Anda di halaman 1dari 19

LI LBM 1 BLOK 23

CLAUDIA NUR RIZKY JAYANTI


112110186
1. INFEKSI NOSOKOMIAL
Beberapa literatur merekomendasikan beberapa bentuk prosedur tetap (protap) pencegahan
infeksi nosokomial ini. Terdapat beberapa jenis kegiatan dalam pelaksanaan upaya pencegahan
infeksi nosokomial. Beberapa kegiatan dan tindakan dimaksud, antara lain :
Universal Precautions
Menurut definisi Centers for Disease Control (CDC), kewaspadaan Universal (Universal
Prcautions) merupakan suatu pedoman yang ditetapkan untuk mencegah penyebaran dari
berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah di lingkungan rumah sakit maupun sarana
pelayanan kesehatan lainnya. Konsep yang dianut adalah bahwa semua darah dan cairan tubuh
tertentu harus dikelola sebagai sumber yang dapat menularkan HIV, HBV, dan berbagai penyakit
lain yang ditularkan melalui darah.
Bentuk kewaspadaan universal untuk meminimalisasi resiko infeksi nosokomial ini antara lain :
1. Seluruh petugas kesehatan harus rutin menggunakan sarana yang dapat mencegah kontak
kulit dan selaput lendir dengan darah atau cairan tubuh lainnya dari setiap pasien yang
dilayani. Detail tindakan antara lain a). Menggunakan sarung tangan apabila menyentuh
darah atau cairan tubuh, selaput lendir atau kulit yang tidak utuh; mengelola berbagai
peralatan dan sarana kesehatan/kedokteran yang tercemar darah atau cairan tubuh;
mengerjakan fungsi vena atau segala prosedur yang menyangkut pembuluh darah, b). Sarung
tangan harus selalu diganti setiap selesai kontak dengan pasien.c). Menggunakan masker saat
mengerjakan prosedur yang beresiko kontak darah atau cairan tubuh untuk mencegah
terpaparnya selaput lendir pada mulut, hidung dan mata, d). Memakai jubah khusus selama
melaksanakan tindakan yang mungkin akan menimbulkan cipratan darah atau cairan tubuh
lainnya.
2. Tangan dan bagian tubuh lainnya harus segera dicuci sebersih mungkin bila terkontaminasi
darah dan cairan tubuh lainnya. Setiap usai melepas sarung tangan harus segera mencuci
tangan.
3. Seluruh petuga harus selalu waspada terhadap kemungkinan tertusuk jarum, pisau dan
benda/alat tajam lainnya selama pelaksanaan tindakan, saat mencuci peralatan, membuang
sampah, atau ketika membenahi peralatan setelah berlangsungnya prosedur/tindakan.
4. Tindakan resusitasi dengan cara dari mulut ke mulut harus dihindari meskipun air liur belum
terbukti menularkan HIV.
5. Petugas yang sedang mengalami perlukaan atau ada lesi yang mengeluarkan cairan harus
menghindari tugas-tugas yang bersifat kontak langsung dengan pasien ataupun kontak
langsung dengan peralatan bekas pakai pasien.
6. Petugas kesehatan yang sedang hamil harus lebih memperhatikan pelaksanaan segala
prosedur yang dapat menghindari penularan HIV.

Sterilisasi dan Desinfeksi


Sterilisasi dilakukan untuk membunuh atau memisahkan semua mikroorganisme. Sedangkan
teknik sterilisasi antara lain sterilisasi dengan pemanasan, baik pemanasan basah dengan
autoclave dan pemanasan kering dengan pemijaran dan udara panas. 2). Sterilisasi dengan
penyaringan, 3). Sterilisasi dengan menggunakan zat kimia, serta 4). Sterilisasi dengan
penyinaran.Berbeda dengan sterilisasi, desinfeksi merupakan suatu proses kimiawi atau fisika
dimana bahan patogenik atau mikroba penyebab penyakit dihancurkan dengan suatu desinfektan
dan antiseptik. Sedangkan desinfektan adalah zat yang bebas dari infeksi yang umumnya berupa
zat kimia yang dapat membunuh kuman penyakit atau mikroorganisme berbahaya,
menginaktifkan virus. Sementara pengertian antiseptik merupakan zat yang dapat membunuh atau
menghambat pertumbuhan mikroorganisme dalam jaringan hidup.Terkait dengan proses diatas,
menurut Pedoman Penanggulangan SARS Nasional (2003), terdapat juga pengertian
dekontaminasi, yaitu satu tahap perlakuan yang harus dilakukan sebelum instrumen dikirim ke
bagian sterilsasi. Langkah dekontaminasi berupa prosesing alat dan sarung tangan yang kotor
(telah kontak dengan darah atau cairan tubuh), untuk dilakukan proses perendaman dalam larutan
klorin 0.5 % selama 10 menit. Tindakan ini akan mematikan berbagai virus sehingga aman untuk
ditangani oleh petugas pencuci. Sterilisasi atau desinfeksi tingkat tinggi dilakukan setelah
dekontaminasi dan pencucian selesai dilakukan.
Pustaka, antara lain :
Depkes, 2001, Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial Di Rumah Sakit.
Depkes, 2003, Pedoman PelaksanaanKewaspadaan Universal di Pelayanan Kesehatan.
Setyawati, L., 2002, Infeksi Nosokomial, Kumpulan Bahan Kuliah Higiene Industri. UGM
2. Contoh Aplikasi di Rumah Sakit
Resiko infeksi di rumah sakit atau yang biasa dikenal dengan infeksi nosokomial
merupakan masalah penting di seluruh dunia. Infeksi ini terus meningkat dari 1% di beberapa
Negara Eropa dan Amerika, sampai lebih dari 40% di Asia, Amerika Latin dan Afrika. Penyakit
infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia.
Salah satu jenis infeksi adalah infeksi nosokomial. Infeksi ini menyebabkan 1,4 juta kematian
setiap hari di seluruh dunia. Saat ini infeksi nosokomial lebih dikenal sebagai Health-care
Associated Infections (HAIs).
Untuk itu Rumah Sakit perlu menyusun program pencegahan dan pengendalian infeksi .
Pelaksanaan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), sendiri merupakan salah satu
bentuk dari program patient safety (keselamatan pasien).
Pelaksanaan peningkatan program PPI saat ini memiliki tantangan di masa mendatang.
Jumlah rumah sakit dan fasilitas yankes sangat banyak dan terus bertambah, serta keterbatasan
sumber daya manusia yang terampil di bidang HAIs. Untuk itu, perlu pelatihanpelatihan agar
didapat tenaga kesehatan yang profesional dan terampil.

Tujuan dari Program PPI adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit dan
fasilitas kesehatan lainnya melalui pencegahan dan pengendalian infeksi; Melindungi sumber
daya manusia kesehatan dan masyarakat dari penyakit infeksi yang berbahaya; serta
menurunkan angka kejadian Infeksi Nosokomial. Ruang lingkup dari program PPI meliputi
Pencegahan Infeksi, Pendidikan dan Pelatihan, Surveilans, dan Penggunaan Obat Antibiotik
secara Rasional.
Dalam Kepmenkes no. 129 tahun 2008 ditetapkan suatu standar minimal pelayanan
rumah sakit, termasuk didalamnya pelaporan kasus infeksi nosokomial untuk melihat sejauh
mana rumah sakit melakukan pengendalian terhadap infeksi ini. Data infeksi nosokomial dari
surveilans infeksi nosokomial di setiap rumah sakit dapat digunakan sebagai acuan pencegahan
infeksi guna meningkatkan pelayanan medis bagi pasien (Kepmenkes, 2008).
Tim PPI dulu diawali dengan nama panitia infeksi nosokomial dengan keanggotaan
dokter, perawat, bagian CSSD, Sanitasi & limbah dan bagian Linen. Sasaran / target inos saat
itu meliputi pasien, petugas dan lingkungan RS. Pasien dibedakan menjadi pasien infeksius dan
non infeksius. Petugas menganggap sumber infeksi dari pasien. Tahun 2007 panitia infeksi
nosokomial berubah nama menjadi Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (Tim PPI),
dengan sasaran target lebih luas meliputi pasien, petugas, lingkungan RS & di sekitar RS,
pengunjung RS, praktikan / Mahasiswa dan masyarakat di sekitar RS. Kebijakan Tim PPI tidak
mengkategorikan pasien infeksius dan non infeksius, tetapi semua pasien dianggap infeksius,
sehingga saat menangani/ melakukan tindakan prosedur ke semua pasien, petugas diharuskan
memakai APD ( Alat Pelindung Diri).
Tim PPI RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta terdiri dari KPPI (Ka Komite Pencegahan
& Pengendalian Infeksi) dpimpin oleh dr. Moh. Wibowo, SpPD, Ka Tim PPI / IPCO ( Infection
Prevention and Control Officer) adalah dr. Imam Masduki, SpM. , MSc. , di bawahnya IPCN
(Infection Preventif and Control Nurse) Arifiana, Skep. Ns dan IPCLN (Infection preventif and
Control Link Nurse) yang dipimpin oleh supervisor di unit keperawatan. Anggota tim PPI yang
lain adalah unit CSSD, Linen, Limbah & sanitasi.
Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (KPPI) bertugas membuat dan
mengevaluasi kebijakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), melaksanakan sosialisasi
kebijakan PPIRS, membuat SPO, menyusun serta mengevaluasi pelaksanaan program &
pelatihan PPI, bekerjasama dengan Tim PPI dalam melakukan investigasi masalah atau
Kejadian Luar Biasa (KLB) Infeksi Nosokomial, memberikan usulan untuk mengembangkan
dan meningkatkan cara Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, memberikan usulan kepada
Direktur untuk pemakaian antibiotika yang rasional di RS berdasarkan hasil pantauan kuman
dan resistensinya terhadap antibiotika serta menyebar luaskan data resistensi antibiotika,
memberikan masukan yang menyangkut Konstuksi Bangunan, Pengadaan Alat, Bahan
Kesehatan, Renovasi Ruangan, cara pemprosesan alat, penyimpanan alat dan linin sesuai
dengan prinsip PPI.

Infection
Prevention Control Officer (IPCO) bertugas dalam berkontribusi dalam diagnosis dan terapi
infeksi yang benar, menyusun pedoman penulisan resep antibiotika dan surveilenss,
mengindentifikasi, melaporkan kuman patogen dan pola resistensi antibiotika, bekerjasama
dengan Perawat PPI memonitor kegiatan Surveilenss Infeksi dan mendeteksi serta menyelidiki
KLB, membimbing dan mengajarkan praktek serta prosedur PPI yang berhubungan dengan
prosedur terapi, memonitor cara kerja tenaga Kesehatan dalam merawat Pasien dan membantu
semua Petugas Kesehatan untuk memahami PPI.
Infection Prevention Control Nurse (IPCN) mempunyai tugas dan wewenang untuk
mengunjungi ruangan setiap hari untuk memonitor kejadian infeksi yang terjadi di RS,
memonitor pelaksanaan PPI, penerapan SOP dan kewaspadaan isolasi, melaksanakan
Surveilenss Infeksi dan melaporkan kepada KPPI, bersama KPPI melakukan Pelatihan Petugas
Kesehatan tentang PPI di Rumah Sakit, melakukan Investigasi terhadap KLB dan bersama-sama
KPPI memperbaiki kesalahan yang terjadi, memonitor kesehatan petugas untuk mencegah
penularan infeksi dari petugas kesehatan kepada pasien atau sebaliknya. menganjurkan prosedur
isolasi dan memberi konsultasi tentang PPI yang diperlukan pada kasus yang terjadi di RS, audit
PPI terhadap Limbah, Loundry, Gizi dan lain-lain dengan menggunakan daftar titik, monitor
pengendalian penggunaan antibiotika yang rasional, mendesain, melaksanakan, memonitor dan
mengevaluasi surveilenss infeksi yang terjadi di Rumah Sakit, membuat laporan Surveilenss dan
melaporkan ke KPPI, memberikan motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan PPI,

meningkatkan kesadaran Pasien dan pengunjung Runah Sakit tentang PPIRS, memprakarsai
penyuluhan bagi petugas kesehatan, Pengunjung dan keluarga tentang topik infeksi yang sedang
berkembang di masyarakat (infeksi dengan insiden tinggi).
Infection Prevention Control Link Nurse (IPCLN) bertugas mengisi dan mengumpulkan
formulir Surveilenss setiap pasien di Unit Rawat Inap masing-masing, kemudian
menyerahkannya kepada Infection Prevention Control Nurse (IPCN), memberikan motivasi dan
teguran tentang pelaksanaan kepatuhan PPI pada setiap personil Ruangan di Unit Rawat
masing-masing, memberitahukan kepada IPCN apabila ada kecurigaan adanya Infeksi
Nosokomial pada Pasien, berkoordinasi IPCN saat terjadi infeksi potensial KLB, memberikan
penyuluhan bagi pengunjung di Ruang Rawat masing-masing, konsultasi prosedur yang harus
dijalankan bila belum paham, memonitor kepatuhan Petugas Kesehatan yang lain dalam
menjalankan Standart Isolasi.
Kegiatan yang telah dilaksanakan PPI RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta meliputi
gerakan cuci tangan ke seluruh pengunjung rumah sakit (indoor) dan ke masyarakat sekitar
rumah sakit (outdoor) mulai dari depan istana negara, Jl. KHA Dahlan sampai Jl. Bayangkara
dengan target sasaran tukang sapu jalanan, tukang becak, pedagang kaki lima, tukang parkir.
Selain itu tim PPI mengadakan pelatihan in house untuk petugas medis, non medis dan cleaning
service secara berkelanjutan. Kegiatan surveilen rutin dilakukan setiap hari di semua ruangan
keperawatan pada semua pasien rawat inap. Surveilen ini dilakukan oleh IPCN dan IPCLN /
supervisor di ruangan. Hasil surveilen mendapatkan data angka infeksi selama triwulan
kemudian untuk selanjutnya dilaporkan ke direktur utama dan unit yang bersangkutan. Rumah
sakit dikatakan mutu pelayanannya bagus bila angka infeksinya sedikit.
Hasil surveilance Tim PPI selama triwulan bulan Maret, April dan Mei tahun 2012
ditemukan angka kepatuhan Hand Hygiene dengan nilai 73 ( < 75 = Kepatuhan Minimal ). Hand
Hygiene meliputi Handwash (mencuci dengan sabun + air mengalir) dan Handrub (mencuci
dengan cairan berbasis alkohol ). Kegiatan ini perlu mendapatkan dukungan banyak dari
manajemen dan seluruh karyawan, dengan sarana dan prasarana cairan handrub yang mudah
terjangkau petugas. Motivasi bagi petugas untuk melakukan hand hygiene (cuci tangan)
sebelum melakukan tindakan masih perlu ditingkatkan. (Arifiana-tim PPI).
3. PATIENT SAFETY
Pengertian Patient Safety : Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu system yang
membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman.
Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Tujuan Patient Safety : Tujuan Patient safety adalah
1) Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS
2) Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit thdp pasien dan masyarakat;
2) Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit thdp pasien dan masyarakat;
3) Menurunnya KTD di RS

4)

Terlaksananya program-program pencegahan shg tidak terjadi pengulangan KTD.

Langkah-Langkah Pelaksanaan Patient Safety


Pelaksanaan Patient safety meliputi
Sembilan solusi keselamatan Pasien di RS (WHO Collaborating Centre for Patient Safety,
2 May 2007), yaitu:
1)
Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike medication names)
2)
Pastikan identifikasi pasien
3) Komunikasi secara benar saat serah terima pasien
4)
Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
5) Kendalikan cairan elektrolit pekat
6)
Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan
7)
Hindari salah kateter dan salah sambung slang
8)
Gunakan alat injeksi sekali pakai
9) Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nosokomial.
Tujuh Standar Keselamatan Pasien (mengacu pada Hospital Patient Safety
Standards yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation of Health
Organizations, Illinois, USA, tahun 2002),yaitu:
1.
Hak pasien
Standarnya adalah
Pasien & keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana & hasil
pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan).
Kriterianya adalah
1)
Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan
2)
Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan
3)
Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas dan
benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau
prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya KTD
2.
Mendidik pasien dan keluarga
Standarnya adalah
RS harus mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam
asuhan pasien.
Kriterianya adalah:
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dgn keterlibatan pasien adalah
partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di RS harus ada system dan mekanisme mendidik
pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.Dengan
pendidikan tersebut diharapkan pasien & keluarga dapat:
1) Memberikan info yg benar, jelas, lengkap dan jujur
2) Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab
3) Mengajukan pertanyaan untuk hal yg tdk dimengerti
4) Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan
5) Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS
6) Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa
7) Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan

Standarnya adalah
RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit
pelayanan.
Kriterianya adalah:
1)
koordinasi pelayanan secara menyeluruh
2)
koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya
3)
koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi
4)
komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan
4.
Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien
Standarnya adalah
RS harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yg ada, memonitor & mengevaluasi
kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif KTD, & melakukan perubahan
untuk meningkatkan kinerja serta KP.
Kriterianya adalah
1)
Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang baik, sesuai
dengan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
2)
Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja
3)
Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif
4)
Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis
5.
Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
Standarnya adalah
1)
Pimpinan dorong & jamin implementasi progr KP melalui penerapan 7 Langkah Menuju
KP RS .
2)
Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif identifikasi risiko KP & program
mengurangi KTD.
3)
Pimpinan dorong & tumbuhkan komunikasi & koordinasi antar unit & individu berkaitan
dengan pengambilan keputusan tentang KP
4)
Pimpinan mengalokasikan sumber daya yg adekuat utk mengukur, mengkaji, &
meningkatkan kinerja RS serta tingkatkan KP.
5)
Pimpinan mengukur & mengkaji efektifitas kontribusinyadalam meningkatkan kinerja RS
& KP.
Kriterianya adalah
1) Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.
2)
Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program
meminimalkan insiden,
3)
Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit
terintegrasi dan berpartisipasi
4)
Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien yang
terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan
jelas untuk keperluan analisis.
5) Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden,
6) Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden

7)
Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelola
pelayanan
8) Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan
9)
Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk
mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien
6.
Mendidik staf tentang keselamatan pasien
Standarnya adalah
1)
RS memiliki proses pendidikan, pelatihan & orientasi untuk setiap jabatan mencakup
keterkaitan jabatan dengan KP secara jelas.
2)
RS menyelenggarakan pendidikan & pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan &
memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.
Kriterianya adalah
1)
memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien
2)
mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice training dan
memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.
3)
menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung
pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.
Standarnya adalah
1)
RS merencanakan & mendesain proses manajemen informasi KP untuk memenuhi
kebutuhan informasi internal & eksternal.
2) Transmisi data & informasi harus tepat waktu & akurat.
Kriterianya adalah
1)
disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk
memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien.
2)
Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi
manajemen informasi yang ada

Tujuh langkah menuju keselamatan pasien RS (berdasarkan KKP-RS No.001-VIII-2005)


sebagai panduan bagi staf Rumah Sakit
1.
Bangun kesadaran akan nilai keselamatan Pasien, ciptakan kepemimpinan & budaya yang
terbuka dan adil
Bagi Rumah sakit:
Kebijakan: tindakan staf segera setelah insiden, langkah kumpul fakta, dukungan kepada staf,
pasien, keluarga
Kebijakan: peran & akuntabilitas individual pada insiden
Tumbuhkan budaya pelaporan & belajar dari insiden
Lakukan asesmen dg menggunakan survei penilaian KP
Bagi Tim:
Anggota mampu berbicara, peduli & berani lapor bila ada insiden
Laporan terbuka & terjadi proses pembelajaran serta pelaksanaan tindakan/solusi yg tepat
2.
Pimpin dan dukung staf anda, bangunlah komitmen &focus yang kuat & jelas tentang KP
di RS anda
Bagi Rumah Sakit:

Ada anggota Direksi yg bertanggung jawab atas KP


Di bagian-2 ada orang yg dpt menjadi Penggerak (champion) KP
Prioritaskan KP dlm agenda rapat Direksi/Manajemen
Masukkan KP dlm semua program latihan staf
Bagi Tim:
Ada penggerak dlm tim utk memimpin Gerakan KP
Jelaskan relevansi & pentingnya, serta manfaat gerakan KP
Tumbuhkan sikap ksatria yg menghargai pelaporan insiden
3.
Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko, kembangkan sistem & proses pengelolaan risiko,
serta lakukan identifikasi & asesmen hal yg potensial brmasalah
Bagi Rumah Sakit:
Struktur & proses mjmn risiko klinis & non klinis, mencakup KP
Kembangkan indikator kinerja bagi sistem pengelolaan risiko
Gunakan informasi dr sistem pelaporan insiden & asesmen risiko & tingkatkan kepedulian thdp
pasien
Bagi Tim:
Diskusi isu KP dlm forum2, utk umpan balik kpd mjmn terkait
Penilaian risiko pd individu pasien
Proses asesmen risiko teratur, tentukan akseptabilitas tiap risiko, & langkah memperkecil risiko
tsb
4.
Kembangkan sistem pelaporan, pastikan staf Anda agar dg mudah dpt melaporkan
kejadian/insiden serta RS mengatur pelaporan kpd KKP-RS
Bagi Rumah sakit:
Lengkapi rencana implementasi sistem pelaporan insiden, ke dlm maupun ke luar yg hrs
dilaporkan ke KKPRS PERSI
Bagi Tim:
Dorong anggota utk melaporkan setiap insiden & insiden yg telah dicegah tetapi tetap terjadi
juga, sbg bahan pelajaran yg penting
5.
Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien, kembangkan cara-cara komunikasi yg
terbuka
dg pasien
Bagi Rumah Sakit
Kebijakan : komunikasi terbuka ttg insiden dg pasien & keluarga
Pasien & keluarga mendpt informasi bila terjadi insiden
Dukungan,pelatihan & dorongan semangat kpd staf agar selalu terbuka kpd pasien & kel. (dlm
seluruh proses asuhan pasien
Bagi Tim:
Hargai & dukung keterlibatan pasien & kel. bila tlh terjadi insiden
Prioritaskan pemberitahuan kpd pasien & kel. bila terjadi insiden
Segera stlh kejadian, tunjukkan empati kpd pasien & kel.
6.
Belajar dan berbagi pengalaman tentang Keselamatan pasien, dorong staf anda utk
melakukan analisis akar masalah utk belajar bagaimana & mengapa kejadian itu timbul
Bagi Rumah Sakit:
Staf terlatih mengkaji insiden scr tepat, mengidentifikasi sebab

Kebijakan: kriteria pelaksanaan Analisis Akar Masalah (Root Cause Analysis/RCA) atau Failure
Modes & Effects Analysis (FMEA) atau metoda analisis lain, mencakup semua insiden &
minimum 1 x per tahun utk proses risiko tinggi
Bagi Tim:
Diskusikan dlm tim pengalaman dari hasil analisis insiden
Identifikasi bgn lain yg mungkin terkena dampak & bagi pengalaman tersebut
7.
Cegah cedera melalui implementasi system Keselamatan pasien, Gunakan informasi yg
ada ttg kejadian/masalah utk melakukan perubahan pd sistem pelayanan
Bagi Rumah Sakit:
Tentukan solusi dg informasi dr sistem pelaporan, asesmen risiko, kajian insiden, audit serta
analisis
Solusi mencakup penjabaran ulang sistem, penyesuaian pelatihan staf & kegiatan klinis,
penggunaan instrumen yg menjamin KP
Asesmen risiko utk setiap perubahan
Sosialisasikan solusi yg dikembangkan oleh KKPRS-PERSI
Umpan balik kpd staf ttg setiap tindakan yg diambil atas insiden
Bagi Tim:
Kembangkan asuhan pasien menjadi lebih baik & lebih aman
Telaah perubahan yg dibuat tim & pastikan pelaksanaannya
Umpan balik atas setiap tindak lanjut ttg insiden yg dilaporkan

Selain itu, menurut Hasting G, 2006, ada delapan langkah yang bisa dilakukan untuk mengembangkan
budaya Patient safety ini
1. Put the focus back on safety
Setiap staf yang bekerja di RS pasti ingin memberikan yang terbaik dan teraman untuk pasien. Tetapi
supaya keselamatan pasien ini bisa dikembangkan dan semua staf merasa mendapatkan dukungan, patient
safety ini harus menjadi prioritas strategis dari rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan lainnya. Empat
CEO RS yang terlibat dalam safer patient initiatives di Inggris mengatakan bahwa tanggung jawab untuk
keselamatan pasien tidak bisa didelegasikan dan mereka memegang peran kunci dalam membangun dan
mempertahankan fokus patient safety di dalam RS.
2. Think small and make the right thing easy to do
Memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien mungkin membutuhkan langkah-langkah yang
agak kompleks. Tetapi dengan memecah kompleksitas ini dan membuat langkah-langkah yang lebih
mudah mungkin akan memberikan peningkatan yang lebih nyata.
3. Encourage open reporting
Belajar dari pengalaman, meskipun itu sesuatu yang salah adalah pengalaman yang berharga.
Koordinator patient safety dan manajer RS harus membuat budaya yang mendorong pelaporan. Mencatat
tindakan-tindakan yang membahayakan pasien sama pentingnya dengan mencatat tindakan-tindakan yang
menyelamatkan pasien. Diskusi terbuka mengenai insiden-insiden yang terjadi bisa menjadi pembelajaran
bagi semua staf.
4. Make data capture a priority
Dibutuhkan sistem pencatatan data yang lebih baik untuk mempelajari dan mengikuti perkembangan
kualitas dari waktu ke waktu. Misalnya saja data mortalitas. Dengan perubahan data mortalitas dari tahun
ke tahun, klinisi dan manajer bisa melihat bagaimana manfaat dari penerapan patient safety.

5. Use systems-wide approaches


Keselamatan pasien tidak bisa menjadi tanggung jawab individual. Pengembangan hanya bisa terjadi jika
ada sistem pendukung yang adekuat. Staf juga harus dilatih dan didorong untuk melakukan peningkatan
kualitas pelayanan dan keselamatan terhadap pasien. Tetapi jika pendekatan patient safety tidak
diintegrasikan secara utuh kedalam sistem yang berlaku di RS, maka peningkatan yang terjadi hanya akan
bersifat sementara.
6. Build implementation knowledge
Staf juga membutuhkan motivasi dan dukungan untuk mengembangkan metodologi, sistem berfikir, dan
implementasi program. Pemimpin sebagai pengarah jalannya program disini memegang peranan kunci.
Di Inggris, pengembangan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien sudah dimasukkan ke
dalam kurikulum kedokteran dan keperawatan, sehingga diharapkan sesudah lulus kedua hal ini sudah
menjadi bagian dalam budaya kerja.
7. Involve patients in safety efforts
Keterlibatan pasien dalam pengembangan patient safety terbukti dapat memberikan pengaruh yang
positif. Perannya saat ini mungkin masih kecil, tetapi akan terus berkembang. Dimasukkannya perwakilan
masyarakat umum dalam komite keselamatan pasien adalah salah satu bentuk kontribusi aktif dari
masyarakat (pasien). Secara sederhana pasien bisa diarahkan untuk menjawab ketiga pertanyaan berikut:
apa masalahnya? Apa yang bisa kubantu? Apa yang tidak boleh kukerjakan?
8. Develop top-class patient safety leaders
Prioritisasi keselamatan pasien, pembangunan sistem untuk pengumpulan data-data berkualitas tinggi,
mendorong budaya tidak saling menyalahkan, memotivasi staf, dan melibatkan pasien dalam lingkungan
kerja bukanlah sesuatu hal yang bisa tercapai dalam semalam. Diperlukan kepemimpinan yang kuat, tim
yang kompak, serta dedikasi dan komitmen yang tinggi untuk tercapainya tujuan pengembangan
budaya patient safety. Seringkali RS harus bekerja dengan konsultan leadership untuk mengembangkan
kerjasama tim dan keterampilan komunikasi staf. Dengan kepemimpinan yang baik, masing-masing
anggota tim dengan berbagai peran yang berbeda bisa saling melengkapi dengan anggota tim lainnya
melalui kolaborasi yang erat.
5. ASPEK HUKUM TERHADAP PATIENT SAFETY
Aspek hukum terhadap patient safety atau keselamatan pasien adalah sebagai berikut
UU Tentang Kesehatan & UU Tentang Rumah Sakit
1.
Keselamatan Pasien sebagai Isu Hukum
a.
Pasal 53 (3) UU No.36/2009
Pelaksanaan Pelayanan kesehatan harus mendahulukan keselamatan nyawa pasien.
b.
Pasal 32n UU No.44/2009
Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.
c.
Pasal 58 UU No.36/2009
1)
Setiap orang berhak menuntut G.R terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara
kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam Pelkes yang diterimanya.
2)
..tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau
pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.
2.
a.

Tanggung jawab Hukum Rumah sakit


Pasal 29b UU No.44/2009

Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan
kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit.
b.
Pasal 46 UU No.44/2009
Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian
yang dilakukan tenaga kesehatan di RS.
c.
Pasal 45 (2) UU No.44/2009
Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa
manusia.
3. Bukan tanggung jawab Rumah Sakit
Pasal 45 (1) UU No.44/2009 Tentang Rumah sakit
Rumah Sakit Tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya menolak atau
menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang
kompresehensif.
4.
Hak Pasien
a.
Pasal 32d UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional
b.
Pasal 32e UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar
dari kerugian fisik dan materi
c.
Pasal 32j UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang
mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan
d.
Pasal 32q UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana
5.
Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien
Pasal 43 UU No.44/2009
1)
RS wajib menerapkan standar keselamatan pasien
2)
Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui pelaporan insiden, menganalisa, dan menetapkan
pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan.
3)
RS melaporkan kegiatan keselamatan pasien kepada komite yang membidangi keselamatan pasien
yang ditetapkan oleh menteri
4)
Pelaporan insiden keselamatan pasien dibuat secara anonym dan ditujukan untuk mengoreksi
system dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien.
Pemerintah bertanggung jawab mengeluarkan kebijakan tentang keselamatan pasien. Keselamatan pasien
yang dimaksud adalah suatu system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. System
tersebut meliputi:
a.
Assessment risiko
b.
Identifikasi dan pengelolaan yang terkait resiko pasien

c.
d.
e.

Pelaporan dan analisis insiden


Kemampuan belajar dari insiden
Tindak lanjut dan implementasi solusi meminimalkan resiko

6. MANAJEMEN PATIENT SAFETY


Pelaksanaan Patient Safety ini dilakukan dengan system Pencacatan dan Pelaporan serta Monitoring san
Evaluasi
7. SISTEM PENCACATAN DAN PELAPORAN PADA PATIENT SAFETY
a. Di Rumah Sakit
1.
Setiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian terkait dengan keselamatan pasien
(Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel) pada formulir yang sudah
disediakan oleh rumah sakit.
2.
Setiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua kejadian terkait dengan keselamatan pasien
(Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel) kepada Tim Keselamatan
Pasien Rumah Sakit pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.
3.
Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit menganalisis akar penyebab masalah semua kejadian yang
dilaporkan oleh unit kerja
4.
Berdasarkan hasil analisis akar masalah maka Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit
merekomendasikan solusi pemecahan dan mengirimkan hasil solusi pemecahan masalah kepada Pimpinan
rumah sakit.
5.
Pimpinan rumah sakit melaporkan insiden dan hasil solusi masalah ke Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit (KKPRS) setiap terjadinya insiden dan setelah melakukan analisis akar masalah yang
bersifat rahasia.
b. Di Propinsi
Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah menerima produk-produk dari Komite Keselamatan Rumah
Sakit
c. Di Pusat
1.
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) merekapitulasi laporan dari rumah sakit untuk
menjaga kerahasiaannya
2.
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan analisis yang telah dilakukan oleh
rumah sakit
3.
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan analisis laporan
insiden bekerjasama dengan rumah sakit pendidikan dan rumah sakit yang ditunjuk sebagai laboratorium
uji coba keselamatan pasien rumah sakit
4.
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan sosialisasi hasil analisis dan solusi
masalah ke Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah, rumah sakit terkait dan rumah sakit lainnya.
8. MONITORING DAN EVALUASI
a. Di Rumah sakit
Pimpinan Rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi pada unit-unit kerja di rumah sakit, terkait
dengan pelaksanaan keselamatan pasien di unit kerja

b. Di propinsi
Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Program
Keselamatan Pasien Rumah Sakit di wilayah kerjanya
c. Di Pusat
1.
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan
Keselamatan Pasien Rumah Sakit di rumah sakit-rumah sakit
2.
Monitoring dan evaluasi dilaksanakan minimal satu tahan satu kali.
REFERENSI
1. Komalawati, Veronica. (2010) Community&Patient Safety Dalam Perspektif Hukum Kesehatan.
2.
Lestari, Trisasi. Knteks Mikro dalam Implementasi Patient Safety: Delapan Langkah Untuk
Mengembangkan Budaya Patient Safety. Buletin IHQN Vol II/Nomor.04/2006 Hal.1-3
3.
Pabuti, Aumas. (2011) Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien (KP) Rumah Sakit.
Proceedings of expert lecture of medical student of Block 21st of Andalas University, Indonesia
4.
Panduang Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). 2005
5. Tim keselamatan Pasien RS RSUD Panembahan Senopati. Patient Safety.
6.
Yahya, Adib A. (2006) Konsep dan Program Patient Safety. Proceedings of National Convention
VI of The Hospital Quality Hotel Permata Bidakara, Bandung 14-15 November 2006.
7.
Yahya, Adib A. (2007) Fraud & Patient Safety. Proceedings of PAMJAKI meeting Kecurangan
(Fraud) dalam Jaminan/Asuransi Kesehatan Hotel Bumi Karsa, Jakarta 13 December 2007.

Jenis-jenis APD
1. Alat pelindung kepala
Fungsi
Alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi kepala dari
benturan, terantuk, kejatuhan atau terpukul benda tajam atau benda keras yang melayang atau
meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan bahan-bahan kimia, jasad renik
(mikro organisme) dan suhu yang ekstrim. Jenis alat pelindung kepala terdiri dari helm pengaman
(safety helmet ), topiatau tudung kepala, penutup atau pengaman rambut, dan lain-lain.
2. Alat pelindung mata dan muka.
Fungsi
Alat pelindung mata dan muka adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi mata dan
muka dari paparan bahan kimia berbahaya, paparan partikel-partikel yang melayang di udara dan
di badan air, percikan benda-benda kecil, panas, atau uap panas, radiasi gelombang
elektromagnetik yang mengion maupunyang tidak mengion, pancaran cahaya, benturan atau
pukulan benda keras ataubenda tajam.
Jenis alat pelindung mata dan muka terdiri dari kacamata pengaman (spectacles), goggles,
tameng muka (face shield ), masker selam, tameng muka dan kacamata pengaman dalam
kesatuan (full face masker ).
3.

Alat pelindung telinga.


Fungsi

Alat pelindung telinga adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi alat pendengaran
terhadap kebisingan atau tekanan.
Jenis alat pelindung telinga terdiri dari sumbat telinga (ear plug) dan penutup telinga (ear muff).
4. Alat pelindung pernapasan beserta perlengkapannya.
Fungsi
Alat pelindung pernapasan beserta perlengkapannya adalah alat pelindung yang berfungsi untuk
melindungi organ pernapasan dengan cara menyalurkanudara bersih dan sehat dan/atau
menyaring cemaran bahan kimia, mikro-organisme, partikel yang berupa debu, kabut (aerosol),
uap, asap, gas/ fume, dansebagainya.b.
Jenis alat pelindung pernapasan dan perlengkapannya terdiri dari masker, respirator, katrit,
kanister.
5. Alat pelindung tangan.
Fungsi
Pelindung tangan (sarung tangan) adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi tangan
dan jari-jari tangan dari pajanan api, suhu panas, suhu dingin,radiasi elektromagnetik, radiasi
mengion, arus listrik, bahan kimia, benturan,pukulan dan tergores, terinfeksi zat patogen (virus,
bakteri) dan jasad renik. Jenis pelindung tangan terdiri dari sarung tangan yang terbuat dari
logam, kulit, kain kanvas, kain atau kain berpelapis, karet, dan sarung tangan yang tahan bahan
kimia
6. Alat pelindung kaki.
Fungsi
Alat pelindung kaki berfungsi untuk melindungi kaki dari tertimpa atau berbenturan dengan
benda-benda berat, tertusuk benda tajam, terkena cairan panas atau dingin, uap panas, terpajan
suhu yang ekstrim, terkena bahan kimia berbahaya dan jasad renik, tergelincir. Jenis Pelindung
kaki berupa sepatu keselamatan pada pekerjaan peleburan, pengecoran logam, industri, kontruksi
bangunan, pekerjaan yang berpotensi bahaya peledakan, bahaya listrik, tempat kerja yang basah
atau licin, bahan kimia dan jasad renik, dan/atau bahaya binatang dan lain-lain.
7. Pakaian pelindung.
Fungsi
Pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi badan sebagian atau seluruh bagian badan dari
bahaya temperatur panas atau dingin yang ekstrim, pajanan apidan benda-benda panas, percikan
bahan-bahan kimia, cairan dan logam panas, uap panas, benturan (impact) dengan mesin,
peralatan dan bahan, tergores, radiasi, binatang, mikro-organisme patogen dari manusia, binatang,
tumbuhan dan lingkungan seperti virus, bakteri dan jamur.
Cuci tangan:
Selalu melepas perhiasan sebelum mencuci tangan
Menggunakan sabun dan air mengalir

Membasahi tangan dan pergelangan tangan , pertahankan tangan lebih rendah dari siku utnuk
menghindari kontaminasi
Gosok dengan keras hingga berbusa
Jika tangan anda kotor , gosok agak lama sekitar 4- 5 jam
Bersihkan bagian bawah kuku anda
Jika anda menggunakan sabun padat, cuci sabun setelah anda memakainya
Keringkan tangan dengan cermatdengan handuk kering
Gunakan sudut handuk untuk menutup kran dioperasikan dengan tangan

Konsep Standar Pengendalain Infeksi


Cara paling mudah mencegah penyebaran infeksi adalah membunuh mikroorganisme ketika
mereka ada di tangan, alat dan perabot, seperti, tempat tidur pasien. Cara paling efektif
membunuh mikroorganisme adalah:
Antisepsis > membunuh atau menghentikan pertumbuhan mikroorganisme.
Dekontaminasi >membuat objek lebih aman dipegang sebelum pembersihan.
Pembersihan -> menghilangkan kotoran dan mikroorganisme dari kulit dan objek, dengan
menggunakan sabun dan air.
Disinfeksi kadar tinggi -> membunuh kebanyakan organisme pada objek.
Sterilisasi -> membunuh semua mikroorganisme pada objek,misalnya peralatan bedah.
Metode tambahan untuk mencegah infeksi yaitu:
1

Pakaian pelindung

Pembuangan yang aman pada limbah tubuh dan benda-benda terinfeksi,misalnya balutan.

Untuk mencegah penyebaran infeksi dirumah sakit,perawat dan pemberi perawatan kesehatan
yang lain mengikuti praktik medis dan asepsis bedah.
Teknik bersih ( asepsis medis ) mengurangi jumlah mikroorganisme yang ada dan
mencegahnya masuk ke pasien.
Teknik pembedahan ( asepsis bedah ) mencakup mempertahankan objek dan area bebas
mikroorganisme untuk meyakinkan bahwa prosedur pembedahan steril.
Adapun teknik bersih yang bisa dijadikan pedoman untuk pengendalian infeksi.
Untuk teknik bersih,ikuti pedoman berikut:
1
Bersihkan luka dari sisi luka bagian dalam kearah luar. Ganti balutan yang kotor dan buang
dengan benar. Gunakan salin normal untuk mencuci luka yang bersih. Gunakan betadine dan
chlorexidine untuk membersihkan kulit. Gunakan sabun dan air untuk mencuci luka kotor.
2
Cegah penyebaran mikroorgamisme dalam droplet. Dorong pasien menutup mulut mereka
dengan menggunakan tissue atau sapu tanganbila bersin.
3
Jangan pernah mengizinkan pasien menggunakan alat pribadi bersam orang lain.
Pertahankan tempat tidur bersih dan kering.tidak boleh ada air dan botol diatasnya.
4
Bersihkan dan desinfektan objek kotor yang akan digunakan ulang
5
Jangan membiarkan linen kotor dan artikel lain menyentuh seragam anda. Buang dengan
tepat.

6
Kosongkan pengisap dan botol drainase sebelum botol penuh
7
Jangan menyebarkan debu dengan mengibas linen
8
Jangan menempel alat dan kain dilantai
9
Gunakan sarung tangan bersih bila memengang cairan tubuh.
10 Gunakan pakaian pelindung
11 Ketika membersihkan area kotor , bersihkan dulu area yang tidak kotor.
12 Tunnagkan cairan ke wastafel dekat kran sehingga tidak terciprat
13 Tempat jarum dan spoit kedalam wadah khusus
14 Cuci tangan dengan sering.
Selain itu perawatan alat juga perlu diperhatikan.
Adapaun teknik perawatan alat yakni:
Sebelum mencuci alat bedah yang digunakan jarum dan spuit yang dapat dipakai lang, dan
sarung tangan harus didekonrtaminasikan . dekontaminasi dengan larutan pemutih klorin 0,5%
untuk dekontaminasi virus HIV/AIDS dan hepatitis B.
Ketika anda mencuci objek kotor , pertama kali cuci dengan air dingin muntuk melepas
material organic seperti mucus dan darah. Setelah itu cuci dengan air panas, jika perlu gunakan
sikat membersihkannya
Untuk medesinfeksi objek , gunakan preparat kimia, seperti fenol atau senyawa iodine.
Sterilisasi dapat digunakan dengan pemanasan atau air mendidih
LANGKAH RS KALAU SUDAH TERJADI?
Regulasi komite keselamatan pasien rumah sakit di Indonesia mengamanatkan penyelidikan
segera dalam waktu 24 jam apabila ada sentinel event. Penyelidikan ini sebaiknya dipimpin
langsung oleh direktur utama rumah sakit. Penyelidikan ini disebut sebagai root cause
analysis (RCA).
Secara singkat, RCA bisa didefinisikan sebagai metode evaluasi terukur untuk mengidentifikasi
akar masalah suatu insiden. Cahyono (2008) menulis bahwa prinsip RCA adalah mencari apa
yang terjadi, mengapa hal tersebut terjadi, dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegah
pengulangan kejadian tersebut. RCA bukanlah metode yang bisa dilakukan semua orang.
Kejadian-kejadian dalam sentinel event dapat begitu rumit, dapat juga menguak berbagai faktor
yang sensitif, dan dapat menjadi begitu luas ruang lingkupnya. Apapun hasil RCA, manajemen
puncak di rumah sakit harus mendukung hasilnya, memperhatikan rekomendasinya dengan teliti,
dan membuat langkah perubahan. Berikut adalah langkah-langkah RCA seperti yang disarankan
oleh komite keselamatan pasien rumah sakit di Indonesia.
Identifikasi. Masalah yang akan dibahas harus didefinisikan dengan baik. Pembatasan masalah
dapat dilakukan untuk membuat fokus lebih cermat. Pembatasan masalah bisa dimulai dari
definisi impact atau harm yang terjadi, kerangka waktu kejadian, dan unit-unit kerja yang terlibat.
Dampak yang terjadi meliputi dampak medis dan non medis. Dampak medis pada pasien
biasanya sudah terlihat dengan jelas dari berkas rekam medis. Dampak non medis dapat terjadi
pada pasien dan pada rumah sakit. Pada pihak manapun yang terjadi, dampak non medis biasanya
berputar pada masalah medikolegal, kerugian ekonomis, dan dampak sosial lain.
Bentuk Tim. Root cause analysis sebaiknya dilakukan oleh tim yang telah dilatih RCA, matang,
menguasai berbagai aspek pelayanan di rumah sakit, multidisipliner, gigih, tidak mudah
menyerah, teliti, dan jujur. Tim ideal yang disarankan terdiri dari ahli analisis, peneliti atau ahli
eksternal, kepala bidang atau salah satu direktur, dokter spesialis atau konsultan, supervisor klinis
keperawatan, dan seorang yang menguasai unit kerja yang terlibat dengan baik.
Investigasi/Pengumpulan Data. Pada investigasi, dilakukan kajian terhadap laporan kasus.
Kajian terhadap laporan kasus dimulai dengan ringkasan kronologis kasus yang terjadi,
pencatatan staf yang terlibat, dan beberapa wawancara. Cahyono (2008) menambahkan bahwa
dalam pengumpulan informasi kasus ini hendaknya dilakukan dengan wawancara, observasi, dan

1.
2.
3.
4.
5.

dokumentasi yang cermat, hati-hati, dan valid. Cermat berarti tidak meninggalkan detail. Prinsip
kehati-hatian dilakukan untuk menjaga objektivitas dan agar tidak menyinggung perasaan staf.
Valid berarti data yang dikumpulkan relevan sesuai dengan keperluan.
Penyajian Data. Penyajian data dipergunakan sebagai alat memetakan kronologi kejadian. Ada
empat metode yang biasa dipakai dalam memetakan kronologi insiden, yaitu 1) kronologi narasi;
2) timeline; 3) tabular timeline; dan 4) time person grid. Kronologi narasi biasa dilakukan untuk
mengawali pembahasan kasus atau justru ditampilkan pada laporan akhir. Kronologi narasi cukup
nyaman dibaca namun tidak praktis untuk analisis karena kurang terstruktur. Gunakan kronologi
narasi hanya pada kasus yang tidak kompleks.
Timeline lebih mudah dibaca karena menyajikan urutan kejadian secara sekuensial. Analisis lebih
mudah dilakukan karena dapat dicari dari deretan kejadian berbasis waktu. Tabular timeline lebih
lengkap daripada timeline karena telah selain menyajikan urutan kejadian, juga dilengkapi
dengan good practice dan masalah pelayanan pada tiap kejadian yang dicatat. Tabular
timeline cocok pada kejadian yang berlangsung lama dan melibatkan berbagai orang dan unit
kerja. Time person grid digunakan pada kejadian dengan waktu pendek namun melibatkan
beberapa staf atau profesi. Kolom paling kiri memuat daftar staf, sementara baris paling atas
mencatat perjalanan waktu. Keberadaan staf dituliskan pada tiap kolom di bawah waktu dari awal
sampai akhir.
Identifikasi Masalah. Prinsip utama dalam identifikasi masalah adalah menentukan
penyimpangan dari standar pelayanan yang sudah ada. Satu sentinel event bisa terdiri dari
beberapa masalah pelayanan. Secara umum, ada dua macam masalah pelayanan, yaitu error of
omission (tidak melakukan
sesuatu yang seharusnya
dilakukan), danerror
of
comission (melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan). Cara paling mudah dalam
mengidentifikasi masalah adalah dengan brainstorming dan denganfocused group discussion.
Analisis Informasi. Bagian ini adalah bagian yang paling sulit. Komite keselamatan pasien
rumah sakit menawarkan enam cara analisis, namun kita akan membatasi dalam dua cara saja,
yaitu 5 why dan fishbone diagram. Dengan metode 5 why, peneliti akan lebih mudah mencari
penyebab sampai mendalam, sementara fishbone diagrammemudahkan peneliti mencari berbagai
macam penyebab yang berkontribusi padasentinel event.
Metode 5 why dilakukan dengan cara memperdalam pertanyaan yang diawali dengan mengapa
sebanyak lima kali. Contoh paling mudah adalah pada kasus pasien jatuh:
Mengapa pasien cedera? Karena jatuh.
Mengapa pasien jatuh? Karena pelindung sisi tempat tidur tidak dipasang.
Mengapa pelindung sisi tempat tidur tidak dipasang? Karena perawat yunior tidak tahu
bahwa pelindung sisi tempat tidur harus dipasang.
Mengapa perawat yunior ini tidak tahu? Karena tidak dilatih.
Mengapa tidak dilatih? Karena rumah sakit belum mempunyai program pelatihan bagi
perawat baru.
Berbeda dengan metode 5 why yang dapat menganalisis masalah sampai dalam,
metode fishbone diagram menawarkan faktor kontribusi yang semakin banyak. Tuliskan
permasalahan pada kepala ikan, dan pada tulang belakangnya, gambarlah duri-duri yang
mewakili faktor kontribusi. Mulailah dengan empat kelompok dasar, yaitu pasien, proses, staf
pendukung, dan staf utama (Nelson dkk, 2007). Hati-hati mempergunakan fishbone diagram.
Bukan karena bahaya tertusuk duri, namun karena faktor kontribusi yang dihasilkannya bisa
sangat banyak sehingga menyulitkan analisis akar masalah. Fishbone diagram sering juga disebut
sebagai diagram Ishikawa.
Faktor kontribusi berbeda dengan akar masalah. Ada tiga pertanyaan yang bisa dipakai untuk
membedakan akar masalah dengan faktor kontribusi, yaitu: 1) Apakahsentinel event akan terjadi
bila faktor tersebut tidak ada?; 2) Apakah sentinel event yang sama akan muncul bila faktor
tersebut hilang?; 3) Apakah koreksi atau eliminasi faktor akan dapat menimbulkan sentinel

event?. Salah satu jawaban Ya dari ketiga pertanyaan tersebut menandakan bahwa faktor
tersebut merupakan faktor kontribusi, bukan akar masalah.
Susun Rekomendasi. Produk analisis informasi adalah akar penyebab masalah. Walau demikian,
RCA diakhiri bukan dengan ditemukannya akar penyebab masalah namun dengan rekomendasi.
Rekomendasi ini disusun berdasarkan hasil RCA. Hasil RCA pertama-tama akan memperjelas
apa yang terjadi dan apa penyebabnya. Dari hasil ini, tim akan memperoleh pembelajaran
berbasis bukti. Dua hal ini harus disintesis secara bijak dan jujur untuk menelurkan rekomendasi.
Rekomendasi hendaknya bersifat tepat sasaran, relevan, feasible, dapat dievaluasi ulang, dan
mempunyai target waktu penyelesaian.
Setelah membaca ulasan di atas, terlalu dini untuk menyimpulkan apakah pasien meninggal benar
diakibatkan oleh syuting yang dilakukan. Walau demikian, RCA terhadap insiden ini akan
membuat rumah sakit yang bersangkutan mengetahui apakah masih ada kelemahan dalam sistem
yang dibangun dalam melayani pasien. Salam! (RAD)
Referensi
Cahyono JBSB, 2008, Membangun Budaya Keselamatan Pasien dalam Praktik Kedokteran,
Kanisius, Yogyakarta.
Nelson EC, Batalden PB, Godfrey MM, 2007, Quality by Design, A Clinical Microsystem
Approach, Jossey-Bass, San Fransisco.
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit, 2010, Manual Kursus Keselamatan Pasien dan
Manajemen Resiko Klinis, PERSI, Jakarta
ISTILAH ISTILAH...
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kesehatan; Pasal 1:
1. Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan
pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang
berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
2. Insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut insiden adalah setiap kejadian yang tidak
disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat
dicegah pada pasien, terdiri dari Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian
Tidak Cedera dan Kejadian Potensial Cedera.
3. Kejadian Tidak Diharapkan, selanjutnya disingkat KTD adalah insiden yang mengakibatkan
cedera pada pasien.
4. Kejadian Nyaris Cedera, selanjutnya disingkat KNC adalah terjadinya insiden yang belum
sampai terpapar ke pasien.
5. Kejadian Tidak Cedera, selanjutnya disingkat KTC adalah insiden yang sudah terpapar ke
pasien, tetapi tidak timbul cedera.
6. Kondisi Potensial Cedera, selanjutnya disingkat KPC adalah kondisi yang sangat berpotensi
untuk menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi insiden.
7. Kejadian sentinel adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius.
8. Pelaporan insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut pelaporan insiden adalah suatu
sistem untuk mendokumentasikan laporan insiden keselamatan pasien, analisis dan solusi untuk
pembelajaran.