Anda di halaman 1dari 23

PEMBELAJARAN BAHASA BERBASIS

TEKS DAN JENIS-JENIS TEKS

Dr. Tri Wiratno, M.A.


Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret
Surakarta

Disajikan pada
Sosialisasi Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam
Implementasi Kurikulum 2013

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa


Kementerian Penddidikan dan Kebudayaan
2013

PEMBELAJARAN BAHASA BERBASIS TEKS DAN


JENIS-JENIS TEKS
1. Penejelasan Istilah
Pembelajaran bahasa berbasis teks juga disebut pembelajaran
bahasa berbasis genre. Kalau begitu, apakah teks (text) sama
dengan genre? Di sisi lain, teks disejajarkan dengan wacana
(discourse). Apakah teks dan wacana sama?
1.1Teks
Teks adalah satuan bahasa yang dimediakan secara tulis atau lisan
dengan tata organisasi tertentu untuk mengungkapkan makna
dalam konteks tertentu pula (Bandingkan dengan Wiratno, 2003: 34).
Teks mempunyai sejumlah ciri, yaitu:
(1)secara konkret, teks merupakan sebuah objek, tetapi secara
abstrak, teks
merupakan satuan bahasa di dalam wilayah bahasa sebagai
sistem;
(2)teks mempunyai tata organisasi yang kohesif;
(3)teks mengungkapkan makna;
(4)teks tercipta pada sebuah konteks;
(5)teks dapat dimediakan secara tulis atau lisan
(Wiratno, 2009: 77).
1.2 Genre
Genre dapat dipandang sebagai proses sosial dan sebagai jenis
teks. Padangan yang pertama adalah padangan genre secara luas,
yaitu latar belakang sosial dan budaya yang melatarbelakangi

terciptanya teks. Adapun pandangan yang kedua adalah pandangan


genre secara sempit, yaitu jenis teks dalam bentuk instantiasi.
1.2.1 Genre sebagai Proses sosial
Genre dapat didefinisikan secara operasional sebagai proses sosial
yang berorientasi kepada tujuan yang dicapai secara bertahap, (a
staged, goal-oriented social process) (Martin, 1985b; Martin, 1992).
Dikatakan sosial karena orang menggunakan genre untuk
berkomunikasi dengan orang lain; dikatakan berorientasi kepada
tujuan karena orang menggunakan genre untuk mencapai tujuan
komunikasi; dan dikatakan bertahap karena untuk mencapai tujuan
tersebut, biasanya dibutuhkan beberapa tahap melalui pembabakan
di dalam genre (Martin & Rose, 2003: 7-8).

1.2.2 Genre sebagai Jenis Teks


(Dijelaskan pada Nomor 5 di bawah ini)
1.3 Teks dan Wacana
Terdapat beberapa pendapat yang menganggap bahwa teks dan
wacana berbeda. Perbedaan itu pada umumnya dilihat dari: (1) cara
memediakan, (2) ada tidaknya konteks, (3) kontras antara proses
dan produk, serta (4) kontras antara bentuk dan makna.
Dilihat dari cara memediakan, teks dibedakan dengan wacana
dalam hal bahwa teks dimediakan secara tulis, sedangkan wacana
dimediakan secara lisan. Pendapat seperti itu menegaskan bahwa
teks adalah serangkaian kalimat yang diungkapkan secara tulis
yang ditandai oleh kohesi gramatikal; sedangkan wacana adalah
penggunaan kalimat-kalimat tersebut dalam bentuk tuturan lisan
yang menghasilkan koherensi gramatikal (Widdowson, 1973;
Widdowson, 2007; Coulthard, 1985).

Berdasarkan konteks, dibedakan bahwa teks belum disertai


konteks, sedangkan wacana berada dalam konteks. Teks
diasosiasikan dengan a strech of language interpreted formally,
without context, sedangkan wacana diasosiasikan dengan a strech
of language percieved to be meaningful, unified, and purposive
(Cook, 1989: 156, 158). Wacana adalah teks yang disertai konteks
(Hoey, 2001). Pada pandangan ini, rupanya konteks dianggap
menentukan makna.
Dari segi produk dan proses, persoalan terletak pada
penciptaannya, yaitu teks dilihat sebagai produk yang terjadi pada
suatu waktu dan wacana dilihat sebagai proses yang sedang
berlangsung dalam waktu (Matthiessen, Teruya, & Lam, 2010: 218219). Sebagai produk, teks merupakan instantiasi hasil penataan
pola-pola gramatika. Sebagai proses, teks merupakan sedangberlangsungnya pemilihan leksiko-gramatika yang menunjukkan
pola-pola penataan tertentu untuk menciptakan makna. Karena
pola-pola itu teratur dan berkembang dalam waktu tertentu,
muncullah jenis-jenis teks. Jenis-jenis teks yang sama mempunyai
pola yang sama sebagaimana tercermin pada struktur teks jenisjenis teks tersebut.
Jelas bahwa teks dan wacana berbeda dalam hal bahwa teks
mengacu kepada produk, sedangkan wacana mengacu kepada
proses. Pada teks sebagai produk belum didapatkan makna.
Sebaliknya, pada wacana sebagai proses, pembaca menemukan
makna dari proses interaksi antara diri pembaca dan teks yang
dibaca.
Adapun dilihat dari segi bentuk dan makna, teks dan wacana
berbeda dalam hal bahwa teks mengacu secara formal kepada
bentuk fisik dari peristiwa komunikasi, sedangkan wacana mengacu
secara fungsional kepada makna sebagai hasil dari interpretasi
terhadap peristiwa komunikasi tersebut dalam konteks (Bandingkan
dengan Nunan, 1993: 5-7). Peristiwa komunikasi itu dapat berupa
kotbah, percakapan, transaksi jual beli, puisi, novel, poster, iklan,
dan berita. Di pihak lain, teks didefinisikan sebagai a technical
term, to refer to the verbal record of a communicative act (Brown &

Yule, 1983: 6); sedangkan wacana adalah communicative events


involving language in context (Nunan, 1993: 118). Wacana tidak
tampak secara fisik, tetapi wacana itu sendiri merupakan
manifestasi dari teks yang tampak secara fisik (Tanskanen, 2006: 3).

2. Teori Kebahasaan sebagai Dasar Pembelajaran/


Pengajaran Bahasa
Pembelajaran dan pengajaran bahasa yang dilaksanakan di suatu
negara didasarkan pada teori kebahasaan tertentu. Menurut
Richards dan Rodgers (2001), secara garis besar terdapat tiga
kelompok teori kebahasaan yang mendasari pembelajaran dan
pengajaran bahasa di dunia, yaitu teori struktural (structural view),
teori fungsional (functional view), dan teori interaksionis
(interactionist view).
Pada teori struktural, dikatakan bahwa bahasa merupakan suatu
sistem tentang unsur-unsur struktural yang saling berkaitan untuk
menyatakan makna. Pada pandangan ini, pembelajaran bahasa
dilihat sebagai penguasaan unsur-unsur struktural (termasuk di
dalamnya adalah fonologi, bentuk-bentuk gramatika, unsur-unsur
leksikal, dan sebagainya).
Pada teori fungsional, bahasa dipandang sebagai alat untuk
mengungkapkan makna yang sesuai dengan fungsi yang
dikehendaki. Teori ini lebih menekankan unsur-unsur semantik dan
komunikatif daripada unsur-unsur struktural dan gramatikal. Menurut
pandangan ini, pembelajaran bahasa menitikberatkan kandungan

bahasa yang lebih didasarkan pada fungsi dan makna ketimbang


pada elemen-elemen struktural dan gramatikal.
Pada teori interaksionis, bahasa digunakan sebagai alat untuk
merealisasikan hubungan antarmanusia. Dengan demikian, bahasa
dilihat sebagai perwujudan usaha yang dilakukan oleh penggunanya
untuk melangsungkan interaksi sosial.
Sesungguhnya masih terdapat teori lain lagi yang telah banyak
diterapkan sejak akhir tahun 1980-an, yaitu teori Linguistik Sistemik
Fungsional (LSF) sebagai induk secara umum (Halliday, 1985;
Halliday & Matthiessen, 2004) dan teori genre secara khusus
(Martin, 1985; Martin, 1992). Pada teori ini, bahasa selalu digunakan
dalam wujud teks yang dilingkupi oleh konteks situasi dan konteks
budaya. Mengajarkan bahasa berarti mengajarkan cara
menggunakan bentuk-bentuk bahasa untuk mengungkapkan diri
sendiri, dunia di sekitar, pengalaman, serta nilai-nilai sosial atau
nilai-nilai budaya.

3. Pendekatan, Metode, Teknik


Dalam pengajaran bahasa, pendekatan, metode, dan teknik
merupakan tiga komponen yang sangat erat berhubungan. Ketiga
komponen itu bahkan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisah-pisahkan (Anthony, 1963; Lihat pula ulasan Richards &
Rodgers, 1982; Richards & Rodgers, 2001). Richards & Rodgers
menginterpretasikan satu kesatuan ini dengan menggunakan empat
istilah: metoda, pendekatan, disain, dan prosedur. Bagi mereka,

metoda menempati posisi yang paling atas dan membawahi ketiga


lainnya.
3.1Pendekatan
Pendekatan ialah cara memandang pengajaran dan pembelajaran
bahasa atas dasar asumsi terhadap hakikat bahasa. Secara
aksiomatis, pendekatan membentangkan peta tentang apa yang
akan diajarkan kepada pembelajar (Anthony, 1963: 64). Dengan
kata lain, pendekatan berkenaan dengan filsafat atau teori
kebahasaan yang mendasari pengajaran yang akan dilaksanakan di
depan kelas. Seperti akan disajikan di bawah ini, Pendekatan
Mengajar Berbasis Teks dilandasi oleh LSF yang dirintis oleh M.A.K.
Halliday, dan lebih khusus lagi teori genre yang dikemukakan oleh
J.R. Martin.
Telah dinyatakan di atas bahwa hingga saat ini, teori kebahasaan
yang mendasari kegiatan pengajaran dan pembelajaran bahasa di
duniia dikelompokkan menjadi tiga, yaitu teori struktural, teori
fungsional, dan teori interaksionis. Akan tetapi, kenyataan bahwa
dimungkinkan bahwa teori kedua dan ketiga digabungkan.
Sebagaimana diuraikan di bawah ini, penggabungan itu terjadi
misalnya pada Pendekatan Komunikatif (Communicative Approach).
3.2Metode
Metode ialah tata cara penyajian materi yang bersifat prosedural
(Anthony, 1963: 65). Apabila di satu sisi pendekatan berkenaan
dengan teori tertentu yang digunakan sebagai pijakan untuk
melaksanakan kegiatan belajar mengajar, di sisi lain, metode

berkenaan dengan penerapan teori tadi sesuai dengan tataran


kebahasaan yang dipilih, tujuan yang akan dicapai, penentuan
ketrampilan berbahasa yang dirpioritaskan, isi materi yang akan
diajarkan, dan susunan (urutan) yang ditentukan untuk
menyampaikan isi materi itu.
Dari keterangan di atas, dapat digarisbawahi bahwa bagian-bagian
yang ada pada metode tidak akan saling berkontradiksi, dan di
dalam satu pendekatan dimungkinkan terdapat berbagai macam
metode. Sebagai contoh, dapat disebutkan bahwa di bawah payung
teori struktural lahirlah antara lain Pendekatan Oral (Oral Approach)
atau Pendekatan Situasional (Situational Approach), Metode
Penerjemahan Tata Bahasa (Grammar-Translation Method), Metode
Audiolingual (Audiolingual Method), Metode Respons Fisik Total
(Total Physical Response), dan Metode Diam (Silent Way). Perlu
dicatat bahwa untuk kedua nama yang disebut pertama, istilah
pendekatan dan metode sering dipertukarkan.
Di bawah teori fungsional lahirlah Pendekatan Alamian (Natural
Approach), konsep Silabus Nosional dan Fungsional (Notional and
Functional Syllabus) (misalnya oleh Wilkins, 1976), konsep
pengajaran ESP (English for Specific Purposes), dan konsepkonsep pengajaran bahasa yang didasarkan pada kebutuhan
pembelajar (needs analysis). Pada nama Pendekatan Alamiah,
pengertian pendekatan dan metode dipertukarkan.
Pendekatan Komunikatif (Communicative Approach) dapat
dogolongkan ke dalam pendekatan yang lahir dari teori fungsional,

meskipun sesungguhnya metoda ini tidak hanya diformulasikan dari


teori kebahasaan tersebut, dan lebih merupakan gabungan antara
teori fungsional dan teori interaksional. Selain itu, perlu
dikemukakan kembali bahwa istilah communicative yang dipakai
pada metode/pendekatan ini sebenarnya tidak diturunkan dari teori
Chomsky (1965) tentang linguistic competence, yakni kemampuan
yang harus dimiliki oleh penutur untuk dapat memproduksi kalimatkalimat yang benar secara gramatikal, tetapi dari teori Hymes (1972,
1979) mengenai communicative competence dan teori Halliday
(1970, 1975) tentang language use and functionyaitu teori yang
menekankan bahwa terdapat seperangkat pengetahuan dan
kemampuan yang dibutuhkan oleh penutur untuk dapat
berkomunikasi sesuai dengan fungsi yang diemban oleh bahasa.
Pada lingkup teori interaksional, lahirlah beberapa metode antara
lain Pendekatan Analisis Wacana Kelas (Classroom Discourse
Analysis) (misalnya, Christie, 2002) dan Pendekatan Analisis
Percakapan (Conversational Analysis). Di sini, pengertian
pendekatan dan metode juga dipertukarkan.
Dari teori yang terakhir, SFL dan genre, Pendekatan Mengajar
Berbasis Teks diformulasikan. Teori SFL oleh alliday dan teori genre
oleh Martin beserta koleganya inilah yang mendasari lahirnya
pendekatan mengajar berbasis teks yang disebut Genre Based
Approach (Martin, 1985; Martin, 1992; Martin, 1997; Martin, 2009;
Christie & Martin, Eds., 1997; Martin & Rose, 2008; Rose & Martin,
2012).

3.3Teknik
Teknik bersifat implementasional. Artinya, teknik berurusan dengan
cara, strategi, atau taktik pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di
kelas (Anthony, 1963: 66) untuk mencapai tujuan pengajaran yang
telah ditentukan. Teknik harus sejalan dengan metode yang dipilih
dan sekaligus seirama dengan pendekatan. Dengan demikian,
seperti telah diutarakan di atas, pendekatan, metode, dan teknik
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Berbagai teknik dapat diterapkan di kelas, misalnya ceramah,
pemberian tugas, diskusi, tanya jawab, kerja kelompok, kerja
berpasangan, bercerita, permainan, penerjemahan, role play, dan
teknik apa pun yang sesuai dengan perkembangan situasi di kelas.

4. Pembelajaran Bahasa Berbasis Teks/Genre


Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks dilaksanakan dengan
menerapkan prinsip bahwa (1) bahasa hendaknya dipandang
sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata-kata atau kaidahkaidah kebahasaan, (2) penggunaan bahasa merupakan proses
pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan
makna, (3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa
yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena bentuk
bahasa yang digunakan itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan
ideologi penggunanya, dan (4) bahasa merupakan sarana
pembentukan kemampuan berpikir manusia, dan cara berpikir
seperti itu direalisasikan melalui struktur teks (Prawacana, Bahasa
Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013).

Telah disebutkan di atas bahwa teks adalah satuan bahasa yang


mengandung makna, pikiran, dan gagasan yang lengkap secara
kontekstual. Teks tidak selalu berwujud bahasa tulis, sebagaimana
lazim dipahami, misalnya teks Pancasila yang sering dibacakan
pada saat upacara. Teks dapat berwujud baik tulis maupun lisan,
bahkan dalam multimoda, teks dapat berwujud perpaduan antara
teks lisan atau tulis dan gambar/animasi/film.
Teks itu sendiri memiliki dua unsur utama, yaitu konteks situasi dan
konteks budaya. Konteks situasi berkenaan dengan penggunaan
bahasa yang di dalamnya terdapat register yang melatarbelakangi
lahirnya teks, yaitu adanya sesuatu (pesan, pikiran, gagasan, ide)
yang hendak disampaikan (field); sasaran atau partisipan yang
dituju oleh pesan, pikiran, gagasan, atau ide itu (tenor); dan format
bahasa yang digunakan untuk menyampaikan atau mengemas
pesan, pikiran, gagasan, atau ide itu (mode). Terkait dengan format
bahasa tersebut, teks dapat diungkapkan ke dalam berbagai jenis,
misalnya deskripsi, laporan, prosedur, eksplanasi, eskposisi, diskusi,
naratif, cerita petualangan, anekdot, dan lain-lain.
Konteks yang kedua adalah konteks situasi dan konteks budaya
masyarakat tutur bahasa yang menjadi tempat jenis-jenis teks
tersebut diproduksi. Konteks situasi merupakan konteks yang
terdekat yang menyertai penciptaan teks, sedangkan konteks sosial
atau konteks budaya lebih bersifat institusional dan global.
Terdapat perbedaan antara satu jenis teks dan jenis teks lainnya.
Perbedaan dapat terjadi, misalnya, pada struktur teks. Sebagai

contoh, teks deskripsi dan teks prosedur memiliki struktur yang


berbeda, meskipun kedua teks tersebut termasuk ke dalam kategori
teks faktual. Apabila teks deskripsi memiliki ciri tidak terstruktur dan
tidak bersifat generalisasi, teks prosedur justru bersifat terstruktur
dan dapat digeneralisasi. Struktur teks deskripsi terdiri atas
pernyataan umum^bagian/aspek yang dideskripsikan (tanda ^
berarti diikuti oleh), sedangkan struktur teks prosedur terdiri atas
tujuan^langkah-langkah.
Lebih jauh lagi, teks deskripsi dan teks prosedur tersebut berbeda
dengan teks cerita/naratif. Kedua jenis teks yang pertama tergolong
ke dalam kategori teks faktual, sedangkan teks cerita/naratif
tergolong ke dalam kategori teks sastra atau fiksi. Berbeda dengan
struktur teks deskripsi atau prosedur, struktur teks cerita/naratif
adalah abstrak^orientasi^komplikasi^ evaluasi^resolusi^koda.
Demikian pula, teks laporan, teks eksplanasi, teks eskposisi, teks
diskusi, dan teks-teks jenis lain mempunyai struktur teks yang
berbeda-beda.
Struktur teks membentuk struktur berpikir, sehingga di setiap
penguasaan jenis teks tertentu, siswa akan memiliki kemampuan
berpikir sesuai dengan struktur teks yang dikuasainya. Dengan
berbagai macam teks yang dikuasainya, siswa akan mampu
menguasai berbagai struktur berpikir. Bahkan, satu topik tertentu
dapat disajikan ke dalam jenis teks yang berbeda dan tentunya
dengan struktur berpikir yang berbeda pula. Hanya dengan cara itu,
siswa kemudian dapat mengonstruksi ilmu pengetahuannya melalui
kemampuan mengobservasi, mempertanyakan, mengasosiasikan,

menganalisis, dan menyajikan hasil analisis secara memadai


(Prawacana, Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013).
Selain itu, secara garis besar teks dapat dipilah atas teks sastra dan
teks nonsastra. Teks sastra dikelompokkan ke dalam teks naratif
dan nonnaratif. Adapun teks nonsastra dikelompokkan ke dalam
teks jenis faktual yang di dalamnya terdapat subkelompok teks
laporan dan prosedur dan teks tanggapan yang dikelompokkan ke
dalam subkelompok teks transaksi dan eksposisi. Dengan
memperhatikan jenis-jenis teks di atas, termausuk unsur utama
yang harus ada di dalam teks, melalui pembelajaran bahasa
berbasis teks, materi sastra dan materi kebahasan dapat disajikan.
Pada pengajaran dan pembelajaran berbasis teks, terdapat empat
tahap yang harus ditempuh (Rose & Martin, 2012), yaitu:
(1)tahap pembangunan konteks,
(2)tahap pemodelan teks,
(3)tahap pembuatan teks secara bersama-sama,
(4)tahap pembuatan teks secara mandiri.
Keempat tahap itu berlangsung secara siklus.
Guru dapat memulai kegiatan belajar-mengajar dari tahap manapun,
meskipun pada umumnya tahap-tahap itu ditempuh secara urut.
Selain itu, apabila kegiatan belajar-mengajar mengalami kesulitan
pada tahap tertentu, misalnya pembuatan teks secara bersama-

sama, guru boleh mengarahkan siswa untuk kembali kepada tahap


pemodelan.
Setiap pelajaran pada buku Bahasa Indonesia untuk siswa yang
diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terdapat
tiga kegiatan belajar. Kegiatan Belajar 1 berkenaan dengan tahap
pembanguan konteks yang dilanjutkan dengan pemodelan.
Pembangunan konteks dimaksudkan sebagai langkah-langkah awal
yang dilakukan oleh guru bersama siswa untuk mengarahkan
pemikiran ke dalam pokok persoalan yang akan dibahas pada
setiap pelajaran. Tahap pemodelan adalah tahap yang berisi tentang
pembahasan teks yang diberikan sebagai model pembelajaran.
Pembahasan diarahkan kepada semua aspek kebahasaan yang
membentuk teks itu secara keseluruhan. Tahap pembangunan teks
secara bersama-sama dilaksanakan pada Kegiatan Belajar 2. Pada
tahap ini siswa bersama-sama siswa lain dan guru sebagai
fasilitator menyusun kembali teks seperti yang ditunjukkan pada
model. Tugas-tugas yang diberikan berupa semua aspek
kebahasaan yang sesuai dengan ciri-ciri yang dituntut pada jenis
teks yang dimaksud. Adapun Kegiatan Belajar 3 diharapkan
merupakan kegiatan belajar mandiri. Pada tahap ini, siswa
diharapkan dapat mengaktualisasikan diri dengan menggunakan
teks sesuai dengan jenis dan ciri-ciri seperti yang ditunjukkan pada
model (Prawacana, Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik,
2013).

5. Jenis-jenis Teks
Genre sebagai jenis teks, dapat diolongkan menjadi genre faktual
dan genre fiksi atau rekaan. Genre faktual adalah jenis teks yang
dibuat berdasarkan kejadian, peristiwa, atau keadaan nyata yang
berada di sekitar lingkungan hidup. Genre fiksi adalah jenis teks
yang dibuat berdasarkan imajinasi, bukan pada kenyataan yang
sesungguhnya.
Genre faktual meliputi: laporan, deskripsi, prosedur, rekon (recount),
eksplanasi, eksposisi, dan diskusi. Di pihak lain, genre fiksi
mencakup: rekon, anekdot, cerita/narartif, dan eksemplum.
5.1Jenis Teks Faktual
5.1.1 Laporan
Harimau
Pernyataan
Umum atau
Klasifikasi

Harimau (Panthera tigris) digolongkan ke dalam mamalia,


yaitu binatang yang menyusui. Kucing besar itu adalah
hewan pemangsa dan pemakan daging.

Anggota/Aspek Harimau dapat mencapai tinggi 1,5 meter, panjang 3,3


yang
meter, dan berat 300 kilogram. Bulunya berwarna putih dan
Dilaporkan
cokelat keemas-emasan dengan belang atau loreng
berwarna hitam. Gigi taringnya kuat dan tajam untuk
mengoyak daging. Kakinya berjumlah empat dengan cakar
yang kuat untuk menerkam mangsanya.
Harimau mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan
baru. Harimau dapat hidup di hutan, padang rumput, dan
daerah payau atau hutan bakau. Di Indonesia harimau
dapat ditemukan di hutan dan hutan bakau di Pulau
Sumatera dan Jawa.
Harimau termasuk hewan penyendiri, tetapi mempunyai

wilayah yang amat luas untuk berburu mangsa.


Wilayahnya dapat mencapai kawasan perdesaan. Populasi
harimau cenderung menurun karena sering diburu
manusia. Oleh karena itu, harimau saat ini termasuk
binatang yang dilindungi pemerintah agar tidak punah.
Harimau menjadi pusat perhatian dalam dunia sastra, seni,
dan olahraga. Harimau sering dijadikan tokoh dalam cerita
rakyat, objek untuk foto atau gambar, dan maskot dalam
olahraga.
(Dari: Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013: 18)

5.1.2 Deskripsi
Harimau di Kebun Binatang A
Pernyataan
Benda yang
Dideskripsikan

Harimau yang ada di Kebun Binatang A berbeda dengan


harimau pada umumnya. Harimau yang diberi nama
Gagah itu tidak tampak gagah.

Bagian-Bagian
yang
Dideskripsikan

Badannya kurus, matanya tidak tajam, dan keadaannya


lemas seakan-akan empat kakinya tidak sanggup
menopang tubuhnya untuk berdiri tegak. Rupanya Gagah
tidak terawat. Binatang pemangsa itu tampak kurang
makan. Kecuali itu, Gagah tidak tampak buas. Ia juga tidak
memperhatikan bahwa di sekitar kandangnya terdapat
banyak pengunjung yang melihatnya. Gagah tampak lesu
dan malas bergerak. Gagah hanya diam meskipun situasi
di sekitarnya hiruk-pikuk.
Kandangnya pun tidak nyaman untuk Gagah. Lantainya
kotor, dindingnya kusam, atapnya bocor, dan pintunya
yang terbuat dari besi itu juga tidak kukuh.

(Dari: Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013: 171)

5.1.3 Prosedur

Tujuan

Cara Menggunakan Kartu ATM


Kartu ATM adalah salah satu fasilitas penting bagi nasabah
sebuah bank. Dengan kartu ATM, seorang nasabah bisa
dengan mudah melakukan transaksi penting. Transaksi
penting melalui ATM itu, antara lain, adalah
(1) transfer uang antarbank, baik bank yang sama maupun
yang berbeda;
(2) penarikan uang tunai;
(3) pembayaran tagihan, misalnya listrik atau telepon;
(4) pengecekan saldo tabungan;
(5) belanja atau pembayaran di kasir di tempat-tempat
tertentu, misalnya swalayan;
(6) pengisian pulsa telepon seluler;
(7) pembayaran tiket pesawat.

Langkahlangkah

1. Perhatikan panduan ini baik-baik


menggunakan ATM tercapai.

agar

tujuan

2. Setelah memasuki ruang mesin ATM, masukkan kartu


ATM (lihat jangan sampai terbalik, bagian sisi kiri yang
harus dimasukkan terlebih dahulu). Pada kartu ATM
tertentu biasanya ada tanda panah. Tanda panah itulah
sisi yang harus dimasukkan terlebih dahulu. Setelah
memasukkan kartu ATM, tunggu 54 Kelas X
sampai layar meminta pilih bahasa. Jika ingin
menggunakan bahasa Indonesia, pilihlah bahasa
Indonesia.
3. Kemudian, Anda masukkan nomor PIN (personal
identification number) rahasia Anda setelah di layar
tertera masukkan nomor PIN Anda. Pastikan jangan
sampai ada yang mengintip, sebaiknya rapatkan tubuh
Anda ke mesin ATM. Setelah memasukkan nomor PIN
dengan benar, pilihlah transaksi yang diinginkan
dengan menekan tombol yang ada di sisi layar lurus
dengan menu transaksi yang ingin dipilih, misalnya
penarikan tunai atau transaksi lainnya untuk melihat
layanan transaksi yang lain. Ikuti perintah selanjutnya
sesuai dengan yang tertera di layar. Masukkan jumlah
uang yang akan ditarik (kelipatan Rp50.000,00 atau
Rp100.000,00) jika Anda ingin menarik uang. Anda
tidak bisa menarik uang dari ATM dengan jumlah,
seperti Rp22.750. Berbeda dengan saat Anda
mentransfer uang, jumlah berapa saja dimungkinkan.
Ambillah uang yang keluar dari lubang uang yang ada
di bagian bawah. Jika tidak diambil, mesin ATM akan
menunggu perintah Anda selanjutnya. Adakalanya di
ATM bank yang berbeda pada transaksi penarikan

uang justru Anda diminta mengambil kartu ATM terlebih


dahulu. Perhatikan saja perintah yang ada di layar.
4. Jika transaksi selesai, jawablah pertanyaan bahwa
Anda selesai bertransaksi sesuai dengan menu yang
tertera di layar. Tunggu sampai keluar kertas bukti
transaksi dan ambil. Pada transaksi penarikan uang
adakalanya mesin ATM tidak mengeluarkan tanda bukti.
Perhatikan saja keterangan yang tertera di layar.
Setelah itu, kartu akan keluar dengan sendirinya. Ambil
kartu Anda dan transaksi berhasil.
(Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013: 53-54)
5.1.4 Rekon
Pariwisata ke Parang Tritis
Orientasi

Minggu lalu, saya dan keluarga saya berpariwisata ke


Parang Tritis. Parang Tritis adalah pantai di Samodra
Indonesia yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Urutan
Peristiwa

Pagi-pagi betul, kami semua telah dibangunkan. Sebelum


berangkat, ibu mempersiapkan makanan untuk bekal, ayah
memanasi mobil, saya dan adik saya menyiapkan
kebutuhan kami masing-masing.
Di Parang Tritis, kami bermain-main di hamparan pasir.
Kami berkejar-kejaran. Kemudian, kami bermain layanglanyang. Setelah itu, kami naik kuda, mengelilingi pantai.
Begitu matahari condong ke barat, kami semua lelah. Tiba
saatnya kami membuka bekal dan makan bersama.

Reorientasi
(Pilihan)
5.1.5 Eksplanasi

Meskipun lelah, kami semua merasa berbahagia.

Bagaimana Binatang Dapat Punah?


Pernyataan
Umum

Binatang tertentu menjadi langka dan terancam punah


sebagai akibat dari perubahan kondisi alam, binatang
pemangsa, dan perburuan yang dilakukan oleh manusia.

Urutan Sebab- Pertumbuhan penduduk di bumi ini menimbulkan


Akibat
bertambahnya permukiman, pabrik, perkantoran, dan lainlain. Pembangunan permukiman, pabrik, dan perkantoran
itu dilakukan dengan memanfaatkan wilayah hutan tempat
berbagai jenis binatang hidup. Ketika hutan dirusak untuk
tujuan-tujuan tersebut, habitat atau wilayah tempat
binatang-binatang itu hidup akan berkurang. Hal itu
menyebabkan ketersediaan pangan untuk binatangbinatang itu berkurang. Perubahan kondisi alam yang
demikian itu menyebabkan kepunahan beberapa spesies
binatang yang hidup di hutan tersebut.
Urutan Sebab- Binatang pemangsa atau predator juga dapat mengurangi
Akibat
jumlah spesies binatang tertentu. Jumlah binatang terus
berkurang karena binatang tertentu memangsa binatang
yang lain. Dalam habitat yang terus 176 Kelas X
menyempit, persaingan hidup di antara berbagai jenis
binatang menjadi makin ketat. Binatang yang lemah
menjadi mangsa binatang yang lebih kuat. Karena hewan
tertentu memangsa binatang yang lain, jumlah binatang
yang dimangsa menjadi terus-menerus berkurang hingga
akhirnya punah.
Urutan Sebab- Manusia ikut menyumbang kepunahan binatang karena
Akibat
manusia memburu jenis binatang tertentu tanpa kendali.
Perburuan dilakukan untuk mendapatkan daging untuk
dimakan oleh manusia atau untuk tujuan perdagangan
binatang secara tidak sah atau untuk dibunuh agar bagian
tubuhnya dapat dijual dengan harga mahal. Misalnya,
gajah diburu untuk diambil gadingnya, harimau diburu
untuk diambil kulitnya, kura-kura diburu untuk diambil
cangkangnya. Jumlah binatang itu terus berkurang.
Perburuan binatang secara tidak terkendali dapat
menyebabkan jenis binatang tertentu punah.
(Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013: 174-175)
5.1.6 Eksposisi
Pemimpin Sosial dan Politik Tidak Harus Mempunyai

Pendidikan Formal yang Tinggi

Pernyataan
Pendapat

Sudah diketahui oleh semua orang bahwa pendidikan


formal itu penting. Akan tetapi, apakah seseorang akan
menjadi pemimpin sosial atau pemimpin politik yang bagus
pada kemudian hari tidak selalu ditentukan oleh pendidikan
formalnya. Diyakini bahwa pengalaman juga menjadi faktor
penentu untuk menuju kesuksesan.

Argumentasi

Betul bahwa pendidikan formal memberikan banyak


manfaat kepada para calon pemimpin atau calon orang
terkemuka, tetapi pelajaran yang mereka peroleh dari
pendidikan formal tidak selalu dapat diterapkan di
masyarakat tempat mereka menjadi pemimpin atau menjadi
orang terkenal di kemudian hari. Kenyataan bahwa di
sekolah dan di perguruan tinggi, orang hanya mempelajari
teori, sedangkan di masyarakat, orang betul-betul belajar
untuk hidup melalui beraneka ragam pengalaman.
Pengalaman semacam inilah yang menghasilkan orangorang terkemuka, termasuk pemimpin sosial dan politik.
Orang-orang terkemuka dan pemimpin-pemimpin itu lahir
dari hal-hal yang mereka pelajari di masyarakat.
Sekadar menyebut contoh orang terkemuka atau pemimpin
sosial dan politik, kita dapat menunjuk beberapa nama.
Almarhum Adam Malik, konon ia hanya menyelesaikan
jenjang pendidikan dasar tertentu, diangkatmenjadi Wakil
Presiden Indonesia bukan karena pendidikan formalnya,
melainkan karena kapasitas yang ia dapatkan dari belajar
secara otodidak. Almarhum Hamka adalah contoh
pemimpin lain yang lahir dari caranya belajar sendiri. Ia
juga menjadi pemimpin agama dan sastrawan terkenal
sekaligus karena pengalaman belajar pribadinya, bukan
karena pendidikan formalnya yang tinggi. Bahkan, Einstein
tidak mempunyai reputasi pendidikan formal yang bagus,
tetapi melalui usahanya untuk belajar dan melakukan
penelitian sendiri di masyarakat, ia terbukti menjadi ahli
fisika yang sangat termasyhur di dunia.

Pernyataan
Ulang
Pendapat

Dengan demikian, jelaslah bahwa melalui pendidikan


formal orang hanya mempelajari cara belajar, bukan cara
menjalani hidup. Meskipun pendidikan formal diperlukan,
pendidikan formal bukan satu-satunya jalan yang dapat
ditempuh oleh setiap orang untuk menuju ke puncak
kesuksesannya.

(Diadaptasi dari Kiat Menulis Karya Ilmiah dalam Bahasa Inggris, 2003: 6162;
Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013: 103-104)

5.1.7 Diskusi
Energi Nuklir harus Dihindari demi Keamanan
Lingkungan
Isu

Argumentasi
Mendukung

Argumentasi
Menentang

Energi nuklir pada umumnya ditawarkan sebagai


alternatif untuk mengatasi krisis energi. Debat apakah
penggunaan energi nuklir adalah pilhan yang tepat
belum berakhir. Sejumlah orang setuju dengan
penggunaan nuklir karena manfaatnya. Namun
demikian, sejumlah orang yang lain tidak setuju karena
resikonya terhadap lingkungan. untuk kepentingan
keselamatan lingkungan, energi nuklir harus dihindari.
Orang-orang yang setuju dengan pengoperasian
rektor nuklir biasanya berargumentasi bahwa energi
yang diproduksi dari reaktor nuklir dapat digunakan
untuk berbagai tujuan. Reaktor tersebut dapat
memproduksi radioisotop yang dimanfaatkan di bidang
medis, industri, dan pertanian. Mereka juga mengklain
bahwa energi nuklir adalah satu-satunua pilihan yang
layak untuk menjawab kebutuhan energi yang terusmenerus bertambah. Menurut mereka, sumber-sumber
energi yang lain: minyak, batubara, dan gas alam cair
tidak terbarukan dan tidak aman, sedangkan energi nuklir
dapat diproduksi secara berkelanjutan dengan cara yang
aman.
Sejumlah pejabat pemerintah juga mengemukakan
bahwa energi jenis ini adalah energi yang paling aman
dalam kaitannya dengan lingkungan dibandingkan dengan
energi yang takterbarukan yang disebutkan di atas.
Mereka mengklaim bahwa reaktor tersebut beroperasi
atas basis dengan kebocoran nol, yang berarti bahwa
materi sisa diproses sehingga tidak ada sisa yang dibuang
ke lingkungan. Selain itu, mereka yakin, energi nuklir
tidak akan pernah menyebabkan polusi, tetapi energi yang
lain, khususnya minyak dan batubara, betul-betul
menyebabkan polusi.
Namun demikian, orang-orang yang tidak setuju
dengan penggunaan energi nuklir, di pihak lain, terusmenerus mengkritik bahwa memilihnya sebagai alternatif
yang paling bagus untuk mengatasi kebutuhan energi
yang terus bertambah adalah bodoh. Kebodohan itu
dapat dilihat dari pertanyaan mengapa mereka tertarik
kepada tenaga nuklir pada saat masih terdapat
berlimpahnya sumber-sumber energi alam: minyak,
batubara, hidroelectrik, termo, dan sebagainya.

Simpulan/
Rekomentdasi

5.2

Dalam reaksinya terhadap lingkungan, mereka


menambahkan bahwa pengoperasian tenaga nuklir
tidak masuk di akal. Sejumlah LSM yang memusatkan
perhatian kepada usaha untuk menyelamatkan
lingkungan berargumentasi bahwa produk sisa tenaga
nuklir betul-betul menghancurkan lingkungandan
kehidupan manusia. Di pihak lain, betul bahwa jenis
energi yang lain seperti minyak dan batubara
menyumbang polusi lingkungan, tetapi sumbangan
energi seperti itu masih dapat ditoleransi. Juga betul
bahwa reaktor nuklir menyediakan energi dalam jumlah
besar, tetapi sumbangan energi nuklir untuk
menghancurkan lingkungan dan kehidupan tdak dapat
ditoleransi. Kebocoran pada sebuah reaktor, misalnya,
mengakibatkan kontaminasi tanah dan air di bawah inti
nuklir, yang membuat kehidupan manusia tidak
memungkinkan sampai sejauh bermil-mil di sekitarnya.
Reaktor itu juga berbahaya bagi kehidupan karena
kebocoran radiasinya. Dalam hal ini, sering dikatakan
bahwa di bawah kontrol yang bagus tidak ada produk
sisa pecahan dimungkinkan untuk bocor keluar dari
reaktor. Akan tetapi siapa dapat menjamin ini?
Jelaslah bahwa energi nuklir harus dihindari karena
energi nuklir itu membahayakan lingkungan. Jika kita
bersikukuh untuk menggunakannya, sementara itu
radiasinya dikontrol dengan sangat lemah, maka hal itu
akan membunuh kita sendiri cepat atau lambat.
Pemerintah harus betul-betul memperhatikan kenyataan
itu dan merevisi pilihan tersebut.

Jenis Teks Fiksi

5.2.1 Rekon
5.2.2 Anekdot

5.2.3 Naratif
5.2.4 Eksemplum

Kejadian di Rumah Susun


Abstrak

Saya tinggal di rumah susun. Saya mempunyai


pengalaman yang memalukan tadi pagi.

Orientasi

Tetangga sepasang suami isteri yang tinggal di lantai


bawah saya tadi malam menyelenggarakan pesta bersama
teman-teman mereka. Tadi malam mereka sangat gaduh,
tetapi tidaklah mengapa. Isteri saya terbangun berkali-kali.

Krisis

Lalu tadi pagi terdapat sebuah mobil diparkir di depan jalan


keluar kami. Saya mengira bahwa mobil itu milik seseorang
yang ikut pesta tadi malam. Saya mengetuk pintu tetangga
saya itu. Saya ketuk pintunya berkali-kali, tetapi tak
seorang pun keluar. Saya kira mereka masih tertidur
karena mereka berpesta-pora sampai larut malam,
sehingga saya ketuk-ketuk terus dengan keras: pintu,
jendela, dan apa pun yang dapat saya ketuk dalam
jangkauan. Akhirnya, seorang laki-laki terbangun dan
melongok keluar jendela. Saya menjelaskan persoalan
yang terjadi. Ternyata, pesta tadi malam itun bukan
pestanya. Rumah susun ini terbagi menjadi dua sisi, dan
itu adalah pesta orang yang tinggal di sisi sebelah
belakang.

Reaksi

Lelaki itu terlihat tidak berkenan, karena ia juga tidak dapat tidur
semalam, terganggu oleh pesta tetangga di sisi sebelah lain itu!

Koda

Saya masih belum tahu mobil siapa yang menghalangi jalan


keluar kami itu.

(Diadaptasikan dari English Text: System and Structure, 1992: 566-567)

Email, wiratno.tri@gmail.com