Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjakan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikam kami
menyelesaikan makalah yang sangat sederhana ini yang berjudul Transpirasi dan tak lupa
kami haturkan selawat serta salam atas junjungan alam Nabi Besar Muhammad S.A.W, yang
telah membawa ummat manusia dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang
Kami mengucapkan trimakasih kepada dosen pembimbing yang telah memberi Tugas untuk
membuat makalah walaupun jauh dari kesempurnaan, kami mengharapkan keritik dan saran
yang sifatnya membangun agar dalam penyusunan makalah selanjutnya lebih baik dan trima
kasih kepada teman-teman yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Kami
berharap makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan salah satu factor penentu bagi berlangsungnya kehidupan tumbuhan.
Banyaknya air yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi tergantung pada
kecepatan proses masuknya air ke dalam tubuh tumbuhan, kecepatan proses penggunaan air
oleh tumbuhan, dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Hilangnya air dari
tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan uap atau gas. Proses keluarnya atau hilangnya air
dari tubuh tumbuhan dapat berbentuk uap atau gas ke udara di sekitar tubuh tumbuhan
dinamakan transpirasi. Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan
dengan udara luar, yaitu luka dan jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting,
bunga, buah, dan bahkan akar.
Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang mampu
merubah wujud air sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan faktor-faktor yang
mampu menyebabkan pergerakan uap atau gas. Faktor-faktor tersebut meliputi suhu, cahaya,
kelembaban udara, dan angina. Di samping itu luas permukaan jaringan epidermis atau luka
tempat proses transpirasi berlangsung juga ikut berperan.
Transpirasi berhubungan langsung dengan intensitas cahaya. Semakin besar intensitas
cahaya semakin tinggi laju transpirasi. Faktor-faktor lingkungan lainnya yang berpengaruh
terhadap transpirasi antara lain: konsentrasi CO2, temperatur, kelembaban relatif, kepadatan
udara, dan kecepatan angin. Sedangkan faktor tanaman yang mempengaruhi laju transpirasi
adalah jumlah daun dan stomata. Pada makalah ini, akan di bahas mengenai pengaruh cahaya
terhadap laju transpirasi.
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi
bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari.
Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui
proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu
tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air
yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus
terjamin.

1.2 Rumusan Masalah


Sesuai dengan judul makalah kami yaitu Transpirasi,sehingga dalam rumusan masah yang
dapat kami ambil adalah :
1.

Apa itu Transpirasi ?

2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Transpirasi !

3.

Bagaimana Mekanisme Transpirasi ?

4.

Apa manfaat Transpirasi bagi tanaman ?

5.

perbedaan Transpirasi !

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Transpirasi


Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari
jaringan tumbuhan melalui stomata. Kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman
melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangna tersebut sangat
kecil dibanding dengan yang hilang melalui stomata.
Sebagian besar dari air, sekitar 99 persen, yang masuk kedalam tumbuhan
meninggalkan daun dan batang sebagai uap air. Proses tersebut dinamakan transpirasi.
Sebagian besar dari jaringan yang terdapat dalam daun secara langsung terlibat dalam
transpirasi. Pada waktu transpirasi, air menguap dari permukaan sel palisade dan mesofil
bunga karang ke dalam ruang antar sel. Dari ruang tersebut uap air berdifusi melalui stomata
ke udara. Air yang hilang dari dinding sel basah ini diisi air dan protoplas. Persediaan air dari
protoplas, pada gilirannya, biasanya diperoleh dari gerakan air dari sel-sel sekitarnya, dan
akhirnya tulang daun, yang merupakan bagian dari sistem pembuluh yang meluas ke tempat
persediaan air dalam tanah.
Proses transpirasi pada dasarnya sama dengan proses fisika yang terlibat dalam
penguapan air dari permukaan bebas. Dinding mesofil basah yang dibatasi dengan ruang
antar sel daun merupakan permukaan penguapan. Konsentrasi uap air dalam ruang antar sel
biasanya lebih besar daripada udara luar. Manakala stomata terbuka, lebih banyak molekul air
yang akan keluar dari daun melalui stomata dibandingkan dngan jumlah yang masuk per
satuan waktu, dengan demikian tumbuhan tersebut akan kehilangan air.
Sebatang tumbuhan yang tumbuh di tanah dapat dibayangkan sebagai dua buah sistem
percabangan, satu di bawah dan satu lagi di atas permukaan tanah. Kedua sistem ini
dihubungkan oleh sebuah sumbu utama yang sebagian besar terdapat di atas tanah. Sistem
yang ada dalam tanah terdiri atas akar yang bercabang-cabang menempati hemisfer tanah
yang besar. Akar-akar terkecil terutama yang menempati bagian luar hemisfer tersebut.
Karena sumbu yang menghubungkan akar dan daun memungkinkan air mengalir dengan
tahanan wajar, maka tidak dapat dielakkan lagi bahwa air akan mengalir sepanjang gradasi
tekanan air yang membentang dari tanah ke udara dalam tubuh tumbuhan. Oleh karena itu
seluruh tumbuhan dapat dibandingkan dengan sumbu lampu, yang menyerap air dari tanah
melalui akar, mengalirkannya melalui batang dan kemudian menguapkannya ke udara dari
daun-daun. Aliran air ini dikenal dengan istilah alur transpirasi, merupakan konsekuensi
struktur tumbuhan dalam hubungannya dengan lingkungan (Loveless, 1991).

Air sangat diperlukan oleh sebagian besar tumbuhan darat untuk pertumbuhan dan
metabolismenya, sebagian besar air yang di serap oleh akar tidak di simpan dalam tumbuhan
atau digunakan dalam berbagai proses metabolisme, tetapi hilang ke udara melalui evaporasi.
Proses evaporasi dari tumbuhan diberi nama khusus, yaitu transpirasi , tetapi janganlah
diartikan bahwa transpirasi secara mendasar berbeda dengan evaporasi dari permukaan
benda-benda tidak hidup. Meskipun transpirasi terjadi pada setiap bagian tumbuhan (biarpun
hanya sedikit), pada umumnya kehilangan terbesar berlangsung melalui daun-daun
Kita kenal transpirasi melalui kutikula, stoma dan melalui lentisel. Sebenarnya
seluruh bagian tanaman itu mengadakan transpirasi, akan tetapi biasanya yang kita bicarakan
hanyalah transpirasi lewat daun, karena hilangnya molekul-molekul air dari tubuh tanaman
itu sebagian besar adalah lewat daun. Hal ini disebabkan karena luasnya permukaan daun dan
juga karena daun-daun itu lebih kena udara dari pada bagian-bagian lain dari suatu tanaman.
Mengenai penguapan yang terjadi di daun kita kenal penguapan melalui kutikula dan
penguapan melalui stoma.
Dikenal ada dua jenis transpirasi, yaitu transpirasi stomata dan transpirasi kutikula.
Sebagian dari air terlepas melalui stomata, kehilangan air melalui kutikula hanya mencapai 5
sampai 10 persen dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah beriklim sedang
Dalam bukunya, Loveless (1991) juga menyatakan ada dua tipe transpirasi yaitu :
1) Transpirasi Kutikula.
Adalah evaporasi air yang tejadi secara langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula daun
secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula
hanya sebesar 10 persen atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh
karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melaui stomata.
2) Transpirasi Stomata
Sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat
ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air. Air
menguap dari dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian
berdifusi melalui stomata dari ruang-ruang antar sel ke athmosfer di luar. Sehingga dalam
kondisi normal evaporasi membuat ruang-ruang itu selali jenuh uap air. Asalkan stomata
terbuka, difusi uap air ke athmosfer pasti terjadi kecualibila atmosfer itu sendiri sama-sama
lembap.

2.1.1 Kondisi Yang Mempengaruhi Laju Transpirasi


Dalam bukunya Loveless (1991) menuliskan, oleh karena transpirasi melibatkan
difusi uap air dari ruang-ruang antar sel ke udara melalui stomata, maka laju transpirasi akan
bergantung pada:
1. Tahanan jalur yang dilalui terhadap molekul-molekul uap air yang berdifusi, dan
2. Perbedaan konsentrasi antara uap air di dalam dan di luar daun, yaitu ketajaman gradasi
difusi.
Bila stomata terbuka dan karena itu tahanan minimal, laju transpirasi dipengaruhi oleh
sembarang faktor yang mempengaruhi ketajaman gradasi difusi antara ruang antarsel dan
athmosfer. Bila stomata terbuka, laju transpirasi bergantung kepada perbedaan antara tekanan
uap udara jenuh di dalam daun dan tekanan uap udara di luar daun. Bila faktor-faktor lain
sama, semakin rendah tekanan uap dalam udara luar semakin cepat transpirasi terjadi
2.1.2 Proses-proses transpirasi
1) Evaporasi air dari dinding sel ke ruang antar sel yang ada dalam daun. Proses ini akan
terus berlangsung sampai rongga antar sel jenuh dengan uap air. Sel-sel yang menguapkan air
ke rongga antar sel akan kekurangan air sehingga potensial airnya menurun. Pada tahap inilah
air yang diserap oleh akar akan dibawa naik melalui pembuluh xylem sampai bagian daun.
2) Difusi air dari ruang antar sel ke atmosfer melalui stomata, kutikula ataupun lentisel.
Di samping mengeluarkan air dalam bentuk uap air, tumbuhan dapat pula mengeluarkan air
dalam bentuk tetesan air yang prosesnya disebut gutasi dengan melalui alat yang disebut
hidatoda, yaitu yaitu suatu lubang yang terdapat pada ujung urat daun yang sering kita jumpai
pada spesies tumbuhan tertentu.
2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Transpirasi
Kegiatan transpirasi terpengruh oleh banyak faktor baik faktor-faktor dalam ataupun faktorfaktor luar, yang terhitung sebagai faktor-faktor dalam adalah:
1.

Besar kecilnya daun

2.

Tebal tipisnya daun

3.

Berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun

4.

Banyak sedikitnya bulu di permukaan daun

5.

Banyak sedikitnya stomata

6.

Bentuk dan lokasi stomata

Kegiatan transpirasi terpengaruh oleh banyak faktor, baik faktor faktor dalam maupun
faktor-faktor luar. Yang terhitung sebagai faktor-faktor dalam ialah besar-kecilnya daun,
tebal-tipisnya daun, berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak-sedikitnya bulu

pada permukaan daun, banyaksedikitnya stoma, bentuk dan lokasi stomata ; hal-hal ini
semua mempengaruhi kegiatan transpirasi. Disamping itu kita kenal faktor-faktor luar seperti
radiasi, temperatur, kebasahan udara, tekanan udara, angin, keadaan air dalam tanah
1.

Sinar matahari

Seperti yang telah dibicarakan didepan, maka sinar menyebabkan membukanya


stomata dan gelap menyebabkan tertutupnya stomata, jadi banyak sinar berarti juga
mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas (terutama sinar inframerah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian menaikkan
tempratur. Kenaikan tempratur sampai pada suatu batas yang tertentu menyebabkan
melebarnya stomata dan dengan demikian memperbesar transpirasi.
Kita merumuskan bahwa suhu daun dan sekitarnya adalah sama. Pada kenyataannya
daun-daun yang terkena cahaya matahari langsung mempunyai suhu beberapa derajat lebih
tinggi daripada udara disekitarnya, dan karena itu cahaya mempegaruhi transpirasi bukan
hanya melalui pengendalian pembukaan dan penutupan stomata tetapi juga melalui efek
sekunder terhadap suhu daun
2.

Temperatur

Merupakan faktor lingkungan yang terpenting yang mempengaruhi transpirasi daun


yang ada dalam keadaan turgor. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu
udara, tetapi daun yang kena sinar matahari mempunyai suhu 10o -20o F lebih tinggi
daripada suhu udara.
Pengaruh tempratur terhadap transpirasi daun dapat pula ditinjau dari sudut lain,yaitu
didalam hubungannya dengan tekanan uap air di dalam daun dan tekanan uap air di luar daun.
Kenaikan tempratur menambah tekanan uap di dalam daun. Kenaikan tempratur itu sudah
barang tentu juga menambah tekanan uap di luar daun, akan tetapi berhubung udara di luar
daun itu tidak di dalam ruang yang terbatas, maka tekanan uap tiada akan setinggi tekanan
uap yang terkurung didalam daun. Akibat dari pada perbedaan tekanan ini, maka uap air akan
mudah berdifusi dari dalam daun ke udara bebas
3.

Kebasahan udara (Kelembaban udara)

Pada hari cerah udara tidak banyak mengandung uap air. Di dalam keadaan yang
demikian itu, tekanan uap di dalam daun jauh lebih lebih tinggi dari pada tekanan uap di luar
daun, atau dengan kata lain, ruang di dalam daun itu lebih kenyang akan uap air daripada
udara di luar daun, jadi molekul-molekul air.berdifusi dari konsentrasi tinggi (di dalam daun)
ke konsentrasi yang rendah (diluar daun). Kesimpulannya ialah, udara yang basah
menghambat transpirasi, sedang udara kering melancarkan transpirasi

4.

Angin

Pada umumnya angin yang sedang, menambah kegiatan transpirasi. Karena angin
membawa pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat stoma.Dengan demikian, maka uap
yang masih ada di dalam daun kemudian mendapat kesempatan untuk difusi ke luar.
Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju
transpirasi. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa angin cenderung untuk meningkatkan
laju transpirasi, baik di dalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi,
di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian
terhadap penurunan laju transpirasi, cenderung lebih penting daripada pengaruhnya terhadap
penyingkiran
uap
air

Dalam udara yang sangat tenang suatu lapisan tipis udara jenuh terbentuk di
sekitar permukaan daun yang lebih aktif bertranspirasi. Jika udara secara keseluruhan tidak
jenuh, maka akan terdapat gradasi konsentrasi uap air dar lapisan udara jenuh tersebut ke
udara yang semakin jauh semakin tidak jenuh. Dalam kondisi seperti itu transpirasi terhenti
karena lapisan udara jenuh
bertindak sebagai penghambat difusi uap air ke udara di sekitar
permukaan daun.
Oleh karena itu, dalam udara yang tenang terdapat dua tahanan yang
harus
ditanggulangi uap air untuk berdifusi dari ruang-ruang antar sel ke udara luar.
Yang pertama adalah tahanan yang harus dilalui pada lubang-lubang stomata, dan
yang kedua adalah tahanan yang ada dalam lapisan udara jenuh yang
berdampingan
dengan permukaan daun. Oleh karena itu dalam udara yang bergerak, besarnya lubang
stomata mempunyai pengaruh lebih besar terhadap transpirasi daripada dalam udara tenang.
Namun, pengaruh angin sebenarnya
lebih kompleks daripada uraian tadi karena
kecendrungannya untuk meningkatkan
laju transpirasi sampai tahap tertentu
dikacaukan oleh kecendrungan untuk
mendinginkan daun-daun sehingga mengurangi
laju transpirasi. Tetapi efek angin
secara keseluruhan adalah selalu meningkatkan
transpirasi
5.

Keadaan air dalam tanah

Air di dalam tanah ialah satu-satunya suber yang pokok, dari mana akar-akartanaman
mendapatkan air yang dibutuhkannya. Absorpsi air lewat bagian-bagian lain yang ada di atas
tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air lewat bagian-bagian itu
tiada seberapa kalau dibanding dengan penyerapan air melalui akar.
Tersedianya air dalam tanah adalah faktor lingkungan lain yang mempengaruhi laju
transpirasi. Bila kondisi air tanah sedemikian sehingga penyediaan air ke sel-sel mesofil
terhambat,
penurunan
laju
transpirasi
akan
segera
tampak.

2.3 Mekanisme Transpirasi


Secara alamiah tumbuhan mengalami kehilangan air melalui penguapan. Proses
kehilangan air pada tumbuhan ini disebut transpirasi. Pada transpirasi, hal yang penting
adalah difusi uap air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara kering di luar daun.
Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun
dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan
bahkan dari tanah ke akar. Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor
yang mempengaruhi pergerakannya.
Daun tersusun atas sel-sel epidermis atas, jaringan mesofil yang terdiri atas jaringan
palisade dan jaringan bunga karang dengan ikatan pembuluh diantara sel epidermis bawah
dengan stomata. Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil ke rongga
antar sel yang ada dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang
merupakan rongga yang besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah yang
banyak. Penguapan air ke rongga antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel
belum jenuh dengan uap air. Sel-sel yang menguapkan airnya kerongga antar sel tentu akan
mengalami kekurangan air sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan air ini akan diisi
oleh air yang berasal dari xylem tulang daun yang selanjutnya tulang daun akan menerima air
dari batang dan batang menerima dari akar.
Uap air yang terkumpul dalam rongga antar sel akan tetap berada dalam rongga antar
sel tersebut selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Kalaupun ada uap air yang
keluar menembus epidermis dan kutikula, jumlahnya hanya sedikit dan dapat diabaikan. Agar
transpirasi dapat berjalan, maka stomata pada epidermis tadi harus membuka. Apabila
stomata membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer.
Stomata tumbuhan pada umumnya membuka pada saat matahari terbit dan menutup
saat hari gelap sehingga memungkinkan masuknya CO2 yang diperlukan untuk fotosintesis
pada siang hari. Umumnya, proses pembukaan memerlukan waktu 1 jam dan penutupan
berlangsung secara bertahap sepanjang sore. Stomata menutup lebih cepat jika tumbuhan
ditempatkan dalam gelap secara tiba-tiba (Salisbury dan Ross, 1995). Loveless (1991) dalam
literaturnya menyebutkan terbukanya stomata pada siang hari tidak terhambat jika tumbuhan
itu berada dalam udara tanpa karbon dioksida, yaitu keadaan fotosintesis tidak dapat
terlaksana.
Kalau tekanan uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel, uap air dari rongga antar
sel akan keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi.

Skema mekanisme membukanya stomata.

Cahaya fotosintesis dalam sel-sel mesophyl berkurangnya CO2 dalam ruang antar sel
menaikan pH dalam sel penutup perubahan enzimatik menjadi gula menaikkan kadar gula
menaikkan tekanan osmotic dari getah sel menaikkan turgor stomata membuka (Pandey dan
Sinha, 1983).

Air diserap ke dalam akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian besar bergerak
menurut gradien potensial air melalui xilem. Air dalam pembuluh xilem mengalami tekanan
besar karena molekul air polar menyatu dalam kolom berlanjut akibat dari penguapan yang
berlangsung di bagian atas. Sebagian besar ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar
ke xilem, dan kemudian ke atas melalui arus transportasi
Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara,
kelembaban, dan tersedianya air tanah. Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku stoma yang
membuka dan menutupnya dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel penjaga yang
berkorelasi dengan kadar ion kalium (K+) di dalamnya. Selama stoma terbuka, terjadi
pertukaran gas antara daun dengan atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer. Untuk
mengukur laju transpirasi tersebut dapat digunakan potometer. Sebagian besar transpirasi
berlangsung melalui stomata sedang melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit.
Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka stomatanya untuk mengambil karbon
dioksida dari udara untuk berfotosintesis.
Penyerapan air dari dalam tanah ke bagian atas tumbuhan memiliki arti bahwa tanaman
tersebut harus melawan gaya gravitasi bumi yang selalu mengakibatkan benda jatuh ke
bawah. Akan tetapi, tanaman berhasil melakukan hal itu. Kuncinya ialah tanaman-tanaman
ini menggunakan tekanan akar, tenaga kapilari, dan juga tarikan transpirasi. Namun pada
tanaman-tanaman yang sangat tinggi, yang berperan paling penting adalah tarikan transpirasi.
Dalam proses ini, ketika air menguap dari sel mesofil, maka cairan dalam sel mesofil akan
menjadi semakin jenuh. Sel-sel ini akan menarik air melalu osmosis dari sel-sel yang berada
lebih dalam di daun. Sel-sel ini pada akhirnya akan menarik air yang diperlukan dari jaringan
xylem yang merupakan kolom berkelanjutan dari akar ke daun. Oleh karena itu, air kemudian
dapat terus dibawa dari akar ke daun melawan arah gaya gravitasi, sehingga proses ini terus
menerus berlanjut.
Proses penguapan air dari sel mesofil daun biasa kita sebut dengan proses transpirasi. Oleh
itu, pengambilan air dengan cara ini biasa kita sebut dengan proses tarikan transpirasi dan
selama akar terus menerus menyerap air dari dalam tanah dan transpirasi terus terjadi, air
akan terus dapat diangkut ke bagian atas sebuah tanaman Proses transpirasi ini selain
mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan
tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari.
Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui
proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu
tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air
yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus
terjamin.

2.4 Dampak positif dan negatif Transpirasi


2.4.1 Dampak Positif
Bagi tumbuhan, transpirasi yang berlangsung memberikan beberapa manfaat, antara lain :
1) Menyebabkan terjadinya daya isap daun sehingga terjadi transport air di batang.
2) Membantu penyerapan air dan zat hara oleh akar.
3) Mengurangi air yang terserap secara berlebihan.
4) Mempertahankan temperature yang sesuai untuk daun.
5) Mengatur fotosintesis dengan menbuka dan meututupnya stomata.
2.4.2 Dampak Negatif
1) Transpirasi dapat membahayakan tanaman jika lengas tanah terbatas, penyerapan air tidak
mampu mengimbangi laju transpirasi, w sel turun, p menurun, tanaman layu, layu
permanent, mati, hasil tanaman menurun
2) Sering terjadi di daerah kering, perlu irigasi, meningkatkan lengas tanah, pada kisaran layu
tetap kapasitas lapangan
2.5 Perbedaan Transpirasi

2.5.1 Perbedaan Transpirasi dan Gutasi dapat dijelaskan sebagai berikut:


TRANSPIRASI
1. proses fisiologis atau fisika yang termodifikasi
2. diatur bukaan stomata
3. diatur beberapa macam tekanan
4. terjadi di jaringan hidup
5. permukaan sel basah
EVAPORASI
1. proses fisika murni
2. tidak diatur bukaan stomata
3. tidak diatur oleh tekanan
4. tidak terbatas pada jaringan hidup
5. permukaan yang menjalankannya menjadi kering

2.5.2 Perbedaan Transpirasi dan Gutasi dapat dijelaskan sebagai berikut :


TRANSPIRASI
1. terjadi pada siang hari
2. air yang hilang berbentuk uap air
3. yang dilepaskan uap air murni
4. terjadi melewati stomata, lubang kutikula, dan lenti sel
5. terkendali oleh bukaan stomata
6. menurunkan suhu permukaan tanaman
GUTASI
1. pada malam hari
2. air yang keluar berbentuk cair
3. cairan mengandung solute, seperti gula dan garam
4. melewati hidatoda
5. tidak terkebdali
6. tidak menurunkan suhu permukaan

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan
tumbuhan melalui stomata. Proses proses transpirasi terjadi melalui 2 tahapan, yaitu:
1) Evaporasi air dari dinding sel ke ruang antar sel yang ada dalam daun. Proses ini akan
terus berlangsung sampai rongga antar sel jenuh dengan uap air. Sel-sel yang menguapkan air
ke rongga antar sel akan kekurangan air sehingga potensial airnya menurun. Pada tahap inilah
air yang diserap oleh akar akan dibawa naik melalui pembuluh xylem sampai bagian daun.
2) Difusi air dari ruang antar sel ke atmosfer melalui stomata, kutikula ataupun lentisel.
Kegiatan transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam
antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan
daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan
letak
stomata
(Salisbury&Ross.1992)
dan
faktor
luar
antara
lain:
Kelembaban,Suhu,Cahaya,Angin,Kandungan air tanah.
Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil ke rongga antar sel yang ada
dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang
besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah yang banyak. Penguapan air ke
rongga antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air.
Sel-sel yang menguapkan airnya kerongga antar sel tentu akan mengalami kekurangan air
sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan air ini akan diisi oleh air yang berasal dari
xylem tulang daun yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang
menerima dari akar.
Uap air yang terkumpul dalam rongga antar sel akan tetap berada dalam rongga antar sel
tersebut selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Kalaupun ada uap air yang
keluar menembus epidermis dan kutikula, jumlahnya hanya sedikit dan dapat diabaikan. Agar
transpirasi dapat berjalan, maka stomata pada epidermis tadi harus membuka. Apabila
stomata membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer.
Bagi tumbuhan, transpirasi yang berlangsung memberikan beberapa manfaat, antara lain :
1) Menyebabkan terjadinya daya isap daun sehingga terjadi transport air di batang.
2) Membantu penyerapan air dan zat hara oleh akar.
3) Mengurangi air yang terserap secara berlebihan.
4) Mempertahankan temperature yang sesuai untuk daun.
5) Mengatur fotosintesis dengan menbuka dan meututupnya stomata.

Daftar Pustaka

Dwijoseputro, D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Penerbit PT Gramedia : Jakarta


Lakitan, B. 1993. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta
http://www.fisiologi-pohon.com/perbedaan-transpirasi-dengan-evaporasi-dan-gutasi/

NAMA KELOMPOK:
1.
2.
3.
4.

Fhoni Oktafiani Alma


Dwa kita Hijra Pasarela
Siti Fatimah Nasution
Widayat

FAKULTAS PETANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2014