembaga yang digunakan pada uji tarik mungkin
tidak mengalami annealing sehingga pada material tersebut sudah mengalami
strain hardening.
Gaya hasil perhitungan dan pengukuran jauh berbeda (rata-rata 2 kali
lipat). Hal ini dikarenaka yang ditunjukkan pada adalah gaya yang dibutuhkan
untuk deformasi total karena pada proses pengerolan sebelum terjadi deformasi
plastis akan terlebih dahulu terjadi deformasi elastis yang juga membutuhkan
gaya. Pada pengukuran hanya diperhitungkan gaya yang dibutuhkan untuk
melakukan deformasi plastis saja. Selain hal ini, pada perhitungan tidak
diperhitungkan adanya back tension dan front tension sedangkan pada praktiknya
kedua gaya ini ada pada proses pengerolan.
Kekerasan benda kerja terus bertambah seiring pertambahan reduksi. Hal
ini dikarenakan peristiwa strain hardening yang menyebabkan kekerasan dan
kekuatannya bertambah. Pada beberapa pengukuran didapat harga yang lebih
rendah daripada sebelum pengerolan. Hal ini dikarenakan kesalahan penyetelan
alat uji dan titik uji yang tidak baik.
Dapat dilihat juga bahwa semakin besar reduksi maka energi yang
dibutuhkan untuk melakukan pengerolan makin tinggi. Hal ini dikarenakan
material semakin keras sehingga untuk reduksi yang sama akan dibutuhkan gaya
dan energi yang lebih besar . Dari kurva hubungan antara tahap reduksi dan energi
yang dibutuhkan dapat dilihat juga bahwa akan terdapat batas atas pada mana
energi yang dibutuhkan untuk suatu reduksi tidak akan bertambah lagi. Hal ini

dikarenakan pada benda kerja sudah terjadi strain hardening maksimal dan benda
tidak dapat menjadi lebih keras dan kuat lagi.
Dari gambar struktur mikro benda kerja dapat dilihat dengan jelas
peristiwa strain hardening yang terjadi pada proses pengerolan. Struktur mikro
benda kerja semakin pipih. Hal ini menyebabkan kekuatan dan kekerasan benda
meningkat tetapi keuletannya menurun. Setelah dilakukan proses annealing dapat
dilihat struktur mikro benda kembali ke asalnya. Hal ini menyebabkan efek-efek
dari strain hardening hilang.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1.Simpulan
Dari praktikum ini dapat disimpulkan:
1. Gaya-gaya yang bekerja pada proses pengerolan dapat dilihat pada bab II.
2. Parameter proses pengerolan antara lain:
a. Diameter roll
b. Ada atau tidaknya back tension dan front tension
c. Gesekan antara benda kerja dan roll
d. Ketahanan benda kerja terhadap deformasi
3. Asumsi-asumsi yang digunakan dalam menurunkan persamaan gaya
pengerolan dapat dilihat pada bab II
4. Fenomena-fenomena yang terjadi pada proses pengerolan dapat dilihat
pada bab II
5. Tahapan proses pengerolan antara lain:
a. Menyiapkan benda kerja
b. Menentukan reduksi yang ingin dilakukan
6. Perubahan sifat mekanik yang terjadi akibat proses pengerolan yaitu benda
kaan semakin keras dan kuat namun semakin getas. Hal ini dikarenakan
peristiwa strain hardening.
5.2.Saran
1. Mohon divariasikan kecepatan roll dan hasil pengerolan.
2. Mohon data yang diberikan pada uji tarik lebih lengkap lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Dieter G.E. Mechanical Metalurgy. SI Metric Edition. Edisi ke-4


Callister, William D. Materials Science And Engineering An Introduction, Edisi
ke-6, John Willey & Son Inc.

LAMPIRAN

Tugas Setelah Praktikum


1. Jelaskan mengapa plat hasil pengerolan sering tidak lurus dan tebalnya tidak
seragam!
Karena tidak mungkin suatu material bersifat homogeny sehingga perubahan panjang
atau elongasinya pun akan sulit untuk seragam. Hal lain yang menyebabkan hal ini
yaitu pasti akan terjadi deformasi pada roll yang menyebabkan deformasi pada benda
kerja juga berubah. Yang menyebabkan tebal pelat tidak seragam adalah deformasi
roll dan ketidak sejajaran roll.
2. Jelaskan prinsip pengukuran gaya pengerolan pada praktikum ini. Gambarkan skema
alat, tunjukkan pula kemungkinan-kemungkinan keslahan pengukuran dengan alat
ini!
Gaya diukur dengan load cell pada roll yang memberi keluaran mV. Keluaran ini
dikalibrasi dengan beban tertentu.
Transducer -> Amplifier -> Recorder
Kesalahan yang mungkin terjadi yaitu apabila penempatan load cell tidak baik maka
gaya yang diukur bukanlah gaya sebenaranya. Kesalahan lainnya yaitu apabila
sensitivitas dari masing-masing alat tidak baik maka hasil yang terukur tidak akan
benar.
3. Pada table IV.3 ditunjukkan bahwa beban pengerolan P harganya dua kali beban
terukur R. Jelaskan mengapa demikian dan asumsi apa yang digunakan!
Karena pada pengerolan menggunakan 2 buah roll. Asumsinya gaya pada ke-2 roll
tersebut sama besar.
4. Tunjukkan dan jelaskan perbedaan struktur mikro dan sifat mekanik antara plat awal,
plat yang telah mengalami proses cold rolling dan plat yang telah mengalami proses
annealing!

Dari gambar struktur mikro benda kerja (kiri-kanan : 25%, 50%, 75%,
annealing) dapat dilihat dengan jelas peristiwa strain hardening yang terjadi
pada proses pengerolan. Struktur mikro benda kerja semakin pipih. Hal ini
menyebabkan kekuatan dan kekerasan benda meningkat tetapi keuletannya
menurun. Setelah dilakukan proses annealing dapat dilihat struktur mikro
benda kembali ke asalnya. Hal ini menyebabkan efek-efek dari strain
hardening hilang.

5. Menurut perkiraan saudara, adakah pengaruh kecepatan pengerolan terhadap daya


dan gaya pada proses cold rolling? Bagaimana halnya dengan hot rolling?
Tidak ada pengaruhnya pada gaya. Namun dengan kecepatan yang tinggi maka daya
akan semakin tinggi pula. Sama saja antara cold rolling dan hot rolling.

Rangkuman Praktikum
Proses pengerolan adalah proses deformasi plastis pada logam dengan cara
melewatkan logam tersebut di antara roll. Proses ini banyak digunakan dalam
pengerjaan suatu logam karena dapat memproduksi dalam jumlah banyak dalam
waktu singkat.
Proses pengerolan seringkali dibagi menjadi dua kategori berdasarkan
temperatur saat pengerolan dilakukan yaitu cold rolling dan hot rolling. Cold
rolling yaitu proses pengerolan yang dilakukan di bawah temperatur rekistralisasi
suatu logam sedangkan hot rolling merupakan proses pengerolan yang dilakukan
di atas temperatur rekistralisasi logam yang diroll. Keunggulan cold rolling
dibanding hot rolling yaitu dimensi produk akan lebih akurat, permukaan produk
akan lebih halus, dan kekuatan serta kekerasan produk akan
meningkat.Kekurangan dari cold rolling yaitu keuletan produk akan berkurang
dan reduksi maksimum yang dapat dicapai pada cold rolling akan lebih rendah
dibanding dengan hot rolling. Untuk mengatasi hal ini maka dapat dilakukan
annealing pada logam hasil pengerolan tersebut.
Annealing yaitu proses heat treatment pada benda kerja agar sifat
mekaniknya berubah kembali menjadi ulet. Ada 3 tahapan pada proses annealing
yaitu proses rekoveri, rekistralisasi, dan pertumbuhan butir. Rekoveri yaitu
pengembalian sifat mekanis material tanpa perubahan pada struktur mikronya.
Proses rekistralisasi yaitu penggantian struktur mikro pada benda kerja menjadi
butiran-butiran yang bebas regangan. Setelah rekistralisasi terjadi maka efek dari
strain hardening sudah hilang. Apabila benda kerja terus dipanaskan melebihi
temperatur rekistralisasinya maka akan terjadi pertumbuhan butir (grain growth)
menjadi butiran-butiran yang lebih besar.
Suatu logam yang diroll akan mengalami tegangan tekan dari roll dan juga
akan mengalami tegangan geser permukaan akibat gesekan antara benda kerja
dengan roll. Gaya geser ini juga berguna untuk menarik benda kerja menuju roll.
Berikut gambar gaya-gaya yang terjadi saat pengerolan:

Keterangan:
N = neutral point
Pr = gaya radial
F = tangential friction
force
Lp = panjang proyeksi
busur kontak
h0 = tebal benda sebelum
diroll
hf = tebal benda setelah
diroll
R = radius roll
= sudut kontak

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi proses pengerolan antara lain:


1.
2.
3.
4.

Diameter roll
Ketahanan benda kerja terhadap deformasi
Gesekan antara roll dan benda kerja
Ada atau tidaknya front tension dan back tension pada bidang pelat