Anda di halaman 1dari 43

EKSTRAKSI DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA DAUN PEPAYA

(Caricca papaya )

DI SUSUN OLEH :
Nama

: Oryza Sativa

Stambuk

: G 701 10 002

Kelompok

: II

Asisten

: Mohammad Nofar

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
2012

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Lengkap ini disusun sebagai salah satu syarat penilaian praktikum
Fitokimia Lanjutan dan untuk mengikuti ujian Praktikum Fitokimia Lanjutan
semester VI (enam) Tahun 2013/2014.

Asisten I

Asisten II

Muh. Nofar Lembah

Apriyanti Anastasia

G 701 09 003

Asisten III

G 701 09 021

Alfred Trisakti
G 701 09 037

Asisten IV

Deniarta Lakengke
G 701 09 0
Mengetahui

Penanggung jawab Praktikum

Koordinator

Praktikum

(Nama
NIP

(Nama
NIM

KATA PENGANTAR
Puji syukur diucapkan kehadirat Allah swt, yang mana telah memberikan
hidayah, kekuatan, petunjuk, serta kesehatan yang melimpah ruah, sehingga dapat
menyelesaikan laporan fitokimia lanjutan yang disusun sebagai dasar dan syarat
mengikuti praktikum selanjutnya. Dan tak lupa, dihanturkan rasa kebersamaan,
kecintaan, kepada Baginda Nabiyullah Muhammad saw,yang mana berkat beliau
pulalah ilmu dan amal dalam agama islam dapat dicapai dan dihanturkan, berkat
jasa-jasa serta pengorbanan beliau, shalawat serta salam kita tuntunkan beserta
kepada keluarga dan para sahabatnya.
Pada kesempatan ini, dibuatlah laporan praktikum fitokimia sebagai wujud
dan syarat mengikuti ujian praktikum dan diharapkakan apa yang telah didapat
dari praktikum sebelumnya akan sangat bermanfaat nantinya bahkan dimasa
dibutuhkannya

pembuatan

obat-obat

baru

sebagai

pengembangan

pengetahuan. Amin.

Palu,

Juni 2013

Penyusun

ilmu

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang

I.2

Rumusan Masalah

I.3

Maksud Percobaan

I.4 Tujuan Percobaan


I.5
BAB II

Prinsip Percobaan

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Klasifikasi
II.1.1Klasifikasi
II.1.2 Morfologi
II.1.3 Nama Daerah
II.1.4 Kandungan Kimia
II.1.5 Kegunaan
II.2 Metode Ekstraksi
II.2.1 Maserasi
II.3 Ringkasan Teori Tentang Semua Percobaan

BAB III

METODOLOGI KERJA
III.1 Waktu Dan Tempat
III.2 Alat dan Bahan
III.3 Prosedur Kerja

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


IV.1 Hasil Praktikum
IV.2 Pembahasan

BAB V

PENUTUP
V.1 Kesimpulan
V.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
-

Surat bebas laboratorium


Semua laporan Fitokimia Lanjutan

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat berpotensi
untuk dikembangkan dalam pencarian senyawa bioaktif. Diantara sekian
banyak spesies tumbuhan yang memiliki potensi bioaktifikasi, hanya
sebagian kecil yang diteliti secara fitokimia(Heyne,K. 1978). Tahun teakhir
ini penggunaan bahan alam sebagai obattradisional mengalami peningkatan
yang sangat menggembirakan, hal ini terbukti dengan makin banyaknya obat
tradisional yang beredardipasaran, untuk itu perlu langkah yang tepat dalam
usaha pengembangannya dengan cara mengembangkan dan menggalakkan
penelitian obat tradisional, sehingga penggunaannya dapat dipertanggung
jawabkan secara ilmiah dan bukan berdasarkan pada pengalaman saja
(Dharma. 1985)
Masyarakat

Indonesia

biasanya

menggunakan

obat-obatan

tradisional yang umumnya berasal dari tumbuhan untuk mencegah dari


serangan penyakit atau mengobati penyakit. Aplikasi dari obat-obatan ini
bisa dengan cara meminum ekstrak air dari tanaman tersebut atau meletakkan
simplisia yang sudah ditumbuk halus pada daerah di tubuh yang sakit.
Kurangnya informasi ilmiah mengenai komponen-kompenen kimia yang
terdapat dalam tanaman untuk obat tradisional ini mengakibatkan nilai
ekonomi dari tanaman-tanaman ini sangat rendah. Selain itu penggunaannya
yang biasanya menggunakan dosis sembarang bisa mengakibatkan efek yang
tidak diinginkan. Penggunaan obat tradisional dalam pengobatan secara
umum dinilai lebih aman daripada pengobatan modern. Hal ini disebabkan
karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit
daripada obat modern. Situasi ini yang mendorong penulis untuk meneliti

tanaman yang sudah dikenal baik oleh masyarakat sebagai obat tradisional
(Anonim, 2011).
Penelitian terhadap tanaman obat yang paling berkembang,terutama
pada segi fitokimianya dan pada segi farmakologinya. Hasil penelitian
tersebut tentunya lebih memantapkan para pengguna tumbuhan obat akan
khasiat maupun penggunaannya (Dalimartha,2003).
Fitokimia adalah ilmu yang mempelajari berbagai senyawa organik
yang dibentuk dan disimpan oleh tumbuhan, yaitu tentang struktur kimia,
biosintetis, perubahan dan metabolism, penyebaran secara alami dan fungsi
biologis dari senyawa organik. Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien,
dalam arti luas adalah segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari
sumber tumbuhan, termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan
umum, fitokimia memiliki definisi yang lebih sempit (Anonim, 2011).
Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai obatyang belum
mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakanlain, berupa bahan
yang telah dikeringkan (Ditjen POM. 1979).
Salah satu bahan alam yang dapat digunakan untuk pengobatan
tradisional adalah daun Pepaya (Caricca papaya). Tanaman ini mengandung
berbagai macam komponen kimia seperti alkaloid, saponin dan flavonoid.
Khasiat tanaman pepaya antara lain sebagai anti inflamasi dan berefek
spermisid. Oleh karena itu sangat perlu untuk melakukan ekstraksi dan
identifikasi kandungan kimia dari tanaman ini. Dari proses ekstraksi akan
didapatkan isolat-isolat suatu senyawa atau kumpulan senyawa sehingga dapat
mempermudah untuk melakukan identifikasi senyawa-senyawa yang terdapat
dalam simplisia. Sedangkan identifikasi diperlukan untuk mengetahui jenis
senyawa kimia yang berada dalam simplisia sehingga dapat lebih mudan
dibuat dalam bentuk sediaan.

I.2 Rumusan Masalah


a. Percobaan I
Bagaimana cara pemisahan metode partisi suatu simplisia dengan
menggunakan corong pisah?
b. Perconaan II
Bagaimana caramengorientasi eluen?
c. Percobaan III
Bagaimana cara penggunaan kolom konvensional dalam metode isolasi
komponen bahan alam?
d. Percobaan IV
Bagaimana cara mendapatkan senyawa-senyawa metabolit sekunder
e.

malalui metode isolasi menggunakan VC (Vacum Cair)?


Percobaan V
Bagaimana cara isolasi dengan KLT Preparatif?

I.3 Maksud Percobaan


a. Percobaan I
Memhetahui cara pemisahan metode partisi suatu simplisia dengan
menggunakan corong pisah?
b. Perconaan II
Mengetahui berbagai cara orientasi eluen
c. Percobaan III
Menentukan cara penggunaan kolom konvensional dalam metode isolasi
komponen bahan alam
d. Percobaan IV
Mengetahui dan memahami cara mendapatkan senyawa-senyawa metabolit
sekunder malalui metode isolasi menggunakan VC (Vacum Cair)
e. Percobaan V
Menentukan cara isolasi dengan KLT Preparatif

I.4 Tujuan Percobaan


a. Percobaan I
Memahami cara pemisahan metode partisi suatu simplisia dengan
menggunakan corong pisah
b. Percobaan II
Memahami ara orientasi eluen
c. Percobaan III
Mengetahui dan memahami cara penggunaan kolom konvensional dalam
metode isolasi komponen bahan alam

d. Percobaan IV
Mendapatkan senyawa-senyawa metabolit sekunder malalui metode isolasi
menggunakan VC (Vacum Cair)
e. Percobaan V
Mengetahui dan memahami cara isolasi dengan KLT Preparatif
I.5 Prinsip Percobaan
a. Percobaan I
Pemisahan komponen dari suatu campuran dengan menggunakan suatu
pelarut yaitu n-heksan dan etil asetat, dimana zat terlarut (solut) yakni
ekstrak daun jambu biji (Psigium guajavaI) terdistribusi diantara kedua
lapisan

(organic

dan

air)

berdasarkan

kelarutan

relatifnya.Hasil

pemisahannya di uapkan.
b. Percobaan II
Penotolan ekstrak n-heksan dan etilasetat dengan menggunakan beberapa
perbandingan eluen yakni n-heksan:etilasetat (5:1, 3:1, 1:1, dan 1:5)
dengan melihat tampakan noda pada lempeng dan nilai Rf yang dihasilkan
yang akan menunjukkan pemilihan eluen yang baik.
c. Percobaan III
Pemisahan komponen secara kolom konvensional dilakukan dalam suatu
kolom yang diisi dengan fase stasioner (diam) berupa serbuk silika yang
dimampatkan pada kolom yang terlebih dahulu dimasukkan kapas untuk
mencegah silikanya turun, dan digunakan kertas saring agar proses partisi
dapat berjalan baik dan lebih selektif karena lewat pori-pori sedangkan
sebagai fase mobile (gerak) adalah cairan (pereaksi) yakni eluen n-heksan;
n-heksan:etilasetat (20:1, 15:1, 10:1, 5:1, 3:1, 1:1), etil asetat,
etilasetat:methanol (1:1), dan metanol sebanyak 10 ml,penggunaan
perbandingan eluen tertentu berguna untuk mempartisi ekstrak dan
digunakan dari yang paling nonpolar lalu paling polar agar proses
pemisahan lebih baik dan dibantu dengan bantuan gaya gravitasi. Hasil
fraksinya ditampung pada botol vial kemudian diuapkan dan di KLT.
d. Percobaan IV
Pemisahan komponen secara kromatografi vakum cair yang didasarkan
atas adsorpsi atau serapan, sedangkan pemisahannya didasarkan pada
senyawa-senyawa yang akan dipisahkan terdistribusi diantara fase diam

dan fase gerak dalam perbandingan yang berbeda-beda yakni n-heksan, nheksan:etilasetat (25:1, 20:1, 15:1, 10:1, 5:1, 3:1, 1:1), etil asetat,
etilasetat:methanol (1:1), dan metanol sebanyak 50 ml. menggunakan alat
bantu yang berupa pompa vakum untuk mempercepat laju alir fase gerak
selama proses pemindahan zat terlarut. Hasil fraksinya ditampung pada
gelas kimia kemudian diuapkan dan di KLT.
e. Percobaan V
Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip partisi dan adsorpsi
secara selektif karena adanya perbedaan daya serap terhadap adsorben dan
kelarutan komponen kimia terhadap cairan pengelusidan cara penotolan
cuplikan yang berkesinambungan yang memberikan hasil elusi berupa
pita.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Uraian Bahan
II.1.1 Klasifikasi (Depkes 2000)
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Bangsa

: Cistales

Suku

: Caricacea

Marga

: Carica

Jenis

: Carica papaya Linn.

II.1.2 Morfologi (Depkes 2000).


Tanaman pepaya merupakan perdu tinggi kurang lebih 10 meter
tidak berkayu, silindris, berongga, putih, kotor, Daun tunggal, bulat,
ujung runcing, pangkal bertoreh, tepi bertoreh, tepi bergerigi, diameter
25-75 cm, pertulangan menjari, panjang tangkai 25-100 cm, hijau.
Bunga tunggal, bertekuk bintang, di ketiak daun, berkelamin satu atau
berumah dua. Bunga jantan terletak pada tandan yang serupa malai,
kelopak kecil, kapala sari bertangkai pendek atau duduk, kuning,
mahkota bentuk terompet, tepi bertajuk lima, bertabung panjang, putih
kekuningan. Bunga betina berdiri sendiri, mahkota lepas, kepala putik
lima, duduk, bakal buah beruang satu, putih kekuningan. Biji bulat
atau bulat panjang, kecil, bagian luar dibungkus selaput tipis yang
berisi cairan, masih muda putih, setelah tua hitam. Akarnya tunggang,
bercabang bulat, putih kekuningan

II.1.3 Nama Daerah (Depkes 2000).


Pente (Aceh), Pertek (Gayo), Pastela (Batak), Embetik (Karo),
Botik (Batak Toba), Bala (Nias), Sikailo (Mentawai), Kates
(Palembang), Kalikih (Minangkabau), Gedang (Lampung), Gedang
(Sunda), Kates

(Jawa Tengah), Kates (Madura), Bali

(Gedang),

Kustela (Banjar), Bua medung (Dayak Busang), Buah dong (Dayak


Kenya), Kates (Sasak), Kampaya (Bima), Kala jawa (Sumbawa), Padu
(Flores), Papaya (Gurontalo), Papaya (Buol), Kaliki (Baree), Papaya
(Manado), Unti jawa (Makasar), Kaliki riaure (Bugis), Papai (Buru),
Papaya (Halmahera), Papae (Ambon), Palaki (Seram), Kapaya
(Tidore), Tapaya (Ternate), Ihwarwerah (Sarmi), Siberiani (Windesi).
II.1.4 Kandungan Kimia (Muchlisah 2004).

Daun, akar dan kulit batang Carica papaya, Linn. mengandung


alkaloid, saponin dan flavonoid. Daun dan akar juga mengandung
polifenol dan biji mengandung saponin (Depkes 2000). Daun
mengandung enzim papain, alkaloid karpaina, pseudo karpaina,
glikosid, karposid, dan saponin. Buah mengandung beta karotene,
pectin, d-galaktosa, l-arabinosa, papain, papayotimin papain. Biji
mengandung glukosida cacirin, karpain. Getah mengandung papain,
kemokapain, lisosim, lipase, glutamine, dan siklotransferase.
II.1.5 Kegunaan
Daun pepaya berkhasiat sebagai bahan obat malaria dan
menambah nafsu makan. Akar dan biji berkhasiat sebagai obat cacing,
getah buah berkhasiat sebagai

obat memperbaiki pencernakan

(Depkes 2000). Getah buah pepaya untuk kulit melepuh karena panas,
daun pepaya muda untuk pengobatan malaria, demam dan susah
buang air besar, akar jari pepaya untuk pengobatan karena digigit ular
berbisa, biji pepaya untukpengobatan rambut beruban sebelum
waktunya dan obat cacing gelang, serta pengobatan lain misalnya
maag, sariawan dan merangsang nafsu makan (Muchlisah 2004).
Khasiat tanaman pepaya antara lain sebagai anti inflamasi dari ekstrak
etanol

akar pepaya (Adjirni dan Saroni 2000), efek spermisid

(antifertilitas) dari ekstrak biji pepaya (Ilyas dkk) anti kanker dari
ekstrak daun pepaya (Sukardiman dan Ekasari 2006), peningkatan
kemampuan belajar pada tikus yang diberi ekstrak daun pepaya
II.2 Metode Ekstraksi
II.2.1 Maserasi (Anonim, 2011)
Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam
serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari
pada temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan
masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena
adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di
luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan

diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi).


Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi
antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Selama proses maserasi
dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari.
Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan.
Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana
yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan
penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung
dari cahaya. Metode ini dilakukan untuk menyari simplisa yang
mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari,
tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin. Pelarut akan menembus
dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat
aktif, zat aktif akan larut dan karena ada perbedaan konsentrasi antara
larutan zat aktif di dalam sel dan di luar sel maka larutan yang lebih
pekat akan didesak keluar, terjadi secara berulang-ulang sampai
tercapai kesetimbangan konsentrasi antara di dalam dan di luar sel.

II.3 Ekstraksi Cair-Cair (Anonim, 2011)


Ekstraksi cair-cair sangat berguna untuk memisahkan analit yang
dituju dari penganggu dengan cara melakukan partisi sampel antar 2 pelarut
yang tidak saling campur. Salah satu fasenya seringkali berupa air dan fase
yang lain adalah pelarut organik. Senyawa-senyawa yang bersifat polar akan
ditemukan di dalam fase air, sementara senyawa-senyawa yang bersifat
hidrofobik akan masuk pada pelarut organik. Analit yang terekstraksi ke
dalam pelarut organik akan mudah diperoleh kembali dengan cara penguapan
pelarut, sementara analit yang masuk ke dalam fase air seringkali diinjeksikan
secara langsung ke dalam kolom. Disamping itu, ekstraksi pelarut juga
digunakan untuk memekatkan analit yang ada dalam sampel dengan jumlah
kecil sehingga tidak memungkinkan atau menyulitkan untuk deteksi atau

kuantifikasinya. Dalam bentuk yang paling sederhana, suatu alikuot larutan


air digojog dengan pelarut organik yang tidak campur dengan air.
Kebanyakan prosedur ekstraksi cair-cair melibatkan ekstraksi analit
dari fase air ke dalam pelarut organik yang bersifat non polar atau agak polar
seperti heksana, metilbenzen atau diklorometan. Meskipun demikian proses
sebaliknya (ekstraksi analit dari pelarut organik non polar ke dalam air) juga
mungkin terjadi. Dengan kata lain, dalam ekstraksi cair-cair ini tidaklah
mungkin untuk mencapai 100% analit terekstraksi pada salah satu
fase/pelarut. Karena ekstraksi merupakan proses kesetimbangan dengan
efisiensi terbatas, maka sejumlah tertentu analit akan tertahan di kedua fase.
Kesetimbangan kimia yang melibatkan perubahan pH, kompleksasi, pasangan
ion, dan sebagainya dapat digunakan untuk meningkatkan perolehan kembali
analit dan/atau menghilangkan pengganggu.
Berbagai jenis metode pemisahan yang ada, ekstraksi pelarut atau juga
disebut juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik dan
populer.pemisahan ini dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro.
Prinsip distribusi ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan
perbandingan tertentu antara dua zat pelarut yang tidak saling bercampur.
Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda
dalam kedua fase terlarut. Teknik ini dapat digunakan untuk kegunaan
preparatif, pemurnian, pemisahan serta analisis pada semua kerja.
Ekstraksi cair-cair ditentukan oleh distribusi Nerst atau hukum partisi
yang menyatakan bahwa pada konsentrasi dan tekanan yang konstan, analit
akan terdistribusi dalam proporsi yang selalu sama diantara dua pelarut yang
saling tidak campur. Perbandingan konsentrasi pada keadaan setimbang di
dalam 2 fase disebut dengan koefisien distribusi atau koefisien partisi.
II.4 Kromatografi
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan
perbedaan pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk
memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan.
Kromatografi juga merupakan pemisahan campuran senyawa menjadi

senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya. Untuk itu, kemurnian bahan


atau komposisi campuran dengan kandungan yang berbeda dapat dianalisis
dengan benar. Tidak hanya kontrol kualitas, analisis bahan makanan dan
lingkungan, tetapi juga kontrol dan optimasi reaksi kimia dan proses
berdasarkan penentuan analitik dari kuantitas material. Teknologi yang
penting untuk analisis dan pemisahan preparatif pada campuran bahan adalah
prinsip dasar kromatografi. Pemisahan senyawa biasanya menggunakan
beberapa tekhnik kromatografi. Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar
bergantung pada sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan.
Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau
kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase
gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang
terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada
laju yang berbeda. Fase diam cenderung menahan komponen campuran,
sedangkan fase gerak cenderung menghanyutkannya. Berdasarkan terikatnya
suatu komponen pada fase diam dan perbedaan kelarutannya dalam fase
gerak, komponen-komponen suatu campuran dapat dipisahkan. Komponen
yang kurang larut dalam fase gerak atau yang lebih kuat terserap atau
terabsorpsi pada fase diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang lebih
larut atau kurang terserap akan bergerak lebih cepat (Ibnu Gholib, 2008).
II.4.1 Kromatografi Kolom
Kromatrografi kolom menunjukkan adanya prinsip yang sama
yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis yang dapat diterapkan
pada skala besar untuk pemisahan campuran. Kromatografi kolom
seringkali digunakan untuk pemurnian senyawa di laboratorium.
Berbagai ukuran kolom dapat digunakan, dimana hal utama
yang dipertimbangkan adalah kapasitas yang memadai untuk
menerima sampel-sampel tanpa melalui fasa diamnya. Merupakan
aturan praktis yang umum bahwa panjang kolom harus sekurangkurangnya 10 kali ukuran diameternya. Jika kita mempunyai kolom
dengan panjang 20 cm, dan diameternya 1 atau 2 cm. Bahan

pengemasnya suatu adsorben seperti alumina atau resin penukar ion,


dimasukkan dalam bentuk suspensi kedalam porsi fasa bergerak dan
dibiarkan diam didalam hamparan basah dengan sedikit cairan.
Kolom harus dikondisikan dengan jalan mengoperasikan
sampai keadaan stabil pada suhu yang lebih tinggi dari suhu yang
digunakan seperti yang tertera pada masing masing monografi. Suatu
uji yang sesuai terhadap sifat inert penyangga, yang perlu untuk fase
cair dengan polaritas yang rendah, ada kalanya suatu kolom dapat
dikondisikan

dengan

menyuntikkan

ulang

senyawa

yang

dikromatografi (Harbone, 1987).


Kolom untuk analisis farmasi umumnya digunakan kolom isi
dan sebaiknya hanya isi kolom yang mempengaruhi gerak relative zat
terlarut melalui system. Kolom terbuat dari kaca, kecuali jika
dinyatakan lain. Kolom dengan beragam ukuran dapat digunakan,
tetapi umumnya antara 0,6 m hingga 1,8 m serta diameter dalam 2 mm
hingga 4 mm. sebagai fase cair dapat digunakan beraneka ragam
senyawa kimia, seperti poly etilen glikol, ester dan amida berbobot
molekul tinggi, hidro karbon, gom, dan cairan silikon (Hostettmann,
1995).
Kromatografi kolom digunakan untuk memisahkan suatu
campuran senyawa. Kolom yang terbuat dari gelas diisi dengan fase
diam berupa serbuk penyerap (seperti selulosa, silika gel, poliamida).
Fase diam dialiri (dielusi) dengan fase gerak berupa pelarut.
Kromatografi kolom terdiri dari 2 fase yaitu (Gemini, 2011):

Fase Diam
Fase stationer dalam kromatografi kolom adalah zat padat
(adsorben). Fase diam yang paling umum digunakan adalah silica
gel yang diikuti alumina. Fungsi dari fase diam adalah untuk
menahan sampel bergerak di sepanjang kolom.

Fase Gerak

Fase gerak yang digunakan dalam kromatografi kolom berupa


campuran pelarut atau pelarut murni (eluent). Fungsi fase gerak
adalah mengalirkan analit (sampel) untuk bergerak di sepanjang
fase diam sampai akhirnya terelusi.
Ukuran penyerap untuk kolom biasanya lebih besar daripada
untuk KLT. Kemasan kolom biasanya 63-250 m, untuk kolom yang
dijalankan dengan gaya tarik bumi, kolom yang dijalankan dengan
tekanan,

apakah

menggunakan

udara

atau

pompa,

biasanya

mengandung partikel 40-63 m atau lebih halus (Kisman dkk., 1994)).


Kromatografi kolom dari larutan dibutuhkan tabung pemisah
tertentu yang diisi dengan bahan sorpsi dan juga pelarut pengembang
yang berbeda. Tabung pemisah yang diisi dengan bahan sorpsi disebut
kolom pemisah. Tergantung dari masalah bahan pemisahan dapat
digunakan tabung filter dengan gelas berpori yang pada ujung bawah
menyempit (tabung Allihn) atau tabung gelas, yang pada ujung bawah
menyempit dan dilengkapi dengan kran. Tabung bola jarang
digunkan.Perbandingan panjang tabung terhadap diameter pada
umumnya adalah 40:1. Harga 20 berlaku sebagai batas bawah.
Pengisisan tabung pemisah dengan adsorben, yang juga disebut
kemasan kolom, harus dilakukan secara hati-hati, harus rata.
Aluminium oksida atau silika gel dapat diisikan kering ke dalam tabung
pemisah. Agar pengisian rata, tabung setelah diisi divibrasi, diketokketok atau dijatuhkan lemah pada pelat kayu. Adsorben lainnya harus
diisikan sebagai suspensi, terutama jika zat ini menggelembung
dengan pelarut pengembang. Yang umum dilakukan adalah, adsorben
dibuat seperti bubur dengan pelarutelusi, kemudian dimasukkan ke
dalam tabung pemisah. Sebagai bahan sorpsi digunakan bahan yang
sama dengan kromatografi lapis titpi yaitu silika gel, aluminium
oksida, poliamida, selulosa, selanjutnya juga arang aktif dan gula
tepung. Tergantung dari cara pengembangan dapat dibedakan

kromatografi elusi, kromatografi garis depan dan kromatografi


pendesakan (Johnson, 1991).
Kolom kromatografi berkerja berdasarkan skala yang lebih
besar menggunakan material terpadatkan pada sebuah kolom gelas
vertikal. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemisahan dengan
kromatografi kolom adalah fase diam yang digunakan, kepolaran
pelarut (fase diam), ukuran kolom (diamter dan panjang kolom),
kecepatan alir elusi membantu mengatasi permasalahan dalam dunia
bioteknologi, farmasi, klinik dan kehidupan manusia secara umum
(Soediro, 1986).
Sebagian besar prinsip pemisahan

kromatografi kolom

didsarkan pada afinitas kepolaran analite dengan fase diam, sedangkan


fase gerak selalu memiliki kepolaran yang berbeda dengan fase diam.
Pada sebagian besar kromatografi kolom menggunakan fase diam yang
bersifat polar dengan fase gerak yang non-polar dengan begitu waktu
retensi akan menjadi lebih singkat. Semakin cepat pergerakan fase
gerak akan meminimalkan waktu yang diperlukan untuk bergerak di
sepanjang kolom. Laju aliran kolom dapat ditingkatkan dengan
memperluas aliran eluent di dalam kolom dengan mengisi fase diam
pada bagian bawah atau dikurangi dengan mengontrol keran (Adriana,
2009).
Pada metode kromatografi kolom mempunyai keuntungan dan
kerugiannya yaitu (Gritter dkk., 1991):
Keuntungan Kromatografi Kolom yaitu :

Dapat digunakan untuk analisis dan aplikasi preparatif

Digunakan untuk menentukan jumlah komponen campuran

Digunakan untuk memisahkan dan purifikasi substansi

Kerugian kromatografi kolom yaitu :

Untuk mempersiapkan kolom dibutuhkan kemampuan teknik dan


manual

Metode ini sangat membutuhkan waktu yang lama.

II.4.2 Kromatografi Vakum Cair


Kromatografi kolom vakum merupakan kromatografi kolom
yang dipercepat dan bekerja pada kondisi vakum, fase gerak
digerakkan dengan kondisi vakum sehingga prosesnya berlangsung
cepat. Kolom kromatografi dikemas kering dalam keadaan vakum agar
diperoleh kerapatan maksimum. Alat yang digunakan terdiri dari
corong G-3, sumbat karet, pengisap yang dihubungkan dengan pompa
vakum serta wadah penampung fraksi. Walaupun KCV memerlukan
jumlah sampel yang lebih banyak daripada kromatografi lapis tipis
(KLT), KCV tetap ekonomis dalam sisi biaya.
Kromatografi cair-vakum merupakan kromatografi kolom yang
dikemas kering biasanya dengan penyerap mutu kromatografi lapis
tipis10-4 g pada kondisi vakum, fase gerak digerakkan dengan
kondisi vakum sehingga prosesnya berlangsung cepat. Kolom
kromatografi dikemas kering dalam keadaan vakum agar diperoleh
kerapatan maksimum. Setelah diperoleh kemasan yang maksimum,
kemudian vakum dihentikan dan pelarut yang kepolarannya rendah
dituangkan kedalam permukaan penjerap lalu divakum lagi, kolom
dihisap sampai keringdan kolom sekarang siap dipakai (9).
Salah satu cara pemisahan adalah kromatografi cair vakum,
kromatografi cair vakum adalah kromatografi kolom yang dipercepat
dan bekerja pada kondisi vakum. Alat yang digunakan terdiri dari
corong G-3, sumbat karet, pengisap yang dihubungkan dengan pompa
vakum serta wadah penampung fraksi. Corong G-3 diisi adsorben
sampai setinggi 2,5 cm, kemudian diketuk-ketuk dengan batang
pengaduk bersalut dilarutkan dalam pelarut organik yang cocok,
kemudian ke dalam larutan ekstrak tersebut ditambahkan adsorben
dengan bobot sama dengan bobot ekstrak. Campuran ini digerus
sampai homogen, dikeringkan dan dimasukkan ke dalam corong G-3
kemudian diratakan. Permukaan lapisan adsorben ditutup dengan

kertas saring. Elusi diawali dengan pelarut nonpolar dilarutkan dengan


kombinasi pelarut dengan polaritas meningkat. Jumlah pelarut yang
digunakan setiap kali elusi adalah sebagai berikut: untuk bobot ekstrak
sampai lima gram diperlukan 25 ml pelarut, untuk 10-30 g ekstrak
diperlukan 50 ml pelarut. Dalam hal ini diameter corong dipilih
sedemikian rupa sehingga lapisan ekstrak dipermukaan kolom setipis
mungkin dan rata. Masing-masing pelarut dituangkan ke permukaan
kolom kemudian dihisapkan pompa vakum. Masing-masing ekstrak
ditampung dalam wadah terpisah sehingga menghasilkan sejumlah
fraksi (10).
Kromatografi cair vakum dapat digunakan untuk fraksinasi dan
memurnikan fraksi. Metode KCV digunakan karena lebih efektif dan
efisien dalam pemisahan dibandingkan kromatografi kolom gravitasi.
Kromatografi cair vakum (KCV) pertama kali diperkenalkan oleh para
ilmuwan dari Australia untuk mengatasi lamanya waktu yang
dibutuhkan untuk separasi menggunakan kolom kromatografi klasik.
Pada dasarnya metode ini adalah kromatografi lapis tipis preparatif
yang berbentuk kolom. Aliran fase gerak dalam metode ini diaktifkan
dengan bantuan kondisi vakum. Kromatografi cair vakum pada
awalnya digunakan untuk separasi senyawaan steroid dan produkproduk natural dari laut. Kromatografi cair vakum terdiri dari suatu
corong Buchner yang memiliki kaca masir. Corong Buchner ini diiisi
dengan fase diam yang tingkat kehalusannya seperti yang umumnya
dipakai dalam kromatografi lapis tipis (70-230 mesh).
Corong Buchner yang berisi fase diam ini digunakan dalam
kondisi vakum/bertekanan, yang berakibat pada kemampuan yang
dihasilkan oleh kromatografi cair vakum akan sama dengan
kromatografi gravitasi namun diperlukan waktu yang lebih singkat.
Cara asli yang diperkenalkan oleh Coll menggunakan corong Buchner
kaca masir atau kolom pendek sedangkan target menggunakan kolom
yang lebih panjang untuk meningkatkan daya pisah (11).

Kromatografi Vakum Cair mempunyai keuntungan yang utama


dibandingkan kolom konvensional yaitu (12) :

Konsumsi fase gerak KCV hanya 80% atau lebih kecil disbanding
dengan kolom konvensional karena pada kolom mikrobor
kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10-100l/menit).

Adanya aliran fase gerak lebih lambat membuat kolom mikrobor


lebih ideal jika digabung dengan spectrometer massa.

Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solute lebih pekat


karenanya jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel
terbatas missal sampel klinis.

Kerugian KCV (Kromatogravi Vakum Cair) yaitu (12) :

Membutuhkan waktu yang cukup lama

Sampel yang dapat digunakan terbatas.

II.4.3 Kromatografi Lapis Tipis


Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip adsorbsi dan
partisi, yang ditentukan oleh fase diam (adsorben) dan fase gerak
(eluen), komponen kimia bergerak naik mengikuti fase gerak karena
daya serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia tidak sama
sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan yang
berbeda

berdasarkan

tingkat

kepolarannya,

hal

inilah

yang

menyebabkan terjadinya pemisahan. Prinsip Penampakan Noda adalah


sebagai berikut.
a. Pada UV 254 nm
Pada UV 254 nm, lempeng akan berflouresensi sedangkan sampel
akan tampak berwarna gelap.Penampakan noda pada lampu UV
254 nm adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV
dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada lempeng.
Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang
dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang
tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih

tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan


energi.
b. Pada UV 366 nm
Pada UV 366 nm noda akan berflouresensi dan lempeng akan
berwarna gelap. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm adalah
karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus
kromofor yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda
tersebut. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya
yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang
tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih
tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan
energi. Sehingga noda yang tampak pada lampu UV 366 terlihat
terang karena silika gel yang digunakan tidak berfluororesensi pada
sinar UV 366 nm.
c. Pereaksi Semprot H2SO4 10%
Prinsip penampakan noda pereaksi semprot H2SO4 10% adalah
berdasarkan kemampuan asam sulfat yang bersifat reduktor dalam
merusak gugus kromofor dari zat aktif simplisia sehingga panjang
gelombangnya akan bergeser ke arah yang lebih panjang (UV
menjadi VIS) sehingga noda menjadi tampak oleh mata.
II.4.4 KLT Preparatif
Absorbsi dan partisi berdasarkan pada jumlah dan cara penotolan
cuplikan yang berkesinambungan dengan hasil akhir membentuk pita.
Kromatografi lapis tipis preparative merupakan metode isolasi dari
suatu simplisia untuk mendapatkan senyawa tunggal. (15: 54) Lapisan
preparatif normalnya adalah lapisan KLT yang lebih tebal dari 0,5.
Seperti aturan umumnya dimana ketebalan maksimumnya adalah 2
mm meskipun beberapa pengerjaan melibatkan penggunaan lempeng
yang tebalnya mencapai 10 mm. Pembuatan lempeng KLTP haruslah
resisten terhadap abrasi. KLTP dibahas dalam beberapa literatur
dimana metode ini masih menjadi metode yang populer. Ada

perbedaan utama antara KLTPdan KLT konvensional yakni Sampel


ditotolkan berupa pita, biasanya bila memungkinkan ditotolkan selebar
lempeng. Deteksi dari pemisahan senyawa biasanya dilakukan dengan
absorbansi UV atau flouresensi. Biasanya multi elusi diperlukan untuk
memperoleh resolusi pemisahan yang baik dari komponen sampel.
Karena besarnya volume yang diaplikasikan pada KLTP bila
dibandingkan dengan KLT, penggunaan alat penotolan seperti yang
dibicarakan nanti diperlukan untuk keakuratan. Larutan sampel
dapatditotolkan sepanjang lempeng KLTP. Ini memungkinkan jumlah
maksimum volume yang ditotolkan (volume hingga 500 ml larutan
dapat dicapai dengan penggunaan alat). Bagaimanapun juga sangat
penting untuk membiarkan sekitar 2 cm dari ujung pita dengan tepi
lempeng. Ini dapat menghindarkan efek tepi yang dapat terjadi selama
pengembangan karena perbedaan ketebalan sorben pada tepi lempeng.
Ketebalan dari lapisan dan kemampuan sampel untuk melintasi jarak
dari lempeng menyebabkan miligram samapi satu berat yang sangat
rendah dapat diaplikasikan tetapi sayangnya waktu pengembangan
yang panjang tidak dapat dihindarkan dari penggunaan gaya kapilaritas
normal. Biasanya pemisahan yang memakanwaktu 30-60 menit pada
KLT akan memakan waktu beberapa jam padaKLTP dengan lapisan
setebal 2 mm. Ini tidak serta merta menjadi kerugian dari KLTP karena
pemisahan dapat dilakukan semalaman dan kromatografer tidak perlu
melakukan banyak hal selama pengembangan. Biasanya pemilihan
eluen

ditentukan

berdasarkan

percobaan

KLT

sebelumnya.

Pengembangan dari lempeng KLTP dapat dilakukan beberapa kali


(biasanya 3 sampai 5 kali) jika diperlukan dengan pengeringan
bersalang. Resolusi biasanya ditingkatkan dengan cara ini. Sering
digunakan campuran pelarut sebagai fase gerak yang memiliki
kepolaran di bawah profil KLTnya. Pada pengembangan pertama
senyawa

dipisahkan

sampai

bergerak

kurang

lebih

cm.

Pengembangan kedua dan selanjutnya, polaritas dari fase gerak dapat

ditingkatkan

sedikit

untuk

menaikkan

resolusi.

Dalam

KLTP,selanjutnya akan dipindahkan senyawa yang akan dipakai untuk


analisis lebih lanjut atau penggunaan lain. Suatu lempeng kecil yang
tajam dapat digunakan untuk menandai posisi lapisan. Selalu diingat
bahwa penandaan dilakukan agak di bawah zona pemisahan. Zona ini
dapat dikerok dengan spatula besi atau alat lain yang cocok. Sejumlah
pelarut diperlukan untuk melarutkan analit. Sorben dapat dipisahkan
dengan penyaringan dan pelarut dapat diuapkan untuk memperoleh
senyawa yang diinginkan.

IV.2 PEMBAHASAN
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat berpotensi
untuk dikembangkan dalam pencarian senyawa bioaktif. Diantara sekian
banyak spesies tumbuhan yang memiliki potensi bioaktifikasi, hanya
sebagian kecil yang diteliti secara fitokimia. Fitokimia adalah ilmu yang
mempelajari berbagai senyawa organik yang dibentuk dan disimpan oleh
tumbuhan, yaitu tentang struktur kimia, biosintetis, perubahan dan
metabolism, penyebaran secara alami dan fungsi biologis dari senyawa
organik. Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah
segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan,
termasuk sayuran dan buah-buahan.

Pada praktikum isolasi senyawa bioaktif ini dilakukan proses


ekstraksi, identifikasi, dan isolasi komponen kimia yang terdapat dalam daun
pepaya (Caricca papaya), Pengerjaan awal pada praktikum ini yaitu
pengambilan sampel daun pepaya (Caricca papaya) diambil menggunakan
pisau atau gunting atau dipetik secara langsung dengan jari pada bagian
tangkai daunnya, dimasukkan dalam plastik. Kemudian dicuci bersih dengan
air, diangin-anginkan hingga agak kering. Setelah itu, daun pepaya ( Caricca
papaya) yang telah diambil, dicuci hingga bersih dengan air lalu ditiriskan
lalu sampel dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di atas kertas koran
pada tempatyang terlindung dari sinar matahari langsung. Setelah kering
digunting-gunting hingga kecil-kecil lalu dikeringkan sampai kering.
Kemudian, sampel yang telah kering tersebut di ekstraksi dengan metode
maserasi dengan menggunakan pelarut metanol. Metode maserasi ini
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari
selama dua hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya.Metode
maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen
kimia yang mudah larut dalam cairan penyari. Prinsip dari maserasi itu
sendiri yaitu pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut
organik tersebut sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat
aktif di dalam sel dan pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan
berdifusi keluar sel dan proses ini berulang terus sampai terjadi keseimbangan
antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam sel dan diluar sel. Setelah
diekstraksi, selanjutnya dilakukan partisi ekstrak dengan metode ekstraksi
cair-cair dengan pelarut n-heksan dan etil asetat terlarut antara dua sistem
pelarut. Pada saat pengocokan dihentikan dan pelarut yang tidak bercampur
akan memisah, proses sebelumnya disebut ekstraksi atau partisi sampel antara
dua pelarut, dimana zat terlarut melarut dengan mudah akan menjadi lebih
pekat. Di dalam pelarut dimana kelarutannya lebih besar. Lapisan cairan yang
berada di atas dan yang berada di bawah tergantung pada kerapatan relatif
dari kedua pelarut. Pelarut yang lebih ringan akan berada di atas dan pelarut

yang lebih berat akan berada di lapisan bawah. Koefisien distribusi


menentukan perbandingan konsentrasi dari zat terlarut dalam masing-masing
pelarut. Senyawa-senyawa yang dipisahkan tetap kontak di dalam dua pelarut
sesuai dengan perbandingan yang ditentukan oleh koefiisien distribusi.
Adapun tujuan dari ekstraksi cair-cair adalah untuk mengatahui sifat ekstrak,
yaitu kepolarannya. Proses partisi biasanya diulang sebanyak 3 kali bertujuan
untuk menghasilkan ekstrak yang lebih banyak dibandingkan dengan satu kali
partisi. Dari hasil pengamatan yang dilakukan ekstrak yang digunakan lebih
bersifat polar karena ketika dipartisi, partikel ekstrak lebih banyak
terdistribusi ke pelarut metil asetat, selain itu bobot ekstrak etil asetat lebih
banyak dibandingkan n-heksan, yang mana bobot ekstrak metil asetat 0,41 g
dan bobot ekstrak n-heksan 0,19 g. Kadar prek tidak mencapai 100 % karena
kesalahan dari praktikan dalam proses pengerjaan, dimana masih ada ekstrak
yang tertinggal pada wadah yang digunakan untuk menimbang. Selain itu,
ada pula ekstrak yang terdistribusi ke air, sehingga tidak mencapai 100 %.
Selanjutnya dilakukan orientasi eluen dengan 4 perbandingan eluen
yakni n-heksan dan eti asetat (5:1, 3:1, 1:1 dan 1:5) dan dari 4 eluen tersebut
perbandingan 1:1 yang paling baik. Selanjutnya yaitu isolasi dengan
kromatografi kolom konvensional.Metode kolom konvensional ini dibantu
dengan gaya gravitasi dan olehkarena hanya bantuan ini sehingga prosesnya
memakan waktu yang lama.Langkah awal dari metode ini adalah semua alat
dibersihkan dan dicuci dengan metanol, termasuk vial dan kolom. Setelah itu
disiapkan bubur silikanya. Dimana proses penyiapan bubur silika itu, silika
kasar saja yang digunakan, meskipun sebenarnya silika haluspun juga bisa
digunakan. Namun, penggunaan silika halus harus dibarengi dengan
penambahan silica kasar dengan konsistensi atau bobot yang lebih besar
dibandingkan silikahalus. Hal ini dikarenakan bila hanya menggunakan silika
halus akanmenyebabkan silika tersebut terlalu mampat ketika berada di dalam
kolom karena rongga-rongga antar partikel terlalu kecil sehingga menyulitkan
eluen untuk mempartisi ekstrak sebab kromatografi kolom ini hanya dibantu

dengan gaya gravitasi. Silika kasar direndam dengan hexan dalam


suatuwadah

sambil

diaduk-aduk

dengan

maksud

membasahinya

sehinggamembuatnya bisa memadat.Jumlah silika kasar yang digunakan


untuk pembuatan bubur silikakasar adalah 100 kali dari jumlah bobot ekstrak
yang digunakan. Sisa bobot silika dari yang telah dipersiapkan digunakan
untuk mengeringkan ekstrak pada saat penyiapan sampel dengan metode
kering. Prosesnya yaitu ekstrak dilarutkan dengan kloroform hingga larut, dan
ditambahkan sisa silika tadi,digerus hingga kering dan sisa silika yang tidak
dipakai disimpan sebagai pengganti kertas saring di atas sampel dan dibawah
eluen. Setelah penyiapan ekstrak selesai, rangkai alat kolom.Setelah
terangkai, dimasukkan sedikit kapas untuk menahan atau menyumbat sedikit
ujung kolom, dan biarkan memadat terlebih dahulu dan dimampatkan dengan
cara memukul-mukul buret kolom. Setelah itu ditambahkan sampel tadi yang
sudah disiapkan lalu dimasukkan kertas saring (sehingga proses partisi lebih
maksimal), setelah itu dimasukkan perbandingan eluensatu per satu, dimulai
dari eluen yang paling non-polar hingga ke yang polar.Maksud dari kenapa
eluen yang digunakan haruslah dari non-polar terlebih dahulu ke yang polar
adalah agar senyawa-senyawa yang ada didalam simplisia tersebut terpartisi
menurut tingkat kepolarannya masing-masing karena apabila yang digunakan
eluen polar terlebih dahulu maka akan menyebabkan senyawa polar dan nonpolar akan ikut tertarik oleh eluen polar tersebut sehingga hasil partisinya pun
menjadi kacau. Jadi harus digunakan eluen non-polar terlebih dahulu agar
senyawa yang mula-mula tertarik lebih dulu adalah senyawa-senyawa nonpolar dan saat digunakaneluen polar, senyawa yang tertarikpun hanya
senyawa-senyawa polar saja, sebab tidak ada lagi senyawa non-polar yang
tersisa, sehingga hasil partisinya pun menjadi bagus. Perbandingan eluen
yang digunakan adalah hexan : etil asetat = (25:1, 20:1, 15:5, 10:1, 5:1, 3:1,
dan 1:1) Hasil partisi ditampung di dalam vial dan diuapkan hingga
kering.Jumlah vial yang digunakan adalah 27 buah vial.Setelah itu, dilakukan
fraksinasi atau penggabungan vial berdasarkan kelipatan, digunakan kelipatan
3, jadi vial yang diambil untuk dilakukan pemisahan selanjutnya adalah vial

ke 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27. Setelah itu, ke 9 vial yang menjadi
perwakilan dari semua vial dilarutkan dengan kloroforn dan metanol dengan
perbandingan 1:1 kemudian dibuatlah perbandingan eluen dimana yang
digunakan adalah perbandingan n-hexan : etil asetat (1 : 1) sebanyak 24 ml.
Setelah itu dimasukkan ke dalam chamber dan ditunggu hingga jenuh dengan
cara memasukkan kertas saring. Sambil menunggu chamber jenuh, ke-9 vial
itu ditotolkan pada lempeng yang sudah diaktifkan dan setelah ditotol dan
chamber dijenuh, lempeng dimasukkan ke dalam chamber dan dibiarkan
terelusi hingga batas atas setelah itu dikeluarkan dari chamber dan
dikeringkan dandilihat penampakan nodanya pada lampu UV 254 nm. Setelah
diamati, tidak ada penampakan noda yang dapat terlihat, baik pada
penampakan visual maupun pada lampu UV, karena tidak ada noda yang
nampak maka disemprot dengan H2SO4, namun tetap tidak menunjukkan
penampakan noda. Hal ini karena silika yang digunakan merupakan silika
halus dan saat penundaan pengerjaan silika menjadi pecah, sehingga noda
yang seharusnya tampak tidak dapat terdeteksi. Selanjutnya dilakukan pula
isolasi dengan metode kromatografi vakum cair, kromatografi vakum cair
adalah suatu pemisahan yang dilakukan untuk golongan senyawa metabolit
sekunder secara kasar dengan menggunakan silika gel sebagai absorben dan
berbagai perbandingan pelarut yang menggunakan pompa vakum untuk
memudahkan penarikan eluen. Memiliki aliran fase gerak lebih cepat,
pengerjaannya

sederhana

dan

cuplikan

yang

dipisahkan

lebih

banyak.Sedangkan kelemahannya adalah sampel yang digunakan banyak jika


dibandingkan dengan KLT dan terbatas jika dibandingkan dengan
kromatografi kolom konvensional.
KLT Preparatif adalah suatu pemisahan komponen kimia berdasarkan
prinsip partisi dan adsorpsi secara selektif karena adanya perbedaan daya
serap terhadap adsorben dan kelarutan komponen kimia terhadap cairan
pengelusi. Dibandingkan dengan metode pemisahan lainnya KLTP
memiliki metode pemisahan senyawa dalam jumlah yang tidak banyak,

cara penotolan sepanjang garis batas bawah tanpa merusak adsorben, cara
visualisasi yang dipakai nondekstruktif, pengumpulan komponen yang
terpisah dengan cara di keruk lalu dianalisis dengan pelarut mudah
menguap dan kepolaran rendah, dikerjakan secara cepat untuk mencegah
terjadinya kerusakan pada komponen yang terpisah, dan biayanya paling
murah dan peralatannya sederhana.
Setelah sampel di isolasi menggunakan tiga metode tersebut
kemudian diidentifikasi dengan menggunakan metode Kromatografi lapis
tipis (KLT) dan tampakan noda yang timbul pada lempeng dilihat pada
lampu UV 254 nm.
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu metode analisis yang
digunakan untuk memisahkan suatu campuran senyawa secara terpisah,
cepat dan sederhana.Prinsip dari metode KLT itu sendiri yaitu adsorpsi dan
partisi. Dimana, prinsip adsorpsinya terjadi pada saat sampel ekstrak kental
ditotolkan pada lempeng KLT yang mengandung silika gel, sedangkan
untuk prinsip partisi atau pemisahannya terjadi ketika proses elusi yang
terjadi menyebabkan terpisahnya bercak sampel ekstrak kental yang
ditotolkan pada lempeng sehingga menimbulkan berbagai noda.
Metode kromatografi lapis tipis dilakukan dengan cara pemeriksaan
dibawah lampu UV 254 nm. Penampakan noda pada lampu Pada UV 254
nm, lempeng akan berflouresensi sedangkan sampel akan tampak berwarna
gelap karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan indikator
fluoresensi yang terdapat pada lempeng. Fluoresensi cahaya yang tampak
merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika
elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang
lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan
energi.
Perbandingan kecepatan dari pelarut (permukaan pelarut) dengan
jarak

yang ditempuh oleh senyawa terlarut merupakan dasar untuk

mengidentifikasi komponen-komponen yang terdapat dalam ekstrak. Eluen


dibuat dari beberapa macam variasi yang diharapkan dapat menampakkan

semua noda yang ada dalam sampel.Eluen yang digunakan merupakan


kombinasi dari beberapa macam pelarut (yakni n-heksan, etilasetat, dan
metanol), hal ini dimaksudkan untuk mencapai semua tingkat kepolaran
sehingga diharapkan eluen ini dapat mengangkat noda dengan tingkat
kepolaran yang berbeda-beda pula.Selain itu, dari perbandingan eluen yang
dibuat ini dapat diketahiu apakah ekstrak daun pepaya (Caricca papaya)
merupakan senyawa yang larut dalam polar, semipolar ataukah nonpolar.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan melihat nilai Rf dari tiap
metode pemisahan disimpulkan bahwa daun pepaya (Caricca papaya)
merupakan senyawa nonpolar karena nilai Rf yang diperoleh semakin
besar.
Adapun faktor-faktor kesalahan yang menyebabkan hasil yang
diperoleh tidak akurat atau tidak baik selama praktikum ini dikarenakan
kurangnya pemahaman mengenai penggunaan alat, kesalahan dalam
preparasi sampel, tidak terelusi dengan baik sehingga noda yang dihasilkan
kurang baik dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satupersatu
karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki.

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, dapat disimpulkan
bahwa :
Daun alpukat (Persea americana Mill) dapat diekstraksi dengan
metode maserasi dan setelah diidentifikasi menggunakan metode KLT,
senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak daun alpukat merupakan
senyawa yang bersifat polar, sedangkan setelah diidentifikasi menggunakan
pereaksi-pereaksi kimia, senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak daun
alpukat adalah flavonoid.

V.2 SARAN
Diharapkan pada praktikan untuk lebih teliti dan berhati-hati dalam
melakukan setiap percobaan yang akan dilakukan. Agar diperoleh hasil yang
benar-benar baik.

BAB III
METODOLOGI KERJA
III.1 Waktu Dan Tempat
Waktu

: Pukul 13.30 WITA s/d selesai

Tempat : Laboratorium Fitokimia Lanjutan FMIPA UNTAD


III.2 Alat Dan Bahan
a. Percobaan I
- Alat ,
1. Corong Pisah

- Bahan
1. Ekstrak

kental
2. Timbangan analitik
3. Batang pengaduk
4. Cawan porselin
5. Gelas Kimia
6. Gelas Ukur
7. Mangkok
8. Sendok tanduk
9. Kipas angin
b. Percobaan II
- Alat
1. Lampu UV 254 nm

- Bahan
1. Ekstrak

kental
2. Timbangan analitik
3. Batang pengaduk
4. Gelas ukur

2. n-heksan
3. etilasetat
4. Lempeng

KLT

2. Aquadest
3. n-heksan
4. etilasetat

5. Gelas Kimia

5. Kertas

saring
6. Sendok tanduk
7. Pipa kapiler
8. Mistar
9. Pensil
c. Percobaan III
- Alat ,
1. Kolom Konvensional

6. Metanol

- Bahan
1. Ekstrak
kental

2.
3.
4.
5.
6.

Timbangan analitik
Batang pengaduk
Erlenmeyer
Gelas Kimia
Gelas Ukur

2. Metanol
3. n-heksan
4. etilasetat
5. Silika gel
6. Kertas
saring

7. Vial

7. Lempeng
KLT

8. Sendok tanduk
9. Kipas angina
10. Corong
11. Tabung Reaksi + rak tabung
12. Lampu UV 254 nm
13. Pipa kapiler
14. Chamber
15. Mistar
16. Pensil
d. Percobaan IV
- Alat ,
1. Pompa vakum
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Timbangan analitik
Batang pengaduk
Cawan porselin
Gelas Kimia
Gelas Ukur
Erlenmeyer

- Bahan
1. Ekstrak nheksan
2. Eter
3. n-heksan
4. Etilasetat
5. Metanol
6. Silika gel
7. Lempeng
KLT

8. Sendok tanduk

8. Kertas
saring

9. Corong Buchner
10. Selang
11. Lampu UV 254 nm

12. Mistar
13. Pensil
14. Chamber
e. Percobaan V
- Alat ,
1. Sentrifus
2. Timbangan analitik
3. Batang pengaduk
4. Pipet mikro
5. Gelas Kimia
kaca (20x20 cm)
6. Gelas Ukur
7. Sendok tanduk
8. Mistar
9. Pensil
10. Kater
11. Lampu UV 254 nm
12. Erlenmeyer

- Bahan
1. Fraksi 4
2. Metanol p.a
3. n-heksan
4. etilasetat
5. Lempeng KLT
6. Aluminium foil
7. Silika gel

III.3 Prosedur Kerja


a. Percobaan I
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Di timbang 1 g ekstrak kental
3. Dimasukkan dalam Erlenmeyer lalu ditambahkan 30 ml aquadest
kemudian dimasukkan dalam corong pisah
4. Ditambahkan 30 ml n-heksan ke dalam corong pisah
5. Di kocok seksama campuran selama 5 menit dengan sekali-kali
membuka sumbat. Didiamkan beberapa menit sehingga terbentuk 2
lapisan.
6. Lapisan bawah dipisahkan dengan lapisan atas. Diamati!
7. Lapisan larut n-heksan ditampung, lapisan air dimasukkan kembali
ke dalam corong pisah.
8. Ditambahkan 30 ml n-heksan ke dalam corong pisah, lalu di kocok,
lalu didiamkan hingga terbentuk 2 lapisan. Lapisan larut n-heksan
ditampung kembali, lapisan air dimasukkan kedalam corong pisah
untuk dipartisi ketiga kalinya.
9. Lapisan air dimasukkan lagi ke corong pisah, lalu ditambahkan 30
ml etilasetat lalu kocok, didiamkan hingga terbentuk dua lapisan.
Lapisan larut etilasetat di tamping.
10. Di partisi dengan etilasetat, dilakukan kembali dua kali.

11. Ekstrak n-heksan dan etilasetat di uapkan hingga kering lalu di


timbang.
b. Percobaan II
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibuat perbandingan eluen n-heksan:etilasetat (5:1, 3:1, 1:1, dan 5:1)
3. Di jenuhkan chamber, kemudian dilarutkan ekstrak n-heksan dan
ekstrak etilasetat dengan methanol
4. Dimasukkan ke dalam chamber dan dibiarkan terelusi
5. Diamati pada lampu UV dengan panjang gelombang 254 nm
6. Dihitung nilai Rf
c.Percobaan III
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dimasukkan kertas saring kedalam kolom konvensional
3. Ditimbang silika gel sebanyak 5,18 g dan ekstrak methanol sebanyak
0,052 g
4. Dimasukkan ke dalam kolom konvensional pertama fase diam
kemudian ekstraknya kemudian dimasukkan kertas saring ke
dalamnya
5. Ditambahkan fase gerak (eluen) dengan urutan n-heksan; nheksan:etilasetat (20:1, 15:1, 10:1, 5:1, 3:1, 1:1), etil asetat,
etilasetat:methanol (1:1), dan metanol sebanyak 10 ml
6. Hasil fraksinasi di tamping pada vial sebanyal 5 ml kemudian
diuapkan
7. Diidentifikasi menggunakan metode KLT dan dihitung nilai Rf
d. Percobaan IV
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Fase diam berupa silica gel dimasukkan ke dalam kolom kemudian
dihisap dengan pompa vakum hingga mampat
3. Setelah mampat, cairan pengelusi pertama

yakni

n-heksan

dimasukkan ke dalam kolom lalu dihisap untuk memastikan cairan


dapat melalui fase diam
4. Sampel disiapkan dengan

cara;

sampel

(ekstrak

n-heksan)

ditambahkan sedikit pelarut eter lalu ditambahkan fase diam (serbuk


silika) hingga terbentuk serbuk sampel
5. Serbuk sampel dimasukkan ke bagian atas fase diam, lalu di tutup
dengan kertas saring

6. Ditambahkan eluen atau cairan pengelusi dengan urutan n-heksan, nheksan:etilasetat (25:1, 20:1, 15:1, 10:1, 5:1, 3:1, 1:1), etil asetat,
etilasetat:methanol (1:1), dan metanol sebanyak 50 ml
7. Kemudian pompa vakum dijalankan hingga eluen turun mengelusi
komponen kimia
8. Eluen yang keluar ditampung sebagai fraksi-fraksi pada gelas kimia
9. Diidentifikasi menggunakan metode KLt dan dihitung nilai Rf
e.Percobaan V
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibuat lempeng kaca KLT ukuran 20x20 cm kemudian dibuat batas
atas dan batas bawah
3. Sampel (fraksi 4) ditotol secara horizontal memanjang pada bagian
bawah lempeng.
4. Lempeng lalu dikembangkan pada chamber dengan fase gerak nheksan:etilasetat (1:1)
5. Setelah pengembangan, bercak senyawa yang diinginkan dikeruk
dari lempeng
6. Serbuk fase diam dari lempeng dilarutkan dengan pelarut methanol,
lalu disentrifus
7. Cairan supernatan yang diperoleh merupakan isolate, lalu dipantau
dengan KLT
8. Dihitung nilai Rf

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Praktikum


a. Percobaan I
No.

Hasil Ekstraksi

Bobot Ekstrak

Persentase Ekstrak

(Perlakuan)

(gram)

(%)

1.

Metanol

2.

n-heksan

0,50

50

3.

etilasetat

0,37

37

b. Percobaan II
No.

Penampakan Noda Lampu UV 254 nm

Nilai Rf

1.

n-heksan:etilasetat
(5:1)

- n-heksan:
Rf1 = 0,06
Rf2 = 0,11
Rf3 = 0,21
Rf4 = 0,26
Rf5 = 0,45

- etilasetat:
-

2.

n-heksan:etilasetat
(3:1)

- n-heksan:
Rf1 = 0,34
Rf2 = 0,54
Rf3 = 0,73

- etilasetat:
Rf1 = 0,049

3.

n-heksan:etilasetat
(1:1)

- n-heksan:
Rf1 = 0,18
Rf2 = 0,83
Rf3 = 1,13
Rf4 = 0,09

- etilasetat:
Rf1 = 0,13

4.

n-heksan:etilasetat

- n-heksan:

- etilasetat:

Rf1 = 0,11

Rf1 = 0,22
Rf2 = 0,44
Rf3 = 0,78

(1:5)

c. Percobaan III
No.

1.

Gambar Ekstrak Eluen n-heksan:etilasetat (1:1)


Tampak VisualUV 254 nm Semprot H2SO4
10%
10%

Ekstrak

Nilai Rf

Ekstrak

Rf1 = 0,15

metanol

Rf2 = 0,4
Rf3 = 0,76
Rf4 = 0,97

2.

Vial ke-4

3.

Vial ke-8

Rf1 = 0,97
Rf1 = 0,81
Rf2 = 0,96

4.

Vial ke-12

Rf1 = 0,96

5.

Vial ke-16

Rf1 = 0,96

6.

Vial ke-20

Rf1 = 0,96

d. Percobaan IV
.

Gambar Noda

No.

Fraksi

1.

2.

II

3.

III

Tampak Visual

Lampu UV 254 nm Nilai Rf

4.

IV

5.

6.

VI

7.

VII

e. Percobaan V
No.

1.

Perlakuan

Gambar

Keterangan

2.

IV. 2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini semua percobaan dilakukan hingga tahap
isolasi kemudian mengidentifikasi noda yang tampak menggunakan metode
KLT dengan melihat nilai Rf nya dapat diketahui bahwa senyawa dari
ekstrak kental jambu biji (Psidium guajava) termasuk senyawa yang larut
polar, semipolar ataupun nonpolar.
Pengolahan sampel yang pertama dilakukan adalah mengekstraksi
tanaman jambu biji (Psidium guajava) dengan menggunakan metode
maserasi kemudian di rotavapor untuk memisahkan senyawa dengan
pelarutnya.Selanjutnya dipartisi cair-cair menggunakan metode corong
pisah dengan pelarut n-heksan dan etilasetat sehingga didapatkan ekstrak nheksan dan ekstrak stilasetat.
Setelah tahap diatas selesai dilakukan dan sampelnya telah diuapkan
maka, tahap selanjutnya adalah dengan mengisolasi sampel dengan
menggunakan berbagai metode diantaranya isolasi dengan metode kolom
konvensional (KK), kromatografi vakum cair (KVC), dan KLT Preparatif.
Dari ketiga metode tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan
Kolom konvensional adalah suatu pemisahan yang dilakukan dalam
suatu kolom yang diisi dengan fase diam dan fase gerak berupa cairan
(pereaksi) untuk mengetahui banyaknya komponen.

Kromatografi vakum cair adalah suatu pemisahan yang dilakukan


untuk golongan senyawa metabolit sekunder secara kasar dengan
menggunakan

silika

gel sebagai absorben dan berbagai perbandingan

pelarut yang menggunakan pompa vakum untuk memudahkan penarikan


eluen. Memiliki aliran fase gerak lebih cepat, pengerjaannya sederhana dan
cuplikan yang dipisahkan lebih banyak.Sedangkan kelemahannya adalah
sampel yang digunakan banyak jika dibandingkan dengan KLT dan terbatas
jika dibandingkan dengan kromatografi kolom konvensional.
KLT Preparatif adalah suatu pemisahan komponen kimia berdasarkan
prinsip partisi dan adsorpsi secara selektif karena adanya perbedaan daya
serap terhadap adsorben dan kelarutan komponen kimia terhadap cairan
pengelusi. Dibandingkan dengan metode pemisahan lainnya KLTP
memiliki metode pemisahan senyawa dalam jumlah yang tidak banyak,
cara penotolan sepanjang garis batas bawah tanpa merusak adsorben, cara
visualisasi yang dipakai nondekstruktif, pengumpulan komponen yang
terpisah dengan cara di keruk lalu dianalisis dengan pelarut mudah
menguap dan kepolaran rendah, dikerjakan secara cepat untuk mencegah
terjadinya kerusakan pada komponen yang terpisah, dan biayanya paling
murah dan peralatannya sederhana.
Setelah sampel di isolasi menggunakan tiga metode tersebut
kemudian diidentifikasi dengan menggunakan metode Kromatografi lapis
tipis (KLT) dan tampakan noda yang timbul pada lempeng dilihat pada
lampu UV 254 nm.
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu metode analisis yang
digunakan untuk memisahkan suatu campuran senyawa secara terpisah,
cepat dan sederhana.Prinsip dari metode KLT itu sendiri yaitu adsorpsi dan
partisi. Dimana, prinsip adsorpsinya terjadi pada saat sampel ekstrak kental
ditotolkan pada lempeng KLT yang mengandung silika gel, sedangkan
untuk prinsip partisi atau pemisahannya terjadi ketika proses elusi yang
terjadi menyebabkan terpisahnya bercak sampel ekstrak kental yang
ditotolkan pada lempeng sehingga menimbulkan berbagai noda.

Metode kromatografi lapis tipis dilakukan dengan cara pemeriksaan


dibawah lampu UV 254 nm. Penampakan noda pada lampu Pada UV 254
nm, lempeng akan berflouresensi sedangkan sampel akan tampak berwarna
gelap karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan indikator
fluoresensi yang terdapat pada lempeng. Fluoresensi cahaya yang tampak
merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika
elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang
lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan
energi.
Perbandingan kecepatan dari pelarut (permukaan pelarut) dengan
jarak

yang ditempuh oleh senyawa terlarut merupakan dasar untuk

mengidentifikasi komponen-komponen yang terdapat dalam ekstrak. Eluen


dibuat dari beberapa macam variasi yang diharapkan dapat menampakkan
semua noda yang ada dalam sampel.Eluen yang digunakan merupakan
kombinasi dari beberapa macam pelarut (yakni n-heksan, etilasetat, dan
metanol), hal ini dimaksudkan untuk mencapai semua tingkat kepolaran
sehingga diharapkan eluen ini dapat mengangkat noda dengan tingkat
kepolaran yang berbeda-beda pula.Selain itu, dari perbandingan eluen yang
dibuat ini dapat diketahiu apakah ekstrak jambu biji (Psidium guajava)
merupakan senyawa yang larut dalam polar, semipolar ataukah nonpolar.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan melihat nilai Rf dari tiap
metode pemisahan disimpulkan bahwa daun jambu biji (Psidium guajava)
merupakan senyawa nonpolar karena nilai Rf yang diperoleh semakin
besar.
Adapun faktor-faktor kesalahan yang menyebabkan hasil yang
diperoleh tidak akurat atau tidak baik selama praktikum ini dikarenakan
kurangnya pemahaman mengenai penggunaan alat, kesalahan dalam
preparasi sampel, tidak terelusi dengan baik sehingga noda yang dihasilkan
kurang baik dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satupersatu
karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki.

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa
1. Terdapat 3 cara isolasi sampel yaitu dengan mengguankan metode kolom
konvensional (KK), Kromatografi vakum cair (KVC), dan KLT Preparatif

2. Dari hasil pemisahan yang diperoleh dengan melihat nilai Rfnya


didaptkan bahwa daun jambu biji (Psidium guajava) merupakan senyawa
nonpolar karena nilai Rf yang diperoleh semakin besar.
V.2 Saran
Sebaiknya selama praktikum Asisten selalu berada disamping praktikan
untuk lebih memperhatikan dan membimbing serta mengarahkan semua
metode yang akan dilakukan dalam setiap percobaan karena hal ini sangat
membantu dalam memperlancar dan memahami percobaan yang dilakukan.
Untuk para praktikan lebih tertiblah mengikuti aturan praktikum agar tidak
terjadi kesalahpahaman yang akan memperburuk jalannya praktikum.