Anda di halaman 1dari 33

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN SEREALIA

Disusun oleh
Kelas

:O

Kelompok

: 1 (satu)

Agus Riyani

(135040200111002)

Tri Wulansari

(135040200111003)

Binti Miftakhun N.

(135040200111026)

Jamilatuz Zahro

(135040200111027)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Serealia merupakan kelompok tanaman yang ditanam untuk dipanen biji/ bulirnya
sebagai sumber karbohidrat/ pati. Serealia adalah biji-bijian yang berasal dari family
Graminae yang kaya akan karbohidrat. Sehingga, bisa dikatakan bahwa serealia merupakan
bahan pokok manusia, ternak dan industri yang menggunakan karbohidrat sebagai bahan
baku. Bahan makanan yang termasuk serealia adalah padi, jagung, dan gandum.
Bahan pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi suatu bangsa. Banyak kasus di
beberapa Negara dengan sumber ekonomi cukup memadai tetapi mengalami kehancuran
karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan pendudukknya.
Saat ini, jumlah penduduk Indonsia lebih dari 200 juta dengan angka pertumbuhan
1,7 % per tahun. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kebutuhan bahan pangan sangat
besar. Akan tetapi, kebutuhan bahan pangan yang besar tidak diimbangi dengan
peningkatan produksi pangan justru akan menghadapi masalah yaitu penurunan laju
peningkatan produksi dalam negeri.
Rendahnya laju peningkatan produksi pangan antara lain disebabkan oleh,
produktivitas tanaman pangan yang masih rendah, dan penurunan luas area penanaman di
lahan pertanian produktif. Rendahnya penerapan teknologi produksi tanaman terlihat dari
besarnya kesenjangan potensi produksi dari hasil pertanian dengan hasil di lapangan yang
diperoleh petani. Selain itu, dapat juga dikarenakan cara budidaya petani yang masih
menerapkan budidaya konvensional dan kurang inovatif.
Untuk itulah, perlu dilakukan upaya dalam pembangunan pertanian pangan khususnya
serealia untuk menjaga ketahanan pangan dan peningkatan produksi pangan.

1.2 Tujuan
1.2.1

Mengetahui potensi dan permasalahan tanaman serealia.

1.2.2

Mengatahui teknologi dan strategi dalam pengembangan dan peningkatan


produksi tanaman serealia.

BAB II
PENDAHULUAN

2.1 Padi
2.1.1 Potensi dan Permasalahan Produksi Tanaman Padi
Padi merupakan salah satu produksi unggulan dari produksi pertanian
Indonesia, hal ini dikarenakan padi merupakan salah satu bahan pangan pokok bagi
rakyat Indonesia. Beras sebagai pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia
dituntut tersedia dalam jumlah yang cukup, berkualitas, serta terjangkau. Kebutuhan
beras nasional meningkat setiap tahunnya seiring dengan peningkatan jumlah
penduduk sedangkan lahan yang tersedia semakin berkurang akibat alih fungsi
lahan subur untuk kepentingan industri, perumahan dan penggunaan lahan non
pertanian lainnya.
Peningkatan impor beras yang pesat terjadi pada tahun 1996 dan puncaknya
pada tahun 1998 yang mencapai 5,8 juta ton. Kondisi ini mewarnai krisis ekonomi
yang terjadi pada tahun 1997 dimana produksi beras nasional turun antara lain
karena kekeringan panjang (Nursinah dan Taryadi, 2009).
Badan Ketahanan Pangan Nasional menyatakan konversi lahan pertanian di
lndonesia pada 2009 luasnya mencapai 110 ribu hektar per tahun yang digunakan
untuk kegiatan lain. Tekanan alih fungsi lahan sawah beririgasi semakin meningkat
dari tahun ke tahun, dimana tekanan tersebut dipicu adanya kebutuhan lain yang
lebih bernilai ekonomis. (Edward, 2012).
Menurut Suswono, dalam acara Gerakan Diversifikasi Pangan di Surakarta
(04/10/13), konsumsi beras di Indonesia terlalu tinggi. Tahun 2013, rata-rata
konsumsi beras di Indonesia mencapai130 kg/kapita per tahun atau dua kali lipat
konsumsi rata-rata beras dunia yang hanya 60 kg/kapita pertahun. Selain itu, luas
lahan panen padi di Indonesia hanya 13,5 juta hektar dengan produktivitas 6 ton per
hektar tidak sebanding dengan tingkat konsumsi. Sehingga salah satu upaya
pemerintah adalah dengan banyak membuka lahan pertanian baru. Seperti,
kerjasama dengan perhutani yang menguasai 2 juta hektar lahan di jawa. (Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014).
3

Rata-rata produktivitas padi di Indonesia adalah 4,4 ton/ha. Jika


dibandingkan dengan Negara produsen pangan lain di dunia khususnya beras,
Indonesia ada pada peringkat ke- 29. Australia memiliki produktivitas rata-rata 9,5
tn/ha, Jepang 6,6 ton/ha dan China 6,35 ton/ha (FAO, 1993).
Dapat dirumuskan bahwa rendahnya laju peningkatan produksi pangan dan
terus menurunnya produksi di Indonesia antara lain disebabkan oleh:
-

Penerapan teknologi budidaya di lapangan yang masih rendah;

Tingkat kesuburan lahan yang terus menurun;

Eksplorasi potensi genetik tanaman yang masih belum optimal, dan;

Peningkatan luas area penanaman-panen yang stagnan bahkan terus


mnurun khususnya di lahan pertanian pangan produktif di pulau Jawa.

2.1.2

Teknologi dan Strategi Peningkatan Produksi

A. Ekstensifikasi
Ekstensifikasi merupakan upaya pengadaan sumber pertumbuhan baru
berupa perluasan/penambahan areal panen, baik di jawa maupun di luar jawa
dengan memperhatikan kondisi lahan dengan jenis padi yang ditanam.
Seperti pencetakan lahan sawah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,
Halmahera dan rice estate di Merauke, Papua, perluasan lahan rawa pasang
surut di Kalimantan dan perluasan area padi lahan kering (padi gogo) di lahan
kering di Jawa maupun luar Jawa.

B. Intensifikasi
Teknologi Peningkatan Produksi Pertanian intensifikasi meliputi:
a. Varietas Unggul Baru
Dasar pemilihan varietas unggul baru
-

Memiliki potensi hasil tinggi.

Memiliki ketahanan terhadap hama atau penyakit tertentu.

Memiliki Ketahanan Terhadap cekaman lingkungan tertentu.

Memiliki sifat khas tertentu.

b. Benih Bermutu dan Berlabel


Kriteria pemilihan benih bermutu adalah benih harus berlabel, memiliki
daya tumbuh baik (>95%) dan bernas.
Prinsip persemaian untuk menghasilkan bibit yang baik:
-

Gunakan pupuk 2 kg/m untuk pesemaian.

Buat pesemaian berukuran 1/25 dari luas areal tanam dengan penyebaran
benih diperjaran.

c. Pengolahan Tanah
Beberapa prinsip dasar pentingnya dilakukan pengolahan tanah
sempurna adalah :
-

Bertujuan untuk membenamkan dan melapukan Jerami, gulma dan bahan


lain.

Meratakan tanah agar selalu tergenang air sehingga dapat mempercepat


proses pelapukan.

d. Tanam
i) Penanaman Menggunakan Bibit
a) Penggunaan Bibit Muda (< 21 hari)
Untuk mendapatkan bibit yang baik diusahakan bibit berasal dari
benih bermutu dan sebelum disemai direndam terlebih dahulu selama 24
jam lalu ditiriskan selama 48 jam. Kemudian ditambahkan bahan seperti
kompos, pupuk kandang, dan abu pada persemaian untuk memudahkan
pencabutan bibit. Selama persemaian, bibit padi harus terlindungi dari
serangan hama. Bila perlu, dilakukan pemasangan pagar pelastik dan bubu
perangkap untuk mengendalikan tikus.

b) Pengaturan Populasi Tanaman


Pengaturan populasi tanaman antara lain melalui pengaturan Jarak
Tanam dan Jajar Legowo.

Tanam jajar legowo merupakan salah satu cara untuk meningkatkan


populasi tanaman dan cukup efektif mengurangi serangan hama tikus, keong
mas, dan keracunan besi. Jajar legowo adalah pengosongan satu baris
tanaman setiap dua atau lebih baris dan merapatkan dalam barisan tanaman.
Apabila satu baris kosong diselingi oleh dua baris tanaman padi dikenal
legowo 2:1, sedangkan baris kosong diselingi oleh empat baris tanaman padi
dikenal legowo 4:1.

ii)

Penanaman menggunakan Benih


Penanaman benih padi secara langsung lebih dikenal dengan istilah
tabela. Alat yang digunakan untuk menanam benih padi secara langsung
ini adalah Baytani (bayer Harmani) dengan bahan yang sederhana dari
kayu dan paralon.
Keuntungan dari tabela ini adalah hemat benih, tidak memerlukan
persemaian, tanaman tidak mengalami stagnasi pertumbuhan, anakan
produktif lebih banyak dan panen lebih cepat. Akan tetapi, kendalanya
adalah lahan tergenang, populasi burung tinggi dan investasi gulma
tinggi.
Kondisi tanah saat tanama adalah brlumpur/tidak keras, kondisi air
macak-macak sehingga benih terendam/masuk dalam lumpur untuk
menghindari gangguan burung dan tikus (Departemen Pertanian, 2014).

e. Pemupukan Berimbang Antara Anorganik dan Organik


Teknologi di bidang pemupukan merupakan salah satu faktor penentu
didalam

upaya

meningkatkan

produksi

pangan.

Sejalan

dengan

perkembangan dan kemajuan teknologi di bidang pemupukan serta


terjadinya perubahan status hara didalam tanah maka rekomendasi
pemupukan yang telah ada perlu dikaji lagi dan disempurnakan. Pupuk
alternatif itu selain dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi
juga diharapkan dapat memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah serta tidak
mencemari lingkungan. Pupuk alternatif dimaksud antara lain Floran,
6

Greener dan Dekorgan, berupa pupuk organik cair yang mengandung hara
makro dan mikro lengkap dan berimbang serta mengandung asam amino,
protein, hormon/enzim. Penyertaan pupuk organik cair ini diharapkan dapat
meningkatkan mutu dan hasil padi. Terpilihnya Kecamatan Selemadeg
dalam penelitian ini karena daerah ini merupakan sentra produksi padi yang
paling luas di Kabupaten Tabanan dengan menerapkan sistem pertanian
yang cukup intensif (Kasniari, 2007).

f. Pengendalian Hama Penyakit Secara Terpadu


Prinsip dasar pengendalian hama penyakit secara terpadu adalah dengan
melaksanakan:
-

Identifikasi secara pasti jenis dan populasi hama penyakit.

Identifikasi Pranata mangsa untuk ketepatan penyebaran benih.

Menguasai teknik teknik pengendaliannya.


Beberapa teknik dan tahapan pengendalian hama penyakit secara terpadu,

yaitu :
-

Mengenali varietas yang tahan terhadap penyakit tertentu.

Mengupayakan tanaman sehat sejak dari bibit.

Melakukan pengamatan secara acak pada rumpun padi dengan alat


perangkap serangga( Ligh Trap).

Mengendalikan secara bertahap

meliputi pengendalian fisik, mekanis,

Hayati(Parasit dan Predator; Perangkap feromon, Pestisida Organik, dan


Pestisida kimia.

g. Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan
menggunakan Landak/Gasrok. Manfaat penyiangan dengan menggunakan
landak/gasrok, antara lain:
-

Mematikan gulma sampai ke perakaran.

Memperbaiki kondisi udara di daerah perakaran.

Merangsang pertumbuhan akar-akar muda hingga memperbaiki penyerapan


hara tanah.

h. Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok.


Tanaman dipanen jika sebagian besar gabah (90-95%) telah bernas dan
berwarna kuning. Apabila panen dilakukan terlalu awal, maka akan banyak
gabah hampa, gabah hijau, dan butir kapur. Sedangkan jika terlambat panen,
maka akan terjadi kehilangan hasil karena gabah rontok dilapang dan jumlah
gabah patah pada proses penggilingan meningkat. Perontokan gabah
dilakukan satu sampai dua hari setelah panen dengan menggunakan alat
perontok. Setelah itu, gabah segera dijemur untuk mendapatkan beras
dengan mutu yang lebih baik dan harga yang tinggi. (Hodijah, 2010)

2.1.3 SRI (System of Rice Intensification)


SRI, kependekan dari System of Rice Intensification adalah salah satu
inovasi metode budidaya padi yang dikembangkan sejak 1980-an oleh pastor
sekaligus agrikulturis Perancis, Fr. Henri de Laulanie, yang ditugaskan di
Madagaskar sejak 1961. Awalnya SRI adalah singkatan dari systeme de riziculture
intensive dan pertama kali muncul di jurnal Tropicultura tahun 1993. Saat itu, SRI
hanya dikenal setempat dan penyebarannya terbatas. Sejak akhir 1990-an, SRI
mulai mendunia sebagai hasil usaha tidak pantang menyerah Prof. Norman Uphoff,
mantan direktur Cornell International Institute for Food, Agriculture and
Development (CIIFAD). Tahun 1999, untuk pertama kalinya SRI diuji di luar
Madagaskar yaitu di China dan Indonesia. Sejak itu, SRI diuji coba di lebih dari 25
negara dengan hasil panen berkisar 7-10 t/ha (Karwan, 2008).
SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas
padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara,
terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50% , bahkan di
beberapa tempat mencapai lebih dari 100%. Metode SRI minimal menghasilkan
panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Hanya saja
diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk
8

bereksperimen. Dalam SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup


sebagaimana mestinya, bukan diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi.
Semua unsur potensi dalam tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan
kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya (Jenal, 2010).
Hal mendasar yang membedakan system beani menggunakan sistem SRI
dan bertani dengan cara biasa terletak pada pengolahan tanah, pembenihan,
penyemaian, penanaman, dan pengairan.

a. Pengolahan tanah
Untuk mendapatkan media tumbuh metode tanam padi SRI yang baik, maka
lahan diolah seperti menanam padi metode biasa yaitu tanah dibajak sedalam 25
sampai 30 cm sambil membenamkan sisa-sisa tanaman dan rumput-rumputan,
kemudian digemburkan dengan garu, lalu diratakan. Yang membedakan adalah
pada sistem tanam padi SRI kondisi tanah dalam keadaan basah dan tidak perlu
digenangi air.
Hal tersebut dikarenakan tanaman padi sawah bukan tanaman air, tetapi
dalam pertumbuhannya membutuhkan air. Tujuan dari tanah yang tidak digenangi
air adalah untuk menyediakan kadar oksigen lebih banyak di dalam tanah karena
genangan air membuat tanah mengalami oksidasi yang bisa menimbulkan zat
berbahaya.

b. Pembenihan
Dalam pembenihan hal yang pertama dilakukan adalah perendaman benih
pada air garam dapur yang sudah tercampur. Benih-benih yang mengambang di
permukaan air adalah benih yang tidak baik untuk di tanam. Benih-benih yang
terendam (di dasar permukaan) adalah benih yang siap untuk ditanam. Sebelum
disemaikan, benih-benih tersebut dibilas terlebih dahulu dengan air bersih
kemudian diperam direndam selama satu hari satu malam agar bnih tumbuh rata
dan seragam.

Benih yang digunakan sebaiknya benih varietas local yang kuat dan
memiliki daya tumbuh minimal 90%. Benih yang baik umumnya belum memiliki
akar, tetapi hanya timbul bintik hitam pada embrio atau lembaganya.

c. Penyemaian
Pembedaan paling terlihat dari system bertanam padi SRI dengan cara biasa
adalah pada proses penyemaian.
Pada sistem tanam padi yang biasa, penyemaian dilakukan dengan membuat
petakan khusus di lahan/sawah. Kemudian petani menebar benih dipetakan. Setelah
benih tumbuh skitar umur 3-4 minggu, bibit tersebut dicabut, dirontokkan tanahnya,
dan umumnya tidak langsung ditanam melainkan diikat terlebih dahulu mnjadi
ikatan-ikatan sedang, dan dipotong ujung dari bibit padi tersebut dengan alasan agar
benih tumbuh tegak dan merata. Selain itu, ada juga yang dalam pendistribusiannya
dengan cara dilemparkan ke titik-titik tertentu di lahan yang mejadi media
tanamnya. Perlakuan tanaman padi yang seperti itu tidak dianjurkan dikarenakan
lama kelamaan benih akan mengalami penurunan kualitas.
Sedangkan untuk penyemaian dengan sistem SRI adalah dengan membuat
wadah dengan alas daun pisang agar tanah tidak terlalu porous. Kemudian, wadah
tersebut diisi tanah yang sudah dicampur pupuk dengan perbandingan 1:1.
Selanjutnya, benih yang sudah diseleksi dan direndam disemaikan dalam wadah
tersebut. Untuk setiap wadah diupayakan jangan terlalu banyak, kurang lebih berisi
200-300 benih. Setelah itu, benih yang ditanam dilapisi tipis dengan tanah yang
sudah dicampur pupuk. Tempat penyemaian sebaiknya ditempatkan di tempat yang
terlindung dari panas dan rutin disiram.

d. Penanaman
Untuk penanaman sistem SRI, tanaman padi yang digunakan adalah bibit
muda berumur 7 10 hari agar bibit mampu beranak maksimal sesuai potensi dan
bibit tidak mudah rusak/mati waktu dipindahkan ke lahan. Pada umur bibit yang
lebih tua menyebabkan tanaman kurang mampu membentuk anakan disebabkan

10

oleh kondisi perakaran di persemaian yang semakin dalam dan kuat sehingga waktu
pemindahan mengalami kerusakan yang cukup berat.
Yang membedakan dengan cara biasa yaitu, apabila cara biasa untuk satu
lubang tanam diletakkan 3-5 bibit, maka pada 11ystem SRI hanya menggunakan
satu bibit per tanam dengan jarak lubang mencapai 30x30 cm. jarak yang cukup
lebar membuat persediaan oksigen lebih banyak.

e. Pengairan
Pengairan sistem SRI adalah dengan pemberian air irigasi terputus-putus tanpa
penggenangan di petak sawah. (pengairan berselang).
Manfaat pengairan berselang yaitu:
-

Memperbaiki kondisi udara di daerah perakaran.

Mengeluarkan gas-gas beracun.

Meningkatkan efisiensi pemanfaatan air (menghemat pemakaian air hingga


30%) (Nursinah dan Taryadi, 2009).

2.1.4 Budidaya Varietas Unggul dan Padi Hibrida


Varietas unggul padi sawah merupakan kunci keberhasilan
peningkatan Produksi di Indonesia. Beberapa tipe varietas padi yang telah
berkembang di Indonesia adalah tipe Bengawan, PB5, IRxx, IR64, padi
hibrida dan padi tipe baru.
Tipe-tipe ini muncul sesuai dengan kebutuhan. Seperti tipe
Bengawan untuk perbaikan varietas local, PB5 untuk membuat padi yang
genjah dan hasil tinggi karena responsif terhadap pemupukan, IRxx untuk
peningkatan ketahanan terhadap hama dan penyakit, dan IR64 dengan
penambahan sifat unggul pada rasa nasi yang enak.
Padi hibrida merupakan salah satu terobosan untuk mengatasi
stagnasi peningkatan potensi hasil varietas-varietas tipe sebelumnya.
Pengembangan padi hibrida diawali dengan penemuan cytoplasmic male
sterile (CMS) dan paket teknologi produksi benih padi hibrida. Dalam hal

11

ini memerlukan pemanfaatan tiga galur yaitu CMS, galur pemulihan


kesuburan (restorer), dan galur pelestari (Maintainer).
Menurut Virmani et.al (1997), tiga galur memerlukan dukungan
komponen-komponen sebagai berikut:
-

Galur mandul jantan (CMS= galur A) yang 100% mandul dann stabil
kemandulannya.

Galur pemulih kesuburan (restorer= galur R), dengan daya pemulihan


kesuburan yang tinggi serta daya gabung khususnya, sehingga nilai
heterosisnya tinggi.

Galur pelestari kemandulan tepung sari (galur B) yang murni.


Pada tahun 2002, dua varietas padi hibrida telah dilepas yaitu Maro dan
Rokan (Susanto, dkk. 2003)

2.2 Jagung
2.2.1 Potensi dan Permasalahan Produksi Tanaman Jagung
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu serealia yang strategis dan bernilai
ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya
sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras. Hampir seluruh bagian
tanaman jagung dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Batang dan
daun tanaman yang masih muda dapat digunakan untuk pakan ternak, yang tua
(setelah dipanen) dapat digunakan untuk pupuk hijau atau kompos.
Saat ini cukup banyak yang memanfaatkan batang jagung untuk kertas.
Harganya cukup menarik seiring dengan kenaikan harga bahan baku kertas berupa
pulp. Buah jagung yang masih muda banyak digunakan sebagai sayuran, perkedel,
bakwan, dan sebagainya. Kegunaan lain dari jagung adalah sebagai pakan ternak,
bahan baku farmasi, dextrin, perekat, tekstil, minyak goreng, dan etanol.
Permintaan jagung meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan
meningkatnya jumlah penduduk dan industri. Di samping itu, kelangkaan bahan
bakar minyak dari fosil mendorong berbagai negara mencari energi alternatif dari
bahan bakar nabati (biofuel), di antaranya jagung untuk dijadikan bioetanol sebagai
substitusi premium. Hal ini mengakibatkan permintaan akan jagung semakin
12

meningkat, sulit didapat dan mahal harganya, karena pengekspor jagung terbesar di
dunia seperti Amerika Serikat telah mengurangi ekspornya karena kebutuhan dalam
negerinya semakin meningkat, di antaranya untuk industri bioetanol. Cina juga
telah mengurangi ekspornya guna memenuhi kebutuhan bahan baku industry dalam
negerinya.
Beberapa permasalahan yang dijumpai dalam pengembangan jagung di
antaranya adalah fluktuasi produksi dan harga, penanganan pascapanen pada saat
panen raya dan alat mesin produksi dan pengolahannya.
Di Indonesia, produksi jagung berdasarkan data BPS (2013) menunjukkan
bahwa produktivitas jagung tahun 2010 sebesar 44,36 Ku/Ha dengan produksi
18.327.636 ton. Pada tahun 2011, produktivitas jagung mengalami peningkatan
menjadi 45,65 Ku/Ha. Tetapi, produksi jagung menurun menjadi 17.643.250 ton.
Tahun 2012 produktivitas jagung meningkat menjadi 48,93 Ku/Ha dengan produksi
19.377.030 ton. Pada tahun 2013, produksi jagung nasional diproyeksikan menjadi
26 juta ton pipilan kering (PK).
Adapun permasalahan yang dijumpai dalam pengembangan jagung antara
lain:
a. Produksi tidak merata setiap bulannya, sehingga pada waktu tertentu
pabrik pakan kekurangan bahan baku jagung.
b. Lemahnya permodalan petani, terutama untuk penyediaan sarana
produksi pertanian dan pada waktu tertentu beberapa sarana itu sulit
diperoleh.
c. Produksi jagung sebagian besar dihasilkan pada musim hujan, sedangkan
alat pengering dan gudang sangat terbatas, menyebabkan banyak
produksi jagung yang mengalami kerusakan.
d. Belum adanya jaminan harga pada saat panen raya.
e. Lemahnya kelembagaan petani jagung, sehingga harga ditentukan oleh
konsumen, tengkulak, dan pengumpul.
f. Masih terbatasnya benih hibrida di tingkat petani merupakan salah satu
masalah dalam upaya percepatan peningkatan produksi (Purwanto,).

13

Menurut Tangendjaja et al., (2011) permasalahan yang sering dijumpai pada


jagung lokal adalah kadar air, mikotoksin, jagung pecah dan benda asing, serta
variasi kandungan gizi.
2.2.2 Budidaya Tanaman Jagung
Dalam usaha budidaya tanaman jagung, terdapat tahapan-tahapan usaha
budidaya, antaralain :
a. Pembibitan
Benih yang akan digunakan sebaiknya bermutu tinggi, baik mutu genetik,
fisik maupun fisiologinya. Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar,
tidak tercampur benih/varietas lain, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar
hama dan penyakit). Benih yang demikian dapat diperoleh bila menggunakan
benih bersertifikat.
Penggunaan benih jagung hibrida biasanya akan menghasilkan produksi
yang lebih tinggi. Tetapi harga benihnya yang lebih mahal dan hanya dapat
digunakan maksimal 2 kali turunan dan tersedia dalam jumlah terbatas.
Beberapa varietas unggul jagung untuk dipilih sebagai benih adalah: Hibrida C
1, Hibrida C 2, Hibrida Pioneer 1, Pioneer 2, IPB 4, CPI-1, Kaliangga, Wiyasa,
Arjuna, Baster kuning, Kania Putih, Metro, Harapan, Bima, Permadi, Bogor
Composite, Parikesit, Sadewa, Nakula. Selain itu, jenis-jenis unggul yang belum
lama dikembangkan adalah: CPI-2, BISI-1, BISI-2, P-3, P-4, P-5, C-3, Semar 1
dan Semar 2 (semuanya jenis Hibrida).
Benih dapat diperoleh dari penanaman sendiri yang dipilih dari beberapa
tanaman jagung yang sehat pertumbuhannya. Dari tanaman terpilih, diambil
yang tongkolnya besar, barisan biji lurus dan penuh tertutup rapat oleh klobot,
dan tidak terserang oleh hama penyakit. Tongkol dipetik pada saat lewat fase
matang fisiologi dengan ciri: biji sudah mengeras dan sebagian besar daun
menguning. Tongkol dikupas dan dikeringkan hingga kering betul. Apabila
benih akan disimpan dalam jangka lama, setelah dikeringkan tongkol dibungkus
dan disimpan dan disimpan di tempat kering. Dari tongkol yang sudah kering,
diambil biji bagian tengah sebagai benih. Biji yang terdapat di bagian ujung dan
pangkal tidak digunakan sebagai benih. Daya tumbuh benih harus lebih dari
14

90%, jika kurang dari itu sebaiknya benih diganti. Benih yang dibutuhkan
adalah sebanyak 20-30 kg/ha.
Sebelum benih ditanam, sebaiknya dicampur dulu dengan fungisida seperti
Benlate untuk menangkal serangan jamur. Sedangkan bila diduga akan ada
serangan lalat bibit dan ulat agrotis, sebaiknya benih dimasukkan ke dalam
lubang bersama-sama dengan insektisida butiran dan sistemik seperti Furadan 3
G.
b. Pengolahan Media Tanam
Pengolahan tanah bertujuan untuk: memperbaiki kondisi tanah, dan
memberikan kondisi menguntungkan bagi pertumbuhan akar. Melalui
pengolahan tanah, drainase dan aerasi yang kurang baik akan diperbaiki. Tanah
diolah pada kondisi lembab tetapi tidak terlalu basah. Tanah yang sudah gembur
hanya diolah secara umum.
Pengolahan lahan diawali dengan membersihkan lahan dari sisa sisa
tanaman sebelumnya. Bila perlu sisa tanaman yang cukup banyak dibakar,
abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dilanjutkan dengan
pencangkulan dan pengolahan tanah dengan bajak.
Setelah tanah diolah, setiap 3 meter dibuat saluran drainase sepanjang
barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm dengan kedalaman 20 cm. Saluran ini
dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.
Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah harus dikapur. Jumlah kapur yang
diberikan berkisar antara 1-3 ton yang diberikan tiap 2-3 tahun. Pemberian
dilakukan dengan cara menyebar kapur secara merata atau pada barisan
tanaman, sekitar 1 bulan sebelum tanam.
Apabila tanah yang akan ditanami tidak menjamin ketersediaan hara yang
cukup maka harus dilakukan pemupukan. Dosis pupuk yang dibutuhkan
tanaman sangat bergantung pada kesuburan tanah dan diberikan secara
bertahap. Anjuran dosis rata-rata adalah: Urea=200-300 kg/ha, TSP=75-100
kg/ha dan KCl=50-100 kg/ha.
c. Teknik Penanaman

15

Umumnya usaha budi daya jagung di lahan kering maksimum hanya


dilakukan dua kali penanaman. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan air pada
awal pertumbuhan tanaman. Waktu tanam yang umum dilakukan adalah awal
musim hujan (labuhan) antara September-November dan awal musim kemarau
(marengan) antara Februari-April.
Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1
tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang
sepenuhnya tergantung dari hujan. Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan
adalah sebagai berikut:

Tumpang sari (intercropping), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman


(umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung
dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi
gogo.

Tumpang gilir (Multiple Cropping), dilakukan secara beruntun sepanjang


tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat
keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kacang tanah, ubi
kayu.

Tanaman Bersisipan (Relay Cropping): pola tanam dengan cara


menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam
waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung
disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang
panjang.

Tanaman Campuran (Mixed Cropping): penanaman terdiri atas beberapa


tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua
tercampur jadi satu Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan
penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.
Penanaman jagung dilakukan dengan cara penugalan. Kedalaman lubang
tanam tergantung kelembapan tanah. Peningkatan produksi jagung dapat
dilakukan dengan cara pengaturan tingkat kerapatan tanaman. Kerapatan
tanaman akan mempengaruhi penampilan dan produksi tanaman terutama
dalam efisiensi penggunaan intensitas cahaya. Semakin rapat jarak tanam
16

maka semakin tinggi tanaman, karena

jumlah cahaya akan berkurang

mengenai tubuh tanaman dan pada akhirnya mempengaruhi luas daun dan
bobot kering tanaman.
Tanaman jagung tidak dapat tumbuh dengan baik pada saat air kurang
atau saat air berlebihan. Pada waktu musim penghujan atau waktu musim
hujan hampir berakhir, benih jagung ini dapat ditanam. Tetapi air hendaknya
cukup tersedia selama pertumbuhan tanaman jagung. Pada saat penanaman
sebaiknya tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah
kering, perlu diairi dahulu, kecuali bila diduga 1-2 hari lagi hujan akan
turun.

d. Pemeliharaan

Penjarangan dan Penyulaman


Dengan penjarangan maka dapat ditentukan jumlah tanaman per

lubang sesuai dengan yang dikehendaki. Pencabutan tanaman secara


langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain
yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih
yang tidak tumbuh/mati. Kegiatan ini dilakukan 7-10 hari sesudah tanam.
Penyulaman hendaknya menggunakan benih dari jenis yang sama. Waktu
penyulaman paling lambat dua minggu setelah tanam.

Penyiangan
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman

pengganggu (gulma). Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan


pada tanaman jagung yang masih muda biasanya dengan tangan atau
cangkul kecil, garpu dan sebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini
tidak mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih
belum cukup kuat mencengkeram tanah. Hal ini biasanya dilakukan setelah
tanaman berumur 15 hari.

Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan

bertujuan untuk memperkokoh posisi batang, sehingga tanaman tidak


17

mudah rebah. Selain itu juga untuk menutup akar yang bermunculan di atas
permukaan tanah karena adanya aerasi. Kegiatan ini dilakukan pada saat
tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan.

Pemupukan
Dosis pemupukan jagung untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea

sebanyak 200-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk
KCl sebanyak 50-100 kg. Pemupukan dapat dilakukan dalam tiga tahap.
Pada tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan dengan
waktu tanam. Pada tahap kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah
tanaman jagung berumur 3-4 minggu setelah tanam. Pada tahap ketiga
(pupuk susulan II), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 8
minggu atau setelah malai keluar.

Pengairan dan Penyiraman


Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali

bila tanah telah lembab. Pengairan berikutnya diberikan secukupnya dengan


tujuan menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman
berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada
parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

Penyemprotan Pestisida
Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya

hama yang dapat membahayakan proses produksi jagung. Pelaksanaan


penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh alami dan
tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih
efisien.
e. Panen
Hasil panen jagung tidak semua berupa jagung tua/matang fisiologis,
tergantung dari tujuan panen. Ciri jagung yang siap dipanen adalah:
1. Umur panen adalah 86-96 hari setelah tanam.
2. Jagung siap dipanen dengan tongkol atau kelobot mulai mengering yang
ditandai dengan adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga.
3. Biji kering, keras, dan mengkilat, apabila ditekan tidak membekas.
18

Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi
penuh. Saat itu diameter tongkol baru mencapai 1-2 cm. Jagung untuk direbus dan
dibakar, dipanen ketika matang susu. Tanda-tandanya kelobot masih berwarna
hijau, dan bila biji dipijit tidak terlalu keras serta akan mengeluarkan cairan putih.
Jagung untuk makanan pokok (beras jagung), pakan ternak, benih, tepung dan
berbagai keperluan lainnya dipanen jika sudah matang fisiologis. Tanda-tandanya:
sebagian besar daun dan kelobot telah menguning. Apabila bijinya dilepaskan akan
ada warna coklat kehitaman pada tangkainya (tempat menempelnya biji pada
tongkol). Bila biji dipijit dengan kuku, tidak meninggalkan bekas.
Pemetikan jagung pada waktu yang kurang tepat, kurang masak dapat
menyebabkan penurunan kualitas, butir jagung menjadi keriput bahkan setelah
pengeringan akan pecah, terutama bila dipipil dengan alat. Jagung untuk keperluan
sayur, dapat dipetik 15 sampai dengan 21 hari setelah tanaman berbunga.
Pemetikan jagung untuk dikonsumsi sebagai jagung rebus, tidak harus menunggu
sampai biji masak, tetapi dapat dilakukan 4 minggu setelah tanaman berbunga
atau dapat mengambil waktu panen antara umur panen jagung sayur dan umur
panen jagung masak mati. (Warismo, 2000).

2.2.3

Teknologi dan Strategi Peningkatan Produksi


Upaya peningkatan produksi dan produktivitas jagung dapat dilakukan
dengan teknologi. Menurut SEGNEG (2013), teknologi tersebut dalam
bentuk :
a. Fisik materi (bahan) seperti varietas unggul, pupuk (formulasi pupuk/
pupuk hayati), dan pestisida.
b. Rekomendasi

teknologi

diantaranya

pemupukan,

pengendalian

organisme pengganggu tanaman (hama), dan penggunaan air.


c. Teknologi proses yakni produksi benih, produksi pupuk hayati, dan
produksi pestisida hayati atau nabati.
d. Rancang bangun atau prototipe dan mesin pertanian.

19

Salah satu teknologi untuk meningkatkan produktivitas suatu


tanaman adalah menggunakan varietas unggul. Varietas unggul merupakan
salah satu teknologi inovatif untuk meningkatkan produktivitas tanaman
jagung, baik melalui peningkatan potensi daya hasil tanaman, maupun
melalui peningkatan toleransi dan ketahanannya terhadap berbagai cekaman
lingkungan biotik dan abiotik. Dengan adanya varietas unggul bukan hanya
berpengaruh pada tanaman jagung saja tetapi untuk meningkatkan
pendapatan petani. Pada dasarnya varietas jagung digolongkan kedalam dua
golongan varietas antara lain:

Varietas bersari bebas


Varietas bersari bebas adalah varietas yang benihnya dapat
dipakai terus-menerus dari setiap pertanaman. Benih yang digunakan
tentunya berasal dari tanaman atau tongkol yang mempunyai cirriciri dari varietas tersebut.

Varietas hibrida
Jagung varietas hibrida adalah keturunan pertama (F1) dari
persilangan antara: varietas x varietas, varietas x galur, atau galur x
galur (Oyewo,2008). Salah satu jenis jagung hibrida adalah varietas
jagung nasional (hibrida BISI-2) mempunyai keunggulan yaitu
potensi hasil tinggi, umur panen 103 hari, tahan terhadap penyakit
bulai dan busuk buah (Polnaya,2012).

Varietas unggul merupakan salah satu teknologi inovatif yang


handal untuk mening-katkan produktivitas tanaman jagung, baik melalui
peningkatan potensi daya hasil tana-man, maupun melalui peningkatan
toleransi dan ketahanannya terhadap berbagai ceka-man lingkungan biotik
dan abiotik. Selain itu, pembentukan varietas unggul juga bertujuan untuk
meningkatkan mutu dan nilai tambah produk dan upaya meningkatkan nilai
eko-nomi. Penerapan paket teknologi budidaya jagung mengutamakan
pemanfaatan sumber-daya lokal, penerapan teknologi budidaya berdasarkan karakteristik lahan, dan mempertim bangkan kearifan lokal petani
20

(Syafri, 2010). Jagung hasil rekayasa genetik banyak dikembangkan untuk


mendapatkan jagung yang berkualitas. Jagung jenis baru tersebut antara lain
jagung berkadar lisin tinggi (High Lysine Corn), jagung berkadar fitrat
rendah, jagung berkadar minyak tinggi, dan jagung Bacillus thuringiensis
(Bt) (Tangendjaja, 2011).
Beberapa upaya yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi
jagung diantara lain Perluasan areal panen merupakan satu faktor potensial
dalam mendukung peningkatan produksi jagung.
a. Ekstensifikasi
Dalam

pengertian

umum,

ekstensifikasi

merupakan

upaya

pengadaan sumber pertumbuhan baru berupa perluasan/penambahan areal


panen. Bila berhasil menambah areal baru ratusan ribu hektar per tahun
maka akan terjadi lonjakan produksi jagung secara nyata di tingkat nasional.
Perluasan penanaman jagung disarankan dilakukan di daerah bukaan
baru,antara lain hutan tanaman industri (HTI),daerah transmigrasi,lahan
pasang surut,lahan lebak,dan lahan marjinal lainnya (lahan tidur dan lahan
belum produktif lain).Lahan produktif di Indonesia masih sangat luas,tetapi
belum dikelola.Pada kondisi ini progran ekstensifikasi masih terbuka lebar
untuk dilaksanakan.
b. Diversifikasi
Dalam kaitannya dengan usaha penungkatan produksi,diversifikasi
diartikan sebagai kegiatan penganekaragaman komoditas pertanian yang
dibudidayakan.Pada program diversifikasi ini peningkatan produksi jagung
diupayakan dengan menjadikan jagung sebagai tanaman pokok dalam suatu
kegiatan pola tanam.Kegiatan tersbut dikenal dengan istilah diversifiksi
horizontal.Jenis diversifikasi lain adalah diversifikaso vertikal yang
merupakan

kegiatan

penganekaragaman

prodouk

industri

yang

menggunakan bahan baku jagung .Jelaslah bahwa diversifikasi komoditas


jagung dapat meningkatkan produksi melalui penggantian tanaman lain
,tumpang sari,sisipan, atau sebagai tanaman susulan.
c. Rehabilitasi
21

Salah satu kegiatan rehabilitasi pada pembudidayaan jagung adalah


perbaikan potensi varietas unggul dengan pemurnian banih atau penggantian
buah hibrida yang sudah berkali-kali ditanam. Selain perbaikan varietas,
program rehabilitasi ini pun menyangkut perbaikan segala aspek
penanaman, termasuk masalah lahan. Rehabilitasi lahan di antaranya ialah
perbaikan kesuburan lahan masam dengan pemberian kapur dan perbaikan
drainase di lahan pasang surut.
d. Peningkatan Intensitas Penanaman (IP)
Intensitas pertanaman (IP) diartikan sebagai banyaknya pertanaman
dalam satu tahun pola tanam disuatu daerah. Pola tanam padi-jagung-bera
berarti mempunyai IP 200. IP ini masih dapat ditingkatkan bila masa bera
ditanami. Upaya peningkatan intensitas pertanaman jagung ini ditujukan
untuk lahan yang masih mempunyai IP kurang dari 300 atau lahan yang
belum diusahakan (lahan tidur). Peningkatan IP jagug ini dapat dilakukan
dalam setahun, baik dengan pola tanam monokultur maupun tupang sari.
Cara ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi jagug.
e. Penambahan periode panen jagung
Pertumbuhan tanaman jagung, terutama awal fase pertumbuhan
sampai pengisian tongkol, sangat tergantung pada ketersediaan air. Untuk
dapat berproduksi tinggi, penanamannya biasanya hanya dilakukan pada
waktu tanam tertentu saja. Akibatnya, produksi jagung mengalami fluktuasi,
yaitu berlebihan pada musim panen dan kekurangan pada musim paceklik
sehingga kebituhannya harus dipenuhi dari impor. Salah satu upaya
mengurangi ketergantugan impor di musim paceklik adalah melakukan
penanaman off season (di luar musim tanam). Penamanam off season ini
dapat dilakukan pada bulan dan lahan penanaman tertentu.
Dalam budidaya tanaman jagung apabila dilakukan pada kondisi
lahan yang ekstrim dapat menurunkan hasil dari produksi jagung per satuan
luas. Namun hal ini sebenarnya tergantung dari jenis varietas yang
digunakan dalam budidaya tanaman jagung. Apabila menggunakan varietas
yang unggul, kondisi lahan yang ekstrim tidak akan berpengaruh terhadap
22

produksi dari tanaman jagung, dikarenakan jagung tersebut memiliki vigor


dan veabilitas yang baik. Vigor yang baik dapat membuat tanaman
berproduksi secara normal pada kondisi yang ekstrem dan menghasilkan
produksi diatas normal pada kondisi yang optimum. Dalam mengatasi
kondisi yang ekstrim selain menggunakan varietas yang unggul dapat juga
dengan memanipulasi lingkungan hidup dari tanaman jagung, memanipulasi
dalam hal ini adalah mengatur kerapatan atau populasi tanaman. tindakan
pengaturan kerapatan / populasi tidak lain adalah suatu usaha bagaimana
memanipulasi lingkungan tumbuh dari tanman yang dibudidayakan,
sehingga berguna secara efektif bagi pengusahaan tanaman. tingkat
kerapatan dan populasi tanaman beragam tergantung pada jenis tanaman dan
pada setiap keadaan lingkungan yang berbeda (Warismo, 2000).

2.3 Gandum
2.3.1 Potensi dan Permasalahan Produksi Tanaman Gandum
Gandum (Triticum aestivum L.) merupakan komoditi pangan yang penting
dan Triticum aestivum adalah spesies gandum yang paling banyak ditanam di dunia
dan digunakan sebagai bahan baku roti karena mempunyai kadar protein yang
tinggi. Gandum mempunyai ciri-ciri kulit luar bewarna coklat, bijinya keras dan
berdaya serap air tinggi. Setiap bulir terdiri dari dua sampai lima butir gabah.
Tanaman gandum berasal dari daerah mediterania yang beriklim kering.Berkat
usaha manusia di bidang pemuliaan dan budidaya tanaman, saat ini tanaman
gandum tumbuh dan berkembang di daerah subtropis dan tropis (Wityanara, 1988)
termasuk di Indonesia.
Negara produsen utama gandum adalah Amerika Serikat, Kanada, Australia,
Uni Eropa, dan India. Pada tahun 2000/2001, total gandum yang diekspor di
pasaran dunia mencapai 103,4 juta ton dan eksportir terbesar adalah Amerika
Serikat. Tanaman gandum jarang ditemukan di Indonesia karena kondisi
lingkungan fisik yang tidak cocok untuk tanaman gandum yang merupakan
tanaman subtropis.

23

Potensi pengembangan tanaman gandum pada masa-masa mendatang cukup


baik mengingat permintaan gandum yang terus meningkat seiring peranan gandum
sebagai bahan pangan. Gandum dapat menjadi makanan pokok yang dapat diolah
menjadi berbagai produk makanan seperti roti, kue kering, biscuit, krupuk, mie,
dan macaroni.

Hasil sampingannya yaitu gabah dan dedak digunakan sebagai

pakan ternak dan jerami gandum dapat dipakai sebagai bahan kerajinan tangan.Di
Indonesia gandum telah ditanam dibeberapa propinsi antara lain Sulawesi Selatan
(Malino), Jawa Timur (Tosari), Jawa Tengah (Salatiga) dan Sumatra Barat
(Sukarami).
Berdasarkan data asosiasi produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO),
konsumsi terigu Indonesia meningkat sangat signifikan dari 9,9 kg per kapita pada
2002, menjadi 17,11 kg per kapita pada tahun 2007 dan pada tahun 2009 mencapai
17,7 kg per kapita. Sehingga, impor gandum terus mengalami meningkatan. Di
tahun 2011, pningkatan impor gandum mencapai 5,4 juta ton dengan sumber
uatama Australia (3,7 ton), Canada (982.200 ton), dan Amerika Serikat (747.900
ton). Sedangkan impor tepung terigu tahun 2011 mencapai 680.100 ton dengan nilai
281,7 juta dolas AS (BPS, 2012).
Sebagai tanaman subtropis, pengembangan gandum di Indonesia yang
merupakan lingkungan tropis terkendala dengan masalah iklim, sehingga
pengembangannya masih di daerah dengan ketinggian > 1000 m dpl yang memiliki
iklim mirip dengan lingkungan subtropis, khususnya suhu yang rendah. (Rao, 2001)
2.3.2 Teknologi dan Produksi Gandum
A. Budidaya Gandum
a. Pemilihan Lokasi
Tanaman produksi benih harus memberikan hasil yang tinggi sehingga
kualitas benihnya prima. Tempat produksi benih temperatur malam 15 C dan pada
siang hari 26 28 C, tanah remah dan subur, pada waktu tanam ada curah atau
dapat diari, pada waktu menjelang panen tidak ada hujan lagi. Keadaan yang
demikian dapat ditemukan pada dataran tinggi yang biasa ditanami sayuran24

sayuran. Bekas tanaman sayuran tanahnya subur karena memanfaatkan sisa pupuk
organik yang diberikan pada tanaman sayuran.
Sebaiknya satu lokasi hanya satu varietas saja, untuk menghidari campuran
dari varietas lain yang terjadi pada waktu panen, pengakutan, pemrosesan benih.
Apabila satu lokasi untuk dua atau lebih varietas maka jarak antara blok sedikitnya
3 m, walaupun gandum termasuk tanaman silang diri tetapi masih ada penyerbukan
silang pada umumnya kurang dari 2 %.
b. Pengolahan Tanah
Tanah diolah sampai gembur diratakan dan dibuat bedengan dengan lebar 23 m, dan antara bedengan dibuat saluran. Pembuatan bedengan untuk memudahkan
penyiangan, memudahkan drainase dan pengairan, dan pemeliharaan lainnya.
Apabila tanah banyak tumbuh gulma perlu disemprot terlebih dahulu dengan
herbisida seperti Gramoxon, Polaris, Roundup, Rimbo, dan herbisida lainnya.
Setelah itu tanah baru diolah. Kesuburan tanah dalam satu bedengan seragam untuk
memudahkan mentukan tanaman tipe simpang. Apabila tanahnya tidak seragam
kesuburannya maka ada kemungkinan ada perbedaan tinggi tanaman, yang dapat
membuat kesalahan pada pencabutan tipe simpang.
c. Penanaman
Untuk mencapai hasil yang tinggi penanaman harus tepat pada waktunya
sehingga pembungaan jatuh pada saat curah hujan sudah berkurang. Hujan yang
terlalu banyak pada waktu pembungaan, biji banyak yang hampa dan mudah
terserang cendawan (Hamdani, 2004).
Kebutuhan benih untuk setiap hektar 100 kg dengan daya kecambah 100 %,
bebas dari hama dan penyakit dan kemurniannya terjamin. Apabila daya tumbuhnya
kurang maka jumlah benih yang digunakan masing-masing menjadi 125 dan 110 kg
per hektar. Jarak antara barisan 25 cm, biji disebar dalam barisan dengan takaran
2,5 g per m baris. Apabila bobot 1000 biji 40 g maka dalam 1 m baris ada sekitar
60 biji. Barisan tanaman dibuat dengan cara larikan sedalam 5 cm dan benih
disebar merata dalam larikan dan ditutup dengan tanah.

Jarak antara varietas

minimum 3 meter, untuk menghidari persilangan antara varietas dan tercampurnya

25

satu varietas dengan varietas yang lain pada saat panen. Preemegence herbisida
dapat digunakan untuk mencegah tumbuhnya gulma sehingga gandum tumbuh baik.
d. Pemupukan, Penyiangan, dan Pengairan
Takaran pupuk yang digunakan ialah 120-135 kg N, 50-72 kg P2O5 dan
50 kg K2O. Pupuk P dan K diberikan seluruhnya pada waktu tanaman atau
paling lambat 10 hari setelah tanam (hst), sedangkan pupuk N diberikan bersamasama dengan pemberian pupuk P dan K, waktu pembentukan anakan (30 hst), dan
waktu bunting (50 hst) masing-masing 1/3 bagian. Pupuk N dapat diberikan dua
kali yaitu pada waktu tanam dan umur 30 hst masing-masing 1/3 dan 2/3 bagian.
Pemberian dua kali lebih sedikit. Pupuk ini diberikan secara larikan 10 cm
disamping tanaman, dan ditutup dengan tanah. Penelitian di India pemberian satu
kali pupuk N pada waktu tanam memberikan hasil yang lebih tinggi dari pemberian
2 dan 3 kali.
Tanaman harus bersih gulma, gangguan gulama pada fase vegetatif dapat
menurunkan hasil sampai 50 %. Apabila tidak menggunakan preemergence
herbisida maka tanaman disiang pada umur 15 dan 30 hst, apabila masih banyak
rumput disiangi lagi pada waktu menjelang berbunga.
Apabila tidak ada hujan maka pengairan dilakukan melalui antara bedengan
sehingga tanah menjadi cukup lembab, dengan cara ini pengairan dilakukan tiap 3-4
minggu. Dapat pula diari dengan springkle, dan jumlah pengairan tergantung
besarnya air. Pengairan ini menambah biaya yang tidak sedikit, sehingga gandum
perlu ditanam pada waktu masih ada hujan yaitu bulan Maret April sehingga
masih ada curah hujan.
e. Pembuangan Tanaman Tipe Simpang.
Untuk kemurnian benih yang dihasilkan maka seleksi harus dilakukan
dengan mencabut tanaman tipe simpang (roguing) minimal tiga kali yaitu pada saat
malai belum keluar (35-45 hst), pada saat berbunga dan saat 2 sampai 3 hari
sebelum panen. Tipe simpang dapat dilihat dari jumlah anakan, umur berbunga,
tinggi tanaman, warna glume, kerapatan bulir, tanaman terserang hama dan
penyakit. Umur berbunga dipengaruhi juga oleh kelembagaan jika kelembaban

26

tanah tinggi maka umur berbunga meningkat. Terdapat perbedaan karakteristik


varietas gandum seperti terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakter agronomik dan sifat fisika kimia 2 varietas gandum
Karakter

f.

Varietas
Selayar

Dewata

Umur berbunga

80 hst

82 hst

Umur masak

125 hst

129 hst

Tipe batang

Kompak

Kompak

Tinggi tanaman

85 cm

109 cm

Warna daun

Hijau

Hijau

Warna tangkai daun

Hijau Tua

Hijau Tua

Jumlah malai per M

375

390

Panjang Malai

10 cm

11cm

Jumlah biji per malai

42 butir

47 butir

Warna bulu

Hijau

Hijau

Warna biji

Kuning Kecoklatan

Kuning Kecoklatan

Hasil biji

Rata-rata 2,95 ton/ha

Rata-rata 2,96 ton/ha

Bobot 1000 biji

46 gr

46 gr

Bobot 1 liter biji

848 gr

848 gr

Ukurang biji

Sedang

Sedang

Kandungan protein

11,7 %(wet basees)

13,94 %(wet basees)

Kandungan maltose

1,9 %

3,19 %

Kadar gluten

9,3 %

12,9 %

Kadar abu

11,9 %

1,78 %

Panen
Panen dilakukan pada saat tanaman telah menunjukkan tanda-tanda siap di
panen yaitu biji telah cukup masak, biji sudah keras bila dipijit dan digigit tidak
keluaran cairan. Batang dan daun telah kelihatan kuning dan berwarna putih keabuabuan demikian juga kelopak buah. Bila gandum telah waktunya di panen,
sebaiknya jangan ditunda lagi. Kelambatan panen 5 sampai 10 hari dapat
27

menyebabkan kehilangan hasil 2-5 % tiap hektar terutama pada jenis gandum yang
mudah rontok. Gandum dipanen pada kadar air biji 20-25 % sehingga dapat
langsung dirontok bijinya. Biji dikeringkan pada temperatur pada temperatur 4050 C atau pada lantai jemur prendah kadar air . Untuk benih biji dikeringkan
sampai mencapai kadar air 9-10 %.
g.

Penyimpanan Benih
Pada biji dengan kadar air 9-10 % benih dapat disimpan pada tempat kedap
udara seperti kantong plastik, blek atau tempat lainnya yang dapat dibuat kedap
udara. Benih ini dapat digunakan untuk pertanaman tahun berikutnya tanpa
perlakuan benih.
Dalam membangun sistem dan usaha agrobisnis yang berdaya saing
diperlukandukungan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan
efisiensi usaha serta kualitas dan nilai tambah produk. Keberhasilan upaya
peningkatan produktivitas / produksi dan pendapatan usaha tani gandum adalah
sangat tergantung pada kemampuan , penyedian dan penerapan teknologi produksi
yang efisien, meliputi varietas unggul berikut penyediaan benihnya yang berkualitas
serta teknologi budidaya seperti penyiapan lahan, penanaman, pemupukan,
penyiapan, pengendalian hama dan penyakit, irigasi dan pemanenan hasil.

B. Strategi Pengembangan
Salah satu strategi dalam rangka pengembangan

gandum adalah dengan

mengembangankan diversifikasi bahan pangan. Tanaman gandum mempunyai manfaat


yang dapat menopang keatahanan pangan masyarakat sehingga mempunyai peluang besar
untuk dikembangkan dimasa mendatang. Strategi yang dapat dikembangakan antara lain :
1. Pengembangan sentra produksi
Pengembangan sentra produksi di lokasi yang cocok secara agroklimat dan
mempunyai potensial pasar untuk dibina menjadi sentra daerah dan sentra
unggulan.
2. Pemanfaatan Sentra Produksi

28

Pada lokasi yang petaninya sudah melakukan kegiatan budidaya tanaman gandum,
dilakukan sosialisasi dan pembinaan yang lebih intensif untuk dapat menghasilkan
produksi dan kualitas yang lebih baik sesuai keinginan pasar.
C. Meningkatkan Produksi dan Pengembangan Tanaman Gandum melalui
Penerapan Teknologi :
1. Penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi dan adaptif terhadap
keragaman lingkungan tumbuh.
2. Penggunaan teknologi yang dapat membantu pengelolaan hara yang efektif dan
efisien.
3. Penggunaan teknologi yang dapat membantu perlindungan terpadu dan aman
lingkungan.
4. Penggunaan teknologi pasca panen primer dan sekunder yang tepat dan efisien.

29

BAB III
PENUTUP
Serealia merupakan kelompok tanaman yang ditanam untuk dipanen biji/bulirnya
sebagai sumber karbohidrat/pati. Bahan makanan yang termasuk serealia adalah padi,
jagung, dan gandum. Rendahnya laju peningkatan produksi pangan antara lain disebabkan
oleh, produktivitas tanaman pangan yang masih rendah, dan penurunan luas area
penanaman di lahan pertanian produktif.
Padi merupakan salah satu produksi unggulan dari produksi pertanian Indonesia,
hal ini dikarenakan padi merupakan salah satu bahan pangan pokok bagi rakyat Indonesia.
Setiap tahunnya, kebutuhan beras nasional meningkat seiring dengan peningkatan jumlah
penduduk sedangkan lahan yang tersedia semakin berkurang akibat alih fungsi lahan subur
untuk kepentingan industri, perumahan dan penggunaan lahan non pertanian lainnya. Oleh
karena itu diperlukan teknologi dan strategi peningkatan produksi padi.
Teknologi dan strategi peningkatan produksi padi antara lain dengan ektensifikasi
melalui pengadaan sumber pertumbuhan baru dan intensifikasi, yang meliputi pemilihan
varitas unggul baru, benih bermutu, pngolahan tanah yang baik, tanam yang tepat,
pemupukan yang berimbang, pengendalian hama penyakit secara terpadu, penyiangan dan
panen tepat waktu dan tepat cara.
SRI merupakan inovasi metode budidaya padi yang mampu meningkatkan
produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsure hara
dan telah terbukti berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50 %. Konsep dasar
SRI adalah menggunakan bibit berumur muda, dan menanam satu rumpun bibit per tanam
dengan jarak yang cukup lebar.
Padi hibrida merupakan salah satu terobosan untuk mengatasi stagnasi peningkatan
potensi hasil varietas-varietas tipe sebelumnya. Pengembangan padi hibrida diawali dengan
penemuan cytoplasmic male sterile (CMS) dan paket teknologi produksi benih padi
hibrida. Dalam hal ini memerlukan pemanfaatan tiga galur yaitu CMS, galur pemulihan
kesuburan (restorer), dan galur pelestari (Maintainer).
Jagung merupakan salah satu serealia yang strategis dan bernilai ekonomis serta
mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama
30

karbohidrat dan protein setelah beras. Beberapa permasalahan yang dijumpai dalam
pengembangan jagung di antaranya adalah fluktuasi produksi dan harga, penanganan
pascapanen pada saat panen raya dan alat mesin produksi dan pengolahannya.
Upaya peningkatan produksi dan produktivitas jagung dapat dilakukan dengan
teknologi dalam bentuk : Fisik materi (bahan) seperti varietas unggul, pupuk (formulasi
pupuk/ pupuk hayati), dan pestisida; Rekomendasi teknologi diantaranya pemupukan,
pengendalian organisme pengganggu tanaman (hama), dan penggunaan air; Teknologi
proses yakni produksi benih, produksi pupuk hayati, dan produksi pestisida hayati atau
nabati; Rancang bangun atau prototipe dan mesin pertanian.
Gandum (Triticum aestivum L.) merupakan komoditi pangan yang penting dan
Triticumaestivum adalah spesies gandum yang paling banyak ditanam di dunia dan
digunakan sebagai bahan baku roti karena mempunyai kadar protein yang tinggi. Sebagai
tanaman subtropis, pengembangan gandum di Indonesia yang merupakan lingkungan tropis
terkendala dengan masalah iklim, sehingga pengembangannya masih di daerah dengan
ketinggian > 1000 m dpl yang memiliki iklim mirip dengan lingkungan subtropis,
khususnya suhu yang rendah.
Salah satu strategi dalam rangka pengembangan

gandum adalah dengan

mengembangankan diversifikasi bahan pangan; penggunaan varietas unggul berdaya hasil


tinggi dan adaptif terhadap keragaman lingkungan tumbuh, penggunaan teknologi yang
dapat membantu pengelolaan hara yang efektif dan efisien; penggunaan teknologi yang
dapat membantu perlindungan terpadu dan aman lingkungan; dan penggunaan teknologi
pasca panen primer dan sekunder yang tepat dan efisien.

31

Daftar Pustaka

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2014. Gerakan Diversifikasi


Pangan. http://Bbp2tp.litbang.dptan.go.id. Diakses tanggal 10 September
2014.

BPS. 2010-2012. Produktivitas dan produksi jagung di Indonesia. BPS. Jakarta.

Departemen

Pertanian.

2014.

Tanam

Benih

Langsung

Padi.

http://cybex.deptan.go.id. Diakses tanggal 10 september 2014.

Edward, S. 2012. Budidaya Pad1 Dl Dalam Polibeg Dengan Irlgasl Bertekanan


Untlik Antisipasi Pesatnya Perubahan Fungsi Lahan Sawah. Jurnal
Teknotan Vol.6 No.1.
Hamdani. M. 2004. Teknologi Produksi Benih gandum Balit serealia, Maros.
Hodijah, Saeful. 2010. TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKSI PADI SAWAH
DI BOGOR. Pedoman Umum PTT Padi Sawah Kementrian Pertanian
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian: Bogor.

Jenal, M. 2010. Budidaya Dan Keunggulan Padi Organik Metode SRI (System of
Rice Intensification). Journal Inovasi Produksi Pertanian Indonesia: Vol
2; 1-4.

Karwan, AS. 2008. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Tiga Serangkai: Jakarta.

Kasniari, D.N. 2007. Pengaruh Pemberian Beberapa Dosis Pupuk (N, P, K ) dan
Jenis Pupuk Alternatif terhadap Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa L.)
dan Kadar N, P, K Inceptisol Selemadeg, Tabanan. Jurnal Agritrop,
26(4):168-176.

32

Nursinah, Zunaini dan Taryadi. 2009. Penerapan SRI (System of Rice


Intensification) sebagai Alternatif Budidaya Padi Organik. CEFARS:
Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah Vol.1 No. 1.
Rao IM.2001. Dalam Jurnal Agrivior 11 (2): 230-234, Mei-Agustus 2012; ISSN
1412-2286. Evaluasi dan Keragaman Genetik 12 Galur Gandum
Introduksi Di Lingkungan Tropik oleh Nur, Amin, dkk. Bogor: IPB
Susanto, U, dkk.. 2003. Perkembangan Pemuliaan Padi Sawah di Indonesia. Balai
Penelitian Tanaman Padi. Jurnal Litbang Pertanian 22(3) hal. 125-131.
Subang.
Tangendjaja, B. dan E. Wina. 2011. Limbah tanaman dan produk sampingan
industri jagung untuk pakan. Balai Penelitian Ternak, Bogor.
Virmani et.al.1997. Prospects of Hybrid rice in the tropics and subtropics. Dalam
Jurnal Litbang Pertanian 22(3) hal. 125-131
Warismo, 2000. Jagung Hibrida. Kanisius. Yogyakarta.

33