Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

TRAUMA DADA
Dikerjakan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Keperawatan Trauma

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK X
DEDE YUNITASARI
HANI OKTASARI
MARDALINA
OKY NOPIANDRI

PONDOK PESANTREN KALIMOSODO


AKADEMI KEPERAWATAN BAITUL HIKMAH
PROVINSI LAMPUNG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirannya Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kami sehingga kami dapat
menyusun makalah ini dengan tepat pada waktunya. Shalawat serta salam
tercurahkan kepada junjungan nabi kita Muhammad SAW beserta para
sahabatnya.
Makalah ini di buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan
Trauma dimana makalah ini berisi tentang Trauma Dada.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari pihak lain maka penulis tidak
akan dapat menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini
penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah
membantu menyelesaikan makalah ini.

Penulis

Oktober 2014

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
PENDAHULUAN..................................................................................................iii
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. iii
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ iii
1.3 Tujuan Penulisan .......................................................................................... iii
1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................................ iii
TINJAUAN TEORI ................................................................................................ 1
2.1 Pengertian Trauma Dada / Thorax.................................................................1
2.2 Etiologi .......................................................................................................... 1
2.3 Klasifikasi ..................................................................................................... 2
2.4 Patofisiologi .................................................................................................. 2
2.5 Manifestasi Klinis ......................................................................................... 3
2.6 Pemeriksaan Diagnostik ................................................................................ 4
2.7 Penatalaksanaan ............................................................................................ 7
2.8 Pemeriksaan penunjang................................................................................. 9
KONSEP KEPERAWATAN ................................................................................ 11
3.1 Pengkajian ................................................................................................... 11
3.2 Pemeriksaan Fisik ....................................................................................... 11
3.3 Diagnosa Keperawatan................................................................................ 12
3.4 Intevensi Keperawatan ................................................................................ 13
PENUTUP ............................................................................................................. 15
4.1 Kesimpulan ................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 17

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Trauma thorax sering ditemukan sekitar 25% dari penderita multi-trauma ada
component trauma toraks. 90% dari penderita dengan trauma thorax ini dapat
diatasi dengan tindakan yang sederhana oleh dokter di Rumah Sakit (atau
paramedic di lapangan), sehingga hanya 10% yang memerlukan operasi.

1.2 Rumusan Masalah


Beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan makalah
ini adalah:
1. Apa definisi trauma thorax ?
2. Apa etiologi trauma thorax ?
3. Apa manifestasi trauma thorax ?
4. Apa patofisiologi trauma thorax ?
5. Bagaimana penatalaksanaan trauma thorax ?

1.3 Tujuan Penulisan


Diharapkan

penulis

atau

pembaca

dapat

mengetahui

mendemontrasikan penatalaksanaan penderita trauma thorax.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Mengetahui definisi trauma thorax
2. Mengetahui etiologi trauma thorax
3. Mengetahui manifestasi trauma thorax
4. Mengetahui patofisiologi trauma thorax
5. Mengetahui cara penatalaksanaan trauma thorax

iii

serta

dapat

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Trauma Dada / Thorax


Trauma dada adalah trauma tajam atau tumpul thorax yang dapat
menyebabkan tamponade jantung, pneumothorax, hematothorax, dan sebagainya
(FKUI, 1995). Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding
thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Hudak, 1999).
Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh
benturan pada dinding dada yang mengenai tulang rangka dada, pleura paru-paru,
diafragma ataupun isi mediastinal baik oleh benda tajam maupun tumpul yang
dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan (Suzanne & Smetzler, 2001).
Dari ketiga pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Trauma
Dada / Thorax adalah suatu kondisi dimana terjadinya benturan baik tumpul
maupun tajam pada dada atau dinding thorax, yang menyebabkan abnormalitas
(bentuk) pada rangka thorax. Perubahan bentuk pada thorax akibat trauma dapat
menyebabkan gangguan fungsi atau cedera pada organ bagian dalam rongga
thorax seperti jantung dan paru-paru, sehingga dapat terjadi beberapa kondisi
patologis traumatik seperti Haematothorax, Pneumothorax, Tamponade Jantung,
dan sebagainya.

2.2 Etiologi
1. Tension pneumothorak-trauma dada pada selang dada
2. Penggunaan therapy ventilasi mekanik yang berlebihan
3. Penggunaan balutan tekan pada luka dada tanpa pelonggaran balutan.
4. Pneumothorak tertutup-tusukan pada paru oleh patahan tulang iga,
ruptur oleh vesikel flaksid yang seterjadi sebagai sequele dari PPOM.
5. Tusukan paru dengan prosedur invasif.

6. Kontusio paru-cedera tumpul dada akibat kecelakaan kendaraan atau


tertimpa benda berat.
7. Pneumothorak terbuka akibat kekerasan (tikaman atau luka tembak)
8. Pukulan daerah thorax dan Fraktur tulang iga
9. Tindakan medis (operasi)

2.3 Klasifikasi
Trauma dada diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Trauma Tajam
a. Pneumothoraks terbuka
b. Hemothoraks
c. Trauma tracheobronkial
d. Contusio Paru
e. Ruptur diafragma
f.

Trauma Mediastinal

2. Trauma Tumpul
a) Tension pneumothoraks
b) Trauma tracheobronkhial
c) Flail Chest
d) Ruptur diafragma
e) Trauma mediastinal
f)

Fraktur kosta

2.4 Patofisiologi
Trauma benda tumpul pada bagian dada / thorax baik dalam bentuk
kompresi maupun ruda-paksa (deselerasi / akselerasi), biasanya menyebabkan
memar / jejas trauma pada bagian yang terkena. Jika mengenai sternum,
trauma tumpul dapat menyebabkan kontusio miocard jantung atau kontusio
paru. Keadaan ini biasanya ditandai dengan perubahan tamponade pada
jantung, atau tampak kesukaran bernapas jika kontusio terjadi pada paru-paru.

Trauma benda tumpul yang mengenai bagian dada atau dinding thorax
juga seringkali menyebabkan fraktur baik yang berbentuk tertutup maupun
terbuka. Kondisi fraktur tulang iga juga dapat menyebabkan Flail Chest, yaitu
suatu kondisi dimana segmen dada tidak lagi mempunyai kontinuitas dengan
keseluruhan dinding dada. Keadaan tersebut terjadi karena fraktur iga multipel
pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur. Adanya
semen fail chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan pada
pergerakan dinding dada. Jika kerusakan parenkim paru di bawahnya terjadi
sesuai dengan kerusakan pada tulang maka akan menyebabakan hipoksia yang
serius.
Sedangkan trauma dada / thorax dengan benda tajam seringkali berdampak
lenih buruk daripada yang diakibatkan oleh trauma benda tumpul. Benda
tajam dapat langsung menusuk dan menembus dinding dada dengan merobek
pembuluh darah intercosta, dan menembus organ yang berada pada posisi
tusukannya. Kondisi ini menyebabkan perdaharan pada rongga dada
(Hemothorax), dan jika berlangsung lama akan menyebabkan peningkatan
tekanan didalam rongga baik rongga thorax maupun rongga pleura jika
tertembus. Kemudian dampak negatif akan terus meningkat secara progresif
dalam waktu yang relatif singkat seperti Pneumothorax,penurunan ekspansi
paru, gangguan difusi, kolaps alveoli, hingga gagal nafas dan jantung. Adapun
gambaran proses perjalanan patofisiologi lebih lanjut dapat dilihat pada skema

2.5 Manifestasi Klinis


1. Nyeri pada tempat trauma, bertambah pada saat inspirasi.
2. Pembengkakan lokal dan krepitasi yang sangat palpasi.
3. Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek.
4. Dyspnea, takipnea
5. Takikardi
6. Tekanan darah menurun.
7. Gelisah dan agitasi
8. Kemungkinan cyanosis.
9. Batuk mengeluarkan sputum bercak darah.

10. Hypertympani pada perkusi di atas daerah yang sakit.


11. Ada jejas pada thorak
12. Peningkatan tekanan vena sentral yang ditunjukkan oleh distensi vena
leher
13. Bunyi muffle pada jantung
14. Perfusi jaringan tidak adekuat
15. Pulsus paradoksus ( tekanan darah sistolik turun dan berfluktuasi dengan
pernapasan ) dapat terjadi dini pada tamponade jantung.

2.6 Pemeriksaan Diagnostik


1. Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesa yang terpenting adalah mengetahui mekanisme dan pola
dari trauma, seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kerusakan
dari kendaraan yang ditumpangi, kerusakan stir mobil /air bag dan lain
lain.
2. Radiologi : Foto Thorax (AP)
Pemeriksaan ini masih tetap mempunyai nilai diagnostik pada
pasien dengan trauma toraks. Pemeriksaan klinis harus selalu dihubungkan
dengan hasil pemeriksaan foto toraks. Lebih dari 90% kelainan serius
trauma toraks dapat terdeteksi hanya dari pemeriksaan foto toraks.

3. Gas Darah Arteri (GDA) dan Ph


gas darah dan pH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan
pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas
darah dipakai untuk menilai keseimbangan asam basa dalam tubuh, kadar
oksigen dalam darah, serta kadar karbondioksida dalam darah.
Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama
pemeriksaan ASTRUP, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan

melalui darah arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A.


brachialis, A. Femoralis.
Didalam tabel berikut ini dapat dilihat nilai normal dari GDA dan pH,
serta kemungkinan diagnosis terhadap perubahan nilai dari hasil
pemeriksaannya :
Nilai Normal

Asidosis

Alkaliosis

pH ( 7,35 s/d 7,45 )

Turun

Naik

HCO3 (22 s/d 26)

Turun

Naik

PaCO2 (35 s/d 45)

Naik

Turun

BE (2 s/d +2)

Turun

Naik

PaO2 ( 80 s/d 100 )

Turun

Naik

Tabel 1.1 : Nilai Normal dan Kesimpulan Perubahan Hasil AGD dan pH (Hanif, 2007)

Pemeriksaan AGD dan pH tidak hanya dilakukan untuk penegakan


diagnosis penyakit tertentu, namun pemeriksaan ini juga dapat dilakukan
dalam rangka pemantauan hasil / respon terhadap pemberian terapi /
intervensi tertentu kepada klien dengan keadaan nilai AGD dan pH yang
tidak normal baik Asidosis maupun Alkaliosis, baik Respiratori maupun
Metabolik. Dari pemantauan yang dilakukan dengan pemeriksaan AGD
dan pH, dapat diketahui ketidakseimbangan sudah terkompensasi atau
belum / tidak terkompensasi.
Pada tabel berikut ini dapat dilihat acuan perubahan nilai yang
menunjukkan kondisi sudah / tidak terkompensasi.
Jenis Gangguan Asam Basa

PH

Asidosis respiratorik tidak terkonpensasi

Rendah

Total CO2
Tinggi

PCO2
Tinggi

Alkalosis respiratorik tidak terkonfensasi

Tinggi

Rendah

Rendah

Asidosis metabolic tidak terkonfensasi

Rendah

Rendah

Normal

Alkalosis metabolic tidak terkonfensasi

Tinggi

Tinggi

Rendah

Asidosis respiratorik kompensasi alkalosis

Normal

Tinggi

Normal

Normal

Rendah

Normal

Normal

Rendah

Rendah

Normal

Tinggi

Tinggi

metabolic
Alkalosis respiratorik kompensasi asidosis
metabolic
Asidosis metabolic kompensasi alkalosis
respiratorik
Alkalosis metabolic kompensasi asidosis
respiratorik
Tabel 2.2 : Acuan Nilai Hasil Pemantauan AGD dan pH ( FKUI, 2008)

4. CT-Scan
Sangat membantu dalam membuat diagnosa pada trauma tumpul
toraks, seperti fraktur kosta, sternum dan sterno clavikular dislokasi.
Adanya retro sternal hematoma serta cedera pada vertebra torakalis dapat
diketahui dari pemeriksaan ini. Adanya pelebaran mediastinum pada
pemeriksaan toraks foto dapat dipertegas dengan pemeriksaan ini sebelum
dilakukan Aortografi.
5. Ekhokardiografi
Transtorasik

dan

transesofagus

sangat

membantu

dalam

menegakkan diagnosa adanya kelainan pada jantung dan esophagus.


Hemoperikardium, cedera pada esophagus dan aspirasi, adanya cedera
pada dinding jantung ataupun sekat serta katub jantung dapat diketahui
segera. Pemeriksaan ini bila dilakukan oleh seseorang yang ahli,
kepekaannya meliputi 90% dan spesifitasnya hampir 96%.
6. EKG (Elektrokardiografi)

Sangat membantu dalam menentukan adanya komplikasi yang


terjadi akibat trauma tumpul toraks, seperti kontusio jantung pada trauma.
Adanya abnormalitas gelombang EKG yang persisten, gangguan
konduksi, tachiaritmia semuanya dapat menunjukkan kemungkinan
adanya kontusi jantung. Hati hati, keadaan tertentu seperti hipoksia,
gangguan elektrolit, hipotensi gangguan EKG menyerupai keadaan seperti
kontusi jantung.
7. Angiografi
Gold Standard untuk pemeriksaan aorta torakalis dengan dugaan
adanya cedera aorta pada trauma tumpul toraks.
8. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa.
9. Hb (Hemoglobin) : Mengukur status dan resiko pemenuhan kebutuhan
oksigen jaringan tubuh.

2.7 Penatalaksanaan
1. Bullow Drainage / WSD
Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :
a. Diagnostik :Menentukan perdarahan dari pembuluh darah
besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi
torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam shock.
b. Terapi :
Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga
pleura. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga
"mechanis

of

breathing"

dapat

kembali

seperti

yang

seharusnya.
c. Preventive :
Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura
sehingga "mechanis of breathing" tetap baik.
2. Perawatan WSD dan pedoman latihanya :
a. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang.
Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang, dan pengganti
verband 2 hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain kassa
7

yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh


dikotori waktu menyeka tubuh pasien.
b. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa
sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter.
c. Dalam perawatan yang harus diperhatikan :
a) Penetapan slang.
Slang diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang
dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya
pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang
dapat dikurangi.
b) Pergantian posisi badan.
Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan
memasang bantal kecil dibelakang, atau memberi
tahanan pada slang, melakukan pernapasan perut,
merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan, atau
menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera.

d. Mendorong berkembangnya paru-paru.


a) Dengan

WSD/Bullow

drainage

diharapkan

paru

mengembang.
b) Latihan napas dalam.
c) Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk,
jangan batuk waktu slang diklem.
d) Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.
e. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.
Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam,
harus

dilakukan

torakotomi.

bertambah/berkurang,

perhatikan

keadaan pernapasan.
f. Suction harus berjalan efektif :

Jika
juga

banyaknya
secara

hisapan

bersamaan

Perhatikan setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah


operasi dan setiap 1 - 2 jam selama 24 jam setelah operasi.
g. Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage.
a. Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa
cairan yang keluar kalau ada dicatat.
b. Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan
dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow
drainage.
c. Penggantian botol harus "tertutup" untuk mencegah udara
masuk yaitu meng"klem" slang pada dua tempat dengan
kocher.
d. Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan
sterilitas botol dan slang harus tetap steril.
e. Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja
diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan.
f. Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam
rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena
kesalahan dll.
3. Dinyatakan berhasil, bila :
a. Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan
radiologi.
b. Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage.
c.

Tidak ada pus dari selang WSD.

2.8 Pemeriksaan penunjang


a.

X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral)

b. Diagnosis fisik :
a). Bila pneumotoraks < 30% atau hematothorax ringan (300cc) terap
simtomatik, observasi.
b). Bila pneumotoraks > 30% atau hematothorax sedang (300cc)
drainase cavum pleura dengan WSD, dainjurkan untuk melakukan
drainase dengan continues suction unit.

c). Pada keadaan pneumothoraks yang residif lebih dari dua kali harus
dipertimbangkan thorakotomi
d). Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain
lebih dari 800 cc segera thorakotomi.

2.2 Terapi :
a. Antibiotika
b. Analgetika
c. Expectorant.

2.3 Komplikasi
a. tension penumototrax
b. penumotoraks bilateral
c. emfiema

10

BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
Point yang penting dalam riwayat keperawatan :
1.

Umur : Sering terjadi usia 18 - 30 tahun.

2.

Alergi terhadap obat, makanan tertentu.

3.

Pengobatan terakhir.

4.

Pengalaman pembedahan.

5.

Riwayat penyakit dahulu.

6.

Riwayat penyakit sekarang.

7.

Dan Keluhan.

3.2 Pemeriksaan Fisik


1. Sistem Pernapasan
a. Sesak napas
b. Nyeri, batuk-batuk
c. Terdapat retraksi klavikula/dada
d. Pengambangan paru tidak simetris
e. Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain
f. Pada perkusi ditemukan Adanya suara sonor/hipersonor/timpani,
hematotraks (redup)
g. Pada asukultasi suara nafas menurun, bising napas yang
berkurang/menghilang
h. Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas
i. Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.
j. Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.

11

3. Sistem Kardiovaskuler :
a. Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk
b. Takhikardia, lemah
c. Pucat, Hb turun /normal
d. Hipotensi.
4. Sistem Persyarafan : Tidak ada kelainan.
5. Sistem Perkemihan : Tidak ada kelainan.
6. Sistem Pencernaan : Tidak ada kelainan.
7. Sistem Muskuloskeletal - Integumen.
a. Kemampuan sendi terbatas
b. Ada luka bekas tusukan benda tajam
c.

Terdapat kelemahan

d.

Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

8. Sistem Endokrine :
a. Terjadi peningkatan metabolisme
b. Kelemahan.
9. Sistem Sosial / Interaksi : Tidak ada hambatan.
10. Spiritual : Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.

3.3 Diagnosa Keperawatan


a. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang
tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
b. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi
sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
c. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan
dan reflek spasme otot sekunder.
d. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan
dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
e. Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum.
f. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang
bullow drainage.

12

g. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme


sekunder terhadap trauma.

3.4 Intevensi Keperawatan


a. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang
tidak maksimal karena trauma.
Tujuan : Pola pernapasan efektive.
Kriteria hasil :
-Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.
-Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
-Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab
Intervensi :
-Berikan posisi yang nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat
tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
-Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau
perubahan tanda-tanda vital.
-Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin
keamanan.
-Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps
paru-paru.
b. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret
dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
Tujuan : Jalan napas lancar/normal
Kriteria hasil :
-Menunjukkan batuk yang efektif.
-Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.
-Klien nyaman.
Intervensi :
-Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat
penumpukan sekret di sal. pernapasan.
-Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.
-Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.

13

-Lakukan pernapasan diafragma.


-Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter, radiologi dan
fisioterapi.
c. Perubahan

kenyamanan

Nyeri

akut

berhubungan

dengan

trauma

jaringan dan reflek spasme otot sekunder.


Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
-Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.
-Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri.
-Pasien tidak gelisah
-Intervensi :
-Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan
non invasif.
-Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang
nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.
-Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan
berapa lama nyeri akan berlangsung.
-Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik.
-Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah
pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam
setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari.

14

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

bahwa Trauma Dada / Thorax adalah suatu kondisi dimana terjadinya


benturan baik tumpul maupun tajam pada dada atau dinding thorax, yang
menyebabkan abnormalitas (bentuk) pada rangka thorax. Perubahan bentuk pada
thorax akibat trauma dapat menyebabkan gangguan fungsi atau cedera pada organ
bagian dalam rongga thorax seperti jantung dan paru-paru, sehingga dapat terjadi
beberapa kondisi patologis traumatik seperti Haematothorax, Pneumothorax,
Tamponade Jantung, dan sebagainya.
Trauma dada diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu :
11. Trauma Tajam
a. Pneumothoraks terbuka
b. Hemothoraks
c. Trauma tracheobronkial
d. Contusio Paru
e. Ruptur diafragma
f.

Trauma Mediastinal

12. Trauma Tumpul


a) Tension pneumothoraks
b) Trauma tracheobronkhial
c) Flail Chest
d) Ruptur diafragma
e) Trauma mediastinal
f)

Fraktur kosta

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul karena trauma dada adalah :


1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang
tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi
sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
15

3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan


dan reflek spasme otot sekunder.
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan
dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
5. Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum.
6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang
bullow drainage.
7. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme
sekunder terhadap trauma.

16

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. (1997). Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.


Depkes. RI. (1989). Perawatan Pasien Yang Merupakan Kasus-Kasus
Bedah.Jakarta : Pusdiknakes.
Doegoes, L.M. (1999). Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian
keperawatan. Jakarta : EGC.
Hudak, C.M. (1999) Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.
Pusponegoro, A.D.(1995). Ilmu Bedah. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

17