Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengembangan penelitian, terutama bioteknologi embrio terus mengalami
peningkatan dalam rangka untuk menjawab permasalahan yang dihadapi oleh
manusia, seperti masalah pangan, kesehatan, pelestarian atau konservasi hewan
langka,

serta

masalah

reproduksi.

Pengembangan

bioteknologi

embrio

memfokuskan pada upaya untuk mening-katkan kuantitas dan kualitas individu


dengan menggunakan hewan model yang kemudian akan ditindaklanjuti untuk
diterapkan pada hewan-hewan budidaya yang mempunyai hubungan kekerabatan
dekat dengan hewan model yang digunakan.
Ruang lingkup bioteknologi reproduksi antara lain meliputi fertilisasi in vitro
(IVF), manipulasi embrio, pembekuan gamet dan embrio, serta transfer embrio.
Pada fertilisasi in vitro (IVF) terdapat dua kegiatan utama yaitu pemasakan telur
in vitro dan pengembangan embrio in vitro. Material utama yang digunakan untuk
memproduksi embrio secara in vitro adalah embrio yang diperoleh dari induk
yang memiliki genetik unggul dan embrio tersebut akan dikembangkan secara in
vitro sampai tahap blastosis. Hasil dari embrio yang telah diproduksi secara in
vitro akan digunakan untuk keperluan transfer embrio (Margawati, 1996).
Kelebihan embrio yang diproduksi secara in vitro adalah dapat disimpan dan
sewaktu-waktu dapat digunakan kembali untuk transfer embrio.
Dalam makalah ini akan membahas tentang teknologi manipulasi embrio
secara in vitro yang merupakan salah satu upaya untuk menghasilkan banyak
individu dari sebuah embrio dengan cara memotongnya menjadi beberapa bagian.
Oleh karena itu keunggulan genetiknya pun akan dimiliki oleh masing-masing
keturunan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas adapun masalah yang akan dibahas,yakni :
Apa yang dimaksud dengan manipulasi embrio?
Bagaimana pemasakan oosite dan spermatozoa in vitro?
Bagaimana biakan oosit ovarium?
Apa itu kapasitasi spermatozoa?
Bagaimana proses fertilisasi In Vitro?
Apa tujuan penyuntikan spermatozoa langsung ke dalam sitoplasma oosit?
Bagaiman produksi embrio secara in vitro?
Bagaimana proes transfer embrio (TE)?
Bagaimana proses teknologi pembekuan-dalam?
1.3 Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengertian dari manipulasi embrio.
Mengetahui bagaiman pemasakan oosite dan spermatozoa in vitro.
Mengetahui bagaimana proses biakan oosit ovarium.
Mengetahui apa itu kapasitasi spermatozoa.
Mengetahui bagaimana proses fertilisasi In Vitro.
Mengetahui tujuan penyuntikan spermatozoa langsung ke dalam sitoplasma
oosit.
Mengetahui bagaiman produksi embrio secara in vitro.
Mengetahui bagaimana proes transfer embrio (TE).
Mengetahui bagaimana proses teknologi pembekuan-dalam.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan karya tulis ini adalah, baik
penulis dan pembaca bisa lebih memahami dan mengerti mengenai manipulasi
embrio.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Manipulasi Embrio


Manipulasi adalah sebuah proses rekayasa dengan melakukan penambahan,
pensembunyian,

penghilangan

atau

pengkaburan

terhadap

bagian

atau

keseluruhan sebuah realitas, kenyataan, fakta-fakta ataupun sejarah yang


dilakukan berdasarkan sistem perancangan sebuah tata sistem nilai, manipulasi
adalah bagian penting dari tindakan penanamkan gagasan, sikap, sistem berpikir,
perilaku dan kepercayaan tertentu.
Manipulasi langsung sel embrio adalah alat penting untuk menangani
pertanyaan-pertanyaan kunci dalam sel dan biologi perkembangan. Dalam artian,
Manipulasi langsung sel embrio, lama dianggap sebagai alat primitif embriologi
eksperimental, telah muncul kembali sebagai alat penting yang dapat digunakan
bersama-sama dengan metode modern di model organisme.
Dalam mempelajari embrio dari banyak spesies, metode memecah-belah
dan kultur jaringan embrio atau sel telah lama berguna untuk menangani
pertanyaan-pertanyaan

otonomi

blastomere

pada

awal

dan

kemudian

embriogenesis, pemaparan terhadap obat atau agen lain yang mengganggu proses
tertentu, dan untuk pelabelan langsung DNA atau RNA.

2.2 Pemasakan Oosit dan Spermatozoa in vitro.


Oosit yang terbentuk dalam ovarium pada saat lahir ataupun spermatozoa
yang masih berada dalam testis bukanlah sel yang telah berfungsi dengan sepurna.
Oosit dan spermatozoa

tersebut harus mengalami proses pendewasaan lebih

lanjut dan harus dilepas dari ovarium sebelum terjadi fertilisasi.

Pemasakan Oosit
Pematangan oosit diluar ovarium atau tubuh hewan disebut dengan
pematangan in vitro atapun vitro maturation (IVM). Pematangan in vitro
merupakan salah satu tahap yang penting dari rangkain produksi embrio in
vitro. Oosit untuk memproduksi embrio in vitro dapat diperoleh dari ovarium
hewan betina yang masih hidup maupun ovarium hewan betina mati dari

Rumah Potong Hewan (RPH) dengan tanpa memperhatikan fase siklus birahi.
Pematangan in vitro membantu oosit agar mampu menyelesaikan proses
meiosis sehingga bersifat haploid (setengah komponen kromosom) dan
mampu mengalami fertilisasi. Pada in vivo pematangan oosit terjadi selama
perkembangan folikel di dalam ovaarium yang meliputi pematangan
sitoplasma dan pematngan inti. Kemudian oosit tersebut akan mengalami
pematangan sampai metaphase I (M-I) dan M-II dalam media kultur (Hunter
1995).
Selama maturasi oosit sapi, struktur kromatin dalam oosit yang belum
matang berupa membrane nuclear utuh (GV) dimulai dari pembelahan meiosis
pertama dilanjutkan dengan pembelahan meiosis kedua. Menurut Lu (1998)
menunjukkan 90% dari oosit sapi mengalami pematangan pada 24 jam setelah
dilakukan kultur. Dari penelitian tersebut terlihat membrane nuclear
menghilang setelah 5-6 jam GVBD dan M-I setelah 12 jam dan M-II dicapai
setelah 19 jam. Diperkirakan pematangan inti tersebut lebih cepat dari in vitro
daripada in vivo menurut Gordon (1994).
Kesempurnaan pematangan sel telur sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan fertilisasi. Pada proses pematangan sel telur secara in vitro
dipengaruhi oleh factor diantaranya medium pematangan dan lingkungan
penyimpanan. Medium standard untuk pematangan in vitro sel telur sapi
adalah TCM-199. Agar menunjang keberhasilan proses maturasi in vitro
dilakukan inovasi komposisi dan penambahan suplemen untuk mendapatkan
kondisi medium yang optimal. Suplemen seperti serum, hormone estradiol,
hormone gonadotropin (FSH dan LH), mineral, glukosa, piruvat dan asam
amino ditambahkan untuk membantu transformasi inti. Penambahan serum
pada media akan memicu tingkat perkembangan oosit secara in vitro. Serum
yang sering digunakan antara lain Brovine Serum Albumin (BSA), Fetal Calf
Serum

(FCS),

Fetal

Brovine

Serum

(FBS).

Tang

et

al.

(1995)

mengungkapkan, media pematangan tanpa serum menyebabkan produksi


blastosis yang lebih lambat. Disamping itu pada media yang disuplemasikan
dengan serum, perkembangan oosit lebih baik dibandingkan medium tanpa
serum (Setiadi 1999).

Pemasakan Spermatozoa
Saat transit epididimis, spermatozoa mamalia mengalami pematangan
dan mendapatkan kapasitas fertilisasi penuh. Kontribusi faktor dari epitel
epididimis tampaknya penting untuk proses ini. Meskipun in vitro lengkap
dalam pematangan spermatozoa epididimis belum tercapai, tahap pematangan
dapat diinduksi dalam berbagai kondisi. Yang paling sukses telah diperoleh
dengan menginkubasi spermatozoa epididimis dengan primer budaya epitel
epididimis. Ini co-metode inkubasi mempromosikan motilitas sperma dan
kapasitas

spermatozoa

untuk

mengikat

dan

membuahi

oosit,

dan

memperpanjang kelangsungan hidup spermatozoa in vitro. Protein spesifik


sekresi androgen tergantung dari sel kepala epididimis yang mungkin terlibat
dalam proses pematangan telah diidentifikasi dengan menggunakan pulsalabel teknik juga membatasi jenis penelitian pada pria. Dalam upaya untuk
meniru lingkungan mikro epididimis, sejumlah penelitian kelompok, telah
digunakan teknik secara in vitro culture. Metode ini memberikan wawasan
berharga peristiwa pematangan sperma, dan akhirnya mungkin memiliki
praktis aplikasi dalam kedokteran klinis, untuk mengembangkan metode
kontrasepsi baru, dan untuk menilai efek toxicants pada kesuburan. Di sini,
kita meninjau kemajuan yang dibuat dengan sperma Maturation in vitro dan
menjelaskan beberapa eksperimen terbaru dari kami laboratorium sendiri.
Komprehensif review dari sperma epididimis pematangan disediakan tempat
lain (Cooper, 1986; Bedford dan Hoskins, 1990; Moore, 1990b, 1995).

2.3 Biakan Oosit Ovarium.


Populasi pada hewan betina merupakan sumber potensi reproduksi yang
memungkingkan digunakan agar diperoleh pemanfaatan yang lebih besar jika
dibandingkan dengan proses pengeluaran oosit secara normal. Telah diketahui
bahwa sebagaian besar oosit yang terdapat dalam ovarium saat lahir tidak
semuanya berpotensi dalam reproduksi karena selama perjalanan hidup sebagaian
besar oosit ini tidak aktif dan mengalami regresi. Telah banyak penilitian yang

berhasil memanfaatkan oosit hewan muda yang dikumpulkan dari ovarium secara
mekanik. Ditunjang dengan pengertian akan pentingnya lingkungan folikel dalam
fisiologi pendewasaan oosit, pendewasaan oosit secara in vitro berhasil dilakukan
seperti pada proses pemasakan pada fisiologi normal. Pemhaman mengenai
lingkungan tuba fallopi sangat berguna dalam pemasakan oosit secara in vitro.

Gambar 1: pengambilan oosit dari ovarium


Pelepasan oosit dapat dilakukan secara mekanis melalui penusukan,
penyedotan, serta pengirisan isi folikel, seperti yang telah banyak dilakukan pada
ternak sapi. Oosit yang didapat telah berhasil digunakan dalam menghasilkan
embrio yang berkualitas. Namun, sebelum oosit digunakan secara in vitro, maka
oosit harus mengalami pendewasaan (maturasi) secara in vitro. Pendewasaan
(maturasi) oosit secara in vitro tersebut akan mampu menyebabkan perkembangan
oosit yang normal. Beberapa metode pendewasaan telah banyak dikembangkan
untuk menyiapkan oosit praovulasi menjdi dewasa. Diantaranya adalah
penggunaan media M-199 ditambah serum hewan betina birahi dan estradiol;
krebs-ringer ditambah serum fetus sapi, dan cairan tuba fallopi sintetik. Aplikasi
mutakhir teknologi biakan oosit tesebut dalam upaya pelestarian hewan yang
terancam punah dan pengumpulan oosit untuk pembuatan bank oosit untuk
penilitian.

2.4 Kapasitasi Spermatozoa.


Setelah terjadi kopulasi dan di tumpahkan pada saluran kelamin betina dan
berhasil membuahi sel telur, spermatozoa harus mengalami perubahan pada sifat
aktivitas bergerak dan susunan membrana pada kepalanya. Proses

tersebut

dikenal dengan nama kapasitasi dan dapat diartikan sebagai proses diperolehnya
kemampuan spermatozoa untuk membuahi oosit. Tidak semua spermatozoa yang
diejakulasikan

pada saaat kopulasi mampu melakukan kapasitasnya. Jadi,

sebelum spermatozoa digunakan untuk tujuan fertilisasi in vitro, spermatozoa


tersebut harus terlebih dahulu mengalami kapasitasi secara in vitro.

Gambar 2 : perjuangan ribuan spermatozoa


Telah banyak dilaporkan metode kapasitasi untuk menyiapkan spermatozoa
menjadi terkapasitasi. Beberapa metode yang digunakan adalah penggunaan
media biakan dengan penambahan cairan tuba Fallopii, kafein, heparin, percol
gradient, hipotaurin, dan yang lain. Teknik untuk pemasakan spermatozoa yang
fungsional ini telah membuahkan hasil yang mengesankan pada beberapa spesies.
2.5 Fertilisasi In Vitro
Fertilisasi in vitro merupakan terobosan baru di bidang reproduksi. Pada
awalnya, fertilisasi in vitro dilakukan pada hewan coba, tetapi sekarang telah
banyak dimanfaatkan pada ternak dan manusia. Teknologi fertilisasi in vitro
merupakan metode penyatuan sel telur dengan spermatozoa di dalam lingkungan

yang terkontrol di luar tubuh. Karena itu, fertilisasi in vitro merupakan tahapan
penting dalam perkembangan awal embrio. Mengingat fertilisasi in vitro
merupakan tiruan dari fertilisasi alami, maka beberapa faktor yang mempengaruhi
proses fertilisasi seperti yang terjadi pada fertilisasi alami harus diupayakan sama.
Faktor yang berpengaruh tersebut antara lain kandungan garam organik,
karbohidrat, asam amino, faktor pertumbuhan , dan vitamin.

Gambar 3: terbentuknya zygot


Sapi hasil fertilisasi in vitro untuk pertama kali dilahirkan pada tehun 1982.
Setelah itu banyak dilaporkan keberhasilan teknik ini pada berbagai jenis hewan.
Keberhasilan teknik ini tidak lepas dari perkembangan yang pesat dalam teknologi
pemasakan sel telur dan pendewasaan spermatozoa secara in vitro. Perkembangan
terbaru dari teknik ini adalah telah diperkenalkannyua teknik mikromanipulasi
pada sel telur. Teknik mikromanipulasi ini dapat meningkatkan efisiensi
penggunaan spermatozoa karena teknik ini dapat mengatasi berbagai kelemahan
pada spermatozoa.
Pelaksanaan program fertilisasi in vitro meliputi kegiatan koleksi dan
maturasi oosit dari induk betina, persiapan dan kapasitasi spermatozoa dari induk
jantan, fertilisasi in vitro, dilanjutkan kultur embrio, dan pembekuan embrio atau
transplantasi langsung ke sapi resipien. Perkembangan awal embrio dapat diamati
selama tahap kultur embrio di dalam medium kultur yang sesuai, sehingga

medium kultur yang sesuai dapat mendukung perkembangan yang baik dari
embrio.

2.6 Tujuan penyuntikan spermatozoa langsung ke dalam sitoplasma oosit.


Penyuntikan spermatozoa langsung ke dalam sitoplasma oosit merupakan
teknologi modern dalam bidang reproduksi. Prinsip dari metode ini adalah
mempertemukan secara langsung inti sel telur dengan spermatozoa. Aplikasi
teknologi tersebut mampu mengatasi hewan jantan yang fertilisasinya rendah
karena dengan teknologi tersebut dimungkinkan untuk menggunakan satu
spermatozoa motil untuk membuahi oosit. Hanya saja penerapan teknologi
tersebut memerlukan biaya dan peralatan yang relative mahal.

Gambar 4 : penyuntikan sperma ke dalam ovum

2.7 Produksi embrio secara in vitro


Produksi embrio secara in vitro mencakup 3 aspek utama yaitu pematangan
sel telur (IVM), pembuahan sel telur (IVF) dan pembiakan embrio (IVC) secara
in vitro. Teknologi IVM/IVF/IVC sudah berkembang dengan pesat, seperti yang
telah dilaporkan oleh Kanagawa et al., (1995). Kelahiran dari hasil fertilisasi in
vitro ini berturut-turut terjadi pada kelinci (1958), mencit (1968), tikus (1974),

manusia (1978), sapi (1982), babi (1986) dan domba (1986). Sel telur umumnya
didapat dari ovari berasal dari rumah potong hewan. Sel telur dikumpulkan
dengan metode aspirasi maupun slising, secepatnya setelah sapi dipotong
kemudian dimatangkan secara

in vitro. Pematangan dilakukan pada media

sederhana sampai yang kompleks yang umumnya mengandung hormon estrogen,


FSH, LH , prolactin, progesteron ataupun protein ovary dan peptida (Gordon,
1994). Hormon yang yang paling umum digunakan saat ini adalah FSH, estrogen
dan LH (Fukui

et al,1989; Wimer et al,1991; Zuelkedan Brackett, 1993;

Eyestonedan Boer,1993; Kefer et al,1993; Situmorang et al,1994).


Penggunaan serum sapi betina yang sudah estrus (ES) dilaporkan dapat
digunakan untuk mengganti penggunaan hormon sintetik (Wahyuningsih et
al,2003). Keberhasilan pembuahan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas
spermatozoa. Proses kapasitasi dapat dilakukan pada medium BO ataupun CR1aa
yang telah diberi tambahan kafein, heparin (Rorenkrass dan First, 1991; niwa et
al,1993). Triwulanningsih et al. (2003) melaporkan bahwa dengan menggunakan
metoda kapasitasi sperma menggunakan metoda Percoll gradient 45% dan 90%
sebanyak 0,5 ml/lapis ternyata dapat meningkatkan persentase perolehan
expanded blastosis menjadi 33,02% (n = 1055 oosit) dari 21,06% (n = 1007 oosit)
bila lapisan Percoll 2 ml/lapis. Media untuk pembiakan yang banyak digunakan
adalah media CR1aa, KSOM (protein free pottasium simplexoptimize medium)
maupun

Synthetic oviductal fluid (SOF). Dilaporkan bahwa medium CR1aa

ternyata lebih cocok digunakan untuk kultur embrio sapi dibandingkan medium
KSOM (Triwulanningsih et al.,2002). Dengan menggunakan media CR1aa telah
diperoleh 31,2% expandedblastosis dari 61,5% blastosis (n = 1549 oosit),
sementara dengan medium KSOM hanya 5,1% yang berkembang dari 38,5%
blastosis (n-675 oosit). Penambahan bovine oviductal cells (BOEC) dan
cumuslus/granulosa monolayer sel sudah banyak dilaporkan dapat meningkatkan
persentase blastocyst (Goto et al,1988; Wang et al,1989; Fukuda et al,1990; Xu
et al,1992; Wahyuningsih et al.,2003).
Secara umum teknologi pematangan, pembuahan dan pembiakan untuk
tujuan memproduksi embrio secara in vitro sudah sangat tersedia dan bukan lagi
merupakan hambatan untuk penerapan secara luas. Walaupun didapat variasi

persentase blastosist yang disebabkan perbedaan metode pematangan, pembuahan


dan pembiakan secara keseluruhan rataan persentase blastosist adalah 3050%.
Hambatan yang masih ada adalah ketersediaan sel telur baik secara kwantitatif
maupun kwalitatif di dalam negeri (Indonesia). Untuk itu sumber sel telur dari
negara yang sudah maju antara lain Australia Selandia Baru, Amerika maupun
Eropa perlu dipikirkan. Hal ini sangat memungkinkan dilakukan pada era
globalisasi ini dengan modifikasi teknologi pematangan.
Triwulanningsih et al.(2001) melaporkan bahwa oosit dapat dikultur dalam
media TCM-199 pada suhu 300C selama 30 sampai 36 jam dan setelah
difertilisasi

dapat

terus

berkembang

menjadi

blastosis

dan

bahkan

expandedblastosis. Kemampuan oosit yang mengalami cleveage memperlihatkan


keadaan oosit tersebut telah cukup matang untuk difertilisasi, namun demikian
kemampuan untuk terus berkembang menjadi expandedblastosis tergantung pula
pada medium kultur yang digunakan, pada penelitian tersebut digunakan medium
KSOM (protein free pottasium simplexoptimize medium) yang telah dijual secara
komersiel di Amerika. Jaswandi(2002) melaporkan penggunaan hepes dan butiran
efervesen

dalam

sistem

inkubasi

produksi

embrio

domba

secara

in

vitro,memungkinkan pematangan sel telur dapat dilakukan selama perjalanan


tanpa menggunakan CO2 inkubator yang konventional. Sehingga waktu
penerbangan dari negara maju misalnya Amerika, Australia dll sampai Indonesia
menjadi tidak merupakan halangan yang berarti lagi.

2.8 Proes transfer embrio (TE)


Transfer embrio adalah suatu teknik dimana embrio (fertilized ova)
dikoleksi dari alat kelamin ternak betina menjelang nidasi dan ditransplantasikan
ke dalam saluran reproduksi betina lain untuk melanjutkan kebuntingan hingga
sempurna, seperti konsepsi, implantasi/nidasi dan kelahiran. Keberhasilan
teknologi TE dengan menggunakan embrio baik secara in vivo maupun in vitro
ditunjukkan dengan keberhasilan menghasilkan anak yang dilahirkan dengan
kwalitas yang di inginkan. Kesiapan ternak resipien sangat memegang peranan
penting. Koleksi dan TE saat ini sudah dapat dilakukan dengan cara non-operasi,
sehingga akan memudahkan pelaksanaannya disamping biayanya relatif lebih

ekonomis. Keberhasilan transfer embrio segar dapat mencapai 5565%,


sedangkan embrio beku sekitar 5060% (Hasler, 1995). Teknik ini akan mampu
meningkatkan kualitas genetic ternak sampai 10% (Lohuis, 1995) yang jauh diatas
metoda konvensional yang hanya sekitar 25%.
Penerimaan dan kesuksesan TE sangat berkembang setelah koleksi dan TE
saat ini sudah dapat dilakukan dengan cara nonoperasi, sehingga akan
memudahkan pelaksanaannya disamping biayanya relatif lebih ekonomis (Kuzan
dan Seidel, 1986). Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan TE dengan
non operasi yaitu antara lain keterampilan dan pengalaman inseminator (Park et
al.,1991; Thieberdan Nibart, 1992), sinkronisasi antara donor dan resipien
(Ashworth, 1992) dan metode sinkronisasi dan deteksi estrus (Roche, 1989;
Senger, 1993).
Transfer embrio merupakan bagian dari teknologi reproduksi setelah
inseminasi buatan yang tengah dikembangkan dalam dunia peternakan. Proses
transfer embrio meliputi :
1. Metode sinkronisasi birahi dan superovulasi
Sinkronisasi birahi pada ternak resipien harus dilaksanakan pada hari yang
sama pada semua ternak. Sinkronisasi birahi dapat dilakukan dengan beberapa
cara, namun untuk keperluan transfer embrio pada umumnya menggunakan
prostaglandin ( PGF2 ). Aplikasi teknik PGF2 dapat dilakukan dengan cara
intramuscular, submukosa vulva atau secara intrauterine.
Sinkronisasi birahi dalam rangka transfer embrio sebaiknya dilakukan
secara intra uterin dengan teknik rektovaginal. Alat untuk mendepositkan
PGF2 menggunakan kateter intrauterine atau plastic sheet AI Gun yang
kemudian dimasukkan ke dalam uterus melalui vagina dipandu dengan tangan
per rectal. Superovulasi pada ternak donor dilaksanakan secara bersamaan
dengan sinkronisasi birahi pada ternak resipien. Superovulasi dapat dilakukan
dengan penyuntikan hormone PMSG dan HCG atau hormone FSH dan LH,
dengan tujuan agar menghasilkan embrio dalam jumlah banyak.
2. Flushing embrio
Flushing pada proses transfer embrio adalah membilas uterus ternak donor
dengan cara memasukkan cairan media ke dalam koruna uteri kemudian

mengeluarkannya kembali untuk mendapatkan embrionya. Teknik flushing


dapat dilakukan dengan atau tanpa pembedahan. Teknik yang lebih aman dan
lebih banyak digunakan adalah teknik tanpa pembedahan menggunakan foley
catheter. Teknik ini dilakukan pada hari ke 5 8 yaitu ketika embrio hasil
superovulasi sudah berada di kornua uteri namun belum mengalami implantasi.
3. Pengolahan embrio
Embrio yang diperoleh dari hasil flushing uterus ternak donor dapat
langsung di transfer dalam bentuk embrio segar kepada ternak resipien atau
disimpan dalam bentuk embrio beku untuk ditransfer kepada ternak resipien
dikemudian hari. Sebelum ditransfer kepada ternak resipien, embrio hasil
flushing terlebih dahulu melewati tahapan berikut, yaiut Identifikasi Embrio
yang berada didalam media flushing harus dapat di identifikasi terlebih dahulu
agar tidak dikelirukan dengan sel epithel tuba fallopii. Proses ini dilakukan
dengan menggunakan mikroskop disekting pada pembesaran 25-40 kali.
Embrio stadium morula dini atau blastosis dengan kualitas excellent dan baik,
layak dipergunakan untuk transfer embrio.
Teknologi transfer embrio merupakan generasi kedua teknlogi reproduksi
setelah keberhasilan inseminasi buatan. Pada awalnya, transfer embrio dilakukan
tanpa ada rekayasa fungsi alat reproduksinya. Selanjutnya, perkembangan transfer
embrio mengikuti perkembangan teknik modern. Salah satunya adalah rekayasa
fungsi alat reproduksi betina unggul dengan pemanfaatan hormone reproduksi
sehingga diperoleh sel telur dalam jumlah banyak. Sel telur hasil rekayasa tersebut
kemudian dibuahi oleh spermatozoa melalui kawin alami atau insiminasi buatan
atau fertilisasi secara in vitro. Embrio yang diperoleh dievaluasi dan kemudian
ditransfer ke betina resipien sampai terjadi kelahiran.
Keunggulan transfer embrio jika dibandingkan dengan insiminasi buatan
adalah bahwa pada transfer embrio, sifat genetik unggul berasal dari kedua induk,
yaitu epejantan dan betina, sedangkan pada insiminasi buatan hanya berasal dari
pejantan unggulnya saja. Selain itu, waktu yang diperlukan untuk mendapatkan
hasil adalah lebih cepat dibandingkan dengan kawin alami atau insiminasi buatan.
Dengan teknik transfer embrio, dimungkinkan satu ekor induk menghasilkan lebih
banyak embrio yang unggul.

Keberhasilan program transfer embrio dipengaruhi oleh kondisi hewan


penerima (resipien) dan kualitas embrio yang ditransfer. Hewan yang digunakan
sebagai induk penerima harus mempunyai organ dan saluran reproduksi serta
siklus reproduksi yang normal. Hewan tersebut tidak mempunyai sejarah kelainan
dalam proses kelahiran (distokia), sehat, serta tidak sedang mengalami infeksi
saluran kelamin.

Gambar 5 : tahapan dalam transfer embrio


Embrio yang akan ditransfer dapat berasal dari hasil fertilisasi alami maupun
secara in vitro. Embrio yang akan ditransfer harus yang berkualitas baik.
Klasifikasi kualitas embrio tersebut didasarkan pada penampakan umum bentuk
embrio. Klasifikasi tersebut adalah sebagai berikut ini.
1. Kualitas A (sangat baik). Embrio pada stadium morula, blastula dini, atau
blastosit tidak menampakan kecacatan, berbentuk speris, dan ikatan blastomer
sangat erat dan kompak.
2. Kualitas B (baik). Embrio dalam tahap perkembangan 16-32 sel, tampak
sedikit cacat pada salah satu blastomer. Misalnya, keluarnya salah satu
blastomer dari ikatan. Bentuk sel tidak tidak simetris.
3. Kualitas C (cukup). Embrio dalam tahap perkembangan yang tidak sesuai
dengan perkembangan normal. Embrio tampak cacat seperti terlihat adanya
blastomer yang yang tidak sama ukurannya (besarnya)

4. Kualitas D (jelek). Embrio pada tahap perkembangan yang tidak normal.


Terjadi degenerasi sel pada embrio serta adanya ikatan blastomer yang lepas.

2.9 Proses teknologi pembekuan-dalam


Salah satu faktor utama yang mempengaruhi aplikasi embrio transfer adalah
kemampuan untuk membekukan embrio seperti halnya spermatozoa sehingga
memudahkan penyimpanan dan transportasi. Teknologi pembekuan embrio yang
dihasilkan secara in vivomaupun in vitrosudah banyak dilaporkan (Voekel dan
Hu, 1992; Situmorang et al,1993; Han et al,1994).
Teknik pengawetan oosit, spermatozoa, atau embrio pada temperatur yang
rendah telah banyak dilakukan pada hewan. Prinsip dasar dalam pembekuan
tersebut adalah untuk menjaga agar spermatozoa, oosit, dan embrio tidak rusak
dan masih mempunyai kemampuan hidup secara fungsional. Usaha dalam
mempertahankan kemampuan hidup secara fungsional ini dapat tercapai dengan
penambahan bahan pelindung dalam medium selama periode pembekuan. Agen
pelindung berfungsi untuk menstabilkan sel dan mencegah kerusakan akibat
terbentuknya Kristal es dalam sel.
Teknologi pembekuan spermatozoa hewan mulai banyak diminati. Beberapa
peneliti telah berhasil melakukan pembekuan spermatozoa. Di Negara maju
seperti Amerika, spermatozoa yang dibekukan telah banyak digunakan. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pembekuan ini menyangkut
pengencer, agen pelindung dingin, temperatur penyeimbang, dan pencairan
kembali (thawing) sel. Di antara faktor tersebut , pencairan kembali sel
merupakan faktor yang belum dimengerti secara tuntas hubungannya dengan daya
hidup spertmatozoa setelah pencairan kembali (thawing) sel.

BAB III
KESIMPULAN

Teknologi manipulasi embrio telah banyak dikembangkan pada hewan.


Teknologi ini digunakan sebagai tumpuan untuk meningkatkan populasi dan
genetik hewan. Teknik yang dimaksud adalah pemasakan (maturasi) sel telur dan
spermatozoa in vitro , fertilisasi in vitro dan transfer embrio. Oosit yang terbentuk
dalam ovarium pada saat lahir dan spermatozoa yang masih muda dan beberapa
dalam testis bukanlah sel yang telah berfungsi sempurna. Apabila digunakan
untuk tujuan fertilisasi in vitro, maka dilakukan pemasakan secara in vitro.
Fertilisasi in vitro merupakan metode penyatuan sel telur dengan spermatozoa
dalam lingkungan terkontrol di luar tubuh. Penyuntikan spermatozoa langsung
kedalam sitoplasma oosit merupkan terobosan baru di bidang teknologi
reproduksi. Aplikasi teknologi tersebut mampu mengatasi hewan jantan yang
fertilisasinya rendah karena dengan teknologi tersebut dimungkinkan untuk
menggunakan satu spermatozoa motil untuk membuahi oosit. Penerapan teknologi
transfer embrio atau alih janin merupakan alternative untuk meningkatkan mutu
genetik hewan. Teknologi transfer embrio merupakan generasi kedua teknologi
reproduksi setelah keberhasilan inseminasi buatan. Prinsip dasar dalam
pembekuan tersebut adalah untuk menjaga agar spermatozoa, oosit, dan embrio
tidak rusak dan masih mempunyai kemampuan hidup secara fungsional sehingga
dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sebelum digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

http://abuki-budiesetiawan.blogspot.com/2012/05/invitro-maturasipeternakan-unhalu.html
http://ajizatunnisa.blogspot.com/2014/11/karya-tulis-labolatoriumbioreproduksi.html