Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah ..

1.3 Tujuan Penelitian..

1.4 Sumber Data ..

BAB II TINJAUAN TEORITIS dan PSAK

2.1 Pengertian Laba Per Saham .

2.2 Ruang Lingkup

2.3 Pengukuran .

2.4 Penyajian ..

12

2.5 Pengungkapan

12

2.6 Perbedaan PSAK 56 (2010) dengan PSAK 56 (1999).

13

BAB III CONTOH IMPLIKASI

14

3.1 Jumlah Rata-Rata Tertimbang Saham Biasa.

14

3.2 Obligasi Dapat Dikonversi

15

BAB IV SIMPULAN

16

BAB V STATEMENT OF AUTHORSHIP..

17

DAFTAR PUSTAKA.

18

1|PSAK 56

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Earning Per Share (EPS) atau laba per saham merupakan komponen penting
pertama yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan. Informasi EPS suatu
perusahaan menunjukan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan untuk
semua pemegang saham perusahaan. EPS merupakan rasio yang menunjukan
berapa besar keuntungan (return) yang diperoleh investor atau pemegang saham
per lembar saham.
Pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon
pemegang saham tertarik pada laba per saham, karena hal ini menggambarkan
jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa dan menggambarkan
prospek laba perusahaan di masa depan. Besarnya laba per saham suatu perusahaan
bisa diketahui dari informasi laporan keuangan perusahaan langsung atau dapat
dihitung berdasarkan laporan neraca dan laporan laba rugi perusahaan. Laba per
saham meruapakan suatu analisis yang penting dalam laporan keuangan
perusahaan, karena dapat memberi informasi kepada pihak internal dan external
atas seberaa jauh kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba untuk tiap
lembar yang beredar.
Dalam PSAK 56 yang berisi mengatur tentang Laba Per Saham dari mulai
tinjauan ruang lingkup, tujuan, pengukuran, pengungkapan. PSAK 56 juga
merupakan PSAK yang mengalami revisi, PSAK 56 (2010) merupakan revisi dari PSAK
56 (1999) dengan menambahkan secara rinci tentang Laba Per Saham

2|PSAK 56

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan paragraph diatas, maka rumusan masalah
pada makalah ini adalah:
1.2.1 Apa saja yang dapat dimasukan dalam penghitungan Laba Per Saham
1.2.2 Bagaimana cara menghitung Laba Per Saham yang sesuai dengan PSAK 56
1.2.3 Bagaimana penyajian dan pengungkapan Laba Per Saham sesuai PSAK 56

1.3

Tujuan Penelitian
1.3.1 Untuk mengetahui apa saja yang dimasukan dalam perhitungan Laba Per
Saham
1.3.2 Untuk mengetahui cara perhitungan Laba Per Saham sesuai dengan PSAK 56
1.3.3 Untuk mengetahui penyajian dan pengungkapan Laba Per Saham sesuai PSAK
56

1.4

Sumber Data
Sumber data yang diperoleh penulis berasal dari internet dan buku.

3|PSAK 56

BAB II
TINJAUAN TEORITIS & PSAK
2.1

Pengertian Laba Per Saham


Laba Per Saham (LPS) atau Earnings Per Share (EPS) merupakan alat analisis
tingkat profitibilitas perusahaan yang menggunakan konsep laba konvensional. EPS
adalah

salah

satu

dari

dua

alat

ukur

yang

sering

digunakan

untuk

mengevaluasi saham biasa disamping PER (Price Earning Ratio) dalam lingkaran
keuangan.
EPS atau laba per lembar saham adalah tingkat keuntungan bersih untuk tiap
lembar sahamnya yang mampu diraih perusahaan pada saat menjalankan
operasinya. Laba per lembar saham atau EPS di peroleh dari laba yang tersedia bagi
pemegang saham biasa dibagi dengan jumlah rata rata saham biasa yang beredar.
Dua variable penentu Laba Per Saham, yaitu:

2.2

Jumlah laba dalam satu periode

Jumlah saham biasa yang beredar selama periode bersangkutan

Ruang Lingkup
2.2.1 Laporan keuangan individu entitas yang:
(i)

memiliki saham biasa atau instrument berpotensi saham biasa yang


diperdagangkan di pasar public

(ii)

telah mengajukan penyataan pendaftaran, atau dalam proses


pengajuan pernyataan pendaftaran pada regulator pasar modal atau
regulator lainnya untuk tujuan penerbitan saham di pasar public.

2.2.2 Laporan keuangan konsolidasian suatu kelompok usaha dengan entitas induk
yang:
(i)

memiliki saham biasa atau instrument berpotensi saham biasa yang


diperdagangkan di pasar public

4|PSAK 56

(ii)

telah mengajukan penyataan pendaftaran, atau dalam proses


pengajuan pernyataan pendaftaran pada regulator pasar modal atau
regulator lainnya untuk tujuan penerbitan saham di pasar public.

2.3

Pengukuran
2.3.1 Laba Per Saham Dasar
Entitas menghitung jumlah laba per saham dasar atas laba rugi yang
dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas induk dan jika
disajikan, laba rugi dari operasi yang dilanjutkan yang dapat diatribusikan
kepada pemegang saham biasa tersebut.
Laba per saham dasar dihitung dengan membagi laba rugi yang dapat
diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas induk (pembilang) (laba
bersih residual) dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang
beredar (penyebut) dalam suatu periode.

Untuk perhitungan Laba bersih residual atau laba bersih yang dapat
diatribusikan kepada pemegang saham, laba bersih dikurang dengan jumlah
dividen preferen setelah pajak, selisih yang timbul dari penyelesaian saham
preferen, dan akibat lain yang serupa dari saham preferen yang
diklasifikasikan sebagai ekuitas.
Jumlah dividen saham preferen setelah pajak yang dikurangkan dari laba rugi
adalah:
(a) Jumlah dividen dari saham utama (bukan kumulatif) yang
diumumkan bagi periode bersangkutan.
(b) Jumlah dividen utama kumulatif yang terakumulasi bagi periode
yang bersangkutan, baik dividen tersebut sudah atau belum
diumumkan.

5|PSAK 56

(c) Jumlah dividen saham utama kumulatif untuk periode bersangkutan


tidak mencakup dividen saham utama kumulatif periode lalu meskipun
dividen tersebut diumumkan atau dibayar dalam periode kini
Untuk tujuan perhitungan laba per saham dasar, jumlah saham biasa adalah
jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar selama satu periode.
Penggunaan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar selama satu
periode mencerminkan kemungkinan bahwa jumlah modal pemegang saham
berubah selama satu periode akibat dari naik atau turunnya jumlah saham yang
beredar pada setiap waktu. Jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar
selama periode berjalan adalah jumlah saham biasa yang beredar pada awal
periode, disesuaikan dengan jumlah saham biasa yang dibeli kembali atau
diterbitkan selama periode tersebut, dikalikan dengan factor pembobot waktu.
Factor pembobot waktu adalah jumlah hari beredarnya sekelompok saham
dibandingkan jumlah hari dalam satu periode.

Saham biasa dianggap sebagai saham beredar ketika:


a)

Saham biasa yang diterbitkan melalui penjualan dengan kas


diperhitungkan saat kas sudah bisa diterima (when cash is receivable).

b)

Saham biasa yang diterbitkan atas reinvestasi sukarela dari


dividensaham biasa atau saham utama diperhitungkan sejak tanggal
pembayaran dividen.

c)

Saham biasa yang diterbitkan sebagai hasil dari konversi instrumen


utang (misalnya obligasi konversi) diperhitungkan sejak tanggal utang
tidak lagi berbunga (the date interest ceases accruing).

d)

Saham biasa yang diterbitkan sebagai pengganti bunga atau pokok


bagi instrumen keuangan lain diperhitungkan sejak tanggal utang
tidak lagi berbunga (the date interest ceases accruing).

e)

Saham biasa yang diterbikan dalam rangka penyelesaian utang


(settlement) perusahaan diperhitungkan sejak tanggal penyelsaian
tersebut.

6|PSAK 56

f)

Saham biasa yang diterbitkan sebagai pembayaran atas perolehan


aset bukan kas diperhitungkan sejak tanggal perolehan tersebut
diakui, dan

g)

Saham biasa yang diterbitkan sebagai pembayaran atas jasa kepada


perusahaan diperhitungkan sejak jasa yang bersangkutan diterima
perusahaan.
Jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar selama

periode tersebut dan untuk semua periode sajian disesuaikan untuk


peristiwa, selain konversi instrument berpotensi saham biasa, yang telah
mengubah jumlah saham biasa yang beredar tanpa disertai adanya
perubahan sumber daya.
Contoh saham biasa dapat diterbitkan, atau jumlah saham biasa yang
beredar dapat berkurang, tanpa disertai perubahan sumber daya:
(a) Kapitalisasi laba (dividen saham) dan kapitalisasi agio saham yang dikenal
sebagai penerbitan saham bonus
(b) Unsur bonus dalam penerbitan saham lainnya
(c) Pemecahan saham (stock split)
(d) Penggabungan saham (consolidation of stocks atau reverse of stock split)
2.3.2 Laba Per Saham Dilusian
Dilusi adalah penurunan laba persaham atau peningkatan rugi per
saham sebagai akibat dari adanya asumsi bahwa instrument dapat dikonversi
telah dikonversi, opsi atau waran telah dilaksanakan, atau saham biasa telah
diterbitkan berdasarkan pada pemenuhan ketentuan tertentu.
Entitas menghitung jumlah laba per saham dilusian untuk laba rugi
yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas induk dan,
jika disajikan, laba rugi dari operasi yang dilanjutkan yang dapat diatribusikan
kepada pemegang saham tersebut.

7|PSAK 56

Untuk perhitungan laba per saham dilusian, entitas menyesuaikan


laba rugi yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas
induk dan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar, atas dampak dari
semua instrument berpotensi saham biasa yang bersifat dilutif.
Penyesuaian atas efek
berpotensi saham
biasa yang dilutive

2.3.3 Laba
Untuk tujuan perhitungan laba per saham dilusian, entitas
menyesuaikan laba rugi yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham
biasa entitas induk, dihitung sesuai dengan ketentuan paragraph 13, setelah
dampak pajak dari:
(a) Dividen atau hal lain yang terkait dengan instrument berpotensi saham
biasa yang bersifat dilutive yang dikurangkan untuk menghasilkan laba
rugi yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas
induk.
(b) Bunga yang diakui dalam periode tersebut terkait dengan instrument
berpotensi saham biasa yang bersifat dilutive
(c) Setiap perubahan lain dalam mpenghasilan atau beban yang berasal dari
konversi instrument berpotensi saham biasa yang bersifat dilutive
Konversi instrument berpotensi saham biasa dapat menyebabkan
perubahan dalam penghasilan atau beban. Misalnya, pengurangan beban
bunga yang terkait dengan instrument berpotensi saham biasa dan
peningkatan laba atau penurunan rugi dapat menyebabkan kenaikan beban
yang berkaitan dengan program bagi laba non diskresi untuk karyawan.
2.3.4 Saham
Untuk perhitungan labar per saham dilusian, jumlah saham biasa
adalah jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang dihitung sesuai dengan
paragraph 20 dan paragraph 26, ditambah dengan jumlah rata-rata
8|PSAK 56

tertimbang saham yang akan diterbitkan pada saat pengkonversian semua


instrument berpotensi saham biasa yang bersifat dilutive menjadi saham
biasa, instrument berpotensi saham biasa yang bersifat dilutive dianggap
telah dikonversi menjadi saham biasa pada awal periode atau pada tanggal
penerbitan instrument berpotensi saham biasa tersebut, jika penerbitannya
lebih akhir.
2.3.5 Instrumen berpotensi saham biasa yang bersifat dilutive dan antidilutif
Instrumen berpotensi saham biasa diperlakukan dillutif jika, dan
hanya jika, konversinya menjadi saham biasa akan menurunkan laba per
saham atau meningkatkan rugi per saham dari operasional yang dilanjutkan.
Instrument berpotensi saham biasa diperlakukan antidillutif jika
konversinya menjadi saham biasa akan meningkatkan laba per saham atau
menurunkan rugi per saham dari operasi yang dilanjutkan.
Dalam menentukan apakah instrument berpotensi saham bersifat
antidilutif atau dilutive, setiap penerbitan atau serangkaian penerbitan
instrument berpotensi saham biasa dipertimbangkan secara terpisah, dan
bukan secara agregat. Urutan dalam memperhitungkan instrumen berpotensi
saham biasa dapat mempengaruhi apakah instrument tersebut bersifat
dilutive.
2.3.6 Opsi, Waran dan Equivalennya
Untuk

tujuan

perhitungan

laba

per

saha

dilusian,

entitas

mengasumsikan pelaksanaan opsi dan waran yang bersifat dilutive.


Penerimaan yang diasumsikan dari instrument tersebut dianggap telah
diterima dari penerbitan saham biasa pada harga pasar rata-rata saham biasa
selama periode tersebut. Perbedaan antara jumlah saham biasa yang
diterbitkan dan jumlah saham biasa yang akan diterbitkan pada harga pasar
rata-rata saham biasa selama periode tersebut dianggap sebagai penerbitan
saham biasa tanpa imbalan.

9|PSAK 56

Opsi dan waran bersifat dilutive jika instrument tersebut berakibat


pada diterbitkannya saham biasa pada tingkat harga yang lebih rendah
daripada harga pasar rata-rata saham biasa selama periode. Dalam
menghitung laba per saham dilusian, instrument berpotensi saham biasa
diperlakukan sesuai dengan kedua ketentuan dibawah ini:
(a) Kontrak penerbitan untuk sejumlah saham biasa pada harga pasar rataratanya selama periode tersebut.
(b) Kontrak penerbitan untuk sisa saham biasa tanpa imbalan, saham
tersebut tidak memiliki hasil dan tidak memiliki dampak terhadap laba
atau rugi yang dapat diatribusikan kepada saham yang beredar.
2.3.7 Saham yang diterbitkan secara kontinjen
Sesuai dengan perhitungan laba per saham dasar, saham biasa yang
dapat diterbitkan secara kontinjen diperlakukan sebagai saham yang beredar
dan diperhitungkan dalam perhitungan laba per saham dilusian jika
ketentuannya terpenuhi. Saham yang dapat diterbitkan secara kontinjen
diperhitungkan sejak awal periode. Jika ketentuan tidak dipenuhi, maka
jumlah saham biasa yang dapat diterbitkan secara kontinjen masuk dalam
perhitungan laba per saham dilusian yang didasarkan pada jumlah saham
yang seolah-olah akan diterbitkan jika saat akhir periode merupakan akhir
peroide kontinjensi.

Jumlah saham biasa yang dapat diterbitkan secara kontinjen dapat


bergantung pada harga pasar saham biasa masa depan. Jika dampaknya
bersifat dilutive, perhitungan laba per saham dilusian didasarkan pada
jumlah saham biasa yang akan diterbitkan jika harga pasar pada akhir
periode pelaporan merupakan harga pasar pada akhir periode
kontinjensi. Jika ketentuan tersebut didasarkan pada harga pasar ratarata selama suatu periode waktu yang melampaui akhir periode
pelaporan, maka digunakan harga pasar rata-rata periode waktu yang
telah berlalu tersebut.

10 | P S A K 5 6

Jumlah saham biasa yang dapat diterbitkan secara kontinjen dapat


bergantung pada laba masa depan dan harga saham masa depan. Jumlah
saham biasa yang masuk dalam perhitungan laba per saham dilusian
didasarkan pada kedua ketentuan tersebut (yaitu laba sampai tanggal
pelaporan dan harga pasar kini pada akhir periode pelaporan).

Jumlah saham biasa yang dapat diterbitkan secara kontinjen dapat


bergantung pada sesuatu ketentuan selain laba atau harga pasar
(misalnya, pembukaan toko pengecer pada jumlah tertentu. Diasumsikan
bahwa ketentuan saat ini tetap tidak berubah sampai akhir periode
kontinjensi.

2.3.8 Opsi Jual Yang Diterbitkan


Kontrak yang mensyaratkan entitas untuk membeli kembali sahamnya
sendiri, seperti opsi jual yang diterbitkan, tercermin dalam perhitungan laba
per saham dilusian jika berdampak positif. Dampak dilutive potensial
terhadap laba per saham dihitung sebagai berikut:

Diasumsikan semua opsi yang dilutif dan efek berpotensi saham biasa
lainnya yang dilutif dilaksanakan
Penerimaan dana dari penerbitan tersebut dianggap sebagai penerimaan
dari penerbitan sejumlah saham dengan nilai wajar
Selisih antara:
a)

Jumlah saham yang diterbitkan berdasarkan opsi atau efek


berpotensi saham biasa lainnya, dan

b)

Jumlah saham yang diasumsikan diterbitkan menurut nilai


wajarnya.

Diperlakukan sebagai penerbitan saham biasa tanpa penerimaan


sumber daya.

11 | P S A K 5 6

2.4

Penyajian
Entitas menyajikan dalam laporan laba rugi komprehensif, laba per saham
dasar dan dilusan untuk laba atau rugi dari operasi yang dilanjutkan yang dapat
diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas induk dan untuk laba atau rugi
yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas induk selama
periode tersebut untuk setiap kelas saham biasa yang mempunya hak berebeda
dalam pembagian laba pada periode tersebut.
Entitas yang melaporkan operasi yang dihentikan mengungkapkan laba per
saham dasar dan dilusan untuk operasi yang dihentikan tersebut dalam laporan laba
rugi komprehensif atau catatan atas laporan keuangan.

2.5

Pengungkapan
Entitas-entitas mengungkapkan hal-hal berikut:
(a) Jumlah yang digunakan sebagai pembilang dalam perhitungan laba per saham
dasar dan dilusan, dan rekonsiliasi jumlah tersebut terhadap laba atau rugi yang
dapat diatribusikan kepada entitas induk untuk periode tersebut.
(b) Jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang digunakan sebagai penyebut
dalam perhitungan laba per saham dasar dan dilusan, dan rekonsiliasi penyebut
tersebut.
(c) Instrument yang berpotensi mendilusikan laba per saham dasar di masa depan,
namun tidak dimasukan dalam perhitungan laba per saham dilusan Karena
instrument tersebut bersifat antidilutif untuk periode sajian.
(d) Penjelasan transaksi saham biasa atau transaksi instrument berpotensi saham
biasa, selain yang dihitung sesuai dengan paragraph 65, yang terjadi setelah
periode pelaporan dan akan secara signifikan mengubah jumlah saham biasa
atau instrument berpotensi saham biasa yang beredar pada akhir periode
tersebut seandainya transaksi dimaksud terjadi sebelum akhir periode pelaporan.

12 | P S A K 5 6

2.6

Perbedaan PSAK 56 (2010) dengan PSAK 56 (1999)

Ruang lingkup

LPS dasar dan


Dilusian

Kontrak yang Dapat


diselesaikan dengan
saham biasa atau
kas

Opsi jual
yangDiterbitkan
(written put option)

PSAK 56 (2010)

PSAK 56 (1999)

Penyajian laba per saham


hanya boleh disajikan pada
laporan labarugi tersendiri,
jika
entitas
menyajikan
komponen laba rugi pada
laporan laba rugi tersendiri.

Tidak Diatur

LPS dasar dan dilusian


dihitung berdasarkan:
Laba atau rugi yang
dapat diatribusikan
Jika disajikan, laba
atau rugi operasi
normal berkelanjutan
yang
dapat
diatribusikan
ke
pemegang
saham
biasa entitas induk
Mengatur kontrak yang
dapat diselesaikan dengan
saham biasa atau kas pilihan
entitas (at the entitys
option)
dan
pilihan
pemegang kontrak (at the
holders option).
Mengatur perlakuan kontrak
yangmewajibkan
entitas
membeli kembali sahamnya
(misalnya written put option,
forward purchase contract)

Laba per saham dasar dan


dilusian dihitung atas laba
atau rugi yang dapat
diatribusikan.

Tidak diatur

Tidak diatur

13 | P S A K 5 6

BAB III
CONTOH IMPLIKASI

3.1

Jumlah rata-rata tertimbang saham biasa

1/1/20X1

Saldo awal tahun

Saham
diterbitkan
4.000

Saham
treasury
600

Saham
beredar
3.400

1.600

5.000

500

4.500

5.600

1.100

4.500

31/05/20X1 Penerbitan saham dengan


perolehan kas
1/12/20X1 Pembelian saham treasury
dengan kas
31/12/20X1 Saldo akhir tahun

Perhitungan rata-rata tertimbang:


(3.400x5/12) + (5.000x6/12) + (4500x1/12) =

4292 lembar saham

14 | P S A K 5 6

3.2

Obligasi dapat dikonversi

Laba yang dapat diatribusikan pada pemegang saham biasa entitas


induk
Saham biasa yang beredar
Laba Per Saham dasar
Obligasi yang dapat dikonversi
Setiap 10 obligasi dikonversi menjadi 2 saham biasa
Beban bunga untuk tahun berjalan terkait dengan komponen liabilitas
dari obligasi dapat dikonversi
Pajak kini dan tangguhan yang terkait dengan beban bunga

Laba disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham


biasa entitas induk

Rp. 2.008.000
2.000
Rp. 1.004
200
Rp. 20.000
Rp. 8.000
Rp.2.008.000+
Rp.20.000Rp.8.000
=Rp.2.020.000

Jumlah saham biasa hasil konversi obligasi


Jumlah saham biasa yang digunakan untuk menghitung laba per saham
dilusian

40
2000+40
= 2040

Laba per saham dilusian


= Rp. 990

15 | P S A K 5 6

BAB IV
SIMPULAN
Laba Per Saham (LPS) atau Earnings Per Share (EPS) merupakan alat analisis tingkat
profitibilitas perusahaan yang menggunakan konsep laba konvensional. EPS adalah salah
satu dari dua alat ukur yang sering digunakan untuk mengevaluasi saham biasa disamping
PER (Price Earning Ratio) dalam lingkaran keuangan.
Menghitung Laba Per Saham dasar:

Dilusi adalah penurunan laba persaham atau peningkatan rugi per saham sebagai
akibat dari adanya asumsi bahwa instrument dapat dikonversi telah dikonversi, opsi atau
waran telah dilaksanakan, atau saham biasa telah diterbitkan berdasarkan pada pemenuhan
ketentuan tertentu.
Menghitung Laba Per Saham dilusian:
Penyesuaian atas efek
berpotensi saham biasa
yang dilutive

Instrument berpotensi saham biasa diperlakukan antidillutif jika konversinya menjadi


saham biasa akan meningkatkan laba per saham atau menurunkan rugi per saham dari
operasi yang dilanjutkan.
Sesuai dengan perhitungan laba per saham dasar, saham biasa yang dapat
diterbitkan secara kontinjen diperlakukan sebagai saham yang beredar dan diperhitungkan
dalam perhitungan laba per saham dilusian

16 | P S A K 5 6

BAB V
STATEMENT OF AUTHORSHIP

Kami yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir
adalah murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami
gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak pernah digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran
lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menggunakannya.
Kami memahami bahwa makalah/tugas yang dikumpulkan ini dapat diperbanyak atau
dikomunikasikan untuk tujuan adana plagiarism.

Mata Kuliah

Standar Akuntansi Keuangan Indonesia

Judul Makalah

PSAK 56 LABA PER SAHAM

Tanggal

15 November 2014

Dosen

Rina Hartanti , SE,MM.

Okta Dwilangga A

Dwiky Syarief

Qadar Ranggala

023121151

023121147

023121217

17 | P S A K 5 6

DAFTAR PUSTAKA

Uli, Rosita dkk. 2012. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Grah Akuntan

Pengertian Laba Per Saham. [online]Mei 2011. [dikutip 14 November 2014]. Diunduh dari:
http://wahyunatalia.blogspot.com/2011_05_01_archive.html

Earnings Per Share (EPS) : Difinisi dan Faktor Penyebab Kenaikan dan Penurunan Laba Per
Saham. [online]Januari 2010. [dikutip 14 November 2014]. Diunduh dari:
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/earnings-per-share-eps-definisi-dan.html

18 | P S A K 5 6