Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN STROKE NON HAEMORAGIK ( SNH )
A. KAJIAN TEORI
1. Teori Kasus
a. Pengertian
Stroke Non Haemoragik ( SNH ) merupakan gangguan sirkulasi cerebri yang dapat
timbul sekunder dari proses patologis pada pembuluh misalnya : trombus, embolus atau
penyakit vaskuler dasar seperti artero sklerosis dan arteritis yang mengganggu aliran
darah cerebral sehingga suplai nutrisi dan O2 ke otak menurun yang menyebabkan
terjadinya infark ( Price, 1995 ).
Stroke Non Haemoragik ( SNH ) juga didefinisikan sebagai defisit neurologis fokal
yang mempunyai awitan mendadak dan berlangsung 24 jam dimana diakibatkan oleh
gangguan pendarahan di otak ( Hudak & Gallo, 1997 ).
Stroke Non Haemoragik ( SNH ) adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi
aliran darah otak terjadi akibat pembentukan trombus di arteri cerebrum atau embolis
yang mengalir ke otak dan tempat lain di tubuh ( Corwin, 1997 ).
Berdasarkan 3 ( tiga ) pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan Stroke Non
Haemoragik ( SNH ) adalah gangguan pembuluh darah otak yang disebabkan oleh proses
patologis pada pembuluh darah otak misalnya trombus atau embolus dimana berlangsung
24 jam atau lebih dimana berakibat terjadinya infark serebrum.
b. Klasifikasi Utama Stroke
Menurut Sylvia A. Price & L.M. Wilson, 2002 membagi stroke menjadi 2 bagian yaitu :
1. Iskemia Infark Serebrum dibagi menjadi 2 kategori besar yaitu :
a. Oklusi Trombotik
b. Oklusi Embolik
2. Perdarahan intrakranium dapat terjadi di :
a. Intraserebrum ( parenkim )
b. Sub araknoid ( PSA )
c. Ruang Subdural ( biasanya traumatik )
d. Epidural ( traumatik )

3. WOC Stoke
Kolesterol tinggi
Merokok

Diabetes
Hipertensi

Obesitas
Usia tua

Peny. Kardio Vaskuler


Hiperlipidemi

Trombus

Embolus
Oklusi

Sumbatan aliran darah otak ( > 24 jam )

Insufisiensi darah ke otak

Hipoksia jaringan otak

Ischemik lobus otak

Kerusakan neuron

Lobus frontal

Ggn. Fungsi
motorik
disorientasi
keterbatasan
rentang gerak

Kerusakan
mobilitas
fisik

Lobus parietal

Ggn.
Pengendalian
spingter kemih

Penurunan saraf
kandung kemih

BAK tidak
terkontrol
ADL dibantu
Lemah

Syndrome
defisit
perawatan diri

Perubahan
Eleminasi
urine

Kerusakan saraf
sensorik

Ggn. Pengaturan
motorik atas

Sulit menelan
disfagia

Lobus
okapitalis

Ggn. Fungsi
visual

Penglihatan kabur,
disorientasi waktu &
tempat

Perubahan
persepsi
sensorik

Kerusakan
menelan

Gelisah, banyak
bertanya, kurang
informasi

Lobus
temporal

Ggn.
Pendengaran
Ggn. bicara

Suara pelo,
lemah, tdk
terdengar

Kerusakan
komunikasi
verbal

Kerusakan fungsi
sensorik,
penglihatan

Resiko cedera
Kurang
pengetahuan

2. Teori Asuhan Keperawatan


Asuhan keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang berdasarkan
pada ilmu dan kiat keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan dimana didalamnya
menyangkut 5 ( lima ) tahap proses yang diuraikan sebagai berikut :
A. Pengkajian
Pengkajian data yang disimpulkan akan bergantung pada letak, keparahan & durasi
patologis menurut Doenger ( 1799 ) adalah :
1. Aktivitas / istirahat
Gejala

merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan,


kehilangan sensasi atau paralisis ( hemiplegi ), merasa mudah lelah,
susah untuk istirahat ( nyeri / kejang otot )

Tanda

gangguan tonus otot, paralitik ( hemiplegi ), gangguan penglihatan,


gangguan tingkat kesadaran

2. Sirkulasi
Gejala

adanya penyakit jantung ( MI, penyakit jantung vaskuler ), riwayat


hipotensi postural

Tanda

hipertensi arterial sehubungan dengan adanya embolisme / malformasi


vaskuler, nadi, frekwensi bervariasi, disritmia perubahan ERG

3. Integritas ego
Gejala

perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa

Tanda

emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih, dan gembira

4. Eleminasi
Gejala

perubahan pola berkemih seperti inkontinensia urine, anuria, distensi,


abdomen ( distensi kandung kemih berlebihan), bising usus (-) ( fleus
paralitik )

5. Makanan dan cairan


Gejala

nafsu makan yang hilang, mual, muntah selama fase akut ( peningkatan
TIK ) kehilangan sensasi ( rasa kecap ) pada lidah, pipi, dan
tenggorokan, distagia

Tanda

kesulitan menelan ( gangguan pada reflekpalatum dan faringeal

6. Neurosensorik
Gejala

siakope / pusing ( sebelum serangan CSU / selama TIA ), sakit kepala


semakin

berat

dengan

adanya

perdarahan

intraserebral

atau

subaraldinoid
kelemahan / kesemutan ( selama serangan TIA ), sisi yang terkena
terlihat seperti mati / lumpuh sentuhan, hilangnya rangsangan sensorik
kontralateral ( pada sisi tubuh yang berlawanan ) pada exstremitas

Tanda

satus mental / tingkat kesadaran : biasanya terjadi koma pada tahap awal
haemoragik
pada wajah terjadi paralisis
afaksia / reseptif
gangguan motorik
kejang

7. Nyeri / kenyamanan
Gejala

sakit kepala dengan intensitas yang berbeda

Tanda

tingkah laku yang tidak stabil, gelisah

8. Pernafasan
Gejala

merokok

Tanda

ketidakmampuan menelan / batuk, sulit bernafas, ronchi

9. Interaksi sosial
Tanda

ketidakmampuan berkomunikasi

10. Keamanan
Tanda

motorik / sensorik gangguan penglihatan, hilangnya kewaspadaan, sulit


menelan, tidak mampu mengenali objek, terganggu dalam memutuskan

11. Penyuluhan
Gejala

adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sedang muncul pada pasien dengan Stroke Non
Haemoragik ( SNH ) menurut Doenges (1999 ) dan Carpenito ( 2001 ) adalah :
1. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan paralisis parsial atau total akibat
stroke.
2. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan iskemia dari lobus temporal
sekunder akibat stroke.
3. Kerusakan menelan berhubungan dengan paralisis otot atau paresis sekunder akibat
kerusakan neuron motor atas.
4. Sindrome defisit perawatan diri berhubungan dengan hambatan mobilitas fisik atau
konfusi.
5. Resiko cedera berhubungan dengan defisit lapang pandang, motorik atau persepsi.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit
kondisi kesehatan dan pengobatannya.
7. Perubahan persepsi sensorik berhubungan dengan kesalahan interprestasi sekunder
akibat stroke

C. Perencanaan
Menurut Doenges ( 1999 ) dan Carpenito ( 2001 ) rencana keperawatan yang dapat
diberikan pada pasien SNH adalah.
1.

Kerusakan Mobilitas Fisik


Intervensi
a. Kaji

derajat

Rasional

kemampuan

pasien a. Untuk

secara fungsional

mengetahui

tingkat

kemampuan pasien

b. Ubah porsi pasien sesering mungkin b. Untuk mobilisasi dini dan mencegah
minimal tiap 2 jam
c. Latih

rentang

atropi otot

gerak

pasif

pada c. Untuk mencegah kekakuan otot

anggota gerak yang sakit


d. Lakukan

masage

pada

bagian d. Untuk meningkatkan sirkulasi darah

exstremitas yang sakit


e. Berikan porsi yang nyaman saat e. Memberikan perasaan yang nyaman
istirahat

terhadap pasien

f. Kolaborasi dengan fisioterapi secara f. Program yang keluar dikembangkan


aktif

agar

rentang

gerak

secara

aktif

terlaksana
2.

Kerusakan Komunikasi Verbal


Intervensi
a. Bicara

secara

terang

Rasional
dan

jelas a. Bicara yang jelas dapat meningkatkan

menghadap ke pasien

pendengaran dan pengertian pasien

b. Kurangi kebisingan lingkungan

b. Lingkungan yang tenang membuat


pasien lebih bisa berekspresi

c. Mintalah pasien untuk mengikuti c. Melakukan penilaian terhadap adanya


perintah sederhana, seperti : buka

kerusakan sensorik

mata, ulangi dengan kata / kalimat


sederhana
d. Berikan metode metode komunikasi d. Dengan komunikasi elternatif maka
alternatif ( dengan isyarat tangan,

komunikasi akan tetap terjaga dan

kedipan

terjalin

mata,

anggukan

kepala,

isyarat dan lain lain )


e. Anjurkan pasien untuk menunjuk bila e. Agar
membutuhan suatu objek

3.

kebutuhan

pasien

tetap

terpenuhi

Kerusakan Menelan

Intervensi
a. Tinjau

ulang

Rasional

kemampuan

pasien a. Untuk

dalam menelan

mengetahui

tingkat

kerusakannya

b. Pertahankan posisi fowler saat makan

b. Posisi yang benar dapat memberikan


rasa nyaman

c. Berikan makanan cair / lunak dalam c. Makanan


porsi kecil tapi sering

cair

lunak

akan

mempermudah proses menelan

d. Berikan makanan dengan lambat, d. Untuk mencegah makanan terkumpul


pastikan gigitan sebelumnya sudah

di mulut

ditelan
4.

Sindrome Defisit Perawatan Diri


Intervensi
a. Kaji

kemampuan

Rasional

pasien

dalam a. Membantu

melakukan kebutuhan sehari hari

pemenuhan

dalam

merencanakan

kebutuhan

secara

individu
b. Berikan bantuan pemenuhan bantuan b. Aktivitas sehari hari adalah fungsi
sehari hari, ijinkan pasien merawat

orang normal melakukannya setiap

diri sendiri sesuai kamampuan

hari

untuk

memenuhi

kebutuhan

dasar
c. Evaluasi kemampuan pasien untuk c. Untuk

5.

mengetahui

kemampuan

berpartisifasi dalam setiap aktivitas

pasien dalam memenuhi kebutuhan

perawatan

dasar

Resiko Cedera
Intervensi

Rasional

a. Pertahankan tempat tidur pasien pada a. Untuk mengurangi resiko cedera


posisi

rendah

dan

terpasang

pengaman
b. Orientasikan pasien pada lingkungan b. Agar pasien mengetahui keadaan
sekitar

lingkungan sekitarnya

c. Anjurkan individu untuk meminta c. Mengurangi resiko cedera


bantuan

apabila

tidak

dapat

melakukan sesuatu
d. Motivasi keluarga untuk melakukan d. Untuk mengurangi resiko cedera
pengawasan pada pasien

6.

Kurang Pengetahuan
Intervensi

Rasional

a. Jelaskan tujuan tindakan dan prosedur a. Menurunkan rasa cemas dan takut
yang akan dilakukan

pasien terhadap penyakitnya

b. Berikan keterangan tentang proses b. Untuk mencegah resiko kekambuhan


penyakit etiologi dan perawatan diri
7.

Perubahan Persepsi Sensorik


Intervensi
a. Evaluasi

adanya

Rasional
gangguan a. Untuk

penglihatan
b. Ciptakan lingkungan yang sederhana

mengetahui

tingkat

perubahannya
b. Untuk mengurangi resiko cedera

D. Inflementasi
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik, jadi
implementasi dilakukan sesuai intervensi.
E. Evaluasi
Kriteria evaluasi pada pasien SNH adalah
1. Kerusakan mobilitas fisik
Kriteria evaluasi :
-

mempertahankan posisi optimal dan fungsi yang dibuktikan oleh tidak adanya
kontraktur

memperlihatkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas

mendemontrasikan teknik / prilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas

2. Kerusakan komunikasi verbal


Kriteria evaluasi :
-

memperlihatkan kemampuan yang meningkat untuk mengekspresikan diri

mengungkapkan penurunan frustasi dengan komunikasi

3. Kerusakan menelan
Kriteria evaluasi :
-

melaporkan adanya peningkatan kemampuan menelan

mempertahankan berat badan yang diinginkan

4. Sindrome defisit perawatan diri


Kriteria evaluasi :
-

mendemontrasikan kebersihan optimal setelah bantuan dalam perawatan yang


diberikan ( perubahan gaya hidup )

melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kemampuan

5. Resiko cedera
Kriteria evaluasi :

mengidentifikasikan faktor faktor yang meningkatkan kemampuan terhadap


cedera

melakukan tindakan tindakan pengamanan sehingga mencegah cedera

6. Kurang pengetahuan
Kriteria evaluasi :
-

pasien mengerti tentang proses penyakit, etiologi penyakit, dan perawatan diri

7. Perubahan persepsi sensorik


Kriteria evaluasi
-

mempertahankan tingkat kesadaran dan fungsi persektual

mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residual

mampu mengenal makna terhadap suatu objek

Daftar Pustaka
Prince ( 1995 ), Penanganan Stroke Non Haemoragik
Hudak, Gallo ( 1997 ), Stroke
Corwin ( 1997 ), Tata Laksana Penyakit Stroke
Carpenito L. J ( 2001 ), Buku Saku Diagnosa Perawatan
Doengoes M. ( 1999 ), Rencana Keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN : S.A


DENGAN STROKE NON HAEMMORAGIK ( SNH )

DI RUANG MAWAR

RSUD KAB. KARANGASEM

PADA TANGGAL 21 23 APRIL 2009


I. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan pada tanggal 21 April 2009
Pukul 11.00 Wita di Ruang Mawar RSUD Kabupaten Karangasem
Dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan catatan medik pasien
a. Identitas

Pasien

Penanggung

Nama

SA

KA

Umur

60 Tahun

35 Tahun

Jenis kelamin

Perempuan

Laki laki

Satus perkawinan

Kawin

Kawin

Pekerjaan

IRT

Wiraswasta

Suku/Bangsa

Bali/Indonesia

Bali/Indonesia

Agama

Hindu

Hindu

Pendidikan

SMP

SMA

Alamat

Dsn. Abang, Kec. Abang

Dsn. Abang, Kec. Abang

Hubungan dg pasien:

Anak

b. Alasan dirawat
1. Keluhan utama
Lemas pada kaki dan tangan kanan
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh lemas pada kaki dan tangan kanan, lidah kaku, dan suara pelo, sejak
bangun tidur ( tanggal 19 April 2009 ), dan oleh keluarga, pasien diantar ke IRD
RSUD Kab. Karangasem jam 10.00 Wita, setelah dilakukan pemeriksaan pasien
disarankan rawat inap dengan DX medis : Stroke Non Haemoragik
Terapi di IRD :
-

IVFD RL 20 tts/mt

Neorobiun inj. 3 x 3 gr ( IV )

Captopil 1,25 mg 2x1 tab

Setelah dilakukan perawatan tindakan di IRD ( pemasangan infus, dower cateter ),


pasien dipindahkan ke Ruang Mawar RSUD Kab. Karangasem jam 12.30 Wita.

3. Riwayat Penyakit terdahulu

Pasien mengatakan pernah opname di RSUD Kab. Karangasem 1 Tahun yang lalu
dengan penyakit Hipertensi. Riwayat alergi terhadap obat obatan dan makanan
tidak ada. Pasien rutin kontrol berobat ke Puskesmas Abang I tiap bulan.
4. Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengatakan anggota keluarga yang lain tidak mempunyai riwayat penyakit
kronis seperti DM, Jantung, Hipertensi dan lain sebagainya.
c

Data Bio, Psiko, Sosial, Spiritual


1) Bernafas
Pasien mengatakan tidak mengalami masalah dalam menarik maupun mengeluarkan
nafas baik di rumah maupun saat pengkajian.
2) Makan dan minum :
Di rumah pasien mengatakan makan 3 kali sehari dengan menu nasi, lauk pauk, dan
sayur dengan porsi habis 1 piring, pasien biasa minum 10 gelas/hari. Saat
pengkajian pasien makan dengan diet BBRG, porsi makan yang disediakan hanya
habis porsi, pasien mengeluh sukar menelan dan lama mengunyah makanan. Saat
pengkajian pasien minum 9 gelas/hari.
3) Eleminasi
BAB
Di rumah pasien biasa bab 1 kali/sehari dengan konsistensi lembek, warna kuning,
saat pengkajian pasien mengatakan belum bab dari kemarin ( 19 Januari 2009 ).
BAK
Di rumah pasien biasa bak 4 5 kali / sehari, dengan volume 100 150 cc tiap
bak, kesulitan bak tidak ada. Saat pengkajian pasien terpasang dower kateter dengan
volume 100cc
4) Gerak dan Aktivitas
Kemampuan untuk ADL
Di rumah pasien mengatakan mampu melakukan aktivitas makan, minum, mandi
berpakaian, dan menggosok gigi sendiri, saat pengkajian pasien merasa lemas pada
tangan dan kaki kanan sehingga pasien tidak dapat memasukkan makanan ke mulut,
tidak dapat membasuh tubuh, tidak mampu memakai dan melepaskan pakaian
sendiri.

Kemampuan untuk mobilisasi

10

Di rumah pasien mampu melakukan mobilisasi duduk, berjalan sendiri, saat


pengkajian pasien hanya mampu mobilisasi ke kiri saja, tidak leluasa untuk bergerak.
5) Istirahat Tidur
Di rumah pasien biasa tidur dari jam 21.00 05.00 Wita, tidur cukup nyaman dan
jarang terganggu. Saat ini pasien mengatakan tidur cukup nyaman dan jarang
terganggu, pasien tidur dari jam 22.00 05.00 Wita, pasien tidak biasa tidur siang.
6) Pengaturan suhu tubuh
Pasien mengatakan suhu tubuhnya tidak mengalami perubahan.
7) Kebersihan diri
Di rumah pasien mengatakan biasa mandi 2 kali/sehari pagi dan sore hari,
menggosok gigi 2 kali/sehari sehabis mandi, mencuci rambut 1 2 kali/seminggu.
Saat pengkajian pasien mengatakan mandi hanya di lap di tempat tidur di bantu oleh
petugas atau keluarga. Pasien mengganti pakaian dan gosok gigi juga dibantu petugas
atau keluarga.
8) Rasa Nyaman
Pasien mengatakan cukup nyaman dengan kondisi ruangan, hanya merasa capek
tidur terus di tempat tidur
9) Rasa Aman
Aman fisik
Pasien mengatakan cukup aman karena selalu ada keluarga yang mendampingi
Aman psikis
Pasien merasa kawatir dan cemas terhadap penyakitnya, ekspresi wajah tampak sedih
10) Komunikasi / sosialisasi
Pasien mengatakan hubungan pasien dengan keluarga yang lain serta masyarakat
sekitar baik. Saat pengkajian pasien mampu bicara namun kurang jelas tetapi
keluarga mengatakan hari ini pasien berkomunikasi jauh lebih baik dibandingkan
saat pertama masuk rumah sakit, pasien mengerti setiap perintah yang diberikan
11) Pengetahuan / belajar
Pasien mengatakan belum mengerti tentang penyakitnya, penyebab, perawatan, serta
cara pencegahan agar tidak terulang

12) Rekreasi

11

Di rumah pasien biasa mengasuh cucu, selama dirawat pasien biasa menghabiskan
waktunya ngobrol dengan keluarga dan istirahat
13) Prestasi
Pasien mengatakan tidak mempunyai prestasi yang patut dibanggakan
14) Ibadah / spiritual
Pasien percaya penyakitnya karena masalah medis dan yakin Tuhan akan membantu
mempercepat kesembuhan
d. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
-

KU

lemah

Kesadaran

Compos mentis

Bangun tubuh

sedang

Berat badan

68 kg ( BB sebelum sakit 70 kg )

Tinggi Badan

158 cm

Kulit

sawo matang, sianosis (-), turgor kulit elastis

b. Gejala Kardinal
Suhu

36,5 C

Nadi

96x/mnt

Respirasi

20x/mnt

Tekanan darah :

150/90 mmHg

c. Keadaan fisik
Kepala

bentuk kepala simetris, nyeri tekan (-), benjolan (-), kulit


kepala agak kotor, ketombe (+)

Mata

kelopak mata simetris, gerakan bola mata normal,


konjungtiva merah muda, sklera putih, pupil isokor 2/2,
reflek cahaya +/+, fungsi penglihatan baik, kelainan otot
mata tidak ada.

Telinga

bentuk simetris, kebersihan baik, serumen (-), pendengaran


baik

Hidung

bentuk simetris, skret tidak ada, mukosa hidung lembab,


pernafasan cuping hidung (-), nyeri tekan (-), benjolan (-)

Muka

bentuk simetris, kelainan (-), nyeri tekan (-)

Mulut dan gigi

kebersihan mulut baik, sariawan (-), caries tidak ada,


bentuk mulut tidak simetris, bibir moncong ke kiri

Leher

bentuk

simetris,

pembesaran

kelenjar

thyroid

(-),

pembesaran limfe (-)

12

Thorak

bentuk simetris, gerakan dada teraktur, pernafasan normal,


suara vesikuler, whesing dan ronchi (-)

Abdomen

bentuk simetris, bising usus normal, hatus (+), distensi


abdomen (-)

Exstremitas

1. Atas

bentuk simetris, pergerakan tangan kiri normal, tangan


kanan lemah, oedema (-), tonus otot tangan kiri normal,
tangan kanan menurun, kekuatan otot 555 222

2. Bawah

bentuk simetris, pergerakan kaki kiri normal, kaki kanan


lemah, oedema (-), tonus otot kaki kiri normal, kaki kanan
menurun, kekuatan 555 222

e. Pemeriksaan penunjang
Darah Lengkap :
WBL
RBL
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
PLT

:
:
:
:
:
:
:
:

103/ul
106/ul
Gr/dl
%
H
Pg
g/dl
103/ul

5,5
4,72
13,9
38,8
82,2
29,4
35,8
250

Kimia Klinik

II.

BUN

22 mg/dl

Creatinin

1,2 mg/dl

Glukosa sewaktu

169 mg/dl

DIAGNOSA KEPERAWATAN
A.

NO

Analisa data

DATA

STANDAR NORMAL

MASALAH
KEPERAWATAN

13

1.

Data Subyektif:
-

Pasien

mengatakan

sukar -

Pasien tidak sukar menelan

Porsi makan habis - 1

Kerusakan menelan

menelan makanan
Data Obyektif :
-

Porsi makanan piring

piring
-

2.

Pasien terlihat lama mengunyah

Pasien cepat mengunyah

makanan

dan menelan makanan

Pasien tampak meringis saat -

Pasien tidak meringis saat

menelan

menelan

Minum 1800 cc

Minum 2000 2500 cc

Data Subyektif:
-

Pasien mengatakan tangan dan

kaki kanan lemas


-

Tangan dan kaki kanan Kerusakan mobilitas


tidak lemas

Pasien mengatakan tidak leluasa

fisik

Pasien leluasa bergerak

Mampu mobilisasi ke arah

bergerak
Data Obyektif :
-

Pasien hanya mampu mobilisasi


ke arah kiri

kanan dan kiri

Kaki dan tangan kanan terlihat

berat saat digerakkan ( kaku )

leluasa dalam bergerak

Tonus otot

Tonus otot

Kekuatan otot

Kekuatan otot

555 222

555 555

555 222

555 555

NO
3.

Kaki dan tangan kanan

DATA

DATA NORMAL

MASALAH

Data Subyektif:
-

Pasien

merasa

lemas

saat

beraktivitas
-

Pasien

tidak

mampu

Pasien tidak merasa lemas

Sindome

saat beraktivitas

perawatan diri

Pasien

defisit

mampu

14

memasukkan makanan ke mulut

memasukkan makanan ke
mulut

Pasien mengatakan tidak dapat

membasuh tubuh
-

tubuh sendiri

Pasien mengatakan tidak mampu


memakai

dan

Pasien dapat membasuh

melepaskan

Pasien mampu memakai


dan melepaskan pakaian

pakaian sendiri

sendiri

Data Obyektif :
-

Keperluan ADL pasien tampak

ADL tidak dibantu

dan

Rambut bersih

Pasien mengatakan lidah kaku

Lidah tidak kaku dan suara

Kerusakan

tidak pelo

komunikasi verbal

dibantu keluarga dan petugas


-

Rambut

tampak

kotor

berketombe

4.

Data Subyektif:
-

dan suara pelo


Data Obyektif :
-

5.

Suara tidak jelas terdengar

Suara terdengar jelas

Pasien mengerti tentang Kurangnya

Data Subyektif:
-

Pasien

mengatakan

tidak

mengerti tentang penyakitnya,

penyakitnya,

penyebab,

perawatan,

perawatan,

dan

pencegahannya

penyebab, pengetahuan
dan

pencegahannya

Data Obyektif :
-

Pasien

tampak

cemas

bertanya - tanya

B.

dan

Pasien tidak cemas dan


tidak bertanya tanya lagi

Analisa Masalah
1. Problem

Kerusakan menelan

Etiologi

Penurunan sensasi sekunder akibat kerusakan emister


otak kanan dan kiri

Symtom

Pasien mengatakan sukar menelan makanan, porsi makan


piring, pasien terlihat lama mengunyah makanan,

15

pasien tampak meringis saat menelan, minum 1800 cc /


sehari
Proses terjadinya

Penurunan sensasi sekunder akibat kerusakan emister


otak kanan dan kiri menyebabkan kerusakan sel somato
sensorik

yang

mengakibatkan

stinuim

sensorik

( termasuk rasa kecap menurun sehingga pasien tidak


mempunyai usaha untuk menelan ).
Akibat bila tidak ditanggulangi :
Akan terjadi resiko perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

2. Problem

Kerusakan mobilitas fisik

Etiologi

Penurunan kekuatan dan ketahanan sekunder akibat


stroke

Symtom

Pasien mengatakan tangan dan kaki kanan lemas, tidak


mampu begerak leluasa, pasien hanya mampu mobilisasi
ke kiri, kaki dan tangan kanan merasa berat saat
digerakkan, tonus otot

Proses terjadinya

kekuatan otot

555 222

555 222

Penurunan kekuatan dan ketahanan sekunder akibat


stroke

menyebabkan

menurunnya

respon

motorik

sehingga pasien merasa lemas pada exstremitas yang


akan mengakibatkan pasien tidak mampu melakukan
mobilisasi
Akibat bila tidak ditanggulangi :
Akan terjadi kontraktur otot dan tulang

3. Problem

Sindrome defisit perawatan diri

Etiologi

Paralisis parsial akibat stroke

Symtom

Pasien merasa lemas saat beraktivitas, pasien tidak


mampu memasukkan makanan ke mulut, tidak dapat
membasuh tubuh, tidak mampu memakai dan melepas

16

pakaian sendiri, keperluan ADL pasien tampak dibantu


keluarga dan petugas, rambut tampak kotor dan
berketombe
Proses terjadinya

Kerusakan pada lobus frontalis menyebabkan gangguan


fungsi motorik keterbatasan rentang gerak sehingga
pasien merasa lemas pada exstrimitas sehingga pasien
tidak mampu melakukan ADL sendiri

Akibat bila tidak ditanggulangi :


Akan terjadi gangguan konsep diri
4. Problem

Kerusakan komunikasi verbal

Etiologi

Kerusakan fungsi motorik otot bicara.

Symtom

Pasien mengatakan lidah kaku dan suara pelo, suara


jelas terdengar

Proses terjadinya

Kerusakan fungsi motorik otot bicara menyebabkan


pasien akan kehilangan kemampuan untuk memantau
ucapan yang dikeluarkan dan tidak menyadari bahwa
komunikasi yang diucapkan tidak nyata.

Akibat bila tidak ditanggulangi :


Akan terjadi kerusakan komunikasi
5. Problem

Kurangnya pengetahuan

Etiologi

Kurang informasi tentang penyakitnya

Symtom

Pasien mengatakan tidak mengerti akan penyakitnya,


penyebab,

perawatan,

dan

pencegahannya,

pasien

tampak cemas dan bertanya - tanya


Proses terjadinya

Kurangnya informasi tentang penyakitnya menyebabkan


pasien bertanya tanya tentang kesehatannya

Akibat bila tidak ditanggulangi :


Akan mengakibatkan anxietas

C.

Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan menelan berhubungan dengan penurunan sensasi sekunder akibat
kerusakan hemister otak kanan dan kiri ditandai dengan pasien mengatakan sukar
menelan makanan, porsi makan piring, pasien terlihat lama mengunyah makanan,
pasien tampak meringis saat menelan, minum 1800cc / sehari.

17

2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan sekunder


akibat stroke ditandai dengan pasien mengatakan tangan dan kaki lemas, tidak
mampu bergerak leluasa, pasien hanya mampu mobilisasi ke kiri, kaki dan tangan
kanan terlihat berat saat digerakkan,

tonus otot

kekuatan otot

555 222

555 222

3. Sindrome defisit perawatan diri berhubungan dengan paralysis parsial akibat stroke
ditandai dengan pasien merasa lemas saat beraktivitas, tidak mampu memasukkan
makanan ke mulut, tidak dapat membasuh tubuh, tidak mampu memakai dan
melepas pakaian sendiri, keperluan ADL pasien tampak dibantu keluarga dan
petugas, rambut tampak kotor, dan berketombe.
4. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik otot
bicara ditandai dengan pasien mengatakan lidah kaku dan suara pelo, suara tidak
jelas didengar.
5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakitnya ditandai dengan pasien mengatakan tidak mengerti akan penyakitnya,
penyebabnya, perawatan, dan pencegahannya, pasien tampak cemas dan bertanya
tanya.
III.

PERENCANAAN
A.

Prioritas Diagnosa Keperawatan


1. Kerusakan menelan berhubungan dengan penurunan sensasi sekunder akibat
kerusakan hemister otak kanan dan kiri ditandai dengan pasien mengatakan sukar
menelan makanan, porsi makan piring, pasien terlihat lama mengunyah makanan,
pasien tampak meringis saat menelan, minum 1800cc / sehari.
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan sekunder
akibat stroke ditandai dengan pasien mengatakan tangan dan kaki lemas, tidak
mampu bergerak leluasa, pasien hanya mampu mobilisasi ke kiri, kaki dan tangan
kanan terlihat berat saat digerakkan,

tonus otot

kekuatan otot

555 222

555 222

3. Sindrome defisit perawatan diri berhubungan dengan paralysis parsial akibat stroke
ditandai dengan pasien merasa lemas saat beraktivitas, tidak mampu memasukkan
makanan ke mulut, tidak dapat membasuh tubuh, tidak mampu memakai dan
melepas pakaian sendiri, keperluan ADL pasien tampak dibantu keluarga dan
petugas, rambut tampak kotor, dan berketombe.

18

4. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik otot


bicara ditandai dengan pasien mengatakan lidah kaku dan suara pelo, suara tidak
jelas didengar.
5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakitnya ditandai dengan pasien mengatakan tidak mengerti akan penyakitnya,
penyebabnya, perawatan, dan pencegahannya, pasien tampak cemas dan bertanya
tanya.

B.

Rencana Keperawatan
Rencana Keperawatan Pasien SA
Dengan Penyakit Stroke Non Haemoragik ( SNH )

19

Di Ruang Mawar RSUD Kab. Karangasem Tanggal 18 20 Januari 2009


N

Hari/Tgl

Diagnosa

o
1

/Jam
2

Keperawatan
3

Minggu

Kerusakan menelan Setelah

18-01-09

berhubungan

Askep

dengan

Pk. 13.00

dengan penurunan selama 2 x 24

es batu

sensasi

Tujuan/Outcome

Intervensi

Resional

di

berikan

sekunder jamdiharapkan

akibat

kerusakan kerusakan

hemister
kanan

tidak

kiri terjadi

dengan

ditandai :

out come :

- pasien

- pasien

sukar

tidak

sukar

- pasien

makanan

menelan
- Memenuhi
kebutuhan nutrisi

bubur saring, bubur


nasi
proses

makan dan menelan


secara bertahap

- Anjurkan

pasien - Melatih

menelan

untuk menggunakan

menggerakkan

makanan

lidah

bulus makanan

- porsi makan - porsi makan


piring

- Berikan

pada posterior mulut

mengatakan

makanan

menghisap

sensasi

- Tempatkan makanan - Melatih

mengatakan
menelan

menelan - Melatih

secara bertahap cair,

otak menelan
dan

- Latih

dalam

mendorong makanan

- 1 piring
terlihat - pasien

cepat

lama mengunyah

mengunyah

makanan

makanan

dan

menelan
makanan
- pasien

tampak - pasien

meringis

saat

menelan

tidak

meringis

saat

menelan

- minum

- minum 2000

1800cc/sehari.

2500 cc /
sehari.

Hari/Tgl

Diagnosa

o
1

/Jam
2

Keperawatan
3

Minggu

Kerusakan

18-01-09

mobilitas

Pk. 13.00

berhubungan

Tujuan/Outcome

Intervensi

Resional

Setelah diberikan
fisik tindakan
keperawatan

- Latih rentang gerak - Mencegah


pasif pada anggota

kontraktur& atropi

gerak yang lemah

otot

20

dengan
dan

kekuatan selama 2 x 24

dan gerak aktif pada

ketahanan jam di harapkan

anggota gerak sehat

sekunder

akibat kerusakan

stroke ditandai:

- Ubah posisi pasien - Mencegah

mobilitas

fisik

tidak

- Tinggikan

berhubungan
-

tangan

dan

membantu

kaki

tangan dan kaki

pasien

lemas

lemas

exstremitas

pasien leluasa

untuk

bergerak

exstremitas

mengatakan
tidak

tidak

leluasa

aliran vena
pasien - Dapat

mengatakan

- pasien

kanan

- Anjurkan
untuk

decubitus

tangan - Meningkatkan

dan kepala

dengan out come:


- pasien

paling lama 2 jam

pergerakan
latihan

dan
dengan
sehat

menyokong
yang

lemah

merespon

dengan

baik

daerah yang lemah


tidak
dan

terganggu
memerlukan

dorongan

serta

latihan aktif untuk


bersatu kembali

bergerak
- pasien

hanya

mampu

pasien mampu
mobilisasi ke

mobilisasi

ke

arah kanan &

kiri

kiri

- kaki dan tangan kanan

kaki

dan

terlihat

tangan kanan

saat

pasien leluasa

berat
digerakkan,

dalam
bergerak,

Tonus otot
N

Tonus otot

Kekuatan otot
555

222

Kekuatan otot

555

222

555

222

555

222

Hari/Tgl

Diagnosa

o
1

/Jam
2

Keperawatan
3

Minggu

Sindrome

18-01-09

perawatan

Pk. 13.00

berhubungan

24

dengan paralysis

diharapkan

Tujuan/Outcome

Intervensi

Resional

defisit Setelah

diberi

diri Askep selama 2 x


jam

- Kaji

kemampuan - Untuk

pasien

dalam

melakukan

mengetahui

tingkat
ketergantungan

kebutuhan sehari

21

parsial
stroke

akibat pasien

mampu

ditandai melakukan

dengan :

hari
- Berikan

perawatan

diri

dengan out come:


- pasien merasa - pasien
lemas

saat

lemas

beraktivitas
- pasien

tidak
saat

mampu

memasukkan

memasukkan

makanan
ke

dalam

kebutuhan sehari

kebutuhan sehari

hari

hari

memenuhi

dorongan - Memberikan

pada pasien untuk

tidak - pasien mampu

pasien

pemenuhan

- Berikan

beraktivitas

makanan

bantuan - Membantu

rasa

percaya diri pasien

berpartisifasi dalam
setiap aktivitas

ke

mulut

mulut
- pasien

- pasien

dapat

mengatakan

membasuh

tidak

tubuh

mampu

basuh tubuh
- pasien

- pasien mampu

mengatakan

memakai dan

tidak

melepas

mampu

memakai

dan

pakaian

melepas

sendiri

pakaian sendiri
- keperluan ADL - ADL
pasien tampak

tidak

dibantu

dibantu
keluarga

dan

petugas
- rambut tampak - rambut bersih
kotor,

dan

berketombe.

Hari/Tgl

Diagnosa

o
1

/Jam
2

Keperawatan
3

Minggu

Kerusakan

Setelah diberikan

18-01-09

komunikasi

tindakan

tenang

Pk. 13.00

verbal

perawatan selama

dengan

berhubungan

mengarah ke depan

Tujuan/Outcome

Intervensi

Resional

24

dengan kerusakan diharapkan

- Bicara

jam
-

dengan - Agar pasien mudah


dan

anjurkan

jelas

mengerti

posisi
untuk - Memperkeras

22

fungsi

motorik kerusakan

otot

bicara komunikasi

ditandai dengan:

kalimat yang akan

sebelum bicara

diucapkan

verbal

pasien

- Anjurkan

tidak

terjadi

seperti

dengan outcome :
- pasien

menarik nafas dalam

latihan - Melatih otot bicara


meniup

lilin/bersiul

- pasien

mengatakan

mengatakan

lidah kaku dan

lidah

suara pelo

kaku dan suara

tidak

tidak pelo
-

suara

tidak -

jelas didengar
5

suara
terdengar jelas

Minggu

Kurangnya

Setelah diberikan

- Jelaskan

tujuan - Menurunkan

18-01-09

pengetahuan

Askep 2 x 24 jam

tindakan yang akan

cemas

Pk. 13.00

berhubungan

diharapkan

dilakukan

diagnosa

dengan kurangnya

pasien

mengerti

informasi tentang tentang

dan

program
- Berikan KIE tentang - Agar

pasien

penyakitnya

proses penyakit, cara

melakukan

ditandai dengan:

dengan out come:

pengobatan,

dan

perawatan

perawatan

diri

rumah

pasien -

pasien

takut
dan

penyakitnya
-

rasa

mengatakan

mengatakan

setelah pulang dari

tidak mengerti

tidak mengerti

rumah sakit

akan

akan

penyakitnya,

penyakitnya,

keluarga

penyebabnya,

penyebabnya,

meningkatkan

perawatan, dan

perawatan, dan

dukungan

pencegahannya

pencegahan

pasien

diri

- Berikan KIE kepada - Meyakinkan


untuk

mau
di

pasien

untuk lebih optimis


pada kesembuhan

kepada

nya
- pasien tampak - pasien tampak
cemas

dan

bertanya
tanya.

cemas

dan

bertanya

tanya.

IV. PELAKSANAAN / IMPLEMENTASI


Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pasien SA
Dengan Penyakit Stroke Non Haemoragik ( SNH )
Di Ruang Mawar RSUD Kab. Karangasem Tanggal 18 20 Januari 2009
N

Hari/Tgl

/Jam

No DK

IMPLEMENTASI

EVALUASI FORM

PARAF

Kep
3

23

Minggu

III

- Mengobservasi kemampuan

18-01-09

pasien

dalam

melakukan

Pk. 15.00

kebutuhan sehari hari

- Pasien

tidak

mampu

melakukan
kebutuhan

sendiri
makan

dan

mandi
II

- Melatih

pasien

menggerakkan

untuk - Pasien kooperatif dan mau

kaki

dan

melakukannya

tangan ( feksi, extensi )


Pk. 16.00

III

- Membantu memandikan dan - Pasien tampak bersih dan


memakaikan pakaian pasien

III

- Mengubah posisi pasien dan - Pasien


meninggikan

tangan

dan

kepala
Pk. 17.00

rapi
mau

mengubah

posisi serta meninggikan


posisi tangan dan kepala

- Membantu

memberikan - Pasien mau makan dengan

makan bubur dengan posisi

porsi piring habis pelan

fowler dengan menempatkan

makanan

menelan (+)

pada

bagian

pelan,

akitan

saat

posterior mulut
Pk. 17.15

- Menganjurkan pasien untuk - Pasien


menggunakan

lida

dalam

mau

menuruti

anjuran

mendorong makanan
Pk. 17.30

- Memberi obat capropil 12,5 - Obat sudah masuk , reaksi


mg x 1 tab

Pk. 18.00

alergi (-)

- Memberikan

KIE

kepada - Pasien

kooperatif

dan

pasien tentang

mengerti penjelasan yang

Proses penyakit

diberikan

Etiologi penyakit

Prosedur tindakan

Penanganan / perawatan
penyakit

Pk. 19.00

IV

Usaha pencegahan

- Mengajak

pasien

ngobrol

tentang

keluarga

posisi

- Pasien

tampak

antosias

menceritakan keluarganya

mengarah ke pasien
Pk. 19.30

IV

- Menganjurkan pasien untuk

- Pasien

mau

menuruti

anjuran

24

menarik

nafas

dalam

sebelum bicara
Pk. 20.00

IV

- Pasien
- Menganjurkan pasien latihan

mau

menuruti

anjuran

seperti meniup lilin atau


bersiul
Pk. 22.00

- Obat masuk, reaksi alergi


- Memberi injeksi neurobion 3

(-)

gr/IV
Pk. 24.00

- Pasien tampak istirahat


- Mengecek istirahat pasien

Senin
19-01-09

III

Pk. 06.00

- Pasien tampak bersih dan


- Membantu memandikan dan
memakaikan

III

pakaian,

menolong BAB
- Membantu

rapi, BAB warna kuning


lembek
- Pasien

menyiapkan

mampu

melakukannya sendiri

keperluan gosok gigi


Pk. 06.00

- S : 36,2 C, N : 88 x/mt,
- Mengukur vital sign

Pk. 06.30

T:140/80mmHg, R:18x/mt

II

- Pasien makan dengan porsi


- Membantu

memberikan

makanan, memberi minum


I

200cc

piring

habis,

sakit

menelan (+)
- Obat masuk, reaksi alergi

- Memberi inj. Neurobion 3

(-)

gr/IV
Pk. 08.00

- Pasien mau melakukannya


- Melatih pasien melakukan

tapi belum optimal

gerakan meremas bola karet


dan melebarkan jari tangan
dan jari kaki

Pk. 10.00

- Pasien
- Meningkatkan

makan

aktivitas

snake sendiri dan minum

secara bertahap, melakukan

200cc, sakit menelan

makan dan minum sendiri

berkurang

Pk. 11.00

- S : 36,2 C, N : 84 x/mt,
- Mengukur vital sign

Pk. 12.00

mampu

T:140/80mmHg, R:18x/mt
- Pasien

- Membantu

menyiapkan

mampu

makan

sendiri dengan porsi

25

makan pasien, minum 1

piring habis

gelas
Pk. 12.30

- Pasien
- Melatih

pasien

menelan

mau

melakukan

latihan

dengan mengisap es batu


Pk. 13.00

II

- Pasien kooperatif
- Mengubah

posisi

tidur

pasien miring kanan


Pk. 14.00

- Obat masuk, reaksi alergi


- Memberi inj. Neurobion 3

(-)

gr/IV
Pk. 15.00

- Pasien tampak istirahat


- Mengobservasi

istirahat

pasien
Pk. 16.00

III

- Pasien
- Membantu

pasien

toileting,

mandi,

berpakaian,

mencuci rambut pasien

mampu

berpakaian,

mandi,

gosok

gigi

secara mandiri di tempat


tidur

dengan

dibantu

keluarganya rambut bersih


Pk. 17.00

- S : 36,5 C, N : 84 x/mt,
- Mengukur vital sign

Pk. 18.00

T:130/80mmHg, R:18x/mt

II

- Pasien
- Membantu pasien mobilisasi

dapat

mobilisasi

miring, tangan dan kaki


dengan mandiri

Pk. 20.00

- Keluarga
- Memberikan
keluarga

KIE

kepada

untuk

selalu

atas

pasien

diberikan

mendukung

mengerti

dan

mengucapkan terima kasih


penjelasan

yang

melakukan aktivitasnya
Pk. 22.00

- Obat masuk, reaksi alergi


-

Pk. 24.00

Memberi inj. Neurobion 3


gr/IV

(-)
- Pasien tampak tidur

- Mengobservasi

istirahat

pasien
Selasa
20-01-09
Pk. 05.00

III

- Pasien
- Membantu

pasien

toileting, berpakaian

mandi,

mampu

melakukannya
mandiri,

pasien

secara
tampak

bersih dan rapi, lemes (-)


Pk. 06.00

- S : 36,3 C, N : 80 x/mt,
- Mengukur vital sign

T:140/80mmHg, R:18x/mt

26

Pk. 06.30

- Obat masuk, reaksi alergi


- Memberi injeksi Neurobion

(-)

5 gr/IV
Pk. 07.00

III

- Pasien mampu makan dan


- Memotivasi
melakukan

pasien

untuk

minum mandiri porsi,

makan

dan

sakit menelan (-), pasien

minum dengan mandiri


Pk. 07.30

cepat mengunyah makanan

II

- Obat masuk, reaksi alergi


- Memberi obat captopral 12,5

(-)

1 tab dan inj. Neurobion 3


gr/IV

- Pasien

- Memberikan motivasi untuk

kooperatif

berjanji

akan

selalu melakukan gerakan

menggerakkannya

aktif untuk exstremitas yang

anjuran

sehat

dan

gerakan

dan
sesuai

pasif

untuk extremitas yang sakit


Pk. 08.00

IV

- Pasien
- Mengajak

Pk. 10.00

pasien

ngobrol

dengan

ngobrol

antosias tentang cucu

dengan posisi mengarah ke

cucunya, suara pelo (-),

pasien

lidah kaku (-)

II

- Pasien tampak kooperatif,


- Mengubah

posisi

pasien

lemes (-)

miring kiri
Pk. 11.00

- S : 36,4 C, N : 80 x/mt,
- Mengukur vital sign

Pk. 12.00

T:140/80mmHg, R:18x/mt

III

- Pasien
- Memotivasi
melakukan

pasien

untuk

makan

dan

minum mandiri
Pk. 13.00

habis

mampu

menelan

porsi,
(-),

mandiri
sakit
pasien

menelan cepat
- Pasien mengatakan tidak

- Mengevaluasi KU pasien

sakit saat menelan dan


proses menelan lebih cepat
- Pasien mengatakan tangan
dan

kaki

lemes

kanan
walau

masih
sudah

berkurang
- Pasien mampu melakukan
mobilisasi ke arah kanan
dan kiri

27

- Pasien mengatakan sudah


lebih percaya diri karena
tampil lebih bersih dan
rapi

karena

mampu

beraktivitas
- Pasien

mengatakan

mengerti metode metode


komunikasi yang diajarkan
- Pasien mengatakan sudah
mengerti

tentang

penyakitnya

V. EVALUASI
No

Hari/Tgl
/Jam

Minggu
18-01-09
Pk. 13.00

No DX Kep

Evaluasi Sumatif

PARAF

S : Pasien mengatakan tidak sukar menelan


makanan
O : Porsi makan porsi habis
Pasien cepat mengunyah makanan

28

Pasien tidak meringis saat menelan makanan


minum 2000cc
A : Tujuan tercapai
P : Pertahankan kondisi pasien

Senin

S : Pasien mengatakan tangan dan kaki lemas

19-01-09

berkurang

Pk. 13.00

Pasien mengatakan gerakannya belum


leluasa
O : Pasien mampu mobilisasi ke arah kiri dan
kanan
Kaki dan tangan belum bisa leluasa bergerak
tonus otot N
N

kekuatan otot 555 444

555 444

A : Tujuan tercapai
P : Lanjutkan intervensi Keperawatan 1,2,3,4

Selasa

S : Pasien mengatakan batuknya tidak lemes saat

20-01-09

beraktivitas

Pk. 13.00

Pasien mampu memasukkan makanan ke


mulut
Pasien dapat membasuh tubuh sendiri
Pasien mampu memakai dan melepaskan
pakaian sendiri
O : ADL pasien dilakukan dengan mandiri
Rambut tampak bersih
A : Tujuan tercapai
P : Pertahankan kondisi pasien

Selasa

20-

S : Pasien mengatakan lidah tidak kaku

01-09

O : Suara terdengar lebih jelas tapi masih pelo

Pk. 13.00

A : Tujuan tercapai sebagian


P : Lanjutkan intervensi keperawatan 1,2,3

Selasa

S : Pasien mengatakan mengerti tentang

20-01-09

penyakitnya, penyebab, perawatan, dan

Pk. 13.00

pencegahannya
O : Pasien tidak cemas dan tidak bertanya
tanya tentang penyakitnya

29

A : Tujuan tercapai
P : Pertahankan kondisi pasien

30