Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

MANAJEMEN RESIKO K3 PADA INDUSTRI


PERTAMBANGAN

Disusun Oleh :
Eko Sefriyanto Adhi

5301412019

Abdullah Labib

5301412008

Wahyu Imam Buhori

5301412019

Iffan Aulia

5301412072

Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Rombel : 02

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2014
i

PRAKATA

Atas ridha Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada
kami sehingga mendapat kemampuan untuk menyelesaikan tugas makalah mata kuliah
Kesehatan dan Keselamatan Kerja dengan tema Manajemen Resiko K3 pada Industri
Pertambangan.
Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan dan
Keselamatan Kerja yang diampu oleh Bapak Eko Supraptono. Dalam menyusun makalah
ini,kami telah mendapat bantuan dan bimbingan dari banyak pihak. Oleh karena itu, kami
mengucapkan terima kasih kepadaBapak Eko Supraptono selaku pengampu mata kuliah
Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang telah membimbing dan juga berterima kasih
kepada teman-teman yang sudah memberi dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami sabagai penyusun menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak
kesalahan. Oleh karena itu, kami mohon kritik dan saran agar menjadi lebih baik dalam
menyusun makalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
penyusun dan pembaca pada umumnya.

Semarang , 24November 2014

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

PRAKATA ....................................................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................................................... iii
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 1
A.

Latar Belakang Masalah.................................................................................................................... 1

B.

Rumusan Masalah ............................................................................................................................. 3

C.

Tujuan Penulisan ............................................................................................................................... 3

BAB II........................................................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 4
A.

Pengertian Manajemen Resiko dalam Industri Pertambangan.......................................................... 4

B.

Jenis Resiko pada Perusahaan Pertambangan .................................................................................. 4

C.

Cara / Metode Pengelolaan Resiko Pada Perusahaan Pertambangan ............................................... 5

D.

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di industri Pertambangan ........................................... 6

E.

Manfaat Manajemen Resiko Pada Perusahaan Pertambangan.......................................................... 9

F.

Kecelakaan Tambang ........................................................................................................................ 9

G.

Faktor Kecelakaan Kerja pada Perusahaan Pertambangan ............................................................. 10

H.

Teknik Pencegahan Ledakan .......................................................................................................... 12

BAB III ....................................................................................................................................................... 13


PENUTUP .................................................................................................................................................. 13
A.

Simpulan ......................................................................................................................................... 13

B.

Saran ............................................................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 15

iii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pertambangan memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan nasional.
Pertambangan memberikan peran yang sangat signifikan dalam perekonomian nasional, baik
dalam sektor fiscal, moneter, maupun sektor riil. Peran pertambangan terlihat jelas dimana
pertambangan menjadi salah satu sumber penerimaan negara; berkontribusi dalam
pembangaunan daerah, baik dalam bentuk dana bagi hasil maupun program community
development atau coorporate social responsibility; memberikan nilai surplus dalam neraca
perdagangan; meningkatkan investasi; memberikan efek berantai yang positif terhadap
ketenagakerjaan; menjadi salah satu faktor dominan dalam menentukan Indeks Harga Saham
Gabungan; dan menjadi salah satu sumber energy dan bahan baku domestik.
Salah satu karakteristik industri pertambangan adalah padat modal, padat teknologi dan
memiliki Resiko yang besar. Oleh karena itu, dalam rangka menjamin kelancaran operasi,
menghindari terjadinya kecelakaan kerja, kejadian berbahaya dan penyakit akibat kerja maka
diperlukan implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada kegiatan
pertambangan.
Terjadinya kecelakaan kerja tentu saja menjadikan masalah yang besar bagi
kelangsungan suatu usaha. Kerugian yang diderita tidak hanya berupa kerugian materi yang
cukup besar namun lebih dari itu adalah timbulnya korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya.
Kehilangan sumber daya manusia ini merupakan kerugian yang sangat besar karena manusia
adalah satu-satunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apapun.
Melalui peraturan yang jelas dan sanksi yang tegas, perlindungan K3 dapat ditegakkan,
untuk itu diperlukan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang K3. Bahkan
ditingkat internasionalpun telah disepakati adanya konvensi-konvensi yang mengatur tentang
K3 secara universal sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik yang
dikeluarkan oleh organisasi dunia seperti ILO, WHO, maupun tingkat regional.

Dengan melaksanakan K3 akan terwujud perlindungan terhadap tenaga kerja dari Resiko
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat terjadi pada waktu melakukan
pekerjaan di tempat kerja. Dengan dilaksanakannya perlindungan K3, diharapkan akan
tercipta tempat kerja yang aman, nyaman, sehat dan tenaga kerja yang produktif, sehingga
akan meningkatkan produktivitas kerja dan produktivitas perusahaan. Dengan demikian K3
sangat besar peranannya dalam upaya meningkatkan produktivitas perusahaan, terutama
dapat mencegah korban manusia..
Dengan demikian untuk mewujudkan K3 diperusahaan perlu dilaksanakan dengan
perencanaan dan pertimbangan yang tepat, dan salah satu kunci keberhasilannya terletak
pada peran serta pekerja sendiri baik sebagai subyek maupun obyek perlindungan dimaksud
dengan memperhatikan banyaknya Resiko yang diperoleh perusahaan, mulai diterapkan
manajemen Resiko, sebagai inti dan cikal bakal SMK3. Penerapan ini sudah mulai
menerapkan pola preventif terhadap kecelakaan kerja yang akan terjadi.
Manajemen Resiko menuntut tidak hanya keterlibatan pihak manajemen tetapi juga
komitmen manajemen dan seluruh pihak yang terkait. Pada konsep ini, bahaya sebagai
sumber kecelakaan kerja harus harus teridentifikasi, kemudian diadakan perhitungan dan
prioritas terhadap Resiko dari bahaya tersebut dan terakhir adalah pengontrolan Resiko.
Ditahap pengontrolan Resiko, peran manajemen sangat penting karena pengontrolan
Resiko membutuhkan ketersediaan semua sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan,
karena pihak manajemen yang sanggup memenuhi ketersediaan ini. Semua konsep-konsep
utama tersebut semakin menyadarkan akan pentingnya kebutuhan pengelolaan K3 dalam
bentuk manajemen yang sistematis dan mendasar agar dapat terintegrasi dengan manajemen
perusahaan yang lain. Integrasi ini diawali dengan kebijakan dari perusahaan untuk
mengelola K3 menerapkan suatu Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3).

B. Rumusan Masalah
Pembahasan dalam makalah ini bertujuan agar tidak melenceng dari sub pembahasan yang
ada, maka pemakalah merumuskan masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini,
antara lain yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan manajemen resiko K3 pertambangan ?
2. Apa jenis Resiko yang ada di perusahaan pertambagan ?
3. Bagaimana teknik cara/metode pengelolaan resiko pada perusahaan pertambangan ?
4. Apa saja manfaat manajemen resiko pada perusahaan pertambangan?
5. Apa saja jenis kecelakaan kerja pada perusahaan pertambangan ?
6. Apa saja faktor yang menjadi penyebab kecelakaan kerja pada perusahaan tambang ?
7. Bagaimana teknik pencegahan ledakan yang ada pada perusahaan pertambangan ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa mampu menjelaskan serta menjabarkan pengertian manajemen resiko k3 pada
perusahaan pertambangan.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan serta menjabarkan jenis resiko yang teradi paa
perusahaan pertambangan.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan serta menjabarkan tentang cara pengolahan resiko pada

perusahaan tambang.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan serta menjabarkan tentang manfaat manajemen K3 pada

perusahaan pertambangan.
5. Mahasiswa mampu menjelaskan serta menjabarkan jenis kecelakaan kerja yang terjadi

pada perusahaan pertambangan.


6. Mahasiswa mampu menjelaskan serta menjabarkan tentang factor yang menyebabkan

teradinya kecelakaan kerja pada perusahaan pertambangan.


7. Mahasiswa mampu menjelaskan serta menjabarkan tentang cara pencegahan ledakan

yang ada pada perusahaan pertambangan.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Manajemen Resiko Pertambangan
Manajemen Resiko Pertambangan adalah suatu proses interaksi yang digunakan oleh
perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi,mengevaluasi,dan menanggulangi bahaya
di tempat kerja guna mengurangi Resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun
longsoran tanah, gas beracun, suhu yang ekstrem,dll.Jadi, manajemen Resiko merupakan
suatu alat yang bila digunakan secara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang
aman,bebas dari ancaman bahaya di tempat kerja.
B. Jenis Resiko pada Perusahaan pertambangan
Adapun jenisResiko yang sering dijumpai pada Perusahaan Pertambangan adalah sebagai
berikut :
1. Ledakan
Ledakan dapat menimbulkan tekanan udara yang sangat tinggi disertai dengan nyala
api. Setelah itu akan diikuti dengan kepulan asap yang berwarna hitam. Ledakan
merambat pada lobang turbulensi udara akan semakin dahsyat dan dapat
menimbulkan kerusakan yang fatal.
2. Longsor
Longsor di pertambangan biasanya berasal dari gempa bumi, ledakan yang terjadi di
dalam tambang,serta kondisi tanah yang rentan mengalami longsor. Hal ini bisa juga
disebabkan oleh tidak adanya pengaturan pembuatan terowongan untuk tambang.
3. Kebakaran
Bila akumulasi gas-gas yang tertahan dalam terowongan tambang bawah tanah
mengalami suatu getaran hebat, yang diakibatkan oleh berbagai hal, seperti gerakan
roda-roda mesin, tiupan angin dari kompresor dan sejenisnya, sehingga gas itu
terangkat ke udara (beterbangan) dan kemudian membentuk awan gas dalam kondisi
batas ledak (explosive limit) dan ketika itu ada sulutan api, maka akan terjadi ledakan
yang diiringi oleh kebakaran.
4

C. Cara / Metode Pengelolaan Resiko Pada Perusahaan Pertambangan


Pengelolaan Resiko menempati peran penting dalam organisasi kami karena fungsi ini
mendorong budaya Resiko yang disiplin dan menciptakan transparansi dengan menyediakan
dasar manajemen yang baik untuk menetapkan profil Resiko yang sesuai. Manajemen Resiko
bersifat instrumental dalam memastikan pendekatan yang bijaksana dan cerdas terhadap
pengambilan Resiko yang dengan demikian akan menyeimbangkan Resiko dan hasil serta
mengoptimalkan alokasi modal di seluruh korporat. Selain itu, melalui budaya manajemen
Resiko proaktif dan penggunaan sarana kuantitatif dan kualitatif yang modern, kami
berupaya meminimalkan potensi terhadap kemungkinan Resiko yang tidak diharapkan dalam
operasional.
Pengelolaan K3 pertambangan dilakukan secara menyeluruh baik oleh pemerintah
maupun oleh perusahaan. Pengelolaan tersebut didasarkan pada peraturan sebagai berikut:
1. UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
2. UU No.32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah
3. UU No. 27 tahun 2003 tentang Panas bumi
4. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
5. UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
6. PP No. 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi
7. PP No.38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemprov dan Pemkab/Kota
8. PP No.19 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan K3 di Bidang Pertambangan
9. Permen No.06.P Tahun 1991 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kerja atas Instalasi,
Peralatan dan Teknik Migas dan Panas Bumi
10. Permen No.02 P. Tahun 1990 tentang Keselamatan Kerja Panas Bumi
11. Kepmen No.555.K Tahun 1995 tentang K3 Pertambangan Umum
12. Kepmen.No.2555.K Tahun 1993 tentang PIT Pertambangan Umum.
Pengendalian Resiko diperlukan untuk mengamankan pekerja dari bahaya yang ada di
tempat kerja sesuai dengan persyaratan kerja Peran penilaian Resiko dalam kegiatan
pengelolaan diterima dengan baik di banyak industri.Pendekatan ini ditandai dengan empat
tahap proses pengelolaan Resiko manajemen Resiko adalah sebagai berikut :

1. Identifikasi Resiko adalah mengidentifikasi bahaya dan situasi yang berpotensi


menimbulkan bahaya atau kerugian (kadang-kadang disebut kejadian yang tidak
diinginkan).
2. Analisis Resiko adalah menganalisis besarnya Resiko yang mungkin timbul dari
peristiwa yang tidak diinginkan.
3. Pengendalian Resiko ialah memutuskan langkah yang tepat untuk mengurangi atau
mengendalikan Resiko yang tidak dapat diterima.
4. Menerapkan dan memelihara kontrol tindakan adalah menerapkan kontrol dan
memastikan mereka efektif.
Manajemen Resiko pertambangan dimulai dengan melaksanakan identifikasi bahaya
untuk mengetahui faktor dan potensi bahaya yang ada yang hasilnya nanti sebagai bahan
untuk dianalisa, pelaksanaan identifikasi bahaya dimulai dengan membuat Standart
Operational Procedure (SOP). Kemudian sebagai langkah analisa dilakukanlah observasi dan
inspeksi. Setelah dianalisa,tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah evaluasi Resiko
untuk menilai seberapa besar tingkat Resikonya yang selanjutnya untuk dilakukan kontrol
atau pengendalian Resiko. Kegiatan pengendalian Resiko ini ditandai dengan menyediakan
alat deteksi, penyediaan APD, pemasangan rambu-rambu dan penunjukan personel yang
bertanggung jawab sebagai pengawas. Setelah dilakukan pengendalian Resiko untuk
tindakan pengawasan adalah dengan melakukan monitoring dan peninjauan ulang bahaya
atau Resiko.
D. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di industri Pertambangan
Program keselamatan kerja yang baik adalah program yang didasarkan pada prinsip close
the loop atau prinsip penindaklanjutan hingga tuntas. Secanggih apapun program yang
ditawarkan, jikalau berhenti di tengah jalan dan tidak diikuti dengan tindak lanjut yang
nyata tentu tidak memiliki arti. Baik Internationa Loss Control Institute (ILCI) maupun
National Occupational Safety Association (NOSA) menyebutkan bahwa sistem
keselamatan kerja yang efektif harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Identifikasi Bahaya (Identification Hazzard) Adalah tidak sama bahaya di
lingkungan kerja satu dengan yang lain. Untuk program yang umum dijumpai di
industri pertambangan dalam kaitannya dengan prinsip ini antara lain :
6

a. Program pengenalan dan peduli bahaya (Hazzard Recognition and


awareness Program)
b. Program komunikasi bahaya dan inventori bahan kimia ( Hazard
Communication and Chemical Inventory Program)
c. Program Pemantauan Higiena Perusahaan - Program Percontoh (Sampling
Program)
d. STOP Program
e. Program Penilaian Resiko (Risk Assesment Program)
f. Program Inspeksi Keselamatan Kerja (Safety Inspection Program)
g. Audit Dasar Pihak Ketiga (Third Party Baseline Audit)
2. Menyusun Standart Kinerja Dan Sistem Pengukuran (Set Standart of Performance
and Measurement)
Di dalam langkah ini dipandang sangat penting untuk menmbuat standart,
prosedur atau kebijakan yang berkaitan dengan potensi bahaya yang telah
diketahui. Dalam penyusunan prosedur ini sebaiknya melibatkan semua tingkatan
managemen dan pelaksana di lapangan.
a. Program Penyusunan Kebijakan, Standart Kerja, Prosedur dengan tolok
ukur standart institusi international, pemerintah dan pabrik.
b. Program Review Prosedur Kritis (Critical Prosedur Review)
c. Program Inspeksi Keselamatan Kerja (Safety Inspection Program)
d. Program Pertanggunggugatan Keselamatan Kerja (Safety Accountability
Program)
e. Program Pertemuan Keselamatan Kerja (Safety Meeting Program)
3. Menyusun Standart Pertangunggugatan (Set Standard of Accountability)
Langkah ini adalah untuk menetapkan sistem pertanggunggugatan untuk masingmasing tingkatan manajemen. Program yang sering dijumpai berkaitan dengan
langkah ini adalah :
a. Program Standarisasi Penugasan (Assignment Standardization Program )
b. Program Standarisasi Pertanggunggugatan (Accountability Standardisation
Program)
c. Program Evaluasi Diskripsi Kerja (Job Description Evaluation Program)
7

d. Program KRA-KPI
4. Mengukur Kinerja Terhadap Standar yang Ditentukan (Measure Performance
against Standard)
Langkah ini untuk mengetahui seberapa tinggi kinerja yang dipakai terhadap
standar yang ada. Beberapa program yang telah sangat dikenal dalam langkah ini
adalah :
a. Audit keselamatan kerja Internal dan Eksternal (Internal & External Safety
Audit)
b. Inspeksi Keselamatan Kerja (Safety Inspection Program)
c. Program Analisa Kecelakaan (Accident Investigation Program)
d. NOSA Five Starrs Grading Audit
e. Housekeeping Evaluation
5. Mengevaluasi Hasil yang dicapai (Evaluate Outcome)
Termasuk dalam langkah ini adalah mengevaluasi adanya penyimpangan dari
peraturan perundangan dan standar internasional yang berlaku. Contoh program
dalam langkah ini antara lain:
a. Program statistik kecelakaan (Safety Statistic Program)
b. Program Pelaporan ke Pemerintah (Government Reporting )
c. Program Analisa Kecelakaan (accident Analysis Program)
d. Evaluasi Kesehatan Karyawan (Medical Evaluation)
e. Program Perlindungan Pendengaran dan Pernafasan
f. Audit Follow up
6. Melakukan Koreksi Terhadap Penyimpangan yang Ada (Correct Deviations and
Deficiencies )
Salah satu contoh yang amat dikenal dalam langkah ini adalah :
a. Program Penghargaan Safety (Safety Recognition Program)
b. Program Koreksi Tuntas (Correction Close The Loop Program)
c. Program Pertemuan Kepala Teknik Tambang (Technical Manager
Meeting)

E. Manfaat Manajemen Resiko Pada Perusahaan Pertambangan


Secara umum manfaat Manajemen Resiko pada perusahaan pertambangan adalah sebagai
berikut :
1. Menimalkan kerugian yang lebih besar
2. Meningkatkan kepercayaan pelanggan dan pemerintah kepada perusahaan
3. Meningkatkan kepercayaan karyawan kepada perusahaan
F. Kecelakaan Tambang
1. Pengertian Kerja Tambang
Kerja Tambang adalah Setiap tempat pekerjaan yang bertujuan atau berhubungan
langsung dengan pekerjaan penyelidikan umum, eksplorasi, study kelayakan, konstruksi,
operasi produksi, pengolahan/ pemurnian dan pengangkutan bahan galian golongan a, b, c,
termasuk sarana dan fasilitas penunjang yang ada di atas atau di bawah tanah/air, baik
berada dalam satu wilayah atau tempat yang terpisah atau wilayah proyek.
Yang dimaksud kecelakaan tambang yaitu :
a. Kecelakaan Benar Terjadi
b. Membuat Cidera Pekerja Tambang atau orang yang diizinkan di tambang oleh
KTT
c. Akibat Kegiatan Pertambangan
d. Pada Jam Kerja Tambang
e. Pada Wilayah Pertambangan
2. Penggolongan Kecelakaan tambang
a. Cidera Ringan (Kecelakaan Ringan)
Korban tidak mampu melakukan tugas semula lebih dari 1 hari dan kurang dari 3
minggu
b. Cidera Berat (Kecelakaan Berat)
1) Korban tidak mampu melakukan tugas semula lebih dari 3 minggu
2) Korban invalid & tidak mampu melaksanakan tugas semula

Berdasarkan cedera korban, yaitu :


a. Retak

Tengkorak

kepala,

tulang

punggung

pinggul,

lengan

bawah/atas,paha/kaki
b. Pendarahan di dalam atau pingsan kurang oksigen
c. Luka berat, terkoyak
d. Persendian lepas
c.

Mati
Korban mati dalam waktu 24 jam dari waktu terjadinya kecelakaan

Berdasarkan penelitian heinrich:


a. Perbuatan membahayakan oleh pekerja mencapai 96% antara lain berasal dari
1) Alat pelindung diri (12%)
2) Posisi kerja (30%)
3) Perbuatan seseorang (14%)
4) Perkakas (equipment) (20%)
5) Alat-alat berat (8%)
6) Tata cara kerja (11%)
7) Ketertiban kerja (1%)
b. Sumberlainnya diluar kemampuan dan kendali manusia.
G. Faktor Kecelakaan Kerja pada Perusahaan Pertambangan
Pada dasarnya penyebab terjadinya suatu kecelakaan tambang memiliki beberapa faktor
yaitu:
1. Faktor langsung
Dalam faktor langsung ada dua hal penyebab terjadinya faktor langsung ini yaitu :
1) Tindakan tidak aman
Kemudian yang tergolong tindakan tidak aman yaitu :
a.

Bekerja tanpa memperhatikan tanda-tanda

b. Bekerja dengan kecepatan berbahaya


c. Tidak memfungsikan alat pengaman (safety) yang dipakai
10

d. Menggunakan alat yang tidak aman


e. Penempatan barang tidak aman
f. Posisi kerja berbahaya
g. Mengganggu orang lain yang sedang bekerja
h. Tidak memakai alat proteksi
2) Keadaan tidak aman
yang tergolong kondisi tidak aman yaitu :
a. Mesin tanpa pengaman
b. Alat pengaan kurang sempurna
c. Mesin rusak atau aus
d. Desain mesin kurang baik
e. Tata letak mesin tidak aman
f. Pencahayaan tidak sempurna
g. Ventilasi tidak baik
h. Alat proteksi diri tidak berfungsi dengan baik
2. Faktor Penunjang
Faktor Penunjang dalam kecelakaan kerja yaitu meliputi :
a. Pengawas
b. Fisik pekerja
c. Mental pekerja
Dalam hal pengawas bentuk kejadiannya yaitu :
a. Tidak hadir
b. Tidak melakukan tugas dengan berbagai alasan
Kemudian dalam hal fisik pekerja bentuk kejadiannya yaitu :
a. Sakit
b. Lelah
Dan terakhir mental pekerja bentuk kejadiannya yaitu :
a. Mengantuk
b. Mabuk
11

c. Marah, Sedih, Takut


d. Tidak dapat berkonsentrasi dalam bekerja dengan berbagai alasan
H. Teknik Pencegahan Ledakan
Guna menghindari berbagai kecelakaan kerja pada tambang bawah tanah, terutama dalam
bentuk ledakan gas perlu dilakukan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan ledakan ini
harus dilakukan oleh segenap pihak yang terkait dengan pekerjaan pada tambang bawah
tanah tersebut.
Beberapa hal yang perlu dipelajari dalam rangka pencegahan ledakan adalah :
a. Pengetahuan dasar-dasar terjadinya ledakan, membahas:
a) Gas-gas yang mudah terbakar/meledak
b) Karakteristik gas
c) Sumber pemicu kebakaran/ledakan
b. Metoda eliminasi penyebab ledakan, antara lain:
a) Pengukuran konsentrasi gas
b) Pengontrolan sistem ventilasi tambang
c) Pengaliran gas (gas drainage)
d) Penggunaan alat ukur gas
e) Penyiraman air (sprinkling water)
f) Pengontrolan sumber-sumber api penyebab kebakaran dan ledakan
g) Teknik pencegahan ledakan tambang
h) Penyiraman air (water sprinkling)
i) Penaburan debu batu (rock dusting)
j) Pemakaian alat-alat pencegahan standar.
c. Fasilitas pencegahan penyebaran kebakaran dan ledakan, antara lain:
a) Lokalisasi penambangan dengan penebaran debu batuan
b) Pengaliran air ke lokasi potensi kebakaran atau ledakan
c) Penebaran debu batuan agak lebih tebal pada lokasi rawan
d. Tindakan pencegahan kerusakan akibat kebakaran dan ledakan:
a) Pemisahan rute (jalur) ventilasi
b) Evakuasi, proteksi diri, sistemperingatandini, dan penyelamatansecara tim.

12

Sesungguhnya kebakaran tambang dan ledakan gas tidak akan terjadi jika sistem ventilasi
tambang batubara bawah tanah itu cukup baik.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Manajemen Resiko Pertambangan adalah suatu proses interaksi yang digunakan oleh
perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi,mengevaluasi,dan menanggulangi bahaya
di tempat kerja guna mengurangi Resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun
longsoran tanah, gas beracun, suhu yang ekstrem,dll.Jadi, manajemen Resiko merupakan
suatu alat yang bila digunakan secara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang
aman,bebas dari ancaman bahaya di tempat kerja.
Adapun jenisResiko yang sering dijumpai pada Perusahaan Pertambangan adalah sebagai
berikut :
a) Ledakan
b) Longsor
c) Kebakaran
pengelolaan Resiko manajemen Resiko adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi Resiko
2. Analisis Resiko
3. Pengendalian Resiko
4. Menerapkan dan memelihara kontrol tindakan
Secara umum manfaat Manajemen Resiko pada perusahaan pertambangan adalah sebagai
berikut :

13

1. Menimalkan kerugian yang lebih besar


2. Meningkatkan kepercayaan pelanggan dan pemerintah kepada perusahaan
3. Meningkatkan kepercayaan karyawan kepada perusahaan
Penggolongan Kecelakaan tambang meliputi :
a. Cidera Ringan (Kecelakaan Ringan)
b. Cidera Berat (Kecelakaan Berat)
c. Mati
Penyebab terjadinya suatu kecelakaan tambang memiliki beberapa faktor yaitu:
a. Faktor langsung
b. Faktor penunjang
B. Saran
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca untul lebih memahami
tentang teori belajar kognitif dan mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran.

14

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Manajemen Resiko K3 Pertambangan. Diaksesdi


https://ariagusti.wordpress.com/2011/01/21/manajemen-resiko-k3-di-perusahaanpertambangan/Tanggal 22 November 2014. Jam 07.00
Anonim. 2013. Kecelakaan Kerja Tambang . Diakses di
lamanhttp://pustakatambang.blogspot.com/2012/04/k3-tambang.htmlTanggal 22 November 2014
Jam 07.45
Anonim. 2013. Faktor Kecelakaan Kerja Tambang . Diakses di
lamanhttp://bahangaliantambang.blogspot.com/2011/12/faktor-faktorkecelakaan-kerjatambang.htmlTanggal 22 November 2014 Jam 07.45
Anonim. 2014. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan .diakses di
lamanhttp://evynurhidayah.wordpress.com/2012/06/01/kesehatan-dan-keselamatan-kerja-dipertambangan/Tanggal 22 November 2014. Jam 08.00

15