Anda di halaman 1dari 13

Kata Pengantar

Segala Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan hidayahNya sehingga Kami mampu menyelesaikan makalah tentang Aspal.
Kami juga tidak lupa mengucapkan terima kasih atas bimbingan yang telah
diberikan oleh dosen kami Ir. H. Muchtar Gani, MSI.
Makalah ini membahas mengenai pengertian aspal, sifat-sifat aspal secara
fisik dan kimia, serta fungsinya. Kami berharap agar makalah yang kami buat
dapat member manfaat untuk para pembaca.
Kami meminta maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan, karena Kami
juga masih dalam proses pembelajaran.

Makassar, 9 November 2014

Penulis

Daftar Isi

Halaman

Kata Pengantar .

Daftar Isi ..

ii

BAB I Pendahuluan .

A. Latar Belakang .

B. Tujuan ...

BAB II Pembahasan

A. Sejarah Aspal ..

B. Pengertian Aspal .

C. Jenis Jenis Aspal ..

D. Fungsi Aspal

E. Klasifikasi Aspal .

F. Sifat Fisik Aspal ..

BAB III Penutup .

Kesimpulan .

Daftar Pustaka .

11

ii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia sebagai Negara yang berkembang membutuhkan sarana
transportasi yang baik untuk menunjang pembangunan yang merata. Salah
satunya adalah jalan raya. Untuk mendukung kemampuan jalan raya,
diperlukan salah satu bahan aspal yang berkualitas baik. Salah satu penghasil
aspal tersebut adalah Indonesia sendiri yang merupakan penghasil aspal
terbesar. Untuk dapat mengolah bahan aspal sendiri, dibutuhkan pemahaman
yang baik tentang bahan tersebut. Oleh sebab itu, kami mengangkat aspal
sebagai bahan pembuatan makalah.

B. Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan agar kita mengetahui tentang aspal.
Karena aspal merupakan salah satu bahan yang sering kita jumpai pada
disiplin ilmu kita. Selain itu aspal merupakan sumberdaya alam yang terdapat
di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Aspal
Sejarah penggunaan aspal telah dimulai sejak ribuan tahun sebelum
masehi oleh bangsa Sumeria dan Mesopotamia. Mereka menggunakan aspal
(sering disebut bitumen) sebagai lapis pengedap untuk bak mandi maupun
kolam-kolam air di istana dan kuil. Tentu saja aspal yang digunakan adalah
aspal yang didapat secara alami. Aspal terdapat di alam dalam bentuk lake
asphalt (seperti dodol) dan rock asphalt (biasanya keras, campuran dari aspal,
tanah, kapur, dan lempung). Aspal tercatat pertama kali digunakan sebagai
bahan konstruksi jalan, terjadi di Babilonia sekitar tahun 625 SM pada masa
kekuasaan Raja Naboppolassar.
Istilah aspal berasal dari bahasa Yunani kuno asphaltos, kemudian
bangsa Romawi mengubahnya menjadi asphaltus, lalu diadaptasi ke dalam
bahasa Inggris menjadi asphalt, dan kita menerjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia menjadi aspal.
Di Indonesia, aspal buton atau biasa disebut asbuton ditemukan
tahun 1924 di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara oleh Hetzel yaitu seorang
geolog Belanda. Pengusahaan pertambangan aspal Buton dilakukan oleh
perusahaan Belanda yang bernama N.V. Mijnbouw en Cultuur Maschappij
Buton.
B. Pengertian Aspal
Material berwarna hitam atau coklat tua dan bersifat melekat,
dimana pada temperatur ruang aspal berbentuk padat sampai agak padat dan
jika dipanaskan sampai temperatur tentu dapat menjadi lunak / cair. Aspal
sering juga disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran
beraspal yang dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan

lentur. Aspal berasal dari aspal alam (aspal buton) atau aspal minyak (aspal
yang berasal dari minyak bumi).
C. Jenis-jenis Aspal
Aspal Berdasarkan Cara Mendapatkannya (Sumber):
a. Aspal alam
Aspal Alam adalah aspal yang secara alamiah terjadi di alam.
Berdasarkan depositnya aspal alam ini dikelompokan menjadi 2
kelompok, yaitu:
1) Aspal Danau ( Lake Asphalt)
Aspal ini secara alamiah terdapat di danau seperti di danau Trinidad,
Venezuella dan lewele. Aspal ini terdiri dari bitumen, mineral, dan
bahan organik lainnya. Angka penetrasi dari aspal ini sangat rendah
dan titik lembek sangat tinggi.

2) Aspal Batu ( Rock Asphalt)


Aspal batu secara alamiah terbentuk dalam celah-celah batuan kapur
dan batuan pasir. Aspal yang terkandung dalam batuan ini berkisar
antara 12 35 % dari massa batu tersebut sedangkan persentasinya
berkisar antara 0 40. Aspal batu terdapat di daerah Kentucky, USA
dan di pulau Buton, Indonesia.

b. Aspal Modifikasi
Aspal modifikasi dibuat dengan mencampur aspal keras dengan suatu
bahan tambah seperti polymer. Polymer adalah jenis bahan tambah yang
sering di gunakan saat ini, sehinga aspal modifikasi sering disebut juga
aspal polymer. berdasarkan sifatnya, ada dua jenis bahan polymer yang
biasanya digunakan, yaitu:
1) Aspal Polymer Elastomer
Penambahan polymer jenis ini dimaksudkan untuk memperbaiki sifat
aspal, antara lain penetrasi, kekentalan, titik lembek dan elastisitas
aspal keras. Campuran beraspal yang dibuat dengan aspal polymer
elastomer akan memiliki tingkat elastisitas yang lebih tinggi dari
campuran beraspal yang dibuat dengan aspal keras. Presentase
penambahan bahan tambah (additive) pada pembuatan aspal polymer
harus dengan batas tertentu berdasarkan uji laboratorium.
2) Aspal Polymer Plastomer
Seperti halnya dengan aspal polymer elastomer, penambahan bahan
polymer plastomer pada aspal keras juga dimaksudkan untuk
meningkatkan sifat rheologi baik pada aspal keras dan sifat fisik
campuran beraspal. Presentase penambahan polymer ini kedalam
aspal

keras

juga

harus

ditentukan

berdasarkan

pengujian

labolatorium, karena penambahan yang berlebihan justru akan


memberikan pengaruh yang negatif.
c. Aspal Buatan (Aspal Hasil Destilasi)
Minyak mentah disuling dengan cara Destilasi, yaitu proses dimana
berbagai fraksi dipisahkan dari minyak mentah tersebut. Proses destilasi
ini disertai oleh kenaikan temperatur pemanasan minyak mentah tersebut.
Hasil dari aspal buatan ada 3, yaitu:
1) Aspal Keras
Aspal keras adalah aspal yang digunakan dalam keadaan panas dan
cair, pada suhu ruang berbentuk padat. proses destilasi dilakukan
dengan mencampur berbagai variasi minyak mentah bersama-sama.

Dalam proses ini fraksi minyak (bensin, solar, dan minyak tanah)
yang terkandung dalam minyak mentah, dikeluarkan sehingga
meninggalkan aspal sebagai residu.
2) Aspal Cair
Aspal cair merupakan campuran aspal keras dengan bahan pencair
dari hasil penyulingan minyak bumi. Aspal cair dibedakan dalam
beberapa jenis, yaitu:
Aspal Cair Cepat Menguap (RC = Rapid Curing), yaitu aspal
cair yangbahan pelarutnya cepat menguap. Pelarut yang
digunakan pada aspal jenis ini biasanya adalah bensin.
Aspal Cair menguap Sedang (MC = Medium Curing), yaitu
aspal cair yang bahan pelarutnya tidak begitu cepat menguap.
Pelarut yang digunakan pada aspal jenis ini biasanya adalah
minyak tanah.
Aspal Cair Lambat Menguap (SC = Slow Curing), yaitu aspal
cair yang bahan pelarutnya lambat menguap. Pelarut yang
digunakan pada aspal jenis ini adalah solar.
3) Aspal emulsi (emulsion asphalt)
Aspal emulsi adalah suatu campuran aspal dengan air dan bahan
pengemulsi

Berdasarkan muatan listriknya, aspal emulsi dapat dibedakan atas:


Kationik, disebut juga aspal emulsi asam, merupakan aspal emulsi
yang bermuatan arus listrik posirif.
Anionik, disebut juga aspal emulsi alkali, merupakan aspal emulsi
yang

bermuatan negative.

Nonionik, merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami


ionisasi, berarti tidak menghantarkan listrik.
D. Fungsi Aspal
Fungsi aspal antara lain adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengikat batuan agar tidak lepas dari permukaan jalan akibat lalu
lintas (water proof, protect terhadap erosi).
2. Sebagai bahan pelapis dan perekat agregat.
3. Lapis resap pengikat (prime coat) adalah lapisan tipis aspal cair yang
diletakan di atas lapis pondasi sebelum lapis berikutnya.
4. Lapis pengikat (tack coat) adalah lapis aspal cair yang diletakan di atas
jalan yang telah beraspal sebelum lapis berikutnya dihampar, berfungsi
pengikat di antara keduanya.
5. Sebagai pengisi ruang yang kosong antara agregat kasar, agregat halus,
dan filler.

E. Klasifikasi Aspal
Aspal keras dapat di klasifikasikan kedalam tingkatan atau kelas berdasarkan
tiga sisten yang berbeda, yaitu:
1. Viskositas,
Dalam sistem viskositas, satuan poise adalah estndar pengukuran
viskositas absolut. Makin tinggi nilai poise suatu aspal makin kental aspal
tersebut. AC-25 (aspal keras dengan viskositas 250 poise pada temperature
60C) adalah jenis aspal keras yang bersifat lunak. AC-40 (aspal keras
dengan 400 poise pada temperature 60C) adalah jenis aspal keras yang
bersifat keras.

2. Penetrasi
Penetrasi adalah suatu pengujian dimana sebuah jarum standar dengan
beban 10 gram (termasuk berat jarum) ditusukan keatas permukaan aspal.
Panjang jarum yang masuk kedalam contoh aspal dalam waktu lima detik
diukur dalam satuan persepuluh mili meter (0,1 mm) dan dinyatakan
sebagai nilai penetrasi aspal. Semakin kecil nilai penetrasi aspal, semakin
keras aspal tersebut.
F. Sifat Sifat Fisik Aspal
Sifat-sifat aspal yang sangat mempengaruhi perencanaan, produksi dan
kinerja campuran beraspal antara lain adalah:
1. Durabilitas
Kemampuan aspal untuk menghambat laju penuaan/pemanasan ini
disebut durabilitas aspal. Kinerja aspal sangat dipengaruhi oleh sifatnya
setelah diguakan sebagai bahan pengikat dalam campuran beraspal karena
sifat-sifat aspal akan berubah secara signifikan akibat pencampuran,
pengankutan, dan penghamparan campuran aspal di lapangan. Perubahan
sifat ini akan menyebabkan aspal menjadi berdakhtilitas rendah.
Pengujian bertujuan untuk mengetahui seberapa baik aspal untuk
mempertahankan sifat sifat awalnya akibat proses penuaan. Pengujian
kuantitatif yang biasanya dilakukan untuk mengetahui durabilitas aspal
adalah pengujian penetrasi, titik lembek, kehilangan berat dan daktilitas.
Pengujian ini dlakukan pada benda uji yang telah mengalami Thin Film
Oven Test (TFOT).
2. Kepekaan Aspal Terhadap Temperatur
Kepekaan aspal untuk berubah sifat akibat perubahan tempertur ini di
kenal sebagai kepekaan aspal terhadap temperatur. Seluruh aspal bersifat
termoplastik yaitu menjadi lebih keras bila temperature menurun dan
melunak bila temperature meningkat.
3. Pengerasan dan penuaan aspal
Penuaan aspal adalah suatu parameter untuk mengetahui durabilitas
campuran beraspal. Penuaan ini disebabkan oleh dua factor utama, yaitu

penguapan minyak yang terkandung dalam aspal dan oksidasi penuaan


jangka pendek dan penuaan jangka panjang.
4. Adesi dan Kohesi
Adesi adalah kemampuan partikel aspal untuk melekat satu sama lainnya,
sedangkan kohesi adalah kemampuan aspal untuk melekat dan mengikat
agregat. Sifat adesi dan kohesi aspal sangat penting diketahui dalam
pembuatan campuran beraspal karena sifat ini mempengaruhi kinerja dan
durabilitas campuran. Uji daktilitas aspal adalah suatu ujian kualitatif
yang secara tidak langsung dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat
adesifnes atau daktalitas aspal keras. Uji penyelimutan aspal terhadap
batuan merupakan uji kuantitatif lainnya yang digunakan untuk
mengetahui daya lekat (kohesi) aspal terhadap batuan. Pada pengujian ini,
agregat yang telah diselimuti oleh film aspal direndam dalam air dan
dibiarkan selama 24 jam dengan atau tanpa pengadukan. Akibat air atau
kombinasi air dengan gaya mekanik yang diberikan, aspal yang
menyilimuti pemukaan agregat akan terkelupas kembali. Aspal dengan
gaya kohesi yang kuat akan melekat erat pada permukaan agregat.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Aspal merupakan material berwarna hitam atau coklat tua yang bersifat

melekat dimana pada temperatur ruang aspal berbentuk padat, dan jika
dipanaskan akan menjadi lunak atau bahkan mencair. Aspal pertama kali
digunakan sebagai bahan konstruksi jalan di Babilonia. Sedangkan di
Indonesia aspal di temukan di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara dan
dijadikan tambang aspal oleh perusahaan Belanda yang bernama N.V.
Mijnbouw en Cultuur Maschappij Buton.
2. Jenis Aspal Berdasarkan Cara Mendapatkannya (Sumber):

a. Aspal alam, aspal alam ini dikelompokan menjadi 2 kelompok,


yaitu:
1) Aspal Danau ( Lake Asphalt)
2) Aspal Batu ( Rock Asphalt)
b. Aspal Modifikasi, aspal modifikasi dua jenis bahan polymer yang
biasanya digunakan, yaitu:
1) Aspal Polymer Elastomer
2) Aspal Polymer Plastomer
c. Aspal Buatan (Aspal Hasil Destilasi). Hasilnya ada 3, yaitu:
1) Aspal Keras
2) Aspal Cair, aspal cair dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu:
Aspal Cair Cepat, dilarutkan dengan bensin.
Aspal Cair menguap Sedang dilarutkan dengan minyak
tanah.
Aspal Cair Lambat Menguap, dilarutkan dengan solar.
3) Aspal emulsi (emulsion asphalt)
Aspal emulsi terbagi atas 3 yaitu: Kationik, Anionik, dan
Nonionik.

3. Fungsi aspal antara lain adalah sebagai berikut:

a. Sebagai bahan pengikat dan pengisi batuan


b. Sebagai bahan pelapis dan perekat agregat.
c. Lapis pengikat

4. Aspal keras dapat di klasifikasikan kedalam tingkatan pada sistem yang

berbeda, yaitu Viskositas dan Penetrasi

5. Sifat-sifat aspal kinerja campuran beraspal antara lain adalah:


a. Durabilitas
b. Kepekaan Aspal Terhadap Temperatur
c. Pengerasan dan penuaan aspal
d. Adesi dan Kohesi

10

Daftar Pustaka

Nainggolan, Rudi Antony. 2005. Perbandingan Karakteristik CAmpuran


Beraspal Polimer Elastomer dan Plastomer. Bandung: Disertasi
Universitas Kristen Maranatha, (Online).
(http://repository.maranatha.edu/2760/11/9421071.pdf)

Rendini, Emira dkk. 2008. Makalah Ilmu Bahan Aspal. Banten: Disertasi
Universitas
Sultan
Ageng
Tirtayasa,
(Online).
(http://www.academia.edu/5621412/)

Rianung Sih. 2007. Pengaruh Bahan Tambah Gondorukem pada Campuran


Beraspal Panas jenis Lanston Lapis Pengikat atau Asphalt Concrete Binder Course (AC-BC) melalui pengujian Marshall dan durabilitas.
Semarang: Disertasi Universitas Diponegoro, (Online).
(http://eprints.undip.ac.id/18087/1/sih_rianung.pdf)
http://1902miner.wordpress.com/bahan-galian/aspal-bitumen/
http://asbuton.blogspot.com/2008/11/sejarah-aspal-dunia.html
http://asbuton.blogspot.com/2008/11/sejarah-aspal-di-indonesia.html
http://anasaff.blogspot.com/2012/08/aspal-dan-kharakteristiknya.html
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26539/4/Chapter%20II.pdf
http://thesis.binus.ac.id/asli/Bab1/2010-1-00602-sp%20bab%201.pdf
http://www.google.com
http://www.scribd.com/doc/57497643/
http://www.wikipedia.com

11