Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014

Hematologi dan Desakan Darah : Koagulasi


Darah dan Perhitungan Sel Darah
Faridah Tsuraya (1512100051)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: tsuraya.faridah12@mhs.bio.its.ac.id

AbstrakKoagulasi darah merupakan proses pembekuan darah


dimana darah di dalam pembuluh darah bersifat sol (cair) dan
apabila keluar dari pembuluh darah bersifat gel. Eritrosit(sel
darah merah) berfungsi untuk mengikat oksigen sedangkan
leukosit (sel darah putih berfungsi untuk membunuh kuman
dan menghasilkan antibodi. Praktikum ini bertujuan untuk
menentukan waktu darh yang dibutuhkan untuk koagulasi,
mengetahui factor-faktor koagulasi, menghitung jumlah eritrosit
dan leukosit dengan menggunakan kamar hitung. Metode yang
digunakan dalam praktikum ini adalah dengan mencatat waktu
yang diperlukan ketika pertma kali darah keluar samapi mulai
terlihatnya benang-benang fibrin pada tetesan kedua dengan
meletakkan darah pada kaca obyek dan ditarik-tarik dengan
lidi. Pada penghitungan sel darah, digunakan hemasitometer
dan diamati dan dihitung sel darah merah dan sel darah putih
di bawah mikroskop. Hasil yang didapat pada praktikum ini
adalah waktu yang digunakan dalam penggumpalan darh pada
probandus 1 (Lila) adalah 49 detik, probandus 2 (Erik) adalah 2
menit 15 detik dan probandus 3 (Nuvi) adalah 2 menit 19 detik.
Pada perhitungan eritrosit didapatkan probandus 1 (Lila)
sebanyak 243x107 sel/ml dan jumlah leukositnya 9x10 5 sel/ml.
Jumlah eritrosit pada probandus 2 (Erik) adalah 1055x10 6 dan
jumlah leukositnya 175x10 4 sel/ml.
Kata KunciEritrosit, Fibrin, Hemasitometer, Koagulasi,
Leukosit.

I. PENDAHULUAN
Hemostasis merupakan peristiwa penghentian perdarahan
akibat putusnya atau robeknya pembuluh darah, sedangkan
thrombosis terjadi ketika endothelium yang melapisi
pembuluh darah rusak atau hilang. Proses ini mencakup
pembekuan darah (koagulasi ) dan melibatkan pembuluh
darah, agregasi trombosit serta protein plasma baik yang
menyebabkan pembekuan maupun yang melarutkan bekuan.
Banyak tes yang dilakukan untuk mengembangkan diagnosa
kelainan pembekuan. Kelainan pembekuan dapat diakibatkan
oleh kelainan bawaan maupun akibat kesalahan penanganan
atau tindakan dokter. Darah normal membeku dalam 4 8
menit. Penderita yang diobati dengan heparin dapat memilki
masa pembekuan darah yang panjang. Heparin merupakan
anti koagulan injeksi yang bekerja dengan cara mengikat anti
trombin dimana menghasilkan peningkatan yang sangat besar
pada aktivitas anti thrombin atau menghambat perubahan
fibrinogen menjadi fibrin. Waktu koagulasi adalah saat mulai
keluarnya tetesan darah pertama sampai mulai terlihat
benang benang fibrin pada tetes kedua [1].

Pembekuan darah yang ditemukan dalam darah dan


jaringan terdapat lebih dari 50 macam zat penting yang
mempengaruhinya. Zat yang dapat mempermudah terjadinya
pembekuan darah disebut anti koagulan dengan
menggunakan heparin dan warfarin. Penelitian dalam bidang
pembekuan darah berpendapat bahwa pembekuan darah
terjadi melalui tiga langkah utama yaitu :
1. Sebagai respon terhadap rupturnya pembuluh darah atau
kerusakan darah itu sendiri . Hasil akhirnya adalah
terbentuknya suatu kompleks substansi teraktivasi yang
secara kolektif disebut activator protombin.
2. Aktivator protombin mengkatalisis perubahan protombin
menjadi trombin.
3. Trombin bekerja secara enzim untuk mengubah
fibrinogen menjadi benang fibrin untuk merangkai
trombosit, sel darah, dan plasma untuk membentuk
bekuan [2] .
Darah terdiri atas 2 komponen utama:
a. Plasma darah : bagian cair darah yang sebagian besar
terdiri atas air, elektrolit, dan protein darah.
b. Butir butir darah (blood corpuscles), yang terdiri atas:
1) Eritrosit : sel darah merah (SDM)- red blood cell
(RBC)
2) Leukosit : sel darah putih (SDP)-white blood cell
(WBC)
3) Trombosit : butir pembeku- platelet
[3].
Eritrosit atau sel darah merah adalah sel yang terbanyak
dalam darah perifer. Jumlahnya pada orang dewasa normal
berkisar antara 4 6 juta sel /ul. Eritrosit mempunyai bentuk
bikonkaf , yang memberi gambaran seperti cincin pada
sediaan hapus darah tepi. Fungsi utama eritrosit adalah
transport gas. [4].
Leukosit adalah bagian dari darah yang berwarna putih
dan merupakan unit mobil dari system pertahanan tubuh
terhadap infeksi yang terdiri dari granuler dan agranuler.
Dimana granuler meliputi : basophil, eosinophil. Neutrophil
batang, dan neutrophil segmen. Sedangkan agranuler
meliputi limfosit, monosit, dan sel plasma [5].
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan waktu
darah yang dibutuhkan untuk koagulasi, mengetahui factorfaktor koagulasi, menghitung jumlah eritrosit dan leukosit
dengan menggunakan kamar hitung.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014


II.METODOLOGI
A.Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilakukan pada 24 November 2014 di
Laboratorium Zoologi, Biologi, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, Surabaya
B.Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini
meliputi jarum franke, kaca benda, tusuk gigi,
stopwatch/arloji, haemacytometer, kertas tissue, mikroskop,
dan alat tulis.
Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini
meliputi darah probandus, alcohol 70%, larutan pembilas
(NaCl 0,9%), larutan hayem, dan larutan turk.
C.Cara Kerja
1. Koagulasi Darah
Sebelum praktikum ini dimulai, disiapkan alat dan
bahan yang digunakan terlebh dahulu. Langkah pertama,
dibersihkan permukaan ujung jari ke-3 atau ke-4 dengan
alcohol 70%. Setelah kering, ujung jari tersebut ditusuk
dengan jarum franke. Dengan posisi ujung jari dihadapkan
vertical ke bawah dihapus 2 tetes darah yang keluar pertama
kali. Satu tetes berikutnya diteteskan pada kaca benda dan
dicatat waktu pada saat darah tersebut tepat keluar setelah
ditusuk. Kemudian setiap 15 detik tetesan pertama diangkat
dan ditarik-tarik dengan ujung tusuk gigi. Selanjutnya dicatat
waktu pertama kali terjadi tarikan-tarikan benang-benang
fibri pada ujung tusuk gigi. Waktu koagulasi ialah saat sejak
pencatatan keluarnya tetesan darah pertama samapai tepat
mulai terlihat benang-benang fibrin pada tetesan tersebut.
2. Perhitungan sel Eritrosit
Sebelum praktikum ini dimulai, disiapkan alat dan
bahan yang digunakan terlebh dahulu. Perhitungan sel
eritrosit ini dapat dilakukan dengan alat haematocytometer
yang terdiri dari counting chamber dan pipet pengencer yang
mempunyai skala hingga 101 serta mempunyai inti gelas
berwarna merah. Langkah pertama setelah mikroskop
disiapkan, mikroskop ditutup bagian diafragma dan bagian
stage diturunkan. Selanjtunya, counting chamber disterilkan
dengan alcohol 70% dan dlap dengan kertas tissue. Selain
counting chamber pipet pengencer juga dibilas dengan
menggunakan laruatn Na Cl 0,9 %. Kemudian diletakkan
counting chamber pada bagian stage dan dinaikkan secara
perlahan-lahan dengan makrometer agar dapat dilihat daerah
kotak perhitungan dengan digunakan perbesaran lensa
objektif 5x atau 10x. Selanjutnya, ujung jari ke-3 atau ke-4
diolesi denagn alcohol 70% kemudain ditusuk dengan jarum
franke steril dan dibiarkan darah terus keluar. Kemudian
darah yang keluar dihisap dengan pipet pengencer skala 1,0
lalu dibersihkan ujung pipet dan dihindarkan agar tidak ada
gelembung udara di dalam pipet tersebut. Jika ada
gelembung udara, maka segera dikeluarkan kembali dan
diulangi perlakuan seperti semula. Setelah ujung pipet
dibersihkan selanjutnya dihisap larutan hayem hingga tepat
skala 101. Kemudian pipet dipegang kedua ujungnya dengan
jari dan di kocok selama 2 menit. Selanjutnya, 3-4 tetes
pertama larutan tersebut dibuang kemudian diletakkan ujung
pipet pada counting chamber dan ditutp dengan kaca
penutup. Kemudian didiamkan selama 1-2 menit supaya selsel darah mengendap. Selanjutnya, dibawah mikroskop

2
dihitung jumlah sel eritrosit dalam kotak R pada counting
chamber. Selanjutnya ditentukan jumlah eritrositnya (SDM)
dalam tiap mm 3, selanjutnya ditentukan jumlah eritrositnya
(SDM) dalam tiap mm 3 dengan rumus :
Jumlah SDM = n e x p x 50
3. Perhitungan sel Leukosit
Sebelum praktikum ini dimulai, disiapkan alat dan
bahan yang digunakan terlebh dahulu. Perhitungan sel
leukosit ini dapat dilakukan dengan alat haematocytometer
yang terdiri dari counting chamber dan pipet pengencer yang
mempunyai skala hingga 11 serta mempunyai inti gelas
berwarna putih. Langkah pertama setelah mikroskop
disiapkan, mikroskop ditutup bagian diafragma dan bagian
stage diturunkan. Selanjtunya, counting chamber disterilkan
dengan alcohol 70% dan dlap dengan kertas tissue. Selain
counting chamber pipet pengencer juga dibilas dengan
menggunakan laruatn Na Cl 0,9 %. Kemudian diletakkan
counting chamber pada bagian stage dan dinaikkan secara
perlahan-lahan dengan makrometer agar dapat dilihat
daerah kotak perhitungan dengan digunakan perbesaran
lensa objektif 5x atau 10x. Selanjutnya, ujung jari ke-3 atau
ke-4 diolesi denagn alcohol 70% kemudain ditusuk dengan
jarum franke steril dan dibiarkan darah terus keluar.
Kemudian darah yang keluar dihisap dengan pipet
pengencer skala 1,0 lalu dibersihkan ujung pipet dan
dihindarkan agar tidak ada gelembung udara di dalam pipet
tersebut. Jika ada gelembung udara, maka segera
dikeluarkan kembali dan diulangi perlakuan seperti semula.
Setelah ujung pipet dibersihkan selanjutnya dihisap larutan
hayem hingga tepat skala 11. Kemudian pipet dipegang
kedua ujungnya dengan jari dan di kocok selama 2 menit.
Selanjutnya, 3-4 tetes pertama larutan tersebut dibuang
kemudian diletakkan ujung pipet pada counting chamber
dan ditutp dengan kaca penutup. Kemudian didiamkan
selama 1-2 menit supaya sel-sel darah mengendap.
Selanjutnya, dibawah mikroskop dihitung jumlah sel leukosit
dalam kotak W pada counting chamber sebanyak 4 kotak,
selanjutnya ditentukan jumlah leukositnya (SPM) dalam tiap
mm3 dengan rumus :
Jumlah SPM = n l x p x 2,5
III.

PEMBAHASAN

A. Koagulasi Darah
Pada praktikum ini digunakan darah probandus
sebanyak 3 probandus yang terdiri dari probandus
perempuan yang memiliki berat badan paling ringan,
probandus perempuan yang memiliki berat badan paling
berat dan probandus laki-laki, maka harus dilakukan
penimbangan terlebih dahulu untuk mengetahui berat
badannya agar dapat dikaitkan factor tersebut dengan
koagulasinya. Selanjutnya ujung jari probandus dibersihkan
dengan alcohol 70% bertujuan untuk sterilisasi agar tidak
terkontaminasi bakteri pada saat penusukan. Selain ujung
jari probandus, kaca benda juga terlebih dahulu dibersihkan
dengan alkohol 70% agar steril. Ujung jari ditusuk dengan
jarum franke untuk mengeluarkan darah dan agar darah
menetes. Digunakan jari kiri untuk membatasi menjalarnya

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014


infeksi yang mungkin timbul akibat penusukan. 2 tetes
darah yang keluar pertama kali dihapus kemudian tetesan
selanjutnya yang digunakan dalam praktikum ini agar
didapatkan darah yang benar-benar steril. Selanjutnya
setiap 15 detik darah tersebut diangkat dan ditarik-tarik
dengan ujung tusuk gigi. Hal ini bertujuan untuk
mengetahui pada waktu ke berapa pembekuan darah terjadi.

Gambar 1. Koagulasi Darah ketiga probandus (dari kiri:


Lila, Erik, Nuvi)
Berikut ini adalah hasil perhitungan waktu koagulasi
darah pada masing-masing probandus :
Tabel 1. Hasil koagulasi Probandus
Probandu Jenis
Berat
Golongan Waktu
s
Kelamin
Badan
Darah
Koagulasi
Lila
Perempua
62
B
49
n
Erik
Laki-laki
73
A
215
Nuvi
Perempua
45
AB
219
n
Dari tabel di atas diketahui bahwa Probandus 1 (Lila)
memiliki waktu koagulasi 49 detik, Probandus 2 (Erik)
selama 2 menit 15 detik dan probandus 3 (Nuvi) 2 menit 19
detik. Berdasarkan jenis kelamin, probandus Erik
seharusnya memiliki waktu koagulasi yang lebih cepat
dibandingkan dengan kedua probandus perempuan. Waktu
koagulasi darah probandus Nuvi lebih lambat dari
probandus Erik. Hal ini disebabkan karena kandungan
garam kalsium dalam tubuh perempuan kurang akibatnya
akan sangat berpengaruh terhadap pemecahan trombosit
yang mengandung tromboplastin yang penting dalam
pembekuan darah, dimana tromboplastin akan bertemu
protrombin dan dengan bantuan kalsium dan vitamin akan
menjadi trombin yang dapat mengubah fibrinogen menjadi
fibrin. Hali ni sesuai dengan pendapat [2]. Berdasarkan
berat badan, probandus Erik seharusnya memiliki waktu
koagulasi yang lebih cepat dibandingkan dengan kedua
probandus perempuan. Hal ini dikarenakan berat badan
berpengaruh terhadap proses metabolisme tubuh,
berhubungan dengan proses pembekuan darah dan
pembentukan benang-benang fibrin. Semakin besar berat
badan, semakin cepat koagulasi darahnya. Namun pada
praktikum ini didapatkan probandus 1 (Lila) memiliki

3
kecepatan koagulasi paling cepat, mungkin terdapat
beberapa faktor lain misalnya kecepatan metabolisme pada
probandus 1 lebih cepat dibandingkan yang lain, adanya
penyakit pada probandus laki-laki, dan factor-faktor lain
seperti tidak normalnya tubuh, kurangnya nutrisi pada
masing-masing probandus, dan factor lainnya.

Keterangan :
Jika suatu jaringan tubuh terluka maka trombosit pada
permukaan yang luka akan pecah dan mengeluarkan enzim
trombokinase (tromboplastin). Enzim ini akan mengubah
protrombin menjadi trobin dengan bantuan ion kalsium dan
vitamin K. Protrombin merupakan protein yang tidak stabil
yang dibentuk di hati dan dengan mudah dapat pecah
menjadi senyawasenyawa yang lebih kecil, salah satunya
adalah trombin. Selanjutnya, trombin mengubah fibrinogen
(larut dalam plasma darah) menjadi fibrin (tidak larut
dalam plasma darah) yang berbentuk benang-benang halus.
Benang-benang halus ini menjerat sel-sel darah merah dan
membentuk gumpalan sehingga darah membeku. Jika luka
seseorang hanya di permukan otot, biasanya darah cepat
membeku. Tetapi, bila luka lebih dalam, diperlukan waktu
yang lebih lama agar darah membeku [6].
Pembagian faktor-faktor pembekuan adalah sebagai
berikut: [7]
Faktor I : disebut fibrinogen, adalah suatu glikoprotein
dengan berat molekul 330.000 dalton, tersusun atas 3
pasang rantai polipeptida. Kadar fibrinogen meningkat
pada keadaan yang memerlukan hemostasis dan pada
keadaan nonspesifik, misalnya inflamasi, kehamilan, dan
penyakit autoimun.
Faktor II : Disebut dengan protrombin, dibentuk di hati dan
memerlukan vitamin K. Faktor ini merupakan prekusor
enzim proteolitik tromion dan mungkin asselerator konversi
protrombin lain.
Faktor III : Merupakan tromboplastin Jaringan yang berupa
lipoprotein jaringan activator protombin. Sifat produk
jaringan ini dalam kaitannya dengan aktivitas pembekuan
belum banyak diketahui, sehingga sulit dinyatakan sebagai
faktor spesifik.
Faktor IV : Merupakan Ion kalsium yang diperlukan untuk
mengaktifkan protrombin dan pembentukan fibrin.
Faktor V : Dikenal sebagai proasselerin atau faktor labil,
protein ini dibentuk oleh hati dan kadarnya menurun pada
penyakit hati. Faktor ini merupakan faktor plasma yang
mempercepat perubahan protrombin menjadi trombin.
Faktor VI : Istilah ini tidak dipakai
Faktor VII : Merupakan asselerator koversi protrombin
serum, dibuat di hati dan memerlukan vitamin K dalam
pembentukannya. Faktor ini merupakan faktor serum yang
mempercepat perubahan protrombin.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014


Faktor VIII : Dikenal sebagai faktor antihemofili, tidak
dibentuk di hati. Merupakan faktor plasma yang berkaitan
dengan faktor III trombosit dan faktor chrismas (IX),
mengaktifkan protrombin.
Faktor IX : Disebut dengan faktor chrismas, dibuat di hati
memerlukan vitamin K. Merupakan faktor serum yang
berkaitan dengan faktor III trombosit dan VII AHG
mengaktifkan protrombin.
Faktor X : Disebut dengan faktor stuart-power, dibuat di
hati dan memerlukan vitamin K. Merupakan kunci dari
semua jalur aktivasi faktor-faktor pembekuan.
Faktor XI : Sebagai antisenden tromboplastin plasma,
dibentuk di hati tetapi tidak memerlukan vitamin K.
Faktor XII : Disebut faktor Hageman. Merupakan faktor
plasma mengaktifkan PTA (faktor XII)
Faktor XIII : Merupakan faktor untuk menstabilkan fibrin,
diproduksi di hati maupun megakariosit. Faktor ini
menumbulkan bekuan fibrin yang lebih kuat yang tidak
larut dalam urea.
Pada probandus 1 mempunyai golongan darah B,
probandus 2 mempunyai golongan darah A dan probandus 3
mempunyai golongan darah AB. Untuk mengetahui golongan
darah seseorang dapat dilakukan dengan pengujian yang
menggunakan serum yang mengandung aglutinin. Dimana
bila darah seseorang diberi serum aglutinin a mengalami
aglutinasi atau penggumpalan berarti darah orang tersebut
mengandung aglutinogen A. Dimana kemungkinan orang
tersebut bergolongan darah A atau AB. Bila tidak mengalami
aglutinasi, berarti tidak mengandung antigen A,
kemungkinan darahnya adalah bergolongan darah B atau O.
Bila darah seseorang diberi serum aglutinin b mengalami
aglutinasi, maka darah orang tersebut mengandung antigen
B, berarti kemungkinan orang tersebut bergolongan darah B
atau AB. Bila tidak mengalami aglutinasi, kemungkinan
darahnya adalah A atau O. Bila diberi serum aglutinin a
maupun b tidak mengalami aglutinasi, kemungkinan
darahnya adalah O .

4
mengetahui pengaruh jenis kelamin terhadap jumlah
eritrositnya. Pertama, Counting chamber terlebih dahulu
dibersihkan dengan alcohol 70% sebagai sterilisasi.
Kemudian pipet pengencer diteteskan larutan NaCl 0,9% dan
dilap. Larutan ini merupakan larutan fisiologis sehingga selsel yang diamati masih tetap utuh. Selain itu, larutan ini juga
berfungsi sebagai sterilisasi pipet pengencer [9]. Selanjutnya
ujung jari disemprot dan dilap dengan alcohol 70% agar
ujung jari tidak terkontaminasi bakteri. Lalu darah probandus
dihisap dengan pipet pengencer kemudian menghisap larutan
hayem hingga tepat skala yang ditentukan. Larutan hayem
merupakan larutan isotonis yang dipergunakan sebagai
pengencer darah dalam penghitungan sel darah merah.
Apabila sampel darah dicampur dengan larutan Hayem maka
sel darah putih akan hancur, sehingga yang tinggal hanya sel
darah merah saja. Larutan Hayem terdiri dari 5gr Na-sulfat, 1
gr NaCl, 0,5gr HgCl2 dan 100 ml aquadest [9]. Selanjutnya
larutan dikocok selama 3-4 menit agar larutan tersebut
homogen. Kemudian dibuang 3-4 tetes pertama larutan
tersebut agar didapatkan pengamatan yang benar-benar bersih
dan steril, selanjtunya didiamkan selama 1-2 menit agar selsel darah mengendap dan lebih mudah diamati.
Berikut ini adalah hasil pengamatan eritrosit di bawah
mikroskop :

Gambar 2. Foto Preparat Eritrosit Probandus Erik

Gambar 3. Foto Preparat Eritrosit Probnadus Lila


Keterangan : [8]
1. Golongan darah A, yaitu darah yang memiliki aglutinogen
A dan agluitinin (anti B)
2. Golongan darah B, yaitu darah yang memiliki aglutinogen
B dan agluitinin (anti A)
3. Golongan darah AB, yaitu darah yang memiliki
aglutinogen A dan B, tetapi tidak mempunyai aglutinin dan
.
4. Golongan darah O, yaitu darah yang tidak memiliki
aglutinogen A dan B, tetapi memiliki aglutinin dan .
B. Perhitungan Eritrosit
Pada praktikum ini digunakan darah probandus
sebanyak 2 probandus yang terdiri dari probandus laki-laki
dan probandus perempuan. Hal ini bertujuan untuk

Tabel 2. Hasil perhitungan Eritrosit masing-masing


probandus.
Probandus
Berat Badan
Sel/ml
Erik
75 kg
243x107
Lila
62 kg
1055x106
Pada hasil tersebut diketahui bahwa probandus Erik
yang berjenis kelamin laki-laki memiliki jumlah eritrosit
243x107 sel/ml dimana lebih besar dibandingkan dengan
probandus Lila dengan eritrosit 1055x10 6 sel/ml.
Nilai normal eritrosit pada pria berkisar 4,7 juta - 6,1
juta sel/ul darah, sedangkan pada wanita berkisar 4,2 juta 5,4 juta sel/ul darah.Eritrosit yang tinggi bisa ditemukan pada
kasus hemokonsentrasi, PPOK (penyakit paru obstruksif

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014


kronik), gagal jantung kongestif, perokok, preeklamsi.
Sedangkan eritrosit yang rendah bisa ditemukan pada
anemia, leukemia, hipertiroid, penyakit sistemik seperti
kanker dan lupus [7].
Dari hasil tersebut diketahui bahwa probandus laki-laki
termasuk dalam kategori lebih dari normal (polycythemia).
Probandus perempuan juga termasuk lebih dari normal
(polycythemia). Probandus laki-laki yang mempunyai berat
badan lebih besar dibandingkan dengan probandus
perempuan yang seharusnya memiliki jumlah eritrosit yang
juga lebih banyak. Hal ini dikarenakan berat badan dan jenis
kelamin juga berpengaruh terhadap banyaknya eritrosit.
Laki-laki memiliki eritrosit yang labih banyak dikarenakan
besarnya aktivitas dan proses metabolism tubuh yang lebih
besar dibandingkan dengan perempuan.Berat badan yang
tinggi mempunyai jumlah eritrosit yang juga lebih besar
karena mempunyai metabolisme dan jumlah darah yang juga
besar di dalam tubuh. Namun hal ini tidak didapatkan pada
praktikum, hal ini disebabkan mungkin probandus pria
mempunyai penyakit atau dalam keadaan tidak sehat
sehingga berpengaruh terhadap jumlah eritrositnya. Faktorfaktor yang mempengaruhi jumlah sel darah merah (eritrosit)
meliputi jenis kelamin, laki-laki cenderung lebih banyak
memiliki sel eritrosit diabandingkan dengan perempuan.
Usia, orang dewasa memiliki jumlah eritrosit lebih banyak
dibanding anak-anak. Tempat Ketinggian, orang yang hidup
di dataran tinggi cenderung memiliki jumlah ertrosit lebih
banyak. Dan kondisi Tubuh Seseorang, sakit dan luka yang
mengeluarkan banyak darah dapat mengurangi jumlah
eritrosit dalam darah [7].
Abnormalitas Kondisi Eritrosit
1. Anemia : kekurangan sel darah merah
2. Polisitemia : peningkatan
jumlah
eritrosit yang
mengakibatkan peningkatan viskositas dan volume
darah, darah mengental dan aliran darah menjadi
lambat. Ada 2 macam polisitemia :
a. Polisitemia kompensatori : terjadi akibat kekurangan
oksigen dikarenakan tinggal di tempat yang terlalu
tinggi, aktivitas fisik berkepanjangan, atau penyakit
jantung
b. Polisitemia vera : gangguan pada sumsum tulang
(Hidayati, 2005).
3. Hemolisa : peristiwa keluarnya hemoglobin dari eritrosit ke
cairan di sekelilingnya. Ada 2 macam hemolisa, yaitu :
a. Hemolisa osmotik : terjadi karena perbedaan tekanan
osmosis antara eritrosit dengan cairan di
sekelilingnya
b. Hemolisa kimiawi : terjadi karena membran eritrosit
dirusak oleh substansi lain misalnya aseton, alkohol,
dll.
4. Krenasi : peristiwa mengkerutnya dinding eritrosit karena
air yang berada di dalam eritrosit keluar menuju medium
di sekelilingnya.
5. Fragilitas : kerapuhan eritrosit, merupakan gambaran
kemampuan membran eritrosit dalam menahan
bertambahnya tekanan osmosis dalam sel akibat
masuknya air dari medium [10].
C.Perhitungan Leukosit
Pada praktikum ini digunakan darah probandus
sebanyak 2 probandus yang terdiri dari probandus laki-laki

5
dan probandus perempuan. Hal ini bertujuan agar dapat
mengetahui pengaruh jenis kelamin terhadap jumlah leukosit.
Counting chamber terlebih dahulu dibersihkan dengan
alcohol 70%. Hal ini berfungsi sterilisasi counting chamber.
Kemudian pipet pengencer dibilas dengan menggunakan
larutan NaCl 0,9%. Larutan ini merupakan larutan fisiologis
sehingga sel-sel yang diamati masih tetap utuh. Selain itu,
larutan ini juga berfungsi sebagai sterilisasi pipet pengencer
[10]. Selanjutnya ujung jari disemprot dengan alcohol 70%
agar ujung jari tetap steril. Selanjutnya darah probandus yang
telah dihisap dengan pipet pengencer kemudian dilanjutkan
dengan menghisap larutan turk hingga tepat skala yang
ditentukan. Larutan turk selain mencegah penggumpalan
darah juga berfungsi sebagai pewarna leukosit. Asam asetat
pada larutan turk berfungsi untuk mencegah penggumpalan
darah. Komposisi larutan turk terdiri atas 4 ml asam asetat,
10 tetes gentian violet, dan 200 ml akuades [9]. Selanjutnya
larutan dikocok selama 3-4 menit agar larutan tersebut
homogen. Kemudian dibuang 3-4 tetes pertama larutan
tersebut agar didapatkan pengamatan yang benar-benar bersih
dan steril, selanjtunya didiamkan selama 1-2 menit agar selsel darah mengendap dan lebih mudah diamati.
Berikut ini adalah hasil pengamatan leukosit di bawah
mikroskop :

Gambar 4. Foto Preparat Leukosit probandus Erik

Gambar 5. Foto Preparat Leukosit probandus Lila


Tabel 3. Hasil perhitungan Leukosit Masing-masing
Probandus :
Probandus Berat Badan
Sel/ml
9x105 sel/ml
Erik
75 kg
175x104 sel/ml
Lila
62 kg
Pada tabel di atas diketahui bahwa probandus Erik
dengan berat badan 75 kg mempunyai jumlah leukosit 9x105
sel/ml dan probandus Lila yang memiliki berat badan 62 kg
mempunyai jumlah 175x10 4 sel/ml. Sel darah putih atau
leukosit berwarna bening, ukurannya lebih besar daripada sel
darah merah, tetapi jumlahnya lebih kecil. Dalam setiap mm 3
darah terdapat 6.000 sampai 11.000 sel darah putih. Fungsi
umum dari sel darah putih yaitu melindungi tubuh dari
infeksi [11]. Pada praktikum ini didapatkan hasil bahwa
jumlah leukosit perempuan lebih sedikit dibandingkan jumlah
leukosit laki-laki. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014


sel leukosit meliputi jenis kelamin, berat badan, umur, gizi,
aktivitas.Hasil sesuai dengan literature bahwa probandus Erik
memiliki jumlah leukosit yang lebih banyak dibandingkan
dengan probandus Lila. Hal ini dikarenakan pada laki-laki
memiliki aktivitas, proses metabolisme, dan jumlah sel darah
yang lebih besar dibandingkan dengan perempuan ditinjau
dari segi berat badannya pula. Probandus yang memiliki berat
badan yang lebih besar juga memiliki julah sel leukosit yang
juga besar. Hal ini juga dipengaruhi oleh metabolisme tubuh,
jumlah darah, nutrisi, dan lain sebagainya. Probandus Erik
dan Lila memiliki jumlah leukosit di atas normal, sehingga
dapat diketahui bahwa kedua probandus ini termasuk
leucocytosis.
Abnormalitas Kondisi Leukosit : [7]
1. Leukimia : kanker yang ditandai dengan
meningkatnya jumlah leukosit yang tidak terkendali
sehingga dapat memakan (memfagosit) sel darah
merah.
2. Leukositosis : penambahan jumlah keseluruhan sel
darah putih dalam darah melampaui 10.000 butir /
mm3.
3. Leukopenia : berkurangnya jumlah sel darah putih
sampai 5.000 atau kurang.
4. Limfositosis : pertambahan jumlah limfosit
5. Agranulositosis : penurunan jumlah granulosit
secara menyolok
Tabel 4. Perbedaan Eritosit dan Leukosit [2]

6
Untuk menghitung eritrosit dan leukosit dibutuhkan suatu
alat yaitu haemocytometer yang terdiri atas counting chamber
dan pipet pengencer. Haemocytometer Improved Neubaeur
berupa lempeng kokoh yang dirancang untuk mendapatkan
suspensi sel dalam lapisan tipis di atas guratan yang
digoreskan pada lempeng. Guratan-guratan terdiri dari
segiempat-segiempat dan bujur sangkar yag besar yang
tersusun dalam baris dan kolom. Satu kelompok yang terdiri
dari 25 bujur sangkar di pusatnya dipisahkan lebih jauh
menjadi 16 bujur sangkar kecil. Bagian tengah lempeng lebih
rendah daripada serambi di bagian luar. Jalur yang mirip
dengan parit dalam memisahkan bagian tengah dari bagian
luar serambi pada setiap sisi. Lapisan penutupnya tebal
sehingga tahan bengkok. Hal ini memungkinkan adanya
lapisan tipis suspensi sel dengan ketebalan yang diketahui
dan seragam, yang terletak di atas segiempat-segiempat
dengan luas yang diketahui. Rapatan sel diperkirakan dengan
menghitung sel dalam bujur-sangkar yang khas. Jenis
pengaturan dalam guratan tidak akan mempengaruhi
penentuan[10].
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan pada praktikum ini adalah pada koagulasi
darah didapatkan probandus Lila mempunyai waktu
koagulasi tercepat dibandingkan dengan kedua probandus.
Pada perhitungan sel eritrosit diketahui bahwa kedua
probandus (Erik dan Lila) termasuk dalam polycythemia.
Pada perhitungan leukosit diketahui bahwa kedua probandus
termasuk dalam leukocytosis.
LAMPIRAN

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Eritrosit dan Leukosit:[11]


1. Berat badan. Orang yang memiliki berat badan berbeda,
maka jumlah eritrosit danleukositnya juga berbeda.
2. Nutrisi. Nutrisi dapat mempengaruhi jumlah eritrosit dan
secara tidak langsung jugamempengaruhi leukosit. Bila
kita memakan makanan yang banyak mengandung zatbesi
misalnya bayam maka jumlah eritrosit kita akan
meningkat. Hal ini secara tidak langsung juga akan
mempengaruhi leukosit.
3. Kondisi Tubuh. Kondisi tubuh dapat mempengaruhi
jumlah leukosit, bila kondisitubuh sedang lemah/tidak
enak badan maka jumlah leukosit secara otomatis juga
akanmenurun.
4. Lokasi Tempat Tinggal. Orang yang tinggal di tempat
yang lebihi tinggi(datarantinggi) biasanya memiliki
jumlah eritrosit yang lebih banyak daripada orang
yanghidup di daerah dataran rendah
5. Jenis kelamin. Pria memiliki jumlah eritrosit yang lebih
tinggi dibandingkan dengantekanan darah wanita, hal ini
disebabkan karena wanita mengakami proses
menstruasiyang mana hal ini mempengaruhi jumlahnya

1. Perhitungan Sel Darah Merah (Eritrosit)


a) Perhitungan eritrosit Lila
kamar 1 = 109
kamar 4 = 54
kamar 2 = 152
kamar 5 = 94
kamar 3 =77
R = 486
Jumlah SDM = Ne x P x 50
= 486 x 100x 50
= 2430 x 103 sel/mm3
= 243 x 107 sel/ml
b) Perhitungan eritrosit Erik
kamar 1 = 24
kamar 4 = 51
kamar 2 = 42
kamar 5 = 60
kamar 3 = 34
R = 211
Jumlah SDM = Ne x P X 50
= 211 x 100 x 50
= 1055 x 103 sel/mm3
= 1055 x 106 sel/ml
2. Perhitungan Sel Darah Putih (Leukosit)
a). Perhitungan leukosit Lila
kamar 1 = 9
kamar 3 = 9
kamar 2 = 8
kamar 4 = 10
R = 36
Jumlah SDP = Nl x P x 2,5
= 36 x 10 x 2,5
= 900 sel/mm 3
= 9 x 105 sel/ml
b) Perhitungan leukosit Erik
kamar 1 = 18
kamar 3 = 20

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (6) 2014


kamar 2 = 16
kamar 4 = 16
R = 70
Jumlah SDP = Nl x P x 2,5
= 70 x 10 x 2,5
= 1750 sel/mm 3
= 175 x 104 sel/ml
DISKUSI
1. Apa yang dimaksud dengan heparin? Apa fungsinya?
2. Buatlah skema terjadinya pembekuan darah!
Jawab:
1. Antikoagulan ini merupakan asam mukopolisacharida
yang
bekerja dengan cara menghentikan pembentukan trombin
dari prothrombin sehingga menghentikan pembentukan
fibrin dari fibrinogen. Ada tiga macam heparin:
ammonium heparin, lithium heparin dan sodium heparin.
Dari ketiga macam heparin tersebut, lithium heparin paling
banyak digunakan sebagai antikoagulan karena tidak
mengganggu analisa beberapa macam ion dalam darah.
Konsentrasi dalam penggunaan adalah 0,1 0,2 mg
heparin kering untuk 1 ml darah. Heparin tidak dianjurkan
untuk pemeriksaan apusan darah karena menyebabkan latar
belakang biru.
2.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Aida, Yuniarti. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan, Fakultas
Biologi UAJY, Yogyakarta. (2006)
[2] Guyton & Hall, Artur C.,M.D. & John E.,Ph.D., , Buku Ajar
FisiologiKedokteran, edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta. 90. (1997)
[3] Bakta, I Made. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC.12,9.1.. (2006)
[4] Kosasih, E. N. dan Kosasih, A. S. Tafsiran Hasil Pemeriksaan
Laboratorium Klinik. Edisi ke-2. 58, 86. (2008)
[5] Junqueira, L.C., dan Carneiro, J. Histologi Dasar (Basic
Histology). Edisi III. Alih Bahasa Adji Dharma. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Hal. 255. (1982).
[6] Murray, R.K. dkk. Biokimia Klinik Edisi 4. Jakarta :EGC
(2003).
[7] Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. Patofisiologi : Konsep
Klinis Proses-proses Penyakit, volume 2. Jakarta :EGC. (2005).
[8] Suryo. Genetika. UGM Press : Yogyakarta (2012).

7
[9] Sadikin,M.Biokimia Darah.Widya Medika : Jakarta. (2001).
[10] Suripto. Fisiologi Hewan. ITB : Bandung. (2004).

[11 ]Pearce, Evelyn. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia:


Jakarta (2002).