Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI
FARMAKODINAMIKA OBAT

Disusun Oleh :
Alpin Sayid Pratama
Farikha
Meidina Istoqoma
Rika Nuraeni
Sherlynda Febriani

P17335113053
P17335113002
P17335113016
P17335113038
P17335113018

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


JURUSAN D-III FARMASI
2014

LAPORAN PRAKTIKUM
KELOMPOK 3
Hari/Tanggal : Rabu, 16 April 2014
Judul

: Mengetahui efek farmakodinamika obat pada hewan percobaan

Tujuan

Mengetahui sifat-sifat PbAsetat dan Na-EDTA.

Mengetahui efek pemberian PbAsetat dan Na-EDTA pada hewan percobaan.

Mengetahui reaksi yang ditimbulkan pada hewan percobaan setelah pemberian


PbAsetat dan Na-EDTA secara oral.

Teori Dasar

Mekanisme Kerja Obat


Pada tahun 1970-an telah dilakukan banyak penyelidikan pada tingkat molekul
untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam mengenai interaksi biokimiawi
antara zat-zat endogen dan sel-sel tubuh. Ternyata bahwa reaksi demikian hampir
selalu berlangsung di suatu tempat reaksi spesifik, yaitu di reseptor (sel penerima)
atau enzim.
Sudah lama diketahui bahwa semua proses fisiologi dalam tubuh diregulasi
oleh zat-zat pengatur kimiawi (regulator endogen), yang masing-masing mempunyai
titik kerja khas di suatu atau lebih organ. Meskipun terdapat ratusan regulaotr,
terutama hormon dan neurotransmitters (neoadrenalin, serotonin, dopamin, dan lainlain) namun setiap zat mengetahui dengan tepat dimana letaknya sel dan organ
tujuannya.
Receptor-blockers. Obat yang struktur kimianya mirip dengan suatu hormon,
mampu menduduki pula reseptor bersangkutan dan demikian merintangi aktivitas
hormon tersebut. Obat demikian dinamakan perintang-reseptor dan sebagai contoh
adalah adrenoceptor blockers (beta-blockers). (Tjai, T.H., Rahardja K. 2008)
Enzim-enzim
Enzim terdiri dari protein dan bekerja sebagai katalisator antara dua zat kimia,
yakni mempermudah atau mendorong suatu reaksi tanpa sendirinya turut ambil

bagian. Proses enzimatis di dalam tubuh yang terkenal adalah pencernaan bahan gizi:
protein, karbohidrat, lemak, kolestrol, dan sebagainya.
Enzyme-blockers. Obat-obat tertentu yang memiliki kesamaan struktur
kimiawi dengan suatu substrat mampu menduduki titik aktif dari enzim
bersangkutan, hingga reaksi normal tidak terjadi dan produk akhir tidak terbentuk.
Perintang-enzim demikian digunakan dalam terapi untuk berbagai tujuan, yakni:

Mencegah pembentukan produk akhir.

Melindungi substrat.

Efek Obat Yang Tak Diinginkan


a. Efek samping
Menurut WHO (1970) efek samping suatu obat adalah segala sesuatu khasiat
yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang dimaksudkan pada dosis yang
dianjurkan.
Efek samping adakalanya tidak dapat dihindarkan, misalnya rasa mual pada
penggunaan digoksin, ergotamin atau estrogen dengan dosis yang melebihi dosis
normal. Kadang-kadang efek samping merupakan kelanjutan efek utama sampai
tingkat yang tidak diinginkan, misalnya rasa kantuk fenobarbital, bila digunakan
sebagai obat epilepsi.
b. Idiosinkrasi
Idiosinkrasi adalah peristiwa, padamana suatu obat memberikan efek yang
secara kualitatif total berlainan dari efek normalnya. Umumnya hal ini disebabkan
oleh kelainan genetis pada pasien bersangkutan.
c. Alergi
Gejala alergi yang terpenting dan seirng tampak pada kulit adalah urtikaria
(gatal dan bentol-bentol) serta rash (kemerah-merahan). Adakalanya sifatnya lebih
hebat: demam, serangan asma, anaphylactic shock, juga kelainan darah seperti
anemia aplastis yang sering kali fatal.
d. Fotosensitasi
Fotosensitasi adalah kepekaan berlebihan untuk cahaya akibat penggunaan
obat, terutama secara lokal. Guna menghindrkan sebanyak mungkin timbulnya alergi
kontak, dianjurkan agar jangan menggunakan secara lokal alergen-alergen kontak
terkenal, yaitu lima A: Antibiotika, Antiseptika, Anestesika lokal, Antimikotika, dan
Antihistaminika.

1. Efek toksik
Setiap obat dalam dosis yang cukup tinggi dapat mengakibatkan efek toksik.
Pada umumnya, hebatnya reaksi toksik berhubungan langsung dengan tingginya
dosis: bila dosis diturunkan, efek toksik dapat dikurangi pula.
2. Kombinasi obat
Dua obat yang digunakan pada waktu bersamaan dapat saling mempengaruhi
khasiatnya masing-masing, yakni dapat memperlihatkan kerja berlawanan (antagonis)
atau kerja sama (sinergis).
a. Antagonisme terjadi jika kegiatan obat pertama dikurangi atau ditiadakan sama
sekali oleh obat kedua yang memiliki khasiat farmakologi berlawanan, misalnya
barbital dan strychnin, adrenalin dan histamin.
b. Sinergisme adalah kerja sama antara dua obat dan dikenal dua jenis:

Adisi (penambahan). Efek kombinasi adalah sama dengan jumlah kegiatan


dari masing-masing obat, misalnya kombinasi asetosal dan parasetamol, juga
trisulfat.

Potensiasi (peningkatan potensi). Kedua obat saling memperkuat khasiatnya,


sehingga terjadi efek yang melebihi jumlah matematis dari a + b.

3. Interaksi obat
a. Interaksi kimiawi
Obat bereaksi dengan obat lain secara kimiawi, misalnya ikatan fenitoin
oleh kalsium.
b. Kompetisi untuk protein plasma.
Analgetika (salisilat, fenilbutazon, indometasin) klofibrat dan kinidin
mendesak obat lain dari ikatannya pada protein dan demikian memperkuat
khasiatya.
c. Induksi enzim
Obat

yang

menstimulir

pembentukan

enzim

hati,

tidak

hanya

mempercepat eliminasinya, tetapi juga mempercepat perombakan obat lain.


d. Inhibisi enzim
Zat yang mengganggu fungsi hati dan enzimnya, seperti alkohol dapat
memperkuat daya kerja obat lain yang efek dan lama kerjanya tergantung
pada enzim tersebut. (Tjai, T.H., Rahardja K. 2008)

Alat dan Bahan

a. Mencit 3 ekor
b. Jarum suntik oral
c. Wadah pengamatan 3 buah
d. Na-EDTA dosis 0,5 ml/ 20 gram
e. Pb asetat dosis 0,5 ml/ 20 gram
Langkah Kerja

1. Disiapkan alat dan bahan serta hewan percobaan, mencit.


2. Diberi tanda pada ekor mencit, dari 1-3
3. Ditimbang mencit satu-persatu, lalu catat berat mencit
4. Dihitung berapa banyak obat Na-EDTA dan Pb Asetat yang diberikan kepada setiap
mencit
5. Diitung laju napas mencit per menit, kondisi mencit(tremor), dan warna daun telinga
menit, sebelum disuntikan obat
6. Diberikan obat pada setiap mencit yang berbeda sesuai prosedur, diantaranya yaitu :
-

Mencit No.1 beri obat Na-EDTA sebanyak 0,895 ml, lalu beri obat Pb Asetat
sebanyak 0,895 ml.

Mencit No.2 beri obat Pb Asetat sebanyak 0,76 ml, lalu beri obat Na-EDTA
sebanyak 0,76 ml.

Mencit No.3 beri obat Pb Asetat sebanyak 0,77 ml, lalu beri obat Na-EDTA
sebanyak 0,77 ml.

7. Diambil obat yang dibutuhkan (yang telah dihitung tadi dan sesuai dengan pemberian
obat Na-EDTA atau Pb Asetat pada setiap mencit sesuai prosedur) dengan mengunakan
jarum suntik oral (setiap pengambilan dosis obat yang dibutuhkan pasti berbeda-beda,
karena faktor berat badan mencit).
8. Disuntikan kepada mencit melalui cara memberikan obat secara Oral
-

Disiapkan stopwatch

Diambil obat yang akan diberikan pada mencit sesuai berat badan dan sesuai
prosedur pada setiap mencit

Diambil mencit dari kandang, lalu digenggam mencit dengan cara pegang ekor
mencit dengan tangan kanan, lalu digenggam bagian leher mencit dengan tangan
kiri (menggunakan ibu jari dan jari telunjuk), ekor masih tetap dipengang

Lalu diangkat mencit, kemudian dibalikan badan sehingga badan mencit


menghadap ke arah praktikan, dikunci ekor mencit dengan menggunakan jari
kelingking atau jari manis tangan kiri

Lalu dimasukan jarum suntik oral kedalam mulut mencit, dengan perlahan-lahan.

Diberikan sedikit rangsangan pada mencit, sehingga mencit mau menelan jarum
oral sampai ke esophagus (jarum suntik oral jangan dipaksakan untuk masuk)

Jika sudah masuk, maka ditekan jarun suntik oral, sampai isi yang ada di dalamnya
habis masuk ke dalam mencit.

ditekan stopwatch untuk mulai mengamati kerja obat.

9. Diamati perubahan reaksi yang dialami oleh mencit, diantaranya yaitu tremor(kejang),
laju napas, dan perubahan warna telinga. Lalu catat perubahan yang terjadi pada
mencit.
10. Kemudian diberikan obat selanjutnya (Na-EDTA atau Pb Asetat sesuai prosedur yang
sudah tertera diatas pada setiap mencit) secara oral setelah 10 menit kemudian. Lalu
diamati perubahan reaksi yang dialami oleh mencit, diantaranya yaitu tremor (kejang),
laju napas, dan perubahan warna telinga. dicatat perubahan yang terjadi pada mencit.
11. Dilakukan prosedur kerja dari No.8-10 pada mencit selanjutnya.

Data Pengamatan

Data Mencit (Kelompok 3)


Obat dan Dosis yang dipakai

Nomor Mencit

Berat Badan Mencit


(gram)

Na-EDTA (ml)

Pb Asetat (ml)

35,8

0,895

0,895

30,4

0,76

0,76

30,8

0,77

0,77

Data Pengamatan (dari setiap kelompok)


Hasil Pengamatan Kelompok

Pemberian
Obat

Kelompok 1
No.Mencit

10 menit
Tremor(kali)
sebelum
Pemberian Laju Napas
(kali/menit)
Obat
Warna
Telinga
No.Mencit

No.Mencit
Tremor(kali)
Setelah
Pemberian Laju Napas
(kali/menit)
Obat II
Warna
Telinga

Kelompok 3

No.Mencit

No.Mencit

Tremor(kali)

Tremor(kali)

100

108

136

160

136

152

124

136

120

Pth

Pth

Pth

Pth

kM

Pth

AM

Pth

Pth

No.Mencit

No.Mencit

Tremor(kali)

Tremor(kali)

200

184

188

220

216

148

132

132

PP

PP

PP

Pth

kM

Pth

AM

AM

Pth

No.Mencit

No.Mencit

Tremor(kali)

Tremor(kali)

98

126

120

216

68

136

140

128

128

Mm

Mm

Mm

Pth

kM

Pth

SM

AM

Pth

Tremor(kali)
Setelah
Pemberian Laju Napas
130
(kali/menit)
Obat I
Warna
Telinga

Kelompok 2

Laju Napas
(kali/menit)

Warna
Telinga

Laju Napas
(kali/menit)

Warna
Telinga

Laju Napas
(kali/menit)

Warna
Telinga

Laju Napas
(kali/menit)

Warna
Telinga

Laju Napas
(kali/menit)

Warna
Telinga

Laju Napas
(kali/menit)

Warna
Telinga

Hasil Pengamatan Kelompok

Pemberian
Obat

Kelompok 4
No.Mencit

Kelompok 5
3

No.Mencit

Kelompok 6
3

No.Mencit

128

104

Pth

Pth

Pth

224

172

Pth

AM

AM

Mati

156

Pth

Pth

AM

10 menit
Tremor(kali)
Tremor(kali)
Tremor(kali)
sebelum
Pemberian Laju Napas 196 152 160 Laju Napas 140 156 120 Laju Napas 128
(kali/menit)
(kali/menit)
(kali/menit)
Obat
Warna
Warna
Warna
Telinga
No.Mencit

Telinga
No.Mencit

Telinga
No.Mencit

Tremor(kali)
12 Tremor(kali)
12 Tremor(kali)
Setelah
Pemberian Laju Napas
Laju Napas
Laju Napas
237 201 260
172 204 260
120
(kali/menit)
(kali/menit)
(kali/menit)
Obat I
Warna
Telinga

PP

PP

Warna
Telinga

Warna
Telinga

No.Mencit

No.Mencit

No.Mencit

Tremor(kali)
7
3
Tremor(kali)
7
3
Tremor(kali)
Setelah
Pemberian Laju Napas
Laju Napas
Laju Napas
104 172 180
104 172 180
(kali/menit)
(kali/menit)
(kali/menit)
Obat II
Warna
Telinga

Keterangan
-

AM
kM
PP
K

PP

Warna
Telinga

Warna
Telinga

:
:
:
:
:

Agak Merah
Kemerahan
Putih Pucat
Kream

Mm
SM
Pth

: Merah muda
: Semakin Merah
: Putih

PEMBAHASAN
Efek kebanyakan obat terjadi karena interaksi antara obat dan reseptorreseptor spesifik. Untuk suatu interaksi reversibel antara obat A dan reseptor R serta
perbandingan antara efek yang timbul dan jumlah reseptor yang diduduki, maka
berlaku:
A+R

AR efek (aktivitas intrinsik).

Zat kimia atau obat yang mengaktivasi reseptor dan menghasilkan respons
disebut agonis. Beberapa obat, yang disebut antagonis, berikatan dengan reseptor
namun tidak mengaktivasinya. Antagonis menurunkan kemungkinan zat transmitor
(atau agonis lain) berikatan dengan reseptor sehingga mengurangi atau memblok kerja
transmitor tersebut.
Aktivitas suatu agonis merupakan hasil dari afinitas dan aktivasi intrinsik
(efikasi). Afinitas adalah kemampuan untuk mengikat reseptor, sedangkan aktivitas
intrinsik adalah kemampuan untuk menimbulkan suatu efek. Suatu obat disebut
agonis penuh bila obat tersebut dapat menimbulkan respons maksimal walaupun tidak
semua reseptor diduduki sebab agonis penuh memiliki efikasi yang tinggi.
Sebaliknya, suatu antagonis tidak menimbulkan efek apa-apa karena efikasi antagonis
adalah nol dan hanya mempunyai afinitas kepada reseptor saja. Suatu obat yang
memiliki efikasi rendah dapat menghasilkan suatu respons yang kurang dari
maksimal, walaupun hampir semua reseptor diikatnya. Obat-obat yang memiliki
efikasi rendah dan memiliki sifat-sifat yang terletak di antara agonis penuh dan
antagonis disebut sebagai agonis parsial. Sebagai contoh, morfin adalah suatu
agonis penuh pada reseptor opioid (aktivitas intrinsik morfin = 1), sedangkan
nalokson adalah suatu antagonis pada reseptor opioid (aktivitas intrinsik nalokson =
0). Pantazosin merupakan suatu agonis parsial pada reseptor opioid (aktivitas
intrinsik pentazosin = antara nol dan satu).
Agonis parsial
Agonis ini tidak dapat menimbulkan respons maksimal yang sama seperti
agonis penuh. Alasan untuk hal tersebut tidak diketahui. Ada pendapat yang
menyatakan bahwa agonisme tergantung pada afinitas kompleks obat-reseptor
terhadap molekul transduser. Agonis penuh menghasilkan suatu kompleks dengan
afinitas tinggi terhadap transduser, sementara kompleks agonis parsial-reseptor
mempunyai afinitas lebih rendah terhadap transduser sehingga tidak dapat
8

menimbulkan respons penuh. Saat agonis parsial bekerja sendiri pada reseptor, agonis
ini menstimulasi suatu respons fisiologis, namun dapat mengantagonis efek dari
agonis penuh. Hal ini disebabkan beberapa reseptor yang sebelumnya ditempati oleh
agonis penuh menjadi ditempati oleh agonis parsial yang mempunyai efek kecil.
Antagonis kompetitif
berikatan secara reversibel dengan reseptor dan respons jaringan dapat
kembali normal oleh peningkatan dosis agonis, karena hal ini meningkatkan
kemungkinan tumbuhan agonis-reseptor karena berkurangnya tumbukan antagonisreseptor. Kemampuan agonis dengan dosis lebih tinggi untuk mengatasi efek
antagonis menyebabkan pergeseran paralel kurva dosis-respons ke kanan dan hal ini
merupakan tanda utama dari antagonisme kompetitif.
Antagonis ireversibel
mempunyai efek yang tidak dapat dipulihkan dengan meningkatkan
konsentrasi agonis. Satu contoh penting adalah fenoksibenzamin yang terikat secara
kovalen dengan adrenoseptor-. Blokade kuat yang dihasilkannya sengat bernilai
pada terapi feokromositoma, yaitu suatu tumor yang melepaskan sejumlah besar
epinefrin (adrenalin)
Antagonis nonkompetitif
tidak berikatan dengan tempat reseptor namun bekerja secara terselubung
(berlawanan arah) untuk mencegah respons terhadap suatu agonis.
Antagonis kimia
secara sederhana berikatan dengan obat aktif dan menginaktivasinya, misalnya
protamin menghilangkan efek antikoagulan heparin.
Antagonis fisiologis
adalah dua agen dengan efek saling berlawanan yang cenderung saling
menghilangkan.
Antagonis fungsional
ada, apabila dalam suatu sistem sel ada dua agonis berikatan pada reseptor
yang berbeda dan mempengaruhi suatu fungsi secara berlawanan.
Dinatrium Edetat (Na2EDTA)
Istilah chelate pertama kali digunakan oleh Morgan pada tahun 1920,
diperoleh dari cangkang lobster atau jenis crustaceam. Bahan pengkhelat dapat

mengikat logam- logam transisi. Bahan khelat yang sring digunakan adalah Asam
etilendiamintetraasetat (EDTA).
Khelat adalah kompleks yang terbentuk antara logam dan suatu senyawa yang
mengandung dua atau lebih ligan potensial. Hasil reaksi tersebut adalah cincin
heterosiklik. (Goodman & Gilman, 2010)
Bahan pengkhelat ini digunakan untuk penanganan keracunan logam yang
memiliki afinitas tinggi. Efektivitas zat pengkhelat untuk penanganan keracunan
logam berat bergantung pada berbagai faktor :

Afinitas relative pengkhelat terhadap logam berat dibandingkan logam penting


dalam tubuh,

Distribusi pengkhelat dalam tubuh dibandingkan distribusi logam,

Dan Kapasitas pengkhelat untuk memindahkan logam dari tubuh setelah


terkhelasi.

Pertimbangan sifat zat pengkhelat yang ideal :

Kelarutan yang tinggi di dalam air,

Tahan terhadap biotransformasi,

Kemampuan mencapai lokasi penyimpanan logam,

Kapasitas untuk membentuk kompleks non toksik dengan logam toksik,

Kemampuan untuk menahan aktifitas pengkhelat pada pH cairan tubuh, dan

Khelat mudah dieksresikan.


(Goodman & Gilman, 2010)
Asam

etilendiamintetraasetat

(EDTA)

merupakan

pengkhelat

asam

polikarboksilat; garam natriumnya (dinatrium edetat, Na2EDTA) dan sejumlah


senyawa lain yang sejenis mengkhelasi berbagai logam valensi dua dan tiga. Kation
yang digunakan untuk membuat garam EDTA yang larut dalam air memiliki peran
penting dalam toksisitas pengkhelat. Na2EDTA dapat menyebabkan tetanus
hipokalsemia. Akan tetapi, dinatrium kalsium edetat I dapat digunakan untuk
penanganan keracunan logam yang memiliki afinitas lebih tinggi terhadap zat
pengkhelat dari pada ion kalsium (CaNa2EDTA). (Goodman & Gilman, 2010)
Bahan pengkhelat mengikat logam timbal, dan membentuk ikatan kompleks yang
membuatnya bersifat hydrophilic, dan mengeluarkannya bersama urin. Perlakuan ini
telah dilakukan pada kasus keracunan arsenic di tahun 1952. (Ketty, 1952)

10

Terjadinya reaksi antara zat pengkhelat logam (EDTA) dengan ion logam,
menyebabkan ion logam kehilangan sifat ionnya dan mengakibatkan logam berat
tersebut kehilangan sebagian besar toksisitasnya (Irwansyah, 1995). Sifat dan
pengaruh negative logam berat dengan adanya zat pengikat logam karena zat pengikat
tersebut membentuk ikatan kompleks dengan logam. EDTA dapat membentuk logam
kompleks dan menghalangi kerja enzim untuk berikatan dengan ion logam
(Lehninger, 1982). Umunya EDTA yang digunakan untuk mengobati keracunan oleh
logam berat Hg dan Pb. (Palar, 1994)
Sifat toksik logam Hg dan Pb dikarenakan logam tersebut sangat efektif
berikatan dengan gugus sulfuhidril (SH) yang terdapat dalam sistem enzim sel
membentuk ikatan metaloenzim dan metaloprotein sehingga aktifitas enzim untuk
proses kehidupan sel tidak dapat berlangsung. ( Connel dan Miller, 1995)
PLUMBUM (Pb); Timbal
Plumbum adalah logam berat dengan nomor atom 82, berat atom 207,19, dan
berat jenis 11,34. Bersifat lunak dan berwarna biru keabu-abuan dengan kilau logam
yang khas sesaat setelah dipotong. Kilaunya akan segera hilang sejalan dengan
pembentukan lapisan oksida pada permukaannya, mempunyai titik leleh 327, 5oC dan
titik didih 1740oC (MSDS, 2005)
Lebih dari 95% plumbum bersifat anorganik dan umumnya dalam bentuk
garam plumbum anorganik, kurang larut dalam air, selebihnya berbentuk plumbum
organic. Plumbum organic ditemukan dalam bentuk senyawa tetraethylled (TEL) dan
tetramethylled (TML). Jenis senyawa ini hampir tidak larut dalam air, namun dapat
dengan mudah larut dalam pelarut organic, misanya dalam lipid (WHO, 1997).
KERACUNAN Pb
Ukuran keracunan suatu zat ditentukan oleh kadar dan lamanya paparan.
Keracunan dibedakan menjadi keracunan akut, dan keracunan kronis. Keracunan yang
disebabkan oleh plumbum dalam tubuh mempengaruhi berbagai jaringan dan organ
tubuh. Organ-organ tubuh yang menjadi sasaran dari keracunan plumbum adalah
sistem peredaran darah, sistem saraf, sistem urinaria, sistem reproduksi, sistem
endokrin, dan jantung (WHO, 1977).
Plumbum memeiliki 3 sifat biokimia yang penting, yang dapat menimbulkan
efek toksik pada manusia :
1. Pb merupakan logam yang bersifat elektropositif dengan afinitas yang tinggi
untuk kelompok enzim sulfihydril dan menghambat enzim sulfihydril seperti 511

aminolivolinic acid (ALAD, EC 4.2.1.24) dan ferrochetalase (EC 4.99.1.2) yang


sangat penting pada sintesa haem.
2. Aktivitas divalensinya menyerupai kalsium dan aksinya sebagai inhibitor
kompetitif di dalam daerah yang sangat penting seperti phospolirilasi oksidatif
mitokondria. Pb merusak sistem messenger yang diatur oleh kalsium dengan
demikian akan mempengaruhi fungsi endokrin dan neural.
3. Pb juga dapat mempengaruhi transkripsi DNA yang berinteraksi dengan ikatan
protein asam nukleat yang memiliki kemampuan mengatur gen. (Goering, 1993)

Pada sistem saraf pusat timbal dapat menyebabkan encelopati yang secara klinis
ditandai dengan munculnya ataksia, stupor, koma, dan kejang-kejang. Sedangkan
pada sistem saraf tepi keracunan timbal dapat menyebabkan neuropati perifer yang
secara klinis ditandai adanya wrist drop dan foot drop. (Cassarett LJ and
Doulls,1999)
Selain dosis dan cara pemaparan faktor lain yang ikut menentukan berat ringannya
kerusakan pada proses intoksokasi adalah lama pemaparan. Disebutkan bahwa lama
pemaparan mempunyai korelasi yang sama seperti dosis dan cara pemaparan, semakin
lama Pb asetat dipaparkan konsentrasinya dalam suatu jaringan, sehingga semakin
tinggi konsentrasinya dalam jaringan maka kerusakan organ semakin berat. (Jurnal
Kedokteran Brawijaya, 2007)
Hasil pengamatan tremor, laju napas dan warna telinga dilihat dari tabel hasil
pengamatan diketahui bahwa pada keadaan normal atau 10 menit sebelum pemberian
obat mencit kesatu memiliki laju napas sebanyak 124 kali/menit, sedangkan mencit
kedua 136 kali/menit dan mencit ketiga sebanyak 120 kali/menit. pada keadaan
normal semua mencit tidak mengalami tremor dan warna telinganya masih terlihat
normal.
Pada mencit kesatu diberikan dahulu Na2EDTA, tujuannya yaitu sebagai obat
pencegahan apabila terjadi pemaparan oleh ion logam, maka Na2EDTA ini lah yang
akan memblokade dan menginaktivasi logam tersebut supaya tidak berikatan dengan
enzim yang akan mempengaruhi kerja enzim dalam tubuh. Ketika diberikan zat ini
ternyata pada pengamatan yang kami lakukan dilihat terjadinya peningkatan laju
napas, yaitu menjadi 148 kali/menit. namun ketika diberikan zat kedua yaitu PbAsetat terlihat bahwa laju napas mencit mengalami penurunan yaitu menjadi 140
kali/menit. itu terjadi karena ketika diberikan Pb-Asetat maka senyawa ini akan
12

langsung membentuk kompleks dengan Na2EDTA yang telah lebih dahulu ada dalam
tubuh mencit, sehingga mencit tidak menimbulkan efek yang menandakan keracunan
logam.
Pada mencit kedua dan ketiga diberikan dahulu Pb-Asetat, dan pada pengamatan
kami, dilihat tidak terjadinya respon tremor ataupun perubahan warna telinga. namun
pada mencit kedua dan ketiga ini sedikit terjadi perbedaan, pada mencit kedua terjadi
sedikit penurunan laju napas yaitu menjadi 132 kali/menit, sedangkan mencit ketiga
mengalami peningkatan menjadi 132 kali/menit. mungkin terjadinya kesalahan pada
perhitungan praktikan. Seharusnya laju pernapasan setelah ditambahkan Pb-Asetat ini
akan semakin cepat dari sebelumnya karena aktivitas Pb-asetat dalam tubuh yang
akan berikatan dengan enzim dan mempengaruhi kerja enzim sehingga menimbulkan
efek toksik atau keracunan yang ditandai tremor dan perubahan warna telinga. Setelah
diberikan obat kedua yaitu Na2EDTA maka laju napas kedua mencit ini pun menjadi
mendekati normal kembali ini dikarenakan sifat Na2EDTA disini sebagai pengobatan
untuk mengeluarkan Pb dari dalam tubuh, maka tingkat ekskresi harus dinaikkan. Hal
ini dapat dilakukan dengan memberikan khelat. Zat khelat yang dipakai untuk
membuang logam beracun (timbal) dari dalam tubuh harus membentuk senyawa yang
stabil dengan ion logam tersebut seperti Na2EDTA sebagai pengikat logam timbal
(Pb) dalam tubuh sehingga timbal (Pb) yang bersifat racun dapat keluar dari dalam
tubuh.

13

KESIMPULAN

agonis adalah Zat kimia atau obat yang mengaktivasi reseptor dan menghasilkan respons.

Antagonis disebut obat atau zat kimia yang berikatan dengan reseptor namun tidak
mengaktivasinya. Antagonis menurunkan kemungkinan zat transmitor (atau agonis lain)
berikatan dengan reseptor sehingga mengurangi atau memblok kerja transmitor tersebut.

Antagonis kimia secara sederhana berikatan dengan obat aktif dan menginaktivasinya,
misalnya protamin menghilangkan efek antikoagulan heparin.

Sifat toksik logam Hg dan Pb dikarenakan logam tersebut sangat efektif berikatan
dengan gugus sulfuhidril (SH) yang terdapat dalam sistem enzim sel membentuk ikatan
metaloenzim dan metaloprotein sehingga aktifitas enzim untuk proses kehidupan sel tidak
dapat berlangsung.

Pada sistem saraf pusat timbal dapat menyebabkan encelopati (disfungsi otak) yang
secara klinis ditandai dengan munculnya ataksia, stupor, koma, dan kejang-kejang.
Sedangkan pada sistem saraf tepi keracunan timbal dapat menyebabkan neuropati perifer
yang secara klinis ditandai adanya wrist drop dan foot drop.

Keracunan yang disebabkan oleh plumbum dalam tubuh mempengaruhi berbagai jaringan
dan organ tubuh. Organ-organ tubuh yang menjadi sasaran dari keracunan plumbum
adalah sistem peredaran darah, sistem saraf, sistem urinaria, sistem reproduksi, sistem
endokrin, dan jantung

Asam etilendiamintetraasetat (EDTA) merupakan pengkhelat asam polikarboksilat;


garam natriumnya (dinatrium edetat, Na2EDTA) dan sejumlah senyawa lain yang sejenis
mengkhelasi berbagai logam valensi dua dan tiga.

Na2-EDTA sebagai antagonis kimia karena bahan pengkhelat ini mengikat logam timbal
(Pb), dan membentuk ikatan kompleks yang membuatnya bersifat hydrophilic, dan
mengeluarkannya bersama urin. Terjadinya reaksi antara zat pengkhelat logam (EDTA)
dengan ion logam, menyebabkan ion logam kehilangan sifat ionnya dan mengakibatkan
logam berat tersebut kehilangan sebagian besar toksisitasnya.

Sifat dan pengaruh negative logam berat dengan adanya zat pengikat logam karena zat
pengikat tersebut membentuk ikatan kompleks dengan logam. EDTA dapat membentuk
logam kompleks dan menghalangi kerja enzim untuk berikatan dengan ion logam.

14

Semakin tinggi konsentrasi Pb-Asetat dalam jaringan maka kerusakan organ semakin
berat sehingga lebih cepat menurunkan aktivias hewan percobaan atau bahkan sampai
kematian.

Pada keadaan normal kemudian diberikan Pb-Asetat maka terjadi keracunan logam
yang ditandai dengan penurunan laju napas pada mencit pertama dan peningkatan laju
napas pada mencit kedua, dan tidak menimbulkan respon tremor dan perubahan warna
telinga. Kemudian setelah diberikan Na2EDTA yang akan mengobati toksisitas tersebut
dengan membentuk senyawa yang stabil dengan ion logam tersebut sebagai pengikat
logam timbal (Pb) dalam tubuh sehingga timbal (Pb) yang bersifat racun dapat keluar dari
dalam tubuh.

Pada keadaan normal kemudian diberikan Na2EDTA, maka terjadi respon peningkatan
laju napas pada mencit kesatu dan tidak terjadi efek tremor dan perubahan warna telinga
mencit. Dan ketika diberikan Pb-Asetat yang akan memberikan toksiknya pada tubuh,
sehingga Na2EDTA ini merupakan obat pencegahan, apabila terjadinya pemaparan logam
maka zat ini yang akan bereaksi dengan logam tersebut dan menghilangkan toksisitasnya.

15

DAFTAR PUSTAKA

Goodman & Gilman. 2010. Manual Farmakologi dan Terapi. Jakarta : EGC.
Hal : 174- 178
Conell, D. W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran.
UI Press. Jakarta.
Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi logam berat. Jakarta : Rineka Cipta
Ketty, S. S. 1942. The Lead Citrate Complex Ion and its Role in Physiology and Therapy of
Lead Poisoning. J. Biol Chem. p 181-192.
WHO. 1977. Lead. Environmental Health. Criteria No. 3. Published Under The Joint
Sponsorship of The United Nation Environment Progamme and The World Health
Organization, Geneva.
diakses dari : http://repository.usu.ac.id[*]
diakses dari : http://repository.uinjkt.ac.id[*]
diakses dari : jkb.ub.ac.id[*]
Schmitz, Gary Hans Lepper dan Michael Heidrich. 2003. Farmakologi dan Toksikologi.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal: 3, 6.
Neal M.J. 2006. At a glance farmakologi medis. Edisi kelima. Alih Bahasa. Juwalita
Surapsari. Jakarta: Erlangga. Hal: 8, 10-11.
Staf Pengajar Departemen Farmakologi. (2008). Kumpulan Kuliah Farmakologi. Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya. Edisi 2. Jakarta. Hal: 45.
Cassarett LJ and Doulls. The Basic science of Poison. Fifth Edition. USA: The Mcgraw-hill
Companies. 1999
Tjai, T.H., Rahardja K. 2008. Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek
Sampingnya. Edisi Keenam. Jakarta: PT.Elex Media Komputindo. Hal: 34 - 37, 39 - 41,
49 - 50.

16

Laju Napas pada Mencit Pertama

45
40
waktu pemberian obat (menit)

140 kali/menit
35
30
25
148 kali/menit
20
15
10
124 kali/menit
5
0
120

125

130

135

140

145

150

Laju Napas (kali/menit)

17

Laju Napas pada Mencit Kedua


50
45
128 kali/menit

40
35
30
25

132 kali setelah 25


menit

20
15
10

136 kali setelah 10


menit

5
0
127

128

129

130

131

132

133

134

135

136

137

waktu (menit)

18