Anda di halaman 1dari 2

Nama : I G.A.A.

Surya Cinitya Ardanari


Absen : 21
PENGUNGKAPAN DAN TRANSPARANSI PENGENDALIAN INTERNAL
1. Kebijakan Pengungkapan
Peraturan OECD ke-5 menyebutkan 6 sub-bagian mengenai pengungkapan dan transparansi,
yaitu: informasi material yang harus diungkapkan; informasi harus disajikan dan diungkapkan sesuai
dengan standar kualitas akuntansi yang berkualitas tinggi dan pengungkapan keuangan dan nonkeuangan; audit tahunan harus dilakukan oleh auditor independen, kompeten dan berkualitas dalam
rangka memberikan jaminan eksternal dan obyektif kepada pengurus dan pemegang saham bahwa
laporan keuangan cukup mewakili posisi keuangan dan kinerja perusahaan dalam semua hal yang
material; auditor eksternal harus bertanggung jawab kepada pemegang saham dan berkewajiban
kepada perusahaan untuk melakukan kerja profesional dalam melakukan audit; media penyebaran
informasi harus memberikan akses informasi yang relevan bagi pengguna secara sama (equal), tepat
waktu, dan biaya yang efisien; serta kerangka tata kelola perusahaan harus mengarah dan mendorong
terciptanya ketentuan mengenai analisa atau saran dari analis, pedagang perantara efek, pemeringkat
dan pihak lainnya yang relevan dengan keputusan investor, tidak mengandung benturan kepentingan
yang material yang mungkin mempengaruhi integritas analisa atau saran yang diberikan.
2. Prinsip Comply Or Explain Terhadap CG Kode
Pelaksanaan Pedoman Umum GCG oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia baik perusahaan
terbuka maupun perusahaan tertutup pada dasarnya bersifat Comply or Explain. Dimana perusahaan
diharapkan menerapkan seluruh aspek Pedoman GCG yang ada. Namun, apabila perusahaan belum
secara penuh melaksanaan Pedoman GCG tersebut, maka perusahaan harus mengungkapkan aspekaspek yang belum dilaksanakan tersebut beserta alasannya dalam laporan tahunan.
3. Informasi Minimal yang Perlu Diungkapkan
Sub pertama dari prinsip kelima menerangkan bahwa keterbukaan harus meliputi, namun tidak
terbatas pada, informasi material atas: keuangan dan hasil operasi perusahaan; tujuan perusahaan;
kepemilikan saham mayoritas dan hak suara; kebijakan renumerasi untuk dewan komisaris dan
direksi, dan informasi tentang anggota dewan komisaris, termasuk kualifikasi, proses seleksi,
perangkapan jabatan dan independensinya; transaksi dengan pihak terkait (afiliasi); faktor-faktor
risiko yang dapat diperkirakan; hal-hal penting berkaitan dengan karyawan dan para pemangku
kepentingan (steakholder) lainnya; serta struktur dan kebijakan tata kelola khususnya berkaitan
dengan isi dari pedoman atau kebijakan tata kelola perusahaan dan penerapannya.
4. Pemanfaatan Saluran Komunikasi Yang Adil, Tepat Waktu, Dan Mudah Diakses Oleh
Pengguna Informasi
Media penyebaran informasi merupakan hal penting dalam informasi itu sendiri. Internet dan
teknologi informasi lainnya juga memberi peluang untuk penyebaran informasi yang lebih baik.

5. Peran Pengendalian Internal dan Manajemen Risiko Dalam Mengurangi Konflik


Keagenan dan Penegakan GCG
Sebenarnya konflik keagenan dapat diminimkan dengan beberapa cara, salah satunya adalah
dengan penerapan Good Corporate Governance (GCG). Implementasi dari GCG meliputi sistem
pengendalian internal, pengelolaan resiko, dan etika bisnis yang dituangkan dalam pedoman perilaku
perusahaan. Pemegang saham memiliki wewenang dalam mengontrol GCG dalam perusahaannya
dengan cara melalukan pengendalian internal. Manajemen resiko atau pengelolaan resiko adalah suatu
pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman
dalam hal ini menyakut tentang ancaman yang mungkin terjadi akibat adanya konflik keagenan.
Sasaran dari pelaksanaan manajemen resiko adalah untuk mengurangi kemungkinan resiko yang
timbul. Apabila sistem pengendalian internal dan pengelolaan resiko telah berjalan dengan baik, akan
dipastikan GCG perusahaan juga baik, GCG yang baik diyakini mampumengurangi adanya konflik
keagenan.
6. Peran

Akuntan

Dalam

Memastikan

Terlaksananya

Prinsip

Pengungkapan

dan

Transparansi
Keterlibatan Akuntan professional dalam hal ini diatur dalam sub prinsip ke-3 dan ke-4 dalam
OECD bagian ke-5 mengenai keterbukaan dan transparansi, yaitu: audit tahunan harus dilakukan oleh
auditor yang independen, kompeten dan memenuhi kualifikasi, dalam rangka menyediakan jaminan/
kepastian eksternal dan objective kepada pengurus dan pemegang saham bahwa laporan keuangan
perusahaan menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan kinerja
perusahaan; dan auditor eksternal harus bertanggung jawab kepada pemegang saham

dan

melaksanakan tugasnya terhadap perusahaan dengan menjaga/secara profesional selama melakukan


audit.
Pertanyaan: Konflik keagenan adalah konflik kepentingan yang terjadi antara prinsipal dan agen.
Bagaimana peranan pengungkapan yang dilakukan dalam mengatasi konflik keagenan yang terjadi
dalam perusahaan?

Referensi
Organization for Economic Cooperation and Development (2004) OECD Principles of Corporate
Governance.
http://www.academia.edu/9512764/OECD_Principle_Kelima_Pengungkapan_dan_Transparansi,
diakses tanggal 2 Desember 2014.
http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/publikasi_pm/kajian_pm/studi2010/PEDOMAN_GCG_DI_NEGARA_ANGGOTA_ACMF.pdf, diakses tanggl 2 Desember
2014.