Anda di halaman 1dari 40

BAB I

ANATOMI FISIOLOGIS SISTEM URINARIUS


A. SISTEM PERKEMIHAN
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjdinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak
dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh
tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air dan
dikeluarkan berupa urin (air kemih)
Sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin,
b) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung
kemih), c) satu vesika urinaria (VU), tempat urin dikumpulkan, dan d) satu
urethra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria.

Sistem perkemihan memiliki fungsi:


1. Keseimbangan transportasi air dan zat terlarut
2. Ekskresi zat buangan
3. Menyimpan nutrie
4. Mengatur keseimbangan asam basa
5. Mensekresi hormon yang membantu mengatur tekanan darah, erithropoietin
dan metabolisme kalsium
6. Membentuk urinsistem perkemihan disebut juga urinary atau renal system.
Terdiri dari:

Dua buah ginjal yang membuang zat-zat sisa metabolisme atau zat yang
berlebihan dalam tubuh serta membentuk urin.

Dua buah ureter yang mentransport urin ke kandung kencing/bladder.

Kandung kencing/bladder: tempat penampungan urin

Uretra : saluran yang mengalirkan urine dari bladder/kandung kencing


keluar tubuh

B. ATOMI GINJAL
Ginjal berbentuk seperti kacang, berwarna merah tua, panjangnya
sekitar 12,5 cm, tebal 2,5 cm. Setiap ginjal memiliki berat antara 125 175
gram pada laki laki dan 115 155 gram pada perempuan. Ginjal terletak di
area yang tinggi, yaitu pada dinding abdomen posterior yang berdekatan
dengan dua pasang iga terakhir.

Ginjal memfiltrasi 1700 liter darah/ 24 jam. Satu ginjal memiliki 1


juta nefron. Kegiatan nefron dalam mengontrol regulasi :
1. Filtrasi air dan zat terlarut dari darah
2.

Reabsorpsi

secara

selektif

zat-zat

yang

terlarut

untuk

dikembalikankedalam darah
untuk menjaga keseimbangan konsentrasi dalam darah
3. Ekresi produk buangan kedalam urine
tulang belakang, di bawah hati dan limpa. Di bagian atas (superior)
ginjal terdapat kelenjar adrenal Ginjal adalah organ ekskresi dalam

vertebrata yang berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin,
ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan
membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Cabang dari
kedokteran yang mempelajari ginjal dan penyakitnya disebut nefrologi.
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang
peritoneum pada kedua sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis
ke-3. Bentuk ginjal seperti biji kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari
ginjal kiri, karena adanya lobus hepatis dexter yang besar.
Secara anatomis, ukuran ginjal panjang = 11,25 cm, lebar = 5 cm,
tebal = 2,5 cm. Posisi di T12 L3 dibelakang abdomen, Posisi ginjal kanan
lebih rendah dari ginjal kiri karena terdesak oleh hepar
Manusia memiliki sepasang ginjal yang terletak di belakang perut atau
abdomen. Ginjal ini terletak di kanan dan kiri (juga disebut kelenjar
suprarenal).
Ginjal bersifat retroperitoneal, yang berarti terletak di belakang
peritoneum yang melapisi rongga abdomen. Kedua ginjal terletak di sekitar
vertebra T12 hingga L3. Ginjal kanan biasanya terletak sedikit di bawah ginjal
kiri untuk memberi tempat untuk hati.
Sebagian dari bagian atas ginjal terlindungi oleh iga ke sebelas dan duabelas.
Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak (lemak perirenal dan lemak
pararenal) yang membantu meredam goncangan.
Organ ini merupakan organ retroperitoneal dan terletak diantara otot-otot
punggung dan peritoneum rongga abdomen atas. Tiap-tiap ginjal memiliki
sebuah kelenjar adrenal diatasnya. Posisi ginjal kanan lebih rendah dari ginjal
kiri karena diatas ginjal kanan terdapat hati. Ginjal terletak diluar rongga
peritoneum di bagian posterior, sebelah atas dinding abdomen. Setiap ginjal
terdiri dari sekitar satu juta unit fungsional yang disebut nefron. Setiap nefron
berawal dari suatu berkas kapiler yang berkelok- kelok. Setiap nefron
memiliki satu komponen vaskuler (kapiler) dan satu komponen turbular.
Nefron tersusun dari: Glomerulus, adalah tempat penyaringan urin tepatnya
pada kapsula bowman, Tubulus Kontortus Proximal, Ansa Henle, Tubulus
Kontortus Distal, Tubulus dan duktus pengumpul.

Setiap ginjal diselubungi tiga lapisan jaringan ikat.


a. Fasia renal adalah pembungkus terluar. Pembungkus ini melabuhkan
ginjal pada struktur disekitarnya dan mempertahankan posisi organ.
b. Lemak perirenal adalah jaringan adipose yang terbungkus fasia ginjal.
Jaringan ini membatasi ginjal dan membantu organ tetap pada posisinya.
c. Kapsul fibrosa (ginjal) adalah membran halus transfaran yang langsung
membungkus ginjal dan dapat dengan mudah dilepas.

a.

Struktur Internal Ginjal


1. Hilus (hilum) adalah tingkat kecekungan tepi media ginjal.
2. Sinus ginjal adalah rongga berisi lemak yang membuka pada hilus.
Sinus ini membentuk pelekukan untuk jalan masuk dan keluar ureter,
vena dan arteri renalis, saraf dan limfatik.
3. Velvis ginjal adalah perluasan ujung poksimal ureter. Ujung inin
berlanjut menjadi dua sampai tiga kaliks mayor, yaitu rongga yang
mencapai glandular, bagian penghasil urine pada ginjal. Setiap kaliks
mayorbercabang menjadi beberapa (8-18) kaliks minor.
4. Parenkim ginjal adalah jaringan ginjal yang menyelubungi struktur
sinus ginjal. Jaringan ini terbagi menjadi medulla (dalam) dan korteks
(luar).
a. Medula terdiri dari masa-masa triangular yang disebut piramida
ginjal. Ujung yang sempit dari setiap piramida, papila, masuk

dengan pas dalam kaliks minor dan ditembus mulut duktus


pengumpul urine.
b. Korteks tresusun dari tubulus dan pembuluh darah nefron yang
merupakan unit structural dan fungsional ginjal. Korteks terletak
didalam diantara piramida-piramida. Medula yang bersebelahan
untuk membentuk kolumna ginjal yang terdiri dari tubulus-tubulus
yang mengalir kedalam duktus pengumpul.
5. Ginjal terbagi-bagi lagi menjadi lobus ginjal. Setiap lobus terdiri dari
satu piramida ginjal, kolumna yang saling berdekatan, dan jaringan
korteks yang melapisinya.
b.

Struktur Nefron
Satu ginjal mengandung 1 sampai 4 juta nefron yang merupakan
unit pembentuk urine. Setiap nefron memiliki satu komponen vascular
(kapilar) dan satu komponen tubular.
1. Glomerulus adalah gulungan kapiler yang dikelilingi kapsul epitel
berdinding ganda disebut kapsul bowman. Glomerulus dan kapsul
bowman bersama-sama membentuk sebuah korpuskel ginjal.
a. lapisan viseral kapsul bowman adalah lapisan internal peritelium.
Sel-sel lapisan viseral dimodifikasi menjadi podosit (sel seperti
kaki), yaitu sel-sel epitel khusus disekitar kapilar glomelural.
-

Setiap sel podosit melekat pada permukaan luar kapilar


glomerular melalui beberapa prosesus primer panjang yang
mengandung prosesus sekunder yang disebut prosesus kaki
atau pedikel (kaki kecil).

Pedikel berinterdigitasi (saling mengunci) dengan prosesus


yang samadari podosit tetangga. Ruang sempit antar pedikelpedikel yang berinterdigitasi disebut Filtration slits (pori-pori
dari celah) yang lebarnya sekitar 25nm. Setiap pori dilapisi
selapis membrane tipis yang memungkinkan aliran beberapa
molekul dan menahan aliran molekul lainnya.

Barier filtrasi glomerular adalah barier jaringan yang


memisahkan darah dalam kapilar glomerular dari ruang dalam
kapsul bowman. Barrier ini terdiri dari endothelium kapilar,
membrane dasar (lamina basalis) kapilar, dan filtration slit.

b. Lapisa parietal kapsul Bowman membentuk tepi terluar korpuskel


ginjal.
-

Pada kutub vascular korpuskel ginjal, aperiola aferen masuk ke


glomerulus dan arteriol eferen keluar dari glomerulus.

Pada kutub urinarius korpuskel ginjal, glomerulus memfiltrasi


aliran yang masu ke tubulus kontortus proksimal.

2. Tubulus kontortus proksimal, panjangnya mencapai 15mm dan sangat


berliku. Pada permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat
sel-sel epitelia kuboid yang kaya akan mikrovilus (brus border) dan
memperluas area permukaan lumen.
3. Ansa henle. Tubulus kontortus proksimal mengarah ke tungkai
descenden ansa henle yang masuk ke dalam medulla membentuk
lengkungan jepit yang tajam

(lekukan), dan membalik keatas

membentuk tungkai ascenden ansa henle.


a. Nefron korteks terletak di bagian terluar korteks. Nefron ini
memiliki lekukan pendek yang memanjang ke sepertiga atas
medulla.
b. Nefron jukstamedular terletak di dekat medulla. Nefron ini
memiliki lekukan panjang yang menjulur kedalam piramida
medulla.
4. Tubulus kontortus distal juga sangat berliku, panjangnya 5 mm dan
membentuk segmen terakhir nefron.
a. Di sepanjang jalurnya, tubulus ini bersentuhan dengan dinding
ateriol aferen. Bagian tubulus yang bersentuhan dengan arteriol
mengandung sel-sel termodifikasi yang disebut macula densa.
Maccula densa berfungsi sebagai suatu kemoreseptor dan
distimulasi oleh penurunan ion natrium.

b. Dinding arteriol aferen yang bersebelahan dengan macula densa


mengandung sel-sel otot polos termodifiksi yang disebut
seljukstaglomerular. Sel ini distimulasi melalui penurunan tekanan
darah untuk memproduksi rennin.
c. Maccula densa seljukstaglomerular, dan sel mesangium saling
bekerja sama untuk membentuk apparatus jukstaglomerular yang
penting dalam pengaturan tekanan darah.
5. Tubulus dan duktus mengumpul. Karena setiap tubulus pengumpul
berdesenden di korteks, maka tubulus tersebut akan mengalir ke
sejumlah tubulus kontortus distal. Tubulus pengumpul membentuk
duktus pengumpul yang besar. Duktus pengumpul membentuk tuba
yang lebih besar yang mengalirkan urine ke dalam kaliks minor. Dari
pelvis ginjal, urine dialirkan ke ureter yang mengarah ke kandung
kemih.
Filtrasi plasma dan permulaan produksi urin terjadi disepanjang
glomerulus. Reabsorbsi dan sekresi berbagai zat oleh ginjal berlangsung
disepanjang tubulus pada setiap nefron. Proses reabsorbsi dan sekresi
ditubulus secara drastis mengubah komposisi akhir dan volume urin apabila
dibandingkan dengan cairan yang masuk ke nefron melalui kapiler
glomerulus.
Setiap ginjal secara anatomis di bagi menjadi bagian kortek disebelah
luar yang mengandung semua kapiler glomerulus dan sebagian segmen
tubulus pendek, dan bagian medulla disebelah dalam tempat sebagian besar
segmen tubulus berada. Perkembangan segmen-segmen tubulus dari
glomerulus

ke duktus

pengumpul (collecting duct). Setiap tubulus

pengumpul

menyatu dengan tubulus-tubulus pengumpul lain untuk

membentuk duktus yang termasuk bagian terdalam ginjal yaitu medulla ginjal.
Papila mengalir ke pelvis ginjal kemudian ke ureter. Ureter masing-masing
ginjal dihubungkan ke vesika urinaria. Vesika urinaria menyimpan urin sampai
dikeluarkan dari tubuh sampai dikeluarkan dari tubuh melalui proses urinaria
melewati uretra.

C. FUNGSI GINJAL
1. Pengeluaran zat sisa organik
Ginjal mengekskresikan urea, asam urat, kreatinin dan produk penguraian
hemoglobin dan hormon.
2. Pengaturan Keseimbangan Asam Basa Tubuh
Ginjal berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan asam
basa. Sebagian besar proses metabolisme tubuh menghasilkan asam
seperti CO2 yang mudah menguap dan metabolisme protein menghasilkan
asam yang tidak menguap seperti asam sulfat dengan asam fosfat. Secara
normal paru-paru mengekskresikan CO2 sedangkan zat yang tidak mudah
menguap diekskresikan oleh ginjal. Selain itu ginjal juga mereabsorbsi
bikarbonat basa yang difiltrasi secara bebas oleh glomerulus. Ginjal
membantu mengeleminasi CO2

pada pasien penyakit paru dengan

meningkatkan sekresi dan ekskresi asam dan reabsorbsi basa.


Ginjal mengendalikan ekskresi ion hydrogen (H+), bikarbonat (HCO3-),
dan ammonium (NH4-) serta memproduksi urin asam atau basa,
bergantung pada kebutuhan tubuh. Asam (H+) disekresikan oleh sel sel

tubulus ginjal ke dalam filtrate, dan disini dilakukan pendaparan terutama


oleh ion ion fosfat serta ammonia (ketika didapar dengan asam,
ammonia akan berubah menjadi ammonium). Fosfat terdapat dalam
filtrate glomerulus dan ammonia dihasilkan oleh sel sel tubulus ginjal
serta dikresikan ke dalam cairan tubuler. Melalui proses pendaparan,
ginjal dapat mengekskresikan sejumlah besar asam dalam bentuk yang
terikat tanpa menurunkan lebih lanjut nilai pH urin.
3. Pengaturan Ekskresi Elektrolit
Jumlah elektrolit dan air yang harus diekskresikan lewat ginjal bervariasi
dalam jumlahnya tergantung pada jumlah asupan, air, natrium, klorida,
elektrolit lain dan produk limbah diekskresikan sebagai urin. Pengaturan
jumlah natrium yang diekskresikan tergantung pada aldosteron yang
dihasilkan dan disintesa korteks adrenal. Peningkatan kadar aldosteron
dalam darah, menyebabkan sekresi natrium berkurang karena aldosteron
meningkatkan

reabsorbsi

natrium

dalam

ginjal.

Jika

natrium

diekskresikan dalam jumlah yang melebihi jumlah natrium yang


dikonsumsi, maka pasien akan mengalami dehidrasi. Ekskresi kalium oleh
ginjal akan meningkat seiring dengan meningkatnya kadar aldosteron.
Jika kalium diekskresikan dalam jumlah yang kurang dari jumlah
konsumsi pasien akan menahan cairan. Retensi kalium merupakan akibat
yang paling buruk dari gagal ginjal.
4. Pengaturan Produksi Sel Darah Merah
Sebagai salah satu organ endokrin, ginjal membentuk dan melepaskan
eritropoitin. Eritropoitin adalah salah suatu hormon yang merangsang
sumsum tulang agar meningkatkan pembentukan eritrosit. Sel-sel diginjal
yang membentuk dan melepaskan eritropoitin berespons terhadap
hipoksia

ginjal.

Orang

yang

menderita

penyakit

ginjal

sering

memperlihatkan anemia kronik


5. Regulasi Tekanan Darah
Hormon renin yang disekresikan oleh sel-sel jukstra glumeruller saat
terjadi penurunan tekanan darah. Renin akan mempengaruhi pelepasan
angiotensin yang dihasilkan dihati dan diaktifkan dalam paru. Angiotensin

I kemudian diubah menjadi Angiotensin II yaitu senyawa vasokontriktor


kuat. Vasokontriksi menyebabkan peningkatan tekanan darah. Aldosteron
disekresikan oleh korteks adrenal sebagai reaksi terhadap stimulasi
kelenjar hipofisis dan pelepasan ACTH sebagai reaksi terhadap perfusi
yang buruk atau peningkatan osmolalitas serum.

Tekanan darah menurun


Ginjal

renin ( disekresikan oleh sel sel jukstaglomerular)

Hati

Angiotensin I

Kelenjar hipofisis

Angiotensin II (vasokonstriktor kuat)

ACTH

Aldosteron (dilepas oleh kelenjar adrenal)

Kelenjar adrenal

Meningkatkan
tekanan darah

Retensi air dan natrium


Volume cairan ekstrasel meningkat

6. Pengaturan Ekskresi Air


Akibat asupan air atau cairan yang banyak, urin yang encer harus
diekskresikan dalam jumlah besar, sedangkan jika asupan cairan sedikit
urin yang diekskresikan lebih pekat. Pengaturan ekskresi air dan
pemekatan urine dilakukan didalam tubulus dengan reabsorbsi elektrolit.
Jumlah air yang reabsorbsi dikendalikan oleh hormon anti deuritik
(CADH atau Vasopresin). Dengan asupan air yang berlebihan, sekresi
ADH oleh kelenjar hipofisis akan ditekan sehingga sedikit air yang
direabsorbsi oleh tubulus. Keadaan ini menyebabkan volume urin
meningkat (Diuresis)
7. Dihidroksi vitamin D

Sebagai organ endokrin ginjal mengeluarkan hormon penting untuk


menetralisasi tulang. Ginjal bekerja sama dengan hati menghasilkan
bentuk aktif vitamin D. Vitamin D penting untuk pemeliharaan kadar
kalsium plasma yang diperlukan untuk membentuk tulang. Bentuk aktif
vitamin D ini bekerja sebagai hormon beredar dalam darah dan
merangsang penyerapan kalsium, fosfat diusus halus dan tubulus ginjal.
Vitamin

juga

merangsang

resorbsi

tulang.

Resorbsi

tulang

menyebabkan pelepasan kalsium sehingga kalsium plasma meningkat.


8. Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah dan asam
amino darah.
Ginjal melalui eksresi glukosa dan asam amino berlebih, bertanggung
jawab atas konsentrasi nutrient dalam darah.
9. Pengeluaran zat beracun.
Ginjal mengeluarakan polutan, zat tambahan makanan, obat-obatan, atau
zat kimia asing lain dari tubuh.
D. SUPLAI DARAH GINJAL
1. Arteri Renalis adalah cabang orta abdominalis yang mensuplai masingmasing ginjal dan masuk ke hillus melalui percabangan anterior dan
posterior.
2. Arteri-arteri interlobaris merupakan cabang anterior dan posterior arteri
renalis yang mengalir diantara piramida-piramida ginjal.
3. Arteri Arkuata berasal dari arteri interlobaris pada area pertemuan korteks
dan medulla.
4. Arteri interlobaris merupakan percabangan arteri arkuata di sudut kanan
dan melewati korteks.
5. Arteriol aferen berasal dari arteri interlobularis. Satu arteriol aferen
membentuk sekitar 50 kapilar yang membentuk glomerulus.
6. Arteriol eferen meninggalkan setiap glomerulus dan membentuk jaringan
kapilar lain, kapiler peritubular yang mengelilingi tubulus proksimal dan
distal untuk memberi nutrien pada tubulus tersebut dan mengeluarkan zatzat yang diabsorbsi.

a. Arterior eferen dari glomerulus nefron korteks masuki jaring-jaring


kapiler pertitubular yang mengelilingi tubulus kontortus distal dan
proksimal pada nefron tersebut.
b. Arteriorl eferen dari glomerulus pada nefron jupstaglomerulus
memiliki perpanjangan pembuluh kapiler panjang yang lurus disebut
vasa recta yang berdesenden kedalam piramida medulla. Lekukan vasa
recta membentuk lengkungan jepit yang melewati ansa henle.
Lengkungan ini memungkinkan terjadinya pertukaran zat antara ansa
henle dan kapiler serta memegang peranan dalam konsentrasi urine.
7. Kapiler peritubular mengelilingi tubulus proksimal dan distal untuk
memberi nutrisi pada tubulus.
8. Kapiler peritubular mengalir ke dalam vena korteks yang kemudian
menyatu dan membentuk vena interlobularis.
9. Vena arkuata menerima darah dari vena interlobularis. Vena akuarta
bermuara ke dalam vena interlobularis yang bergabung untuk bermuara ke
dalam vena renalis. Vena ini meninggalkan ginjal untuk bersatu dengan
vena kava inferior

E. PEMBENTUKAN URINE

Glomerulus berfungsi sebagai ultra filtrasi, pada simpai bowmen berfungsi


sebagai/ untuk menampung hasil filtrasi dari glomerulus. Pada tubulus ginjal
akan terjadi penyerapan kembali dari zat zat yamg sudah disaring pada
glomerulus, sisa cairan akan diteruskan ke piala ginjal terus berlanjut ke
ureter. Urin berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk ke dalam
ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang padat yaitu sel darah dan bagian
plasma darah.
Ginjal memproduksi urine yang mengandung zat sisa metabolic dan mengatur
komposisi cairan tubuh melalui tiga proses utama;
1. Filtrasi Glomerulus
a. Definisi. Filtrasi glomerular adalah perpindahan cairan dan zat terlarut
dari kapiler glomerula, dalam gradient tekanan tertentu kedalam kapsul
bowman. Filtrasi ini dibantu oleh faktor berikut:
1) Mebran kapiler glomerular lebih permeable dibandingkan kapiler
lain dalam tubuh sehingga filtrasi berjalan dengan cepat.
2) Tekanan darah kapiler glomerular lebih tinggi dibandingkan
tekanan darah dalam kapiler karena diameter anteriol eferen lebih
kecil dibandingkan diameter anteriol aferen.
b. Mekanisme filtrasi glomerular
1) Tekanan hidrostatik (darah) glomerular mendorong cairan dan
zat terlarut keluar

dari darah dan masuk ke ruang kapsul

bowman.
2) Dua tekanan yang berlawanan dengan tekanan hidrostatik
glomerular
- Tekanan hidrostatik dihasilkan oleh cairan dalam kapsul bowman.
Tekanan ini cenderung untuk menggerakkan cairan keluar dari
kapsul menuju glomerulus.
- Tekanan osmotic koloid dalam glomerulus yang dihasilkan oleh
protei plasma adalah tekanan yang menarik cairan dari kapsul
bowman untuk memasuki glomerulus.
- Tekanan filtrasi efektif adalah tekanan dorong netto. Tekanan ini
adalah selisih antara tekanan yang cenderung mendorong cairan

keluar glomerulus menuju kapsul bowman dan tekanan yang


cenderung menggerakkan cairan kedalam glomerulus dari kapsul
bowman.
c. Laju filtrasi glomerular (glomerular filtration rate/GFR) adalah
jumlah filtrate yang terbentuk per menit pada semua nefron dari kedua
ginjal. Pada laki-laki, laju filtrasi ini sekitar 125ml /menit atau 180 liter
dalam 24 jam, sedangkan pada perempuan, sekitar 110ml/menit.
d. Faktor yang mempengaruhi GFR
a. Tekanan filtrasi efektif. GFR berbanding lurus dengan EFP dan
perubahan tekanan yang terjadi akan mempengaruhi GFR. Derajat
kontriksi arteriol aferen dan eferen menentukan aliran darah ginjal,
dan juga tekanan hidrostatik glomerular.
- Kontriksi arteriol aferen menurunkan aliran darah dan
mengurangi laju filtrasi glomerular.
- Kontriksi arteriol eferen menyebabkan terjadinya tekanan darah
tambahan dalam glomerolus dan meningkatkan GFR.
b. Autoregulasi ginjal. Mekanisme autoregulasi intrinsic ginjal
mencegah perubahan aliran darah ginjal dan GFR akibat variasi
fisiologis rerata tekanan darah arteri. Autoregulasi seperti ini
berlangsung pada rentang tekanan darah yang lebar (antara 80
mmHg dan 180 mmHg).
-

Jika rata-rata tekanan darah arteri (normalnya 100 mmHg)


meningkat, arteriol aferen berkontriksi untuk menurunkan
aliran darah ginjal dan mengurangi GFR. Jika rata- rata tekana
darah arteri menurun, terjadi fase dilatasi arteriol aferen untuk
meningkatkan GFR. Dengan demikian, perubahan-perubahan
mayor pada GFR dapat dicegah.

Autoregulasi melibatkan mekanisme umpan balik dari reseptorreseptor peregang dalam dinding arteriol dan dari apparatus
jukstaglomerular.

Disamping mekanisme autoregulasi ini, peningkatan tekanan


arteri dapat sedikit meningkatkan GFR. Karena begitu banyak
filtrate glomerular yang dihasilkan sehari, perubahan yang
terkecilpun dapat meningkatkan haluaran urine.

c. Stimulasi simpatis. Suatu peningkatan impuls simpatis, seperti


yang terjadi saat sters, akan menyebabkan kontriksi arteriol aferen,
menurunkan aliran darah kedalam glomerulus dan menyebabkan
penurunan GFR.
d. Obstruksi aliran urinaria oleh batu ginjal atau batu dalam ureter
akan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam kapsul bowman dan
menurunkan GFR.
e. Kelaparan, diet sangat rendah protein, atau penyakit hati akan
menurunkan tekanan osmotic koloid darah sehingga meningkatkan
GFR.
f. Berbagai penyakit ginjal dapat meningkatkan permeabilitas kapiler
glomerular dan meningkatkan GFR.
e. Komposisi filtrat glomerular
1) Filtrat dalam kapsul bowman identik dengan filtrate plasma dalam
hal air dan zat terlarut dengan berat molekul rendah seperti
glukosa, klorida, natrium, kalium, fosfat, urea, asam urat dan
kreatinin.
2) Sejumlah kecil albumin plasma dapat terfiltrasi tetapi sebagian
besar diabsorbsi kembali dan secara normal tidak tampak pada
urine.
3) Sel darah merah dan protein tidak difiltrasi. Penampakannya dalam
urine menandakan suatu abnormalitas. Penampakan sel darah putih
biasanya menandakan adanya infeksi bakteri pada traktus urinaria
bagian bawah.

Filtrasi Glomerulus adalah proses dimana sekitar 20% plasma yang masuk
kapiler glomerulus menembus kapiler untuk masuk ke ruang interstitium
kemudian ke kapsula bowman. Pada ginjal yang sehat, sel darah merah
atau protein plasma hampir tidak ada yang mengalami filtrasi. Kapiler
Glomerulus sangat permeabel terhadap air dan zat-zat terlarut yang
berukuran kecil. Cairan kemudian berdifusi ke dalam kapsula bowman dan
berjalan disepanjang

nefron. Laju filtrasi glomerulus (GFR) adalah

volume filtrasi yang masuk ke dalam kapsula bowman per satuan waktu.
GFR tergantung pada empat gaya yang menentukan filtrasi dan reabsorbsi
yaitu tekanan kapiler, tekanan cairan interstitium, tekanan osmotik koloid
plasma

dan tekanan osmotik koloid cairan interstitium. GFR juga

tergantung pada berapa luas permukaan glomerulus yang tersedia untuk


filtrasi. Penurunan luas permukaan glomerulus akan menurunkan GFR.
Nilai rata-rata GFR seorang pria dewasa adalah 180 lt per hari (125 ml
permenit). Volume plasma normal adalah sekitar 3 liter (dari volume darah
total sebesar 5 liter). Dari 180 liter cairan yang difiltrasi ke dalam kapsula
bowman, hanya sekitar 1,5 liter perhari diekskresikan dari tubuh sebagian
urin.

2. Reabsorbsi Tubulus
Reabsorbsi mengacu pada pergerakan aktif dan pasif suatu bahan yang
disaring di glomerulus kembali ke kapiler peritubulus. Reabsorbsi dapat
total (misal glukosa ) atau parsial (misal Natrium, Urea, Klorida dan air).
a. Reabsorbsi glukosa dan asam amino
1)

Carrier glukosa dan asam amino sama dengan carrier ion


natrium dan digerakkan melalui kotranspor.

2)

Maksimum transport. Carrier pada membran sel tubulus


memiliki kapasitas reabsorpsi maksimum untuk glukosa, berbagai

jenis asam amino, dan beberapa zat reabsorpsi lainnya. Jumlah ini
dinyatakan dalam maksimum transpor (transport maximum [Tm])
3)

Maksimum transpor (Tm) untuk glukosa adalah jumlah


maksimum yang dapat ditranspor (reabsorpsi) per menit, yaitu
sekitar 200 mg glukosa/100 ml plasma. Jika kadar glukosa darah
melebihi nilai Tm-nya, berarti melewati ambang plasma ginjal
sehingga glukosa muncul di urine (glikosuria).

Glukosa secara bebas disaring glomerulus. Dalam keadaan normal,


semua glukosa yang difiltrasi akan direabsorbsi oleh transpor aktif
terutama ditubulus proksimalis.
b. Reabsorbsi Natrium
1) Ion-ion natrium ditranspor secara pasif melalui difusi etrfasilitasi
(dengan carrier) dari lumen tubulus kontortus proksimal ke dalam
sel-sel epitel tubulus yang kunsentrasi ion natriumnya lebih rendah.
2) Ion-ion natrium yang ditranspor secara aktif dengan pompa
natrium-kalium,akan keluar dari sel-sel epitel untuk masuk ke
cairan interstisial di dekat kapilar peritubular.
Reabsorbsi natrium berlangsung diseluruh tubulus melalui kombinasi
difusi sederhana dan transportasi aktif. Sekitar 65% reabsorbsi
natrium-natrium yang difiltrasi tetap didalam tubulus pada saat filtrasi
mencapai tubulus konvulsi distalis. Konsentrasi akhir natriunm di urin
biasanya kurang dari 1 % jumlah total yang difiltrasi di glomerulus.
c. Reabsorbsi Klorida dan ion negatif lain
1)

Karena ion natrium positif bergerak secara pasif dari cairan


tubulus ke sel dan secara aktif dari sel ke cairan interstisial
peritubular, akan terbentuk ketidakseimbangan listrik yang justru
membantu pergerakan positif ion-ion negatif.

2)

Dengan demikian, ion klorida dan bikarbonat negative secara


pasif berdifusi ke dalam sel-sel epitel dari lumen dan mengikuti
pergerakan natrium yang keluar menuju cairan peritubular dan
kapiler tubular.

Reabsorbsi klorida dapat bersifat aktif dan pasif dan hampir selalu
bersamaan dengan transpor natrium. Proses ini dipengaruhi oleh
gradien listrik di tubulus. Sebagian reabsorbsi klorida (65 %) terjadi
ditubulus proksimal, 25% dilengkung henie dan 10% jumlah total yang
difiltrasi dan sistem duktus pengumpul.
d. Reabsorbsi Kalium
Sebagian besar kalium yang difiltrasi akan direabsorbsi 50% ditubulus
proksimal, 40% di pars asenden dan 10% dibagian akhir nefron duktus
pengumpul di medulla.Sebagian besar reabsorbsi kalium adalah difusi
pasif.
e. Reabsorbsi protein Plasma
Protein yang difiltrasi akan secara aktif direabsorbsi di tubulus
proksimal. Sebagian kecil protein yang difiltrasi diglomerulus tidak
direabsorbsi . Protei-protein tersebut diuraikan oleh sel-sel tubulus dan
diekskresikan di urine. Contoh-contoh protein tersebut adalah hormon
protein misalnya GH dan Luteinizing Hormonc.
f. Reabsorbsi Bikarbonat
Reabsorbsi bikarbonat adalah suatu proses aktif yang terjadi terutama
ditubulus proksimal, reabsorbsi berlangsung ketika sebuah molekul air
terurai ditubulus proksimal menjadi ion H+ dan H- (hidroksil) ion H+
secara aktif disekresikan dan bergabung dengan bikarbonat HCO3
menghasilkan H2CO3 yang dengan bantuan enzim karbonat anhidrase
terurai menjadi CO2 dan H20. Melalui proses ini bikarbonat yang telah
difiltrasi disimpan dan tidak diekskresikan melalui urin.Reaksi H+ +
HCO3- bersifat reversibel.
g. Reabsorbsi Urea
Urea dibentuk dihati sebagai produk akhir metabolisme protein. Urea
defiltrasi secara bebas diglomerulus, Karena sangat permeabel
menembus sebagian besar nefron maka urea berdifusi kembali ke
kapiler peritubulus. Diujung tubulus proksimalis, sekitar 50% urea
yang difiltrasi telah direabsorbsi. Dari ujung tubulus proksimalis ke
duktus pengumpul di medulla, urea kembali menjadi permeabel.

Sewaktu filtrasi meninggalkan ginjal, sekitar 40% urea yang difiltrasi


disekresikan.
3. Sekresi Tubular
Mekanisme sekresi tubular adalah proses aktif yang memindahkan zat
keluar dari darah dalam kapiler peritubular melewati sel-sel tubular
menuju cairan tubular untuk dikeluarkan dalam urine.
Filtrasi, Reabsorpsi dan ekskresi bahan tertentu dari Plasma yang Normal
Natrium
Klorida
Bikarbonat
Kalium
Glukosa
Ureum
Kreatinin
Asam urat

Disaring 24 jam
540,0 g
630,o g
300,0 g
28,0 g
140,0 g
53,0 g
1,4 g
85 g

Direabsorpsi 24 jam
537,0 g
625,0 g
300,0 g
24,0 g
140,0 g
28,0 g
0,0 g
7,7 g

Diekskresikan 24 jam
3,3 g
5,3 g
0,3 g
3,9 g
0,0 g
25,0 g
1,4 g
0,8 g

F. KLIRENS GINJAL
Klirens ginjal (Renal Clearance) suatu bahan mengacu kepada konsentrasi
bahan tersebut yang secara total dibersihkan dari darah untuk kemudian masuk
kedalam unit suatu waktu. Untuk kreatinin. Klirens sebenarnya lebih besar
dari GFR karena selain difiltrasi sebagian kreatinin disekresikan ke dalam
urin.
Salah satu indeks fungsi ginjal yang paling penting adalah Laju Filtrasi
Glomerulus (GFR). Penurunan GFR dapat disebabkan karena total aliran
darah ginjal dan pengurangan dari ukuran dan jumlah glomerulus.
Penurunan bersihan kreatinin dengan usia tidak berhubungan dengan
peningkatan kosentrasi kreatinin serum. Produksi kreatinin sehari-hari (dari
pengeluaran kreatinin di urin) menurun sejalan dengan penurunan bersihan
kreatinin.
Untuk menilai GFR/creatinine clearance rumus di bawah ini cukup akurat
bila digunakan pada usia lanjut.

Cratinine Clearance (pria) = (140-umur) X BB (kg) ml/menit


72 X serum cretinine (mg/dl)
Cretinine Clearance (wanita) = 0,85 X CC pria
Zat-zat yang secara normal tidak keluar melalui urine misalnya glukosa
memiliki klirens 0 .Walaupun glukosa secara bebas difiltrasi di glomerulus,
zat ini secara total direabsorbsi oleh tubulus dan tidak muncul di urine
G. MEKANISME PEMEKATAN GINJAL (SYSTEM COUNTERCURRENT)
Agar dapat bertahan hidup manusia harus mampu mengekskresikan urin
pekat (hipertonik). Sedangkan pada keadaan kelebihan air, manusia harus
mampu mengeksresikan sejumlah besar air dalam urine yang encer
(hipotonik). Melalui countercurrent multiplier sistem dengan bantuan ADH
Countercurrent multiplier system terdapat dilengkung henle, suatu bagian
nefron yang panjang dan melengkung terletak diantara tubulus proksimal dan
distal. Langkah-langkah pada countercurrent multiplier system adalah :
1. Sewaktu

natrium

ditransportasikan

keluar

pars

asendens,

cairan

interstitium yang melingkup lengkung henle menjadi pekat.


2. Air tidak dapat mengikuti natrium keluar pars asenden. Filtrat yang tersisa
secara progresif menjadi encer.
3. Pars asenden lengkung bersifat permeabel terhadap air .air meninggalkan
bagian ini dan mengikuti gradien konsentrasi ke dalam ruangan
interstitium. Sehingga terjadi pemekatan cairan pars asenden, Sewaktu
mengalir ke pars asendens, cairan mengalami pengenceran progresif
karena natrium dipompa keluar.
4. Hasil akhir adalah pemekatan cairan intertitium disekitar lengkung henle.
Konsentrasi tertinggi terdapat di daerah bagian bawah lengkung.
5. Dibagian puncak pars asendens lengkung, cairan tubulus bersifat isotonik
bahkan cenderung hipotonik Tujuan system countercurrent adalah untuk
memekatkan cairan intertitium. Permeabelitas duxtus pengumpul terhadap
air ditentukan oleh kadar ADH dalam darah. Pelepasan ADH oleh hipofisis
posterior sebagai respon terhadap penurunan tekanan darah rendah atau

osmolalitas plasma tinggi,pengeluaran ADH akan meningkat dan air akan


direabsorbsi ke dalam kapiler peritubular sehingga volume dan tekanan
darah naik dan sebaliknya urin manusia yang paling pekat adalah sekitar
1400 miosmol perliter dan konsentrasi yang paling encer adalah kurang
dari 200 miliosmol per liter.
H. URETER
Adalah perpanjangan tubular berpasangan dan berotot dari pelvis ginjal yang
merentang sampai kandung kemih.
1.

Setiap ureter panjangnya antara 25 cm sampai 30


cm dan berdiameter 4 mm sampai 6 mm. Saluran ini menyempit di tiga
tempat: di titik asal ureter pada pelvis ginjal, di titik saat melewati
pinggiran pelvis, dan di titik pertemuannya dengan kandung kemih. Batu
ginjal dapat tersangkut dalam ureter di tiga tempat ini, mengakibatkan
nyeri dan disebut kolik ginjal.

2.

Dinding ureter terdiri dari tiga lapisan jaringan:


lapisan terluar adalah lapisan fibrosa, di tengah adalah muskularis
longitudinal kearah dalam dan otot polos sirkular kearah luar, dan lapisan
terdalam adalah epithelium sukrosa yang mensekresi selaput mucus
pelindung.

3.

Lapisan otot memiliki aktifitas peristaltik intrinsic.


Gelombang peristaltik mengalirkan urine dari kandung kemih ke luar
tubuh.

I. KANDUNG KEMIH ( VESIKA URINARIA )


Adalah organ muscular berongga yang berfungsi sebagai container
penyimpanan urine.
1. Lokasi; Pada laki-laki, kandung kemih terletak tepat di belakang simfisis
pubis dan di depan rectum.pada perempuan, organ ini terletak agak di
bawah uterus di depan vagina. Ukuran organ ini sebesar kacang kenari dan
terletak di pelvis saat kosong; organ berbentuk seperti buah pir dan dapat
mencapai umbilicus dalam rongga abdominopelvis jika penuh berisi urine.

2. Stuktur; Kandung kemih di topang dalam rongga pelvis dalam lipatanlipatan peritoneum dan kondensasi fasia.
a. Dinding kandung kemih, terdiri dari 4 lapisan:
(1) Serosa adalah lapisan terluar. Lapisan ini merupakan perpanjangan
lapisan peritoneal rongga abdominopelvis dan hanya ada di bagian
atas pelvis.
(2) Otot detrusor adalah lapisan tengah. Lapisan ini tersusun dari
berkas-berkas otot polos yang satu sama lain saling membentuk
sudut. Ini untuk memastikan bahwa selama urinasi, kandung kemih
akan berkontraksi dengan serempak ke segala arah.
(3) Submukosa adalah lapisan jaringan ikat yang terletak di bawah
mukosa dan menghubungkannya dengan muskularis.
(4) Mukosa adalah lapisan terdalam. Lapisan ini merupakan lapisan
epitel yang tersusun dari epithelium transisional. Pada kandung
kemih yang relaks, mukosa membentuk ruga (lipatan-lipatan),
yang akan memipih dan mengembang saat urine berakumulasi
dalam kandung kemih.
b. Trigonum adalah area halus, triangular, dan relative tidak dapat
berkembang yang terletak secara internal di bagian dasar kandung
kemih. Sudut-sudutnya terbentuk dari tiga lubang. Di sudut atas
trigonum, dua ureter bermuara ke kandung kemih. Uretra keluardari
kandung kemih di bagian apeks trigonum
J. URETRA
Mengalirkan urine dari kandung kemih ke bagian eksterior tubuh.
1. pada laki-laki, uretra membawa cairan semen dan urine, tetapi tidak pada
waktu yang bersamaan. Uretra laki-laki panjangnya mencapai 20 cm dan
melalui kelenjar prostate dan penis.
a. Uretra prostatik dikelilingi oleh kelenjar prostate. Uretra ini menerima
dua duktus ejaculator yang masing-masing terbentuk dari penyatuan
duktus deferen dan duktus kelenjar vesikel seminal, serta menjadi
tempat bermuaranya sejumlah duktus dari kelenjat prostate.

b. Uretra membranosa adalah bagian yang terpendek (1 cm sampai 2


cm). Bagian ini berdinding tipis dan dikelilingi otot rangka sfingter
uretra eksternal.
c. Uretra

cavernous

(penile,berspons)

merupakan

bagian

yang

terpanjang. Bagian ini menerima duktus kelenjar bolbouretra dan


merentang sampai orifisium uretra eksternal pada ujung penis. Tepat
sebelum mulut penis, uretra membesar untuk membentuk suatu dilatasi
kecil, fosa navicularis. Uretra kavernus dikelilingi korpus spongiosum,
yaitu suatu kerangka ruang vena yang besar.
2. Uretra pada perempuan, berukuran pendek (3,75cm). Saluran ini membuka
keluar tubuh melalui orifisium uretra eksternal yang terletak pada
vestibulum antara klitoris dan mulut vagina. Kelenjar uretra yang homolog
dengan kelenjar prostate pada kali-laki, bermuara ke dalam uretra.
3. Panjangnya uretra laki-laki cenderung menghambat invasi bakteri ke
kandung kemih (sistisis) yang lebih sering terjadi pada perempuan.
K. BERKEMIH
Bergantung pada inervasi parasimpatis dan simpatis juga impuls saraf
volunter. Pengeluaran urine membutuhkan kontraksi aktif otot detrusor.
Proses Berkemih ;
Berkemih (micturition) adalah pengeluaran urin dari tubuh. Berkemih
terjadi ketika sfingter uretra interna dan eksterna di dasar kandung kemih
relaksasi. Kandung kemih terdiri dari sel-sel otot polos, yang dipersyarafi oleh
neuron-neuron sensorik yang berespon terhadap peregangan kandung kemih
dan serat-serat parasimpatis yang berjalan dari daerah sakrum ke kandung
kemih. Sfingter internal juga dipersyarafi oleh saraf-saraf parasimpatis.
Sfingter eksterna terdiri dari otot-otot rangka yang terletak diuretra bagian
atas. Sfingter eksternal dipersyarafi oleh neuron-neuron motorik dari saraf
pudendus. Apabila urine menumpuk maka terjadi peregangan kandung kemih
yang dirasakan oleh serat-serat aferen yang mengirim sinyal ke korda spinalis.
Saraf parasimpatis kekandung kemih diaktifkan yang menyebabkan kontraksi
otot polos. Sewaktu kandung kemih berkontraksi sfingter internal terbuka.
Pada saat yang sama, informasi sensorik peregangan kandung kemih berjalan
dari korda spinalis ke batang otak dan kortek serebrum sehinggan individu

dapat merasakan keinginan berkemih untuk mempermudah berkemih,otot-otot


rangka dapat secara sadar direlaksasikan. Kontrol volunter atas berkemih
mulai berfungsi pada anak sebelum atau pada saat berusia 3 atau 4 tahun.
Kontrol miksi dapat terganggu karena penyakit atau cedera susunan saraf
pusat atau trauma korda spinalis.
BAB II
KONSEP KASUS
A. DEFINISI
Ureter adalah suatu saluran muskuler berbentuk silinder yang
menghantarkan urin dari ginjal menuju kandung kemih. Panjang ureter adalah
sekitar 20-30 cm dengan diameter maksimum sekitar 1,7 cm di dekat kandung
kemih dan berjalan dari hilus ginjal menuju kandung kemih. Ureter dibagi
menjadi pars abdominalis, pelvis,dan intravesikalis.
Ureter memiliki panjang sekitar 25-30 cm. Ureter berfungsi
mentransport urin dari ginjal ke kandung kemih. Terdiri dari tiga lapis yaitu
epitel mukosa pada bagian dalam, otot polos pada bagian tengah dan jaringan
ikat pada bagian luar.
Uretra merupakan saluran yang mengeluarkan urin keluar tubuh.
Uretra terbentang dari dasar kandung kencing ke orifisium uretra eksterna.
Pada laki-laki panjangnya sekitar 20 cm sedangkan pada wanita panjangnya
sekitar 3-5 cm.
Batu Ginjal di dalam saluran kemih(kalkulus uriner) adalah massa
keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa
menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu
ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung
kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis
Batu di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras
seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan
nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi.
Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal
sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada
kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang

saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan
ureter. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran
kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah
karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia
prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra Batu ginjal
adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh
kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi
B. ETIOLOGI
PenyebabTerbentuknya batu bisa terjadi karena air kemih jenuh
dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih
kekurangan penghambat pembentuka batu yang normal. Sekitar 80% batu
terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat,
sistin dan mineral struvit. Batu struvit (campuran dari magnesium, amonium
dan fosfat) juga disebut batu infeksi karena batu ini hanya terbentuk di dalam
air kemih yang terinfeksi. Ukuran batu bervariasi, mulai dari yang tidak dapat
dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 sentimeter atau lebih.
Batuyang besar disebut kalkulus staghorn. Batuini bisa mengisi hampir
keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis.
Faktor faktor yang mempengaruhi pembentukan batu
1. Faktor Endogen
Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan
hiperoksalouria.
2. Faktor Eksogen
Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral
dalam air minum.
Faktor lain
1. Infeksi
Infeksi Saluran Kencing (ISK) dapat menyebabkan nekrosis jaringan
ginjal dan akan menjadi inti pembentukanabatu Saluran Kencing (BSK)

Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan
mengubah pH Urine menjadi alkali.
2. Stasis dan Obstruksi Urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah Infeksi Saluran
Kencing.
3. Jenis Kelamin
Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita dengan perbandingan
3:1
4. Ras
BatuSaluran Kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia.
5. Keturunan
Anggota keluarga batu Saluran Kencing lebih banyak mempunyai
kesempatan
6. Air Minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi
kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan
kadar semua substansi dalam urine meningkat.
7. Pekerjaan
Pekerja

keras

yang

banyak

bergerak

mengurangi

kemungkinan

terbentuknya batu dari pada pekerja yang lebih banyak duduk.


8. Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringan.
9. Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas
batu Saluran Kencing berkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang
makan putih telur lebih sering menderita batuSaluran Kencing (buli-buli
dan Urethra).
C. PATOFISIOLOGI
1. Teori Intimatriks
Terbentuknya batu Saluran Kencing memerlukan adanya substansi organik
Sebagai inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein

A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan


batu.
2. Teori Supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti sistin,
santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
3. Teori Presipitasi-Kristalisasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine.
Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin dan garam urat,
urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat.
4. Teori Berkurangnya Faktor Penghambat
Berkurangnya Faktor Penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat,
polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah
terbentuknya batu Saluran Kencing.
D. MANIFESTASI KLINIS
Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di
dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah.
Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis
bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat).
Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di
daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut,
daerah kemaluan dan paha sebelah dalam.
Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung,
demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi
sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter. Batu bisa
menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih,
bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas
penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung
lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan
penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada
akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal.

Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di


dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu
yang menyumbat urete, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa
menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat).
Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di
daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut,
daerah kemaluan dan paha sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan
muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air
kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu
melewati ureter. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu
menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang
terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan
ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam
ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal
(hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal.
Ketika batu menghambat dari saluran urin, terjadi obstruksi,
meningkatkan tekanan hidrostatik. Bila nyeri mendadak terjadi akut disertai
nyeri tekan disaluran osteovertebral dan muncul mual muntah maka klien
sedang mengalami episode kolik renal. Diare, demam dan perasaan tidak
nyaman di abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini akibat refleks
dan proxsimitas anatomik ginjal kelambung, pangkereas dan usus besar. Batu
yang terjebak dikandung kemih menyebabkan gelombang nyeri luar biasa,
akut dan kolik yang menyebar kepala obdomen dan genitalia. Klien sering
merasa ingin kemih, namun hanya sedikit urin yang keluar, dan biasanya
mengandung darah akibat aksi abrasi batu gejala ini disebabkan kolik ureter.
Umumnya klien akan mengeluarkan batu yang berdiameter 0,5 sampai dengan
1 cm secara spontan. Batu yang berdiameter lebih dari 1 cm biasanya harus
diangkat atau dihancurkan sehingga dapat dikeluarkan secara spontan dan
saluran urin membaik dan lancar. ( Brunner and Suddarth. 2001).
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Adapun pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien batu


kandung kemih
adalah :
1. Urinalisa
Warna kuning, coklat atau gelap.
2. Foto KUB
Menunjukkan ukuran ginjal ureter dan ureter, menunjukan adanya batu.
3. Endoskopi ginjal
Menentukan pelvis ginjal, mengeluarkan batu yang kecil.
4. EKG
Menunjukan ketidak seimbangan cairan, asam basa dan elektrolit.
5. Foto Rontgen
Menunjukan adanya di dalam kandung kemih yang abnormal.
6. IVP ( intra venous pylografi )
Menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih,membedakan
derajat obstruksi kandung kemih divertikuli kandung kemih dan penebalan
abnormal otot kandung kemih.
7. Vesikolitektomi ( sectio alta ):
Mengangkat batu vesika urinari atau kandung kemih.
8. Litotripsi bergelombang kejut ekstra korporeal.
Prosedur menghancurkan batu ginjal dengan gelombang kejut.
9. Pielogram retrograd
Menunjukan abnormalitas pelvis saluran ureter dan kandung kemih.
Diagnosis ditegakan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih, urografi
intravena atau pielografi retrograde. Uji kimia darah dengan urine dalam 24
jam untuk mengukur kalsium, asam urat, kreatinin, natrium, dan volume total
merupakan upaya dari diagnostik. Riwayat diet dan medikasi serta adanya
riwayat batu ginjal, ureter, dan kandung kemih dalam keluarga di dapatkan
untuk mengidentifikasi faktor yang mencetuskan terbentuknya batu kandung
kemih pada klien.
Pemeriksaan diagnostik

a. Urinalisa : warna : normal kekuning-kuningan, abnormal merah


menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis,
tumor,kegagalan ginjal). pH : normal 4,6 6,8 (rata-rata 6,0), asam
(meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali (meningkatkan
magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), Urine 24 jam :
Kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin
meningkat), kultur urine menunjukkan Infeksi Saluran Kencing , BUN
hasil normal 5 20 mg/dl tujuan untuk memperlihatkan kemampuan ginjal
untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. BUN menjelaskan secara kasar
perkiraan Glomerular Filtration Rate. BUN dapat dipengaruhi oleh diet
tinggi protein, darah dalam saluran pencernaan status katabolik (cedera,
infeksi). Kreatinin serum hasil normal laki-laki 0,85 sampai 15mg/dl
perempuan 0,70 sampai 1,25 mg/dl tujuannya untuk memperlihatkan
kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. Abnormal
(tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu
obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
b. Darah lengkap : Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau
polisitemia.
c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH
merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum
dan kalsium urine.
d. Foto Rontgen : menunjukkan adanya calculi atau perubahan anatomik
pada area ginjal dan sepanjang uriter.
e. IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri
abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur
anatomik (distensi ureter).
f. Sistoureteroskopi : visualisasi kandung kemih dan ureter dapat
menunjukkan batu atau efek ebstruksi.
g. USG Ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu.
F. PENGKAJIAN DATA DASAR
1. Riwayat atau adanya faktor resiko

a. Perubahan metabolik atau diet


b. Imobilitas lama
c. Masukan cairan tak adekuat
d. Riwayat batu atau Infeksi Saluran Kencing sebelumnya
e. Riwayat keluarga dengan pembentukan batu

2. Pemeriksaan fisik berdasarka pada survei umum dapat menunjukkan :


a. Nyeri. Batu dalam pelvis ginjal menyebabkan nyeri pekak dan
konstan.Batu ureteral menyebabkan nyeri jenis kolik berat dan hilang
timbul yang berkurang setelah batu lewat.
b. Mual dan muntah serta kemungkinan diare
c. Perubahan warna urine atau pola berkemih, Sebagai contoh, urine
keruh dan bau menyengat bila infeksi terjadi, dorongan berkemih
dengan nyeri dan penurunan haluaran urine bila masukan cairan tak
adekuat atau bila terdapat obstruksi saluran perkemihan dan hematuri
bila terdapat kerusakan jaringan ginjal
G. PENATALAKSANAAN
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu,
menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengidentifikasi infeksi,
serta mengurangi obstruksi akibat batu. Cara yang biasanya digunakan untuk
mengatasi batu kandung kemih adalah :
1. Vesikolitektomi atau secsio alta.
2. Litotripsi gelombang kejut ekstrakorpureal.
3. Ureteroskopi.
4. Nefrostomi.
H. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri pada daerah pinggang) berhubungan dengan
cedera jaringan sekunder terhadap adanya batu pada ureter atau pada ginjal

2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya obstruksi (calculi)


pada renal atau pada ureter
3. Kecemasan berhubungan dengan kehilangan status kesehatan.
4. Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang
diprogramkan

dan

pemeriksaan

diagnostik

berhubungan

dengan

kurangnya informasi.
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri pada daerah pinggang) berhubungan
dengan cedera jaringan sekunder terhadap adanya batu pada ureter
atau pada ginjal
-

Kolik yang berlebihan

Lemes, mual, muntah, keringat dingin

Pasien gelisah

TUJUAN/KRITERIA
Tujuan :
Rasa sakit dapat diatasi/hilang
Kriteria :
-

Kolik berkurang/hilang

Pasien tidak mengeluh nyeri

Dapat beristirahat dengan tenang

RENCANA TINDAKAN
-

Kaji intensitas, lokasi dan tempat/area serta penjalaran dari nyeri.

Observasi adanya abdominal pain

Kaji adanya keringat dingin, tidak dapat istirahat dan ekspresi wajah.

Jelaskan kepada pasien penyebab dari rasa sakit/nyeri pada daerah


pinggang tersebut.

Anjurkan pasien banyak minum air putih 3 4 liter perhari selama


tidak ada kontra

indikasi.

Berikan posisi dan lingkungan yang tenang dan nyaman.

Ajarkan teknik relaksasi, teknik distorsi serta guide imagine

Kolaborasi dengan tim dokter :

Pemberian Cairan Intra Vena

Pemberian obat-obatan Analgetic, Narkotic atau Anti Spasmodic.

Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian obat-obat


Narkotic, Analgetic dan Anti Spasmodic.

Rasional
-

Peningkatan nyeri adalah indikatif dari obstruksi, sedangkan nyeri


yang hilang tiba-tiba menunjukkan batu bergerak. Nyeri dapat
menyebabkan shock.

Kemungkinan adanya penyakit/komplikasi lain.

Kemungkinan salah satu tanda shock

Memberikan informasi tentang penyebab dari rasa sakit/nyeri pada


daerah pinggang tersebut.

Cairan membantu membesihkan ginjal dandapat mengeluarkan batu


kecil.

Untuk mengurangi sumber stressor

Untuk mengurangi/menghilang kan nyeri tanpa obat-obatan

Untuk memudahkan pemberian obat serta pemenuhan cairan bila mual,


muntah dan keringat dingin terjadi.

Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri/kolik


yang berlebihan

Untuk mengetahui efek samping yang tidak diharapkan dari pemberian


obat-obatan tersebut.

2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya obstruksi


(calculi) pada renal atau pada ureter.
Data Penunjang :
-

Urine out put < 30 cc per jam

Daerah perifer dingin pucat

TD < 100/70 mmHg,

HR > 120 X/mt,

RR > 28 X/mt.

Pengisian kapiler > 3 detik

TUJUAN/KRITERIA
Tujuan :
Gangguan perfusi dapat diatasi
Kriteria :
-

Produksi urine 30 50 cc perjam.

Perifer hangat

Tanda-tanda vital dalam batas normal :

Sistolik 100 140 mmHg.

Diastolik 70 90 mmHg.

Nadi 60 100 X/mt

Pernafasan 16 24 X/mt

Pengisian kapiler < 3 detik

RENCANA TINDAKAN
-

Observasi tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah dan pernafasan).

Observasi Produksi urine setiap jam.

Observasi perubahan tingkat kesadaran.

Kolaborasi dengan tim kesehatan:

Pemeriksaan laboratorium : kadar ureum/kreatinin, Hb, urine HCT.

Pemberian diet rendah protein, rendah kalsium dan posfat

Pemberian ammonium chloride dan mandelamine.

Rasional
-

Untuk mendeteksi dini terhadap masalah

Untuk mendeteksi dini terhadap masalah

Untuk mendeteksi dini terhadap masalah

Untuk mendeteksi dini terhadap masalah

Untuk mencegah/ mengurangi masalah

Untuk mencegah/ mengurangi masalah

3. Kecemasan berhubungan dengan kehilangan status kesehatan.


-

Ekspresi wajah tegang, gelisah, tidak bisa tidur.

Tidak kooperatif dalam pengobatan.

HR = 125 X/mt

TUJUAN/KRITERIA
Tujuan :
Rasa cemas dapat diatasi/berkurang.
Kriteria :
-

Pasien dapat nenyatakan kecemasan yang dirasakan.

Pasien dapat beristirahat dengan tenang.

Nadi dalam batas normal.

Ekspresi wajah ceria/rileks.

RENCANA TINDAKAN
-

Berikan dorongan terhadap tiap-tiap proses kehilangan status


kesehatan yang timbul.

Berikan privacy dan lingkungan yang nyaman.

Batasi staf perawat/petugas kesehatan yang menangani pasien.

Observasi bahasa non verbal dan bahasa verbal dari gejala-gejala


kecemasan.

Temani pasien bila gejala-gejala kecemasan timbul.

Berikan kesempatan bagi pasien untuk mengekspresikan perasaannya .

Hindari konfrontasi dengan pasien.

Berikan informasi tentang program pengobatan dan hal-hal lain yang


mencemaskan pasien.

Lakukan intervensi keperawatan dengan hati-hati dan lakukan


komunikasi terapeutik.

Anjurkan pasien istirahat sesuai dengan yang diprogramkan.

Berikan dorongan pada pasien bila sudah dapat merawat diri sendiri
untuk meningkatkan harga dirinya sesuai dengan kondisi penyakit.

Hargai setiap pendapat dan keputusan pasien

Rasional
-

Untuk mengurangi rasa cemas

privacy dan lingkungan yang nyaman dapat mengurangi rasa cemas.

Untuk dapat lebih memberikan ketenangan.

Untuk mendeteksi dini terhadap masalah

Untuk mengurangi rasa cemas

Kemampuan pemecahan masalah pasien meningkat bila lingkungan


nyaman dan mendukung diberikan.

Untuk mengurangi ketegangan pasien

Informasi

yang

diberikan

dapat

membantu

mengurangi

kecemasan/ansietas
-

Untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan

Untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan pasien

Untuk mengurangi ketergantungan pasien

Untuk meningkatkan harga diri pasien.

4. Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang


diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan
kurangnya informasi.
-

Pasien menyatakan belum memahami tentang penyakitnya.

Pasien bertanya-tanya tentang proses penyakit dan pengobatan.

Pasien kurang kooperatif dalam program pengobatan

TUJUAN/KRITERIA
Tujuan :
Pengetahuan pasien tentang penyakitnya meningkat
Kriteria
-

Pasien dapat menjelaskan kembali tentang sifat penyakit, tujuan


tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik.

Pasien tidak bertanya lagi tentang keadaan penyakit dan program


pengobatannya.

Pasien kooperatif dalam program pengobatan.

RENCANA TINDAKAN
-

Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit dan


pengobatannya.

Berikan penjelasan tentang penyakit, tujuan pengobatan dan program


pengobatan.

Berikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengekspresikan


perasaannya dan mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang belum
dipahami.

Diskusikan pentingnya banyak minum air putih 3 4 liter perhari


selama tidak ada kontra indikasi.

Diskusikan tentang pentingnya diet rendah protein, rendah kalsium dan


posfat.

Batasi aktifitas fisik yang berat.

Rasional
-

Pengetahuan membantu mengembangkan kepatuhan pasien dan


keluarga terhadap rencana terapeutik

Untuk menambah pengetahuan pasien

Meningkatkan kemampuan pasien untuk memecahkan masalah

Untuk menambah pengetahuan pasien bahwa cairan dapat membantu


pembersihan

ginjal dan dapat mengeluargan batu kecil

Untuk menambah pengetahuan pasien dan mencegah kekambuhan

Untuk mencegah kekambuhan

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
Nama mahasiswa

NPM

INFORMASI UMUM
Nama

Umur

Jenis kelamin

Tanggal masuk

Aktifitas /istirahat
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
sirkulasi
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
integritas ego
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
eliminasi
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
Makanan/cairan
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
Higiene

Lima Florensia

Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
Neurosensori
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
Nyeri/tidak nyaman
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
Pernafasan
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
Keselamatan
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
Seksualitas
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
Interaksi sosial
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)
Penyuluhan/pembelajaran
Gejala(subjektif
Tanda (objektif)

B. Evaluasi