Anda di halaman 1dari 502

TEKNIK PONDASI

KONTRAK PERKULIAHAN

Oleh :
Tri Sulistyowati

Materi Kuliah : Teknik Pondasi

TUJUAN
Setelah menyelesaikan mata kuliah TEKNIK PONDASI ini
mahasiswa mempunyai kemampuan dalam melakukan
analisis dan perancangan pondasi dangkal, pondasi
dalam/tiang dan pondasi sumuran (kaison), untuk
bangunan sipil yang terletak pada berbagai jenis tanah,
dengan berbagai macam bentuk pembebanan, dan dengan
berbagai metode perancangan berdasarkan data-data
pengujian tanah di laboratorium dan data penyelidikan
tanah di lapangan.

MATERI
Pertemuan
ke-

Waktu
(menit)

(2 x 50)

Pokok
Bahasan

Sub Pokok Bahasan

PENDAHULUAN Umum, definisi, fungsi pondasi, klasifikasi pondasi,


pertimbangan dalam pemilihan tipe pondasi
PONDASI
DANGKAL

Jenis-jenis pondasi dangkal, mekanisme


keruntuhan

2&3

2x
(2 x 50)

PONDASI
DANGKAL

Analisis daya dukung pondasi :


Teori Daya Dukung Terzaghi, Skempton, Vesic,
Meyerhof, dan Hansen

4&5

2x
(2 x 50)

PONDASI
DANGKAL

Analisis daya dukung pondasi :


Pondasi dg pembebanan sentris, eksentris,
miring, kombinasi pembebanan miring dan
eksentris, pondasi pada lereng, pondasi pada
tanah berlapis;
Daya dukung dari hasil penyelidikan tanah di
lapangan (SPT, CPT/Sondir, Pembebanan pelat)

MATERI
Pertemuan
ke-

Waktu
(menit)

Pokok
Bahasan

(2 x 50)

PONDASI
DANGKAL

Analisis penurunan : Penurunan segera,


konsolidasi primer, konsolidasi sekunder

(2 x 50)

PONDASI
DANGKAL

Perancangan pondasi dangkal: pondasi telapak


terpisah, pondasi memanjang, pondasi telapak
gabungan (berbentuk segi empat, trapesium,
kantilever atau strap footing dan bentuk T) dan
pondasi rakit;

Sub Pokok Bahasan

UJIAN TENGAH SEMESTER


8

(2 x 50)

PONDASI
DALAM

Pendahuluan : definisi dan kegunaan pondasi tiang;


Jenis-jenis pondasi tiang; kelakuan tiang selama
pembebanan; pengaruh pekerjaan pemasangan
tiang; Mekanisme keruntuhan pada pondasi tiang;
kriteria perancangan pondasi tiang;

MATERI
Pertemuan
ke-

Waktu
(menit)

Pokok
Bahasan

9 & 10

2x
(2 x 50)

PONDASI
DALAM

Analisis Daya Dukung : DD batas tiang tunggal dan


tiang kelompok pada berbagai jenis tanah dengan
berbagai bentuk dan kondisi pembebanan secara
analitis, dinamis dan berdasarkan data hasil
penyelidikan tanah di lapangan; Efisiensi tiang; gesek
dinding negatif (negative skin friction)

11 & 12

2x
(2 x 50)

PONDASI
DALAM

Analisis penurunan : penurunan untuk tiang tunggal


dan tiang kelompok;
Perancangan pondasi tiang; Uji pembebanan tiang;

13 & 14

2x
(2 x 50)

PONDASI
PERALIHAN /
SUMURAN/
KAISON

Perancangan kaison bor dan kaison : kapasitas


dukung, penurunan, tahanan gesek dinding,
pembebanan, gaya momen, gaya horisontal,
pelaksanaan perancangan.

Sub Pokok Bahasan

UJIAN AKHIR SEMESTER

REFERENSI

Bowles,J.E.1998, Foundation Analysis and Design,4 th Edition, Mc.Graw Hill, New


York.
Coduto Donald P, 1994, Foundation Design: Principle and Practice, First Edition,
Printice Hall International Inc.,Englewood
Das, Braja. M, 1990. Principles of Foundation Engineering, Second Edition,
PWSKENT, Boston.
Das, Braja. M, 1999. Shallow Foundations Bearing Capacity and Settlement, CRC
Press,Sacramento, California.
Hardiyatmo, Harry Christady, 2003. Teknik Fondasi I, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta
Hardiyatmo, Harry Christady, 2003. Teknik Fondasi II, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta
Ralph B. Peck, Walter E. Hanson, Thomas H. Thornburn, 1996, Foundation
Engineering, John Wiley & Sons.
SM Jhonson and TC Kavanaugh, The Design of Foundation for Building
Suryolelono, K. B., 1993, Teknik Fondasi I, Nafiri, Jogyakarta
Suryolelono, K. B., 1993, Teknik Fondasi II, Nafiri, Jogyakarta
Tomlinson M.J,1997, Pile Design and Construction Practice,4 th Edition, London

PENILAIAN
EVALUASI
Kehadiran
Tugas/PR
Quis
UTS
UAS

= 5%
= 10%
= 15%
= 35%
= 35%

SISTEM PENILAIAN
Nilai Angka
80
72 - 80
65 - 72
60 - 65
56 - 60
50 - 56
46 - 50
< 46

Nilai Huruf
A
B+
B
C+
C
D+
D
E

Grade Nilai
4
3,5
3
2,5
2
1,5
1
0

TEKNIK PONDASI
PENDAHULUAN

Oleh :
Tri Sulistyowati

Materi Kuliah : Teknik Pondasi

UMUM

foundations

soil
exploration

tunneling

Jenis-jenis bangunan sipil:


Gedung
Jalan
Jembatan
Pelabuhan
Bandara
Bendung, bendungan
Terowongan
dll
Struktur bangunan terdiri atas:
Struktur atas
Struktur bawah
Pondasi
Bukan pondasi

DEFINISI

PONDASI :
Bagian terendah bangunan yang meneruskan beban bangunan ke
lapisan tanah keras atau batuan yang berada dibawahnya.

FUNGSI PONDASI
Menahan/mendukung bangunan diatasnya
Mentransfer/meneruskan beban struktur secara
aman ke lapisan tanah dasar yang kuat
Beban mati
Beban hidup
Beban angin
Beban pada lapisan tanah
Up lift
Gempa

FUNGSI PONDASI

firm ground

weak soil

bed rock

bed rock

FUNGSI PONDASI

retaining
wall

Road
Train

FUNGSI PONDASI

reservoir

clay
core

soil

shell

FUNGSI PONDASI

reservoir

concrete dam

soil

FUNGSI PONDASI
warehouse

ship

sheet pile

KLASIFIKASI PONDASI
1.

PONDASI DANGKAL (SHALLOW FOUNDATION)


Pondasi yang kedalamannya dekat dengan permukaan tanah dan mendukung
beban secara langsung.
pondasi telapak terpisah, pondasi memanjang, pondasi telapak gabungan
(bentuk segi empat, trapesium, bentuk T, Strap footing), pondasi kantilever,
pondasi rakit.
Syarat : D/B 1

2.

PONDASI DALAM (DEEP FOUNDATION)


Pondasi yang meneruskan beban bangunan ke tanah keras atau batu yang
terletak relatif jauh dari permukaan
pondasi tiang (tiang bor, tiang pancang, dll)
Syarat : D/B 4

3.

PONDASI PERALIHAN
Peralihan antara pondasi dangkal dan pondasi dalam, digunakan bila tanah dasar
yang kuat terletak pada kedalaman yang relatif dalam
pondasi sumuran (pier fondation) atau pondasi kaison

KLASIFIKASI PONDASI

KLASIFIKASI PONDASI

PERTIMBANGAN PEMILIHAN PONDASI


Untuk memilih pondasi yang memadai, perlu
memperhatikan apakah pondasi itu cocok untuk
berbagai keadaan di lapangan serta dapat
diselesaikan secara ekonomis sesuai jadwal
kerja, maka perlu pertimbangan:
a. Keadaan tanah dasar pondasi
b. Batasan akibat kostruksi diatasnya
c. Batasan dari sekelilingnya
d. Waktu dan biaya pengerjaan

PONDASI DANGKAL
JENIS-JENIS
PONDASI DANGKAL

Oleh :
Tri Sulistyowati

Materi : Teknik Pondasi

PONDASI MEMANJANG
PONDASI MEMANJANG
Pondasi yang digunakan untuk mendukung dinding memanjang atau untuk
mendukung sederetan kolom yang berjarak dekat, karena bila dipakai pondasi
telapak sisi-sisinya akan berimpit satu sama lain.
Beban dinding dianggap sebagai beban garis persatuan panjang

PONDASI TELAPAK TERPISAH


Pondasi yang berdiri sendiri dalam mendukung kolom.
Beban-beban kolom dianggap sebagai beban titik

PONDASI TELAPAK GABUNGAN


Pondasi yang mendukung dua kolom atau lebih dan letaknya terlalu dekat satu
dengan yang lain, dan digabung menjadi satu pondasi tunggal, karena :
A

Rectangular, PA = PB
Property line
A

jarak kolom terlalu dekat satu dengan yang lain

jarak kolom dekat dengan batas tanah pemilikan


atau dibatasi oleh pondasi bangunan yang telah
ada sebelumnya.

perancang bermaksud menanggulangi momen


penggulingan yang terlalu besar pada pondasi.

bangunan-bangunan, seperti pilar jembatan, pilar


akuaduk, terletak pada tanah dengan daya
dukung rendah.

untuk mendukung beban-beban struktur yang


tidak begitu besar, namun tanahnya mudah
mampat atau lunak dan pondasi dipengaruhi
oleh momen penggulingan

B
Rectangular, PA < PB
Property line
A

Rectangular, PA < PB

PONDASI TELAPAK GABUNGAN


Keuntungan dari pemakaian pondasi telapak gabungan antara lain
adalah :
dapat menghemat biaya penggalian dan pemotongan tulangan beton
dapat mencegah penurunan tidak seragam yang berlebihan diantara
kolom-kolom akibat adanya lensa-lensa tanah lunak dan bentuk variasi
lapsian tanah yang tidak beraturan pada zona tertekan dibawah
pondasi.
Terdapat beberapa jenis pondasi telapak gabungan, yaitu :
pondasi telapak gabungan (combined footing)
pondasi telapak kantilever (cantilever footing) atau pondasi telapak ikat
(strap footing)

PONDASI TELAPAK KANTILEVER


(CANTILEVER OR STRAP FOOTING)
Pondasi telapak kantilever (cantilever footing) atau pondasi telapak ikat (strap footing)
adalah pondasi yang terdiri dari 2 atau lebih pondasi telapak yang diikat oleh balok.
Property line
A

Pondasi telapak kantilever digunakan jika luasan


pondasi yang berada ditepi luasan bangunan yang
terbatas oleh batas pemilikan atau oleh pondasi
yang sudah ada sebelumnya, yaitu dengan cara
mengikat dengan pondasi yang berada didekatnya.

Dua pondasi telapak tersebut diikat oleh balok yang


kaku agar distribusi tekanan pada dasar pondasi ke
tanah menjadi seragam.

Strap or Cantilever

Ikatan antara dua pondasi dapat dilakukan dengan beberapa cara dan pemilihan
caranya tergantung dari kondisi yang ada.

Pondasi yang berada ditepi batas pemilikan dapat diikat ke dinding atau kolom
yang berada diatas pondasi. Pondasi telapak kantilever sebaiknya tidak disusun
sedemikian hingga prosedur pelaksanaannya tidak umum dilakukan.

PONDASI RAKIT
(RAFT FOUNDATION)
Pondasi rakit (raft foundation) didefinisikan sebagai bagian bawah dari
struktur yang berbentuk rakit melebar ke seluruh bagian dasar
bangunan.
Pondasi rakit digunakan bila lapisan tanah pondasi mempunyai daya
dukung rendah, sehingga jika digunakan pondasi telapak akan
memerlukan luas area yang hampir memenuhi bagian bawah
bangunannya.
Terzaghi dan Peck (1948) menyarankan bahwa, bila 50% luas bagian
bawah bangunan terpenuhi oleh luasan pondasi, lebih ekonomis jika
digunakan pondasi rakit, karena dapat menghemat biaya penggalian
dan penulangan beton

PONDASI RAKIT
(RAFT FOUNDATION)

PONDASI RAKIT
(RAFT FOUNDATION)

TO BE CONTINUED, NEXT TOPIC


Thank you very much for your kind attention.

HOPEFULLY YOU UNDERSTAND THIS CHAPTER

PONDASI DANGKAL
MEKANISME
KERUNTUHAN PONDASI

Oleh :
Tri Sulistyowati

Materi : Teknik Pondasi

FASE-FASE
KERUNTUHAN PONDASI

FASE-FASE KERUNTUHAN
beban

Fase I

S1

Fase II

penurunan

zona plastis

Fase III

S2
II

III

FASE KERUNTUHAN I
Fase I

Saat awal penerapan beban, tanah dibawah pondasi turun diikuti oleh
deformasi tanah secara lateral dan vertikal ke bawah.

Fase II

Sejauh beban yang diterapkan relatif kecil, penurunan yang terjadi kirakira sebanding dengan besarnya beban yang diterapkan.
Dalam keadaan ini, tanah dalam kondisi keseimbangan elastis.

zona plastis

Massa tanah yang terletak dibawah pondasi mengalami kompresi yang


mengakibatkan kenaikan kuat geser tanah, dengan demikian
menambah daya dukungnya.

FASE KERUNTUHAN II
Fase I

Fase II

zona plastis

Pada penambahan beban selanjutnya, baji tanah terbentuk tepat


Fase III semakin dominan.
didasar pondasi dan deformasi plastis tanah menjadi

Gerakan tanah pada kedudukan plastis dimulai dari tepi pondasi, dan
kemudian dengan bertambahnya beban, zona plastis berkembang.
Gerakan tanah kearah lateral manjadi semakin nyata yang diikuti oleh
retakan lokal dan geseran tanah di sekeliling tepi pondasinya.

Dalam zona plastis, kuat geser tanah sepenuhnya berkembang untuk


menahan bebannya.

Fase II

FASE KERUNTUHAN III


zona plastis

Fase III

Fase ini dikarakteristikkan oleh kecepatan deformasi yang semakin


bertambah seiring dengan penambahan bebannya.
Deformasi diikuti oleh gerakan tanah ke arah luar yang diikuti oleh
menggembungnya tanah permukaan.

Kemudian tanah pendukung pondasi mengalami keruntuhan dengan


bidang runtuh yang berbentuk lengkungan dan garis yang disebut
bidang geser radial dan bidang geser linier.

MEKANISME
KERUNTUHAN PONDASI

JENIS-JENIS KERUNTUHAN
Berdasarkan pengujian model Vesic (1963) membagi
mekanisme keruntuhan pondasi menjadi 3 macam yaitu :
a. Keruntuhan geser umum (general shear failure)
b. Keruntuhan geser lokal (local shear failure)
c. Keruntuhan penetrasi (penetration failure)

KERUNTUHAN GESER UMUM


(GENERAL SHEAR FAILURE)
Baji tanah terbentuk tepat pada dasar pondasi
(zona A) yang menekan tanah ke bawah hingga
menyebabkan aliran tanah secara plastis pada
zona B.
Gerakan ke arah luar kedua zona tersebut ditahan
oleh tahanan tanah pasif dibagian C.
Saat tahanan tanah pasif bagian C terlampaui,
terjadi gerakan tanah yang mengakibatkan
penggembungan tanah disekitar pondasi.
Bidang
longsor
yang
terbentuk
berupa
lengkungan dan garis lurus yang menembus
hingga mencapai permukaan tanah.
Saat keruntuhannya terjadi gerakan massa tanah
kearah luar dan keatas
Keruntuhan Geser Umum terjadi dalam waktu
yang relatif mendadak, diikuti oleh penggulingan
pondasinya.

KERUNTUHAN GESER LOKAL


(LOCAL SHEAR FAILURE)
Tipe keruntuhannya hampir sama dengan
keruntuhan geser umum, namun bidang runtuh
yang
terbentuk
tidak
sampai
mencapai
permukaan tanah. Bidang runtuh yang kontinu
tidak berkembang.
Pondasi tenggelam akibat bertambahnya beban
pada
kedalaman
yang
relative
dalam,
menyebabkan tanah didekatnya mampat. Tetapi
mampatnya tanah tidak sampai mengakibatkan
kedudukan kritis keruntuhan tanahnya, sehingga
zona plastis tidak berkembang seperti pada
keruntuhan geser umum.
Dalam tipe keruntuhan geser local, terdapat
sedikit penggembungan tanah disekitar pondasi,
namun tidak terjadi penggulingan pondasi.

KERUNTUHAN PENETRASI
(PENETRATION FAILURE or PUNCHING SHEAR FAILURE)
Tidak terjadi keruntuhan geser tanah.
Akibat bebannya, pondasi hanya menembus dan
menekan tanah ke samping yang menyebabkan
pemampatan tanah di dekat pondasi.
Penurunan pondasi bertambah hampir secara linier
dengan penambahan bebannya.
Pemampatan tanah akibat penetrasi pondasi,
berkembang hanya pada zona terbatas, tepat di
dasar dan disekitar tepi pondasi.
Penurunan yang terjadi tidak menimbulkan cukup
gerakan arah lateral yang menuju kedudukan kritis
keruntuhan tanahnya, sehingga kuat geser ultimit
tanah tidak dapat berkembang.
Pondasi menembus tanah ke bawah dan baji tanah
yang terbentuk dibawah dasar pondasi hanya
menyebabkan tanah menyisih. Saat keruntuhan,
bidang runtuh tidak terlihat sama sekali.

HUBUNGAN ANTARA Df/B


DAN MODEL KERUNTUHAN

Hubungan antara Df/B dan model


keruntuhan tanah pasir (Vesic, 1973)
Keruntuhan geser umum terjadi pada tanah yang
tidak mudah mampat dengan kekuatan geser tinggi.
Keruntuhan penetrasi terjadi pada tanah yang mudah
mampat seperti pasir yang tidak padat dan lempung
lunak, dan banyak terjadi pula jika kedalaman
pondasi (Df) sangat besar dibandingkan dengan
lebarnya (B).
Berdasarkan hasil penelitian Vesic (1963) diketahui
bahwa tipe keruntuhan pondasi diatas pasir
tergantung pada nilai kerapatan relatif (Dr) dan nilai
Df/B.
Tipe keruntuhan geser umum terjadi pada pondasi
dangkal yang terletak pada pasir padat dengan sudut
geser dalam f > 36o, sedangkan tipe keruntuhan
geser lokal terjadi pada pondasi yang terletak pada
pasir denan f < 29o

TO BE CONTINUED, NEXT TOPIC


Thank you very much for your kind attention.

HOPEFULLY YOU UNDERSTAND THIS CHAPTER

PONDASI DANGKAL
ANALISIS
DAYA DUKUNG PONDASI

Materi Kuliah :
Teknik Pondasi

Oleh : TRI SULISTYOWATI

PENDAHULUAN

DEFINISI
Daya dukung :
Tahanan geser tanah untuk melawan penurunan akibat
pembebanan, yaitu tahanan geser yang dapat dikerahkan
oleh tanah disepanjang bidang-bidang gesernya.
??????
!!!!!

KRITERIA
PERANCANGAN PONDASI
Kriteria dan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi dalam
perancangan pondasi :

keamanan terhadap keruntuhan akibat terlampauinya daya dukung


yang diijinkan, biasanya digunakan angka keamanan 3
keamanan terhadap penurunan, khususnya penurunan yang tidak
seragam (differential settlement), tidak boleh mengakibatkan
kerusakan pada struktur diatasnya.
penurunan seragam

: 5 10 cm

penurunan tidak seragam : 2 - 5 cm


pondasi harus diletakkan pada kedalaman yang cukup untuk
menanggulangi resiko erosi permukaan, gerusan, kembang susut
tanah, dan gangguan tanah disekitar pondasi lainnya.

MACAM-MACAM
TEORI DAYA DUKUNG
Teori daya dukung telah dikembangkan oleh :

Terzaghi,
Skempton
Vesic
Meyerhof
Hansen

TEORI DAYA DUKUNG BERKAITAN


DENGAN SIFAT-SIFAT TANAH
Persamaan-persamaan daya dukung yang berkaitan dengan
sifat-sifat tanah, umumnya dibagi menjadi dua klasifikasi tanah,
yaitu:
Tanah berbutir kasar (granular soil)
Contoh tanah berbutir kasar adalah tanah pasir.
Salah satu parameter penting tanah pasir adalah sudut
geser dalam, . (internal friction)
Tanah berbutir halus (cohesion soil)
Contoh tanah berbutir halus adalah tanah lempung
(clay) dan tanah lanau (silt).
Parameter penting yang ada pada tanah ini adalah nilai
kohesi tanah, c.

TEORI DAYA DUKUNG


TERZAGHI

ANGGAPAN-ANGGAPAN
TEORI DAYA DUKUNG TERZAGHI
Terzaghi (1943), melakukan analisis daya dukung tanah
dengan beberapa anggapan, yaitu :
pondasi memanjang tak terhingga
tanah didasar pondasi homogen
berat tanah diatas dasar pondasi dapat digantikan
dengan beban terbagi merata sebesar po = Df . g,
dengan Df adalah kedalaman dasar pondasi dan g
adalah berat volume tanah diatas dasar pondasi.
tahanan geser tanah diatas dasar pondasi diabaikan
dasar pondasi kasar
bidang keruntuhan terdiri dari lengkung spiral
logaritmis dan linier
baji tanah yang terbentuk didasar pondasi dalam
kedudukan elastis dan bergerak bersama-sama
dengan dasar pondasinya.
pertemuan antara sisi baji dan dasar pondasi
membentuk sudut sebesar sudut geser dalam tanah .
berlaku prinsip superposisi

Karl Terzaghi
1883-1963

PENGGUNAAN
TEORI DAYA DUKUNG TERZAGHI
Daya dukung berdasarkan teori Terzaghi banyak digunakan
dalam analisis daya dukung pada tanah granuler dan tanahtanah yang mempunyai kohesi dan sudut geser dalam
(tanah c ), karena persamaan daya dukungnya
memberikan hasil yang teliti.
Hal ini sangat berguna untuk menanggulangi resiko yang
timbul akibat kesulitan dalam memperoleh contoh tanah
tidak terganggu (undisturb soil) pada jenis tanah granuler
dan tanah c .

KONSEP DAYA DUKUNG TERZAGHI

Gambar :
(a). Pembebanan pondasi dan bentuk bidang geser
(b). Bentuk keruntuhan dalam analisis daya dukung
(c). Distribusi tekanan tanah pasif pada permukaan BD

PERSAMAAN DAYA DUKUNG


TERZAGHI
Persamaan umum daya dukung ultimit pada pondasi
memanjang untuk kondisi keruntuhan geser umum,
menurut Terzaghi dinyatakan dalam persamaan :

qu = c Nc + q Nq + g B Ng
dengan :
qu = daya dukung ultimit untuk pondasi memanjang
c = kohesi
Df = kedalaman pondasi
g = berat volume tanah
q = Po = Df g = tekanan overburden pada dasar pondasi
Nc, Nq,Ng = faktor daya dukung Terzaghi yang tergantung
dari nilai

PERSAMAAN DAYA DUKUNG


TERZAGHI
Persamaan umum daya dukung ultimit pada pondasi
memanjang untuk kondisi keruntuhan geser lokal, menurut
Terzaghi dinyatakan dalam persamaan :

qu = 2/3 c Nc + q Nq + g B Ng
dengan :
qu = daya dukung ultimit untuk pondasi memanjang
c = kohesi
Df = kedalaman pondasi
g = berat volume tanah
q = Po = Df g = tekanan overburden pada dasar pondasi
Nc, Nq,Ng = faktor daya dukung Terzaghi yang tergantung
dari nilai

FAKTOR DAYA DUKUNG TERZAGHI

Hubungan antara dengan nilai-nilai Nc, Nq,Ng (Terzaghi, 1943)

FAKTOR DAYA DUKUNG TERZAGHI


Nilai-nilai faktor daya dukung Terzaghi

(o)
0
5
10
15
20
25
30
34
35
40
45
48
50

Keruntuhan geser umum


Nc
Nq
Ng
5.7
1.0
0.0
7.3
1.6
0.5
9.6
2.7
1.2
12.9
4.4
2.5
17.7
7.4
5.0
25.1
12.7
9.7
37.2
22.5
19.7
52.6
36.5
35.0
57.8
41.4
42.4
95.7
81.3
100.4
172.3
173.3
297.5
258.3
287.9
780.1
347.6
415.1
1153.2

Keruntuhan geser lokal


Nc
Nq
Ng
5.7
1.0
0.0
6.7
1.4
0.2
8.0
1.9
0.5
9.7
2.7
0.9
11.8
3.9
1.7
14.8
5.6
3.2
19.0
8.3
5.7
23.7
11.7
9.0
25.2
12.6
10.1
34.9
20.5
18.8
51.2
35.1
37.7
66.8
50.5
60.4
81.3
65.6
87.1

PENGGUNAAN PARAMETER TANAH DALAM


ANALISIS DAYA DUKUNG TERZAGHI

qu = c Nc + q Nq + g B Ng
Df g Nq

Df g Nq
Df

c Nc

g B Ng

Suku persamaan c Nc, nilai kohesi yang digunakan adalah kohesi rata-rata tanah
dibawah dasar pondasi
Suku persamaan Df g Nq, nilai Df g = q = Po merupakan tekanan overburden atau
tekanan vertikal tanah pada dasar pondasi yaitu tekanan akibat berat tanah
disekitar pondasi. Oleh karena itu berat volume tanah yang digunakan dalam
perhitungan Df g adalah berat volume tanah diatas dasar pondasi.
Suku persamaan g B Ng, pada suku persamaan ini diperlukan nilai berat volume
tanah rata-rata (g) yang terletak dibawah dasar pondasi.

PENGARUH BEBAN TERBAGI MERATA


DI PERMUKAAN
qo

Df

Jika diatas permukaan tanah terdapat beban terbagi merata qo maka


persamaan daya dukung ultimit menjadi :

qu = c Nc +( Df g + qo) Nq + g B Ng

atau

qu = c Nc +( Po + qo) Nq + g B Ng

PENGARUH BENTUK PONDASI


(a). Pondasi bujur sangkar :
qu = 1.3 c Nc +Po Nq + 0.4 g B Ng
(b). Pondasi lingkaran :
qu = 1.3 c Nc +Po Nq + 0.3 g B Ng
(c). Pondasi empat persegi panjang :
qu = c Nc (1 + 0.3 B/L) + Po Nq + g B Ng (1 0.2 B/L)
dengan :
qu
= daya dukung ultimit
c
= kohesi
Df
= kedalaman pondasi
g
= berat volume tanah
Po
= Df g = tekanan overburden pada dasar pondasi
B
= lebar atau diameter pondasi
L
= panjang pondasi
Nc, Nq,Ng = faktor daya dukung Terzaghi yang tergantung dari nilai

PENGARUH AIR TANAH


MUKA AIR TANAH SANGAT DALAM ATAU Z > B
Jika muka air tanah sangat dalam jika
dibandingkan dengan lebar pondasinya atau z
> B, dengan z adalah jarak muka air tanah
dari dasar pondasi, maka :
nilai g dalam suku ke-2 persamaan daya
Df
dukung dipakai gb jika tanahnya basah
atau gd jika tanahnya kering
B
dalam suku ke-3 dipakai nilai berat volume
z>B
basah (gb) jika tanahnya basah, atau berat
volume tanah kering (gd) jika tanahnya
mat
kering .
Untuk kondisi ini nilai parameter kuat geser
qu = c Nc + Df gbNq + gb B Ng
yang digunakan dalam perhitungan adalah
nilai parameter kuat geser dalam tinjauan
qu = c Nc + Df gd Nq + gd B Ng
tegangan efektif (c dan )

PENGARUH AIR TANAH


JIKA MUKA AIR TANAH TERLETAK PADA KEDALAMAN Z
DIBAWAH DASAR PONDASI (Z < B)
Jika muka air tanah terletak pada kedalaman z
dibawah dasar pondasi (z < B), maka :
Nilai g pada suku persamaan ke-2 digantikan
dengan gb jika tanahnya basah, dan diganti
Df
dengan gd jika tanahnya kering.
Karena masa tanah dalam zona geser
sebagian terendam air, berat volume tanah
z<B
B
yang diterapkan dalam suku persamaan ke-3
mat
dari persamaan daya dukung dapat didekati
dengan :

grata-rata = g + (z/B) (gb g)

qu = crata-rata Nc + Df gbNq + grata-rata B Ng


qu = crata-rata Nc + Df gd Nq + grata-rata B Ng

PENGARUH AIR TANAH


MUKA AIR TANAH TERLETAK DIATAS ATAU SAMA DENGAN DASAR PONDASI

dw

mat

Df

mat
B

Jika muka air tanah terletak diatas atau sama


dengan dasar pondasi, maka :
Nilai berat volume tanah yang dipakai dalam suku
persamaan ke-3 adalah berat volume efektif (g),
karena zona geser yang terletak dibawah pondasi
sepenuhnya terendam air.
Pada kondisi ini nilai q atau Po pada suku ke-2
menjadi :

q = Po = g (Df dw) + gb dw

Dengan :
g = gsat gw
dw = kedalaman muka air tanah dari permukaan.

qu = c Nc + [g (Df dw) + gb dw ] Nq + gb B Ng

PENGARUH AIR TANAH


JIKA MUKA AIR TANAH DIPERMUKAAN ATAU dw = 0

mat

Df

Jika muka air tanah dipermukaan atau dw = 0,


maka :
g pada suku persamaan ke-2 digantikan
dengan g,
sedangkan g pada suku persamaan ke-3 juga
dipakai berat volume tanah efektif (g).

qu = c Nc + g Df Nq + gb B Ng

DEFINISI-DEFINISI
DALAM PERANCANGAN PONDASI
(A). TEKANAN OVERBURDEN TOTAL (Po)
adalah intensitas tekanan total yang terdiri dari berat material diatas
dasar pondasi total, yaitu berat tanah dan air sebelum pondasi
dibangun.
(B). DAYA DUKUNG ULTIMIT NETTO (qun)
adalah nilai intensitas beban pondasi saat tanah akan mengalami
keruntuhan geser, yang secara umum dinyatakan dalam persamaan :

qun = qu Df g
Persamaan daya dukung netto menjadi :

qu = c Nc + Df g ( Nq 1) + g B Ng
atau

qu = c Nc + Po ( Nq 1) + g B Ng

DEFINISI-DEFINISI
DALAM PERANCANGAN PONDASI
(C). TEKANAN PONDASI TOTAL ATAU INTENSITAS PEMBEBANAN KOTOR (q)
adalah intensitas tekanan total pada tanah didasar pondasi sesudah struktur
selesai dibangun dengan pembebanan penuh (berat pondasi, berat struktur
diatasnya, dan berat tanah urugan termasuk air diatas dasar pondasinya).

(D). TEKANAN PONDASI NETTO (qn)


adalah tambahan tekanan pada dasar pondasi akibat beban mati dan beban
hidup dari strukturnya, dinyatakan dengan persamaan :

qn = q Df g

(E). DAYA DUKUNG DIIJINKAN (qa)


adalah tekanan pondasi maksimum yang dapat dibebankan pada tanah,
sehingga keamanan terhadap daya dukung dan penurunannya dapat terpenuhi.
Jika keamanan terhadap daya dukung telah terpenuhi tetapi penurunan yang
terjadi melampaui batas yang diijinkan, maka tekanan bebannya harus dikurangi
sampai penurunan yang terjadi masih dalam batas-batas yang memenuhi
syarat.

DEFINISI-DEFINISI
DALAM PERANCANGAN PONDASI
(F). FAKTOR KEAMANAN (F)
dalam tinjauan daya dukung ultimit netto, didefinisikan sebagai :
q
qu Df g
F un
qn
q Df g
(G). DAYA DUKUNG AMAN (SAFE BEARING CAPACITY) (qs)
didefinisikan sebagai tekanan pondasi total ke tanah maksimum yang
tidak mengakibatkan resiko keruntuhan daya dukung dengan :

qun
qs
Df . g
F
Sehingga persamaan daya dukung aman pondasi memanjang dalam
dapat dinyatakan dengan persamaan :

qs = (1/F) [ c Nc + Df g (Nq-1) + g B Ng ] + Df g

PONDASI PADA TANAH PASIR


(1). Pondasi berbentuk memanjang
qu = Po Nq + 0.5 g B Ng
(2). Pondasi berbentuk bujursangkar
qu = Po Nq + 0.4 g B Ng
(3). Pondasi berbentuk lingkaran
qu = Po Nq + 0.3 g B Ng
(4). Pondasi berbentuk empat persegi panjang
qu = Po Nq + 0.5 g B Ng (1 - 0.2 B/L)
dengan :
qu
= daya dukung ultimit
c
= kohesi
Df
= kedalaman pondasi
g
= berat volume tanah
Po
= Df g = tekanan overburden pada dasar pondasi
B
= lebar atau diameter pondasi
L
= panjang pondasi
Nc, Nq,Ng = faktor daya dukung Terzaghi yang tergantung dari nilai

Soal 1
0.00 m

-2.00 m

Pasir berlempung
= 20o
C = 2 t/m2
gb = 1,70 t/m3

2 x 2 m2

Pondasi berbentuk bujur sangkar


(2 x 2 m2) terletak pada
kedalaman 2 m. Kondisi tanah
seperti pada gambar. Hitung
besarnya kapasitas dukung ultimit
dan kapasitas dukung ultimit netto
jika letak muka air tanah sangat
dalam, dengan tinjauan untuk :
a. Kondisi
keruntuhan
geser
umum
b. Kondisi keruntuhan geser lokal

Penyelesaian Soal 1
a. KONDISI KERUNTUHAN GESER UMUM
Untuk = 20o ; diperoleh faktor daya dukung untuk keruntuhan geser umum
menurut Terzaghi:
Nc = 17,7; Nq = 7,4 dan Ng = 5
Po = Df x gb = 2 x 1,70 = 3,40 t/m2
Kapasitas dukung ultimit untuk pondasi bujur sangkar :
qu = 1,3 c Nc +Po Nq + 0,4 g B Ng
= (1,3 x 2 x 17,7) + (3,4 x 7,4) + (0,4 x 1,75 x 2 x 5)
= 78,18 t/m2
Kapasitas dukung ultimit netto :
qun = 1,3 c Nc + Po (Nq-1) + 0,4 g B Ng
= (1,3 x 2 x 17,7) + (3,4 x [7,4-1]) + (0,4 x 1,75 x 2 x 5)
= 74,78 t/m2
atau
qun = qu - Df g
= 78,2 3,4
= 74,78 t/m2

Penyelesaian Soal 1
b. KONDISI KERUNTUHAN GESER LOKAL
Nilai kohesi pada keruntuhan geser lokal : c = 2/3 c = (2/3) x 2 = 1,33 t/m2
Untuk = 20o ; diperoleh faktor daya dukung untuk keruntuhan geser lokal
menurut Terzaghi (berdasarkan Tabel):
Nc = 11,8; Nq = 3,8 dan Ng= 1,7
atau dapat pula ditentukan dengan cara sbb. :
Jika = 20o ; maka = arc tg (2/3 x tg ) = arc tg (2/3 x tg 20o) = 13,6o
Dari gambar grafik faktor daya dukung menurut Terzaghi, untuk = 13,6o diperoleh
faktor daya dukung untuk keruntuhan geser lokal sbb:
Nc = 11,8; Nq = 3,8 dan Ng= 1,7
Po = Df x gb = 2 x 1,7 = 3,4 t/m2
Kapasitas dukung ultimit untuk pondasi bujur sangkar :
qu = 1,3 c Nc +Po Nq + 0,4 g B Ng
= (1,3 x 1,33 x 11,8) + (3,4 x 3,8) + (0,4 x 1,75 x 2 x 1,7)
= 35,84 t/m2
Kapasitas dukung ultimit netto :
qun = qu - Df g
= 35,84 3,4
= 32,44 t/m2

Soal 2
a

0.00 m

- 1.00 m

-2.00 m
- 3.00 m

- 15.00 m

d
Lanau berlempung
u = 10o
C = 3 t/m2
gb = 1,75 t/m3
gsat = 1,95 t/m3

D=3m

Pondasi berbentuk lingkaran dengan


diameter 3 m terletak pada
kedalaman 2 m. Kondisi tanah
seperti
pada
gambar.
Hitung
besarnya kapasitas dukung ultimit
pada kondisi keruntuhan geser
umum, jika :
a. Muka air tanah sama dengan
muka tanah
b. Muka air tanah terletak 1 m
dibawah permukaan tanah
c. Muka air tanah pada dasar
pondasi
d. Muka air tanah pada kedalaman
3 m dari permukaan
e. Muka air tanah terletak pada
kedalaman 15 m dari permukaan

Penyelesaian Soal 2
Untuk = 10o ; diperoleh faktor daya dukung untuk keruntuhan geser umum
menurut Terzaghi:
Nc = 9,6; Nq = 2,7 dan Ng = 1,2
a. Muka air tanah sama dengan permukaan tanah
Po = (Df x g) = 2 x (1,95 1) = 1,9 t/m2
Kapasitas dukung ultimit untuk pondasi lingkaran:
qu = 1,3 c Nc +Po Nq + 0,3 gB Ng
= (1,3 x 3 x 9,6) + (1,9 x 2,7) + [0,3 x (1,95-1) x 3 x 1,2)
= 43,60 t/m2

b. Muka air tanah terletak pada kedalaman 1 m di bawah permukaan tanah


Po = (dw x gb) + g (Df-dw)
= (dw x gb) + (gsat - gw ) (Df-dw)
= (1 x 1,75) + [(1,95-1) x (2-1)]
= 2,7 t/m2
Kapasitas dukung ultimit untuk pondasi lingkaran:
qu = 1,3 c Nc +Po Nq + 0,3 gB Ng
= (1,3 x 3 x 9,6) + (2,7 x 2,7) + [0,3 x (1,95-1) x 3 x 1,2)
= 45,76 t/m2

Penyelesaian Soal 2
c. Muka air tanah terletak pada dasar pondasi (kedalaman 2 m)
Po = (Df x gb) = 2 x 1,75 = 3,5 t/m2
Kapasitas dukung ultimit untuk pondasi lingkaran:
qu = 1,3 c Nc +Po Nq + 0,3 gB Ng
= (1,3 x 3 x 9,6) + (3,5 x 2,7) + [0,3 x (1,95-1) x 3 x 1,2)
= 47,92 t/m2
d. Muka air tanah terletak pada kedalaman 3 m (z < B)
Po = (Df x gb) = 2 x 1,75 = 3,5 t/m2
Karena kedalaman muka air tanah dari dasar pondasi adalah 1 m atau kurang dari
B = 3 m, maka suku persamaan ke-3 dari persamaan kapasitas daya dukung
tanah digunakan nilai berat volume rata-ratanya.
grata-rata = g + (z/B)(gb - g )
= (1,95 1) + (1/3)[1,75 (1,95-1)]
= 1,22 t/m2
Kapasitas dukung ultimit untuk pondasi lingkaran:
qu = 1,3 c Nc +Po Nq + 0,3 grata-rata B Ng
= (1,3 x 3 x 9,6) + (3,5 x 2,7) + (0,3 x 1,22 x 3 x 1,2)
= 48,21 t/m2

Penyelesaian Soal 2
e. Muka air tanah terletak pada kedalaman 15 m (z > B)
Po = (Df x gb) = 2 x 1,75 = 3,5 t/m2
Karena kedalaman muka air tanah dari dasar pondasi adalah 13 m atau lebih
besar dari B = 3 m, maka suku persamaan ke-3 dari persamaan kapasitas daya
dukung tanah digunakan nilai berat volume basah.
Kapasitas dukung ultimit untuk pondasi lingkaran:
qu = 1,3 c Nc +Po Nq + 0,3 gb B Ng
= (1,3 x 3 x 9,6) + (3,5 x 2,7) + (0,3 x 1,75 x 3 x 1,2)
= 48,78 t/m2

Soal 3
1000 kN

0.00 m
- 1.00 m Df = 2 m
- 2.00 m

B=?
Pasir
= 35o
C = 0 kN/m2
gb = 18 kN/m3
gsat = 20 kN/m3

Suatu pondasi berbentuk bujur


sangkar dengan beban sebesar
1000 kN, terletak di atas tanah
pasir dengan dengan data-data
karakteristik tanah seperti pada
gambar.
a. Tentukan lebar pondasi, jika
faktor aman F = 3.
b. Berapakan reduksi kapasitas
dukung tanah ultimitnya, jika
muka air tanah naik sampai ke
permukaan tanah ?

Penyelesaian Soal 3
a. Perhitungan lebar pondasi
Untuk = 35o ; diperoleh faktor daya dukung untuk keruntuhan geser umum
menurut Terzaghi: Nq = 41,4 dan Ng = 42,4
Po = (dw x gb ) + (Df-dw) gsat = (1 x 18) + (1 x 20) = 38 kN/m2
Kapasitas dukung ultimit untuk pondasi bujur sangkar pada tanah pasir :
qu = Po Nq + 0,4 gB Ng
= (38 x 41,4) + [0,4 x (20-10) x B x 42,4]
= 1573,2 + 169,6 B
Kapasitas dukung ultimit netto :
qun = qu - Po
= 1573,2 + 169,6 B 38 = 1535,2 +169,6 B
Tekanan pondasi netto :
qn = q Po = P/A Po = (1000/B2) 38
Faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung F = 3, maka :
F = qun / qn
3 = (1535,2 +169,6 B)/[(1000/B2) 38]
[(3000/B2) 114] = 1535,2 +169,6 B 169,6 B3 + 1687,2 B2 - 3000 = 0
Dengan cara coba-coba diperoleh lebar pondasi B = 1,26 m.

Penyelesaian Soal 3
b. Reduksi kapasitas dukung ultimit tanah jika muka air tanah naik sampai ke
permukaan tanah
Po = (Df .g) = 2 x (20 10) = 20 kN/m2
Kapasitas dukung ultimit untuk pondasi bujur sangkar pada tanah pasir :
qu = Po Nq + 0,4 gB Ng
Kapasitas dukung ultimit kondisi awal :
qu = (38 x 41,4) + [0,4 x (20-10) x 1,26 x 42,4] = 1786,90 kN/m2
Kapasitas dukung ultimit setelah muka air tanah naik :
qu = (20 x 41,4) + [0,4 x (20-10) x 1,26 x 42,4] = 1041,70 kN/m2
Kapasitas dukung ultimit netto :
qun = qu - Po
Kapasitas dukung ultimit kondisi awal :
qun = 1786,90 - 38 = 1748,90 kN/m2
Kapasitas dukung ultimit setelah muka air tanah naik :
qun = 1041,70 - 20 = 1021,70 kN/m2
Reduksi kapasitas dukung ultimit :

Re duksi qun

1748,90 1021,70
40,44%
1748,90

Soal 4
1000 kN

0.00 m

-2.00 m
-3.00 m

Pasir berlempung
= 25o
C = 15 kN/m2
gb = 17 kN/m3
gsat = 18,5 kN/m3

Suatu pondasi lajur memanjang


menahan beban struktur sebesar
1000 kN, pada kedalaman 2 m.
Data-data
karakteristik
tanah
seperti pada gambar :
a. Tentukan lebar pondasi jika
muka
air
tanah
pada
kedalaman 3 m dengan faktor
keamanan F = 3
b. Tentukan faktor keamanan
pondasi jika muka air tanah
naik sampai dasar pondasi

Penyelesaian Soal 4
Untuk = 25o ; diperoleh faktor daya dukung untuk keruntuhan geser umum
menurut Terzaghi:
Nc = 25,1; Nq = 12,7 dan Ng = 9,7
a. Perhitungan lebar pondasi jika muka air tanah pada kedalaman 3 m
Po = (Df x gb) = 2 x 17 = 34 kN/m2
Asumsi : kedalaman muka air tanah dari dasar pondasi (z) < lebar pondasi (B)
Karena kedalaman muka air tanah adalah 3 m dari permukaan tanah atau 1 m dari
dasar pondasi, dan dengan asumsi di atas, maka suku persamaan ke-3 dari
persamaan kapasitas daya dukung tanah digunakan nilai berat volume rataratanya.
grata-rata = g + (z/B)(gb - g )
= (18,5 10) + (1/B)[17 (18,5-10)]
= 8,5 + (8,5/B)

Kapasitas dukung ultimit netto untuk pondasi memanjang:


qun = 1,3 c Nc +Po (Nq-1) + 0,5 grata-rataB Ng
= (1,3 x 15 x 25,1) + [34 x (12,7-1)] + [0,5 x (8,5 + 8,5/B) x B x 9,7]
= (928,48 + 41,23 B)

Penyelesaian Soal 4
Jika faktor keamanan sama dengan 3, maka :
qun = (1/3) (928,48 + 41,23 B) = 309,49 + 13,74 B
Beban pondasi kotor adalah 1000 kN.
Untuk pondasi laju memanjang, maka tambahan tekanan pada dasar pondasi per
meter persegi atau tekanan pondasi netto adalah :
qn = q Po = P/A Df gb
= (1000/B x 1) 34 = (1000/B) 34
Sehingga :
qun = qn
309,49 + 13,74 B = (1000/B) 34
309,49 B+ 13,74 B2 = 1000 34 B
13,74 B2 + 343,49 B 1000 = 0
Dengan trial and error diperoleh lebar pondasi B = 2,63 m
Letak muka air tanah z = 1 m < B = 2,63 m (sesuai dengan asumsi)
Sehingga penggunaan nilai grata-rata pada suku ke-3 dalam persamaan daya
dukung adalah benar.

Penyelesaian Soal 4
b. Perhitungan faktor keamanan, jika muka air tanah naik sampai dasar pondasi
Po = (Df x gb) = 2 x 17 = 34 kN/m2
Karena kedalaman muka air tanah terletak pada dasar pondasi, maka suku
persamaan ke-3 dari persamaan kapasitas daya dukung tanah digunakan nilai
berat volume efektif.
Kapasitas dukung ultimit netto untuk pondasi memanjang:
qun = 1,3 c Nc +Po (Nq-1) + 0,5 gB Ng
= (1,3 x 15 x 25,1) + [34 x (12,7-1)] + (0,5 x 8,5 x 2,63 x 9,7)
= 995,67 kN/m2
Tekanan pondasi netto :
qn = q Po = P/A Df gb
= (1000/2,63 x 1) 34 = 346,23 kN/m2
Sehingga faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung menjadi :
F = qun / qn = 995,67 / 346,23 = 2,88
Jadi, bila muka air tanah naik sampai dasar pondasi maka faktor aman yang
semula F = 3 turun menjadi F = 2,88

TEORI DAYA DUKUNG


SKEMPTON

ANALISIS SKEMPTON
UNTUK PONDASI PADA TANAH LEMPUNG
Daya dukung ultimit pondasi memanjang pada tanah lempung menurut
analisis Skempton :
qu = cuNc + Df g
Daya dukung ultimit neto :
qun = cu Nc
Daya dukung ultimit pondasi empat persegi panjang dengan panjang L
dan lebar B, pada tanah lempung menurut analisis Skempton :
qu = (0.84 + 0.16 B/L) cuNc(bujur sangkar) + Df g
Daya dukung ultimit neto :
qun = (0.84 + 0.16 B/L) cuNc(bujur sangkar)
dengan :
qu
= daya dukung ultimit.
qun
= daya dukung ultimit neto.
Df
= kedalaman pondasi.
g
= berat volume tanah.
c.
= kohesi pada kondisi tak terdrainase.
Nc
= faktor daya dukung menurut Skempton

FAKTOR DAYA DUKUNG SKEMPTON

Faktor daya dukung Nc (Skempton, 1951)

FAKTOR DAYA DUKUNG SKEMPTON


Faktor daya dukung Nc (Skempton, 1951)
(1). Pondasi di permukaan (Df= 0)
Nc permukaan = 5.14 untuk pondasi memanjang
Nc permukaan = 6.20 untuk pondasi lingkaran dan bujur sangkar.
(2). Pondasi pada kedalaman 0 < Df < 2.5 B
Df

Nc 1 0.2 Nc permukaan
B

(3). Pondasi pada kedalaman Df >2.5 B


Nc = 1.5 Nc permukaan

Soal 1
Kondisi banjir

+ 1.00 m
0.00 m

20000 kN

-2.50 m

Lempung jenuh
u = 0o
Cu = 90 kN/m2
gsat = 20 kN/m3

Suatu
bangunan
dilengkapi
dengan basement yang didukung
oleh pondasi rakit berukuran 10 m
x 10 m, dengan kedalaman 2,5 m.
Tanah dibawah pondasi berupa
lempung
jenuh.
Data-data
karakteristik tanah seperti pada
gambar.
Tentukan
faktor
keamanan terhadap keruntuhan
akibat kapasitas dukung bila
beban total yang bekerja adalah
20.000 kN, dengan kondisi :
a. Letak muka air tanah sama
dengan permukaan tanah.
b. Jika akibat banjir terjadi
genangan setinggi 1 m dari
permukaan tanah

Penyelesaian Soal 1
Untuk Df/B = 2,5 / 10 = 0,25, maka dari grafik faktor daya dukung Skempton
diperoleh : Nc = 6,5;
a. Perhitungan faktor keamanan jika muka air tanah sama dengan permukaan
tanah
Po = (Df x g) = 2,5 x (20-10) = 25 kN/m2
Po = (Df x gsat) = 2,5 x 20 = 50 kN/m2
Kapasitas dukung ultimit netto untuk pondasi di atas tanah lempung menurut
Skempton:
qun = c Nc = (90 x 6,5) = 585 kN/m2
Tekanan pondasi netto :
qn = q Po = P/A Df gsat
= [20000/(10 x 10)] 50 = 150 kN/m2
Sehingga faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung menjadi :
F = qun / qn = 585 / 150 = 3,90

Penyelesaian Soal 1
b. Perhitungan faktor keamanan jika terjadi genangan setinggi 1 m dari
permukaan tanah
Setelah muka air tanah naik menjadi 1 m di atas permukaan tanah, maka terjadi
tambahan gaya angkat ke atas yang mengurangi tekanan pondasi netto qn . Bila
berat volume air gw = 10 kN/m3, maka :
qn = qn hw gw = 150 (1 x 10) = 140 kN/m2
Kapasitas dukung ultimit netto untuk pondasi di atas tanah lempung menurut
Skempton: qun = c Nc = (90 x 6,5) = 585 kN/m2
Sehingga faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung menjadi :
F = qun / qn = 585 / 140 = 4,18
Setelah terjadi genangan setinggi 1 m, faktor aman bertambah.

Soal 2
500 kN

0.00 m

Df = ?

B=?
Lempung jenuh
u= 0o
Cu = 30 kN/m2
gsat = 20 kN/m3

Suatu pondasi berbentuk bujur


sangkar di atas tanah lempung
jenuh dengan beban keseluruhan
sebesar 500 kN. Data-data
karakteristik tanah seperti pada
gambar. Tentukan lebar dan
kedalaman pondasi, jika faktor
aman terhadap keruntuhan akibat
kapasitas dukung sebesar 3

Penyelesaian Soal 2
Penyelesaian dilakukan dengan cara coba-coba, sedemikian rupa hingga faktor aman
terhadap keruntuhan akibat kapasitas dukung terpenuhi
Di coba dimensi pondasi 2 m x 2 m, dengan kedalaman Df = 2 m
Untuk Df/B = 2 / 2 = 1, maka dari grafik faktor daya dukung Skempton diperoleh :
Nc = 7,8;
Po = (Df x gsat) = 2 x 20 = 40 kN/m2

Kapasitas dukung ultimit netto untuk pondasi di atas tanah lempung menurut
Skempton:
qun = c Nc = (30 x 7,8) = 234 kN/m2
Tekanan pondasi netto :
qn = q Po = P/A Df gsat
= [500/(2 x 2)] 40 = 85 kN/m2
Sehingga faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung menjadi :
F = qun / qn = 234 / 85 = 2,75.................... < 3 (lebar pondasi diperbesar)

Penyelesaian Soal 2
Di coba dimensi pondasi 2,1 m x 2,1 m, dengan kedalaman Df = 2 m
Untuk Df/B = 2 / 2,1 = 0,95, maka dari grafik faktor daya dukung Skempton
diperoleh : Nc = 7,7;

Po = (Df x gsat) = 2 x 20 = 40 kN/m2


Kapasitas dukung ultimit netto untuk pondasi di atas tanah lempung menurut
Skempton:
qun = c Nc = (30 x 7,7) = 231 kN/m2
Tekanan pondasi netto :
qn = q Po = P/A Df gsat
= [500/(2,1 x 2,1)] 40 = 73,38 kN/m2
Faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung menjadi :
F = qun / qn = 231 / 73,38 = 3,15 3 ......................OK !!!!
Dengan demikian dimensi pondasi direncanakan berbentuk bujur dangkar dengan
dimensi 2,1 m x 2,1 m dan kedalaman Df = 2 m.

TEORI DAYA DUKUNG


VESIC

ANALISIS DAYA DUKUNG VESIC


Persamaan daya dukung Terzaghi, menganggap bahwa permukaan baji
tanah membuat sudut terhadap arah horizontal.
Beberapa peneliti tetah mengamati bahwa sudut baji tidak membentuk
sudut , namun membentuk sudut (45 + /2) terhadap horizontal.
Persamaan daya dukung menurut analisa Vesic (1973) :

qu = c Nc + Po + g B Ng
Persamaan daya dukung yang disarankan Vesic (1973) sama dengan
persamaan Terzaghi tetapi persamaan faktor-faktor daya dukungnya
berbeda, seperti yang ditunjukkan dalam persamaan berikut :
Nc = (Nq 1) ctg

Prandtl (1924)
Nq = e (p tg ) tg2 (45 + /2)
Ng = 2(Nq + 1) tg

Reissner (1924)
Caquot dan Kerisel

PENGARUH KEDALAMAN DAN BENTUK PONDASI


Persamaan daya dukung Vesic belum memperhatikan pengaruh tahanan
geser tanah yang berkembang di atas dasar pondasi, karena berat tanah
di atas dasar pondasi digantikan dengan Po = Df g.
Untuk memperhitungkan faktor tahanan geser tersebut, maka harus
digunakan faktor-faktor kedalaman dan faktor bentuk pondasi.
Untuk ini, pada sembarang kedalaman dan bentuk pondasi, persamaan
daya dukung ultimit dimodifikasi menjadi:

qu = sc dc c Nc+ sq dq, Po Nq + sg dg B g Ng
dengan :
sc , sq , sg = faktor-faktor bentuk pondasi
dc , dq ,dg = faktor-faktor kedalaman pondasi

FAKTOR DAYA DUKUNG VESIC


Untuk faktor-faktor bentuk pondasi, Vesic (1973) menyarankan
pemakaian faktor bentuk (sc , sq, sg) pondasi dari De Beer, (1970).
Sedang untuk faktor-faktor kedalaman, Vesic (1973) menyarankan
pemakaian faktor-faktor kedalaman (dc , dq ,dg) dari Hansen (1970)
Dalam Persamaan di atas beban yang bekerja pada pondasi merupakan
beban vertikal dan terpusat (tidak eksentris).
Penggunaan persamaan tersebut harus memperhatikan pengaruh muka
air tanah seperti yang telah disampaikan pada sebelumnya.
Faktor-faktor daya dukung Prandtl, Reissner, dan Caquot-Kerisel yang
direkomendasikan Vesic telah banyak digunakan untuk penelitian dan
perancangan pondasi

FAKTOR DAYA DUKUNG VESIC


o

Nc

Nq

Ng

Nc

Nq

Ng

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

5.14
5.38
5.63
5.90
6.19
6.49
6.81
7.16
7.53
7.93
8.35
8.80
9.29
9.81
10.37
10.98
11.64
12.34
13.11
13.94
14.84
15.82
16.89
18.06
19.34
20.73

1.00
1.09
1.20
1.31
1.43
1.57
1.72
1.88
2.06
2.26
2.47
2.71
2.97
3.27
3.59
3.94
4.34
4.77
5.26
5.80
6.40
7.07
7.83
8.67
9.61
10.67

0.00
0.07
0.15
0.24
0.34
0.45
0.57
0.71
0.86
1.03
1.22
1.44
1.69
1.97
2.29
2.65
3.06
3.53
4.07
4.68
5.39
6.20
7.13
8.21
9.45
10.88

26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

22.27
23.96
25.82
27.88
30.16
32.70
35.52
38.67
42.20
46.17
50.63
55.68
61.41
67.94
75.39
83.95
93.81
105.23
118.52
134.04
152.30
173.88
199.54
230.26
267.29

11.86
13.21
14.73
16.45
18.41
20.65
23.20
26.11
29.46
33.33
37.79
42.96
48.98
56.01
64.26
73.98
85.47
99.13
115.45
135.04
158.71
187.46
222.61
265.88
319.54

12.55
14.48
16.73
19.35
22.42
26.01
30.24
35.22
41.10
48.07
56.36
66.25
78.10
92.34
109.52
130.36
155.72
186.75
224.91
272.09
330.77
404.20
496.69
614.03
764.01

TEORI DAYA DUKUNG


MEYERHOF

KONSEP DAYA DUKUNG MEYERHOF

Gambar
Keruntuhan daya dukung analisis Meyerhof

Analisis daya dukung Meyerhof (1955)


menganggap sudut baji b (sudut antara
bidang AD atau BD terhadap arah horizontal)
tidak sama dengan , dan nilai b > .
Akibatnya, bentuk baji lebih memanjang ke
bawah bila dibandingkan dengan analisis
Terzaghi.
Zona keruntuhan berkembang dari dasar
pondasi, ke atas sampai mencapai
permukaan tanah.
Jadi, tahanan geser tanah di atas dasar
pondasi diperhitungkan.
Karena b > , nilai faktor-faktor daya dukung
Meyerhof lebih rendah daripada yang
diberikan oleh Terzaghi.
Namun,
karena
Meyerhof
mempertimbangkan
faktor
pengaruh
kedalaman pondasi, daya dukungnya
menjadi lebih besar.

ANALISIS DAYA DUKUNG MEYERHOF


Meyerhof (1963) memberikan persamaan daya dukung dengan
mempertimbangkan faktor bentuk pondasi, kemiringan beban dan kuat geser
tanah diatas dasar pondasinya, sebagai berikut :

qu = sc dc ic c Nc+ sq dq iq Po Nq + sg dg ig B g Ng
dengan :
qu
s c , s q, s g
dc , dq , dg
ic, iq, ig
Nc, Nq, Ng
B
Po
Df
g

= daya dukung ultimit


= faktor bentuk pondasi
= faktor kedalaman pondasi
= faktor kemiringan beban
= faktor daya dukung untuk pondasi memanjang
= lebar pondasi efektif
= Df . g = tekanan overburden pada dasar pondasi
= kedalaman pondasi
= berat volume tanah

FAKTOR DAYA DUKUNG MEYERHOF

Nc = (Nq 1) ctg
Nq = e (p tg ) tg2 (45 + /2)
Ng = (Nq - 1) tg (1,4 )

PENGARUH EKSENTRISITAS PONDASI


Bila beban eksentris, maka Meyerhof menyarankan menggunakan
dimensi pondasi efektif, sebagai berikut :
B = B 2 ex
dan L = L 2 ey
Bila beban eksentris satu arah, maka digunakan B/L atau B/L,
tergantung dari letak relatif eksentrisitasnya.
Meyerhof menyarankan faktor koreksi sudut geser dalam untuk pondasi
empat persegi panjang yang terletak pada tanah granuler sebagai
berikut :
p = (1,1 0,1 B/L) t
Dengan :
p = sudut geser dalam yang digunakan untuk menentukan faktor daya
dukung
t = sudut geser dalam tanah dari hasil pengujian triaksial kompresi.
Untuk pembebanan eksentris dua arah, digunakan B/L sebagai ganti B/L
untuk persamaan-persamaan daya dukung pondasi

TEORI DAYA DUKUNG


HANSEN

ANALISIS DAYA DUKUNG HANSEN


Brinch Hansen (1970) memberikan persamaan daya dukung dengan
mempertimbangkan faktor bentuk pondasi, kemiringan beban dan kuat geser
tanah diatas dasar pondasinya, yang sama seperti persamaan daya dukung
Meyerhof (1963), sebagai berikut :

qu = sc dc ic c Nc+ sq dq iq Po Nq + sg dg ig B g Ng
dengan :
qu
s c , s q, s g
dc , dq , dg
ic, iq, ig
Nc, Nq, Ng
B
Po
Df
g

= daya dukung ultimit


= faktor bentuk pondasi
= faktor kedalaman pondasi
= faktor kemiringan beban
= faktor daya dukung untuk pondasi memanjang
= lebar pondasi efektif
= Df . g = tekanan overburden pada dasar pondasi
= kedalaman pondasi
= berat volume tanah

FAKTOR DAYA DUKUNG HANSEN


Faktor-faktor daya dukung yang diberikan oleh Hansen (1970) hampir sama
dengan Meyerhof (1963) , yaitu :

Nc = (Nq 1) ctg
Nq = e (p tg ) tg2 (45 + /2)
Namun ada perbedaan dalam meperkirakan nilai Ng, yaitu :

Ng = 1,5 (Nq - 1) tg

(Hansen, 1970)

RANGKUMAN
TEORI DAYA DUKUNG
MENURUT BEBERAPA PENELITI

RANGKUMAN TEORI DAYA DUKUNG


MENURUT BEBERAPA PENELITI
Peneliti

Persaman Daya Dukung

Faktor Daya Dukung

Keterangan

Terzaghi

Persamaan umum :
qu = sc c Nc + sq q Nq + sg g B Ng

Pertemuan antara sisi baji dan


dasar pondasi membentuk sudut
sebesar sudut geser dalam tanah .

Penggunaan :
untuk pondasi pada
tanah granuler dan
tanah c

Pondasi memanjang
qu = c Nc + Df g Nq + g B Ng

Faktor Daya Dukung

Pondasi bujur sangkar


qu = 1,3c Nc + Df g Nq + 0,4 g B Ng
Nc cot g

Pondasi lingkaran
qu = 1,3 c Nc + Df g Nq + 0,3 g B Ng
Pondasi empat persegi panjang
qu = c Nc (1 + 0.3 B/L) + Df g Nq +
g B Ng (1 0.2 B/L)

a2

1
2 cos2 45 / 2

Untuk pondasi
dengan beban
vertikal dan sentris

Tidak

1
memperhitungkan
a e( 4 p - 2 ) tg
faktor kemiringan
2
dan eksentrisitas

a
Nc tg 1
Nq

1
beban
2 cos2 45 / 2

tg Kp

Ng

2
2 cos

RANGKUMAN TEORI DAYA DUKUNG


MENURUT BEBERAPA PENELITI
Peneliti
Skempton

Persaman Daya Dukung


Pondasi memanjang
qu = cuNc+Df g
Pondasi empat persegi panjang
qu = (0.84 + 0.16 B/L)
cuNc(bujur sangkar) + Df g

Vesic

Persamaan umum sama


dengan Terzaghi :
qu = sc dc c Nc + sq dqq Nq
+ sg dg g B Ng
Pondasi memanjang
qu = c Nc + Df g Nq + g B Ng

Faktor Daya Dukung

Keterangan

Faktor Daya Dukung


Pondasi di permukaan (Df= 0)
Nc permukaan = 5.14 untuk pondasi memanjang
Nc permukaan = 6.20 untuk pondasi lingkaran
dan bujur sangkar.
Pondasi pada kedalaman 0 < Df < 2.5 B
Nc = Nc permukaan
Pondasi pada kedalaman Df >2.5 B
Nc = 1.5 Nc permukaan

Penggunaan :
untuk pondasi
pada tanah
lempung

Sudut baji tidak membentuk sudut , namun


membentuk sudut (45 + /2) terhadap
horizontal

Penggunaan :
untuk pondasi
pada tanah
granuler

Faktor Daya Dukung


Nq = e (p tg ) tg2 (45 + /2)
Nc = (Nq 1) ctg
Ng = 2(Nq + 1) tg

RANGKUMAN TEORI DAYA DUKUNG


MENURUT BEBERAPA PENELITI
Peneliti

Persaman Daya
Dukung

Meyerhof
(1963)
dan
Hansen
(1970

Persamaan umum
qu = sc dc c Nc +
sq dqq Nq
+ sg dg g B
Ng

Faktor Daya Dukung

Keterangan

Sudut baji b tidak sama


dengan , dan nilai b > .

Bentuk baji lebih memanjang ke bawah bila


dibandingkan dengan analisis Terzaghi.
Zona keruntuhan berkembang dari dasar
pondasi, ke atas sampai mencapai permukaan
tanah.
Tahanan geser tanah di atas dasar pondasi
diperhitungkan.
Karena b > , nilai faktor-faktor daya dukung
Meyerhof lebih rendah daripada yang diberikan
oleh Terzaghi.
Namun, karena Meyerhof mempertimbangkan
faktor pengaruh kedalaman pondasi, daya
dukungnya menjadi lebih besar.
Meyerhof (1963) dan Brinch Hansen (1970)
memberikan persamaan daya dukung dengan
mempertimbangkan faktor bentuk pondasi,
kemiringan beban dan kuat geser tanah diatas
dasar pondasinya
Bila beban eksentris, maka Meyerhof
menyarankan menggunakan dimensi pondasi
efektif

Faktor Daya Dukung


Nc = (Nq 1) ctg
Nq = e (p tg ) tg2 (45 + /2)
Ng = (Nq - 1) tg (1,4 )
(Meyerhof)
Ng = 1,5 (Nq - 1) tg
(Hansen)
Persamaan daya dukung
menurut Hansen sama
dengan Meyerhof, tetapi
berbeda dalam
menentukan faktor daya
dukung Ng

FAKTOR-FAKTOR BENTUK PONDASI


(PERLOF, 1976 ; KEZDI, 1974)
Peneliti

sc

sq

sg

Terzaghi

1,3 (lingkaran)
1,3 (bujur sangkar)

1
1

0,60
0,80

B Nq (bs )
1
1

L Nq (m)

B Ng (bs )
1
1

L Ng (m)

1 + 0,2 (B/L)
Jika = 0; sq = 1

1 0,4 (B/L)

1 + (B/L) tg

1 0,4 (B/L)

1 + 0,2 (B/L)

1 0,1 (B/L)

Meyerhof
(1963)

Hansen
(1961)
De Beer
(1970)
Standar
Hungaria

B Nc (bs )
1
1

L Nc (m)

1 + 0,2 (B/L)
B Nq
1

L
Nc

1 + 0,2 (B/L)

FAKTOR KEDALAMAN PONDASI


(PERLOF, 1976; RAMIAH, 1981)
Peneliti

dc

Meyerhof
(1963)

j
Df
o
1 0,2
tg 45
2
B
Catatan :
Untuk dc, dq, dg, jika Df >
B, maka diambil Df = B
atau Df/ B = 1

Hansen
(1961)

Hansen
(1970)

0,35
0,6

L 1 0,7tg4 j

dq
Untuk j > 10o
j
Df
o
1 0,1
tg 45
2
B

Untuk j = 0o,
maka : dq = 1
dc

dc 1
Nq

dg
Untuk j > 10o
maka : dg = dq
Untuk j = 0o,
maka : dg = 1

Untuk j 25o ; dq = dc
Untuk j = 0o ; dq = 1

Untuk Df B
dq - (1 dq) / (Nq tgj )
Bila j = 0o, maka :
1 + 0,4 (Df/B)

Untuk Df B
1 + 2 (Df/B) tg j (1 sinj )2

Untuk Df B
maka : dg = 1

Untuk Df > B
dq - (1 dq) / (Nq tgj )
Bila j = 0o, maka :
1 + 0,4 arc tg (Df/B)

Untuk Df > B
1 + 2 tg j (1 sinj )2 s

Untuk Df > B
maka : dg = 1

dengan : s = arc tg (Df/B)

FAKTOR KEMIRINGAN BEBAN


(PERLOF, 1976; KEDZI, 1974)
Peneliti
Meyerhof
(1963)

Hansen
(1961)

ic
o

90 o

iq

iq

1 iq

Nq 1

iq = ic

Ph
1

Pv A' c cot g j

ig
o

iq2

PENGGUNAAN PERSAMAAN
ANALISIS DAYA DUKUNG TANAH YANG SESUAI

Metode Analisis
Terbaik digunakan untuk
Daya Dukung
Terzaghi
Tanah non kohesif dimana D/B 1 atau untuk
perkiraan secara cepat nilai qult dibandingkan
dengan metode-metode lain.
Skempton
Untuk pondasi pada tanah lempung
Meyerhof,
Hansen
Hansen, Vesic

Dapat digunakan untuk segala kondisi, tergantung


pemilihan pemakai atas pengenalan tentang
merode-metode tertentu
Dapat digunakan pada kondisi alasnya miring, bila
telapak berada pada sebuah lereng dan bila D/B > 1

ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI


DENGAN PEMBEBANAN EKSENTRIS

PEMBEBANAN EKSENTRIS

Gambar
(a). Pembebanan eksentris pada lokasi memanjang
(b). Pengaruh eksentrisitas pembebanan pada daya
dukung pondasi memanjang yang dibebani
secara vertical (Meyerhof, 1953)

PERSAMAAN DAYA DUKUNG UNTUK BEBAN EKSENTRIS

Pengaruh pembebanan vertikal yang eksentris pada pondasi memanjang yang


terletak di permukaan tanah kohesif ( = 0) dan tanah granuler (c = 0 dan = 35),
secara kuantitatif diperlihatkan oleh Meyerhof (1953).
Faktor reduksi daya dukung rnerupakan fungsi dari eksentrisitas beban.
Pada tanah-tanah granuler reduksi daya dukung Iebih besar daripada tanah
kohesif.
Daya dukung ultimit pembebanan vertikal-eksentris (qu) diperoleh dengan
mengalikan daya dukung ultimit pondasi dengan pembebanan vertikal-terpusat
dengan faktor reduksi, Re, yaitu

qu = Re qu
dengan :
qu = daya dukung ultimit pada pembebanan vertikal-eksentris
Re = factor reduksi akibat pembebanan eksentris
qu = daya dukung ultimit pada pembebanan vertikal-terpusat

Jika e/B = 0,5, maka daya dukung ultimit dama dengan nol (Re = 0).
Jika e/B = 0 atau beban vertikal di pusat pondasi, maka daya dukung ultimit
menjadi bernilai penuh (Re = 1).

AREA KONTAK EFEKTIF

(a). Eksentrisitas satu arah; (b). Eksentrisitas dua arah;


(c). Eksentrisitas dua arah dan disederhanakan (Meyerhof, 1953)

EKSENTRISITAS BEBAN SATU ARAH

Meyerhof (1953) menganggap bahwa pengaruh eksentrisitas beban pada daya


dukung adalah mereduksi dimensi pondasinya.

Bila area pondasi sebenarnya berukuran B dan L, akibat pengaruh beban yang
eksentris, Meyerhof memberikan koreksi untuk lebar dan panjangnya yang
dinyatakan oleh dimensi efektif pondasi B' dan L'.

Untuk eksentrisitas beban satu arah, dimensi efektif pondasi dinyatakan sebagai
berikut:
(1) Jika beban eksentris pada arah lebarnya, lebar efektif pfondasi dinyatakan oleh:
B' = B-2ex, dan L' = L
(2) Jika beban eksentris pada arah memanjangnya, panjang efektif pondasi
dinyatakan oleh:
L' = L - 2ey, dan B' = B
dengan ex dan ey, adalah eksentrisitas resultan beban pada arah x dan y

EKSENTRISITAS BEBAN DUA ARAH

Jika eksentrisitas beban dua arah, yaitu ex dan ey, maka lebar efektif pondasi
ditentukan sedemikian hingga resultan beban terletak di pusat berat area efektif A

Komponen vertikal beban total (P) yang didukung oleh pondasi dengan beban
eksentris dinyatakan oleh :

P = qu . A = qu B L

Dengan A adalah luas efektif dengan sisi terpanjang L, sedemikian hingga pusat
beratnya berimpit dengan garis kerja resultan beban pondasi, dalam hal ini B =
A/L.
Untuk eksentrisitas beban dua arah, Meyerhof (1953)
penyederhanaan luas dasar pondasi efektif sebagai berikut :
B = B 2 ex dan L = L 2 ey

menyarankan

Soal 1
P=?
ex = 0,2 m
0.00 m
- 1.00 m Df = 2 m
- 2.00 m

B=4m
Lempung
= 0o
C = 50 kN/m2
gb = 18 kN/m3
gsat = 20 kN/m3

Suatu pondasi berbentuk bujur


sangkar (4 m x 4 m) dengan datadata karakteristik tanah seperti
pada gambar. Tentukan besarnya
beban maksimum yang bekerja,
bila
faktor
aman
terhadap
keruntuhan kapasitas dukung
adalah F = 3

Penyelesaian Soal 1
Eksentrisitas e x = 0,2 m, sehingga :
B = B 2 ex = 4 (2 x 0,2) = 3,6 m
Untuk = 0o, maka dari grafik faktor pengaruh daya dukung menurut Meyerhof
diperoleh : Nc = 6,16, dan Nq = 1, Ng = 0, sehingga :
Kapasitas dukung ultimit untuk pondasi bujur sangkar pada tanah lempung :
qu = c Nc + Po Nq + 0,4 gB Ng
= (50 x 5) + [((18 x 1) + (20-10)x1)x1] + 0,4 x (20-10) x 3,6 x 1
= 292,40 kN/m2
Kapasitas dukung ultimit netto :
qun = qu - Po
= 292,40 28 = 264,40 kN/m2
Tekanan pondasi netto :
qn = q Po = P/A Po = P/(B x B) 28
Faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung F = 3, maka :
F = qun / qn
3 = (264,40/[(P/3,62) 28]
P = 1505 kN
Sehingga diperoleh beban maksimum yang bekerja pada pondasi adalah 1505 kN

Penyelesaian Soal 1
qu = Po Nq + 0,4 gB Ng
= (38 x 41,4) + [0,4 x (20-10) x B x 42,4]
= 1573,2 + 169,6 B
Kapasitas dukung ultimit netto :
qun = qu - Po
= 1573,2 + 169,6 B 38 = 1535,2 +169,6 B
Tekanan pondasi netto :
qn = q Po = P/A Po = (1000/B2) 38
Faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung F = 3, maka :
F = qun / qn
3 = (1535,2 +169,6 B)/[(1000/B2) 38]
[(3000/B2) 114] = 1535,2 +169,6 B 169,6 B3 + 1687,2 B2 - 3000 = 0
Dengan cara coba-coba diperoleh lebar pondasi B = 1,26 m.

ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI


DENGAN PEMBEBANAN MIRING

PEMBEBANAN MIRING

Gaya Horisontal pada dasar pondasi


ditahan oleh geseran antara dasar
pondasi dan tanah di sepanjang dasar
pondasi dan tekanan tanah pasif pada sisi
lain pondasi.

Tahanan geser pada dasar pondasi dipilih


nilai terkecil dari ketiga gaya perlawanan
berikut ini :
1. adhesi antara tanah dan dasar pondasi

2. gesekan
pondasi

Gaya-gaya pada pondasi yang


menimbulkan arah beban miring
(Teng, 1962)

antara

tanah

dan

dasar

3. geseran horizontal antara tanah dengan


tanah dibawah dasar pondasi, bila
dasar pondasinya sangat kasar

ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI DENGAN


PEMBEBANAN MIRING MENURUT MEYERHOF

Meyerhof (1953) memperlihatkan pengaruh pembebanan miring terhadap


reduksi daya dukung pondasi memanjang yang terletak pada tanah kohesif ( =
0) dan tanah granuler (c = 0, = 35)
Meyerhof menyarankan reduksi daya dukung ultimit pondasi pada kedalaman
Df yang mengalami pembebanan miring, sebagai berikut :
1. Pertama beban dianggap vertikal dan daya dukung ditentukan dengan
prosedur normal,
2. Kemudian daya dukugn terhitung dikalikan dengan factor reduksi Ri.
3. Daya dukung pondasi memanjang dengan dasar horizontal pada
pembebanan miring dinayatakan dengan persamaan sebagai berikut :
Pv/B = Ri qu
Bila dasar pondasi miring sebesar , maka :
P/B = Ri qu
Dengan :
qu = daya dukung ultimit atau daya dukung diijinkan untuk pondasi dengan
dasar horisontal pada pembebanan vertikal
Ri = faktor reduksi akibat pembebanan miring
Pv = komponen beban vertikal
B = lebar pondasi

PENGARUH KEMIRINGAN BEBAN

Pengaruh kemiringan beban terhadap daya dukung pondasi memanjang di permukaan


(Meyerhof, 1953)

PENGARUH KEMIRINGAN BEBAN

Daya dukung pondasi memanjang pada pembebanan miring


(a). Dasar pondasi horisontal ; (b). Dasar pondasi miring (Meyerhof, 1953 dari Teng, 1962)

FAKTOR KEMIRINGAN BEBAN


(PERLOF, 1976; KEDZI, 1974)

Meyerhof (1963) dan Brinch Hansen (1961) juga menyarankan faktor-faktor


kemiringan beban (ic, iq, ig) dalam perhitungan daya dukung ultimit pondasi,
dengan nilai faktor kemiringan seperti pada Tabel berikut

qu = sc dc ic c Nc+ sq dq iq Po Nq + sg dg ig B g Ng
Faktor kemiringan beban (Perlof, 1976; Kedzi, 1974)

Peneliti
Meyerhof
(1963)

Hansen
(1961)

ic
o

90 o

iq

iq

1 iq

Nq 1

iq = ic

Ph
1

A
'
c
cot
g
j
v

ig
o

jo

iq2

ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI DENGAN


PEMBEBANAN MIRING MENURUT JANBU
Persamaan daya dukung pondasi memanjang dengan pembebanan miring di pusat
pondasi adalah (Janbu, 1954) :

Pv NhPh
= c Nc + Po Nq + B Ng
A
Dengan :
Pv = komponen beban vertikal yang diterapkan
Nh = faktor daya dukung
Ph = gaya horisontal pada dasar pondasi yang nilainya tidak boleh melampaui Pv
tg
c = kohesi
B = lebar atau diameter pondasi
A = luas pondasi
Po = Df g = tekanan overburden pada dasar pondasi
Df = kedalaman pondasi
g = berat volume tanah
L = panjang pondasi
Nc, Nq,Ng = faktor daya dukung yang tergantung dari nilai

FAKTOR DAYA DUKUNG PEMBEBANAN MIRING


(JANBU, 1957)

ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI


DENGAN KOMBINASI PEMBEBANAN
MIRING DAN EKSENTRIS

KOMBINASI PEMBEBANAN MIRING DAN


EKSENTRIS

Pengaruh kombinasi beban eksentris dan miring untuk tanah granular dengan kohesi c = 0
dan sudut geser dalam = 30o (Wack, 1961; Sokolovski, 1965)

Jika pembebanan yang terjadi selain miring juga eksentris, maka daya dukung tanah
tergantung pada orientasi gaya-gayanya, Wack (1961) mengamati bahwa :

Jika arah komponen gaya horisontal mendekati pusat pondasi (Gambar a), maka
luas bidang longsor akan berkurang dibandingkan dengan bila bebannya vertikal
( = 0).

Jika arah komponen gaya horisontal menjauhi pusat pondasi (Gambar b), maka
luas bidang longsor akan bertambah dibandingkan bila bebannya vertikal

PERHITUNGAN DAYA DUKUNG UNTUK KOMBINASI


PEMBEBANAN EKSENTRIS DAN MIRING (WACK, 1961)

Jika bebannya eksentris dan miring dengan arah komponen beban horisontal
mendekati pusat pondasi, maka :

P = qu . A = qu B L
qu = sc dc ic c Nc+ sq dq iq Po Nq + sg dg ig B g Ng

Jika kombinasi pembebanan eksentris dan miring, maka :


a. P = qu . A = qu B L , anggapan : beban eksentris tetapi tidak miring
b. P = qu . A = qu B L, anggapan : beban miring tetapi tidak eksentris
c. P = qu . A = qu B L, anggapan : beban vertikal-terpusat,
kemudian dikalikan dengan faktor koreksi C (dengan C < 1) yang diperoleh
dari nilai-nilai hasil perhitungan langkah (a) dan (b).
Nilai C adalah sebagai berikut :

Hasil pada langkah (a)


Hasil pada langkah (b)

jika daya dukung langkah (b) > langkah (a)

Hasil pada langkah (b)


Hasil pada langkah (a)

jika daya dukung langkah (b) < langkah (a)

ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI


PADA LERENG

DAYA DUKUNG ULTIMIT UNTUK PONDASI


MEMANJANG YANG TERLETAK PADA TANAH MIRING
(MEYERHOF, 1957, DAN TENG, 1962)

PERSAMAAN DAYA DUKUNG ULTIMIT UNTUK PONDASI


MEMANJANG YANG TERLETAK PADA TANAH MIRING

Meyerhof (1957) memberikan persamaan daya dukung


memanjang yang terletak pada lereng, sebagai berikut :

qu = c Ncq + g B Ngq
dengan :
qu = daya dukung ultimit
c = kohesi
g = berat volume tanah
B = lebar pondasi
Ncq,Ngq = faktor-faktor daya dukung

Nilai faktor stabilitas Ns, dinyatakan sebagai berikut :

Ns

gH
c

dengan :
g = berat volume tanah
H = tinggi kaki lereng sampai puncak
c = kohesi

untuk

pondasi

TAHANAN PONDASI TERHADAP


GAYA ANGKAT KE ATAS (UP LIFT)

TAHANAN PONDASI TERHADAP


GAYA ANGKAT KE ATAS (UP LIFT)

Pondasi yang menahan gaya angkat ke atas (Teng, 1962)

TAHANAN PONDASI TERHADAP


GAYA ANGKAT KE ATAS (UP LIFT)
Tahanan pondasi terhadap gaya tarikan vertikal ke atas dinyatakan oleh:

Pt = Wp + Wt + Fr
Dengan :
Pt = gaya tahanan ultimit pondasi terhadap gaya tarikan vertikal ke atas
Wp = berat pelat pondasi
Wt = berat prisma tanah dalam areal yang diarsir
Fr = tahanan gesek disepanjang tanah yang tergeser
= 0,5 Df g A Ko tg (untuk tanah granuler)
= c A (untuk tanah kohesif)
A = luas selimut prisma tanah yang tertarik ke atas
Df = kedalaman pondasi
g
= berat volume tanah
Ko = koefisien tekanan tanah lateral saat diam
= sudut gesek dalam tanah
c = kohesi

ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI


PADA TANAH BERLAPIS

PONDASI TERLETAK PADA DUA LAPISAN


LEMPUNG DENGAN SIFAT BERBEDA
(Analisis Button)
Persamaan daya dukung pondasi yang terletak diatas dua
lapisan tanah lempung yang berbeda adalah sebagai berikut
(Button, 1953) :

qu = c1 Nc
dengan :
c1 adalah kohesi tanah lapisan atas dan Nc adalah faktor
daya dukung
bidang keruntuhan dianggap berbentuk silinder dan sudut
geser dalam tanah () dianggap nol.

Faktor daya dukung pondasi yang terletak diatas dua lapisan lempung
(Button, 1953)

PONDASI TERLETAK PADA DUA LAPISAN


LEMPUNG DENGAN SIFAT BERBEDA
(Analisis Vesic)
A. JIKA TANAH LEMPUNG PADA LAPISAN ATAS LEBIH LUNAK
DARIPADA LAPISAN DIBAWAHNYA :

qu = c1 Nm + Df g

Daya dukung ultimit netto :

qun = c1 Nm

dengan :
c1 = kohesi lapisan lempung bagian atas
Nm = faktor daya dukung
Df = kedalaman pondasi
g = berat volume tanah
Nilai-nilai Nm relatif aman untuk pondasi yang sangat kaku, dan
harus dipakai dengan hati-hati bila pondasinya fleksibel.
Vesic menyarankan faktor reduksi c1, bila tanah lempung
mempunyai sensitivitas 2, maka c1 digantikan dengan 0,75 c1.

PONDASI TERLETAK PADA DUA LAPISAN


LEMPUNG DENGAN SIFAT BERBEDA
(Analisis Vesic)
B. JIKA TANAH LEMPUNG PADA LAPISAN ATAS LEBIH KAKU
DARIPADA LAPISAN DIBAWAHNYA,
Analisisnya harus memperhatikan keruntuhan penetrasi ditepi pondasi dan
faktor daya dukung Nm dinyatakan dengan :

Nm = 1/b + (c2/c1)lc Nc (dengan Nm lc Nc)

Dengan :
b
= indeks penetrasi = BL /[2H(B + L)]
H = Jarak permukaan lapisan lempung bagian bawah dg dasar pondasi
L, B = panjang dan lebar pondasi
lc Nc = Nc = faktor daya dukung dg memperhatikan koreksi bentuk pondasi
c1, c2 = kohesi tanah pada lapisan bagian atas dan bawah

Nilai Nm tidak boleh melebihi l c Nc.


Untuk pondasi lingkaran dan bujur sangkar, b = B/4H dengan Nc = 6,17.
Untuk pondasi memanjang, b = B/2H dengan Nc = 5,14

Faktor daya dukung Vesic untuk pondasi diatas tanah kohesif berlapis
(dari Ramiah dan Chikanagappa, 1981)

Faktor daya dukung Nm Vesic untuk pondasi empat persegi panjang


dengan L/B 5 (dari Ramiah dkk., 1981)

c2/c1

B/H

10

20

5,14

5,14

5,14

5,14

5,14

5,14

5,14

1,5

5,14

5,31

5,45

5,59

5,70

6,14

7,71

5,14

5,43

5,69

5,92

6,13

6,95

10,28

5,14

5,59

6,00

6,38

6,74

8,16

15,42

5,14

5,69

6,21

6,69

7,14

8,66

20,56

5,14

5,76

6,35

6,90

7,42

9,02

25,70

10

5,14

5,93

6,69

7,43

8,14

11,40

51,40

5,14

6,14

7,14

8,14

9,14

14,14

Faktor daya dukung Nm Vesic untuk pondasi empat persegi panjang


dengan L/B = 1 (dari Ramiah dkk., 1981)

c2/c1

B/H

10

20

40

6,17

6,17

6,17

6,17

6,17

6,17

6,17

1,5

6,17

6,34

6,49

6,63

6,76

7,25

9,25

6,17

6,46

6,73

6,98

7,20

8,10

12,34

6,17

6,63

7,05

7,45

7,82

9,36

18,51

6,17

6,73

7,26

7,75

8,23

10,24

24,68

6,17

6,80

7,40

7,97

8,51

10,88

30,85

10

6,17

6,96

7,76

8,49

9,22

12,58

61,70

6,17

7,17

8,17

9,17

10,17

15,17

PONDASI TERLETAK PADA TANAH GRANULER


DIATAS TANAH LEMPUNG (Giroud, 1976)
Pondasi terletak diatas dua lapisan tanah, tanah granuler setebal H (c1 = 0, 1 > 0)
dan lempung jenuh (c2 > 0, 2 = 0) tebal tak terhingga (Giroud, 1976)

Pada B tertentu, jika bidang runtuh melewati


kedua lapisan, nilai daya dukung berada
diantara pondasi pada pasir dan
lempung.
Jika B kecil, bidang runtuh hanya akan
melewati lapisan pasir, maka :

qu = B g1 Ng

(daya dukung pondasi diatas tanah pasir )

Jika B > H, maka daya dukungnya lebih mendekati daya dukung pondasi pada
tanah lempung.
Jika B sangat besar, maka daya dukung pondasi sama dengan daya dukung
pondasi pada tanah lempung, lapisan pasir tidak berpengaruh sama sekali

qu2 = c2 Nc

Variasi lebar pondasi (B) terhadap daya dukung ultimit (qu)


(Giroud, 1976)

Suatu nilai lebar pondasi (B) optimum menghasilkan daya dukung ultimit
maksimum.

PONDASI TERLETAK PADA TANAH GRANULER


DIATAS TANAH LEMPUNG (Tsheng, 1957)
Persamaan daya dukung untuk pondasi memanjang yang terletak dipermukaan pada
kondisi jangka pendek atau kondisi tak terdrainase, menurut Tsheng (1957) :

qu = c2 Nc ;
untuk 0 < H/B < 1,5
qu = c2 Nc + B g1 Ng ; untuk 1,5 < H/B < 3,5
qu = B g1 Ng ;
untuk H/B > 3,5
dengan:
qu
= daya dukung ultimit pondasi memanjang di permukaan
c2
= kohesi tanah kondisi tak terdrainase pada lapisan tanah lempung
Nc, Ng = faktor daya dukung dg memperhatikan koreksi bentuk pondasi
g1
= berat volume tanah granuler

Jika tebal lapisan tanah granuler 3,5 B, maka bidang keruntuhan yang terjadi
hanya melewati lapisan tanah granuler

Faktor daya dukung pondasi diatas tanah berlapis yang terdiri dari tanah
granuler dan tanah lempung (Tsheng, 1957)

PERHITUNGAN DAYA DUKUNG PADA TANAH BERLAPIS


DENGAN MENGANGGAP LEBAR PONDASI FIKTIF

Daya dukung pondasi pada tanah berlapis


dengan menganggap lebar pondasi fiktif

Pondasi terletak pada lapisan tanah kuat


setebal H, dibawahnya terdapat lapisan
tanah lunak.
Dasar pondasi terletak pada kedalaman
Df dari permukaan tanah.
Pada lebar pondasi tertentu, daya
dukung pondasi dipengaruhi oleh lapisan
tanah lunak dibawahnya.

Pada analisis daya dukung, tanah lunak dibagian bawah dianggap menerima
tekanan dengan penyebaran beban sebesar 2 V : 1H. maka lapisan tanah kuat
diatasnya seakan-akan berfungsi sebagai pondasi pelat fiktif, dengan lebar fiktif :

Bf = B + H
Dengan :
Bf
= lebar pondasi fiktif
B
= lebar pondasi sebenarnya
H
= jarak dasar pondasi terhadap lapisan tanah lunak dibawahnya

PERHITUNGAN DAYA DUKUNG PADA TANAH BERLAPIS


DENGAN MENGANGGAP LEBAR PONDASI FIKTIF
Persamaan umum daya dukung pondasi memanjang dengan lebar fiktif Bf dan
kedalaman (Df + H), adalah :
quf = c2 Nc+ g1 (Df + H) Nq + Bf g2 Ng
dengan :
quf
= daya dukung ultimit pondasi dengan lebar fiktif Bf, kedalaman (Df + H)
c1, c2
= kohesi tanah pada lapisan ke-1 dan ke-2
g1 g 2
= berat volume tanah pada lapisan ke-1 dan ke-2
Df
= kedalaman pondasi
H
= jarak antara dasar pondasi dan permukaan lapisan tanah ke-2
Nc, Nq, Ng = faktor daya dukung
Daya dukung ultimit pondasi memanjang sebenarnya (qu), dengan lebar B dan
kedalaman Df, dg memperhitungkan pengaruh lapisan tanah lunak dibawahnya:
B
qu (quf - g1 H) f
B

Bila bentuk pondasi empat persegi panjang (B x L), maka persamaan daya dukung
ultimit pada persamaan di atas menjadi :
B L
qu (quf - g1 H) f f
BL

TANAH PONDASI DIBATASI LAPISAN SANGAT KERAS

(Mandel dan Salencon, 1969)

Persamaan daya dukung ultimit untuk pondasi


memanjang dinyatakan dalam persamaan (Mandel
dan Salencon, 1969) :

qu = xc c Nc+ xq Po Nq + xg B g Ng

Pondasi pada tanah pendukung


yang terletak pada lapisan keras
tak terhingga

Persamaan daya dukung ultimit diatas, didasarkan


pada anggapan bahwa gesekan tanah pada
pertemuan kedua lapisannya dapat berkembang
secara penuh saat terjadi keruntuhan pondasi

dengan :
qu = daya dukung ultimit pondasi memanjang
C = kohesi tanah pada lapisan bagian atas
Po = Df . g = tekanan overburden pada dasar pondasi
Df = kedalaman pondasi
g
= berat volume tanah pada lapisan bagian atas
B = lebar pondasi
Nc, Nq, Ng = faktor daya dukung, fungsi dari sudut geser dalam tanah bagian atas
xc, xq, xg = koefisien kenaikan daya dukung

Koefisien-koefisien kenaikan daya dukung


(Mandel dan Salencon, 1969, dari Ramiah, dkk. 1981)

B/H

0o

10

z = 1, untuk
B/H < 1,41

1,02
1,00

1,11
1,00

1,21
1,00

1,30
1,00

1,40
1,00

1,59
1,00

1,78
1,00

10o

z = 1, untuk
B/H < 1,12

1,11
1,07

1,35
1,21

1,62
1,37

1,95
1,56

2,33
1,79

3,34
2,39

4,77
3,25

20o

z = 1, untuk
B/H < 0,86

1,01
1,01

1,39
1,33

2,12
1,95

3,29
2,93

5,17
4,52

8,29
7,14

22,0
18,7

61,5
51,4

30o

z = 1, untuk
B/H < 0,63

1,13
1,12

2,50
2,42

6,36
6,07

17,4
16,5

50,2
47,5

150
142

1.444
1.370

14.800
14.000

Koefisien xg
(Mandel dan Salencon, 1969, dari Ramiah, dkk. 1981)
j
0o

B/H

10

1,01

1,04

1,12

1,36

z = 1, untuk sembarang B/H

10o

z = 1, untuk B/H < 4,07

20o

z = 1, untuk B/H < 2,14

30o

z = 1, untuk B/H < 1,30

1,20

1,07

1,28

1,63

2,20

4,41

9,82

2,07

4,23

9,90

24,8

178

1.450

DAYA DUKUNG PONDASI YANG


BERDEKATAN

Stuart (1962) dan Mandel (1963, 1965), daya dukung pondasi yang
letaknya sejajar dan dibebani secara serentak, jika pondasi letaknya
berdekatan maka daya dukung pondasinya akan saling mempengaruhi
satu sama lain, sehingga menghasilkan kenaikan daya dukung, yang
tergantung dari sudut geser dalam tanah ()
Vesic (1973), pengaruh jarak pondasi yang berdekatan akan mengecil
bila nilai banding panjang dan lebarnya (L/B) mendekati 1. Bila
kompressibilitas tanah berkurang, jarak pondasi yang berdekatan
mungkin tidak mempengaruhi daya dukungnya. Untuk model keruntuhan
pondasi tipe keruntuhan penetrasi hampir tidak ada pengaruh sama
sekali dengan adanya pondasi didekatnya.
Dalam perancangan pada umumnya kenaikan daya dukung akibat
letak pondasi yang berdekatan tidak diperhatikan, karena
pertimbangan keamanan. Lagipula bila jarak pondasi berdekatan tekanan
pada tanah dibawah pondasi menjadi bertambah, maka kriteria
penurunan toleransi sering lebih menentukan dalam perancangannya.

ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI


DARI HASIL PENGUJIAN TANAH
DI LAPANGAN

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT


not corrected
for overburden

Korelasi nilai SPT pada Tanah Lempung

N60

cu (kPa)

consistency

visual identification

0-2

0 - 12

very soft

Thumb can penetrate > 25 mm

2-4

12-25

soft

Thumb can penetrate 25 mm

4-8

25-50

medium

Thumb penetrates with moderate


effort

8-15

50-100

stiff

Thumb will indent 8 mm

15-30

100-200

very stiff

Can indent with thumb nail; not


thumb

>30

>200

hard

Cannot indent even with thumb nail

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT

Korelsi nilai SPT pada Tanah Granular


not corrected
for overburden

(N)60 Dr (%) consistency


0-4

0-15

very loose

4-10

15-35

loose

10-30

35-65

medium

30-50

65-85

dense

>50

85-100

very dense

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT


(Peck, Hansen dan Thornburn, 1963)

Hubungan empiris antara N, Nq, Ng, dan .


Peck, Hansen dan Thornburn (1963)

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT


(Terzaghi, dan Peck, 1948)

Daya dukung yang diijinkan dari pengujian


SPT untuk penurunan maks 1 inchi dan
penurunan tidak seragam inchi
(Terzaghi, dan Peck, 1948)

Kurva ini telah dipakai secara meluas,


tetapi terlalu konservatif.

Nilai-nilai pada kurva didasarkan pada


anggapan bahwa jarak muka air tanah
lebih besar B dari dasar pondasi.

Untuk pondasi dangkal, bila pasir pada


dasar pondasi jenuh air, dan Df < B,
Terzaghi menyarankan qa dibagi 2.

Untuk kedudukan air tanah < B dari dasar


pondasi, nilai qa diperoleh dg interpolasi

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT


(Terzaghi, dan Peck, 1948)

Jika tanah didasar pondasi terendam air, penurunan yang terjadi 2 kali
(pondasi yg terletak pada permukaan atau dekat permukaan tanah), maka
beban per satuan luas yang dibutuhkan untuk turun 1 inchi, berdasarkan
kurva :
Jika Df/B < 1, maka nilai qa direduksi setengahnya
Jika Df/B 1, maka nilai qa direduksi sepertiganya
Karena tanah sekitar pondasi mengurangi kenaikan besarnya penurunan
(Terzaghi dan Peck, 1948)
Terzaghi dan Peck menyarankan penurunan pada pondasi rakit yang
kaku dan pondasi sumuran < penurunan pada pondasi telapak atau
pondasi memanjang.
Untuk perancangan pondasi rakit yang kaku atau pondasi
sumuran yang terletak diatas pasir kering, nilai qa = 2 x qa pd kurva .
Untuk pondasi diatas pasir yang terendam air nilai qa = qa pd kurva.

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT


(Terzaghi, dan Peck, 1948)
Pada tekanan pondasi yang sama, penurunan pondasi
pada pasir terendam > penurunan pondasi pada pasir
kering atau lembab, karena :

Penurunan pondasi dengan lebar B akan


berkurang jika nilai modulus elastisitas (E) dari
tanah pada jarak B dari dasar pondasi bertambah.

Modulus elastisitas (E) bertambah jika tekanan


sekeliling
(confining
pressure)
efektif
bertambah.

Besarnya tekanan sekeliling sebanding dengan


tekanan vertikal efektif akibat berat tanah sendiri
(tekanan overburden efektif).

Jika muka air tanah naik dari kedalaman B dari


dasar pondasi sampai ke permukaan tanah, maka
tekanan sekeliling efektifnya berkurang 50%.

Oleh karena itu dapat diharapkan penurunannya


akan bertambah 100%

Hubungan antara nilai E dan


tekanan sekeliling efektif

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT


(Meyerhof, 1965)

Daya dukung ijin (qa) berdasarkan kurva


disamping
(Meyerhof,
1965)
tidak
diperlukan reduksi qa, karena qa sudah
direfleksikan dari uji SPT.
Nilai qa dinaikkan sampai 50%, maka :

N
untuk B F4
Kd
F1
2
N B F3
untuk B > F4
qa

Kd
F2 B
D
Kd 1 0,33 1,33 (Meyerhof, 1965)
B

qa

Daya dukung yang diijinkan dari pengujian


SPT untuk penurunan 1 inchi atau 25 mm
(Meyerhof, 1965)

dengan :
qa = daya dukung yang diijinkan untuk
penurunan, So = 25 mm = 1 inchi,
(kPa atau ksf)
N = Nilai SPT

FAKTOR F
Faktor F
F1
F2
F3
F4

N70

N55
SI, m

Fips

0,05
0,08
0,30
1,20

2,50
4,00
1,00
4,00

SI, m
0,04
0,06

Fips
2,00
3,20

sama

sama

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT


Pengukuran Nilai N SPT
KETENTUAN :

Sebelum pengujian SPT terlebih dulu memperkirakan secara


kasar lebar pondasi (B) yang terbesar dari bangunannya.

Terzaghi dan Peck (1948) menyarankan pengukuran nilai N


dilakukan pada interval 76 cm dari dasar pondasi sampai
sedalam B dibawahnya atau dari B sampai sedalam (Df + B)
dari permukaan, yang menunjukkan kondisi kepadatan tanah
dibawah pondasi secara kasar.

Jika dari hasil pengujian SPT diperoleh nilai N rata-rata yang


berbeda maka yang dipergunakan dalam perhitungan qa adalah
nilai N rata-rata terkecil.

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT


Koreksi Nilai N SPT (Terzaghi dan Peck, 1948)
Jika tanahnya mengandung pasir halus atau pasir berlanau, terletak
dibawah muka air tanah, maka nilai N SPT direduksi menjadi :

N = 15 + (N 15)
dengan :
N = nilai N yang digunakan dalam perhitungan qa
N = nilai N dari hasil pengujian SPT di lapangan.
Koreksi ini diberikan karena :
Tanah yang mengandung butiran halus akan memampat pada
jumlah pukulan kira-kira 15.
Perubahan volume akibat terlalu banyaknya pukulan, menimbulkan
tekanan air pori yang tinggi sehingga mengakibatkan kenaikan
jumlah pukulan.

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT


Koreksi Nilai N SPT (Gibbs dan Holtz, 1957. Tomlinson, 1969.
dan Peck, dkk., 1974)

Perbedaan antara N terukur


dengan N terkoreksi sangat besar
terutama disekat permukaan
tanah.

Kurva Tomlinson memperlihatkan


koreksi 4 kali dari N hasil
pengujian pada kedalaman yang
dangkal,
tetapi
penggunaan
koreksi tersebut harus diterapkan
dengan hati-hati.

Koreksi nilai N akibat tekanan overburden


Gibbs dan Holtz (1957), Tomlinson (1969) dan Peck, dkk. (1974)

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN SPT


Koreksi Nilai qa (Peck dan Bazaraa, 1969)
Peck dan Bazaraa (1969) mengamati bahwa nilai qa yang diberikan Terzaghi
terlalu aman, karena itu diusulkan beberapa modifikasi yaitu :
Nilai daya dukung yang diijinkan (qa) sebaiknya direduksi sebesar 50%
seperti yang disarankan oleh Meyerhof (1965)
Nilai N perlu dikoreksi terhadap tekanan overburden, tetapi koreksi
yang diberikan oleh Tomlinson, Gibbs dan Holtz terlalu besar, karena
itu diusulkan pemakaian koreksi Peck dan Bazaraa seperti di atas.
Diusulkan penggunaan koreksi qa terhadap muka air tanah, yaitu jika
kedalaman muka air tanah dengan jarak Z dari dasar pondasi selebar
B, penurunan dapat diestimasi dari :
S = K S
Dengan :
S = penurunan pondasi yang besarnya sama pada kondisi tanah kering.
K = perbandingan tekanan overburden efektif jika pasir kering dan jika
terendam air, pada kedalaman 0,5 B dibawah dasar pondasi.

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


KERUCUT STATIS (SONDIR)
0
0

qt (MPa)
5 10 15 20 25

Friction Ratio (%)


0123 45678
0

u2 (kPa)

Vs (m/sec)
0
250
500

-500 500 1500 2500

SM
Clayey
SiltSilt

Dense Sand

Depth BGS (m)

Dense Sand

10

10

10

10

15

15

15

15

20

20

20

20

25

25

25

25

Stiff Clay

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


KERUCUT STATIS (SONDIR)

Hubungan qc/N pada Tanah Granular

qc in kg/cm2 (1 kg/cm2 = 98.07 kPa)

dari uji SPT/CPT pada Tanah Granular

After Peck et al. (1974)

After Meyerhof (1976)

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


KERUCUT STATIS (SONDIR)
Persamaan qa, berdasarkan kurva Terzaghi dan Peck (1943) untuk pondasi pada
pasir kering yang dimensinya tidak begitu besar, (Meyerhof, 1956) :

Pondasi bujur sangkar atau pondasi memanjang dengan lebar B 1,20 m


q
qa
qc
30

Pondasi bujur sangkar atau pondasi memanjang dengan lebar B 1,20 m


qa

(kg / cm2 )

qc
0,3
1
qc
30
B

(kg / cm2 )

Pondasi sembarang, dengan mengabaikan lebarnya


q
qa
qc
40

(kg / cm2 )

dengan : qc = tahanan ujung kerucut statis (kg/cm2) ; qc = 4 N


B = lebar pondasi (m); N = diperoleh dari hasil pengujian sondir
Jika pondasi terletak pada tanah pasir terendam air, nilai qa diatas harus dibagi 2.
Untuk pondasi rakit dan pondasi sumuran, nilai qa dikalikan 2 (jika tanahnya
kering), dan nilai qa sama (jika tanah pasir terendam air).
Tomlinson (1969) menyarankan nilai qa yang diperoleh masih harus dikontrol
terhadap penurunan yang terjadi.

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


BEBAN PELAT

Metode pengujian beban pelat

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


BEBAN PELAT

settlement

pressure

Metode pengujian beban pelat

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


BEBAN PELAT
Prosedur pengujian beban pelat (ASTM D 1194):
1. Tentukanlah jenis penerapan beban,
2. Galilah sumur sampai kedalaman di mana pengujian harus dilaksanakan, paling
sedikit empat kali lebih lebar dari pelatnya dan sampai kedalaman dimana
pondasi harus dipasang (dipakai tiga ukuran pelat, sumurnya sedemikian besar
sehingga ada ruang antara pengujian pelat terbesar ukuran 3D).
3. Beban dipasang di atas pelat dan penurunan direkam dg ketelitian sampai 0,25
mm,
4. Diadakan pengamatan atas penambahan beban sampai laju penurunannya
melampaui kemampuaan alat ukur pelat.
Pertambahan bebannya harus kira-kira seperlima daya dukung tanah yang
diperkirakan.
Selang waktu pembebanan tidak boleh kurang dari 1 jam dan lama bebannya
harus kira-kira sama untuk semua pertambahan beban.
5. Pengujian dilanjutkan sampai total penurunan 25 mm, atau kemampuan alat
penguji tercapai.
6. Setelah beban dilepaskan, pantulan tanah direkam selama jangka waktu tertentu,
paling sedikit sama dengan lamanya pertambahan beban.

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


BEBAN PELAT

Data hasil pengujian beban pelat

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


BEBAN PELAT

Berdasarkan hasil pengujian beban pelat, maka daya dukung ultimit pondasi dapat
ditentukan dengan persamaan :
qB = qb

untuk tanah lempung

qB = (B/b) qb

untuk tanah pasir

dengan :
qB = daya dukung ultimit pondasi dengan skala penuh
qb
= daya dukung ultimit dari pengujian beban pelat
b
= lebar atau diameter pelat pengujian
B
= lebar atau diameter pondasi skala penuh

Ukuran dari beban pelat tidak berpengaruh terhadap daya dukung ultimit tanah
lempung, sehingga pengujian beban pelat ini dapat digunakan untuk menentukan
daya dukung pondasi yang terletak pada lapisan tanah lempung jika lapisan tanah
lempungnya mempunyai komponen kuat geser yang seragam di seluruh
lapisannya.

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


BEBAN PELAT

Untuk tanah c-, Housel (1929) menyarankan persamaan daya dukung ultimit yang
diperoleh dari hasil pengujian beban pelata sebagai berikut :

Pp = Apq + Kp s
Dengan :
Pp = beban total pada area dukungan seluas A
A p = luas beban pelat A
q
= tegangan kompresi di bawah A
s
= tegangan geser satuan pada batas pinggir
K p = keliling luasan beban pelat

Pada persamaan diatas, q dan s adalah dua bilangan yang belum diketahui, oleh
karena itu harus dilakukan dua kali pengujian dengan ukuran pelat yang berbeda.

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


BEBAN PELAT

Jika P1 dan P2 adalah beban yang dibutuhkan untuk memberikan penurunan


sebesar S dalam pelat 1 dan 2, maka :

P1 = A1q + K1s
dan

P2 = A2q + K2s

Dari nilai q dan s yang ditemukan, maka beban pondasi yang sebenarnya dihitung
dengan persamaan :

Pp = Apq + Kps
Dengan :
Pp = beban pondasi ultimit dengan usuran sebenarnya
Ap = luas dasar pondasi
q
= tegangan kompresi di bawah pondasi
s
= tegangan geser satuan pada batas pinggir pondasi
Kp = keliling luasan pondasi

DAYA DUKUNG DARI HASIL PENGUJIAN


BEBAN PELAT

Pengujian beban pelat akurat jika tanah dasarnya seragam sampai kedalaman
lapisan dimana distribusi tekanan pondasi bangunan yang sebenarnya masih
berpengaruh.

Lapisan lemah secara lokal yang terletak dibawah pelat uji, akan mempengaruhi
hasil pengujian.

Sebaliknya lapisan lemah yang letaknya agak dalam tidak berpengaruh terhadap
hasil pengujian beban pelat, tetapi banyak berpengaruh pada pondasi skala
penuh.

Kedalaman air tanah sangat berpengaruh terhadap daya dukung dan penurunan.

Pengujian beban yang dilakukan diatas air tanah, akan memberikan nilai daya
dukung yang lebih tinggi dibandingkan dengan daya dukung pondasi pada skala
penuh.

Jika digunakan pada tanah lempung, pengujian beban tidak memberikan data
penurunan konsolidasi jangka panjang

FAKTOR KEAMANAN

FAKTOR KEAMANAN

Pada perancangan, beban yang harus didukung oleh pondasi untuk


mendukung beban struktur relatif lebih kecil dibandingkan dengan beban
maksimum yang mengakibatkan keruntuhan daya dukungnya.

Nilai-nilai daya dukung yang aman, ditentukan dari perhitungan daya dukung
ultimit dibagi dengan faktor keamanan, berguna untuk memberikan keamanan
terhadap hal-hal berikut ini :
1. Nilai kuat geser tanah yang pada kondisi alamnya bervariasi dari setiap
lapisan
2. ketidaktentuan dari ketelitian hasil pengujian
kuat geser tanah di
laboratorium dan penggunaan persamaan-persamaan daya dukung tanah
ataupun metode empiris yang digunakan dalam perhitungan

3. penurunan yang berlebihan


4. kerusakan tanah secara lokal yang terjadi pada waktu pelaksanaan
pembangunan pondasi yang mengakibatkan pengurangan daya dukung.

PERKIRAAN DAYA DUKUNG AMAN


BERDASARKAN JENIS TANAH
No.
a

b.

Macam Tanah

Daya dukung aman


(kg/cm2)

Keterangan
Kelompok (a) :
Lebar fondasi B > 1
Kedalaman muka air
tanah > B dari dasar
fondasi

Tanah-tanah granuler

Kerikil padat/pasir bercampur kerikil


padat

> 6,0

Kerikil kepadatan sedang/ pasir


berkerikil kepadatan sedang

26

Kerikil tak padat/ pasir berkerikil tak


padat

<2

Pasir padat

>3

Pasir kepadatan sedang

Pasir tak padat

13
<1

Tanah-tanah kohesif
Lempung keras

36

Lempung pasir dan lempung kaku

24

Lempung agak kaku

0,5 1

Lempung sangat lunak dan lanau

< 0,75

Kelompok (b) :
Sangat dipengaruhi
oleh konsolidasi
jangka panjang

HOPEFULLY YOU UNDERSTAND THIS CHAPTER

Merci beaucoup pour votre attention

PENURUNAN
PONDASI DANGKAL

Oleh :
Tri Sulistyowati

MATERI KULIAH TEKNIK PONDASI

PENDAHULUAN
PENURUNAN (SETTLEMENT)
adalah perubahan volume tanah pada saat terjadi penambahan beban di atas
permukaannya yang mengakibatkan gerakan titik tertentu pada suatu konstruksi
terhadap titik referensi yang tetap.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA PENURUNAN

Kegagalan atau keruntuhan geser akibat terlampauinya kapasitas dukung tanah

Kerusakan atau terjadi defleksi yang besar pada pondasi

Distorsi geser dari tanah pendukungnya

Adanya deformasi partikel tanah,

Relokasi partikel tanah

Keluarnya air atau udara dari dalam pori


Pada umumnya penurunan tidak seragam lebih membahayakan bangunan daripada
penurunan total yang terjadi.
Oleh karena itu penurunan pondasi harus diperhitungkan dengan sangat hati-hati agar
tidak mengakibatkan kerusakan pada konstruksi bangunan diatasnya.

MACAM-MACAM PENURUNAN
PENURUNAN
S = Si + Sc + Ss

PENURUNAN SEGERA
Si

PENURUNAN
KONSOLIDASI

KONSOLIDASI
PRIMER
Sc

KONSOLIDASI
SEKUNDER
Ss

PENURUNAN TOTAL
Penurunan (settlernent) pondasi dapat
dibagi menjadi 3 komponen, yaitu:
1. Penurunan
segera
(immediate
settlement),
2. Penurunan konsolidasi primer, dan
3. Penurunan konsolidasi sekunder.
Penurunan total adalah jumlah dari
ketiga komponen penurunan tersebut,
atau dinyatakan dalam persamaan
sebagai berikut :
S = Si + Sc + Ss
Dengan :
S = penurunan total
Si = penurunan segera
Sc = penurunan konsolidasi primer
Ss = penurunan konsolidasi sekunder

PENURUNAN SEGERA
(IMMADIATE SETTLEMENT, Si)

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL


1.

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL YANG TERLETAK DI


ATAS LAPISAN TANAH HOMOGEN DENGAN KETEBALAN TAK TERHINGGA
Persamaan penurunan segera pada tanah homogen dengan ketebalan tak
terhingga berdasarkan Teori Elastisitas

qB
Si
1 m 2 Ip
E
dengan :
Si = penurunan segera
q = tekanan pada dasar pondasi
B = lebar pondasi atau diameter pondasi untuk pondasi berbentuk lingkaran
m = angka Poisson
E = modulus elastisitas tanah (modulus Young)
Ip = faktor pengaruh (tidak berdimensi)
Persamaan diatas didasarkan pada asumsi bahwa :
Beban P diletakkan diatas permukaan tanah, padahal dalam praktek di
lapangan pondasi selalu diletakkan pada kedalaman tertentu dibawah
permukaan tanah.

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL


Faktor pengaruh untuk pondasi
Bentuk
Lingkaran
Bujur
sangkar
Empat
persegi
panjang

Panjang
Lebar

Pusat

1
1.12

1.5
2
3
5
10
100
1000
10000

1.36
1.52
1.78
2.10
2.53
4.00
5.47
6.90

Ip
Fondasi Lentur/Fleksibel
Tengah sisi Tengah sisi
Sudut
terpendek
terpanjang
0.64
0.64
0.64
0.56
0.76
0.76
0.67
0.76
0.88
1.05
1.26
2.00
2.75
3.50

0.89
0.98
1.11
1.27
1.49
2.20
2.94
3.70

0.97
1.12
1.35
1.68
2.12
3.60
5.03
6.50

Rata-rata
0.85
0.95
1.15
1.30
1.52
1.83
2.25
3.70
5.15
6.60

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL


a. Penurunan segera akibat beban terbagi rata pada luasan lingkaran
fleksibel di permukaan
Persamaan penurunan segera akibat beban terbagi rata pada luasan
fleksibel berbentuk lingkaran dengan jari-jari R di permukaan tanah,
jika tanah dianggap elastis dengan tebal tak terhingga, dinyatakan
dalam persamaan :

qn R
Si
Ir
E
dengan :
Si
= penurunan segera (m)
qn
= tambahan tegangan atau tekanan pondasi netto (kN/m2)
E
= modulus elastisitas tanah (modulus Young) (kN/m2)
Ir
= faktor pengaruh untuk beban lingkaran yang tergantung dari
nilai angka Poisson (m) dan jarak dari pusat beban

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL

Tidak hanya zona dibawah


beban saja yang mengalami
penurunan, tetapi juga zona di
luar area pembebanan
Penurunan pada tepi luasan
lingkaran kurang lebih 70%
dari
penurunan
di
pusat
lingkaran beban.
Persamaan penurunan segera
di pusat beban lingkaran
fleksibel adalah :

2qn R
Si
(1 m 2 )
E
atau
Faktor pengaruh untuk penurunan akibat
beban terbagi rata berbentuk lingkaran
(Terzaghi, 1943)

qn D
Si
(1 m 2 )
E

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL


b. Penurunan segera pada fondasi empat persegi panjang fleksibel
Persamaan penurunan segera pada sudut dari beban berbentuk luasan
empat persegi panjang fleksibel, dinyatakan dalam persamaan :

qn B
Si
(1 m 2 )Ip
E
dengan :
Si
= penurunan segera (m)
qn
= tambahan tegangan atau tekanan pondasi netto (kN/m2)
E
= modulus elastisitas tanah (modulus Young) (kN/m2)
m
= angka Poisson
Ip
= faktor pengaruh untuk beban empat persegi yang tergantung
dari L/B
Penurunan untuk lokasi selain di sudut luasan segi empat dapat dihitung
dengan membagi-bagi luasan dalam bentuk-bentuk segi empat

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL

Faktor pengaruh untuk penurunan di sudut luasan berbentuk empat persegi fkleksibel
yang mendukung beban terbagi rata (Terzaghi, 1943)

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL


2.

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL YANG TERLETAK DI


ATAS LAPISAN TANAH HOMOGEN DENGAN KETEBALAN TERBATAS

Dalam kenyataan, lapisan tanah yang mampat tidak mempunyai


ketebalan tak terhingga
Lapisan tanah yang diendapkan secara alamiah terbentuk secara
berlapis-lapis dengan sifat yang berbeda-beda di atas lapisan yang
keras.
Dalam lapisan ini kuat geser dan modulus tanah biasanya bertambah
bila kedalaman bertambah.
Gibson (1967) telah mengamati bahwa variasi modulus tanah dengan
kedalaman mempunyai pengaruh kecil terhadap distribusi tegangan
tetapi mempunyai pengaruh yang berarti pada perubahan bentuk
permukaan.

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL


a.

Penurunan segera pada fondasi empat persegi panjang pada lapisan tanah
setebal H pada lapisan yang keras
Steinbrenner (1934) mengusulkan persamaan penurunan segera untuk luasan
beban berbentuk empat persegi panjang yang terletak pada lapisan tanah
dengan tebal H yang terletak pada lapisan yang keras, sebagai berikut :

qn
Si
IpB
E
Ip (1 m2 )F1 (1 m 2m2 )F2
Penurunan segera pada sembarang titik A
pada luasan beban berbentuk empat
persegi
panjang, dinyatakan dalam
persamaan sebagai berikut :

qn
Si
(Ip1 B1 Ip2 B2 Ip3 B3 Ip4 B4 )
E

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL

Diagram untuk menentukan F1 dan F2 (Steinbrenner, 1934)

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL


b.

Penurunan segera pada fondasi empat persegi panjang pada lapisan tanah
bersifat elastis dan fondasi tidak terletak di permukaan tanah
Bila lapisan tanah bersifat elastis dan fondasi tidak terletak di permukaan
tanah, maka perlu dilakukan koreksi terhadap penurunan di permukaan.
Nilai koreksi penurunan pada fondasi dengan kedalamantertentu diusulkan
oleh Fox dan Bowles (1977)
Nilai koreksi ini merupakan fungsi dari Df/B, L/B dan m, dimana L dan B
adalah dimensi fondasi, Df adalah kedalaman fondasi dan m adalah angka
Poisson.
Besarnya penurunan segera terkoreksi dinyatakan dengan persamaan :

Si' a Si
dengan :
a
= faktor koreksi untuk dasar fondasi pada kedalaman Df
Si = penurunan elastis yang telah terkoreksi (m)
Si = penurunan elastis pada hitungan dasar fondasi terletak di permukaan
(m)

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL

Faktor koreksi kedalaman untuk penurunan elastis pada fondasi


empat persegi panjang (Fox dan Bowles, 1977)

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL


3.

PENURUNAN SEGERA RATA-RATA UNTUK BEBAN TERBAGI RATA


FLEKSIBEL BERBENTUK EMPAT PERSEGI PANJANG DAN LINGKARAN
Persamaan penurunan segera rata-rata pada tanah homogen dengan ketebalan
terbatas, untuk beban terbagi rata fleksibel berbentuk empat persegi panjang dan
lingkaran dengan modulus elastisitas (E) bervariasi dan angka poisson atau
m = 0,5; menurut Janbu, Bjerrum dan Kjaernlsi (1956) :

Si m1 m0

qnB
E

Hanya untuk m = 0,5

dengan :
Si = penurunan segera rata-rata (m)
qn = tambahan tegangan netto (kN/m2)
B = lebar atau diameter beban terbagi rata (m)
m0 = factor koreksi untuk kedalaman pondasi Df
m1 = factor koreksi untuk lapisan tanah dengan tebal terbatas H
E = modulus elastisitas tanah (modulus Young)

L. Bjerrum
1918-1973

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI FLEKSIBEL

Diagram ini dapat digunakan untuk


nilai modulus E yang bervariasi
dengan kedalamannya, yaitu dengan
mengganti sistem tanah berlapis
sebagai suatu lapisan-lapisan fiktif
yang terletak pada lapisan yang keras
Hitungan besarnya penurunan segera
dilakukan dengan membagi tanah ke
dalam beberapa lapisan yang terbatas
Jika tegangan pada tiap lapisan dapat
dihitung maka akan dapat diperoleh
penurunan segera totalnya.

Faktor koreksi perhitungan penurunan


segera (Janbu, Bjerrum, Kjaernlsi, 1956)

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI KAKU

Persamaan penurunan segera pada fondasi kaku yang terletak di


permukaan tanah sekitar 7% lebih kecil dari penurunan rata-rata dari
fondasi fleksibel dengan dimensi yang sama (Schleicher, 1926).
Sehingga besarnya penurunan segera di permukaan untuk fondasi kaku
sama dengan besarnya penurunan fondasi fleksibel dikalikan faktor 0,93
atau dapat dinyatakan dengan persamaan :
Si (kaku) 0,93 x Si(rata-rata, fleksibel)
Si (rata-rata fleksibel) 0,85 x Si(di pusat, fleksibel)
Si (kaku) 0,8 x Si(di pusat, fleksibel)

PENURUNAN SEGERA PADA FONDASI KAKU


Faktor pengaruh untuk pondasi
Bentuk
Lingkaran
Bujur sangkar
Empat persegi
panjang

Panjang
Lebar
1
1.5
2
3
5
10
100
1000
10000

Ip
Fondasi Kaku
0.88
0.82
1.06
1.20
1.70
2.10
3.40
-

PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA PADA TANAH PASIR


DENGAN MENGGUNAKAN KORELASI EMPIRIS
1.

PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA DENGAN MENGGUNAKAN HASIL


UJI BEBAN PELAT
Uji beban di lapangan dengan skala penuh untuk menghitung penurunan
sangat mahal, sehingga uji beban pelat (plate load test) dianggap lebih
menguntungkan dikerjakan untuk meramalkan kelakuan fondasi yang
sebenarnya
Terzaghi dan Peck (1967) menyarankan persamaan penurunan untuk fondasi
pada tanah pasir dengan intensitas beban q dan lebar B sebagai berikut :
2

2B
x Sb
SB
B b
Dengan :
SB = penurunan pondasi (m)
Sb = penurunan pada pengujian pelat (m)
b = lebar pelat pengujian (m)
B = lebar pondasi (m)

PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA PADA TANAH PASIR


DENGAN MENGGUNAKAN KORELASI EMPIRIS
2. PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA DENGAN MENGGUNAKAN HASIL UJI SPT
Perkiraan penurunan segera untuk tanah pasir, dari hasil pengujian SPT
menurut Meyerhof (1965) :

4q
N
2
6 q B
Si

N B 1

Untuk B 1,2 m

2,5 q
N
2
4 q B
Si

N B 1

Untuk B 1,2 m

Si

Untuk B > 1,2 m

Perkiraan penurunan segera dari hasil pengujian SPT menurut Bowless (1977) :

Si

Untuk B > 1,2 m

Dengan :
Si = penurunan dalam inchi (1 inchi = 2,54 cm)
q = intensitas beban yang diterapkan dalam kip/ft2 (1 kip/ft2 = 0,49 kg/cm2)
N = jumlah pukulan pada pengujian SPT
B = lebar pondasi dalam ft (1 ft = 30,48 cm)

PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA PADA TANAH PASIR


DENGAN MENGGUNAKAN KORELASI EMPIRIS
Berdasarkan data lapangan dari Schultze dan Sherif (1973), Meyerhof (1974)
memberikan hubungan empiris untuk penurunan fondasi dangkal sebagai
berikut :

Si

Si

q B
2N

q B
N

Untuk pasir dan kerikil


Untuk pasir berlanau

Dengan :
Si = penurunan dalam inchi
q = intensitas beban yang diterapkan dalam ton/ft2
N = jumlah pukulan pada pengujian SPT
B = lebar pondasi dalaminchi

PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA PADA TANAH PASIR


DENGAN MENGGUNAKAN KORELASI EMPIRIS
3. PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA DENGAN MENGGUNAKAN HASIL UJI
PENETRASI KERUCUT STATIS (SONDIR)
De Beer dan Marten (1957) megnusulkan persamaan angka kompressi (C) yang
dikaitkan dengan persamaan Buismann sebagai berikut :

1,5 qc
po '

Dengan :
C = angka pemampatan (angka kompressibilitas)
qc = tahanan kerucut statis (sondir)
po = tekanan overburden efektif
Satuan qc dan po harus sama, kemudian nilai C disubstitusikan ke dalam
persamaan Terzaghi untuk penurunan pada lapisan tanah yang ditinjau, yaitu :

H po ' Dp
Si ln
C
po '

Dengan :
Si = penurunan akhir (m) dari lapisan setebal H (m)
po = tekanan overburden efektif awal, sebelum beban bekerja
Dp = tambahan tegangan vertikal di tengah-tengah lapisan oleh tegangan akibat
beban fondasi netto

PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA PADA TANAH PASIR


DENGAN MENGGUNAKAN KORELASI EMPIRIS
Sebagai nilai pendekatan antara nilai qc dan N untuk tanah pasir, Meyerhof
(1956) mengusulkan korelasi antara nilai N dari SPT dan tahanan kerucut statis
(qc) sebagai berikut :

qc = 4 N (kg/cm2)
Schmertmann (1970) juga mengusulkan cara menghitung penurunan pada
tanah granuler (berbutir kasar) berdasarkan hasil pengujian penetrasi kerucut
statis, dengan persamaan sebagai berikut :

Si C1 C2 q

2B

Iz
Dz
E

Dengan :
C1 = faktor koreksi kedalaman
C2 = faktor rangkak (creep)
q = tambahan tegangan netto pada dasar fondasi akibat beban yang bekerja
B = lebar beban
Iz = faktor pengaruh regangan vertikal
E = modulus deformasi (modulus elastisitas)
Dz = tebal lapisan tanah

PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA PADA TANAH PASIR


DENGAN MENGGUNAKAN KORELASI EMPIRIS
Faktor koreksi kedalaman dihitung dengan persamaan :

p '
C1 1 0,5 o
q
Dengan po adalah tekanan overburden efektif pada dasar fondasi
Walaupun penurunan pada tanah non kohesif dipertimbangkan
sebagai penurunan segera, pengamatan menunjukkan bahwa
penurunan
masih
dipengaruhi
oleh
rangkak
(creep)
(Schmertmann,1970)
Faktor koreksi akibat rangkak dihitung dengan persamaan sebagai
berikut :
t
C2 1 0,2 log
0,1
Dengan t adalah waktu yang ditinjau dalam tahun

PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA PADA TANAH PASIR


DENGAN MENGGUNAKAN KORELASI EMPIRIS

Hitungan penurunan
cara Schmertmann (1970)

PERKIRAAN PENURUNAN SEGERA PADA TANAH PASIR


DENGAN MENGGUNAKAN KORELASI EMPIRIS
Faktor pengaruh regangan vertikal diperoleh dari kurva (2B 0,6) yang
dihubungkan dengan faktor tidak berdimensi z/0,5 B (Gambar a)
Modulus deformasi (E) diperoleh dari perkalian nilai tanahan kerucut (cone
resistance), qc, dengan faktor empiris 2 (E = 2 qc)
Hubungan N dan qc, disarankan sebagai berikut :
1. Lanau, lanau berpasir, dan pasir berlanau sedikit kohesif, N = 2 qc
2. Pasir bersih halus sampai sedang, pasir sedikit berlanau, N = 3,5 qc
3. Pasir kasar dan pasir dengan sedikit kerikil, N = 5 qc
4. Kerikil berpasir dan kerikil, N = 6 qc
Langkah-langkah perhitungan penurunan dari hasil pengujian sondir atau
penetrasi kerucut statis :
1. Diagram tahanan kerucut dibagi ke dalam lapisan-lapisan yang nilai tahanan
konusnya dianggap mewakili dan mendekati sama (Gambar c)
2. Kurva (2B 0,6) di letakkan dibawah dasar fondasi dan digambar dengan skala
tertentu (Gambar b)
3. Penurunan akibat beban dihitung dari hitungan nilai E dan Iz, yang sesuai untuk
tiap lapisannya
4. Jumlah penurunan setiap lapisan kemudian dikoreksi terhadap faktor
kedalaman dan faktor rangkak

PENURUNAN KONSOLIDASI PRIMER


(PRIMARY CONSOLIDATION SETTLEMENT, Sc)

PERHITUNGAN PENURUNAN KONSOLIDASI PRIMER


(PRIMARY CONSOLIDATION SETTLEMENT, Sc)

Untuk tanah lempung terkonsolidasi normal (NC - soil) :


H0
p'o Dp
Sc Cc
log
1 e0
p'o

Untuk tanah lempung terkonsolidasi berlebih (OC - soil) :


Jika (po + Dp) pc
H0
p'o Dp
Sc Cr
log
1 e0
p'o

Jika po < pc < (po + Dp)


H0
p'c
H0
p'o Dp
Sc Cr
log ' Cc
log
1 e0
1 e0
po
p'c

PERHITUNGAN PENURUNAN KONSOLIDASI PRIMER


(PRIMARY CONSOLIDATION SETTLEMENT, Sc)
CARA I

Hitungan penurunan
konsolidasi primer cara I

1. Hitung tegangan overburden efektif rata-rata (po)


pada lapisan lempung
2. Hitung tambahan tegangan akibat beban yang
bekerja pada puncak, tengah, dasar lapisan
lempung. Nilai tambahan tegangan rata-rata dalam
lapisan lempung dapat diestimasikan dengan cara
Simpson sebagai berikut :
Dp = 1/6 (Dpa + 4 Dpt + Dpb)
dengan :
Dp = tambahan tegangan efektif setelah beban
bekerja
Dpa = tambahan tegangan pada bagian atas lapisan
Dpt = tambahan tegangan pada bagian tengah
lapisan
Dpb = tambahan tegangan pada bagian bawah
lapisan
3. Gunakan po dan Dp hasil hitungan di atas, untuk
menghitung besarnya penurunan konsolidasi primer
yang terjadi sesuai dengan kondisi tanahnya

PERHITUNGAN PENURUNAN KONSOLIDASI PRIMER


(PRIMARY CONSOLIDATION SETTLEMENT, Sc)
CARA II
1. Lapisan lempung dibagi menjadi n lapisan
2. Hitung tegangan overburden efektif (po) pada
setiap tengah-tengah lapisan (Jadi po
merupakan tegangan efektif rata-rata pada
lapisan yang ditinjau)
3. Hitung tambahan tegangan di tiap-tiap lapisan
(Dp) akibat beban yang bekerja

Hitungan penurunan
konsolidasi primer cara II

4. Hitung besarnya penurunan konsolidasi primer


yang terjadi
pada masing-masing lapisan
sesuai dengan kondisi tanahnya
5. Hitung besarnya penurunan konsolidasi total
pada seluruh lapisang tanah

Sc

Sc i
i1

PERHITUNGAN PENURUNAN KONSOLIDASI PRIMER


(PRIMARY CONSOLIDATION SETTLEMENT, Sc)
HITUNGAN PENURUNAN KONSOLIDASI DENGAN MEMPERHATIKAN
KOEFISIEN PERUBAHAN VOLUME (mv)
1. Lapisan lempung dibagi menjadi n lapisan dengan tebal masing-masing lapisan
DHi, sama seperti cara II di atas
2. Hitung tambahan tegangan di setiap tengah-tengah lapisan (Dp) akibat beban yang
bekerja

3. Hitung besarnya penurunan konsolidasi total pada seluruh lapisang tanah dengan
persamaan :

Sc

mvi Dpi DHi


i1

dengan mvi adalah nilai mv pada lapisan ke-i

KOREKSI SKEMPTON DAN BJERRUM


PADA PENURUNAN KONSOLIDASI SATU DIMENSI

Akibat beban fondasi, lapisan tanah lempung akan mengalami deformasi lateral,
dan kelebihan tekanan air pori yang timbul akan kurang dari tambahan tekanan
vertikal akibat bebannva.
Pada kondisi ini, tekanan air pori akan bergantung pada koefisien tekanan pori
A.
Skempton dan Bjerrum (1957) menyarankan koreksi penurunan konsolidasi
vang dihitung berdasarkan pengujian laboratorium dengan menggunakan
persamaan:

Sc = b Scoed
b = A + (1 + A) a

dengan :
Scoed = penurunan yang dihitung dari hasil pengujian konsolidasi di laboratorium
Sc
= estimasi penurunan konsolidasi primer yang terjadi di lapangan,
b
=nilai koreksi dari Skempton dan Bjerrum,

Nilai a tergantung dari bentuk fondasi dan koefisien tekanan pori A.


Variasi a dan nilai koreksi b diberikan oleh Skempton dan Bjerrum

KOREKSI SKEMPTON DAN BJERRUM


PADA PENURUNAN KONSOLIDASI SATU DIMENSI
Perkiraan nilai a untuk koreksi penurunan konsolidasi (Skempton & Bjerrum, 1957)

A.W.Skempton

H/B

Fondasi lingkaran

Fondasi
memanjang

1,00

1,00

0,25

0,67

0,80

0,50

0,50

0,63

1,00

0,38

0,53

2,00

0,30

0,45

4,00

0,28

0,38

10,00

0,26

0,36

0,25
0,25
Perkiraan nilai b untuk koreksi penurunan konsolidasi (Skempton & Bjerrum, 1957)
Macam Lempung
Lempung sangat sensitif

L. Bjerrum

b
1 1,2

Lempung normally consolidated

0,7 1,0

Lempung over consolidated

0,5 0,7

Lempung sangat over consolidated


(heavy over consolidated)

0,2 0,5

KOREKSI SKEMPTON DAN BJERRUM


PADA PENURUNAN KONSOLIDASI SATU DIMENSI
Koreksi penurunan konsolidasi b (Skempton dan Bjerrum, 1957)

A.W.Skempton
1914-

L. Bjerrum
1918-1973

PENURUNAN KONSOLIDASI SEKUNDER


(SECONDARY CONSOLIDATION SETTLEMENT, Ss)

PERHITUNGAN PENURUNAN
KONSOLIDASI SEKUNDER
Perhitungan penurunan akibat konsolidasi sekunder dinyatakan dengan persamaan :

Ss H

t
Ca
log 2
1 ep
t1

atau

Ss Ca H log

t2
t1

Dengan :
Ss = penurunan konsolidasi sekunder .
H
= tebal benda uji awal atau tebal tapisan lempung.
ep = angka pori saat akhir konsolidasi primer.
t2
= t1 + Dt
t1
= saat waktu setelah konsolidasi primer berhenti.

CONTOH SOAL

Soal 1
Suatu pondasi berbentuk empat persegi berukuran 2 m x 2 m dengan beban 150
kN /m2 terletak pada lapisan tanah seperti pada gambar. Hitung besarnya
penurunan total yang terjadi di bawah pusat pondasi

q = 150 kN/m2

0.00 m

Pasir
fu = 25o ; gb = 18 kN/m3 ;
2
-4.00 m m = 0,3 ; E = 40000 kN/m ;

-1.00 m

Lempung
Cu = 40 kN/m2 ; gsat = 20 kN/m3 ; w=30%;
Gs = 2,70; m = 0,5 ; E = 20000 kN/m2 ;
mv = 0,0001 m2 /kN ; Cc = 0,6; Cr = 0,02;
pc = 125 kN/m2, Cv = 0,10 m2/th
-10.00 m

Pasir sangat padat

1m

1m

1m

1m

Penyelesaian Soal 1
a. Penurunan Segera
Lapisan pasir sangat padat di bagian bawah tidak mengalami penurunan yang
berarti.
Tekanan fondasi neto:
qn = q - Df.gb = 150 - (2 x 18) = 114 kN/m2
Dalam menghitung penurunan segera di pusat pondasi akan dipakai
persamaan Steinbrenner (1934)
Penurunan segera pada lapisan pasir
L1/B1 = 1
H/B1 = 3/1 = 3
Ip = (1 m2) F1 + (1 m 2 m2) F2 = 0,91 F1 + 0,53 F2
Dari diagram untuk menentukan F1 dan F2 (Steinbrenner, 1934), untuk
L1/B1 = 1 dan H/B1 = 3 diperoleh :
F1 = 0,36; dan F2 = 0,05
Ip = 0,91 F1 + 0,53 F2 = (0,91 x 0,36) + (0,53 x 0,05) = 0,35

Si

qn
114
IpB
(0,35 x2) 0,002 m
E
40000

Penyelesaian Soal 1

Penurunan segera pada lapisan lempung


Bila dianggap lapisan lempung setebal H2 = 9 m, dengan ,m = 0,5 dan E = 20000
kN/m2, maka:
L1/B1 = 1
H/B1 = 9/1 = 9
Ip = (1 m2) F1 + (1 m 2 m2) F2 = 0,75 F1
Dari diagram untuk menentukan F1 dan F2 (Steinbrenner, 1934), untuk L1/B1 = 1
dan H/B1 = 9 diperoleh :
F1 = 0,48
Ip = 0,75F1 = (0,75 x 048) = 0,36

Si

qn
114
IpB
(0,36 x2) 0,004 m
E
20000

Penyelesaian Soal 1
Bila lapisan pasir bagian atas setebal 3 m, dianggap sebagai lempung: H1 = 3 m
(di bawah dasar pondasi) dengan m = 0,5 dan E = 20000 kN/m2, maka :
L1/B1 = 1
H/B1 = 3/1 = 3
F1 = 0,36
Ip = 0,75F1 = (0,75 x 036) = 0,27

Si
b.

qn
114
IpB
(0,27 x2) 0,003 m
E
20000

Penurunan segera pada lapisan lempung sebenarnya = 0,004 0,003 = 0,001 m


Penurunan konsolidasi pada lapisan lempung
Tekanan overbuden efektif awal di tengah-tengah lapisan lempung:
po= (4 x 18) + 3 x (20-10) = 102 kN/m2
Untuk itu, luasan fondasi dibagi menjadi 4 bagian sama besar, dengan dimensi
masingmasing:
Tambahan tekanan akibat beban pondasi di pusat lapisan lempung dihitung
berdasarkan distribusi tegangan akibat beban terbagi rata berbentuk empat
persegi.

Penyelesaian Soal 1
Untuk itu, luasan pondasi dibagi menjadi 4 bagian sama besar, dengan
dimensi masingmasing:
L1/B1 = 2/2 m
B1 / z = L1 / z =1 / (3 + 3) = 0,167
z adalah jarak dari dasar pondasi sampai tengah-tengah lapisan lempung
Dari diagram distribusi tegangan akibat beban terbagi rata berbentuk
empat persegi, diperoleh Ip = 0,015, sehingga :
Dp = Dsz = 4 x Ip x q = 4 x 0,015 x 114 = 6,84 kN/m2
Karena diketahui pc = 125 kN/m2 > po = 102 kN/m2, maka tanah termasuk
jenis lempung over consolidated, sehingga :
(po + Dp) = 102 + 6,84 = 108,84 kN/m2 < pc

H0
p'o Dp
6
102 6,84
Sc Cr
log

0
,
02
log
0,0042 m
'
1 e0
1

(0,30
x2,70)
102
po
Sehingga penurunan total dibawah pusat pondasi adalah :
Stotal = Si(pasir) + Si(lempung) + Sc = 0,002 + 0,001 + 0,0042 = 0,0072 m

Soal 2
0.00 m

25000 kN

-2.00 m

Lempung (overconsolidated)
fu = 0o ; Cu = 40 kN/m2 ;
gsat = 20 kN/m3 ;
m = 0,5 ; E = 30000 kN/m2 ;
mv = 0,0001 m2 /kN ;
-8.00 m
Pasir berlanau
fu = 25o ; Cu = 20 kN/m2; gsat = 21 kN/m3 ;
m = 0,5 ; E = 40000 kN/m2 ;
-12.00 m

Pondasi rakit berukuran 10 m x 10


m direncanakan akan memikul
beban bangunan, terletak pada
lapisan
tanah
seperti
pada
gambar. Tentukan berat bangunan
maksimum
yang
memenuhi
kriteria
keamanan
terhadap
keruntuhan kapasitas dukung
tanah (F = 3) dan penurunan
maksimum tidak boleh lebih dari
6,5 cm

Penyelesaian Soal 2
Penyelesaian dilakukan dengan persamaan Skempton
Df = 2 m; B = 10 m; maka Df/B = 2/10 = 0,2
Dengan Df / B = 0,2, diperoleh faktor daya dukung untuk pondasi bujur sangkar
menurut Skempton, Nc = 6,5
Po = (Df x gsat) = 2 x 20 = 40 kN/m2
Kapasitas dukung ultimit netto untuk pondasi di atas tanah lempung menurut
Skempton:
qun = c Nc = (40 x 6,5) = 260 kN/m2
Tekanan pondasi netto :
qn = q Po
= q 40
Beban maksimum untuk faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung F = 3 :
F = qun / qn
3 = 260 / (q-40)
q 40 = (260/3)
q = 86,67 + 40 = 126,67 kN/m2
Sehingga tekanan pondasi netto :
qn = q Po
= 126,67 40 = 86,67 kN/m2

Penyelesaian Soal 2
Perhitungan Penurunan :
a. Penurunan Segera
Penurunan segera (immediate settlement) (Si) dihitung dengan menggunakan
persamaan Janbu dkk, (1956), karena kedua tanah mempunyai angka Poisson m =
0,5.
Si m1 m0

qnB
E

Penurunan segera pada lapisan lempung:


Lapisan lempung dengan kedalaman 8 m dari permukaan, dan tebal lapisan
lempung dibawah pondasi sebesar 6 m, maka :
Df/B = 2/10 = 0,2; L/B = 1 dan H/B = 6/10 =0,6
Dari Gambar faktor koreksi penurunan menurut Janbu dkk., diperoleh mo = 0,95
dan m1 = 0,35

Si(lempung )

(0,95 x0,35)

86,67 x10
0,0096 m 0,96 cm
30000

Penyelesaian Soal 2
Penurunan segera lapisan pasir berlanau:
Bila dianggap lapisan tanah sebagai pasir semua sampai kedalaman 10 m dari
dasar pondasi, maka:
Df/B = 2/10 = 0,2; L/B = 1 dan H/B = 10/10 =1
Dari Gambar faktor koreksi penurunan menurut Janbu dkk., diperoleh mo = 0,95
dan m1 = 0,45

Si (0,95 x0,45)

86,67 x10
0,0093 m 0,93 cm
40000

Bila lapisan lempung dianggap sebagai lapisan pasir dan lapisan keras pada
permukaan lapisan pasir (kedalaman 6 m dari dasar pondasi), maka:
Df/B = 2/10 = 0,2; L/B = 1 dan H/B = 6/10 =0,6
Dari Gambar faktor koreksi penurunan menurut Janbu dkk., diperoleh mo = 0,95
dan m1 = 0,35

Si (0,95 x0,35)

86,67 x10
0,007 2m 0,72 cm
40000

Sehingga penurunan segera pada lapisan pasir berlanau adalah :


Si(pasir) = 0,93 0,72 = 0,21 cm
Penurunan segera total = 0,96 + 0,21 = 1,17 cm

Penyelesaian Soal 2
b. Penurunan Konsolidasi lapisan lempung
Dihitung dulu tambahan tekanan di bawah puat pondasi, di tengah-tengah lapisan
lempung (z = 3 m). Luasan pondasi dibagi menjadi 4 bagian yang sama (B = 10/2
= 5 m).
B/z = L/z = 5/3 = 1,67
Dari grafik angka pengaruh akibat beban terbagi rata berbentuk empat persegi,
diperoleh I = 0,227. Tambahan tekanan di pusat pondasi:
Dp = 4lqn = 4 x 0,227 x 86,67 = 78,7 kN/m2
Dengan menggunakan persamaan:
Sc = b mv H Dp
Untuk lempung overconsolidated dapat diambil b 0,6.
Sc = 0,6 x 0,0001 x 6 x 78,7 = 0,0283 m = 2,83 cm
c. Penurunan Total
Sc = Si + Sc = 1,17 + 2,83 = 4 cm < 6,5 cm ........... OK !!!

PERKIRAAN PENURUNAN
PADA PERIODE PELAKSANAAN

PENGEMBANGAN TANAH AKIBAT PENGGALIAN

. Grafik hubungan antara waktu terhadap


pengembangan dan penurunan akibat
beban bangunan

Bila dasar pondasi terletak cukup


dalam
dari
permukaan
tanah,
penggalian tanah akan menyebabkan
tanah mengembang.

Pembongkaran terkanan overburden


ketika tanah digali untuk pondasi
menyebabkan kenaikan dasar galian
yang besarnya tergantung dari jenis
tanah, beban tanah yang digali, dan
saat waktu dimulainya pembebanan
pondasi.

Sesudah beban pondasinya diterapkan,


tanah terkompresi kembali dan bila
pembebanan
melampaui
tekanan
overburden awal, maka tanah akan
mengalami penurunan

PERKIRAAN PENURUNAN PADA PERIODE


PELAKSANAAN

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN
DALAM MENGHITUNG PENURUNAN

Hubungan antara lebar pondasi dengan penurunan pada beban per satuan
luas yang sama (Kogler, 1933)

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN
DALAM MENGHITUNG PENURUNAN
PONDASI PADA TANAH PASIR

Pada tanah granuler seperti pasir dan kerikil, penurunan yang terjadi adalah
penurunan segera.

Penurunan segera pada tanah granuler terjadi karena getaranBila pondasi terletak

Penurunan total berlangsung dan selesai pada waktu segera setelah beban
diterapkan.

Penurunan pondasi pada tanah lanau dan pasir sebagian disebabkan oleh
penggembungan tanah dasar pondasi ke arah lateral.

Pondasi yang terletak pada pasir lebih banyak dipertimbangkan terhadap


penurunan tidak seragam daripada daya dukungnya.

Besarnya penurunan dipengaruhi oleh : lebar pondasi, ukuran butiran dan


kerapatan relatif

Untuk mereduksi penurunan yang terjadi dapat dilakukan dengan memperdalam


pondasi dan mengurangi angka pori melalui pemadatan.

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN
DALAM MENGHITUNG PENURUNAN
PONDASI PADA TANAH LEMPUNG

Jika pondasi terletak pada tanah lempung homogen, maka berat bangunan tidak hanya
menyebabkan kompresi tanah, tetapi juga menyebabkan luluh lateral tanah dibawah
pondasinya.
Jika tanah dasar pondasi bersifat elastis sempurna dan homogen, penurunan akibat
penggembungan akan lebih besar daripada pengurangan volumenya.
Untuk tanah lempung jenuh, penurunan akibat penggembungan arah lateral lebih kecil
dibandingkan dengan penurunan totalnya.
Untuk intensitas beban yang sama, penurunan pondasi pada tanah lempung yang bentuknya
sama, akan bertambah jika lebar pondasi semakin besar.
Penurunan pondasi pada tanah lempung jenuh, merupakan jumlah penurunan segera dan
penurunan konsolidasi
Penurunan pondasi yang terletak pada lapisan tanah lempung diatas lapisan pasir,
penurunan pada lapisan pasir lebih kecil daripada lapisan tanah lempung.
Kecepatan penurunan konsolidasi untuk pondasi pada tanah lempung berlangsung relatif
lama.
Disamping penurunan tanah lempung disebabkan oleh tekanan, juga disebabkan oleh
proses pengeringan, terutama pada tanah ekspansif yang mempunyai sifat kembang susut
tinggi.
Perhitungan konsolidasi tidak dilakukan pada tanah lempung kaku sampai keras.

PENURUNAN PADA PONDASI RAKIT

PENURUNAN YANG DIIJINKAN


Penurunan yang diijinkan dari suatu bangunan atau besarnya penurunan
yang bisa ditolerir tergantung pada beberapa faktor, yaitu : jenis, tinggi,
kekakuan, dan fungsi bangunan, serta besar dan kecepatan penurunan
serta distribusinya.
Tipe-tipe penurunan bangunan antara lain adalah : penurunan seragam,
penggulingan dan penurunan tidak seragam.
Besarnya beda penurunan tidak seragam merupakan selisih antara
penurunan terbesar dengan penurunan terkecil (Smaks Smin), atau
dinyatakan sebagai nilai banding d/L, yaitu beda penurunan antara dua
titik (d) dibagi dengan jarak (L) kedua titik tersebut.
Nilai banding d/L biasanya dinyatakan sebagai distorsi kaku (angular
distortion)
Bjerrum menyarankan hubungan antara tipe struktur dengan nilai distorsi
kaku d/L, dan hubungan antara penurunan maksimum, penurunan tidak
seragam maksimum hasil pengamatan lapangan dan distorsi kaku
maksimum

TIPE-TIPE PENURUNAN

Tipe penurunan : a. penurunan seragam, b. Penggulingan, c. penurunan tidak seragam

BATAS PENURUNAN MAKSIMUM


(SKEMPTON DAN MAC DONALD, 1955)

Jenis Fondasi

Batas penurunan maksimum


(mm)

Fondasi terpisah pada tanah lempung

65

Fondasi terpisah pada tanah pasir

40

Fondasi rakit pada tanah lempung

65 100

Fondasi rakit pada tanah pasir

40 - 65

Hubungan antara penurunan maksimum, penurunan tidak seragam


maksimum, dan distorsi kaku maksimum untuk tanah lempung dan pasir
(Bjerrum, 1963)

HUBUNGAN TIPE MASALAH DALAM STRUKSTUR DAN d/L


(BJERRUM, 1963)

Tipe Masalah

d/L

Kesulitan pada mesin yang sensitif terhadap penurunan

1/700

Bahaya pada rangka-rangka dengan diagonal

1/600

Nilai batas untuk bangunan yang tak diijinkan retak

1/500

Nilai batas dengan retakan pertama diharapkan terjadi pada dindingdinding panel atau dengan kesulitan terjadi pada overhead crane

1/300

Nilai batas dengan penggulingan (miring) bangunan tingkat tinggi


dapat terlihat

1/250

Retakan yang berarti di dalam panel dan tembok.


Batasan yang aman untuk dinding tembok fleksibel dengan h/L <
(h = tinggi dinding)

1/150

PERHATIAN YANG DIPERLUKAN UNTUK MENANGGULANGI


KERUSAKAN BANGUNAN AKIBAT PENURUNAN

Batuan, kerikil, dan pasir kasar adalah bahan yang baik untuk dasar pondasi.

Namun, jika bentuk lapisan tanahnya tak beraturan dan diiselingi oleh lapisan
tanah lunak di atasnya, dapat berakibat kerusakan yang serius pada
bangunan.

Kerusakan ini timbul, karena bentuk lapisan lunak yang tak beraturan,
sehingga menyebabkan besarnya penurunan konsolidasi yang tak seragam
terjadi pada pondasinya

KEMUNGKINAN KERUSAKAN BANGUNAN


AKIBAT PENURUNAN (DUNHAM, 1962)

Penurunan tidak seragam akibat tebal lapisan lunak yang


tak sama di bawah dasar pondasi bangunan.
Bangunan harus diletakkan seluruhnya pada tanah keras
(batuan, pasir, kerikil) atau sambungan (joint) diberikan
pada garis CD jika dimaksudkan untuk mencegah retakan
dibagian D
Tanah lunak akan menyebabkan pelengkungan dan
memungkinkan terjadi retakan di lokasi tersebut.
Sambungan (joint) yang dibuat pada CD mungkin tidak
efektif.
Bangunan yang kecil, mungkin dapat cukup baik diletakkan
di atas tanah lunak.
Tetapi, untuk bangunan besar, umumnya sulit mampu
berkelakuan demikian.
Untuk itu, dasar pondasi sebaiknya dipilih pada lapisan
tanah yang keras.

KEMUNGKINAN KERUSAKAN BANGUNAN


AKIBAT PENURUNAN (DUNHAM, 1962)

Penurunan terjadi pada daerah CB, maka dibuat


sambungan pada bagian tersebut atau bagian tersebut
didukung oleh lapisan tanah keras

Diharapkan lensa pasir E berfungsi sebagai pelat yang


menyebarkan beban ke lapisan lunak G.
Masalahnya pada bagian B, karena bagian ini akan turun
lebih besr dan menyebabkan retakan pada bagian D.
Karena lapisan keras terlalu dalam, maka kemungkinankemungkinan lebih baik adalah sebagai berikut :
bangunan digeser kearah lapisan pasir sehingga seluruh
bangunan terletak pada lapisan tersebut
bangunan dibuat lebar, rendah dan ringan dengan
demikian dapat menghindari penurunan yang berlebihan
bangunan dibuat terpisah-pisah oleh sambungan.

KEMUNGKINAN KERUSAKAN BANGUNAN


AKIBAT PENURUNAN (DUNHAM, 1962)
Gambar-gambar ini menunjukkan kondisi kemiringan bangunan yang mungkin
terjadi.

Pondasi sebaiknya didukung oleh lapisan tanah keras.

Sebaiknya dipakai pondasi tiang sampai


mencapai tanah keras (lapisan G).

Bahaya terbesar pada lapisan F yang mungkin


bergeser ke arah H, sehingga bangunan akan
miring pada B.
Sebaiknya, bangunan digeser ke arah menjauhi
lereng atau dengan menggunakan pondasi tiang
sampai lapisan G atau sampai di bawah G.

KEMUNGKINAN KERUSAKAN BANGUNAN


AKIBAT PENURUNAN (DUNHAM, 1962)

Gambar diatas menunjukkan kasus-kasus dengan tekanan pada


bagian gedung yang tinggi lebih besar, sehingga penurunan terbesar
terjadi pada bagian ini.
Keadaan ini, sebaiknya dihindari untuk kondisi tanah dasar yang
lunak.
Bentuk struktur harus diubah, yaitu dengan sistem pondasi terapung
(floating foundation) atau pondasi tiang.

Merci beaucoup pour votre attention


Jespere que vous compreniez du chapitre

Aurevoir.

PERANCANGAN
PONDASI DANGKAL

Materi
Teknik Pondasi

Oleh : TRI SULISTYOWATI

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN
DALAM PERENCANGAN PONDASI

LANGKAH-LANGKAH UMUM
PERANCANGAN PONDASI
1. Menghitung jumlah beban efektif yang akan ditransfer ke tanah di
bawah pondasi.
2. Menentukan nilai daya dukung diizinkan (qa)
3. Luas dasar pondasi, dapat ditentukan dengan membagi jumlah
beban efektit dengan nilai daya dukung diizinkan (qa).

P
A
qa
4. Berdasarkan pada tekanan yang terjadi pada dasar pondasi, dapat
dilakukan perancangan struktural dari pondasinya, yaitu dengan
menghitung momen-momen lentur dan gaya-gaya geser yang
terjadi pada pelat pondasi.
5. Pemilihan jenis pondasi bergantung pada beban yang harus
didukung, kondisi tanah dasar dan biaya pembuatan pondasi
dibandingkan dengan biaya struktur diatasnya.

PENENTUAN DAYA DUKUNG


YANG DIIJINKAN

Besarnya daya dukung diizinkan (qa) tergantung dari sifat-sifat teknis tanah,
kedalaman dan dimensi pondasi, dan penurunan yang ditoleransikan.
Hitungan daya dukung dapat dilakukan berdasarkan karakteristik kuat geser
tanah yang diperoleh dari pengujian tanah di laboratorium dan lapangan, atau
dengan cara empiris yang didasarkan pada alat pengujian lapangan seperti
pengujian SPT dan pengujian kurucut statis (sondir), dan lain-lain.
Persamaan daya dukung ijin adalah sebagai berikut :

qa

qult
SF

Nilai ini, harus dikontrol terhadap penunurunan yang terjadi, jika penurunan
yang terhitung lebih besar dari batas toleransi, nilai daya dukung harus
dikurangi, sampai syarat besarnya penurunan terpenuhi.
Hitungan daya dukung diperoleh dari rumus-rumus empiris hasil pengujian di
lapangan atau dari daya dukung tanah yang diperoleh dari pengalaman di
lapangan, yang pernah dialami.
Untuk memenuhi syarat keamanan, disarankan faktor aman terhadap keruntuhan
daya dukung akibat beban maksimum sama dengan 3.

PONDASI PADA TANAH PASIR

Perancangan pondasi pada tanah pasir dan kerikil lebih banyak dipertimbangkan
terhadap penurunan tidak seragam
Perancangan dilakukan secara empiris berdasarkan hasil-hasil pengujian di
lapangan seperti SPT, kerucut statis dan pengujian beban pelat.
Peck dkk (1953) menyarankan untuk melakukan 1 (satu) pengujian SPT untuk
setiap 4 sampai 6 buah pondasi.
Jika data pengeboran atau pengujian lapangan menunjukkan besar kepadatan
tanah berbanding lurus dengan kedalaman, lebih baik kedalaman dasar pondasi
diambil agak lebih dalam untuk memperoleh daya dukung yang lebih tinggi.
Pondasi pada tanah pasir yang tidak padat (N 5) dan terendam air, dapat
mengalami penurunan yang tajam akibat liquefaction karena adanya getaran.
Dalam penggalian pondasi pada tanah pasir, dapat digali dengan kemiringan
tebing yang curam, bila dasar galiannya diatas muka air tanah. Penahan tebing
harus diberikan jika galiannya sangat dalam dan sempit agar tidak terjadi
longsoran.
Pasir padat mempunyai tahanan yang lebih besar bila pondasi tiang dipancang
pada tanah pasir tersebut.

PONDASI PADA TANAH LEMPUNG

Perancangan daya dukung pondasi pada tanah lempung dilakukan pada tinjauan
analisis tegangan total atau kondisi undrained (cu) dengan fu = 0

Dalam perancangan daya dukung ultimit pondasi digunakan nilai cu rata-rata


terkecil, dengan menggunakan faktor keamanan sama dengan 3.

Daya dukung ultimit tanah lempung pada umumnya tidak tergantung dari lebar
pondasi

Analisis daya dukung dijinkan untuk pondasi terpisah hanya dapat digunakan jika
jarak pondasi besar, sedemikian hingga pengaruh penyebaran tekanan pada
masing-masing pondasi tidak saling mempengaruhi satu sama lain.

Jika terdapat lapisan lunak dibawah pondasi, dalam perhitungan daya dukung
harus memperhitungkan tekanan pada lapisan lunak tersebut terhadap keamanan
strukturnya.

Dasar pondasi pada tanah lempung sebaiknya diletakkan lebih dalam.

Perhitungan daya dukung tanah dilakukan berdasarkan kekuatan geser tanah


minimum dibawah pondasi.

Pondasi pada tanah lempung harus dirancang dengan memperhitungkan kondisi


terburuk, yaitu pada kadar air jenuh.

PONDASI PADA TANAH LEMPUNG

Tumpang tindih penyebaran tekanan akibat letak pondasi yang berdekatan

PONDASI PADA TANAH LEMPUNG


Hubungan nilai N, konsistensi tanah dan perkiraan daya dukung aman
untuk pondasi pada tanah lempung (Terzaghi dan Peck, 1948)

Konsistensi

Daya Dukung Aman (qs) untuk pondasi


(kg/cm2)
Bujur Sangkar

Memanjang

Sangat lunak

02

0,00 0,30

0,00 0,22

Lunak

24

0,30 0,60

0,22 0,45

Sedang

48

0,60 1,20

0,45 0,90

Kaku

8 15

1,20 2,40

0,90 1,80

Sangat kaku

15 30

2,40 4,80

1,80 3,60

Keras

30

4,80

3,60

PONDASI PADA TANAH KERAS DI ATAS


LAPISAN LEMPUNG LUNAK
Jika dasar pondasi terletak dekat dengan lapisan lunak, pondasi dapat melesak ke
bawah sehingga dapat mengakibatkan keruntuhan.
Hitungan daya dukung tanah diperhitungkan terhadap pengaruh penyebaran
beban pada lapisan lunak di bawahnya, dengan metode 2V : 1H (2 vertikal : 1
horizontal) pada lapisan. Tekanan pada tanah lunak harus tidak melampaui daya
dukung yang diizinkan dari lapisan lunaknva. Dalam anggapan tersebut, tanah
kuat yang berada di atas berfungsi sebagai pondasi pelat bagi beban pondasinya.
Jika jarak pondasi telapak satu sama lainnya relatif berjauhan, dimungkinkan
untuk mengurangi tekanan pondasi pada tanah lunaknya, dengan memperlebar
pondasi.

Jika jarak pondasi sangat dekat, penyebaran beban masing-masing pondasinya


akan saling tumpang tindih
Jika dari hitungannya nilai daya dukung yang diizinkan terlampaui, lebih baik
dipakai pondasi rakit atau pondasi memanjang.
Jika daya dukungnya masih juga tidak memenuhi, dapat dipakai pondasi tiang.
Dalam perancangan tetap harus memperhitungkan besarnya penurunan.
,

PONDASI PADA TANAH LANAU DAN LOESS

Tanah lanau pada umumnya dalam kondisi tidak padat (loess) , sehingga tidak
sesuai untuk digunakan sebagai dasar pondasi. Karena jika pondasi diletakkan
diatasnya akan terjadi penurunan yang besar.

Perhitungan daya dukung yang diijinkan untuk tanah lanau yang berbentuk
tepung batu dapat diperoleh dengan prosedur yang sama seperti perhitungan
daya dukung untuk pondasi pada tanah pasir. Sedangkan untuk tanah lanau
plastis perhitungannya sama seperti pada tanah lempung.

Untuk memperkirakan besarnya penurunan pondasi pada tanah lanau adalah


dengan pengujian konsolidasi maupun dengan pengujian beban pelat.

Loess tidak tepat jika diklasifikasikan sebagai tanah non kohesif, tetapi loess
merupakan lapisan yang tidak padat dari lanau non kohesif yang sedikit
mempunyai rekatan dengan kandungan lempung yang rendah.

Perkiraan penurunan pondasi dapat dilakukan dengan pengujian kosolidasi yaitu


dari interpretasi grafik e log p.

Bangunan statis pada tanah loess sebaiknya dirancang dengan menempatkan


dasar pondasi agak dalam agar tambahan tekanannya tidak begitu besar,
misalnya dibuat dengan sistem pondasi mengapung (floating foundation)

PONDASI PADA TANAH ORGANIK


Tanah organik sebaiknya tidak digunakan sebagai dasar pondasi untuk
mendukung bangunan, karena bahan organik yang tinggi dapat
menyebabkan terjadinya penurunan yang besar

PONDASI PADA TANAH c - f

Jenis tanah yang mempunyai komponen kekuatan geser tanah c dan f biasanya
terdiri dari campuran beberapa jenis tanah seperti lempung dan berpasir, lanau
berpasir dan sebagainya.
Nilai-nilai parameter kekuatan geser tanah (c dan f) yang digunakan dalam
perhitungan daya dukung tanah dapat diperoleh dari pengujian triaxial.
Nilai daya dukung yang diijinkan diperoleh dari nilai daya dukung ultimit dibagi
dengan angka keamanan yang sesuai dengan tetap mempertimbangkan bahwa
penurunan yang terjadi masih dalam batas-batas yang diijinkan.

PONDASI PADA TANAH TIMBUNAN

Daya dukung tanah timbunan tergantung dari jenis tanah timbunan dan
kepadatannya.
Tanah pasir dan kerikil merupakan tanah yang baik untuk mendukung
bangunan, sedang tanah lempung yang dipadatkan sembarangan
memiliki daya dukung rendah
Daya dukung timbunan ditentukan sebelum dan setelah peletakan
timbunannya.
Bila daya dukung ditentukan sebelum peletakan tanah timbunan, tanah
yang akan ditimbunkan dipadatkan hingga 90% - 100% gdmaks
Jika nilai daya dukung ditentukan setelah penimbunan atau seletah
tanah dipadatkan, maka tanah timbunan harus dibor dan diuji
sebagaimana pengujian tanah yang akan digunakan untuk mendukung
suatu bangunan.
Tanah timbunan yang tidak terkontrol kepadatannya, sebaiknya tidak
digunakan sebagai tanah pendukung pondasi bangunan

PONDASI PADA BATUAN

Hampir semua jenis batu dapat mendukung beban bangunan dengan baik, karena
mempunyai kuat desak yang tinggi.

Namun, jika batuan berupa batu berkapur yang berlubang-lubang dan banyak
retakan, atau batu yang banyak mengandung bidang-bidang patahan, retakan,
dan pecahan akan membahayakan stabilitas bangunan.

PRINSIP PERANCANGAN PONDASI


SECARA UMUM

PRINSIP PERANCANGAN PONDASI


SECARA UMUM
1. Penentuan besarnya beban-beban yang bekerja pada pondasi
Beban hidup
Beban mati
Beban gempa, angin, dll
2. Penentuan daya dukung yang diijinkan
Perhitungan daya dukung pondasi diperlukan untuk penentuan daya dukung
yang diizinkan (qa) dilakukan berdasarkan teori daya dukung pondasi dangkal
menurut Terzaghi, Skempton, Vesic, Meyerhof dan Hansen, tergantung pada
jenis pembebanan dan kondisi lapisan tanah dibawah pondasi
3. Penentuan penurunan
Penurunan segera
Penurunan konsolidasi (primer dan sekunder)
4. Perancangan struktur pondasi
Kedalaman pondasi
Dimensi pondasi
Kolom-kolom pondasi
dll

PERANCANGAN
PONDASI TELAPAK TERPISAH DAN
PONDASI MEMANJANG

PERANCANGAN STRUKTURAL

Dalam analisis, dianggap bahwa pondasi sangat kaku dan tekanan pondasi
didistribusikan secara linier pada dasar fondasi. Pada kondisi ini, tekanan yang
terjadi pada dasar pondasi adalah :

P
q
A
dengan :
q = tekanan sentuh (tekanan pada dasar pondasi)
P = beban vertikal
A = luas dasar pondasi

Jika resultan beban-beban eksentris dan terdapat momen lentur yang harus
didukung pondasinya, momen-momen tersebut dapat digantikan dengan beban
vertikal yang titik tangkap gayanya pada jarak e dari pusat berat pondasinya,
dengan :

Momen
M
e

Beban vertikal P

PERANCANGAN STRUKTURAL

Bila beban eksentris 2 arah, tekanan pada dasar pondasi dihitung dengan :

P Mx y o My x o
q

A
Ix
Iy

dengan :
q
= tekanan sentuh, yaitu tekanan yang terjadi pada kontak antara dasar
pondasi dan tanah dasar pada titik (xo, yo)
P
= jumlah beban vertikal
A
= luas dasar pondasi
Mx, My = momen terhadap sumbu x dan sumbu y
Ix, Iy
= momen inercia terhadap sumbu x dan y
Untuk pondasi berbentuk empat perseg panjang, persamaan diatas menjadi :
6 el 6 eb
P
q 1

A
L
B
dengan :
ex = el = eksentrisitas searah L
ey = eb = eksentrisitas searah B
L
= panjang pondasi
B
= lebar pondasi

PERANCANGAN STRUKTURAL

Pondasi telapak dibebani momen penggulingan


(a). beban momen; (b). beban momen digantikan dengan beban eksentris

PERANCANGAN STRUKTURAL

Perhitungan tekanan maksimum pada dasar pondasi untuk pondasi empat perseg panjang
(Teng, 1962)

PERANCANGAN STRUKTURAL

Perhitungan distribusi tekanan pondasi


dilakukan dengan menggunakan grafik
yang diberikan oleh Tseng (1963).

Jika beban eksentris hanya pada arah


sumbu x saja dan ex L/6, maka :

6 ex
P
1

; untuk ex L/6
A
L

dengan ex dalah eksentrisitas searah


sumbu x.

Jika resultan beban P dan momen M


terletak pada ex > L/6, maka q pada
persamaan diatas menjadi negatif, atau
gaya tarik terjadi pada dasar pondasinya,
tetapi pada kenyataannya tegangan tarik
tidak dapat berkembang dan tekanan
tanah yang terjadi seperti pada gambar di
samping.

Distribusi tekanan pada dasar


pondasi jika ex L/6

PERANCANGAN STRUKTURAL

Dari persamaan kesetimbangan arah vertikal :

qmax B x
P
2

atau

qmax

2P

Bx

dan
x/3 = (L/2 ex)
x = 3 (L/2 ex)

diperoleh tekanan pada dasar pondasi maksimum (qmax) pada tanah disalah satu
sisi pondasinya adalah :

qmax

4P
3BL 2e x

Besar penurunan harus dipertimbangkan jira pondasi terletak pada tanah pasir dan
mengalami pembebanan eksentris. Karena jika kemiringan pondasi berlebihan
akan menyebabkan eksentrisitas semakin bertambah, dengan demikian
menambah qmax yang diikuti oleh luluhnya tanah di tepi pondasi sehingga dapat
menyebabkan kerusakan bangunan. Oleh karena itu sering disyaratkan q qa.

PERANCANGAN STRUKTURAL

Untuk
beban
eksentris
yang
diakibatkan oleh momen lentur, kolomkolom dapat diletakkan seperti pada di
samping, dengan cara resultan gaya
axial dan momen lentur akan berada
pada pusat pondasinya.

Bentuk pondasi untuk mengusahakan


resultas gaya axial dan momen lentur
pada pusat pondasi

LANGKAH-LANGKAH
PERANCANGAN PONDASI
PONDASI PADA TANAH PASIR

Bila kriteria penurunan lebih menentukan besar nilai qa, beban-bebannya


didasarkan pada jumlah dari :
beban mati secara penuh + tekanan akibat berat pondasi - tekanan terbagi
rata disekitarnya (Df . g) + beban hidup termasuk beban angin, salju (bila
ada).

Beban hidup harus diperhitungkan karena penurunan pondasi pada tanah pasir
terjadi segera sesudah beban bekerja. Tetapi beban hidup tidak boleh diestimasi
terlalu berlebihan, karena dengan beban ini, estimasi penurunan tidak seragam
mungkin menjadi terlalu besar.

LANGKAH-LANGKAH
PERANCANGAN PONDASI
PONDASI PADA TANAH LEMPUNG

Pondasi pada tanah lempung harus diberikan faktor keamanan 3 terhadap


keruntuhan daya dukung, agar tidak mengakibatkan penurunan tidak seragam
melebihi diantara pondasi-pondasi yang berdekatan, dengan syarat jarak
pondasi sedemikian jauh sehingga tekanan pondasi ke tanah dibawahnya tidak
saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
Dibawah tanah lempung tidak terdapat lapisan tanah yang lebih lunak.
Beban-beban pada pondasi yang diperhitungkan untuk menentukan dimensi
pondasi didasarkan pada beban yang bekerja dalam waktu yang panjang, karena
penurunan pondasi yang terjadi pada tanah lempung berlangsung dalam waktu
panjang.
Beban-beban hidup seperti beban angin, salju atau gempa sebaiknya tidak
diperhitungkan.
Penyebaran tekanan pada satu pondasi dipengaruhi oleh tekanan pondasi
didekatnya. Dalam kondisi ini penurunan tidak seragam mungkin berlebihan,
kecuali tanahnya berupa lempungkaku atau lempung keras. Oleh karena itu
perhitungan penurunan pada seluruh pondasi sebaiknya dilakukan dalam
penentuan qa.

LANGKAH-LANGKAH
PERANCANGAN PONDASI SECARA UMUM

Mempersiapkan denah dasar bangunan yang menggambarkan letak-letak kolom,


dinding, dan letak beban-beban (beban mati, beban hidup dan momen lentur pada
tiap-tiap kolom dan dinding).
Menghitung daya dukung yang didasarkan pada karakteristik tanah dasar yang
diperoleh dari penyelidikan tanah.
Menghitung nilai daya dukung yang diijinkan dengan berbagai kedalaman, dengan
memperhatikan faktor keamanan terhadap keruntuhan daya dukung dan
penurunan yang diijinkan.
Menentukan kedalaman, tipe dan dimensi pondasi.
Berdasarkan nilai daya dukung yang diijinkan, dihitung besarnya penurunan total
dan beda penurunan antara kolom satu dengan yang lannya.
Jika penurunannya terlalu besar, daya dukung yang diijinkan harus dikurangi.
Jika sampai kedalaman tertentu pondasi masih juga tidak memenuhi syarat daya
dukung dan penurunan, maka dapat digunakan pondasi tiang atau pondasi
sumuran.
Dengan dimensi dan kedalaman pondasi yang telah diperoleh, dilakukan
perhitungan perancangan struktur pondasi (pelat pondasi), yaitu dengan
menghitung gaya lintang dan momen lentur serta kebutuhan tulangan betonnya.

KEDALAMAN PONDASI

Pondasi harus diletakkan lebih bawah daripada dasar lapisan tanah


organik
Jika lapisan tanah jelek tebal, penggalian tanah harus dilakukan dan
menggantinya dengan beton tak bertulang atau pasir bercampur kerikil
yang dipadatkan.
Luas timbunan harus dapat menyebarkan bebannya ke lapisan tanah
yang kuat.
Dasar pondasi harus diletakkan pada lapisan yang tidak terpengaruh
kembang susut tanah akibat pengaruh cuaca.
Walaupun tanah pondasi kuat, dasar pondasi sebaiknya tidak terletak
dipermukaan tanah, karena pertimbangan erosi dan penurunan.
Jarak dan beda elevasi antara dasar pondasi yang satu dengan yang
lainnya harus sedemikian besar sehingga tak terdapat pengaruh tumpang
tindihnya penyebaran tekanan.
Selisih elevasi maksimum dasar pondasi yang satu dengan lainnya
diusahakan setengah atau sama dengan jarak antara dua pondasi.
Pondasi yang lebih rendah sebaiknya dibangun terlebih dahulu.

KEDALAMAN PONDASI

Kedalaman minimum dasar pondasi


(a). Penggantian tanah dasar dengan beton tak bertulang;
(b). Penggantian tanah dasar dengan campuran pasir dan kerikil;
(c). Perbedaan elevasi antara 2 pondasi berdekatan agar tidak terjadi tumpang tindih tekanan.

PEMILIHAN DIMENSI PONDASI

Ukuran dan kedalaman pondasi yang ditentukan dari daya dukung diizinkan
dipertimbangkan terhadap penurunan.

Bila hasil perhitungan daya dukung ultimit dibagi dengan factor aman
mengakibatkan penurunan berlebihan, maka dimensi pondasi diubah sampai besar
penurunan memenuhi syarat.

Untuk memperkecil penurunan tidak seragam akibat bervariasinya beban hidup,


dapat dilakukan dengan mengambil proporsi ukuran pondasi sedemikian hingga
seluruh pondasi mempunyai tekanan dukung yang sama akibat beban pelayanan
(service load). Beban pelayanan adalah beban nyata yang bekerja pada pondasi
selama pelayanan normal bangunannya.

Beban pelayanan = beban mati + beban hidup.

Pada tekanan yang sama, pondasi dengan bentuk yang sama tetapi dengan ukuran
yang berbeda akan mengalami penurunan yang lebih besar jika lebar pondasi
bertambah.

PEMILIHAN DIMENSI PONDASI

Jika pondasi-pondasi yang mendukung suatu bangunan mempunyai ukuran yang


sangat berbeda, maka penurunan tidak seragam yang terjadi akan semakin besar.
Untuk megatasi hal ini, Terzaghi dan Peck (1948) menyarankan untuk menghitung
tekanan pada dasar pondasi secara lebih teliti.

Jika tanah dasar pondasi berupa tanah pasir, maka penurunan tidak seragam dapat
direduksi dengan mengurangi ukuran pondasi-pondasi terkecil. Karena walaupun
ukurannya direduksi, faktor keamanan terhadap keruntuhan daya dukung
diperkirakan masih mencukupi.

Jika tanah dasar pondasi berupa tanah lempung, maka penurunan tidak seragam
dapat direduksi dengan menambah ukuran pondasi terbesar.

PENGONTROLAN
SELAMA PELAKSANAAN

Jika tanah mengandung lensa-lensa tanah lunak yang tidak terdeteksi oleh
pengeboran atau jika tanah menjadi rusak karena penggalian tanah
pondasi maka penurunan yang terjadi akan lebih besar daripada yang
diperhitungkan. Terzaghi dan Peck (1948) menyarankan untuk
mengadakan pengujian penetrasi sederhana disetiap pondasi setelah
penggalian selesai. Jika terdapat bagian yang diperkirakan mengakibatkan
penurunan yang besar maka perlu dilakukan perancangan ulang.
Penggalian tanah pondasi dilakukan dalam kondisi kering selama periode
pelaksanaan, karena air dapat mengganggu tanah dasar pondasi.
Jika tanah dasar pondasi berupa tanah lempung, genangan air cenderung
melunakkan permukaan galian dan dapat mengakibatkan penambahan
penurunan pondasi, karena kondisi tanah dibawah muka air tidak dapat
diperiksa secara langsung.
Penggalian didalam air sangat mahal dan dapat merusak struktur tanah.
Pengecoran beton dibawah air akan mengurangi mutu beton. Bila hal ini
tidak dapat dihindari maka harus dilakukan sistem pemompaan yang baik.

HUBUNGAN KOLOM DAN PONDASI

Dalam praktek, kadang-kadang diinginkan untuk memberi kebebasan ujung


kolom bawah berotasi terhadap permukaan atas pondasi, atau, ujung
bawah kolom dibuat terjepit pada pondasinya. Hal-hal tersebut penting
diperhatikan terutama bila kolom menderita momen atau pembebanan
eksentris.
Jika ujung bawah kolom dipengaruhi oleh momen lentur, hubungan antara
kolom dan pondasi harus cukup kuat untuk mentransfer tegangan-tegangan yang terjadi.
Jika kolom terbuat dari beton bertulang, agar kolom terjepit pada pondasi,
dibutuhkan tulangan-tulangan menerus dari kolom sampai ke tubuh
pondasinya.
Untuk kolom baja, antara kolom dan pondasi dapat dihubungkan dengan
menggunakan baut-baut yang kuat.
Dengan tanpa memperhatikan faktor kekuatan hubungan antara kolom dan
pondasi, gerakan kolom akibat momen akan mengakibatkan tekanan
pondasi pada tanah tidak simetris.

HUBUNGAN KOLOM DAN PONDASI

Jika pondasi terletak pada kedalaman


yang besar, pasir akan dipengaruhi oleh
tekanan keliling yang besar akibat berat
tanah diatasnya. Karena itu bahaya
rotasi pondasi menjadi berkurang

Untuk pondasi dengan lebar kecil yang


dangkal dan terletak pada pasir,
sebaiknya pondai tidak dirancang untuk
menjepit kolom.

Jika pondasi terletak pada tanah kohesif,


maka tanah ini mampu menahan
tegangan terkonsentrasi pada tepi
pondasi.
Karena
sebagian
besar
penurunan pondasi pada tanah lempung
adalah penurunan konsolidasi, momen
lentur yang terjadi hanya sesaat tidak
mengakibatkan penurunan yang berarti.
Hubungan antara kolom dengan pondasi

PERANCANGAN
PONDASI TELAPAK GABUNGAN

PERANCANGAN STRUKTURAL
Perancangan struktur pondasi telapak gabungan dilakukan dengan anggapananggapan sebagai berikut :
Pondasi atau pelat pondasi dianggap sangat kaku. Oleh karena itu pelengkungan
pondasi tidak mempengaruhi penyebaran tekanannya.
Distribusi tekanan pada dasar pondasi disebarkan secara linier

Perancangan pondasi telapak gabungan empat persegi panjang dan trapesium jika resultan beban
dibuat berimpit dengan pusat berat luasan pondasi

PERANCANGAN STRUKTURAL
Jika kolom bangunan dengan kolom bagian luar terletak pada batas
pemilikan, maka digunakan pondasi gabungan empat persegi panjang
yang menggabungkan kolom luar dan kolom bagian dalam.
Pusat berat luasan pondasi dibuat berimpit dengan resultan bebannya,
sehingga tekanan pada dasar pondasi menjadi seragam.
Panjang pondasi (L) diatur dengan memperpanjang sisi pondasi yang
terletak dibagian dekat bangunan.
Lebar pondasi (B) dihitung dengan membagi resultan beban vertikal
dengan panjang (L) yang dikalikan dengan daya dukung yang dijinkan
atau dapat ditulis dengan persamaan :

P
L qa

PERANCANGAN STRUKTURAL

Jika ruang bagian kanan dan kiri kolomnya terbatas, dapat digunakan pondasi
telapak gabungan trapesium.
Panjang L yang terbatas ditentukan lebih dulu dan pusat berat luasan trapesium
dibuat berimpit dengan garis kerja resultan beban-bebannya.
Jika r adalah letak resultan bebannya terhadap sisi B2, maka :

P (L a1) P2a2
;
r 1
P

B1

2A 3r
q

2A
1 ; B2
B1 ; dan A1 max
L L

L
qa

Dengan :
r
= jarak garis keja resultan P1 dan P2 terhadap sisi B2
B1, B2 = lebar pondasi pada sisi terpendek dan terpanjang
L
= panjang pelat pondasi
A
= luas trapesium
a1, a2 = jarak tepi pelat ke pudat kolom P1 dan P2
q
= tekanan dasar pondasi pada tanah
qa
= daya dukung yang diijinkan.

Untuk pondasi gabungan empat persegi panjang, karena B1 = B2, maka B = A/L

PONDASI TELAPAK GABUNGAN


BERBENTUK TRAPESIUM

Perancangan pondasi telapak gabungan berbentuk trapesium

PONDASI TELAPAK GABUNGAN


BERBENTUK TRAPESIUM
Langkah-langkah perancangan pondasi telapak gabungan berbentuk trapesium
1. Menyiapkan denah dasar bangunan yang menggambarkan letak-letak kolom,
dinding, dan letak beban-beban dimana terdapat ruang-ruang khusus seperti
tempat mesin yang berat dan kemungkinan menimbulkan getaran. Selain itu
juga harus diketahui beban mati, beban hidup, momen lentur pada tiap-tiap
kolom dandindingnya. Memilih susunan kolom-kolom yang membutuhkan
struktur pondasi bangunan.
2. Pada dua kolom atau lebih yang mmebutuhkan struktur pondasi gabungan,
dihitung jumlah total dari beban-beban kolomnya (S P)
3. Tentukan lokasi resultan beban-beban. Jika pada kolom-kolomnya terdapat
momen lentur, pengaruh momen ini harus diperhitungkan terhadap resultan dari
S P.
4. Estimasikan nilai daya dukung yang diijinkan (qa) berdasarkan jenis tanah
dasar pondasi, dengan mempertimbangkan nilai-nilai daya dukung aman.

PONDASI TELAPAK GABUNGAN


BERBENTUK TRAPESIUM
5. Dicoba panjang pelat pondasi L dan dihitung luas pelat pondasi yang diperlukan
dengan persamaan :

P
qa

dengan :
A = luas pondasi
qa = estimasi daya dukung yang dijinkan dari langkah (4)
6. Hitung lebar pondasi B1 dan B2 dengan persamaan :

B1

2A 3r

1
L L

dan

2A
B2
B1
L

Dengan :
r
= jarak garis keja resultan P terhadap sisi B2
B1 = sisi trapseium pada bagian yang terbatas oleh batas pemilikan
B2 = sisi trapesium pada bagian dalam bangunan
L = panjang pelat pondasi
Jika r = L/3, maka B1 = 0, pada kondisi ini diperoleh pondasi berbentuk segitiga
untuk memenuhi tekanan pada dasar pondasi yang seragam. Untuk itu, lebih baik
panjang L ditambah ke arah sisi B2, jika r L/3

PONDASI TELAPAK GABUNGAN


BERBENTUK TRAPESIUM
7. Cek daya dukung yang diijinkan yang diestimasikan pada langkah (4) diatas
dengan daya dukung yang diijinkan (qa) yang didasarkan pada dimensi pondasi
yang diperoleh pada langkah (6). Nilai qa yang diestimasikan harus lebih kecil
daripada qa yang dihitung dari pada langkah (7). Pada perhitungan ini, karena
resultan beban dibuat berimpit dengan pusat berat luasan pondasi, maka tekanan
pada dasar pondasi seragam yaitu sama dengan qa. Kemudian lakukan langkah
(12), (13) dan (14). Jika resultan beban tidak berimpit dengan pusat berat luasan
pondasi maka lanjutkan ke langkah (8)
8. Tentukan letak titik berat dari luasan pondasi dengan persamaan :

L 2B1 B2

ro
3 B1 B2
dengan ro adalah jarak titik berat trapseisum terhadap B2. Titik awal sumbu-sumbu
koordinat x, y dibuat berimpit dengan ro.
9. Tentukan besar momen inersia dari luasan pondsi terhadap sumbu y (yaitu Iy)
dengan mengingat :

Iy = IB2 Aro2
dengan IB2 adalah momen inersia terhadap sisi B2

PONDASI TELAPAK GABUNGAN


BERBENTUK TRAPESIUM
10. Hitung momen SP terhadap sumbu y, yaitu M = e S P, dengan

e = ro - r
11. Tentukan besarnya tekanan pada dasar pondasi, dengan persamaan :

P My x o
q

A
Iy
dengan xo adalah jarak sembarang titik pada sumbu x terhadap titik awal
12. Gambarkan diagram gaya lintang disepanjang pondasi

13. Hitung besarnya momen lentur dan kebutuhan penulangan betonnya


14. Cek kedalaman pondsi berdasarkan perhitugnan dimensi (tebal) pelat pondasi.

PONDASI TELAPAK GABUNGAN


BERBENTUK EMPAT PERSEGI PANJANG

Perancangan pondasi telapak gabungan berbentuk empat persegi panjang

PONDASI TELAPAK GABUNGAN


BERBENTUK EMPAT PERSEGI PANJANG
Langkah-langkah perancangan pondasi telapak gabungan berbentuk empat
persegi panjang
Ikuti langkah-langkah perhitungan seperti pada perancangan pondasi telapak
gabungan berbentuk trapsium pada langkah (1) sampai langkah (5)
6. Hitung lebar pondasi dengan persamaan sebagi berikut :
P
B
qaL
7. Cek daya dukung yang diijinkan pada langkah (4) dengan daya dukung yang
diijinkan (qa) yang didasarkan pada dimensi pondasi yang ditentukan pda langkah
(6). Nilai qa yang diestimasikan harus lebih kecil daripada qa yang dihitung pada
langkah (7)
8. Hitung besar tekanan pada dasar pondasi dengan persamaan :

4 P
6e
P
untuk (e > L/6)
1 x untuk (e L/6); dan q

3
B
L

2
e
BL
L
x
Lanjutkan langkah-langkah perhitungan sama seperti pada langkah ( 12) sampai
dengan langkah (14) pada perancangan pondasi telapak gabungan berbentuk
trapesium

PERANCANGAN
PONDASI TELAPAK KANTILEVER

PERANCANGAN STRUKTURAL
Pondasi telapak kantilever terdiri dari dua pondasi yang terpisah satu sama lain
yang dihubungkan oleh suatu balok.
Luas area kedua pondasi dapat dianggap sebagai problem statika jika daya
dukung diijinkan dan dimensi pondasi sudah dipilih atau diasumsikan.

Perancangan pondasi telapak kantilever

PERANCANGAN STRUKTURAL
Tekanan pada dasar pondasi terbagi rata secara sama pada pondasi kolom P1 dan P2
dari persamaan keseimbangan):
L1R1 = (L1 + B1/2 a1) P1
R1 = (L1 + B1/2 a1) (P1 / L1)
Tekanan pada dasar pondasi kolom P1 :
q1
= R1 / A1
Dari persamaan :
L1 P2 (B1/2 a1) P1 = R2 L1
Diperoleh :
R2 = (1/ L1) [ L1 P2 (B1/2 a1) P1]
Tekanan pada dasar pondasi kolom P2 :
q2 = R2 / A2
dengan :
A1 , A2 = luas dasar pondasi kolom P1 dan P2
q1 , q2 = tekanan pada dasar pondasi pada pondasi kolom P1 dan P2
Dalam perancangan, hasil akhir q1 , q2 harus lebih kecil daripada daya dukung
diijinkan (qa) dari tekanan pada dasar pondasi yang telah diperoleh, dapt dihitung
besarnya momen dan gaya lintang yang terjadi pada balok ikat dan telapak
pondasinya. Kemudian dilakukan perhitungan penulangan betonnya.

PEMILIHAN BEBAN-BEBAN KOLOM


Dalam praktek lebih baik jika pondasi dibuat sedemikian rupa agar tekanan sentuh
yang terjadi besarnya seragam dibawah beban mati dan beban hidup yang benarbenar mempengaruhi penurunan, yaitu dengan membuat pusat luasan pondasi
berimpit dengan resultan beban-beban kolomnya.
Jika pondasi terletak pada tanah lempung, beban hidup yang diperkirakan adalah
beban yang diperkirakan akan bekerja dalam periode waktu beberapa tahun.
Untuk pondasi pada tanah pasir, hal ini merupakan nilai kemungkinan beban
maksimumnya.
Walaupun pondasi telapak gabungan dibuat agar tekanan pada dasar pondasi
seragam oleh pengaruh beban-beban kolomnya, tetapi dalam praktek
perancangan pondasi tersebut sering didasarkan pada beban-beban kolom yang
ada. Sehingga akan terdapat eksentrisitas resultan beban terhadap pusat luasan
pondasi, dan distribus tekanan pondasi menjadi tidak seragam. Oleh karena itu
daya dukung diijinkan (qa) harus dihitung berdasarkan pembebanan eksentris

Perancangan struktur pondasi, perhitungan gaya-gaya lintang dan momen-momen


lentur harus didasarkan pada tekanan pada dasar pondasi yang tidak seragam
tersebut.

PONDASI RAKIT

DAYA DUKUNG YANG DIIJINKAN


Pondasi rakit merupakan pondasi lebar, oleh karena itu dalam perhitungan daya
dukung sama seperti perhitungan daya dukung pada pondasi telapak.
Daya dukung dijinkan (qa) = qult / SF, dan penurunan yang terjadi harus dalam
batas-batas yang dijinkan.
Besarnya tekanan pondasi netto (qn) pada dasar ruang bawah tanah adalah :

qn = tekanan pondasi total (q) tekanan total akibat berat


tanah diatas dasar pondasi
pengurangan tekanan pondasi netto akibat gesekan antara dinding ruang bawah
tanah dengan tanah disekelilingnya sebaiknya tidak diperhitungkan dalam
hitungan.
Area yang tertutup pondasi rakit sama atau sedikit lebih besar dari luas bangunan.
Oleh karena itu jika daya dukung diijinkan terlampaui, jalan keluarnya adalah
dengan memperdalam pondasi atau memperdalam ruang bawah tanahnya

PONDASI RAKIT PADA TANAH PASIR


Karena area pondasi rakit sangat luas dibandingkan dengan pondasi telapak,
maka untuk pondasi rakit yang terletak pada tanah pasir, faktor keamanan
terhadap keruntuhan daya dukungnya selalu besar.

Dengan bertambahnya rakit atau bertambahnya kerapatan relatif tanah, maka


daya dukungnya juga bertambah. Oleh karena itu untuk pondasi rakit yang terletak
pada tanah pasir, kemungkinan terjadinya keruntuhan terhadap daya dukungnya
sangat kecil.
Kurva daya dukung yang diijinkan pada penurunan 1 pada umumnya tidak
tergantung dari lebar pondasi (B), jika lebar pondasi lebih besar dari 6.5 m.
Dengan dasar ini, maka Peck dkk. (1953) menyarankan persamaan daya dukung
diijinkan (qa) untuk pondasi rakit yang lebar adalah sebagai berikut :

qa

N3
5

dengan N adalah jumlah pukulan dalam pengujian SPT

PONDASI RAKIT PADA TANAH PASIR


Nilai qa pada persamaan diatas dapat ditambah jika terdapat lapisan batu kurang
dari 0,5 m lebar pondasi rakit.
Sebaliknya, nilai qa harus dibagi 2 jika muka air tanah pada dasar pondasi atau
lebih tinggi
Untuk muka air tanah terletak ditengah-tengah antara dasar pondasi dan B
dibawah dasar pondasi, dapat dilakukan reduksi qa antara 0 50%.
Nilai N yang digunakan harus dikoreksi terhadap faktor pasir halus yang terletak
dibawah muka air tanah dan faktor tekanan overburden efektif.
Jika N < 5, pasir sangat tidak padat, oleh karena itu tidak baik untuk mendukung
pondasi rakit. Jika pada tanah tersebut akan diletakkan pondasi rakit, maka
tanahnya harus dipadatkan terlebih dulu hingga nilai N mencapai 10, atau
digunakan pondasi tiang.

PONDASI RAKIT PADA TANAH LEMPUNG

Perhitungan daya dukung pondasi rakit pada tanah lempung sama seperti
perhitungan daya dukung pondasi telapak pada tanah lempung (materi kuliah :
Daya Dukung)

Beban pondasi yang menyebabkan keruntuhan tanah tidak tergantung dari lebar
pondasi.

Pada penambahan kedalaman, daya dukung ultimit bertambah akibat beban


terbagi merata (po = Df g).

Untuk mengurangi tekanan akibat berat bangunan pada tanah, lebar pondasi
harus ditambah. Karena penambahan lebar pondasi tidak mungkin, karena
terbatasnya luas tanah untuk bangunan, maka bilapondasi rakit terletak pada
tanah lempung yang lunak, untuk mengurangi tekanan tanah yang besar pada
tanah dasar pondasi, pondasi harus diperdalam. Untuk ini dapat digunakan
pondasi apung (floating foundation)

PENURUNAN PADA PONDASI RAKIT

Perbedaan distribusi tekanan antara pondasi telapak dan pondasi rakit pada
tanah dibawahnya :(a). Sekelompok pondasi telapak; (b). Pondasi rakit.

PENURUNAN PADA PONDASI RAKIT

Walaupun hal-hal yang mempengaruhi keamanan pondasi rakit dan pondasi


telapak sama, tetrapi karakter penurunan pada kedua pondasi ini berbeda.

Zona tanah tertekan oleh pondasi rakit mengalami penurunan berkembang


kedalam tanah lebih besar daripada pondasi telapak.

Permukaan penurunan pondasi rakit bila tanahnya kohesif dan homogen akan
berupa cekungan dengan nilai penurunan maksimum pada bagian tengah rakit
pondasinya.

Sedang pada pondasi telapak penurunan yang terjadi relatif seragam dan
besarnya penurunan kurang dari penurunan pondasi rakit, pada tekanan pondasi
per satuan luas yang sama.

PENURUNAN PADA PONDASI RAKIT

PONDASI RAKIT PADA TANAH PASIR


Karena dimensi pondsi rakit yang
besar, tekanan pondasi pada tanah
pasir dibawahnya terjadi pada zona
yang relatif dalam.
Oleh karena itu pengaruh adanya
lensa-lensa pasir yang tidak padat
yang tersebar secara acak pada
lapisan pasir diperkirakan mendekati
sama pada seluruh bagian pondasi
rakit.

Penyebaran lensa-lensa tanah pasir


longgar dibawah pondasi bangunan yang
sangat lebar

PENURUNAN PADA PONDASI RAKIT


PONDASI RAKIT PADA TANAH PASIR
Pada tekanan yang sama penurunan tidak seragam pada pondasi rakit
akan lebih kecil jika dibandingkan dengan penurunan pada pondasi
telapak. Pengalaman menunjukkan bahwa pemberian tekanan pondasi
rakit 2 kali tekanan pondasi telapak tidak mengakibatkan penurunan tidak
seragam yang membahayakan.
Penurunan dan beban yang uniform pada tanah pasir, menghasilkan
penurunan yang sama ke seluruh luasan pondasi, asalkan dasar pondasi
terletak pada kedalaman lebih dari 2.5 m dari permukaan tanah.
Jika kedalaman pondasi rakit dangkal, bagian terluar dari sisi pondasi
akan turun lebih besar daripada bagian tengahnya.
Jika N > 5. maka penurunan tidak seragam diantara kolom-kolom yang
berdekatan pada pondasi rakit pada tanah pasir diperkirakan akan kurang
dari , asalkan dasar pondasi terletak pada kedalaman lebih dari 2.5 m
(Terzaghi dan Peck, 1948)

PENURUNAN PADA PONDASI RAKIT


PONDASI RAKIT PADA TANAH LEMPUNG
Perhitungan penurunan didasarkan pada anggapan bahwa lapisan tanah lempung
dibebani dalam kondisi ditahan secara lateral.
Untuk beban yang uniform, bentuk penurunan berupa cekungan dengan nilai
maksimum ditengah-tengah. Tetapi kemiringan permukaan penurunannya sangat
kecil sehingga perbedaan penurunan antar kolom sangat kecil dibanding dengan
selisih penurunan antara bagian paling tepi dan pusat pondasinya.
Karena luas pondasi rakit besar, dan penurunan bertambah jika ukuran rakitnya
bertambah, maka harus diketahui apakah besar penurunan masih dalam batasbatas yang diijinkan.
Penurunan tidak seragam pada pondasi rakit per inch dari penurunan
maksimumnya tidak lebih dari kali penurunan pondasi telapak pada tekanan
persatuan luas yang sama.
Jika penurunan tak seragam yang diijinkan pada pondasi telapak adalah ,
tekanan tanah yang diijinkan pada pondasi rakit dapat dipilih sedemikian rupa
sehingga penurunan maksimumnya 2 (tidak 1, seperti pada pondasi telapak)
(Terzaghi dan Peck, 1948).

PERANCANGAN PONDASI RAKIT

Kedalaman dan lebar pondasi untuk pondasi telapak dan pondasi rakit

PERANCANGAN PONDASI RAKIT


Penentuan kedalaman pondasi dilakukan dengan cara coba-coba
Jika digunakan pondasi telapak, kedalaman pondasi (Df) diukur dari permukaan
dasar rakit sebelah dalam sampai ke dasar pondasi.
Jika dipakai pondasi rakit, kedalaman pondasi diukur dari permukaan tanah
bagian luar sampai kedasar pondasinya.
Beban-beban yang digunakan dalam perhitungan tekanan tanah yang menekan
pondasi rakit (Tekanan sentuh) yang harus dicek terhadap daya dukung yang
diijinkan (qa) adalah beban mati yang benar-benar aktif dikurangi dengan beban
terbagi merata akiabt berat tanah diatas dasar pondasi.
Bila tekanan pada tanah akibat bebannya terlalu tinggi, pondasi perlu diperdalam
Setelah kedalaman pondasi ditentukan, maka dilakukan perhitungan gaya-gaya
yang bekerja pada pelat dasar rakit.
Beban kolom dan dinding maksimum dihitung dengan memberikan reduksi pada
beban hidup yang disesuaikan dengan peraturan muatan. Sesudah itu
ditentukan letak resultan beban-bebannya.
Berat rakit pondasi dapat tidak dimasukkan dalam hitungan struktur rakitnya,
karena di setiap titik pada rakit didukung tanah secara langsung oleh tanah
bawahnya sehingga tidak menimbulkan momen lentur

PERANCANGAN PONDASI RAKIT


Penyebaran tekanan tanah pada dasar pondasi dihitung dengan persamaan :

P P ey y P ex x
q

A
Ix
Iy

dengan :
SP = jumlah total beban pondasi
A
= luas total rakit pondasi
x,y = koordinat pada sembarang titik pada rakit dengan arah sumbu x-y yang
dibuat lewat pusat berat luasan pondasinya.
Ix,Iy = momen inercia terhadap sumbu x dan sumbu y
Jika rakit berbentuk empat perseg panjang maka persamaan diatas menjadi :

P 6 e1 6 e b
q

BL
L
B

dengan :
L
= panjang rakit
B
= lebar rakit
el, eb = eksentrisitas resultan beban arah L dan B
Hitungan qmax dapat dilakukan dengan diagram pada perhitungan pondasi telapak
terpisah

PERANCANGAN PONDASI RAKIT


Jika pondasi terletak pada tanah lunak, beban eksentris dapat
menyebabkan selisih penurunan pada sudut-sudut luasan pondasinya.
Tekanan vetikal pada sembarang lapisan dibawah tiap-tiap sudut rakit
tersebut dapat dihitung dengan menggunakan lingkaran Newmark.
Pondasi rakit terdiri dari pelat beton bertulang yang mendukung kolomkolom dan dinding-dinding bangunannya dengan besar beban dan jarak
kolom-kolom yang relatif sama. Tekanan tanah terhadap rakit dianggap
seragam, yaitu sama dengan jumlah beban-beban dibagi luas rakit.
Kemudian dihitung gaya lintang dan momen lentur untuk kemudian
dirancang penulangan betonnya.
Jika beban-beban kolomnya berlainan sehingga dalam tiap bagian luasan
pondasinya mendukung beban yang tidak sama, sering dilakukan dengan
cara membagi-bagi luasan pondasi menjadi beberapa bagian dengan
tekanan tanah pada tiap-tiap bagian dihitung dari berat bangunan dibagi
luas masing-masing bagian.

PERANCANGAN PONDASI RAKIT


Jika beban-beban kolom disebarkan
secara sama, atau jika tanah
dibawahnya
diperkirakan
dapat
menimbulkan
penurunan
tidak
seragam yang besar, maka pondasi
rakit yang lebar pelatnya harus
diperkuat guna mencegah deformasi
yang berlebihan.
Perkuatan pondasi dapat dilakukan
dengan menggunakan balok-balok T
yang digabungkan dengan pelat
pondasi, atau dengan cara lain yaitu
dengan menggunakan jenis pondasi
rangka kaku (rigid frame foundation)
atau dengan membuat struktur atas
yang kaku. Oleh karena itu untuk
pondasi rakit yang sangat besar, lebih
baik menggunakan pondasi tiang.

Struktur pengaku pada pondasi rakit

PERANCANGAN PONDASI RAKIT


Pondasi rakit sering dirangkaikan dengan ruang bawah tanah (basement), yang
dapat mereduksi tekanan pondasi netto, sehingga mengurangi penurunan.
Bangunan bawah tanah, dibangun dengan cara menggali tanah sampai mencapai
kedalaman dasar pondasi. Berat tanah yang tergali, setiap pengurangan tekanan
per satuan luas sebesar 0,5 kg/cm2 setara dengan bangunan kantor berlantai 3
sampai 4. Jadi bangunan sebesar ini dapat didukung oleh ruang bawah tanah
dengan tanah dasar berupa tanah lempung sangat lunak dan mudah memampat,
yang secara teoritis beban tersebut tidak akan mengakibatkan penurunan.
Penurunan pondasi rakit dengan beban terbagi rata sama akan berbentuk cekungan
dengan nilai maksimum di tengah. Selisih penurunan antara tepi dan tengah
pondasinya kira-kira dari penurunan maksimum. Jika bangunannya fleksibel,
penurunan tidak seragam dapat dieliminasi dengan membuat bangunan bawah
yang kaku.
Jika area pondasi rakit luas, terletak pada tanah lempung dan memikul beban yang
berbeda-beda momen lentur didalam bangunan bawah menjadi masalah. Oleh
karena itu dapat dipilih bentuk bangunan dengan kedalaman ruang bawah tanah
bervariasi, sedemikian hingga selisih antara beban bangunan dan berat tanah yang
tergali per satuan luas mendekati sama untuk setiap bagian pondasinya.

PERANCANGAN PONDASI RAKIT

Tiga cara untuk merancang pondasi pada tanah lunak (Terzaghi dan Peck, 1948) ;
(a). Struktur sangat kaku mampu memberikan penurunan seragam;
(b). Struktur fleksibel mampu mengalami defleksi yang besar tanpa mengalami kerusakan;
(c). Struktur fleksibel, terjadi penurunan seragam oleh variasi kedalaman ruang bawah tanah

PENGEMBANGAN TANAH
AKIBAT PENGGALIAN TANAH PONDASI
Penggalian ruang bawah tanah dapat mengakibatkan tanah dasar pondasi
mengembang sewaktu selesai penggalian.
Pengembangan yang mengakibatkan naiknya elevasi dasar galian tanah pondasi
umumnya hilang dalam periode pelaksanaan, yaitu setelah beban struktur yang
dibangun sama atau melebihi berat tanah yang digali untuk pondasi.
Penurunan bangunan terjadi bila beban struktur yang dibangun melampaui berat
tanah yang tergali
Saat berat struktur bangunan sama dengan berat tanah tergali, besar penurunan
sama atau sedikit lebih besar dari kenaikan elevasi tanah akibat penggaliannya.
Besarnya kenaikan dasar galian akibat pengembangan dan penurunan sesudahnya
bergantung pada sifat tanah dan dimensi lubang galian.
Jika tanah dasar berupa tanah pasir diatas muka air tanah, kenaikan akibat
pengembangan kecil dan biasanya dapat diabaikan
Jika tanah dasar berupa tanah lempung lunak, maka deformasi terjadi pada
kadar air konstan seperti halnya bahan yang bersifat elastis, tidak mudah
mampat yang isotropis. Oleh karena itu pengembangannya dapat dihitung
dengan teori elastis.

PENAHAN AIR DAN DRAINASE


PADA RUANG BAWAH TANAH
Jika ruang bawah tanah dibangun dibawah muka air tanah, maka harus
diperhatikan adanya rembesan air yang masuk ke dalam ruang tersebut.

Jika debit rembesan kecil , drainase dpatr dilakukan melalui selokan pembuang.
Cara yang umum digunakan adalah dengan memasang pipa-pipa drainase didekat
pondasi atau dibawah lantai

Drainase pada ruang bawah tanah

PENAHAN AIR DAN DRAINASE


PADA RUANG BAWAH TANAH
Beton yang baik akan mempunyai derejad kekedapan air tinggi jika diolah
dengan cara yang baik pada waktu pengecoran. Rembesan air tidak akan
besar yang meresap melalui pondasinya, dapat diuapkan dengan dara
pemanasan dan ventilasi yang baik
Rembesan oleh pengaruh kapiler yang lewat tembok ruang bawah tanah
dan lantai dapat direduksi dengan memoleskan material kedap air seperti
aspal dipermukaannya.
Untuk ruang bawah tanah yang bangunannya didukung oleh sekelompok
pondasi telapak, jika debit rembesan besar, dapat digunakan sistem
penahan air seperti pada gambar di bawah.
Metode yang digunakan adalah dengan memasang membran kedap air
disekeliling dasar pondasi. Penahan air harus dipasang diseluruh
bangunan yang berada di bawah muka air tanah. Untuk itu perlu dibuat
lantai dasar untuk perletakan lapisan membran, sebelum lantai dasar
bangunannya sendiri dicor.

PENAHAN AIR DAN DRAINASE


PADA RUANG BAWAH TANAH
Penempatan lapisan membran jika ruang bawah tanah menggunakan pondasi
telapak, dimana rakit lantai dasar bangunan hanya digunakan untuk menahan
tekanan air ke atas, bukan bagian dari pondasi yang mendukung bangunan.

Detail pondasi telapak pada tanah pasir bila ruang bawah tanah terletak dibawah muka air

Merci beaucoup pour votre attention

Jespere que vous compreniez du chapitre

Aurevoir.

PONDASI DANGKAL
PELAKSANAAN
PEKERJAAN

Materi
Teknik Pondasi

Oleh :
T R I S U L I S T YOWAT I

PERSIAPAN LOKASI

Membersihkan pohon-pohon dan


tanaman yang mengganggu

Memindahkan lapisan top soil


(4-6 dibawah permukaan)

SITE LAYOUT

PEKERJAAN PENGGALIAN

PEKERJAAN PENULANGAN

PEKERJAAN SLAB PONDASI TELAPAK

PONDASI LAJUR UNTUK DINDING

PEKERJAAN DINDING

PEMASANGAN DINDING
BLOK BETON

FINISHING DINDING BETON

Merci beaucoup pour votre attention

Aurevoir.

PONDASI DALAM
Pendahuluan
Oleh :
Tri Sulistyowati

Materi Kuliah : Teknik Pondasi

FUNGSI DAN KEGUNAAN


PONDASI TIANG

FUNGSI & KEGUNAAN PONDASI TIANG

Untuk meneruskan beban bangunan yang terletak


di atas air atau tanah lunak, ke tanah pendukung
yang kuat.

Untuk meneruskan beban ke tanah yang relatif


lunak sampai kedalaman tertentu sehingga
pondasi bangunan mampu memberikan dukungan
yang cukup untuk mendukung beban tersebut oleh
gesekan dinding tiang dengan tanah di sekitarnya.

Untuk mengangker bangunan yang dipengaruhi


oleh gaya angkat ke atas akibat tekanan
hidrostatis atau momen penggulingan.

Untuk menahan gaya-gaya horisontal dan gaya


yang arahnya miring.

Untuk memadatkan tanah pasir, sehingga


kapasitas dukung tanah tersebut bertambah.

Untuk mendukung fondasi bangunan


permukaan tanahnya mudah tergerus air.

yang

FUNGSI & KEGUNAAN PONDASI TIANG

FUNGSI & KEGUNAAN PONDASI TIANG

FUNGSI & KEGUNAAN PONDASI TIANG

FUNGSI & KEGUNAAN PONDASI TIANG

JENIS-JENIS
PONDASI TIANG

3 KATEGORI PONDASI TIANG


1. Tiang perpindahan besar (large displacement pile), yaitu tiang pejal atau
berlubang dengan ujung tertutup yang dipancang ke dalam tanah sehingga
terjadi perpindahan volume tanah yang relatif besar. Yang termasuk dalam
tiang perpindahan besar adalah tiang kayu, tiang beton pejal, tiang beton
prategang (pejal atau berlubang), tiang baja bulat (tertutup pada ujungnya).
2. Tiang perpindahan kecil (small displacement pile) adalah sama seperti
tiang kategori pertama hanya volume tanah yang dipindahkan saat
pemancangan relatif kecil, contohnya: tiang beton berlubang dengan ujung
terbuka, tiang beton prategang berlubang dengan ujung terbuka, tiang baja
H, tiang baja bulat ujung terbuka, tiang ulir.
3. Tiang tanpa perpindahan (non displacement pile) terdiri dari tiang yang
dipasang di dalam tanah dengan cara menggali atau mengebor tanah.
Termasuk dalam tiang tanpa perpindahan adalah tiang bor. yaitu tiang
beton yang pengecorannya langsung di dalam lubang hasii pengeboran
tanah (pipa baja diletakkan dalam lubang dan dicor beton).

Panjang dan beban maksimum untuk berbagai macam tipe


tiang yang umum dipakai dalam praktek (Carson, 1965)

JENIS PONDASI TIANG


BERDASARKAN BAHAN TIANG
DAN CARA PELAKSANAANNYA

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tiang Kayu
Tiang Beton Pracetak
Tiang Beton Cetak Ditempat
Tiang Bor
Tiang Baja Profil
Tiang Komposit

TIANG KAYU

Umumnya murah dan mudah


penanganannya.
Permukaan tiang dapat dilindungi
ataupun
tidak
dilindungi
tergantung dari kondisi tanah.
Tiang kayu ini dapat mengalami
pembusukan atau rusak akibat
dimakan serangga.
Untuk menghindari kerusakan pada
waktu pemancangan, ujung tiang
dilindungi dengan sepatu dari besi.
Beban maksimum yang dapat
dipikul oleh tiang kayu tunggal
dapat mencapai 270 - 300 kN.

TIANG KAYU

TIANG BETON PRACETAK

Tiang beton pracetak umumnya berbentuk prisma


atau bulat .
Tiang-tiang dicetak di lokasi tertentu, kemudian
diangkut ke lokasi pembangunan.
Ukuran diameter yang biasanya dipakai untuk tiang
yang tidak berlubang diantara 20 sampai 60 cm,
untuk tiang yang berlubang diameternya dapat
mencapai 140 cm.
Panjang tiang beton pracetak biasanya berkisar
diantara 20 sampai 40 m, untuk tiang beton
berlubang bisa sampai 60 m.
Beban maksimum untuk tiang ukuran kecil dapat
berkisar di antara 300 sampai 800 kN.

TIANG BETON PRACETAK

Keuntungan pemakaian tiang pancang pracetak, antara lain :


Bahan tiang dapat diperiksa sebelum pemancangan.
Prosedur pelaksanaan tidak dipengaruhi oleh air tanah.
Tiang dapat dipancang sampai kedalaman yang dalam.
Pemacangan tiang dapat menambah kepadatan tanah granuler.
Kerugian:
Penggembungan permukaan tanah dan gangguan tanah akibat pemancangan dapat
menimbulkan masalah.
Tiang kadan-kadang rusak akibat pemancangan.
Pemancangan sulit, bila diameter tiang terlalu besar.
Pamancangan menimbulkan gangguan suara, getaran dan deformasi tanah yang dapat
menimbulkan kerusakan bangunan di sekitarnya.
Penulangan dipengaruhi oleh tegangan yang terjadi pada waktu pengangkutan dan
pemancangan tiang.

TIANG BETON PRACETAK

TIANG BETON PRACETAK

TIANG BETON CETAK DI TEMPAT


Tiang beton cetak di tempat terdiri dari
2 tipe, yaitu :
1. Tiang yang berselubung pipa.
Pipa baja dipancang lebih dulu ke
dalam tanah. Kemudian, ke dalam
lubang dimasukkan adukan beton.
Pada akhirnya nanti, pipa besi tetap
tinggal di dalam tanah. Yang termasuk
jenis tiang ini adalah tiang Standar
Raimond
2. Tiang yang tidak berselubung pipa.
Pada tiang yang tidak berselubung
pipa, pipa baja yang berlubang
dipancang lebih dulu ke dalam tanah.
Kemudian ke dalam lubangnya dima
sukkan adukan beton dan pipa ditarik
keluar
ketika
atau
sesudah
pengecoran. Yang termasuk jenis tiang
ini adalah tiang Franki

TIANG BETON CETAK DI TEMPAT


Pelaksanaan pemasangan tiang Franki
adalah sebagai berikut:
1. Mula-mula pipa baja dipancang ke dalam
tanah dengan kedalaman yang tak begitu
dalam. Kemudian, adukan beton dengan
faktor air semen rendah, diisikan ke dalam
dasar lubang sehingga membentuk sumbat
di ujung tiang.
2. Sumbat beton ini dipukul dengan pemukul
yang dapat masuk ke dalam pipa. Selama
proses pemukulan, sumbat beton menjadi
satu kesatuan dengan pipa.
3. Setelah pipa mencapai kedalaman yang
dikehendaki, pipa ditahan agar tidak dapat
turun, dan beton sumbat dipukul hingga
keluar dari pipa. Setelah itu, beton dicorkan
ke dalam pipa. Beton sumbat yang keluar
dari pipa bawah, diusahakan membentuk
gelembung

TIANG BETON CETAK DI TEMPAT


Keuntungan pemakaian tiang Franki, antara lain :
1. Panjang tiang dapat disesuaikan dengan kondisi tanah.
2. Pembesaran ujung tiang menambah kapasitas dukung tanah.
3. Penulangan tidak dipengaruhi oleh masalah pengangkutan atau tegangan yang timbul
akibat pemancangan.
4. Tiang dapat dipancang dengan ujung yang tertutup hingga tidak dipengaruhi air tanah.
5. Gangguan suara dan getaran dapat direduksi dengan menggunakan cara tertentu.
Kerugiannya :
1. Kenaikan permukaan tanah akibat pemancangan merugikan bangunan di sekitarnya.
2. Gangguan tanah dapat mengakibatkan rekonsolidasi dan timbulnya gaya gesek dinding
negatif pada tiang sehingga mengurangi kapasitas dukungnya.
3. Pemancangan dapat mengakibatkan terangkatnya tiang yang telah lebih dulu
dipancang.
4. Mutu beton tidak dapat diketahui setelah selesai pelaksanaan.
5. Mutu beton dapat berkurang akibat pengaruh air pada penarikan pipa selubung.
6. Panjang tiang terbatas oleh gaya tarik maksimum yang dapat dilakukan pada waktu
menarik pipa selubung.
7. Tiang tidak dapat dipancang dengan diameter yang besar.
8. Pemancangan menimbulkan suara keras, getaran yang timbul dan deformasi tanah
dapat membahayakan bangunan di sekitarnya.

TIANG BETON CETAK DI TEMPAT

TIANG BOR
Tiang bor dipasang ke dalam tanah
dengan cara mengebor tanah terlebih
dahulu, baru kemudian diisi dengan
tulangan dan dicor beton.
Tiang ini biasanya, dipakai pada tanah
yang stabil dan kaku, sehingga
memungkinkan
untuk
membentuk
lubang yang stabil dengan alat bor.
Jika tanah mengandung air, pipa besi
dibutuhkan untuk menahan dinding
lubang dan pipa ini ditarik ke atas pada
waktu pengecoran beton.

Pada tanah yang keras atau batuan


lunak, dasar tiang dapat dibesarkan
untuk menambah tahanan dukung ujung
tiang

TIANG BOR
Keuntungan penggunaan tiang bor, antara lain :
1. Tidak ada resiko kenaikan muka tanah.
2. Kedalaman tiang dapat divariasikan.
3. Tanah dapat diperiksa dan dicocokkan dengan data laboratorium.
4. Tiang dapat dipasang sampai kedalaman yang dalam, dengan diameter besar,
clan dapat dilakukan pembesaran ujung bawahnya jika tanah dasar berupa
lempung atau batu lunak.
5. Penulangan tidak dipengaruhi oleh tegangan pada waktu pengangkutan dan
pemancangan.
Kerugian:
1. Pengeboran dapat mengakibatkan gangguan kepadatan, bila tanah berupa pasir
atau tanah yang berkerikil.
2. Pengecoran beton sulit bila dipengaruhi air tanah karena mutu beton tidak dapat
dikontrol dengan baik.
3. Air yang mengalir ke dalam lubang bor dapat mengakibatkan gangguan tanah,
sehingga mengurangi kapasitas dukung tanah terhadap tiang.
4. Pembesaran ujung bawah tiang tidak dapat dilakukan bila tanah berupa pasir.

TIANG BOR

TIANG BOR

TIANG BAJA PROFIL

Tiang baja profil termasuk tiang


pancang, Dengan bahan yang terbuat
dari baja profil
Tiang ini mudah penanganannya dan
dapat mendukung beban pukulan yang
besar waktu dipancang pada lapisan
yang keras
Bentuk baja profil berbentuk profil H,
empat persegi panjang, segi enam dan
lain-lainnya

TIANG BAJA PROFIL

TIANG BAJA PROFIL

TIANG BAJA PROFIL

TIANG KOMPOSIT

Beberapa kombinasi bahan tiang


pancang atau tiang bor dengan
tiang pancang dapat digunakan
untuk
mengatasi
masalahmasalah pada kondisi tanah
tertentu.
Problem pembusukan tiang kayu
di atas muka air tanah misalnya,
dapat
diatasi
dengan
memancang tiang komposit yang
terdiri tiang; beton di bagian atas
dan tiang kayu di bagian bawah
zone muka air tanah

TIANG KOMPOSIT

TIANG DUKUNG UJUNG


DAN TIANG GESEK

TIANG DUKUNG UJUNG


(END BEARING PILE)

Tiang
Tanah lunak

Tanah keras

Tiang dukung ujung (end bearing) adalah tiang yang


kapasitas dukungnya ditentukan oleh tahanan ujung
tiang
Umumnya berada dalam zona tanah yang lunak
berada diatas tanah keras
Tiang dipancang sampai mencapai batuan dasar atau
lapisan tanah keras yang dapat mendukung beban dan
tidak mengakibatkan penurunan berlebihan
Kapasitas dukung tiang sepenuhnya ditentukan dari
tahanan dukung lapisan keras yang berada di ujung
tiang

TIANG GESEK
(FRICTION PILE)

Tiang

Tanah lunak
yang bertambah
keras karena
kedalamannya

Tiang gesek (friction pile) adalah tiang yang


kapasitas
dukungnya
ditentukan
oleh
perlawanan gesek antara dinding tiang dan
tanah disekitarnya.
Tahanan gesek dan konsolidasi lapisan tanah
dibawahnya
diperhitungkan
dalam
perhitungan kapasitas tiang

KELAKUAN TIANG
SELAMA PEMBEBANAN

KELAKUAN TIANG
SELAMA PEMBEBANAN

a. Kurva beban penurunan,


tiang yang dibebani hingga
mencapai keruntuhan

b. Transfer beban dari dinding


tiang ke ujung bawah tiang

Pada awal pembebanan penurunan kecil.


Penurunan diakibatkan oleh perubahan bentuk secara elastis
bahan tiang dan tanah disekitarnya
Jika beban diambil kepala tiang bergerak kembali hampir ke
kedudukan semula
Sebagian besar beban tiang didukung oleh gesekan tiang pada
bagian atas (Gambar b. Kurva I)
Jika beban dipasang lagi hingga mencapai titik B (Gambar a.),
tahanan gesek dinding menjadi maksimum dan sebagian beban
tiang akan didukung oleh tahanan ujung bawah tiang (Gambar b.
Kurva II)
Ketika beban mencapai titik C, dimana penurunan bertambah cepat
dengan hanya sedikit penambahan beban, maka tidak ada lagi
kenaikan transfer beban ke dinding tiang dan tahanan ujung tiang
mencapai maksimum.
Proporsi relatif beban yang dilimpahkan ke dinding tiang dan ujung
tiang tergantung pada kuat geser dan elastisitas tanah
Umumnya gerakan vertikal yang dibutuhkan agar tahanan ujung
tiang termobilisasi seluruhnya lebih besar daripada gerakan yang
dibutuhkan untuk termobilisasinya tahanan gesek tiang secara
penuh

KELAKUAN TIANG
SELAMA PEMBEBANAN
Pembebanan

Pembebanan

Qu
QS

QB

Settlement
a. Perilaku Tiang Gesek
(Frictional Pile)

Qu
QB

QS
Settlement
b. Perilaku Tiang dukung ujung
(End Bearing Pile)

PENGARUH PEKERJAAN
PEMASANGAN TIANG

PENGARUH PEMANCANGAN TIANG


Tiang Pancang dalam Tanah Granuler
Terjadi perubahan susunan dan pecahnya sebagian butiran
tanah.
Tanah mengalami pemadatan atau kenaikan berat volume
tanah
Jika tanah tidak padat, maka depresi tanah terjadi pada
tanah yang didesak oleh tiang
Jika tanah padat maka pemadatan yang terjadi relatif kecil
dan tahanan terhadap penetrasi tiang sangat tinggi
sehingga dibutuhkan tenaga pamancangan cukup besar
Dalam kelompok tiang, tanah disekitar dan diantara masingmasing tiang menjadi sangat padat
Jika jarak antar tiang dekat, kapasitas kelompok tiang
menjadi lebih besar daripada jumlah kapasitas tiang tunggal
Namun jika pasir dalam kondisi padat, tanah cenderung
berkurang kepadatannya akibat pemancangan
Tiang yang dipancang lebih akhir mempunyai kapasitas
dukung lebih tinggi daripada tiang yang dipancang lebih
dulu

PENGARUH PEMANCANGAN TIANG


Tiang Pancang dalam Tanah Granuler
Robinsky dan Morrison (1964) :
Gesekan tanah akibat pemancangan tiang pada tanah pasir tidak
padat (Dr = 17%) berkisar pada jarak 3 4 kali diameter tiang
dihitung dari sisi tiang; dan 2,5 3,5 kali diameter dibawah dasar
tiang
Pada tanah pasir dengan kepadatan sedang pengaruhnya lebih besar,
yaitu berkisar pada jarak 4,5 5,5 kali diameter tiang dihitung dari
sisi tiang; dan 3 4,5 kali diameter dibawah dasar tiang
Proses pergeseran butiran pasir dan pemadatan dibawah dasar tiang
akibat pemancangan diikuti oleh gerakan pasir disekitar dinding tiang
Gerakan ini cenderung mengurangi kepadatan pasir tepat disisi tiang
sehingga mengurangi sebagian keuntungan akibat pemadatan oleh
pengaruh pemancangan

PENGARUH PEMANCANGAN TIANG


Tiang Pancang dalam Tanah Granuler
Meyerhof (1959) :
Pemadatan yang terjadi akibat pemancangan lebih besar dibawah
dasar tiang daripada bagian atasnya
Penentuan diameter pengaruh ini penting untuk memperkirakan
sudut gesek dalam tanah (f)
Kishida (1967) :
Untuk tanah pasir tidak padat, jari-jari
pengaruh pemadatan akibat pemancangan
berkisar 3,5 d mengelilingi tiang
Didalam zone berbentuk lingkaran dengan
diameter 3,5 d ini sudut gesek dalam tanah
(f) berkurang secara linier.

f'2

1
2

'
1

40o

PENGARUH PEMANCANGAN TIANG


Tiang Pancang dalam Tanah Kohesif

Dapat mengakibatkan kenaikan permukaan tanah disekitar tiang yang


diikuti oleh konsolidasi
Deformasi akibat pemancangan mempengaruhi struktur disekitarnya dan
mengakibatkan tiang yang dipancang lebih dahulu terangkat ke atas
akibat pemancangan tiang sesudahnya.
Pemancangan ulang dibutuhkan, dan dapat dipertimbangkan
menggunakan tiang bor.
Tiang pancang pada tanah lempung kaku, cembungan tanah juga
terjadi, namun tanah yang terdorong ke atas berupa bahan retak-retak.
Konsolidasi kembali (rekonsolidasi) sangat lambat dan kuat geser tanah
asli tidak pernah kembali seperti semula selama umur struktur.
Pemancangan tiang pada tanah kohesif mengakibatkan susunan tanah
terganggu dan terjadi penurunan kekuatan geser.
Kenaikan kembali kekuatan geser terjadi dengan berjalannya waktu

PENGARUH PEMANCANGAN TIANG


Tiang Pancang dalam Tanah Kohesif
Tomlinson (1967) :
Paling sedikit 75% kapasitas ultimit tiang dapat tercapai dalam waktu 30
hari setelah pemancangan
Orrje dan Brom (1967) :
Pada tiang pancang dalam tanah lempung sensitif, kuat geser tak
terdrainasi akan pulih seperti kondisi semula setelah 9 bulan
pemancangan, kecuali tiang dipancang dengan jarak kurang dari 4 kali
diameternya, karena kenaikan kuat geser yang terjadi sangat kecil.
Kecepatan kembali pembentukan kuat geser lempung atau adhesinya
tergantung dari kecepatan konsolidasi pada zone tertentu di sekitar
tiang
Hal ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk estimasi waktu yang
dibutuhkan bekerjanya kapasitas tiang secara penuh, khususnya untuk
tiang yang kapasitasnya dipengaruhi oleh tekanan gesek dinding tiang
yang terletak dalam tanah lempung atau lanau lunak sensitif

PENGARUH PEMANCANGAN TIANG


Tiang Pancang dalam Tanah Kohesif

Pengaruh pemancangan
pada tekanan air pori
(Poulus dan Davis, 1980)

Di permukaan dinding tiang,


tekanan air pori sama atau lebih
besar
daripada
tekanan
overburden efektif
Perkembangan tekanan air pori
berkurang dengan cepat jika jarak
suatu titik dalam tanah dari tiang
bertambah
Disekitar tiang, tekanan air pori
berkembang sangat tinggi hingga
mencapai 1,5 2 kali tekanan
vertikal efektif awalnya.

PENGARUH PEMANCANGAN TIANG


Tiang Pancang dalam Tanah Kohesif
Airhart, dkk (1969) :
Di dekat dasar tiang, tekanan air pori 3 4 kali tekanan vertikal
efektifnya
Pada lempung normal, pengurangan tekanan air pori oleh penambahan
jarak radial (r) terjadi diluar zona 4 kali jari-jari tiang (a) atau r/a > 4
Pada lempung sensitif, r > 8a.
Diluar zona 30 kali diameter tiang, kenaikan tekanan air pori akibat
pemancangan dianggap nol.
Fellenius dan Brom (1969) :
Gaya gesek terhadap dinding tiang yang arahnya ke bawah (negatif)
terjadi pada saat tanah lempung di sekitar tiang mengalami konsolidasi
kembali (rekonsolidasi), yaitu pada saat tekanan air pori berkurang
secara berangsur-angsur untuk mencapai kedudukan tekanan air yang
seimbang dengan kedudukan muka air tanah.

PENGARUH PEMASANGAN TIANG BOR


Tiang Bor dalam Tanah Granular

Pada waktu pengeboran dibutuhkan tabung luar (casing) sebagai


pelindung terhadap longsoran dinding galian dan larutan tertentu dan
melindung dinding galian

Gangguan kepadatan tanah terjadi saat tabung pelindung ditarik ke


atas saat pengecoran.

Tomlinson (1975) menyarankan untuk menggunakan sudut gesek dalam


tanah (f) ultimit dari contoh terganggu, kecuali jika tiang diletakkan
pada kerikil padat dimana dinding lubang yang bergelombang tidak
terjadi

Jika pemadatan dapat diberikan pada beton yang berada di dasar tiang,
maka gangguan kepadatan tanah dapat dieliminasi sehingga sudut
gesek dalam tanah (f) pada kondisi padat dapat digunakan.

Tetapi pemadatan tersebut sulit dikerjakan karena terhalang oleh


tulangan beton

PENGARUH PEMASANGAN TIANG BOR


Tiang Bor dalam Tanah Kohesif
Nilai adhesi antara dinding tiang dan tanah disekitarnya lebih kecil daripada nilai
kohesi tak terdrainasi (undrained cohesion) tanah sebelum pemancangan, akibat
pelunakan lempung disekitar dinding lubang
Pelunakan lempung terjadi karena bertambahnya kadar air lempung oleh
pengaruh :
air pada pengecoran beton
pengaliran air tanah ke zone bertekanan rendah disekitar lubang bor
air yang dipakai untuk pelaksanaan pembuatan lubang bor
Pelunakan dapat dikurangi jika pengeboran dan pengecoran dilakukan dalam
waktu 1 atau 2 jam (Palmer dan Holland, 1966)
Pelaksanaan pengeboran mempengaruhi kondisi dasar lubang, mengakibatkan
pelunakan dan gangguan tanah lempung didasar lubang dan menambah
besarnya penurunan.
Pengaruh gangguan semakin besar jika diameter ujung tiang diperbesar, dimana
tahanan ujungnya ditumpu oleh ujung tiang
Sehingga penting untuk membersihkan dasar lubang
Gangguan lain terjadi akibat pemasangan tiang yang kurang baik seperti :
pengeboran melengkung, pemisahan campuran beton saat pengecoran dan
pelengkungan tulangan beton saat pemasangan.

TO BE CONTINUED, NEXT TOPIC


Thank you very much for your kind attention.

HOPEFULLY YOU UNDERSTAND THIS CHAPTER

PONDASI DALAM

Hitungan Kapasitas Tiang

Materi Kuliah : Teknik Pondasi


Oleh : Tri Sulistyowati

KAPASITAS ULTIMIT
CARA STATIS

POLA KERUNTUHAN
PONDASI TIANG
Q

Bidang tuntuh
tanah di dasar
tiang

Bidang tuntuh
gesekan

Bidang runtuh pada tiang tekan

KAPASITAS ULTIMIT CARA STATIS


Tahanan ujung ultimit
Kapasitas ultimit netto

Qu Qb Qs Wp

Tahanan ujung ultimit per satuan luas

qu

TAHANAN UJUNG ULTIMIT


Dengan :
Qu = kapasitas ultimit netto (kN)
Qb = tahanan ujung bawah ultimit (kN)
Qs = tahanan gesek ultimit (kN)
Wp = berat sendiri tiang (kN)
qu = tahanan ujung persatuan luas (kN/m2)
Ab = luas penampang ujung bawah (m2)
cb = kohesi tanah disekitar ujung tiang (kN/m2)
pb = z = tekanan overburden ujung tiang (kN/m2)
= berat volume tanah (kN/m3)
d = diameter tiang (m)
Nc, Nq, N = faktor kapasitas dukung (fungsi j)

Qb
c bNc pbNq 0,5 d N
Ab

Q b A b [c b N c p b N q 0,5 d N ]
Q

Qs

Qb

KAPASITAS ULTIMIT CARA STATIS


Tahanan gesek dinding ultimit
Tahanan gesek dinding per satuan luas

Qs
d c d h tg jd
As

Tekanan tanah lateral : h n K v K d po

h
Koefisien tekanan tanah lateral : K
v
Maka : d

c d K d p o tg jd

TAHANAN GESEK DINDING ULTIMIT

Q s A s d A s (c d K d p o tg jd )
Dengan :
d = tahanan geser dinding tiang (kN/m2)
cd = kohesi antara dinding-tanah (kN/m2)
n = h = tegangan normal dinding tiang (kN/m2)
j d = sudut gesek antara dinding tiang dan tanah (o)

KAPASITAS ULTIMIT CARA STATIS


Kapasitas ultimit tiang tunggal
PERSAMAAN KAPASITAS ULTIMIT TIANG TUNGGAL

Q u [A b (c b N c p b N q 0,5 d N )] [ A s (c d K d p o tg d)] Wp
Dengan :
Qu = kapasitas ultimit netto (kN)
Wp = berat sendiri tiang (kN)
Ab = luas penampang ujung bawah (m2)
cb = kohesi tanah disekitar ujung tiang (kN/m2)
pb = z = tekanan overburden ujung tiang (kN/m2)
= berat volume tanah (kN/m3)
d = diameter tiang (m)
Nc, Nq, N = faktor kapasitas dukung (fungsi j)
As = luas selimut (m2)
cd = kohesi antara dinding-tanah (kN/m2)
Kd = koefisien tekanan tanah lateral pada dinding tiang
po = v = i zi = tekanan overburden rata-rata di sepanjang tiang (kN/m2)
d jd = sudut gesek antara dinding tiang dan tanah (o)

KAPASITAS ULTIMIT CARA STATIS


Penggunaan parameter tanah dalam perhitungan

Untuk kondisi keruntuhan jangka pendek atau tak terdrainasi


(undrained) , maka parameter-parameter tanah yang
digunakan adalah : j, c, cd, dan pada kondisi tak terdrainase
(undrained), sehingga pb dan po dihitung dalam kondisi
tegangan total.

Untuk kondisi keruntuhan jangka panjang maka parameterparameter tanah yang digunakan adalah pada kondisi
terdrainase (drained), dalam kondisi ini tegangan vertikal sama
dengan tekanan overburden efektif pb dan po

Pada tanah lempung, tegangan vertikal di dekat tiang sama


dengan tekanan overburden, sedang pada tanah pasir
tegangan vertikal di dekat tiang lebih kecil dari tekanan
overburden.

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


GRANULAR
Tahanan ujung ultimit

TAHANAN UJUNG ULTIMIT

Qb A b (c bNc pbNq 0,5 d N ) A b pb ' Nq


Cb 0

Nilainya kecil dan


diabaikan

Dengan :
Qb = tahanan ujung bawah ultimit (kN)
Ab = luas penampang ujung bawah (m2)
pb = tekanan vertikal efektif tanah pada dasar
tiang (kN/m2). Bila panjang tiang lebih
besar dari kedalaman kritis zc maka pb
diambil sama dengan tekanan vertikal
efektif pada kedalaman zc
Nq = faktor kapasitas dukung (fungsi f)

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


GRANULAR

Tahanan gesek dinding

Untuk tiang berdiameter seragam di sepanjang tiang

Qs A s (c d K d po ' tg d) A s (K d po ' tg d)

Cd 0

Untuk tiang dengan ujung meruncing

Qs A sFw (K d po ' tg d)

Fw = faktor koreksi bentuk tiang yang meruncing

Tahanan gesek dinding tiang per satuan luas

s = Kd po tg d
Dengan :
Kd = koefisien tekanan tanah lateral tanah tergantung dari kondisi tanah
d = j d = sudut gesek dinding efektif antara dinding tiang dan tanah (o)
po = tekanan vertikal efektif rata-rata di sepanjang tiang; besarnya sama dengan
tekanan overburden efektif untuk z zc, dan sama dengan tekanan vertikal
kritis untuk z > zc
z = kedalaman titik yang ditinjau dari permukaan tanah
zc = kedalaman kritis, yaitu kedalaman dimana tekanan overburden efektif
dihitung dari titik ini dianggap konstan

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


GRANULAR

Kapasitas ultimit netto

Untuk tiang berdiameter seragam di sepanjang tiang

Qu A b pb ' Nq A s K d po ' tg d) Wp

Untuk tiang dengan ujung meruncing

Qu A b pb ' Nq Fw A s K d po ' tg d) Wp

Dengan :
Qu = kapasitas ultimit netto (kN)
Fw = faktor koreksi bentuk tiang yang meruncing
Wp = berat sendiri tiang (kN)
Ab = luas penampang ujung bawah (m2)
Nq = faktor kapasitas dukung (fungsi j)
As = luas selimut tiang (m2)
Kd = koefisien tekanan tanah lateral pada dinding tiang
d jd = sudut gesek antara dinding tiang dan tanah (o)
po = tekanan vertikal efektif rata-rata di sepanjang tiang; po = z untuk z zc,
dan po = zc untuk z > zc
pb = tekanan vertikal efektif tanah pada dasar tiang (kN/m2), dengan
memperhatikan tekanan vertikal maksimum pada kedalaman kritis zc

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


GRANULAR

j 20 N 15o

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


GRANULAR

a. Variasi tahanan ujung tiang


b. Tahanan gesek dinding tiang menurut kedalaman penetrasinya, untuk tiang yang
dipancang dalam tanah granuler (Vesic, 1967)

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


GRANULAR
Nilai Kd untuk tiang pada tanah granuler
(Mansur & Hunter, 1970)

Bahan tiang

Kd

Tiang baja H

1,4 1,9

Tiang pipa baja

1,0 1,3

Tiang beton pracetak

1,45 1,6

Uji tarik tiang (8 tiang) untuk


seluruh tipe tiang

0,4 0,9

Nilai Kd untuk tiang pada tanah granuler


(Brom, 1965)

Bahan
tiang

Kd
Pasir tak padat

Pasir padat

Baja

0.50

1,00

Beton

1,00

2,00

Kayu

1,50

4,00

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


GRANULAR
Sudut gesek antara dinding tiang
dan tanah granuler (d)
(Aas, 1966)

Hubungan antara tahanan kerucut statis


qc dan Kd

d jd

qc
(kg/cm2)

Kd disesuaikan dengan
kerapatan relatif (Dr)

20o

0 50

28o - 30o

Rendah

Beton

0,75 j

50 100

30o - 36o

Sedang

Kayu

0,66 j

> 100

> 36o

tinggi

Bahan tiang
Baja

Nilai-nilai d/j (Kulhawy dkk., 1983)


Gesekan antara tanah dan bahan tiang
Pasir dan beton kasar (beton cetak di tempat)

d /j
1

Pasir dan beton halus (beton pracetak)

0,8 1,0

Pasir dan baja kasar

0,7 0,9

Pasir dan baja halus (baja dicat dengan aspal)

0,5 0,7

Pasir dan kayu

0,8 0,9

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


GRANULAR

j' 28o 15 Dr

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


GRANULAR
Sudut gesek dalam tanah (f)
Sudut gesek dalam tanah (f) untuk hitungan kapasitas ultimit
(Poulos dan Davis, 1980)

Untuk tiang yang dipancang :


Sudut gesek dalam di ujung tiang :
f = (f + 40o)
Sudut gesek dalam di sepanjang tiang :
f = (f + 10o)
Untuk tiang bor :
Sudut gesek dalam di ujung tiang :
f = (f - 3o)
Sudut gesek dalam di sepanjang tiang didasarkan pada sudut gesek
dalam tanah asli sebelum pemancangan
Untuk tiang cor / cetak di tempat :
Sudut gesek dalam di ujung tiang dan disepanjang dinding tiang agak
sulit ditentukan karena gangguan akibat penarikan pipa

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


KOHESIF
Tiang Pancang
Tahanan Ujung Ultimit

Qb A b (c bNc pbNq 0,5 d N ) A b (c bNc pb )


Nq = 1

N = 0

Dengan :
Qb = tahanan ujung ultimit tiang (kN)
Ab = luas penampang ujung bawah tiang (m2)
cb = kohesi tanah disekitar ujung tiang pada kondisi tak terdrainasi (undrained)
dari contoh tak terganggu (kN/m2)
pb = z = tekanan overburden rata-rata ujung tiang (kN/m2)
= berat volume tanah (kN/m3)
Nc = faktor kapasitas dukung (fungsi j)

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


KOHESIF
Tiang Pancang
Tahanan Gesek Dinding Ultimit
Untuk tiang berdiameter seragam di sepanjang tiang

Qs A s (c d K d po ' tg d) A s (c d ) ad cu A s
c d ad c u
jd = d 0

Untuk tiang dengan ujung meruncing

Qs Fw (ad cu A s )
Menurut Vijay-Vergiya dan Focht (1972) :

Q s (p o ' 2c u )A s
Dengan :
Qs = tahanan gesek dinding ultimit (kN)
= koefisien tak berdimensi
po = tekanan vertikal efektif rata-rata di sepanjang tiang (kN/m2)
cu = kohesi tanah disekitar ujung tiang pada kondisi tak terdrainasi
(undrained) rata-rata di sepanjang tiang (kN/m2)
As = luas selimut tiang (m2)

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


KOHESIF
Tiang Pancang
Adhesi ultimit (cd) untuk tiang
pancang dalam tanah lempung
(Tomlinson, 1963)

Bahan
tiang)

Kohesi
(cu) (k/ft2)

Adhesi
ultimit (cd)
(k/ft2)

Beton

0 0,75

0 0,70

dan kayu 0,75 1,50

0,70 1,00

1,50 3,00

1,00 1,30

0 0,75

0 0,70

0,75 1,50

0,70 1,00

1,50 3,00

1,00 1,30

Baja

Catatan :
1 k/ft2 = 0,488 kg/cm2 = 47,8 kN/m2

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


KOHESIF
Tiang Pancang

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


KOHESIF
Tiang Pancang
Kapasitas Ultimit Tiang

Qu A b (c bNc pb ) A s (Fw ad c u ) Wp
Qu A bc bNc A s Fw ad c u

Wp Ab pb

Dengan :
Qu = kapasitas ultimit netto (kN)
Wp = berat sendiri tiang (kN)
Ab = luas penampang ujung bawah tiang (m2)
cb = kohesi tanah disekitar ujung tiang pada kondisi tak terdrainasi (undrained)
dari contoh tak terganggu (kN/m2)
Nc = faktor kapasitas dukung (fungsi j)
As = luas selimut tiang (m2)
ad = faktor adhesi
cu = kohesi tanah disekitar ujung tiang pada kondisi tak terdrainasi (undrained)
rata-rata di sepanjang tiang (kN/m2)
Fw = faktor bentuk tiang (=1; untuk tiang berdiameter seragam)

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


KOHESIF
Tiang bor cetak di tempat
a. Tahanan Ujung Ultimit

Dengan :
Qb Ab cbNc
Qu = kapasitas ultimit netto (kN)
= faktor koreksi
= 0,8 untuk d < 1 m
Ab = luas penampang ujung bawah (m2)
= 0,75 untuk d > 1 m
cb = kohesi tanah disekitar ujung tiang
pada kondisi tak terdrainasi
b. Tahanan Gesek Dinding Ultimit
(undrained) dari contoh tak
terganggu (kN/m2)
Qs 0,45 cu A s
Nc = faktor kapasitas dukung (Nc = 9)
As = luas selimut tiang (m2)
c. Kapasitas Ultimit Tiang
cu = kohesi tanah disekitar ujung tiang
pada kondisi tak terdrainasi
Qu Qb Qs A b Nc c b 0,45 c u A s
(undrained) rata-rata di sepanjang
tiang (kN/m2)

KAPASITAS TIANG
PADA KONDISI TERDRAINASI
( DRAINED )
Kapasitas Ultimit Tiang

Qu A b pb ' Nq A s K d po ' tg d) Wp
Dengan :
Qu = kapasitas ultimit netto (kN)
Wp = berat sendiri tiang (kN)
Ab = luas penampang ujung bawah (m2)
pb = tekanan vertikal efektif tanah pada dasar tiang (kN/m2), dengan
memperhatikan tekanan vertikal maksimum pada kedalaman kritis zc
Nq = faktor kapasitas dukung (fungsi j), seperti pada tanah pasir
As = luas selimut tiang (m2)
Kd = koefisien tekanan tanah lateral pada dinding tiang
po = tekanan vertikal efektif rata-rata di sepanjang tiang; po = z untuk z zc,
dan po = zc untuk z > zc
d sudut gesek pada kondisi terdrainasi, antara dinding tiang dan tanah (o)

KAPASITAS TIANG
PADA KONDISI TERDRAINASI
( DRAINED )
Nilai Kd tg d minimum terdapat pada tanah lempung terkondolidasi
normal, dinyatakan dnegan persamaan (Burland, 1973) :

K d tg d' (1 sin f' ) tgf'


Untuk tiang bor dan tiang pancang dalam tanah lempung kaku, Burland
(1973) menyarankan :
Kd = Ko dan d = sudut gesek dalam lempung terganggu
Nilai yang diperoleh merupakan nilai maksimum dari tahanan gesek
dinding pada tiang bor tetapi merupakan nilai minimum dari tahanan
gesek dinding pada tiang pancang
Meyerhof (1976) menyarankan Kd = 1,5 Ko (untuk tiang pancang dalam
tanah lempung kaku) dan untuk tiang bor Kd(bor) = 0,5 Kd(pancang).
Untuk lempung overconsolidated Ko dapat ditentukan dari persamaan :

K o (1 sin f' ) OCR

KAPASITAS TIANG DALAM TANAH


C - F
Jika tiang berada dalam tanah lempung berpasir dengan kohesi (c)
besar dan f sangat kecil, maka dalam perhitungan kapasitas tiang
komponen gesekan sebaiknya diabaikan
Jika tanah dengan f besar dan kohesi (c) sangat kecil, maka dalam
perhitungan kapasitas tiang sebaiknya kohesi (c) diabaikan (c = 0)
Jika tanah mempunyai dua komponen kohesi (c) dan gesekan (f) yang
cukup berarti (tanah c f) maka tahanan dukung ujung tiang dapat
dihitung dengan persamaan berikut :

Q u [A b (c b N c p b N q 0,5 d N )] [ A s (c d K d p o tg d)] Wp
Jika muka air tanah terletak diatas dasar tiang, maka dalam
perhitungan po untuk tanah yang terendam digunakan berat volume
tanah terapung ().
Tahanan ujung ultimit persatuan luas sebaiknya tidak melebihi 10.700
kN/m2, kecuali jika datanya diambil dari hasil pengujian tiang.

KAPASITAS TIANG DARI UJI KERUCUT STATIS


(SONDIR)

Tanah Granuler

Tahanan Ujung Ultimit

Tahanan ujung ultimit persatuan luas (b) menurut Vesic


(1967) adalah :
b = qc
Tahanan ujung ultimit tiang :
Qb = Ab qc
Meyerhof menyarankan penggunaan persamaan diatas untuk
qc adalah qc rata-rata dihitung dari 8d diatas dasar tiang
sampai 4d dibawah dasar tiang
Bila belum ada data hubungan antara tahanan kerucut (qc)
dan tahanan tanah, Tomlinson menyarankan penggunaan
faktor w sebagai berikut :
Qb = w Ab qc
w = 0,5

KAPASITAS TIANG DARI UJI KERUCUT STATIS


(SONDIR)

Tanah Granuler

Faktor w
(Heijnen, 1974; De Ruiter dan
Beringen 1979)
Kondisi Tanah

Faktor
w

Pasir Terkonsolidasi normal


(OCR = 1)

Pasir mengandung banyak


kerikil kasar, pasir dengan
OCR = 2 - 4

0,67

Kerikil halus, pasir dengan


OCR = 6 - 10

0,5

KAPASITAS TIANG DARI UJI KERUCUT STATIS


(SONDIR)

Tanah Granuler

Tahanan Gesek Dinding

Vesic (1967) menyarankan, tahanan gesek persatuan luas (s) pada dinding
tiang beton 2 kali tahanan gesek dinding mata sondir (qf) atau :
s = 2 qf (kg/cm2)
Untuk tiang baja profil :
s = qf (kg/cm2)
Tahanan gesek secara empiris menurut Meyerhof (1956) :
Untuk tiang pancang beton dan kayu pada tanah pasir
s = qc /200 (kg/cm2)
Untuk tiang pancang baja profil H pada tanah pasir
s = qc /400 (kg/cm2)
Di Belanda untuk tiang beton dan kayu pada tanah pasir
s = qc /250 (kg/cm2)
Meyerhof
membatasi tahanan gesek tiang pancang tidak berbentuk
meruncing tidak melebihi s = 1,08 kg/cm2 dan untuk baja profil H, s = 0,54
kg/cm2
Tahanan gesek dinding tiang :
Qs = As s

KAPASITAS TIANG DARI UJI KERUCUT STATIS


(SONDIR)

Tanah Granuler

Kapasitas Ultimit Tiang

Qu = Ab qc + As s
Dengan :
Qu = kapasitas ultimit netto (kN)
Ab = luas penampang ujung bawah (m2)
As = luas selimut tiang (m2)
qc = tahanan ujung kerucut statis
s = tahanan gesek dinding satuan

KAPASITAS TIANG DARI UJI KERUCUT STATIS


(SONDIR)

Tanah Granuler

Prosedur penggunaan diagram tahanan kerucut statis untuk


menghitung kapasitas tiang dalam taha granuler :
1. Perhatikan diagram tahanan kerucut per kedalaman, pilih kedalaman
sementara yang dianggap mendekati kapasitas ultimit bahan tiang
2. Hitung rata-rata tahanan kerucut pada kedalaman tertentu menurut
Meyerhof atau yang lain. Cara Meyerhof : tahanan kerucut rata-rata (qc)
diambil pada jarak 8d di atas titik kedalaman yang dipilih dan 4d di bawah
titik tersebut
3. Hitung tahanan ujung tiang dengan persamaan :
Qb = Ab qc
atau
Qb = w Ab qc
4. Hitung tahanan gesek dinding tiang dengan persamaan :
Qs = As s
5. Hitung kapasitas tiang ultimit total (Qu) dengan menjumlahkan tahanan
ujung dan tahanan gesek pada langkah (3) dan (4).
6. Hitung kapasitas ijin (Qa), dengan membagi kapasitas tiang ultimit (Qu)
pada langkah (5) dengan faktor aman 2,5 3,0
7. Cek nilai Qa yang terhitung dengan kekuatan bahan tiang ijin

KAPASITAS TIANG DARI UJI KERUCUT STATIS


(SONDIR)

Tanah Granuler

8. Jika setelah dikalikan jumlah tiang, diperoleh kapasitas ijin pada langkah
(6) lebih kecil daripada beban total struktur, maka :
Kedalaman tiang harus ditambah untuk menaikkan tahanan gesek
dinding dan tahanan ujung (dengan memperhatikan pula kekuatan
bahan tiang)
Cara lain, dengan memperbesar ujung tiang. Tetapi perlu diingat
bahwa tiang pancang dengan pembesaran ujung akan memperkecil
tahanan gesek dindingnya.
Jika tiang berdiameter besar pada ujungnya , untuk mencapai tahanan
ujung ultimit optimal, disarankan agar tiang dipancang cukup dalam ke
dalam lapisan pendukung yang dipilih berdasarkan nilai tahanan
kerucutnya

KAPASITAS TIANG DARI UJI KERUCUT STATIS


(SONDIR)

Tanah Kohesif

Tahanan Ujung Ultimit

Tahanan kerucut statis (qc) pada tanah kohesif berhubungan


dengan kohesi tak terdrainase (undrained cohesion), cu, yaitu :

qc = cu Nc

(kg/m2)

Nilai Nc, berkisar 10 30, tergantung dari : sensitivitas,


kompresibilitas dan adhesi antara tanah dan mata sondir
Nilai Nc, berkisar 15 18 (Bagemann, 1965)

Tahanan ujung tiang diambil pada nilai qc rata-rata dihitung dari


8d diatas dasar tiang sampai 4d dibawah dasar tiang.
Sehingga tahanan ujung ultimit tiang menjadi :

Qb = Ab qc

KAPASITAS TIANG DARI UJI KERUCUT STATIS


(SONDIR)

Tanah Kohesif

Tahanan Gesek Dinding


Tahanan gesek tiang persatuan luas (s) secara aman dapat diambil
sama dengan tahanan gesek selimut sondir (qf) (Bagemann, 1965)
s = qf
(kg/m2)
Tahanan gesek dinding tiang menjadi :
Qs = As s = As qf
(kg)

Kapasitas ultimit tiang

Qu = Ab qc + As qf
dengan :
Qu = kapasitas ultimit netto (kN)
Ab = luas penampang ujung bawah (m2)
As = luas selimut tiang (m2)
qc = tahanan ujung kerucut statis (kg/m2)
qf = tahanan gesek kerucut statis (kg/m2)

KAPASITAS TIANG DARI UJI


PENETRASI STANDAR (SPT)
Kapasitas ultimit tiang dapat dihitung secara emppiris dari nilai N hasil uji
SPT, sebagai berikut :
Untuk tiang pancang yang terletak di dalam tanah pasir jenuh, Meyerhof
(1956) menyarankan :

1
Qu 4N b A b N As
50

Untuk tiang baja profil :

1
Qu 4N b A b
N As
100

dengan :
Qu = kapasitas ultimit tiang (ton)
Nb = nilai N dari uji SPT pada tanah disekitar dasar pondasi
N = nilai N rata-rata dari uji SPT disepanjang tiang
Ab = luas penampang ujung bawah (ft2); 1 ft = 30,48 cm
As = luas selimut tiang (ft2)

KAPASITAS TIANG DARI UJI


PENETRASI STANDAR (SPT)
Nilai maksimum N /50 dari suku ke-2 yang menyatakan tahanan gesek
dinding tiang disarankan :
Untuk tiang pancang yang terletak di dalam tanah pasir jenuh :
1 t/ft (1,08 kg/cm2 = 107 kN/m2)
Untuk tiang baja profil :
0,5 t/ft (0,54 kg/cm2 = 53 kN/m2)
Kedua persamaan diatas telah digunakan dengan aman untuk perancangan
tiang pancang pada lempung kaku (Bromham dan Styles, 1971)
Persamaan tahanan ujung tiang menurut Meyerhof (1976) :

Q b A b (0,38N)(L b / d) 380 N(A b ) (kN)


dengan :

= nilai N rata-rata dihitung dari 8d diatas dasar tiang sampai 4d


dibawah dasar tiang
Lb/d = rasio kedalaman yang nilainya dapat kurang dari L/d bila tanahnya
berlapis-lapis

FAKTOR AMAN
Faktor aman diberikan dengan maksud:
Untuk memberikan keamanan terhadap ketidakpastian metode
hitungan yang digunakan
Untuk memberikan keamanan terhadap variasi kuat geser dan
kompresibilitas tanah
Untuk meyakinkan bahwa bahan tiang cukup aman dalam mendukung
beban yang bekerja
Untuk meyakinkan bahwa penurunan total yang terjadi pada tiang
tunggal atau kelompok tiang masih dalam batas-batas toleransi
Dari hasil pengujian beban tiang, baik tiang pancang maupun tiang bor
yang berdiameter kecil sampai sedang (600 mm), penurunan akibat
beban kerja (working load) yang lebih kecil 10 mm untuk faktor aman
tidak kurang dari 2,5 (Tomlinson, 1977)
Untuk meyakinkan bahwa penurunan tidak seragam diantara tiangtiang masih dalam batas-batas toleransi

FAKTOR AMAN
Reese dan ONeil (1989) menyarankan pemilihan faktor aman (F) untuk perancangan
pondasi tiang dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :
Tipe dan kepentingan struktur
Variabilitas tanah (tanah tidak uniform)
Ketelitian penyelidikan tanah
Tipe dan jumlah uji tanah yang dilakukan
Ketersediaan data di tempat (uji beban tiang)
Pengawasan/kontrol kualitas di lapangan
Kemungkinan beban desain aktual yang terjadi selama beban layanan struktur
Faktor aman yang disarankan oleh Reese dan ONeil (1989)
Klasifikasi
struktur

Faktor aman (F)

Kontrol baik

Kontrol normal

Kontrol jelek

Kontrol
sangat jelek

Monumental

2,3

3,0

3,5

4,0

Permanen

2,0

2,5

2,8

3,4

Sementara

1,4

2,0

2,3

2,8

BEBAN KERJA ( WORKING LOAD )


ATAU KAPASITAS TIANG IJIN (Qa)
TIANG PANCANG

Qu
Qa
2,5
Q b Qs
Qa

3 1,5

Aman terhadap keruntuhan tiang dengan


mempertimbangkan penurunan tiang
akibat beban kerja yang diterapkan

Faktor aman untuk tahanan gesek dinding tiang < faktor aman tahanan ujung
tiang, karena :
nilai puncak dari tahanan gesek dinding tiang (Qs) dicapai bila tiang
mengalami penurunan 2 sampai 7 mm
sedangkan tahanan ujung (Qb) membutuhkan penurunan yang lebih
besar agar tahanan ujungnya bekerja secara penuh

BEBAN KERJA ( WORKING LOAD )


ATAU KAPASITAS TIANG IJIN (Qa)
TIANG BOR
Untuk dasar tiang dibesarkan dengan diameter d < 2 m

Qu
Qa
2,5
Untuk tiang tanpa pembesaran dibagian bawahnya

Qu
Qa
2
Untuk diameter (d) tiang lebih dari 2 m
Kapasitas tiang ijin perlu dievaluasi dari pertimbangan penurunan
tiang
Sedang penurunan struktur harus pula dicek terhadap persyaratan
besar penurunan toleransi yang masih diijinkan

KAPASITAS TIANG
DARI RUMUS DINAMIS

DASAR DAN KETENTUAN


RUMUS DINAMIS
Hitungan kapasitas ultimit tiang secara dinamis didasarkan pada rumus
tiang pancang dinamis
Rumus ini hanya berlaku untuk tiang tunggal dan tidak memperhatikan
hal-hal berikut :
a) Kelakuan tanah yang terletak dibawah dasar kelompok tiang dalam
mendukung beban struktur
b) Reduksi tanahan gesek dinding tiang sebagai akibat pengaruh
kelompok tiang

c) Perubahan struktur tanah akibat pemancangan


Data hasil pengujian hanya digunakan sebagai salah satu informasi
perancangan tiang, selanjutnya masih harus mempertimbangkan kondisikondisi lain supaya hasilnya lebih meyakinkan

DASAR DAN KETENTUAN


RUMUS DINAMIS
Pada tanah pasir tidak padat dan jenuh air,
Pemancangan tiang mengakibatkan kenaikan tekanan air pori yang tinggi sehingga
tahanan gesek tanah tereduksi, hal ini mengakibatkan penurunan kapasitas tiang
dibandingkan dengan kondisi pembebanan statis
Pada tanah plastis seperti lempung lunak atau lanau halus,
Hubungan antara tahanan tiang sementara (waktu proses pemancangan) dan
tahanan tiang permanen akibat beban yang diterapkan tidak menentu.
Tahanan gesek tiang selama proses pemancangan sangat lenih kecil
dibandingkan dengan tahanan gesek sesudah waktu yang lama
Tahanan tiang terhadap pukulan dinamis jauh lebih besar daripada tahanan
beban statis yang diterapkan pada periode waktu yang lama
Hal ini dapat mengakibatkan kesalahan dalam menggunakan rumus pancang tiang
pada tanah-tanah yang bersifat plastis
Hubungan antara tahanan-tahanan statis dan dinamis tiang dalam rumus pancang
tiang (pile driving formula) harus tidak tergantung dari waktu, sehingga :
Rumus pancang tiang tidak berlaku untuk tiang dalam tanah lempung
Rumus ini lebih sesuai untuk tiang pada tanah granuler seperti pasir dan kerikil

ALAT PANCANG TIANG

Skema pemukul tiang :


a. Pemukul aksi tunggal (single acting hammer)
b. Pemukul aksi dobel (doubel acting hammer)
c. Pemukul diesel (diesel hammer)
d. Pemukul getar (vibratory hammer)

Alat tiang pancang

ALAT PANCANG TIANG

RUMUS PANCANG
= tampang melintang tiang (L2)
= modulus elastisitas bahan tiang (FL-2)
= efisiensi pemukul (hammer efficiency)
= besaran energi pemukul dari pabrik (LF)
= gravitasi (FL-2)
= tinggi jatuh pemukul (L)
= jumlah impuls yang menyebabkan kompresi atau
perubahan momentum (FT)
k1 = kompresi elastis blok penutup (capblock) dan pile cap
yaitu Qu L / AE (L)
k2 = kompresi elastis tiang, yaitu Qu L / AE (L)
k3 = kompresi elastis tanah (L)
L = panjang tiang (L)
m = massa ( berat / gravitasi ) (FT2 L-1)
Mr = momentum ram (ram momentum) = mrv (FT)
Notasi yang digunakan
n = koefisien restitusi
dalam rumus dinamis tiang pancang
nl = jumlah impuls yang menyebabkan restitusi (FT)
s = penetrasi per pukulan (L)
Qu = kapasitas tiang ultimit
vce = kecepatan tiang dan ram pada akhir periode kompresi (LT-1)
vi = kecepatan ram pada saat benturan (LT-1)
vr = kecepatan ram pada saat akhir periode restitusi (LT-1)
Wp = berat tiang termasuk berat penutup tiang (pile cap), driving shoe, dan blok penutup (cap block) juga
termasuk anvil untuk pemukul uap aksi dobel (F)
Wr = berat ram (untuk pemukul aksi dobell termasuk berat casing) (F)
A
E
eh
Eh
g
h
l

RUMUS PANCANG
Saat pemukul membentur kepala tiang, momentum dari ram awal :

Mr = Wr i / g

Pada akhir periode kompresi

Mr = Wr i / g - I

Dengan kecepatan

ce = (Wr i / g I) / (g/ Wr )

Jika dianggap momentum tiang (Mp) pada saat tersebut sama dengan I, maka :

ce = (g/ Wp ) I

Bila dianggap tiang dan ram belum terpisah saat periode akhir kompresi,
kecepatan sesaat tiang dan ram sama karena itu :

( + )

Pada akhir periode restitusi, momentum tiang


I + nl = (Wp/g) p
Sehingga :

( + )

RUMUS PANCANG
Pada akhir periode restitusi, momentum ram :


=

Dengan substitusi nilai I, maka :


( + )

Energi total yang tersedia dalam tiang dan ram pada akhir periode restitusi :
m 2(tiang) + m 2(ram)
Dengan beberapa penyederhanaan diperoleh :

+
=

+
Jika sistem 100% efisien, beban ultimit Qu dikalikan dengan perpindahan tiang (s)
Qu s = eh Wr h
Perpindahan puncak tiang sesaat adalah s + k1 + k2 + k3, dimana hanya s yang
permanen.
Energi input aktual pada tiang :

eh Wr h = Qu (s + k1 + k2 + k3) = Qu C

RUMUS PANCANG
Penggantian suku persamaan energi ekivalen, diperoleh :
+
=
.

+
Suku k2 dapat diambil sebagai kompresi elastis dari tiang Qu L / AE sehubungan
dengan energi regangan Qu2L / (2AE)
Bila dalam persamaan diatas diberikan faktor untuk k (untuk energi regangan),
maka diperoleh persamaan Hiley (1930) berikut ini :

+
=

+
+ ++

Untuk pemukul aksi dobel atau diferensial, Chellis (1941, 1961) menyarankan
penyesuaian persamaan Hiley sebagai berikut :

+
=

+
+ ++

Menurut Chellis, nilai Eh, didasarkan pada berat ekivalen W dan tinggi ram, yaitu:

Eh = W h = (Wr + berat casing) h

RUMUS PANCANG
Nilai-nilai k1 (Chellis, 1961)
Bahan tiang

Nilai-nilai k1 (mm), untuk tegangan akibat


pukulan pemancangan di kepala tiang
3,5 MPa

7,0 MPa

10,5 MPa

14,0 MPa

Tiang kayu langsung pada kepala tiang

1,3

2,5

3,8

Tiang beton pracetak dengan 75 100


mm bantalan pada cap

12,5

Baja tertutup cap yang berisi bantalan


kayu untuk tiang baja H atau tiang pipa

Piringan fiber 5 mm diantara dua pelat


baja 10 mm

0.5

1,5

Tiang baja atau pipa langsung pada


kepala tiang

Nilai k2 = Qu L / AE
Nilai k3, dapat diambil dari Bowless (1982) :
k3 = 0, untuk tanah keras, (batu, pasir sangat padat dan kerikil)
k3 = 0,1 0,2 atau 2,5 sampai 5 mm, untuk tanah-tanah yang lain

RUMUS PANCANG
Nilai-nilai efisien eh (Bowless, 1977)
Tipe

Pemukul jatuh (drop hammer)


Pemukul aksi tunggal (single acting hammer)
Pemukul aksi dobel (doubel acting hammer)
Pemukul diesel (diesel hammer)

Efisiensi, eh

0,75 - 1
0,75 0,85
0,85
0,85 - 1

Koefisien restitusi n (Bowless, 1977)


Material
Broomed wood

n
0

Tiang kayu (ujung tidak rusak)

0,25

Bantalan kayu padat pada tiang baja

0,32

Bantalan kayu padat diatas tiang baja

0,40

Landasan baja pada baja (steel on steel anvil), pada tiang baja atau beton

0,50

Pemukul besi cor pada tiang beton tanpa penutup (cap)

0,40

RUMUS PANCANG
SANDERS (1852)

Rumus dinamis dari Sanders (1852) dan Engineering News-Record (ENR)


didasarkan juga pada hubungan :
Energi yang masuk = energi digunakan + energi hilang
Dengan :
Energi yang digunakan = tahanan
tiang
waktu
pemancangan
dikalikan
perpindahan tiang
Energi yang dihasilkan oleh pemukul ditransformasikan sebagai gaya (Qu) yang
menghasilkan penetrasi tiang sebesar s dan energi yang hilang sewaktu
pemancangan (DE) :

E = Qu s + DE
Jika :

DE = Qu C

dan

E = Wr h

Dengan :
C = konstanta empiris untuk energi hilang sewaktu pemancangan
Wr = berat pemukul
h = tinggi jatuh pemukul

RUMUS PANCANG
SANDERS (1852)
Sehingga :

Wr h = Qu s + Qu C = Qu (s + C)
Dari persamaan ini diperoleh :

.
=
+

RUMUS DINAMIS pemancangan tiang


yang disarankan oleh SANDERS

Nilai C pada umumnya diambil :

0,1 (0,25 cm); untuk pemukul dengan mesin tenaga uap


1 (2,5 cm); untuk pemukul yang dijatuhkan
Faktor aman (F) diambil kira-kira 8

RUMUS PANCANG
ENGINEERING NEWS-RECORD (ENR)

Rumus pancang ENR didasarkan pada penggunaan satu faktor kehilangan energi saja
dan dengan mengambil faktor eh = 1, sebagai berikut :
Dari persamaan ini diperolePemukul jatuh (drop hammer) :

.
=
+,
Pemukul tenga uap (steam hammer)

.
=
+,
Dengan :
Qa = Qu/F = kapasitas ijin tiang dengan faktor aman untuk rumus ENR, F = 6
Rumus ENR tersebut diatas, dimodifikasi menjadi (Bowless, 1988) :
( + )
=
+, ( + )
Faktor aman (F) = 6, s dan h dalam cm, dan Wr dalam kg.

RUMUS PANCANG
JANBU (1953)

Rumus pancang yang disarankan oleh Janbu (1953) adalah sebagai berikut :

= .

= + +

Cd = 0,75 + 0,15 (Wp/Wr)

dengan :
s = penetrasi terakhir (m), digunakan nilai rata-rata 5 pukulan terakhir untuk
pemukul yang dijatuhkan dan digunakan nilai 20 pukulan untuk jenis yang
lain (Chellis, 1961)
F = faktor aman, diambil 3 sampai 6

FAKTOR AMAN
Berdasarkan hasil penyelidikan, diketahui untuk tiang yang dipancang dalam
tanah granuler, faktor aman F = 2,7 cukup baik digunakan dalam RUMUS
HILLEY dan faktor aman F = 3,0 untuk RUMUS JANBU (Flaate, 1967)
Terzaghi dan Peck (1967) menyarankan untuk menggunakan RUMUS JANBU
pada proyek kecil
Nilai kapasitas ijin ditentukan dengan cara membagi kapasitas ultimit yang
diperoleh dengan faktor aman F = 3, dengan resiko bahwa pada kenyataannya
faktor aman mungkin hanya F = 1,75
Atau sebaliknya, faktor aman mungkin mencapai F = 4,4, dengan demikian akan
terjadi kelebihan jumlah tiang
Untuk proyek besar, Terzaghi dan Peck menyarankan mengadakan penyelidikan
tiang dengan ukuran tiang sebenarnya yang dibebani secara langsung di
lapangan

PEMILIHAN
PEMUKUL TIANG
Tiang berat sebaiknya dipancang dengan pemukul berat sehingga memberikan
energi yang besar

Berat pemukul paling sedikit setengah dari berat total tiang


Energi pemancangan sebaiknya paling sedikit 1 ft lb untuk setiap pounds (lb)
berat tiang
Tiap-tiap pemukul mempunyai kecocokan dengan kondisi tertentu

Pemilihan juga tergantung pada ketersediaan pemukul, ketersediaan uap,


tekanan udara, ruang gerak, tiang miring dan sebagainya

PEMILIHAN
PEMUKUL TIANG
Pemilihan pemukul untuk turap baja, tiang beton, tiang kayu pada kondisi ringan,
sedang dan berat (Teng, 1981)

CATATAN PEMANCANGAN TIANG


( PILE DRIVING RECORD )
Informasi yang diperlukan mengenai pemancangan tiang antara lain :
Tipe dan energi, peralatan pancang lain termasuk penyemprot air (water
jet), bantalan (cushion) , penutup tiang dan lain-lain
Ukuran tiang, lokasi tiang, dalam kelompok tiang dan lokasi
kelompoknya
Urutan pemancangan dalam kelompok
Jumlah pukulan per satuan panjang untuk seluruh panjang tiang, dan set
untuk 10 pukulan terakhir
Elevasi akhir dari dasar dan kepala tiang
Pemeriksaan tiang untuk posisi vertikalnya
Keterangan lain seperti penangguhan kelangsungan pemancangan,
kerusakan tiang dan lain-lain.

PENYEMPROTAN AIR
( WATER JETTING )
Pemancangan dengan semprotan air
kadang-kadang dilakukan untuk membantu
penetrasi tiang
Tiang masuk ke dalam tanah oleh
semprotan air dengan tanpa bantuan
pemukul
Efektifitas dari pekerjaan pemancangan
dengan semprotan air ini bergantung dari
jenis tanah, sebagai berikut :

lebih efektif untuk pemancangan pada


tanah pasir,
tidak begitu efektif untuk kerikil,
diragukan untuk lanau, dan
tidak efektif untuk tanah lempung

Tiang dengan lubang untuk


semprotan air

PENYEMPROTAN AIR
( WATER JETTING )

KAPASITAS
KELOMPOK TIANG

KAPASITAS KELOMPOK TIANG

Stabilitas kelompok tiang-tiang tergantung dari :


Kemampuan tanah disekitar dan dibawah kelompok tiang untuk mendukung
beban total struktur
Pengaruh konsolidasi tanah yang terletak dibawah kelompok tiang

KAPASITAS KELOMPOK TIANG

Perbandingan zone tertekan pada tiang


tunggal dan kelompok tiang :
a). Tiang tunggal;
b). Kelompok tiang

a) Pengujian tiang pada tiang tunggal. Tekanan


pada lapisan tanah lunak tidak begitu besar
b) Saat beban struktur telah bekerja dalam
kelompok tiang. Tekanan pada lapisan tanah
lunak sangat besar

KAPASITAS KELOMPOK DAN EFISIENSI


TIANG DALAM TANAH KOHESIF
TIPE KERUNTUHAN DALAM KELOMPOK TIANG

a) Tiang Tunggal

b) Tiang Kelompok

= permukaan keruntuhan geser

KAPASITAS KELOMPOK DAN EFISIENSI


TIANG DALAM TANAH KOHESIF
Asumsi-asumsi
dalam
perhitungan kapasitas tiang
yang
berkaitan
dengan
keruntuhan blok (Terzaghi dan
Peck, 1948) :
1. Pelat penutup tiang (pile
cap) sangat kaku
2. Tanah yang berada di dalam
kelompok
tiangtiang
berkelakukan seperti blok
padat

D
L

Qg = 2D (B + L) c + 1,3 cb Nc BL

Kelompok tiang dalam tanah kohesif yang bekerja sebagai balok

KAPASITAS KELOMPOK DAN EFISIENSI


TIANG DALAM TANAH KOHESIF
KAPASITAS ULTIMIT KELOMPOK TIANG

Persamaan kapasitas ultimit tiang group (Terzaghi dan Peck, 1948) :

Qg = 2D (B + L) c + 1,3 cb Nc BL
Dengan :
Qg = kapasitas ultimit kelompok, nilainya harus tidak melampaui n Qu (dengan n =
jumlah tiang dalam kelompok tiang) (kN)
c
= kohesi tanah di sekeliling kelompok tiang (kN/m2)
cb = kohesi tanah di bawah dasar kelompok tiang (kN/m2)
B = lebar kelompok tiang (m)
L = panjang kelompok tiang (m)
D = kedalaman tiang dibawah permukaan tanah (m)
Ketentuan dalam perhitungan kapasitas ultimit kelompok tiang :
1. Jika kapasitas kelompok tiang (Qg) lebih kecil daripada kapasitas tiang tunggal
kali jumlah tiang (n Qu), maka kapasitas dukung pondasi tiang yang dipakai
adalah kapasitas kelompoknya (Qg)
2. Sebaliknya, jika dari hitungan kelompok tiang (Qg) lebih besar, maka dipakai
kapasitas tiang tunggal kali jumlahnya (n Qu)

KAPASITAS KELOMPOK DAN EFISIENSI


TIANG DALAM TANAH KOHESIF
EFISIENSI KELOMPOK TIANG
Menurut Coduto (1983), reduksi kapasitas
kelompok
tiang
atau
efisiensi
tiang
bergantung pada beberapa faktor, antara lain :
Jumlah, panjang, diameter, susunan dan
jarak tiang
Model transfer beban (tahanan gesek
terhadap tahanan dukung ujung)
Prosedur pelaksanaan pemasangan tiang
Urutan pemasangan tiang
Macam tanah
Waktu setelah pemasangan tiang
Interaksi antara pelat penutup tiang (pile
cap) dengan tanah
Arah dari beban yang bekerja

a. Susunan segitiga sama sisi

b. Susunan bujur sangkar

KAPASITAS KELOMPOK DAN EFISIENSI


TIANG DALAM TANAH KOHESIF
Persamaan efisiensi kelompok tiang group, menurut Converse-Labarre Formula :

Dengan :
Eg = efisiensi kelompok tiang
m = jumlah baris tiang
n = jumlah tiang dalam satu baris
q = arc tg d/s, dalam derajad
s = jarak pusat ke pusat tiang
d = diameter tiang

Dengan :
Eg = efisiensi kelompok tiang
Qg = beban maksimum kelompok tiang
yang mengakibatkan keruntuhan
Qu = beban maksimum tiang tunggal yang
mengakibatkan keruntuhan
n = jumlah tiang dalam kelompok

Kapasitas ultimit kelompok tiang dengan memperhatikan faktor efisiensi tiang


dinyatakan dalam persamaan (jarak tiang-tiang kira-kira 2,25 d atau lebiih) :

Qg = Eg n Qu

KAPASITAS KELOMPOK DAN EFISIENSI


TIANG DALAM TANAH KOHESIF

Efisiensi kelompok tiang pada tanah


kohesif dari uji model tiang pada beban
vertikal (ONeill, 1983)

Efisiensi kelompok tiang pada tanah kohesif dari uji tiang


skala penuh pada beban vertikal : (a). Pelat penutup tiang
tidak menyentuh tanah; (b). Pelat penutup tiang
menyentuh tanah (ONeill, 1983)

KAPASITAS KELOMPOK DAN EFISIENSI


TIANG DALAM TANAH KOHESIF
Faktor efisiensi untuk kelompok
tiang dalam tanah lempung
(Kerisel, 1967)

Pengukuran kelebihan tekanan air pori


di sekitar kelompok tiang (ONeill, 1983:

Jarak pusat ke
pusat tiang

Faktor efisiensi,
Eg

10 d

8d

0,85

6d

0,90

5d

0,85

4d

0,75

3d

0,65

2,5 d

0,55

KAPASITAS KELOMPOK DAN EFISIENSI


TIANG DALAM TANAH GRANULER

Efisiensi kelompok tiang dari uji model kelompok tiang (ONeill, 1983)

Hasil pengujian kelompok tiang oleh ONeill (1983) diatas, menunjukkan :


1. Dalam tanah granuler longgar , Eg > 1 dan mencapai maksimum pada s/d = 2.
Efisiensi bertambah bila jumlah tiang bertambah
2. Dalam tanah granuler padat, bila 2 < s/d < 4 (interval jarak tianag normal), Eg
umumnya > 1, sejauh tiang tidak dipancang dengan cara penyemprotan air atau
tanah di bor terlebih dulu (predrilling)

KAPASITAS KELOMPOK DAN EFISIENSI


TIANG DALAM TANAH GRANULER

Efisiensi kelompok tiang pada tanah granuler dari uji tiang skala penuh pada beban
vertikal : (a). Pelat penutup tiang tidak menyentuh tanah; (b). Pelat penutup tiang
menyentuh tanah (ONeill, 1983)

PETUNJUK HITUNGAN
PERANCANGAN KELOMPOK TIANG
Dalam hitungan perancangan kelompok tiang, Coduto (1994) memberi petunjuk sbb. :
Tentukan apakah keruntuhan blok akan lebih menentukan dalam hitungan.
a. Jika keliling dari kelompok tiang-tiang > jumlah keliling tiang tunggal, maka
keruntuhan blok mungkin tidak terjadi
b. Uji model menunjukkan bahwa keruntuhan blok hanya terjadi jika jarak tiang
sangat dekat, yaitu s/d < 2, sehingga kondisi keruntuhan ini jarang terjadi.
c. Tetapi jika jarak tiang tersebut betul-betul ada, maka efisiensi : Eg = (keliling
kelompok tiang) / (jumlah keliling tiang tunggal) harus diperhitungkan
Kapasitas kelompok tiang dalam tanah kohesif akan tereduksi sementara jika
terjadi kenaikan kelebihan air pori
a. Efisiensi kelompok tiang (Eg) kira-kira 0,4 0,8, tapi akan bertambah dengan
berjalannya waktu
b. Jika s/d > 2, Eg kadaang-kadang mencapai 1
c. Kecepatan kenaikan Eg tergantung pada kecepatan menghamburnya/
berkurangnya kelebihan tekanan air
d. Kelompok tiang yang jumlahnya kecil mungkin Eg = 1 tercapai dalam 1 atau 2
bulan. Waktu ini lebih besar dari kecepatan pembebanannya
e. Untuk kelompok tiang yang lebih besar waktu untuk mencapai Eg = 1, mungkin
lebih dari 1 tahun

PETUNJUK HITUNGAN
PERANCANGAN KELOMPOK TIANG
Kelompok tiang dalam tanah granuler akan mencapai kapasitas
maksimumnya hampir segera setelah pemancangan, karena kelebihan tekanan
air pori selalu nol.
a. Efisiensi kelompok tiang paling sedikit 1 (jika s//d > 2)
b. Dan sering lebih besar 1, terutama bila jarak tiang kecil dan tiang dipancang
mengakibatkan perpindahan tanah yang besar (large displacement pile)
c. Untuk maksud praktis, faktor efisiensi jangan lebih dari 1,25 (Coduto, 1983)
Jika pemancangan dilakukan dengan pengeboran tanah lebih dulu (predrilling),
yaitu jika tanah granuler sangat padat, maka : tanah granuler menjadi longgar
sehingga efisiensi kelompok tiang kurang dari 1. karena itu hindari atau kurangi
pengeboran dengan semprotan atau pengeboran lebih dulu.

Vesic (1969) menyarankan bahwa dalam perancangan tiang, nilai efisiensi


kelompok tiang (Eg) dalam tanah granuler sebaiknya tidak lebih dari 1

GESEK DINDING
NEGATIF

GESEK DINDING NEGATIF


GESEK DINDING POSITIF,
Jika beban Q diterapkan pada tiang, maka
tianag bergerak ke bawah, sedang tanah relatif
diam
Tahanan ujung tiang (Qb) dan tahanan gesek
tiang (Qs), bekerja ke atas sebagai gaya
perlawanan beban Q yang bekerja pada tiang

Tiang dipengaruhi gaya gesek dinding :


a). Positif;
b). Negatif;
c). Negatif

GESEK DINDING NEGATIF,


Sebagian atau seluruh tanah disepanjang
dinding tiang bergerak ke bawah relatif terhadap
tiang (artinya tanah bergerak ke bawah, sedang
tiang diam)
Akibatnya arah gaya gesek dinding tiang
menjadi ke bawah, menjadi gaya tambahan
yang harus didukung oleh tiang
Gaya gesek oleh tanah pada dinding tiang yang
bekerja kebawah ini disebut gaya gesek
dinding negatif
Gaya ini merupakan tambahan beban bagi tiang
yang harus ditambahkan dengan beban struktur

GESEK DINDING NEGATIF


Gaya
gesek
dinding
negatif
dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu :
Gerakan relatif antara
timbunan dengan tiang

tanah

Gerakan relatif antara tanah yang


mampat dengan tiang
Kompresi (pemendekan)
tiang akibat beban struktur

elastis

Karakteristik tanah (tipe, kuat


geser, kompresibilitas, kedalaman
lapisan,
kekakuan
tanah
pendukung tiang)
Penurunan tanah disekitar tiang akibat
konsolidasi yang menyebabkan timbulnya gaya
gesek dinding negatif

Kecepatan konsolidasi
tanah yang mampat

lapisan

GESEK DINDING NEGATIF


TIANG TUNGGAL

Distribusi gaya gesek dinding negatif


pada tiang yang didukung oleh lapisan
sangat keras (Tomlinson, 1977)

Distribusi gaya gesek dinding negatif pada


tiang yang dasarnya terletak pada lapisan
keras (Tomlinson, 1977)

GESEK DINDING NEGATIF


TIANG TUNGGAL
Jika gesekan relatif antara dinding tiang dan tanah disekitarnya > 5 10 mm, maka
gesek dinding negatif per satuan luas (ca) dapat diestimasi dengan persamaan
(Johannessen dan Bjerrum, 1965) :

ca =
Dengan :
ca = gaya gesek dinding negatif per satuan luas tiang tunggal (kN/m2)
po = tekanan overburden efektif tanah rata-rata dengan memperhitungkan
pengaruh tambahan beban akibat timbunan (bila ada) (kN/m2)
Bila jd = d, maka :

ca =
Gaya gesek dinding negatif total tiang tunggal dinyatakan dengan persamaan :
Qneg = As ca
Pengaruh gesek dinding negatif dapat direduksi dengan mengecat dinding tiang
dengan aspal setebal 2 mm untuk tiang beton dan 1 mm untuk tiang baja.

GESEK DINDING NEGATIF


TIANG TUNGGAL
Koefisien Kd tg d (Brom, 1976)

Macam tanah

Kd tg d

Urugan batu

0,40

Pasi dan kerikil

0,35

Lanau atau lempung terkonsolidasi normal berplastisitas rendah


sampai sedang (PI < 50%)

0,30

Lempung terkonsolidasi normal berplastisitas tinggi

0,20

Brom menyarankan Kd tg d ditambah 20% pada tiap-tiap penambahan


penurunan pada kelipatan sepuluh untuk lempung dengan indeks plastisitas
tinggi (PI > 50%)
Canadian building code mengusulkan Kd tg d = 0,25

GESEK DINDING NEGATIF


TIANG KELOMPOK

Gesek dinding negatif pada kelompok tiang


(Brom, 1976)

GESEK DINDING NEGATIF


TIANG KELOMPOK
Persamaan gesek dinding negatif pada tiang kelompok :

Qneg = 1/n [2D (L + B) + B L H ]


Dengan :
Qneg = gaya gesek dinding negatif masing-masing tiang dalam kelompok tiang (kN)
n = jumlah tiang dalam kelompok
D = kedalaman tiang sampai titik netral (m)
L = panjang area kelompok tiang (m)
B = lebar area kelompok tiang (m)
cu = kohesi rata-rata tak terdrainasi pada lapisan sedalam D (kN/m2)
H = tinggi timbunan (m)

= berat volume tanah (kN/m3)

GESEK DINDING NEGATIF


TIANG KELOMPOK

Gaya gesek dinding negati bertamabh jika jarak tiang bertambah


Untuk mereduksi pengaruh gesek dinding negatif, Terzaghi dan Peck (1948)
menyarankan jarak tiang dikurangi dampai 2,5 kali diameter tiang
Jika Q adalah beban yang bekerja pada masing-masing tiang, maka persamaan
beban ultimit (Qt) dengan memperhitungkan gesek dinding negatif pada tiang
kelompok :

Qt = Q + 1/n [2D (L + B) + B L H ]

Jika beban Qt > tanahan ujung tiang tunggal (Qb), maka penurunan pondasi
tiang akan menjadi berlebihan Sehingga nilai Qt dan Qb, harus diperhitungkan.
Karena beban seluruhnya didukung tahanan ujung tiang maka Qu = Qb
Faktor aman dihitung dengan persamaan :

F = Qb/Qt = Qb / (Q + Qneg)
Dengan :
F = faktor aman dengan memperhatika gesek dinding negatif yang besarnya
2,5 sampai 3
Qb = tahanan ujung ultimit tiang yang besarnya sama dengan Qu
Qneg = gaya gesek dinding negatif

TO BE CONTINUED, NEXT TOPIC

Thank you very much for your kind attention.

HOPEFULLY YOU UNDERSTAND THIS CHAPTER

Penurunan

Materi Kuliah : Teknik Pondasi


Oleh : TRI SULISTYOWATI

PENURUNAN
TIANG TUNGGAL

HUBUNGAN ANTARA PENURUNAN DAN


DISTRIBUSI TEGANGAN
Penurunan tiang tunggal dan
distribusi beban di sepanjang
tiang dapat dihitung dengan
menggunakan metode transfer
beban (load transfer) yang
diusulkan oleh Coyle dan
Reese (1966)
Metode ini menggunakan data
tanah yang berasal dari uji
beban di lapangan
Metode ini dapat digunakan
untuk menentukan hubungan
antara tahanan tiang dan
perpindahan tiang

(a). Sifat khusus kurva tegangan geser


perpindahan tiang (b). Analisis transfer
beban (Coyle dan Reese, 1966)

HUBUNGAN ANTARA PENURUNAN DAN


DISTRIBUSI TEGANGAN
LANGKAH-LANGKAH PERHITUNGAN PENURUNAN TIANG :
1. Tiang dibagi menjadi beberapa segmen
2. Ujung bawah tiang dianggap mengalami penurunan sebesar St (dapat dipilih St
= 0, tapi pada umumnya bagian ini mengalami penurunan kecuali bila ujungnya
terletak pada lapisan sangat keras)
3. Hitung tahanan ujung (Qt) akibat penurunan St, dengan menganggap ujung tiang
ujung berpenampang lingkaran dan dihitung dengan pendekatan Boussinesq,
sbb :

=
( )
Dengan :
E = modulus elastisitas tanah yang berada di bawah dasar tiang
m = angka Poisson tanah yang berada dibawah dasar tiang
4. Perpindahan S3 ditengah-tengah segmen diasumsikan (untuk asumsi pertama
dicoba S3 = St)
5. Dengan menggunakan nilai S3 kurva transfer beban/kuat geser tanah terhadap
perpindahan tiang digunakan untuk mendapatkan nilai banding yang cocok

HUBUNGAN ANTARA PENURUNAN DAN


DISTRIBUSI TEGANGAN
6. Dari kurva kuat geser terhadap kedalaman, kuat geser tanah pada setiap
segmen dapat diperoleh
7. Hitung transfer beban atau adhesi cd = faktor adhesi x kuat geser. Beban Q3
pada puncak segmen 3 dihitung dengan persamaan :

Q3 = Qt + cd L3 As3
Dengan :
L3
= panjang segmen 3
As3 = keliling tampang rata-rata segmen 3
8. Deformasi elastis ditengah-tengah segmen (Dengan menganggap beban pada
segmen bervariasi seara linier) dihitung dengan persamaan :

dengan :
L3
= luas segmen 3
Ep = modulus elastisitas bahan tiang

Qm = (Q3 + Q1)/2

HUBUNGAN ANTARA PENURUNAN DAN


DISTRIBUSI TEGANGAN
9.

Perpindahan yang baru di tengah-tengah segmen 3, dinyatakan oleh


persamaan :

S3 = St + DS3
10. S3 dibandingkan dengan S3 yang diestimasikan pada langkah (4)
11. Jika S3 hasil hitungan tidak cocok dengan S3 dalam batas-batas toleransi,
langkah (2) sampai (10) diulang dan gerakan ditengah-tengah tiang yang
baru dihitung
12. Jika konvergensi telah tercapai, dihitung segmen selanjutnya dan seterusnya
sampai Qo dan perpindahan So pada kepala tiang diperoleh
Prosedur hitungan diulang dengan menggunakan perpindahan ujung bawah tiang
yang berbeda sampai satu seri nilai Qo dan So diperoleh
Nilai-nilai ini digunakan untuk menggambarkan kurva beban-penurunan.

HITUNGAN
PENURUNAN KEPALA TIANG
Penurunan kepala tiang yang terletak pada tanah homogen dengan modulus
elastisitas dan angka Poisson konstan, dapat dihitung dengan persamaan yang
disarankan oleh Poulos dan Davis (1980) sebagai berikut :
TIANG APUNG (FLOATING PILE)

=

TIANG DUKUNG UJUNG (END BEARING PILE)



=

I = Io Rk Rh Rm

I = Io Rk Rb Rm

dengan :
S
= penurunan kepala tiang
Q = beban yang bekerja
Io
= faktor pangaruh penurunan tiang yang tidak mudah mampat
(incompressible) dalam massa semi tak terhingga
Rk = faktor koreksi kemudah-mampatan (kompresibilitas) tiang untuk m = 0,5
Rh = faktor koreksi untuk ketebalan lapisan yang terletak pada tanah keras
Rm = faktor koreksi angka Poisson m
Rb = faktor koreksi untuk kekakuan lapisan pendukung
h
= kedalaman total lapisan tanah

HITUNGAN
PENURUNAN KEPALA TIANG

Faktor penurunan Io
(Poulos dan Davis, 1980)

Koreksi kompresi, Rk
(Poulos dan Davis, 1980)

HITUNGAN
PENURUNAN KEPALA TIANG

Koreksi kedalaman Ro
(Poulos dan Davis, 1980)

Koreksi angka Poisson, Rm


(Poulos dan Davis, 1980)

HITUNGAN
PENURUNAN KEPALA TIANG

Koreksi kekakuan lapisan pendukung Rb (Poulos dan Davis, 1980)

Pengaruh kekerasan tanah pendukung didasar tiang adalah mengurangi


penurunan
Pengaruh ini menjadi lebih jelas jika tiang relatif pendek (tiang kaku) terletak
pada lapisan pendukung yang keras

HITUNGAN
PENURUNAN KEPALA TIANG
Kompressibilitas relatif (K) dari tiang dan tanah dapat dinyatakan dengan
persamaan :

=
= faktor kekakuan tiang

=
= rasio area tiang

Dengan :
Ep
= modulus elastisitas bahan tiang
Es
= modulus elastisitas tanah
Ap
= luas penampang tiang

Jika tiang makin kompressibel, maka nilai K makin kecil

PENURUNAN
TIANG KELOMPOK

PERMASALAHAN DALAM HITUNGAN


PENURUNAN KELOMPOK TIANG
Penurunan tiang tergantung dari rasio tahanan ujung dan beban tiang, sbb :
Jika beban yang didukung per tiang tahanan ujung tiang, penurunan yang
terjadi mungkin sangat kecil
Jika beban yang didukung per tiang > tahanan ujung tiang, penurunan yang
terjadi akan besar
Jika tiang dipancang pada lapisan pendukung yang relatif keras dan tidak
mudah mampat, maka penurunan yang terjadi adalah akibat :
Pemendekan badan tiang sendiri
Penurunan tanah di bawah dasar tiang
Pada kondisi ini, penurunan kelompok tiang penurunan tiang tunggal
Permasalahan utama dalam menghitung penurunan kelompok tiang :
Memprediksi besarnya tegangan dalam tanah akibat beban tiang dan sifatsifat tanah yang berada di bawah ujung tiang
Menentukan besarnya beban yang didukung oleh masing-masing tiang
dalam kelompoknya dan beban aksial yang terjadi di sepanjang tiang
tersebut, untuk menghitung perpendekan tiang.
Distribusi tekanan pondasi tiang ke tanah disekitarnya tergantung tipe tiang
dalam mendukung beban struktur

DISTRIBUSI TEKANAN
DALAM TANAH

Distribusi tekanan dalam tanah untuk tiang dukung ujung (Chellis, 1961)

DISTRIBUSI TEKANAN
DALAM TANAH

Distribusi tekanan dalam tanah untuk tiang gesek (Chellis, 1961)

DISTRIBUSI TEKANAN
DALAM TANAH

Perbedaan distribusi tekanan tanah pada lebar bangunan sempit dan lebar
dengan panjang tiang yang sama

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH GANULER ( NON KOHESIF )
Kondisi :
Pasir dianggap dalam kondisi tidak padat
dibawah lapisan pasir tidak terdapat
lapisan lunak selain tanah pasirnya
sendiri
Hubungan penurunan antara tiang tunggal
dengan kelompok tiang dinyatakan dalam
persamaan berikut (Skempton dkk., 1953) :

Penurunan kelompok tiang dalam


tanah pasir (Skempton dkk., 1953)

+
+

Dengan :
Sg = penurunan kelompok tiang (m)
B = lebar kelompok tiang (m)
S = penurunan
tiang
tunggal
pada
intensitas beban yang sama (m)

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KELOMPOK TIANG APUNG

Tambahan tekanan vertikal pada tiang gesek


diatas tanah lempugn dengan beban dan
panjang tiang yang sama

Menurut Staniford (1915), pada beban


kelompok tiang dan jumlah tiang yang
sama, kelompok tiang dengan jarak tiang
lebih
dekat
akan
menghasilkan
penurunan yang lebih besar
Jika jarak tiang besar, maka dibutuhkan
pelat penutup kepala tiang (pile cap)
yang tebal, sehingga tidak ekonomis
Agar ekonomis, Terzaghi dan Peck
(1948) menyarankan jarak tiang 3,5 d
Jika jarak tiang dalam kelompoknya
ditambah, maka intensitas tegangan di
dalam tanah dan kedalaman tanah yang
tertekan juga bertambah
Pada beban, panjang dan jarak tiang
yang sama, luasan kelompok tiang yang
lebih
besar
akan
menghasilkan
penurunan lebih besar

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KELOMPOK TIANG APUNG

Perbandingan penyebaran tegangan vertikal


antara :
a. Pondasi rakit di permukaan
b. Pondasi tiang pendek
c. Pondasi tiang panjang (Tomlinson, 1977)

Jika kedalaman tiang lebih besar dari lebar


pondasi, maka penurunan pondasi akan
kecil, karena zone tertekan kecil
Jika kedalaman tiang lebih kecil dari lebar
area bebannya, sedangkan area beban
luas, maka penurunan ultimit yang terjadi
mungkin lebih besarwalaupun bebannya
tidak begitu besar
Dalam prakterk pondasi tiang pendek
memberikan penurunan lebih besar
daripada pondasi rakit yang dangkal akibat
dari rekonsolidasi tanah
Pada lempung terkonsolidasi normal,
kuat geser tanah bertambah dan
kemudahmampatannya berkurang bila
kedalaman tanah bertambah
Jika kelompok tiang dipancang pada
tanah ini, penurunannya lebih kecil

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG

KELOMPOK TIANG APUNG

Transfer beban dari kelompok tiang ke tanah distribusi beban tiang anggapan dalam
menghitung penurunan (Tomlinson, 1963)

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KELOMPOK TIANG APUNG
Jika kedalaman tiang lebih besar dari lebar pondasi, maka penurunan pondasi
akan kecil, karena zone tertekan kecil

Jika kedalaman tiang lebih kecil dari lebar area bebannya, sedangkan area
beban luas, maka penurunan ultimit yang terjadi mungkin lebih besarwalaupun
bebannya tidak begitu besar
Dalam prakterk pondasi tiang pendek memberikan penurunan lebih besar
daripada pondasi rakit yang dangkal akibat dari rekonsolidasi tanah
Pada lempung terkonsolidasi normal, kuat geser tanah bertambah dan
kemudahmampatannya berkurang bila kedalaman tanah bertambah
Jika kelompok tiang dipancang pada tanah ini, penurunannya lebih kecil
Jika struktur dilengkapi dengan ruang bawah tanah (basement) maka beban
yang mengakibatkan konsolidasi sama dengan selisih antara beban efektif
bangunan dan berat efektif tanah yang tergali untuk ruang bawah tanah tersebut.

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KELOMPOK TIANG APUNG
Dari penelitian Terzaghi dan Peck (1948) :
Di bagian 2/3 panjang tiang bagian atas, kadar air tanah lempung tidak
berubah oleh akibat beban strukturnya tidak mudah mampat
Dibagian bawahnya, kadar air kadar air berubah oleh adanya konsolidasi
Penyebaran beban pondasi tiang pada tipe tiang gesek dianggap berawal dari
2/3 panjang tiang
Perhitungan penurunan dilakukan dengan menganggap bahwa kelompok tiang
gesek berkelakuan seperti pondasi rakit, dengan ketentuan sbb :
Luasnya sama dengan luas kelompok tiang ditambah lebar yang diberikan oleh
kemiringan penyebaran beban 1H : 4V.
Dasar dari pondasi rakit anggapan sama dengan (2/3) D
Utuk kelompok tiang didalam tanah lempung lunak yang berada diatas pasir
padat, dasar pondasi rakit anggapan terletak pada (2/3) D (Tomlinson, 1963).
Dimana D = panjang tiang yang berada dalam tanah pasir.

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KELOMPOK TIANG DUKUNG UJUNG

Untuk kelompok tiang dukung


ujung,
beban
bangunan
seluruhnya didukung tiang oleh
tahanan ujungnya
Penurunan
dihitung
dengan
menganggap dasar kelompok
tiang sebagai pondasi rakit
dengan luas dasar yang sama
dengan luas kelompok tiang

Transfer beban dari kelompok tiang ke tanahdistribusi


beban tiang anggapan dalam menghitung penurunan
(Tomlinson, 1963)

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KELOMPOK TIANG DUKUNG UJUNG
KELOMPOK TIANG TERLETAK PADA LAPISAN LEMPUNG LUNAK
DI ATAS LAPISAN KUAT DENGAN TEBAL TERBATAS

Kelompok tiang dalam lapisan


lempung lunak diatas lapisan kuat
yang tipis (Tomlinson, 1963)

Penurunan konsolidasi akibat beban kelompok tiang dihitung dengan


menganggap bahwa kelompok tiang berkelakuan seperti pondasi rakit :
dasarnya terletak pada kedalaman D1 + (2/3) D2,
penyebaran beban ke lapisan lempung dibawahnya digunakan cara 2V : 1H
Bila tiang dipasang hanya mencapai lapisan pertama, yaitu menggantung pada
lapisan lempung lunak yang berada diatas, maka dasar pondasi rakit asumsi
dinggap berada pada kedalaman (2/3)D1
Prosedur ini dapat digunakan untuk pondasi tiang pancang dan tiang bor.

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KELOMPOK TIANG DUKUNG UJUNG
KELOMPOK TIANG DALAM TANAH TIMBUNAN
Kondisi I :
Tanah dibawah timbunan tidak mudah mampat,
berat tanah timbuanan merupakan tambahan
beban bagi kelompok tiangnya, sehingga :

Q = Qt + L B gt Dt
Dengan :
Q = beban total kelompok tiang (kN)
Qt = beban kelompok tiang akibat beban struktur
(kN)
L = panjang luasn kelompok tiang (m)
B = lebar kelompok tiang (m)
gt = berat volume tanah timbunan (kN/m3)
Dt = tebal timbunan (m)

Kelompok tiang dalam tanah timbunan


(Tomlinson, 1963)

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KELOMPOK TIANG DUKUNG UJUNG
KELOMPOK TIANG DALAM TANAH TIMBUNAN
Kondisi II :
Tanah timbunan diletakkan diatas tanah lempung
lunak dan tiang dipancang hingga mencapai tanah
keras yang terletak dibawah lapisan tanah lempung

Q = Qt + L B (g1 D1 + g2 D2)
Dengan :
Q = beban total kelompok tiang (kN)
Qt = beban kelompok tiang akibat beban struktur (kN)
L = panjang luasn kelompok tiang (m)
B = lebar kelompok tiang (m)
g1 = berat volume tanah timbunan (kN/m3)
D1 = tebal timbunan (m)
g2 = berat volume tanah lempung lunak (kN/m3)
D2 = tebal tanah lempung lunak (m)

Kelompok tiang dalam tanah


timbunan (Tomlinson, 1963)

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KELOMPOK TIANG DUKUNG UJUNG
KELOMPOK TIANG DALAM TANAH LEMPUNG DAN LANAU
YANG TERLETAK DI ATAS LEMPUNG KAKU

Kelompok tiang dalam tanah Lempung lunak yang terletak diatas lempung kaku
(Tomlinson, 1963)

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KELOMPOK TIANG DUKUNG UJUNG
Jarak tiang pendek, sehingga keruntuhannya merupakan keruntuhan blok
Selama pemancangan tanah lempung lunak yang terletak diantara kelompok
tiang akan terangkat ke atas
Karena terjadi rekonsolidasi tanah, beban tanah yang terangkat kemudian turun
kembali menambah beban ujung bawah tiang yang terletak pada lapisan
lempung kaku
Tambahan beban akibat berat tanah lempung yang terkurung dalam kelompok
tiang ditransfer oleh tiang ke tanah lempung kaku dibawahnya
Lapisan tanah lempung lunak tidak menyokong tambahan kapasitas tiang
Beban tanah yang menyebabkan tarikan ke bawah dibagikan ke masing-masing
tiang dalam kelompok, sehingga merupakan tambahan beban struktur yang
harus didukung oleh masing-masing tiang
Jumlah kedua beban tidak boleh melampaui kapasitas ultimit tiang tunggal dari
hasil perhitungan maupun dari pengujian beban secara langsung
Gaya tarik ke bawah tiang tunggal dalam kelompok tiang sebagai akibat
konsolidasi tanah disekitar tiang tidak akan lebih besar dari gaya ke bawah
akibat adhesi pada dinding tiang (luas selimut tiang yang melekat pada tanah
lempung lunak dikalikan adhesi oleh lempung lunak ke dinding tiang)

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
KAPASITAS KELOMPOK TIANG
Faktor aman dari keseluruhan kelompok tiang akibat beban struktur ditambah
berat lempung lunak yang terkonsolidasi juga harus dihitung
Persamaan kapasitas ultimit tiang group, untuk tiang yang terletak pada tanah
lempung lunak diatas tanah lempung kaku :

Qg = 2D (B + L) + c Nc BL
Dengan :
Qg = kapasitas ultimit kelompok (kN)
B = lebar kelompok tiang (m)
L = panjang kelompok tiang (m)
D = kedalaman tiang yang berada dalam lapisan lempung kaku (m)
c = kohesi rata-rata tanah lempung kaku (kN/m2)
c
= kohesi tanah lempung kaku (kN/m2)
Nc = faktor kapasitas dukung

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
FAKTOR AMAN
Prosedur perhitungan faktor aman menurut Tomlinson (1963) :
1. Hitung kapasitas tiang tunggal atau kapasitas kelompok tiang,abaikan
sokongan kapasitas tiang akibat gesekan tiang dengan tanah pada lapisan
lempung lunak
2. Faktor aman (F) tiang tunggal dinyatakan dengan persamaan :

F=

Qu
Q + Qneg

Faktor aman
berikut :

Qu
F=
Q

dari persamaan diatas, dapat lebih rendah dari persamaan

PENURUNAN KELOMPOK TIANG


DALAM TANAH LEMPUNG
3. Faktor aman (F) kelompok tiang dinyatakan dengan persamaan :

Qg
F=
Q + Qneg
Faktor aman dari persamaan diatas, dapat lebih rendah dari persamaan berikut :

Qg
F=
Q
Dengan :
Qu
= kapasitas ultimit tiang tunggal
Qg
= kapasitas ultimit kelompok tiang
Q
= beban pada masing-masing tiang akibat beban struktur
Qneg = gaya tari ke bawah akibat konsolidasi lempung lunak untuk tiang tunggal
Q
= beban kelompok tiang akibat beban struktur
Qneg = gaya tari ke bawah akibat konsolidasi lempung lunak untuk kelompok
tiang

Merci beaucoup pour votre attention


Jespere que vous compreniez du chapitre

Aurevoir.