Anda di halaman 1dari 164

EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH DALAM

ERA OTONOMI DAERAH PADA MASYARAKAT SUKU


SAKAI DI KABUPATEN BENGKALIS PROPINSI RIAU

TESIS

Oleh
SYARIFAH M
087011118/MKn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH DALAM ERA


OTONOMI DAERAH PADA MASYARAKAT SUKU SAKAI DI
KABUPATEN BENGKALIS PROPINSI RIAU

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar


Magister Kenotariatan Dalam Program Studi Magister Kenotariatan
Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh

SYARIFAH M
087011118/MKn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

:
:
:

EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH DALAM


ERA OTONOMI DAERAH PADA MASYARAKAT
SUKU SAKAI DI KABUPATEN BENGKALIS
PROPINSI RIAU
Syarifah M
087011118
Kenotariatan

Menyetujui
Komisi Pembimbing,

Prof.Dr. Muhammad Yamin, SH. MS, CN


Ketua

Prof. Dr. Runtung, SH, MHum


Anggota

Notaris Syahril Sofyan, SH. MKn


Anggota

Ketua Program Studi,

Dekan,

Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH. MS, CN

Prof. Dr. Runtung, SH, MHum

Tanggal Lulus : 30 Agustus 2010

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada :


Tanggal 30 Agustus 2010
____________________________________________________________________

PANITIA PENGUJI TESIS


Ketua

: Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN

Anggota

: 1. Prof. Dr. Runtung, SH, MHum


2. Notaris. Syahril Sofyan, SH, MKn
3. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, Mhum
4. Notaris. Chairani Bustami, SH, SPn, MKn

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Syarifah M

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Tempat/Tanggal Lahir

: Pekanbaru / 19-Mei-1985

Alamat

: Jl. Dr. Mansyur Gg. Berkat No.6 Medan

PENDIDIKAN :
1991-1997

: SDN 033 KAMPUNG MELAYU SUKAJADI, PEKANBARU

1997-2000

: MTs DARUL HIKMAH, PEKANBARU

2000-2003

: MAN 2 MODEL, PEKANBARU

2003-2008

: FAKULTAS

HUKUM

UNIVERSITAS

ISLAM

RIAU,

PEKANBARU
2008-2010

: PROGRAM

STUDI

MAGISTER

KENOTARIATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA, MEDAN

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Masyarakat Suku Sakai di Kabupaten Bengkalis merupakan masyarakat


hukum adat yang masih memiliki wilayah tanah ulayat. Akan tetapi dalam
kenyataannya luas wilayah tanah ulayat tersebut mengalami penurunan karena
penguasaan dan pengambilalihan oleh pihak lain. Pengambilalihan tersebut
menimbulkan masalah ekonomi bagi masyarakat Sakai karena tidak dapat lagi
memanfaatkan tanah dan hutan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Keadaan ini bertentangan dengan Pasal 3 UUPA yang menyatakan bahwa Negara
secara tegas mengakui keberadaan hak ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat
hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada. Undang-Undang tersebut
didukung oleh Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5 Tahun 1999 Tentang
Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat. Disamping itu
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah juga
memberikan kewenangan sepenuhnya kepada pemerintah daerah untuk mengurus
kepentingan masyarakat hukum adatnya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui dan memahami eksistensi hak ulayat atas tanah serta untuk
mengetahui bagaimana penyerahan hak ulayat atas tanah pada masyarakat Suku
Sakai.
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan menggunakan pendekatan
yuridis normatif. Pengumpulan data dan informasi diperoleh dari penelitian
kepustakaan dan penelitian lapangan, dengan menggunakan teknik penelitian studi
kepustakaan dan wawancara. Kemudian data dianalisa dengan metode kualitatif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa eksistensi hak ulayat atas tanah dalam era
otonomi daerah pada masyarakat Suku Sakai cenderung melemah, oleh karena itu
pemerintah daerah mempunyai peran yang besar dalam penetapan eksistensi
masyarakat hukum adat serta tanah ulayatnya, dengan mewujudkannya dalam sebuah
Peraturan Daerah, hal ini selaras dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
Tentang Pemerintah Daerah. Begitu pun dalam pelepasan dan penyerahan tanah
ulayat kepada pihak luar diperbolehkan akan tetapi harus dengan izin kepala suku, hal
ini sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5
Tahun1999, bahwa pelepasan atau penyerahan tanah ulayat masyarakat hukum adat
harus sesuai dengan ketentuan dan tata cara hukum adat yang berlaku.

Kata Kunci : Eksistensi Hak Ulayat Masyarakat Suku Sakai

i
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Society Tribe of Sakai in Sub-Province of Bengkalis represent customary law


society which still have customary right for land of ground region. However in wide
of in reality of the customary right for land ground region experience of degradation
because and domination of taking over by the other party. The act of take over
generate the problem of economics to society of Sakai because cannot again exploit
their forest and land ground to fulfill requirement of everyday life. This situation
oppose against Section of 3 UUPA expressing that State expressly confess existence
of customary right for land rights and is similar rights from customary law society, as
long as according to in reality there is still. The code supported by Regulation of
Minister of Agraria / lead BPN Number 5 Year 1999 About Guidance Of Solution Of
Problem Rights Customary Right For Land Society Customary Law. Beside that
CodeNumber 32 Year 2004 About Local Government also give full outhority to a
local government to manage importance of its customary law society. Therefore this
research aim to know and comprehend customary right for land rights existance of
land ground and also to know how delivery of customary right for land rights of land
ground at Tribe society of Sakai.
This research have the character of analytical descriptive by using approach of
normatic juridict. Data collecting and information obtained from research of
bibliography and research of field, by using technique research of bibliography study
and interview. And then data analysed with method qualitative.
The Result of research showing that the customary right for land rights
existence of land ground in autonomous era of area at Tribe society of Sakai tend
toweaken, therefore local government have big role in stipulating of customary law
society existence and also its customary right for land ground, by realizing hit in a By
Law, this matter in harmony with Code Number 32 Year 2004 About Local
Government. So even also in release and delivery of customary right for land ground
to outside party enabled however having to with permit lead tribe, this matter
pursuant to in Regulation of Minister of Agraria / lead BPN Number 5 Tahun1999,
that release or delivery of customary law society customary right for land
land;ground have to pursuant to and customary law procedures going into effect.

Key note : Community land, society tribe of Sakai

ii
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang


dengan berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis
ini dengan judul EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH DALAM ERA
OTONOMI

DAERAH

KABUPATEN

PADA

BENGKALIS

MASYARAKAT

PROPINSI

RIAU.

SUKU

SAKAI

Penulisan

tesis

DI
ini

merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister


Kenotariatan (M.Kn.) Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan
bantuan serta dorongan moril berupa masukan dan saran, sehingga penulisan
tesis dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima
kasih yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang
terhormat Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin SH, MS, CN, Bapak Dr.
Runtung, SH, Mhum, Bapak Notaris Syahril Sofyan SH, MKn selaku
Komisi Pembimbing yang dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan
arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini. Dan juga, semua pihak yang
telah berkenan memberi masukan dan arahan yang konstruktif dalam
penulisan tesis ini sehingga tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah.

iii
Universitas Sumatera Utara

Selanjutnya ucapan terima kasih penulis

yang sebesar-besarnya

kepada :
1. Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas
yang diberikan kepada kami untuk mengikuti dan menyelesaikan
pendidikan Program Pascasarjana Magister Kenotariatan (M.Kn.) Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. M. Yamin, S.H., M.S., CN., selaku Ketua Program
Pascasarjana Magister Kenotariatan (M.Kn.) dan Ibu Dr. Keizerina Devi
A., S.H., CN., M.Hum. beserta seluruh staf atas bantuan, kesempatan dan
fasilitas yang diberikan, sehingga dapat diselesaikan studi pada Program
Pascasarjana Magister Kenotariatan (M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak dan Ibu Guru Besar juga Dosen Pengajar pada Program
Pascasarjana Magister Kenotariatan (M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis.
Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang
yang penulis sayangi :

iv
Universitas Sumatera Utara

1. Ayahanda Said Husin dan Ibunda Yulizar yang telah memberikan doa dan
perhatian yang cukup besar selama ini,

juga buat Saudara-saudaraku

tercinta Said Muhammad Kamal, Syarifah Nurlia, Syarifah Fadlun,


Syarifah Yansri Fiani sehingga penulis dapat menyelesaikan studi pada
Program Pascasarjana Magister Kenotariatan (M.Kn.) Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Yang tercinta Ardian S Kurnia terima kasih buat kesabaran, perhatian,
dukungan, bantuan dan motivasinya sehingga kita bisa sama-sama
menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana Magister Kenotariatan
(MKn).
3. Terima Kasih yang mendalam kepada Sahabat-sahabat terbaikku kak Eka,
Icha, Echi, Junita, Adis, Fitri, kak Tina, Kak Meri, Kak Yuna, Kak Reni,
Ali, Yola, Azmi, kita akan gapai bintang tertinggi kita.
4. Rekan-rekan Mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan (MKn)
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang tidak dapat penulis
sebutkan satu-persatu.

v
Universitas Sumatera Utara

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun
penulis berharap kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat kepada semua
pihak.
Medan, Agustus 2010
Penulis,

Syarifah M

vi
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ..

ABSTRACT

ii

KATA PENGANTAR iii


DAFTAR ISI .. vii
BAB I

: PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Penelitian .... 1
B.

Permasalahan 14

C.

Tujuan Penelitian 14

D. Manfaat Penelitian .. 14
E.

Keaslian Penelitian .. 15

F.

Kerangka Teori dan Konsepsi .. 16

G. Metode Penelitian 28
BAB II : EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH DALAM
ERA OTONOMI DAERAH PADA MASYARAKAT SUKU
SAKAI DI KABUPATEN BENGKALIS
PROPINSI RIAU............................................................................... 33
A. Pengakuan Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat 33
1. Dasar Pengaturan Hak Ulayat 33
2. Kriteria dan Penentuan Adanya Hak Ulayat...... 41

vii
Universitas Sumatera Utara

13

B. Otonomi Daerah Dan Hak-Hak Penguasaan Atas Tanah. 52


C. Masyarakat Suku Sakai Kabupaten Bengkalis. 63
1. Deskripsi Masyarakat Suku Sakai. 63
2. Pola Kehidupan Masyarakat Suku Sakai 71
3. Hak-Hak Atas Tanah Pada Masyarakat Suku Sakai.. 79
D. Eksistensi Hak Ulayat Atas Tanah Pada Masyarakat Suku
Sakai Di Kabupaten Bengkalis. 89
BAB III : PENYERAHAN HAK ULAYAT ATAS TANAH
OLEH MASYARAKAT SUKU SAKAI KEPADA PIHAK
LAIN DIKAITKAN DENGAN PERATURAN
MENTERI AGRARIA / KEPALA BADAN
PERTANAHAN NOMOR 5 TAHUN 1999....

116

A. Perkembangan Hak Ulayat Sebelum dan Sesudah lahirnya


Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5
Tahun1999....

116

B. Permasalahan-permasalahan Hukum Pada Waktu Penyerahan


Hak Ulayat Atas Tanah Oleh Masyarakat Sakai Kepada
Pihak Ketiga..

121

C. Solusi Penyerahan Hak Ulayat Atas Tanah.. 129


BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN 135
A. Kesimpulan 135
B. Saran..
DAFTAR PUSTAKA .....

136
xi

viii
Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya setiap orang maupun badan hukum membutuhkan tanah.
Karena tidak ada satupun aktivitas orang badan hukum dalam kegiatan pembangunan
yang tidak membutuhkan tanah. Tanah merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha
Esa. Ketersediaan tanah sebagai sebagai sumber daya alam relatif tidak berubah dan
statis, sedangkan pertumbuhan penduduk atau populasi manusia diatas permukaan
bumi ini terus berkembang atau semakin bertambah banyak. Tanah merupakan
kebutuhan pokok manusia, manusia bertindak secara sedikit demi sedikit untuk
memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alam pada tanah untuk memenuhi tututan
hidupnya yang utama, yaitu pangan, sandang dan papan (kebutuhan primer), sehingga
tanah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia begitu pula sebaliknya. Begitu
pula bagi masyarakat hukum adat, sumber rezeki terbesar mereka untuk memenuhi
kebutuhan hidup dominannya bersumber diatas tanah.
Begitu pentingnya tanah bagi kehidupan manusia sehingga perlu adanya suatu
peraturan yang mengatur tentang pertanahan, Baik itu tentang penggunaan,
peruntukan, penguasaan dan kepemilikan dari tanah tersebut. Oleh karena itu dengan
berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, yang merupakan
suatu pencerahan dalam sistem pertanahan di Indonesia, selain itu adanya dualisme
dalam bidang hukum pertanahan yaitu berlakunya hukum adat disamping hukum

1
Universitas Sumatera Utara

agraria yang didasarkan atas hukum barat. Oleh karena itulah dirasakan perlunya
Hukum Agraria yang seragam dan bersifat nasional dalam hal ini UUPA.
Pengertian tanah yang berkembang di tengah masyarakat tidak sama
sebagaimana yang ditetapkan di dalam undang-undang. Tanah menurut UUPA adalah
permukaan bumi. Bumi itu sendiri terdiri dari 3 (tiga) unsur yaitu permukaan bumi,
tubuh bumi, dan yang berada di bawah air. Dari ketiga unsur itu yang dimaksudkan
dengan tanah hanyalah permukaan bumi saja.
Sebagaimana ditegaskan di dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA sebagai berikut: Atas
dasar hak menguasai dari negara sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2
ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi yang disebut tanah, yang
dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersamasama dengan orang lain serta badan-badan hukum.
Masalah pertanahan mendapat perhatian serius dari negara, perhatian tersebut
tertuang dalam ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menentukan bahwa :
Bumi, air dan kekayaan alam yang ada di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Ketentuan pada Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menjadi landasan konstitusional
dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok
Agraria, atau disingkat dengan UUPA. Dalam pasal tersebut arti menguasai dalam hal
ini bukan berarti menghilangkan hak-hak pemilikan atas tanah bagi tiap warga negara

Universitas Sumatera Utara

Indonesia, melainkan menguasai dalam arti mengatur dan mengawasi sedemikian


rupa dalam tiap-tiap pendayagunaan tanah-tanah tersebut agar para pemilik tanah atau
pemegang hak-hak lainnya (hak pakai, hak guna usaha, penyewa dan lain sebagainya)
:
a.

Tidak melakukan kerusakan-kerusakan atas tanah.

b. Tidak menelantarkan tanah;


c. Tidak melakukan pemerasan-pemerasan atas tanah atau pendayagunaan
(exploitation) yang melebihi batas;
d. Tidak menjadikan tanah sebagai alat untuk pemerasan keringat dan pemerasan
lainnya terhadap orang lain (exploitation des IHomme par L.Homme). 1
Hukum Agraria di Indonesia sejak zaman penjajahan bersifat dualisme hal
ini terjadi dengan tujuan bangsa asing untuk menjajah ke Indonesia adalah untuk
memperoleh hasil yang sebanyak-banyaknya dari bumi Indonesia. 2 Keadaan seperti
ini tidak lepas dari campur tangan

Pemerintahan Hindia Belanda yang lebih

mengutamakan penghargaan dan penghormatan terhadap hak-hak individu serta lebih


berfikir rasional yang dipengaruhi oleh perkembangan negara tersebut.
Setelah Indonesia merdeka ketentuan-ketentuan agraria Hindia Belanda secara
berangsur-angsur dihapuskan karena dirasakan tidak sesuai lagi, maka dilakukanlah
1

Kartasapoetra G dkk, Hukum Tanah Jaminan UUPA Bagi Keberhasilan Pendayagunaan


Tanah, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1985, Hal.9.
2
Chadidjah Dalimunthe, Politik Hukum Agraria Nasional Terhadap Hak-Hak Atas Tanah,
Yayasan Pencerahan Mandailing, Medan, 2008, Hal.4

Universitas Sumatera Utara

perombakan atas hukum agraria. Karena perombakan hukum secara total

tidak

memungkinkan, maka perombakan hukum agraria di Indonesia dilakukan secara


sporadis yang berarti secara berangsur-angsur satu demi satu peraturan yang
bertentangan dengan alam nasional Indonesia dihapuskan dan diganti dengan
peraturan agraria yang baru yang berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia.
Di Indonesia penegakan hukum yang dilakukan oleh para penegak hukum
yang masih berpegang teguh pada hukum adat dan masih menghargai adat itu sendiri.
Didalam masyarakat, hukum yang berlaku adalah hukum adat, sebab hukum adat
dapat disebut juga hukum kebiasaan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat terdapat tingkah laku manusia yang sudah ada dari zaman nenek moyang,
karena masih begitu kuatnya adat istiadat peninggalan nenek moyang yang dianggap
masih harus terus dipertahankan walaupun kehidupan manusia terus berkembang
sesuai perkembangan zaman .
Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat yang majemuk. Hal ini
dapat dilihat pada penamaan masyarakat-masyarakat tersebut dengan nama DESA
yang berasal dari daerah-daerah tertentu di Indonesia. Desa merupakan spesies
sebagai halnya dengan kuria, marga, nagari dan seterusnya. Demikian juga halnya
dengan pemerintah desa, serta pengangkatan kepala desa yang didasarkan kepada
pemilihan. Banyak masyarakat hukum adat di Indonesia ini yang sekaligus

Universitas Sumatera Utara

mempunyai dasar genealogis dan teritorial, apakah kenyataan tersebut akan


dihapuskan atau lebih baik dikembangkan.
Mengenai

masyarakat

hukum

adat,

telah

terjadi

penguasaan

dan

pengambilalihan terhadap tanah hak masyarakat adat. Pada awalnya kasus-kasus


pelanggaran terhadap hak atas tanah ulayat memang hanya dalam skala kecil, seperti
bentuk pelanggaran hak ekonomi dan sosial, namun dalam skala lebih besar
terkadang malah terjadi pelanggaran hak-hak sipil dan politik yang terkadang disertai
dengan kekerasan hingga sampai memakan korban jiwa dan harta benda yang apabila
tidak dapat ditangani dengan baik akan meluas dan berkembang menjadi pelanggaran
terhadap hak azasi manusia.
Hal seperti inilah yang menyebabkan masyarakat berada dalam kondisi yang
tidak berdaya untuk melindungi kepentingan sendiri, yang pada akhirnya masyarakat
selalu melakukan pengorbanan-pengorbanan baik perasaan sedih maupun kecewa
karena harus melepaskan tanah peninggalan leluhur nenek moyang mereka, yang
menjadi sumber penghidupan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Tanah ulayat adalah bidang tanah yang diatasnya terdapat hak ulayat dari
suatu masyarakat hukum tertentu.Hak atas tanah ulayat ialah bersifat kolektif, dan
bukan merupakan hak yang bersifat individual sebagaimana hak atas tanah yang
dikenal dalam sistem hukum barat, dimana adanya suatu hubungan struktural yang
erat

antara

masyarakat

yang

bersangkutan

dengan

lingkungan

tempat

Universitas Sumatera Utara

menggantungkan hidupnya, yang memiliki implikasi bahwa hak atas tanah ulayat
tidak dapat ditangani dan dipahami terpisah dari masyarakat hukum adat itu sendiri.
Dalam ketentuan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menjadi landasan
konstitusional dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-pokok Agraria, yang disebut Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). UUPA
di undangkan dalam Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, sedangkan
penjelasan UUPA dimuat dalam Tambahan Negara Tahun 1960 Nomor 2043.
Undang-undang tersebut menentukan bahwa bumi air dan kekayaan alam yang
terkandung didalamnya dikuasai oleh negara.
Arti menguasai dalam hal ini bukan berarti menghilangkan hak-hak pemilikan
atas tanah bagi tiap warga negara Indonesia, akan tetapi negara memiliki kewenangan
untuk menentukan dan mengatur hubungan hukum antara orang-orang dengan tanah,
karena berdasarkan Pasal 33 ayat (3) tersebut terkandung makna adanya hubungan
penguasaan, yang artinya bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat.
Hubungan hukum antara negara dengan tanah melahirkan hak menguasai
negara, sedangkan hubungan hukum antara masyarakat hukum adat dengan tanah
ulayatnya akan melahirkan hak ulayat, dan hubungan antara perorangan dengan tanah
melahirkan hak-hak perorangan atas tanah. Idealnya hubungan ketiga hal tersebut

Universitas Sumatera Utara

(hak menguasai tanah oleh negara, hak ulayat dan hak perorangan atas tanah) terjalin
secara harmonis dan seimbang, artinya ketiga hak tersebut sama kedudukan dan
kekuatannya, dan tidak saling merugikan. Namun peraturan perundang-undangan di
Indonesia memberi kekuasaan yang besar dan tidak jelas batas-batasnya kepada
negara untuk menguasai semua tanah yang ada di wilayah Indonesia. Akibatnya
terjadi dominasi hak menguasai tanah oleh negara terhadap hak ulayat dan
perorangan atas tanah, sehingga memberi peluang kepada negara untuk bertindak
sewenang-wenang dan berpotensi melanggar hak ulayat dan hak perorangan atas
tanah. 3
Kewenangan negara untuk mengatur hubungan hukum antara orang-orang
dengan tanah termasuk juga masyarakat hukum adat dengan tanah ulayatnya, serta
pengakuan dan perlindungan hak-hak yang timbul dari hubungan-hubungan hukum
tersebut, sehingga dalam hal ini hukum yang mengatur pengakuan dan perlindungan
tersebut sangat diperlukan untuk memberikan jaminan perlindungan kepastian hukum
kepada masyarakat agar hak-hak ulayatnya tidak dilanggar oleh siapapun, sehingga
hubungan negara dengan tanah tersebut tidak terlepas dari hubungan masyarakat adat
dengan tanah ulayatnya.
Maka dikeluarkanlah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 jo. 2008 tentang

Muhammad Bakri, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara, Citra Media, Jakarta, 2007, Hal. 7.

Universitas Sumatera Utara

Pemerintahan Daerah dan dikaitkan dengan Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan


Pertahanan Nasional Nomor 5 Tahun 1999, kewenangan mengatur tanah dan hak
ulayat itu berada pada Pemerintahan Kabupaten/Kota. Meskipun demikian sangat
kecil kemungkinan keluarnya Perda oleh Pemda tanpa adanya permohonan hak atas
tanah ulayat. Permohonan hak ulayat tersebut juga harus dimulai dari pembuktian
apakah masyarakat hukum adat di daerah yang bersangkutan masih ada atau tidak.
Undang-Undang Otonomi Daerah 2004 jo. 2008 memberikan tanda-tanda
yang membingungkan pada masyarakat adat. Tingkat otonomi yang masih bisa
diperdebatkan diberikan kepada masyarakat adat di tingkat desa. Disini, penggunaan
kata-kata yang kurang jelas bisa membuat salah pengertian. Misalnya, dalam hukum
yang dibuat untuk mengubah pemerintahan tingkat desa, desa didefinisikan "kesatuan
hukum masyarakat yang secara hukum diakui dan mempunyai otoritas untuk
mengendalikan dan memperhatikan kebutuhan masyarakat setempat sesuai dengan
asal muasal dan kebudayaannya.'' Hal ini membesarkan hati jika punya implikasi
pembentukan ulang sistim pemerintahanan desa yang beragam, yang dulu pernah ada
sebelum penyeragaman yang sangat merugikan pada tahun 1979. Walaupun demikian
perbedaan makna yang diberikan kepada definisi hukum desa sebagai ''bagian dari
sistim pemerintahan nasional telah menimbulkan perdebatan mengenai sejauh mana

Universitas Sumatera Utara

masyarakat desa dapat menikmati otonomi dalam menyelesaikan permasalahan


mereka. 4
Tanpa terbukti adanya masyarakat adat, jangan diharapkan tanah ulayat masih
exist , karena tanah tersebut dikuasai oleh negara. Negaralah yang berwenang
menentukan ada tidaknya tanah hak ulayat yang bersangkutan. Tanah ulayat berawal
dari adanya subyeknya, yaitu masyarakat hukum adat di daerah yang bersangkutan,
apabila memang masih ada, tidaklah terlalu sulit untuk menjalankan proses
permohonan status tanah ulayat yang diinginkan di daerah yang bersangkutan
Suku Sakai adalah komunitas asli/pedalaman yang hidup di daratan Riau.
Mereka selama ini sering dicirikan sebagai kelompok terasing yang hidup berpindahpindah di hutan. Suku Sakai merupakan salah satu suku asli Propinsi Riau yang
memiliki wilayah hak ulayat dan hutan ulayat yang masih alami atau masih sesuai
dengan ketentuan hukum adat yang berlaku, yang menempati beberapa daerah di
Propinsi Riau, salah satunya di Kabupaten Bengkalis, yang kian hari kian terdesak
saja keberadaannya karena hilangnya hak ulayat yang diantaranya berupa hutan
ulayat yang berada diatas tanah ulayat masyarakat adat akibat pembukaan hutan
untuk perkebunan yang telah mendapatkan izin dari pemerintah.
Orang-orang Sakai dulunya adalah penduduk Negeri Pagarruyung yang
melakukan migrasi ke kawasan rimba belantara di sebelah timur negeri tersebut.

http// Ire-Pemberdayaan Masyarakat Adat, diakses tanggal 9 september 2008.

Universitas Sumatera Utara

Waktu itu Negeri Pagarruyung sangat padat penduduknya. Untuk mengurangi


kepadatan penduduk tersebut, sang raja yang berkuasa kemudian mengutus orang
orang kepercayaannya untuk menjajaki kemungkinan kawasan hutan di sebelah timur
Pagarruyung itu sebagai tempat pemukiman baru. Setelah menyisir kawasan hutan,
rombongan tersebut akhirnya sampai ditepi Sungai Mandau. Karena Sungai Mandau
dianggap dapat menjadi sumber kehidupan di wilayah tersebut, maka mereka
menyimpulkan bahwa kawasan sekitar sungai itu layak dijadikan sebagai pemukiman
baru. Keturunan mereka inilah yang kemudian disebut sebagai orang-orang Sakai.
Suku Sakai menjadi tersingkir di wilayah sendiri, karena sosial ekonomi
mereka tidak dapat bersaing dengan kemajuan zaman, tanah ulayat yang mereka
miliki, yang membentang luas dari Minas hingga Dumai yang didalamnya
mengandung cadangan minyak terbesar di nusantara tidak membuat lebih makmur
kehidupan mereka. Berdasarkan peta yang dibuat oleh Moszkowski, seorang
antropolog Jerman yang melakukan penelitian tentang Sakai Tahun 1911, wilayah
Suku Sakai meliputi Minas, Belutu, Tingaran, Sinangan, Semunai, Panaso dan
Borumban. 5 Akan tetapi wilayah yang masih memiliki tanah ulayat yang masih
benar-benar alami dan masih terlihat eksistensinya,dan masih terjaga hutan adatnya
berada di Kecamatan Mandau Desa Kesumbo Ampai.

Ahmad Arif dan Agnes Rita, Sayap Patah Para Sakai, Koran Kompas, 24 April 2007, Hal.

14

Universitas Sumatera Utara

Hutan Ulayat berada diatas hak ulayat masyarakat Sakai juga telah berpindah
tangan kepada pengusaha-pengusaha pemegang HPH (Hak Pengasahaan Hutan) dan
HTI (Hutan Tanaman Industri) yang menyebabkan masyarakat Suku Sakai tidak
punya lagi tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga hal ini tentu
berdampak pada taraf perekonomian masyarakat Sakai, sehingga dengan terpaksa
masyarakat menjual tanah-tanah mereka kepada pihak luar dengan harga yang murah
karena pada dasarnya masyarakat Suku Sakai tidak memiliki sertifikat kepemilikan,
serta dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah tentu tidak mengetahui harga
pasar tanah.
Penjualan tanah dengan harga murah dilakukan karena hasil hutan semakin
berkurang, sedangkan kebutuhan warga semakin bertambah. Padahal ada larangan
menjual tanah ulayat, tetapi karena warga terdesak ekonomi sehingga mudah dibujuk.
Fenomena tersebut jelas merupakan masalah pertanahan yang terus berlangsung di
Riau khususnya pada masyarakat Suku Sakai di Kabupaten Bengkalis, dimana masih
berlangsungnya peralihan hak penguasaan atas tanah dari masyarakat yang jelas-jelas
menggantungkan pemenuhan kebutuhan hidup pada tanah kepada pihak luar yang
bukan anggota komunitas masyarakat Suku Sakai untuk dikelola sendiri maupun
kepada pengusaha yang diberikan hak untuk itu. Keadaan seperti ini jelas
memperlihatkan tetap berlangsungnya proses pengalihan hak atas tanah ulayat
masyarakat adat yang sebenarnya dilindungi oleh undang-undang.

Universitas Sumatera Utara

Pengambilalihan tanah tersebut yang sebagian dijual sendiri oleh masyarakat


Suku Sakai, atau sebagian diambil begitu saja dengan ganti rugi yang sangat rendah
atau bahkan tanpa ganti rugi, padahal untuk mendapatkan kembali tanah yang telah
dilepas hampir tidak mungkin karena tingkat kenaikannya harga tanah jelas akan
menyulitkan masyarakat Sakai untuk memperoleh kembali, yang jelas tidak seimbang
dengan tingkat penghasilan masyarakat tersebut. Sementara untuk mempertahankan
sendiri haknya masyarakat Sakai tidak mempunyai patokan, karena tanah ulayat tidak
memiliki sertifikat tanda bukti tertulis sebagaimana yang dimaksud oleh Pasal 32 ayat
(1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, sehingga memang mudah
menimbulkan konflik pertanahan, dan yang menjadi masalah adalah bagaimana peran
negara dalam hal ini, karena undang-undang sendiri telah mengakui keberadaan
masyarakat hukum adat beserta hak ulayatnya.
Harus disadari bahwa masyarakat hukum adat sering berada dalam posisi yang
lemah dalam mempertahankan hak-haknya, ditengah-tengah kekuatan modal dalam
mengeksploitasi lahan dan sumber daya alam. Padahal masyarakat hukum adat telah
banyak memberikan kontribusi dalam melindungi dan mengelola sumber daya alam
serta telah mampu mempertahankan kelestarian lingkungan. Sebagaimana telah
diketahui bahwa telah sejak zaman dahulu berabad-abad lamanya masyarakat hukum
adat memanfaatkan sumber daya alam tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan
yang pada akhirnya menyebabkan bencana seperti sering terjadi sekarang ini. Hal

Universitas Sumatera Utara

tersebut karena masyarakat adat percaya bahwa adanya hubungan antara manusia,
alam sekitar serta tuhannya, sehingga keseimbangan itu harus tetap dijaga agar tidak
terjadi murka dari Tuhan.
Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun
1999 Tentang Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat, Pasal 4
ayat (1) menjelaskan bahwa penguasaan bidang-bidang tanah ulayat oleh instansi
pemerintah, badan hukum atau perseorangan yang bukan warga masyarakat hukum
adat yang bersangkutan dilakukan dengan tata cara hukum adat yang berlaku.
Selanjutnya Pasal 4 ayat (2) menjelaskan pula bahwa pelepasan tanah ulayat
masyarakat hukum adat untuk keperluan pertanian dan keperluan lain yang
memerlukan hak guna usaha atau hak pakai, dapat dilakukan oleh masyarakat hukum
adat dengan penyerahan penggunaan tanah untuk jangka waktu tertentu. Begitu pula
mengenai mekanisme penyelesaian sengketa-sengketa tanah yang melibatkan
masyarakat adat juga diatur dalam Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999.
Akan tetapi pada kenyataannya pemerintah dinilai tidak memberikan
perlindungan terhadap tanah ulayat masyarakat adat tempat masyarakat menompang
kelangsungan hidup serta yang menjaga keseimbangan alam. Sedangkan seperti yang
telah diketahui sejalan dengan apa yang telah disebut dalam Peraturan Menteri
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 tersebut, Undang-

Universitas Sumatera Utara

undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-pokok Agraria pada Pasal 3


menyatakan bahwa :
Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak
ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat,
sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga
sesuai dengan kepentingan nasional dan negara yang berdasarkan atas
persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan
peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.
Dari Pasal 3 tersebut dapat disimpulkan bahwa negara secara tegas mengakui
keberadaan hak ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat hukum adat, sepanjang
menurut kenyataannya masih ada, maksudnya yaitu di daerah-daerah dimana hak
ulayat itu tidak ada lagi maka tidak akan dihidupkan kembali. Demikian juga daerahdaerah yang tidak pernah ada hak ulayat maka tidak akan dihidupkan hak ulayat baru.
Begitu juga pada era otonomi daerah saat ini dimana telah terjadi perubahan
paradigma kekuasaan negara yang semula bersifat desentralistis dan demokratis,
demikian pula dalam hal hak menguasai tanah oleh negara pun telah berubah juga
menjadi desentralistis, sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa pemerintah
daerah, kabupaten serta kota merupakan lini pertama untuk melindungi hak
masyarakat hukum adat serta tanah ulayatnya.
Berdasarkan uraian tersebut diatas penulis merasa tertarik untuk mengadakan
suatu penelitian yang penulis beri judul Eksistensi Hak Ulayat Atas Tanah Dalam
Era Otonomi Daerah Pada Masyarakat Suku Sakai Di Kabupaten Bengkalis Propinsi
Riau.

Universitas Sumatera Utara

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang sebagaimana telah diuraikan diatas, maka yang menjadi
permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah eksistensi hak ulayat atas tanah dalam era otonomi daerah pada
masyarakat Suku Sakai di Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau?
2. Apakah penyerahan hak ulayat atas tanah oleh masyarakat Suku Sakai kepada
pihak lain sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor. 5 Tahun
1999?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada permasalahan diatas maka tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui eksistensi hak ulayat atas tanah dalam era otonomi pada
masyarakat Suku Sakai di Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau.
2. Untuk mengetahui penyerahan hak ulayat atas tanah oleh masyarakat Suku Sakai
kepada pihak lain sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor. 5
Tahun 1999.

Universitas Sumatera Utara

D. Manfaat Penelitian
1.

Secara Teoritis
Secara Teoritis, diharapkan dengan adanya pembahasan mengenai Hak ulayat

atas tanah dalam era otonomi daerah ini, maka pembaca dapat semakin mengetahui
tentang perkembangan tanah adat dalam ilmu hukum agraria.
2.

Secara Praktis
Secara praktis, pembahasan dalam tesis ini diharapkan dapat memperkaya

bahan pustaka mengenai hukum pertanahan, menjadi masukan bagi kalangan praktisi
yang berkepentingan terutama mengenai hak ulayat dalam hukum pertanahan
Indonesia, dan juga diharapkan menjadi bahan bagi mereka yang akan mendalami
atau meneliti masalah eksistensi hak ulayat masyarakat hukum adat.

E. Keaslian Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa berdasarkan informasi
dan penelusuran kepustakaan di lingkungan Program Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara, dengan judul Eksistensi Hak Ulayat Atas Tanah Dalam Era
Otonomi Daerah Pada Masyarakat Suku Sakai Pada Kabupaten Bengkalis Propinsi
Riau belum pernah dilakukan. Sepengetahuan penulis ada tesis yang berjudul :
1. Pelaksanaan Hak Ulayat Nagari

Untuk Kepentingan Umum (Studi

Pengadaan Tanah Dari Hak Ulayat Untuk Bandar Udara Internasional

Universitas Sumatera Utara

Minangkabau). Oleh Yuselina pada tahun 2008, akan tetapi penelitian


tersebut menitikberatkan pada pelaksanaan pengadaan tanah hak ulayat untuk
Bandar Udara Internasional Minangkabau.
2. Beberapa Kendala Yuridis Dan Sosilogis Dalam Pelaksanaan Pendaftaran
Tanah Ulayat Masyarakat Minangkabau Di Kabupaten Tanah Datar. Oleh
Ririn Agustin pada tahun 2005, yang lebih menitikberatkan pada pendaftaran
tanah ulayat masyarakat Minangkabau di Kabupaten Tanah Datar.
Sedangkan penelitian penulis lebih menitikberatkan pada eksistensi hak ulayat
masyarakat Suku Sakai di Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau dalam era otonomi
daerah. Dengan demikian penelitian ini adalah asli dan dapat dipertanggungjawabkan
secara akademis.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi


1.

Kerangka Teori
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori

tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan atau
pegangan teoritis dalam penelitian. 6

M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, Cetakan Ke I, 1994,

Hal. 80.

Universitas Sumatera Utara

Suatu kerangka teori bertujuan untuk menyajikan cara-cara untuk bagaimana


mengorganisasian

dan

mengimplementasikan

hasil-hasil

penelitian

dan

menghubungkannya dengan hasil-hasil terdahulu. 7


Adapun teori yang dipakai dalam pembuatan tesis ini adalah teori
pembaharuan hukum. Istilah pembaharuan hukum sebenarnya mengandung makna
yang luas, mencangkup sistem hukum. Menurut Friedman, sistem hukum terdiri atas
struktur hukum (structure), substansi / materi hukum (substance). Dan budaya hukum
(legal culture). 8 Sehingga, ketika bicara pembaharuan hukum maka pembaharuan
yang dimaksud adalah pembaharuan sistem hukum secara keseluruhan yang meliputi
struktur hukum, materi hukum dan budaya hukum.
Roscoe pound mengatakan bahwa hukum itu sebagai suatu unsur dalam hidup
masyarakat harus memajukan kepentingan umum. 9 Artinya hukum harus dilahirkan
dari konstruksi hukum masyarakat yang dilegalisasi oleh penguasa. Ia harus berasal
dari konkretisasi nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Dari pandangan Pound
dapat disimpulkan bahwa unsur normatif (ratio) dan empiris (pengalaman) dalam
suatu peraturan hukum harus ada. Artinya, hukum yang pada dasarnya berasal dari
gejala-gejala atau nilai-nilai dalam masyarakat sebagai suatu pengalaman, kemudian
7

Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, Cetakan Ke II, 2003,

Hal.23.
8

Lawrence M.Freidman, American Law, (New York : W.W.Norton & Company, 1930),
pg.5-6 Dalam Mulhadi : Relevansi Teori Sociological Jurisprudence Dalam Upaya Pembaharuan
Hukum Di Indonesia, 2005, USU, Responsitory @ 2006.
9
Theo Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintas Sejarah, Kanisuius, Yogyakarta, 2001,
Hal.180.

Universitas Sumatera Utara

dikonkretarisasi menjadi norma-norma hukum melalui tangan-tangan para ahli


sebagai hasil kerjanya ratio, yang seterusnya dilegalisasi atau diberlakukan sebagai
hukum oleh negara.
Dari teori dan pandangan tersebut dapat dipahami bahwa pembaharuan hukum
di Indonesia utamanya di tujukan untuk mewujudkan tatanan sosial yang adil dan
sejahtera, tentram dan damai serta membawa perubahan-perubahan yang baik pada
struktur kehidupan. Tanpa harus merugikan pihak lain tetapi memberikan suatu
pemecahan atas suatu permasalahan.
Sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 33 ayat (3) yang merupakan
payung

hukum

tertinggi

terhadap

pengakuan

hak-hak

masyarakat

dalam

mempergunakan berbagai sumber kekayaan yang ada di bumi, seperti hutan dan
tanah atau lahan yang tujuannya sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pasal 5 Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960 menyebutkan hukum
agraria yang berlaku atas bumi, air, dan ruang angkasa ialah hukum adat sepanjang
tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara yang berdasarkan atas
persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang
tercantum dalam Undang-undang ini dan dengan peraturan lainnya segala sesuatu
dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandarkan pada hukum agama.
Pasal ini memberikan kejelasan kepada kita bahwa hukum adat yang berlaku
di dalam ketentuan ini bukanlah merupakan hukum adat yang murni akan tetapi

Universitas Sumatera Utara

hukum adat yang berlaku adalah hukum adat yang telah beradaptasi dengan situasi
dan keadaan yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, sehingga tidak
dimungkinkan dikembangkan hukum adat yang murni.
Dalam lingkungan hukum adat, tanah memiliki fungsi yang sangat
fundamental, tidak semata-mata sebagai benda mati yang dapat dibentuk sedemikian
rupa melainkan juga sebagai tempat untuk mempertahankan hidup atau modal
esensial yang mengikat masyarakat dan anggota-anggotanya. Oleh karena itu, selalu
terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara hak-hak seseorang sebagai
anggota masyarakat dengan hak-hak masyarakat secara umum atas tanah yang
ditempati.
Satu hal yang menarik dan perlu mendapat perhatian serius bahwa hukum
tanah sekarang telah mengalami unifikasi melalui UUPA. Undang-undang ini disebut
sebagai peraturan yang bersandarkan pada hukum adat. 10
Soerjono Soekanto menyebutkan bahwa pengertian hukum adat dalam UUPA
adalah identik dengan hukum yang asli, yang diartikan secara sempit dan tradisional
sehingga kedudukan dan peranannya dikembalikan pada masa-masa sebelum
kemerdekaan Indonesia. 11 Berbeda dengan Soerjono Soekanto, Otje Salman
Soemadiningrat cenderung untuk mengatakan bahwa undang-undang ini telah
10

Otje Salman Soemadiningrat, Rekonseptualisasi Hukum Adat Kontemporer, PT. Alumni,


Bandung, 2002, Hal. 160.
11
Abdurrahman, Hukum Adat Menurut Perundang-undangan Republik Indonesia, Cendana
Press, Jakarta, 1984, Hal.44

Universitas Sumatera Utara

merombak hukum tanah adat dengan hanya memberlakukan hal-hal tertentu saja dari
padanya. Pereduksian hukum tanah adat dapat dilihat dalam kaitannya dengan
kekuasaan negara atas tanah-tanah yang berada di wilayah Indonesia dan timbulnya
hak milik yang diatur pemerintah. 12
Hukum tanah adat pada pokoknya tidak terlepas dari tata susunan hukumkeluarga-adat

serta

hukum-tatanegara-adat,

terutama

apa

yang

dikatakan

rechtsgemeenschappen (persekutuan hukum). 13


Masyarakat hukum adat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa
Indonesia, keberadaannya tidak dapat dipungkiri sejak dulu sampai saat ini.
Sedangkan pengakuan terhadap hukum adat oleh UUD 1945 terdapat dalam pasal 18
B ayat (2) UUD 1945 menyebutkan bahwa: Negara menghormati kesatuan-kesatuan
masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia.
Hal ini senada dengan apa yang tercantum dalam pasal 2 ayat (9) UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 jo. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Pemerintah Daerah. Sehingga demikian keberadaan masyarakat hukum adat memang
tidak boleh dipungkiri dan harus diakui, sebagaimana Undang-Undang Nomor 4

12

Otje Salman Soemadiningrat, Op Cit, Hal. 161.


Fauzie Ridwan, Hukum Tanah Adat Multi Disiplin Pemberdayaan Pancasila Bagian
Pertama, Dewaruci Press, Jakarta, 1982, Hal.25
13

Universitas Sumatera Utara

Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman juga mengakuinya, mengikuti, dan


memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Masyarakat adat adalah kelompok masyarakat yang memiliki asal usul leluhur
(secara turun temurun) di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai,
ideologi, ekonomi, politik, budaya sosial dan wilayah sendiri. 14
Masyarakat hukum adat atau yang dikenal dengan istilah lain seperti
masyarakat adat atau masyarakat tradisional atau indigenious people yaitu suatu
komunitas antropologi yang bersifat homogen dan secara berkelanjutan mendiami
suatu wilayah tertentu, mempunyai hubungan historis dan mistis dengan sejarah masa
lampau mereka, merasa dirinya dan dipandang oleh pihak luar berasal dari satu nenek
moyang yang sama dan mempunyai identitas dan budaya yang khas yang ingin
mereka pelihara dan lestarikan, serta tidak punya posisi yang dominan dalam struktur
dan posisi politik yang ada.
Menurut Hazairin sebagaimana dikutip oleh Soerjono Soekanto memberikan
uraian mengenai masyarakat hukum adat sebagai berikut :
Masyarakat-masyarakat seperti hukum adat Desa di Jawa , Marga di Sumatera
Selatan, Nagari di Minangkabau, Kuria di Tapanuli, Wanua di Sulawesi
Selatan, adalah kesatuan-kesatuan kemasyarakatan yang mempunyai
kelengkapan-kelengkapan untuk sanggup berdiri sendiri yaitu mempunyai
kesatuan hukum, kesatuan penguasa dan kesatuan lingkungan hidup
berdasarkan hak bersama atas tanah dan air bagi semua anggotanya. Bentuk
hukum kekeluargaannya (patrilineal, matrilineal atau bilateral) mempengaruhi
14

Bramantyo dan Nanang Indra Kurniawan, Hukum Adat dan HAM, Modul Pemberdayaan
Masyarakat Adat.

Universitas Sumatera Utara

sistem pemerintahannya terutama berlandaskan atas pertanian, peternakan,


perikanan dan pemungutan hasil hutan dan hasil air, ditambah sedikit dengan
pemburuan binatang liar, pertanbangan dan kerajinan tangan. Semua
anggotanya sama hak dan kewajibannya. Penghidupan mereka berciri
komunal, dimana gotong royong, tolong menolong, serasi dan selalu punya
peranan yang besar. 15
Pada hukum adat yang berlaku dimasing-masing daerah di Indonesia dikenal
hak ulayat atau dengan nama lain yang berbeda sesuai dengan sebutan di daerahnya,
yaitu hak bersama masyarakat hukum adat atas tanah hutan belukar yang ada di
sekitar desanya untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya seperti mengambil hasil
hutan, berburu, menangkap ikan bahkan membuka tanah untuk melakukan pertanian
baik yang berpindah maupun yang menetap.
Berdasarkan pendapat pakar hukum adat tersebut maka dapat dirumuskan
kriteria masyarakat hukum adat sebagai berikut :
1. Terdapat masyarakat yang teratur.
2. Menempati suatu tempat tertentu.
3. Ada kelembagaan.
4. Memiliki kekayaan bersama.
5. Susunan masyarakat berdasarkan pertalian suatu keturunan atau berdasarkan
lingkungan daerah;
6. Hidup secara komunal dan gotong royong.

15

Soejono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003,

Hal.93.

Universitas Sumatera Utara

Pada masyarakat hukum adat, untuk mewujudkan kesejahteraan itu maka


dalam masyarakat hukum tersebut harus memiliki struktur pemerintahan atau
kepemimpinan. Dalam hal ini dipimpin oleh seorang pimpinan (ketua adat).
Masyarakat hukum ini mempunyai kedaulatan penuh (soverign) atas wilayah
kekuasaannya (tanah ulayat) dan melalui ketua adat juga mempunyai kewenangan
(authority) penuh untuk mengelola, mengatur dan menata hubungan-hubungan antara
warga dengan alam sekitar, hal ini tentunya bertujuan untuk mencari keseimbangan
hubungan sehingga kedamaian dan kesejahteraan yang menjadi tujuan tersebut
terwujud.
Hak ulayat merupakan asal dan akhir dari hak perseorangan dalam
persekutuan hukum. Hak perseorangan berada dibawah naungan hak ulayat. Semakin
intensif hubungan seseorangan dengan tanah di lingkungan hak ulayat, semakin kuat
hak yang dipunyainya, dan semakin lemah pembatasan hak ulayat terhadapnya.
Sebaliknya semakin lemah hubungan hukum seseorang dengan tanah itu, semakin
lemah haknya dan semakin kuatlah hak ulayat, inilah yang disebut oleh Ter Haar
dengan menguncup/mengempis mengembang bertimbal balik tiada hentinya.16

16

Ramli Zein dalam Tunas Effendi dkk, Hutan Tanah Ulayat dan Permasalahannya,
Lembaga Kerapatan Adat Melayu Kabupaten Pelalawan, Pekanbaru, 2005, Hal. 12

Universitas Sumatera Utara

Menurut Budi Harsono, Hak Ulayat merupakan serangkaian wewenangwewenang dan kewajiban-kewajiban suatu masyarakat hukum adat, yang
berhubungan dengan tanah yang terletak dalam lingkungan wilayahnya. 17
Menurut Ramli Zein, secara objektif subtansi masalah pertanahan berpangkal
pada ketidakserasian pandangan terhadap dua faktor yaitu, faktor manusia dan faktor
tanah. Hukum adat sebagai hukum asli telah menata hubungan manusia dengan tanah
dengan suasana tradisional berdasarkan pandangan itu. Akan tetapi kemudian bangsa
kita hampir gagal mengoperasikan pada masa pasca tradisional. 18
UUPA pada dasarnya juga memberikan pengakuan terhadap hak ulayat
tersebut sepanjang memang menurut kenyataannya masih ada, dan dalam hal ini pun
pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan Peraturan
Perundang-undangan yang lebih tinggi (Penjelasan Umum II angka 3 UUPA).
Selanjutnya pada Pasal 3 UUPA menyatakan bahwa : Hak ulayat dan hakhak yang serupa itu dari masyarakat hukum adat masih tetap dapat dilaksanakan oleh
masyarakat hukum adat yang bersangkutan sepanjang hak ulayat itu menurut
kenyataannya masih ada.
Pengertian lain tentang Hak Ulayat ialah Kewenangan yang menurut hukum
adat dipunyai oleh masyarakat hukum adat tertentu, atas wilayah tertentu yang

17

Kumpulan-Kumpulan Seminar Tanah Adat, Atma Jaya & B.P.N di Puncak, September,

18

Ibid, Hal. 11.

1996.

Universitas Sumatera Utara

merupakan lingkungan hidup para warganya untuk mengambil manfaat dari sumber
daya alam termasuk tanah dalam wilayah tersebut bagi kelangsungan hidup dan
kehidupannya yang timbul dari hubungan secara lahiriah dan batiniah, turun-temurun,
dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang
bersangkutan. 19
Adapun kriteria hak ulayat adalah :
1. Harus ada lingkungan daripada masyarakat hukum adat itu sendiri.
2. Adanya orang tang diangkat sebagai pengetua adat.
3. Masih didapati adanya tatanan hukum adat itu sendiri yang mengenal adanya
suatu lingkungan hidup dan yang berada dalam persekutuan hukum adat. 20
Wujud hak ulayat tersebut berciri sebagai berikut :
a. Masyarakat hukum adat dan para anggota-anggotanya berhak untuk dapat
mempergunakan tanah hutan belukar di dalam lingkungan wilayah dengan bebas
yaitu bebas untuk membuka tanah, memungut hasil, berburu, mengambil ikan,
mengembala ternak dan lain sebagainya.
b. Bagi yang bukan anggota masyarakat hukum adat tersebut dapat pula
mempergunakan hak-hak itu hanya saja harus mendapatkan izin lebih dahulu dari
kepala masyarakat hukum adat dan membayar uang pengakuan atau recognitie
(diakui
19
20

setelah memenuhi kewajibannya).

Affan Mukti, Pokok-pokok Bahasan Hukum Agraria, USU Press, Medan, 2006, Hal. 23
Ibid, Hal. 23

Universitas Sumatera Utara

c. Masyarakat hukum adat bertangung jawab atas kejahatan-kejahatan yang terjadi


dalam lingkungan wilayahnya apabila pelakunya tidak dapat dikenal.
d. Masyarakat hukum adat tidak dapat menjual atau mengalihkan hak ulayat itu
untuk selama-lamanya kepada siapa saja.
e. Masyarakat hukum adat mempunyai hak campur tangan terhadap tanah-tanah yang
digarap dan dimiliki oleh para anggota-anggotanya seperti dalam hal jual beli dan
lain sebagainya. 21
Dalam hak ulayat mengandung dua unsur /aspek, yaitu aspek hukum perdata
dan aspek hukum publik. Aspek hukum perdata yaitu merupakan hak kepunyaan
bersama para warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan atas tanah ulayat,
sedangkan aspek hukum publik yaitu sebagai kewenangan mengelola dan mengatur
peruntukan, penggunaan, dan penguasaan tanah ulayat tersebut baik dalam hubungan
intern dengan para warganya sendiri maupun ekstern dengan orang yang bukan warga
atau orang luar.

2. Kerangka Konsepsi
Dalam kerangka konsepsional diungkapkan beberapa konsepsi atau pengertian
yang akan dipergunakan sebagai dasar penelitian hukum. 22 Konsepsi diterjemahkan
sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi sesuatu yang kongkrit.
21

Tampil Anshari Siregar, Mempertahankan Hak Atas Tanah, Multi Grafik Medan, Medan,
2005, Hal. 11.

Universitas Sumatera Utara

Agar tidak terjadi perbedaan pengertian tentang konsep-konsep yang


dipergunakan dalam penelitian ini, maka perlu diuraikan pengertian-pengertian
konsep yang dipakai, yaitu sebagai berikut :
Hak ulayat, sebutan yang dikenal dalam kepustakaan hukum adat dan
dikalangan masyarakat hukum adat diberbagai daerah dengan nama yang berbedabeda. Merupakan penguasaan yang tertinggi atas tanah dalam hukum adat, yang
meliputi semua tanah yang termasuk dalam lingkungan wilayah suatu masyarakat
hukum adat tertentu, yang merupakan tanah kepunyaan bersama para warganya. 23
Tanah sebagai sumber utama bagi kehidupan manusia yang telah dikaruniakan
tuhan kepada bangsa Indonesia harus dapat dikelola dan didayagunakan sesuai
dengan kebutuhan masyarakat dan dipergunakan secara seimbang antara hak dan
kewajiban terhadap tanah tersebut. 24
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 1 ayat 5 tentang
Pemerintahan Daerah (UU No. 32 Tahun 2004) defenisi Otonomi Daerah sebagai
berikut : Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan Perundang-undangan.

22

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Nornatif Suatu Tinjauan Singkat,
Edisi 1,Cetakan 7, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, Hal.7.
23
Rosdinar Sembiring, Eksistensi Hak Ulayat Atas Tanah Dalam Masyarakat Adat
Simalungun, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2008, Hal. 70
24
Chadidjah Dalimunthe, Op.Cit, Hal. 2

Universitas Sumatera Utara

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 1 ayat 6 juga mendefenisikan


daerah otonom sebagai berikut : Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah
kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Di era sekarang ini, otonomi daerah sudah dianggap sebagai obat mujarab
segala penyakit pemerintahan Di Indonesia, otonomi hampir dimitoskan sebagai
dewa kemajuan pemerintahan. Otonomi daerah seakan harus merupakan bagian dari
reformasi pemerintahan dan bagian tak terpisahkan dari upaya demokrasi Dengan
kata lain tak ada reformasi tanpa ada otonomi dan tak akan ada demokrasi tanpa
otonomi daerah. 25
Sebutan Sakai sendiri berasal dari gabungan huruf dari kata-kata S-ungai, Kampung, A-nak, I-kan. Hal tersebut mencerminkan pola-pola kehidupan mereka di
kampung, ditepi-tepi hutan, di hulu-hulu anak sungai, yang banyak ikannya dan yang
cukup airnya untuk minum dan mandi. Namun, atribut tersebut bagi sebagian besar
orang melayu di sekitar pemukiman masyarakat Sakai berkonotasi merendahkan dan
menghina karena kehidupan orang Sakai dianggap jauh dari kemajuan. 26
25

M.Masud Said, Arah Baru Otonomi Daerah Di Indonesia, UMM Press, Malang, 2008,

Hal.2.
26

Pemberdayaan
Masyarakat
Suku
Sakai,
http://www.katcenter.info/, diakses tanggal 2 Januari 2009.

Artikel,

Didownload

dari

Universitas Sumatera Utara

G. Metode Penelitian
Kata Metode berasal dari bahasa Yunani methods tang berarti cara atau
jalan. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode ini menyangkut masalah cara
kerja yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang
bersangkutan. 27

1. Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Artinya penelitian ini merupakan
penelitian yang memaparkan, secara cermat karakteristik dari fakta-fakta (individu,
kelompok, atau keadaan), dan untuk menentukan frekwensi sesuatu yang terjadi. 28
Yaitu untuk melukiskan fakta-fakta berupa data dengan bahan hukum primer yaitu
peraturan perundang-undangan, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier
yaitu kamus hukum atau ensiklopedia, untuk memperoleh gambaran yang
menyeluruh mengenai eksistensi hak ulayat dalam era otonomi daerah pada
masyarakat Suku Sakai di Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau.

2. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif,
dengan menitikberatkan pada penelitian hukum normatif. Adapun data yang
27
28

Koentjaraningrat, Op.Cit, Hal.16


Rianto Adi, Metode Penelitian Sosial dan Hukum, Granit, Jakarta, 2004, Hal. 58

Universitas Sumatera Utara

digunakan dalam menyusun tulisan ini diperoleh dari penelitian kepustakaan (library
research), sebagai suatu teknik pengumpulan data dengan memanfaatkan berbagai
literatur berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku, karya ilmiah, makalah,
artikel-artikel, media massa, serta sumber data sekunder lainnya yang dibahas
peneliti. Pendekatan yuridis normatif digunakan karena masalah yang diteliti berkisar
mengenai keterkaitan peraturan perundangan yang satu dengan peraturan
perundangan yang lainnya yang kemudian dihubungkan dengan data dan kebiasaan
yang hidup ditengah-tengah masyarakat.

3. Lokasi Penelitian
Adapun yang menjadi tempat lokasi penelitian dilakukan dalam dua tahap
yaitu: (1) Data sekunder diperoleh dengan penelitian kepustakaan yang terdiri dari
Perpustakaan Fakultas Hukum, perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Pasca
Sarjana Universitas Sumatera Utara, Universitas Islam Riau Pekanbaru, Perpustakan
Lembaga Adat Melayu Riau serta Badan perpustakaan dan arsip Propinsi Riau. (2)
penelitian lapangan dilakukan di instansi-instansi yang terkait dengan masalah hak
ulayat atas tanah seperti Kantor Badan Pertanahan, Badan Pusat Statistik terletak di
Kabupaten Bengkalis, kepala desa, kepala adat, masyarakat Suku Sakai Kecamatan
Mandau tepatnya di kota Duri.

Universitas Sumatera Utara

5.

Sumber Data
Dalam penulisan ini bahan hukum yang dijadikan sebagai rujukan adalah

menggunakan data sekunder, yang terdiri dari :


A. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer yang terdiri Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5
Tahun 1960, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah
Daerah, Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5 Tahun1999 Tentang
Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat, dan
Peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan dengan tanah.
B. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder berupa bahan-bahan yang erat kaitannya dengan bahan
hukum primer seperti doktrin (pendapat para ahli), buku-buku, jurnal hukum,
makalah, media cetak dan elektronik.
C. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum yang memberi petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum
primer dan bahan hukum sekunder yang relevan untuk melengkapi data dalam
penelitian ini, yaitu seperti kamus umum, majalah dan internet serta bahan-bahan
diluar bidang hukum yang berkaitan guna melengkapi data.

Universitas Sumatera Utara

6. Teknik Pengumpulan Data


Untuk mendapatkan hasil yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya
serta dapat dipertanggungjawabkan hasilnya, maka dalam penelitian ini menggunakan
2 (dua) alat pengumpulan data yaitu :
1. Studi Kepustakaan
Studi Kepustakaan dilakukan dengan menelaah semua literatur yang
berhubungan dengan topik penelitian yang sedang dilakukan. Data ini diperoleh
dengan mempelajari buku-buku, hasil penelitian, dokumen-dokumen perundangundangan yang ada kaitannya dengan penelitian ini.
2. Studi Lapangan
Data atau materi pokok dalam penelitian diperoleh langsung melalui
penelitian dengan melakukan wawancara kepada beberapa sumber antara lain
instansi-instansi terkait dengan masalah hak ulayat atas tanah seperti Kantor
Pertanahan Wilayah Kabupten Bengkalis, Lembaga Adat Melayu Riau, serta
masyarakat Suku Sakai itu sendiri sebagai informan.

7. Alat Pengumpulan Data


Data penelitian ini diperoleh dengan menggunakan alat penelitian :
a.

Studi Dokumen yaitu mempelajari serta menganalisa bahan pustaka ( data


sekunder).

Universitas Sumatera Utara

34

b. Wawancara, yaitu kepada para pihak yang dianggap berkompeten dalam


bidang pertanahan dan berwenang untuk memberikan penjelasan berkaitan
dengan materi yang menjadi objek penelitian.

8. Analisis Data
Analisa data merupakan upaya penyusunan dan telah terdapat data yang telah
diolah untuk mendapatkan suatu kesimpulan. Analisa data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisa data kualitatif yang merupakan analisa data yang tidak
menggunakan angka-angka, analisa data ini dilakukan berdasarkan atas peraturan
perundang-undangan, ketentuan-ketentuan hukum adat, cerdik pandai, serta para
pemuka adat, sedangkan penggunaan tabel dan angka-angka dalam penelitian ini
hanya bersifat pendukung dari analisa data yang dilakukan, sehingga dapat ditarik
kesimpulan yang bersifat induktif-deduktif sebagai jawaban dari segala permasalahan
dalam penulisan tesis ini.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH DALAM ERA OTONOMI
DAERAH PADA MASYARAKAT SUKU SAKAI DI KABUPATEN
BENGKALIS PROPINSI RIAU

A. Pengakuan Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat


1. Dasar Pengaturan Hak Ulayat
Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 bahwa: Bumi,
air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Di dalam UUD 1945 tidak menjelaskan secara terperinci arti bumi itu sendiri,
mengenai bumi diatur dalam UUPA, sebagaimana Pasal 1 ayat (1) dan ayat (2) bahwa
seluruh wilayah Indonesia adalah kesatuan tanah air dari seluruh rakyat Indonesia,
yang bersatu sebagai bangsa Indonesia. Seluruh bumi, air dan ruang angkasa,
termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya dalam wilayah Republik
Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa
bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional. Hal ini berarti bahwa di
Indonesia, pengertian tanah dipakai dalam arti yuridis sebagai suatu pengertian yang
telah dibatasi dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA, dasar hak menguasai dari negara hanya
permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh

35
Universitas Sumatera Utara

orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain serta badan-badan
hukum.
Menurut Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 menyebutkan bahwa : Negara
mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat
dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undangundang.
Hal ini berarti bahwa negara masih mengakui hak atas tanah yang dikuasai
berdasarkan hukum adatnya selama masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam
undang-undang. Adatnya yang berarti kebiasaan masyarakat setempat, jika kebiasaan
tersebut disertai suatu sanksi maka disebut dengan hukum adat.
Hukum adat adalah aturan perilaku yang berlaku bagi orang-orang pribumi
dan orang-orang Timur Asing, yang disatu pihak mempunyai sanksi (maka dikatakan
hukum) dan di lain pihak tidak dikodifikasi (maka dikatakan adat). 29
Soepomo memberikan defenisi tentang hukum adat sebagai hukum yang tidak
tertulis di dalam peraturan-peraturan legislatif (unstatutory law) meliputi peraturanperaturan hidup yang meskipun tidak ditetapkan oleh yang berwajib, toh ditaati dan

29

Hilman Hadikusuma, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Cetakan II, Mandar Maju,
Bandung, 2003, Hal.15.

Universitas Sumatera Utara

didukung oleh rakyat berdasarkan atas keyakinan bahwasanya peraturan-peraturan


tersebut mempunyai kekuatan hukum. 30
Soerjono Soekanto mengartikan hukum adat sebagai kompleks adat yang
kebanyakan tidak dikitabkan tidak dikodifisir dan bersifat paksaan, mempunyai
sanksi jadi mempunyai akibat hukum. 31
Apabila ditelaah pendapat yang diberikan para ahli diatas, terdapat kesamaan
pendapat mengenai hukum adat, yaitu didalam hukum adat termuat peraturanperaturan hukum yang mengatur kehidupan orang-orang Indonesia dalam bentuk tak
tertulis dan mempunyai akibat hukum.
Di dalam hukum adat, tanah ini merupakan masalah yang sangat penting.
Hubungan antar manusia dengan tanah sangat erat, seperti yang telah dijelaskan
diatas, bahwa tanah sebagai tempat manusia untuk menjalani dan melanjutkan
kehidupannya. Tanah sebagai tempat mereka berdiam, tanah yang memberi mereka
makan, tanah dimana mereka dimakamkan dan menjadi tempat kediaman orangorang halus perlindungnya beserta arwah leluhurnya, tanah dimana meresap dayadaya hidup, termasuk juga hidupnya umat dan karenanya tergantung dari padanya.
Hak atas tanah yang dikuasai oleh masyarakat hukum adat pada masa
penjajahan tidak diberikan pengakuan, karena penjajah hanya memberikan pengakuan
kepada hak atas tanah yang telah terdaftar, sehingga ketika itu berlaku dualisme
30
31

Djaren Saragih, Pengantar Hukum Adat Indonesia,Tarsito, Bandung, 1996, Hal.13.


Ibid, Hal.14.

Universitas Sumatera Utara

hukum pertanahan, yaitu hak atas tanah yang dikuasai oleh hukum barat yang dikenal
dengan domein verklaring dan tanah yang dikuasai oleh masyarakat hukum adat.
Setelah Indonesia merdeka dan berlangsung diundangkannya Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, dengan
mengingat pentingnya tanah dalam kehidupan, jauh sebelum diundangkan UUPA
telah dikenal sistem penguasaan sumber daya alam di berbagai daerah di Indonesia
yang dikenal sebagai hak ulayat. Walaupun tidak dijelaskan secara jelas mengenai
pengertian hak ulayat tetapi dari berbagai pendapat para ahli, hak ulayat adalah
merupakan pengakuan/kepunyaan bersama seluruh anggota masyarakat dan
didalamnya juga terkandung adanya hak kepunyaan perorangan yang berarti orang
perorangan boleh mempunyai (memiliki) tanah dalam lingkungan hak ulayat
tersebut. 32
Dalam suatu lingkungan hak ulayat, persekutuan dan anggota-anggotanya
mempunyai wewenang dan kewajiban-kewajiban dalam mengatur penggunaan
tanahnya dan hubungan-hubungan hukum anggota-anggota masyarakat dengan tanah
dengan lingkungan wilayahnya, objek hak ulayat dapat mecangkup hak menggunakan
dan mengelola tanah, hak menangkap ikan, hak memungut hasil hutan dan
sebagainya.

32

Badan Pertanahan Nasional Kanwil Provinsi Kalteng, Seminar Langkah-Langkah


Administrasi Perlindungan Tanah Adat, Palangkaraya, 2007, Hal.4

Universitas Sumatera Utara

Di dalam Pasal 3 UUPA dan penjelasannya disebutkan bahwa pelaksanaan


hak ulayat harus sesuai dengan keadaan negara kesatuan. Hak ulayat semula belum
pernah diakui, diakui dengan 2 (dua) pembatasan:
1. Hak ulayat diakui sepanjang masih ada (tanpa penjelasan tentang kriteria masih
ada).
2. Biarpun hal ulayat diakui dan masih ada, kegunaannya harus disesuaikan dengan
ketentuan bahwa masyarakat hukum adat sudah menjadi bagian integral
masyarakat Indonesia. 33
Pengakuan atas hak ulayat ini hanya sebatas hak ulayat yang masih diakui
sesuai dengan Penjelasan Umum II angka 3 UUPA, bahwa pelaksanaan hak ulayat
dan hak-hak yang serupa ini dari masyarakat-masyarakat adat, sepanjang menurut
kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan
nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh
bertentangan dengan undang-undang dan peraturan perundang-undangan lain yang
lebih tinggi. Hal ini berarti bahwa hak ulayat masih diakui asalkan penguasaan hak
ulayat tersebut tidak boleh bertentangan dengan undang-undang atau peraturan
lainnya yang lebih tinggi dan selama menurut kenyataan hak ulayat tersebut diakui.
Misalnya saja, tidaklah dapat dibenarkan jika suatu masyarakat berdasarkan
hak ulayatnya menolak begitu saja dibukanya tanah secara besar-besaran secara

33

Kumpulan Makala Seminar Tanah Adat, Op.Cit.

Universitas Sumatera Utara

teratur untuk melaksanakan proyek-proyek yang besar dalam rangka pelaksanaan


rencana menambah hasil bahan makanan dan pemindahan penduduk. Pengalaman
menunjukan pula bahwa pembangunan-pembangunan daerah-daerah itu sendiri sering
kali terhambat karena mendapat kesukaran mengenai hak ulayat. Inilah yang
merupakan pangkal pikiran kedua dari pada ketentuan Pasal 3 UUPA, bahwa
kepentingan suatu masyarakat hukum harus tunduk pada kepentingan nasional dan
negara yang lebih luas dan hak ulayatnya pun dalam pelaksanaannya harus sesuai
dengan kepentingan yang lebih luas itu. Tidaklah dapat dibenarkan jika didalam alam
bernegara dewasa ini suatu masyarakat hukum masih mempertahankan isi dan
pelaksanaan hak ulayat secara mutlak, seakan-akan ia terlepas dari pada hubungannya
dengan masyarakat-masyarakat hukum dan daerah-daerah lainnya di dalam
lingkungan negara sebagai kesatuan.
Penegasan yang dikemukakan dalam Penjelasan Umum UUPA sebagaimana
tersebut adalah merupakan landasan pemikiran tentang pengakuan dan sekaligus
pembatasan hak-hak ulayat dari masyarakat hukum adat dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara. Negara akan tetap memperhatikan keberadaan hak ulayat sepanjang
hal tersebut dalam realitanya masih ada dan negara menempatkan hak ulayat untuk
tunduk kepada kepentingan umum dan negara. Atas dasar kewenangan tersebut
negara akan memberikan pengakuan, pengaturan dan pembatasan terhadap hak
ulayat.

Universitas Sumatera Utara

Istilah hak ulayat memiliki penyebutan yang berbeda-beda, Djojodigoeno


menyebutnya dengan istilah hak purba ialah hak yang dipunyai oleh sesuatu suku
(clans/gens/stam), sebuah serikat desa atau biasanya oleh sebuah desa saja untuk
menguasai seluruh tanah seisinya dalam lingkungan wilayahnya. Hak purba tidak
dapat dilepaskan, dipindahtangankan, diasingkan untuk selama-lamanya, hak purba
meliputi juga tanah yang sudah digarap yang sudah diliputi hak perseorangan.
Soepomo memberikan istilah sebagai hak pertuanan, dan didalam UUPA sendiri
disebut dengan hak ulayat. Sedangkan Van Vollenhoven memberikan istilah
beshikkingrecht terhadap hak ulayat, yang mana hak ulayat adalah berupa hak dan
berkewajiban daripada persekutuan hukum sebagai suatu keseluruhan atas suatu
wilayah tertentu yakni wilayah di mana mereka hidup. 34 Walaupun penyebutan istilah
hak yang dimiliki hukum adat ini berbeda-beda namun pengertiannya tidaklah jauh
berbeda.
Perhatian khusus terhadap hak ulayat dilakukan oleh Menteri Agraria/Kepala
Badan Pertanahan Nasional dengan menetapkan Peraturan Menteri Agraria/Kepala
BPN Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat
Masyarakat Hukum Adat. Hak ulayat adalah hak dari masyarakat hukum adat. Dalam
peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5 Tahun 1999 di atas diberikan
definisi operasional mengenai kedua hal tersebut.

34

Imam Sudiyat, Hukum Adat Sketsa Asas, Liberty, Cetakan V, Yogyakarta, 2007, Hal.2.

Universitas Sumatera Utara

Masyarakat hukum adat dirumuskan sebagai sekelompok orang yang terikat


oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum
karena kesamaan tempat tinggal ataupun dasar keturunan (Pasal 1 angka 3).
Sedangkan mengenai hak ulayat dinyatakan bahwa hak ulayat dan yang
serupa itu dari masyarakat hukum adat (untuk selanjutnya disebut hak ulayat)
adalah kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat
hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup
para warganya yang mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk
tanah, dalam wilayah tersebut, bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya,
yang timbul dari hubungan secara lahiriah dan batiniah turun-temurun dan
tidak terputus-putus antara masyarakat hukum adat dengan wilayah yang
bersangkutan (Pasal 1 angka 1).
Unsur-unsur hak ulayat sebagaimana termuat didalam Pasal 2 ayat (2)
Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5 Tahun 1999 tersebut yaitu :
1. Terdapat sekelompok orang yang masih merasa terikat oleh tatanan
hukum adanya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum tertentu
yang mengakui dan menerapkan ketentuan-ketentuan persekutuan tersebut
dalam kehidupannya sehari-hari.
2. Terdapat tanah ulayat tertentu yang menjadi lingkungan hidup para warga
persekutuan hukum tersebut dan tempatnya mengambil keperluan
hidupnya sehari-hari.
3. Terdapat tatanan hukum adat mengenai pengurusan, penguasaan, dan
penggunaan tanah ulayat yang berlaku dan ditaati oleh para warga
persekutuan hukum tersebut.
Bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 5
Tahun 1999, dalam hukum tanah nasional Indonesia mengakui adanya hak ulayat
sepanjang kenyataannya masih ada dan memenuhi unsur-unsur dan kriteria hak ulayat
dalam hukum adat suatu masyarakat dalam suatu wilayah.
Hubungan timbal balik antara hak ulayat dengan hak perorangan sebagaimana
dirumuskan Iman Sudiyat, bahwa hak purba dan hak perorangan itu bersangkut paut

Universitas Sumatera Utara

dalam hubungan kempis mengembang, desak mendesak, batas membatasi, mulur


mungkret tiada henti. Dimana hak purba kuat, disitu hak perorangan lemah, demikian
pula sebaliknya. 35
Antara hak ulayat dan hak perorangan yang diakui secara adat selalu ada
pengaruh timbal balik, makin banyak usaha yang dilakukan seseorang atas suatu
bidang tanah maka makin eratlah hubungannya dengan tanah itu dan makin kuat pula
haknya atas tanah tersebut. Di dalam hak demikian maka kekuatan hak ulayat
terhadap tanah itu menjadi berkurang, tetapi menurut hukumnya yang asli
bagaimanapun kuatnya hak perseorangan atas tanah itu tetap terikat oleh hak ulayat. 36
Sehingga dengan demikian hak ulayat bersifat fleksibel yaitu semakin
berkembang dan maju kondisi masyarakatnya, maka hak ulayat menjadi semakin
lemah dalam masyarakat apa lagi dalam masyarakat modern. Bila kita mengkaji lebih
dalam, bahwa hak ulayat dan hak adat atas tanah ada perbedaan yang cukup
signifikan.
Hak ulayat bersifat hak komunal (hak bersama) dari sekelompok masyarakat
hukum adat dengan kata lain tidak dimiliki perorangan oleh karenanya objek tidak
dapat dijual belikan tanpa persetujuan Pimpinan Adat yang bersangkutan, warganya
hanya boleh menikmati hasil, atau tempat berusaha sehari-hari dan pihak lain yang
diluar kelompok masyarakat hukum adat tersebut tidak diperkenankan
menguasai/melakukan aktivitas pada wilayah tersebut kecuali dengan persetujuan
pimpinan adat yag bersangkutan, adapunhak atas tanah sifatnya dikuasai perorangan
yaitu dengan diperoleh dengan membuka tanah negara misalnya berladang, berkebun
dan lain-lain, dan apabila tanah tersebut dipergunakan dan dirawat /dipelihara dengan
baik oleh penggarap maka pada gilirannya tanah ini dapat diberikan hak menurut
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960, sedangkan tanah yang sifatnya termasuk alam
lingkup hak ulayat tidak dapat diberikan hak untuk perorangan, kecuali atas dasar
persetujuan pimpinan adat yang bersangkutan. 37
35

Ibid, Hal. 3.
Seminar Langkah-langkah Administrasi Perlindungan Tanah Adat, Op.Cit, Hal.16
37
Ibid, Hal.20.
36

Universitas Sumatera Utara

2. Kriteria dan Penentuan Adanya Hak Ulayat


Hak ulayat merupakan serangkaian wewenang dan kewajiban suatu
masyarakat hukum adat, yang berhubungan dengan tanah yang terletak dalam
lingkungan wilayahnya, yang sebagian telah diuraikan diatas merupakan pendukung
utama penghidupan dan kehidupan masyarakat yang bersangkutan sepanjang masa.
Sebagaimana telah kita ketahui wewenang dan kewajiban tersebut ada yang termasuk
dalam bidang hukum perdata. Yaitu yang berhubungan dengan hak bersama
kepunyaan atas tanah tersebut. Ada juga yang termasuk dalam hukum publik, berupa
tugas kewenangan untuk mengelola, mengatur dan memimpin peruntukan,
penguasaan, penggunaan dan pemeliharaannya.
Hak ulayat meliputi semua tanah yang ada dalam lingkungan wilayah
masyarakat hukum yang bersangkutan, baik yang sudah dikuasai oleh seseorang
maupun yang belum. Dalam lingkungan Hak Ulayat tanah umumnya batas wilayah
hak ulayat masyarakat hukum adat teritorial tidak dapat ditentukan secara pasti.
Masyarakat hukum adatlah sebagai penjelmaan dari seluruh anggotanya yang
mempunyai hak ulayat, bukan orang seorang. Hak ulayat mempunyai kekuatan
berlaku kedalam dan keluar. Kedalam berhubungan dengan para warganya,
sedangkan kekuatan berlaku keluar dalam hubungannya dengan bukan anggota
masyarakat hukum adatnya yang disebut orang asing.

Universitas Sumatera Utara

Kewajiban yang utama penguasaan adat yang bersumber pada hak ulayat ialah
memelihara kesejahteraan dan kepentingan anggota masyarakat hukumnya, menjaga
jangan sampai timbul perselisihan mengenai penguasaan dan pemakaian tanah dan
kalau

terjadi

sengketa

ia

wajib

menyelesaikannya.

Berhubungan

dengan

tanggungjawabnya mengenai kesejahteraan masyarakat hukumnya maka pada


asasnya penguasa adat tidak diperbolehkan mengasingkan seluruh atau sebagian
tanah wilayahya kepada siapapun.
Menyinggung masalah hak ulayat tidak lepas dari asas-asas yang terkandung
dalam UUPA salah satu diantaranya, asas pada tingkatan tertinggi, bumi, air, ruang
angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara.
Negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi maksudnya bukan memiliki hak atas
tanah, melainkan hanya sekedar menguasainya saja. Menurut Boedi Harsono,38
pengertian peguasaan dan menguasai dapat dipakai dalam arti fisik, juga dalam arti
yuridis. Juga beraspek perdata dan beraspek publik. Penggunaan yuridis dilandasi
hak, yang dilindungi oleh hukum dari umumnya memberi kewenangan kepada
pemegang hak untuk menguasai secara fisik tanah yang dihaki. Tetapi ada juga
penguasaan yuridis yang biarpun memberi kewenangan untuk menguasai tanah yang
dihaki secara fisik, pada kenyataannya penguasaan fisiknya dilakukan pihak lain.
Misalnya kalau tanah yang dimiliki disewakan kepada pihak lain dan menyewa yang
38

Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok


Agraria, isi dan Pelaksanaan, Jilid 1 Hukum Tanah Nasional, Djambatan, Jakarta, 1999, Hal. 145.

Universitas Sumatera Utara

menguasainya secara fisik. Atau tanah tersebut dikuasai secara fisik oleh pihak lain
tanpa hak. Dalam hal ini pemilik tanah berdasarkan hak penguasaan yuridisnya,
berhak untuk menuntut diserahkannya kembali tanah yang bersangkutan secara fisik
kepadanya. Dalam hukum tanah kita dikenal juga penguasaan yuridis yang tidak
memberikan kewenangan untuk menguasai tanah yang bersangkutan secara fisik.
Kreditor pemegang hak jaminan atas tanah mempunyai hak penguasaan yuridis atas
tanah yang dijadikan agunan, tetapi penguasaannya secara fisik tetap ada pada yang
empunya tanah.
Pengertian penguasaan dan menguasai diatas dipakai dalam aspek
perdata. Pengertian dikuasai dan menguasai dipakai dalam aspek publik, seperti
yang dirumuskan dalam Pasal 2 UUPA. Pengertian penguasaan dipakai dalam arti
yuridis, baik penguasaan yang beraspek perdata maupun publik. Pengertian Hak
Penguasaan Atas Tanah dalam tiap hukum tanah terdapat pengaturan mengenai
berbagai hak penguasaan atas tanah. Dalam UUPA misalnya diatur dan sekaligus
ditetapkan tata jenjang nasional kita, yaitu :
1. Hak Bangsa Indonesia yang disebut dalam Pasal 1, sebagai hak penguasaan atas
tanah yang tertinggi, beraspek pada perdata dan publik.
2. Hak Menguasai dari Negara yang disebut dalam Pasal 2, semata-mata beraspek
publik.

Universitas Sumatera Utara

3. Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat yang disebut dalam Pasal 3, beraspek
perdata dan publik.
4. Hak perorangan / individual, semuanya beraspek perdata, terdiri atas :
a.

Hak-hak atas Tanah sebagai hak-hak individual yang semuanya secara


langsung ataupun tidak langsung bersumber pada hak bangsa, yang disebut
dalam Pasal 16 dan 53.

b.

Wakaf, yaitu Hak Milik yang sudah diwakafkan Pasal 49.

c.

Hak Jaminan atas Tanah yang disebut Hak Tanggungan dalam Pasal 25,
33, dan 51.
Hal ini secara jelas dijabarkan dalam Pasal 2 UUPA, bahwa perkataan

dikuasai disini bukan berarti dimiliki akan tetapi pengertian yang memberikan
wewenang kepada negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat untuk pada
tingkatan tertinggi :
a. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan, dan
pemeliharan bumi,air, dan ruang angkasa
b. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang
dengan bumi, air, dan ruang angkasa
c. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan
perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air, dan ruang angkasa.

Universitas Sumatera Utara

Hak menguasai dari negara tersebut diatas ditujukan untuk mencapai sebesarbesarnya kemakmuran rakyat dalam arti terwujud kebahagiaan dan kesejahteraan bagi
seluruh rakyat Indonesia. Kekuasaan negara tersebut mengenai semua bumi, air, dan
ruang angkasa, baik yang sudah dihaki maupun yang tidak. Kekuasaan negara
mengenai tanah yang sudah dipunyai orang dengan sesuatu hak dibatasi oleh isi dari
hak itu, artinya sampai seberapa negara memberi kekuasaan kepada yang mempunyai
untuk menggunakan haknya, sampai di situlah batas kekuasaan negara tersebut.
Kekuasaan negara atas tanah yang tidak dipunyai dengan sesuatu hak oleh seseorang
atau pihak lainnya adalah lebih luas dan penuh.
Atas dasar hak menguasai dari negara tersebut, negara dapat memberikan
tanah kepada seseorang atau badan hukum dengan sesuatu hak menurut peruntukan
dan keperluannya, misalnya Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, atau
Hak Pakai, atau memberikannya dalam pengelolaan kepada suatu badan penguasa
(departemen, jawatan, atau daerah swatantra) untuk dipergunakan bagi pelaksanaan
tugasnya masing-masing.
Dalam pelaksanaannya, hak menguasai dari negara tersebut dapat dikuasakan
kepada daerah-daerah swatantra dan masyarakat hukum adat sekadar diperlukan dan
tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, menurut ketentuan-ketentuan
Peraturan Pemerintah.

Universitas Sumatera Utara

Dalam kaitannya dengan hak ulayat, diterbitkan Peraturan Menteri Negara


Agraria/BPN Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak
Ulayat Masyarakat Hukum Adat untuk dipergunakan sebagai pedoman dalam daerah
melaksanakan urusan pertanahan khususnya dalam hubungan dengan masalah hak
ulayat masyarakat hukum adat yang nyata-nyata masih ada di daerah yang
bersangkutan, dengan penjelasan sebagai berikut :
1) mengenai muatan pokok dan maksud dikeluarkannya peraturan.
Peraturan ini memuat kebijaksanaan yang memperjelas prinsip pengakuan
terhadap hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat hukum adat
sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). Kebijaksanaan tersebut
meliputi :
a. Penyamaan persepsi mengenai hak ulayat (Pasal 1);
b. Kriteria dan penentuan masih adanya hak ulayat dan hak-hak yang serupa dari
masyarakat hukum adat (Pasal 2 dan Pasal 5);
c. Kewenangan masyarakat hukum adat terhadap tanah ulayatnya (Pasal 3 dan Pasal
4).
Maksud dikeluarkannya peraturan ini adalah untuk menyediakan pedoman
dalam pengaturan dan pengambilan kebijaksanaan operasional bidang pertanahan

Universitas Sumatera Utara

serta langkah-langkah penyelesaian masalah yang menyangkut tanah ulayat, dalam


kerangka pelaksanaan Hukum Tanah Nasional.
Pengaturan lebih lanjut mengenai hal-hal diatas diwenangkan kepada daerah
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, sesuai dengan maksud
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan dengan
demikian akan lebih mampu menyerap aspirasi masyarakat setempat.
2) Mengenai pengertian hak ulayat.
Pasal 3 Undang-Undang Pokok Agraria menetapkan bahwa hak ulayat dan
hak-hak yang serupa itu dari masyarakat hukum adat masih tetap dapat dilaksanakan
oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan sepanjang hak ulayat itu menurut
kenyataannya masih ada.
Hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat hukum adat,
didefinisikan sebagai kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh
masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan
para warganya untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam termasuk tanah
dalam wilayah tersebut bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya, yang timbul dari
hubungan secara lahiriah dan batiniah turun temurun dan tidak terputus antara
masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan.
Hak ulayat, sebutan yang dikenal dalam kepustakaan hukum adat dan
dikalangan masyarakat hukum adat di berbagai daerah dikenal dengan nama yang

Universitas Sumatera Utara

berbeda-beda, merupakan hak penguasaan yang tertinggi atas tanah dalam hukum
adat, yang meliputi semua tanah yang termasuk dalam lingkungan wilayah suatu
masyarakat hukum adat tertentu, yang merupakan tanah kepunyaan bersama para
warganya.
Subjek hak ulayat ini adalah masyarakat hukum adat, baik merupakan
persekutuan hukum yang didasarkan pada kesamaan tempat tinggal (teritorial),
maupun yang didasarkan pada keturunan (genealogis), yang dikenal dengan berbagai
nama yang khas di daerah yang bersangkutan, misalnya suku, marga, dati, dusun
nagari dan sebagainya. Apabila ada orang yang seakan-akan merupakan subjek hak
ulayat, maka orang tersebut adalah ketua atau tertua adat yang memperoleh
pelimpahan kewenangan dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan menurut
ketentuan hukum adatnya. Ia bukanlah subjek hak ulayat, melainkan petugas
masyarakat hukum adatnya dalam melaksanakan kewenangan yang bersangkutan
dengan hak ulayat.
3) Mengenai kriteria dan penentuan masih adanya hak ulayat.
Tanda-tanda yang perlu diteliti untuk menentukan masih adanya hak ulayat
meliputi 3 unsur, sebagaimana Pasal 2 ayat (2) PMA 5/1999 yaitu :
a. Unsur masyarakat adat, yaitu terdapatnya sekelompok orang yang masih merasa
terkait oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan

Universitas Sumatera Utara

hukum

tertentu,

yang

mengakui

dan

menetapkan

ketentuan-ketentuan

persekutuan tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.


b. Unsur wilayah, yaitu terdapatnya tanah ulayat tertentu yang menjadi lingkungan
hidup para warga persekutuan hukum tersebut dan tempatnya mengambil
keperluan hidupnya sehar-hari, dan
c. Unsur hubungan antara masyarakat tersebut dengan wilayahnya, yaitu
terdapatnya tatanan hukum adat mengenai pengurusan, penguasaan dan
penggunaan tanah ulayatnya yang masih berlaku dan ditaati oleh para warga
persekutuan hukum tersebut.
Penelitian mengenai ketiga unsur tersebut dan penentuan masih adanya hak ulayat
dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan mengikut sertakan pihak-pihak yang
berkepentingan dan pihak-pihak yang dapat menyumbangkan peranannya secara
objektif, yaitu antara lain para tetua adat, para pakar adat, wakil Lembaga Swadaya
Masyarakat dan instansi yang bertanggung jawab mengenai pengelolaan sumber daya
alam (misalnya instansi kehutanan, pertambangan dan sebagainya apabila tanah
ulayat itu diperkirakan meliputi tanah yang ada hutan atau bahan tambangnya).
Selanjutnya dalam rangka memastikan masih adanya tanah ulayat tersebut,
keberadaannya perlu dinyatakan dalam peta pendaftaran tanah dengan mencantumkan
suatu tanda kartografi yang sesuai, sekiranya pada kenyataannya batas-batas tanah
yang bersangkutan dapat ditentukan menurut tata cara penentuan batas dalam

Universitas Sumatera Utara

pelaksanaan pendaftaran tanah, batas tersebut dapat digambarkan pada peta dasar
pendaftaran tanahnya dan dicatat pula dalam daftar tanah yang ada. Semua itu perlu
diatur sesuai dengan keadaan masing-masing daerah dalam Peraturan Daerah, yang
dimaksud dalam Pasal 6 ketentuan yang demikian sebenarnya tidak cukup, sebab
berdasarkan Pasal 19 UUPA jo. PP No. 24 Tahun 1997 bahwa untuk menjamin
kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah
Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan peraturan
pemerintah. Peraturan Pemerintah yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah
Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah yang telah dicabut oleh PP No.24
Tahun 1997. Pendaftaran tanah hak ulayat mengalami suatu kendala, karena
sebagaimana Pasal 9 PP No.24 Tahun 1997 bahwa objek pendaftaran tanah meliputi :
bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak guna
bangunan dan hak pakai, tanah hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan
rumah susun, hak tanggungan, tanah negara.
4) Mengenai pelaksanaan hak ulayat oleh masyarakat hukum adat.
Hak ulayat memberikan kewenangan tertentu kepada masyarakat hukum adat
terhadap tanah ulayatnya yang sumber, dasar pelaksanaan, dan ketentuan tata cara
pelaksanaannya adalah hukum adat yang bersangkutan. Kewenangan tersebut
meliputi hak penguasaan tanah oleh para warganya (Pasal 4 ayat 1 huruf a) dan
pelaksanaan tanah untuk keperluan orang luar (Pasal 4 ayat 1 huruf b). Mengingat

Universitas Sumatera Utara

hukum adat itu bersifat dinamis, maka hak penguasaan tanah yang diperoleh menurut
hukum adat oleh warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan apabila
dikehendaki boleh didaftar sebagai hak atas tanah yang sesuai menurut UndangUndang Pokok Agraria. Dengan demikian tujuan meletakkan dasar-dasar untuk
mengadakan kesatuan hukum dan kesederhanan dalam hukum pertanahan
sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Pokok Agraria akan dapat terwujud
secara alamiah dan bertahap.
Dalam pada itu dapat dipastikan bahwa pada waktu dikeluarkannya Peraturan
Daerah yang mengatur hak ulayat nanti akan terdapat bidang-bidang tanah yang
sesuai dipunyai perseorangan atau badan hukum dengan sesuatu hak atas tanah
menurut Undang-undang Pokok Agraria atau sudah diperoleh menurut ketentuan dan
tata cara yang berlaku walaupun haknya secara administratif

belum diperoleh.

Berdasarkan pemikiran bahwa bidang-bidang tanah ini sudah diperoleh secara sah,
yaitu dengan membeli atau membebaskannya dari hak-hak dan kepentingan yang ada
di atasnya, maka pelaksanaan hak ulayat atas bidang-bidang tanah ini dikecualikan
(Pasal 3 UUPA).
Menurut prinsip Hukum Adat yang diakui eksistensinya oleh undang-undang
agraria intensitas hubungan seseorang dengan tanah akan menentukan tebal tipis
haknya atas tanah tersebut. Makin lama dan intensif hubungan seseorang dengan
tanah, makin tebal haknya atas tanah tersebut. Djojodiguno teori mulur-mungkret

Universitas Sumatera Utara

Supomo individualis-sering proces. Secara kultural, rakyat Indonesia acapkali


disebut sebagai masyarakat oral cultural. 39 Dokumen atau catatan tertulis sebagai
bukti suatu hak bukanlah sesuatu yang penting. Bukti yang kuat adalah hubungan
kongkret seperti tanaman dan pengetahuan dari anggota masyarakat hukum
sekitarnya. Sistem girik bukanlah asli budaya Indonesia. Girik adalah sistem
administrasi Hindia Belanda untuk kepentingan perpajakan. Kemudian, diterima
(resepsi) sebagai bukti pemilihan atas tanah. Begitu pula pengertian tanah dikuasai
negara dalam praktek, negara atau pemerintah diberi wewenang untuk memberikan
hak tanah kepada siapapun tanpa menghiraukan hubungan yang telah ada antara
rakyat dengan tanah. Praktek semacam ini sangat kolonialistik dan bertentangan
dengan undang-undang dasar. Asas domein pada masa kolonial masih ada batas,
yaitu dibedakan antara vrijlandsdomein dan onvrijlandsdomein. Terhadap
onvrijlandsdo-mein pemerintah koloniali tidak akan memberikan kepada pihak lain
karena diatas tanah tersebut diakui hak masyarakat atas tanah seperti hak ulayat dan
lain-lain. Sebaliknya dimasa merdeka lebih-lebih setelah ada Undang-Undang Nomor
5 Tahun 1960. Dalam kenyataan pengertian hak negara menguasai negara bergeser
seperti domein pada masa kolonial, bahkan lebih. Pemerintah atas nama negara
berkuasa penuh menyerahkan atau memberikan hak atas sebidang tanah negara tanpa
harus menghiraukan hak-hak yang secara sosio-kultural ada pada rakyat. Hukum

39

Ibid, Hal.262.

Universitas Sumatera Utara

menjadi bentuk formal di tangan para penguasa. Satu hal pokok yang di lupakan,
begitu pula dari sudut Undang-Undang Dasar. Hak negara menguasai tanah adalah
induk kepentingan rakyat. Sangat tepat ungkapan Pasal 33 Undang-Undang Dasar
1945 karena itu tidak boleh dipilah atau dipisahkan dikuasai negara itu untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Kalau tanah, sebidang tanah telah dipergunakan rakyat,
maka tercapailah salah satu tujuan penguasaan negara atas tanah, yaitu untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Jadi, negara atau pemerintah harus mengutamakan hak
rakyat atas tanah daripada kepentingan lain yang datang kemudian. Inilah inti paham
tanah dikuasai negara.

B. Otonomi Daerah Dan Hak-Hak Penguasaan Atas Tanah


Setelah Indonesia merdeka, penghapusan terhadap segala kolonialisme
menciptakan babak baru penyelenggaraan pemerintah daerah di Indonesia. Para
founding fathers mulai merintis kebijakan baru penyelenggara pemerintah daerah
yang merujuk pada kedaulatan rakyat sesuai dengan nilai demokrasi yang tertanam
dalam konstitusi. Konsensus yang dicapai oleh founding fathers kiranya merupakan
hal yang tepat, yaitu pembangunan persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka
negara kesatuan melalui desentralisasi dan otonomi daerah sebagai instrumen
perekatnya. Pemikiran ini merupakan hal yang bijaksana mengingat pada kondisi
geografis

Indonesia

yang

begitu

luas

dengan

segala

kemajemukan

dan

Universitas Sumatera Utara

kompleksitasnya menyebabkan tuntutan kebutuhan untuk mengakomodasikannya


dalam penerapan desentralisasi dan otonomi daerah. Secara teoritis dan faktual,
pembentukan daerah otonom melalui desentralisasi tidak akan menyebabkan
terjadinya disintegrasi nasional, tetapi justru kondusif bagi tercapainya integritas
nasional. Pemberian status otonom kepada kelompok masyarakat lokal merupakan
jiwa besar pemerintah sebagai bentuk penghargaan terhadap perbedaan yang ada
sehingga akan mendorong masyarakat lokal berpartisipasi dalam skala daerah
maupun nasional. 40
Pergeseran stuktur politik dan pemerintahan dari model sentralisasi menuju
kearah desentralisasi merupakan sebuah langkah yang penting dalam rangka
pemberdayaan masyarakat adat. Keluarnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
yang kemudian dirubah dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
menandai

dimulainya

otonomi

daerah

yang

didalamnya

terdapat

harapan

pembangunan daerah sesuai dengan kepentingan dan kehendak daerah, serta


merupakan harapan baru bagi pengembangan komunitas lokal. Hal ini dapat dilihat
dengan adanya otonomi desa, yang secara eksplesit menegaskan desa dikembalikan
kepada asal usulnya, yakni adat.
Adanya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah
merupakan pedoman (guideline) dalam pelaksanaan otonom daerah yang diarahkan
40

Hari Sabarno, Memandu Otonomi Daerah Menjaga Kesatuan Bangsa, Sinar Grafika,
Jakarta, 2007, Hal. 63-64

Universitas Sumatera Utara

untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas,


meningkatkan peran serta masyarakat, mengembangkan peran dan fungsi Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemberian peran yang lebih dominan kepada
DPRD pada prinsipnya ditujukan pada pengembangan demokratisasi didaerah
sehingga akuntabilitas penyelenggaraan pemerintah daerah dapat terjamin. 41
Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah,
yang merupakan perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
merupakan panduan yang nyata dalam pelaksanaan otonomi daerah, juga merupakan
politik hukum otonomi daerah. Dengan dasar kekuatan tersebut, pelaksanaan otonomi
daerah diwujudkan dalam kebijakan yang terukur, terarah, dan terencana oleh
pemerintah pusat. Oleh sebab itu, otonomi daerah yang dijalankan selain bersifat
nyata dan luas, tetap harus dilaksanakan secara bertanggung jawab. Maksudnya
otonomi

daerah

harus

dipahami

sebagai

perwujudan

pertanggungjawaban

konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada daerah dalam wujud tugas dan
kewajiban yang harus dilaksanakan daerah. Tugas dan kewajiban dalam pelaksanaan
otonomi daerah adalah berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat,
pengembangan kehidupan demokrasi, penegakan keadilan dan pemerataan, serta

41

Ibid, Hal. 7.

Universitas Sumatera Utara

pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah dalam
rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 42
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah sangat
jelas mengatur mengenai pertanahan, sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 14
yang menyatakan bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan daerah untuk
kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi poin (k)
tentang pelayanan pertanahan. Kaitan dengan pelaksanaan otonomi daerah itu juga,
sesuai dengan yang terdapat dalam penjelasan poin (b), yang menyebutkan bahwa
prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti
daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan
diluar yang menjadi urusan pemerintah yang ditetapkan dalam undang-undang ini.
Dengan demikian daerah memiliki kewenangan membuat arah kebijakan daerah
untuk memberikan pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan
masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
Selanjutnya juga kebijakan nasional di bidang pertanahan saat ini, melalui
kewenangan pemerintah di bidang pertanahan yang dilakukan oleh pemerintah
kabupaten/kota dan provinsi, secara tegas dijelaskan bahwa sebagian kewenangan
pemerintah di bidang pertanahan, dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota,
meliputi :

42

Ibid, Hal. 9.

Universitas Sumatera Utara

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pemberian izin lokasi;


Penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan;
Penyelesaian sengketa tanah garapan;
Penyelesaian masalah ganti kerugian dan satuan tanah untuk penbangunan;
Penetapan subjek dan objek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah
kelebihan maksimum dan tanah absentee;
Penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat;
Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong;
Pemberian izin membuka tanah;
Perencanaan penggunaan tanah wilayah kabupaten/kota. 43
Kewenangan yang telah dimiliki oleh daerah dengan berlakunya otonomi

daerah tersebut, maka pemerintah daerah baik itu kabupaten/kota serta desa
merupakan lini pertama yang dapat melindungi hak masyarakat hukum adat serta
tanah ulayatnya. Karena jajaran Pemerintah Daerah diberi kewenangan yang amat
luas untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, akan tetapi tentu saja
dengan benar-benar memahami dan mampu mengartikulasikan aspirasi dan
kepentingan masyarakat yang berada di daerahnya tersebut. Selain itu juga
masyarakat hukum adat tersebut juga tidak harus tinggal diam akan tetapi juga harus
turut serta mendayagunakan hak sipil dan hak politiknya dengan cara menata dan
mengorganisasikan diri mereka secara nyata dan melembaga. Dengan cara inilah
maka masyarakat hukum adat itu akan nampak dan akan lebih di dengar
keberadaannya oleh para pengambil keputusan.
Sebagaimana apa yang dinyatakan Hari Sabarno dalam bukunya bahwa :

43

M. Rizal Akbar dkk, Tanah Ulayat dan Keberadaan Masyarakat Hukum Adat, LPNU
Press, Pekanbaru, 2005, Hal.9.

Universitas Sumatera Utara

Tolak ukur utama keberhasilan otonomi pada suatu daerah tidak lain adalah
pada masyarakat daerah itu sendiri. Masyarakat merupakan bagian utama
pemerintahan. Oleh sebab itu, selain tanggungjawab pelaksanaan otonomi di
tangan Kepala Daerah, DPRD, dan aparat pelaksananya, masyarakat harus
menjadi pelaksana utama dalam otonomi daerah tersebut. 44
Adapun dalam bidang pertanahan, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
memberikan pengaturannya di bidang pertanahan tersebut, yaitu meliputi
penyelenggaran kegiatan dibidang pertanahan, dan memberikan kewenangan
pengaturannya kepada Pemerintah Daerah propinsi maupun kabupaten/kota.
Sedangkan mengenai hak-hak penguasaan atas tanah tetap berdasarkan UUPA.
Adapun pengertian penguasaan dan menguasai dapat dipakai dalam arti
fisik, juga dalam arti yuridis, juga beraspek perdata dan publik. Penguasaan yuridis
dilandasi hak, yang dilindungi oleh hukum dan umumnya memberi kewenangan
kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik tanah yang dihaki. Tetapi ada
juga penguasaan yuridis yang biarpun memberikan kewenangan untuk menguasai
tanah yang dihaki secara fisik, pada kenyataannya penguasaan fisiknya dilakukan
pihak lain. Misalnya kalau tanah yang dimiliki disewakan kepada pihak lain dan
penyewa yang menguasainya secara fisik, atau tanah tersebut dikuasai secara fisik
oleh pihak lain tanpa hak. Dalam hal ini pemilik tanah berdasarkan hak penguasaan

44

Hari Sabarno, Op.Cit, Hal.44.

Universitas Sumatera Utara

yuridisnya, berhak untuk menuntut diserahkannya kembali tanah yang bersangkutan


secara fisik kepadanya. 45
Hak menguasai tanah oleh negara adalah hak yang memberi wewenang
kepada negara untuk mengatur 3 hak seperti termuat dalam Pasal 2 ayat (2) UUPA.
Hak ulayat dari unsur/aspek hukum publik juga memberi wewenang kepada
masyarakat hukum adat untuk mengelola, mengatur dan memimpin penguasaan,
pemeliharaan, peruntukan dan penggunaan tanah ulayat. Jika kedua hal tersebut
dihubungkan satu dengan yang lain, maka hak menguasai tanah oleh negara semacam
hak ulayat yang diangkat pada tingkatan yang tertinggi yaitu, meliputi seluruh
wilayah Republik Indonesia. Hak ulayat dari unsur/aspek hukum publik berlaku
terbatas hanya pada suatu wilayah masyarakat hukum adat tertentu (bersifat lokal),
sedangkan hak menguasai tanah oleh negara berlaku untuk semua tanah yang ada di
wilayah Republik Indonesia (bersifat nasional). 46
Biarpun bemacam-macam, tetapi semua hak penguasaan atas tanah berisikan
serangkaian wewenang, kewajiban dan atau larangan bagi pemegang haknya untuk
berbuat sesuatu mengenai tanah yang dihaki. Sesuatu yang boleh, wajib atau
dilarang atau diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan atas tanah yang diatur
dalam hukum tanah.

45
46

Boedi Harsono, Op.Cit, Hal. 23


Muhammad Bakri, Op.Cit, Hal. 47.

Universitas Sumatera Utara

Hal ini didukung oleh adanya beberapa persamaan antara konsep hak ulayat
dengan konsep hak menguasai tanah oleh negara, yaitu :
1. Baik hak ulayat maupun hak menguasai tanah oleh negara merupakan induk
dari hak-hak atas tanah lainnya. Di atas hak atas tanah ulayat dapat muncul hak
perorangan atas tanah, demikian pula dengan hak menguasai tanah oleh negara
dapat muncul hak-hak perorangan atas tanah.
2. Hak ulayat mempunyai kekuatan berlaku kedalam yang sama dengan
kewenangan negara yang bersumber pada hak menguasai oleh negara atas tanah.
Setelah terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, atas dasar ketentuan
yang termuat dalam Pasal 33 ayat (3), hak ulayat yang memberikan wewenang
kepada masyarakat hukum adat untuk menguasai semua tanah yang ada di wilayah
kekuasaannya, pada tingkatan tertinggi (secara nasional) wewenang itu diserahkan
kepada negara. Penyerahan ini berdasarkan pada ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD
1945. Konsep hak menguasai tanah oleh negara semacam hak ulayat yang diangkat
pada tingkatan tertinggi ini, sesuai dengan konsep hak menguasai tanah oleh negara
yang termuat dalam Pasal 2 UUPA. Konsep ini dapat diterima sepanjang hak ulayat
yang ditarik pada tingkatan tertiggi itu (hak menguasai tanah oleh negara), tidak
menghapus hak ulayat masyarakat hukum adat yang menurut kenyataannya benarbenar masih ada. Hak ulayat itu harus dibiarkan hidup secara bebas tanpa ada
gangguan dari siapa pun, dibawah naungan dan lindungan hak menguasai tanah oleh

Universitas Sumatera Utara

negara. Kedua hak itu secara berdampingan walaupun kedudukan hak ulayat lebih
rendah dari pada hak menguasai tanah oleh negara, dan hak menguasai tanah oleh
negara tidak boleh menghapus hak ulayat, bahkan sebaliknya ia harus mengayomi
dan melindungi hak ulayat. 47
Adapun mengenai pengaturan hak-hak penguasaan atas tanah dalam UUPA
ada yang sebagai lembaga hukum dan ada pula sebagai hubungan-hubungan hukum
kongkrit. Hak penguasaan atas tanah merupakan suatu lembaga hukum, jika belum
dihubungkan dengan tanah dan orang atau badan hukum tertentu sebagai pemegang
haknya. Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 20 sampai 45 UUPA, seperti hak
milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, dan hak sewa bangunan.
Di dalam penyelenggaraan otonomi daerah, negara dalam hal ini melalui
pemerintah merupakan representasi penyelenggaraan negara, sehingga daerah tidak
dapat berbuat sendiri atas kemauan dan kehendaknya, kecuali untuk kewenangan
yang telah diserahkan sebelumnya berdasarkan peraturan perundang-undangan. Oleh
karena itulah undang-undang otonomi daerah dikeluarkan dengan tujuan memberikan
pengaturan mengenai tugas dan wewenang daerah dalam pemerintahan, agar tidak
terjadi benturan antara kewenangan pusat dan daerah.
Pada era reformasi, terjadi tarik ulur antara pemerintah pusat dan daerah
tentang kewenangan di bidang pertanahan. Di samping itu terjadi inkonsistensi

47

Muhammad Bakri, Op.Cit, Hal. 50.

Universitas Sumatera Utara

peraturan pusat yang dibuat oleh presiden dalam bentuk keputusan presiden
(keppres), sehingga menghambat pelaksanaan/penerapan otonomi daerah di
kabupaten/kota. Tarik ulur dan inkonsistensi tersebut sebagaimana terdapat pada
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah.
Negara Republik Indonesia sebagai negara kesatuan yang menganut asas
desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, memberikan kesempatan dan
keleluasaan yang seluas-luasnya kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan dan
menyelenggarakan pemerintahan sendiri (Pasal 18 ayat (5) UUD 1945). Ketentuan ini
dijadikan landasan yang kuat bagi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 untuk
menganut asas otonomi daerah sebagaimana yang diatur dalam Pasal 7. menurut
pasal tersebut, pemerintah daerah mempunyai kewenangan di bidang pemerintahan,
kecuali wewenang yang oleh Undang-undang diberikan kepada pemerintah pusat.
Selanjutnya pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah
daerah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 Tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Yang
dalam Pasal 2 ayat (3) nomor 14, merincikan kewenangan pemerintah pusat di bidang
pertanahan yaitu:
1. Penetapan persyaratan pemberian hak-hak atas tanah.
2. Penetapan persyaratan landreform.
3. Penetapan standar administrasi pertanahan.

Universitas Sumatera Utara

4. Penetapan pedoman biaya pelayanan pertanahan.


5. Penetapan kerangka dasar kadastral nasional dan pelaksanaan pengukuran
kerangka dasar kadastral nasional orde I dan II. 48
Berdasarkan ketentuan pasal tersebut, pemerintah pusat hanya diberi
wewenang untuk menetapkan standarisasi hal-hal tersebut diatas, sedangkan
kebijakan (policy) di bidang pertanahan dipegang oleh pemerintah daerah.
Inkonsistensi peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh presiden dengan
memberlakukan Keppres Nomor 10 Tahun 2001 Tentang Pelaksanaan Otonomi di
bidang pertanahan, yang mencabut kewenangan pemerintah daerah di bidang
pertanahan. Pencabutan ini secara hukum tidak dapat dibenarkan, karena presiden
tidak mempunyai kewenangan untuk mencabut ketentuan-ketentuan yang diatur oleh
Undang-undang terdahulu. Ketentuan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 22 Tahun
1999 hanya dapat dicabut dengan ketentuan Undang-undang dan bukan dengan
keputusan presiden. 49
Pencabutan wewenang pemerintah daerah di bidang pertanahan, dipertegas
dengan diberlakukannya Keppres Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional
di Bidang Pertanahan, Selanjutnya dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004, dengan demikian mencabut undang-undang sebelumnya yaitu
Undang-Undang-Undang
48
49

Nomor

22

Tahun

1999.

Undang-undang

inipun

Muhammad Bakri, Op.Cit, Hal. 63-65.


Muhammad Bakri, Loc.Cit.

Universitas Sumatera Utara

memberikan

kewenangan

seluas-luasnya

kepada

pemerintah

daerah

untuk

menyelenggarakan pemerintahannya.
Adapun otonomi yang seluas-luasnya tersebut harus tetap memelihara dan
mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana diatur
dalam Pasal 1 ayat (1) UUD 1945, yang menyebutkan bahwa Negara Indonesia
adalah negara kesatuan yang berbentuk Republik.
Dengan demikian dalam era otonomi daerah ini, paradigma lama di bidang
pertanahan yang bersifat sentralistik, sudah sepatutnya diganti dengan paradigma
baru yang bersifat desentralisasi, oleh karena itu sesuai dengan Pasal 18 ayat (5)
UUD 1945, kewenangan pemerintah pusat di bidang pertanahan harus diserahkan
kepada pemerintah daerah. Maka dengan adanya otonomi daerah pemerintah daerah
bisa memberikan perhatiannya lebih serius terhadap kemajuan dan kemakmuran
daerah-daerah kekuasaannya.
Dengan adanya otonomi daerah pemerintah bisa lebih bijak lagi dalam
memberikan perlindungan terhadap keberadaan masyarakat asli yang ada di
kabupaten tersebut agar tidak hilang bersama perkembangan zaman serta keberadaan
tanah ulayat masyarakat tersebut Agar tidak hilang eksistensinya akibat pembukaan
hutan untuk perkebunan sawit.

C. Masyarakat Suku Sakai Kabupaten Bengkalis

Universitas Sumatera Utara

1. Deskripsi Masyarakat Suku Sakai


Pada masa penjajahan sebagian besar daerah Bengkalis berada dalam
lingkungan pemerintahan Kerajaan Siak, kecuali Pulau Bengkalis yang merupakan
daerah jajahan langsung pemerintah Hindia Belanda. Kekuasaan pemerintah Kerajaan
Siak berakhir tahun 1942. 50
Sebelum tahun 1858 Pulau Bengkalis termasuk dalam Keresidenan Riau yang
berkedudukan di Tanjung Pinang. Sehubungan dengan bertambah pesatnya
pertumbuhan usaha-usaha Pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Timur, terutama
dengan dibukanya areal perkebunan, maka pada Mei 1873 Keresidenan Riau dibagi
menjadi 2 (dua) yaitu :
a. Keresidenan Riau dengan pusat pemerintahan di Tanjung Pinang.
b. Keresidenan Sumatera Timur dengan pusat pemerintahan di Bengkalis.
Dan pada tahun itu juga pusat pemerintahan keresidenan Sumatera Timur
dipindahkan ke Medan dan Bengkalis merupakan asisten residen.
Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia daerah Kabupaten Bengkalis
terdiri dari 4 (empat) kewedanan dan 11 kecamatan, yaitu :
a) Kewedanan Bengkalis, ibunegerinya Bengkalis, membawahi 3 (tiga) kecamatan,
yaitu :
1. Kecamatan Bengkalis, ibunegerinya Bengkalis.
50

Emrizal Pakis, Monografi Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis Tahun 1996, Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Bekerjasama Dengan Kantor Statistik Kaupaten Bengkalis.

Universitas Sumatera Utara

2. Kecamatan Bukit Batu, ibunegerinya Sungai Pakning.


3. Kecamatan Rupat, ibunegerinya Batu Panjang.
b) Kewedanan Selatpanjang, ibunegerinya Selatpanjang, yang membawahi 2 (dua)
kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan Tebing Tinggi, ibunegerinya Selatpanjang.
2. Kecamatan Merbau, ibunegerinya Telukbelitung.
c) Kewedanan Siak, ibunegerinya Siak Sri Indrapura, yang membawahi 3 (tiga)
kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan Siak, ibunegerinya Siak Sri Indrapura.
2. Kecamatan Sungaiapit, ibunegerinya Sungaiapit.
3. Kecamatan Mandau, ibunegerinya Muarakelantan.
d) Kewedanan Bagansiapi-api, ibunegerinya Bagansiapi-api, yang membawahi 3
(tiga) kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan Bangko, ibunegerinya Bagansiapi-api.
2. Kecamatan Kubu, ibunegerinya Telukmerbau.
3. Kecamatan Tanah Putih, ibunegerinya Tanah Putih.
Sejalan dengan pesatnya perkembangan daerah ini, dengan semakin
bertambahnya jumlah penduduk serta dilakukannya kegiatan eksplorasi minyak bumi
di wilayah Kecamatan Mandau, dan Dumai dijadikan pelabuhan ekspor minyak,
maka wilayah administrasi pemerintahan di Kabupaten Bengkalis pada tahun 1963

Universitas Sumatera Utara

dikembangkan dengan membentuk kewedanan baru yaitu kewedanan Dumai, yang


membawahi 3 (tiga) kecamatan, yaitu :
a. Kecamatan Dumai, ibunegerinya Dumai.
b. Kecamatan Rupat, ibunegerinya Batupanjang.
c. Kecamatan Mandau, ibunegerinya Duri.
Pada tahun 1958, seluruh kewedanan yang ada di wilayah Kabupaten
Bengkalis dihapuskan, sehingga dengan demikian kecamatan-kecamatan di
Kabupaten Bengkalis langsung berada dibawah pemerintahan kepala daerah tingkat II
Bengkalis. Struktur baru ini lahir Tahun 1956, berdasarkan Undang-Undang Nomor
12 Tahun 1956, Lembaran Negara Nomor 25 Tahun 1956.
Komunitas adat terpencil sebagaimana yang didefenisikan departemen sosial
merupakan masyarakat yang terisolir dan memiliki kemampuan yang karena itu
bersifat terbelakang dan tertinggal dengan proses mengembangkan kehidupan
ekonomi, sosial budaya, keagamaan dan ideologi. Komunitas adat terpencil sering
dianggap rendah oleh masyarakat dan selau dijauhkan oleh kelompok-kelompok yang
lain. Tidak salah sehingga mereka menjadi rendah diri, sehingga selalu terpojok dan
jarang mau bergaul dan menyatu dengan kelompok atau orang luar, sehingga tidak
dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan luar yang lebih maju.
Salah satu kelompok atau komunitas dari masyarakat terpencil ini adalah
orang Sakai Sakai merupakan nama salah satu suku bangsa di tanah melayu dan

Universitas Sumatera Utara

dapat juga diartikan sebagi orang bawahan atau hamba sahaya. Orang Sakai pada
dasarnya dikategorikan sebagai masyarakat yang tertinggal oleh proses perubahan
sosial atau relatif terbelakang kehidupannya. Kelompok ini dianggap tidak maju dan
kuat memegang tradisi.
Mengenai kata Sakai dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, menerangkan
kata Sakai sebagai nama suku bangsa di tanah Melayu, termasuk bangsa Negrito
yang tidak berbahasa Melayu, disamping diartikan pula sebagai orang bawahan (yang
diperintah) sama dengan hamba sahaya. Tetapi ada juga anggapan bahwa Sakai itu
nama sungai di Mandau Kabupaten Bengkalis. Karena suku itu menetap di tepi
sungai tersebut, maka mereka disebut orang atau Suku Sakai. 51
Menurut M.Yatim kepala batin Suku Sakai, bahwa nama Suku Sakai diartikan
sebagai suku anak air ikan, karena sumber penghidupannya adalah dipinggiran air
serta menangkap ikan. Menurutnya lagi Sakai adalah suku atau manusia kebal
(sakai=badak=kebal), sedangkan menurut orang Sakai sendiri, Sakai adalah suku
orang batin. 52
Tokoh atau pemimpin Sakai yang paling menentukan ialah batin. Batin
memimpin suatu perkampungan. Dialah pemimpin formal dalam suku yang mengatur
dan mengemudikan masyarakat dengan asas adat. 53 Karena itu batin menjadi pusat
51

UU.Hamidy, Masyarakat Terasing Daerah Riau Di Gerbang Abad XXI, Zamrad Untuk
Pusat Kajian Islam dan Dakwah Universitas Islam Riau, Pekanbaru, 1991, Hal.88.
52
Wawancara Penulis dengan M.Yatim, Kepala Batin, Tanggal 28 Maret 2010.
53
Batin = Kepala Suku atau Ketua Adat

Universitas Sumatera Utara

kehidupan dan mitos suku. Batin juga bisa merangkap sebagai bomo. 54 Tetapi, bomo
juga telah merupakan tokoh yang khas dalam kehidupan masyarakat, sebab dia telah
memainkan peranan penting dalam hubungan dengan makhluk gaib, sehingga amat
menentukan jalan pikiran masyarakatnya. Pada bomolah bertumpu alam pikiran
animisme sehingga dia memainkan peranan yang besar dalam berbagai tradisi yang
bersangkutan dengan alam atau makhluk halus.
Menurut silsilah dan asal usulnya orang Sakai dahulunya berasal dari
Pagaruyung yang datang ke Riau sekitar abad ke-14 Masehi. Karena negeri
Pagaruyung adalah negeri yang sangat padat penduduknya sehingga untuk mengatasi
kepadatan penduduk tersebut Raja Pagaruyung berusaha mencari wilayah-wilayah
baru yang masih sedikit penduduknya. Raja Pagaruyung kemudian mengutus sebuah
rombongan berjumlah 190 orang untuk berangkat kearah timur karena di wilayah
tersebut masih kosong penduduknya. Rombongan menembus hutan belantara dan
akhirnya sampai ditepi sebuah sungai yang mereka namakan Sungai Biduando. Nama
Biduando inilah yang kemudian berubah menjadi Mandau,dan wilayah sekitar
sungai tersebutlah mereka jadikan wilayah pemukiman yang baru. 55
Kemudian Raja Pagarayung mengutus kembali rombongan yang kedua yang
terdiri dari 3 orang hulubalang. Rombongan ini kembali berjalan menuju kearah
wilayah Mandau dengan mengikuti bekas perjalanan rombongan yang pertama.
54
55

Bomo= Dukun
http://www.katcenter.info/detail artikel, diakses pada tanggal 25 Mei 2010.

Universitas Sumatera Utara

Setelah beberapa tahun perjalanan rombongan tersebut bukannya sampai kewilayah


Mandau akan tetapi sampai di Kunto Bessalam, yang akhirnya mereka menyerahkan
diri kepada Raja Kunto Bessalam. Setelah beberapa lama tinggal di kerajaan tersebut
mereka diangkat sebagai hulubalang raja. Raja Kunto Bessalam mengalihkan
kegiatan pembangunan kekerajaan Rokan Kanan/Kiri yang berkerabat dan bersahabat
dengannya dengan mengirim 5 keluarga yang dipimpin oleh 2 orang hulubalang yang
bernama Sultan Janggut dan Sultan Rimbo untuk bekerja disitu. Akan tetapi sebelum
pekerjaan itu selesai, 2 orang hulubalang dan 5 keluarga telah melarikan diri karena
tidak sanggup tinggal disana karena rajanya sangat kejam. Rombongan tersebut
melarikan diri kearah wilayah Mandau, dan sampailah mereka ditepi sungai Sam-Sam
di hulu Sungai Mandau, dan kemudian meneruskan perjalanan sehingga sampailah
rombongan tersebut di hulu Sungai Penaso, yang kemudian sampailah mereka
diwilayah Desa Mandau dan kemudian menyerahkan diri kepada kepala desanya.
Ada banyak versi yang menceritakan kedatangan orang Sakai sampai ke
Mandau. Menurut Moszkowski (1908) dan Loeb (1935) orang Sakai adalah orang
Veddoid yang bercampur dengan orang Minangkabau yang berimigrasi pada abad ke14 ke daerah Riau, yakni di Gasib, di tepi sungai di hulu Sungai Rokan, sedangkan
menurut Hasny, orang Sakai berasal dari Pagaruyung, Batu Sangkar dan Mentawai. 56

56

Husni Thamrin, SAKAI Kekuasaan, Pembangunan dan Marjinalisasi, Gagasan Press,


Pekanbaru, 2003, Hal.5.

Universitas Sumatera Utara

Sebagian orang Sakai telah masuk islam, oleh tokoh tarekat Naksyahbandiyah
Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan dengan khalifahnya bernama Ibrahim yang
juga tokoh tradisional Sakai, yaitu batin. Maka terdapatlah dua macam batin dalam
kehidupan orang Sakai, yaitu batin yang juga khalifah dan batin biasa yang hanya
tokoh adat saja. Kemudian dengan adanya binaan dari pihak pemerintah melalui
Depsos, mulailah dikenal adanya Kepala Desa. 57 Kepala Desa ini juga kebanyakan
adalah batin itu sendiri. Maka dikenallah paling kurang 4 tokoh masyarakat Sakai :
khalifah, batin, bomo, atau dukun dan kepala desa. 58
Masyarakat Sakai pada masa lalu mempunyai sistem pemerintahan yang
mereka sebut Perbatinan yang dipimpin oleh Batin. Perbatinan ini terdiri atas
Perbatinan Lima dan Perbatinan Delapan. 59 Disebut dengan Perbatinan Lima mereka
masing-masing perbatinan mempunyai tanah hak ulayat dan hutan di (1) Minas; (2)
Penaso; (3) Beringin; (4) Belutu; dan (5) Tengganau. Perbatinan Delapan adalah
kelompok orang Sakai yang di beri hak untuk membuka hutan oleh Raja Siak Sri
Indrapura meliputi wilayah (1) Petani; (2) Sebangar; (3) Air Jamban; (4) Pinggir; (5)
Semunai; (6) Sam-Sam; (7) Kandis; (8) Balai Makam. 60

57

Kepala Desa ini juga kebanyakan adalah batin itu sendiri. Jika ada kepala desa yang bukan
batin, maka pengaruhnya hanya amat terbatas sekedar untuk hubungan administratif saja dengan pihak
luar yang bersifat formal administratif.
58
UU.Hamidy, Op.Cit, Hal. 90-91.
59
Perbatinan nan lima yaitu kelompok masyarakat adat yang terdapat di daerah pesisir,
sedangkan perbatinan nan delapan yaitu kelompok masyarakat adapt yang terdapat di daerah
pedalaman.
60
Husni Tamrin, Op.Cit, Hal.5.

Universitas Sumatera Utara

Menurut UU Hamidy, menjelaskan bahwa Sakai Batin Nan Limo berasal dari
kerajaan Gasib yang pergi karena diserang Aceh. Sedangkan Sakai Batin Delapan
diriwayatkan berasal dari Semenanjung Melaka. Mereka dalam jumlah sekitar 100
orang lelaki dan perempuan yang telah mendarat di Kunto Darussalam, dan membuat
Kampung Bonai. Sebagian diantaranya mendiami kawasan aliran Sungai Sakai. Maka
mereka kemudian disebut Suku Sakai. Karena itu dalam teks lisan yang dihafal batin
Sakai, sebagian mereka mengatakan berasal dari Siak atau Gasib, sebagian lagi dari
Pagaruyung Minangkabau. Setelah mendiami Mandau, maka sejak berdirinya
Kerajaan Siak tahun 1723 mereka jadi rakyat Siak. Tapi tanah ulayat dan adat istiadat
mereka tidak dicampuri Sultan. Hal ini sepenuhnya diserahkan kepada Batin Suku
Sakai masing-masing. 61
Sehingga masyarakat Sakai merupakan bagian dari Kesultanan Siak Sri
Indrapura dengan Raja Kecil sebagai rajanya. Pada waktu orang Sakai hidup pada
zaman kekuasaan Kerajaan Siak Sri Indrapura, Raja Siak adalah penguasa tertinggi
yang mereka kenal dan mereka akui dalam tata kehidupan mereka. Segala peraturan
dan ketentuan yang dikeluarkan dan diberlakukan oleh kerajaan adalah sesuatu yang
tidak dapat ditawar-tawar lagi. Mereka menganggap itu sebagai sesuatu yang suci.
Sehingga sampai sekarang pun orang Sakai masih sangat menghargai dan
menghormati keturunan dari Raja Siak.

61

UU Hamidy, Op.Cit,Hal.88-89.

Universitas Sumatera Utara

2. Pola Kehidupan Masyarakat Suku Sakai


Riau merupakan propinsi yang kaya dengan sumber daya alam, sejarah dan
budaya, disamping letaknya yang srategis sebagai lalu lintas perdagangan
internasional melalui Selat Melaka. Namun, sebagian dari kelengkapan budaya Riau
telah sangat kurang diakui dan diperhatikan, bahkan tidak diketahui secara benar.
Salah satu diantaranya adalah, sejumlah suku-suku asli (Indigenous people) yang
merupakan minoritas di pinggiran suku melayu yang sempat mendominasi daerah
Selat Melaka melalui beberapa kerajaan kecil.
Kerajaan-kerajaan Melayu di Riau tidaklah menguasai daerah dan masyarakat
yang luas, melainkan menguasai titik-titik strategik di jalur utama perdagangan, yaitu
Selat Melaka dan sungai-sungai besar, seperti Indragiri, Kampar, Siak dan Rokan.
Masyarakat yang tinggal di tebing sungai dekat pusat kerajaan menerima berbagai
pengaruh diluar, menjadi bagian dari perubahan sosial-budaya, termasuk agama.
Merekalah yang menjadi orang melayu dengan Islam sebagai salah satu atribut kunci
dari jati dirinya. Hal ini diidentikkan dengan masuk Melayu sama dengan masuk
Islam.
Kawasan yang luas diantara sungai-sungai besar, pada masa lalu, semuanya
dikuasai oleh Batin-Batin (kepala suku orang sakai). Batin sebagai ketua masyarakat,
memiliki teritorial yang diatur secara otonom berdasarkan hukum adat, jumlah orang

Universitas Sumatera Utara

Sakai yang terbanyak di Kabupaten Bengkalis adalah berada dalam wilayah


Kecamatan Mandau. Berikut penyebaran orang Sakai dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1
Penyebaran Orang Sakai di Kecamatan Mandau
No. Desa/Kelurahan

KK

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

1.

Bumbung

61

145

196

341

2.

Kesumbo Ampai

101

296

245

541

3.

Sebanggar

129

340

375

715

4.

Petani

116

295

286

581

5.

Harapan Baru

85

150

220

370

6.

Pematang Pudu

265

565

660

1225

7.

Titian Antui

29

70

80

150

8.

Talang Mandi

15

31

46

77

JUMLAH

801

1892

2108

4000

Sumber: Biro Pusat Statistik Kabupaten Bengkalis, 2008.

Berdasarkan dari tabel diatas dapat dilihat pada umumnya orang Sakai banyak
bertempat tinggal di desa Pematang Pudu 1.225 orang, Sebanggar 715 orang,
sedangkan jumlah orang Sakai paling sedikit terdapat di desa Talang Mandi 77 orang,
dari seluruh jumlah orang Sakai di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis,
Propinsi Riau.
Orang Sakai sebagai komunitas masyarakat terpencil dalam kehidupan seharihari hidup berdampingan dengan masyarakat lain, mereka masih mempertahankan
tradisi leluhur nenek moyang mereka, akan tetapi mereka telah mulai menyesuaikan

Universitas Sumatera Utara

dengan perubahan yang terjadi akibat modernisasi, karena warga Sakai oleh
masyarakat sekitar telah diberikan kesempatan dan peluang untuk diasimilasikan
dengan masyarakat lainnya. Misalnya pembangunan pemukiman yang berdekatan
dengan lokasi masyarakat setempat, melakukan perkawinan, mempekerjakan pada
perusahaan serta telah mengenyam bangku pendidikan.
Adapun sumber utama kehidupan masyarakat Sakai adalah bercocok tanam,
selain juga berburu, maupun menangkap ikan di sungai. Cara bertani mereka masih
tradisional, dilakukan berpindah-pindah, namun perpindahannya saat ini masih di
sekitar tanah yang dibuka pertama. Proses membuka hutan untuk perladangan
tersebut masih dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan upacara adat dengan
memotong beberapa ekor ayam, dengan harapan mereka tidak diganggu oleh roh-roh
halus yang ada di sekitar tanah tersebut.
Ada 4 (empat) mata pencaharian tradisional Sakai, yaitu berladang,
menangkap ikan, berburu dan mengambil hasil hutan, serta kuli atau buruh dan
berdagang. Berladang dilakukan dengan sistem tebang (tebas) dan bakar, setelah itu
ditugali dengan menanam ubi nanggalo atau tembakau. Peralatannya parang, tombak,
panah dan juga memakai jerat sentak. Hasil buruan dibagi-bagi, tapi juga ada yang
dijual. Binatang buruan yang dijerat seperti kijang dan rusa. Ikan dicari dengan
mempergunakan lukah dan kail. Hasil hutan yang paling suka mereka cari ialah kayu

Universitas Sumatera Utara

gaharu disamping damar dan rotan. Pekerjaan menjadi buruh dilakukan oleh orang
Sakai dengan mengambil upah menebang kayu.

Tabel 2
Mata Pencaharian Masyarakat Sakai Berdasarkan Pembagian Desa
No

Desa/Kelurahan

KK

Berladang

Menangkap
Ikan

Beburu

Kuli

Jumlah

1.

Bumbung

61

32

15

61

2.

Kesumbo Ampai

101

55

20

15

11

101

3.

Sebanggar

129

70

30

29

129

4.

Petani

116

70

15

25

116

5.

Harapan Baru

85

45

15

10

15

85

6.

Pematang Pudu

265

165

30

40

30

265

7.

Titian Antui

29

19

29

8.

Talang Mandi

15

10

15

801

446

79

135

120

801

Jumlah

Sumber : Dinas Sosial Propinsi Riau, 2008.


Berdasarkan dari tabel diatas, maka dapat dilihat bahwa masyarakat Sakai
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya rata-rata berladang, dan hanya sebagian kecil
menagkap ikan,berburu dan kuli.
Berladang adalah kehidupan yang sangat penting bagi kehidupan orang Sakai.
Saat ini rata-rata sebagian masyarakat Suku Sakai lebih suka berladang untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, karena hanya dengan berladanglah sumber

Universitas Sumatera Utara

kehidupan yang sangat mudah dilakukan oleh masyarakat Sakai. 62 Sebuah ladang
biasanya dibangun dari sebuah keluarga inti (Suami-isteri dan anak-anak) atau
dibangun secara gotong-royong atau saling membantu diantara dua keluarga sampai
lima keluarga. Pembuatan ladang dilakukan melalui tahap-tahap :
1. Memilih tempat untuk membuat ladang
Tradisi mereka dalam pemilihan wilayah hutan untuk dijadikan ladang,
wilayah hutan yang dipilih adalah tidak begitu banyak semak belukarnya, dan tanah
yang gak miring dan mereka memilih dekat air adalah lebih baik dan tidak ada rumah
semutnya, atau dalam bahasa mereka sesab dengan busut.
2. Tahap-tahap membuka hutan untuk ladang
Jika orang Sakai telah menemukan hutan yang mereka anggap baik untuk
persyaratan berladang, mereka pergi melapor kepada batin, serta menunjukan hutan
yang akan mereka buka. Setelah batin tidak berperan lagi mereka melapor kepada
penghulu atau kepala desa. Dalam penebangan pohon-pohon kayu hutan yang besar
dilakukan secara bersama-sama dengan menggunakan kapak atau beliung. Masingmasing keluarga telah menentukan kira-kira berapa luas masing-masing ladang yang
hendak dibuatnya.
3. Menugal Padi

62

Wawancara dengan A. Yani, Kepala Bagian Dinas Sosial, tanggal 18 Agustur 2010.

Universitas Sumatera Utara

Bila ladang sudah dipersiapkan dan bibit tanaman padi sudah siap untuk
ditanam, maka ditentukanlah hari untuk mempersiapkan kegiatan menunggal padi
secara bersama-sama. Satu hari sebelum dilakukan kegiatan menanam padi di ladang
dilakukan upacara mematikan tanah dengan tujuan agar ladang tersebut tanahnya
dingin dan subur serta mereka yang tinggal di daerah ladang tersebut terhindang dari
mara bahaya. Upacara mematikan tanah ini dilakukan oleh masing-masing kepala
keluarga dengan meminta perlindungan kepada Poti Soi (Putri Sri, Dewi Padi)
yaitu bacaan mantera untuk kesuburan ladang mereka, yang lafalnya sebagai berikut :
Poti Soi
Gemolo Soi
Siti Dayang Sempono
Tuan, Engkau Nak Besuko-suko Ati
Kotongah Ladang.
(Indonesianya:)
Putri Sri (Dewi Sri)
Gembala Sri (Penunggu dan Penguasa Tanah)
Siti Dayang Sempurna
Tuan engkau hendak bersukaria
Ketengah ladang.
4. Panen Padi
Panen padi dilakukan dengan tahap-tahap tertentu. Sebelum dimulai menuai
padi, pemilik ladang menghubungi dukun atau bomo memimpin upacara
pemanenan untuk menghindari keluarga tersebut dari segala marabahaya. Upacara
dimulai dengan membaca mantra sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

Poti Soi
Gemolo Soi
Siti Dayang Sempono
Tuanku Engkau Nak Basuko-suko Ati
Kotongah Ladang
Ambo Ko Nak Bao
Tuanku Samo Hayatnyo
(Indonesianya:)
Putri Sri
Gembala Sri
Siti Dayang Sempurna
Tuanku hendak bersuka ria
Ke tengah ladang
Saya ini hendak membawa
Tuanku bersama hayatnya

5. Memperluas Ladang
Setelah kegiatan panen padi selesai, setiap anggota keluarga peladang yang
bersangkutan menanami setiap jengkal bekas ladang padi yang masih kosong. Pada
waktu musim kering datang, mulailah para peladang yang tergabung dalam satu
ketetanggaan ladang mempersiapkan pembuatan ladang baru untuk memperluas
ladang pertama yang telah mereka panen hasil padinya.
Bila telah terjadi kata sepakat bahwa merak masih akan hidup bersama dalam
satu ketetanggaan ladang maka pada tahap berikutnya adalah menentukan luas ladang
mereka. Bila ada diantara mereka tersebut berniat memisahkan diri dari ketetanggaan,
maka dicari keluarga lain untuk menggantikannya. Bila ternyata tidak ada keluarga
lain yang mau menggantikan tempat keluarga yang memisahkan diri maka

Universitas Sumatera Utara

ketetanggaan harus dibubarkan, karena menurut kepercayaan orang Sakai pantang


bagi mereka untuk meneruskan perluasan ladang yang salah satu anggota
ketetanggaan ladang tersebut mengundurkan diri.
Pemukiman masyarakat Sakai sudah mulai mengalami kemajuan, rumahrumah mereka tidak lagi terbuat dari kulit kayu, rotan, atau bambu dan beratapkan
rumbia akan tetapi mereka sudah ada yang memiliki rumah yang terbuat dari batu dan
telah beratapkan seng. Mereka juga sudah mengenal kendaraan bermotor sebagai alat
transportasi.
Sistem kekerabatan bagi orang Sakai merupakan kerangka acuan yang penting
dalam menentukan dengan siapa ego (saya) dapat berhubungan dan bekerjasama
dalam berbagai kehidupan sosial, ekonomi dan keluarga. Bagi orang Sakai kelompokkelompok kekerabatan dalam kehidupan mereka terwujud dalam kegiatan
pengelolaan ladang, biasanya satuan pemukiman dihuni oleh satu atau dua kelompok
keluarga. 63
Sistem kekerabatan Suku Sakai menganut matrilineal yaitu dititik beratkan
menurut garis keturunan ibu/perempuan. Yang lebih diutamakan adalah kedudukan
anak perempuan dari anak laki-laki. Anak perempuan penerus keturunan ibunya,
sedangkan anak laki-laki hanya seolah-olah pemberi bibit keturunan kepada isteri.
Dalam budaya Sakai hak perempuan Sakai besar, semua barang milik baik yang

63

Isjoni, Orang Sakai Dewasa Ini, Unri Press, Pekanbaru, 2005, Hal. 34.

Universitas Sumatera Utara

bergerak maupun tidak bergerak adalah milik wanita. Kedudukan kepala suku
diwariskan dari wanita, dan anak-anak mengikuti ibu, bukan ayah. Karena itu
menurut masyarakat Sakai apabila suatu keluarga tidak memiliki anak perempuan,
maka seolah-olah hidup tidak berkesinambungan. Namun demikian bukan berarti
anak laki-laki tidak berfungsi dalam keluarga. Anak laki-laki membantu orang tua
meringankan beban hidup keluarga. 64
Pengaruh adat istiadat leluhur mereka sehari-hari juga masih sangat dominan.
Menurut kepercayaan mereka apabila ada adat istiadat yang dilanggar maka akan
menyebabkan mereka sengsara. Selain itu juga ada sanksi atas pelanggaran adat
berupa denda yang berbentuk materi atau menyelenggarakan upacara adat, dan
bahkan lebih dari itu dapat dipermalukan di tengah-tengah masyarakat. Untuk
menjaga tata tertib mereka juga memiliki lembaga adat. Ketua lembaga adat
dahulunya dipilih berdasarkan turun-temurun tetapi sekarang dipilih berdasarkan
musyawarah.
Agama yang dianut sebagian besar adalah agama Islam akan tetapi masih
diselimuti dengan keyakinan animisme adanya kekuatan gaib. Mereka percaya bahwa
lingkungan hidup dihuni oleh makhluk-makhluk gaib yang dinamakan antu. 65 Antu
itu ada yang baik ada juga yang jahat. Makhluk itu tinggal dan menjadi penghuni
64

Kini dalam adat Perkawinan asli Sakai tidak tampak lagi, peran Batin dalam menikahkan
diganti oleh ayah kandung, Qadhi atau KUA (Kepala Urusan Agama). Pada masa lalu masyarakat
Sakai tidak mengenal uang hantaran, tetapi kini mengenalnya yang sudah dipepolerkan sejak zaman
kerajaan Sultan Siak.
65
Antu= Hantu / roh-roh halus.

Universitas Sumatera Utara

pepohonan, sungai-sungai, rawa-rawa, wilayah hutan, ladang, tempat pemukiman


rumah dan sebagainya.
3. Hak-Hak Atas Tanah Pada Masyarakat Suku Sakai Di Kabupaten
Bengkalis
Tanah ulayat dalam bahasa Sakai disebut dengan popah yaitu pembatasan. 66
Telah sejak zaman dahulu nenek moyang Suku Sakai telah membentuk popah dalam
suatu lingkungan hidup dan menjaga popah tersebut agar tidak berbenturan dengan
suku-suku lainnya. Adapun wilayah popah ini terdiri dari :
a. Pangkal popah, dari tepi sungai Rokan yang disebut dengan Bromban Petani.
b. Ujung popah, yaitu Bromban Mineh.
c. Pertengahan, yaitu Potongan Popah.
Terhadap tanah ulayat (popah) tersebut terdapat tanda-tanda adat yang
dikuasai masing-masing batin nan delapan dan batin nan limo dan tiap-tiap batin
tersebut memiliki tanah ulayat. Yang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia
saat ini disebut dengan daerah Kabupaten Bengkalis dan dalam wilayah Kecamatan
Mandau. Yang kemudian kecamatan Mandau dimekarkan menjadi Kecamatan Minas,
Kecamatan Kandis, Kecamatan Pinggir.
Modernisasi merupakan sebuah proses yang melanda kehidupan manusia saat
ini, diseluruh bidang dan berbagai tempat, akan tetapi masyarakat Sakai tertinggal

66

Popah (Pembatasan) dalam bahasa Sakai = Tanah Ulayat

Universitas Sumatera Utara

jauh dari proses modernisasi tersebut. Suku Sakai tidak bisa mengimbangi lajunya
perputaran hidup disekitarnya. Perubahan sosial yang terus terjadi di sekeliling
mereka masih terasa asing bagi mereka, yang pada akhirnya mereka tetap menutup
diri mereka memang tidak bisa bersaing.
Bagi masyarakat Sakai, hutan adalah detak kehidupan bagi mereka tempat
mereka melakukan pemenuhan kebutuhan hidup dan mengandung unsur magis
sehingga penuh arti bagi mereka. Budaya inilah yang sangat melekat dan sulit
dipisahkan dari setiap unsur kehidupan mereka. Sehingga orang Sakai mengelola
hutan sedemikian rupa agar rantai kehidupan mereka terus berlanjut. Oleh karena itu
masyarakat Sakai membagi hutan tanah menjadi 3 bagian yaitu :
a) Tanah Peladangan (tanah perkarangan dan rumah).
b) Rimba Kepungan Sialang.
c) Rimba Simpanan.
Ketiga bagian kawasan ini pemakaiannya diawasi oleh kepala suku atau batin.
Setiap suku mempunyai tanah ulayatnya masing-masing berupa tanah peladangan dan
rimba kepungan sialang, sedangkan rimba simpanan dipunyai bersama. Maka tiap
warga yang memakai tanah peladangan diberikan dengan hak pakai yang apabila
tidak dipergunakan lagi maka akan diberikan kepada warga lain yang masih
merupakan bagian dari masyarakat Sakai. Sedangkan rimba kepungan sialang
merupakan bagian-bagian hutan yang membatasi hutan dengan tanah peladangan

Universitas Sumatera Utara

mereka dan juga tempat lebah bersarang. Selain itu juga sebagai panahan erosi dan
tempat reboisasi kembali setelah tanah peladangan ditinggal sementara, karena
mereka berladang dengan sistem tebang bakar, sehingga pada akhirnya akan tetap
kembali keladang yang pertama.
Di dalam masyarakat hukum adat, maka antara masyarakat hukum sebagai
suatu kesatuan dengan tanah yang didudukinya, terdapat hubungan yang erat sekali,
hubungan yang bersumber pada pandangan yang bersifat magis religio. Hubungan
inilah yang menyebabkan masyarakat hukum memperoleh hak untuk menguasai
tanah itu, memungut hasil dari tumbuh-tumbuhan yang hidup diatas tanah itu, juga
berburu terhadap binatang-binatang yang hidup disitu. Hak masyarakat hukum atas
tanah ini disebut hak pertuanan atau hak ulayat. 67
Dilihat dari pola kehidupan masyarakat Sakai dalam Kecamatan Mandau Desa
Kesumbo Ampai, dari penelitian yang dilakukan melalui wawancara dengan Kepala
Desa Kesumbo Ampai, diketahui bahwa sebagian besar diantaranya masih tetap
hidup memisahkan diri dari suku-suku lainnya. Mereka lebih cenderung untuk
memilih hidup berkelompok dengan sesama anggotanya dan terpisah dari masyarakat
luar yang kehidupannya relatif sudah maju. 68
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Batin, bahwa pola kehidupan
dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Suku Sakai sebagai sumber mata
67
68

Bushar Muhammad, Pokok-Pokok Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta, 2006, Hal.35.
Wawancara Penulis dengan Anita, di Desa Kesumbo Ampai, Tanggal 26 Maret 2010.

Universitas Sumatera Utara

pencarian mereka adalah dengan berladang dan berpindah-pindah, dan dengan


keterbatasan mereka, untuk membuka ladang baru lagi dilakukan dengan cara bakar.
Memungut hasil hutan di wilayah hutan adat mereka serta menangkap ikan dari
sungai yang terdapat di lingkungan ulayat mereka juga merupakan pekerjaan utama
masyarakat Sakai. 69
Masyarakat Sakai lebih suka mendiami daerah hutan sepanjang aliran sungai
karena mudah mendapatkan mata pencaharian untuk hidup walaupun sebagian dari
masyarakat juga sudah banyak pindah dipinggiran kota. 70
Hubungan manusia dengan tanah memang tidak dapat dipisahkan. Sejak
dahulu sampai saat ini masih terlihat adanya pertalian yang sangat erat dan kekal,
karena selama hayatnya manusia mempunyai hubungan dengan tanah, terutama
sebagai tempat tinggal dan sebagai sumber yang menghasilkan bahan makanan bagi
kelangsungan hidupnya.
Walaupun kehidupan masyarakat Suku Sakai saat ini sudah sedikit mengalami
kemajuan dari apa yang dilakukan nenek moyang mereka pada zaman dahulu akan
tetapi petani tetap merupakan mata pencaharian yang utama bagi masyarakat Sakai.
Tanah/lahan yang menjadi tempat mereka berladang mereka peroleh dari lingkungan
ulayat mereka yang sebelumnya telah mendapat izin dari Batin.

69

Wawancara Penulis dengan M.Yatim, Batin Desa Kesumbo Ampai, Tanggal 28 Maret

2010.
70

Wawancara Penulis dengan Misran Masyarakat Suku Sakai, Tanggal 25 Maret 2010.

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan hasil wawancara dengan Batin Sebangar 71 , bahwa hak-hak atas


tanah yang ada dan berlaku pada masyarakat Suku Sakai, mereka mengenal 2 macam
hak atas tanah, yaitu hak bersama masyarakat hukum adat (hak ulayat) dan hak
perseorangan atas tanah.
a. Hak bersama masyarakat hukum adat.
Hak bersama masyarakat Suku Sakai atas tanah dikenal dengan istilah hak
ulayat. Istilah tersebut menunjukan hubungan antara masyarakat hukum dengan tanah
di wilayahnya.
Menurut Van Vollenhoven ciri-ciri atau tanda-tanda hak ulayat adalah sebagai
berikut : 72
1) Persekutuan hukum dan anggota-anggotanya berhak dengan bebas menggunakan,
mengenyam kenikmatan menggarap tanah dalam wilayah persekutuan hukum
tersebut.
2) Orang yang bukan persekutuan hukum harus mendapat izin terlebih dahulu dari
kepala persekutuan dengan membayar ganti kerugian.
3) Dalam menggunakan tanah, anggota persekutuan hukum tidak membayar, tetapi
bagi orang luar (asing) harus membayar uang pemasukan (recognitie/contributie).

71

Wawancara dengan Batin Sebangar, Tanggal 25 Maret 2010.


Budi Riyanto, Hukum Kehutanan dan Sumber Daya Alam, Penerbit Lembaga Pengkajian
Hukum Kehutanan da Lingkungan, Bogor, 2006, Hal.47.
72

Universitas Sumatera Utara

4) Persekutuan hukum bertanggung jawab atas kejahatan (pembunuhan) dalam


wilayah persekutuan hukumnya apabila si pelaku tidak bisa digugat atau tidak
dikenal.
5) Persekutuan tidak boleh memindah tangankan (menjual, memberi) untuk selamalamanya kepada siapapun juga kecuali dalam hal-hal tertentu dan sangat khusus.
6) Persekutuan hukum tetap mempunyai hak campur tangan atas hak individu.
Demikian juga masyarakat Suku Sakai, wawancara dengan Kepala Desa
Kesumbo Ampai bahwa masyarakat Suku Sakai juga masih memiliki hak bersama
atas tanah yaitu dengan masih terdapatnya hutan adat masyarakat Suku Sakai yang
masih dapat dimanfaatkan secara bersama-sama oleh anggota komunitas masyarakat
Suku Sakai. 73
Sejalan dengan hal tersebut, maka dengan diaturnya hutan yang dikuasai oleh
masyarakat hukum adat kedalam pengertian hutan negara tidaklah akan meniadakan
hak-hak masyarakat hukum adat yang bersangkutan serta anggota-anggotanya untuk
dapat mendapatkan manfaat dari hutan-hutan tersebut, dengan syarat sepanjang hak
itu menurut kenyataannya masih ada. Pelaksanaannya pun harus sedemikian rupa,
sehingga tidak mengganggu tercapainya tujuan yang dicantumkan dalam UndangUndang Kehutanan, sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 67 Undang-Undang
Nomor 41 Tahun 1999.

73

Wawancara penulis dengan Anita, di Desa Kesumbo Ampai, Tanggal 26 Maret 2010.

Universitas Sumatera Utara

b. Hak Perseorangan Atas Tanah.


Tanah merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Ter Haar
menjelaskan bahwa :
Hubungan hidup antara umat manusia yang teratur susunannya dan bertalian
satu sama lain disatu pihak dan tanah di lain pihak yaitu tanah di mana mereka
berdiam, tanah yang memberi mereka makan, tanah dimana mereka di
makamkan dan yang menjadi tempat kediaman orang-orang halus
pelindungannya beserta arwah leluhurnya, tanah dimana meresap daya-daya
hidup termasuk juga hidupnya umat itu dan karenanya tergantung
daripadanya, maka pertalian demikian itu yang dirasakan dan berakar dalam
alam pikirannya serba berpasangan (participerenddenken) itu dapat dan
seharusnya dianggap sebagai pertalian hukum (rechtsbetrekking) umat
manusia terhadap tanah. 74
Begitu essensialnya hubungan manusia dengan tanah, maka tanah memiliki
kedudukan yang sangat penting dalam hukum adat, yaitu :
1) Karena sifatnya
Tanah merupakan satu-satunya benda kekayaan yang walaupun mengalami
keadaan yang bagaimana pun juga, senantiasa masih bersifat tetap dalam keadaannya,
kadang-kadang malahan menjadi lebih menguntungkan.
2) Karena fakta, yaitu suatu kenyataan bahwa tanah itu :
a) Merupakan tempat tinggal.
b) Memberikan penghidupan kepada persekutuan.
74

Imam Sudiyat, Op.Cit, Hal.144-145.

Universitas Sumatera Utara

c) Merupakan tempat warga persekutuan yang meninggal dunia dikebumikan.


d) Merupakan tempat tinggal dayang-dayang pelindung persekutuan dan roh
para leluhur persekutuan. 75
Sebagaimana dalam lingkup hak ulayat, dalam lingkup hak bangsa pun
dimungkinkan para warga negara Indonesia, sebagai pihak yang mempunyai hak
bersama atas tanah bersama tersebut, masing-masing menguasai dan menggunakan
sebagian dari tanah bersama itu secara individual, dengan hak-hak yang bersifat
pribadi. Menguasai dan menggunakan tanah secara individual berarti bahwa tanah
yang bersangkutan boleh dikuasai secara perseorangan. Tidak ada keharusan
menguasainya bersama-sama dengan orang lain secara kolektif, biarpun menguasai
secara bersama dimungkinkan dan diperbolehkan. 76
Hak perseorangan atas tanah ialah hak warga desa ataupun orang luar atas
sebidang tanah yang berada diwilayah hak purba persekutuan hukum bersangkutan. 77
Hak perseorangan atas tanah dibatasi oleh hak ulayat. Antara hak ulayat dan
hak-hak perseorangan selalu ada pengaruh timbal balik, makin banyak usaha yang
dilakukan seseorang atas suatu bidang tanah, makin eratlah hubungannya dengan
tanah yang bersangkutan dan makin kuat pula haknya atas tanah tersebut. 78

75

Soerjono Wignojodipuro, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, CV.Haji Masagung,


Jakarta, 1992, Hal. 197.
76
Boedi Harsono, Op.Cit, Hal. 233.
77
Imam Sudiyat, Op.Cit Hal. 8.
78
Boedi Harsono, Op.Cit, Hal. 188.

Universitas Sumatera Utara

Hak milik merupakan hak terkuat diantara hak-hak perorangan. Sedangkan


Djaren Seragih menjelaskan :
Hak milik adalah hak anggota ulayat dimana anggota tersebut mempunyai
kekuasaan penuh untuk bertindak atas tanah ataupun isi lingkungan ulayat.
Selanjutnya Djaren Seragih menjelaskan bahwa hak milik terdiri dari :
a. Hak milik terikat, adalah hak yang dibatasi oleh hak lain, misalnya hak
komunal atas tanah dimana sebidang tanah menjadi milik bersama dari
penduduk desa.
b. Hak milik terikat, adalah hak milik perorangan yang tidak ada campur
tangan dari hak desa.
Dalam suasana hukum adat hak milik itu tidaklah bebas sebebas-bebasnya,
tapi mempunyai fungsi sosial artinya apabila rakyat memerlukan sebidang
tanah orang dibebani hak milik, untuk kepentingan kesatuan ulayat, maka hak
milik yang ada diatas tanah itu dicabut. 79
Hak wenang pilih, adalah hak yang diberikan pada seseorang untuk
mengusahakan tanah dimana orang tersebut didahulukan daripada orang lain. Hak
menikmati hasil adalah hak yang diberikan kepada seseorang untuk memungut hasil
tanah yang tidak boleh lebih dari satu kali panen. Hak ini biasanya diberikan kepada
orang-orang

di

luar

lingkungan

ulayat.

Sedangkan

hak

pakai

dan

hak

menggarap/mengolah, adalah hak atas tanah yang diberikan kepada seseorang atau
sekelompok orang untuk menggunakan tanah ataupun memungut hasil tanah tersebut.
Hak menggarap yang minimal hak pakai dan hak menikmati hasil ialah hak yang
dapat diperoleh oleh warga persekutuan untuk mengolah sebidang tanah, selama satu
tahun atau beberapa kali panen. 80

79
80

Djaren Seragih, Op.Cit, Hal.82.


Imam Sudiyat, Op.Cit, Hal. 15.

Universitas Sumatera Utara

Hak imbalan jabatan adalah hak atas tanah yang diberikan kepada pengurus
masyarakat selama dia menjadi pengurus tersebut. 81 Sedangkan hak wenang beli
yaitu hak seseorang lebih utama dari yang lain untuk mendapat kesempatan membeli
tanah (juga empang) tetangganya dengan harga yang sama.
Adanya pengaturan mengenai penguasaan atas tanah pada masyarakat Suku
Sakai tersebut, juga masih dimilikinya kepala adat sebagai orang yang mengemban
tugas untuk memberikan pengaturan dalam kehidupan sehari-hari serta yang
memberikan pengaturan terhadap hak penguasaan serta pemilikan atas tanah, maka
dengan demikian telah memenuhi kriteria ada atau tidaknya masyarakat hukum adat
ada hak ulayatnya sebagaimana yang ditentukan oleh undang-undang. Hal ini sejalan
dengan apa yang dikemukakan oleh Kepala Desa Kesumbo Ampai bahwa masih
terdapatnya masyarakat adat serta tanah ulayat masyarakat Suku Sakai yang masih
dikelola dan dipergunakan sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku. 82

D. Eksistensi Hak Ulayat Atas Tanah Dalam Era Otonomi Pada Masyarakat
Suku Sakai di Kabupaten Bengkalis
Pertumbuhan pembangunan disegala bidang saat ini memang membawa
dampak tersendiri bagi masyarakat, salah satunya membawa akibat meningkatkan
kebutuhan akan tanah, yang berdampak juga kepada tanah-tanah masyarakat hukum
81
82

Djaren Seragih, Op.Cit, Hal. 84.


Wawancara Penulis dengan Anita, Kepala Desa Kesumbo Ampai, Tanggal 26 Maret 2010.

Universitas Sumatera Utara

adat/tanah ulayat. Hal demikian tentunya akan mengganggu eksistensi masyarakat


hukum adat.
Hukum tanah adat merupakan hukum asli, mempunyai sifat yang khas, dimana
hak-hak perorangan atas tanah merupakan hak pribadi akan tetapi didalamnya
mengandung unsur kebersamaan, yang dalam istilah modern disebut fungsi sosial,
seperti yang dijelaskan dalam undang-undang pokok agraria pasal 6. Hukum adat
merupakan sumber utama hukum undang-undang pokok agrarian atau hukum
pertanahan Indonesia, walau pun hukum adat merupakan dasar dari UUPA tetapi
permasalahan terhadap hak kepemilikan atas tanah dalam masyarakat adat di
Indonesia telah ada sejak jaman penjajahan Belanda.
Dalam sistem hukum adat, tanah ulayat adalah tanah tempat persekutuan
menggantungkan harapan dalam menjalankan hidupnya. Pada tanah inilah
masyarakat persekutuan bertempat tinggal secara bersama-sama, diatas tanah inilah
masyarakat persekutuan mencari nafkah, menggantungkan hidupnya dengan
memanfaatkan sumber kekayaan alam yang terdapat didalam tanah ulayat mereka,
seperti mencari rotan, kayu, madu lebah, dan juga binatang buruan.
Istilah hak ulayat dalam artian sebagaimana di Minangkabau tidak
diketemukan di daerah-daerah lain. Tetapi dalam artian lingkungan yang dikuasai
memang ada walaupun tidak begitu tepat, baik sebagai milik petuanan (Ambon),
daerah

penghasil

makanan

penyampeto

(Kalimantan),

lapangan

terpagar

Universitas Sumatera Utara

pewatasan (Kalimantan), wewengkon (Jawa), prabumian (Bali), totabuan


(Bolaang Mongondow), nuru (Buru), limpo (Sulawesi Selatan), payar (Bali),
paer (Lombok), tanah dati (Maluku), dan ulayat (Minangkabau). 83
Hak ulayat adalah suatu persekutuan hukum yang menguasai suatu
lingkungan tanah termasuk suatu lingkungan, persediaan perluasannya untuk
kepentingan hidup persekutuan beserta seluruh warganya. Orang luar persekutuan
pada prinsipnya tidak dapat ikut serta dalam menikmati hak tersebut, orang luar
hanya dimungkinkan untuk ikut menikmatinya bila ada perkenaan dari persekutuan
yang berhak atas tanah ulayat. Orang luar persekutuan yang diperkenankan untuk ikut
menikmati hak tersebut, juga tunduk pada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan
oleh hukum adat. Dengan pembatasan tersebut hak untuk dapat menikmati dari orang
luar persekutuan berbeda dan lebih lemah dibandingkan dengan isi hak dari anggota
persekutuan itu sendiri. 84
Keberadaan tanah ulayat dan hukum adat dalam peta politik nasional
sebenarnya sudah jelas. Undang-undang agraria merupakan salah satu kebijakan
nasional yang mengayomi keberadaan hukum adat dan tanah ulayat. Salah satu pasal
yang mengatur hal ini terdapat pada Pasal 18 B ayat 2. Dalam amandemen kedua
pasal ini dijelaskan adanya pengakuan keberadaan tanah ulayat adat, dan hak-hak

83

Soerjono Wignjodipuro, Op.Cit


Moh. Koesnoe, Hak-Hak Persekutuan Hukum Adat Dalam Sistem Hukum Indonesia, UIR
Press, Pekanbaru, 1994, Hal. 105.
84

Universitas Sumatera Utara

masyarakat asli. Dalam aturan yang lebih tinggi, bahkan pengakuan terhadap
keberadaan tanah ulayat dan pemberlakuan hukum adat sudah diatur dalam deklarasi
Perserikatan Bangsa-bangsa tentang perlindungan Masyarakat Adat. 85

Lalu

bagaimana dengan hak ulayat menurut hukum adat, karena hak ulayat dan hak-hak
yang serupa dari masyarakat-masyarakat adat. Mengenai hak ulayat masyarakat adat
juga di atur dalam pasal 3 Undang-undang pokok agrarian, yaitu: dengan mengingat
ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksananan hak ulayat dan pelaksanaan
hak-hak serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut
kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan
kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta
tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang
lebih tinggi . Bahwa isi pasal tersebut merupakan pengakuan keberadaan hak
pemilikan atas tanah (hak ulayat) dan masyarakat hukum adat.
Pasal 13 dan Pasal 5 UUPA menggariskan tentang hak-hak tanah adat
termasuk didalamnya hak ulayat. Rumusan tanah adat yang secara jelas atau tegas
dirumuskan dalam UUPA :
1. Bahwa berhubungan dengan penegasan dalam UUPA maka perlu adanya
hukum agraria nasional yang mendasarkan hukum adat tentang tanah, yang

85

Majalah Teraju, Edisi XII Desember 2008- Januari 2009, Hal.27.

Universitas Sumatera Utara

sederhana dengan tidak mengabaikan pada unsur yang bersandar pada hukum
agraria.
2. Penjelasan UUPA pada nomor II/3 disebutkan sebagai berikut : bertalian
dengan hubungan antar bangsa dan bumi serta air dan kekuasaan negara
seperti disebut dalam Pasal 1 dan Pasal 2 maka didalam Pasal 3 diadakan
ketentuan mengenai hak ulayat dari kesatuan-kesatuan masyarakat hukum.
Pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat hukum
adat sepanjang menurut ketentuannya masih ada harus dipertahankan sedemikian
rupa sehingga sesuai dengan kepentingan dan keselamatan serta kesatuan bangsa
sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi.
Pengakuan terhadap masyarakat hukum adat juga harus disertai dengan
pengakuan terhadap hak-hak masyarakat hukum adat yang melekat pada hak ulayat
itu, diantaranya :
1. Hak masyarakat hukum adat untuk menguasai semua tanah yang ada di wilayah
hukumnya (tanah ulayat).
2. Hak ulayat masyarakat hukum adat terhadap tanah ulayatnya, yaitu :
a.

Hak untuk membuka tanah (hutan);

b.

Hak untuk memungut hasil hutan;

Universitas Sumatera Utara

c.

Hak untuk mengambil kekayaan alam yang terkandung dalam perut bumi
(bahan tambang);

d.

Hak untuk mengambil ikan di sungai, danau atau pantai yang ada di wilayah
hukumnya;

e.

Hak untuk mengambil binatang liar yang ada dihutan yang belum dipunyai
oleh orang. 86
Maka dari itu pengakuan terhadap hak-hak ulayat masyarakat hukum adat

tersebut harus disertai dengan pengakuan terhadap tanah ulayatnya, karena hak-hak
dari masyarakat hukum adat sebagaimana yang disebutkan diatas, semuanya
berkaitan dengan tanah ulayat masyarakat hukum adat tersebut, karena semua hak
tersebut terdapat diatas tanah ulayat. Oleh karena itu tanpa tanah ulayat, maka hakhak masyarakat hukum adat tersebut tidak akan pernah ada.
Pengakuan hak ulayat dibatasi pada 2 (dua) hal yaitu berkenaan dengan
eksistensi dan pelaksanaannya. Hak Ulayat diakui eksistensinya, bilamana menurut
kenyataannya di lingkungan kelompok warga masyarakat hukum adat tertentu yang
bersangkutan memang masih ada. Jika ternyata masih ada, pelaksanaannya harus
sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang
berdasarkan persatuan bangsa. 87

86
87

Muhammad Bakri, Op.Cit, Hal. 128.


Ibid, Hal. 192.

Universitas Sumatera Utara

Tentang pengakuan terhadap eksistensi hak ulayat, UUPA tidak memberikan


kriterianya. Kiranya masih adanya hak ulayat diketahui dari kenyataan mengenai 1)
masih adanya suatu kelompok orang-orang yang merupakan warga suatu masyarakat
hukum adat tertentu dan 2) masih adanya tanah yang merupakan wilayah masyarakat
hukum adat tersebut yang disadari sebagai kepunyaan bersama para warga
masyarakat hukum adat itu sebagai lebens-raum nya. Selain itu eksistensi hak
ulayat masyarakat hukum adat yang bersangkutan juga diketahui dari kenyataan
masih adanya 3) kepala adat dan para tetua adat yang pada kenyataannya dan diakui
oleh para warganya, melakukan kegiatan sehari-hari sebagai pengemban tugas
kewenangan masyarakat hukum adatnya, mengelola, mengatur peruntukan,
penguasaan dan penggunaan tanah bersama tersebut. 88
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat
Masyarakat Hukum Adat, pada Pasal 2 ayat (2), syarat eksistensi hak ulayat adalah :
a. Terdapat sekelompok orang yang masih merasa terikat oleh tatanan
hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum tertentu,
yang mengakui dan menerapkan ketentuan-ketentuan persekutuan
tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
b. Terdapat tanah ulayat tertentu yang menjadi lingkungan hidup para
warga persekutuan hukum tersebut dan tempatnya mengambil keperluan
hidup sehari-hari.
d. Terdapat tatanan hukum adat mengenai pengurusan, penguasaan dan
penggunaan tanah ulayat yang berlaku dan ditaati oleh para warga
persekutuan hukum tersebut.
88

Boedi Harsono, Op.Cit, Hal. 192.

Universitas Sumatera Utara

Pada kenyataannya, hak ulayat didalam masyarakat-masyarakat hukum adat


masih ada tetapi intensitas eksistensinya di berbagai daerah berbeda-beda. Kepastian
mengenai eksistensi hak ulayat di suatu masyarakat hukum adat tertentu hanya dapat
diperoleh dengan cara meneliti keadaan masyarakat hukum adat tersebut apabila
terdapat masalah yang perlu diselesaikan.
Sedangkan untuk syarat pelaksanaannya yaitu sesuai dengan kepentingan
nasional dan negara yang berdasarkan pada persatuan bangsa dan tidak boleh
bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. Adapun mengenai apa
yang dimaksud dengan kepentingan nasional dan negara dapat dilihat dari Penjelasan
Umum II/3 yang menyatakan bahwa :
Misalnya didalam pemberian sesuatu hak atas tanah (umpamanya hak guna
usaha) masyarakat hukum adat yang bersangkutan sebelumnya akan di dengar
pendapatnya dan akan di beri recognitie yang memang iya berhak
menerimanya selaku pemegang hak ulayat itu. Tetapi sebaliknya tidaklah
dapat dibenarkan, jika berdasarkan hak ulayat itu masyarakat hukum itu
menghalang-halangi pemberian hak guna usaha itu, sedangkan pemberian hak
tersebut di daerah itu sungguh perlu untuk kepentingan yang lebih luas.
Berdasarkan penjelasan umum tersebut dapat diketahui bahwa di atas tanah
ulayat dapat dibebani dengan suatu hak guna usaha, sedangkan berdasarkan Pasal 28
ayat (1) UUPA menyatakan bahwa : hak guna usaha adalah hak untuk
mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara, dalam jangka waktu
sebagaimana tersebut dalam Pasal 29, guna perusahaan, pertanian, perikanan, atau
peternakan.

Universitas Sumatera Utara

Sehingga dengan demikian bahwa hak guna usaha hanya dapat diberikan
kepada tanah yang secara langsung dikuasai oleh negara. Sedangkan berdasarkan
Penjelasan Umum II/3 tersebut dinyatakan bahwa di atas hak ulayat dapat dibebankan
dengan hak guna usaha, maka dari itu tanah hak ulayat dapat dikatakan sebagai tanah
negara, sehingga negara dapat memberikan sesuatu hak di atas tanah ulayat itu seperti
hak guna usaha ataupun misalnya hak penguasaan hutan. Sehingga dengan demikian
dapat menghilangkan hak-hak masyarakat hukum adat atas tanah ulayatnya seperti
hak memungut hasil hutan ataupun hak untuk mengambil kekayaan alam di atas tanah
ulayat tersebut. Dengan adanya pengakuan dalam UUD 1945 sebagai payung hukum
tertinggi dalam Negara Republik Indonesia, maka merupakan peluang terbesar bagi
masyarakat hukum adat karena semua produk hukum yang terkait dengan masyarakat
hukum adat dan hak ulayatnya harus diikuti keberadaannya, dengan demikian
masyarakat akan menjadi subjek dari pembangunan, sehingga kesejahteraan yang
dicita-citakan akan terletak ditangan masyarakat itu sendiri.
Serta dengan adanya pengakuan hak ulayat, maka pada dasarnya masyarakat
kolektif secara adat akan diperhatikan sepanjang kenyataannya memang masih ada
pada masyarakat hukum yang bersangkutan, sebaliknya jika berdasarkan hak ulayat
menjadi penghalang kemajuan pembangunan masyarakat dan sertifikasi tanah,
sehingga harus diutamakan kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Universitas Sumatera Utara

Dengan demikian dapat diketahui bahwa UUPA telah mendua di dalam


pengaturannya, karena disatu sisi UUPA mengakui eksistensi hak ulayat
sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 3 UUPA, akan tetapi disisi lain juga
melakukan pengingkaran terhadap hak ulayat masyarakat sebagaimana yang terdapat
dalam Penjelasan Umum II/3 UUPA.
Padahal sebagaimana amanat yang terkandung dalam UUD 1945 yang
mengakui dan menghormati hak ulayat masyarakat hukum adat sebagaimana yang
disebutkan dalam Pasal 18 B ayat (2) yaitu : Negara mengakui dan menghormati
kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya, sepanjang
masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip-prinsip negara
kesatuan Republik Indonesia.
Selanjutnya juga diatur dalam Pasal 28 ayat (3) UUD 1945 : Identitas budaya
dan hak-hak tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan
peradaban.
Berdasarkan kata hormat tersebut, maka Negara Republik Indonesia harus
menghormati arti kata mengikuti dan menaati, keberadaan masyarakat hukum adat
dan pemerintahan adatnya, dan hak-hak atas tanah adat yang dipunyai oleh
masyarakat hukum adat (hak ulayat) dan hak perorangan atas tanah yang diatur dalam
hukum tanah adat. 89

89

Muhammad Bakri, Op.Cit, Hal. 128

Universitas Sumatera Utara

Begitu tegasnya peraturan perundang-undangan memberikan pengakuan


terhadap masyarakat hukum adat begitupun tanah ulayatnya, sehingga dengan
demikian seharusnya tidak ada lagi pihak-pihak yang dapat berbuat sewenangwenang terhadap masyarakat hukum adat dan tanah ulayatnya, begitu pula
masyarakat Suku Sakai di Kabupaten Bengkalis, Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan
Mandau.
Karena eksistensi masyarakat Suku Sakai tersebut

berdasarkan

syarat

eksistensi yang telah ditentukan oleh undang-undang maka Suku Sakai tersebut
masih benar-benar merupakan hukum adat, hal ini terbukti dari masih adanya
kelompok masyarakat hukum adat, di daerah Kabupaten Bengkalis, tepatnya di Desa
Kesumbo Ampai Kecamatan Mandau yang dalam kehidupan sehari-harinya masih
terikat tatanan hukum adat yang berlaku di lingkungan wilayah mereka. Begitu juga
dengan tanah atau lahan yang menjadi tempat hidup mereka merupakan tanah milik
turun-temurun milik nenek moyang mereka yang masih dimiliki secara bersama,
demikian juga dalam hal pengurusan dan penguasaan serta penggunaan tanah tersebut
mereka masih mengikuti aturan-aturan hukum adat yang berlaku di lingkungan
mereka, yang diawasi dan diatur oleh kepala suku atau ketua adat yang mereka
miliki. 90

90

Wawancara Penulis dengan M. Yatim, batin Desa Kesumbo Ampai, Tanggal 28 Maret

2010.

Universitas Sumatera Utara

Kalau kita perhatikan dengan seksama tiang tonggak dari hak ulayat itu
bertumpu pada adanya Hak Ulayat dan adanya Masyarakat Hukum Adat, sehingga
Mahadi pernah menyatakan bahwa tidak mungkin masyarakat hukum adat itu ada
tanpa ada hak ulayat dan adanya hak ulayat itu melekat dengan adanya masyarakat
hukum adat.
Dalam pengertian masih ada itu seyogyanya tidak ada usaha untuk
meniadakan hak tersebut dengan berbagai alasan, seperti :
a. Hak Ulayat itu tidak jelas batas-batasnya (memang masyarakat hukum adat tidak
menetapkan patok-patok seperti pada surat-surat ukur), namun oleh mereka
batas-batas itu ditentukan menurut alam, seperti sungai, bukit, tanaman pohon
hidup, parit yang sengaja dibuat dan lain-lain.
Keadaan yang demikian menimbulkan ketidak pastian bagi masyarakat.
b. Tidak ada bukti-bukti tertulis (dan ini sama saja meminta tanduk pada kuda).
c. Dikatakan bahwa hak ulayat itu sering menimbulkan suatu hambatan dalam
pembangunan ekonomi dan sosial apalagi dalam rangka penanaman modal.
d. Konflik-konfik antara kehutanan dan masyarakat sekitar hutan tersebut sudah
merupakan rahasia umum, dan selalu para anggota masyarakat hukum adat itu
dikalahkan. 91

91

Parlindungan, Status Hukum Tanah Ulayat terangkum dalam Kumpulan Makala Seminar
Tanah Adat, Op.Cit.

Universitas Sumatera Utara

Suku Sakai merupakan masyarakat asli yang mendiami beberapa daerah


Kecamatan Mandau dan Minas termasuk dalam kawasan Batin Nan Delapan, yang
memiliki tanah-tanah adat, yang dikuasai oleh masing-masing batin batin dengan
pembagian hutan tanah untuk Batin Delapan dan Batin Nan Limo. Desa Kesumbo
Ampai termasuk dalam wilayah Batin Nan Delapan, yang sebut juga dengan Batin
Sebanga.
Jika ditelaah lebih lanjut pendapat Mahadi dengan keadaan tanah ulayat
Masyarakat Sakai saat ini sudah sedikit melemah, sehingga batas-batas yang
termasuk tanah ulayat tidak jelas. Dengan tidak diperkuatnya bukti-bukti tertulis
menyebabkan tanah ulayat yang ada di Sakai sering kali terjadinya peralihan hak
secara musyawarah dengan ganti rugi yang pada akhirnya masyarakat Sakai juga
yang dirugikan.
Wilayah hukum Suku Sakai yang disebut dengan perbatinan telah lama diakui
jauh sebelum kemaharajaan kesultanan Siak Sri Indrapura. Oleh karena itu, dalam
budaya

Sakai

mereka

mengenal

Hak

Ulayat

(Beschikkingsrecht)

yang

kekuasaannya berada ditangan persekutuan hukum komunitas Suku Sakai, namun


keberadaan Suku Sakai ini telah terdesak oleh berbagai kepentingan pembangunan
(pertambangan, kehutanan, dan perkebunan) yang menyebabkan lambat laun
eksistensi hak ulayat Suku Sakai semakin memudar.

Universitas Sumatera Utara

Ada dua jenis yang dapat dilihat dari kepemilikan tanah ulayat orang Sakai.
Pertama adalah tinjauan masyarakat adat, kedua adalah tinjauan hukum. Dahulu pada
masa kejayaannya, mereka mempunyai tanah ulayat yang mereka namakan tanah
perbatinan, baik perbatinan delapan maupun perbatinan lima. Tanah ulayat adalah
tanah yang tidak boleh dijual oleh siapapun, sebab tanah tersebut adalah milik seluruh
warga. Di tanah ulayat inilah mereka meletakkan suatu harapan untuk memenuhi
kebutuhan ekonomi keluarga. Kepemilikan tidak oleh diganggu gugat tanpa seizin
Batin, karena batinlah yang meletakkan dasar tanah adat tersebut. Dan Batin jugalah
yang berhak untuk membagikan tanah tersebut.
Tanah ulayat masyarakat suku Sakai di Desa Kesumbo Ampai dalam
pemanfaatannya juga sesuai dengan kepentingan umum masyarakat, dalam artian
bahwa tanah ulayat tersebut dapat dipergunakan sebagai tempat perkuburan umum,
tempat pengembalaan hewan ternak, dengan tetap tidak melupakan ketentuan hukum
adat yang berlaku. Hal ini jika dihubungkan dengan UUPA maka sesuai dengan
prinsip yang dianut terdapat dalam Pasal 6 UUPA, yang menyebutkan bahwa,semua
hak atas tanah mempunyai fungsi sosial.
Menurut Misran, mereka masih merasakan keberadaan hutan/tanah ulayat
mereka dengan utuh, tanpa ada gangguan dari pihak luar, jika ada pun permasalahan

Universitas Sumatera Utara

dari pihak luar mereka akan mendiskusikan dengan kepala batin bagaimana
pemecahan masalah tersebut. 92
Pemimpin masyarakat Suku Sakai yang paling menentukan ialah Batin. Tugas
seorang Batin adalah menegakkan ketentuan adat ditengah-tengah masyarakat,
mengatur pemakaian hutan, mengatur peruntukan tanah bagi anggota masyarakat,
maupun mengatur tata cara sosial kemasyarakatan. Dalam mengatur hutan dan
menentukan lokasi perladangan serta menetapkan batas-batasnya, namun demikian
Batin tetap bekerjasama dengan Kepala Desa.
Batin merupakan seorang kepala adat tempat masyarakat berkeluh kesah
tentang kehidupan, baik itu dalam segi politik, sosial dan ekonomi dalam masyarakat
Suku Sakai. Salah satunya tentang gangguan pihak luar terhadap hutan dan tanah
ulayat mereka, mereka akan membicarakan masalah tersebut kepada batin bagaimana
solusi yang akan diambil dari permasalahan tersebut. Diskusi biasanya mereka
lakukan ditempat kediaman Batin, dan itu dilakukan pada malam hari, karena
kegiatan diluar sudah tidak ada lagi pada malam hari, dan hanya dihadiri oleh para
laki-laki saja.
Pada awalnya seluruh tanah dalam wilayah persekutuan hukum masyarakat
Sakai berasal dari tanah ulayat. Akan tetapi karena semakin kuatnya hubungan
individual masyarakat Sakai dengan tanahnya, yaitu dengan diolah dan diusahakan

92

Wawancara Penulis dengan Misran, Masyarakat Suku Sakai, Tanggal 25 Maret 2010.

Universitas Sumatera Utara

secara terus menerus, maka penguasaannya berada ditangan orang yang


menguasainya. Padahal dahulunya sebagian besar dikuasai oleh persekutuan Sakai,
dibawah penguasaan Batin. Akan tetapi walaupun demikian seluruh anggota
masyarakat adat Suku Sakai Desa Kesumbo Ampai tersebut mempunyai hak yang
sama untuk membuka, memanfaatkan dan menikmati hasil tanah ulayat tersebut.
Apabila semakin kuatnya hubungan individu dengan tanah ulayatnya sehingga
hal ini merupakan salah satu alasan semakin berkurangnya tanah ulayat masyarakat
Suku Sakai Kabupaten Bengkalis. Selain juga pemberian penguasaan tanah kepada
perusahaan HPH maupun HTI oleh pemerintah. Sehingga menyebabkan masyarakat
kehilangan beberapa sumber mata pencariannya, diantaranya berburu di hutan juga
mencari madu lebah, karena hutan telah dijadikan hutan tanaman industri yang
tanamannya telah diganti dengan satu tanaman sejenis yaitu akasia.
Setiap anggota komunitas masyarakat suku sakai memiliki hak memanfaatkan
tanah ulayat serta hak-hak atas tanah antara lain yaitu:
1. Hak bersama masyarakat hukum adat.
Hak bersama ini dikenal dengan istilah hak ulayat. Hak ini merupakan hak
memanfaatkan tanah ulayat secara bersama-sama, seperti bertani, yang dilakukan
dengan cara berpindah-pindah, hal ini dilakukan karena adanya berbagai macam
keterbatasan yang dimiliki oleh masyarakat Suku Sakai, seperti keterbatasan skill.
Adapun cara berladang yang mereka lakukan yaitu dengan cara berkelompok, yang

Universitas Sumatera Utara

setelah 5 kali perpindahan maka mereka akan kembali pada tanah yang mereka buka
pertama kalinya (kepala tanah). Membuka hutan ulayat untuk dijadikan lahan tempat
mereka bertani dilakukan dengan izin dari Batin.
Dalam membuka hutan untuk dijadikan ladang tersebut, masing-masing
keluarga telah menentukan kira-kira berapa luas masing-masing ladang yang hendak
dibuatnya. Adapun ladang-ladang orang Sakai dibuat bertetangga mengikuti pola.
Sebuah ketetanggaan terdiri dari ladang-ladang yang ukuran jarak bagian muka dan
belakangnya adalah sama. Jika dalam ketetanggaan tersebut terdapat 5 (lima) ladang,
maka ladang 1,2,dan 3 ukuran tiap-tiap ladang adalah dua jalur (20m x 50m). 93
Ladang 4, dan 5 masing-masing berukuran dua jalur (20m x 50m) dan tiga jalur
(30m x 50m). Setiap ladang di ketetanggaan ladang 4 dan 5 mempunyai panjang
muka-belakang yang sama tetapi lebar yang tidak sama. Dalam aturan perladangan
orang Sakai jarak ladang muka-belakang tergabung dalam sebuah ketetanggaan
haruslah sama, sedangkan lebarnya dapat berbeda-beda. 94
2. Hak perseorangan atas tanah.
Hak perseorangan atas tanah pada masyarakat Suku Sakai berasal dari tanah di
lingkungan ulayat mereka. Adapun perubahan hak ulayat menjadi hak perseorangan
dilakukan dengan cara mereka menghadap kepada Batin, untuk mendapat izin untuk

93

Satu jalur sama dengan 20depa x 50depa, dan satu depa menurut ukuran orang Sakai adalah
sama dengan 1m, atau satu jalur luasnya kira-kira 100m2.
94
Wawancara Penulis dengan M.Yatim, Kepala Batin, Tanggal 1 Agustus 2010

Universitas Sumatera Utara

membuka hutan terlebih dahulu yang kemudian dijadikan sebagai areal perladangan.
Hutan tersebut dibuka secara berkelompok dengan anggota kelompok sekitar 10
kepala keluarga, yang luasnya disesuaikan dengan kemampuan tenaga anggota dalam
kelompok. Setelah tanah selesai dibersihkan dan siap untuk ditanami maka kemudian
dibagi dengan anggota kelompok tersebut, apabila tanaman yang ditanami sudah
besar biasanya mereka akan mendirikan tempat tinggal areal tersebut, sehingga
hubungan tanah dan pengelolaan menjadi satu. Sehingga pada akhirnya tanah tersebut
menjadi milik mereka. Akan tetapi sebaliknya apabila tanah tersebut setelah ditanami
dan telah dipanen kemudian dibiarkan tidak diolah lagi hingga kembali dipenuhi
belukar maka tanah tersebut menjadi tanah ulayat kembali.
Maka dengan demikian hak perorangan atas tanah pada masyarakat Suku
Sakai dengan hak perorangan menurut hukum adat yaitu bahwa hak perorangan
dibatasi oleh hak ulayat. Hak perseorangan masyarakat Suku Sakai dapat berupa :
a. Hak milik
Masyarakat Suku Sakai mempunyai hak milik, luas tanah yang dimiliki dibagi
dalam 3 kategori yaitu :
> 1 jalur
2 3 jalur
< 4 jalur
( 1 jalur = 100 x 25 m)

Universitas Sumatera Utara

Pembagian kategori hak milik ini ditentukan oleh Batin setempat. Jadi kepemilikan
tidak boleh diganggu gugat oleh tanpa ijin batin.
b. Hak wenang pilih
Bentuk hak wenang pilih yang dikenal oleh masyarakat Suku Sakai, dalam
bentuk antara lain :
1)

Bagi anggota masyarakat Suku Sakai yang memberikan tanda larangan pertama
kali pada sebidang tanah yang akan dijadikan areal perladangan, yang setelah
tanda tersebut diberikan pada bidang tanah tersebut maka tanah tersebut tidak
boleh ditelantarkan lagi, karena apabila tanah tersebut tidak dikerjakan dalam
beberapa waktu maka tanah tersebut akan kembali menjadi tanah ulayat dan
anggota masyarakat Suku Sakai lainnya dapat memberi tanda untuk kemudian
diolah.

2)

Hutan rimba ada yang di sekitar tanah perladangan tanah perladangan, menjadi
hak wenang dari warga yang membuka tanah untuk pertama kali.

3)

Berdasarkan sistem peladangan yang dilakukan oleh masyarakat Suku Sakai


yaitu dengan berpindah-pindah, maka setelah 5 kali perpindahan maka mereka
akan kembali ke lokasi semula, walaupun tanah tersebut telah menjadi belukar
akan tetapi itu merupakan areal wenang pilihnya.

c. Hak pakai

Universitas Sumatera Utara

Atas inisiatif dari Kelapa Batin Delapan, karena melihat semakin berkurangnya
luas tanah ulayat untuk pemukiman maupun tempat untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, hutan larangan yang sudah tidak ada lagi, sungai yang juga salah satu
tempat mencari ikan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup juga sudah tercemar, maka
oleh Kepala Batin Delapan dan Batin Nan Lima diusahakan tanah seluas 17x7 km di
Desa Sebangar yang sebagian masih hutan rimba. Tanah tersebut berasal dari Punih
Batin Militer Khalifah Rajab sebagai Kepala Suku Sakai, yang telah dikuasakan
kepada Kepala Desa Sebagar Duri untuk kepentingan bersama Suku Sakai. Tanah
tersebut dimanfaatkan warga Suku Sakai di Kecamatan Mandau. Masing-masing
kepala keluarga diberikan seluas 2ha, dengan status hak pakai. 95
Masih adanya penguasaan atas tanah pada masyarakat Suku Sakai begitu pula
masih dimilikinya ketua adat yang tersebut dengan Batin sebagai orang yang
mengemban tugas untuk memberikan pengaturan dalam kehidupan sehari-hari serta
memberikan pengaturan terhadap hak penguasaan, pemilikan atas tanah, maupun
aturan dalam kehidupan sehari-hari, dan masih adanya juga masyarakat Suku Sakai
sebagai warga komunitas masyarakat hukum adat, maka dengan demikian hal ini

95

Hak Pakai disini bukanlah hak pakai yang dimaksud dalam UUPA, didalam UUPA hak
pakai dapat diberikan untuk jangka waktu 10 tahun, tetapi hak pakai yang berlaku di dalam lingkungan
Perbatinan masyarakat Suku Sakai di Kecamatan Mandau hak pakai ini dilakukan oleh masyarakat
hukum adat dengan penyerahan penggunaan tanah untuk jangka waktu tertentu sehingga sesudah
jangka waktu itu habis, atau sesudah tanah itu tidak digunakan atau telantar, hak pakai yang
bersangkutan dihapus. Penggunaan selanjutnya dilakukan berdasarkan persetujuan baru dari
masyarakat hukum adat yang bersangkutan sepanjang hak ulayat masyarakat hukum adat itu masih ada
sesuai ketentuan.

Universitas Sumatera Utara

telah memenuhi kriteria ada atau tidaknya masyarakat hukum adat dan hak ulayatnya
sebagaimana yang ditentukan oleh undang-undang pokok agraria.
Jika ditinjau dari segi hukum, pasal 3 UUPA menyimpulkan dua syarat
terhadap pengakuan hak ulayat, yaitu mengenai eksistensinya bahwa hak ulayat
diakui sepanjang menurut keyakinan masih ada. Kedua mengenai pelaksanaannya.
Pelaksanaan hak tanah ulayat hatus sedemikian rupa sesuai dengan kepentingan
nasional dan negara yang didasarkan oleh rasa persatuan dan kesatuan bangsa serta
tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang
lebih tinggi.
Jika dikaitkan dengan pasal 58 UUPA mengakui hak ulayat dan hak-hak lain
yang sejenis yang tidak bertentangan dan selama belum diatur khusus, maka apa yang
menjadi petunjuk yang diatur dalam pasal 3 jika dipenggal akan berbunyi, bahwa
hak ulayat itu masih merupakan kenyataan hidup, artinya dalam penelitian ini dapat
dikatakan bahwa tanah ulayat tersebut masih berfungsi dan masih dipatuhi oleh
masyarakat.
Dapat disimpulkan bahwa UUPA tidak memberikan secara tegas apa ukuran
untuk menentukan apakah hak ulayat dalam kenyataannya masih ada. Artinya kalau
pada tanggal 24 September 1960 (lahirnya UUPA) ini ada hak ulayat dalam
kenyataannya, maka selanjutnya hak ulayat itu akan diakui, meskipun dengan

Universitas Sumatera Utara

pembatasan-pembatasan. Sebaliknya, kalau dalam kenyataannya pada tanggal


tersebut hak ulayat tidak ada, maka seterusnya hak ulayat itu akan dianggap tidak ada.
Bagi orang Sakai hutan dan tanah memiliki fungsi ekonomi,sosial dan politik.
Hutan bagi orang Sakai berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat mencari makan dan
sebagai tempat mempertahankan eksistensi komunal mereka. Namun, setelah hutan
dan tanah tersebut setelah ditanami dengan sawit dan karet, masyarakat Sakai
kehilangan tempat tinggal, tempat mencari makan, dan terpencar-pencarnya kesatuan
sosial orang Sakai.
Walaupun hutan dan tanah yang dikuasai oleh masyarakat Sakai tersebut
masuk dalam pengertian hutan dan tanah negara, namun sepanjang masyarakat
hukum adat tersebut menurut kenyataannya masih ada, maka masih mempunyai hak
untuk mendapat manfaat dari hutan dan tanah itu. Pengertian hak untuk memperoleh
manfaat, tidak berarti hak untuk menguasai. Karena hak untuk menguasai telah
diangkat ketingkat yang lebih tinggi yaitu Negara.
Otonomi daerah sebagai suatu momentum dimilikinya kewenangan oleh
daerah untuk mengurus masalah pertanahan didaerahnya, tentunya merupakan suatu
pencerahan bagi daerah, karena mereka lebih dapat mengetahui bagaimana situasi
daerahnya, masyarakatnya serta kebutuhan masyarakatnya. Harapan perbaikan jelas
tertumpu pada otonomi daerah, pelaksanaan otonomi daerah pun bergantung pada
kemampuan pemerintah daerah serta seluruh komponen masyarakat daerah. Dengan

Universitas Sumatera Utara

pandangan bahwa, dalam bidang pertanahan, tanah tidak lagi dipandang sebagai
komoditas yang siap jual, atau diserahkan kepada berbagai pihak dengan segala
kemudahan, akan tetapi lebih kepada pemanfaatan bersama secara lebih adil dalam
kegiatan produksi yang hak penguasaannya tetap berada ditangan rakyat.
Adanya otonomi daerah tersebut maka pemerintah daerah mempunyai peran
yang besar dalam penetapan keberadaan masyarakat hukum adat serta tanah
ulayatnya. Langkah-langkah yang dapat dilakukan pemerintah daerah dalam
mendukung eksistensi hak ulayat masyarakat hukum adat antara lain:
1) Inventarisasi daerah yang masih terdapat masyarakat hukum adat.
2) Melakukan pengkajian dan penelitian.
3) Menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah masyarakat hukum adat dalam
bentuk peraturan daerah.
4) Mengusulkan kepada Menteri kehutanan untuk menetapkan wilayah masyarakat
hukum adat sebagai hutan adat.
Mengingat pengaturan tentang masyarakat hukum adat dalam tatanan undangundang dan peraturan pemerintah maka hal tersebut diartikan sebagai perintah untuk
pejabat Bupati/Walikota untuk menindaklanjuti dalam bentuk perda bagi wilayahnya
yang memiliki masyarakat hukum adat dan ada hak-hak ulayat yang melekat di
dalamnya. Dalam alam desentralisasi sekarang ini, pemerintah daerah hendaknya
mampu menciptakan iklim demokrasi yang merupakan payung desentralisasi.

Universitas Sumatera Utara

Demokrasi memerlukan kepastian hukum, demikian pemerintah daerah harus mampu


menciptakan produk hukum yang dapat mendukung fungsi hutan adat yang dapat
agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara lestari dalam rangka peningkatan
kesejahteraannya. 96
Era otonomi daerah ditandai dengan diundangkannya Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian dirubah dengan dikeluarkan Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah, sangat jelas mengatur mengenai
hak-hak masyarakat dibidang pertanahan yang menjadi urusan pemerintah daerah.
Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 14, yaitu: Urusan wajib yang menjadi
kewenangan pemerintah daerah untuk Kabupaten/Kota merupakan urusan yang
berskala Kabupaten/Kota meliputi point (k) tentang pelayanan pertanahan.
Berkaitan dengan pelaksanaan otonomi daerah tersebut, sesuai bagaimana
yang terdapat dalam penjelasan point (b), menyatakan bahwa:
Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya, dalam
arti wilayah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan
pemerintahan diluar yang menjadi urusan pemerintahan yang di tetapkan
dalam undang-undang ini. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan
daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan
pemberdayaan yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
Kemudian apabila diperhatikan lebih lanjut Pasal 126 ayat (1), (2), (3),
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Camat sebagai aparat pemerintahan di

96

Budi Riyanto, Hukum Kehutanan dan Sumber Daya Alam, Penerbit Lembaga Pengkajian
Hukum Kehutanan dan Lingkungan, Bogor, 2006, Hal.56.

Universitas Sumatera Utara

kecamatan memperoleh pelimpahan wewenang dari Bupati atau Walikota untuk


menangani sebagian urusan otonomi daerah, yang meliputi tugas-tugas:
a. Mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat.
b. Mengkoordinasikan upaya penyelengaraan ketentraman dan ketertiban umum.
c. Mengkoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan.
d. Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum
e. Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintah ditingkat
kecamatan.
f. Membina penyelenggaraan pemerintah desa dan/atau kelurahan.
g. Melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugas
dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintah desa atau kelurahan.
Melihat begitu pentingnya urusan pemerintah kecamatan di era otonomi
daerah saat ini dalam rangka pemberdayaan Kecamatan maupun Desa, sesuai dengan
yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan dengan demikian diharapkan
hak-hak masyarakat hukum adat, seperti hak atas tanah ulayatnya semakin mendapat
perlindungan dan juga pengakuan oleh berbagai pihak maupun oleh pemerintah
sendiri guna terwujudnya kesejahteraan masyarakat itu sendiri.
Dalam konsideran menimbang pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tersebut juga disebutkan:
a. Bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan
amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
pemerintahan daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan
untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui
peningkatan, pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat, serta
peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi,
pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam
sistem negara kesatuan Republik Indonesia.

Universitas Sumatera Utara

b. Bahwa efesiensi dan efektifitas penyelenggaran pemerintah daerah perlu


ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antara
susunan pemerintahan dan antar pemerintahan daerah, potensi dan
keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global dengan
memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai
dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah
dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintah negara.
Kemudian dilanjutkan dengan adanya kebijakan nasional di bidang
pertanahan yang dapat dilakukan oleh pemerintah Kabupaten/Kota dan Propinsi,
menyatakan bahwa sebagian kewenangan pemerintah di bidang pertanahan yang
dapat dilakukan oleh pemerintah Kabupaten/Kota maupun Propinsi tersebut meliputi :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Pemberian izin lokasi.


Penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan.
Penyelesaian tanah garapan.
Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan.
Penetapan subjek dan objek redistribusi tanah, serta ganti kerugian kelebihan
maksimum serta tanah absentee.
Penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat.
Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong.
Pemberian izin membuka tanah.
Perencanaan penggunaan tanah wilayah kabupaten/kota. 97
Adanya kebijakan tersebut juga berarti memberikan peluang dan kesempatan

kepada daerah kabupaten/kota untuk mempertahankan eksistensi tanah ulayat


didaerahnya, karena kebijakan tersebut telah memberikan kesempatan untuk itu. Oleh
karena itu daerah dapat menggunakan peluang tersebut untuk mempertahankan
eksistensinya melalui Peraturan daerah (Perda). Mengenai kewenangan dan

97

Keppres No.34 Tahun 2003 Pasal 2 ayat (2) Tentang Kebijakan Nasional Di Bidang

Pertanahan.

Universitas Sumatera Utara

penetapan suatu peraturan daerah berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam


Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, sebagaimana yang diatur dalam Bab VI,
Pasal 136 sampai dengan Pasal 149, yang terpenting dalam hubungan ini adalah
ketentuan dalam Pasal 139 ayat (1) yang berbunyi : Masyarakat berhak memberikan
masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan
rancangan perda.
Adapun proses yang perlu dilalui dalam pembuatan perda tersebut yaitu
dengan dibentuknya terlebih dahulu Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Pembentukan badan pemusyawaratan desa dapat dibuat apabila pemerintah daerah
setempat mengeluarkan perda tentang pembentukan BPD tersebut. Landasan hukum
pembentukan perda tersebut yaitu Pasal 209 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
yang berbunyi : Badan Permusyawaratan Desa berfungsi menetapkan peraturan desa
bersama Kepala Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.
Serta Pasal 210 ayat (1) dan (4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang
berbunyi :
(1). Anggota Badan Permusyawaratan Desa adalah wakil dari penduduk
desa bersangkutan yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan
mufakat.
(4). Syarat dan tata cara penetapan anggota dan pimpinan Badan
Permusyawaratan Desa diatur dalam Perda yang berpedoman pada
peraturan pemerintah.
Adapun wakil yang dimaksud dalam Pasal 210 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tersebut dalam penjelasannya adalah penduduk desa yang

Universitas Sumatera Utara

memangku jabatan seperti ketua rukun warga, pemangku adat, dan tokoh masyarakat
lainnya.
Setelah terbentuknya badan permusyawaratan desa maka selanjutnya adalah
pembuatan

kesepakatan

desa

dengan

keputusan

BPD

dan

kepala

desa.

Memperhatikan bunyi Pasal 209 dan 210 ayat (1) dan (4) tersebut apabila dikaitkan
dengan proses pembuatan keputusan desa, maka langkah awal yang perlu dilakukan
adalah sebagai berikut :
1. Penerbitan Perda kabupaten/kota tentang pembentukan BPD.
2. Setelah Perda tentang pembentukan BPD diterbitkan, maka BPD segera
dibentuk.
3. Setelah
BPD
terentuk
maka
BPD
mengadakan
rapat
(musyawarah/mufakat) untuk memilih pimpinan BPD.
4. Setelah pimpinan BPD terpilih, maka BPD mengadakan rapat
(musyawarah/mufakat) untuk mengambil keputusan yang telah
diagendakan, antar lain tentang masyarakat hukum adat dan tanah ulayat.
5. BPD bersama Kelapa Desa mengeluarkan keputusan desa yang isinya
mengenai keputusan hasil musyawarah/mufakat BPD. 98
Maka demikian masyarakat hukum adat serta tanah ulayatnya dan hak
ulayatnya telah terbuka jalan untuk diperjuangkan dan dimohonkan pembuatan perda
untuk perlindungannya.
Dalam penelitian yang dilakukan melemahnya hak ulayat pada masyarakat
Sakai dikarenakan tidak sampainya sosialisasi dan penyuluhan dari pihak BPN pada
masyarakat Sakai tersebut, pihak BPN menganggap tanah ulayat yang dikatakan oleh

98

A. Bazar Harahap, dkk, Tanah Ulayat Dalam Sistem Pertanahan Nasional, CV.Yanis,
Jakarta, Hal. 50.

Universitas Sumatera Utara

masyarakat Sakai itu tidak ada karena tanah yang mereka katakan tanah ulayat
merupakan tanah negara yang mana masyarakat Sakai hanya diberikan hak manfaat
saja. Serta kurangnya pengawasan dari pihak BPN terhadap pertanahan di Riau
khususnya tanah masyarakat adat.
Dapat dilihat bahwa hak ulayat atas tanah pada masyarakat Suku Sakai
memiliki kecendrungan semakin berkurang hak ulayatnya, hal ini dikarenakan
dengan semakin menguatnya pengaruh (intern) hak individu ataupun hak perorangan
atas tanah maupun karena penguasaan atas tanah dengan pemberian hak guna usaha
kepada perusahaan HTI, ataupun karena kesewenangan pihak lain pengaruh (ekstern)
terutama kebijakan dan pengaruh pihak penguasa, seperti penyerobotan atas tanah
masyarakat Sakai maka perlu adanya suatu ketentuan yang benar-benar melindungi
hak masyarakat Sakai, ketentuan yang jelas secara langsung dapat berhubungan
dengan masyarakat Sakai. Karena dalam peralihan penguasaan atas tanah, rakyat
yang berada dalam kondisi politik dan ekonomi yang demikian lemah yang harus
dilindungi.
Jika ditinjau dari hasil penelitian lapangan lemahnya atau hilangnya hak
ulayat pada masyarakat Sakai terjadi sejak zaman kemerdekaan Indonesia dan
terbukanya jalan raya buatan yang menghubungkan antara Pekanbaru dengan Dumai,
yang kemudian berlanjut dengan dibukanya ladang-ladang minyak yang diiringi
dengan pemukiman-pemukiman baru, baik oleh perusahaan ataupun oleh pendatang-

Universitas Sumatera Utara

pendatang baru, juga diakibatkan adanya kebijakan dan tindakan-tindakan dari pihak
penguasa, untuk memperoleh tanah yang merupakan tanah adat menurut masyarakat
Sakai untuk berbagai keperluan pembangunan, baik oleh pemerintah ataupun
pengusaha swasta.
Hal ini juga disebabkan oleh lemahnya perlindungan kewenangan yang
diberikan pemerintah terhadap perkembangan masyarakat adat yang ada di Riau
apalagi tanah ulayat tempat masyarakat itu tinggal. Yang oleh pemerintah lebih
mementingkan kepentingan bersama dari pada kepentingan suatu kelompok individu
saja.

Universitas Sumatera Utara

BAB III
PENYERAHAN HAK ULAYAT PADA MASYARAKAT SUKU SAKAI
SESUAI DENGAN PERATURAN MENTERI AGRARIA / KEPALA BADAN
PERTANAHAN NOMOR 5 TAHUN 1999

A. Perkembangan Hak Ulayat Sebelum dan Sesudah Lahirnya PMA/BPN


Nomor 5 Tahun 1999
Pada mulanya tanah adat dijumpai hampir pada seluruh wilayah Indonesia.
Tetapi dengan bertambah kuatnya hak penguasaan pribadi atas bagian-bagian tanah
ulayat oleh para warga masyarakat hukum adatnya, juga karena faktor-faktor diluar
masyarakat hukum adat yang bersangkutan sendiri, secara alamiah kekuatan hak
ulayatnya tambah lama makin tambah melemah, hingga akhirnya menjadi tidak
tampak lagi keberadaannya karena pada kenyataannya keadaan dan perkembangan
hak ulayat saat ini sangat beragam, tidak mungkin dikatakan secara umum, bahwa di
suatu daerah hak ulayat masyarakat hukum adatnya masih ada atau sudah ada lagi
atau tidak pernah ada sama sekali.
Tanah ulayat merupakan tanah milik bersama dari masyarakat hukum adat,
tanah ulayat merupakan bagian dari hak ulayat masyarakat hukum adat. Hak ulayat
dipertahankan dan dilaksanakan oleh penguasa adat. Masyarakat diluar komunitas
masyarakat hukum adat, yang bermaksud mengambil hasil hutan, berburu atau

124

Universitas Sumatera Utara

membuka tanah, dilarang masuk lingkungan tanah wilayah suatu masyarakat hukum
adat, tanpa izin penguasa adat. Dengan izin penguasa adat itu maka seseorang dapat
membuka tanah untuk berladang atau untuk dijadikan kebun tanaman muda, yaitu
kebun yang ditanami dengan tanaman yang tidak memerlukan waktu lama untuk
dipungut hasilnya. Sebab orang asing hanya boleh menguasai atau mengerjakan
tanaman yang dibukanya itu selama satu panen saja. Tanah yang dibuka itu
dikuasainya dengan hak pakai. Orang asing tidak boleh (tidak dapat) mempunyai
tanah dengan hak milik. 99
Pasal 5 ayat (1) menyatakan, bahwa penelitian dan penentuan masih adanya
hak ulayat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dilakukan oleh Pemerintah Daerah
dengan mengikut sertakan pakar-pakar hukum adat, masyarakat hukum adat yang ada
di daerah yang bersangkutan, Lembaga Swadaya Masyarakat dan instansi-instansi
yang mengelola sumber daya alam.
Di dalam perkembangannya hak ulayat itu, walaupun diakui oleh undangundang, namun eksistensi masyarakat hukum adat itu semakin kabur, dalam arti
kenyataannya masyarakat semakin menjauhi hukum adat itu, khususnya untuk hal-hal
tertentu antara lain mengenai pertanahan menurut adat istiadat (hukum adat).
Sebelum UUPA dikeluarkan terdapat sifat dualisme mengenai pertanahan,
disebabkan berlakunya dua jenis hukum mengenai pertanahan yaitu Hukum Adat dan

99

Boedi Harsono, Op.Cit, Hal.190.

Universitas Sumatera Utara

Hukum Agraria yang didasarkan atas Hukum Barat. Oleh karena itulah dirasakan
perlunya Hukum Agraria yang seragam dan bersifat nasional dalam hal ini UUPA.
Pada dasarnya, sebelum lahirnya Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN
Nomor 5 Tahun 1999, kewenangan pemerintah untuk mengatur bidang pertanahan
tumbuh dan mengakar dari Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang
menegaskan bahwa : bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Kemudian dituntaskan secara kokoh didalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria (Lembaran Negara 1960-104 atau
disebut juga Undang-Undang Pokok Agraria UUPA). 100 Hukum tanah Indonesia
berdasarkan Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 tersebut
mengisyaratkan bagi pembuat undang-undang dalam membentuk hukum tanah
nasional jangan sampai mengabaikan, melainkan harus mengindahkan unsur-unsur
yang berstandar pada hukum agama.
Pengakuan yang diberikan oleh UUPA terhadap hak ulayat masyarakat hukum
adat dengan syarat sebatas tidak bertentangan dengan kepentingan negara dan bangsa,
menjadi tolak awal adanya bentuk perlindungan hukum terhadap hak ulayat, hal
tersebut diakomodir dengan dikeluarkannya ketentuan agraria PMA/Kepala BPN

100

Muhammad Yamin,Abdul Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, Mandar Maju,


Cetakan I, Bandung, 2008, Hal.19.

Universitas Sumatera Utara

Nomor 5 tahun 1999, yang menjadi pedoman penyelesaian masalah hak ulayat
masyarakat hukum adat.
Dalam Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Pasal 1,
berisi tentang pengertian atas hak ulayat, tanah ulayat. Hak ulayat beserta tanah adat
yang merupakan milik dan menjadi kewenangan atas masyarakat adat, haruslah
diakui keberadaannya oleh pemerintah dan masyarakat regional maupun nasional
sesuai dengan Pasal 3 UUPA.
Tanah ulayat adalah bidang tanah yang diatasnya terdapat Hak Ulayat dari
suatu masyarakat hukum tertentu. Mengenai keberadaan tanah ulayat masyarakat
hukum adat yang masih ada, dinyatakan dalam peta dasar pendaftaran tanah dengan
membubuhkan suatu tanda kartografi, dan apabila memungkinkan, menggambarkan
batas-batasnya serta mencatatnya dalam daftar tanah. Pelepasan tanah ulayat untuk
keperluan pertanian dan sebagainya, memerlukan hak guna usaha atau hak pakai. Ini
dilakukan oleh masyarakat hukum adat dengan penyerahan penggunaan tanah untuk
jangka waktu tertentu sehingga sesudah jangka waktu itu habis, atau sesudah tanah itu
tidak digunakan atau terlantar, hak guna usaha atau hak pakai yang bersangkutan
dihapus. Penggunaan selanjutnya dilakukan berdasarkan persetujuan baru dari
masyarakat hukum adat yang bersangkutan sepanjang hak ulayat masyarakat hukum
adat itu masih ada sesuai ketentuan.

Universitas Sumatera Utara

Sebagaimana yang diamanatkan oleh Pasal 3 UUPA dan munculnya berbagai


kasus tentang tanah ulayat yang timbul dalam skala Regional maupun Nasional yang
tidak pernah memperoleh penyelesaian secara tuntas, serta tidak ada kriteria objektif
yang dipergunakan sebagai tolak ukur penentu keberadaan Hak Ulayat, maka
pemerintah menetapkan suatu peraturan perundangan melalui Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan

No.5 Tahun 1999 tentang Pedoman

Penyelesaian Masalah Hak Ulayat masyarakat Hukum Adat.


Keberadaan Peraturan Menteri Agraria Nomor 5 Tahun 1999 telah memberi
peluang menuju pengakuan dan perlindungan terhadap hak masyarakat adat, sehingga
penjabaran dan pelaksanaan ketentuan itu terpulang kepada kita untuk menyambutnya
dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan dalam menikmati hak-hak yang ada
diperoleh dan disesuaikan dengan ketentuan hukum yang berlaku, serta strategi yang
diupayakan untuk melestarikan hak-hak masyarakat adat berkelanjutan. Hal ini
merupakan penjabaran dari Pasal 2 ayat (1) yang menyatakan, bahwa pelaksanaan
hak ulayat sepanjang pada kenyataannya masih ada dilakukan oleh masyarakat
hukum adat yang bersangkutan menurut ketentuan hukum adat setempat.
Pada kenyataannya di daerah Kecamatan Mandau terdapat hak masyarakat
adat yang hampir punah dan melemah seiring dengan perkembangan zaman. Suku
Sakai adalah komunitas asli/pedalaman yang hidup di daratan Riau. Mereka selama
ini sering dicirikan sebagai kelompok terasing yang hidup berpindah-pindah di hutan.

Universitas Sumatera Utara

Namun seiring dengan berjalannya waktu, alam asri tempat mereka berlindung mulai
punah. Kawasan yang tadinya hutan, berkembang menjadi daerah industri
perminyakan, usaha kehutanan, perkebunan karet dan kelapa sawit, dan sentra
ekonomi. Komposisi masyarakatnya pun menjadi lebih heterogen dengan pendatang
baru dan pencari kerja dari berbagai kelompok masyarakat yang ada di Indonesia
(Jawa, Minang, Batak, dsb). Akibatnya, masyarakat Sakai pun mulai kehilangan
sumber penghidupan, sementara usaha atau kerja di bidang lain belum biasa mereka
jalani. Lahan-lahan atas hutan dan tanah yang tadinya berada di tangan masyarakat
berpindah tangan ke pihak pemegang HTI dan HPH.
Negara dalam hal ini berusaha memposisikan dirinya menurut UndangUndang Pokok Agraria yakni sebagai pemegang hak menguasai bukan eigendom
atau pemilik. Pemilik sesungguhnya adalah masyarakat hukum adat. Pihak HPH dan
HTI adalah pihak yang diberi hak untuk berusaha diatas lahan milik masyarakat
hukum adat yang dalam terminologi Negara berdaulat dapat dibaca sebagai Hak Guna
Usaha (HGU) diatas tanah ulayat yang dikuasai oleh Negara.
Berdasarkan kerangka itu pemegang HGU harus menjalankan fungsi sosial
HGU tersebut sesuai dengan amanah Pasal 6 UUPA :Semua hak-hak atas tanah
berfungsi sosial yang selama ini diabaikan oleh pihak pemegang HGU.

Universitas Sumatera Utara

B.

Permasalahan Hukum Pada Waktu Penyerahan Hak Ulayat Atas Tanah


Oleh Masyarakat Sakai Kepada Pihak Lain.
Keluarnya Peraturan Menteri Agraria / Kepala BPN Nomor 5 Tahun 1999

sebagaimana dalam Pasal 4 ayat (1) b, menyebutkan bahwa penguasaan bidangbidang tanah yang termasuk tanah ulayat oleh instansi pemerintah, badan hukum atau
perseorangan bukan warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan dengan hak
atas tanah menurut ketentuan UUPA, berdasarkan pemberian hak dari negara setelah
tanah tersebut dilepaskan oleh masyarakat hukum adat atau oleh warganya dalam hal
ini khususnya masyarakat Suku Sakai, harus sesuai dengan ketentuan dan tata cara
hukum adat yang berlaku.
Selanjutnya Pasal 4 ayat (2), Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5
Tahun 1999 menyatakan bahwa, penglepasan hak ulayat atas tanah masyarakat
hukum adat untuk keperluan pertanian dan keperluan lain yang memerlukan Hak
Guna Usaha dan Hak Pakai, dapat dilakukan oleh masyarakat hukum adat dengan
penyerahan penggunaan tanah untuk jangka waktu tertentu yang setelah jangka
waktunya habis, atau setelah tanah tersebut tidak dipergunakan lagi atau ditelantarkan
oleh pemegang Hak Guna Usaha tersebut maupun pemegang Hak Pakai tersebut,
yang pada akhirnya menyebabkan Hak Guna Usaha dan Hak Pakai yang dimiliki
hapus, maka penggunaan selanjutnya atau perpanjangan harus dilakukan berdasarkan

Universitas Sumatera Utara

persetujuan baru dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan sepanjang hak
ulayat masyarakat hukum adat itu masih ada.
Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 4 ayat (2) Peraturan Menteri
Agraria/Kepala BPN Nomor 5 Tahun 1999 tersebut telah membuka kemungkinan
warga diluar masyarakat Suku Sakai untuk mempergunakan tanah ulayat masyarakat
Suku Sakai, dengan syarat sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) yaitu
terbatas hanya untuk keperluan pertanian dan keperluan lain dengan Hak Guna Usaha
dan Hak Pakai dengan jangka waktu tertentu. Ketentuan Pasal 4 ayat (2) Peraturan
Menteri Agraria/Kepala PBN Nomor 5 Tahun 1999 tersebut juga menyebutkan
pemberian Hak Guna Usaha dan Hak Pakai berikut perpanjangan dan pembaharuan
berlakunya diberikan oleh negara, sehingga disinilah letak hak menguasai negara
tersebut tampak kembali, yang dengan demikian secara tidak langsung ketentuan
tersebut akan melemahkan kedudukan hak ulayat masyarakat hukum adat, karena
lambat laun tanah ulayat tersebut akan berkurang fungsinya bagi masyarakat hukum
adat tersebut, selain itu juga sejalan dengan perubahan pola kehidupan masyarakat
karena dengan begitu lamanya jangka waktu yang diberikan untuk penggunaan tanah
ulayat masyarakat adat tersebut, bisa jadi masyarakat tersebut sudah tidak eksis lagi.
Kemudian apabila dikaitkan dengan UUPA jo. Peraturan Pemerintah Nomor
40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai Atas
Tanah, bahwa tanah yang dapat diberikan dengan Hak Guna Usaha adalah tanah

Universitas Sumatera Utara

negara, begitu juga dengan hak pakai, bahwa tanah yang dapat diberikan dengan hak
pakai adalah juga tanah negara. Dengan demikian dengan ketentuan bahwa tanah
yang dapat diberikan dengan Hak Guna Usaha adalah tanah negara menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tersebut, maka berarti hak ulayat sebagaimana
yang dimaksud Pasal 4 ayat (2) Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5
Tahun 1999 adalah tanah negara, berarti dengan demikian adanya suatu pengingkaran
secara tidak langsung oleh negara terhadap kedudukan hak ulayat, yang oleh undangundang sendiri telah diakui.
Pasal 12 dan Pasal 50 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1999 juga
membahas masalah ganti rugi terhadap tanah ulayat yang dibebani dengan dengan
Hak Guna Usaha dan Hak Pakai, yang menyebutkan bahwa Hak Guna Usaha dan
Hak Pakai mempunyai kewajiban untuk membayar uang pemasukan kepada negara.
Akan tetapi Peraturan Menteri Agraria Nomor 5 Tahun 1999, telah mengatur
pembayaran ganti kerugian kepada masyarakat hukum adat. Hal ini kembali
memperlihatkan bahwa tanah ulayat adalah merupakan tanah negara.
Konsep hak menguasai negara merupakan suatu kewenangan yang dimiliki
oleh negara untuk memberikan suatu hak atas tanah atau hak-hak lainya kepada orang
lain baik sendiri-sendiri maupun bersama- sama orang lain, serta badan-badan
hukum, dimana negara mempunyai kewenangan-kewenangan berkaitan dengan bumi,
air, dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Hal ini

Universitas Sumatera Utara

yang menjadi dasar bagi negara untuk mengatur pemberian, penglepasan atau
penyerahan hak atas tanah, termasuk hak atas tanah ulayat masyarakat hukum adat
kepada pihak lain.
Bagi masyarakat Suku Sakai, kewenangan negara atas tanah termasuk tanah
ulayat masyarakat hukum adat, justru menyudutkan keberadaan mereka, sehingga
pada kenyataannya mereka tidak menghendaki tanah ulayat mereka menjadi bagian
dari tanah negara, karena dengan pemberian kewenangan tersebut tentunya negara
akan mempunyai hak sepenuhnya untuk memberikan ataupun melepaskan tanah
ulayat masyarakat Sakai kepada pihak lain dengan alasan pembangunan tanpa
memperdulikan kehidupan mereka. Padahal disisi lain masyarakat mengharapkan
perlindungan yang lebih berpihak kepada mereka, karena apabila pemerintah dengan
hak yang dipunyai kemudian memberikan hak penguasaan kepada perusahaan HPH
ataupun HTI, yang tidak memberdayakan masyarakat setempat, masyarakat hanya
sebagai penonton dari kegiatan perusahaan tersebut, tidak melibatkan masyarakat
Sakai, kalau pun ada masyarakat Sakai yang dilibatkan hanya dijadikan sebagai kuli
kasar saja, sehingga dengan demikian mereka menjadi lebih sulit dalam pemenuhan
kebutuhan hidup, karena selama ini tersedia dari alam akan tetapi dengan beralihnya
hak atas tanah ulayat mereka kepada pihak lain maka alam tersebut bukan milik
mereka lagi, tidak ada kebebasan bagi mereka lagi untuk masuk hutan apalagi
mengambil hasil hutan. Sehingga dapatlah dipahami mengapa masyarakat adat tidak

Universitas Sumatera Utara

menghendaki tanah ulayatnya menjadi bagian dari tanah negara, karena masyarakat
merasa lebih memiliki hubungan dengan tanah ulayatnya, dimana hubungan tersebut
demikian

kuatnya,

karena

ditanah

tersebut

merupakan

tempat

mereka

menggantungkan seluruh hidupnya, sehingga tanah dianggap sebagai tempat mereka


hidup, tempat mencari nafkah dan tempat mereka dimakamkan, bahkan tempat hidup
leluhur nenek moyang mereka.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa masyarakat Suku Sakai
mereka terpaksa menjual tanah-tanah ulayat mereka karena terdesak ekonomi,
padahal sudah ada larangan menjual tanah ulayat. Pada waktu penyerahan hak atas
tanah kepada pihak lain mereka terpaksa menjual tanah ulayat tersebut dengan harga
yang begitu murah karena pada dasarnya masyarakat Suku Sakai tidak memiliki
sertifikat kepemilikan atas tanah, serta dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah
tentu tidak mengetahui harga pasar tanah. 101 Tindakan ini dilakukan warga karena
hasil hutan semakin berkurang, sedangkan kebutuhan masyarakat terus bertambah.
Disinilah yang menyebabkan lemahnya kedudukan masyarakat Suku Sakai
didepan hukum, dikarenakan tanah yang mereka jual tidak memiliki surat sertifikat
kepemilikan,sehingga pihak luar dapat dengan sewenang-wenangnya terhadap tanah
ulayat tersebut.

101

Wawancara Penulis dengan Masyarakat Suku Sakai, Tanggal 25 Maret 2010.

Universitas Sumatera Utara

Selanjutnya M. Yatim mengemukakan, pembukaan hutan yang dilakukan oleh


pemilik hak pengusahaan hutan (HPH) serta pengusaha kelapa sawit, selalu tidak
memeperdulikan hukum adat suku Sakai. Pemerintah sama sekali tak peduli dengan
hak ulayat dan hutan ulayat yang ratusan tahun kami jaga. Seenaknya diserobot dan
diberikan kepada pengusaha HPH, dan perkebunan kelapa sawit. Dulu, hampir semua
wilayah Duri, Kandis, hingga Dumai semuanya di Provinsi Riau ini adalah tanah
ulayat kami, di dalamnya ada hutan adat, hutan larangan, dan hutan perladangan. 102
Hutan adat hanya boleh diambil hasilnya, tetapi pohonnya tidak boleh
ditebang. Hasil hutan yang boleh diambil di antaranya madu lebah di pohon dan
damar. Sedangkan hutan larangan, yang berada di sepanjang sungai, juga tidak boleh
ditebang agar ekologi sungai tetap terjaga. Hutan perladangan boleh ditebang untuk
ladang dengan sistem rotasi.
Aturan adat kami ada larangan menjual tanah ulayat, tapi warga terdesak
ekonomi sehingga mudah dibujuk. Ini tidak akan terjadi bila aparat setempat seperti
kepala desa, camat, hingga Badan Pertanahan Nasional (BPN) tidak mengeluarkan
sertifikat atas tanah ulayat yang dijual itu. 103
Sejalan dengan itu, sejak dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1960, permasalahan tanah ulayat memang terus berkembang, terutama setelah
tumbuhnya perusahaan-perusahaan perkebunan dibalik penebangan-penebangan
102
103

Wawancara Penulis dengan M. Yatim, tin Desa Kesumbo Ampai, Tanggal 28 Maret 2010.
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

hutan oleh pemegang HPH. Sejak masuknya perusahaan-perusahaan besar yang


bergerak dibidang perkebunan maupun industri, banyak tanah ulayat yang berpindah
tangan, tidak lagi dinikmati oleh penduduk setempat tetapi hanya mereka yang
mendapat izin HPH tersebut. Meskipun bukan tidak banyak tanah yang diperoleh
pemegang HPH dengan membayar ganti rugi kepada penduduk, namun masih saja
timbul persoalan karena adanya rasa tidak puas dari penduduk setempat, baik karena
ganti ruginya yang tidak memuaskan maupun karena perolehan tanah dibalik HPH itu
banyak menimbulkan pertanyaan. Penebangan-penebangan hutan itu telah meliputi
seluruh Indonesia terutama di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Irian
Jaya. 104
Sebagai contoh ganti rugi yang pernah diberikan oleh perusahaan HPH dan
HTI kepada masyarakat Sakai yang tidak memberikan manfaat dalam jangka waktu
yang panjang, yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan hidup mereka yaitu, ganti
rugi berupa uang yang diberikan kepada masyarakat Sakai, yang oleh masyarakat
pada waktu itu langsung dibelikan televisi, parabola, sepeda motor, dan barangbarang lainnya, padahal di lingkungan masyarakat Suku Sakai tersebut tinggal belum
tersentuh oleh jaringan listrik PLN hanya diesel, sehingga pada akhirnya barangbarang tersebut tidak dapat dipergunakan oleh mereka, karena untuk kemudian
membayar biaya diesel untuk listrik setelah uang mereka habis tidak dapat mereka
104

A. Bazar Harahap, dkk, Tanah Ulayat Dalam Sistem Pertanahan Nasional, CV.Yanis,
Jakarta, 2005, Hal.1.

Universitas Sumatera Utara

lakukan lagi. Setelah uang ganti rugi itu habis masyarakat mulai kebingungan untuk
memenuhi kebutuhan mereka, karena ladang, tanah dan hutan tempat mereka
memenuhi kebutuhan hidup telah beralih, sehingga pada akhirnya mereka malah
dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu pelepasan dan penyerahan tanah ulayat masyarakat adat
dengan pemberian ganti kerugian (recognitie) haruslah dapat disesuaikan kepada
kebutuhan dasar mereka sebagai masyarakat tradisional, yang masih belum terlalu
banyak tersentuh modernisasi.
Menurut ketentuan masyarakat hukum adat uang bukanlah suatu hal yang
diutamakan, ada benda-benda yang menurut mereka mempunyai kedudukan yang
lebih tinggi dan bermanfaat untuk mendukung kehidupan masyarakat adat, seperti
tanah yang menjadi tempat tinggal dan tempat mencari nafkah. Jika terjadi
penglepasan atas tanah ulayat milik masyarakat hukum adat, pemberian ganti rugi
berupa uang tidak banyak memberikan manfaat untuk kelangsungan hidup mereka.
Pemberian ganti rugi akan lebih bermanfaat bagi mereka seperti penggantian tanah
kembali yang dapat menunjang kelangsungan hidup mereka atau barang-barang yang
menjadi kebutuhan mereka sehari-hari.
Pakar Hukum Pertanahan dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada
(UGM) Maria Soemardjono mengatakan, perlindungan terhadap tanah ulayat bisa
dilakukan jika pemerintah kabupaten memiliki niat baik untuk melindungi

Universitas Sumatera Utara

masyarakat asli. Payung hukum untuk melindungi tanah ulayat itu sudah ada, yaitu
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5
Tahun 1999. Jika masyarakat Sakai sudah punya peta tanah ulayat mereka,
seharusnya sekarang tinggal dipetakan ulang. 105
Ketentuan pelepasan dan penyerahan tanah ulayat kepada pihak luar hukum
adat berdasarkan Pasal 4 ayat (2) Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5
Tahun 1999 tersebut sebenarnya tidak berarti bahwa tanah ulayat tersebut menjadi
hilang atau menjadi hak mutlak pihak lain, akan tetapi hanya penglepasan dan
penyerahan yang bersifat sementara. Oleh karena itu, pada masyarakat Suku Sakai
diperbolehkan adanya penglepasan tanah ulayat masyarakat hukum adat Sakai kepada
pihak luar, yang bukan bagian dari masyarakat Suku Sakai, akan tetapi selama
pelepasan dan penyerahan hak atas tanah ulayat tersebut sesuai dengan ketentuan adat
yang berlaku pada masyarakat Suku Sakai, yaitu berdasarkan izin dari Batin dan juga
Kepala Desa. Para pembeli umumnya langsung mendapatkan sertifikat tanah yang
diperoleh setelah bekerjasama dengan kepala desa atau lurah, serta camat. Sementara,
hutan ulayat yang digunakan warga Sakai tidak mempunyai surat tanah.

C. Solusi Dari Penyerahan Hak Ulayat Atas Tanah

105

Maria Soemardjono, Diabaikan, Hak Ulayat Sakai Payung Hukum Sebenarnya Ada,
Tergantung Niat Baik Pemda, Kompas 26- Maret-2007.

Universitas Sumatera Utara

Tanah adat (tanah ulayat) adalah tanah yang berada dalam penguasaan suatu
masyarakat hukum adat (MHA). UUPA dan PP 24/1997 tidak memerintahkan
pendaftaran hak Ulayat, juga tidak dimasukkan ke dalam golongan objek pendaftaran
tanah. Berbeda dengan prosedur mendapatkan tanah Hak Milik, Hak Guna Usaha dan
lain-lain, untuk mendapatkan tanah Ulayat, pihak tersebut mengadakan musyawarah
dahulu dengan wakil dari masyarakat hukum adat untuk mencapai kesepakatan
pelepasan hak. Jika tercapai kesepakatan, maka dibuatkan suatu akta/surat pelepasan
hak yang berisi:
1.pernyataan pelepasan hak;
2. pemberian ganti rugi.
Setelah pelepasan hak terjadi, maka status tanah adat tersebut berubah menjadi Tanah
Negara, maka pihak yang membutuhkan harus melakukan prosedur permohonan hak
terhadap tanah negara. 106
Pengambilalihan tanah-tanah rakyat yang kemudian diklaim sebagai tanah
negara memang menimbulkan dampak berganda yang berakhir dengan ketiadaan
pilihan bagi masyarakat untuk berontak. Pengaplingan lahan hutan menjadi konsesikonsesi pengusahaan bukan saja mempersempit ruang hidup masyarakat namun juga
memutus akses mereka terhadap sumber daya hutan. Ini hanya bisa terjadi disebuah
negara yang menempatkan pemerintah sebagai sebuah kekuatan yang memiliki

106

Wawancara dengan pihak BPN Kabupaten Bengkalis, tanggal 20 Agustus 2010.

Universitas Sumatera Utara

kekuasaan

yang

sangat

besar

terhadap

sumber

daya

publik.

Pemerintah memang mengakui keberadaan masyarakat beserta sistem


penguasaan lahannya. Semua diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Pokok-Pokok Agraria dan Undang-Undang Pokok Kehutanan Nomor 5
Tahun 1967 yang kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang Kehutanan No.41
Tahun 1999. Namun lagi, tegas pula dinyatakan bahwa meskipun ada pengakuan
namun kesempatan untuk menuntut hak pemanfaatan hasil hutan maupun hak ulayat
atas tanah tidak diperkenankan melebihi kepentingan nasional. Artinya lagi bila
negara telah memberikan hak kepada pengusaha kehutanan untuk mengambil manfaat
diatas hutan tersebut maka rakyat harus merelakan (mensubsidi) pengusaha tersebut.
Karena dalam anggapan pemerintah, keberadaan industri ditempat tersebut akan
memberikan tetesan keuntungan bagi masyarakat sekitar.
Pada masyarakat Suku Sakai di Desa Kesumbo Ampai saat ini, perusahaan
HTI yang beroperasi di wilayah tanah adat mereka, memberikan ganti rugi berupa
lahan perkebunan karet yang diberikan kepada masyarakat Suku Sakai sebagai ganti
dari hutan mereka yang dijadikan hutan tanaman industri. Hal ini jelas lebih
bermanfaat dari pada uang yang dahulu pernah diberikan sebagai bentuk ganti rugi,
yang lebih cepat habis karena masyarakat sendiri tidak dapat mengolah uang tersebut
dalam jangka waktu yang panjang. Adapun pemberian ganti rugi tersebut dilakukan
setelah mendapat izin dari kepala adat, yang telah terlebih dahulu melakukan

Universitas Sumatera Utara

musyawarah dengan seluruh anggota persekutuan tersebut, dalam hal ini masyarakat
Suku Sakai.
Menurut Kudin jika terjadi suatu permasalahan dalam penyelesaian sengketa
masalah penyerahan hak atas tanah mereka akan langsung menyerahkan pemecahan
masalah tersebut kepada Batin. 107 Jika Batin juga tidak dapat menyelesaikan
permasalahan tersebut maka pemerintah terlibat langsung dalam penyelesaian
masalah tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Kantor Badan Pertanahan
Kabupaten Bengkalis, apabila terjadinya persengketaan antara masyarakat Sakai
dengan pihak ketiga, jika tanah yang bersengketa tersebut tidak bersertifikat, maka
BPN hanya dapat memberikan mediasi dari kedua belah pihak. 108
Disilah tidak nampaknya ketegasan dari pemerintah untuk melindungi tanah
adat masyarakat. Walaupun hanya sebagai pihak mediasi tapi tetap saja pemerintah
lebih memegang kepada norma hukum yang berlaku, yaitu lebih berpihak kepada
pihak pembeli yang pada umumnya langsung mendapatkan sertifikat tanah yang
diperoleh setelah bekerjasama dengan kepala desa atau lurah, serta camat. Sedangkan
hutan ulayat yang digunakan warga Sakai tidak mempunyai surat tanah.

107

Wawancara Penulis dengan Kudin, Masyarakat Suku Sakai, Tanggal 25 Maret 2010.
Wawancara Penulis dengan Budi, Kepala Bagian Badan Pertanahan Kabupaten Bengkalis
di Bengkalis, Tanggal 20 Maret 2010.
108

Universitas Sumatera Utara

Pembangunan memang sangat memerlukan tanah sebagai sarana utamanya,


akan tetapi dipihak lain sebagian besar dari masyarakat juga memerlukan tanah
tersebut sebagai tempat pemukiman, terutama bagi masyarakat hukum adat, tanah
merupakan tempat hidup mereka sampai mati, selain tempat mereka tinggal, tempat
mereka mencari makan, sampai tempat mereka di makamkan. Oleh karena itu bila
tanah tersebut diambil begitu saja maka jelas mengorbankan hak azasi masyarakat,
khususnya masyarakat Suku Sakai, yang seharusnya tidak terjadi dalam Negara yang
menganut prinsip rule of law karena secara jelas dalam Pasal 6 ayat 1 dan 2
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia, telah ditegaskan
bahwa hak adat yang secara nyata masih berlaku dan dijunjung tinggi dalam
lingkungan masyarakat hukum adat harus dihormati dan dilindungi dalam rangka
perlindungan dan penegakan hak azasi manusia dalam masyarakat yang bersangkutan
dengan memperhatikan hukum dan Perundang-undangan, serta dalam rangka
penegakan hak azasi manusia tersebut, identitas budaya nasional masyarakat hukum
adat, hak-hak adat yang masih secara nyata dipegang teguh oleh masyarakat hukum
adat setempat tetap dihormati dan dilindungi sepanjang tidak bertentangan dengan
asas-asas hukum negara yang berintikan keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Perbedaan dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat ini harus diperhatikan dan
dilindungi oleh hukum, masyarakat dan pemerintah dalam rangka pembinaan dan
perkembangan hukum itu sendiri.

Universitas Sumatera Utara

Sehingga apa yang dikatakan oleh Mochtar Kusumaatmadja, bahwa


pembinaan bidang hukum harus mampu mengarahkan dan menampung kebutuhankebutuhan hukum sesuai dengan kesadaran hukum rakyat yang berkembang kearah
modernisasi menurut tingkat kemajuan pembangunan disegala bidang sehingga
tercapai ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan kearah
peningkatan pembinaan kesatuan bangsa, sekaligus berfungsi sebagai arena
penunjang perkembangan modernisasi dan perkembangan yang menyeluruh. 109
Penyelesaian masalah hak ulayat atas tanah oleh masyarakat Sakai dengan
pihak lain berdasarkan PMA/BPN Nomor 5 Tahun 1999 dapat ditempuh dengan dua
cara yaitu : melalui jalur pengadilan dan luar pengadilan, jika dilakukan melalui jalur
pengadilan biasanya pihak yang menang adalah pihak yang ekonominya kuat,
pengadilan biasanya tidak berpihak kepada masyarakat adat. Dalam penelitian yang
dilakukan pada masyarakat suku Sakai jika terdapat masalah atau sengketa terhadap
tanah ulayat dengan pihak lain biasanya dilakukan dengan cara luar pengadilan, yaitu
mediasi ataupun cara musyawarah antara kedua pihak yang bersengketa, biasanya
masyarakat sakai diberikan ganti rugi oleh pihak lain sehingga terselesaikannya
sengketa diantara kedua belah pihak tersebut.
Oleh karena itu sudah saatnya pemerintah memikirkan keberadaan nasib
masyarakat adat secara sungguh-sungguh. Bukan dimaksudkan untuk meninggikan
109

Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan, PT. Alumni,


Bandung, 2006, Hal. 112.

Universitas Sumatera Utara

kelompok masyarakat hukum adat ini dari masyarakat lainnya, akan tetapi karena
kekerabatan dalam masyarakat ini juga memiliki kearifan dalam menjaga lingkungan.
Penyeragaman pengelolaan sumber daya alam selama ini, baik di sektor
pertambangan, kehutanan maupun perkebunan, malah terbukti menghancurkan
sumber daya alam tersebut, yang pada akhirnya juga akan menghancurkan masa
depan generasi penerus bangsa ini, karena akan kehilangan sumber penghidupan,
sementara bencana karena kerusakan hutan akan terus terjadi.

Universitas Sumatera Utara

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Eksistensi hak ulayat atas tanah pada masyarakat Suku Sakai cenderung semakin
melemah dikarenakan pengaruh intern berupa bertambah menguatnya hak-hak
individual pada masyarakat, serta diperkuat lagi dengan adanya pengaruh ekstern,
terutama kebijakan dan pengaruh pihak penguasa. Akan tetapi dengan era
otonomi daerah saat ini pemerintah daerah telah memiliki peluang dan
mempunyai peran yang besar dalam penetapan keberadaan masyarakat hukum
adat serta tanah adat ulayatnya dan memberikan kesempatan kepada masyarakat
hukum adat untuk mempertahankan eksistensinya, dengan mewujudkannya
dalam sebuah Peraturan Daerah, yang dimulai dengan pembentukan Badan
Pemusyawaratan Desa sebagai tonggak awal untuk menampung dan menyalurkan
aspirasi masyarakat sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
Tentang Pemerintah Daerah.
2. Penyerahan hak ulayat atas tanah oleh masyarakat Suku Sakai kepada pihak lain
kaitannya dengan ketetapan dan Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5
Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat
Hukum Adat Pasal 4 ayat (1) huruf b, penyerahan tanah ulayat masyarakat

145
Universitas Sumatera Utara

hukum adat sesuai dengan ketentuan dan tata cara hukum adat yang berlaku, jika
terjadi sengketa mengenai tanah ulayat antara masyarakat suku Sakai dengan
pihak lain dapat ditempuh jalan mediasi ataupun musyawarah, agar tercipta
penyelesaian sengketa antara masyarakat suku Sakai dengan pihak lain tersebut.

B. Saran
1. Agar pemerintah daerah Kabupaten Bengkalis segera membuat Peraturan Daerah
bagi masyarakat hukum adat di daerahnya, sehingga masyarakat hukum adat
beserta hak ulayatnya benar-benar terlindungi dan tetap terpelihara eksistensinya,
karena memang sudah saatnya dan sudah sewajarnya bahkan sudah sangat
mendesak kehadiran sebuah Peraturan Daerah tentang pengakuan dan
perlindungan terhadap hak atas tanah ulayat, sebagai wujud pengakuan eksistensi
dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat hukum adat, yang sesuai dengan
konteks otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004,
yaitu terbentuknya Peraturan Daerah dalam Kabupaten/Kota, khususnya untuk
tanah ulayat masyarakat Suku Sakai di Kabupaten Bengkalis agar eksistensinya
tetap terjaga dan tidak hilang sejalan dengan perkembangan zaman dan
pembangunan.
2. Diharapkan dengan adanya Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 5
Tahun 1999, pemerintah dapat memberikan penjelasan yang lebih jelas lagi

Universitas Sumatera Utara

dalam menyelesaikan masalah penyerahan hak atas tanah ulayat masyarakat


hukum adat kepada pihak luar agar tidak ada pihak yang salah menafsirkan dalam
penyerahan tersebut yang dapat merugikan masyarakat. Dan juga dengan adanya
peraturan tersebut pemerintah diharapkan dapat menjadi penengah yang adil
dalam menyelesaikan masalah tanah adat tanpa memberatkan pihak yang lemah
tetapi melindungi kepentingan yang lemah yaitu masyarakat adat.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-buku
Abdurrahman,1084, Hukum Adat Menurut
Indonesia, Jakarta, Cendana Press.

Perundang-Undangan

Republik

Adi, Rianto., 2004, Metode Penelitian Sosial dan Hukum, Jakarta, Granit.
Akbar, M. Rizal dkk., 2005, Tanah Ulayat dan Keberadaan Masyarakat Hukum
Adat, Pekanbaru, LPNU Press.
Ashshofa, Burhan., 2003, Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Rineka Cipta, Cetakan
ke II.
Bakri, Muhammad., 2003, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara, Jakarta, Citra Media.
Dalimunthe, Chadidjah., 2008, Politik Hukum Agraria Nasional Terhadap Hak-hak
Atas Tanah, Medan, Yayasan Pencerahan Mandailing.
Freiman, M, Lawrance dalam Mulhadi., 2006, Relevansi Teori Sociological
Jurisprudence Dalam Upaya Pembaharuan Hukum Di Indonesia, Medan,
USU Responsitory
G, Kartasapoetra Dkk., 1985, Hukum Tanah Jaminan Undang-Undang Pokok
Agraria Bagi Keberhasilan Pemberdayagunaan Tanah, Jakarta, PT. Bina
Aksara.
Hadikusuma, Hilman., 2003, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Bandung,
Mandar Maju, Cetakan II.
Hamdy, UU., 1991, Masyarakat Terasing Daerah Riau Di Gerbang Abad XXI,
Pekanbaru, Zamrud.
Harahap, A. Bazar, dkk., Tanah Ulayat Dalam Sistem Pertanahan Nasional, Jakarta,
CV. Yanis.

ix
Universitas Sumatera Utara

Harsono, Boedi., 2005, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan UndangUndang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta, Djambatan.
Huijbers, Theo., 2001, Filsafat Hukum Dalam Lintas sejarah, Yogyakarta, Kanisuius.
Isjoni, 2005, Orang Sakai Dewasa Ini, Pekanbaru, UNRI Press.
Koetjaranigrat, 1977, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta, PT. Gramedia.
Koesnoe, Mohammad., 1994, Hak-Hak Persatuan Hukum Adat Dalam Sistem Hukum
Indonesia, Pekanbaru, UIR Press.
Lubis, M.Solly.,1994, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, Bandung, Mandar Maju,
Cetakan ke II.
Muhammad, Bushar., 2006, Pokok-Pokok Hukum Adat, Jakarta, Pradnya Paramita.
Mukti, Affan., 2006, Pokok-Pokok Bahasan Hukum Agraria, Medan, USU Press.
Ridwan, Fauzie., 1982, Hukum Tanah Adat Multi Disiplin Pemberdayaan Pancasila
Bagian Pertama, Jakarta, Dawarci Press.
Riyanto, Budi., 2006, Hukum Kehutanan Dan Sumber Daya Alam, Bogor, Lembaga
Pengkajian Hukum Kehutanan Dan Lingkungan.
Sabarno, Hari., 2007, Memandu Otonomi Daerah Menjaga Kesatuan Bangsa,
Jakarta, Sinar Grafika.
Said, M. Masud., 2008, Arah Baru Otonomi Daerah Di Indonesia, Malang, UMM
Press.
Sembiring, Rosdinar., 2008, Eksistensi Hak Ulayat Atas Tanah dalam Masyarakat
Adat Simalungun, Medan, Pustaka Bangsa Press.
Seragih, Djaren., 1996, Pengantar Hukum Adat Indonesia, Bandung, Tarsito.
Siregar, Tampil, Anshari., 2005, Mempertahankan Hak Atas Tanah, Medan, multi
Grafik Medan.

Universitas Sumatera Utara

Soemadiningrat, Otje, Salman., 2002, Rekonseptualisasi Hukum Adat Kontemporer,


Bandung, PT. Alumni.
Soekanto, Soerjono, Dan Mamuji, Sri., 2003, Penelitian Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, Jakarta, Edisi 1 Cetakan Ke 7, Raja Grafindo Persada.
------------------, 2003, Hukum Adat Indonesia, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.
Sudiyat, Imam., 2007, Hukum Adat Sketsa Asas, Yogyakarta, Liberty, Cetakan V.
Tamrin, Husni., 2003, SAKAI Kekuasaan, Pembangunan dan Marjinalisasi,
Pekanbaru, Gagasan Press.
Wignojodipuro, Soerjono., 1992, Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat, Jakarta,
CV. Haji Masagung.
Yamin, Muhammad, Lubis, Abdul Rahim., 2008, Hukum Pendaftaran Tanah,
Bandung Mandar Maju, Cetakan I.
Zein, Ramli, Dalam Tunas Effendi Dkk., 2005, Hutan Tanah Ulayat Dan
Permasalahanya, Pekanbaru, Lembaga Kerapatan Adat Melayu Kabupaten
Pelalawan.

B. Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Dasar 1945.
Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1999.
Undang-Undang Pemerintah Daerah Nomor 32 Tahun 2004.
Keppres Nomor 34 Tahun 2003 Tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan.

Universitas Sumatera Utara

C. Internet
http//ire-Pemberdayaan Masyarakat Adat
Pemberdayaan

Masyarakat

Suku

Sakai,

Artikel

didownload

dari

hhtp/www.katcanter.info/, diakses tanggal 2-Januari-2009

D. Jurnal
Arif Ahmad, Rita Agnes, Sayap Patah Para Sakai, Koran Kompas, 24 April 2007.
Bramantyo, Kurniawan Indra Nanang, Hukum Adat Dan Hak Asasi Manusia, Modul
Pemberdayaan Masyarakat Adat
Emrizal Pakis, Monografi Kabupaten Daerah Tingkat II Kabupaten Bengkalis Tahun
1996, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bekerjasama Dengan Kantor
Statistik Kabupaten Bengkalis.
Kumpulan Makalah Seminar Tanah Adat, Atma Jaya & B.P.N di Puncak, September,
1996
Badan Pertanahan Nasional Kanwil Propinsi Kalteng, Seminar Lngkah-Langkah
Administrasi Perlindungan Tanah Adat, Palangkaraya.
Majalah Teraju, Edisi XII, Desember 2008- Januari 2009.
Soemardjono Maria, Diabaikan, Hak Ulayat Sakai Payung Hukum Sebenarnya Ada,
Tergantung Niat Baik Pemda, Kompas 26- Maret-2007.

Universitas Sumatera Utara