Anda di halaman 1dari 29

1.

PENDAHULUAN
1.1.Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan agar praktikan memahami prinsip dan cara pengukuran tegangan
permukaan zat cair, menentukan koefisien tegangan permukaan zat cair, dan mempelajari
pengaruh konsentrasi dan suhu terhadap tegangan permukaan.

1.2.Tinjauan Pustaka
Permukaan zat cair berperilaku seakan-akan mengalami tegangan, dan tegangan ini yang bekerja
sejajar dengan permukaan, muncul dari gaya tarik antar molekul. Efek ini disebut sebagai
tegangan permukaan. Suatu besaran didefinisikan sebagai gaya F per satuan panjang L yang
bekerja melintasi semua garis pada permukaan, dengan kecenderungan menarik permukaan agar
tertutup. Rumus tegangan permukaan adalah sebagai berikut : = F/L (Giancoli, 2001).
Keterangan :

= koefisien tegangan muka (N/m)

= panjang permukaan (m)

= gaya (N)

Tegangan permukaan menyebabkan tetes-tetes cairan cenderung berbentuk bola. Ketika tetesan
itu

terbentuk,

tegangan

permukaan

menarik

permukannya

bersama-sama,

dengan

meminimumkan luas permukaan dan membuat tetesan itu berbentuk bola (Tipler,1998). Agar
permukaan cairan naik, diperlukan gaya dan usaha untuk membawa molekul dari dalam ke
permukaan. Usaha ini menaikan energi potensial molekul dan kadangkala disebut sebagai energi
permukaan. Semakin besar luas permukaan, semakin besar energi permukaan. Jumlah usaha
yang diperlukan untuk menaikkan luas permukaan dapat dihitung dari :
W = F . x
= . L . x
= . A
(Halliday & Resnick, 1984)
1

Dengan x adalah perubahan jarak dan A (= x . L) adalah kenaikan luas total. Dengan
demikian tegangan permukaan tidak hanya sama dengan gaya per satuan panjang; tetapi juga
sama dengan usaha yang dilakukan per satuan kenaikan luas permukaan. Karena itu dapat
dispesifikasi dalam N/m atau J/m2. Jadi dapat dituliskan : = W/ A (Giancolli, 2001).

Tegangan Permukaan terjadi akibat perbedaan tarik-menarik timbal-balik antar molekul-molekul


zat cair dekat permukaan dan molekul-molekul yang terletak agak lebih jauh dari permukaan
dalam massa zat cair yang sama. Diperlukan kerja untuk membawa molekul-molekul ke
permukaan dan energi untuk membentuk sebuah permukaan yang bebas. (Reuben M.Olson &
Steven J.Wright, 1990).

Fluida adalah suatu zat yang bentuknya dapat berubah secara kontinu akibat gaya geser. Dalam
fluida yang bersifat kontinum dapat dijumpai 3 macam gaya yaitu :

Gaya permukaan, misalnya tekanan, tegangan geser, yang bekerja pada titik pada permukaan.

Gaya badan, yang bekerja pada setiap titik dalam fluida tersebut ; sebagai contoh dapat
disebutkan gaya elektrostatik, gaya elektromagnetik, gaya Lorentz, gaya sentrifugal, dan
gaya coriolis.

Tegangan permukaan, yang hanya bekerja pada permukaan (yaitu bidang pertemuan antara
dua macam atau lebih zat atau fasa) (Harijono,1983).

Fluida adalah zat cair atau zat yang dapat mengalir termasuk cairan maupun gas. Bila fluida
dalam keadaan diam mempunyai sebuah permukaan yang bebas. Maka tekanan pada permukaan
sama dengan tekanan atmosfer. Dinamika fluida ini terbatas pada aliran fluida yang bersifat :
Tunak (steady)
Aliran fluida yang kecepatan tiap partikel fluida pada suatu titik tertentu adalah tetap baik
besar maupun arahnya.
Tak rotasional
Aliran fluida yang pada tiap elemen fluida tidak memiliki momentum sudut terhadap titik
tersebut.

Tak kompresibel (tak termapatkan)


Aliran fluida yang tidak berubah rapat massanya ketika mengalir.
Tak kental (non viskos)
(Furoidah, 1994).
Sebuah jarum dapat dibuat "terapung" di permukaan air jika ditempatkan secara hati hati. Gaya
gaya yang menopang jarum itu bukan gaya apung, tetapi disebabkan karena tegangan
permukaaan. Di bagian dalam cairan, sebuah molekul dikelilingi di semua sisinya oleh molekul
molekul lain tetapi, di permukaannya, tidak ada molekul di atas molekul molekul permukaan.
Jika sebuah molekul permukaan sedikit dinaikkan, ikatan molekuler antara molekul ini dan
molekul tetangga diregangkan, dan ada gaya pemulih yang berusaha menarik molekul itu
kembali ke permukaan.(Tipler,1998).

Tabel besar tegangan muka dari berbagai bahan :


Bahan

Suhu (C)

Tegangan Permukaan (N/m)

Air Raksa

20

0,4355

Darah, keseluruhan

37

0,058

Darah, plasma

37

0,073

Ethyl-alkohol / Etanol

20

0,0227

Acetone

20

0,0237

Mercury

20

0,456

Air

0,0756

20

0.,0727

37

0,0700

50

0,0679

100

0,0589

Benzena

20

0,0289

Larutan Sabun

20

0,025

Minyak Zaitun

20

0,0320

Gliserin

20

0,0631

Oksigen

-183

0,0132

Helium

-270

0,000239

Neon

-247

0,00515

Hidrogen

-255

0,00231

Carbon tetrachloride

20

0,0268

Khloroetana

20

0,020

Jaringan Tubuh

37

0,050

3410

2,5

Tungsten
(Cromer, et al., 1994)

Jika suatu zat cair berada dalam keadaan diam beda tekanan antara dua titik hanya bergantung
pada beda ketinggian tempat dan rapat massa. Jadi jika tekanan pada suatu titik dalam fluida
ditambah maka tekanan pada semua titik akan mendapat tambahan yang sama, asal rapat massa
tidak berubah. Prinsip Pascal : tekanan yang dilakukan di dalam zat cair yang tertutup diteruskan
ke setiap bagian dari zat cair dan di dinding tempat fluida tanpa mengalami perubahan harga.
Prinsip Archimedes: setiap benda yang terendam seluruhnya atau sebagian didalam fluida
mendapat gaya apung berarah ke atas yang besarnya adalah sama dengan berat fluida yang
dipindahkan oleh benda itu. Hukum Archimedes : jika suatu benda berada di dalam fluida yang
diam, setiap bagian permukaan benda mendapat tekanan yang dilakukan fluida (Soetrisno, 1984).

Berdasarkan hukum Archimedes, apabila massa jenis suatu benda lebih besar daripada massa
jenis zat cair maka benda itu akan tenggelam bila ditaruh di atas air. Namun tidak bila kita
melakukan percobaan pada lempeng besi yang tipis padahal massa jenis besi lebih besar daripada
massa jenis air. Karena ternyata ada gaya yang menompang lempeng besi yang sangat tipis
tersebut yakni gaya tegangan permukaan (Krane, 2004).

Tegangan permukaan mempunyai beberapa efek, salah satunya adalah efek histeresis yaitu
kolom zat cair yang turun berhenti di tempat yang berbeda dari tempat berhenti apabila kolom
zat cair yang sama bergerak naik.(Reuben M.Olson & Steven J.Wright, 1990).

Tegangan permukaan menyebabkan perbedaan tekanan antara bagian dalam dan bagian luar
gelembung sabun atau tetesan air. Gelembung sabun terdiri atas dua selaput dengan permukaan
berbentuk bola, dengan lapisan cairan tipis diantaranya. Akibat tegangan permukaan, selaput
cenderung melakukan kontraksi , berusaha untuk memperkecil luas permukaanya. Tetapi saat
gelembung berkontraksi, udara di dalamnya akan tertekan, akhirnya menaikkan tekanan bagian
dalam sampai tidak terjadi kontraksi lagi. (Young & Freedman,2000).

Molekul-molekul cairan memberikan gaya tarik satu dengan lainnya; terdapat gaya total yang
besarnya nol pada molekul di dalam volume cairan, tetapi molekul permukaan ditarik ke dalam
volume sehingga cairan cenderung memperkecil luas permukaanya, hanya dengan meregang
lapisan. Tetesan air hujan yang jatuh bebas berbentuk bola karena bentuk bola memiliki luas
permukaan yang lebih kecil untuk volume tertentu dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang
lain. Dalam mempertahankan peluncur benda pada kesetimbangan memerlukan gaya ke bawah
total F = w + T. Dalam kesetimbangan, F sama dengan gaya tegangan permukaaan yang
diberikan lapisan sabun pada peluncur. Tegangan permukaan (surface tension) dalam lapisan
didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya tegangan permukaan F dengan panjang d dimana
gaya bekerja : = F/d atau = F/2ls (Young & Freedman,2000).
Energi per satuan luas permukaan ini disebut koefisien tegangan permukaan, dan diberi notasi .
tegangan permukaan mempunyai dimensi energi per satuan luas atau gaya per satuan panjang.
Dalam hal ini gaya boleh dianggap bekerja dalam arah normal terhadap suatu gaya yang ditarik
pada bidang antarmuka dan dalam bidang antarmuka itu. (Reuben M.Olson & Steven J.Wright,
1990).

Molekul di dalam zat cair berada dalam kesetimbangan karena gaya molekul lain yang bekerja
ke semua arah. Molekul di permukaan normal juga dalam kesetimbangan (zat cair tersebut
diam). Hal ini benar adanya walaupun gaya pada molekul di permukaan dapat diberikan hanya
oleh molekul-molekul di bawahnya (atau di sampingnya). Dengan demikian ada gaya tarik total
ke bawah yang cenderung menekan lapisan permukaan sedikit tetapi hanya sampai batas di mana
gaya ke bawah ini juga diimbangi oleh gaya (tolak) ke atas yang disebabkan oleh kontak yang

dekat / tumbukan dengan molekul-molekul di bawahnya. Penekanan permukaan ini berarti


bahwa zat cair meminimalkan luas permukaannya (Giancioli, 2001).

Benda yang dicelupkan ke dalam fluida dengan w adalah berat efektif benda yaitu berat
sesungguhnya dikurangi dengan gaya apung. Jika bentuk benda berupa bola, tegangan
permukaan bekerja pada semua titik di sekitar lingkaran horizontal dengan jari-jari R. Hanya
komponen vertikal cos yang bekerja untuk menyeimbangkan w. Dengan menetapkan panjang
L sama dengan keliling lingkaran ( L = 2 R ) sehingga gaya ke atas netto yang diakibatkan oleh
tegangan permukaan adalah :
F = ( cos ). L
F = 2 R cos
(Halliday & Resnick,1984)

Tegangan permukaan adalah gaya per satuan panjang. Satuannya dalam SI adalah newton per
meter (N/m), tetapi satuan cgs, dyne per centimerter (dyn/cm). Nilai terendah dari y terjadi
dalam cairan gas mulia neon dan helium, di mana gaya tarik menarik antara atom-atomnya
sangat lemah. (Young & Freedman,2000).

Umunya tegangan permukaan fluida mengalami penururnan saat terjadi kenaikan suhu dan
berhuibungan dengan energi gerak molekul dalam bahan. Saart suhu bertambah dan molekul
cairan bergerak lebih cepat, pengaruh interaksi antar molekul akan berkurang pada gerakannya
dan tegangan permukaan akan berkurang. (Young & Freedman,2000).
Berikut merupakan tabel tegangan permukaan zat cair pada berbagai suhu :
Suhu

Tegangan permukaan

(C)

N/m = dyne / cm

N/ m

75,6

0,0756

10

74,2

0,0742

20

72,8

0,0728

30

71,2

0,0712

40

69,6

0,0696

60

66,2

0,0662

80

62,6

0,0626

100

58,9

0,0589

(Daugherly et al, 1985).

Nilai untuk air 0,073 N/m. Tegangan permukaanlah yang menyebabkan tetes-tetes cairan
cenderung berbentuk bola. Ketika tetesan itu terbentuk, tegangan permukaan menarik
permukaannya bersama-sama, dengan meminimalkan luas permukaan dan membuat tetesan itu
berbentuk bola (Lea Prasetio, 1988).Karena adanya tegangan permukaan, serangga dapat
berjalan di atas air, dan benda yang mempunyai kerapatan lebih tinggi daripada air seperti
misalnya jarum baja, sungguh- sungguh dapat mengapung pada permukaan ( Giancoli, 1996 ).

Selaput sabun sangatlah tipis, akan tetapi bila dibandingkan dengan ukuran molekul yang sangat
tebal. Jadi selaput ini dapat dianggap terdiri dari zat cair setebal beberapa molekul, dan dibatasi
oleh dua permukaan. Jika selaput sabun diregangkan, maka luas selaput akan bertambah,
molekul-molekul yang mula-mula berada didalam bergerak keluar, membentuk permukaan baru.
Jadi berbeda dengan karet, yang bila ditarik jarak antara molekul menjadi bertambah besar, di
sini selaput bertambah luas karena terbentuk permukaan baru . Karena selaput air sabun
mempunyai dua permukaan, maka panjang total dari permukaan adalah 2L , sehingga dalam hal
ini :
=

F
2L

Jadi tegangan permukaan tidak lain adalah kerja yang dilakukan untuk menambah luas
permukaan sebesar satu satuan luas (Halliday & Resnick,1984).

Molekul-molekul zat cair mempunyai daya tarik yang sama ke segala jurusan satu terhadap
lainnya, tetapi di permukaan yang berbatasan dengan udara daya tarik ke atas dan ke bawah tidak
sama / tidak seimbang. Permukaan cairan berada dalam keadaan seolah-olah berupa satu
permukaan elastis yang mendapat tegangan. Tegangan permukaan di sini sama di setiap titik dari
permukaan dan bekerja pada bidang yang tegak lurus pada setiap garis di permukaan cairan
(Soedradjat, 1981).

Tegangan pada permukaan cairan tidak dipengaruhi oleh bentuk lengkungan dari permukaan.
Besar tegangan permukaan tetap untuk suhu tertentu dalam suatu permukaan yang memisahkan
antara dua jenis zat. Tegangan permukaan berbanding terbalik dengan suhu. Apabila suhu
meningkat maka tegangan permukaan akan menurun (Soedradjat, 1981).
Tegangan permukaan berperan mengahalangi pertumbuhan gelembung-gelembung gas kecil
dalam zat cair ketuika dilewatkan melalui daerah bertekanan rendah. Dalam dunia rekayasa,
gaya-gaya yang ditimbulkan oleh tegangan permukaan umunya lebih kecil dibanding gaya-gaya
akibat gravitasi, viskositas, dan tekanan.(Young & Freedman,2000).

Metode cincin merupakan salah satu metode pengukuran koefisien tegang muka zat cair dengan
menggunakan cincin logam. Pengukuran dilakukan dengan cara mencelupkan cincin ke dalam
cairan yang akan diukur. Bila x adalah perbedaan tinggi cairan sebelum dan sesudah diangkat,
sehingga luas permukaan bagian dalam dan bagian luar akan berubah sebesar :
A = 2 . R . 2 x
(Resnick, et al., 2004)
Untuk penambahan luas selaput, diperlukan energi sebesar :
E = . A = . 4 . R . x
(Resnick, et al., 2004)

Saat cincin logam terangkat sejauh x, mengangkat cincin membutuhkan gaya sebesar :
F = E
x
(Resnick, et al., 2004)
Jika gaya ini telah terpenuhi, lapisan zat cair akan pecah. Maka koefisien tegang muka zat cair
adalah :
=

F
4R

Keterangan :
x

= perbedaan tinggi cairan sebelum dan sesudah diangkat (m)

= jari-jari cincin logam (m)

= perubahan luas permukaan bagian dalam dan bagian luar (m2)

= energi untuk menambah luas selaput (Joule)

= koefisien tegangan muka (N/m)

(Resnick,et al.,2004)

Emulsifier membantu terbentuknya emulsi dengan 3 jalan, yaitu :


1. Penurunan tegangan antar muka ( stabilisasi termodinamika ).
2. Terbentuknya film antar muka yang kaku (pelindung mekanik terhadap koalesen).
3. Terbentuknya lapisan ganda listrik, merupakan pelindung listrik dari pertikel. (Cahyadi, 2008).

Manfaat emulsifier pangan dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan utama, yaitu:
1. Untuk mengurangi tegangan permukaan antara minyak dan air, yang mendorong pembentukan
emulsi dan pembentukan keseimbangan fase antara minyak, air, dan pengemulsi pada permukaan
yang memantapkan antara emulsi.

10

2. Untuk sedikit mengubah sifat-sifat tekstur teknologi produk pangan dengan pembentukan senyawa
kompleks dengan komponen-komponen pati dan protein.
3. Untuk memperbaiki tekstur produk pangan yang bahan utamanya lemak dengan mengendalikan
polimorf lemak (Cahyadi, 2008).

Beberapa teori tentang pembentukan emulsi yaitu :


Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension)
Teori ini menjelaskan bahwa emulsi terjadi bila ditambahkan suatu substansi yang menurunkan
tegangan antar muka diantara 2 cairan yang tidak bercampur.
Permukaan (surfaktan) atau zat pembasah (emulgator) yang mampu menahan bersatunya
tetesan kecil menjadi tetesan besar dengan jalan mengurangi gaya tarik menarik antar molekul
masing-masing cairan, sehingga stabilitas emulsi tetap baik secara fisik maupun kimia.
Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge)
Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi karena adanya kelarutan selektif dari
bagian molekul emulsifier, ada bagian yang bersifat mudah larut dalam air (hidrofil) dan ada
bagian mudah larut dalam minyak (lifofil) .
Teori Film Plastik
Teori ini menjelaskan bahwa emulsifier mengendap pada permukan masing-masing butir
tetesan fase dispersi dalam bentuk film yang plastis. (Anief,1993)

2. MATERI DAN METODE


2.1.Materi
2.1.1. Bahan
Bahan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah air, larutan gula 10 %, dan larutan
gula 50 %.
2.1.2. Alat
Alat alat yang digunakan pada praktikum ini adalah cincin logam, neraca pegas, beaker glass,
benang, mistar, dan termometer.
2.2.Metode
Cincin logam diikat dengan benang pada empat sisi dan digantung pada neraca pegas. Kemudian
massa larutan yang digunakan adalah sebanyak 100 gram. Kemudian cincin logam diturunkan
perlahan-lahan hingga seluruh cincin tercelup ke dalam larutan. Setelah itu cincin diangkat
perlahan-lahan hingga selaput cairan tepat berpisah. Saat selaput cairan berpisah, ketinggian
permukaan zat cair (x) dan besar gaya ke atas yang memisahkan cincin dengan selaput (F)
dicatat. Langkah ini diulang dengan menggunakan tiga tingkat konsentrasi dan suhu yang
berbeda dan masing-masing diulang hingga lima kali pecobaan.

11

3. HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan tegangan permukaan pada zat cair dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Tegangan Permukaan pada Zat Cair


Suhu 30oC
No.

Zat cair

Air

Rata-rata

Larutan Gula
10%

Rata-rata

Larutan Gula
50%

Rata-rata

Suhu 60oC

x (cm)

F (N)

x (cm)

F (N)

0,5

0,4

0,4

0,5

0,7

0,6

0,8

0,7

0,6

0,5

0,6 0,16

0,54 0,05

2,5

0,5

2,5

1,3

2,5

0,6

2,5

2,5

0,8

2,5

1,2

2,5

0,7

2,5

0,8

2,5

0,6

2,5

1,06 0,19

2,5

0,64 0,11

2,5

1,5

1,4

1,7

1,6

1,5

1,3

1,5

1,3

1,36 0,23

1,6 0,26

* Diameter cincin 4,77 cm


Tabel hasil pengamatan di atas menunjukkan bahwa pada air dengan suhu 30oC perbedaan rata
rata tinggi cairan sesudah dan sebelum diangkat adalah sebesar 0,6 0,16 cm dan membutuhkan

12

13

gaya rata rata sebesar 0 N. Sedangkan pada suhu 60oC perbedaan rata rata tinggi cairan
sesudah dan sebelum diangkat adalah sebesar 0,54 0,05 cm dan membutuhkan gaya rata rata
sebesar 0 N.

Selain itu tabel hasil pengamatan di atas menunjukkan bahwa pada larutan gula 10% dengan
suhu 30oC perbedaan rata rata tinggi cairan sesudah dan sebelum diangkat adalah sebesar 1,06
0,19 cm dan membutuhkan gaya rata rata sebesar 2,5 N. Sedangkan pada suhu 60oC
perbedaan rata rata tinggi cairan sesudah dan sebelum diangkat adalah sebesar 0,64 0,11 cm
dan membutuhkan gaya rata rata sebesar 2,5 N.

Selain itu tabel hasil pengamatan di atas menunjukkan bahwa pada larutan gula 50% dengan
suhu 30oC perbedaan rata rata tinggi cairan sesudah dan sebelum diangkat adalah sebesar 1,36
0,23 cm dan membutuhkan gaya rata rata sebesar 3 N. Sedangkan pada suhu 60oC perbedaan
rata rata tinggi cairan sesudah dan sebelum diangkat adalah sebesar 1,6 0,26 cm dan
membutuhkan gaya rata rata sebesar 3 N.

4. PEMBAHASAN
Prinsip kerja dari tegangan permukaan zat cair sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh
Reuben M.Olson & Steven J.Wright, (1990), bahwa tegangan permukaan tersebut terjadi akibat
perbedaan tarik-menarik timbal-balik antar molekul-molekul zat cair dekat permukaan dan
molekul-molekul yang terletak agak lebih jauh dari permukaan dalam massa zat cair yang sama.
Dan untuk membawa molekul-molekul tersebut ke atas permukaan zat cair diperlukan suatu
gaya, begitu juga untuk membentuk sebuah permukaan yang bebas dibutuhkan energi dengan
besar tertentu. Besarnya energi yang dikeluarkan ini bergantung dari gaya yang dibutuhkan
untuk membawa molekul-molekul tersebut ke permukaan.

Tegangan permukaan ini dapat diukur dengan menggunakan salah satu metode yaitu metode
cincin. Dalam percobaan ini kita juga mengukur tegangan permukaan zat cair juga dengan
menggunakan metode cincin. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan sebuah cinicn logam.

Pengukuran dilakukan dengan cara mencelupkan cincin logam tersebut ke dalam cairan yang
akan diukur. Bila x adalah perbedaan tinggi cairan sebelum dan sesudah diangkat, sehingga
luas permukaan bagian dalam dan bagian luar akan berubah sebesar :
A = 2 . R . 2 x
Untuk penambahan luas selaput, diperlukan energi sebesar :
E = . A = . 4 . R . x
Saat cincin logam terangkat sejauh x, mengangkat cincin membutuhkan gaya sebesar :
F = E
x
Jika gaya ini telah terpenuhi, lapisan zat cair akan pecah. Maka koefisien tegang muka zat cair
adalah :
=

F
4R

14

15

Keterangan :
x

= perbedaan tinggi cairan sebelum dan sesudah diangkat (m)

= jari-jari cincin logam (m)

= perubahan luas permukaan bagian dalam dan bagian luar (m2)

= energi untuk menambah luas selaput (Joule)

= koefisien tegangan muka (N/m)

(Resnick,et al.,2004)

Percobaan untuk mengukur tegangan permukaan zat cair yang kita lakukan ini menggunakan 3
sampel zat cair. Dipilih 3 sampel zat cair yakni air, larutan gula 10%, dan larutan gula 50%.
Kemudian cincin logam tersebut dimasukkan masing-masing ke dalam 100 gram larutan-larutan
tersebut. Dari percobaan yang kita lakukan diperoleh suatu hasil sebagai berikut:

Sampel Air

Pada air dengan suhu 30oC, perbedaan rata rata tinggi cairan sesudah dan sebelum cincin
diangkat ( x) adalah sebesar 0,6 0,16 cm dan membutuhkan gaya rata rata (F) sebesar 0 N.
Sedangkan pada suhu 60oC, perbedaan rata rata tinggi cairan sesudah dan sebelum cincin
diangkat ( x) adalah sebesar 0,54 0,05 cm dan membutuhkan gaya rata rata (F) sebesar 0 N.

Sampel Larutan Gula 10%

Pada larutan gula 10% dengan suhu 30oC perbedaan rata rata tinggi cairan sesudah dan
sebelum diangkat ( x) adalah sebesar 1,06 0,19 cm dan membutuhkan gaya rata rata (F)
sebesar 2,5 N. Sedangkan pada suhu 60oC perbedaan rata rata tinggi cairan sesudah dan
sebelum diangkat ( x) adalah sebesar 0,64 0,11 cm dan membutuhkan gaya rata rata (F)
sebesar 2,5 N.

Sampel Larutan Gula 50%

16

Pada larutan gula 50% dengan suhu 30oC perbedaan rata rata tinggi cairan sesudah dan
sebelum diangkat ( x) adalah sebesar 1,36 0,23 cm dan membutuhkan gaya rata rata (F)
sebesar 3 N. Sedangkan pada suhu 60oC perbedaan rata rata tinggi cairan sesudah dan sebelum
diangkat ( x) adalah sebesar 1,6 0,26 cm dan membutuhkan gaya rata rata (F) sebesar 3 N.

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi zat cair yang
digunakan (semakin pekat) maka gaya yang dibutuhkan untuk memisahkan cincin dengan
selaput akan semakin besar pula, sehingga tegangan permukaan zat cair tersebut juga akan
bertambah besar. Hal ini sesuai dengan teori yang ditulis oleh Resnick, et al., (2004), bahwa
tegangan permukaan suatu zat cair dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
=

F
4R

Begitu pula dengan energy yang dibutuhkan untuk penambahan luas selaput, semakin tinggi
konsentrasi larutan yang digunakan maka semakin besar pula energy yang dibutuhkan. Hal
tersebut sesuai dengan teori . Resnick, et al., (2004), yang mengungkapkan bahwa besarnya
energi (E) sebanding dengan besarnya gaya (F) dan besar tegangan permukaan (). Dapat
dituliskan dalam rumus sebagai berikut:
F = E
x
E = . A = . 4 . R . x

17

Selain mengamati dari segi konsentrasi larutan yang digunakan, kita juga mengamati tegangan
permukaan suatu larutan dari segi suhu atau temperature larutan yang digunakan. Pada
percobaan air dan larutan gula 10% saat suhu 60oC, ketinggian cincin dari permukaan zat cair
(x) lebih rendah daripada ketinggian cincin dari permukaan zat cair (x) pada saat suhu 30oC.
Berdasarkan hasil percobaan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa semakin tinggi temperature
larutan yang digunakan maka tegangan permukaannya akan semakin kecil. Ini berarti nilai dari
tegangan permukaan berbanding terbalik dengan nilai dari suhu larutan yang digunakan. Hal ini
sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Young & Freedman (2000), yang menyatakan bahwa
pada umunya tegangan permukaan fluida mengalami penururnan saat terjadi kenaikan suhu.

Akan tetapi dalam percobaan larutan gula 50%, pada saat penambahan suhu menjadi 60oC,
ketinggian cincin dari permukaan zat cair (x) justru semakin besar tidak semakin kecil, hal ini
mungkin dikarenakan ketidaktelitian praktikan dalam melakukan percobaan. Misalnya saja
ketidaktepatan saat memberhentikan cincin logam ketika cincinn telah lepas dari selaputnya, atau
mungkin tangan pemegang cincin yang terus bergerak sehingga saat dilakukan pengukuran
cincin sudah tidak tepat pada posisi lepas dari selaput.

Prinsip kerja dari tegangan permukaan ini digunakan juga dalam bidang pangan. Misalnya
digunakan pada emulsifier yang bertujuan untuk membentuk emulsi. Berdasarkan teori yang
diungkapkan oleh Anief (1993), pembentukan emulsi dapat dibagi menjadi 3 teori, salah satunya
adalah teori tegangan permukaan atau surface tension. Teori ini menjelaskan bahwa emulsi
terjadi bila ditambahkan suatu substansi yang mampu menurunkan tegangan antar muka diantara
2 cairan yang tidak bercampur. Salah satu contohnya adalah penggunaan emulsifier pada susu
kedelai agar susu kedelai tersebut tidak cepat mengendap, yaitu dengan jalan membentuk emulsi.
Selain itu prinsip kerja penurunan tegangan permukaan pada emulsifier dapat digunakan juga
pada gelatin yang digunakan pada proses pembuatan es krim

Emulsifier membantu terbentuknya emulsi dengan 3 jalan, yaitu :


1. Penurunan tegangan antar muka ( stabilisasi termodinamika ).
2. Terbentuknya film antar muka yang kaku (pelindung mekanik terhadap koalesen).

18

3. Terbentuknya lapisan ganda listrik, merupakan pelindung listrik dari pertikel. (Cahyadi, 2008).

Manfaat emulsifier pangan dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan utama, yaitu:
1. Untuk mengurangi tegangan permukaan antara minyak dan air, yang mendorong pembentukan
emulsi dan pembentukan keseimbangan fase antara minyak, air, dan pengemulsi pada permukaan
yang memantapkan antara emulsi.
2. Untuk sedikit mengubah sifat-sifat tekstur teknologi produk pangan dengan pembentukan senyawa
kompleks dengan komponen-komponen pati dan protein.
3. Untuk memperbaiki tekstur produk pangan yang bahan utamanya lemak dengan mengendalikan
polimorf lemak (Cahyadi, 2008).

5. KESIMPULAN

Tegangan permukaan terjadi akibat perbedaan tarik-menarik timbal-balik antar molekulmolekul zat cair dekat permukaan dan molekul-molekul yang terletak agak lebih jauh dari
permukaan dalam massa zat cair yang sama.

Koefisien tegang muka zat cair dipengaruhi oleh besar gaya untuk mengangkat cincin logam
dan jari jari cincin logam

Makin besar konsentrasi suatu larutan maka tegangan permukaaannya makin besar.

Makin besar gaya tarik menarik antar molekul maka tegangan permukaannya makin besar.

Tegangan permukaan fluida mengalami penururnan saat terjadi kenaikan suhu.

Prinsip kerja tegangan permukaan digunakan pada emulsifier yang bertujuan untuk
membentuk emulsi yaitu dengan cara menurunkan tegangan permukaan dari kedua zat cair
yang tidak bisa menyatu.

Emulsifier ini biasa digunakan pada susu kedelai untuk mencegah terjadinya endapan dengan
cepat, dan juga biasa digunakan pada pembuatan es krim menggunakan gelatin.

Semarang, 7 November 2010


Praktikan,

Asisten Dosen,

Ivan Widjaja

10.70.0034

Emanuel Jeffry Senjaya

Lim, Wilhem P.G.

10.70.0054

Gregorius Advent Gilang

Koo, Francisca

10.70.0085

Chindya Paramitha D.

Theresia Itta

10.70.0112

Christina Vania Utami A.N.


Irayudi Lazuardi
Stephanie Purjan

19

6. DAFTAR PUSTAKA
Anief, M., 1993. Farmasetika, 163, 167, 161. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Cahyadi, W., 2008. Analisis & Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Bumi Aksara, Jakarta.

Cromer, A.H. (1994). Fisika untuk Ilmu-ilmu hayati, edisi kedua. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Daugherly, Robert L., et al. 1985. Fluid Mechanics with Engineering Applications. Canada.
Mcgraw Hill Book Company.
Furoidah, Inany, Dra. (1994). Fisika dasar I. PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Giancolli, Douglas C. 1996. Fisika Edisi Keempat Jilid 1. Jakarta. Erlangga.


Giancolli, Douglas C. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta. Erlangga.
Halliday, D. & Resnick. (1984). Fisika Edisi Ketiga Jilid I. Erlangga. Jakarta.
Harijono.1983.Mekanika Fluida.Erlangga.Jakarta.

Olson, Reuben M. & Wright, Steven J.(1990).Dasar-Dasar Mekanika Fluida Teknik Edisi
Kelima.Gramedia.Jakarta.
Resnick, R; D. Halliday ; & K.S. Krane. (2004). Physics Vol 1. John Willey & Sons, Inc. New
York.
Sastraatmadja, Ir. A. Soedradjat. 1981. Mekanika-Fluida Hidrolika. Bandung. Nova.
Soetrisno. (1984). Fisika dasar cetakan ketiga. Penerbit ITB. Bandung.

Tipler, P. (1998). Fisika Untuk Sains dan Teknik Edisi Kedua Jilid I. Erlangga. Jakarta.
Young & Freedman.(2000).Fisika Universitas Edisi Kesepuluh Jilid 1.Erlangga.Jakarta.

20

7. LAMPIRAN
7.1.Perhitungan
7.1.1. Perhitungan Energi ( E )
1. Air ( suhu 30oC)
_

0,5 0,4 0,7 0,8 0,6


0,6 cm
5

A = 4 r x
= 4x3,14x2,385x0,6
= 17,9734 cm2

F
4r

0
4 x3,14 x 2,385

= 0 N/cm

E = .A
E = 0 x 17,9734
= 0 NCm

21

22

2. Air ( suhu 60oC)


_

0,4 0,5 0,6 0,7 0,5


0,54 cm
5

A = 4 r x
= 4x3,14x2,385x0,54
= 16,18 cm2

F
4r

0
4 x3,14 x 2,385

= 0 N/cm

E = .A
E = 0 x 16,18
= 0 NCm

23

3. Larutan Gula 10% ( suhu 30oC)


_

1 1,3 1 1,2 0,
8 1,06 cm
5

A = 4 r x
= 4x3,14x2,385x1,06
= 31,75 cm2

F
4r

2,5
4 x3,14 x 2,385

= 0,083 N/cm

E = .A
E = 0,083 x 31,75
= 2,63525 NCm

24

4. Larutan Gula 10% ( suhu 60oC)


_

0,5 0,6 0,8 0,7 0,6


0,64 cm
5

A = 4 r x
= 4x3,14x2,385x0,64
= 19,17 cm2

F
4r

2,5
4 x3,14 x 2,385

= 0,083 N/cm

E = .A
E = 0,083 x 19,17
= 1,591 NCm

25

5. Larutan Gula 50 % ( suhu 30oC)


_

1,5 1,4 1,6 1,3 1


1,36 cm
5

A = 4 r x
= 4x3,14x2,385x1,36
= 40,74 cm2

F
4r

3
4 x3,14 x 2,385

= 0,1 N/cm

E = .A
E = 0,1 x 40,74
= 4,074 NCm

26

6. Larutan Gula 50 % ( suhu 60oC)


_

2 1,7 1,5 1,5 1,3


1,6 cm
5

A = 4 r x
= 4x3,14x2,385x1,6
= 47,93 cm2

F
4r

3
4 x3,14 x 2,385

= 0,1 N/cm

E = .A
E = 0,11 x 47,93
= 4,793 NCm

27

7.1.2. Perhitungan Standar Deviasi


1. Air pada suhu 30C

SD =

No.

x-x

(x-x)2

0,5

-0,1

0,01

0,4

-0,2

0,04

0,7

0,1

0,01

0,8

0,2

0,04

0,6

x = 0,6

=0

= 0,1

0,1
4

= 0,16

2. Air pada suhu 60C

SD =

No.

x-x

(x-x)2

0,4

-0,14

0,0196

0,5

-0,04

0,0016

0,6

0,06

0,0036

0,7

0,16

0,0256

0,5

-0,04

0,0016

x = 0,54

=0

= 0,0104

0,0104
4

= 0,05

28

3. Larutan gula 10% pada suhu 30C

SD =

No.

x-x

(x-x)2

- 0,06

0,0036

1,3

0,24

0,0576

-0,06

0,0036

1,2

0,14

0,0196

0,8

-0,26

0,0676

x = 1,06

=0

= 0,152

0,152
4

= 0,19

4. Larutan gula 10% pada suhu 60C

SD =

No.

x-x

(x-x)2

0,5

-0,14

0,0196

0,6

-0,04

0,0016

0,8

0,16

0,0256

0,7

0,06

0,0036

0,6

-0,04

0,0016

x = 0,64

=0

= 0,052

0,052
4

= 0,11

29

5. Larutan gula 50% pada suhu 30C

SD =

No.

x-x

(x-x)2

1,5

0,14

0,0196

1,4

0,04

0,0016

1,6

0,24

0,0576

1,3

-0,06

0,0036

-0,36

0,1296

x = 1,36

=0

= 0,212

0,212
4

= 0,23

6. Larutan gula 50% pada suhu 60C

SD =

No.

x-x

(x-x)2

0,4

0,16

1,7

0,1

0,01

1,5

-0,1

0,01

1,5

-0,1

0,01

1,3

-0,3

0,09

x = 1,6

=0

= 0,28

0,28
4

= 0,26

7.2.Laporan Sementara