Anda di halaman 1dari 15

REFLEKSI KASUS

Kepada Yth: dr. Suldiah Sp.A


Dibacakan: Senin 10 Februari 2014

DIABETES MELLITUS
TIPE 1
PADA ANAK

OLEH:
IRNA FISEBA
09 777 023

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
RSU ANUTAPURA PALU
2014

PENDAHULUAN
Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik kronik yang paling sering
ditemukan dengan karakteristik berupa peningkatan kadar glukosa darah karena
abnormalitas produksi insulin (DM tipe 1) atau abnormalitas kerja insulin (DM tipe 2)
yang berperan terhadap ganguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein. 1
Diabetes mellitus tipe I sering dikenal dengan nama Insulin-dependent diabetes
mellitus (IDDM) atau diabetes juvenile. DM Tipe 1 terjadi karena adanya proses
autoimmune yang menyebabkan terjadinya destruksi dari sel

pankreas. Baik

kerentanan genetik dan faktor lingkungan berkontribusi dalam patogenesisnya. 2


Onset terjadinya lebih banyak terjadi pada anak-anak sekitar umur 7 -15 tahun,
tapi sebenarnya dapat terkena pada semua umur.

Dilaporkan juga bahwa 50% dari

pasien dengan tipe baru-DM tipe 1 lebih tua dari 20 tahun.2


Data dari studi epidemiologi di seluruh dunia menunjukkan bahwa kejadian DM
tipe 1 telah meningkat sebesar 2% menjadi 5 % di seluruh dunia dan bahwa prevalensi
DM tipe 1 adalah sekitar 1 dari 300 di Amerika Serikat pada anak berumur kurang dari
18 tahun pada tahun 2010. 3.4
Prevalensi DM tipe 1 adalah tertinggi di Skandinavia (yaitu, sekitar 20% dari total
jumlah orang dengan DM) dan terendah di Asia seperti Cina dan Jepang dan indonesia
(yaitu, kurang dari 1% dari semua orang dengan diabetes). Hal ini mungkin berhubungan
dengan isu kurangnya kelengkapan pelaporan kasus.5

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: AS

Jenis kelamin

: Perempuan

Tgl.Lahir/Usia

: 26 September 2004 (9 tahun 4 bulan)

Alamat

: jl. Perjuangan raya, Petobo

B. ANAMNESIS
Keluhan utama

: lemas

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang dibawa oleh orangtuanya ke Rumah Sakit dengan keluhan lemas
seluruh tubuh (loyo). Disertai panas dan nyeri kepala, Tidak ada kejang, tidak ada mual
muntah. Ada keluhan nyeri menelan.
Selama empat bulan terakhir nafsu makan mengalami peningkatan. Dalam sehari
bisa sampai 4-5 kali makan. Namun berat badan tidak mengalami peningkatan. Tetapi
mengalami penurunan berat badan sekitar 4 kg selama empat bulan terakhir. Selain itu
penderita selalu merasa haus dalam empat bulan terakhir, sehingga pasien banyak
minum. selama sakit penderita sering merasa cepat lelah. Sering buang air kecil terutama
pada malam hari. BAB lancar. Pada bulan September 2014 pasien di diagnosis diabetes
dan mendapat terapi insulin, namun tidak teratur.

Riwayat penyakit sebelumnya


Tidak pernah mengalami sakit berat sebelumnya.
Riwayat penyakit dalam keluarga
Nenek dan kakek dari keluarga ibu pasien mengidap diabetes .
Riwayat sosial-ekonomi

Pekerjaan ayah sebagai pedagang dan ibu sebagai ibu rumah tangga.

Riwayat kehamilan dan persalinan :

G3P3A0, Ante Natal Care teratur, ibu tidak mengkomsumsi obat lain selain
vitamin. Tidak pernah sakit selama hamil

Lahir secara spontan di tolong oleh dokter, dengan berat badan lahir 2800 gram.

Anamnesis makanan terperinci

0-6 bulan ASI eksklusif

6-9 bulan: ASI + bubur SUN

>9 bulan: ASI + bubur yang sudah tidak disaring (ikan+bayam+kangkung)

1 tahun sampai sekarang

: nasi + lauk pauk

Riwayat imunisasi

BCG

1 kali

Polio

: 4 kali

DTP

: 3 kali

Campak

: 1 kali

Hepatitis B

: 3 kali

Riwayat tumbuh kembang anak

Pertama kali bisa duduk 8 bulan

Pertama kali bisa berdiri 10 bulan

Pertama kali bisa berjalan 14 bulan

Saat ini anak duduk di kelas 3 SD

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

: tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis

Status Gizi

: BB/TB : 80 % = status gizi kurang

Tanda vital
Denyut Nadi

: 136 kali/menit

Tekanan darah

: 90/60 mmHg

frekuensi. Napas

: 40 kali/menit

Suhu

:38,20c

Kulit

: warna sawo matang, efloresensi tidak ada, tidak ada sianosis dan
ikterus

Kepala
Deformitas

: tidak ada

Bentuk

: normocephal

Rambut

: warna hitam, tidak alopecia

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Telinga

: tidak ada sekret

Hidung

: tidak ada sekret

Mulut

: bibir tidak kering, lidah tidak kotor , T2 tidak hiperemis

Leher

:Tidak ada pembesaran Kelenjar Getah Bening, tidak ada


pembesaran kelenjar tiroid

Thorax
Inspeksi

:simetris kiri dan kanan

Palpasi

:tidak ada nyeri tekan, vocal fremitus sama kiri dan kanan

Perkusi

:sonor

Auskultasi

: bunyi pernafasan bronchovesikuler dan tidak ditemukan bunyi


tambahan

Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis teraba pada SIC V linea midclavicula

Perkusi

: pekak

Batas atas

:ICS II linea parasternal sisnistra

Batas kiri

:ICS V linea midclavicula sinistra

Batas kanan

:ICS V linea parasternalis dextra

Auskultasi

sinistra

: bunyi jantung 1dan II murni reguler

Abdomen
Inspeksi

: kesan datar

Auskultasi

: terdengar bunyi peristaltik kesan normal

Perkusi

:tympani

Palpasi

:tidak ada nyeri tekan, tidak ada hepatomegali dan splenomegali

Anggota gerak

: Akral hangat, tidak ada edema

D. LABORATORIUM
Tanggal 5 februari 2014
GDS

: 450 mg/dL

RBC

:4,78 x1012/L

MCV :87,5 fl
HCT

:41,8 %

PLT

:285 x109/l

WBC :11,5x109
HGB :13,7 g?dL

E. RESUME
Seorang anak perempuan berumur 9 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan
lemas. Selama empat bulan terakhir terjadi peningkatan nafsu makan,penurunan berat
badan, sering minum, sering kencing terutama malam hari. Pasien sementara terapi
insulin, namun tidak teratur. Nenek dan kakek mempunyai riwayat diabetes. Status gizi
pasien adalah gizi kurang dengan pemeriksaan GDS 450 mg/dL. Pemeriksaan fisik lain
dalam batas normal.

F. DIAGNOSIS KERJA

:Diabetes mellitus tipe 1

G. DIAGNOSIS BANDING

:Enuresis nokturnal

H. TERAPI

Actrapid 1x 8 Unit

PCT syrp 3x 1 cth

I. FOLLOW UP
Tanggal 6 februari 2014
S

: lemas seluruh tubuh (loyo), tidak panas, nyeri kepala, nyeri menelan, makan 3
kali perhari, sering minum, Sering kencing. Belum buang air besar.

: Nadi 102x/Menit, Pernapasan 24x/menit, Tekanan darah 90/60 mmHg,


Suhu 36,2 0C.

: Diabetes Mellitus tipe 1

: Ivfd RL 16 tpm
Actrapid 2x 8 unit

Tanggal 7 februari 2014


S

:lemas seluruh tubuh (loyo), makan 3 kali perhari, sering minum, Sering
kencing.,Belum buang air besar.

: Nadi 98 x/Menit, Pernapasan 24x/menit, Tekanan darah 90/60 mmHg,


Suhu 36,2 0C.

: Diabetes Mellitus tipe 1

: Ivfd RL
Actrapid 2x 8 unit
7

Tanggal 8 februari 2014


S

: Panas, lemas seluruh tubuh (loyo), makan 3 kali perhari, sering minum, Sering
kencing.,sudah buang air besar.

:Nadi 100xmenit, Pernapasan 24x/menit, Tekanan darah 90/60 mmHg,


Suhu 38 0C.

: Diabetes Mellitus tipe 1 + febris

: Ivfd RL
Actrapid 2x 8 unit

DISKUSI

Diabetes mellitus tipe 1 adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia
kronik akibat kerusakan sel pancreas sehingga terjadi defisiensi insulin secara absolute. 1

Gambar 1

Diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh adanya suatu proses autoimmune atau idiopatik
Dalam

keadaan infeksi virus dapat memicu terjadinya suatu proses autoimmune yang

menyebabkan terjadinya destruksi sel beta pancreas sehingga produksi insulin terhenti dan
terjadi defisiensi insulin absolute. Selain itu kerentanan genetic juga berperan dalam terjadinya
diabetes mellitus tipe 1 (gambar 1).
Pada kasus ini nenek dan kakek pasien menderita penyakit diabetes mellitus. Hal ini
sesuai dengan pernyataan

bahwa

faktor genetic dan lingkungan sangat berperan dalam

terjadinya DM tipe 1. Factor genetic dikaitkan dengan pola HLA tertentu yaitu MHC HLA kelas
II pada kromosom 6p21 misalnya HLA-DR3 dan HLA-DR4. Sistem HLA berperan sebagai
suatu factor kerentanan. Diperlukan suatu factor pemicu yang berasal dari lingkungan (infeksi
virus, toksin dll) untuk menimbulkan gejala klinis DM tipe 1 .3
9

Secara epidemiologi, diabetes mellitus tipe 1 terjadi pada anak usia dibawah dari 15
tahun dengan puncak insiden pada anak usia 5-6 tahun dan 11 tahun. Hal ini sesuai dengan umur
pasien dalam kasus ini yaitu 9 tahun 4 bulan. Secara global DM tipe 1 ditemukan pada 90 %
dari seluruh diabetes pada anak dan remaja.

Di Indonesia tercatat insidennya mengalami

peningkatan selama 5 tahun terakhir.


Pasien dalam kasus ini masuk dengan keluhan lemas disertai panas dan nyeri kepala
dan nyeri menelan. Selama empat bulan terakhir nafsu makan mengalami peningkatan dan
mengalami penurunan berat badan sekitar 4 kg selama empat bulan terakhir. Selain itu penderita
selalu merasa sering haus dalam empat bulan terakhir, sehingga pasien banyak minum. selama
sakit penderita sering merasa cepat lelah. Sering buang air kecil terutama pada malam hari.
Gejala ini sesuai dengan manifestasi klinik dari diabete mellitus tipe 1 yaitu

3P

(polydipsia, polyuria, polyphagia) dan disertai gejala lain berupa nocturia, fatigue, letargi,
penurunan berat badan dan penglihatan kabur.
Pada diabetes mellitus tipe 1 terjadi defisiensi insulin absolute yang diserta dengan
respon dari sel alfa pancreas berupa peningkatan hormone glucagon. Hal ini mengakibatkan
penurunan uptake glukosa di otot sehingga pasien akan selalu merasa lemas walaupun makan
banyak. Tubuh memerlukan glukosa untuk dijadikan sumber energi. Pada keadaan ini akan
terjadi pemecahan protein dan lipid dalam tubuh (Lipolysis) sehingga terjadi penurunan berat
badan, rasa lapar berlebihan dan polyphagia
Pemecahan protein menghasilkan produk akhir berupa asam amino, sedangkan produk
akhir pemecahan lipid adalah glycerol dan asam lemak. Produk-produk ini di gunakan dalam
proses glukoneogenesis di hepar untuk pembentukan glukosa. Pembentukan glukosa yang terlalu
banyak ini akan menyebabkan hiperglikemia.
Keadaan hiperglikemia akan menyebabkan suatu permasalahan yaitu diuresis osmotik.
Diuresis osmotic adalah suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan glukosa yang
menyebabkan terjadinya perpindahan glukosa ke ginjal sehingga terjadi glukosuria.

10

Gambar 2. Patofisiologi Diabetes Mellitus tipe 1


Dari pemeriksaan fisik didapatkan penurunan berat badan 4 kg (dari 20 kg menjadi 16
kg) selama

4 bulan terakhir disertai status gizi kurang. Pada pemeriksaan laboratorium

didapatkan bahwa glukosa darah sewaktu adalah 450 mg/dL,


Diagnostik diabetes mellitus berdasarkan konsensus

nasional pengelolaan diabetes

mellitus tipe 1 dapat ditegakkan apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:3
11

1. Ditemukannya gejala klinis poliuria, polidipsi, polifagia, berat badan yang


menurun, dan kadar glukosa darah sewaktu >200 mg/dL.
2. Pada penderita yang asimptomatis ditemukan kadar glukosa darah sewaktu>200
mg/dL atau kadar glukosa darah puasa lebih tinggi dari normal dengan tes
toleransi glukosa yang terganggu dari pada lebih dari satu kali pemeriksaan.
Pada anak biasanya pemeriksaan toleransi glukosa tidak perlu dilakukan,karena
gambaran klinis sudah ada. Berdasarkan kriteria tersebut, pasien ini didiagnosis pasti diabetes
mellitus tipe 1 karena memenuhi kriteria 1.
Diabetes mellitus tipe 1 memerlukan pengobatan seumur hidup. Kepatuhan dan
keteraturan pengobatan merupakan kunci keberhasilan pengobatannya. Adapun penatalaksanaan
dari diabetes mellitus terdiri dari pemberian insulin, pengaturan makan (diet), dan olahraga.
Tujun dari pengobatan adalah menstabilkan kadar glukosa darah dalam kisaran yang diharapkan
(70-120 mg/dL). Oleh karena itu, asupan makanan harus seimbang dengan insulin yang ersedia
dan kebutuhan metabolism tubuh.3,4,5
Pemberian insulin pada pasien diabetes mellitus harus diperhatikan jenis, dosis, kapan
pemberian, cara penyuntikan serta penyimpanan. Ada 4 jenis insulin yang diberikan pada pasien
diabetes mellitus tipe 1 yaitu inslin kerja cepat (rapid acting), insulin kerja pendek (short acting)
dan menengah (intermediate acting) serta insulin jangka panjang (long acting).3,4
Pada kasus ini jenis insulin yang di berikan adalah actrapid yaitu insulin kerja pendek.
Jenis ini digunakan pada pasien ini karena pasien mempunyai pola hidup dan pola makan yang
seringkali tidak teratur. Selain itu jenis ini menghindari terjadinya hipoglikemia. Adapun dosis
yang diberikan pada pasien ini adalah 0,5-1 Unit/Kg BB/hari. Berat badan

pasien 16 kg

sehingga dosis yang diberikan adalah 2 kali 8 unit/hari diberikan sebelum makan. Kebutuhan
insulin akan berubah tergantung dari beberapa hal seperti monitor gula darah, diet, olahraga
maupun usia puberitas (terkadang meningkat hingga 2 unit/kgBB/hari).
Penyesuaian dosis insulin bertujuan untuk mengontrol keadaan metabolic yang optimal,
tanpa meningkatkan resiko terjadinya hipoglikemia. Penyesuaian dosis biasanya dibutuhkan
pada honeymoon period, masa remaja, masa sakit dan sedang mengalami pembedahan.
Honeymoon period disebut juga fase remisi parsial atau sementara. Pada periode ini sisa12

sisasel beta pancreas akan bekerja optimal sehingga akan diproduksi insulin dari dalam tubuh
sendiri. Pada saat ini kebutuhan insulin dari luar tubuh akan berkurang hingga kurang dari 0,5
U/kgBB/hari. Terdapat beberapa tempat penyuntikan yang baik dalam hal absorpsinya yaitu
didaerah abdomen (paling baik absorpsinya),lengan atas,lateral paha. Daerah bkong tidak
dianjurkan Karena paling buruk absorpsinya.3
Tabel 1. Jenis insulin berdasarkan awitannya.

Adapun penyuntikan insulin memiliki efek samping.Hal ini diketahui karena pasien ini
tidak melakukan penyuntikan insulin secara teratur karena adanya efek samping nyeri di lokasi
penyuntikan.
Diet ada anak ini diberikan sebanyak 1800 kkal, dimana hal ini didapat dengan
perhitungan 1000 + (usia (tahun) x 100) kal/hari dengan komposisi yang dianjurkan adalah 60-65
% berasal dari karbohidrat, 25 % dari protein dan sumber energi dari lemak <30 %. Tidak ada
pengaturan makanan khusus pada anak, tetapi pemberian makanan yang mengandung banyak
serat seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan sereal akan membantu mecegah lonjakan kadar
glukosa.3,4

13

Pada penderita ini dianjurkan olahraga karena pada beberapa penelitian olahraga dapat
meningkatkan kapasitas kerja jantung dan mengurangi terjadinya komplikasi jangka panjang.
Olahraga juga membantu kerja metabolisme tubuh sehingga dapat mengurangi kebutuhan akan
insulin. Pada penderita ini belum ditemukan adanya komplikasi. Prognosis pada penderita DM
tergantung dari kontrol diabetik yang dapat mencegah terjadinya komplikasi.1.2.3.4,6
Pada pasien ini prognosisnya dubia et malam. Hal ini terjadi karena tidak adanya
kerjasama yang baik antara orang tua dan dokter. Sehingga tidak terkontrolnya kadar gula darah
oleh karena tidak pola makan yang tidak dibatasi dan ketidakpatuhan pmberian insulin. Pasien
ini beresiko mengalami komplikasi.
Komplikasi DM tipe 1 terdiri dari komplikasi akut dan komplikasi kronik komplikasi
akut bersifat reversible contohnya hipoglikemia dan ketoasidosis diabetikum. Mekanisme
terjadinya hipoglikemia berhubungan dengan honeymoon periode dan penyesuaian dosis insulin.
Perjalanan diabetes mellitus sehingga terjadinya ketoasidosis adalah karena proses lipolysis yang
berlebihan dan menghasilkan asam lemak yang akan menjadi keton menyebabkan terjadinya
hiperketonemia yang pada keadaan selanjutnya akan menyebabkan terjadinya asidosis metabolic
dan depresi CNS sehingga terjadi coma. Komplikasi kronik disebabkan kelainan mikrovascular
(retinopati, neuropati dan nefropati) dan makrovascular.1,2,6

14

DAFTAR PUSTAKA

1.

Dennis M, Styne J. Diabetes mellitus. Harrisons endocrinology (e-book). Lippincott


wiliam wilkins.2010;p218.

2.

Wahab AS dkk. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Volume I. Edisi 15. Jakarta; Penerbit
Buku Kedokteran EGC: 2000.

3.

UKK Endokrinologi Anak dan Remaja IDAI. Consensus nasional pengelolaan


diabetes mellitus tipe 1 di Indonesia. Jakarta; PP IDAI;2009

4.

Carrie A.B, Cindy M.A. diabetes mellitus type 1. Pathophysiology functional


alterations in human health,Lippincott Williams&wilkins. USA;2007 page

5.

Silbernagl S, lang F. diabetes mellitus tipe 1. Color atlas of pathofisiology.


Thieme;2000

15