Anda di halaman 1dari 24

TUGAS TERSTRUKTUR

EKTRAKSI MINYAK ATSIRI CENGKEH


MENGGUNAKAN PELARUT
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
TEKNOLOGI PENGOLAHAN PRODUK NABATI II
Dosen Pengampu:
Mulia Winirsya Apriliyanti, S.TP, MP

Disusun Oleh :
Ghina Ghaniyyah Zahra
D41 121 631
Hasan Basri Zulkhan
D41 121 632

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN DAN GIZI


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia mempunyai potensi sebagai penghasil minyak atsiri yang berlimpah.Produk
minyak atsiri baru pada tahap menghasilkan minyak kasar (crude oil). Jika minyak kasar
tersebut diolah lebih lanjut menjadi berbagai komponen minyak esensial murni, maka
akan dihasilkan produk-produk minyak esensial yang lebih ekonomis. Minyak Atsiri
disebut juga minyak eteris, minyak terbang atau essential oil adalah minyak yang mudah
menguap dan terdapat dalam tumbuh-tumbuhan. Minyak ini dipergunakan sebagai bahan
baku dalam berbagai industri, misalnya industry parfum, kosmetik, farmasi, esense, clan
flavoring agent. Beberapa jenis minyak atsiri dapat digunakan sebagai zat pengikat bau
(fixative) dalam parfum, misalnya minyak nilam.minyak akar wangi dan minyak cendana.
Minyak yang berasal dari rempah rempah dan digunakan sebagai bahan penyedap
(flavoringagent) misalnya minyak cengkeh, minyak lada, minyak pala, minyak kayu
manis, minyak ketumbar dan minyak jahe(Ketaren.1985). Sumber bahan untuk minyak
atsiri terdapat pada akar, batang, daun, bunga, dan buah. Dari akar : akar wangi, dari
batang: kayu manis, dari daun: nilam dan daun cengkeh, dari bunga: bunga cengkeh,dan
dari buah: lada,anis bintang,dan kemukus .
Salah satu produk minyak yang digunakan sebagai minyak atsiri adalah minyak
cengkeh. Minyak cengkeh telah sejak lama digunakan untuk tujuan pengobatan dan gigi
dan telah diketahui dengan baik di negara-negara Barat sebagai bahan anestesi gigi.
Minyak cengkeh (di Indonesia) adalah produk alami yang tidak mahal dan dapat diperoleh
dengan mudah di Asia Tenggara.

Komponen yang paling dominan (70-90%) dan

merupakan bahan aktif adalah fenol eugenol (Tamaru et al., 1998).


B. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami pengertian cengkeh, minyak atsiri dan ektraksi minyak
atsiri cengkeh dengan pelarut.
2. Mengetahui dan memahami alat, bahan, prinsip dan hal-hal yang mempengaruhi proses
ekstraksi minyak atsiri cengkeh dengan menggunakan pelarut.

Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

BAB II
PEMBAHASAN
A. Cengkeh
Tanaman cengkeh (Syzygium aromaticum), L. berasal dari kepulauan Maluku.
Awalnya, oleh penduduk setempat, cengkeh digunakan
untuk obat- obatan, seperti pemeliharaan gigi. Namun
kegunaannya berkembang, seperti

sebagai rempah-

rempah, bahan parfum, industri rokok, obat-obatan, dan


sumber

eugenol. Karenanya cengkeh menjadi salah

satu komoditas perdagangan penting di Dunia (Agus


Kardinan,

2005).Cengkeh

merupakan

salah

satu

komoditas pertanian yang tinggi nilai ekonominya.


Mula-mula komoditas tersebut hanya digunakan
sebagai bahan obat- obatan tradisional dan upacara
keagamaan terutama di India dan Tingkok.Pada abad ke-7, pamanfaatan cengkeh mulai
beraneka ragam mulai dari rempah-rempah kemudian berkembang sebagai bahan
campuran rokok kretek dan makan sirih. Pada saat ini, cengkeh banyak digunakan dibidang
industri sebagai bahan pembuatan rokok kretek dan dibidang farmasi sebagai bahan
pembuatan minyak atsiri (Sri Najiyati dan Danarti, 2003).
1. Persyaratan Tumbuh
Cengkeh (Eugenia aromatica) atau Syzigium aromaticum (L) termasuk dalam
famili Myrtaceae.Tanaman ini berbentuk pohon, tingginya dapat mencapai 20-30 m, dan
dapat berumur lebih dari 100 tahun.Tajuk tanaman cengkeh umumnya berbentuk
kerucut,

piramida,

atau

piramida

ganda,

dengan

batangutama

menjulang

keatas.Tanaman cengkeh menghendaki iklim yang panas dengan curah hujan cukup
merata.Tanaman ini tidak tahan kekeringan sehingga tidak sesuai ditanam pada lokasi
dengan musim kemarau yang panjang. Tanaman ini bisa tumbuh dan berkembang
dengan baik pada ketinggian 0-800 m dpl (di atas permukaan laut) dengan suhu 2230C, tetapi pertumbuhan paling optimal pada ketinggian 300-600 m dpl. Pada
ketinggian diatas 900 m dpl tanaman ini masih bisa tumbuh dengan baik, tetapi

Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

produksinya sangat rendah (Najiyati dan Danarti, 2003).Tanaman cengkeh menghendaki


tanah yang gembur dalamnya minimum 2 m. Tanah liat yang berwarna kekuningan atau
kelabu kurang cocok untuk tanaman cengkeh karena biasanya berdampak jelek.Tanah
yang terlalu gembur dan banyak mengandung pasir juga tidak baik untuk tanaman
cengkeh karena mudah kering (Najiyati dan Danarti, 2003).
2. Kandungan cengkeh
Cengkeh dewasa ini sebagian besar di manfaatkan untuk penyedap makanan
sedangkan pemanfaatan untuk kesehatan sudah dikenal selama berabad-abad.Cengkeh
memiliki anti oksidan tinggi karena terdapat kandungan senyawa phenolic.Anti oksidan
memiliki arti penting untuk menjaga makanan tetap segar. Maka,kandungan cengkeh
memiliki dampak yang besar terhadap industri makanan.Demikian tim peneliti di
Spanyol atas hasil riset mereka mengenai khasiat cengkeh. Penelitian ini diterbitkan
dalam jurnal Flavour and Fragrance edisi terbaru, yang menyebutkan bahwa rempahrempah ini sebagai antioksidan alami terbaik.Jurnal Protaglandins, Leukotrienes and
Essential Fatty Acids yang diterbitkan Harcourt Publishers Ltd mengungkapkan
cengkeh memiliki kemampuan antikoagulan (pencegah penggumpalan darah). Daya
kerjanya sama hebat denganaspirin. Informasi ini diperkuat dengan temuan seorang
ilmuwan dari University of Wisconsin Amerika Utara yang mengungkapkan cengkeh
mengandung suatu senyawa antibeku darah.Zat ini dapat melonggarkan pembuluh darah
jantung yang tersumbat.Pendek kata, uraian jurnal dan riset ilmuwan Amerika ini
mengisyaratkan pesan, rajin mengonsumsi makanan mengandung cengkeh dapat
melindungi manusia dari ancaman stroke dan serangan jantung.

B. Minyak Atsiri
Minyak atsiri atau sering disebut minyak terbang, banyak digunakan dalam bidang
industri sebagai bahan pewangi atau penyedap (flavoring). Minyak atsiri sebagai bahan
pewangi dan penyedap terutama digunakan oleh bangsa-bangsa yang telah maju dan sudah
digunakan sejak beberapa abad lalu. Selain itu minyak atsiri banyak juga digunakan dalam
bidang kesehatan (Guenther, 1987).
Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut minyak atsiri, misalnya dalam
Bahasa Inggris disebut essential oils. Dalam bahasa Indonesia ada yang menyebutnya
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

minyak terbang, bahkan ada pula yang menyebut minyak kabur (Lutony dan Rahmayati,
2002). Minyak atsiri juga dikenal dengan nama minyak mudah menguap atau minyak
terbang. Pengertian atau defenisi minyak atsiri yang ditulis dalam Encyclopedia of
Chemical Technology menyebutkan bahwa minyak atsiri merupakan senyawa, yang pada
umumnya berwujud cairan, yang diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun,
buah, dan biji maupun dari bunga dengan cara penyulingan dengan uap (Sastrohamidjojo,
2004).
1. Komposisi dan Sifat Minyak Atsiri
Pada umumnya variasi komposisi minyak atsiri disebabkan oleh perbedaan jenis
tanaman penghasil, kondisi iklim, tanah tempat tumbuh, umur panenan, metode
ekstraksi yang dipergunakan dan cara penyimpanan minyak.
a. Komposisi Kimia Minyak Atsiri Secara Umum
Minyak atsiri umumnya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia
yang terbentuk dari unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) serta beberapa
persenyawaan kimia yang mengandung unsur nitrogen (N) dan belerang (S). Pada
umumnya komponen kimia dalam minyak atsiri dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
1. Hidrokarbon
Persenyawaan yang termasuk golongan hidrokarbon terbentuk dari unsur
hidrogen (H) dan karbon (C). Komponen kimia yang termasuk golongan
hidrokarbon yang dominan menentukan bau dan sifat khas setiap jenis minyak
yaitu persenyawaan terpen.
Persenyawaan terpen berbau kurang wangi, sukar larut dalam alkohol encer,
terutama jika terkena cahaya matahari dan oksigen udara. Minyak yang
mengandung terpen jika disimpan dalam waktu lama akan membentuk sejenis
resin dan sukar larut dalam alkohol.
Untuk tujuan tertentu misalnya untuk pembuatan parfum, fraksi terpen perlu
dipisahkan sehingga didapatkan minyak atsiri yang bebas terpen. Tujuan dari
pemisahan fraksi terpen dari minyak atsiri yaitu 1). memperbesar kelarutan
minyak dalam alkohol, 2). memperbesar resistensi minyak terhadap kerusakan
yang diakibatkan oleh proses oksidasi cahaya dan 3) memperbesar konsentrasi
senyawa kimia golongan oxygenated hydrocarbon yang berbau lebih wangi.
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

2. Oxygenated hydrocarbon
Komponen kimia dari golongan ini terbentuk dari unsur karbon (C),
hidrogen (H), dan oksigen (O). Persenyawaan kimia yang merupakan golongan ini
yaitu alkohol, aldehid, keton, ester, dan eter. Pada umumnya sebagian besar
minyak atsiri terdiri dari campuran persenyawaan golongan hidrokarbon dan
oxygenated hydrocarbon. Disamping itu, minyak atsiri mengandung resin dan
lilin dalam jumlah kecil yang merupakan komponen tidak menguap (Guenther,
1987). Di bawah ini merupakan Tabel golongan persenyawaan kimia yang
terdapat dalam minyak atsiri (Tabel 2).
Tabel 2. Persenyawaan Kimia yang Terkandung Dalam Minyak Atsiri
Golongan

Persenyawaan kimia

1). Hidrokarbon (C5H8)n

Ocimene, myocene, cyonene pinere, syslvestrene,


limonene, camphene, phelanddrene, fenchene,
geraniolene, endesniol, caryophilene dan santalene.

2). Oxygenated hydrocarbon


a. Alkohol (R-OH)
- Alkohol alifatis

Geraniol, nerol, sitronellol, terpineol, borneol,


linaleol, menthol, santalol, isopulegol, penchil
alkohol, sedrol, farnesol, fenil etil alkohol, sinnamil
alkohol, metil alkohol
- Alkohol siklis
Thimol, carvacrol, eugenol, vanilin
c. Keton (R-CO-R)
Camphor, vione, carvone, menthone, pulegone,
fenchone, piperitone, dan asetofennon.
d. Ester (R-COOR)
Ester-ester dari asam aseta, butirat, siglat, salisilat,
benzoat.
e. Eter (R-O-R)
Anethole, metil cavicole, safrole, eucalyptole,
ascaridole.
(Sumber: Ketaren, 1990, dalam Anonim, 2014)
b. Sifat Fisiko Kimia Minyak Atsiri
1. Sifat fisik
Biasanya minyak atsiri tak berwarna atau berwarna kekuning-kuningan dan
beberapa minyak atsiri berwarna kemerah-merahan, jika lebih lama di udara akan
mengabsorbsi oksigen hingga berwarna lebih gelap dan berubah baunya serta
menjadi lebih kental. Adapun sifat-sifat minyak atsiri yang diketahui yaitu
tersusun oleh bermacam-macam komponen senyawa.Memiliki bau khas,
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

umumnya bau ini mewakili bau tanaman asalnya. Bau minyak atsiri satu dengan
yang lain berbeda-beda, sangat tergantung dari macam dan intensitas bau dari
masing-masing komponen penyusunnya. Mempunyai rasa getir, kadang-kadang
berasa tajam, menggigit, memberi kesan hangat sampai panas, atau justru dingin
ketika terasa di kulit, tergantung dari jenis komponen penyusunnya. Sifat-sifat
fisika minyak atsiri, yaitu : bau yang karakteristik, bobot jenis, indeks bias yang
tinggi, bersifat optis aktif.

a. Bau yang karakteristik


Minyak atsiri adalah minyak yang dihasilkan dari jaringan tanaman
tertentu, seperti akar, batang, kulit, bunga, daun, biji dan rimpang. Minyak ini
bersifat mudah menguap pada suhu kamar (250C) tanpa mengalami
dekomposisi dan berbau wangi sesuai dengan tanaman penghasilnya, serta
umumnya larut dalam pelarut organik tetapi tidak larut dalam air (Gunther,
1990).
b. Bobot Jenis
Bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada suhu 250C
terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Penentuan bobot jenis
menggunakan alat piknometer. Berat jenis minyak atsiri umumnya berkisar
antara 0,800-1,180. Bobot jenis merupakan salah satu kriteria penting dalam
penentuan mutu dan kemurnian minyak atsiri (Gunther, 1987). Besar bobot
jenis pada berbagai minyak atsiri sangat di pengaruhi dari ukuran bahan dan
lama penyulingan yang di lakukan.
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

c. Indeks Bias
Indeks bias suatu zat adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara
dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Penentuan indeks bias
menggunakan alat Refraktometer. Prinsip penggunaan alat adalah penyinaran
yang menembus dua macam media dengan kerapatan yang berbeda, kemudian
terjadi pembiasan (perubahan arah sinar) akibat perbedaan kerapatan media.
Indeks bias berguna untuk identifikasi suatu zat dan deteksi ketidakmurnian
(Guenther, 1987).
Semakin banyak kandungan airnya, maka semakin kecil nilai indek
biasnya. Ini karena sifat dari air yang mudah untuk membiaskan cahaya yang
datang. Jadi minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang besar lebih bagus
dibandingkan dengan minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil. Selain
itu, semakin tinggi kadar patchouli alcohol maka semakin tinggi pula indeks
bias yang dihasilkan.
Hal ini disebabkan karena penguapan minyak dari bahan berukuran kecil
berlangsung lebih mudah sehingga fraksi berat minyaknya lebih banyak
terkandung dalam minyak, yang mengakibatkan kerapatan molekul minyak
lebih tinggi dan sinar yang menembus minyak sukar diteruskan. Semakin sukar
sinar diteruskan dalam suatu medium (minyak) maka nilai indeks bias medium
tersebut semakin tinggi.
d. Putaran Optik
Setiap jenis minyak atsiri memiliki kemampuan memutar bidang
polarisasi cahaya ke arah kiri atau kanan. Besarnya pemutaran bidang polarisasi
ditentukan oleh jenis minyak atsiri, suhu, dan panjang gelombang cahaya yang
digunakan. Penentuan putaran optik menggunakan alat Polarimeter (Ketaren,
1985).
e. Kelarutan Dalam Alkohol
Kelarutan dalam alkohol merupakan nilai perbandingan banyaknya
minyak atsiri yang larut sempurna dengan pelarut alkohol. Setiap minyak atsiri
mempunyai nilai kelarutan dalam alkohol yang spesifik, sehingga sifat ini bisa
digunakan untuk menentukan suatu kemurnian minyak atsiri. Minyak atsiri
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

banyak yang mudah larut dalam etanol dan jarang yang larut dalam air,
sehingga kelarutannya mudah diketahui dengan menggunakan etanolpada
berbagai tingkat konsentrasi. Untuk menentukan kelarutan minyak atsiri
jugatergantung pada kecepatan daya larut dan kualitas minyak atsiri tersebut.
Kelarutan minyak juga dapat berubah karena lamanya penyimpanan. Halini
disebabkan

karena

proses

polimerisasi

menurunkan

daya

kelarutan,

sehinggauntuk melarutkannya diperlukan konsentrasi etanol yang tinggi.


Kondisipenyimpanan kurang baik dapat mempercepat polimerisasi diantaranya
cahaya,udara, dan adanya air bisa menimbulkan pengaruh yang tidak baik.
Minyak atsiri mempunyai sifat yang larut dalam pelarut organik dan tidak larut
dalam air. Berikut adalah hasil pengujian tingkat kelarutan minyak dalam
alkohol yang dipengaruhi oleh semua faktor perlakuan dan kombinasinya
e. Warna
Sesuai dengan SNI 06-2385-2006, minyak atsiri berwarna kuning muda
hingga coklat kemerahan, namun setelah dilakukan penyimpanan minyak
berubah warna menjadi kuning tua hingga coklat muda. Guenther (1990)
mengatakan bahwa minyak akan berwarna gelap oleh aging, bau dan flavornya
tipikal rempah, aromatik tinggi, kuat dan tahan lama.
2. Sifat kimia
Sifat kimia minyak atsiri ditentukan oleh persenyawaan kimia yang
terdapat didalamnya terutama terpen, aldehid, ester, asam. Perubahan kimia yang
terjadi pada senyawa-senyawa tersebut dapat mengakibatkan kerusakan pada
minyak atsiri. Dalam keadaan murni (belum tercemar oleh senyawa lain) mudah
menguap pada suhu kamar. Bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan,
baik pengaruh oksigen udara, sinar matahari (terutama gelombang ultra violet)dan
panas, karena terdiri dari berbagai macam komponen penyusun.Bersifat tidak bisa
disabunkan dengan alkali dan tidak bisa berubah menjadi tengik (rancid).Bersifat
optis aktif dan memutar bidang polarisasi dengan rotasi yang spesifik.Mempunyai
indeks bias yang tinggi. Pada umumnya tidak dapat bercampur dengan air, dapat
larut walaupun kelarutannya sangat kecil, tetapi sangat mudah larut dalam pelarut
organik (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

a. Bilangan Asam
Bilangan asam pada minyak atsiri menandakan adanya kandungan asam
organik pada minyak tersebut. Asam organik pada minyak atsiri bisa terdapat
secara alamiah. Nilai bilangan asam dapat digunakan untuk menentukan kualitas
minyak (Kataren, 1985). Hasil analisis minyak kilemo menunjukkan bahwa
minyak kilemo dari kulit batang yang disuling dengan metode kukus secara visual
mempunyai bilangan asam tertinggi, sedangkan minyak kilemo dari daun yang
disuling dengan metode rebus mempunyai bilangan asam terendah. Besarnya
bilangan asam minyak kilemo dari daun yang disuling dengan metode kukus
adalah 1.22 dan yang disuling dengan metode rebus 0.72 sedangkan untuk minyak
kilemo dari kulit batang yang disuling dengan metode kukus besarnya 4.20, dan
yang disuling dengan metode rebus 1.72. Adanya perbedaan nilai bilangan asam
minyak kilemo hasil penyulingan daun dan kulit batang disebabkan karena
perbedaan kandungan senyawa asam pada minyak. Sedangkan perbedaan nilai
bilangan asam minyak kilemo yang disuling dengan sistem kukus dan rebus,
kemungkinan disebabkan karena terjadi proses oksidasi pada waktu penyulingan
dengan sistem kukus.
b. Bilangan Ester
Bilang ester merupakan banyaknya jumlah alkali yang diperlukan untuk
penyabunan ester. Adanya bilangan ester pada minyak dapat menandakan bahwa
minyak tersebut mempunyai aroma yang baik. Dari hasil analisis diperoleh bahwa
minyak kilemo dari daun yang disuling dengan metode kukus secara visual
mempunyai bilangan ester tertinggi, sedangkan minyak kilemo dari kulit batang
yang disuling dengan metode rebus menghasilkan bilangan ester terendah.
Besarnya bilangan ester minyak kilemo dari daun yang disuling dengan
metode kukus adalah 31.66, dan yang disuling dengan metode rebus 28.55.
Sedangkan untuk minyak kilemo dari kulit batang yang disuling dengan metode
kukus besarnya 18.74 dan yang disuling dengan metode rebus besarnya 17.6.
Perbedaan nilai bilangan ester minyak kilemo hasil penyulingan daun dan kulit
batang tumbuhan kilemo kemungkinan disebabkan karena perbedaan kandungan
senyawa ester pada minyak. Dari pengamatan diperoleh bahwa minyak kilemo
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

dari daun mempunyai aroma yang lebih segar bila dibandingkan aroma minyak
dari kulit batang. Sifat aroma minyak ini dapat membuat tingginya bilangan ester
pada minyak tersebut.
Minyak atsiri juga dapat mengalami kerusakan yang mengakibatkan
perubahan sifat kimia minyak atsiri yaitu dengan proses oksidasi, hidrolisa, dan
resinifikasi.
a. Oksidasi
Reaksi oksidasi pada minyak atsiri terutama terjadi pada ikatan rangkap
dalam terpen. Peroksida yang bersifat labil akan berisomerisasi dengan adanya air,
sehingga membentuk senyawa aldehid, asam organik, dan keton yang
menyebabkan perubahan bau yang tidak dikehendaki (Ketaren, 1985).
b. Hidrolisis
Proses hidrolisis terjadi pada minyak atsiri yang mengandung ester. Proses
hidrolisis ester merupakan proses pemisahan gugus OR dalam molekul ester
sehingga terbentuk asam bebas dan alkohol. Ester akan terhidrolisis secara
sempurna dengan adanya air dan asam sebagai katalisator (Ketaren, 1985).
c. Resinifikasi
Beberapa fraksi dalam minyak atsiri dapat membentuk resin, yang
merupakan senyawa polimer. Resin ini dapat terbentuk selama proses pengolahan
(ekstraksi) minyak yang mempergunakan tekanan dan suhu tinggi selama
penyimpanan (Ketaren, 1985).
Minyak atsiri yang kita kenal selama ini, memiliki sifat mudah menguap dan
mudah teroksidasi. Hal itulah yang menyebabkan perubahan secara fisika maupun
kimia pada minyak atsiri. Perubahan sifat kimia minyak atsiri dapat terjadi saat :
1. Penyimpanan bahan
Penyimpanan bahan sebelum dilakukan pengecilan ukuran bahan
mempengaruhi jumlah minyak atsiri, terutama dengan adanya penguapan
secara bertahap yang sebagian besar disebabkan oleh udara yang bersuhu cukup
tinggi. Oleh karena itu, bahan disimpan pada udara kering bersuhu rendah.
2. Proses ekstraksi
Perubahan sifat kimia dapat disebabkan karena suhu ekstraksi terlalu tinggi.
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

10

3. Proses distilasi
Perubahan sifat kimia pada proses ini terutama disebabkan karena adanya air,
uap air, dan suhu tinggi.
4. Proses pengepresan
Perubahan sifat kimia pada proses ini terutama disebabkan karena minyak atsiri
berkontak dengan udara.
2. Golongan Minyak Atsiri
Komponen minyak atsiri adalah senyawa yang bertanggung jawab atas bau dan
aroma yang karakteristik serta sifat kimia dan fisika minyak.Demikian pula peranannya
sangat besar dalam menentukan khasiat suatu minyak atsiri sebagai obat.Atas dasar
perbedaan komponen penyusun tersebut maka minyak atsiri dibagi menjadi beberapa
golongan sebagai berikut.
1. Minyak atsiri hidrokarbon
Minyak atsiri kelompok ini komponen penyusunnya sebagian besar terdiri dari
senyawa-senyawa hidrokarbon, misalnya: Minyak terpentin diperoleh dari tanamantanaman bermarga pinus (famili Pinaceae). Komponen terpentin sebagian besar
berupa asam-asam resin (hingga 90%), ester-ester dari asam-asam lemak, dan
senyawa inert yang netral disebut resena.Terpentin larut dalam alkohol, eter,
kloroform, dan asam asetat glasial dan bersifat optis aktif.Kegunaannya dalam
farmasi adalah sebagai obat luar, melebarkan pembuluh darah kapier, dan
merangsang keluarnya keringat.Terpentin jarang digunakan sebagai obat dalam
(Gunawan dan Mulyani, 2004).
2. Minyak atsiri alkohol
Minyak pipermin merupakan minyak atsiri alkohol yang penting diantara
minyak atsiri alkohol yang lain. Minyak ini dihasilkan oleh daun tanaman Mentha
piperita Linn. (nama daerah: poko, famili Labiatae). Daun poko segarmengandung
minyak atsiri sekitar 1%, juga mengandung resin dan tanin. Sementara daun yang
telah dikeringkan mengandung 2% minyak permen. Sebagai penyusun utamanya
adalah mentol. Pada bidang farmasi digunakan sebagai anti gatal, bahan pewangi dan
pelega hidung tersumbat.Sementara pada industri digunakan sebagai pewangi pasta
gigi (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

11

3. Minyak atsiri fenol


Minyak cengkeh merupakan minyak atsiri fenol.Minyak ini diperoleh dari
tanaman

Eugenia

caryophyllata

atau

Syzigium

caryophyllum

(famili

Myrtaceae).Bagian yang dimanfaatkan bunga dan daun.Namun demikian bunga lebih


utama dimanfaatkan karena mengandung minyak atsiri sampai 20%. Minyak
cengkeh, terutama tersusun oleh eugenol, yaitu sampai 95% dari jumlah minyak
atsiri keseluruhan. Selain eugenol, juga mengandung aseton-eugenol, beberapa
senyawa dari kelompok seskuiterpen, serta bahan-bahan yang tidak mudah menguap
seperti tanin, lilin, dan bahan serupa damar. Kegunaan minyak cengkeh antara lain
obat mulas, menghilangkan rasa mual dan muntah (Gunawan dan Mulyani, 2004).
4. Minyak atsiri eter fenol
Minyak adas merupakan minyak atsiri eter fenol.Minyak adas berasal dari hasil
penyulingan buah Pimpinella anisum atau dari Foeniculum vulgare(famili Apiaceae
atau Umbelliferae).Minyak yang dihasilkan, terutama tersusun oleh komponenkomponen terpenoid seperti anetol, sineol, pinena dan felandrena.Miyak adas
digunakan dalam pelengkap sediaan obat batuk, sebagai korigen odoris untuk
menutup bau tidak enak pada sediaan farmasi dan bahan farfum (Gunawan dan
Mulyani, 2004).
5. Minyak atsiri oksida
Minyak kayu putih merupakan minyak atsiri oksida.Diperoleh dari isolasi daun
Melaleuca leucadendon L (famili Myrtaceae). Komponen penyusun minyak atsiri
kayu putih paling utama adalah sineol (85%) (Gunawan dan Mulyani, 2004).
6. Minyak atsiri ester
Minyak gondopuro merupakan atsiri ester.Minyak atsiri ini diperoleh dari
isolasi daun dan batang Gaultheria procumbens L (famili Erycaceae). Komponen
penyusun minyak ini adalah metil salisilat yang merupakan bentuk ester. Minyak ini
digunakan sebagai korigen odoris, bahan farfum, dalam industri permen, dan
minuman sebagai tidak beralkohol (Gunawan dan Mulyani, 2004).
3. Kelarutan Minyak Atsiri
Banyaknya minyak atsiri yang larut dalam alkohol dan jarang yang larut dalam air,
maka kelarutannya dapat mudah diketahui dengan menggunakan alkohol pada berbagai
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

12

tingkat konsentrasi.Menentukan kelarutan minyak, tergantung juga kepada kecepatan


daya larut dan kualitas minyak. Biasanya minyak yang kaya akan komponen oxygenated
lebih mudah larut dalam alkohol dari pada yang kaya terpen (Guenther, 1987).
4. Minyak Atsiri Cengkeh
Minyak yang terdapat dalam alam dibagi mejadi 3 golongan yaitu, minyak
mineral, minyak nabati dan minyak hewani yang dapat dimakan dan munyak atsiri.
minyak atsiri dikenal dengan nama minyak eteris atau minyak terbang dihasilkan oleh
tanaman. minyak tersebut mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami
dekomposisis, mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai dengan tanaman
penghasilnya. bunga cengkeh mengandung 20% minyak, sedangkan bagian gagang
cengkeh dan daun cengkeh mengandung sekitar 4-6% minyak. rendemen dan sifat fisika
kimia minyak atsiri tergantung dari sumber dan mutu cengkeh, perlakuan sebelum
penyulingan dan metode pengambilan minyak atsiri yang digunakan (penyulingan air,
penyulingan air dan uap atau penyulingan langsung).
Berikut Spesifikasi standar minyak atsiri menurut Standar Nasional Indonesia
(SNI):
Tabel 1. SNI untuk minyak cengkeh
No
1.
2.
3.
4.
5.

Jenis Uji
Keadaan Warna
Densitas
Indeks bias pada suhu 280C
Kelaruatan dalam etanol
Eugenol Total

Satuan
g/ml
% v/v

Persyaratan
Khas minyak cengkeh
1,0250-1,0609
1,52-1,54
1:2 jernih
Min.78

Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

13

1. Komposisi Kimia
Minyak cengkeh merupakan minyak atsiri yang diperoleh dari tanaman cengkeh
(Syzygium aromaticum). Minyak atsiri ini dapat diperoleh dari bunga, gagang, dan daun
tanaman cengkeh. Kualitas minyaknya dievaluasi dari kandungan fenol, terutama
eugenol. Kadar eugenol dalam minyak cengkeh dipengaruhi oleh asal minyaknya. Kadar
terbanyak dan kualitas yang baik dapat dihasilkan oleh minyak yang diperoleh dari
bunga dan gagang cengkeh. Kualitas minyak daun cengkeh hanya sedikit lebih rendah
dibandingkan dengan minyak bunga atau gagang cengkeh (Aksan, 2007). Perbandingan
kadar eugenol dalam minyak cengkeh berdasarkan asalnya, tersaji pada Tabel 3.
Tabel 3. Kandungan Eugenol Dalam Minyak Cengkeh
Asal Minyak
Bunga
Gagang
Daun
(Sumber: Guenther, 1990 dalam Anonim, 2014)

Kadar Eugenol
90 - 95%
83 - 95%
82 - 87%

Kandungan minyak cengkeh pada bagian tanaman tersebut bervariasi jumlahnya.


Bunga mengandung sekitar 20% minyak, sedangkan bagian gagang dan daun sekitar 46% minyak (Guenther, 1990). Selain itu, kandungan minyak saat ekstraksi dipengaruhi
oleh lamanya proses penyulingan (Zulchi dan Aisni, 2002).
Minyak atsiri dalam bunga dan gagang cengkeh mengandung eugenol dan
kariofilen, yang merupakan komponen kimia yang memberikan rasa getir dan bau pedas
dari cengkeh. Di bawah ini merupakan Tabel perbandingan komposisi kimia bunga dan
gagang cengkeh.
Tabel 4. Komposisi Kimia Bunga dan Gagang Cengkeh
Komponen
Air
Abu
Minyak atsiri
Fixed oil dan resin
Protein
Serat kasar
Tanin
(Sumber: Ketaren, 1989)

Bunga cengkeh (%)


5, 0 8,3
5,3 7,6
14,0 21,0
5,0 10,00
5,0 7,0
6,0 9,0
10,0 18,0

Gagang cengkeh (%)


8,7 10,2
6,9 9,0
5,0 6,0
3,5 4,0
5,8 6,0
13,0 19,0
Sekitar 10

Pada umumnya minyak cengkeh terdiri dari campuran berbagai persenyawaan kimia, yaitu:
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

14

1. Eugenol [CH2=CHCH2C6H3(OCH3)OH)]
Eugenol merupakan persenyawaan kimia yang paling penting di dalam minyak
cengkeh dan jumlahnya dapat mencapai 83-95%. Eugenol bersifat mudah menguap,
tidak berwarna atau berwarna agak kuning dan mempunyai rasa getir (Guenther, 1990).
Karakteristik eugenol dapat dilihat pada Tabel (Lampiran 5).
Eugenol dapat diisolasi dari minyak dengan menambahkan NaOH atau KOH 3%,
sehingga menghasilkan natrium atau kalium eugenolat (Anonim, 2006). Gambar di
bawah ini menggambarkan reaksi antara eugenol dan penambahan NaOH, sehingga
menghasilkan natrium eugenolat (Gambar 2).

Gambar 2. Reaksi Antara Eugenol dengan NaOH


Eugenol digunakan sebagai bahan baku parfum, pemberi flavor, dan dalam bidang
pengobatan sebagai antiseptik dan anestesi. Eugenol juga digunakan pada pembuatan
isoeugenol untuk memproduksi vanilin sintetis. Saat ini, kebanyakan vanilin sintetis
dibuat dari fenol atau dari lignin (Anonim, 2002).
2. Eugenol asetat [CH3CH=CHC6H3(OCH3)COOCH3]
Eugenol asetat terdapat juga pada minyak gagang cengkeh, tetapi dalam jumlah
yang sangat kecil. Eugenol asetat dapat dibuat dari eugenol dengan cara asetilasi
eugenol, menggunakan asetat anhidrit.
3. Kariofilen (Caryophyllene) C15H24
Di dalam minyak cengkeh terdapat alpha dan betha kariofilen dengan jumlah 512%. Kariofilen dapat dipisahkan dari minyak dengan menambahkan larutan soda 70%,
kemudian diekstraksi dengan ester. Selanjutnya, diuapkan di atas penagas air.
4. Metil n-amil keton
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

15

Senyawa dalam minyak daun cengkeh yang terdapat dalam jumlah yang sangat
sedikit, dan merupakan senyawa yang menimbulkan bau khas minyak daun cengkeh.

2. Mutu Minyak Gagang Cengkeh (Clove Steam Oil)


Mutu minyak gagang cengkeh, ditentukan oleh kadar eugenol. Kadar eugenol
dalam minyak gagang cengkeh ditentukan oleh kondisi gagang sebelum disuling
(dirajang atau tanpa rajang) dan metode penyulingan (Ketaren, 1985).
Di Indonesia belum ada suatu standar mutu yang pasti untuk minyak gagang
cengkeh. Di bawah ini Tabel standar mutu dari minyak gagang cengkeh menurut
Essensial Oil Association of USA (EOA).
Tabel 5. Standar Mutu Minyak Gagang Cengkeh
Karakteristik
Penampakan dan odor

Nilai
Kuning sampai berwarna coklat terang

Putaran optik

0o sampai -1o30o

Kadar eugenol

89% sampai 95%

Kelarutan dalam alkohol


Indeks bias pada suhu 20 oC

Larut dalam 2 bagian/lebih dari alkohol 70%


1.5340 sampai 1.5380
(Sumber: EOA, 2006 dalam Anonim, 2014).

Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu minyak sangat ditentukan oleh sifat dan
senyawa kimia yang terkandung di dalamnya. Sifat fisik seperti bobot jenis, indeks bias,
putaran optik, dan kelarutan dalam etanol 70% dapat dijadikan kriteria untuk
menentukan kemurnian minyak.
Apabila bobot jenis, indeks bias, dan putaran optik menunjukkan angka yang
tertinggi, kemungkinan minyak cengkeh tersebut mengandung bahan-bahan lain seperti
mineral dan lemak. Apabila sifat itu menunjukkan angka yang rendah, maka
kemungkinan minyak tersebut mempunyai kadar eugenol yang rendah (Rusli dkk.,
1979).
Pengawasan Mutu Minyak Gagang Cengkeh
Pengawasan mutu minyak gagang cengkeh bertujuan untuk mengetahui
kemurnian dan komposisi dari minyak gagang cengkeh, apakah telah sesuai dengan
standar mutu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

16

1. Penentuan Bobot Jenis/Berat Jenis


Prinsip metode ini didasarkan pada perbandingan antara berat minyak pada
suhu yang ditentukan dengan berat air pada volum yang sama dengan volum minyak
pada suhu tertentu.
2. Penentuan Indeks Bias
Prinsipnya, bila seberkas sinar mengenai sebuah bidang batas dari 2 zat yang
transparan maka cahaya tersebut sebagian akan dipantulkan, diabsorbsi dan
diteruskan. Tergantung pada besarnya sudut jatuh maka sinar yang diteruskan
mungkin searah dengan sinar

jatuh atau ditentukan dengan arah yang

dibelokkan/dibiaskan.
3. Uji Eugenol
Prinsip: Kadar eugenol dapat diketahui dengan penambahan KOH atau NaOH
dimana eugenol bereaksi dengan NaOH menjadi natrium eugenolat. Dari sisa minyak
yang tak bereaksi, kadar eugenol dapat diketahui.
4. Uji Kromatografi Gas
Prinsip:

Kromatografi

merupakan

suatu

teknik

pemisahan

campuran

berdasarkan pada distribusi zat sampel diantara dua fasa. Tujuan dari pengujian
minyak atsiri menggunakan kromatografi gas ini yaitu untuk mengetahui kemurnian
dari komponen-komponen minyak gagang cengkeh yang diuji secara akurat (sistem
komputer)
5. Penentuan Putaran Optik
Prinsip: Suatu sudut yang melalui bidang dari sinar terpolarisasi diputar oleh
suatu lapisan minyak yang tebalnya 10 cm pada suhu tertentu. Tiap minyak
mempunyai kemampuan menutupi bidang polarisasi kekanan dan ke kiri.
6. Kelarutan Alkohol
Istilah-istilah yang digunakan untuk menyatakan kelarutan minyak atsiri
adalah sebagai berikut:
Larut atau larut seluruhnya, berarti minyak tersebut membentuk larutan yang
bening dan arah perbandingan-perbandingan seperti dinyatakan.

Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

17

Larut dengan kekeruhan, berarti bahwa kelarutan yang dihasilkan tak


sepenuhnya bening dan cerah, akan tetapi kekeruhannya tak melebihi kekeruhan
dari pembanding yang dibuat.
5. Metode Memperoleh Minyak Atsiri :
Pada dasarnya untuk mendapatkan minyak atsiri dapat dilakukan dengan
berbagai metode, diantaranya : penyulingan dengan air, penyulingan dengan uap,
penyulingan dengan air dan uap, pengepresan, hidrolisis glikosida, penyulingan
dengan vakum dan ekstraksi dengan pelarut minyak atsiri. Metode memperoleh
minyak atsiri yang akan dipaparkan pada bagian ini ialah metode ekstraksi dengan
pelarut minyak atsiri.
Prinsip dari ekstraksi ini adalah melarutkan minyak atisiri yang terdapat dalam
simplisia dengan pelarut organik yang mudah menguap. Simplisia diekstraksi dengan
plarut yang cocok dalam suatu ekstraktor pada suhu kamar, kemudian pelarut diuapkan
dengan tekanan yang dikurangi. Dengan cara ini diperlukan banyak pelarut sehingga
biaya cukup mahal dan harus dilakukan oleh tenaga ahli. Sebagai pelarut biasanya
dipakai eter minyak tanah. Pelarut yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
a. Melarutkan sempurna komponen dari minyak atsiri yang terdapat dalam tanaman.
b. Mempunuyai titik didih rendah.
c. Tidak campur dengan air.
d. Inert, tidak bereaksi dengan komponen minyak atsiri.
e. Mempunyai satu titik didih, bila diuapkan tidk meninggalkan sisa.
f. Harga murah.
g. Bila mungkin tidak mudah terbakar.
Pelarut yang paling banyak digunakan adalah eter minyak tanah. Alkohol tidak
baik digunakan karena alkohol melarutkan air yang terdapat dalam tanaman. Untuk
simplisia tertentu alkohol menghasilkan bau yang tidak enak. Alkohol baik digunakan
untuk simplisia kering. Sari yang diperoleh dikenal dengan nama tingtur yang banyak
digunakan untuk sediaan farmasi. Ekstraksi dengan pelarut mudah menguap, banyak
banyak digunakan di berbagai negara dan secara umum dapat dipakai untuk sediaan

Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

18

farmasi.

Ekstraksi dengan pelarut mudah menguap, banyak digunakan di berbagai

negara dan secara umum dapat dipakai untuk bermacam simplisia dan diperoleh minyak
atsiri sesuai dengan aslinya.
Ekstraksi dengan pelarut organik umumnya digunakan untuk mengekstraksi
minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan dengan uap dan air. Cara ini baik
untuk mengekstraksi minyak dari bunga-bungaan, misal:

bunga cempaka, melati,

mawar, dll.
Cara kerja ekstraksi dengan pelarut menguap cukup sederhana, yaitu dengan cara
memasukkan bahan yang akan diekstraksi ke dalam ketel ekstraktor khusus dan
kemudian ekstraksi berlangsung secara sistematik pada suhu kamar, dengan
menggunakan petroleum eter sebagai pelarut. Pelarut akan berpenetrasi ke dalam bahan
dan melarutkan minyak bunga beserta beberapa jenis lilin dan albumin serta zat warna.
Larutan tersebut selanjutnya dipompa ke dalam evaporator dan minyak dipekatkan pada
suhu rendah. Setelah semua pelarut diuapkan dalam keadan vakum, maka diperoleh
minyak bunga yang pekat. Suhu harus tetap dijaga tidak terlalu tinggi selama proses ini.
Dengan demikian uap aktif yang terbentuk tidak akan merusak persenyawan minyak
bunga. Jika dibandingkan dengan mutu minyak bunga hasil penyulingan, maka minyak
bunga hasil ekstraksi menggunakan pelarut lebih mendekati bau bunga alamiah. Semua
minyak yang diekstraksi dengan pelarut menguap mempunyai warna gelap, karena
mengandung pigmen alamiah yang bersifat tidak dapat menguap. Sebaliknya hasil
penyulingan uap, umumnya berwarna cerah dan bersifat larut dalam alkohol 95%.
1. Ekstraksi dengan Pelarut Mudah Menguap
Prinsip dari ekstraksi ini adalah melarutkan minyak atsiri dalam bahan dengan
pelarut organik yang mudah menguap. Pelarut organik akan berpenetrasi ke dalam
jaringan dan akan melarutkan minyak serta bahan non volatile yang berupa resin, lilin
dan beberapa macam zat warna. Proses ekstraksi biasanya dilakukan dalam suatu wadah
(ketel) disebut extractor. Berbagai pelarut yang biasa digunakan adalah petroleum
ether, carbon tetra chlorida, chloroform, dan pelarut lainnya yang bertitik didih rendah.
Ekstraksi dengan pelarut organik umumnya digunakan untuk mengekstraksi
minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan uap dan air, seperti untuk
mengekstraksi minyak dari bunga-bungaan misalnya bunga cempaka, melati, mawar,
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

19

hyacinth,

tuberose,

narcissus,

gardenis,

lavender,

lily,

minose,

labdanum, violet lower dan geranium.


Pembuatan

minyak

atsiri

dengan

pelarut

menguap

dilakukan

dengan

menggunakan ekstraktor. Ekstraktor yang digunakan untuk mengekstrak minyak atsiri


dari bunga terdiri dari tabung ekstraktor berputar dan tabung evaporator (penguap).
Secara umum, proses pembuatan minyak dilakukan melalui beberapa tahapan :
1. Masukkan bahan baku yang masih segar dan pelarut mudah menguap ke dalam
ekstraktor
2. Putar ekstraktor selama 20 60 menit, pelarut akan berpenetrasi ke dalam jaringan
bahan baku dan melarutkan minyak serta bahan nonvolatile berupa resin, lilin dan
beberapa macam zat warna.
3. Selanjutnya pisahkan larutan hasil ekstraksi dari ampas
4. Larutan hasil ekstraksi kemudian didistilasi dalam evaporator vakum pada suhu
rendah, yaitu 450C.
5. Pelarut akan menguap dan meninggalkan larutan semi padat berwarna merah
kecoklatan yang disebut concrete (merupakan campuran dari minyak atsiri, lilin dan
resin).
6. Concrete diaduk dan dilarutkan dalam alkohol panas. Larutan alkohol ini mampu
mengikat minyak atsiri dengan sempurna.
7. Selanjutnya, larutan concrete didinginkan pada suhu -50C hingga mengendap dan
berbentuk lilin.
8. Endapan lilin selanjutnya diperas dan disaring hingga keluar larutan jernih
9. Larutan jernih hasil pemerasan selanjutnya didistilasi ulang untuk memisahkan
minyak dengan alkohol yang mengikatnya.
10. Distilasi dilakukan dalam kondisi vakum dan pada suhu rendah (45 0C) hingga
diperoleh larutan kental yang disebut dengan absolute (larutan minyak atsiri yang
dijual dengan harga tinggi).

Dalam industri parfum, sebagian besar produksi minyak atsiri modern dilakukan
dengan ekstraksi, dengan menggunakan sistem pelarut yang berdasar pelarut yang
mudah menguap seperti eter minyak tanah. Keuntungan utama ekstraksi adalah suhu
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

20

yang bisa dipertahankan kurang lebih 50 oC selama proses. Hasilnya minyak atsiri yang
didapat mempunyai bau yang lebih alami yang tidak dapat ditandingi minyak suling.
Hal ini karena selama penyulingan, dengan suhu yang tinggi, dapat mengubah
konstituen minyak atsiri. Namun demikian, metode penyulingan operasionalnya lebih
murah dibandingkan dengan proses ekstraksi.
Simplisia dimasukkan ke dalam ekstraktor dan selanjutnya pelarut oraganik murni
dipompakan ke dalam ekstraktor. Pelarut organik akan menembus ke dalam ekstraktor.
Pelarut organik akan menembus ke dalam jaringan simplisia dan akan melarutkan
minyak serta bahan lainnya seperti dmar dan lilin.

Komponen tersebut merupakan

pengotor, dan dipisahkan dengan cara penyulingan pada suhu rendah dan tekanan
rendah. Dengan cara penyulingan ini diperoleh campuran pelarut dan minyak atsiri
disebut concrete.
Pemurnian concrete (pelarut + minyak atsiri) ini dilakukan dengan melarutkan
dalam alcohol, diambil fase alcohol.

Fase alcohol ini didinginkan 0 oC, diperoleh

minyak atsiri dalam alcohol dan lilin.

Dilakukan penyaringan terhadap campuran ini,

diambil fase minyak atsiri dalam alkohol. Untuk memisahkan alkohol dan minyak
atsiri, dilakukan penyulingan pada tekanan dan suhu rendah, akan diperoleh alkohol dan
minyak atsiri murni.
Minyak yang dihasilkan dari penyulingan tanaman pada umumnya tidak murni
karena masih tercampur dengan minyak lain yang berasal dari tanaman sendiri atau
dengan hasil penguraian componen tanaman yang disebabkan proses penyulingan.
Untuk memperoleh minyak yang murni perlu dilakukan prosese pemurnian. Proses
pemurnian dapat dilakukan dengan:
a. Penyulingan kembali
Penyulingan kembali bertujuan untuk meisahkan componen yang muda
menguap dari componen yang tidak mudah menguap seperti logam berat yang
menyebabkan minyak berwarna lebih gelap dan debu halus yang terbawa oleh uap
atau uap air pada waktu penyulingan.
b. Penyulingan bertingkat
Penyulingan ini bertujuan untuk memisahkan minyak berdasarkan perbedaan
titik didih. DIlakukan penyulingan dengan pengurangan tekanan. Di industri minyak
Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

21

atsiri dilakukan penyulingan pada tekanan tidak lebih dari 5-10 mm Hg. Untuk
minyak-minyak yang bertitik didih tinggi dapat dipakai tangas air.
c. Penurunan suhu.
Penurunan suhu untuk menghablurkan hasil sampingan dari minyak atsiri yang
berupa senyawa hidrokarbon yang teroksidasi.
d. Penghabluran bertingkat
Penghabluran bertingkat dilakukan dengan penambahan dengan bermacammacam pelarut yang cocok, pada penambahan tersebut akan menghasilkan hablur
secara bertingkat.
e. Menghilangkan komponen dengan reaksi kimia.
Komponen yang tidak dikehendaki dihilangkan dengan reaksi kimia. Asamasam bebas dapat dihilangkan degnan natrium karbonat, basa dengan asam
hidroksida, fenol dengan natrium hidroksida, aldehida dengan natrium bisulfat, dll.
Tabel 7. Penanganan Minyak Atsiri
Cara
Penanganan
1. Penjernihan

Keterangan

a. Air, dihilangkan dengan penambahan Na2SO4 anhidrit


(natrium sulfat tak larut air) .
b. Ion logam, dihilangkan dengan penambahan asam sitrat atau
tartarat (ion logam larut dalam asam).
a. Pengisian
2. Pengemasan
Ruang kosong (head space) 5%; atau ruang kosong diisi gas
CO2 atau N2.
b. Bahan kemasan:
Gelas : 1) Tidak bereaksi (baik).
2) Tidak praktis.
Plastik: P.V.C, P.V.D.C., dsb. (minyak atsiri tertentu
dapat bereaksi).
Drum: 1). Besi, galvanis (baik).
2). Alumunium (baik, tidak tahan terhadap fenol).
3). Stainless steel (baik, mahal).
4). Tembaga (buruk).
5). Besi dilapisi zat coating (kemungkinan minyak dapat
bereaksi).
3. Penyimpanan a. Suhu dibawah 20 oC.
b. Tidak kena cahaya.
c. Terpisah dari bahan berbau.
(Sumber: Guenther, 1990 dalam Anonim, 2014).

Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

22

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2014.http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jbat/article/view/2546.Diakses pada 28
November 2014.
__________ http://download.portalgaruda.org/article.php?article=135647&val=5669.
Diakses pada 28 November 2014.
__________ http://jurnal.usu.ac.id/index.php/jtk/article/downloadSuppFile/119/22.
Diakses pada 28 November 2014.
__________ https://www.scribd.com/doc/38226460/Proses-Pembuatan-Minyak-AtsiriCengkeh. Diakses pada 28 November 2014.
__________ http://repository.upnyk.ac.id/336/1/Karakterisasi_Minyak_Atsiri_dari_Limbah
_Daun_Cengkeh.pdf. Diakses pada 28 November 2014.
__________ https://www.scribd.com/doc/61024498/Minyak-Atsiri-Dauncengkeh#download.Diakses pada 28 November 2014.
__________ http://digilib.batan.go.id/e-prosiding/File%20Prosiding/Lingkungan/P3TMJuli-2003/Sukarsono-Iman-Dahroni-dan-Dwi-Heru-Sucahyo257.pdf.Diakses
pada 28 November 2014.
__________ http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/4s1kedokteran/206311072/BAB%202.pdf.
Diakses pada 28 November 2014.
__________ http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33716/4/Chapter%20II.pdf.
Diakses pada 28 November 2014.
Ketaren,S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta : Balai Pustaka.
Dwiari

S,dkk.2008.Teknologi

Pangan.Pusat

Pembukuan

Departemen

Pendidikan

Nasional.Jakarta

Teknologi Pangan dan Gizi - Ekstraksi Minyak Atsiri Cengkeh Menggunakan Pelarut

23