Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)
merupakan salah satu indikator penting dalam menilai tingkat derajat
kesehatan masyarakat di suatu negara (Depkes RI, 2007). Oleh karena itu,
pemerintah memerlukan upaya yang sinergis dan terpadu untuk
mempercepat penurunan AKI dan AKB di Indonesia khususnya dalam
mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015
yaitu AKI sebesar 102/100.000 kelahiran hidup. Tentunya hal ini merupakan
tantangan yang cukup berat bagi Pemerintah Indonesia (Depkes RI, 2007).
Hingga saat ini sudah banyak program pembangunan kesehatan di
Indonesia yang ditujukan pada penanggulangan masalah-masalah kesehatan
ibu dan anak. Pada dasarnya, program-program tersebut lebih
menitikberatkan pada upaya-upaya penurunan angka kematian bayi dan
anak, angka kelahiran kasar, dan angka kematin ibu. Hal ini terbukti dari
hasil-hasil survei yang menunjukkan penurunan angka kematian bayi dan
anak juga angka kelahiran kasar. Kesehatan ibu merupakan komponen yang
sangat penting dalam pembangunan bangsa karena seluruh komponen yang
lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Jika ibu sehat, maka akan
menghasilkan bayi sehat yang akan menjadi generasi kuat. Ibu yang sehat
juga menciptakan keluarga sehat dan bahagia. Tiga indikator yang dipakai
dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu adalah angka kematian ibu
(AKI), proporsi pertolongan persalianan oleh tenaga kesehatan terlatih, dan
angka pemakaian kontrasepsi (DepKes RI, 2001 dalam Efendy, Ferry, 2009).
Selain itu, upaya yang dilakukan pemerintah (Depkes RI) melalui tiga
pesan kunci MPS (Making Pregnancy Safer). Strategi MPS dapat
dilaksanakan dengan baik jika semua pihak yang terkait saling bekerja sama,
baik dari petugas maupun masyarakatnya.Salah satu strategi kegiatan MPS
1

adalah mendorong pemberdayaan wanita dankeluarga melalui peningkatan


pengetahuan untuk menjamin perilaku sehat dan pemanfaatan pelayanan
kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Upaya yang sekarang sedang digalakkan
adalah kelas ibu. Di dalam kelas ibu diajarkan beberapa materi, seperti tanda
dan risiko kehamilan, senam hamil, perawatan payudara, latihan pernapasan.
Serta ada kelas perawatan sesudah melahirkan, seperti pijat bayi, perawatan
bayi, atau senam nifas. Para calon ibu tidak hanya mendapatkan materi, juga
diwajibkan melatihs endiri di rumah. Dengan kelas ibu yang diikuti oleh para
ibu hamil dan suami yang ikutserta mendampingi akan menambah
pengetahuan dan wawasan,sehingga cara pandang mereka dapat berubah
dalam menyikapi suatu permasalahan yang berhubungan dengan
kehamilan dan persalinan. Perubahan pengetahuan dan sikap ibu hamil dan
keluarga dapat berdampak terhadap upaya penrunan AKI dan AKB dapat
tercapai sesuai target yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, kami
mengambil materi yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak.
2.

Tujuan Umum
Dari makalah ini, harapan kami yaitu dapat memahami hal-hal yang

berhubungan dengan gejala ibu dan anak sehingga dapat menambah


wawasan pengetahuan kami selaku mahasiswa. Dengan demikian kami
dapat menerapkan sebagai edukator bagi masyarakat yang membutuhkan
informasi yang berhubungan.
3.

Tujuan Khusus

a)
b)

Menjelaskan hal-hal yang berpengaruh pada mortalitas pada maternal


Menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi mortalitas dan

morbiditas pada maternal


c)
Menjelaskan perawatan pada prakonsepsi
d)
Menjelaskan perawatan pada antenatal
e)

Menjelaskan perawatan pada intranatal


BAB II
2

PEMBAHASAN
2.1 MORTALITAS PADA MATERNAL
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat
derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah
satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu
tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan
dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai resiko jumlah
kematian ibu. Dari hasil survei yang dilakukan AKI telah menunjukkan
penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya untuk mewujudkan
target tujuan pembangunan millenium masih membutuhkan komitmen dan
usaha keras yang terus menerus (Kementrian pemberdayaan perempuan
dan perlindungan anak).
Salah satu ukuran kematian yang cukup menjadi perhatian adalah jumlah
kematian bayi. Jumlah kematian bayi ini dipublikasikan dengan sebuah
indikator yang disebut angka kematian bayi (IMR). Di Indonesia, IMR telah
mengalami penurunan dari 142 pada 1967-1971 menjadi 46 pada periode
1992-1997. Penurunan IMR yang drastis ini menyembunyikan perbedaan
IMR antar daerah geografis dan kalangan sosial ekonomi yang berbeda. Data
dinas kependudukan menyebutkan perbedaan IMR antara perkotaan dan
pedesaan semakin melebar, sekitar 42% lebih tinggi di daerah pedesaan
dibanding daerah perkotaan.
Tinggi rendahnya angka maternal mortality dapat dipakai mengukur taraf
program kesehatan di suatu negara khususnya program kesehatan ibu dan
anak (Sukarni, 1994). Semakin rendah angka kematian ibu di suatu negara
menunjukkan tingginya taraf kesehatan negara tersebut. Di Indonesia, tiap
tahun sekitar 14.180 wanita meninggal karena hamil dan melahirkan atau
dalam satu jam terdapat dua orang ibu meninggal saat melahirkan. Jika
dikalkulasikan, angka kematian ibu saat melahirkan akibat komplikasi

kehamilan, persalinan, dan nifas mencapai 20 ribu orang per tahun. Angka ini
masih merupakan angka yang tertinggi di Asia Tenggara (Sahrudin, 2008).
Sampai saat ini angka kematian ibu (AKI) melahirkan tidak dapat turun
seperti yang diharapkan. menurut laporan BKKBN pada bulan juli 2005, AKI
masih berkisar 307 per 100.000 kelahiran hidup. pemerintah sebenarnya
telah bertekad dalam menurunkan AKI dari 390 per 100.000 kelahiran hidup
(SDKI 1994) menjadi 225 per 100.000 pada tahun 1999, dan menurunkan
lagi menjadi 125 per 100.000 pada tahun 2010. tapi pada kenyataanya AKI
hanya berhasil diturunkan menjadi 334 per 100.000 pada tahun 1997 dan
menjadi 307 per 100.000 pada tahun 2003 menurut survei demografi
kesehatan indonesia.
Pendarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian ibu ( 28
persen) , anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil
menjadi penyebab utama terjadinya pendarahan dan infeksi yang merupakan
faktor kematian utama ibu. Di berbagai negara paling sedikit seperempat dari
seluruh kematian ibu disebabkan oleh pendarahan; proporsinya berkisar
antara kurang dari 10 persen sampai hampir 60 persen. Walaupun seorang
perempuan bertahan hidup setelah mengalami pendarahan pasca persalinan,
namun ia akan menderita akibat kekurangan darah yang berat (anemia berat)
dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan.(WHO).
Persentase tertinggi kedua penyebab kematian ibu yang adalah eklamsia
(24 persen), kejang bisa terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi
(hipertensi) yang tidak terkontrol saat persalinan. Hipertensi dapat terjadi
karena kehamilan, dan akan kembali normal bila kehamilan sudah berakhir.
Namun ada juga yang tidak kembali normal setelah bayi lahir. Kondisi ini
akan menjadi lebih berat bila hipertensi sudah diderita ibu sebelum hamil.
(Profil Kesehatan Indonesia, 2007), sedangkan persentase tertinggi ketiga
penyebab kematian ibu melahirkan adalah infeksi (11 persen).
Setelah cukup lama publikasi hasil Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2012 untuk Angka Kematian Ibu (AKI) diundur pemerintah,
4

akhirnya hasil capaian AKI diumumkan. Hasilnya sangat


mengejutkan.Kematian Ibu melonjak sangat signifikan menjadi 359 per
100.000 kelahiran hidup atau mengembalikan pada kondisi tahun 1997. Ini
berarti kesehatan ibu justrumengalami kemunduran selama 15 tahun. Pada
tahun 2007, AKI di Indonesia sebenarnya telah mencapai 228 per 100.000
kelahiran hidup
2.2 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS DAN
MORDIBITAS MATERNAL
2.2.1 Pengertian Mortalitas
Mortalitas diartikan sebagai kematian yang terjadi pada anggota
penduduk. Secara etimologi, kematian (death) berasal dari kata deeth atau
deth yang berarti keadaan mati atau kematian. Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) mendefinisikan kematian sebagai suatu peristiwa menghilangnya
semua tanda-tanda kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat
setelah kelahiran hidup.
2.2.2 Pengertian Morbiditas
Morbiditas adalah nama lain dari penyakit atau kesakitan. Morbiditas
diartikan sebagai penyakit dan kesakitan yang dapat menimpa manusia lebih
dari satu kali. Morbiditas merupakan penyimpangan dari keadaan normal dan
biasanya dibatasi pada kesehatan fisik dan mental. Sesuai dengan konsep
H.L.

Blum,

konsep

penyakit

timbul

diakibatkan

karena

adanya

ketidakseimbangan diantara empat komponen hidup manusia, yakni unsur


genetik,

layanan

kesehatan,

perilaku

masyarakat,

dan

lingkungan.

Lingkungan dalam konsep di sini mencakup unsur ideologi, sosial, budaya,


ekonomi, ras, agama, dan adat. Serangkaian morbiditas yang terjadi di
masyarakat tersebut disebut dengan morbiditas kumulatif. Morbiditas
kumulatif akhirnya akan menghasilkan peristiwa yang disebut dengan
mortalitas (kematian).
Angka kematian maternal dan angka kematian bayi merupakan ukuran
bagi kemajuan kesehatan suatu negara, khususnyayang berkaitan dengan
masalah kesehatan ibu dan anak. Angka kematian maternal merupakan
5

indikator yang mencerminkan status kesehatan ibu, terutama risiko kematian


bagi ibu pada waktu hamil dan melahirkan (Wibowo B,dkk.1994).
Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Anak termasuk Angka Kematian
Bayi dan Angka Harapan Hidup waktu lahir telah ditetapkan sebagai indikator
indikator derajat kesehatan dalam Indonesia Sehat 2010 (Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Tengah.2005). Kematian maternal merupakan masalah
kompleks yang tidak hanya memberikan pengaruh pada para wanita saja,
akan tetapi juga mempengaruhi keluarga bahkan masyarakat sekitar
(Kusumaningrum I,dkk.1999).
Kematian maternal akan meningkatkan risiko terjadinya kematian bayi.
Kematian wanita pada usia reproduktif juga akan mengakibatkan kerugian
ekonomi

yang

signifikan

dan

dapat

menyebabkan

kemunduran

perkembangan masyarakat, karena wanita merupakan pilar utama dalam


keluarga yang berperan penting dalam mendidik anak-anak, memberikan
perawatan kesehatan dalam keluarga dan membantu perekonomian keluarga
(Depkes RI.1996).
Indonesia sebagai negara berkembang, masih memiliki angka
kematian maternal yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 angka kematian ibu (AKI) di Indonesia
425 per 100.000 KH dan menurun menjadi 373 per 100.000 KH pada SKRT
tahun 1995 (De Cheney AH.2003). Sedangkan pada SKRT yang dilakukan
pada tahun 2001, angka kematian maternal kembali mengalami peningkatan
yaitu sebesar 396 per 100.000 KH dan dari SDKI 2002 / 2003 angka
kematian maternal menjadi sebesar 307 per 100.000 KH. Hal ini
menunjukkan bahwa angka kematian maternal di Indonesia cenderung
stagnan.
Angka kematian maternal di Indonesia bila dibandingkan dengan
angka kematian maternal di seluruh dunia tampak hampir sama dan akan
tampak jauh berbeda bila dibandingkan dengan negara-negara maju atau
bahkan dengan negara-negara di Asia Tenggara.
Menurut data Dinas Kesehatan Jawa Tengah tahun 2012 tingkat
kematian maternal mengalami peningkatan dari tahun 2010 terdapat sebesar
6

104,97 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 2011 terdapat 116,01 per
100.000 kelahiran hidup hingga pada tahun 2012 jumlahnya meningkat
menjadi 116,34

per 100.000 kelahiran hidup. Faktor yang mendasari

mortalitas pada maternal diantaranya komplikasi yang berhubungan dengan


kehamilan, persalinan dan masa nifas. WHO memperkirakan bahwa 15-20%
ibu hamil baik di negara maju maupun negara berkembang akan mengalami
risiko tinggi atau disertai komplikasi.
Salah satu cara paling efektif untuk menurunkan angka mortalitas dan
morbiditas maternal adalah dengan meningkatkan kualitas pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih dengan optimalisasi pelayanan
kesehatan terpadu selama masa kehamilan, persalinan dan masa nifas.
2.2.3 Hubungan Faktor Demografi Dengan Terjadinya Morbiditas Dan
Mortalitas Pada Ibu Dan Bayi
a. Tingkat ekonomi
Kemiskinan biasanya disertai dengan pengangguran, kekurangan gizi,
kebodohan, status wanita yang rendah, rendahnya akses ke pelayanan sosial
dan kesehatan, termasuk pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga
berencana. Faktor-faktor ini memberikan kontribusi terhadap tingginya
fertilitas,

morbiditas

dan

mortalitas,

serta

rendahnya

produktivitas.

Kemiskinan juga mempunyai hubungan yang sangat erat dengan distribusi


penduduk yang tidak merata dan ketidakberlanjutan sumber-sumber alam
yang tersedia, seperti tanah dan air, dan terhadap kerusakan lingkungan
yang serius. Kemiskinan mengakibatkan rendahnya akses masyarakat dalam
memperoleh pelayanan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada
perbedaan yang besar pada penggunaan tenaga kesehatan terlatih sebagai
penolong persalinan menurut kelompok ekonomi. Sebanyak 89,2% ibu dari
kelompok ekonomi tinggi melahirkan dengan pertolongan tenaga kesehatan,
dibandingkan dengan 21,3% dari kelompok ekonomi rendah Hal ini
menggambarkan

adanya

ketimpangan

dalam

akses

finansial

untuk

mendapatkan pelayanan kesehatan dasar dan dalam distribusi tenaga yang


bermutu.
7

Hasil Audit Maternal Perinatal (AMP) menunjukkan bahwa salah satu


penyebab kematian ibu lebih banyak terjadi pada ibu dengan karakteristik
kemampuan membayar biaya pelayanan persalinan rendah dan melakukan
persalinan di rumah.
Proses

persalinan

yang

tidak

ditolong

oleh

tenaga

kesehatan

menyebabkan keterlambatan-keterlambatan sebagai berikut:


(1) Terlambat mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan untuk
segera mencari pertolongan
(2) Terlambat mencapai fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu
memberikan pertolongan persalinan;
(3) Terlambat memperoleh pertolongan yang memadai di fasilitas pelayanan
kesehatan.
b. Tingkat pendidikan
Faktor pendidikan terutama pendidikan ibu, berpengaruh sangat kuat
terhadap kelangsungan hidupnya. Dengan pendidikan tinggi, membuat ibu
mampu memanfaatkan dunia modern yaitu pengetahuan tentang fasilitas dan
perawatan kesehatan modern, serta mampu berkomunikasi dengan aparat
para

medis.

Di

samping

itu

pendidikan

wanita

dapat

mengubah

keseimbangan kekuasaan tradisional di keluarga, karena budaya paternalistik


yang membenarkan dominasi laki-laki dalam pengambilan keputusan sering
mengakibatkan ibu hamil terlambat dibawa ke rumah sakit. Tingkat
pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan masyarakat menyebabkan
keterlambatan-keterlambatan sebagai berikut:
(1) Terlambat mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan untuk
segera mencari pertolongan
(2) Terlambat mencapai fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu
memberikan pertolongan persalinan;
(3) Terlambat memperoleh pertolongan yang memadai di fasilitas pelayanan
kesehatan.
c. Tempat tinggal
8

Tingkat kematian ibu di daerah perkotaan lebih rendah dibanding daerah


pedesaan. Hal ini didasari karena masyarakat kota pada umumnya
mempunyai kondisi sosial ekonomi yang lebih baik, pendidikan yang lebih
tinggi, pendapatan yang lebih tinggi, serta penyediaan air dan sanitasi yang
lebih baik, demikian pula konsentrasi pelayanan kesehatan modern dan
tenaga kesehatan lebih besar di kota.
Pada daerah yang terpencil menyebabkan sulitnya akses pelayanan
kesehatan yang menyebabkan:
(1) Terlambat mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan untuk
segera mencari pertolongan
(2) Terlambat mencapai fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu
memberikan pertolongan persalinan
(3) Terlambat memperoleh pertolongan yang memadai di fasilitas pelayanan
kesehatan.
d. Sosial budaya
Baik masalah

kematian

maupun

kesakitan

pada ibu dan bayi

sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan


di dalam masyarakat dimana mereka berada. Disadari atau tidak, faktorfaktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi
mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab-akibat antara makanan dan
kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa
dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola
makan, misalnya, pacta dasarnya adalah merupakan salah satu selera
manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat bahwa setiap
daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan
anak yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran
terhadap beberapa makanan tertentu.
2.2.4 Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kematian maternal

Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kematian maternal, yang


dikelompokkan berdasarkan kerangka dari McCarthy dan Maine (1992)
adalah sebagai berikut :
1)

Determinan dekat
Proses yang paling dekat terhadap kejadian kematian maternal adalah

kehamilan itu sendiri dan komplikasi dalam kehamilan, persalinan dan masa
nifas (Wibowo B.1994). Wanita yang hamil memiliki risiko untuk mengalami
komplikasi, baik komplikasi kehamilan maupun persalinan, sedangkan wanita
yang tidak hamil tidak memiliki risiko tersebut.
a) Komplikasi kehamilan
Komplikasi kehamilan merupakan penyebab langsung kematian
maternal. Komplikasi kehamilan yang sering terjadi yaitu perdarahan,
preeklamsia/eklamsia, dan infeksi (Kusumaningrum I.1999).

Perdarahan
Sebab-sebab perdarahan yang berperan penting dalam menyebabkan

kematian maternal selama kehamilan adalah perdarahan, baik yang terjadi


pada usia kehamilan muda / trimester pertama, yaitu perdarahankarena
abortus (termasuk di dalamnya adalah abortus provokatus karena kehamilan
yang tidak diinginkan) dan perdarahan karena kehamilan ektopik terganggu
(KET), maupun perdarahan yang terjadi pada kehamilan lanjut akibat
perdarahan antepartum. Penyebab perdarahan antepartum pada umumnya
adalah plasenta previa dan solusio plasenta (UNFPA.2004).
a. Perdarahan karena abortus
Abortus adalah keadaan dimana terjadi berakhirnya kehamilan sebelum
janin dapat hidup di luar kandungan, atau keluarnya janin dengan berat
kurang dari 500 gram atau usia kehamilan kurang dari 20 minggu.
b. Perdarahan karena kehamilan ektopik terganggu
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi dan tumbuh di
luar endometrium cavum uteri. Pada kehamilan ektopik, sel telur yang
telah dibuahi tertanam, tumbuh dan berkembang di luar uterus. Lebih
10

dari 95% implantasi hasil konsepsi pada kehamilan ektopik terjadi pada
tuba fallopii.
Kehamilan ektopik merupakan penyebab perdarahan berat yang
penting. Kehamilan ektopik ini sebagian berkaitan dengan semakin
tingginya insidensi salpingitis / penyakit menular seksual yang
menginfeksi

tuba,

peningkatan

induksi

ovulasi,

peningkatan

penggunaan metode kontrasepsi yang mencegah kehamilan intrauterin


akan

tetapi

tidak mencegah

kehamilan

ekstrauterin, kegagalan

sterilisasi tuba, induksi aborsi yang diikuti dengan infeksi, meningkatnya


usia ibu, dan operasi pelvis sebelumnya, termasuk salpingotomi karena
kehamilan ektopik pada kehamilan sebelumnya.
c. Perdarahan antepartum
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam yang terjadi
pada kehamilan antara 28 minggu sampai sebelum bayi lahir.
Perdarahan antepartum merupakan komplikasi kehamilan dengan
frekuensi sekitar 5 10%.
Perdarahan antepartum merupakan keadaan gawat darurat kebidanan
yang dapat mengakibatkan kematian pada ibu maupun janin dalam
waktu singkat. Penyebab perdarahan antepartum yang berbahaya pada
umumnya bersumber pada kelainan plasenta, yaitu plasenta previa dan
solusio plasenta, sedangkan perdarahan antepartum yang tidak
bersumber pada kelainan plasenta, misalnya perdarahan akibat
kelainan pada serviks uteri dan vagina (trauma, erosio porsionis uteri,
polipus servisis uteri, varises vulva) pada umumnya tidak seberapa
berbahaya, karena kehilangan darah yang terjadi relatif sedikit dan tidak
membahayakan nyawa ibu dan janin, kecuali perdarahan akibat
karsinoma invasif cervisis uteri.

Preeklamsia / eklamsia

11

Kehamilan dapat menyebabkan terjadinya hipertensi pada wanita yang


sebelum kehamilannya memiliki tekanan darah normal (normotensi) atau
dapat memperberat keadaan hipertensi yang sebelumnya telah ada.
Hipertensi pada kehamilan merupakan keadaan pada masa kehamilan
yang ditandai dengan terjadinya kenaikan tekanan darah lebih dari 140/90
mmHg atau kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan atau
diastolik lebih dari 15 mmHg. Hipertensi pada kehamilan yang sering dijumpai
adalah preeklamsia dan eklamsia. Preeklamsia berat dan khususnya
eklamsia merupakan keadaan gawat karena dapat mengakibatkan kematian
ibu dan janin.

Infeksi pada kehamilan


Infeksi pada kehamilan adalah infeksi jalan lahir pada masa

kehamilan, baik pada kehamilan muda maupun tua. Infeksi dapat terjadi oleh
sebab langsung yang berkaitan dengan kehamilan, atau akibat infeksi lain di
sekitar jalan lahir. Infeksi pada kehamilan muda adalah infeksi jalan lahir yang
terjadi pada kehamilan kurang dari 20-22 minggu. Penyebab yang paling
sering terjadi adalah abortus yang terinfeksi.
Infeksi jalan lahir pada kehamilan tua adalah infeksi yang terjadi pada
kehamilan trimester II dan III. Infeksi jalan lahir ini dapat terjadi akibat
ketuban pecah sebelum waktunya, infeksi saluran kencing, misalnyasistitis,
nefritis atau akibat penyakit sistemik, seperti malaria, demam tifoid, hepatitis,
dan lain lain.
Infeksi jalan lahir dapat juga terjadi selama persalinan (intrapartum)
atau sesudah persalinan (postpartum). Keadaan ini berbahaya karena dapat
mengakibatkan sepsis, yang mungkin menyebabkan kematian ibu. Sepsis
menyebabkan kematian maternal sebesar 15%.
b)

Komplikasi persalinan dan nifas


Komplikasi yang timbul pada persalinandan masa nifas merupakan

penyebab langsung kematian maternal. Komplikasi yang terjadi menjelang

12

persalinan, saat dan setelah persalinan terutama adalah perdarahan, partus


macet atau partus lama dan infeksi akibat trauma pada persalinan.

Perdarahan
Perdarahan, terutama perdarahan postpartum memberikan kontribusi

25% pada kematian maternal, khususnya bila ibu menderita anemia akibat
keadaan kurang gizi atau adanya infeksi malaria.
Insidensi perdarahan postpartum berkisar antara 5-8%. Perdarahan ini
berlangsung tiba tiba dan kehilangan darah dapat dengan cepat menjadi
kematian pada keadaan dimanatidak terdapat perawatan awal untuk
mengendalikan perdarahan, baik berupa obat, tindakan pemijatan uterus
untuk merangsang kontraksi, dan transfusi darah bila diperlukan.
Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang terjadi setelah anak
lahir dan jumlahnya melebihi 500 ml. Perdarahan dapat terjadi sebelum, saat
atau setelah plasenta keluar. Hal hal yang menyebabkan perdarahan
postpartum adalah atonia uteri, perlukaan jalan lahir, terlepasnya sebagian
plasentadari uterus, tertinggalnya sebagian dari plasenta, dan kadangkadang perdarahan juga disebabkan oleh kelainan proses pembekuan darah
akibat hipofibrinogenemia yang terjadi akibat solusio plasenta, retensi janin
mati dalam uterus dan emboli air ketuban.

Partus Lama
Partus lama dapat membahayakan jiwa janin dan ibu.Partus lama

adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 18 jam sejak in partu.


Partus lama ataupun partus macet menyebabkan 8% kematian
maternal. Keadaan ini sering disebabkan oleh disproporsi sefalopelvik (bila
kepalajanin tidak dapat melewati rongga pelvis) atau pada letak tak normal
(bila terjadi kesalahan letak janin untuk melewati jalan lahir).
Disproporsi lebih sering terjadi bila terdapat keadaan endemis kurang
gizi, terutama pada populasi yang masih menganutpantangan dan tradisi
yang mengatur soal makanan pada para gadis dan wanita dewasa. Keadaan

13

ini diperburuk lagi bila gadis-gadis menikah muda dan diharapkan untuk
segera memiliki anak, sedangkan pertumbuhan mereka belum optimal.
Pada keadaan disproporsi sefalopelvik, persalinan yang dipaksakan
dapat mengakibatkan ruptura uteri. Ruptura uteri merupakan keadaan
dimana terjadi robekan pada uterus karena sebab tertentu.
Ruptura uteri menyebabkan kematian maternal sebesar 10-40%.
Robekasn uterus akan menyebabkan rasa nyeri yang hebat disertai nyeri
tekan, diikuti dengan perdarahan hebat dari pembuluh darah uterus yang
robek dan kematian dapat timbul dalam 24 jam sebagai akibat perdarahan
dan syok, atau akibat infeksi yang timbul kemudian.

Infeksi Nifas
Infeksi nifas merupakan keadaan yang mencakup semua peradangan

yang disebabkan oleh masuknya kuman - kuman ke dalam alat genital pada
waktu persalinan dan nifas. Kuman penyebab infeksi dapat masuk ke dalam
saluran genital dengan berbagai cara, misal melalui tangan penolong
persalinan yang tidak bersih atau penggunaan instrumen yang kotor.
2.

Determinan Antara (Sedang)

Status kesehatan ibu


Status kesehatan ibu yang berpengaruh terhadap kejadian kematian
maternal meliputi status gizi, anemia, penyakit yang diderita ibu, dan riwayat
komplikasi pada kehamilan dan persalinan sebelumnya.
Status gizi ibu hamil dapat dilihat dari hasil pengukuran terhadap
lingkar lengan atas (LILA). Pengukuran LILA bertujuan untuk mendeteksi
apakah ibu hamil termasuk kategori kurang energikronis (KEK) atau tidak. Ibu
dengan status gizi buruk memiliki risiko untuk terjadinya perdarahan dan
infeksi pada masa nifas.
Keadaan kurang gizi sebelum dan selama kehamilan memberikan
kontribusi

terhadap

rendahnya

kesehatan

maternal,

masalah

dalam

persalinan dan masalah pada bayi yang dilahirkan.


14

Stunting yang dialami selama masa kanak kanak, yang merupakan


hasil dari keadaan kurang giziberat akan memaparkan seorang wanita
terhadap risiko partus macet yang berkaitan dengan adanya disproporsi
sefalopelvik.
Status reproduksi
Status reproduksi yang berperan penting terhadap kejadian kematian
maternal adalah usia ibu hamil, jumlah kelahiran, jarak kehamilan dan status
perkawinan ibu.
Usia di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun merupakan usia berisiko
untuk hamil dan melahirkan. The Fifth Annual State of the Worlds Mothers
Report, yang dipublikasikan oleh The International Charity Save The
Children, melaporkan bahwa setiap tahun, 13 juta bayi dilahirkan oleh wanita
yang berusia < 20 tahun, dan 90% kelahiran ini terjadi negara berkembang.
Para wanita ini memiliki risiko kematian maternal akibat kehamilan dan
kelahiran dua sampai lima kali lebih tinggi bila dibandingkan wanita yang
lebih tua.
Risiko paling besar terdapat pada ibu berusia 14 tahun. Penelitian di
Bangladesh menunjukkan bahwa risiko kematian maternal lima kali lebih
tinggi pada ibu berusia 10 14 tahun daripada ibu berusia 20 24 tahun,
sedangkan penelitian yang dilakukan di Nigeria menyebutkan bahwa wanita
usia 15 tahun memiliki risiko kematian maternal 7 kali lebih besar
dibandingkan dengan wanita yang berusia 20 24 tahun.
Kehamilan di atas usia 35 tahun menyebabkan wanita terpapar pada
komplikasi medik dan obstetrik, seperti risiko terjadinyahipertensi kehamilan,
diabetes, penyakit kardiovaskuler, penyakit ginjal dan gangguan fungsi paru.
Kejadian perdarahan pada usia kehamilan lanjut meningkat pada wanita yang
hamil di usia > 35 tahun, dengan peningkatan insidensi perdarahan akibat
solusio plasenta dan plasenta previa.
Persalinan dengan seksio sesaria pada kehamilan di usia lebih dari 35
tahun juga meningkat, hal ini terjadi akibat banyak faktor, seperti hipertensi
15

kehamilan, diabetes, persalinan prematur dan penyebab kelainan pada


plasenta.
Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa
kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada
usia35 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 24
tahun.Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20
30 tahun.
Akses terhadap pelayanan kesehatan
Hal ini meliputi antara lain keterjangkauan lokasi tempat pelayanan
kesehatan, dimana tempat pelayanan yang lokasinya tidakstrategis / sulit
dicapai oleh para ibu menyebabkan berkurangnya akses ibu hamil terhadap
pelayanan kesehatan, jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia dan
keterjangkauan terhadap informasi.
Akses terhadap tempat pelayanan kesehatan dapat dilihat dari
beberapa faktor, seperti lokasi dimana ibu dapat memperoleh pelayanan
kontrasepsi, pemeriksaan antenatal, pelayanan kesehatan primer atau
pelayanan kesehatan rujukan yang tersedia di masyarakat.
Pada umumnya kematian maternal di negara negara berkembang,
berkaitan dengan setidaknya satu daritiga keterlambatan (The Three Delay
Models).
Keterlambatan yang pertama adalah keterlambatan dalam mengambil
keputusan untuk mencari perawatan kesehatan apabila terjadi komplikasi
obstetrik. Keadaan ini terjadi karena berbagai alasan, termasuk di dalamnya
adalah keterlambatan dalam mengenali adanya masalah, ketakutan pada
rumah sakit atau ketakutan terhadap biaya yang akan dibebankan di sana,
atau karena tidak adanya pengambil keputusan, misalnya keputusan untuk
mencari pertolongan pada tenaga kesehatan harus menunggu suami atau
orang tua yang sedang tidak ada di tempat.
Keterlambatan kedua terjadi setelah keputusan untuk mencari
perawatan kesehatan diambil. Keterlambatan ini terjadi akibat keterlambatan
16

dalam mencapai fasilitas kesehatan dan pada umumnya terjadi akibat


kesulitan transportasi. Beberapa desa memiliki pilihan transportasi yang
sangat terbatas dan fasilitas jalan yang buruk. Kendala geografis di lapangan
mengakibatkan banyak rumah sakit rujukan tidak dapat dicapai dalam waktu
dua jam, yaitu merupakan waktu maksimal yang diperlukan untuk
menyelamatkan ibu dengan perdarahan dari jalan lahir.
Keterlambatan

ketiga

yaitu

keterlambatan

dalam

memperoleh

perawatan di fasilitas kesehatan. Seringkali para ibu harus menunggu selama


beberapa jam

di pusat kesehatan rujukan karena manajemen staf yang

buruk, kebijakan pembayaran kesehatan di muka, atau kesulitan dalam


memperoleh darah untuk keperluan transfusi, kurangnya peralatan dan juga
kekurangan obat obatan yang penting, atau ruangan untuk operasi.
Pelaksanaan sistem pelayanan kebidanan yang baik didasarkan pada
regionalisasi pelayanan perinatal, dimana ibu hamil harus mempunyai
kesempatan pelayanan operatif dalam waktu tidak lebih dari satu jam dan
bayi harus dapat segera dilahirkan.
Perilaku penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan
Perilaku penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan antara lain
meliputi perilaku penggunaan alat kontrasepsi, dimana ibu yang mengikuti
program keluarga berencana (KB) akan lebih jarang melahirkan dibandingkan
dengan ibu yang tidak ber KB, perilaku pemeriksaan antenatal, dimana ibu
yang melakukan pemeriksaan antenatal secara teratur akan terdeteksi
masalah kesehatan dan komplikasinya, penolong persalinan, dimana ibu
yang ditolong oleh dukun berisiko lebih besar untuk mengalami kematian
dibandingkan dengan ibu yang melahirkan dibantu oleh tenaga kesehatan,
serta tempat persalinan, dimana persalinan yang dilakukan di rumah akan
menghambat akses untuk mendapatkan pelayanan rujukan secara cepat
apabila sewaktu waktu dibutuhkan.
Program KB berpotensi menyelamatkankehidupan ibu, yaitu dengan
cara memungkinkan wanita untuk merencanakan kehamilan sedemikian rupa
17

sehingga dapat menghindari kehamilan pada usia tertentu atau jumlah


persalinan yang membawa bahaya tambahan, dan dengan cara menurunkan
tingkat kesuburan secara umum, yaitu dengan mengurangi jumlah kehamilan.
Di samping itu, program KB dapat mengurangi jumlah kehamilan yang tidak
diinginkan sehingga mengurangi praktik pengguguran yang ilegal, berikut
kematian yang ditimbulkannya.
Pemeriksaan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan
untuk memeriksa keadaan ibu dan janinnya secara berkala, yang diikuti
dengan

upaya

koreksi

terhadap

penyimpangan

yang

ditemukan.

Pemeriksaan antenatal dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih dan


terdidik dalam bidang kebidanan, yaitu bidan, dokter dan perawat yang sudah
terlatih. Tujuannya adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa
kehamilan, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat. Pemeriksaan
antenatal dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan, dengan ketentuan satu
kali pada trimester pertama (usia kehamilan sebelum 14 minggu), satu kali
selama trimester kedua (antara 14 sampai dengan 28 minggu), dan dua kali
selama trimester ketiga (antara minggu 28 s/d 36 minggu dan setelah 36
minggu).
Pemeriksaan antenatal dilakukan dengan standar 5 T yang meliputi 1)
timbang berat badan, 2) ukur tekanan darah, 3) ukur tinggi fundus uteri, 4)
pemberian imunisasi tetanus toksoid, dan 5) pemberian tablettambah darah
90 tablet selama hamil.
Hasil SKRT 2001 menunjukkan bahwa proporsi ibu hamil yang pernah
melakukan

pemeriksaan

antenatal

adalah

sekitar

81%.

Dilihat

dari

frekuensinya, mereka yang melakukan pemeriksaan antenatal > 3 kali lebih


banyak di perkotaan (71%) dibandingkan di pedesaan (39%). Masih banyak
ibu hamil yang tidak melakukan pemeriksaan antenatal sesuai pola minimal 1
1 2, yaitu di Jawa sebesar 51%, di luar Jawa sebesar 67%.
3. Determinan jauh
18

Meskipun determinan ini tidak secara langsung mempengaruhi


kematian maternal, akan tetapi faktor sosio kultural,ekonomi, keagamaan dan
faktor-faktor

lain

juga

perlu

dipertimbangkan

dan

disatukan

dalam

pelaksanaan intervensi penanganan kematian maternal.


Termasuk dalam determinan jauh adalahstatus wanita dalam keluarga
dan masyarakat, yang meliputi tingkat pendidikan, dimana wanita yang
berpendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan kesehatan diri dan
keluarganya, sedangkan wanita dengan tingkat pendidikan yang rendah,
menyebabkan kurangnya pengertian mereka akan bahaya yang dapat
menimpa ibu hamil maupun bayinya terutama dalam hal kegawatdaruratan
kehamilan dan persalinan.
2.2.5 Upaya Menurunkan Angka Kematian Maternal
Intervensi strategis dalam upaya safe motherhooddinyatakan sebagai
empat pilar safe motherhood, yaitu :

Keluarga berencana, yang memastikan bahwa setiap orang / pasangan


memiliki akses ke informasi dan pelayanan KB agar dapat merencanakan
waktu yang tepat untuk kehamilan, jarak kehamilan dan jumlah anak.
Dengan demikian diharapkan tidak ada kehamilan yang tidak diinginkan,
yaitu kehamilan yang masuk dalam kategori 4 terlalu (terlalu muda atau
terlalu tua untuk kehamilan, terlalu sering hamil dan terlalu banyak anak).

Pelayanan antenatal, untuk mencegah adanya komplikasi obstetri bila


mungkin, dan memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini mungkin
serta ditangani secara memadai.

Persalinan yang aman, memastikan bahwa semua penolong persalinan


memiliki

pengetahuan,

ketrampilan

dan

alat

untuk

memberikan

pertolongan yang aman dan bersih, serta memberikan pelayanan nifas


kepada ibu dan bayi.

19

Pelayanan obstetri esensial, memastikan bahwa pelayanan obstetri untuk


risiko

tinggi

dan

komplikasi

tersedia

bagi

ibu

hamil

yang

membutuhkannya.
2.3 PERAWATAN PRAKONSEPSI
Merawat kesehatan sebelum hamil disebut perawatan prakonsepsi.
Tujuan perawatan prakonsepsi adalah untuk memeriksa setiap potensi resiko
untuk ibu dan bayi selama kehamilan dan untuk mengatasi masalah medis
yang mungkin dimiliki sebelum hamil. Pengetahuan mengenai kesehatan diri
dan suami sangat perlu bagi pasangan yang menghendaki kehamilan.
Merubah gaya hidup untuk jangka waktu tertentu dapat memperbaiki status
kesehatan, mempermudah terjadinya proses kehamilan dan menurunkan
resiko abortus atau kelahiran bayi cacat.
Hal hal yang perlu memperoleh perhatian adalah :
o

Status Kesehatan umum - Berat badan, tekanan darah , penyakit


sistemik lain

Riwayat reproduksi: ini mencakup kehamilan sebelumnya, riwayat


menstruasi, penggunaan kontrasepsi, hasil tes Pap smear sebelumnya,
dan setiap penyakit menular seksual atau infeksi vagina di masa lalu.

Sejarah bedah: punya operasi, transfusi, dan rawat inap.

Diet Makanan sehari-hari yang segar dan menghindari sejauh


mungkin konsumsi makanan olahan. Dengan diet yang seimbang maka
tak perlu lagi dibutuhkan suplemen makanan.

Berat badan Berat badan kurang akan menyebabkan infertiliti dan


lahirnya bayi yang kecil atau memiliki abnormalitas. Berat berlebihan dapat
meningkatkan resiko kehamilan. Kehamilan hendak terjadi pada berat
badan yang ideal. Diet ketat dapat mengurangi asupan sejumlah nutrien
penting.

20

Olah raga - Olah raga secara teratur dapat memperbaiki status


kesehatan

Merokok dan alkohol Hentikan kebiasaan merokok baik diri sendiri


atau pasangan untuk memperbaiki status reproduksi. Menghentikan
kebiasaan minum alkohol akan menyelamatkan bayi dari pengaruh
yangtidak baik bagi kehamilan.

Kafein Sebelum hamil , dokter merekomendasikan membatasi


kafein tidak lebih dari 300 miligram ( mg ) per hari . Atau setara dua
cangkir kopi . Ingat , kafein bukan hanya pada kopi dan teh saja juga
terdapat dalam cokelat , beberapa minuman ringan , dan obat-obatan
tertentu .

Melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi jantung , paruparu , payudara , tiroid , dan perut . pemeriksaan panggul dan Pap smear
juga dapat dilakukan .

Test Laboratorium : Untuk mengetahui kondisi diskrining mencakup


rubella , hepatitis , HIV , sifilis , dan lain-lain sesuai indikasi .Diskusikan
bagaimana untuk memetakan siklus menstruasi untuk membantu
mendeteksi ovulasi dan menentukan waktu yang paling mungkin untuk
hamil

Memeriksa vaksinasi- Jika px tidak dilindungi terhadap rubella atau


cacar air , dokter anda dapat merekomendasikan vaksin yang tepat dan
menunda upaya untuk hamil setidaknya satu bulan .

Diskusikan konseling genetik - Konseling genetik dapat membantu


Anda memahami kesempatan Anda memiliki anak dengan cacat lahir . Ini
mungkin disarankan untuk ibu yang lebih tua dan orang dengan riwayat
keluarga masalah genetik , cacat lahir , atau retardasi mental.

Obat Hanya mengkonsumsi obat yang benar benar diperlukan dan


aman bagi kehamilan. Bila anda secara regular meminum obat yang diberi
atas petunjuk dokter, tanyakan apakah jenis obat harus diganti bila anda

21

sewaktu waktu menjadi hamil. Dalam beberapa kasus, mungkin sudah


saatnya mengganti obat obatan yang kita konsumsi dengan obat yang
lebih aman untuk membantu mencegah cacat lahir.
Lingkungan yang berbahaya Usahakan untuk menghindari

paparan polusi udara akibat lalu lintas jalan raya, bahan kimia dan polutan
lain. Sejumlah polutan berkaitan erat dengan abortus dan kelainan
kongenital.
Infeksi - Disarankan untuk mengetahui status imunologi terhadap

Rubella sebelum hamil dan mendapatkan imunisasi bila imunitas terhadap


Rubella sangat rendah. Bila pasien mengkhawatirkan menderita penyakit
menular seksual, lakukan pemeriksaan dan berikan terapi secara
memadai.
Kontrasepsi Hindari penggunaan kontrasepsi hormonal sekurang-

kurangnya selama 3 bulan sebelum menghendaki kehamilan.


o

Psikologis dan finansial.

Penyuluhan, skrining, dan pengkajuan perawatam prakonsepsi :


pengkajian
Kesehatan fisik

Risiko skrining
Penyakit-penyakit kronis

penyuluhan
Imunisasi

Infeksi

Olaheaga dan fitness

PMS

Konseling HIV

HIV
Memerlukan bantuan dokter gigi
Nilai laboratorium, misalnya
status rubella, golongan darah,
Kesehatan

hct
Masalah-masalah psikologis

mental

Kekerasan keluarga

Perencanaan

Dukungan sosial/keluarga
Infertilitas

Fertilitas/konsepsi

keluarga

Keguguran

Penanganan kehamilan

Pengurangan stress

Kontrasepsi yang
22

Gaya hidup

Nutrisi

Riwayat genetik

Penyalahgunaan zat

terhenti
Sumber-sumber di

Risiko sosial ekonomi

masyarakat

Bahaya-bahaya lingkungan
Riwayat keluarga

Diit untuk kehamilan

Obesitas

Suplemen vitamin dan

BB kurang

mineral

Anemia
Usia

Asam folat
Untuk masalah yang

Riwayat keluarga

spesifik

Terpajan teratogen
Pekerjaan

Risiko etnis, mis sel sabit


Bahaya-bahaya pekerjaan

Untuk masalah yang

spesifik
Komponen yang penting dalam perawatan prakonsepsi adalah

penyuluhan tentang perawatan prenatal tahap awal dan lanjutan.


(buku saku bidan)
2.4 PERAWATAN ANTENATAL
2.4.1 Definisi
Pelayanan

antenatal

adalah

pelayanan

kesehatan

oleh

tenaga

kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai


dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam standar
pelayanan kebidanan. Pelayanan antenatal merupakan upaya untuk menjaga
kesehatan ibu pada masa kehamilan, sekaligus upaya menurunkan angka
kesakitan dan angka kematian ibu. Pelayanan antenatal sesuai standar
meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan
laboratorium atas indikasi, serta intervensi dasar dan khusus (Depkes RI,
2009).
Antenatal merupakan perawatan atau asuhan yang diberikan kepada ibu
hamil sebelum kelahiran, yang berguna untuk memfasilitasi hasil yang sehat
dan positif bagi ibu hamil maupun bayinya dengan jalan menegakkan
23

kepercayaan dengan ibu, mendeteksi komplikasi yang dapat mengancam


jiwa, mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan kesehatan
(Depkes RI, 2009).
2.4.2 Tujuan
Tujuan Pelayanan Antenatal adalah sebagai berikut

1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan keselamatan ibu dan


tumbuh kembang janin.
2. Menngkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial
ibu .
3. Mengenali dan mengurangi secara dini adanya penyakit / komplikasi
yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara
umum, kebidanan dan pembedahan.
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinanyang aman
dengan trauma seminimal mungkin.
5. Mempersiapkan ibu agar nifas berjalan normal dan mempersiapkan ibu
agar dapat memberikan ASI eksklusif.
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran janin
agar dapat tumbuh kembang secara normal.
7. Mengurangi bayi lahir prematur, kelahiran mati dan kematian neonatal.
Secara operasionalnya Depkes RI (2009) menentukan pelayanan
antenatal dengan standar pelayanan, antara lain:
1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
2. Ukur tekanan darah
3. Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas)
4. Ukur tinggi fundus uteri
5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
6. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
7. Pemberian tablet Fe minimal 90 tablet selama kehamilan
8. Test laboratorium (rutin dan khusus)
9. Tatalaksana kasus
10. Temu wicara (konseling), termasuk perencanaan persalinan dan
pencegahan komplikasi serta KB pasca persalinan.
24

Menurut Sulistyawati (2009), standar pelayanan antenatal dikenal


dengan standar 7T, antara lain:
1. Timbang berat badan
2. Ukur tekanan darah
3. Ukur tinggi fundus uteri
4. Pemberian imunisasi TT lengkap
5. Pemberian tablet besi (Fe) minimal 90 tablet selama kehamilan dengan
dosis satu tablet setiap harinya
6. Lakukan tes penyakit menular seksual (PMS)
7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
3.4.3 Kunjungan Ibu Hamil
Salah satu bentuk pelayanan kesehatan untuk ibu hamil dalam
pengertian keseluruhan adalah apa yang disebut dengan K4. Kunjungan
antenatal empat kali (K4) adalah kontak ibu hamil dengan tenaga profesional
yang keempat (atau lebih) untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai
standar yang ditetapkan dengan syarat minimal satu kali kontak pada
trisemester pertama (K1), minimal satu kali pada trisemester kedua (K2),
minimal dua kali kontak pada trisemester ketiga (K3 dan K4).
Menurut Depkes RI (2005), kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil
dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai
standar yang ditetapkan. Istilah kunjungan disini dapat diartikan ibu hamil
yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan atau sebaliknya petugas
kesehatan yang mengunjungi ibu hamil di rumahnya atau posyandu.
Kunjungan ibu hamil dilakukan secara berkala yang dibagi dalam beberapa
tahap, seperti:
1. Kunjungan baru ibu hamil (K1) adalah kontak ibu hamil yang pertama kali
dengan petugas untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan pada
trimester I, di mana usia kehamilan 1 sampai 12 minggu dengan standar
7T. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi hasil sehat dan positif bagi ibu
maupun bayinya dengan jalan menegakkan hubungan kepercayaan
25

dengan ibu, mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam


jiwa, memperisapkan kelahiran dan member pendidikan. (JHPIEGO,
2001)
2. Kunjungan ibu hamil yang keempat (K4)
Kunjungan K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang
keempat, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar pada
trimester III, di mana usia kehamilan > 24 minggu.
Selanjutnya menurut Depkes RI (2009), kunjungan antenatal sebaiknya
dilakukan paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan dengan distribusi
kontak sebagai berikut:
1). Minimal 1 kali pada trimester pertama (K1), usia kehamilan 1 sampai 12
minggu.
2). Minimal 1 kali pada trimester kedua, usia kehamilan 13 sampai 24
minggu.
3) Minimal 2 kali pada trimester ketiga, usia kehamilan > 24 minggu.
Menurut Manuaba (1998), jadwal pemeriksaan antenatal adalah
sebagai berikut:
a. Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah diketahui terlambat haid.
b. Pemeriksaan ulang:
1) Setiap bulan sampai umur kehamilan 6 sampai 7 bulaN
2) Setiap 2 minggu sampai kehamilan berumur 8 bulan,
3) Setiap 1 minggu sejak umur kehamilan 8 bulan sampai terjadi
persalinan.
3.4.4 Pelaksana Pelayanan Antenatal
Pelaksana antenatal adalah dokter, bidan (bidan di puskesmas, bidan di
desa dan bidan praktek swasta), pembantu bidan dan perawat yang sudah
dilatih dalam pemeriksaan kehamilan. Pelayanan antenatal di desa dapat
dilakukan di polindes, posyandu atau kunjungan rumah (Depkes RI, 2005).
3.4.5 Cakupan Pelayanan Antenatal
Menurut Depkes RI (2009), cakupan pelayanan antenatal adalah
persentase ibu hamil yang telah mendapat pemeriksaan oleh tenaga
26

kesehatan di suatu wilayah kerja. Cakupan pelayanan antenatal (K1) adalah


cakupan ibu hamil yang pertama kali mendapat pelayanan antenatal oleh
tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Indikator
akses ini digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal serta
kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat. Angka cakupan K1
dapat diperoleh dari jumlah K1 dalam 1 tahun dibagi jumlah ibu hamil di suatu
wilayah kerja dalam 1 tahun kali 100%.
Dalam pengelolaan program KIA disepakati bahwa cakupan ibu hamil
adalah cakupan kunjungan ibu hamil yang keempat. Cakupan K4 adalah
cakupan ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai
dengan standar paling sedikit 4 kali selama kehamilan. Indikator ini dipakai
untuk menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah.
Angka cakupan K4 diperoleh dari jumlah K4 dalam 1 tahun dibagi jumlah
sasaran ibu hamil di suatu wilayah dalam 1 tahun kali 100 % (Depkes RI,
2009).
Menurut Depkes RI (2005) Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan
Ibu dan Anak (PWS-KIA) adalah alat manajemen program KIA untuk
memantau cakupan pelayanan KIA di suatu wilayah kerja secara terus
menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat terhadap
wilayah kerja yang cakupan pelayanan KIA masih rendah.
3.4.5 Faktor

yang

Berpengaruh

terhadap

Pemanfaatan

Pelayanan

Antenatal
a. Faktor Predisposisi
Pemanfaatan pelayanan antenatal oleh ibu hamil pada dasarnya
merupakan manifestasi dari bentuk perilaku di bidang kesehatan dalam
upaya mencegah dan menanggulangi adanya penyakit atau gangguan yang
dapat membahayakan kesehatan, baik ibu maupun bayi yang dikandung
selama kehamilan dan pada persalinan.
b. Faktor Pendidikan
27

Menurut

Widyastuti,dkk

(2010),

Pendidikan

merupakan

proses

pemberdayaan peserta didik sebagai subjek dan objek dalam membangun


kehidupan yang lebih baik. Pendidikan juga merupakan proses sadar dan
sistematis di sekolah, keluarga dan masyarakat untuk menyampaikan suatu
maksud dari suatu konsep yang sudah ditetapkan. Tujuan pendidikan
diharapkan agar individu mempunyai kemampuan dan keterampilan secara
mandiri untuk meningkatkan taraf hidup lahir batin dan meningkatkan
perannya secara pribadi.
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk
memengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga
mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Dari
batasan ini tersirat unsur-unsur pendidikan yakni : a) input adalah sasaran
pendidikan, b) proses (upaya yang direncanakan untuk memengaruhi orang
lain),

c)

output

(melakukan

apa

yang

diharapkan

atau

perilaku)

(Notoatmodjo, 2003).
Selanjutnya Widyastuti,dkk (2010) mengatakan pendidikan yang tinggi
dipandang perlu bagi kaum wanita, karena dengan tingkat pendidikan yang
tinggi mereka dapat meningkatkan taraf hidup, mampu membuat keputusan
menyangkut masalah kesehatan mereka sendiri. Semakin tinggi pendidikan
seorang wanita, maka semakin mampu mandiri dalam mengambil keputusan
menyangkut diri mereka sendiri.
c. Paritas
Mempunyai anak lebih dari 4 orang akan meningkatkan risiko terhadap
ibu dan bayinya. Lebih-lebih kalau jarak antara kehamilan kurang dari 2
tahun, maka ibu akan lemah akibat dari seringnya hamil, melahirkan dan
menyusui. Sehingga sering mengakibatkan berbagai masalah seperti ibu
yang menderita anemia, kurang gizi, dan bahkan sering terjadi perdarahan
setelah melahirkan yang membahayakan nyawa ibu. Risiko melahirkan bayi
cacat dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga meningkat setelah 4 kali
kehamilan dan setelah usia ibu 35 tahun (Soetjiningsih, 1995).
d. Jarak Kelahiran
28

Untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak sebaiknya jarak antara


kehamilan tidak kurang dari 2 tahun, karena kalau jaraknya terlalu dekat
dapat mengganggu tumbuh kembang anak baik fisik maupun mentalnya. Hal
ini disebabkan ASI terpaksa dihentikan, ibu tidak punya banyak waktu untuk
menyiapkan makanan untuk anak, juga berkurangnya perhatian dan kasih
sayang. Ibu memerlukan waktu sekitar 2 tahun untuk memulihkan
kesehatannya sebelum hamil lagi. Kalau ibu hamil terlalu cepat, maka sering
melahirkan BBLR (Soetjiningsih, 1995).
Kematian janin dan kematian neonatal terendah apabila jarak kelahiran
adalah lebih dari 2 tahun. Suatu penelitian epidemiologis di Punjab
membuktikan bahwa kematian bayi terutama kematian neonatal paling tinggi
apabila jarak kelahiran kurang dari 24 bulan (Moersintowarti, 2008).
e. Pengetahuan
f. Sikap
g. Pekerjaan Suami
Pekerjaan adalah sumber penghasilan, sebab itu setiap orang yang ingin
memperoleh penghasilan yang lebih besar dan tingkat kehidupan yang lebih
baik haruslah siap dan bersedia bekerja keras. Melalui pekerjaan kita berbuat
sesuatu yang bernilai, yang bermanfaat bagi kita, bagi anggota keluarga dan
anak isteri yang menjadi tanggung jawab suami (Anoraga, 2006).
h. Pendapatan Keluarga
Pendapatan juga mempunyai kontribusi besar dalam pemanfaatan
pelayanan kesehatan. Bagi ibu-ibu yang mempunyai biaya akan lebih leluasa
untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan, sebaliknya ibu-ibu yang kurang
mempunyai biaya akan kurang leluasa untuk memanfaatkan pelayanan
kesehatan (Ulina, 2004).
i. Kondisi Ibu
Menurut Depkes RI dalam Murniati (2007), kondisi ibu selama kehamilan
harus dipahami, agar ibu tahu bagaimana keadaan (keluhan) normal atau
tidak. Keluhan normal yang tidak membahayakan bagi kehamilan seperti
perubahan hormonal atau perubahan bentuk tubuh. Keluhan atau keadaan
29

yang

membahayakan seperti perdarahan baik sedikit atau banyak,

pembengkakan pada kaki yang tidak hilang setelah istirahat rebahan yang
disertai nyeri kepala, mual dan nyeri ulu hati keluar cairan ketuban sebelum
kehamilan cukup umur, janin tidak bergerak atau jarang dalam sehari
semalam dan berat badan tidak bertambah bahkan turun.
3.4.6 Tindakan Ibu Hamil
Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan,
kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang
diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau
mempraktikkan apa yang diketahui atau disikapinya (dinilai baik). Inilah yang
disebut praktik (practice) kesehatan (Notoatmodjo, 2003).
Praktik atau tindakan ini dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan menurut
kualitasnya, yaitu:
1. Praktik terpimpin (Guided respons)
Apabila seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung
tuntunan

atau

menggunakan

panduan.

Misalnya,

seorang

ibu

memeriksakan kehamilannya tetapi masih menunggu diingatkan oleh


bidan atau tetangganya.
2. Praktik secara mekanisme (Mechanism)
Seseorang telah melakukan sesuatu secara otomatis atau sesuatu itu
sudah merupakan kebiasaan. Misalnya, seorang ibu secara otomatis
memeriksakan kehamilannya tanpa menunggu diingatkan bidan atau
tetangganya.
3. Adopsi (Adoption)
Apabila seseorang melakukan sesuatu tidak sekadar rutinitas atau
kebiasaan tetapi sudah dilakukan secara berkualitas. Misalnya, seorang
ibu memeriksakan kehamilannya ke pelayanan kesehatan dengan
mendapatkan

pelayanan

sesuai

standar

pelayanan

antenatal

(Notoatmodjo, 2005).
3.4.7 Dampak ketidakpatuhan melakukan perawatan Antenatal
1. Ibu hamil akan kurang mendapat informasi tentang cara perawatan
kehamilan yang benar.
2. Tidak terdeteksinya tanda bahaya kehamilan secara dini.
30

3. Tidak terdeteksinya anemia kehamilan yang dapat menyebabkan


perdarahan saat persalinan
4. Tidak terdeteksinya tanda penyulit persalinan sejak awal seperti kelainan
bentuk panggul atau kelainan padatulang belakang, atau kehamilan
ganda.
5. Tidak terdeteksinya penyakit penyerta dan komplikasi selama kehamilan
seperti pre eklampsia, penyakit kronis seperti penyakit jantung, paru dan
penyakit karena genetik seperti diabetes, hipertensi, atau cacat
konginetal. Sehingga bila tidak ditangani atau bila tidak dilakukan
screening sejak awal, akan mengakibatkan komplikasi pada saat hamil
atau pada saat persalinan yang akan mengarah kepada kematian baik
ibu maupun janin.
3.5 Perawatan Intranatal
3..1 Pengertian
Intranatal care adalah perawatan saat ibu melahirkan atau dalam proses
persalinan. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan
placenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui
jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan
(kekuatan sendiri) ; (Rustam Muchtar, 1998). Persalinan adalah serangkaian
kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan, disusul
dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu. (Sulaiman
Sastrawinata, 1983).
3..2 Tujuan
Intranatal care di lakukan untuk :
1.
Mengetahui tahap persalinan sebagai acuan penilaian kemajuan
persalinan dan sebagai dasar untuk menentukan rencana perawatan
2.

selanjutnya.
Mengetahui kelainan kelainan yang mungkin dapat mengganggu
kelancaran persalinan atau segera mengetahui persalinan beresiko.

31

3.

Memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya


mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman dengan

3..3
1.

memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi. (A.B Saifuddin, 1983)
Etiologi
Teori penurunan hormon progesterone.
Progesterone menimbulkan relaksasi otot rahim, sebaliknya estrogen
meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat
keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen didalam darah,
tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun sehingga
menimbulkan his.

2.

3.

Teori oxytocin.
Pada akhir kehamilan kadar oxytosin bertambah. Oleh karena itu timbul
kontraksi otot otot rahim.
Teori placenta menjadi tua.
Plasenta yang tua akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan
progesterone yang akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah. Hal

4.

ini akan menimbulkan his


Teori prostaglandin.
Prostaglandin yang dihasilkan oleh deciduas menimbulkan kontraksi

5.

miometrium pada setiap umur kehamilan.


Pengaruh janin
Hipofise dan supra renal janin memegang peranan oleh karena pada

6.

anencephalus, kehamilan sering lama dari biasanya.


Teori distensi rahim.
Rahim yang menjadi besar dan teregang yang menyebabkan iskemia

7.

otot otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi uteroplasenta.


Teori iritasi mekanik
Dibelakang serviks terletak ganglion servikalis, bila ganglion ini digeser
dan ditekan misalnya oleh kepala janin maka akan menimbulkan his.

(Rustam Mochtar, 1998)


3..4 Bentuk-Bentuk Persalinan
Menurut caranya :
- Persalinan spontan : Bila persalinan seluruhnya berlangsung dengan
kekuatan ibu sendiri

32

Persalinan Buatan : Bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari

luar
Persalinan anjuran : Bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan

ditimbulkan dari luar dengan rangsangan


Menurut usia (tua kehamilan)
- Abortus : Pengeluaran buah kehamilan sebelum kehamilan 22 mg atau
-

bayi dengan berat badan kurang dari 500 g


Partus imaturus : Pengeluaran buah kehamilan antara 22 mg dan 28 mg

atau bayi dengan berat badan antara 500 g dan 999 g.


Partus prematurus : Pengeluaran buah kehamilan antara 28 mg dan 37

mg atau dengan berat badan 1000 g dan 2499 g.


Partus matures / aterm : Pengeluaran buah kehamilan antara 37 mg

dan 42 mg atau bayi dengan BB 2500 g atau lebih.


Partus post matures / serotinus : Pengeluaran buah kehamilan setelah

42 mg (A.B Saifuddin, 1983)


3..5 Tanda dan Gejala Persalinan
Gejala Persalinan.
a) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur
b) Keluarnya lendir bercampur darah lebih banyak. Hal ini terjadi karena
robekan robekan kecil yang terjadi pada serviks
c) Kadang kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d) Pada pemeriksaan dalam serviks mendatar, lunak dan terdapat
pembukaan
Tanda Persalinan
1. Tanda persalinan sudah dekat
a) Terjadi lightening
Menjelang minggu ke 36 pada primigravida terjadi penurunan fundus
uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul yang
disebabkan :
Kontraksi Braxton hicks
Ketegangan dinding perut
Ketegangan ligamentum rotandum
Gaya berat janin dimana kepala kearah bawah
Masuknya kepala bayi kepintu atas panggul dirasakan ibu hamil :

Terasa ringan dibagian atas, rasa sesaknya berkurang


Dibagian bawah terasa sesak
33

Terjadi kesulitan saat berjalan


Sering miksi ( beser kencing )
b) Terjadinya His permulaan
Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton hicks
dikemukakan sebagi keluhan karena dirasakan sakit dan mengganggu terjadi
karena perubahan keseimbangan estrogen, progesterone, dan memberikan
kesempatan rangsangan oksitosin.
Dengan makin tua hamil, pengeluaran estrogen dan progesterone
makin berkurang sehingga oksitosin dapat menimbulkan kontraksi yang lebih
sering sebagai his palsu.
Sifat his permulaan ( palsu ) :
- Rasa nyeri ringan di bagian bawah
- Datangnya tidak teratur
- Tidak ada perubahan pada serviks atau pembawa tanda
- Durasinya pendek
- Tidak bertambah bila beraktifitas
2. Tanda Persalinan
a. Terjadinya His persalinan , His persalinan mempunyai sifat :
- Pinggang terasa sakit yang menjalar ke bagian depan
- Sifatnya teratur,interval makin pendek, dan kekuatannya makin
besar
- Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks
- Makin beraktifitas (jalan) kekuatan makin bertambah
b. Pengeluaran Lendir dan darah (pembawa tanda), Dengan his
persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan :
- Pendataran dan pembukaan
- Pembukaan menyebabkan lender yang terdapat pada kanalis
servikalis lepas
- Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah
c. Pengeluaran Cairan
Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan
pengeluaran cairan . Sebagian ketuban baru pecah menjelang
pembukaan

lengkap.

Dengan

pecahnya

ketuban

diharapkan

persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam. (A.B Saifuddin, 1983)


3..6 Tahap-Tahap Persalinan
Persalinan dibagi dalam 4 Kala yaitu :

34

1. Kala I : Dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap


( 10 cm ) proses ini terbgi dalam dua fase yeitu :
o
Fase laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm
o
Fase aktif (7 jam) serviks membuka dari 3 sampai 10 cm, kontraksi
lebih kuat dan sering selama fase aktif
2. Kala II : dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir.
Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi
3. Kala III : dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang
berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
4. Kala IV : dimulai saat lahirnya plasenta sampai dua jam pertama
postpartum.
3..7 Langkah- Langkah Pertolongan persalinan Normal
1. Saat kepala didasar panggul dan membuka pintu dengan crowning
sebesar 5 sampai 6 cm peritoneum tipis pada primi atau multi dengan
perineum yang kaku dapat dilakukan episiotomi median, mediolateral
atau lateral
2. Episotomi dilakukan pada saat his dan, mengejan untuk mengurangi
sakit, tujuan episiotomi adalah untuk menjamin agar luka teratur sehingga
mudah mengait dan melakukan adaptasi
3. Persiapan kelahiran kepala, tangan kanan menahan perineum sehingga
tidak terjadi robekan baru sedangkan tangan kiri menahan kepala untuk
mengendalikan ekspulsi
4. Setelah kepala lahir dengan suboksiput sebagai hipomoklion muka dan
hidung dibersihkan dari lender kepala dibiarkan untuk melakukan putar
paksi dalam guna menyesuaikan os aksiput ke arah punggung
5. Kepala dipegang sedemikian rupa dengan kedua tangan menarik curam
kebawah untuk melahirkan bahu depan, ditarik keatas untuk melahirkan
bahu belakang setelah kedua bahu lahir ketiak dikait untuk melahirkan
sisa badan bayi
6. Setelah bayi lahir seluruhnya jalan nafas dibersihkan dengan menghisap
lendir sehingga bayi dapat bernafas dan menangis dengan nyaring
pertanda jalan nafas bebas dari hambatan
7. Pemotongan tali pusat dapat dilakukan :

35

Setelah bayi menagis dengan nyaring artinya paru-paru bayi telah

berkembang dengan sempurna


Setelah tali pusat tidak berdenyut lagi keduanya dilakukan pada bayi

yang aterm sehingga peningkatan jumlah darah sekitar 50 cc


Pada bayi premature pemotongan tali pusat dilakukan segera
sehingga darah yang masuk ke sirkulasi darah bayi tidak terlalu besar

untuk mengurangi terjadi ikterus hemolitik dan kern ikterus


8. Bayi diserahkan kepada petugas untuk dirawat sebagaimana mestinya
9. Sementara menunggu pelepasan plasenta dapat dilakukan
10. Kateterisasi kandung kemih
11. Menjahit luka spontan atau luka episiotomi
3..8 Diagnosis dan Penanganan Persalinan
1. Kala I
o Diagnosis
Ibu sudah dalam persalinan kala I jika pembukaan serviks kurang
dari 4 cm dan kontraksi terjadi tertur minimal 2 kali dalam 10 menit
selama 40 detik.
o Penanganan
Bantulah ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah ,ketakutan dan

kesakitan
Jika ibu tsb tampak kesakitan dukungan/asuhan yang dapat

diberikan; lakukan perubahan posisi,sarankan ia untuk berjalan , dll.


Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan
Menjelaskan kemajuan persalinan dan perugahan yang terjadi serta

prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan


Membolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannya

setelah buang air besar/.kecil.


Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak keringat atasi
dengan

cara:

gunakan

kipas

angina/AC,Kipas

biasa

dan

menganjurkan ibu mandi sebelumnya.


Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi

berikan cukup minum


Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin
o Pemeriksaan Dalam

36

Pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan setiap 4 jam selama kala I


pada persalinan dan setelah selaput ketuban pecah. Gambarkan temuantemuan yang ada pada partogram.
Pada setiap pemeriksaan dalam catatlah hal-hal sebagai berikut :
- Warna cairan amnion
- Dilatasi serviks
- Penurunan kepala (yang dapat dicocokkan dengan pemeriksaan luar
Jika serviks belum membuka pada pemeriksaan dalam pertama mungkin
diagnosis in partu belum dapat ditegakkan . Jika terdapat kontraksi yang
menetap periksa ulang wanita tsb setelah 4 jam untuk melihat perubahan
pada serviks. Pada tahap ini jika serviks terasa tipis dan terbuka maka
wanita tersebut dalam keadaan in partu jika tidak terdapat perubahan
maka diagnosanya adalah persalinan palsu.
o

Kemajuan Persalinan dalam Kala I


Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada

persalinan Kala I :
Kontraksi teratur yang progresif dengan peningkatan frekwensi dan

durasi
Kecepatan pembukaan serviks paling sedikit 1 cm perjam selama

persalinan
Serviks tampak dipenuhi oleh bagian bawah janin
Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang kurang baik pada
persalinan kala I :

Kontraksi yang tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten
Kecepatan pembukaan serviks lebih lambat dari 1 cm perjam

selama persalinan fase aktif

Serviks tidak dipenuhi oleh bagian bawah janin


Kemajuan pada kondisi janin
Jika didapati denyut jantung janin tidak normal ( kurang dari 100

atau lebih dari 180 denyut permenit ) curigai adanya gawat janin
Posisi atau presentasi selain aksiput anterior dengan verteks fleksi

sempurna digolongkan kedalam malposisi atau malpresentasi


Jika didapat kemajuan yang kurang baik atau adanya persalinan
lama tangani penyebab tersebut.
37

Kemajuan pada kondisi Ibu


Lakukan penilaian tanda-tanda kegawatan pada Ibu :
Jika denyut ibu meningkat mungkin ia sedang dalam keadaan
dehidrasi atau kesakitan. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral

atau I.V. dan berikan anlgesia secukupnya.


Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan
Jika terdapat aseton didalam urin ibu curigai masukan nutrisi yang
kurang segera berikan dektrose IV.

2. Kala II
a. Diagnosis
Persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam
untuk memastikan pembukaan sudah lengkap atau kepala janin sudah
tampak di vulva dengan diameter 5 6 cm.
b. Penanganan

Memberikan dukungan terus-menerus kepada ibu dengan :


mendampingi ibu agar merasa nyaman,menawarkan minum,
mengipasi dan meijat ibu
Menjaga kebersihan diri
Mengipasi dan masase untuk menambah kenyamanan bagi ibu
Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau

c.

ketakutan ibu
Mengatur posisi ibu
Menjaga kandung kemih tetap kosong
Memberikan cukup minum
Posisi saat meneran
Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman
Ibu dibimbing untuk mengedan selama his, anjurkan kepada ibu

d.

untuk mengambik nafas


Periksa DJJ pada saat kontraksi dan setelah setiap kontraksi untuk

memastikan janin tidak mengalami bradikardi ( < 120 )


Kemajuan persalinan dalam Kala II
Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada
persalinan kala II:
Penurunan yang teratur dari janin di jalan lahir
Dimulainya fase pengeluaran
Temuan berikut menunjukkan yang kurang baik pada saat persalinan
tahap kedua
38

Tidak turunnya janin dijalan lahir


Gagalnya pengeluaran pada fase akhir
e. Kelahiran kepala Bayi
Mintalah ibu mengedan atau memberikan sedikit dorongan saat

kepala bayi lahir


Letakkan satu tangan kekepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat
Menahan perineum dengan satu tangan lainnya jika diperlukan
Mengusap muka bayi untuk membersihkannya dari kotoran
lendir/darah

o Periksa tali pusat:

Jika tali pusat mengelilingi leher bayi dan terlihat longgar selipkan

tali pusat melalui kepala bayi


Jika lilitan pusat terlalu ketat tali pusat diklem pada dua tempat
kemudian digunting diantara kedua klem tersebut sambil melindungi

f.

leher bayi.
Kelahiran Bahu dan anggota seluruhnya

Biarkan kepala bayi berputar dengan sendirinya

Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi

Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan

Lakukan tarikan lembut ke atas untuk melahirkan bahu belakang

Selipkan satu tangan anda ke bahu dan lengan bagian belakang


bayi sambil menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya

ke punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya


Letakkan bayi tsb diatas perut ibunya
Secara menyeluruh, keringkan bayi, bersihkan matanya dan nilai

pernafasan bayi
Jika bayi menangis atau bernafas ( dada bayi terlihat naik turun

paling sedikit 30x/m ) tinggalkan bayi tsb bersama ibunya


Jika bayi tidak bernafas dalam waktu 30 detik mintalah bantuan

dan segera mulai resusitasi bayi


Klem dan potong tali pusat
Pastikan bahwa bayi tetap hangat dan memiliki kontak kulit
dengan kulit dada si ibu.

39

Bungkus dengan kain yang halus dan kering, tutup dengan


selimut dan pastikan kepala bayi terlindung dengan baik untuk
menghindari hilangnya panas tubuh.

3. Kala III
a. Manajemen Aktif Kala III
Pemberian oksitosin dengan segera
Pengendalian tarikan tali pusat
Pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir
b. Penanganan
Memberikan oksitosin untuk merangsang uetrus berkontraksi yang juga
mempercepat pelepasan plasenta :
Oksitosin dapat diberikan dalam dua menit setelah kelahiran bayi
Jika oksitosin tidak tersedia rangsang puting payudara ibu atau
susukan

bayi

guna

menghasilkan

oksitosin

alamiah

atau

memberikan ergometrin 0,2 mg. IM.


Lakukan penegangan tali pusat terkendali dengan cara :

Satu tangan diletakkan pada korpus uteri tepat diatas simpisis


pubis. Selama kontraksi tangan mendorong korpus uteri dengan

gerakan dorso kranial kearah belakang dan kearah kepala ibu.


Tangan yang satu memegang tali pusat dengan klem 5-6 cm

didepan vulva.
Jaga tahanan ringan pada tali pusat dan tunggu adanya kontraksi

kuat ( 2-3 menit )


Selama kontraksi lakukan tarikan terkendali pada tali pusat yang
terus-menerus dalam tegangan yang sama dengan tangan ke

uterus.
PTT hanya dilakukan selama uterus berkontraksi
Begitu plasenta terasa lepas, keluarkan dengan menggerakkan
tangan atau klem pada tali pusat mendekati plasenta lepas,
keluarkan dengan gerakan ke bawah dan ke atas sesuai dengan
jalan lahir. Kedua tangan dapat memegang plasenta dan perlahan
memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput
ketuban.

40

Segera setelah plasenta dan selaput ketubannya dikeluarkan

masase fundus agar menimbulkan kontraksi.


Jika menggunkan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir
dalam waktu 15 menit berikan oksitosin 10 unit Im. Dosis kedua

dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama.


Periksa wanita tsb secara seksama dan jahit semua robekan pada

serviks atau vagina atau perbaiki episotomi.


4. Kala IV
a. Diagnosis
Dua jam pertama setelah persalinan merupakan waktu yang kritis bagi
ibu dan bayi. Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar
biasa sio ibu melahirkan bayi dari perutnya dan bayi sedanmg
menyesuaikan diri dari dalam perut ibu ke dunia luar
b. Penanganan
Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30
menit selama jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat masase uterus
sampai menjadi keras. Apabila uterus berkontraksi otot uterus akan

menjepit pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan .


Periksa tekanan darah,nadi,kantung kemih, dan perdarahan setiap 15

menit pada jam I dan setiap 30 menit selama jam II


Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi. Tawarkan ibu

makanan dan minuman yang disukainya.


Bersihkan perineum ibu, kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering
Biarkan ibu beristirahat
Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan

bayi
Bayi sangat siap segera setelah kelahiran
Jika ibu perlu ke kamar mandi, ibu boleh bangun,pastikan ibu dibantu

karena masih dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan.


Ajari ibu atau keluarga tentang bagaimana memeriksa fundus dan
menimbulkan kontraksi serta tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi
(Rustam Mochtar, 1998 dan Manuaba, Ida Bagus Gede, 2001)
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
41

Pemerintah memerlukan upaya yang sinergis dan terpadu untuk


mempercepat penurunan AKI dan AKB di Indonesia khususnya dalam
mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015
yaitu AKI sebesar 102/100.000 kelahiran hidup. Hal ini dikarenakan angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu
indikator penting dalam menilai tingkat derajat kesehatan masyarakat di
suatu negara (Depkes RI, 2007). Sehingga perlu adanya beberapa upaya
yang dapat berkontribusi untuk penurunan AKI dan AKB. Pengetahuan
mengenai kesehatan pada ibu dan anak sangat mempengaruhi hal tersebut,
karena pengaplikasian dalam prilaku kesehatan diawali dengan pemahaman
akan hal yang harus dilakukan. Oleh karena itu perlu bagi masyarakat
mengetahui prevalensi mortalitas pada maternal, faktor yang mempengaruhi
mortalitas dan morbiditas pada maternal, perawatan prakonsepsi, perawatan
antenatal, dan perawatan intranatal.
3.2 Saran
Perlu adanya pembahasan lebih lanjut tentang kesehatan ibu dan anak
dengan berfokus dengan memperhatikam penyebab spesifik AKI dan AKB
yang mempunyai insiden tinggi. Dengan demikian maka upaya penurunan
AKI dan ABI dapat dengan cepat diturunkan dan tujuan MDGs 2015 dapat
tercapai.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul bari saifuddin, 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta : Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
42

De Cheney AH, Nathaan L. Current obstetric and gynecologic diagnosis


and treatment. 9th edition. Mc. Graw Hill, Inc. 2003.
Depkes RI. Penanganan kegawat-daruratan obstetri. Ditjen Binkesmas,
Depkes RI. Jakarta : 1996.
DepKes RI. 2007. Pedoman pemantauan wilayah setempat kesehatan
ibu dan anak (PWS-KIA): Jakarta.
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. Profil kesehatan Jawa Tengah.
2005.
Efendy, Ferry. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Kusumaningrum I. Karakteristik kehamilan risiko tinggi sebagai
penyebab kematian maternal di RSUP dr sardjito tahun 1993 - 1996. Fakultas
kedokteran Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. 1999.
Manuaba, Ida Bagus Gede, 2001. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan
dan Keluarga Berencana. Jakarta : EGC
Moechtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri
Patologi, Jilid I, Edisi 2, Editor : Delfi Lutan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran, EGC.
Sulaiman sastrawinata, 1983. Bagian Obstetri Dan Ginekologi, Fakultas
Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung. Obstetri Fisiologi. Bandung:
Elemen.
UNFPA, SAFE Research study and impacts. Maternal mortality update
2004, delivery into good hands. New York, UNFPA; 2004.
Wibowo B, Rachimhadhi T. Preeklamsia dan eklamsia.Ilmu Kebidanan,
edisi ketiga. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka. 1994 : 281 301.

43