Anda di halaman 1dari 6

Tugas Akuntansi Manajemen Lanjutan

Bridgeton Industries Automotive Component And Fabrication Plant

Oleh :
Claudia Astika Putri Mayangsari
Fincy Annisa
Irhash Ardhianta

Program Profesi Akuntansi 24


STIE YKPN
Yogyakarta
2014

Bridgeton Industries Automotive Component And Fabrication Plant

A. Pendahuluan
Automotif Component and Fabrication Plant (ACF) adalah lokasi pabrik Bridgeton
Industries yang merupakan pemasok domestik terbesar dari komponen automotif. Semua
produknya dijual ke Big Three manufaktur domestik, namun kenaikan harga bensin dan
persaingan dengan pasar internasional memberi tantangan yang cukup berat bagi ACF.
Bridgeton sendiri memiliki dua pabrik manufaktur mesin diesel hemat bahan bakar
yang salah satunya berada di fasilitas ACF, jika perkembangan mobil dengan tenaga diesel
tidak dapat diteruskan lagi salah satu operasi harus ditutup.
Bridgeton kemudian menyewa konsultan strategi untuk memeriksa semua produk
Bridgeton dan menglasifikasikannya. Biaya produk diklasifikasikan ke dalam tiga kelas.
Kelas I untuk produk kelas dunia, kelas II untuk produk yang memiliki potensi untuk
menjadi kelas dunia dan produk kelas III yang tidak memiliki harapan untuk menjadi kelas
dunia dimana sebaiknya produk tersebut outsource saja.
Untuk tetap bertahan pada akhir tahun 1987 dilakukan outsource atas oil pans dan
muffler-exhaust systems. Beberapa program lain juga dilakukan untuk meningkatkan
kualitas produk dan produktivitas, tetapi bukannya meningkatkan produksi programprogram yang diaplikasikan malahan membuat produk manifold yang tadinya berada di
kelas

II turun ke kelas III dan perusahaan tidak dapat melakukan apa-apa untuk

mempertahankan bisnisnya.
B. Identifikasi Masalah
Permasalahan utama yang ditemui di kasus Bridgetone adalah ketidak mampuan
Bridgetone untuk bersaing harga produk dengan kompetitor lain baik kompetitor lokal
maupun internasional. Hal tersebut tercermin dari perkataan Mike Lewis selaku plant
manager perusahaan, This doesnt make sense. I know we are more competitive. We
have made all kinds of improvements, but our cost keep going up and were still losing
business. What more can we do? Selain itu Ronald Peter, seorang pegawai di fasilitas
mesin lama, mengatakan, Management told us we were not cost competitive. We worked
ourselves into the ground and lowered the unit cost, and still lost the business. Dari

perkataan tersebut dapat terlihat bahwa meskipun ACF telah berusaha semaksimal
mungkin dalam menurunkan biaya unit produk nyatanya usaha tersebut tidak memberikan
hasil yang positif dan perusahaan tetap tidak bisa bersaing dengan para kompetitor lainnya.
Masalah lainnya yang timbul adalah kenaikan harga produk di pasar akan
memungkinkan terjadinya death spiral yaitu keadaan dimana harga yang ditawarkan oleh
perusahaan tidak dapat mengimbangi atau mengungguli kompetitornya sehingga akan
terjadi penurunan permintaan dan berimbas juga pada penurunan penjualan dan
pendapatan perusahaan.
Masalah ketiga yang muncul di Bridgetone adalah jatuhnya level produk manifolds
yang sebelumnya berada di kelas II ke kelas III padahal Bridgetone telah berusaha
mengembangkan produksinya dan melakukan efisiensi dan penurunan biaya unit produk.
Masalah tersebut ditegaskan dalam kalimat yang tercantum di kasus, In spite of these
improvements in the production process, manifolds, designated Class II in the initial study,
were downgraded to Class III in the 1989/90 model year budget and identified as
candidates for outsourcing.
C. Analisa Masalah
Penyebab utama dari kekalahan Bridgetone dalam persaingan harga produk dengan
para kompetitor yang menyebabkan perusahaan sedikit demi sedikit kehilangan bisnisnya
adalah adanya kesalahan penghitungan biaya overhead yang dibebankan ke produk, dimana
biaya overhead sangatlah tinggi mencapai 435% biaya direct labor. Terlalu besarnya biaya
overhead ini disebabkan oleh perusahaan yang masih menggunakan traditional costing atau
activity-based management system, dimana pada traditional costing biaya produksi tidak
langsung dibebankan ke production cost center, lalu dibebankan kembali ke cost drive. Cost
pool yang digunakan juga biasanya hanya terdiri dari 1-2 macam costpool. Jika kita
menghitung biaya produksi tidak langsung dibandingkan dengan biaya langsung tenaga kerja
pada tahun 1986/87 1989/90 maka hasil yang didapatkan adalah peningkatan persentase
perbandingan kedua biaya tersebut dari tahun ke tahun. Hal itu disebabkan oleh penurunan
biaya tenaga kerja langsung, sebagai imbas dari outsource yang dilakukan perusahaan dimulai
tahun 1988/99, namun tidak diimbangi dengan penurunan indirect cost yang signifikan.
Tahun
1986 / 87
1987 / 88

Direct Labor Cost


24.682
25.294

Overhead Cost
107.954
109.890

Overhead Rate
437,37%
434,45%

1988 / 89
1989 / 90

13.537
14.102

78.157
79.393

577,36%
562,99%

Dengan penggunaan traditional costing yang jauh lebih mudah dan hemat biaya pembebanan
indirect cost menjadi tidak tepat, karena pada sistem traditional costing yang diterapkan di
perusahaan penghitungan indirect cost menggunakan ukuran tenaga kerja langsung. Dapat
dilihat di tahun 1988/89 biaya direct labor mengalami penurunan tetapi presentase indirect
cost terhadap direct labor sebaliknya menunjukkan kenaikan. Hal tersebut memacu
permasalahan kedua yaitu kemungkinan terjadinya death spiral atau downward demand spiral
dimana outsourcing yang dilakukan perusahaan menyebabkan biaya produk lain yang
diproduksi sendiri meningkat karena beberapa biaya overhead terkait dengan produk outsource
tetap ada. Kenaikan biaya produksi produk non-outsource menyebabkan harga produk di pasar
terus meningkat dan tidak dapat bersaing dengan kompetitor lain sehingga terjadi penurunan
permintaan atau yang kita sebut dengan death spiral.
Penurunan permintaan membawa dampak negatif pada pendapatan dan keuntungan perusahaan.

Expected Selling Price


Standard Material Cost
Standard Labor Cost
Overhead Allocation Rate (OAR)
Overhead (OAR*DL Cost)
Gross Margin on sale of one unit
(Price - DM - DL - Overhead)
Gross Margin Percentage

Product I
1987/88 1989/90
62
62
16
16
6
6
434%
563%
26.1
33.8

Product II
1989/90 1989/90
54
54
27
27
3
3
434%
563%
13
16.9

13.9

6.2

11

7.1

22%

10%

20%

13%

Dari tabel di atas dapat dilihat penurunan gross margin perusahaan dari tahun 1987/88 atau
tahun sebelum perusahaan melakukan outsource dengan tahun 1889/90 dimana perusahaan telah
melakukan outsource.
Walaupun perusahaan telah melakukan pengembangan proses produksi agar efisien,
perusahaan tidak dapat lari dari kenyataan bahwa produk manifolds yang sebelumnya berada di
kelas II harus turun peringkat menjadi produk kelas III dimana untuk produk kelas III konsultan
yang disewa oleh perusahaan menyarankan agar perusahaan melakukan outsourcing pada produk
tersebut.
D. Solusi

Untuk mengatasi permasalahan kesalahan penghitungan biaya perlu diterapkan sistem baru
yaitu ABC (Activity-Based Cost) system disamping penggunaan sistem lama yakni traditional
costing yang selama ini dipakai oleh Bridgetone. ABC digunakan untuk memberikan cara yang
lebih tepat dalam mengukur biaya indirect cost untuk selanjutnya dilakukan pembebanan atas
resource dari indirect cost kepada aktivitas indirect cost tersebut sesuai dengan resources drivernya. Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Bridgetone dalam sistem ABC adalah sebagai
berikut :
1. Tentukan aktivitas pendukung
(overhead)
2. Bebankan resource expense ke
aktivitas
3. Identifikasi cost driver masingmasing aktivitas

4. Hitung activity cost driver rate

5. Bebankan biaya ke produk


dengan menggunakan cost driver
rate

Penggunaan sistem ABC akan membuat perusahaan membebankan indirect cost ke produk
dengan jumlah yang lebih akurat penetapan harga jual pun akan semakin akurat. Selain itu sistem
ABC dapat digunakan untuk mengawasi konsumsi sumber daya dan membantu mengatur
consumption dan spending dalam perusahaan. Dengan sistem ABC manajer dapat berusaha
melakukan aktivitas dengan lebih efisien, membuat perhitungan ulang atas harga produk atau
memperbaiki product mix perusahaan ( Cooper, pp. B1-9).
Bridgetone sendiri sebaiknya menggunakan ABC berdampingan dengan traditional
costing agar produktivitas meningkat dan efisiensi tetap terjaga atau bahkan dapat meningkat juga.
Dengan penggunaan sistem traditional costing berdampingan dengan sistem ABC diharapkan
Bridgetone dapat mengklasifikasikan aktivitas produksinya mulai dari yang paling menguntungkan
hingga pada produk yang tidak dapat memberikan profit yang maksimal kemudian membuat
strategi untuk melakukan pengefisienan produk yang kurang menguntungkan.

Dalam kasus Bridgetone disebutkan bahwa produk manifolds jatuh ke kelas III atau
sebagai produk yang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan outsourcing. Sebelum Bridgeton
menghentikan produksi manifolds yang notabene adalah produk unggulan karena memiliki omset
penjualan tinggi dengan keuntungan yang cukup besar dan memilih untuk melakukan outsource
dari tempat lain ada baiknya Bridgetone mengusahakan pengefisienan produksi manifolds dan
tidak melakukan outsource terhadap manifolds karena hal tersebut akan mengurangi penjualan dan
pendapatan Bridgetone.