Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI I
MENENTUKAN ED50 (EFFECTIVE DOSE) DIAZEPAM PADA TIKUS

Disusun Oleh
Dina Parazqia P.
Baiq Wafa Aulia
Nikmafiyanti Bumulo
Deny Dwi Wulandari
Lindasari Safitri
Faizah Amriana
Annisyah Wiradika
Rika Desiananda
Dede Reynaldi

(201310410311028)
(201310410311029)
(201310410311030)
(201310410311033)
(201310410311034)
(201310410311035)
(201310410311036)
(201310410311038)
(201310410311047)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014/2015

DAFTAR ISI

Konten
DAFTAR ISI....................................................................................................................... 1
I.

TUJUAN ................................................................................................................... 2

II.

DASAR TEORI ........................................................................................................ 2

III.

ALAT DAN BAHAN ............................................................................................... 5

IV.

PROSEDUR KERJA ................................................................................................ 5

V.

BAGAN KERJA....................................................................................................... 6

VI.

PERHITUNGAN DOSIS ......................................................................................... 6

VII. HASIL PENGAMATAN.......................................................................................... 7


VIII. PERHITUNGAN LD50 DENGAN PERSAMAAN REGRESI ................................ 9
IX.

PEMBAHASAN ..................................................................................................... 10

X.

KESIMPULAN ...................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 12

I.

TUJUAN
1. Mengamati perubahan aktivitas perilaku setelah pemberian diazepam
secara intraperitoneal.
2. Menentukan ED50 (dosis yang memberikan efek ) tidur diazepam

II.

DASAR TEORI
Obat hipnotik sedative menunjukkan bahwa guna terapi utamanya untuk
menyebabkan sedasi (bersamaan dengan hilangnya asietas) atau untuk
mendorong tidur. Sedative efektif akan mengurangi asietas dan
menimbulkan efek menenangkan dengan sedikit atau tanpa efek atas fungsi
motorik. Tingkat depresi susunan saraf pusat yang disebabkan oleh sedative
minimum harus sesuai dengan kemanjuran terapi. Obat hipnotik akan
menimbulkan ngantuk serta mendorong mulai dan dipertahankannya
keadaan tidur yang sejauh mungkin menyerupai keadaan tidur alamiah. Efek
Hipnotik melibatkan depresi susunan saraf pusat yang lebih menonjol
daripada sedasi dan ini dapat di capai dengan sebagian besar obat sedative
hanya dengan meningkatkan dosis.
A. Hubungan Antara Dosis Dan Jumlah
Hubungan antara dosis dan jumlah yang memberi reaksi suatu efek
spesifik dapat diidentifikasi dengan ED50. Terdapat distribusi simetris
sekilas garis tengah yang membagi diagram dalam dua bagian yang sama.
Dosis yang memberi reaksi dalam 50% dari individu, digunakan sebagai
aktivitas (ED50) senyawa yang diuji. Dari kurva dosis kerja dapat ditentukan
tetapan-tetapan obat yang penting. ED50 Y : telah sering dikemukakan
(dosage effectiva 50, dosis efektif 50) adalah dosis yang menyebabkan
dicapai separuh (50%) dari objek percobaan menunjukkan efek yang
diharapkan. LD50 (dosis letalis 50, dosis letal 50) suatu hal yang berbeda
dengan ED50, yaitu dosis yang menyebabkan 50% dari hewan percobaan
mati.
B. Diazepam
Diazepam adalah obat penenang, yaitu golongan benzodiazepine,
digunakan sebagai anksiolitik agen antipanik, sedative, relaxan otot rangka,
antikonvulsan, dan dalam penatalaksanaan gejala-gejala akibat penghentian
pemakaian alkohol. Benzodiazepine yang digunakan sebagai anastetik ialah
diazepam, iorazepam, dan midazolam. Golongan obat ini bekerja pada
system saraf pusat dengan efek utama: sedasi, hypnosis, pengurangan
terhadap rangsangan emosi/ansietas, relaksasi otot, dan antikonvulasi.
Benzodiazepine tidak mampu menghasilkan tingkat depresi saraf sekuat
golongan barbiturate atau anastesi umum. Peningkatan dosis benzodiazepine
menyebabkan depresi SSP yang meningkat dari sedasi ke hypnosis, dan dari
hypnosis ke stupor. Keadaan ini serin dinyatakan sebagai efek anastesia,

tetapi obat golongan ini tidak benar-benar memperlihatkan efek anastesi


umum yang spesifik. Namun pada dosis pre-anastetik, benzodiazepine
menimbulkan amnesia anterograd terhadap kejadian yang berlangsung
setelah pemberian obat. Profil farmakologi benzodiazepine sangat berbeda
pada spesies yang berbeda. Pada spesies tertentu, hewan coba dapat
meningkatkan kewaspadaannya sebelum timbul depresi SSP. Walaupun
terlihat adanya efek analgetik benzodiazepine pada hewan coba, pada
manusia hanya terjadi analgesi selintas setelah pemberian diazepam. Belum
pernah dilaporkan adanya efek analgetik derivate benzodiazepine lain.
Benzodiazepine tidak memperlihatkan efek analgesia dan efek hiperalgesia.
a. Indikasi
Diazepam adalah turunan dari benzodiazepine dengan rumus molekul 7kloro-1,3-dihidro-1-metil-5-fenil-2H-1,4-benzodiazepin-2-on.
Merupakan senyawa Kristal tidak berwarna atau agak kekuningan yang
tidak larut dalam air. Secara umum, senyawa aktif benzodiazepine dibagi
kedalam empat kategori berdasarkan waktu paruh eliminasinya, yaitu :
1. Benzodiazepin ultra short-acting
2. Benzodiazepin short-acting, dengan waktu paruh kurang dari 6 jam.
Termasuk didalamnya triazolam, zolpidem dan zopiclone.
3. Benzodiazepin intermediate-acting, dengan waktu paruh 6 hingga 24 jam.
Termasuk didalamnya estazolam dan temazepam.
4. Benzodiazepin long-acting, dengan waktu paruh lebih dari 24 jam.
Termasuk didalamnya flurazepam, diazepam dan quazepam.
Dipasaran, diazepam tersedia dalam bentuk tablet, injeksi dan gel rectal,
dalam berbagai dosis sediaan. Diazepam termasuk obat dengan kelas terapi
antiansietas, antikonvulsan, dan sedatif.
Indikasi dari diazepam adalah untuk status epileptikus, ansietas atau
insomnia, konvulsi akibat keracunan, kejang demam, dan untuk spasme
otot. Diazepam digunakan untuk memperpendek mengatasi gejala yang
timbul seperti gelisah yang berlebihan, diazepam juga dapat mengatasi
gemetaran, kegilaan, dan halusinasi sebagai akibat mengkonsumsi alcohol.
Diazepam juga dapat dignakan untuk kejang otot. Kejang otot merupakan
penyakit neurology. Diazepam digunakan sebagai obat penenang dan dapat
juga dikombinasikan dengan obat lain.
b. Efek samping
Sebagaimana obat, selain memiliki efek yang menguntungkan, diazepam
juga memiliki efek samping yang perlu diperhatikan dengan seksama. Efek
samping diazepam memiliki tiga kategori efek samping yaitu:
1. efek samping yang sering terjadi: pusing, mengantuk.
2. efek samping yang jarang terjadi: depresi, impaired cognition.
3. efek samping yang jarang sekali terjadi: reaksi alergi, amnesia, anemia,
angiodema, behavioral disorders, blood dyscrasias, blurred vision,

kehilangan keseimbangan, konstipasi, coordination changes, diarrhea,


disease of liver, drug dependence, dysuria, extrapyramidal disease, false
sense of well-being, fatigue, general weakness, headache disorders,
hipotensi, increased bronchial secretion, leucopenia, libido changes,
muscle spasm, muscle weakness, nausea, neutropenia disorder,
polydipsia, pruritus of skin, seizure disorder, sialorrhea, skin rash, sleep
automatism, tachyarrhytmia, trombositopeni, tremors, visual changes,
vomiting, xerostomia.
c. Farmakokinetik
Benzodiazepine bersifat lipofilik dan diabsorbsi secara cepat dan
sempurna setelah pemberian oral dan didistribusikan ke seluruh tubuh.
Waktu paruh benzodiazepine penting secara klinis karena lama kerja
dapat menentukan penggunaan dalam terapi. Benzodiazepine dibagi
atas kelompok kerja jangka pendek, sedang, dan panjang. Dan
diazepam masuk ke dalam kelompok kerja lama. Obat dengan jangka
panjang membentuk metabolit aktif dengan waktu paruh panjang.
Kebanyakan benzodiazepine termasuk klordiazepoksid dan diazepam
dimetabolisme oleh system metabolit mikrosomal hati menjadi
senyawa yang juga aktif untuk benzodiazepine ini, waktu paruh
menunjukkan kerja kombinasi dari obat asli dan metabolitnya.
Benzodiazepin dikeluarkan dalam urin sebagai metabolit glukuronat
atau metabolit oksidasi
t : Diazepam 20-40 jam, DMDZ 40-100 jam. Tergantung pada
variasi subyek. t meningkat pada mereka yang lanjut usia dan bayi
neonatus serta penderita gangguan liver. Perbedaan jenis kelamin juga
harus dipertimbangkan.
Volume Distribusi : Diazepam dan DMDZ 0,3-0,5 mL/menit/Kg. Juga
meningkat pada mereka yang lanjut usia.
Waktu untuk mencapai plasma puncak : 0,5 2 jam.
d. Farmakodinamik
Pengikatan GABA (asam gama aminobutirat) ke reseptornya pada
membran sel akan membuka saluran klorida, meningkatkan efek konduksi
klorida. Aliran ion klorida yang masuk menyebabkan hiperpolarisasi lemah
menurunkan potensi postsinaptik dari ambang letup dan meniadakan
pembentukan kerja potensial. Diazepam berikatan dengan reseptor-reseptor
stereospesifik benzodiazepin di neuron postsinaptik GABA pada beberapa
sisi di dalam Sistem Syaraf Pusat (SSP). Diazepam meningkatkan
penghambatan efektifitas GABA dalam menghasilkan rangsangan dengan
meningkatkan permeabilitas membran terhadap ion klorida. Perubahan ini
mengakibatkan ion klorida berada dalam bentuk terhiperpolarisasi (bentuk
kurang aktif / kurang memberikan rangsangan) dan stabil.

Diazepam segera didistribusi ke otak, tetapi efeknya baru tampak setelah


beberapa menit. Obat ini menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran
disertai nistagmus dan bicara lambat, tetapi tidak berefek analgesic, juga
tidak menimbulkan potensiasi terhadap efek penghambat neuromuscular dan
efek analgesic obat narkotik. Diazepam digunakan untuk menimbulkan
sedasi basal pada anastesia regional, endoskopi, dan prosedur dental, juga
untuk induksi anastesia terutama pada penderita dengan penyakit
kardiovaskuler. Dibandingkan dengan ultra short acting barbiturate, efek
anastesia diazepam kurang memuaskan karena mula kerjanya lambat dan
masa pemulihannya lama. Kadarnya segera turun karena adanya
redistribusi, tetapi sedasi sering muncul lagi setelah 6-8 jam akibat adanya
penyerapan ulang diazepam yang dibuang melalui empedu. Karena itu
diazepam jangka lama tidak memerlukan koreksi dosis.

III. ALAT DAN BAHAN


kapas, kain, spuit, kasa, klem
kandang, tikus 3 ekor
Alcohol
diazepam (dosis 1 mg/ kgBB, 2,5 mg/kgBB, 7,5 mg/ kgBB)
IV. PROSEDUR KERJA
1. Bersihkan permukaan abdomen tikus dengan menggunakan kapas
alcohol
2. Suntikkan pada masing-masing tikus diazepam dengan dosis 1mg/kgBB,
2,5 mg/kgBB, 5 mg/kgBB secara intraperitoneal
3. Amati perubahan perilaku tikus (seperti yang tertera pada lembar
pengamatan) dengan seksama

V.

BAGAN KERJA

Tikus 1

1mg/kgBB

Permukaan abdomen tikus

Bersihkan dengan kapas alkohol

Suntikkan (intraperitoneal)

tikus 2

2,5mg/kgBB

tikus 3

7,5mg/kgBB

Amati tikus dan catat perubahannya


VI. PERHITUNGAN DOSIS
a. Tikus 1
Berat badan 137 gram = 0,137 kg
Dosis 1 mg/kgBB
1 mg/kgBB x 0,137 mg = 0,137 mg
0,137 mg / 10 mg x 2 ml = 0,03 ml
b. Tikus 2
Berat badan 121 gram = 0,121 kg
Dosis 2,5 mg/kgBB
2,5 mg/kgBB x 0,121 mg = 0,3025 mg
0,3025 mg/ 10 mg x 2 ml = 0,06 ml
c. Tikus 3
Berat badan 131 gram = 0,131 kg
Dosis 7,5 mg/kgBB
7,5 mg/kgBB x 0,131 mg = 0,9825 mg
0,9825 mg/ 10 mg x 2 ml = 0,20 ml

VII. HASIL PENGAMATAN


a. Tabel Pengamatan
1. Tabel pengamatan perubahan perilaku hewan coba setelah pemberian
diazepam
Menit

Nomor

Postur Aktvitas

Ataxia

Righting

Test

reflex

kasa

Analgesia

Ptosis

+++

++

++

+++

++

+++

++

+++

++

++

+++

++

+++

++

++++

++

+++

++

+++

++

++++

++

+++

+++

++

++++

++

+++

++

+++

+++

+++

+++

++

++

++++

+++

+++

+++

++

++++

+++

+++

++++

++

++

++++

++

+++

++

++

++++

+++

+++

+++

eksperimen

tubuh

motorik

++

++

10

15

30

60

Keterangan :
1.

2.

Postur Tubuh :
+

= Jaga

= kepala dan punggung tegak

++

=Ngantuk

= Kepala tegak punggung mulai datar

+++

= Tidur

= Kepala dan punggung datar

Aktifitas Motor

3.

4.

5.

6.

7.

= Gerak spontan

++

= Gerak spontan bila dipeggang

+++

= Gerak menurun saat dipegang

++++

= Tidak ada gerak spontan

Ataksia= Gerakan berjalan inkoordinasi


+

= Inkoordinasi terlihat kadang-kadang

++

= Inkoordinasi terlihat jelas

+++

= tidak dapat berjalan lurus

Righting Reflex
+

= Diam pada satu posisi miring

++

= Diam pada dua posisi miring

+++

= Diam saat terlentang

Tes Kasa
+

= tidak jatuh apabila kasa dibalik dan digoyang

++

= jatuh apabila kasa dibalik

+++

= jatuh apabila posisi kasa 90

++++

= jatuh apabila posisi kasa 45

Analgesia
+

= respon berkurang ketika telapak kaki dijepit

++

= tidak ada respon saat telapak kaki dijepit

Ptosis
+

= ptosis <

++

+++

= seluruh palebra tertutup

2. Tabel hasil respon tidur pada hewan coba


Respon tidur (+/-) pada tikus no.

%
indikasi

Dosis

yg

berespon
1 mg

0%

2,5 mg

16,67%

7,5 mg

66,67%

3. Grafik hasil respon tidur pada hewan coba


80%

%indikasi yang berespon

70%
7.5, 67%

60%
50%
40%
30%
20%

2.5, 17%

10%
0%

1, 0%
0

dosis diazepam (mg/kgBB)

VIII. PERHITUNGAN LD50 DENGAN PERSAMAAN REGRESI


Y = bx + a
A = -9,5915
B = 10,1922
R = 0,9998
x = y-a
b
= 50% - (-9,5915)
10,1922
= 5,8468 mg ~ 5,85 mg
Jadi ED50 adalah 5,85 mg

IX. PEMBAHASAN
Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui ED50 atau dosis yang dapat
memberikan efek pada 50% individu dari obat diazepam pada hewan coba
yaitu tikus. Efek yang ditimbulkan adalah efek tidur.
Dari hasil pengamatan setelah pemeberian sdian diazepam pada tikus
mengakibatkan terjadinya perubahan perilaku pada tikus khususnya pada
aktivitas yang dipengaruhi oleh SSP. Hal ini disebabkan efek dari obat
diazepam sendiri yang memberikan efek atau pengaruh pada sistem saraf
pusat. Berikut perubahan perilaku yang terlihat pada tikus.
1. Postur tubuh
Pada tikus 1dan 2 mengalami onset of action pada menit ke-15 ditandai
dengan kepala tegak dan punggung mulai datar (++) sedangkan pada
tikus 3 mengalami onset of action padamenit ke-10.
2. Aktifitas motorik
Pada tikus 1 mengalami onset of action pada menit ke-10 ditandai dengan
gerak menurun pada saat dipegang (+++), sedangkan pada tikus 2 dan 3
mengalami onset of action pada menit ke-30.
3. Ataksia
Pada tikus 3 mengalami onset of action pada menit ke-5 dengan
inkoordinasi terlihat jelas(++), pada tikus 2 mengalami onset of action
pada menit ke-15, sedangkan pada tikus 1 mengalami onset of action
pada menit ke-30.
4. Righting reflek
Pada tikus 3 mengalami onset of action pada menit ke-10 ditandai dengan
diam padadua posisi miring. Tikus satu pada menit ke-30, sedangkan
pada tikus 3 tidak mengalami
5. Tes kasa
Pada tikus 3 mengalami onset of action pada menit ke-10 ditandai dengan
jatuh padasaat kasa dibalik. Tikus 1 pada menit ke-15 sedangkan pada
tikus 2 pada menit ke-30.
6. Analgesia
Pada tes analgesia yang terlihat jelas mngalami onset of action pada tikus
1 padamenit ke-30 ini ditandai dengan tidak adanya respon pada saat kaki
dijepit.
7. Ptosis
Pada tikus 1 dan 3 mengalami ptosis pada menit ke-30 ditandai dengan
palpebral menutup . Tetapi pada tikus 3 sudah mengalami efek tidur
pada menit ke-20 sedangkan pada tikus 1 menit pada menit ke-30.
Dari tabel hasil pengamatan respon tidur yang didapatkan pada hewan
coba tikus tiap kelompak adalah, tikus 1 dengan perlakuan pemberian
diazepam dengan dosis 1 mg/ kgBB tidak terjadi respon tidur pada tikus
seluruh kelompok. Pada tikus II dengan perlakuan pemberian diazepam
dengan dosis 2,5 mg/kgBB respon tikus terjadi hanya pada kelompok 6.
Pada tikus III dengan perlakuan pemberian diazepam dengan dosis 7,5

10

mg/kgBB terjadi respon tidur pada kelompok 1, 3, 4 dan 5. Sedangkan tikus


kelompok 2 dan 6 tidak terjadi respon tidur.
Dari hasil persamaan regeresi didapat bahwa dosis yang dapat
menyebabkan efek tidur pada 50% individu (hewan coba) adalah dosis
diazepam 5,85 mg/kgBB
X.

KESIMPULAN
1 . Pemberian diazepam dapat mempengaruhi sistem saraf yaitu memberikan
efek sedative- hipnotikum, yaitu ditandai dengan perubahan prilaku
hewan coba.
2 . Semakin besar pemberian diazepam akan memeberikan efek yang
semakin besar pula
3 . ED50 adalah dosis efektif yang dapat memeberikan efek pada 50%
individu
4 . Dosis diazepam yang dapat memberikan efek positif yaitu efek tidur pada
50% individu hewan coba adalah 5,85 mg/kgBB

11

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, H. Azwar. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Widya Medika:
Jakarta.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik, FK UI (2007). Farmakologi Dan
Terapi Edisi V. Jakarta Gaya Baru, FK UI: Jakarta.
Tjay, Tan Hoan.Drs.Dkk .2002. Obat-Obat Penting Edisi II. Jakarta;
PT.Gramedia

12

Anda mungkin juga menyukai