Anda di halaman 1dari 8

OTOMATISASI RUANG RAPAT DENGAN SENSOR PIR BERBASIS MIKROKONTROLLER

ATMega8535

Nama : Lucas All Jonathan, Nungky Puspitasari, Rizal Ade Kurniawan

ABSTRAKSI
Beban lampu penerangan dalam suatu rangkaian lazimnya di operasikan secara manual oleh manusia. Dengan
kemajuan teknologi saat ini, campur tangan manusia dalam operasional berusaha dikurangi. Saklar otomatis
akan dapat memudahkan operasional. Efefktif dan efisien untuk menghindari lampu yang menyala sia sia tanpa
aktifitas. Tujuannya tak lain untuk menghindari pemborosan energy listrik.
Telah dilakukan perancangan dan realisasi pembuatan alat penghemat energy listrik untuk instalasi ruang dengan
sensor PIR (Passive Infrared) berbasis pemrograman mikrokontroller ATMega 8535. PIR termasuk sensor panas
jenis pyroelectric yang mempunyai respon saat ada perubahan panas. Sumber panas di radiasikan dengan infra
merah, Radiasi panas tubuh manuasia menghasilkan energy panas yang diradiasikan oleh Pinframerah. Radiasi
panas tubuh manusia akan di terima sensor untuk respon masukan rangkaian. Alat penghemat energy listrik
untuk instalasi ruangan dengan sensor PIR merupakan suatu bentuk penghematan energy listrik yang ramah
linkungan.
Kata Kunci : Mikrokontroller ATMega 8535, Sensor PIR

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Sejalan dengan perkembangan pembangunan,
jumlah kebutuhan daya listrik di Indonesia
cenderung naik pesat. Peningkatan kebutuhan daya
listrik dapat diakibatkan oleh penambahan beban
baru, dapat juga disebabkan karena borosnya
pemakaian daya listrik. Pemborosan energy listrik
harus dicegah, karena pasokan daya listrik PLN
semakin terbatas. Penghematan energy listrik dapat
menguntungkan konsumen dan produsen.
Pada saat ini pengendalian on/off berbagai piranti
listrik kebanyakan masih dikendalikan secara
manual dengan menekan tombol saklar on/off.
Perkembangan gaya hidup dan dinamika sosial saat
ini menunjukkan semakin pentingnya kepraktisan
dan efisiensi menyebabkan kebutuhan untuk
mengendalikan berbagai piranti listrik tidak hanya
dilakukan secara manual yang mengharuskan kita
berada dihadapan piranti.
Tugas akhir semester ini mengambil topik tentang
pembuatan saklar otomatis dengan sensor PIR
yang berbasis mikrokontroller. Sensor PIR akan
1

mendeteksi kehadiran orang dalam suatu ruangan.


Dasarnya adalah radiasi panas tubuh dengan infra
merah. Lampu akan menyala saat pintu di buka
dan beberapa saat kemudian kipas angin (fan) akan
menyala jika sensor mendeteksi adanya manusia.
Lampu dan fan akan tetap menyala apabila masih
ada kegiatan manusia di dalam ruangan tersebut.
Dan lampu akan mati jika sudah tidak ada kegiatan
manusia di dalam ruangan tersebut dan keadaan
pintu tertutup. Dengan kata lain sensor kehadiran
orang ini akan di aplikasikan sebagai saklar
otomatis.
Pengaturan lampu penerangan dan fan biasanya
dengan menggunakan saklar. Untuk menghidupkan
atau memadamkan lampu dengan mengoperasikan
secara manual. Orang yang masuk paada ruangan
gelap pasti akan menyalakan lampu. Namun
apabila orang tersebut akan keluar ruangan, belum
tentu ingat untuk mematikan lampu-lamou yang
menyala. Apabila hal tersebut diatas terjadi dalam
waktu yang lama, maka akan terjadi pemborosan.
Untuk menghindari pemborosan energy listrik,
maka dalam tugaas akhir semester ini dibuat dan
dibahas rangkaian otomatis untuk mengendalikan
lampu dan fan pada ruangan.

1.2 TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai dari pembuatan
Otomatisasi ruangan berbasis Mikrokontroler
ATMega
8535
adalah
untuk mengatasi
permasalahan tentang pemborosan energy listrik.
Dimana lampu dan fan akan menyala (hidup) jika
di ruangan tersebut terdapat orang. Jika dalam
ruangan terebut sudah tidak terdapat orang makan
lampu dan fan akan secara otomatis mati.

Set Computer), sedangkan seri MCS-51


berteknologi CISC (Complex Instruction Set
Computer).
Mikrokontroler
AVR
dapat
dikelompokkan menjadi empat kelas, yaitu
keluarga ATtiny, keluarga AT90Sxx, keluarga
ATMega, dan keluarga AT89RFxx. Pada dasarnya
yang membedakan masing-masing kelas adalah
memori, kelengkapan periperal dan fungsi-fungsi
tambahan yang dimiliki. Berikut ini penjelasan
lebih
lengkap
mengenai
Mikrokontroller
ATMega8535

BAB II
LANDASAN TEORI
Listrik telah masuk sampai di pedesaan, karena
listrik berguna untuk membantu aktifitas manusia
terutama, untuk pekerjaan dalam ruang gelap
ataupun melakukan pekerjaan yang membutuhkan
tenaga listik untuk menjalankan alat industri.
Listrik yang dipakai sangat terbatas, karena listrik
sangat terbatas dan mempunyai kuota, sehingga
dibuatlah alat penghemat energi listrik untuk
penerangan ruangan. Dalam bab ini dijelaskan
mengenai teori - teori tentang perancangan alat
penghemat energi listrik untuk penerangan ruangan
berbasis mikrokontroler. Berikut ini teori perangkat
keras dan perangkat lunak yang digunakan.
2.1 MIKROKONTROLLER ATMega8535
Mikrokontroller merupakan sebuah system
computer yang seluruh atau sebagian besar
elemnnya dikemas dalam suatu chip IC, sehingga
sering disebut single chip microcomputer. Lebih
lanjut, mikrokontroler merupakan system computer
yang mempunyai satu atau beberapa tugas yang
sangat spesifik, berbeda daengan PC (Personal
Computer) yang memiliki beberapa fungsi.
Perbedaan
antara
computer
dengan
mikrokontroller.
Mikrokontroller
adalah
sebuah
system
microprocessor dimana didalamnya sudah terdapat
CPU, ROM, Ram, I/O, Clock dan peralatan
internal lainnya yang sudah saling terhubung dan
terorganisasi dengan baik oleh pabrik pembuatnya
dan dikemas dalam satu chip yang siap pakai,
sehingga kita tinggal memprogram isi ROM sesuai
aturan penggunaan oleh pabrik yang membuatnya
menurut Winoto (2008:3).

Gambar 2.1 Mikrokontroller ATMega8535


ATMega8535 adalah mikrokontroller CMOS 8 bit
daya rendah berbasis arsitektur RISC. Instruksi
dikerjakan pada satu siklus clock, ATMega8535
mempunyai throughput mendekati 1 MIPS per
MHz, hal ini membuat ATMega8535 dapat bekerja
dengan kecepatan tinggi walaupun dengan
penggunaan daya rendah. Mikrokontroller
ATmega8535 memiliki beberapa fitur atau
spesifikasi yang menjadikannya sebuah solusi
pengendali yang efektif untuk berbagai keperluan.
Fitur-fitur tersebut antara lain:
1. Saluran I/O sebanyak 32 buah, yang terdiri atas
Port A, B, C dan D
2. ADC (Analog to Digital Converter)
3. Tiga buah Timer/Counter dengan kemampuan
perbandingan
4. CPU yang terdiri atas 32 register
5. Watchdog Timer dengan osilator internal
6. SRAM sebesar 512 byte
7. Memori Flash sebesar 8kb dengan kemampuan
read while write
8. Unit Interupsi Internal dan External
9. Port antarmuka SPI untuk men-download
program ke flash
10. EEPROM sebesar 512 byte yang dapat
diprogram saat operasi
11. Antarmuka komparator analog
12. Port USART untuk komunikasi serial.

Teknologi yang digunakan pada mikrokontroler


AVR berbeda dengan mikrokontroller seri MCS- 2.2 SENSOR PIR ( Passive Infrared Receiver)
51. AVR berteknologi RISC (Reduced Instruction
PIR
(Passive
2

Infrared Receiver) merupakan sebuah sensor


berbasiskan inframerah. Akan tetapi tidak seperti
sensor inframerah kebanyakan yang terdiri dari IR
LED dan fototransistor. PIR tidak memancarkan
apapun seperti IR LED. Sesuai dengan namanya
Passive, sensor ini hanya merespon energy dari
pancaran sinar inframerah pasif yang dimiliki oleh
setiap benda yang terdeksi olehnya. Benda yang
bisa dideteksi oleh sensor ini biasanya adalah
tubuh manusia.
Didalam sensor PIR ini terdapat bagian-bagian
yang mempunyai peranan masing-masing yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Fresnel Lens
IR Filter
Pyroelectric sensor
Amplifier
Comparator

tubuh manusia yang berkisar antara 9 sampai 10


mikrometer ini saja yang dapat dideteksi oleh
sensor.
Jadi ketika seseorang berjalan melewati sensor,
sensor akan menangkap pancaran sinar inframerah
pasif yang dipancarkan oleh tubuh manusia yang
memiliki suhu yang berbeda dari lingkungan
sehingga menyebabkan material pyroelectric
bereaksi menghasilkan arus listrik karena adanya
energy panas yang dibawa oleh sinar inframerah
pasif tersebut. Kemudian sebuah sirkuit aamplifier
yang ada menguatkan arus tersebut yang kemudian
dibandingkan
oleh
komparator
sehingga
menghasilkan output.
Ketika manusia berada didepan sensor PIR dengan
kondisi diam, maka sensor PIR akan menghitung
panjang gelombang yang dihasilkan oleh tubuh
manusia tersebut. Panjang gelombang yang
konstan ini yang menyebabkan energy panas yang
dihasilkan dapat digambarkan hamper sama pada
kondisi lingkungan di sekitarnya. Ketika manusia
itu melakuakan gerakan, maka tubuh manusia itu
akan menghasilkan pancaran sinar inframerah pasif
dengan panjang gelombangyang bervariasi,
sehingga menghasilkan panas berbeda yang
menyebabkan sensor merespon dengan cara
menghasilkan arus pada material Pyroelectricnya
dengan besaran yang berbeda beda. Karena
besaran yang berbeda inilah comparator
menghasilkan output.

Gambar 2.4 Konstruksi Sensor PIR

Sensor PIR ini bekerja dengan menangkap energy


panas yang dihasilkan dari pancaran sinar
inframerah pasif yang dimiliki setiap benda dengan
Jadi sensor PIR tidak akan menghasilkan output
suhu benda diatas nol mutlak. Seperti tubuh
apabila sensor ini dihadapkan dengan benda panas
manusia yang memiliki suhu tubuh kira kira 32
yang tidak memiliki panjang gelombang
derajat celcius, yang merupakan suhu panas yang
inframerah 8 sampai 14 mikrometer dan benda
khas yang terdapat pada lingkungan. Pancaran
yang diam seperti sinar lampu yang sangat terang
sinar inframerah inilah yang kemudian ditangkap
yang mampu menghasilkan panas, pantulan objek
oleh pyroelectic sensor yang terdiri dari gallium
benda dari cermin dan suhu panas ketika musim
nitride, caesium nitrat dan litium tantalite
panas.
menghasilkan arus listrik. Mengapa bias
menghasilkan arus listrik. Hal ini dikarenakan 2.3 DIODA
pancaran sinar inframerah pasif ini membawa
Dioda adalah suatu bahan yang dibuat dari bahan
energy panas. Prosesnya hamper sama seperti arus
yang disebut PN Junction yaitu suatu bahan
listrik yang terbentuk ketika sinar matahari
campuran yang terdiri dari bahan positif (P type)
mengenai solar sel.
dan bahan negatif (N type). Apabila kedua bahan
Mengapa sensor PIR hanya bereaksi pada tubuh
tersebut dipertemukan maka akan menjadi
manusia saja. Hal ini di sebabkan karena adanya
komponen aktif yang disebut Dioda. P type akan
IR Filter yang menyaring panjang gelombang sinar
membentuk kaki yang disebut kaki Anoda dan N
inframerah pasif IR Filter dimodul sensor PIR ini
type akan membentuk Katoda. Pada dioda, arus
mampu menyaring panjang gelombang sinar
listrik hanya akan dapat mengalir dari anoda ke
inframerah pasif antara 8 sampai 14 mikrometer,
kutub katoda.
sehingga panjang gelombang yang dihasilkan dari
3

Gambar 2.6 Simbol Dioda

2.3.2 Dioda Cahaya (LED : Light Emitting


Dioda)
LED merupakan salah satu jenis dioda yang
mengubah energi perpindahan electron electron
yang jatuh dari pita konduksi ke pita valensi
menjadi cahaya. Berwana warninya cahaya yang
dipancarkan ini, dikarenakan jenis bahan yang
digunakan berbeda beda. Bahan bahannya
antara lain gallium, arsen dan fosfor. Penggunaan
LED biasanya berhubungan dengan segala hal
yang dilihat oleh manusia, seperti untuk mesin
hitung, jam digital, dan lain lain.

2.3.1 Karakteristik Dioda


Sifat umum dioda adalah hanya dapat
menghantarkan arus listrik ke satu arah saja. Oleh
karena itu bila pemasangan dioda terbalik maka
dioda tidak akan dapat menghantarkan arus listrik.
Prinsip ini biasanya digunakan sebagai pengaman
alat elektronika yaitu untuk menunjukkan benar
atau salah penyambungan catu daya. Dioda
memiliki dua elektroda (kaki), yaitu anoda dan
katoda. Kaki kaki ini tidak boleh terbalik dalam
pemasangannya. Kaki katoda biasanya dekat
dengan tanda cincin sedangkan kaki yang jauh dari
tanda cincin berarti kaki anoda. Jika P (anoda)
diberi tegangan positif dan N (katoda) diberi
tegangan negatif maka pemberian tegangan ini
disebut bias maju (biased forward). Sebaliknya,
Gambar 2.10 Simbol Dioda Cahaya ( LED )
bila diberi tegangan yang terbalik yaitu P (anoda)
diberi tegangan negatif dan N (katoda) diberi 2.4 RESISTOR
tegangan positif maka pemberian tegangan ini
Resistor komponen pasif elektronika yang
disebut bias mundur (biased reverse). Pada
berfungsi untuk membatasi arus listrik yang
keadaan ini, arus yang mengalir dalam dioda
mengalir. Berdasarkan kelasnya resistor dibagi
sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
menjadi 2 yaitu : Fixed Resistor dan Variable
Resistor Dan umumnya terbuat dari carbon film
atau metal film, tetapi tidak menutup kemungkinan
untuk dibuat dari material yang lain. Pada dasarnya
semua bahan memiliki sifat resistif namun
beberapa bahan tembaga perak emas dan bahan
Pada saat diberi biased forward, dioda dapat dialiri
metal umumnya memiliki resistansi yang sangat
arus dengan resistansi yang cukup kecil, yang
kecil. Bahan bahan tersebut menghantar arus
dikenal dengan nama resistansi maju (forward).
listrik dengan baik, sehingga dinamakan
Sebaliknya, jika dioda diberi biased reverse, maka
konduktor. Kebalikan dari bahan yang konduktif,
arus listrik akan mengalami resistansi yang amat
bahan material seperti karet, gelas, karbon
besar dan disebut resistance reverse.
memiliki resistansi yang lebih besar menahan
Dioda dapat dianggap suatu Voltage Sensitive
aliran elektron dan disebut sebagai insolator.
Electronic Switch, dimana dioda akan menutup
Gambar 2.11 Resistor Karbon
atau dalam kondisi ON jika anoda lebih positif dari
katoda dan dioda akan terbuka jika kondisi
2.4.1 Fixed Resistor
sebaliknya. Macam macam dioda yang harus
Resistor adalah komponen dasar elektronika yang
diketahui adalah :
digunakan untuk membatasi jumlah arus yang
1. Dioda Penyearah (Rectifier)
mengalir dalam satu rangkaian. Sesuai dengan
2. Dioda Zener
namanya resistor bersifat resistif dan umumnya
3. Dioda Cahaya (LED Light Emiting
terbuat dari bahan karbon. Tipe resistor yang
Dioda)
umum berbentuk tabung porselen kecil dengan dua
Arus AC yang mendorong elektron keatas melalui
kaki tembaga dikiri dan kanan. Pada badannya
resistor, saat melewati dioda hanya periode
terdapat lingkaran membentuk gelang kode warna
positif dari tegangan input yang akan memberikan
untuk memudahkan pemakai mengenali besar
bias forward pada dioda, sehingga dioda akan
resistansi tanpa mengukur besarnya dengan ohm
menghantarkan selama periode positif. Tetapi
meter. Kode warna tersebut adalah standar
untuk periode negatif, dioda dibias reverse dan
terjadilah penyumbatan karena kecil sekali arus
4

menufaktur yang dikeluarkan oleh EIA (Electronic


Industries Association).
2.5 TRANSISTOR
Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai
sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan
penyambung (switching), stabilisasi tegangan,
modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya.
Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik,
dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau
tegangan
inputnya
(FET),
memungkinkan
pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit
sumber listriknya. Pada umumnya, transistor
memiliki 3 terminal. Tegangan atau arus yang
dipasang di satu terminalnya mengatur arus yang
lebih besar yang melalui 2 terminal lainnya.
Transistor adalah komponen yang sangat penting
dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian
analog, transistor digunakan dalam amplifier
(penguat).
Rangkaian analog melingkupi pengeras suara,
sumber listrik stabil, dan penguat sinyal radio.
Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor
digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi.
Beberapa transistor juga dapat dirangkai
sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic
gate, memori, dan komponen-komponen lainnya.
Transistor adalah komponen elektronika yang
mempunyai tiga buah terminal. Terminal itu
disebut emitor, basis, dan kolektor. Transistor
seakan-akan dibentuk dari penggabungan dua buah
dioda. Dioda satu dengan yang lain saling
digabungkan dengan cara menyambungkan salah
satu sisi dioda yang senama. Dengan cara
penggabungan seperti dapat diperoleh dua buah
dioda sehingga menghasilkan transistor NPN.

Relay adalah suatu rangkaian switch magnetik


yang bekerja bila mendapat catu dan suatu
rangkaian trigger. Relay memiliki tegangan dan
arus nominal yang harus dipenuhi output rangkaian
pendriver atau pengemudinya. Arus yang
digunakan pada rangkaian adalah arus DC.
Konstruksi dalam suatu relay terdiri dari lilitan
kawat (coil) yang dililitkan pada inti besi lunak.
Jika lilitan kawat mendapatkan aliran arus, inti besi
lunak kontak menghasilkan medan magnet dan
menarik switch kontak. Switch kontak mengalami
gaya listrik magnet sehingga berpidah posisi ke
kutub lain atau terlepas dari kutub asalnya.
Keadaan ini akan bertahan selama arus mengalir
pada kumparan relay. Dan relay akan kembali
keposisi semula yaitu normaly ON atau Normaly
OFF, bila tidak ada lagi arus yang mengalir
padanya, posisi normal relay tergantung pada jenis
relay yang digunakan. Dan pemakaian jenis relay
tergantung pada kadaan yang diinginkan dalam
suatu rangkaian.
Menurut kerjanya relay dapat dibedakan menjadi :
a. Normaly Open (NO), saklar akan tertutup bila
dialiri arus
b. Normaly Close (OFF), saklar akan terbuka bila
dialiri arus
c. Change Over (CO), relay ini mempunyai saklar
tunggal yang nomalnya tertutup yang lama, bila
kumparan 1 dialiri arus maka saklar akan
terhubung ke terminal A, sebaliknya bula
kumparan 2 dialiri arus maka saklar akan
terhubung ke terminal B.
Analogi rangkaian relay yang digunakan pada
tugas akhir ini adalah saat basis transistor ini dialiri
arus, maka transistor dalam keadaan tertutup yang
dapat menghubungkan arus dari kolektor ke emiter
yang mengakibatkan relay terhubung. Sedangkan
fungsi dioda disini adalah untuk melindungi
transistor dari tegangan induksi berlebih, dimana
tegangan ini dapat merusak transistor. Jika
transistor pada basis tidak ada arus maju, transistor
terbuka sehingga arus tidak mengalir dari kolektor
ke emiter, relay tidak bekerja karena tidak ada arus
yang mengalir pada gulungan kawat.

Bahan
mentah
yang
digunakan
untuk
menghasilkan bahan N dan bahan P adalah silikon
dan germanium. Oleh karena itu, dikatakan :
1. Transistor germanium PNP
2. Transistor silikon NPN
3. Transistor silikon PNP
4. Transistor germanium NPN
Semua komponen di dalam rangkaian transistor
dengan simbol. Anak panah
yang terdapat di dalam simbol menunjukkan arah 2.7 LIMIT SWITCH
yang melalui transistor.
Limit switch adalah salah satu sensor yang akan
bekerja jika pada bagian actuator nya tertekan
suatu benda, baik dari samping kiri ataupun kanan,
2.6 RELAY
mempunyai micro switch dibagian dalamnya yang
5

berfungsi untuk mengontakkan atau sebagai


pengontak, gambar batang yang mempunyai roda
itu namanya actuator lalu diikat dengan sebuah
baud, berfungsi untuk menerima tekanan dari luar,
roda berfungsi agar pada saat limit switch
menerima tekanan , bisa bergerak bebas, kemudian
mempunyai tiga lubang pada body nya berfungsi
untuk tempat dudukan baud pada saat pemasangan
di mesin.
2.7.1 Cara Kerja Limit Switch
. Ketika actuator dari Limit switch tertekan suatu
benda baik dari samping kiri ataupun kanan
sebanyak 45 derajat atau 90 derajat ( tergantung
dari jenis dan type limit switch ) maka, actuator
akan bergerak dan diteruskan ke bagian dalam dari
limit switch, sehingga mengenai micro switch dan
menghubungkan kontak-kontaknya, pada micro
switch terdapat kontak jenis NO dan NC seperti
juga sensor lainnya, kemudian kontaknya
mempunyai beban kerja sekitar 5 A, untuk
dihubungkan ke perangkat listrik lainnya, dan
begitulah seterusnya, selain itu limit switch juga
mempunyai head atau kepala tempat dudukan
actuator pada bagian atas dari limit switch dan
posisinya bisa dirubah-rubah sesuai dengan
kebutuhan.

Gambar 3.1 Diagram Alir Otomatisasi Ruangan


Berbasis Mikrokontroller ATMega8535
Penjelasan Diagram:
1. Power Suplay ini digunakan untuk
menghidupkan
mikrokontroller
ATMega8535.
2. Setelah
program
diproses
dalam
mikrokontroller
maka
data
hasil
pemrosesan akan dikeluarkan menuju
Sensor PIR dan Limit Switch.
3. Limit Switch akan memerintahkan lampu
untuk menyala saat limit switch di tekan.
4. Sensor PIR akan memerintahkan fan untuk
bekerja saat sensor PIR mendeteksi adanya
manusia.

2.7.2Penerapan
Contoh-contoh penggunaan limit switch adalah
3.2 RANGKAIAN ALAT
sebagai berikut :
Digunakan untuk sensor door open/close.
Digunakan untuk sensor cylinder up/down.
Digunakan untuk sensor Safety cover

(emergency stop).
Digunakan untuk sensor mesin home posisi.
Dll.

BAB III
PEMBAHASAN
Gambar 3.2 Rangkaaian Kontrol

3.1 DISKRIPSI KERJA


Dalam penggunaan alat ini memiliki cara kerja
yang sangat sederhana, dengan basis pemrograman
pada mikrokontroller. Cara kerjanaya Otomatisasi
Ruang Rapat ini terdapat sensor PIR. Sensor ini
berfungsi sebagai pengganti saklar untuk
menghidupkan instalasi listrik yang ada di ruangan
tersebut.
6

3.3 DAFTAR KOMPONEN DAN FUNGSI

if(PINB.0==0)

1. Mikrokontroller ATMega8535
Merupakan komponen yang utama yang di
gunakan dalam system, sebagai pemroses
program.
2. Sensor PIR ( HC-SR501)
Berfungsi sebagai saklar yang bekerja jika
mendeteksi keberadaan manusia. Dalam
sensor PIR yang di gunakan saat ini
mempunyai 5 pir module. Inputannya
adalah 4,5 20 VDC. Dan akan
menghasilkan output 3.3 V dengan logic
high.
3. Resistor 1k, 220
Merupakan komponen yang digunakan
untuk menghambat arus. Pada rangkaian
ini resistor digunakan sebagai pengatur
arus untuk masukan LED dan fan.
4. Dioda IN 4001
Dioda merupakan komponen yang
digunakan untuk merubah tegangan AC
menjadi DC dengan kata lain sebagai
penyearah.
5. Limit switch
Digunakan sebagai saklar pengganti saklar
manual untuk lampu.
3.4 PROGRAM KONTROL

{
goto bawah1;
}
}
bawah1:
while(1)
{
PORTC=PORTD=0xff;
if (PINA.0==0)
while(1)
{
goto bawah2;
}
}
bawah2:
while(1)
{

#include <mega8535.h>

PORTD=0x00;

#include <delay.h>

if (PINA.0==1)

void main(void)

goto bawah3;

DDRC=DDRD=0xff;

PORTA=PORTB=0xff;

DDRA=DDRB=0x00;

bawah3:

while(1)

while(1)

atas:

PORTC=PORTD=0x00;

if(PINA.0==0)

delay_ms(100);

goto atas;
PORTC=0xff;

}}}}

while(1)
7

3.5 PRINSIP KERJA RANGKAIAN


1. Tegangan dari pln 220 V masuk kedalam
catudaya sehingga menghasilkan tegangan 5
VDC untuk mensuplay mikrokontroller
ATMega8535.

4. Untuk ruangan yang lebih luas dan


memerlukan lokalisasi operasi, diperlukan
penambahan jumlah sensor.
5. Untuk lebih handal lagi dapat memakai
sensor panas type thermopile.
Referensi

2. Jika pintu di buka dan limit switch tertekan,


Artanto (2009), Mikrokontroler adalah sebuah alat
maka lampu pada ruangan akan menyala.
pengendali (kontroler) berukuran mikro.
3. dan Jika sensor PIR mendeteksi adanya manusia
Jakarta: Artanto.
maka sensor PIR akan bekerja dan fan akan Budiharto, W., (2004), Interfacing Komputer dan
ON.
Mikrokontroler, Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.
4. Jika pintu di buka dan mengenai limit switch
Dr. Agfianto E. Putra., (2012), Mikrokontroler DSP &
lagi, maka fan dan lampu akan off.
Embedded Electronics(Lecturer, Consultant,
Author) http://agfi.staff.ugm.ac.id).
BAB IV
Iswanto, (2008), Design dan Implementasi Sistem
PENUTUP
Embedded
Mikrokontroler
ATMega8535
dengan Bahasa Basic, Bandung: Informatika.
5.1 Kesimpulan
Marry,
(2010),
Jenis-Jenis
Mikrokontroler,
http://m4rry.blogspot.com.
Dalam
pembuatan
tugas
akhir
semester
OTOMATISASI
RUANG
RAPAT
DENGAN Next System., (2011), Pelatihan Mikrokontroler dan
Robotik, http://edukasi.nextsys.web.id.
SENSOR PIR BERBASIS MIKROKONTROLLER
ATMega8535 ini dapat diambil kesimpulan antara lain: Prasimax Mikron., (2001), Kontrol Peralatan Listrik
dgn
Mikrokontroler
a. Pengontrolan pada system otomatisasi ini
http://www.mikron123.com.
menggunakan mikrokontroller ATMega8535.
A.,
(2008),
Mikrokontroler
AVR
b. Output keluaran yang di hasilkan oleh input sensor Winoto,
ATmega8/32/16/8535 dan Pemrogramannya
sesuai dengan yang di harapkan, yaitu:
dengan Bahasa C pada WinAVR, Bandung:
1. Jika limit switch di tekan maka LED akan
Informatika.
menyala.
2. Jika Sensor PIR mendeteksi adanya manusia
maka fan akan on
3. Lampu dan fan akan Off jika sensor sudah
tidak mendeteksi adanya manusia dan pintu
dalam keadaan tertutup.
5.2 Saran
Berdasarkan pengalaman selama pembuatan
aplikasi yang telah dilakukan, berikut adalah
beberapa saran yang penting untuk diperhatikan :
1. Dengan adanya pengembangan dan
penyempurnaan dalam suatu sistem dari alat
ini alangkah lebih baik lagi, jika alat ini
dikembangkan dengan menambah kamera
untuk mengirim gambar bila alat mendeteksi
orang asing di ruangan tersebut.
2. Peletakan Sensor PIR harus ideal sesuai
dengan kegunaan rangkaian.
3. Kontak saklar otomatis dapat digunakan
untuk beban yang berbeda.
8