Anda di halaman 1dari 9

RANGKUMAN MATA KULIAH

AUDIT KEUANGAN NEGARA


Audit Atas Transaksi Belanja

DISUSUN OLEH :

LILI SUMARNI

( 1102113014 )

EMIL REGINA FRANSISKA

( 1102136412 )

SITI HANASTASIA .H

( 1202135429 )

AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS RIAU
2014

Audit atas transaksi penerimaan dan


pengeluaran kas
Sifat Transaksi
Sifat-sifat kas adalah:
1.

Kas selalu terlibat dalam hampir semua transaksi-transaksi


perusahaan.

2.

Kas merupakan harta yang siap dan mudah untuk digunakan dalam
transaksi dan ditukarkan dengan harta lain, mudah dipindahkan
dan seragam, tanpa tanda pemilikan.

3.

Jumlah uang kas yang dimiliki oleh perusahaan harus dijaga


sedemikian rupa sehingga tidak terlalu banyak dan tidak kurang.
Jumlah uang kas yang terlalu banyak bagi perusahaan tidak efisien,
karena penyimpanan uang membutuhkan biaya dan nilai uang yang
selalu menurun. Sedangkan jumlah yang kurang, bagi perusahaan
juga merugikan karena perusahaan tidak dapat segera
memanfaatkan kesempatan yang ada.
Karena sifat-sifat tersebut, sering terjadi kecurangan-kecurangan
terhadap kas yang meliputi:
1.

Check kiting, terjadi apabila pada suatu saat (akhir periode) suatu
transfer dana dibuat dengan cek dari suatu rekening bank
dimasukkan sebagai deposit ke rekening bank lain, tetapi tidak ada
pencatatan yang mengurangi jumlah uang kas pada rekening bank
yang ceknya dikeluarkan, ditunda sampai awal periode berikutnya.
Laporan bank yang menerima transfer diharapkan akan menambah
kas perusahaan sejumlah transfer, atau kalau tidak, dinyatakan ada

setoran dalam perjalanan. Sementara itu tidak ada pengurangan kas


pada bank yang ceknya dikeluarkan. Dengan demikian kekurangan
uang kas untuk sementara dapat disembunyikan, atau jumlah uang
kas dilaporkan lebih besar dari yang sebenarnya.
2.

Lapping, terjadi apabila hasil penagihan piutang dari suatu


langganan tidak dicatat, kemudian penerimaan kas dari langganan
yang lain berikutnya di kreditkan pada rekening piutang yang tidak
dicatat tersebut. Misalkan perusahaan menerima piutang berturutturut Rp 30; Rp 40 dan Rp 50 berturut-turut dari X, Y dan Z.
Penerimaan piutang dari X tidak dicatat, kemudian penerimaan
piutang dari Y dikreditkan pada rekening X, dan selanjutnya
penerimaan piutang dari Z dikreditkan pada rekening Y. Demikian
selanjutnya, sehingga selalu ada penundaan terhadap pengakuan
jumlah uang kas.

3.

Penjualan kredit tidak dicatat, kemudian hasil penagihannya tidak


dimasukkan sebagai kas perusahaan.

4.

Adanya transaksi-transaksi biaya yang bersifat fiktif.

5.

Pembebanan cek-cek pribadi ke perusahaan.

6.

Pelunasan piutang tidak dicatat sebagai penambahan kas tetapi


mendebit rekening cadangan kerugian piutang atau cadangan lain.

7.

Menyalahkan perhitungan kas perusahaan.


Untuk menghindari terjadinya kecurangan terhadap kas tersebut
diatas diterapkan sistem pengawasan intern terhadap kas yang
meliputi pengawasan administratif maupun pengawasan akuntansi.

Pengawasan administratif berkaitan dengan struktur organisasi dan


prosedur-prosedur yang dibutuhkan untuk mengelola dan mengatur
otorisasi transaksi-transaksi kas.Pengawasan akuntansi merupakan suatu

sistem yang diterapkan untuk menjamin bahwa transaksi-transaksi kas


dilakukan sesuai dengan sistem otorisasi yang berlaku, dicatat secara
lengkap sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku.

Mendapatkan Pemahaman dan Menilai Resiko


Pengendalian
Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien Yang mempengaruhi Kas
(Tahap I)
Banyak perusahaan yang tidak memiliki risiko bisnis yang cukup
signifikan dalam memengaruhi saldo kas. Risiko bisnis klien dapat
muncul dari kebijakan menajemen kas yang tidak memadai atau
penanganan dana yang dilakukan pihak luar.
Risiko bisnis klien lebih banyak muncul dari setara kas dan jenis
investasi lainya. Beberapa perusahaan yang menyediakan jasa keuangan
mengalami kerugian besar akibat aktivitas perdagangan oleh perorangan
yang disembunyikan dengan salah menyajikan saldo investasi dan kas.
Auditor harus memahami risiko dari kebijakan dan strategi investasi
klien, sama halnya dengan pengendalian manajemen yang dapat
memperburuk risiko tersebut.
Menetapkan Salah Saji yang Dapat Diterima dan Menilai Risiko
Bawaan (Tahap I)
Saldo kas tidak material dalam kebanyakan audit, tetapi transaksi kas
yang memengaruhi saldo ini sifatnya hampir selalu sangat material. Oleh
karena itu, sering muncul potensi salah saji material dalam kas.
Oleh karena kas lebih mudah dicuri dibandingkan aset lainya,
terdapat risiko bawaan cukup tinggi untuk tujuan keberadaan,
kelengkapan dan akurasi. Tujuan ini biasanya akan berfokus pada audit
saldo kas. Risiko bawaan relatif kecil untuk tujuan lainya.

Menilai Risiko Pengendalian (Tahap I)


Pembagian internal terhadap saldo kas akhir tahun dalam akun
umum dapat dibagi dalam dua kategori:
1. Pengendalian terhadap siklus transaksi yang mempengaruhi
pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas.
2. Rekonsiliasi bank independen.

Pengujian Pengendalian
Merancang Pengujian atas Rincian Saldo Kas (Tahap III)
Langkah awal dalam memverifikasi saldo akun bank umum adalah
memperolehrekonsiliasi bank dari klien untuk dicantumkan
dalam dokumentasi auditor.
Untuk mengaudit kas di bank, auditor memverifikasi apakah
rekonsiliasi bank yangditerima dari klien tersebut sudah benar. Tujuan
audit yang berhubungan dengan saldodan pengujian atas rincian saldo
adalah pengujian atas eksistensi, kelengkapan, dankeakuratan.
Berikut adalah tiga prosedur yang layak dibahas lebih lanjut
karena arti penting dankompleksitasnya, yaitu:
1.Penerimaan konfirmasi bank
Walaupun tidak diharuskan oleh standar auditing, biasanya auditor
memintapenerimaan konfirmasi langsung dari setiap bank atau dari
institusi keuangan lainnyadimana klien melakukan bisnis, kecuali ada
sejumlah besar akun yang tidak aktif. Jika banktidak merespons
permintaan konfirmasi, auditor harus mengirimkan permintaan
keduaatau meminta klien untuk berkomunikasi dengan bank untuk
memintanya melengkapi danmengembalikan konfirmasi ke auditor.
Untuk memudahkan auditor dan juga banker yangdiminta untuk mengisi

konfirmasi bank, AICPA menyetujui penggunaan formulirkonfirmasi


bank standar.
2.Penerimaan Laporan Pisah Batas Bank
Laporan pisah batas Bank (cutoff bank statement ) adalah laporan
bank periodeparsial dan cek yang dibatalkan yang terkait, salinan slip
deposit, dan dokumen lain yangtercantum dalam laporan dikirimkan
langsung oleh bank ke kantor akuntan publik. Tujuandari laporan pisah
batas bank adalah untuk memverivikasi item rekonsiliasi
padarekonsiliasi bank akhir tahun.
Pengujian untuk salah saji yang disengaja, auditor melaksanakan
verifikasi berikut dalambulan setelah tanggal neraca :
1. Memfoot daftar semua cek yang dibatalkan, memo debet, setoran,
dan memo kredit
2. Memverifikasi bahwa laporan bank dalam keadaan seimbang
ketika total footingdigunakan
3. Mereview item yang dilibatkan dalam footing untuk memastikan
bahwa hal itu telahdibatalkan oleh bank pada periode yang benar
dan tidak memasukan penghapusan atauperubahan.
3.Pengujian Rekonsiliasi Bank
Rekonsiliasi Bank Independen yang disiapkan dengan baik
merupakan pengendalianinternal yang penting terhadap kas. Auiditor
menguji rekonsiliasi bank untuk menentukanapakah personil klien telah
membuat rekonsiliasi bank dengancermat dan untukmemverifikasi
apakah saldo bank yang tercatat milik klien sama jumlah ya dengan
kasaktual di bank kecuali setoran dalam perjalanan, cek yang beredar,
dan item rekonsiliasilainya.
Prodedur verifikasi atas rekonsiliasi :

1. Memverifikasi bahwa rekonsilasi bank klien sudah akurat


secara matematis
2. Menulusuri saldo pada konfirmasi bank dan/ atau saldo awal pada
laporan pisah batas kesaldo per bank pada rekonsiliasi bank untuk
memastikan saldo tersebut sama.
3. Menulusuri cek yang ditulis dan dicatat sebelum akhir tahun dan
dimasukan denganlaporan pisah batas bank ke daftar cek yang
beredar pada rekonsiliasi bank dan ke jurnalpengeluaran kas pada
periode itu atau periode-periode sebelum tanggal neraca.
4. Menyelidiki semua cek yang signifikan yang tercantum
dalam daftar cek yang beredar yangbelum dikliring oleh bank pada
laporan pisah batas.
5. Menelusuri setoran dalam perjalanan ke laporan pisah batas bank
6. Memperhitungkan item yang direkonsiliasi lainnya pada laporan
bank dan rekonsiliasibank.

Prosedur Analisis
Rekonsiliasi bank akhir tahun diaudit secara ekstensif. Karena
itu, penggunaanprosedur analitis untuk menguji kewajaran saldo
kas menjadi kurang pentingdibandingkan untuk sebagian besar audit
lainnya.
Umumnya auditor membandingkan saldo akhir pada rekonsiliasi
bank, setoran dalamperjalanan, cek yang beredar, dan item rekonsiliasi
lainnya dengan rekonsiliasi tahunsebelumnya. Demikian juga, auditor
biasanya membandingkan saldo akhir kas dengansaldo bulan
sebelumnya. Prosedur analitis tersebut mungkin akan mengungkap salah
sajidalam kas
Lakukan prosedur analitik
-Hitung ratio berikut ini :

(1) Ratio kas dengan aktiva lancer


Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan yang
didasarkan pada datamasa lalu, data industri, jumlah yang
dianggarkan, atau data lain
Bandingkan saldo kas dengan jumlah yang dianggarkan atau saldo
kas akhir tahunyang lalu
Pengujian terhadap transaksi Rinci
3. Lakukan pengujian pisah batas transaksi kas
Buatlah rekonsiliasi saldo kas menurut cut off bank
statement dengan saldo kasmenurut catatan klien.
Usut setoran dalam perjalanan (deposit in trnsit) pada tanggal
neraca ke dalam cutoff bank statement.
Periksa tanggal yang tercantum didalam cek yang beredar
pada tanggal neraca.
Periksa adanya cek kosong yang tercantum di dalam cut off bank
statement.
Periksa semua cek didalam cut off bark statement mengenai
kemungkinananhilangnya cek yang tercantum sebagai cek yang
beredar pada tanggal neraca.
4. Buatlah daftar transfer bank dalam periode sebelum dan sesudah
tanggal neraca untukmenemukan kemungkinan terjadinya check
kitting
5. Buatlah dan lakukan analisis terhadap rekonsiliasi bank 4 kolom
6. Periksa adanya kemungkinan penggelapan kas dengan cara lapping
penerimaan danpengeluaran kasPengujian terhadap akun Rinci.
7. Hitung kas yang ada ditangan klien.
8. Rekonsiliasi catatan kas klien dengan Rekening Koran bank yang be
rsangkutan.
9. Lakukan konfirmasi saldo kas di bank.

10. Periksa cek yang beredar pada tanggal neraca kedalam rekening
Koran bank VerifikasiPenyajian dan Pengungkapan Kas.
11. Bandingkan penyajian utang usaha dengan prinsip akuntansi
berterima umum
o Periksa jawaban konfirmasi dari bank mengenai batasan yang
dikenakan terhadappemakaian rekening tertentu klien di
bank.
o Lakukan wawancara dengan manajemen mengenai batasan p
enggunaan kas klien

Pengujian Substantive
Karena saldo kas dipengaruhi oleh semua siklus lain kecuali persediaan
dan pergudangan, adabanyak sekali transaksi yang mempengaruhi kas.
Sebagai contoh, pengendalian terhadappenerimaan kas seperti transaksi
kas diaudit sepanjang pengujian siklus transaksi tersebut.
Prosedur Audit Awal
1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun yang akan diuji lebih
lanjut.
Usut saldo kas yang tercantum di neraca ke saldo akun
kas yang bersangkutandidalam buku besar.
Hitung kembali saldo akun kas di dalam buku besar.
Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah
dan sumber posting dalamakun kas.
Usut posting pendebitan akun kas ke dalam jurnal yang
bersangkutan