Anda di halaman 1dari 23

1.

PENDAHULUAN

Dalam rekayasa geomekanika, metode elemen hingga (finite element


method) merupakan salah satu metode numerik yang dapat digunakan untuk
perhitungan tegangan dan perpindahan di dalam tanah/batuan. Metode ini
akan memodelkan batuan tersebut sebagai rangkaian elemen-elemen.
Dengan semakin berkembangnya komputer (peningkatan memori dan
kecepatannya), akan semakin banyak elemen yang dapat digunakan dalam
perhitungan ini.
Penggunaan metode elemen hingga untuk analisis kemantapan lereng akan
memberikan gambaran mengenai besarnya perpindahan pada setiap titik
simpul dan besarnya tegangan pada setiap elemen, termasuk faktor
keamanan elemen tersebut.
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan uraian singkat mengenai metode
elemen hingga serta contoh pemakaiannya dalam analisis kemantapan
lereng.

2. LANGKAH-LANGKAH DALAM METODE ELEMEN HINGGA


2.1. DISKRETISASI
Diskretisasi merupakan tahapan awal dari metode elemen hingga, di mana
media yang dianalisis dibagi-bagi menjadi sejumlah elemen yang berhingga
dengan bentuk geometri yang sederhana (segitiga, segiempat, dan
seterusnya). Pada tulisan ini pembahasan dibatasi pada elemen segitiga
dengan tiga titik simpul.

Metode Elemen Hingga - 1

Gambar 1

Diskretisasi

2.2. PEMILIHAN FUNGSI PERPINDAHAN


Untuk elemen segitiga dengan tiga titik simpul, fungsi perpindahan elemen
adalah fungsi linier dan berbentuk [COOK, et.al. (1989), ZIENKIEWICS and
TAYLOR (1989)] :
u(x,y) = 1 + 2x + 3y
........................................................
v(x,y) = 4 + 5x + 6y

(1)

dengan u adalah perpindahan pada arah horisontal (sumbu x) dan v adalah


perpindahan pada arah vertikal (sumbu y) (Lihat Gambar 2).

Gambar 2

Komponen perpindahan titik simpul

Dalam bentuk vektor, persamaan (1) dapat dituliskan menjadi :

Metode Elemen Hingga - 2

2
1x y 0 0 0

0 0 0 1 x y
v

5

6

atau {u} = [] {} ................................................................................ (2)


Evaluasi persamaan (2) pada setiap titik simpul menghasilkan :

ada di halaman II-3

atau {d} = [A] {} ................................................................................ (3)


sehingga :
{} = [A]-1 {d} ............................................................................. (4)

Dengan mensubstitusikan persamaan (4) ke dalam persamaan (2) akan


diperoleh hubungan antara perpindahan elemen dan perpindahan titik
simpul sebagai berikut :
{u} = [] [A]-1 {d} ........................................................... (5)
atau

{u} = [N] {d} = [ [I]Ni [I]Nj [I]Nk ] {d} ................................. (6)

Pada persamaan ini :


[I] adalah matriks identitas 2x2
Ni =

ai bix ciy
2
Metode Elemen Hingga - 3

dengan ai = xjyk - xkyj, bi = yj - yk = yjk, ci = xk - xj = xkj dan koefisien


lainnya diperoleh melalui permutasi siklis dengan urutan i,j,k, serta
1

2 = det 1
1

xi
xj

xk

yi

y j = 2 x Luas segitiga ijk


yk

2.3. PENDEFINISIAN HUBUNGAN REGANGAN-PERPINDAHAN DAN


HUBUNGAN TEGANGAN-REGANGAN
Regangan total pada setiap titik di dalam elemen dapat didefinisikan oleh
ketiga komponennya, sebagai berikut :

{} =

y =

xy

u
x
v
y

v
y x

atau {} = [] {u} ................................................................................... (7)


Dengan mensubstitusikan persamaan (6) ke dalam persamaan (7) akan
diperoleh hubungan antara regangan elemen dan perpindahan titik simpul
sebagai berikut :
{} = [] [N] {d} = [B] {d} .............................................................. (8)
dengan

[B] = .............................................................................................. (9)


Hubungan tegangan-regangan menurut teori elastisitas adalah :
{} = [E] {} .........................................................................

(10)

Metode Elemen Hingga - 4

Untuk asumsi regangan bidang :

[E] =

sedangkan untuk asumsi tegangan bidang :

[E] =

2.4. PEMBENTUKAN MATRIKS KEKAKUAN ELEMEN DAN PENENTUAN


BEBAN EKIVALEN TITIK SIMPUL
Menurut prinsip usaha virtual, bila pada suatu struktur yang berada dalam
keadaan setimbang diberikan suatu perpindahan virtual yang kecil dalam
batas-batas deformasi yang masih dapat diterima, maka usaha virtual dari
beban luar sama dengan energi regangan virtual dari tegangan di dalamnya
[WEAVER Jr. and JOHNSTON, terjemahan Markus R. Kusuma (1993)].
Bila prinsip di atas diterapkan pada elemen hingga akan diperoleh :
W internal = W eksternal ...................................................

(11)

dengan :
W internal

= energi regangan virtual dari tegangan

dalam
W eksternal = usaha virtual beban luar pada elemen
Dengan mengasumsikan adanya perpindahan virtual kecil pada setiap titik
simpul, {d}, dan dengan menggunakan persamaan (6), maka perpindahan
virtual elemen akan menjadi :
{u} = [N] {d} ....................................................................

(12)

Dengan menggunakan hubungan persamaan (8) akan diperoleh regangan


virtual elemen sebagai :

Metode Elemen Hingga - 5

{} = [B] {u} .....................................................................

(13)

dan energi regangan virtual dari tegangan dalam menjadi :


W internal = .........................................................................

(14)

Usaha virtual luar dari beban titik simpul, {r} dan gaya tubuh, {b} :
W eksternal = ......................................................................

(15)

Dengan mensubstitusikan persamaan (14) dan (15) ke dalam persamaan


(11), diperoleh :
.............................................................................................

(16)

dan dengan mensubstitusikan {} dari persamaan (10) serta transpos dari


persamaan (12) dan (13) akan dihasilkan :
.............................................................................................

(17)

Selanjutnya, dengan mensubstitusikan {} dari persamaan (8) serta membagi


kedua ruas dengan {d}T , persamaan (17) akan menjadi :
.............................................................................................

(18)

yang dapat dituliskan kembali dalam bentuk :


[k] {d} = {r} - {rb} ...............................................................

(19)

dengan
[k]

= matriks kekakuan elemen = .........................

{d} = vektor perpindahan titik simpul


{r}

= vektor beban titik simpul

{rb} = vektor beban ekivalen titik simpul akibat gaya tubuh {b}
= ................................
Jika gaya tubuh yang bekerja pada elemen dapat dituliskan sebagai vektor :

Metode Elemen Hingga - 6

bx

{b} =

by

maka vektor beban ekivalen titik simpul adalah [ COOK, et.al (1989),
WEAVER

and

JOHNSTON,

terjemahan

Markus

R.

Kusuma

(1993),

ZIENKIEWICS and TAYLOR (1989)] :


bx
b
y
b
x

{rb} = - b t .................................................................
y 3

(20)

b
x
b
y

yang berarti bahwa beban total pada arah sumbu x dan sumbu y akibat dari
gaya tubuh akan didistribusikan kepada setiap titik simpul dalam tiga bagian
yang sama besar. Oleh karena itu, jika satu-satunya gaya tubuh yang
bekerja pada elemen adalah berat jenisnya ( pada Gambar 3), maka beban
ekivalen titik simpul yang ditimbulkannya adalah :
0

0

{rb}= -

0

Gambar 3

t
................................................................ (21)
3

Berat jenis dan beban ekivalen titik simpul

Jika pada sisi i-j terdapat beban garis konstan (beban per satuan panjang)
pada arah sumbu x (b x pada Gambar 4), maka beban ekivalen ditimbulkannya

Metode Elemen Hingga - 7

adalah [REDDY (1993), WEAVER and JOHNSTON, terjemahan Markus R.


Kusuma (1993)] :
1
0
bx Lij 1
{rb} =
............................................................
2 0
0
0

Gambar 4

(22)

Beban garis konstan dan gaya ekivalen titik simpul

2.5. PENYUSUNAN MATRIKS KEKAKUAN GLOBAL DAN VEKTOR BEBAN


GLOBAL

Gambar 5 menunjukkan suatu struktur yang terdiri atas dua elemen sigitiga.
Titik simpul pada elemen 1 adalah 1, 2, dan 4, sedangkan titik simpul pada
elemen 2 adalah 2, 3, dan 4.

Metode Elemen Hingga - 8

k
j

1
1

Gambar 5
Struktur dengan empat titik simpul dan dua elemen
[COOK et.al (1989)]
Jika pada masing-masing titik simpul hanya terdapat satu derajat
kebebasan (misalnya perpindahan pada arah x), maka bentuk persamaan
kesetimbangan [k] {d} = {r} untuk setiap elemen adalah :
[k]1 {d}1 = {r}1 atau

untuk elemen 1
[k]2 {d}2 = {r}2 atau

untuk elemen 2

Jika vektor perpindahan global dan vektor beban adalah :

Metode Elemen Hingga - 9

D1

R1

D
2

{D} = D dan {R} =


3
D
4

R
2

R
3
R
4

maka untuk elemen 1 dapat dituliskan :


ri

= a 1di + a 2dj + a 3dk

rj

= a 4di + a 5dj + a 6dk

R1 = a1D1 + a2D4 + a3D2


dan

r k = a 7di + a 8dj + a 9dk

R4 = a4D1 + a5D4 + a6D2 ............ (23)


R2 = a7D1 + a8D4 + a9D2

(secara lokal)

(secara global)

dan dengan mengurutkan D, kontribusi elemen 1 terhadap persamaan


kesetimbangan global dapat dituliskan sebagai :

......................................................................................... (24)

Untuk elemen 2 dapat dituliskan :


ri

= b 1di + b 2dj + b 3dk

rj

= b 4di + b 5dj + b 6dk

R4 = b1D4 + b2D3 + b3D2


dan

R3 = b4D4 + b5D3 + b6D2 ............. (25)

r k = b 7di + b 8dj + b 9dk

R2 = b7D4 + b8D3 + b9D2

(secara lokal)

(secara global)

sehingga kontribusi elemen 2 untuk persamaan kesetimbangan global dapat


dituliskan sebagai :

.......................................................................................... (26)

Dengan menggabungkan persamaan (24) dan (26) diperoleh :

Metode Elemen Hingga - 10

.......................................................................................... (27)

atau {R} = [K] {D} ............................................................................... (28)


2.6. PEMASUKAN KONDISI BATAS PERPINDAHAN
Jika terdapat titik simpul dengan nilai perpindahan tertentu maka baris yang
berhubungan dengan titik simpul tersebut pada matriks [K] pada persamaan
(28) dapat diabaikan. Selain itu, hasil perkalian antara elemen matriks [K]
dengan perpindahan yang diketahui dapat ditransfer ke vektor beban yang
diketahui (ruas kiri pada persamaan (28)). Hal ini akan menghapuskan
nomor kolom yang sama dengan nomor baris dengan perpindahan yang
diketahui.
Oleh karena itu, dengan dimasukkannya kondisi batas perpindahan, maka
ukuran dari matriks [K] dapat dikurangi.
2.7. PENYELESAIAN PERSAMAAN KESETIMBANGAN UNTUK MENDAPATKAN PERPINDAHAN TITIK SIMPUL
Persamaan (28) dapat diselesaikan dengan berbagai metode. Salah satu
metode penyelesaian yang paling banyak digunakan adalah Eliminasi
Gauss [COOK et.al. (1989), PRIOU (1983), REDDY (1993), WEAVER Jr. and
JOHNSTON, terjemahan Markus R. Kusuma (1993), ZIENKIEWICS and
TAYLOR (1989)].

2.8.PERHITUNGAN TEGANGAN ELEMEN


Dengan diketahuinya perpindahan titik simpul, maka regangan elemen
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (8) dan selanjutnya
dengan menggunakan persamaan (10), tegangan elemen dapat dihitung.

Metode Elemen Hingga - 11

3. PENERAPAN METODE ELEMEN HINGGA DENGAN MODEL


SEDERHANA

3.1. MODEL
Model yang digunakan adalah suatu model sederhana yang terdiri atas satu
elemen dengan satu gaya luar (Lihat Gambar 6).

halaman III-1

Gambar 6

Model sederhana satu elemen material mempunyai karakteristik

sebagai berikut :
a. Modulus elastisitas (E) = 1000 MPa
b. Nisbah Poisson ()

= 0.20

Metode Elemen Hingga - 12

3.2. PERHITUNGAN
3.2.1. Penyusunan Matriks [B]
Dengan menggunakan persamaan (9), matriks [B] adalah :

[B] = ....................................................................................... (29)

3.2.2. Penyusunan Matriks [E]


Dengan menggunakan persamaan (10), matriks [E] adalah :

[E] = ....................................................................................... (30)

3.2.3. Penyusunan Matriks [k]


Dengan menggunakan persamaan (19), matriks [k] adalah :

[k] = ...................................................................................... (31)

3.2.4. Penyusunan Persamaan Global


Karena hanya terdapat satu elemen, maka matriks kekakuan global, [K],
adalah sama dengan matriks kekakuan elemen, [k]. Demikian pula, vektor
gaya global, {R}, adalah sama dengan vektor beban elemen, {r}.
Persamaan global menjadi :

Metode Elemen Hingga - 13

................................................................................................ (32)

Karena u1=v1=u2=v2=0 dan rx1=ry1=rx2=ry2=0, maka persamaan di atas


dapat disederhanakan menjadi :
................................................................................................ (33)

3.2.5. Penyelesaian Persamaan Global


Dengan menyelesaikan persamaan (34), diperoleh :
u3 = 0.000
v3 = -0.045
3.2.6. Perhitungan Regangan
Dengan menggunakan persamaan (8), regangan pada elemen :

{} = ........................................................................................ (34)

3.2.7. Perhitungan Tegangan


Dengan menggunakan persamaan (10), tegangan elemen adalah :

{} = ....................................................................................... (35)

Metode Elemen Hingga - 14

4. PENERAPAN METODE ELEMEN HINGGA PADA ANALISIS


KEMANTAPAN LERENG

4.1. DISKRETISASI
Pada model lereng yang akan dianalisis dilakukan diskretisasi, yaitu
membagi model lereng menjadi elemen-elemen. Yang harus diperhatikan
pada tahap ini adalah bahwa elemen-elemen yang dibentuk pada lereng
tersebut harus menggambarkan keadaan lereng yang sebenarnya. Pada
Gambar 7 diberikan contoh model lereng yang terdiri atas satu material
(homogen) sedangkan pada Gambar 8 diberikan contoh model lereng yang
terdiri atas beberapa material.
4.2. PEMBEBANAN
Pada lereng, pembebanan dapat berasal dari beratnya sendiri maupun
diakibatkan oleh adanya beban-beban luar.

Metode Elemen Hingga - 15

Gambar 7

Diskretisasi lereng dengan material homogen

Metode Elemen Hingga - 16

Gambar 8

Diskretisasi lereng dengan material heterogen

4.3. KONDISI BATAS


Pada batas-batas dari model dapat diberikan kondisi batas, yang umumnya
adalah kondisi batas perpindahan (lihat Gambar 9). Pada batas kiri dan
kanan dapat diasumsikan bahwa hanya terjadi perpindahan vertikal,
sedangkan pada batas bawah dapat diasumsikan hanya terjadi perpindahan
horisontal.

Metode Elemen Hingga - 17

Gambar 9

Kondisi batas model lereng

4.4. HASIL PERHITUNGAN


Metode elemen hingga akan dapat memberikan perpindahan pada setiap
titik (node) maupun tegangan pada setiap elemen. Dengan diketahuinya
perpindahan dan tegangan ini, maka gambaran mengenai kemantapan
lereng akan dapat diketahui.
Khusus untuk tegangan, analisis selanjutnya yang umum dilakukan adalah
perhitungan faktor keamanan setiap elemen, khususnya elemen-elemen di
sekitar toe, dengan menggunakan lingkaran Mohr (Lihat Gambar 10).

Metode Elemen Hingga - 18

Gambar 10

Perhitungan faktor keamanan elemen

4.5. CONTOH
Lereng batugamping dengan tinggi 15 meter dan kemiringan 70 o dianalisis
metode

elemen

hingga,

menggunakan

Program

Rheo-Staub

dari

Department of Rock Engineering, Federal Institute of Technology, Swiss.


Parameter material pembentuk lereng :
Berat satuan

= 0,0268 MN/m3

Modulus elastisitas = 14875 MPa


Nisbah Poisson

= 0,26

Kohesi

= 0,37 MPa

Sudut geser dalam = 14,85 derajat


4.5.1. Model Geometri
Model lereng terdiri atas 536 titik simpul dan 1000 elemen segitiga (Lihat
Gambar 11).

Gambar 11

Model geometri

4.5.2. Kondisi Batas


Pada batas kiri dan kanan model diasumsikan hanya terjadi perpindahan
vertikal sedangkan pada batas bawah model diasumsikan hanya terjadi
perpindahan horisontal (lihat Gambar 12).

Metode Elemen Hingga - 19

Gambar 12

Kondisi batas

4.5.3. Pembebanan
Pembebanan yang diterapkan adalah semata-mata berat dari material
pembentuk lereng.
4.5.4. Hasil Perhitungan
Hasil perhitungan yang berupa perpindahan dan tegangan diberikan pada
Gambar 13 dan Gambar 14, sedangkan hasil selengkapnya diberikan pada
Lampiran.

Metode Elemen Hingga - 20

Gambar 13

Vektor perpindahan

Gambar 14

Trajektori tegangan

Metode Elemen Hingga - 21

LAMPIRAN

PERPINDAHAN TITIK SIMPUL

Metode Elemen Hingga - 22

LAMPIRAN

TEGANGAN ELEMEN

Metode Elemen Hingga - 23