Anda di halaman 1dari 8

Narindra, et al., Analisis Kuantitatif Rhodamin B Pada Terasi..

Analisis Kuantitatif Rhodamin B Pada Terasi Produksi Daerah


Puger Secara KLT-Densitometri
(Quantitative Analysis Rhodamin B on Paste Puger Production
with Analysis TLC-densitometry)
Nora Putri Narindra1, Lintang Permatasari2
Fakultas Farmasi Universitas Jember
Jln. Kalimantan No. 37 Jember 68121
e-mail korespondensi: noraputri1275@gmail.com

Abstract
Rhodamine B is a synthetic dye crystal powder form, green, or reddish purple,
stable in heating and odorless. One of the food that was allegedly containing
rhodamine B is a paste. Therefore, the research conducted to detect the presence
of rhodamine B contained in the paste. Stages of the research is the analysis of the
condition of the optimization, validation of analytical methods, and detection of
rhodamine B in a sample of shrimp paste. Detection was carried out qualitative and
quantitative TLC-densitometry. The results showed that the optimum conditions for
quantitative analysis of rhodamine B by TLC-densitometry were: 70% ethanol as a
solvent, ethanol: ammonia (19: 1) as eluent, silica gel F254 TLC plates as the
stationary phase and using the maximum wavelength of 549 nm. TLC-densitometry
method has a correlation coefficient = 0.998929, RSD = 0.897% of her, in
accordance sensitivity = 6.008327 ppm detection limit and limit of quantitation =
18.02498 ppm, 5 recovery = (99.77 1.24) %. Qualitative and quantitative analysis
performed on 9 condiment which 8 of them containing rhodamine B with levels
between 0.012% to 0.050% (w / w).
Keywords : Rhodamin B, paste, TLC-densitometry

Abstrak
Rhodamin B merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau,
atau ungu kemerahan, stabil dalam pemanasan dan tidak berbau. Salah satu
makanan yang disinyalir mengandung rhodamin B adalah terasi. Maka dari itu,
dilakukan penelitian untuk mendeteksi keberadaan rhodamin B yang terdapat pada
terasi. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah optimasi kondisi analisis, validasi
metode analisis, serta deteksi rhodamin B dalam sampel terasi. Deteksi dilakukan
secara kualitatif dan kuantitatif secara KLT-Densitometri. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk analisis kuantitatif rhodamin B secara
KLT-Densitometri adalah : etanol 70% sebagai pelarut, etanol : amonia (19:1)
sebagai eluen, Lempeng KLT silika gel F254 sebagai fase diam dan menggunakan
panjang gelombang maksimum 549 nm. Metode KLT-Densitometri ini mempunyai
koefisien korelasi = 0,998929, RSD-nya = 0,897%, kepekaan sesuai batas deteksi =
6,008327 ppm dan batas kuantitasi = 18,02498 ppm, 5 recovery = (99,771,24) %.
Analisis kualitatif dan kuantitatif dilakukan pada 9 terasi dimana 8 diantaranya
mengandung rhodamin B dengan kadar antara 0,012% sampai dengan 0,050%
(b/b).
Kata kunci : Rhodamin B, Terasi, KLT Densitometri

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (4), Oktober, 2014

Narindra, et al., Analisis Kuantitatif Rhodamin B Pada Terasi..


Pendahuluan

Terasi merupakan bahan baku


makanan yang berasal dari hasil olahan
ikan secara fermentasi. Terasi berbentuk
pasta padat yang berbau khas dan
biasanya digunakan sebagai komponen
bumbu yaitu sambal atau bumbu masak
lainnya. Supaya lebih menarik, biasanya
terasi ditambah bahan tambahan makanan
berupa pewarna buatan dari luar. Sejumlah
produsen
disinyalir
menggunakan
rhodamin B sebagai pewarna karena
warnanya yang mencolok dan harganya
relatif murah. Rhodamin B sebenarnya
tidak digunakan dalam makanan melainkan
untuk mewarnai tekstil dan kertas.
Penggunaan rhodamin B sebagai bahan
tambahan makanan dapat membahayakan
kesehatan karena dapat menyebabkan
gangguan fungsi hati (kanker hati).
Rhodamin B memiliki rumus
molekul C28H31ClN2O3 dengan berat
molekul 479. Senyawa ini merupakan zat
warna sintetis berbentuk serbuk kristal,
berwarna hijau, atau ungu kemerahan,
stabil dalam pemanasan dan tidak berbau.
Rhodamin B dalam bentuk larutan
berwarna merah terang dan berflouresensi.
Rhodamin B mempunyai titik lebur 1650 C
dan dapat larut dalam air dan alkohol
(Anonim, 1995). Rhodamin B mempunyai
beberapa nama kimia dan nama dagang
yaitu : N- [9-(2- carboxyphenyl) 6(diethylamino)-3H- xanthen 3 lidene]
Nethylethanaminium
chloride;
tetraethylrhodamin, D & C Red No 19;
Rhodamine B chloride; C.I. basic violet 10;
C.I. 45170. Senyawa Rhodamin B dalam
makanan
dapat
diketahui
dengan
melakukan
suatu
analisis.
Analisa
rhodamin B dapat dilakukan secara KLTDensitometri.
Kromatografi lapis tipis (KLT)
merupakan suatu metode pemisahan
komponen-komponen
atas
dasar
perbedaan adsorbsi atau partisi oleh fase
diam
dibawah
pergerakan
pelarut

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (4), Oktober, 2014

pengembang (fase gerak ) tunggal atau


campuran (Mulya dan Suharman, 1995)
Fase gerak pada KLT bisa
menggunakan pelarut tunggal maupun
campuran beberapa pearut organik atau
anorganik. Pemilihan didasarkan pada
macam dan polaritas zat-zat kimia yang
akan
dipisahkan.
Pada
pemisahan
komponen sampel yang bersifat non polar
maka digunakan pelarut pengembang yang
bersifat nonpolar, begitupun sebaliknya.
Sedangkan pada fase diam yang banyak
digunakan antara lain adalah silika gel,
selulosa, alumina, poliamida, penukar ion
dan silika gel yang terikat secara
kimia(Sherma dan Fried, 1994)
Salah satu proses yang akan
dilakukan dalam KLT adalah elusi. Elusi
merupakan suatu proses pemisahan analit
dari sampel berdasar pengaruh pergerakan
eluen yang merambat pada fase diam
karena adanya gaya kapilaritas (Stahl,
1985).
Proses
selanjutnya
adalah
identifikasi kromatogram. Kromatogram
dapat dikatakan efisien jika nilai lempeng
teoritis (N), nilai jarak setara pelat teori
(HETP) dan nilai resolusi (Rs) memenuhi
syarat.
Pada metode KLT dilakukan dua
analisis yaitu analisis kualitatif dan
kuantitaif. Analisis kualitatif dilakukan
dengan cara membandingkan noda
kromatogram analit tersebut dengan
standart. Analisis kuantitatif dilakukan
dengan cara penentuan tidak langsung dari
noda
kromatogram
dan
penentuan
langsung dari kromatogram.
Densitometri
adalah
metode
analisis instrumental berdasarkan interaksi
radiasi elektomagnetik dengan analit yang
merupakan noda pada KLT. Metode KLTDensitometri
memiliki
beberapa
keuntungan yaitu spesifitas yang tinggi,
dapat dipercaya, pengerjaan relatih mudah
dan cepat, biaya pengoperasian relatif
murah, polaritas pelarut atau pelarut
campuran dapat diubah dalam waktu
singkat dan jumlah pelarut yang digunakan
lebih sedikit(Touchstone dan Dobbins,
1983).

Narindra, et al., Analisis Kuantitatif Rhodamin B Pada Terasi..


Metode Penelitian

Alat
yang
digunakan
dalam
penelitian ini adalah labu ukur, erlenmeyer,
timbangan analitik, pipet volume, ballpipet,
batang pengaduk, pipet tetes, mikropipet,
vial, bejana camag, lempeng KLT Silika
Gel F254, scanner densitometer winCats
Camag, perangkat komputer dengan
program WinCATS dan pengering. Bahan
yang digunakan dalam penelitian adalah
standar Rhodamin B, terasi, Etanol 70%,
amoniak, etanol, asam asetat dan etil
asetat.
Metode yang dilakukan pertama
adalah sampling yang bersifat populasi
dimana diambil seluruh terasi hasil
produksi industri rumah tangga di wilayah
Puger Kabupaten Jember. Sampel terasi
yang diambil sebanyak 9 sampel
berdasarkan
data
dari
Disperindag
Kabupaten Jember. Selanjutnya dilakukan
optimasi kondisi analisis. Optimasi yang
dilakukan berupa optimasi eluen( fase
gerak) dan penentuan panjang gelombang
maksimum.
Penentuan
panjang
gelombang maksimum dilakukan dengan
scanning noda analit pada Camag TLC
scanner3 dan software program winCATS.
Validasi metode analisis yang
dilakukan pertama adalah selektivitas dan
spesifitas. Preparasi standar dilakukan
dengan cara menimbang 25,1 mg
dilarutkan dalam labu 25 ml menggunakan
etanol 70% lalu dipipet dan diebcerkan
hingga didapat konsentrasi 40,16 ppm.
Preparasi sampel dilakukan dengan cara
menimbang 2 gram sampel terasi
kemudian diekstraksi 3x lalu dilarutkan
dengan etanol 70% 25 ml lalu diendapkan
24 jam. Kemudian bagian bening ditotolkan
sebanyak 2 L pada lempeng KLT
bersamaan dengan standar.
Lempeng KLT yang sudah ditotoli
standart selanjutnya dieluasi menggunakan
eluen etanol:amoniak (19:1). Setelah
didapat noda, noda yang dihasilkan di
scanning pada maksimum dengan
Densitometer, kemudian dihitung harga
resolusi puncak Rhodamin B terhadap

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (4), Oktober, 2014

puncak yang lain (unknown) dan diuji


identitas serta kemurnianya.
Validasi metode analisis yang
selanjutnya adalah linieritas. Preparasi
standar dilakukan dengan cara menimbang
25,1 mg kemudian dilarutkan dalam labu
25 ml dengan etanol 70 %. Larutan dipipet
dan diencerkan hingga didapat konsentrasi
10,4 ppm; 20,8 ppm; 30,12 ppm; 40,16
ppm; 50,16 ppm; 60,24 ppm; 70,28 ppm;
80,32 ppm; 90,36 ppm kemudian ditotolkan
sebanyak 2 L pada lempeng KLT.
Selanjutnya
lempeng
dieluasi
menggunakan
eluen
etanol:amoniak
(19:1). Noda yang dihasilkan di scanning
pada maksimum dengan Densitometer,
kemudian
dihitung
nilai
koefisien
korelasinya (r).
Validasi metode analisis yang
selanjutnya adalah batas deteksi (LOD)
dan batas kuantitas (LOQ). Preparasi
standart
dilakukan
dengan
cara
menimbang rhodamin B sebanyak 25,1 mg
dilarutkan dalam 25 ml dengan etanol 70%.
Lalu larutan dipipet dan diencerkan hingga
didapat konsentrasi 5,02 ppm; 10,02 ppm;
15,06 ppm; 20,08 ppm; 25,5 ppm; dan
30,12 ppm. Selain itu dibuat pula larutan
standar dengan konsentrasi 6,02 ppm;
12,04 ppm; 8,03 ppm; dan 16,06 ppm
kemudian ditotolkan sebanyak 2 L pada
lempeng KLT. Selanjutnya lempeng
dieluasi
menggunakan
eluen
etanol:amoniak
(19:1).
Noda
yang
dihasilkan di scanning pada maksimum
dengan Densitometer, kemudian data hasil
scanning dihitung nilai parameter batas
deteksi dan batas kuantitasi.
Validasi metode analisis yang
selanjutnya
adalah
keseksamaan
(precision). Preparasi standar dilakukan
dengan cara menimbang rhodamin B
sebanyak 25,1 mg dan dilarutkan dalam
etanol 70% 25 ml. larutan tersebut
selanjutnya dipipet dan diencerkan hingga
didapatkan konsentrasi larutan standar
30,12 ppm; 40,16 ppm; 50,32 ppm; dan
60,24 ppm lalu ditotolkan sebanyak 2L
pada lempeng KLT. Selanjutnya lempeng
dieluasi
menggunakan
eluen
etanol:amoniak
(19:1).
Noda
yang

Narindra, et al., Analisis Kuantitatif Rhodamin B Pada Terasi..


dihasilkan di scanning pada maksimum
dengan Densitometer, kemudian data hasil
scanning dihitung nilai parameter presisi
dengan menghitung nilai SD dan RSD
dimana
nilai
RSD
tidak
boleh
>2%(Indrayanto, et al, 2003).
Validasi yang selanjutnya adalah
kecermatan (accuracy). Preparasi standar
dilakukan dengan cara
menimbang
rhodamin B sebanyak 25,1 mg dilarutkan
dalam 25 ml etanol 70 %. Larutan tersebut
selanjutnya dipipet dan diencerkan hingga
didapatkan konsentrasi larutan standar
30,12 ppm; 40,16 ppm; 50,32 ppm; dan
60,24 ppm lalu ditotolkan sebanyak 2L
pada lempeng KLT. Preparasi sampel
blanko dilakukan dengan cara sebanyak
200
gram,
kemudian
ditambahkan
rhodamin B sebanyak 72 mg; 91 mg dan
109,2 mg (replikasi 3 kali). Campuran
digerus dengan mortir hingga homogen.
Selanjutnya ditimbang 2 gram sampel
blanko kemudian diekstraksi sebanyak 3 x,
lalu dilarutkan dalam labu ukur 25 ml
dengan etanol 70%, masukkan vial lalu
diendapkan selama 24 jam. Kemudian
beningan yang ada di atas ditotolkan
sebanyak 2 L pada lempeng KLT Silika
Gel F254. Selanjutnya lempeng dieluasi
menggunakan
eluen
etanol:amoniak
(19:1). Noda yang dihasilkan di scanning
pada maksimum dengan Densitometer,
kemudian dihitung nilai parameter akurasi
dengan
menghitung
nilai
%recovery(Indrayanto, et al, 2003).
Setelah dilakukan validasi metode,
selanjutnya dilakukan uji kualitatif dan
kuantitatif Rhodamin B dalam sampel
terasi. Preparasi standar dilakukan dengan
cara menimbang rhodamin B sebanyak
25,1 mg dilarutkan dalam 25 ml etanol 70
%. Larutan tersebut selanjutnya dipipet dan
diencerkan hingga didapatkan konsentrasi
larutan standar 30,12 ppm; 40,16 ppm;
50,32 ppm; dan 60,24 ppm lalu ditotolkan
sebanyak 2L pada lempeng KLT.
Preparasi sampel dilakukan dengan
cara menimbang 2 gram (replikasi 2 kali)
sampel terasi kemudian diekstraksi
sebanyak 3 kali, lalu dilarutkan dalam labu
ukur 25 ml dengan etanol 70 %, masukkan

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (4), Oktober, 2014

vial lalu diendapkan selama 24 jam.


Kemudian beningan yang ada di atas di
totolkan sebanyak 2L pada lempeng KLT.
Preparasi sampel adisi dilakukan
dengan cara menimbang 2 gram sampel
terasi ditambah rhodamin B sebanyak 40
% dari kadar yang diperkirakan dalam
kemudian dicampur digerus dengan mortir
hingga homogen. Sampel terasi diekstraksi
sebanyak 3 kali, lalu dilarutkan dalam labu
ukur 25 ml dengan etanol 70% masukkan
vial lalu diendapkan selama 24 jam.
Kemudian beningan yang ada diatas
ditotolkan sebanyak 2L pada lempeng
KLT.
Lempeng KLT yang telah ditotoli
dieluasi
menggunakan
eluen
etanol:amoniak
(19:1).
Noda
yang
dihasilkan di scanning pada maksimum
dengan Densitometer, diuji identitas
kemudian dibandingkan korelasi tinggi
puncak dan luas area antara standart dan
sampel, setelah itu dihitung kadar % b/b
rhodamin B dalam sampel terasi. Pada
sampel adisi dilihat % recovery-nya.
Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan melalui tiga tahap
yaitu optimasi kondisi analisis, validasi
metode analisis dan penetapan kadar
rhodamin B yang terkandung dalam terasi
melalui KLT-Densitometri.
Pada optimasi kondisi analisis
didapat data seperti pada tabel 4.1
Tabel 1. Perbandingan parameter efisiensi
kromatogram pada optimasi eluen/fase
gerak
Eluen/fase
Parameter
gerak
Rf
N
HETP
Etanol:Amoniak 0,82 1328,19 0,0067
:etil
asetat(4:11:5)
Etil
0,84 933,02
0,0096
asetat:amoniak(
10:10)
Etanol:Amoniak 0,85 1495,11 0,0060
(15:5)
Etanol:Amoniak 0,77 1482,25 0,0060

Narindra, et al., Analisis Kuantitatif Rhodamin B Pada Terasi..


(17:3)
Etanol:Amoniak
(18:2)
Etanol:Amoniak
(19:1)

0,61

1653,77

0,0054

0,52

2704,05

0,0033

40,16
5028,96
50,16
5706,99
70,18
7744,70
80,32
8448,23
90,12
9364,90
Regresi linier
Area = 1982,911 +
Koefisien korelasi > 72, 696 konsentrasi
0,99
0,998929
Batas Deteksi LOD dan LOQ

Gambar 1 Perbandingan spektra uji identity


rhodamin B dalam sampel dan standart

Tabel 3 koefisien korelasi konsentrasi dan


area standart Rhodamin B pada percobaan
LOD dan LOQ
Konsentrasi (ppm)
Area
5,01
832,25
8,16
1422,18
10,06
1603,46
12,21
1959,18
16,27
2518,94
Persamaan regresi Area = 142,673 +
koefisien korelasi > 147,4113
0,99
konsentrasi 0,99696
Uji Presisi
Tabel 4 Data
dengan n = 6
Hari
1
2
3
Rata-rata

presisi tiga hari percobaan


RSD (n=6)
1,036 %
0,702 %
0,953 %
0,897 %

%b/b
0,0448
0,0455
0,0453
0,0452

Uji Akurasi

Gambar 2 Perbandingan spektra uji purity


rhodamin B dalam sampel dan standart
Uji Linieritas
Tabel 2 koefisien korelasi konsentrasi dan
area standart Rhodamin B pada percobaan
linieritas
Konsentrasi (ppm)
Area
20,08
3300,07
30,12
4208,34

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (4), Oktober, 2014

Tabel 5 hasil rata-rata akurasi


Kad Pen Penam Jumla
ar
amb bahan
h
rata- ahan standart rhoda
rata (%)
rhodami min B
(%)
n
B percob
b/b
(mg)
aan
(mg)
0,04 80
0,729
0,689
45
0,703
0,745
100
0,912
0,903
0,912
0,906

%
recovery

94,64 %
96,43 %
102,90%
99,01 %
100,10%
99,34 %

Narindra, et al., Analisis Kuantitatif Rhodamin B Pada Terasi..


120

1,094

Rata
-rata

1,038
94,88 %
1,106
100,63%
1,101
100,54%
(98,72
2,81)
%

Uji Kualitatif dan Kuantitatif


Tabel 6 Hasil
Densitometri
Sa R Sen
mp f
yaw
el
a
1
0, Rho
5 dami
2 nB
2
0, Rho
5 dami
3 nB
3
0,
0
0
4
0, Rho
5 dami
3 nB
5
0, Rho
5 dami
3 nB
6
0, Rho
5 dami
2 nB
7
0, Rho
5 dami
3 nB
8
0, Rho
5 dami
2 nB
9
0, Rho
5 dami
2 nB

scanning spektrum dari


R(s,
m)

R(m
,o)

0,99
911
7
0,99
732
3

0,99
527
2
0,99
599
9

0,99
803
8
0,99
784
2
0,99
892
4
0,99
942
8
0,99
893
9
0,99
974
5

0,99
599
9
0,99
356
6
0,99
833
0
0,99
974
0
0,99
537
6
0,99
532
5

Kesi
mpul
an
ok

ok

Ok

Ok

Ok

Ok

Ok

Ok

Iden
titas
Rho
dami
nB
Rho
dami
nB

Rho
dami
nB
Rho
dami
nB
Rho
dami
nB
Rho
dami
nB
Rho
dami
nB
Rho
dami
nB

Pembahasan

Sesuai dengan optimasi eluen dan


panjang gelombang, kondisi analisis
optimum rhodamin B melalui KLTDensitometri ditetapkan sebagai berikut :

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (4), Oktober, 2014

a. Pelarut : etanol 70% (Anonim,


1995)
b. Eluen/ fase gerak : etanol:amoniak
(19:1)
c. Fase diam : lempeng KLT Silika Gel
F254 (Anonim, 1995)
d. Panjang gelombang maksimum :
549 nm.
Pada validasi metode analisis, analisis
yang dilakukan pertama adalah melihat
selektivitas dan spesifitas. Selektivitas
ditentukan melalui perhitungan daya
resolusi (Rs). Sedangkan spesifitas
ditentukan dengan uji kemurnian (purity)
dan uji identitas (identity). Pada tabel 1,
diperoleh profil kromatogram yang telah
memenuhi syarat keselektivan karena
kromatogram yang terbentuk tidak terdapat
puncak matriks pengganggu.
Pada gambar 1 dan 2 diketahui bahwa
metode
KLT-Densitometri
memenuhi
syarat kespesifikan karena standart dan
sampel yang terbentuk pada panjang
gelombang visisbel (400 nm 700 nm)
untuk uji kemurnian (purity) dan uji
identitas (identity) memiliki spektra yang
hampir sama. Hal ini berarti bahwa di
dalam sampel terdapat senyawa rhodamin
B.
Uji yang selanjutnya adalah uji
linearitas. Linieritas diuji berdasarkan nilai
koefisisen korelasi. Kelinieran suatu
metode dapat diuji dengan pengukuran
beberapa tingkat konsentrasi larutan
standar. Berdasarkan tabel 2 diperoleh
harga koefisien korelasi sebesar 0,998116
dan dikatakan memenuhi syarat linieritas.
Batas deteksi (LOD) dan batas
kuantitasi
(LOQ)
dilakukan
untuk
mengetahui batas konsentrasi analit yang
masih terdeteksi oleh alat dan konsentrasi
analit yang dapat terkuantitasi pada presisi
dan akurasi. Pengujian LOD dan LOQ
dilakukan dengan scanning larutan standar
pada beberapa konsentrasi. Berdasarkan
tabel 3 dilakukan analisis menggunakan
program validasi. Dihasilkan batas deteksi
LOD sebesar 2,274 ppm dan LOQ sebesar
8,173 ppm.
Uji yang berikutnya adalah uji
kepresisian. Uji kepresisisan merupakan

Narindra, et al., Analisis Kuantitatif Rhodamin B Pada Terasi..


pengujian derajat kesesuaian diantara
masing-masing hasil uji dan ditentukan
dengan menghitung nilai relatif standart
deviasi (RSD). Uji kepresisian dilakukan
dengan pengukuran sampel replikasi enam
kali selama tiga hari yang berbeda.
Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa
nilai rata-rata RSD adalah 1,58%.
Disimpulkan bahwa metode ini memenuhi
syarat kepresisian dengan nilai relatif
standar deviasi kurang dari 2 %.
Uji yang selanjutnya adalah uji
kecermatan
atau
accuracy.akurasi
merupakan ukuran yang menunjukkan
derajat kedekatan hasil analisis denga
kadar analit yang sebenarnya, yang
ditentukan dengan menghitung nilai %
recovery (perolehan kembali). Pengukuran
dilakukan 3 kali replikasi. Berdasarkan
tabel 5 diketahui rata-rata% recovery
sebesar (98,72 2,81) %. Dimana nilai ini
berada pada rentang yang diperbolehkan
yaitu98% sampai dengan 102% sehingga
metode ini memenuhi syarat keakuratan.
Setelah
semua
validasi
metode
dilakukan dan semua validasi menyatakan
memenuhi syarat maka dilakukan uji
kualitatif dan kuantitatif. Kedua uji ini
dilakukan pada 9 sampel terasi yang
diproduksi oleh industri rumah tangga di
daerah Puger. Dari data diperoleh hasil
bahwa sampel ketika ditambahkan dengan
etanol 70% memberikan warna merah
muda kecuali sampel terasi 3 yang
memberikan warna coklat. Uji kualitatif juga
dapat diketahui melaui spektra sampel
dengan metode KLT Densitometri yang
hasilnya seperti pada tabel 6. Dari tabel
tersebut dapat dilihat bahwa semua
sampel mengandung rhodamin B kecuali
sampel no 3.

Simpulan dan Saran


Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kondisi optimum untuk analisis kuantitatif
rhodamin B secara KLT-Densitometri
adalah : etanol 70% sebagai pelarut, etanol
: amonia (19:1) sebagai eluen, Lempeng
KLT silika gel F254 sebagai fase diam dan

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (4), Oktober, 2014

menggunakan
panjang
gelombang
maksimum 549 nm. Metode KLTDensitometri ini mempunyai koefisien
korelasi = 0,998929, RSD-nya = 0,897%,
kepekaan sesuai batas deteksi = 6,008327
ppm dan batas kuantitasi = 18,02498 ppm,
5 recovery = (99,771,24) %. Analisis
kualitatif dan kuantitatif dilakukan pada 9
terasi dimana 8 diantaranya mengandung
rhodamin B dengan kadar antara 0,012%
sampai dengan 0,050% (b/b).
Perlu
dilakukan
optimasi
lagi
menggunakan lebih banyak kensentrasi
dan sampel pasaran.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam
penelitian ini.

Daftar Pustaka

[1]

[2]

[3]

[4]

[5]

[6]

Anonim.
1995.
Farmakope
Indonesia Edisi IV. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Anonim .2000a. The United State
Pharmacopeia Book 1. USA:
United States Pharmacopeial
Convention. Inc.
Anonim .2000b. The United State
Pharmacopeia Book 2. USA:
United States Pharmacopeial
Convention. Inc.
Astawan,
M.
2002.
Terasi
Pembangkit Cita Rasa Tinggi
Protein.
http://www.cybermed.cbn.net.id/dti
l.asp?_katego_ri=health&newno=
1352.[1 Oktober 2014]
Badan POM. 2006. Bahan
Berbahaya Yang Dilarang Untuk
Pangan. [on line]. www.pom.go.id
[1 oktober 2014]
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
2006.
Keamanan
pangan.
[on
line].
http://

Narindra, et al., Analisis Kuantitatif Rhodamin B Pada Terasi..

[6]

[7]

[8]

[9]

[10]

[11]

[12]

[13]

[14]

www.depkes.go.id/index.php?opti
on=news&task=viewarticle&sid=1
359&ltemid=2[1 oktober 2014]
Hamilton, R dan Hamilton, S.
1987.
Thin
Layer
Chromatography. London : John
Wiley & Sons
Harmita,
2004.
Petunjuk
pelaksanaan validasi metode dan
cara perhitungannya. Majalah ilmu
kefarmasian. Vol 1, no.3, 117-135.
Desember
2004.
Jakarta
:
universitas
indonesia
press.
http://jurnal.farmasi.ui.ac.id/pdf/20
04/v01n03/harmita 010301. pdf [1
oktober 2014]
Holme, D. dan Hazel, P. 1993.
Analitical Biochemistry 2nd edition.
New York : Longman Scientific
and Technical.
Ifansyah,
Yuwono,
Isnaneni,
Mulja, dan Indrayanto. 1990.
Metode analisis KLT-Densitometri.
Surabaya
:
Unit
Layanan
Konsultasi,
Pengujian
dan
Kerjasama Penelitian fakultas
farmasi Universita Airlangga
Indrayanto, G dan Yuwono, M.
2003. Validation of TLC Analysis.
Surabaya: Universitas Airlangga
Indrayanto, A., Indrayanto, G.,
dan Muhammad, M. 2003.
Validation Methodof Analysis col
03. Software from General Public
Licenses. Faculty of Pharmacy.
Surabaya:Airlangga University
Mulya, M dan Suharman. 1995.
Analysis Instrumental. Surabaya :
Airlangga University Press
Sherma, Joseph dan Fried,
Bernand.1994. Handbook Of Thin
Layer
Chromatography
Third
Edition.
Lafayette
College,
Easton, Pennsylvania. USA
Satiadarma, Mulja, Tjahyono, dan
Kartasasmita.
2004.
Asas

e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. (4), Oktober, 2014

[15]

[16]

[17]

[18]

Pengembangan
Prosedur
Analisis. Edisi Pertama. Surabaya
: airlangga university
Stahl, E. 1985. Analisis Obat
Secara
Kromatografi
Dan
Mikroskopi. Bandung : penerbit
ITB
Suryadi, H., kurniadi, M., dan
Yohanes,
A.2005.
Analisis
Kuantitatif
Aflatoksin
Dalam
Bumbu Pecel Secara KLTDensitometri.
Departemen
Farmasi
FMIPA,
universitas
indonesia. Kampus UI. Depok.
http://www.ns.ui.ac.id/
semonar2005/ Data/ SPF-03.pdf
[1 oktober 2014]
Touchstone, J.C. dan Dobbins,
M.F.1983. Practice On Thin Layer
Chromatography. 2nd Ed., John
Willey and Sons
Universitas
Jember.
2006.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
Jember
:Badan
Penerbit
Universitas Jember