Anda di halaman 1dari 11

I.

Tujuan
Menetapkan kadar Minyak atsiri yang terdapat pada Kulit Kayu Manis
( Cinnamomi Cortex ).

II.

Prinsip
Berdasarkan perbedaan titik ddih antara air dan minyak.

III.

Teori
Minyak atsiri juga dikenal dengan nama minyak mudah menguap atau
minyak terbang. Pengertian atau defenisi minyak atsiri yang ditulis dalam
Encyclopedia of Chemical Technology menyebutkan bahwa minyak atsiri
merupakan senyawa, yang pada umumnya berwujud cairan, yang diperoleh
dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun, buah, biji maupun dari bunga
dengan cara penyulingan dengan uap (Sastrohamidjojo, 2004).
Minyak atsiri adalah zat yang berbau yang terkandung dalam tanaman.
Minyak ini disebut juga minyak menguap, minyak eteris, atau minyak
essensial karena pada suhu biasa (suhu kamar) mudah menguap di udara
terbuka. Istilah essensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari
tanaman asalnya. Dalam keadaan segar dan murni tanpa pencemaran, minyak
atsiri umumnya tidak berwarna. Namun, pada penyimpanan lama minyak
atsiri dapat teroksidasi dan membentuk resin serta warnanya berubah menjadi
lebih tua (gelap). Untuk mencegah supaya tidak berubah warna, minyak atsiri
harus terlindung dari pengaruh cahaya, misalnya disimpan dalam bejana gelas
yang berwarna gelap. Bejana tersebut juga diisi sepenuh mungkin sehingga
tidak memungkinkan berhubungan langsung dengan oksigen udara, ditutup
rapat serta disimpan ditempat yang kering dan sejuk (Gunawan dan Mulyani,
2004).
Minyak atsiri di hasilkan dari bagian jaringan tanaman tertentu seperti
akar, batang, kulit, daun, bunga, atau biji. Sifat minyak atsiri yang menonjol
antara lain mudah menguap pada suhu kamar, mempunyai rasa getir, berbau
wangi sesuai dengan aroma tanaman yang menghasilkannya, dan umumnya
larut dalam pelarut organik. Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut

minyak atsiri. Misalnya dalam bahasa inggris disebut essensial oils, ethereal
oils dan volatile oils. Dalam bahasa Indonesia ada yang menyebut minyak
kabur. Mengapa minyak atsiri dikatakan sebagai minyak terbang atau minyak
kabur? tiada lain karena minyak atsiri mudah menguap apabila dibiarkan
begitu saja dalam keadaan terbuka (Lutony dan Rahmayati, 2002).
Jenis minyak atsiri yang telah dikenal dalam dunia perdagangan berjumlah
sekitar 70 jenis, yang bersumber dari tanaman, antara lain dari akar, batang,
daun, bunga dan buah. Khususnya di Indonesia telah dikenal sekitar 40 jenis
tanaman penghasil minyak atsiri, namun baru sebagian dari jenis tersebut telah
digunakan sebagai sumber minyak atsiri secara komersial, yaitu minyak sereh
wangi, nilam, kenanga, pala, daun cengkeh, cendana, kayu putih, akar wangi,
jahe dan kemukus (Ketaren, 1985).
Minyak atsiri terdapat pada dan diperoleh dari bagian tertentu tanaman
yang mengandung minyak atsiri. Bagian ini antara lain akar, biji, buah, bunga,
daun, kulit kayu, ranting dan rimpang atau akar tinggal. Bahkan ada jenis
tanaman yang seluruh bagiannya mengandung minyak atsiri. Kandungan
minyaknya tidak akan sama antara bagian yang satu dengan bagian yang
lainnya. Misalnya kandungan kimia minyak atsiri yang terdapat pada kuntum
bunga cengkih berbeda dengan pada bagian tangkai bunga maupun daun
(Lutony dan Rahmayati, 2002).
Aneka minyak tumbuhan yang mengandung aroma dan mudah menguap,
minyak ini dikenal sebagai minyak atsiri (essensial oil), jadi ciri minyak atsiri
ialah mengandung aroma dan mudah menguap. Pada kulit pohon yang
mengandung aroma disamping terdapat minyak atsiri, terdapat pula getah dan
damar (resin) yang dinamakan balsem. Unsur yang mengandung aroma
kemungkinan terbentuk dalam hijau daun (chloroplast) unsur tersebut bersatu
dalam glukosa menghasilkan glukosida yang disalurkan keseluruh tubuh
tumbuhan. Tumbuhan tersebut menghasilkan zat penawar (enzim) yang
menyerbu glukosida, hingga mengakibatkan terciptanya minyak atsiri (Haris,
1990).
Minyak atsiri kayu manis merupakan produk samping dari kayu manis.
Minyak ini mengandung bahan kimia organik yang berbentuk aroma khas

secara terpadu. Minyak atsiri dapat diperoleh dari kulit ranting dan daun.
Nama minyak kayu manis ini didasarkan pada jenis kayu manis dan bahan
asal bahan, yaitu Cinnamon leaf oil adalah minyak yang diperoleh dari daun
kayu manis. Cinnamon bark oil adalah minyak yang diperoleh dari kulit.
Sementara Cassia oil adalah minyak yang diperoleh dari daun, ranting dan
bubuk kulit kayu manis.
Komponen utama yang terkandung didalam minyak kayu manis adalah
sinamaldehid, eugenol, aceteugenol, dan aldehida.selain itu masih ada
kandungan lain yang menentukan aroma spesifik dari kayu manis. Kandungan
terbesar dalam minyak kayu manis adalah eugenol, sekitar 80-90%. Minyak
ini diperoleh dari penyulingan atau destilasi air dan uap, kandungan minyak
yang diperoleh tergantung pada cara penyulingannya (Rismunandar dan
Paimin, 2001).
Cinnamon bark oil diperoleh dengan cara menyuling serbuk kulit kayu
manis kering atau serpihan kulit yang tidak dapat dijual. Cinnamon bark oil
mengandung Cinnamic aldehyde (tidak boleh kurang dari 55%), eugenol (410%), alipathic aldehyde, dan phellandene. Patokan mutu cinnamon bark oil
menurut Essential oil Association of USA (EOA) meliputi sifat alami dan
kimiawi (lihat tabel 3).
Tabel 3. Spesifikasi Minyak Atsiri Kayu Manis

NO
1

PARAMETER
Warna, Penampilan, dan bau

ZAT/UKURAN
cairan kuning dengan
bau kayu manis dan
rasa

pedas

yang

membakar;
2

Berat jenis pada 25 0C

1,010 sampai 1,030;

Putaran optic

00 sampai 20 ;

Refractive index, 200C

1.5730

sampai

1.5910;
5

Kandungan cinnamicaldehyde

55 % sampai 78 %

Kelarutan dalam alkohol 70%

larut dalam 3 volume

Sumber : Haris, (1990).


Minyak atsiri dari kayu manis mempunyai daya bunuh terhadap
mikroorganisme (antiseptis), membangkitkan selera atau menguatkan
lambung (stomakik) juga memiliki efek untuk mengeluarkan angin
(karminatif). Selain itu minyaknya dapat digunakan dalam industri sebagai
obat kumur dan pasta, penyegar bau sabun, deterjen, lotion parfum dan cream.
Dalam pengolahan bahan makanan dan minuman minyak kayu manis di
gunakan sebagai pewangi atau peningkat cita rasa, diantaranya untuk
minuman keras, minuman ringan (softdrink), agaragar, kue, kembang gula,
bumbu gulai dan sup (Rismunandar dan Paimin, 2001).
Efek farmakologis yang dimiliki kayu manis diantara sebagai peluruh
kentut (carminative), peluruh keringat (diaphoretic), antirematik, penambah
nafsu makan (stomachica) dan penghilang rasa sakit (analgesic) (Hariana,
2007).
Menurut Gunawan dan Mulyani (2004), minyak Atsiri umumnya diisolasi
dengan empat metode yang lazim digunakan sebagai berikut :
1. Metode Destilasi
Di antara metode-metode isolasi yang paling lazim dilakukan adalah
metode destilasi. Beberapa metode destilasi yang popular dilakukan di
berbagai perusahaan industri penyulingan minyak atsiri, antara lain sebagai
berikut :
a. Metode destilasi kering (langsung dari bahannya tanpa menggunakan air).
Metode ini paling sesuai untuk bahan tanaman yang kering dan untuk
minyak-minyak yang tahan pemanasan (tidak mengalami perubahan bau
dan warna saat dipanaskan), misalnya oleoresin.
b. Destilasi air, meliputi destilasi air dan uap air dan destilasi uap air
langsung. Metode ini dapat digunakan untuk bahan kering maupun bahan
segar dan terutama digunakan untuk minyak-minyak yang kebanyakan
dapat rusak akibat panas kering. Seluruh bahan dihaluskan kemudian
dimasukkan ke dalam bejana yang bentuknya mirip dandang. Dalam
metode ini ada beberapa versi perlakuan. 1) Bahan tanaman langsung
direbus dalam air.

2) Bahan tanaman langsung masuk air, tetapi tidak rebus. Dari bawah
dialirkan uap air panas.
3) Bahan tanaman ditaruh di bejana bagian atas, sementara uap air dihasilkan
oleh air mendidih dari bawah dandang.
4) Bahan tanaman ditaruh di dalam bejana tanpa air dan disemburkan uap air
dari luar bejana.

2. Metode Penyarian
Metode penyarian digunakan untuk minyak-minyak atsiri yang tidak tahan
pemanasan seperti cendana. Kebanyakan dipilih metode ini karena kadar
minyaknya di dalam tanaman sangat rendah/kecil. Bila dipisahkan dengan
metode lain, minyaknya akan hilang selama proses pemisahan. Pengambilan
minyak atsiri menggunakan cara ini diyakini sangat efektif karena sifat
minyak atsiri yang larut sempurna di dalam bahan pelarut organik nonpolar.

3. Metode Pengepresan atau Pemerasan


Metode pemerasan/pengepresan dilakukan terutama untuk minyak-minyak
atsiri yang tidak stabil dan tidak tahan pemanasan seperti minyak jeruk
(citrus). Juga terhadap minyak-minyak atsiri yang bau dan warnanya berubah
akibat pengaruh pelarut penyari. Metode ini juga hanya cocok untuk minyak
atsiri yang randemennya relatif besar.

4. Metode Enfleurage
Metode enfleurage adalah metode penarikan bau minyak atsiri yang
dilekatkan pada media lilin. Metode ini digunakan karena diketahui ada
beberapa jenis bunga yang setelah dipetik, enzimnya masih menunjukkan
kegiatan dalam menghasilkan minyak atsiri sampai beberapa hari/minggu,
misalnya bunga melati.

IV.

Alat dan Bahan


Alat

Labu bundar

Alat destilasi

Erlenmayer

Gelas Ukur

Boilling Chip

Bahan :

V.

Aquadest

Kulit kayu Manis ( Cinnamomi cortex )

Prosedur

Di timbang sampel sebanyak 50 gr.

Di masukkan ke dalam labu destilasi, tambahkan air dan batu didih


(boiling chip).

VI.

Rangkai alat destilasi.

Kemudian dipanaskan, buang sekali-kali air katup bila penuh.

Di tampung setelah suhu stabil.

Hentikan bila tetesan minyak atsiri habis.

Dipisahkan minyak dan air.

Hitung kadar minyak atsiri.

Data Pengamatan
Berat sampel : 50 gram
Minyak atsiri yang diperoleh : 0,1 mL
% minyak atsiri =

x 100 = 0,002 %

VII.

Pembahasan
Ditinjau dari biosintesisnya maka minyak atsiri secara umum tergolong
senyawa terpenoid tetapi lebih khusus merupakan monoterpen dan
seskuiterpen. Nilai utama kayu manis terdapat pada bagian kulit dari batang,
cabang serta ranting yang mengandung minyak atsiri, terutama sinamaldehid
(60-75%) dan eugenol (4-18%) (Suherdi, 1999). Kualitas minyak ditentukan
oleh kadar minyak eugenol dan sinamat aldehida. Menurut List dan
horhammer, walaupun kadar minyak atsiri kulit Cinnamomum zeylanicum
dapat mencapai 4% tetapi dalam prakteknya rata-rata hanya mencapai 1%.
Dalam kulit kayu manis ini masih banyak terdapat komponen kimia seperti
damar, pelekat, tanin (zat penyamak), gula, kalsium, oksalat, insektisida,
cinnzelanol, dan cumarin.. Salah satu komponen kimia dalam kulit kayu manis
adalah cairan seperti minyak berwarna kuning pucat yang dihasilkan dari
destilasi uap yaitu Eugenol. Hal inilah yang mendorong kita untuk
mengadakan penelitian yaitu Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Eugenol pada
Kulit batang Tumbuhan Kayu Manis (Cinnamomun zeylanicum ).

Pada percobaan ini kita lakukan percobaan dengan judul destilasi uap
untuk mengisolasi minyak atsiri dalam kulit kayu manis. Destilasi atau
penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan,

kecepatan

atau

kemudahan

menguap

(volatilitas)

dalam

penyulingan campuran zat dididihkan sehingga menguap dan uap ini kemudian
didinginkan kembali kedalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih
tinggi akan menguap lebih dulu. Metode ini termasuk sebagai unit operasi
kimia jenis perpindahan massa penerapan proses ini didasarkan pada teori

bahwa pada suatu larutan masing-masing komponen akan menguap pada titik
didihnya. Digunakan pada campuran-campuran senyawa yang memiliki titik
didih tinggi mencapai 200C atau lebih. Destilasi ini dapat menguap senyawasenyawa dengan suhu yang mendekati 100C dalam tekanan atmosfer. Dengan
menggunakan uap atau air mendidih sifat uap yang fundamental adalah dapat
mendestilasi campuran senyawa dibawah titik didih dari masing-masing
senyawa campurannya.

Percobaan kali ini adalah percobaan destilasi yang menggunakan


pemisahan dengan destilasi uap. Prinsip dari percobaan ini adalah pemisahan
Eugenol yang terdapat dalam kulit batang kayu manis yang dipisahkan
berdasarkan perbedaan titik didihnya terhadap air. Senyawa yang memiliki
titik didih rendah apabila dipanaskan akan mengalami penguapan terlebih
dahulu, untuk titik didih tinggi senyawa tersebut akan menguap setelah titik
didih rendah. Percobaan ini menggunakan destilasi uap karena yang
dipisahkan adalah antara senyawa Eugenol yang terdapat dalam kulit batang
kayu manis. Karena perbedaan titik didih antara senyawa Eugenol dan air
yang sangat tinggi yaitu masing-masing untuk Eugenol 2550C dan untuk air
100C.

Langkah untuk isolasi eugenol dapat diawali dengan menempatkan 50 g


kulit kayu manis dalam labu dasar bulat 250 mL, tambahkan 150 mL air, dan
pasang dalam set alat destilasi uap. Lakukan destilasi selama 1 jam pada suhu
800C dan kumpulkan destilat dalam labu Erlenmeyer. Pindahkan destilat ke
dalam corong pisah. Ambil lapisan minyak atsiri berupa eugenol dan tentukan
massanya berapa persen. Isolasi berdasarkan penurunan tekanan uap dilakukan
dengan cara destilasi uap. Cara ini digunakan untuk senyawa yang tidak larut

dalarn air, bertitik didih tinggi, mudah terurai sebelum titik didihnya dan
mudah menguap. Dimana titik didih air adalah 1000C dan titik didih Eugenol
kulit kayu manis adalah 2550C. Jadi air akan mendidih terlebih dahulu dan
menguap kemudian akan menembus plat-plat pada kolom fraksionasi dan
menuju ke pendingin liebieg, hal ini disebabkan sifat gas yang menempati
ruang. Sehingga gas tersebut memasuki pendingin liebieg. Pada pendingin
liebieg dialirkan aliran air dingin yang menyebabkan perubahan antara gas
menjadi cairan, setelah itu cairan akan mengalir menuju ujung pendingin
liebieg yang telah diberi wadah erlenmeyer, Sementara Eugenol yang kita
inginkan akan keluar terakhir karena memiliki titik didih yang tinggi diatas
1500C 2000C , namun secara bersamaan didapatkan filtrate campuran air dan
Eugenol yang keluar pada proses destilasi uap ini, maka cara untuk
memisahkannya adalah dengan proses pemisahan pada corong pisah, sehingga
Eugenol yang kita inginkan dapat didapatkan secara murni

Terdapat beberapa fungsi perlakuan pada percobaan ini yaitu:


Dipanaskan berfungsi untuk menaikan suhu sehingga menghasilkan
energi untuk memutuskan ikatan karbon dan untuk mengubah dari cairan
menjadi gas.
Didinginkan berfungsi pada pendinginan liebieg untuk mengkondensasi
senyawa dari gas menjadi cairan karena untuk mengubah dari gas
menjadi cairan membutuhkan suhu yang sangat dingin.
Diukur volume berfungsi untuk mengukur volume yang didapatkan dari
hasil destilasi.
Hasil destilat berupa Eugenol yang merupakan zat cair berbentuk minyak
tidak berwarna sedikit kekuning-kuningan. Larut dalam alkohol, kloroform,
eter dan sedikit larut dalam air, berbau tajam minyak cinammon berasa
membakar dan panas di kulit. Eugenol mempunyai rumus molekul
C10H1202 dengan titik didih 2550C dan tekanan uapnya10 mmHg pada 1230C.
Hasil volume Eugenol yang diperoleh adalah 0,01 ml dengan persentase

0,02%, angka yang sangat sedikit dalam isolasi Eugenol. Berdasarkan


literature nilai Eugenol yang dihasilkan adalah lebih dari 2%. Ini disebabkan
karena proses destilasi uap yang kurang lama dimana masih terdapat minyak
atsiri yang tertinggal pada labu bundar dan tidak keluar sebagai filtrate.
Adanya hidrolisis yang mengakibatkan minyak atsiri larut dalam pelarut air
dan proses pemanasan dengan suhu tinggi, sehingga masih terdapat minyak
atsiri yang tidak ikut tersuling.

VIII.

Kesimpulan
-

Kadar minyak atsiri yang diperoleh 0,1 ml dalam waktu 60 menit.

% kadar minyak atsiri yang diperoleh 0,002%

Daftar Pustaka
Armando, R. 2009. Memproduksi 15 Minyak Atsiri Berkualitas. Penebar
swadaya, Jakarta.
Darun, 2002. Ekonomi Teknik. Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas
Pertanian USU, Medan
http:// www. Atsiri-Indonesia.com/. Essential Oil. Atsiri Indonesia.(
diakses : 26 april 2014 )