Anda di halaman 1dari 3

I.

Tindakan neuroproteksi
Tindakan neuroproteksi pada stroke antara lain:
1. Hiperventilasi terkendali pada kondisi-kondisi tertentu (Kelas V, Tingkat
Evidensi E).
2. Mencegah dan mengatasi hiperglikemia dengan pemberian insulin
3. Mencegah dan menurunkan peninggian tekanan intrakranial
4. Meninggikan kepala-leher-bahu 20-30 derajat
5. Menurunkan aktivitas metabolisme otak dengan carat
Mencegah dan mengatasi kejang.
Mengatasi hipertermia dengan pemberian antipiretik
Mengatasi agitasi.
Memberikan analgetika bila diperlukan.
Hipotermia ringan (Kelas IV, Tingkat Evidensi E)

1. Citicholin
Mekanisme kerja dan farmakologik:
Pada level neuronal:
Mekanisme kerja utama citikoline adalah meningkatkan pembentukan
choline dan meng hambat pengrusakan phosphatydilcholine
(menghambat phospholipase).
Pada
metabolisme
neuron
meningkatkan ambilan glukosa,
menurunkan pembentukan
asam
laktat,
mempercepat
pembentukan
asetilkolin
dan
menghambat radikalisasi asam lemak dalam keadaan iskemia.
Meningkatkan biosintesa dan mencegah hidrolisis kardiolipin
Memelihara asam arachidonat terikat pada fosfatidilkolin
Merangsang pembentukan glutation merupakan antioksidan endogen
otak terhadap
radikal bebas hidrogen peroksida dan lipid peroksida.
Mengurangi peroksidasi lipid
Mengembalikan aktivitas Na'I K* ATP ase

Pada level vaskular.


o Meningkatkan aliran darah otak.
o Meningkatkan konsumsi 02
o Menurunkan resistensi vaskuler.

Farmakokinetik:

Absorbsi oral hampir 100%, diserap dalam cytidine dan choline


Bioavailabilitas oral clan i.v. sama.
Brain up take 30 menit .
T-max 6 jam.
Hasil akhir metabolism citicdine adaiah glutation
phosphatidylchdine.

dan

Indikasi:
1

Strok iskemik dalam < 24 jam pertama dari onset


Strok hemoragik intraserebral.

Kontra indikasi:

Penderita yang hipersensitifitas terhadap citicholine.

Peringatan dan perhatian:

Dalam keadaan akut dan gawat, citicoline harus diberikan bersamasama dengan obat-obat yang dapat menurunkan tekanan intrakranial
atau obat hemostatik, suhu badan dijaga agar tetap rendah.
Pada strok hemoragik intraserebral jangan mem berikan citicholine
dosis lebih dari 500 mg sekaligus, jadi harus dosis kecil 100 mg - 200
mg, 2-3 kali sehari.
Pemberian secara intravena harus perlahan- lahan.

Efek samping:

o Reaksi hipersensitif : ruam kulit.


o Insomnia, sakit kepala, pusing, kejang, mual, anoreksia, nilai fungsi
hati abnormal pada peme riksaan laboratorium, diplopia, perubahan
tekanan darah sementara dan malaise.

Dosis dan cara pemakaian:

Bisa diberikan dalam 24 jam sejak awal stroke.


Untuk strok iskemik : 250 - 1000 mg/hari, i.v. terbagi dalam 2 - 3 kali/hari
selama 2 - 14 hari,
Untuk stroke hemoragik : 150-200 mg/hari, i.v, terbagi dalam 2-3 kali/hari
selama 2 - 14 hari

Bukti Klinis:

Citicoline nampaknya memperbaiki outcome fungsional dan


mengurangi defisit
neurologis dengan dosis optimal 500 mg/hari yang diberikan dalam
24 jam setelah
onset.
Citicoline 500 mg peroral selama 6 minggu pada pasien strok iskemik
akut 24 jam dari
onset tidak efektif memperbaiki outcome pasien, tetapi pada analisis
post hoc
mengindikasikan bahwa citicoline bermanfaat pada subgroup pasien
strok iskemik akut
yang diteliti (Kelas l, Tingkat Evidensi A)

2. Piracetam
Mekanisme kerja:
Pada level neuronal :
o
o
o

Berkaitan dengan kepala polar phospholipid


Memperbaiki fluiditas membran sel.
Memperbaiki neurotransmisi

membran

o Menstimulasi adenylate kinase yang mengkatalisa konversi ADP


menjadi ATP

Pada level vaskular :

o
Meningkatkan deformabilitas eritrosit , maka aliran darah otak
meningkat
o
Mengurangi hiperagregasi platelet
o
Memperbaiki mikrosirkulasi

Farmakokinetik:
Piracetam diabsorbsi sempurna setelah pemberian oral. Kosentrasi
puncak dalam plasma dicapai dalam
waktu 30-40 menit, dan
bioavailabilitas oral 100%. Waktu paruh eliminasi 5-6 jam namun dapat
mening kat pada usia lanjut terutama pada mereka dengan berbagai
penyakit. Piracetam diekskresi melalui urine secara utuh lebih dari 98 %

Indikasi:

Strok iskemik akut dalam 7 jam pertama dari onset stroke.

Kontra indikasi :

o Hipersensitivitas terhadap piracetam


o Penderita dengan gangguan fungsi ginjal yang berat (creatinine
clearance < 20 ml/menit)
o Perlu perhatian khusus pada pasien dengan stroke hemoragik dan
gangguan irnmunitas.

Efek samping:

Gelisah, irritabilitas, insomnia, ansietas, tremor, dan agitasi.

Dosis dan cara pemberian :

Pemberian pertama 12 gram perinfus habis dalam 20 menit, dilanjutkan


dengan 3 gram bolus intravena per 6 jam atau 12 gram/24 jam dengan
drip kontinyu sampai dengan hari ke 4. Hari ke 5 sampai dengan akhir
minggu ke 4 diberikan 4,8 gram 3 kali per hari per oral. Minggu ke 5 - 12
diberikan 2,4 gram 2 kali sehari peroral.

Bukti Klinis.

o Tidak ada perbedaan outcome fungsional antara kelompok piracetam


dibandingkan kontrol piracetam dosis 12 g/ hari boluls iv selama 4
minggu, dilanjutkan 4,8 g/hari selama 12 minggu tidak
mempengaruhi outcome jika diberikan dari 12 jam onset strok
iskemik akut (Kelas l, Tingkat Evidensi B)
o Piracetam munqkin bermanfaat jika diberikan dalam kurang 7 jam
onset strok iskemik akut derajat sedang dan berat (Kelas 1, Tingkat
Evidensi B)
o Pirasetam mungkin masih efektif untuk pengobatan afasia pasca
stroke (Kelas / Tingkat Evidensi B).

Sumber

: Rang, H. P., & Dale, M. M. (2012). Rang & Dales Pharmacology (7th ed.).
London: Churchill Livingstone.
3