Anda di halaman 1dari 15

Proposal

Workshops, Diskusi dan Seminar Peningkatan Keterpaduan


Pembangunan Infrastruktur dan Transportasi dalam
Pembangunan Wilayah Kedungsepur

Keterkaitan

Pembangunan

Infrastruktur

dan

Transportasi

dengan

Pembangunan Wilayah
Transportasi dan infrastruktur merupakan komponen-komponen penting di
dalam pembentukan modal wilayah, yang dapat berperan penting di dalam
peningkatan

pertumbuhan

ekonomi

wilayahnya.

Namun,

pengalaman

memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur dan transportasi di suatu


wilayah tidak selalu memberi dampak positif, dimana pembangunannya mampu
meberikan

dampak

langsung

kepada

peningkatan

produktivitas

ekonomi

wilayahnya. Selain adanya pengalaman pengembangan dampak langsung


tersebut,

beberapa

infrastruktur

dan

pengalaman

lain

transportasi

yang

juga

adanya

hanya

proses

mampu

pembangunan
memperlihatkan

berkembangnya dampak tak langsung kepada pertumbuhan ekonomi wilayah.


Bahkan beberapa pengalaman lain juga ada yang memperlihatkan pengaruh
negative dari pembangunan infrastruktur dan transportasi kepada perekonomian
wilayah, dengan berkembangnya fenomena pengurasan sumber-sumber daya
wilayah ke tempat lain.
Perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi yang terjadi sejak
beberapa dekade terakhir di abad lalu, yang tidak hanya telah mempersempit
jarak dan waktu tetapi juga telah menurunkan biaya transport dan komunikasi,
pun telah memberikan dampak-dampak positif di beberapa wilayah tertentu dan
dampak-dampak negatif di beberapa wilayah lainnya. Beberapa wilayah tertentu
mampu memanfaatkan perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi
tersebut untuk meningkatkan produktivitas wilayahnya, dengan melakukan
perluasan pasar dan meningkatkan integrasi wilayahnya dengan wilayah-wilayah
pemasarannya. Sementara itu, beberapa wilayah lainnya mendapat tekanan
yang

cukup

penting

dari

perkembangan

teknologi

tersebut,

sehingga

perkembangan ekonominya terdikte oleh produktivitas wilayah-wilayah lainnya,


dan dalam beberapa kasus, wilayah-wilayah tsb hanya mampu berperan sebagai
sub-ordinat dari wilayah-wilayah produksi utama, dan beberapa kasus yang lain

wilayahnya hanya mampu berperan sebagai wilayah pemasaran tanpa mampu


memanfaatkan perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi sebagai
salah satu elemen penting di dalam perkembangan produktivitas wilayahnya.
Belajar dari pengalaman-pengaaman tersebut, banyak ahli yang tidak lagi
memandang bahwa pembangunan infrastruktur dan transportasi merupakan
sebuah panacea di dalam proses pembangunan ekonomi di suatu wilayah.
Mereka lebih memandang bahwa pembangunan infrastruktur dan transportasi
hanyalah sebuah elemen penting yang mampu memberikan kemungkinankemungkinan di dalam proses pembangunan ekonomi wilayah, dimana keluaran
yang dihasilkan akan bergantung kepada proses dan interaksi yang komplek
antara ketersediaan sumber-sumber daya manusia, alam dan sumber-sumber
daya

lainnya,

dengan

investasi

yang

ditanamkan

kepada

pembangunan

infrastruktur dan transportasi di wilayahnya. Salah satu kunci yang diyakini agar
investasi

pembangunan infrastruktur dan transportasi

dapat memberikan

dampak

positif

adalah

pembangunan

kepada

pembangunan

infrastruktur

dan

wilayahnya

transportasi

tersebut

dapat

bagaimana
memberikan

kemungkinan berkembangnya potensi sumber-sumber daya manusia, alam dan


sumber-sumber daya lainnya itu menjadi aktivitas-aktivitas ekonomi yang
produktif yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi
wilayahnya.

Kedungsepur

sebagai

salah

satu

Kawasan

Andalan

di

dalam

Pembangunan Nasional Indonesia


Kawasan

Kedungsepur

adalah

suatu

kawasan

andalan,

dimana

berdasarkan UU no 26 tahun 2008 tentang RTRWN, kawasan perkotaannya telah


ditetapkan sebagai salah satu kawasan strategis nasional dari sudut pandang
kepentingan pertumbuhan ekonomi nasional, karena kawasan perkotaan ini
memiliki beberapa kriteria penting yang meliputi : potensi pertumbuhan ekonomi
yang cukup tinggi ; memiliki beberapa sektor unggulan seperti pertanian,
industri, pariwisata dan perikanan yang dapat menggerakkan pertumbuhan
ekonomi nasional ; memiliki potensi ekspor, terutama dari sektor-sektor ekonomi
unggulan tersebut ; dan didukung oleh keberadaan jaringan prasarana dan
infrastruktur wilayah yang mampu meningkatkan produktivitas wilayah dan
meningkatkan
perekonomian

aksesibilitasnya
wilayah

di

kepada

Kawasan

pasar

Kedungsepur

internasional.
juga

dinilai

Kegiatan
mampu

memanfaatkan ketersediaan teknologi tinggi, sehingga mampu berfungsi untuk


meningkatkan

ketahanan

perekonomian

nasional,

dan

mempercepat

pertumbuhan kawasan-kawasan tertinggal. Hal penting lain yang disematkan


kepada Kawasan Kedungsepur adalah kemampuannya untuk meningkatkan
tingkat produksi dan distribusi pangan nasional dalam rangkat meningkatkan
ketahanan pangan nasional.
Kawasan ini terdiri dari enam buah wilayah kabupaten dan kota. Kota
Semarang menjadi kota inti di dalam kawasan ini, sedangkan empat buah
kabupaten, yaitu kabupaten Kendal, Semarang, Grobogan dan Demak, dan Kota
Salatiga berperan sebagai wilayah pinggiran atau korona yang melingkari kota
inti dari di sebelah barat, selatan dan timur Kota Semarang. Kawasan
Kedungsepur berlokasi di pesisir tengah Pantura Jawa, dimana kota inti dari
kawasan ini juga memiliki sebuah pelabuhan laut yang mampu mengkoneksi
kawasan ini dengan kawasan-kawasan lain di Indonesia, seperti kawasankawasan di Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu, lokasi Kawasan
Kedungsepur yang berada di tengah-tengah pesisir Pantai Utara (Pantura) Pulau
Jawa juga memberikan kesempatan kepada Kawasan ini untuk berperan sebagai
suatu penghubung bagi Kawasan Jabodetabek, kawasan pertumbuhan
ekonomi terbesar yang berada di pesisir Barat dari Pantura Pulau Jawa, dan
Kawasan Gerbangkertasusila, yang terletak di pesisir Timur Pantura Pulau Jawa
dan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi terbesar bagi Kawasan Timur
Indonesia.

Peta 1. Wilayah Administrasi dari setiap Daerah Kabupaten/Kota di


Kawasan Kedungsepur

Dalam konteks ketersediaan sarana dan prasarana transportasi, Kawasan


Kedungsepur telah memiliki beberapa investasi dan pembangunan sarana dan
prasarana

transportasi

yang

cukup

penting.

Secara

internal,

Kawasan

Kedungsepur memiliki jaringan jalan (transportasi) beserta system terminal yang


menghubungkan

wilayah

kota

inti

dengan

kota-kota

main

di

wilayah

pinggirannya. Selain itu, kawasan ini pun juga memiliki ketersediaan jaringan rel
kereta beserta stasiunnya yang mampu menghubungkan kawasan kota inti
kepada beberapa wilayah di wilayah pinggirannya. Bahkan dengan akan
diselesaikannya rangkaian double-track pada sistem jaringan rel kereta di Jawa
khususnya di Kawasan Pantura Jawa, dan akan dihidupkannya kembali rangkaian
kereta yang menghubungkan Semarang dan Ambarawa, ketersediaan jaringan
rel kereta ini akan mampu menawarkan peningkatan integrasi internal antara
kawasan

kota

inti

dengan

kota-kota

kecil

dan

menengah

dan

jaringan

di

kawasan

pinggirannya.
Ketersambungan

jaringan

jalan

rel

dari

Kawasan

Kedungsepur kepada sistem jaringan jalan regional, baik jaringan regional dalam
wilayah di Jawa Tengah maupun

dalam wilayah yang lebih luas, mampu

menawarkan kesempatan peningkatan integrasi wilayah dari kawasan ini kepada


kawasan-kawasan lain di Pulau Jawa. Selain itu, ketersediaan pelabuhan udara
dan pelabuhan laut di Kota Semarang juga mampu menawarkan peningkatan
integrasi wilayah dari Kawasan Kesungsepur dengan kawasan-kawasan lainnya di
Indonesia dan bahkan di luar negeri khususnya pada kawasan regional Asia
Tenggara.

Oleh

karena

itu,

ketersediaan

jaringan

jalan

dan

prasarana

perhubungan lainnya ini tidak saja diharapkan mampu meningkatkan integrasi


Kawasan Kedungsepur dengan berbagai kawasan lain baik di dalam negeri
napupun di luar negeri, tetapi juga diharapkan mampu berperan sebagai salah
satu elemen penting di dalam memacu dan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi wilayah melalui peningkatan produktivitas kawasannya.
Kawasan perkotaan Kedungsepur juga merupakan salah satu kawasan
metropolitan cepat tumbuh di Indonesia. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk di
tahun 2010, jumlah penduduk perkotaan sekitar 3,1 juta jiwa (dari sekitar 5,9
juta jiwa penduduk total) yang tersebar di Kota Semarang dan kota-kota kecil
dan menengah di wilayah kabupaten-kabupaten dan Kota Salatiga di sekitarnya.
Jumlah penduduk perkotaan ini jauh meningkat dari hanya sekitar 1,3 juta jiwa di
tahun 1980 (dengan jumlah penduduk total sekitar 4,2 juta jiwa) berdasarkan
hasil Sensus Penduduk tahun tersebut. Walaupun konsentrasi utama penduduk
perkotaan ini masih berlokasi di Kota Semarang sebagai kota inti, namun
perkembangan di sekitar tiga puluh tahun terakhir ini telah memperlihatkan
perkembangan pesat dari penduduk perkotaan di kota-kota kecil dan menengah
di wilayah kabupaten yang berperan sebagai kawasan pinggirannya. Fenomena
ini tidak hanya mengindikasikan telah terjadinya fenomena periurbanisasi
Kawasan Kedungsepur, tetapi juga memperlihatkan indikasi dari pergeseran
peran

dan

fungsi

dari

setiap

wilayah

di

Kawasan

Kedungsepur

dalam

menyediakan tempat bagi perkembangan kegiatan perkotaan di wilayahnya


dimana wilayah pinggiran di kawasan ini semakin memperlihatkan perannya di
dalam menyediakan tempat bagi berkembangnya kegiatan perkotaan.
Sementara itu, nilai PDRB Kawasan Kedungsepur juga meningkat dari
sekitar 28,5 trilyun rupiah di tahun 2003 menjadi sekitar 41,8 trilyun rupiah di
tahun 2011. Namun, berbeda dengan fenomena kependudukan yang semakin
memperlihatkan peningkatan peran wilayah pinggiran, fenomena ekonomi
Kawasan Kedungsepur memperlihatkan fenomena yang berkebalikan dimana
kontribusi Kota Semarang sebagai kota inti selalu semakin meningkat dari tahun
ke tahun, dan sebaliknya kontribusi wilayah pinggiran semakin menurun dari

tahun ke tahun (lihat Tabel 1). Bahkan, apabila dilihat dan diperbandingkan nilai
PDRB per kapita dari seluruh wilayah kabupaten/kota di Kawasan Kedungsepur
ini, maka akan terlihat indikasi dari ketidak-setaraan proses pembangunan yang
terjadi di Kawasan Kedungsepur, dimana beberapa kawasan terutama Kota
Semarang memiliki tingkat pembangunan yang mampu memberikan nilai PDRB
per kapita yang jauh lebih besar daripada rata-rata nilai PDRB per kapita
Kawasan Kedungsepur, tetapi terdapat wilayah lain seperti Kabupaten Demak
dan Kabupaten Grobogan (lihat Tabel 2) yang memiliki tingkat PDRB per kapita
yang sangat rendah baik apabila dibandingkan dengan PDRB per kapita dari
Kawasan Kedungsepur maupun dari wilayah-wilayah lainnya.
Tabel 1.
Nilai PDRB Kawasan Kedungsepur dan persentase kontribusi dari tiap
wilayah, tahun 2003 - 2011
Tahun

PDRB
Kota
Kabupaten
Kawasan Semarang Salatiga Kendal Semarang Grobogan Demak
28 477
51,95
2,34
14,26
15,04
8,33
8,08
2003
29 452
52,30
2,35
14,15
14,76
8,36
8,08
2004
30 726
52,71
2,35
13,92
14,59
8,39
8,04
2005
32 210
53,15
2,33
13,77
14,44
8,33
7,98
2006
33 909
53,50
2,34
13,64
14,36
8,26
7,89
2007
35 627
53,77
2,34
13,53
14,26
8,28
7,83
2008
37 439
53,90
2,32
13,60
14,16
8,27
7,75
2009
39 508
54,08
2,31
13,65
14,08
8,23
7,65
2010
41 819
54,37
2,30
13,67
14,05
8,06
7,55
2011
Catatan : Nilai PDRB adalah dalam milyar rupiah, berdasarkan harga konstan
2000, dan nilai kontribusi tiap wilayah adalah dalam persentase.
Sumber : Dikompilasi dari laporan BPS tentang Produk Domestik Regional
Bruto setiap kabupaten/kota di Indonesia, tahun 2003 2011.

Tabel 2.
Nilai PDRB per Kapita Kabupaten dan Kota di Kawasan Kedungsepur
tahun 2010
Tahun

PDRB
Kota
Kabupaten
Kawasan Semarang Salatiga Kendal Semarang Grobogan Demak
6,67
13,73
5,36
5,99
5,97
2,49
2,86
2010
100
206
80
90
90
37
43
Rasio
Catatan : Nilai PDRB per kapita kabupaten/ kota adalah juta rupiah per kapita
di tahun tsb.
Sumber : Diolah dari data BPS tentang PDRB dan Kependudukan setiap
kabupaten/kota.

Tantangan Utama Pembangunan Kawasan Kedungsepur sebagai salah


satu Kawasan Andalan
Sebagai suatu kawasan andalan nasional, maka Kawasan Kedungsepur
dapat

berfungsi

sebagai

kawasan

yang

mampu

memiliki

daya

dorong

pertumbuhan ekonomi, baik secara eksternal ke wilayah-wilayah lain di luar


kawasan tersebut maupun secara internal ke wilayah-wilayah yang berada di
dalam kawasan tersebut. Namun, hingga saat ini kawasan ini masih memiliki
beberapa tantangan penting di dalam proses pembangunan ekonominya yang
sekaligus masih menghambatnya di dalam pencapaian harapannya sebagai
salah

satu

motor

penggerak

pertumbuhan

ekonomi

nasional

melalui

dorongannya kepada pertumbuhan ekonomi kawasan-kawasan lain baik secara


eksternal maupun internal.
Setidaknya terdapat dua tantangan utama bagi Kawasan Kedungsepur di
dalam peranannya sebagai salah satu kawasan andalan nasional. Kedua
tantangan utama tersebut adalah sebagai berikut.
1. Penguatan Peran Kawasan Kedungsepur di dalam mendorong
Pertumbuhan ekonomi Propinsi Jawa Tengah
Tabel 3 di bawah ini memmperlihatkan bahwa nilai PDRB Propinsi Jawa
Tengah selalu lebih rendah daripada nilai PDRB dari propinsi-propinsi besar di
Pulau Jawa seperti Propinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI Jakarta. Rendahnya
produktivitas ekonomi wilayah Propinsi Jawa Tengah ini juga diperlihatkan oleh
Tabel 4 yang menunjukkan bahwa nilai PDRB per kapita Propinsi Jawa Tengah
merupakan nilai PDRB per kapita yang paling rendah dari nilai PDRB per kapita
dari seluruh propinsi di Pulau Jawa.
Tabel 3.
Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 setiap Provinsi di Jawa,
2004-2012 (Milyar Rupiah)
Provinsi
1 DKI Jakarta
2 Jawa Barat
Jawa
Tengah
DI.Yogyakar
4
ta
3

5 Jawa Timur
6 Banten
Jawa

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

278
525
230
003
135
790

295
271
242
884
143
051

312
827
257
499
150
683

332
971
274
180
159
110

353
723
291
206
168
034

371
469
303
405
176
673

395
622
322
224
186
993

16 146

16 911

17 536

18 292

19 212

20 064

21 044

242
229

256
443

271
249

288
404

305
539

320
861

342
281

54 880

58 107

61 342

75 350

79 701

83 454

88 552

957
574

1 012
666

1 071
136

1 148
307

1 217
416

1 275
927

13567
16

Sumber: BPS, 2012, diakses melalui http://www.bps.go.id pada Maret


2013.

Masih rendahnya nilai PDRB Propinsi Jawa Tengah setiap tahunnya, apabila
dibandingkan dengan nilai PDRB dari beberapa propinsi besar lain di Pulau Jawa
(lihat Tabel 3), dapat dipandang sebagai salah satu indicator dari belum bisa
berfungsi penuhnya peran investasi dan pembangunan infrastruktur dan
transportasi di Propinsi Jawa Tengah dalam mendorong pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi wilayahnya. Selain itu, peran Kawasan Kedungsepur
sebagai elemen pendorong pertumbuhan dan perkembangan ekonomi wilayah di
Propinsi Jawa Tengah pun masih dapat dipertanyakan.
Tabel 4.
Nilai PDRB per Kapita Atas Dasar Harga Konstan 2000 Setiap Provinsi di
Jawa tahun 2010, Beserta Perbandingannya (dalam Juta Rupiah per
Kapita)
Provinsi

2010
Nilai

Rasio

1 DKI Jakarta

41,18

415

2 Jawa Barat

7,48

75

3 Jawa Tengah

5,77

58

4 DI.Yogyakarta

6,09

61

5 Jawa Timur

9,13

92

6 Banten

8,33

84

9,93

100

Jawa

Sumber :
Diolah dari data BPS tentang
PDRB dan Kependudukan setiap
kabupaten/kota.
Mengacu kepada indikasi-indikasi yang ditampilkan di dalam Tabel 3 dan
Tabel 4 di atas, analisis dan pendalaman pemahaman terhadap potensi
pengoptimalan peran pembangunan infrastruktur dan transportasi wilayah yang
ada serta potensi pengoptimalan peranan pembangunan

Kawasan Andalan

Kedungsepur kepada pertumbuhan dan perkembangan kegiatan

ekonomi

wilayah Propinsi Jawa Tengah merupakan hal-hal yang penting untuk dilakukan.
Dalam konteks ini, pertanyaan tentang peran pembangunan infrastruktur dan
transportasi wilayah yang ada di wilayah Propinsi Jawa Tengah, dan khususnya di
wilayah Kedungsepur, di dalam meningkatkan integrasi wilayah dan/atau

integrasi aktivitas ekonomi wilayah Propinsi Jawa Tengah menjadi suatu


pertanyaan penting yang perlu dijawab.

2. Peningkatan Kesetaraan Pembangunan Ekonomi antar-wilayah di


dalam Kawasan Kedungsepur
Tantangan lain yang tak kalah pentingnya adalah peranan kemampuan
pembangunan

wilayah

Kawasan

Kedungsepur,

beserta

pembangunan

infrastruktur dan transportasi yang ada di dalamnya, di dalam meningkatkan


kesetaraan

pembangunan

ekonomi

wilayah

kawasannya

secara

internal.

Tantangan ini didasarkan pada fenomena masih besarnya ketidaksetaraan


pembangunan ekonomi wilayah internal dari Kawasan Kedungsepur. Selain
diindikasikan oleh adanya perbedaan besar di dalam perolehan nilai PDRB per
kapita antar wilayah kabupaten / kota di Kawasan Kedungsepur, seperti yang
ditampilkan oleh Tabel 2 pada bagian sebelumnya, ketidaksetaraan kualitas
pembangunan ekonomi di wilayah kabupaten / kota

di dalam Kawasan

Kedungsepur ini juga ditunjukkan oleh besarnya perbedaan tingkat kemiskinan


yang terjadi di antara wilayah kabupaten / kota di dalam Kawasan Kedungsepur
ini.

Tabel 5. Prosentase Penduduk Miskin Tahun 2002 - 2010

200
2

200
3

7,1
12,3
Kota Salatiga
1
23,7
Kabupaten Kendal
5
Kabupaten
17,5
Semarang
6
Kabupaten
24,1
Demak
4
Kabupaten
31,0
Grobogan
8
Provinsi Jawa
23,0
Tengah
6

6,61
11,5
9
22,8
4
14,0
4
24,4
3
29,1
9
21,7
8

Kabupaten / Kota
Kota Semarang

200
4

200
5

200
6

200
7

5,6 4,22 5,33 5,26


9,68
20,8
7
13,6
8
24,9
4

200 200
8
9 2010
6,
00 4,84 5,12

8,81 8,9 9,01 8,47


20,0 21,5
17,8
6
9 20,7
7
13,1 13,6 12,3 11,3
6
2
4
7
26,0
21,2
23,6
3 23,5
4
25,1 19,8
29,3
28 27,6
4
4
21,1 20,4 22,1 20,4 18,9
1
9
9
3
9

7,82 8,28
16,0 14,4
2
7
10,6
6 10,5
18,7
19,7
6
18,6 17,8
8
6
17,4 16,1
8
1

Sumber: Diolah dari data dan Informasi Kemiskinan Jawa Tengah 2002 - 2010,
BPS. 2012

Kota Semarang, yang berperan sebagai kota inti dan pusat pembangunan
ekonomi dan infrastruktur wilayah di kawasan ini tidak saja memiliki nilai PDRB
per kapita yang sangat tinggi, tetapi juga memiliki tingkat kemiskinan wilayah
yang paling rendah dan jauh lebih rendah dari tingkat kemiskinan wilayahwilayah lain di kawasan Kedungsepur. Sementara itu, Kabupaten Demak dan
Kabupaten Grobogan merupakan wilayah-wilayah yang tidak saja memiliki
tingkat perolehan PDRB per kapita yang paling rendah dan jauh lebih rendah
daripada nilai PDRB per kapita rata-rata Propinsi Jawa Tengah. Lebih daripada itu,
kedua kabupaten ini juga memiliki tingkat kemiskinan wilayah yang tinggi dan
bahkan mebih tinggi daripada tingkat kemiskinan wilayah Propinsi Jawa Tengah.
Dengan

mengacu

kepada

kondisi-kondisi

ini,

maka

analisis

dan

pendalaman pemahaman terhadap peran dan kemampuan pembangunan


infrastruktur dan transportasi yang ada di Kawasan Kedungsepur dalam
mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekonomi wilayah setempat, baik
kepada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di wilayah inti maupun
wilayah pinggirannya, merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Oleh karena
itu, pertanyaan tentang peranan investasi dan pembangunan infrastruktur
wilayah di Kawasan Kedungsepur di dalam peningkatan integrasi ekonomi
wilayahnya menjadi suatu pertanyaan penting yang perlu dijawab. Dengan
demikian,

maka

harapannya

dapat

dilakukan

peningkatan

potensi

dan

kemampuan pembangunan infrastruktur dan transportasi wilayah di kawasan ini


di dalam meningkatkan kesetaraan pembangunan ekonomi di antara wilayahwilayah kabupaten / kota yang ada di dalam Kawasan Kedungsepur.

Usulan

Kegiatan

Keterpaduan

Workshop,

Pembangunan

Diskusi

dan

Infrastruktur

Seminar

dan

Peningkatan

Transportasi

dalam

Pembangunan Wilayah Kedungsepur


Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan peluang peningkatan
keterpaduan
pembangunan

pembangunan
wilayah

dan

dan

investasi

kota

di

transportasi,

Kawasan

infrastruktur

Kedungsepur,

baik

dan
untuk

meningkatkan kinerja pembangunan ekonomi dan wilayah Kedungsepur maupun


wilayah Propinsi Jawa Tengah, proposal ini menggusulkan pelaksanaan tiga buah
kegiatan

workshop,

Pembangunan

diskusi

dan

seminar

Infrastruktur

Peningkatan

dan

Keterpaduan

Transportasi

dalam

Pembangunan Wilayah Kedungsepur. Usulan kegiatan tersebut adalah


sebagai berikut.
1. Workshop tentang "Permasalahan Pembangunan Infrastruktur dan
Transportasi Wilayah Kedungsepur dalam Peningkatan Integrasi
Ekonomi Wilayah Setempat dan Regional Jawa Tengah"
Workshop

ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman

bersama,

diantara para pemangku kepentingan pembangunan infrastruktur, transportasi


dan pembangunan wilayah di Kawasan Kedungsepur dan Jawa Tengah, tentang
permasalahan-permasalahan
meningkatan

keterpaduan

serta

persoalan

pembangunan

dan

yang

dihadapi

investasi

di

dalam

transportasi

dan

infrastruktur dengan pembangunan wilayah dan kota di Kawasan Kedungsepur,


agar pembangunan dan investasi infrastruktur dan transportasi tersebut lebih
mampu meningkatkan dan mempercepat pertumbuhan dan perkembangan
ekonomi wilayah di Kawasan Kedungsepur dan Propinsi Jawa Tengah sehingga
persoalan-persoalan ketidaksetaraan pembangunan di Kawasan Kedungsepur
dan ketertinggalan kinerja pembangunan ekonomi wilayah di Jawa Tengah bisa
direduksi, sehingga kinerja dan kesetaraan kinerja pembangunan ekonomi di
kedua wilayah tersebut bisa lebih ditingkatkan sehingga lebih setara dengan
kawasan-kawasan lainnnya di Pulau Jawa.
Dengan status Kawasan Kedungsepur sebagai salah satu kawasan andala
nasional dan ditetapkannya kawasan tersebut sebagai salah satu pusat utama di
dalam Koridor Pembangunan Ekonomi di Pulau Jawa di dalam Masterplan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), maka
diharapkan bahwa workshop ini tidak hanya diikuti oleh pihak-pihak terkait di
Kawasan Kedungsepur dan Jawa Tengah, melainkan juga diikuti oleh pihak-pihak
terkait di level nasional. Oleh karena itu, beberapa aktor yang diharapkan dapat
berperanserta di dalam workshop ini adalah sebagai berikut :

Dari kalangan pemerintah :


o

Kantor Menteri Koordinasi Ekonomi

Bappenas

Kemeterian Pekerjaan Umum

Kementerian Perhubungan

Bappeda Propinsi Jawa Tengah

Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Tengah

Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Tengah

Bidang

Bappeda dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten dan Kota di Kawasan


Kedungsepur (Kota Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Kendal,
Kabupaten Semarang, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak).

Dari kalangan non-pemerintah :


o

Penyedia

pelayanan

transportasi

dan

perhubungan

wilayah

Kedungsepur dan Jawa Tengah (PT KAI DaOps IV Jawa Tengah, Organda
Propinsi Jawa Tengah, dll).
o

Para pakar dan akademisi dari lingkungan universitas (Universitas


Diponegoro,

Universitas Islam Sultan Agung, Universitas Kristen

Soegijapranata, Universitas Semarang, dll).


o

Para pakar dan pemerhati pembangunan dari lingkungan lembaga non


pemerintah (NGO dan organisasi profesi) di lingkungan Jawa Tengah
(MTI, IAP, dll).

Pemerhati pembangunan dari kalangan masyarakat dan/atau media


masa nasional dan wilayah Jawa Tengah.

2. Diskusi dan Brainstorming tentang "Mencari Peluang Peningkatan


Keterpaduan

Pembangunan

Infrastruktur

dan

Transportasi

Kedungsepur untuk meningkatkan Integrasi Pembangunan Ekonomi


Wilayah Kedungsepur dan Jawa Tengah "
Diskusi / Brainstorming ini merupakan kelanjutan dari kegiatan workshop
yang dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu, Diskusi/Brainstorming ini ditujukan
untuk

meningkatkan

pemahaman

bersama,

diantara

para

pemangku

kepentingan pembangunan infrastruktur, transportasi dan pembangunan wilayah


di

Kawasan

yang mungkin

Kedungsepur
dilakukan

dan

Jawa

(possible

Tengah,

tentang

opportunities)

peluang-peluang

dalam

meningkatkan

keterpaduan investasi dan pembangunan infrastruktur dan transportasi Kawasan


Kedungsepur

untuk

meningkatkan

kinerja

dan

kesetaraan

pembangunan

ekonomi wilayah di Kawasan Kedungsepur dan Propinsi Jawa Tengah.

Dengan peningkatan pemahaman bersama terhadap peluang-peluang


yang mmungkin dilakukan itu, maka diharapkan bahwa pembangunan dan
investasi infrastruktur dan transportasi yang dilakukan di Kawasan Kedungsepur
dan Jawa Tengah dapat diarahkan untuk lebih mampu mempercepat dan
meningkatkan kesetaraan kinerja pembangunan ekonomi wilayah di Kawasan
Kedungsepur dan Jawa Tengah, sehingga persoalan-persoalan ketidaksetaraan
pembangunan

di

kawasan-kawasan

ini

dapat

semakin

direduksi

dan

ketertinggalan kinerja pembangunan ekonomi wilayah di Jawa Tengah bila


dibandingkan dengan kawasan-kawasan lainnya di Pulau Jawa bisa lebih
dikurangi.
Karena kegiatan diskusi dan brainstoorming ini merupakan kelanjutan dari
kegiatan workshop sebelumnya, maka diharapkan bahwa kegiatan diskusi dan
brainstorming ini diikuti oleh para peserta kegiatan workshop tersebut, yaitu :

Dari kalangan pemerintah :


o

Kantor Menteri Koordinasi Ekonomi

Bappenas

Kemeterian Pekerjaan Umum

Kementerian Perhubungan

Bappeda Propinsi Jawa Tengah

Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Tengah

Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Tengah

Bappeda dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten dan Kota di Kawasan


Kedungsepur (Kota Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Kendal,
Kabupaten Semarang, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak).

Dari kalangan non-pemerintah :


o

Penyedia

pelayanan

transportasi

dan

perhubungan

wilayah

Kedungsepur dan Jawa Tengah (PT KAI DaOps IV Jawa Tengah, Organda
Propinsi Jawa Tengah, dll).
o

Para pakar dan akademisi dari lingkungan universitas (Universitas


Diponegoro,

Universitas Islam Sultan Agung, Universitas Kristen

Soegijapranata, Universitas Semarang, dll).

Para pakar dan pemerhati pembangunan dari lingkungan lembaga non


pemerintah (NGO dan organisasi profesi) di lingkungan Jawa Tengah
(MTI, IAP, dll).

Pemerhati pembangunan dari kalangan masyarakat dan/atau media


masa nasional dan wilayah Jawa Tengah.

3. Seminar "Peningkatan Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur dan


Transportasi Wilayah Kedungsepur dalam Pembangunan Wilayah
Kedungsepur dan Jawa Tengah"
Kegiatan seminar ini merupakan kegiatan terakhir dari rangkaian kegiatan
Woorkshop, Diskusi Brainstorming dan Seminar "Peningkatan Keterpaduan

Pembangunan

Infrastruktur

dan

Transportasi

dalam

Pembangunan Wilayah Kedungsepur". Seminar ini ditujukan untuk


melakukan diseminasi dan pengembangan ide-ide pembangunan yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan keterpaduan pembangunan infrastruktur dan
transportasi

dengan

pembangunan

ekonomi

dan

wilayah

di

Kawasan

Kedungsepur dan Jawa Tengah sehingga lebih mampu mempercepat dan


meningkatkan kesetaraan pembangunan ekonomi dan wilayah di kedua kawasan
tersebut dengan kawasan-kawasan lainnya di Pulau Jawa maupun di Indonesia.
Untuk mencapai tujuan tersebut, seminar ini tidak hanya akan membahas
permasalahan-permasalahan
peluang

dan

yang mungkin untuk

keterpaduan

pembangunan

persoalan
dilaksanakan

infrastruktur,

pembangunan,

serta

peluang-

dalam rangka meningkatkan

trannsportasi

dan

pembangunan

wilayah dan kota di Kawasan Kedungsepur dan Jawa Tengah, tetapi juga akan
membahas

persoalan-persoalan

yang

dihadapi

beserta

contoh-contoh

pengalaman baik (best practices) yang dimiliki kawasan-kawasan lain baik yang
berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.
Oleh karena itu, selain akan mengundang para peserta workshop dan
diskusi brainstorming yang telah dilakukan sebelumnya, seminar ini juga akan
mengundang kertas-kertas kerja (call of papers) yang terkait dalam bidang
peningkatan keterpaduan pembangunan infrastruktur dan transportasi dengan

pembangunan wilayah dan kota dari berbagai kalangan termasuk dari perguruan
tinggi dan instansi-instansi lainnya.