Anda di halaman 1dari 15

Referat

Pertusis

Disusun Oleh :
Putu Aryuda Bagus Hanggara

Dokter Pembimbing
Dr. Murfariza Herlina, Sp.A

Kepanitraan Klinik Senior


SMF Ilmu Kesehatan Anak
RSUD Embung Fatimah Batam
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu
melimpahkan rahmat, anugrah, dan karunianya sehingga saya bisa menyelesaikan
referat ini dengang baik dan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Saya
mengucapkan terima kasih kepada dr. Murfariza Herlina, Sp.A selaku
pembimbing di SMF Ilmu Penyakit Anak RSUD Embung Fatimah Batam.
Saya menyadari bahwa penulisan referat saya masih kurang sempurna.
Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para
pembaca agar kedepannya saya dapat memperbaiki dan menyempurnakan tulisan
saya.
Saya Berharap agar referat yang saya tulis ini berguna bagi semua orang
dan dapat digunakan sebaik-baiknya sebagai sumber informasi. Atas perhatiannya
saya ucapkan terimakasih

Batam,

Desember 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................

DAFTAR ISI ...................................................................................................

ii

BAB 1 PENDAHULUAN ..............................................................................

1.1. Latar Belakang .....................................................................................

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................

2.1. Definisi Pertusis ...................................................................................


2.2. Angka Kejadian Kasus .........................................................................
2.3. Etiologi .................................................................................................
2.4. Patogenesis ...........................................................................................
2.5. Gejala Klinis .........................................................................................
2.6. Diagnosis ..............................................................................................
2.7. Penatalaksanaan ...................................................................................
2.8. Komplikasi ...........................................................................................
2.9. Pencegahan ...........................................................................................
2.10. Prognosis ..............................................................................................

2
2
3
4
5
6
7
9
9
10

BAB III KESIMPULAN ................................................................................

11

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

12

ii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pertusis atau batuk rejan atau batuk 100 hari merupakan salah satu
penyakit menular saluran pernapasan yang sudah diketahui adanya sejak tahun
1500-an. Penyebab tersering dari pertusis adalah bakteri gram (-) Bordetella
pertussis.1
Pertusis dapat diderita oleh orang dari semua kelompok usia, namun
insidensi pertusis banyak didapatkan pada bayi dan anak kurang dari 5 tahun.
Insidensi terutama terjadi pada bayi atau anak yang belum diimunisasi.1
Dahulu pertusis adalah penyakit yang sangat epidemik karena menyerang
bukan hanya negara-negara berkembang namun juga beberapa bagian dari negara
maju. Namun setelah digalakkannya vaksinasi untuk pertusis, angka kematian
dapat ditekan, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
pertusis diharapkan tidak ditemukan lagi, meskipun ada kasusnya namun tidak
signifikan.1,2
Menurut salah satu lembaga penelitian kesehatan dunia Communicable
Disease Control (CDC) 2010 Annual Morbidity Report mengatakan bahwa
insiden pertusis meningkat setiap 3 sampai 5 tahun sekali. Pada 2010 peningkatan
kembali terjadi, seperti di Los Angeles terjadi peningkatan kasus sejak 50 tahun
terakhir yaitu 972 kasus saat ini (696 diagnosa pasti, 276 suspect) dengan angka
kejadian 9.91 kasus per 100.000 jiwa. Sedangkan di California angka kejadian
pertusis yaitu 23,3 kasus per 100.000 jiwa.3
Dengan mendiagnosa secara dini kasus pertusis, dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, manifestasi klinis, foto roentgen, dan pemeriksaan penunjang
lainnya, diharapkan para klinisi mampu memberikan penanganan yang tepat dan
cepat sehingga derajat penyakit pertusis tidak menimbulkan komplikasi yang
lebih lanjut.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Pertusis
Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh Bordetella
pertusis.4 Pertusis atau batuk rejan disebut juga whooping cough, tussis quinta,
violent cough, dan di Cina disebut batuk seratus hari. Sydenham yang pertama
kali menggunakan istilah pertussis atau batuk kuat pada tahun 1670. Pertusis
dikenal sebagai batuk rejan (whooping cough) karena kebanyakan individu yang
terinfeksi berteriak saat batuk.1 Pertusis merupakan penyakit infeksi saluran nafas
akut yang dapat menyerang setiap orang, namun rentan terjadi pada anak yang
belum diimunisasi atau orang dewasa dengan kekebalan yang menurun.5

2.2. Angka Kejadian Kasus


Pertusis adalah penyakit endemik dengan siklus endemik setiap 3-4 tahun.6
Selama masa pra-vaksin tahun 1922-1948, pertusis adalah penyebab utama
kematian dari penyakit menular pada anak di bawah usia 14 tahun di Amerika
Serikat.1
Menurut salah satu lembaga penelitian kesehatan dunia Communicable
Disease Control (CDC) 2010 Annual Morbidity Report mengatakan bahwa
insiden pertusis meningkat setiap 3 sampai 5 tahun sekali. Pada 2010 peningkatan
kembali terjadi, seperti di Los Angeles terjadi peningkatan kasus sejak 50 tahun
terakhir yaitu 972 kasus saat ini (696 diagnosa pasti, 276 suspect) dengan angka
kejadian 9.91 kasus per 100.000 jiwa. Sedangkan di California angka kejadian
pertusis yaitu 23,3 kasus per 100.000 jiwa.3
Di

Indonesia

angka

kejadian

pertusis

jarang

ditemukan

berkat

terselenggaranya program Imunisasi Nasional dimana lebih dari 87% anak di


Indonesia sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Begitu dianggap
pentingnya pemberian kekebalan pada anak-anak sehingga imunisasi standar
diberikan secara gratis di Puskesmas. BCG untuk menangkal TBC, DPT untuk
menangkal Dipteri Pertusis (batuk) dan Tetanus, lalu vaksin Polio, Campak dan
Hepatitis D. Program imunisasi ini diperkuat oleh program imunisasi gratis di

sekolah-sekolah, yaitu vaksinasi Dipteri Tetanus untuk siswa kelas I SD dan


vaksinasi TT untuk siswa kelas II dan III SD. Program ini merupakan perwujudan
Pasal 10 UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, dimana upaya kesehatan juga
dilakukan lewat pencegahan penyakit.6

2.3. Etiologi
Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Haemoephilus pertusis,
adenovirus tipe 1, 2, 3, dan 5 dapat ditemukan dalam traktus respiratorius, traktus
gastrointestinalis dan traktus urinarius. Bordotella pertusis ini mengakibatkan
suatu bronchitis akut, khususnya pada bayi dan anakanak kecil yang ditandai
dengan batuk paroksismal berulang dan stridor inspiratori memanjang batuk
rejan.1,3
Bordetellah pertusis suatu cocobasilus gram negatif aerob minotil kecil
dan tidak membentuk spora dengan pertumbuhan yang sangat rumit dan tidak
bergerak. Bisa didapatkan dengan swab pada daerah nasofaring penderita pertusis
dan kemudian ditanam pada agar media Bordet Gengou.1,5 B.pertussis
menghasilkan beberapa bahan aktif secara biologis, banyak sarinya dimaksudkan
untuk memainkan peran dalam penyakit dan imunitas. Ada enam spesies dari
Bordetella yaitu B. parapertussis, B. bronchiseptica, B. avium, B. hinzii, B.
holmesii, dan B. trematum. B. pertusis dan B. parapertussis adalah dua patogen
yang paling umum ditemukan pada manusia.7
Cara penularan ialah kontak dengan dengan penderita pertussis. Imunisasi
sangat mengurangi angka kejadian dan kematian yang disebabkan pertussis.
Tingkat infeksi pertussis menurun drastis setelah vaksin pertusis mulai digunakan
secara luas, dan terendah sepanjang kasus yang dilaporkan di Amerika Serikat
pada tahun 1976.5 Oleh karena itu di negara maju imunisasi merupakan prosedur
rutin untuk mencegah dan menurunkan angka kejadian dari berbagai macam
penyakit.
Antibodi dari ibu (transplasental) selama kehamilan tidaklah cukup untuk
mencegah bayi baru lahir kebal terhadap pertussis. Pertussis yang berat pada
neonatus dapat ditemukan dari ibu dengan gejala pertussis ringan. Kematian
sangat menurun setelah diketahui bahwa dengan pengobatan eritromicyn dapat

menurunkan tingkat penularan pertussis karena biakan nasofaring akan negatif


setelah 5 hari pengobatan. Tanpa reinfeksi alamiah dengan B.pertussis atau
vaksinasi booster berulang, anak yang lebih tua dan orang dewasa lebih rentan
terhadap penyakit ini jika terpajan.1

2.4. Patogenesis
Bordetella pertusis ditularkan melalui sekresi udara pernapasan kemudian
melekat pada silia epitel saluran pernapasan. Mekanisme patogenesis infeksi oleh
Bordetella pertusis terjadi melalui empat tingkatan yaitu perlekatan, perlawanan
terhadap mekanisme pertahanan pejamu, kerusakan lokal dan akhirnya timbul
penyakit sistemik.1
Filamentous Hemaglutinin (FHA), Lymphosithosis Promoting Factor
(LPF)/ Pertusis Toxin (PT) dan protein 69-Kd berperan pada perlekatan
Bordetella pertusis pada silia. Setelah terjadi perlekatan, Bordetella pertussis
kemudian bermultiplikasi dan menyebar ke seluruh permukaan epitel saluran
napas. Proses ini tidak invasif oleh karena pada pertusis tidak terjadi bakteremia.
Selama pertumbuhan Bordetella pertusis, maka akan menghasilkan toksin yang
akan menyebabkan penyakit yang dikenal dengan whooping cough.1,9
Toksin terpenting yang dapat menyebabkan penyakit disebabkan karena
pertusis toxin. Toksin pertusis mempunyai 2 sub unit yaitu A dan B. Toksin sub
unit B selanjutnya berikatan dengan reseptor sel target kemudian menghasilkan
subunit A yang aktif pada daerah aktivasi enzim membrane sel. Efek LPF
menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke daerah infeksi.1,9
Toxin mediated adenosine diphosphate (ADP) mempunyai efek mengatur
sintesis protein dalam membrane sitoplasma, berakibat terjadi perubahan fungsi
fisiologis dari sel target termasuk limfosit (menjadi lemah dan mati),
meningkatkan pengeluaran histamine dan serotonin, efek memblokir beta
adrenergic dan meningkatkan aktifitas insulin, sehingga akan menurunkan
konsentrasi gula darah.1,9
Toksin menyebabkan peradangan ringan dengan hyperplasia jaringan
limfoid peribronkial dan meningkatkan jumlah lendir pada permukaan silia, maka
fungsi silia sebagai pembersih terganggu, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder

(tersering oleh Streptococcus pneumonia, H. influenzae dan Staphylococcus


aureus). Penumpukan lendir akan menimbulkan plak yang dapat menyebabkan
obstruksi dan kolaps paru.1,9
Hipoksemia dan sianosis disebabkan oleh gangguan perukaran oksigenasi
pada saat ventilasi dan timbulnya apnea saat terserang batuk. Terdapat perbedaan
pendapat mengenai kerusakan susunan saraf pusat, apakah akibat pengaruh
langsung toksin ataukah sekunder sebagai akibat anoksia.1
Terjadi perubahan fungsi sel yang reversible, pemulihan tampak apabila
sel mengalami regenerasi, hal ini dapat menerangkan mengapa kurangnya efek
antibiotik terhadap proses penyakit. Namun terkadang Bordetella pertusis hanya
menyebabkan infeksi yang ringan, karena tidak menghasilkan toksin pertusis.1
2.5. Gejala Klinis
Pertusis yang berat terjadi pada bayi muda yang belum pernah di
imunisasi. Setelah masa inkubasi 7-10 hari, anak timbul demam, biasanya disertai
batuk dan keluar cairan hidung yang sulit dibedakan dengan batuk pilek biasa.
Pada minggu ke-2, timbul batuk paroksismal yang dapat dikenal sebagai pertusis.
Batuk dapat berlanjut sampai 3 bulan atau lebih. Anak akan infesius selama 2
minggu sampai 3 bulan setelah gejala terjadi.10
Pertusis dibagi dalam 3 stadium yaitu :4
1. Stadium Kataralis
Berlangsung Selama 1-2 minggu, ditandai dengan adanya batuk-batuk
ringan, terutama pada malam hari, pilek, serak, anoreksia, dan demam ringan.
Stadium ini menyerupai influenza.
2. Stadium Paroksismal
Berlangsung selama 2-4 minggu. Batuk semakin berat sehingga pasien
gelisah dengan muka merah dan sianostik. Batuk terjadi parosismal berupa
batuk-batuk khas. Serangan batuk panjang dan tidak ada inspirasi di antaranya
dan diakhiri dengan whoop (tarikan nafas panjang, dalam, dan berbunyi
melengking). Sering diakhiri dengan muntah disertai sputum kental. Terkadang
disertai berak atau terkencing-kencing akibat tekanan saat batuk. Dapat terjadi
perdarahan subkonjungtiva dan epitaksis. Pasien tampak berkeringat,
pembuluh darah leher terlihat dan muka lebar.
5

3. Stadium Konvalesensi
Berlangsung selama 2 minggu. Jumlah dan beratnya serangan batuk
berkurang, muntah berkurang, dan nafsu makan kembali baik.

2.6. Diagnosis
Curiga pertusis jika anak batuk lebih dari 2 minggu, terutama jika penyakit
diketahui terjadi lokal. Tanda-tanda diagnostik yang paling berguna :10

Batuk paroksismal diikuti suara whoop saat inspirasi, sering disertai


muntah.

Perdarahan subkonjungtiva.

Anak tidak atau belum lengkap diimunisasi terhadap pertusis.

Bayi muda mungkin tidak disertai whoop, akan tetapi batuk yang diikuti
oleh berhentinya nafas atau sianosis, atau nafas berhenti tanpa batuk.

Periksa anak untuk tanda pneumonia atau tanyakan tentang kejang.

Pemeriksaan laboratorium :

Bakteri B.Pertusis ditemukan dengan melakukan swab pada daerah


nasofaring dan ditanam pada media agar Bordet-Gengou. Biakan positif
pada stadium kataral 95-100%, stadium paroksismal 94% pada minggu ke3 dan menurun sampai 20% untuk waktu berikutnya.1,3

Pada pemeriksaan darah didapatkan leukositosis 20,000-50,000/UI dengan


limfositosis absolute khas pada akhir stadium kataral dan selama stadium
paroksismal. Pada bayi jumlah leukosit tidak menolong untuk diagnosis
oleh karena respon limfositosis juga terjadi pada infeksi lain.1,3

Tes serologi berguna pada stadium lanjut penyakit dan untuk menetukan
adanya infeksi pada individu dengan biakan. IgG toksin pertusis
merupakan tes yang paling sensitive dan spesifik untuk mengetahui infeksi
dan tidak tampak setelah pertussis.10,12

Pemeriksaan radiologi :

Pada pemeriksaan foto toraks dapat memperlihatkan infiltrat perihiler,


atelektasis atau emfisema.

2.7. Penatalaksanaan
Tujuan umum :

Membatasi jumlah paroksismal.

Mengamati keparahan batuk.

memaksimalkan nutrisi, istirahat, dan penyembuhan tanpa sekuele.

Tujuan rawat inap :

menilai kemajuan penyakit dan kemungkinan kejadian yang mengancam jiwa


pada puncak penyakit.

mencegah atau mengobati komplikasi.

mendidik orang tua pada riwayat alamiah penyakit dan pada perawatan yang
akan diberikan di rumah.

Tatalaksana :10
Kasus ringan pada anak-anak umur 6 bulan dilakukan secara rawat
jalan dengan perawatan panjang. Umur < 6 bulan dirawat dirumah sakit.
Demikian juga pada anak dengan pneumonia, kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti
nafas lama, atau kebiruan setelah batuk.
Antibiotik :

Beri eritromisin oral (12.5 mg/kgBB/kali, 4 kali sehari) selama 10 hari atau
jenis makrolid lainnya. Hal ini tidak akan memperpendek lamanya sakit tetapi
akan menurunkan periode infeksius.

Oksigen :

Beri oksigen pada anak bila pernah terjadi sianosis atau berhenti napas atau
batuk paroksismal berat.

Gunakan nasal prongs, jangan kateter nasofaringeal atau kateter nasal, karena
akan memicu batuk. Selalu upayakan agar lubang hidung bersih dari mukus
agar tidak menghambat aliran oksigen.

Terapi oksigen dilanjutkan sampai gejala yang disebutkan di atas tidak ada
lagi.

Perawat memeriksa sedikitnya setiap 3 jam, bahwa nasal prongs berada pada
posisi yang benar dan tidak tertutup oleh mukus dan bahwa semua
sambungan aman.

Tatalaksana jalan napas :

Selama batuk paroksismal, letakkan anak dengan posisi kepala lebih rendah
dalam posisi telungkup, atau miring, untuk mencegah aspirasi muntahan dan
membantu pengeluaran sekret.

Bila anak mengalami episode sianotik, isap lendir dari hidung dan
tenggorokan dengan lembut dan hati-hati.

Bila apnu, segera bersihkan jalan napas, beri bantuan pernapasan manual atau
dengan pompa ventilasi dan berikan oksigen.

Perawatan penunjang :

Hindarkan sejauh mungkin segala tindakan yang dapat merangsang terjadinya


batuk, seperti pemakaian alat isap lendir, pemeriksaan tenggorokan dan
penggunaan NGT.

Jangan memberi penekan batuk, obat sedatif, mukolitik atau antihistamin.

Obat antitusif dapat diberikan bila batuk amat sangat mengganggu.

Jika anak demam ( 39 C) yang dianggap dapat menyebabkan distres,


berikan parasetamol.

Beri ASI atau cairan per oral. Jika anak tidak bisa minum, pasang pipa
nasogastrik dan berikan makanan cair porsi kecil tetapi sering untuk
memenuhi kebutuhan harian anak. Jika terdapat distres pernapasan, berikan
cairan rumatan IV untuk menghindari risiko terjadinya aspirasi dan
mengurangi rangsang batuk. Berikan nutrisi yang adekuat dengan pemberian
makanan porsi kecil dan sering. Jika penurunan berat badan terus terjadi, beri
makanan melalui NGT.

Pemantauan :
Anak harus dinilai oleh perawat setiap 3 jam dan oleh dokter sekali sehari.
Agar dapat dilakukan observasi deteksi dan terapi dini terhadap serangan apnu,
serangan sianotik, atau episode batuk yang berat, anak harus ditempatkan pada
tempat tidur yang dekat dengan perawat dan dekat dengan oksigen. Juga ajarkan
orang

tua

untuk

mengenali

tanda

memanggil perawat bila ini terjadi.

serangan

apnu

dan

segera

2.8.Komplikasi 10
1.

Pneumonia
Merupakan komplikasi tersering dari pertusis yang disebabkan oleh infeksi
sekunder bakteri atau akibat aspirasi muntahan.

2.

Kejang
Hal ini bisa disebabkan oleh anoksia sehubungan dengan serangan apnu atau
sianotik, atau ensefalopati akibat pelepasan toksin.

3.

Gizi kurang
Anak dengan pertusis dapat mengalami gizi kurang yang disebabkan oleh
berkurangnya asupan makanan dan sering muntah.

4.

Perdarahan
Perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis sering terjadi pada pertusis. Tidak
ada terapi khusus.

5.

hernia
Hernia umbilikalis atau inguinalis dapat terjadi akibat batuk yang kuat. Tidak
perlu dilakukan tindakan khusus kecuali terjadi obstruksi saluran pencernaan,
tetapi rujuk anak untuk evaluasi bedah setelah fase akut.

2.9. Pencegahan
Tindakan kesehatan masyarakat:10

Beri imunisasi DPT pada pasien pertusis dan setiap anak dalam keluarga yang
imunisasinya belum lengkap.

Beri DPT ulang untuk anak yang sebelumnya telah diimunisasi.

Beri eritromisin suksinat (12.5 mg/kgBB/kali 4 kali sehari) selama 14 hari


untuk setiap bayi yang berusia di bawah 6 bulan yang disertai demam atau
tanda lain dari infeksi saluran pernapasan dalam keluarga.
Orang-orang yang kontak dengan penderita pertussis yang belum

mendapat imunisasi sebelumnya, diberikan eritromisin selama 14 hari sesudah


kontak diputuskan. Jika kontak tidak dapat diputuskan, eritromisin diberikan
sampai batuk penderita berhenti atau mendapat eritromisin selama 7 hari. Vaksin
pertussis monovalen dan eritromisin diberikan pada waktu terjadi epidemi.1,11

2.10. Prognosis
Tergantung ada tidaknya komplikasi terutama komplikasi paru dan saraf
pada bayi dan anak kecil.

10

BAB III
KESIMPULAN
1.

Pertusis dikenal sebagai batuk rejan (whooping cough) karena kebanyakan


individu yang terinfeksi berteriak saat batuk.1

2. Insiden pertusis banyak didapatkan pada bayi dan anak kurang dari 5 tahun.
Insidensi terutama terjadi pada bayi atau anak yang belum diimunisasi.1
3. Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Haemoephilus pertusis,
adenovirus tipe 1, 2, 3, dan 5 dapat ditemukan dalam traktus respiratorius,
traktus gastrointestinalis dan traktus urinarius.
4. Bordetella pertusis ditularkan melalui sekresi udara pernapasan kemudian
melekat pada silia epitel saluran pernapasan.
5. Gejala klinis yang khas pada pertusis yaitu batuk paroksismal yg diikuti
dengan whoop, muntah, sianosis atau apnu, bisa dengan atau tanpa demam,
belum imunisasi DPT atau imunisasi DPT tidak lengkap, perdarahan
subkonjungtiva, klinis bisa baik diantara episode batuk. Curiga pertusis jika
anak batuk lebih dari 2 minggu, terutama jika penyakit diketahui terjadi local.
6. Kasus ringan pada anak-anak umur 6 bulan dilakukan secara rawat jalan
dengan perawatan panjang. Umur < 6 bulan dirawat dirumah sakit. Demikian
juga pada anak dengan pneumonia, kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti nafas
lama, atau kebiruan setelah batuk.
7. Pencegahan penyebaran dan penularan dilakukan dengan imunisasi atau
vaksinasi. Beri imunisasi DPT pada pasien pertusis dan setiap anak dalam
keluarga yang imunisasinya belum lengkap

11

DAFTAR PUSTAKA
1. S. Long, Sarah. 2005. Pertusis. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol II. Jakarta :
EGC.
2. Cherry JD. 2005. Comparison of the epidemiology of the disease pertussis with
the epidemiology of Bordetella pertussis infection. Pediatrics : Diakses 30
Desember 2011 dari, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15867059.
3. Turner, B, Lewis, NE. 2010. Annnual Morbidity Report of Pertusis. Journal of
Communicable Disease Control. Diakeses pada 3 Desember 2013 dari
http://www.cdc.gov/mmwr/mmwr_nd/index.html.
4. Mansjoer Arif, Suprohaita dkk. 2009. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III
(jilid2). Jakarta: Media Aesculpius FKUI .
5. Black S. (1997). Epidemiology of pertussis. Pediatr Infect Dis J. Diakses 23
Desember 2011 dari, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9109162
6. Anonim. 2011. Imunisasi Murah dan Efektif Imunisasi Melindungi Anak
Indonesia dari Wabah, Kematian atau Kecacatan. Jakarta: Pusat Komunikasi
Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 3
Desember 2013 dari www.depkes.go.id.
7. Farizo KM. 1992. Epidemiological features of pertussis in the United States,
1980-1989. Clin Infect Dis ; 14(3):708-19. Diakses 23 Desember 2011 dari,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1562663.
8. Garna, Harry. Pertusis. Azhali M.S, dkk. (1993). Ilmu Kesehatan Anak Penyakit
Infeksi Tropik. Bandung, Indonesia : FK Unpad : 80-86.
9. Hewlett EL. 2005. Bordetella species. In: Principles and Practice of Infectious
Diseases, 6th ed. Mandell GL, Bennett JE dkk . Philadelphia. Diakses pada 4
desember dari, http://www.health.nsw.gov.au .
10. Tim Adaptasi Indonesia. 2009. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.
Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota.
Jakarta : WHO Indonesia. Diakses pada 4 desember dari
http://www.ichrc.org/47-pertusis
11. Staf pengajar I.K.Anak FKUI. 2005. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta, Indonesia. FKUI, 1997. Jilid 2. h: 564-566.

12