Anda di halaman 1dari 21

TUGAS KELOMPOK MATA KULIAH K3

IMPLEMENTASI KESEHATAN
DAN KESELAMATAN KERJA
DI SEKTOR KONSTRUKSI

OLEH :
OLEH :
KELOMPOK I
NURUL HAIRUNNISA A K11108258

SYARIF H

FITRIANI SUDIRMAN

K11108251

ARLIM LEAMANDUNG K11107732

RINI ARYANI

K11108260

IRFA IRVIANI

K11107704

RISKA

K11108255

MUHAMMAD IDRIS

K11107746

ANDI TITIN

K11108020

MUKRIMAH RAHMAN

K11109530

SYARIFAH ADRIANA

K11108259

MONA T AKASEH

K11109532

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2010

K11107661

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara umum di Indonesia masih
sering terabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kecelakaan kerja. Di
Indonesia, setiap tujuh detik terjadi satu kasus kecelakaan kerja. Hal ini tentunya sangat
memprihatinkan. Tingkat kepedulian dunia usaha terhadap K3 masih rendah. Padahal
karyawan adalah aset penting perusahaan.
Kewajiban untuk menyelenggarakaan Sistem Manajemen K3 pada perusahaanperusahaan besar melalui UU Ketenagakerjaan, baru menghasilkan 2,1% saja dari 15.000
lebih perusahaan berskala besar di Indonesia yang sudah menerapkan Sistem Manajemen
K3. Minimnya jumlah itu sebagian besar

disebabkan oleh masih adanya anggapan

bahwa program K3 hanya akan menjadi tambahan beban biaya perusahaan. Padahal jika
diperhitungkan besarnya dana

kompensasi/santunan untuk korban kecelakaan kerja

sebagai akibat diabaikannya Sistem Manajemen K3, yang besarnya mencapai lebih dari
190 milyar rupiah di tahun 2003, jelaslah bahwa masalah K3 tidak selayaknya diabaikan.
Masalah umum mengenai K3 ini juga terjadi pada penyelenggaraan konstruksi.
Tenaga kerja di sektor jasa konstruksi mencakup sekitar 7-8% dari jumlah tenaga kerja di
seluruh sektor, dan menyumbang 6.45% dari PDB di Indonesia. Sektor jasa konstruksi
adalah salah satu sektor yang paling berisiko terhadap kecelakaan kerja, disamping sektor
utama lainnya yaitu pertanian, perikanan, perkayuan, dan pertambangan. Angka
kecelakaan kerja di sektor kontruksi didunia pada umumnya lebih tinggi dari angka
kecelakaan di sektor lainnya seperti sektor manufaktur maupun industri. Dan angka

kecelakaan kerja kontruksi di indonesia adalah yang tertinggi. Tingginya angka


kecelakaan kontruksi bersumber dari berbagai faktor. Baik dari pekerjanya sendiri, dari
perusahaan maupun dari pemerintah yang menetapkan peraturan dan sanksi. Sehingga
belum adanya komitmen yang sama dari seluruh pihak yang berkepentingan untuk selalu
menghargai dan mengutamakan Keselamatan dan Kesehatan kerja sebagai hak asasi
pekerja.
Jumlah tenaga kerja di sektor konstruksi yang mencapai sekitar 4.5 juta orang, 53%
di antaranya hanya mengenyam pendidikan sampai dengan tingkat Sekolah Dasar, bahkan
sekitar 1.5% dari tenaga kerja ini belum pernah mendapatkan pendidikan formal apapun.
Sebagai besar dari mereka juga berstatus tenaga kerja harian lepas atau borongan yang
tidak memiliki ikatan kerja yang formal dengan perusahaan. Kenyataan ini tentunya
mempersulit penanganan masalah K3 yang biasanya dilakukan dengan metoda pelatihan
dan penjelasan-penjelasan mengenai Sistem Manajemen K3 yang diterapkan pada
perusahaan konstruksi.
Untuk itu diperlukan kesadaran para pengusaha kontruksi, penyedia jasa ,pengawas
maupun pelaksana kontruksi untuk menerapkan sistem manajemen K3 baik. Penerapan
sistem manajemen yang terintegrasi dan memenuhi persyaratan K3 serta melengkapi
tenaga-tenaga ahli yang berkompenten di bidang K3 adalah syarat mutlak untuk
mengurangi tingkat kecelakaan di tempat kerja khususnya di sektor Kontruksi. Tenagatenaga ahli harus ditingkatkan melaluli pelatihan-pelatihan dan pendidikan serta
pengetahuan akan bahaya di tempat kerja.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini
mengenai kondisi pada proyek konstruksi serta bagaimana peranan kesehatan dan
keselamatan kerja pada proyek konstruksi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kondisi Proyek Konstruksi
Karakteristik KegiatanKonstruksi

Memiliki masa kerja terbatas

Melibatkan jumlah tenaga kerja yang besar

Melibatkan banyak tenaga kerja kasar (labour) yang berpendidikan relatif


rendah

Memiliki intensitas kerjayang tinggi

Bersifat multidisiplin dan multi crafts

Menggunakan peralatan kerja beragam, jenis, teknologi, kapasitas dan


kondisinya.

Memerlukan mobilisasi yang tinggi (peralatan, material dantenaga kerja)

1. Resiko Kecelakaan Kerja Pada Proyek Konstruksi


Industri jasa konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang memiliki
risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Berbagai penyebab utama kecelakaan kerja
pada proyek konstruksi adalah hal-hal yang berhubungan dengan karakteristik proyek
konstruksi yang bersifat unik, lokasi kerja yang berbeda-beda, terbuka dan
dipengaruhi cuaca, waktu pelaksanaan yang terbatas, dinamis dan menuntut
ketahanan fisik yang tinggi, serta banyak menggunakan tenaga kerja yang tidak
terlatih. Ditambah dengan manajemen keselamatan kerja yang sangat lemah,
akibatnya para pekerja bekerja dengan metoda pelaksanaan konstruksi yang berisiko
tinggi.

King and Hudson (1985) menyatakan bahwa pada proyek konstruksi di


negara-negara berkembang, terdapat tiga kali lipat tingkat kematian dibandingkan
dengan di negara-negara maju.
Dari berbagai kegiatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi, pekerjaanpekerjaan yang paling berbahaya adalah pekerjaan yang dilakukan pada ketinggian
dan pekerjaan galian. Pada ke dua jenis pekerjaan ini kecelakaan kerja yang terjadi
cenderung serius bahkan sering kali mengakibatkan cacat tetap dan kematian. Jatuh
dari ketinggian adalah risiko yang sangat besar dapat terjadi pada pekerja yang
melaksanakan kegiatan konstruksi pada elevasi tinggi. Biasanya kejadian ini akan
mengakibat kecelakaan yang fatal. Sementara risiko tersebut kurang dihayati oleh
para pelaku konstruksi, dengan sering kali mengabaikan penggunaan peralatan
pelindung (personal fall arrest system) yang sebenarnya telah diatur dalam pedoman
K3 konstruksi.
Bidang konstruksi adalah satu bidang produksi yang memerlukan kapasitas
tenaga kerja dan tenaga mesin yang sangat besar, bahaya yang sering ditimbulkan
umumnya dikarenakan faktor fisik, yaitu : terlindas dan terbentur yang disebabkan
oleh terjatuh dari ketinggian, kejatuhan barang dari atas atau barang roboh.
1. Kemungkinan jatuh dari ketinggian terjadinya lebih besar, kerusakan yang
ditimbulkannya lebih parah. Penyebab jatuh dari ketinggian umumnya adalah :
pekerja pada saat bekerja di tempat kerja memiliki kepercayaan dirinya
berpengalaman atau mencari jalan cepat, mulai bekerja tanpa mengenakan alat
pelindung apapun atau baju pelindung, sehingga begitu terjatuh tidak ada sabuk
pengaman atau jaring pengaman bisa mengakibatkan kematian. Selain kurangnya
pemahaman pekerja tentang keamanan, perlindungan tenaga kerja yang dilakukan
pemilik usaha sering tidak mencukupi, sebagai contoh bila bekerja di kerangka yang

tinggi, harus dipasang balok menyilang, disamping untuk menjaga kestabilan, selain
itu untuk memberikan topangan yang kuat bagi tenaga kerja; pada saat pekerja tidak
hati-hati terjatuh, ada satu lapisan pengaman, untuk mengurangi dampak yang terjadi.
Pemilik usaha tidak seharusnya mengabaikan hidup para pekerjanya demi untuk
mengejar keuntungan.
2. Penyebab kejatuhan benda dari atas seringkali karena kecerobohan pekerja;
seperti pada saat mengoperasikan mesin penderek, mesin penggali lubang atau mesin
pendorong, semestinya ada pagar pembatas di sekelilingnya, guna mencegah
masuknya pekerja, apabila tetap diperlukan pekerja lain untuk memberikan bantuan
operasional, maka di sampingnya perlu ada seorang mandor yang memberikan
komando dan pengawasan; selain pagar pembatas pekerja di area tersebut harus
memakai secara benar perlengkapan pelindung seperti helm, sarung tangan dan sepatu
pengaman dan lain-lain. Selain itu pada saat memindahkan barang berat, sebaiknya
menggunakan kekuatan mesin sebagai pengganti tenaga manusia, demi menghindari
terjadinya kecelakaan pada saat pemindahan.
3. Tertimpa barang yang roboh biasanya terjadi karena tidak adanya pagar
pembatas di area yang mudah runtuh, karena keruntuhan itu biasanya terjadi dalam
waktu sekejap tanpa peringatan terlebih dahulu, oleh karena itu dibuatkan demi
mengurangi resiko kecelakan terhadap pekerja yang memasuki area tersebut.
Benturan atau tabrakan biasanya terjadi dikarenakan kecerobohan pekerja, mesin
penggerak dan kendaraan yang digunakan berukuran sangat besar, pandangan petugas
operator tidak mudah mencapai luasnya batas area kerjanya sehingga terjadi benturan.
Jenis-jenis kecelakaan kerja akibat pekerjaan galian dapat berupa tertimbun
tanah, tersengat aliran listrik bawah tanah, terhirup gas beracun, dan lain-lain. Bahaya
tertimbun adalah risiko yang sangat tinggi, pekerja yang tertimbun tanah sampai

sebatas dada saja dapat berakibat kematian. Di samping itu, bahaya longsor dinding
galian dapat berlangsung sangat tiba-tiba, terutama apabila hujan terjadi pada malam
sebelum pekerjaan yang akan dilakukan pada pagi keesokan harinya. Data kecelakaan
kerja pada pekerjaan galian di Indonesia belum tersedia, namun sebagai
perbandingan, Hinze dan Bren (1997) mengestimasi jumlah kasus di Amerika Serikat
yang mencapai 100 kematian dan 7000 cacat tetap per tahun akibat tertimbun longsor
dinding galian serta kecelakaan-kecelakaan lainnya dalam pekerjaan galian.
Masalah keselamatan dan kesehatan kerja berdampak ekonomis yang cukup
signifikan. Setiap kecelakaan kerja dapat menimbulkan berbagai macam kerugian. Di
samping dapat mengakibatkan korban jiwa, biaya-biaya lainnya adalah biaya
pengobatan, kompensasi yang harus diberikan kepada pekerja, premi asuransi, dan
perbaikan fasilitas kerja. Terdapat biaya-biaya tidak langsung yang merupakan akibat
dari suatu kecelakaan kerja yaitu mencakup kerugian waktu kerja (pemberhentian
sementara), terganggunya kelancaran pekerjaan (penurunan produktivitas), pengaruh
psikologis yang negatif pada pekerja, memburuknya reputasi perusahaan, denda dari
pemerintah, serta kemungkinan berkurangnya kesempatan usaha (kehilangan
pelanggan pengguna jasa). Biaya-biaya tidak langsung ini sebenarnya jauh lebih besar
dari pada biaya langsung.
2.

Pedoman K3 Konstruksi
Pemerintah telah sejak lama mempertimbangkan masalah perlindungan tenaga
kerja, yaitu melalui UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja. Sesuai
dengan perkembangan jaman, pada tahun 2003, pemerintah mengeluarkan UU
13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang undang ini mencakup berbagai hal dalam
perlindungan pekerja yaitu upah, kesejahteraan, jaminan sosial tenaga kerja, dan
termasuk juga masalah keselamatan dan kesehatan kerja.

Aspek ketenagakerjaan dalam hal K3 pada bidang konstruksi, diatur melalui


Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.PER-01/MEN/1980 Tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan. Peraturan ini
mencakup ketentuan-ketentuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja secara
umum maupun pada tiap bagian konstruksi bangunan. Peraturan ini lebih ditujukan
untuk konstruksi bangunan, sedangkan untuk jenis konstruksi lainnya masih banyak
aspek yang belum tersentuh. Di samping itu, besarnya sanksi untuk pelanggaran
terhadap peraturan ini sangat minim yaitu senilai seratus ribu rupiah.
Sebagai tindak lanjut dikeluarkannya Peraturan Menakertrans tersebut,
pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama Menteri Pekerjaan Umum dan
Menteri

Tenaga

Kerja

No.Kep.174/MEN/1986-104/KPTS/1986:

Pedoman

Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi. Pedoman yang
selanjutnya disingkat sebagai Pedoman K3 Konstruksi ini merupakan pedoman
yang dapat dianggap sebagai standar K3 untuk konstruksi di Indonesia. Pedoman K3
Konstruksi ini cukup komprehensif, namun terkadang sulit dimengerti karena
menggunakan istilah-istilah yang tidak umum digunakan, serta tidak dilengkapi
dengan deskripsi/gambar yang memadai. Kekurangan-kekurangan tersebut tentunya
sangat menghambat penerapan pedoman di lapangan, serta dapat menimbulkan
perbedaan pendapat dan perselisihan di antara pihak pelaksana dan pihak pengawas
konstruksi.
Pedoman K3 Konstruksi selama hampir dua puluh tahun masih menjadi
pedoman yang berlaku. Baru pada tahun 2004, Departemen Permukiman dan
Prasarana Wilayah, yang kini dikenal sebagai Departemen Pekerjaan Umum, mulai
memperbarui pedoman ini, dengan dikeluarkannya KepMen Kimpraswil No.
384/KPTS/M/2004 Tentang Pedoman Teknis Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada

Tempat Kegiatan Konstruksi Bendungan. Pedoman Teknis K3 Bendungan yang


baru ini khusus ditujukan untuk proyek konstruksi bendungan, sedangkan untuk
jenis-jenis proyek konstruksi lainnya seperti jalan, jembatan, dan bagunan gedung,
belum dibuat pedoman yang lebih baru. Namun, apabila dilihat dari cakupan isinya,
Pedoman Teknis K3 untuk bendungan tersebut sebenarnya dapat digunakan pula
untuk jenis-jenis proyek konstruksi lainnya. Pedoman Teknis K3 Bendungan juga
mencakup daftar berbagai penyakit akibat kerja yang harus dilaporkan.
Bila dibandingkan dengan standar K3 untuk jasa konstruksi di Amerika
Serikat misalnya, (OSHA, 29 CFR Part 1926), Occupational Safety and Health
Administration (OSHA), sebuah badan khusus di bawah Departemen Tenaga Kerja
yang mengeluarkan pedoman K3 termasuk untuk bidang konstrusksi, memperbaharui
peraturan K3-nya secara berkala (setiap tahun). Peraturan atau pedoman teknis
tersebut juga sangat komprehensif dan mendetil. Hal lain yang dapat dicontoh adalah
penerbitan brosur-brosur penjelasan untuk menjawab secara spesifik berbagai isu
utama yang muncul dalam pelaksanaan pedoman teknis di lapangan.
Pedoman yang dibuat dengan tujuan untuk tercapainya keselamatan dan
kesehatan kerja, bukan hanya sekedar sebagai aturan, selayaknya secara terus menerus
disempurnakan dan mengakomodasi masukan-masukan dari pengalaman pelaku
konstruksi di lapangan. Dengan demikian, pelaku konstruksi akan secara sadar
mengikuti peraturan untuk tujuan keselamatan dan kesehatan kerjanya sendiri.
3. Pengawasan Dan Sistem Manajemen K3
Menurut UU Ketenagakerjaan, aspek pengawasan ketenagakerjaan termasuk
masalah K3 dilakukan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan yang harus memiliki
kompetensi dan independensi. Pegawai pengawas perlu merasa bebas dari pengaruh
berbagai pihak dalam mengambil keputusan. Di samping itu, unit kerja pengawasan

ketenagakerjaan baik pada pemerintah propinsi maupun pemerintah kabupaten/kota


wajib menyampaikan laporan pelaksanaan pengawasan kepada Menteri Tenaga Kerja.
Pegawai pengawasan ketenagakerjaan dalam melaksanakan tugasnya wajib
merahasiakan segala sesuatu yang menurut sifatnya patut dirahasiakan dan tidak
menyalah gunakan kewenangannya.
Pegawai pengawas ini sangat minim jumlahnya, pegawai pengawas K3 di
Departemen Tenaga Kerja pada tahun 2002 berjumlah 1.299 orang secara nasional,
yang terdiri dari 389 orang tenaga pengawas struktural dan 910 orang tenaga
pengawas fungsional. Para tenaga pengawas ini jumlahnya sangat minim bila
dibandingkan dengan lingkup tugasnya yaitu mengawasi 176.713 perusahaan yang
mencakup 91,65 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.
Pemerintah menyadari bahwa penerapan masalah K3 di perusahaan-perusahaan
tidak dapat diselesaikan dengan pengawasan saja. Perusahaan-perusahaan perlu
berpatisipasi aktif dalam penanganan masalah K3 dengan menyediakan rencana yang
baik, yang dikenal sebagai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau
SMK3. SMK3 ini merupakan tindakan nyata yang berkaitan dengan usaha yang
dilakukan oleh seluruh tingkat manajemen dalam suatu organisasi dan dalam
pelaksanaan pekerjaan, agar seluruh pekerja dapat terlatih dan termotivasi untuk
melaksanakan program K3 sekaligus bekerja dengan lebih produktif.
UU Ketenagakerjaan mewajibkan setiap perusahaan yang memiliki lebih dari
100 pekerja, atau kurang dari 100 pekerja tetapi dengan tempat kerja yang berisiko
tinggi

(termasuk

proyek

konstruksi),

menerapkannya di tempat kerja.

untuk

mengembangkan

SMK3

dan

SMK3 perlu dikembangkan sebagai bagian

dari sistem manajemen suatu

perusahaan secara keseluruhan. SMK3 mencakup hal-hal berikut: struktur organisasi,


perencanaan, pelaksanaan, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber daya yang
dibutuhkan

bagi

pengembangan

penerapan,

pencapaian,

pengkajian,

dan

pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian


resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman,
efisien, dan produktif.
Kementrian Tenaga Kerja juga menunjuk tenaga-tenaga inspektor/pengawas
untuk memeriksa perusahaan-perusahaan dalam menerapkan aturan mengenai SMK3.
Para tenaga pengawas perlu melalukan audit paling tidak satu kali dalam tiga tahun.
Perusahaan- perusahaan yang memenuhi kewajibannya akan diberikan sertifikat
tanda bukti. Tetapi peraturan ini kurang jelas dalam mendifinisikan sanksi bagi
perusahaan-perusahaan yang tidak memenuhi kewajibannya.
Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat mengenai masalah K3, yaitu salah satunya dengan memberikan apresiasi
kepada para pengusaha yang menerapkan prinsip-prinsip K3 dalam operasional
perusahaan yang berupa penghargaan tertulis serta diumumkan di media-media
massa, seperti yang dilakukan oleh Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, Departemen Tenaga Kerja bekerja sama dengan Majalah Warta
Ekonomi dan PT Dupont Indonesia. Untuk tahun 2005 silam, pemenang penghargaan
tersebut adalah PT. Total E&P Indonesia (kategori Industri Pertambangan, Minyak,
dan Gas), PT. Nestle Indonesia (kategori Industri Consumer Goods), dan PT. Amoco
Mitsui PTA Indonesia serta PT. Wijaya Karya (kategori Industri Lainnya). Keempat
pemenang ini disaring dari 125 finalis.

Melihat nama-nama perusahaan yang mendapatkan penghargaan, menunjukkan


bahwa sebagian pelaku usaha yang sangat menyadari masalah K3 adalah perusahaanperusahaan multinasional. Namun, yang menarik adalah bahwa terdapat satu
perusahaan kontraktor nasional (BUMN) yaitu PT. Wijaya Karya sudah berada pada
jajaran perusahaan-perusahaan yang memiliki komitmen tinggi terhadap masalah K3.
Memang terdapat pengaruh positif budaya K3 yang dirasakan oleh pelaku konstruksi
nasional, yang dibawa oleh perusahaan-perusahaan asing yang menerapkan prinsipprinsip K3 di proyek-proyek konstruksi, sehingga sedikit banyak memaksa perubahan
perilaku para tenaga kerja konstruksi.

4. Jaminan Sosial Tenaga Kerja


Penanganan masalah kecelakaan kerja juga didukung oleh adanya UU No.
3/1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Berdasarkan UU ini, jaminan sosial
tenaga kerja (jamsostek) adalah perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk
santunan uang sebagai pengganti sebagian penghasilan yang hilang atau berkurang
dan pelayanan sebagai akibat dari suatu peristiwa atau keadaan yang dialami oleh
tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, tua dan meninggal dunia.
Jamsostek kemudian diatur lebih lanjut melalui PP No. 14/1993 mengenai
penyelenggaraan jamsostek di Indonesia. Kemudian, PP ini diperjelas lagi dengan
Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. PER-05/MEN/1993, yang menunjuk PT.
ASTEK (sekarang menjadi PT. Jamsostek), sebagai sebuah badan (satu-satunya)
penyelenggara jamsostek secara nasional.
Sebagai penyelenggara asuransi jamsostek, PT. Jamsostek juga merupakan suatu
badan yang mencatat kasus-kasus kecelakaan kerja termasuk pada proyek-proyek
konstruksi melalui pelaporan klaim asusransi setiap kecelakaan kerja terjadi. Melalui

Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP-196/MEN/1999, berbagai aspek


penyelenggaraan program jamsostek diatur secara khusus untuk para tenaga kerja
harian lepas, borongan, dan perjanjian kerja waktu tertentu, pada sektor jasa
konstruksi. Karena pekerja sektor jasa konstruksi sebagian besar berstatus harian
lepas dan borongan, maka KepMen ini sangat membantu nasib mereka. Para
pengguna jasa wajib mengikutsertakan pekerja-pekerja lepas ini dalam dua jenis
program jamsostek yaitu jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian. Apabila
mereka bekerja lebih dari 3 bulan, pekerja lepas ini berhak untuk ikut serta dalam dua
program tambahan lainnya yaitu program jaminan hari tua dan jaminan pemeliharaan
kesehatan.
Khusus mengenai aspek kesehatan kerja diatur melalui Keppres No.22/1993.
Dalam Keppres ini, terdapat 31 jenis penyakit yang diakui untuk mungkin timbul
karena hubungan kerja. Setiap tenaga kerja yang menderita salah satu penyakit ini
berhak mendapat jaminan kecelakaan kerja baik pada saat masih dalam hubungan
kerja maupun setelah hubungan kerja berakhir (sampai maksimal 3 tahun). Pada
umumnya, penyakit-penyakit tersebut adalah sebagai akibat terkena bahan kimia yang
beracun yang berasal dari material konstruksi yang apabila terkena dalam waktu yang
cukup lama dapat mengakibatkan penyakit yang serius. Penyakit yang mungkin
timbul juga termasuk kelainan pendengaran akibat kebisingan kegiatan konstruksi,
serta kelainan otot, tulang dan persendian yang sering terjadi pada pekerja konstruksi
yang terlibat dalam proses pengangkutan material berbobot dan berulang, dan
penggunaan peralatan konstruksi yang kurang ergonomis.
Dengan demikian, perlindungan tenaga kerja dalam bentuk jamsostek secara
legal dapat dikatakan memadai. Namun, besarnya pembayaran jaminan tersebut
sering kali tidak memadai. Sebagai contoh, biaya-biaya transportasi dan perawatan di

rumah sakit akibat kecelakaan kerja yang sudah tidak sesuai lagi dengan tingginya
kenaikan harga yang terjadi pada saat ini.
B. Peran K3 Pada Pekerjaan Konstruksi
Pekerjaan konstruksi merupakan kompleksitas kerja yang melibatkan bahan
bangunan, peralatan, perlengkapan, teknologi dan tenaga kerja yang secara sendiriataupun
bersama-sama dapat menjadi sumber potensial terjadinya kecelakaan. Selain itu pekerjaan
konstruksi pada umumnya merupakan pekerjaan di lapangan terbuka yang mudah
terpengaruh oleh cuaca. Macam pekerjaan dapat berlangsung dibawah tanah, dalam
genangan air, pada tempat-tempat lembab ataupun gelap yang berpotensi terhadap
kesehatan kerja. Tenaga kerja merupakan sumber daya yang sangat penting. Oleh karena
itu perlu dilindungi. Apalagi bila tenaga kerja yang telah trampil atau yang mempunyai
keahlian mendapatkan kecelakaan yang akan berakibat terhadap waktu penyelesaian
pekerjaan dan pada akhirnya merugikan bagi kontraktor.
Oleh sebab itu dibuatlah suatu peraturan perundang-undangan yang mewajibkan
kontraktor untuk melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada proyek yang
menjadi tanggungjawabnya guna menjamin perlindungan tenaga kerja dari kecelakaan
dan gangguan kesehatan kerja. Pelaksana lapangan sebagai petugas kontraktor di
lapangan perlu mengetahui pokok-pokok kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada
pekerjaan konstruksi yang meliputi :
Peraturan Perundangan yang berlaku.
Peraturan dan perundangan yang berkaitan dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(K3) pada pekerjaan konstruksi adalah :
1. Bangsa Indonesia sebagai bangsa-bangsa didunia, telah turut serta pada
Konvensi Internasional tentang perlindungan terhadap tenaga kerja.

2. Pada tahun 1989 telah dikeluarkan Undang-undang No.14 tahun 1989 tentang
Kesehatan Tenaga Kerja. Yang sebelumnya pada tahun 1970 telah dikeluarkan
Undang-undang No.1 tentang Keselamatan Kerja.
3. Pada tahun 1980 Menteri Tenaga Kerja telah mengeluarkan Peraturan
No.01/MEN/1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi
Bangunan.
4. Pada tahun 1986 Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Tenaga Kerja
menerbitkan

Surat

Keputusan

bersama

No.174/MEN/1986

dan

104/KPTS/1986 tentang Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada


Tempat Pekerjaan Konstruksi.
Dengan adanya peraturan perundangan tersebut, maka telah lengkap dan
mantap landasan hukum untuk melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
pada pekerjaan konstruksi. Oleh karena itu menjadi kewajiban semua pihak yang
terlibat pada konstruksi antara lain pemberi kerja, pemborong, pengawas dan tenaga
kerja untuk melaksanakan peraturan dan perundangan tersebut.
Di Indonesia Peraturan Perundangan tentang Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3) telah memadai. Departemen Pekerjaan Umum bertanggung jawab
terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada Pekerjaan Konstruksi.
Dilingkungan Departemen Tenaga Kerja ada unit/petugas yang melakukan tugas
pengawasan / inspeksi yaitu para Inspektor Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
Dilingkungan Departemen Pekerjaan Umum terdapat unit/petugas yang melaksanakan
inspeksi / pengawasan, termasuk pengawasan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(K3). Dalam kontrak pekerjaan konstruksi tercantum klosul tentang kewajiban
kontraktor untuk melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Kontraktor

harus mempunyai petugas dalam bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) ang
disebut Petugas Kesehatan. Adapun tugas petugas kesehatan adalah :
Membuat perencanaan dan program pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3) di Proyek.
Melakukan penyuluhan dan pemberian informasi serta latihan tentang Kesehatan
dan Keselamatan Kerja (K3).
Mencatat data kecelakaan.
Mencegah terjadinya kecelakaan dan gangguan kecelakaan.
Organisasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
Adapun organisasi organisasi dalam K3 pada konstruksi, antara lain :
-

MENKIMSARWIL

INSPEKTOR

MENAKERTRANS

KONTRAKTOR

SK Bersama KONTRAK

Petugas Kesehatan

INSPEKTOR

Site

Peraturan Perundangan PROYEK

Manager Pelaksana Lapangan

Pelaksana Lapangan

Sebab-sebab serta cara pencegahan terjadinya kecelakaan.


Pekerjaan konstruksi tergolong pekerjaan yang mengandung atau mempunyai potensi
terjadinya

kecelakaan yang cukup besar. Kecelakaan pada pekerjaan konstruksi

bermacam-macam. Ada kecelakaan akibat terkena benda jatuh atau yang disebabkan
karena terpukul, benda tajam,

sengatan aliran listrik, tergelincir dll. Data statistik

kecelakaan pada pekerjaan konstruksi di Indonesia digambarkan sebagai berikut :


Kriteria Prosentase Sebab-sebab kecelakaan
30 % Pengangkutan dan lalu-lintas
29 % Kejatuhan benda

5 % Kebakaran
26 % Tergelincir, terpukul
10 % Jatuh dari ketinggian
Setiap kecelakaan tentu ada penyebabnya. Sebab-sebab terjadinya kecelakaan
digolongkan dalam dua kelompok yaitu yang disebabkan faktor manusia dan faktor
konstruksi (alat dan lingkungan).
1. Faktor Manusia
Bahaya kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh manusia itu sendiri (human
error). Antara lain karena kurangnya pengertian, kurang pengetahuan, kurang disiplin,
kondisi mental misalnya emosi, kejenuhan dll.
2. Faktor Konstruksi (Alat dan Lingkungan)
Bahaya kecelakaan kerja yang disebabkan oleh faktor konstruksi (alat dan
lingkungan) antara lain tidak adanya perencanaan K3, minimnya pengamanan,
penggunaan/pengoperasian alat tidak benar/tidak sesuai, konstruksi salah sehingga
roboh. Keadaan lingkungan yang kurang baik misalnya lapangan atau tempat kerja
licin, gelap, pengap, berdebu dll.
Cara pencegahan gangguan kesehatan tenaga kerja pada pekerjaan konstruksi.
Telah diuraikan sebelumnya bahwa penyebab terjadinya kecelakaan adalah karena
faktor manusia dan faktor konstruksi (alat dan lingkungan). Melihat kenyataan tersebut,
maka kunci pencegahan terjadinya kecelakaan adalah mendorong adanya ketertiban dan
disiplin kerja serta menjamin agar keadaan lapangan kerja (lingkungan) tertata dengan
baik, teratur dan bersih.
Pencegahan kecelakaan yang disebabkan oleh faktor manusia dapat ditempuh
berbagai upaya antara lain :

1. Kampaye dan penyuluhan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) secara berkala
untuk menumbuhkan kesadaran ber Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
2. Mengadakan latihan dan demontrasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi
para pekerja maupun staff kontraktor misalnya : latihan eveluasi bahaya
kebakaran, cara-cara P3K dsb.
3. Melakukan pengecekan secara teratur terhadap alat-alat Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3), peralatan P3K, alarm/sirine tanda kebakaran dsb.
4. Memasang poster dan tanda-tanda Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
ditempat strategis.
5. Memberikan sanksi bagi pekerja yang melanggar peraturan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) dan memberikan penghargaan bagi pekerja yang telah
patuh dan melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
6. Mengadakan pertemuan, dialog atau diskusi khusus tentang Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) bagi seluruh karyawan.
7. Penelitian bersifat teknis.
8. Penelitian medis.
9. Penelitian psikologis.
10. Standarisasi alat dan perlengkapan kerja.
11. Pengawasan bersifat umum dan khusus.
12. Asuransi kecelakaan.

BAB III
PENUTUP
Dari uraian mengenai berbagai aspek

Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada

penyelenggaraan konstruksi di Indonesia, dapat diambil kesimpulan bahwa bebagai


masalah dan tantangan yang timbul tersebut berakar dari rendahnya taraf kualitas hidup
sebagian besar masyarakat. Dari sekitar 4.5 juta pekerja konstruksi Indonesia, lebih dari
50% di antaranya hanya mengenyam pendidikan maksimal sampai dengan tingkat
Sekolah Dasar. Mereka adalah tenaga kerja lepas harian yang tidak meniti karir
ketrampilan di bidang konstruksi, namun sebagian besar adalah para tenaga kerja dengan
ketrampilan seadanya dan masuk ke dunia jasa konstruksi akibat dari keterbatasan pilihan
hidup.
Permaslahan K3 pada jasa konstruksi yang bertumpu pada tenaga kerja
berkarakteristik demikian, tentunya tidak dapat ditangani dengan cara-cara yang umum
dilakukan di negara maju. Langkah pertama perlu segera diambil adalah keteladanan
pihak Pemerintah yang mempunyai fungsi sebagai pembina dan juga the biggest owner.
Pihak pemilik proyek lah yang memiliki peran terbesar dalam usaha perubahan
paradigma K3 konstruksi.
Dalam

penyelenggaraan

proyek-proyek

konstruksi

yang

didanai

oleh

APBN/APBD/Pinjaman Luar Negeri, Pemerintah antara lain dapat mensyaratkan


penilaian sistem K3 sebagai salah satu aspek yang memiliki bobot yang besar dalam
proses evaluasi pemilihan penyedia jasa. Di samping itu, hal yang terpenting adalah
aspek sosialisasi dan pembinaan yang terus menerus kepada seluruh komponen
Masyarakat Jasa Konstruksi, karena tanpa program-program yang bersifat partisipatif,
keberhasilan penanganan masalah K3 konstruksi tidak mungkin tercapai.

DAFTAR PUSTAKA
Adrian Taufik, 2009. dkk Keselamatan Kerja Pada Pekerja Konstruksi Bangunan Di Pt.
Ultrajasa Yogyakarta
Anonim.http://vibizdaily.com/detail/nasional/2010/06/07/gapensi_kerjasama_k3_untuk_tenaga_kerj
a_konstruksi.
Materi Pelajaran Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Tenaga Kerja Asing - Bidang Konstruksi

Prashetya. 2010. Peran Ahli K3 Konstruksi. http:// prashetyaquality.com. Di akses tanggal 13


September 2010.
Ramli, Soehatman. 2003. Keselamatan Konstruksi. http://www.google.com/search/. Di
akses tanggal 11 September 2010.
Soebandono.

Peran

&

Fungsi

K3

Pada

Pekerjaan

Konstruksi.

http://www.google.com/search/. Di akses tanggal 11 September 2010.


TI

Humas.

2009.

Sektor

Konstruksi

Tertinggi

Dalam

admin@kulonprogokab.go.id. Di akses tanggal 13 September 2010.

Kecelakaan

Kerja.