Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS BLOK ELEKTIF

FAKTOR PREDISPOSISI DAN PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS PADA


LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI MULIA 3
CIRACAS

Disusun oleh:
Galuh Anidya Pratiwi
1102011111
Kelompok 3 Bidang Kepeminatan Geriatri
Tutor : dr. Zakiyah

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI


Tahun 2014-2015

Abstrak
Background: Osteoporosis is heteregeneous grup of heritable conditions in which there is a defect in bone
resorption by osteoclas. Therefor bone density is dependent on relative function of these two type of cells.
Osteoclasts are multinucleated cells of hematopoietic lineage that are critical for bone remodeling, osteoblasts
in contrast, are mesenchymal origin.
Case: mrs.
69 years who suspect osteoposis and live in the social nursing home
Discussion and Conclusions:. Predisposition factors have an important role for increase risk of osteoporosis.
In addition, supplements and hormone can help elderly to induce risk of osteoporosis. Elderly who had
predisposition factors of osteoporosis is better get supplements and hormone for prevention, with or without
screening/diagnose of osteoporosis previously.
Keywords : osteoporosis, prevention, predisposition factor, elderly

Pendahuluan
Osteoporosis adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan massa tulang secara
degenerative, sehingga bisa terjadi patah tulang/fraktur dengan hanya trauma yang minimal.
Penurunan massa tulang diakibatkan karena berkurangnya pembentukan dan atau
meningkatnya perusakan(destruksi) tulang.(darmojo, 2006)
Dengan pemeriksaan densitas mineral tulang dengan DXA dinyatakan dengan nilai T-skor
dan Z-skor. Menurut WHO, densitas mineral tulang dikatakan normal jika ditemukan nilai
T-skor >-1SD; osteopeni jika ditemukan T-skor berada diantara -1 dan -2.5 SD; dan
osteoporosis jika ditemukan nilai T-skor < 2.5. Z-skor adalah skor yang digunakan untuk
memperkirakan risiko fraktur di masa akan datang sehingga dapat diambil tindakan
pencegahan. Nilai Z-skor <-1 menunjukan

risiko terkena osteoporosis. Berkurangnya

densitas mineral tulang 1 SD maka akan meningkatkan kejadian patah tulang sebanyak dua
kali lipat.

Tulang adalah jaringan yang hidup dan bertumbuh. Untuk mempertahankan fungsi dan
stukturnya, tulang terus beregenerasi seperti mengalami pembongkaran, perbaikan dan
pergantian sel. Osteoblasts akan akan di sintesis dalam matrix tulang saat osteoklas
merebsorbsi bagian tulang yang perlu di perbaiki.(Tolar, 2004) Namun proses peremajaan
tulang(regenerasi) makin lama akan mengalami perlambatan dan kemunduran ketika usia
semakin tua.

Osteoporosis menurut penyebabnya di klasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu


1. Osteoporosis pascamenoupouse, banyak dialami oleh wanita pasca menoupouse dimana
terjadi penurunan hormone estrogen yang salah satu fungsinya berguna sebagai pengangkut
kalsium kedalam tulang.
2. Osteoporosis senilis, merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan
usia dan ketidak seimbangan antara kecepatan penghancuran tulang dan pembentukan tulang.
3. Osteoporosis sekunder, disebabkan oleh karena keadaan medis lainnya atau akibat efek
samping terapi. Biasanya di sebabkan oleh karena gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal
serta obat-obatan.
4. Osteoporosis juvenile idiopatik, penyebabnya masih belum di ketahui.(Junaidi, 2007)
Biasanya pada awal stadium osteoporosis tidak menimbulkan gejala ataupun keluhan, dan ini
dapat berlangsung sampai puluhan tahun. Perubahan bentuk tulang disertai nyeri sampai
dengan terjadinya fraktur timbul ketika kepadatan tulang sangat berkurang. Secara kasat mata
biasanya lansia dengan osteoporosis memberikan gambaran bungkuk dan tinggi badan
berkurang.(Tandra, 2009)
Prognosis buruk apabila pasien ditemukan atau didiagnosa osteoporosis setelah mengalami
patah tulang, oleh karena itu peting kiranya dilakukan screening test pada lansia yang
beresiko mengalami osteoporosis.
Disamping asupan supplement yang berguna sebagai penunjang mineral tulang dalam
mencegah ataupun sebagai terapi osteoporosis, faktor predisposisi juga berperan penting
dalam meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis . Jadi, berdasarkan hal tersebut, penulis
akan menjelaskan tentang ke efektivisan pemberian supplement kalsium, vitamin D, dan
estrogen dalam pencegahan osteoporosis dan hubungan faktor predisposisi dengan resiko
osteoporosis.

PRESENTASI KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. F

Usia

: 69 tahun

Pekerjaan

: Bekas pembantu rumah tangga dan pekerja bengkel

Pendidikan

: SD

Alamat

: Kp. tengah

Status

: Janda

Keluarga

: 4 Anak tiri

Agama

: Islam

Ruang

: Mawar 3 Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulya 3 Ciracas

No. Rekam Medis

: Tidak diketahui

Riwayat alergi

: Dermatitis alergi dan Asthma

Riwayat masuk

:-

Riwayat pemberian obat : Masuk Panti Tahun

: 29 Mei 2013

Pasien
Ny. F saat ini tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Mulya 3 Ciracas. Pasien
masuk ke PSTW ini pada tanggal 29 mei 2013. Setelah suaminya meninggal, beberapa
lama kemudian pasien dibaawa oleh RT setempat karena diarasa tak ada yang merawat.

Saat akan melakukan anamnesis, pasien tampak tidak bisa bangun dari tempat tidur,
keadaan ini sudah berlangsung 3 hari. Keluhan utama yang pasien rasakan adalah nyeri di
daerah tulang belakang, krepitasi(+). Pasien mengaku bungkuk setelah bekerja dengan
aktifitas berlebih di bengkel, disamping itu pasien mempunyai kebiasaan mengkonsumsi
kopi. Karena bungkuk dan susah berjalan, pasien mobilisasi dengan kursi roda. Sampai saat
ini pasien belum di berikan screening dan penatalaksanaan untuk osteoporosis. Riwayat
penyakit lainnya adalah inkontinensia, diabetes militus, dermatitis alergi dan astma. Pasien
mengaku jarang menghabiskan makanannya karena nafsu makan yang kurang, kebiasaan
buang air besar seminggu sekali dan sering buang air kecil saat malam hari.
Keseharian Ny. F adalah dengan melakukan kegiatan layaknya ibu rumah tangga di PSTW.
Sebelum menderita sakit di tulang belakangnya Ny. F selalu mengikuti kegiatan rutin yang
diadakan oleh PSTW. Namun sejak tulang belakangnya sakit, pasien tidak lagi melakukan
aktivitas dan hanya mau berbaring di kasur. Makanan yang sehari-hari dimakan oleh Ny. F
mengikuti apa yang disediakan oleh pihak panti, namun menu makanan tersebut tidak
memenuhi kebutuhan kalsium bagi lansia.
Ny. F terkadang mengeluh sulit untuk mendapatkan obat dari PSTW dan bertemu dokter.
Terkadang keluhannya juga tidak di tanggapi dengan baik
Pemeriksaan fisik
1.Keadaan umum : baik
Kesadaran

: compos mentis

2. Vital sign
- tekanan darah : 140/80 mmHg
- respires

: tidak diketahui

- nad

: tidak diketahui

- suhu

: tidak diketahui

3. Status gizi
- berat badan : 40 kg
- tinggi badan : 150 cm
- IMT

: 17.7 %

4. Status generalis
A. Kepala
- bentuk

: normocephal

- rambut

: hampir setengah dari luas permukaan dipenuhi uban dan jarang tumbuh

rambut
- mata

: hipermetropi

- telinga

: normal

- hidung

: normal, tidak terdapat deviasi septum

- tenggorokan : tidak terdapat deviasi trakea


- mulut

B. Leher

: normal, tidak terdapat laserasi maupun infeksi

: normal

C. Thorak
Inspeksi

: tidak dilakukan

Palpasi

: tidak dilakukan

Perkusi

: tidak dilakukan

Auskulitasi

: tidak dilakukan

D. Abdomen
Inspeksi

: tidak dilakukan

Palpasi

: tidak dilakukan

Perkusi

: tidak dilakukan

Auskultasi

: tidak dilakukan

Pemeriksaan penunjang
-

Riwayat keluarga
Pada riwayat penyakit keluarga, pasien mengaku tidak tahu menau dikarenakan ia telah
hidup di Jakarta sebatangkara semenjak mudanya.

DISKUSI
Proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki
diri/mengganti diri dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap jejas(termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang di derita adalah definisi
dari menua/aging.(Darmojo, 2006)
Semakin bertambahnya usia(penuaan), secara progresif manusia akan kehilangan daya tahan
dan menumpuk banyak distorsi metabolic dan stuktural yang disebut penyakit degenerative
yang pada saat akhir kehidupan akan menghadapi episode terminal yang dramatic seperti
stroke, infark miokard, koma asidotik, kanker, diabetes militus dsb.
Proses menua juga dilandasi oleh berbagai macam teori, salah satu diantaranya adalah teori
genetic clock. Menurut teori genetic clock menua telah terprogram secara genetic untuk
spesies-spesies tertentu, maksudnya spesies tertentu adalah bahwa tiap-tiap spesies makhluk
hidup memiliki rentan waktu kehidupan yang berbeda(sebagai contoh beda rata-rata umur
manusia dan kelinci).
Tulang terdiri atas sel dan matriks. Terdapat dua sel yang penting pada pembentukan tulang
yaitu osteoclas dan osteoblas. Osteoblas berperan pada pembentukan tulang dan sebaliknya
osteoklas pada proses resorpsi tulang. Matriks ekstra seluler terdiri atas dua komponen, yaitu
anorganik sekitar 30-40% dan matrik inorganik yaitu garam mineral sekitar 60-70 %. Matrik
inorganik yang terpenting adalah kolagen tipe 1 ( 90%), sedangakan komponen anorganik
terutama terdiri atas kalsium dan fosfat, disampinh magnesium, sitrat, khlorid dan karbonat.

Dalam pembentukan massa tulang tersebut tulang akan mengalami perubahan selama
kehidupan melalui tiga fase: Fase pertumbuhan, fase konsolodasi dan fase involusi. Pada fase
pertumbuhan sebanyak 90% dari massa tulang dan akan berakhir pada saat epifisi tertutup.

Sedangkan pada tahap konsolidasi yang terjadi setelah 10-15 tahun berikutnya. Saat
konsolidasi massa tulang bertambah dan mencapai puncak ( peak bone mass ) pada
pertengahan umur tiga puluhan. Serta terdapat dugaan bahwa pada fase involusi terjadi
penurunan massa tulang ( bone Loss ) selama 35-50 tahun.

Secara garis besar patofisiologi osteoporosis berawal dari adanya massa puncak tulang yang
rendah disertai adanya penurunan massa tulang. Massa puncak tulang yang rendah ini diduga
berkaitan dengan faktor genetik, sedangkan faktor yang menyebabkan penurunan massa
tulang adalah proses menua, menopause, obat obatan, berat badan, aktifitas fisik yang kurang
serta faktor genetik. Akibat massa puncak tulang yang rendah disertai adanya penurunan
massa tulang menyebabkan Densitas tulang menurun yang merupakan faktor resiko
terjadinya fraktur.

Meningkatknya resiko osteoporosis pada Ny. F dalam kasus ini juga berkaitan dengan
kebiasaannya mengkonsumsi kopi sejak dari muda, pasien mengaku Ia dapat menghabiskan
4-5 cangkir kopi hitam saat mudanya, namun kebiasaannya kini ia turunkan menjadi 1
cangkir perhari. Beberapa penelitian melaporkan bahwa konsumsi kafein dengan jumlah
besar berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya osteoporosis. Konsumsi kafein
sebanyak 300-400 mg perhari atau 4 cangkir kopi perhari dapat menyebabkan terjadinya
gangguan keseimbangan kalsium pada tulang; hal ini disebabkan sifat asam dari kafein yang
dapat menyebabkan terjadinya peningkatan resorpsi tulang sehingga lebih banyak kalsium
yang dikeluarkan dari urin dan feses. Namun disamping itu, penelitian lain melaporkan
bahwa konsumsi kafein yang tinggi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan
peningkatan kadar penanda remodeling tulang yang menunjukkan aktifitas remodeling
tulang.(Cooper, 1992). Hal ini berkaitan dengan penelitian lain yang mengatakan konsumsi
kafein sebanyak 300-400 mg per hari tidak akan menyebabkan terjadinya osteoporosis jika
diberikan asupan kalsium yang cukup.

Kejadian osteoporosis dapat terjadi pada setiap umur kehidupan. Penyebabnya adalah akibat
terjadinya penurunan bone turn over yang terjadi sepanjang kehidupan. Satu dari dua wanita
akan mengalami osteoporosis, sedangkan pada laki-laki hanya 1 kasus osteoporsis dari lebih

50 orang laki-laki. Dengan demikian insidensi osteoporosis pada wanita jauh lebih banyak
dari pada laki-laki. Hal ini di duga berhubungan dengan adanya fase masa menopause,
karena pada saat menopouse hormon estrogen berkurang. Stimulasi reseptor estrogen pada
tulang akan mengaktivasi aktivitas anabolik osteoblast dan menurunkan mengaktivasi
osteoclast dan menghalangi aktivitas resorbsi tulang. Reseptor estrogen tidak hanya dapat
mengikat estrogen, tetapi dapat juga mengikat modulator reseptor-estrogen selektif
(SERMs), yang mengaktivasi reseptor estrogen pada tulang. Hormon estrogen juga berperan
dalam pengaturan prostaglandin. Prostaglandin E2 (PGE2) merupakan stimulator yang kuat
terhadap proses resorpsi tuang dan pembentukan osteoclast

Pada kasus Ny. F, hubungan antara menopause dengan osteoporosisnya memang berkaitan,
beliau

mengaku

mengalami

gejala

bungkuk

setelah

sebelumnya

tidak

lagi

menstruasi(menopause). Ditambah lagi kegiatannya pasien saat pra menopause dan pasca
menopause sangat memerlukan aktivitas fisik berlebih(pekerja bengkel), seperti mengangkat
beban-beban yang berat. Hal ini mengakibatkan meningkatnya faktor prevalensi akan
osteoporosis.

Gambar 1. massa tulang pertahun

Adopted from http://www.kappabio.com

Pada Gambar menunjukan bahwa terjadi percepatan pertumbuhan tulang , yang mencapai
massa puncak tulang pada usia berkisar 20 30 tahun, kemudian terjadi perlambatan formasi
tulang dan dimulai resorpsi tulang yang lebih dominan. Keadan ini bertahan samapi seorang
wanita apabila mengalami menopause akan terjadi percepatan resorpsi tulang, sehingga
keadaan ini tulang menjadi sangat rapuh dan mudah terjadi fraktur.

Setelah usia 30 tahun, resorpsi tulang secara perlahan dimulai akhirnya akan lebih dominan
dibandingkan dengan pembentukan tulang. Kehilanga massa tulang menjadi cepat pada
beberapa tahun pertama setelah menopause dan akan menetap pada beberapa tahun kemudian
pada masa postmenopause. Proses ini terus berlangsung pada akhirnya secara perlahan tapi
pasti terjadi osteoporosis. Percepat osteoporosis tergantung dari hsil pembentukan tulang
sampai tercapainya massa tulang puncak.

Massa tulang puncak ini terjadi sepanjang awal kehidupan sampai dewasa muda. Selama ini,
tulang tidak hanya tumbuh tetapi juga menjdai solid. Pada usia rata rata 25 tahun tulang
mencapai pembentuk massa tulang puncak. Walaupun demikian massa puncak tulang ini
secara individual sangat bervariasi dan pada umumnya pada laki-laki lebih tinggi dibanding
pada wanita. Massa puncak tulang ini sangatlah penting, yang akan menjadi ukuran
seseorang menjadi risiko terjadinya fraktur pada kehidupannya. Apabila massa puncak tulang
ini rendah maka akan mudah terjadi fraktur kan saja, tetapi apabila tinggi makan akan
terlindung dari ancaman fraktur.

Faktor faktor yang menentukan tidak tercapainya massa tulang puncak sampai saai ini belum
dapat dimengerti sepenuhnya tetapi diduga terdapat beberapa faktor yang berperan, yaitu
genetik, asupan kalsium, aktifitas fisik, dan hormon seks. Untuk memelihara dan
mempertahan massa puncak tulang adalah dengan diet, aktifitas fisik, status reproduktif,
rokok, kelebiham konsumsi alkohol, dan beberapa obat.

Di dalam Tulang yang mengalami osteoporosis akan ditemukan struktur padat dan rongga
tulang berkurang. Penipisan dinding luar tulang lebih nyata dan keadaan ini meningkatkan
resiko fraktur. Hilangnya massa tulang juga tampak pada tulang berongga. Aktivitas

remodeling tulang ini melibatkan faktor sistemik dan faktor lokal. Faktor sistemik adalah
Hormonal hormonal yang berkainan dengan metabolisme Calsium, seperti Vitamin D,
Calcitonin, estrogen, androgen, growth hormon, dan hormon tiroid. Sedangkan faktor lokal
adalah Sitokin dan faktor pertumbuhan lain.

Dalam proses remodeling tulang atau bone turnover, intinya adalah terjadinya pergerakan ion
kalsium. Ion kalsium yang berada dalam osteoklas akan dilepaskan kemudian oleh osteoblas
akan digunakan sebagai bahan baku tulang di dalam osteocyte dan pada akhirnya berperan
dalam pembentukan tulang baru. Artinya metabolisme kalsium inilah yang mempunyai
peranan dominan dalam proses pembentukan tulang.
Asupan kalsium yang normal berkisar 1000 1500 mg / hari, dan akan diekskresikan juga
tidak jauh berbeda dengan asupan tersebut, melalui feses ( 800 mg ) dan urin (200 mg).
Dalam perjalanannya Kasium akan mempunyai peran penting dalam remodeling tulang, yaitu
sebanyak 300 500 mg dari intra seluler dan yang berasal dari kalsium ekstra seluler
sebanyak 900 mg. Jadi, dalam proses remodeling tulang Kalsium tersebut diperlukan kadar
antara 300- 500 mg. Jumlah yang akan ditambahkan dalam asupan kalsium dari luar, jadi
berkisar 1000 1500 mg, sehingga kalsium serum berada dalam keadaan homeostatis (
seimbang ). Penyerapan kalsium di dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa hormon tubuh
antara lain hormon paratiroid, kalsitonin, vitamin D dan estrogen. Penurunan penyerapan
kalsium oleh tubuh pada wanita pasca menopause disebabkan oleh penurunan kadar hormon
estrogen yang menyebabkan terjadinya penurunan kadar 1,25-dihydroxyvitamin D. Sehingga
pemberian suplementasi kalsium pada wanita pasca menopause sebaiknya diberikan bersama
hormon estrogen dan vitamin D.

Vitamin D terdiri dari 2 substansi, calcifediol (1,25-dihydroxyvitamin D) dan calcitriol


(1,25-trihydroxivitamin D). Efek kelebihan hormon paratiroid yang dimodulasi oleh IGF-1
dan CSF. Hormon Paratiroid ini dibutuhkan untuk mengubah calsifediol menjadi calsitriol
karena hormon ini merupakan stimulator utama pada aktifitas 1- hydroxylase di ginjal.
Perubahan calsifediol menjadi calsitriol berperan dalam proses maturasi osteoblast.

Pada wanita pasca menopause yang memperoleh terapi sulih hormon membutuhkan asupan
kalsium sebanyak 1000 mg per hari untuk mencegah terjadinya osteoporosis dan mencapai
kecukupan keseimbangan kalsium nol (zero calsium balance). Sedangkan pada wanita pasca
menopause yang tidak memperoleh terapi sulih hormon membutuhkan kalsium sebanyak
1500 mg.

Di PSTW pemberian kalsium, supplement dan hormone estrogen bagi wanita post
menopause bukanlah prioritas dan bukan kebutuhan primer para lansia, ini memperparah dan
tidak mencegah para lansia untuk mengalami osteoporosis. Diakui Ny. Fatima, pasien tidak
pernah di beri supplement ataupun susu selama tingggal di PSTW. Namun, disamping itu,
terdapat kegiatan-kegiatan olahraga ringan seperti senam lansia, kegiatan seperti baik untuk
mobilisasi pasien-pasien osteoporosis.

Dalam mempertahankan keseimbangan kalsium serum ini, dua hormon secara langsung
berhubungan dengan metabolisme Kalsium, yaitu hormon paratiroid dan calsitonin. Adanya
peningkatan asupan kalsium / kalsium darah makan akan merangsang calsitonin, upaya ini
untuk menekan proses resorpsi tulang, dan sebaliknya. Sedangkan dengan adanya kalsium
yang rendah maka hormon paratiroid akan meningkat sehingga proses remodeling tulang
tetap berjalan dalam keadaan seimbang. Apabila kalsium plasma meningkat maka akan
meningkatkan formasi tulang dan meningkatkan Calsitonin dari sel parafolikuler kelenjar
thyroid. Dengan adanya calsitonin, maka proses resopsi tulang ditekan. Dan sebaliknya
keadaan kalsium darah yang rendah akan meningkatkan sekresi hormon paratiroid dan akan
meningkatkan proses resopsi tulang serta peningkatan absorpsi kalsium di intestinal.
Mekanisme ini adalah upaya kalsium didalam darah tetap dalam keadaan stabil.

Jadi hormon paratiroid berperan dalam meningkatkan resorpsi kalsium, menurunkan resorpsi
fosfat di intestinal, dan meningkatkan sintesis vitamin D ( 1,25 (OH) 2 D di ginjal. Selain itu
hormon ini juga dapat meningkatkan aktifitas osteoclast yang menyebabkan proses resorpsi
tulang meningkat.

Diperlukan pemeriksaan penunjang untung memantau perkembangan ataupun kemajuan

terapi dan sebagai langkah awal menegakan diagnosa. Ini penting agar osteoporosis dapat
terdeteksi lebih cepat sebelum prognosis semakin buruk, seperti terjadi fraktur. DEXA
merupakan pemeriksaan penunjang untuk screening yang lebih sensitive dan spesifik
hasilnya. Sayangnya, PSTW tidak menyediakan pemeriksaan penunjang apapun, ini
mengakibatkan sulitnya mengetahui insiden osteoporosis stadium dini pada pasien-pasien di
PSTW. Pasien-pasien di PSTW di ketahui menderita osteoporosis setelah muncul gejala
patah tulang dan susah mobilisasi.

Gambar 2. Alur pemeriksaan screening osteoporosis.

Peran vitamin D dalam mekanisme burn turn-over tulang melalui peningkatan absorpsi
kalsium dan fosfat di intestinal. Melalui mekanisme ini maka vitamin D berperan dalam
menyediakan cadangan kadar kalsium dan fosfat untuk proses mineralisasi tulang sehingga
mempertinggi resorpsi tulang. Secara pathofisiologi, viatmin D mempunyai peran penting
pada kelainan tulang. Dalam mempertahankan intergritas mekanisme dan struktur tulang
diperlukan proses remodelling tulang yang konstan, yaitu respon terhadap keadaan baik
fisiologis maupun patologis yang terjadi selama kehidupan. Adanya kebutuhan asupan
kalsium dan vitamin D yang meningkat terutama dengan bertambahnya umur, dengan
sendirinya akan meningkatkan proses remodelling.

Lalu adab seorang dokter muslim untuk merawat orang yang berusia lanjut dijelaskan dalam
Al-Quran sebagai berikut.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. (QS. Al-Israa`
[17]: 23)

Bahkan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, disebutkan
bahwa berbakti kepada kedua orangtua termasuk amaliah yang paling dicintai Allah swt..
Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud ra., dia berkata: Aku pernah bertanya kepada
Rasulullah saw.: Amaliah apa yang paling dicintai Allah? Rasulullah menjawab: Shalat
pada waktunya. Lalu apa lagi?, tanyaku. Beliau menjawab: Berbakti kepada kedua
orangtua. Lalu apa lagi?, tanyaku. Beliau menjawab: Jihad fii sabilillaah (di jalan
Allah).

Salah satu cara berbakti kepada kedua orangtua adalah dengan mendoakannya, yaitu
mendoakan agar mereka diampuni dosa-dosanya dan dirahmati oleh Allah swt., seperti
diperintahkan dalam firman Allah:

Dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua
telah mendidikku (di) waktu kecil. (QS. Al-`Israa` [17]: 25)

Doa untuk kedua orangtua yang merupakan upaya untuk berbakti kepada keduanya itu tidak
hanya harus dilakukan saat mereka masih hidup, tetapi juga ketika mereka sudah meninggal
dunia, seperti disabdakan oleh Baginda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang berbunyi:
Diriwayatkan dari Abu `Usaid Malik bin Rabiah as-Saidi ra., bahwa dia berkata: Ketika
kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba seorang lelaki dari Bani Salamah
mendatangi beliau, kemudian dia bertanya: Wahai Rasulullah, masih adakah (kewajiban)
berbakti kepada ibu-bapakku setelah keduanya meninggal? Rasulullah menjawab: Ya,
(masih ada), (yaitu) menshalatkan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya,
melaksanakan janji mereka berdua setelah keduanya (wafat), menjalin hubungan silaturahim
(kekerabatan) yang tidak akan tersambung kecuali melalui keduanya, dan menghormati
teman keduanya. (HR. Abu Dawud, 4/336 (5142)

Hanya saja, perlu digarisbawahi bahwa hal itu boleh dilakukan bila kedua orangtua kita
beragama Islam. Tetapi bila ternyata keduanya (atau salah satunya) tidak beragama Islam,
maka kita dilarang untuk memohonkan ampunan untuknya. Hal ini didasarkan pada firman
Allah swt.:

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada
Alloh swt) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum
kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni
neraka Jahannam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Alloh swt) untuk bapaknya,
tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka
ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Alloh, maka Ibrahim berlepas
diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi
penyantun. (QS At-Taubah :113-114)

KESIMPULAN
Osteoporosis merupakan kasus yang sangat sering terjadi pada lansia terutama wanita
pre dan post menopause. manusia secara progresif akan kehilangan daya tahan terhadap
infeksi dan akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural yang disebut
sebagai penyakit degeneratif (seperti hipertensi, aterosklerosis, diabetes mellitus dan
kanker) . Gejala awal osteoporosis adalah penurunan tinggi badan dan kebungkukan, jika
pada stadium lanjut osteoporosis bisa berakibat fraktur dengan trauma minimal yang dapat
mengganggu mobilisasi . Dalam kasus Ny. Fatima, faktor predisposisi berupa kebiasaan
mengkonsumsi kafein, aktifitas fisik yang berat, dan menopouse berpengaruh terhadap
perjalan penyakit osteoporosis. Perlu pemeriksaan screening untuk mencegah progresifitas
osteoporosis dan penanganan segera sebelum berakibat fraktur. Supplements(kalsium),
vitamin D, dan Estrogen(untuk wanita pra/post menopause) sebaiknya segera di berikan
sebagai terapi atau pencegahan osteoporosis pada lansia yang mempunya faktor predisposisi,
dengan atau tanpa tes screening atau diagnosa sebelumnya.
Saran saran penulis kepada pasien sehubungan dengan pembahasan tersebut diatas :
1. Pasien sebaiknya mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan penyakitnya dan apa saja
komplikasi yang dapat terjadi. Namun karena pasien sudah lansia dan mesti di maklumi,
maka diperlukan tenaga medis yang kompeten untuk merawat pasien.
2. Pasien harus mengontrol asupan nutrisinya seperti menghilangkan kebiasaan buruknya
mengkonsumsi kopi tiap sore dan tidak menghabiskan makanannya.
3. Pasien harus tetap bersemangat melakukan aktivitas yang diadakan oleh PSTW.
Saran saran penulis untuk PSTW sehubungan dengan kasus tersebut diatas adalah :
1. Osteoporosis merupakan penyakit banyak diderita para lansia sehingga PSTW perlu
perhatian yang cukup terhadap penyakit tersebut.
2. PSTW perlu melakukan pemeriksaan yang rutin terhadap semua WBS di PSTW Budi Muya
3 dengan secara pro-aktif menggandeng semua instansi kesehatan baik pemerintahan maupun
institusi pendidikan.

3. PSTW sebaiknya juga memprioritaskan pemberian supplement seperti multivitamin dan


mineral bagi para lansia
4. Pemberian susu bagi lansia seharusnya menjadi menu wajib setiap waktu makan
5. PSTW sebaiknya menyediakan kantin sendiri agar para lansia tidak berkeluyuran pergi
keluar untuk mencari jajanan
6.

Perlu adanya penambahan tenaga medis terutama perawat yang terampil.

7.

Melakukan screening terhadap berbagai penyakit agar pegawai PSTW tahu bagaimana
penanganan berbagai penyakit di PSTW.

8. Mengirimkan pegawai-pegawai terutama perawat ke pelatihan atau seminar agar perawat


lebih terampil dalam menangani pasien
9. Perlu pengadaan dokter jaga di PSTW agar penanganan pasien lebih optimal
10. Perlu mempunyai laboratorium lengkap beserta pemeriksaan penunjang yang kompeten

ACKNOWLEDGEMENT
Penulis ingin berterimakasih kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, Panti
Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 Ciracas yang telah memberikan kesempatan untuk
berkunjung dan pengumpulkan data. Kepada Ibu Eti selaku Kepala PSTW yang sudah
menyediakan waktunya untuk memberi pengarahan dengan sebaik. Kepada Ny. Fatima yang
telah bersedia untuk di ambil data rekam medisnya dan bersedia di anamnesis secara terbuka
dan lugas. Kepada dr. Zakiyah yang telah memberikan bimbingan dengan sabar sehingga
terselesaikannya laporan kasus ini. Kepada dr.Faisal Sp.PD, dr. Hj. Susilowati, Mkes dan
DR. Drh.Hj Titiek Djannatun. Dan tak lupa kepada teman-teman kelompok 3 kepeminatan
geriatri yang atas kerjasama dan kekompakannya kami dapat melalui kunjungan lapangan di
PSTW dengan baik.

Daftar Pustaka
1. AL QURAN dan terjemahannya, surat Al-Isra ayat 23. Surat Al-Isra ayat 25. Surat AtTaubah ayat 113-114.
2. Bauer Douglas C. 2014. Calcium Supplements and Fracture Prevention. The New England
Journal of Medecine. 369:1537-43.
3. Cooper C, Campion G, Melton LJ et al. 1992. Hip fractures in the elderly. A Worlwide
Projection. 2:285-289.
4. Darmojo Boedhi, Hadi .S. 2006. Buku Ajar Geriatri(ilmu kesehatan usia lanjut). Ed 3.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Indonesia
5. Junaidi, Iskandar. 2007. Osteoporosis. Jakarta : PT Buana Ilmu Populer
6. Kosnayani, A. S. 2007. Hubungan Asupan Kalsium, Aktivitas Fisik, Paritas, Indeks Massa
Tubuh dan Kepadatan Tulang Pada Wanita Pascamenopause. Tesis FKM-UNDIP.
http://www.undip.ac.id
7. Nissl. 2004. Dual Energy X-ray Absorptiometry (DEXA)op. Word Wide Web.
http://health.webmd.com/hw/health-guide_atoz/zm6058.asp
8. Permana Hikmat. Patogenesis dan Metabolisme Osteoporosis pada Manula. Bandung:
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran.
9. Raisz Lawrence G. 2006. Screening for osteoporosis. The New England Journal of
Medecine. 353:164-71
10. Tandra, Hans. 2009. Osteoporosis. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Medika
11. Tolar Jakub, Teitelbaum, Orchard. 2004. Mechanism of Disease Osteoporosis. The New
England Journal of Medicine. 351:2839-49