Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.PENDAHULUAN
Trauma leher adalah suatu benturan yang mengenai bagian leher ( tenggorokan )
sebagai akibat terkena benda tumpul ataupun benda tajam. Trauma leher bisanya
terjadi. Belakang (vertebrae) adalah tulang yang memanjang dari leher sampai ke
selangkangan. Tulang vertebrae terdri dari 33 tulang: 7 buah tulang servikal, 12
buah tulang torakal, 5 buah tulang lumbal, 5 buah tulang sacral. Diskus
intervertebrale merupakan penghubung antara dua korpus vertebrae. Sistem otot
ligamentum membentuk jajaran barisan (aligment) tulang belakang dan
memungkinkan mobilitas vertebrae. Di dalam susunan tulang tersebut terangkai
pula rangkaian syaraf-syaraf, yang bila terjadi cedera di tulang belakang maka
akan mempengaruhi syaraf-syaraf tersebut (Mansjoer, Arif, et al. 2000).
Cidera tulang belakang adalah cidera mengenai cervicalis, vertebralis dan
lumbalis akibat trauma ; jatuh dari ketinggian, kecelakakan lalu lintas,
kecelakakan olah raga dsb yang dapat menyebabkan fraktur atau pergeseran satu
atau lebih tulang vertebra sehingga mengakibatkan defisit neurologi (
Sjamsuhidayat, 1997).
1.2.TUJUAN
Untuk mengetahui definisi dan proses keperawatan yang di berikan pada pasien
dengan trauma leher dan trauma tulang belakan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TRAUMA LEHER DAN TRAUMA TULANG BELAKANG
2.1.PENGERTIAN
Trauma leher adalah suatu benturan yang mengenai bagian leher (
tenggorokan ) sebagai akibat terkena benda tumpul ataupun benda tajam. Trauma
leher bisanya terjadi.
Tulang Belakang (vertebrae) adalah tulang yang memanjang dari leher
sampai ke selangkangan. Tulang vertebrae terdri dari 33 tulang: 7 buah tulang
servikal, 12 buah tulang torakal, 5 buah tulang lumbal, 5 buah tulang sacral.
Diskus intervertebrale merupakan penghubung antara dua korpus vertebrae.
Sistem otot ligamentum membentuk jajaran barisan (aligment) tulang belakang
dan memungkinkan mobilitas vertebrae. Di dalam susunan tulang tersebut
terangkai pula rangkaian syaraf-syaraf, yang bila terjadi cedera di tulang belakang
maka akan mempengaruhi syaraf-syaraf tersebut (Mansjoer, Arif, et al. 2000).
Cidera tulang belakang adalah cidera mengenai cervicalis, vertebralis dan
lumbalis akibat trauma ; jatuh dari ketinggian, kecelakakan lalu lintas,
kecelakakan olah raga dsb yang dapat menyebabkan fraktur atau pergeseran satu
atau lebih tulang vertebra sehingga mengakibatkan defisit neurologi (
Sjamsuhidayat, 1997).
2.2.ETIOLOGI
1. Etiologi Trauma Leher
Trauma leher terjadi sebagai akibat adanya kecelakaan lalu lintas dimana
bagian dari kendaraan mengenai leher dan juga karena adanya tusukan benda
tajam yang secara langsung mengenai leher ataupun bisa di sebabkan oleh
benda tumpul.
2. Etiologi Trauma Tulang Belakang
Etilogi trauma tulang belakang biasanya di sebabkan oleh :

a. Kecelakaan lalu lintas,


a. Tekanan pada tulang belakang akibat jatuh dari ketinggian,
b.

Kecelakaan sebab olah raga (penunggang kuda, pemain sepak bola,


penyelam),

c. Luka jejas, tajam,tembak pada daerah vertebrata


d. Gangguan spinal bawaan atau cacat sejak kecil atau kondisi patologis yang
menimbulkan penyakit tulang atau melemahnya tulang
2.3.PENDIDIKAN KESEHATAN YANG DI BERIKAN KEPADA PASIEN
DENGAN TRAUMA LEHER DAN TRAUMA TULANG BELAKAN
1. Pendidikan Kesehatan Pada Pasien Dengan Trauma Leher
a. Memberikan pendidikan kesehatan terkait dengan segala pengobatan yang
akan di berikan kepada pasien dengan trauma leher
b. Memberikan Pendidikan kesehatan kepada keluarga klien agar keluarga
klien tidak cemas dengan keadaan klien saat ini
c. Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga terkait
dengan Mengatur posisi kepala dan leher untuk mendukung airway.jangan
memutar atau menarik leher ke belakang
2. Pendidikan Kesehatan Pada Pasien Dengan Trauma Tulang Belakang
a. Meletakan papan di bawah tulang belakang
b. Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga adar tidak
melakukan gerakan sebebas mungkin tanpa bantuan tenaga medis agar
tidak terjadi cidera saraf
c. Memberikan pengetahuan keluarga dan klien tentang pengaturan posisi
klien untuk menghindari terjadinya dekubitus.

2.4.ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TRAUMA LEHER


DAN TRAUMA TULANG BELAKANG

1. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Trauma Leher


a. PENGKAJIAN
1) Data subjektif

Klien mengatakan nyeri pada daerah luka


Klien mengatakan sulit bernafas
Klien mengatakan sulit bicara
Klien mengeluh nyeri bila menelan
Keluarga mengatakan klien terkena benda tajam
Keluarga mengatakan klien dianiaya
2) Data objektif

Klien tampak sukar bernafas dan sesak nafas.


Klien tampak batuk dan keluar darah.
Klien tampak pucat dan gelisah.
Klien tampak cyanosis.
Tampak keluar darah berbuih pada leher karena perdarahan.
Klien sulit berbicara.
Tanda tanda vital : TD : 130/90 mmHg, Pernafasan : 32 x / mnt
Nadi : 104 x / mnt, Suhu : 36,9 C
a. Aktifitas /Istirahat Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok
pada bawah lesi. Kelemahan umum /kelemahan otot (trauma dan
adanya kompresi saraf).
b. Sirkulasi Hipotensi, Hipotensi posturak, bradikardi, ekstremitas dingin
dan pucat.
c. intregitas ego berhubungan dengan tingkat ego dari kecemasan pasien

d. Takut, cemas, gelisah, menarik diri. tingkat stres seseorang


mempengarui kesehatan seseorang
e. Makanan /cairan Mengalami distensi abdomen, peristaltik usus hilang
(ileus paralitik)
f. Higiene Sangat ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari
(bervariasi)
g. Pernapasan Pernapasan dangkal /labored, periode apnea, penurunan
bunyi napas, ronki, pucat, sianosis.
h. Keamanan Suhu yang berfluktasi *(suhu tubuh ini diambil dalam suhu
kamar).

PEMERIKSAAN FISIK
B1-B6 Keadaan umum : (Arif muttaqin 2008) Pada keadaan trauma
leher umumnya mengalami penurunan kesadaran. Adanya perubahan
pada tanda-tanda vital, meliputi bradikardi dan hipotensi.
B1 (BREATHING)
Perubahan pada sistem pernapasan bergantung pada gradasi blok
saraf parasimpatis klien mengalami kelumpuhan otot otot pernapasan dan
perubahan karena adanya kerusakan jalur simpatetik desending akibat
trauma pada leher , pemeriksaan fisik dari sistem ini akan didapatkan
hasil sebagai berikut inspeksi umum didapatkan klien batuk peningkatan
produksi sputum, sesak napas.dst
B2 (BLOOD)
Pengkajian pada sistem kardiovaskuler didapatkan rejatan syok
hipovolemik yang sering terjadi pada klien trauma leher. Dari hasil
pemeriksaan didapatkan tekanan darah menurun nadi bradikardi dan
jantung berdebar-debar di karenakan di daerah leher terdapat pembuluh
darah besar salah satunya vena jugularis.
B3 (BRAIN)

Pengkajian ini meliputi tingkat kesadaran, pengkajian fungsi


serebral dan pengkajian saraf kranial. Pengkajian tingkat kesadaran :
tingkat keterjagaan klien dan respon terhadap lingkungan adalah indikator
paling sensitif untuk disfungsi sistem persyarafan. Pengkajian fungsi
serebral : status mental observasi penampilan, tingkah laku nilai gaya
bicara dan aktivitas motorik klien.
B4 (BLADDER)
Kaji keadaan urine meliputi warna ,jumlah,dan karakteristik urine,
termasuk berat jenis urine.
B5 (BOWEL)
Pada keadaan syok spinal, neuropraksia sering didapatkan adanya
ileus paralitik, dimana klinis didapatkan hilangnya bising usus,
kembung,dan defekasi, tidak ada. Hal ini merupakan gejala awal dari
tahap syok spinal yang akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa
minggu.
B6 (BONE)
Paralisis motorik dan paralisis organ internal bergantung pada
ketinggian lesi saraf yang terkena trauma. Gejala gangguan motorik
sesuai dengan distribusi segmental dari saraf yang terkena.disfungsi
motorik paling umum adalah kelemahan dan kelumpuhan.pada saluran
ekstermitas bawah. Kaji warna kulit, suhu, kelembapan, dan turgor kulit
dst.

b. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi aspirasi kedalam paru paru b/d adanya perdarahan pada
leher.
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d gangguan kemampuan untuk
bernafas, batuk dan menelan akibat trauma leher.
3. Nyeri akut b/d adanya perlukaan pada leher.
4. Komunikasi verbal b/d hambatan mengeluarkan suara.

c.

RENCANA INTERVENSI KEPERAWATAN


1. Resiko tinggi aspirasi kedalam paru paru b/d adanya perdarahan pada
leher.
Tujuan : tidak terjadi aspirasi kedalam paru paru.
Kriteria evaluasi :
Perdarahan berhenti
Tidak ada lagi cyanosis
Klien tidak pucat
Intervensi keperawatan
1. Kaji tingkat perdarahan dan jumlahnya

Rasional : Perdarahan yang banyak dapat memberikan efek yang


berbahaya sehingga harus selalu dipantau untuk memberikan
tindakan dengan cepat dan tepat
2. Observasi tanda tanda vital

Rasional :

Tanda tanda vital merupakan indicator untuk

menegtahui bila terjadi penurunan kesadaran secara progresif


3. Tinggikan bagian kepala tempat tidur 30 45 derajat

Rasional : Untuk mencegah terjadinya aspirasi dan pengumpulan


secret/ darah pada leher
4. Kolaborasikan dengan dokter untuk tindakan trakeatomi

Rasional :

Tindakan trakeatomi dapat membersihkan/ mencuci

luka, dieksplorasi dan luka dijahit kembali sehingga perdarahan


berhenti
5. HE kepada klien tentang pentingnya membatasi gerakan dari kepala

dan leher
Rasional :

Untuk meningkatkan pemahaman klien tentang apa

yang dialami dan mau bekerjasama dalam memecahkan masalahnya

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d gangguan kemampuan untuk


bernafas, batuk dan menelan akibat trauma leher.
Tujuan : Mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan bunyi nafas
bersih/ jelas
Kriteria evaluasi :
Klien tidak sukar bernafas
Klien tidak cyanosis
Klien tidak pucat dan gelisah
Intervensi keperawatan
1. Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan
Rasional : Perubahan pada pernafasan dapat terjadi akibat obstruksi
sehingga pola nafas tidak efektif
2. Tinggikan kepaa 30 45 derajat
Rasional : Posisi ini memudahkan kerja pernafasan dan ekspansi
dada
3. Dorong batuk efektif dan nafas dalam
Rasional :

Memobilisasi untuk membersihkan jalan nafas dan

membantu mencegah komplikasi pernafasan


4. Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian oksigen dan
pemasangan intubasi trakeal
Rasional : Pemberian oksigen dan pemasangan intubasi trakeal
akan membantu kebutuhan oksigen klien
5. HE pada klien tentang pentingnya batuk efektif
Rasional : Untuk mengajarkan pada klien bahwa dengan batuk
efektif akan memudahkan dalam bernafas
3. Nyeri akut b/d adanya perlukaan pada leher
Tujuan : menunjukkan nyeri hilang/ ketidaknyamanan dengan
menurunnya tegangan dan rileks, tidur dan istirahat dengan tepat
Kriteria evaluasi :

Klien tidak merasa nyeri


Klien tidak gelisah
Intervensi keperawatan
1. Kaji tingkat nyeri, skala dan intensitasnya
Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana nyeri dirasakan klien
sehingga dapat memberikan intervensi yang tepat
2. Sokong kepala dan leher dengan bantal, tunjukkan klien bagaimana
menyokong leher selama aktivitas
Rasional : Kurangnya sokongan, meningkatkan ketidaknyamanan
dan dapat memperparah luka yang ada
3. Berikan tindakan nyaman ( pijatan punggung, perubahan posisi )
dan aktivitas hiburan (melihat televisi, membaca, duduk )
Rasional:Meningkatkan

rileksasi

dan

membantu

klien

memfokuskan perhatian pada sesuatu disamping diri sendiri/


ketidaknyamanan dapat menurunkan dosis/ frekuensi analgetik
4. Anjurkan penggunaan perilaku menajemen stress ( tehknik
relaksasi, bimbingan imajinasi )
Rasional : Meningkatkan rasa sehat, dapat menurunkan kebutuhan
analgetik dan meningkatkan penyembuhan
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat analgetik
Rasional : Analgetik dapat menghilangkan rasa nyeri
6. HE tentang pentingnya penggunaan perilaku menajemen stress
( Tehknik relaksasi dan bimbingan imajinasi )
Rasional :

Untuk meningkatkan pengetahuan klien betapa

pentingnya penggunaan perilaku menajemen stress bila ada nyeri


4. Komunikasi verbal b/d hambatan mengeluarkan suara
Tujuan : Mengidentifikasi/ merencanakan pilihan metode berbicara
yang tepat setelah sembuh dan mampu menyatakan kebutuhan dalam
cara efektif
Kriteria evaluasi :

Klien dapat berbicara dengan lancar dan jelas

Klien mampu mengungkapkan kebutuhannya

Intervensi
1. Kaji tingkat gangguan komunikasi bicara yang dialami klien
Rasional : Untuk mengidentifikasi sejauh mana gangguan yang
dialami klien sehingga dapat memilih tehknik komunikasi yang
tepat
2. Berikan pilihan cara komunikasi yang tepat bagi kebutuhan klien
Rasional :

Memungkinkan klien untuk menyatakan kebutuhan/

masalahnya
3. Berikan waktu yang cukup untuk komunikasi
Rasional : Kehilangan bicara dan stress menganggu komunikasi
dan menyebabkan frustasi dan hambatan ekspresi
4. Dorong komunikasi, terus menerus dengan dunia luar ( contoh :
koran, televisi, radio, kalender dan jam
Rasional : untuk merangsang klien didalam melakukan komunikasi
dan meningkatkan kepercayaan diri klien
5. Kolaborasi dengan tim kesehatan yang tepat, terapis, agen
rehabilitasi
Rasional : Untuk memberi kemampuan menggunakan pilihan suara
dan metode bicara
6. HE pada keluarga untuk selalu berkomunikasi dengan klien setiap
saat
Rasional : Untuk memberikan pemahaman pada keluarga klien
bahwa Klien sangat memerlukan bantuan dari orang terdekatnya.
2. Asuhan keperawatan trauma tulang belakang
1. Pengkajian
a. Aktifitas /Istirahat Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok
pada bawah lesi. Kelemahan umum /kelemahan otot (trauma dan adanya
kompresi saraf).

10

b. Sirkulasi Hipotensi, Hipotensi posturak, bradikardi, ekstremitas dingin


dan pucat.
c. Eliminasi Retensi urine, distensi abdomen, peristaltik usus hilang,
melena, emisis berwarna seperti kopi tanah /hematemes.
d. intregitas ego berhubungan dengan tingkat ego dari kecemasan pasien.
e. Takut,

cemas,

gelisah,

menarik

diri.

tingkat

stres

seseorang

mempengarui kesehatan seseorang .


f. Makanan /cairan Mengalami distensi abdomen, peristaltik usus hilang
(ileus paralitik).
g. Higiene Sangat ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari
(bervariasi).
h. Neurosensori Kelumpuhan, kelemahan (kejang dapat berkembang saat
terjadi perubahan pada syok spinal). Kehilangan sensasi (derajat
bervariasi dapat kembaki normak setelah syok spinal sembuh).
Kehilangan tonus otot /vasomotor, kehilangan refleks /refleks asimetris
termasuk tendon dalam. Perubahan reaksi pupil, ptosis, hilangnya
keringat bagian tubuh yang terkena karena pengaruh trauma spinal..
i. Nyeri /kenyamanan Mengalami deformitas, postur, nyeri tekan
vertebral.
j. Pernapasan Pernapasan dangkal /labored, periode apnea, penurunan
bunyi napas, ronki, pucat, sianosis.
k. Keamanan Suhu yang berfluktasi *(suhu tubuh ini diambil dalam suhu
kamar).
l. Seksualitas Ereksi tidak terkendali (priapisme), menstruasi tidak teratur.
(Marikyn E. Doengoes, 2008; 338-339)
PEMERIKSAAN FISIK
B1-B6 Keadaan umum : (Arif muttaqin 2008) Pada keadaan cidera tulang
belakang umumnya tidak mengalami penurunan kesadaran. Adanya perubahan
pada tanda-tanda vital, meliputi bradikardi dan hipotensi.

11

B1 (BREATHING)
Perubahan pada sistem pernapasan bergantung pada gradasi blok saraf
parasimpatis klien mengalami kelumpuhan otot otot pernapasan dan perubahan
karena adanya kerusakan jalur simpatetik desending akibat trauma pada tulang
belakang sehingga mengalami terputus jaringan saraf di medula spinalis,
pemeriksaan fisik dari sistem ini akan didapatkan hasil sebagai berikut inspeksi
umum didapatkan klien batuk peningkatan produksi sputum, sesak napas.dst
B2 (BLOOD)
Pengkajian pada sistem kardiovaskuler didapatkan rejatan syok
hipovolemik yang sering terjadi pada klien cedera tulang belakang. Dari hasil
pemeriksaan didapatkan tekanan darah menurun nadi bradikardi dan jantung
berdebar-debar. Pada keadaan lainnya dapat meningkatkan hormon antidiuretik
yang berdampak pada kompensasi tubuh.
B3 (BRAIN)
Pengkajian ini meliputi tingkat kesadaran, pengkajian fungsi serebral dan
pengkajian saraf kranial. Pengkajian tingkat kesadaran : tingkat keterjagaan
klien dan respon terhadap lingkungan adalah indikator paling sensitif untuk
disfungsi sistem persyarafan. Pengkajian fungsi serebral : status mental
observasi penampilan, tingkah laku nilai gaya bicara dan aktivitas motorik
klien Pengkajian sistem motorik : inspeksi umum didapatkan kelumpuhan pada
ekstermitas bawah, baik bersifat paralis, paraplegia, maupun quadriplegia
Pengkajian sistem sensori : ganguan sensibilitas pada klien cedera medula
spinalis sesuai dengan segmen yang mengalami gangguan.
B4 (BLADDER)
Kaji keadaan urine meliputi warna ,jumlah,dan karakteristik urine,
termasuk berat jenis urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi
cairan dapat terjadi akibat menurunnya perfusi pada ginjal. Bila terjadi lesi
pada kauida ekuina kandung kemih dikontrol oleh pusat (S2-S4) atau dibawah
pusat spinal kandung kemih akan menyebabkan interupsi hubungan antara
kandung kemih dan pusat spinal.

12

B5 (BOWEL)
Pada keadaan syok spinal, neuropraksia sering didapatkan adanya ileus
paralitik, dimana klinis didapatkan hilangnya bising usus, kembung,dan
defekasi, tidak ada. Hal ini merupakan gejala awal dari tahap syok spinal yang
akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu.
B6 (BONE)
Paralisis motorik dan paralisis organ internal bergantung pada ketinggian
lesi saraf yang terkena trauma. Gejala gangguan motorik sesuai dengan
distribusi segmental dari saraf yang terkena.disfungsi motorik paling umum
adalah kelemahan dan kelumpuhan.pada saluran ekstermitas bawah. Kaji
warna kulit, suhu, kelembapan, dan turgor kulit dst.
2. DIAGNOSA
1) Ketidak efektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan kelemahan
/paralisis otot-otot abdomen dan intertiostal dan ketidakmampuan untuk
membersihkan sekresi.
2) Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi
motorik dan sesorik.
3) Resiko terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan
penurunan immobilitas, penurunan sensorik.
4) Nyeri yang berhubungan dengan pengobatan immobilitas lama, cedera
psikis dan alat traksi (Diane C. Boughman, 2008 : 90)
3. INTERVENSI
1) Ketidak efektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan kelemahan
/paralisis otot-otot abdomen dan intertiostal dan ketidakmampuan untuk
membersihkan sekresi.
Tujuan : Meningkatkan pernapasan yang adekuat
Kriteria hasil :
Batuk efektif, pasien mampu mengeluarkan seket, bunyi napas normal,
jalan napas bersih, respirasi normal

13

INTERVENSI
a) Kaji kemampuan batuk dan reproduksi secret
R/ Hilangnya kemampuan motorik otot intercosta dan abdomen
berpengaruh terhadap kemampuan batuk.
b) Pertahankan jalan nafas (hindari fleksi leher, brsihkan sekret)
R/ Menutup jalan nafas.
c) Monitor warna, jumlah dan konsistensi sekret, lakukan kultur
R/ Hilangnya refleks batuk beresiko menimbulkan pnemonia.
d) Lakukan suction bila perlu
R/ Pengambilan secret dan menghindari aspirasi.
e) Auskultasi bunyi napas
R/ Mendeteksi adanya sekret dalam paru-paru.
f)

Lakukan latihan nafas


R/ mengembangkan alveolu dan menurunkan prosuksi sekret.

g) Berikan minum hangat jika tidak kontraindikasi


R/ Mengencerkan secret
h) Berikan oksigen dan monitor analisa gas darah
R/ Meninghkatkan suplai oksigen dan mengetahui kadar oksigen
dalam darah.
2) Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi
motorik dan sesorik.
Tujuan : Memperbaiki mobilitas.
Kriteria Hasil :
Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya kontraktur,
footdrop, meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit /kompensasi,
mendemonstrasikan teknik /perilaku yang memungkinkan melakukan
kembali aktifitas.
INTERVENSI
a) Kaji fungsi-fungsi sensori dan motorik pasien setiap 4 jam.
R/ Menetapkan kemampuan dan keterbatasan pasien setiap 4 jam.

14

b) Ganti posisi pasien setiap 2 jam dengan memperhatikan kestabilan


tubuh dan kenyamanan pasien.
R/ Mencegah terjadinya dekubitus.
c) Beri papan penahan pada kaki
R/ Mencegah terjadinya foodrop
d) Gunakan otot orthopedhi, edar, handsplits
R/ Mencegah terjadinya kontraktur.
e) Monitor adanya nyeri dan kelelahan pada pasien.
R/ Menunjukan adanya aktifitas yang berlebihan.
f)

Konsultasikan kepada fisiotrepi untuk latihan dan penggunaan otot


seperti splints
R/ Memberikan pancingan yang sesuai.

3) Resiko terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan


penurunan immobilitas, penurunan sensorik.
Tujuan : Mempertahankan Intergritas kulit
Kriteria Hasil :
Keadaan kulit pasien utuh, bebas dari kemerahan, bebas dari infeksi pada
lokasi yang tertekan. Rencana Tindakan
a) Kaji faktor resiko terjadinya gangguan integritas kulit
R/ Salah satunya yaitu immobilisasi, hilangnya sensasi, Inkontinensia
bladder /bowel.
b) Kaji keadaan pasien setiap 8 jam
R/ Mencegah lebih dini terjadinya dekubitus.
c) Gunakan tempat tidur khusus (dengan busa)
R/ Mengurangi tekanan 1 tekanan sehingga mengurangi resiko
dekubitas
d) Ganti posisi setiap 2 jam dengan sikap anatomis
R/ Daerah yang tertekan akan menimbulkan hipoksia, perubahan posisi
meningkatkan sirkulasi darah.

15

e) Pertahankan kebersihan dan kekeringan tempat tidur dan tubuh pasien.


R/ Lingkungan yang lembab dan kotor mempermudah terjadinya
kerusakan kulit.
f)

Kaji status nutrisi pasien dan berikan makanan dengan tinggi protein
R/ Mempertahankan integritas kulit dan proses penyembuhan.

5) Nyeri yang berhubungan dengan pengobatan immobilitas lama, cedera


psikis dan alat traksi (Diane C. Boughman, 2008 : 90)
Tujuan : Memberikan rasa nyaman.
Kriteria hasil : Melaporkan penurunan rasa nyeri /ketidak nyaman,
mengidentifikasikan cara-cara untuk mengatasi nyeri, mendemonstrasikan
penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai kebutuhan
individu. Rencana tindakan
a) Kaji terhadap adanya nyeri, bantu pasien mengidentifikasi dan
menghitung nyeri, misalnya lokasi, tipe nyeri, intensitas pada skala 0
1
R/ Pasien biasanya melaporkan nyeri diatas tingkat cedera misalnya
dada / punggung atau kemungkinan sakit kepala dari alat stabilizer.
b) Berikan tindakan kenyamanan, misalnya, perubahan posisi, masase,
kompres hangat / dingin sesuai indikasi.
R/ Tindakan alternatif mengontrol nyeri digunakan untuk keuntungan
emosionlan, selain menurunkan kebutuhan otot nyeri / efek tak
diinginkan pada fungsi pernafasan.
c) Dorong penggunaan teknik relaksasi, misalnya, pedoman imajinasi
visualisasi, latihan nafas dalam.
R/ Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan
dapat meningkatkan kemampuan koping.
d) kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi, relaksasi otot, misalnya
dontren (dantrium); analgetik; antiansietis.misalnya diazepam (valium)
R/ Dibutuhkan untuk menghilangkan spasme /nyeri otot atau untuk
menghilangkan-ansietas dan meningkatkan istrirahat.

16

4. Evaluasi
1. Klien dapat meningkatkan pernafasan yang adekuat
2. Klien dapat memperbaiki mobilitas.
3. Klien dapat mempertahankan integritas kulit
4. klien mengalami peningkatan eliminasi urine
5. Klien mengalami perbaikan usus / tidak mengalami konstipasi
6. Klien menyatakan rasa nyaman

17

BAB II
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.Kesimpulan:
Dari hasil pembahasan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa
cedera medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang
disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis. Penyebabnya antara
lain trauma dan kelainan pada vertebra (seperti atrofo spinal, fraktur
patologik, infeksi, osteoporosis, kelainan congenital, dan gangguan vascular).
Instabilitas pada vertebra mengakibatkan penekanan saraf di medulla spinalis
sehingga terjadi gangguan.
Hal ini menyebabkan gangguan fungsi organ-organ yang hipersarafi
yaitu usus, genetalia, urinaria, rectum, dan ekstremitas bawah.
Penatalaksanaan ditujukan untuk mencegah akibat lanjut dari cedera tersebut.
3.2.Saran
Selayaknya seorang mahasiswa keperawatan dan seorang perawat
dalam setiap pemberian asuhan keperawatan termasuk dalam asuhan
keperawatan cedera medulla spinalis menggunakan konsep yang sesuai
dengan kebutuhan dasar manusia yang bersifat holistic yang meliputi aspek
biopsikospiritual dan semoga makalah ini dapat digunakan sebagai titik acuh
khalayak umum.

18

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2008. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi
8 Vol. 3 . Jakarta :EGC.
Carpenito, L. T, 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 6. Jakarta ;
EGC.
Doengoes, M. E, 2008, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta ;
EGC.
Muttaqin, arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta. Salemba Medika.
Batticaca, F. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta. Salemba Medika.

19