Anda di halaman 1dari 29

GPR-01

PENDAHULUAN
Ground peneterating radar atau yang biasa disebut GPR/georadar adalah metode yang
memanfaatkan pulsa elekromagnetik yang dipancarkan ke dalam bumi dan direkam oleh
antena di permukaan. GPR dirancang untuk mendeteksi objek yang tersembunyi di
dalam tanah dan mengevaluasi kedalaman objek tersebut. GPR juga dapat digunakan
untuk mengetahui kondisi dan karakteristik di bawah permukaan bumi tanpa melakukan
pengeboran ataupun penggalian tanah.

Terdapat beberapa jenis aplikasi penggunaan GPR, diantaranya:


a.

b.

Pemetaan kondisi geologi


-

Kedalaman bedrock (batuan dasar)

Kedalaman water table

Kedalaman dan ketebalan lapisan dan statigrafi sedimen

Lokasi dari void dan patahan pada bedrock (batuan dasar)

Lokasi dari sebuah benda seperti, pipa, drum, tangki, kabel dan batuan yang
terkikis arus air (geoteknik)

c.

Pemetaan landfill (timbunan sampah) atau batasan dari parit

d.

Pemetaan pencemaran di bawah permukaan.

e.

Investigasi di bidang arkeologi

1.1 Dasar terori GPR


A. Persamaan dasar
Metode eksplorasi Ground Peneterating Radar menggunakan prinsip dari gelombang
elektromagnetik (EM). Dalam GPR dan EM, sifat kelistrikan dan kemagnetan dari
sebuah materi merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Tiga hal mendasar
yang dapat digambarkan sebagai berikut:

a.

Konduktivitas ( )
Konduktivitas menggambarkan banyaknya muatan bebas yang dapat mengalirkan
arus ketika berada dalam medan listrik.

b.

(1.1)

Permitivitas dielektrik ( )
Permitivitas dielektrik merupakan tingkat keterpengaruhan oleh medan listrik, jadi
batasan besarnya muatan yang dapat terpengaruh oleh medan listrik.

c.

(1.2)

Permeabilitas magnetik ( )
Permeabilitas magnet menggambarkan keadaan atom intrinsik dan momen
magnetik dari molekul ketika berada dalam medan magnet.

(1.3)

Pada GPR nilai , dan merupakan tensor yang terkadang nilainya tidak linier. Pada
kasus GPR nilai yang terukur terbebas dari kualitas, dengan kata lain nilai yang terukur
tergantung pada lapangan yang menjadi objek pengukuran dan terbebas dari dari
besaran yang dimiliki wilayah itu sendiri.

B. Sifat dasar gelombang dalam medan elektromagnetik


Pada dasarnya Gelombang Elektromagnetik (GEM) merupakan pasangan medan
listrik dan medan magnet sebagai fungsi waktu. Dengan menggunakan sifat vektor
digunakan curl pada persamaan (1) dan (2), sehingga dihasilkan persamaan (1.4) dan
(1.5). Dengan menggabungkan persamaan Maxwell tentang medan listrik dan medan
magnet diperoleh persamaan gelombang elektromagnetik.

E
2E
2 E

t
t 2

(1.4)

dan

H
2H
2 H

t
t 2

(1.5)

Berdasarkan persamaan (1.4) dan (1.5) di atas dapat diperoleh nilai perambatan dari
radar direpresentasikan dengan persamaan

2E
2 E 2
t

(1.6)

dengan f > 107 Hz dan 2 >> . (f-nya tersirat di parameter mana?


parameter E , medan listrik )
Nilai induksi dari gelombang radar direpresentasikan dengan persamaan

E
2 E
t

(1.7)

dengan f < 105 dan 2 << .


Medan listrik dalam persamaan gelombang.
Persamaan sinusoidal medan listrik;

E 0e it

(1.8)

Dan hasil curl dari persamaan (12) diperoleh persamaan gelombang untuk medan
listrik :

2E ( 2 i)E 0

Dengan nilai

(1.9)

k 2 i i

Kita tahu bahwa solusi dari persamaan (13) diperoleh persamaan gelombang:

E x z, t E0ei(kzt) E0ei(zt) ez

(1.10)

Pada kasus induksi nilai << , maka dipperoleh nilai

sedangkan

pada GPR karena prosesnya berupa perambatan, nilai >> agar tidak terjadi
pelemahan gelombang akibat medium yang dilalui.
Berdasarkan persamaan gelombang medan listrik di atas terdapat 2 konstanta dan ,
masing-masing konstanta tersebut memiliki peran dan pengaruh yang berbeda pada
perambatan gelombang. Nilai berkaitan dengan nilai cepat rambat gelombang, dari
persamaan kecepatan

, kita dapat peroleh kecepatan fungsi dari pemeabilitas dan

permitivitas dielektrik dengan memasukan harga

diperoleh

(kecepatan gelombang). Selain nilai kecepatan gelombang nilai berpengaruh pada


panjang gelombang,

, dengan memasukan nilai kita peroleh nilai panjang

gelombang sebagai fungsi cepat rampat gelombang

. sedangkan nilai berkaitan

, dapat digunakan untuk

dengan etenuansi rambatan gelombang. Nilai

mencari skin depth yakni kedalaman maksimal yang dapat terukur oleh radar.
Persamaan skin depth adalah

, maka dengan mengetahui nilai kita dapat

mengetahui besarnya skindepth.


C. Sifat dielektrik suatu bahan
Sifat dielektrik adalah kecenderungan suatu bahan untuk terpolarisasi ketika berada
dalam medan listrik. Bahan yang bersifat dielektrik pada awalnya merupakan bahan
yang tidak bermuatan namun ketika berada dalam medan magnet ia akan mengalami
polarisasi, jika digambarkan perilaku atom dalam bahan dielktrik seperti:
Tanpa medan listrik:

Gambar 1.1 Muatan pada atom tanpa pengaruh medan listrik

Diberi medan listrik :

Gambar 1.2 Muatan pada atom dalam pengaruh medan listrik

D. Atenuansi gelombang elektromagnetik


Gelombang dapat mengalami atenuansi karena terjadinya penyerapan oleh medium
yang menjadi tempatnya merambat. Atenuansi dari gelombang elektromagnetik dapat
mengakibatkan penurunan kedalaman yang dapat dicapai. Ada beberapa sifat fisik yang
dimiliki medium yang dapat menimbulkan atenuansi, diantaranya:
a. Relative dielektrik permittivity (RDP)
RDP merupakan tingkat keterpengaruhan oleh medan listrik, jadi batasan besarnya
muatan yang dapat terpengaruh oleh medan listrik. RDP menjadi karakteristik dari suatu
medium, dengan nilai yang bervariasi. Secara matematis dapat dirumuskan:

RDP( ) = (c / V)2

(1.11)

Dengan c adalah kecepatan cahaya di ruang vakum ( 3 X 108 m/s ) dan V adalah
kecepatan gelombang radar pada sebuah material.
Nilai RDP ini berkisar antara 1 (udara) sampai 81 ( air ), pada umumnya tergantung dari
kadar air pada sebuah material. Semakin tinggi nilai RDP maka akan semakan kecil
penetrasi dari gelombang radar ini akibat semakin membesarnya atenuasi ( pelemahan
energi gelombang ). Perbedaan nilai RDP antara dua medium akan menentukan
pemantulan gelobang radar, dan akan terjadi pemantulan jika nilai kontras dielektrik
minimal sama dengan 1.
Kekuatan pemantulan = 2 - 1 / 2 + 1
1: RDP pada medium 1

2: RDP pada medium 2


b. Konduktivitas
Konduktivitas adalah kemampuan suatu medium untuk menghantarkan suatau
energy baik itu arus, panas ataupun gelombang. Nilai konduktivitas yang tinggi akan
menghambat penetrasi dari gelombang radar ( atenuansi besar ).
Nilai konduktivitas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah
kelembaban dan salinitas ( kadar garam), semakin tinggi kelembaban maka nilai
konduktivitas akan meningkat. Hal tersebut dapat terjadi akibat dari air yang tersisip
dalam pori yang dimiliki batuan melarutkan garam-garam yang terdapat di dalamnya
sehingga terbentuk larutan elektrolit. Begitupun dengan kadar garam, semakin tinggi
kadar garam pada sebuah medium, sehigga GPR sulit digunakan pada eksplorasi di
lautan.
Oleh karena itu lapisan tanah yang memiliki konduktivitas tinggi seperti lempung
tidak cocok untuk dijadikan wilayah investigasi GPR.

c. Permeabilitas magnetik
Permeabilitas magnet adalah perbandingan rapat fluks magnet di dalam suatu bahan
terhadap kuat magnet luar. Jika disederhanakan kemampuan suatu bahan untuk
ditembus medan magnet. Jika nilai permeabilitas dari suatu medium tinggi maka akan
menghambat penetrasi dari gelombang radar. Hampir kebanyakan jenis tanah memiliki
nilai permeabilitas magnet kecil.

Tabel 1. Tabel nilai konduktivitas dan RDP pada beberapa medium.

E. Refleksi dan transmisi gelombang elektromagnetik


Ketika gelombang elektromagnetik ditembakan kepada sebuah target gelombang
tersebut tidak secara keseluruhan dipantulkan, ada bagian yang di transmisikan.
Gelombang yang tertransmisi dapat menjadi pelemah dari tangkapan refleksi pertama,
begitupun sebaliknya bagian gelombang yang terefleksikan akan melemahkan
perambatan gelombang transmisi.

Gelombang
refleksi

Gelombang
datang

Gelombang
transmisi

Gambar 1.3. Skema gelombang ketika merambat.

Pelemahan tersebut dapat ditulis:


R

Dan

r1 r 2
V2 V1

V2 V1
r 2 r1

2V2
V2 V1

Penjalaran Gelombang
Pada saat gelombang elektromagnetik dirambatkan, gelombang tersebut akan
mengalami berbagai pola perambatan. Secara umum semua jenis gelombang, yaitu:
a.

Merupakan gelombang transversal.

b.

Merambat lurus

c.

Arah rambat tidak dapat dibelokkan dalam medan listrik dam medan magnet

d.

Dapat dipantulkan (releksi)

e.

Dapat melentur (difraksi)

f.

Pembiasan

g.

Dapat Berinteferensi

h.

Dapat dipolarisasikan

Gelombang elektromagnetik dapat mengalami refleksi, refraksi ataupun difraksi ketika


merambat, dapat ditunjukkan pada Gambar 1.4, Gambar 1.5 dan Gambar 1.6 berikut:
GEM

Gambar 1.4. Penjalaran gelombang yang mengalami refleksi.


GEM
scatering

Gambar 1.5. Penjalaran gelombang yang mengalami scattering

(menghasilkan pola difraksi).

Gambar 1.6. Pola difraksi yang muncul ketika terjadi scattering.

1.2 Prinsip Kerja GPR

Pada umumnya data GPR merupakan kumpulan dari rekaman gelombang yang
memiliki jarak dalam sebuah lintasan. Gelombang elektromagnetik yang ditransmisikan
dari antenna ke tanah kemudian dilakukan pengukuran waktu yang dilalui antara
penghantaran pulsa dan ketika kembali tertangkap oleh alat di permukaan. Waktu yang
dibutuhkan dari pengiriman gelombang hingga penerimaan kembali disebut dengan
two-way travel time.
Dalam perjalanannya menuju target utama, gelombang akan mengalami perubahan
kecepatan. Perubahan kecepatan tersebut tergantung pada sifat fisika dan kimia material
yang dilaluinya. Jika diketahui travel times dari gelombang dan kecepatan rambat
gelombang pada medium tempat sebuah objek tertanam maka dapat ditentukan posisi
benda secara akurat.
Gelombang radar merambat pada medium udara ataupun tanah dalam bentuk energi
elektromagnetik, yang merupakan hasil dari osilasi arus secara terus menerus pada
medium yang konduktif dan memperoleh tambahan hasil berupa medan magnet.
Gelombang ini dapat mengalami pelemahan atau pun hilang jika mengalami atenuansi,
absorpsi ataupun konduksi yang menyebabkan gelombang sulit untuk merambat. Akan
tetapi jika pada udara atau ruang angkasa yang tidak mengabsorpsi dan memantulkan,

maka gelombang ini akan merambat hingga ke jarak tak terhingga.

Gambaran

sederhana prinsip kerja GPR ditunjukkan pada Gambar 1.7.

Gambar 1.7. Gambaran sederhana prinsip kerja GPR

Pada GPR yang terekam adalah kumpulan dari trace yang merupakan gabungan dari
beberapa wavelet dengan berbagai macam lapisan di bawah permukaan bumi. Setiap
lapisan di permukaan tanah jika memiliki kontras yang cukup besar akan memberikan
gambaran wavelet yang berbeda. Selain kontras Real Dielectric Permitivity (RDP),
perbedaan kemempuan suatu medium untuk meredam intensitas medan listrik
yang melalui medium tersebut, dan konduktivitas penetrasi dari gelombang pun
mempengaruhi wavelet yang terbentuk pada suatu lapisan, umumnya semakin jauh dari
permukaan tanah gelombangnya akan melemah dan lama kelamaan akan menghilang
akibat adanya absorpsi attaupun atenuansi.
Terdapat beberapa sifat dari material yang mempengaruhi respon terhadap GPR,
diantaranya perbedaan jenis tanah atau batuan dan kelembapan yang terkandung di
dalamnya. Setiap lapisan tanah ataupun batuan memiliki RDP dan konduktivitas yang
berbeda. Konduktivitas yang tinggi mempersulit penetrasi dari gelombang radar. Untuk

konduktivitas diatas 0.01 S/m ( resistivitasnya > 100 ohm.m ) adalah nilai yang sangat
menyulitkan penetrasi gelombang, maka untuk daerah dengan karakter seperti ini
kurang baik untuk eksplorasi GPR.
Tabel 2. Tabel harga konduktivitas, kecepatan, RDP dan ( parameter yang
berhubungan dengan skin depth) beberapa bahan.
Material

K or

(mS/m)

(m/ns)

(dB/m)

Air

0.3

Distilled

80

0.01

0.033

0.002

Fresh water

80

0.5

0.033

0.1

Sea Water

80

3000

0.01

1000

Dry Salt

5-6

0.01-1

0.13

0.01 1

Ice

3-4

0.01

0.16

0.01

Dry Sand

3.5

0.01

0.15

0.01

Wet Sand

20-30

0.1-1

0.06

0.03-0.3

Shales &

5-20

1-1000

0.08

1-100

Silt

5-30

1-100

0.07

1-100

Limestone

4-8

0.5-2

0.2

0.4-1

Granite

4-6

0.01-1

0.13

0.01-1

water

Clay

1.3 Frekuensi gelombang yang digunakan pada metode GPR


GPR menggunakan frekuensi dengan rentang yang cukup tinggi seperti ditunjukkan
pada Gambar 1.8. Terdapat berbagai frekuensi yang digunakan oleh berbagai alat yang

memanfaatkan GEM. Dari mulai saluran telfon selular hingga radio. Hal ini
mengakibatkan sensitifitas yang cukup tinggi pada alat GPR.

Gambar 1.8. Range frekuensi yang digunakan pada GPR

Secara sederhana frekuensi yang digunakan pada GPR terbagi menjadi tiga rentang,
yaitu frekuensi tinggi, sedang dan rendah, tergantung pada target kedalaman yang ingin
di eksplorasi (Gambar 1.9)..

Gambar 1.9. Perbedaan kedalaman berbagai frekuensi.


Adapun faktor yang berpengaruh dalam menentukan tipe antena yang digunakan, sinyal
yang ditransmisikan, dan metode pengolahan sinyal yaitu :
1.

Jenis objek yang akan dideteksi

2.

Kedalaman objek

3.

Karakteristik elektrik medium tanah atau properti elektrik.

Tugas Pendahuluan
1.

Apa yang membedakan metode GPR dengan metode EM lainnya?

2.

Bagaimana konsep dasar metode GPR dan parameter fisis apa yang diamati?

3.

Sebutkan beberapa contoh aplikasi metode GPR dan berikan ilustrasi respon yang
akan dihasilkannya!

Tugas Akhir
1. Buatlah artikel singkat mengenai metode GPR dan bagaimana aplikasi yang dapat
dilakukan dalam bidang lingkungan!

GPR-02
PENGENALAN ALAT

Alat Ground Peneterating Radar (GPR)


Alat GPR terdiri dari tiga komponen utama yaitu transmitter, receiver dan unit control.
Unit control akan selalu terhubung dengan display system, hal ini mempermudah untuk
melakukan kontrol pada pengambilan data. Kelebihan dari metode GPR adalah reltime,
karena kita bisa melihat langsung hasil pengambilan data yang dilakukan, maka Quality
Control data dapat dilakukan dengan cepat. Secara umum cara kerja alat GPR dapat
digambarkan sebagai berikut

Display

rekam

komputer

timing

Kabel fiber
optik

Unit kontrol

Antenna
transmiter

Kabel fiber
optik
Antenna
receiver

Gambar 2.1 Skema proses jalannya signal dalam GPR

Berdasarkan antenanya, alat GPR terbagi menjadi 2 jenis:


1. Antena Shielded, dengan rentang frekuensi 100-1000 MHz
2. Antena Unshielded, 25-200 MHz

Salah satu jenis antenna unshielded GPR merupakan antenna yang dapat digunakan
di medan yang berumput dan terjal dengan frekuensi 25 MHz. Jenis antenna seperti
ini biasa disebut dengan Rough Terrain dengan panjang 13.06 m ( jarak Tx-Rx: 6
m) berat: 7.8 kg

Gambar 2.2 Antena GPR

Selain antenna, perangkat yang penting pada pengukuran data GPR adalah control unit
(Gambar 2.3). Control Unit adalah pusat otak untuk sistem GPR dan bertanggung jawab
untuk mengkoordinasikan operasi komponen subordinat. Salah satu jenis control unit
yang sering digunakan adalah

jenis Pro-Ex yang merupakan produk dari

MalaGeoscience dengan spesifikasi alat sebagai berikut :

Gambar 2.3 Control Unit GPR

Power supply: Li-Ion 12V battery


Waktu operasi : 5 jam

Temperature ketika operasi: -20 to +50C / 0 to 120 F


Environmental: IP67
Dimensi (cm): 32.5 (panjang) x 22.2
(lebar) x4.2 (tinggi)
Berat: 1.9 kg

Dengan dibantu oleh software groundvision akan nampak hasil pengukuran seperti pada
gambar

Gambar 2.4 Tampilan gambar pada software GroundVision

Tugas Pendahuluan
1. Sebutkan dan jelaskan bagian-bagian dari alat GPR!
2. Apa bedanya antenna shielded dan unshielded? Sebutkan kelebihan dan
kekurangannya!
Tugas Akhir
1. Berikan ilustrasi singkat prinsip kerja alat GPR, dengan menjelaskan input dan
outputnya!
2. Buatlah sketsa blok instrumentasi untuk alat GPR!

GPR-03
AKUISISI DATA
Terdapat tiga cara penggunaan sistem radar yakni : reflection profiling (antenna
monostatik ataupun bistatik); wide angle reflection and refraction (WARR) atau
Common Mid Point (CMP) sounding; dan tranillumination atau radar tomography.
1. Radar Reflection Profiling
Cara ini dilakukan dengan membawa antenna radar bergerak bersamaan di atas
permukaan tanah di mana nantinya hasil tampilan pada radargram merupakan kumpulan
tiap titik pengamatan (Gambar 3.1).

Gambar 3.1. Skema akuisisi tipe Radar Reflction Profiling


2. Wide Agle Reflection and Refraction (WARR) atau Common Mid Point (CMP)
Cara WARR sounding dilakukan dengan menaruh transmitter pada posisi yang tetap
dan receiver dibawa pada area penyelidikan (Gabar 3.2). WARR sounding diterapkan
pada kasus dimana bidang reflektor relatif datar atau memiliki kemiringan yang rendah,
karena asumsi ini tidak selalu benar pada kebanyakan kasus maka digunakan CMP
sounding (Gambar 3.3) untuk mengatasi kelemahan tersebut. Pada CMP sounding
kedua antenna bergerak menjauhi satu sama lainnya dengan titik tengah pada posisi
yang tetap.

Gambar 3.2. Skema akuisisi tipe WARR

Gambar 3.3. Skema akuisisi tipe CMP


Dengan menggunakan metode CMP dapat dilakukan analisis kecepatan. Data CMP
dapat dianalisis dengan menggunakan prinsip yang sama dengan analisis pada seismik.

3.

Transillumination atau Radar Tomography

Metoda ini dilakukan dengan cara menempatkan transmitter dan receiver pada posisi
yang berlawanan (Gambar 3.4). Sebaggai contoh jika transmitter diletakan pada satu
satu sisi, maka receiver diletakan pada sisi yang lain dan saling berhadapan. Umumya
metoda ini digunakan pada kasus non-destructive testing (NDT) dengan menggunakan
frekuensi antenna yang tinggi sekitar 900 MHz.

Gambar 3.4 Ilustrasi pengambilan data dengan metode Transillumination


Secara garis besar pengambilan data GPR dapat dibuat seperti diagram berikut (Gambar
3.5) :

Gambar 3.5 Diagram alir akuisisi data GPR


Lokasi penelitian dan target dari akuisisi menentukan jenis penggunaan tipe
penyimpanan antena dan receiver, frkuensi GPR yang digunakan. Pada desain survey
terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan seperti ditunjukkan pada Gambar 3.6.

Penentuan line pada lokasi penelitian

Penentuan nilai sampel, sampling frekuensi, timewindow dan time


interval disesuaikan dengan lokasi penelitian

Kalibrasi alat dengan melakukan pengukuran statis

Akuisisi data

Raw data

Gambar 3.6 Bagan alur kerja pengambilan data lapangan

Pada pengambilan data terdapat beberapa pengaturan antenna yang disesuaikan dengan
objek yang di amati pada pengamatan kali ini masih menggunakan cara try end error
sebagai bahan pembelajaran. Dengan parameter antenna yang digunakan sebagai
berikut:

Sampel

Besarnya nilai sampel tergantung kebutuhan dari eksplorasi, penentuan nilai sampel
sangat berkaitan pada ketebalan (thikness) dari medium yang akan dieksplorasi. Jika
aplikasi GPR untuk mengetahui statigrafi lapisan dengan ketebalan yang kecil maka
dibutuhkan nilai sample yang besar karena apabila nilai samplenya kecil ada
kemungkinan lapisannya tidak terdeteksi.

Gambar 3.4 A. analog signal. B. Sample signal

Frekuensi

Nilai ini disesuaikan dengan wilayah yang akan di eksplorasi dan benda yang ingin
diamati, nilai ini akan menentukan penetrasi dari gelombang. Jika benda yang ingin
diamati kecil < 50 cm sebaiknya menggunkan nilai sampling frekuensi yang cukup
besar. Nilai sampling frekuensi ini diatur ketika awal pengukuran untuk memperoleh
wavelet yang di harapkan.

Time interval

Nilai yang dimasukan pada time interval adalah waktu yang dibutuhkan antar transmisi
gelombang. Semakin kecil nilainya maka akan semakin jelas data yang diperoleh namun
penetrasinya tidak terlalu dalam. Penentuan nilai time interval harus diimbangi dengan
kecepatan gerak antenna.

Antenna

Penggunaan antenna ini sesuai dengan kebutuhan sampai sekarang antenna yang
digunakan bervariasi dari 10MHz 1000 MHz. Besarnya frekuensi antenna
mempengaruhi kedalaman dari pernetrasi gelombang yang dipancarkan.

Antenna separation

Nilai jarak antara antenna disesuaikan dengan antenna yang digunakan untuk eksplorasi
yang dilakukan.

Time window

Time window sangat berhubungan dengan frekuensi, nilainya saling berkaitan dan saling
mempengaruhi. Perubahan nilai sampling frekuensi mempengaruhi besarnya nilai time
window, pada dasarnya nilainya sama hanya bentuk tampilan yang berbeda.
Pada pengambilan data GPR, diperlukan parameter inputan yang perlu diperhatikan dan
dihitung sebagai berikut:
1. Frekuensi kerja yang dipilih

R
c

75
Z r

MHz

2. Time Window
W 1,3

2 kedalaman
kecepa tan

3. Sampling Interval
t

1000
6 fc

4. Jarak Antar Stasiun Pungukuran

nX

c
4 fc r

75
f r

5. Offset (Jarak Antara Receiver dan Transmitter)

2 kedalaman

r 1

Tugas Pendahuluan
1. Jelaskan aplikasi yang dapat digunakan untuk masing-masing tipe system
penggunaan GPR!
2. Buatlah desain akuisisi data untuk target lapisan sedimen dengan tebal
lapisan 0.5 m!
Tugas Akhir
1. Buat laporan lapangan pengambilan data GPR dengan lengkap!

GPR-04
PENGOLAHAN DATA DAN INTERPRETASI
Setelah dilakukan pengambilan data langkah berikutnya adalah mengolah data agar
dapat lebih mudah di interpretasikan. Pengolahan data pada GPR dilakukan dengan
menggunakan software reflexw salah satunya. Software ini berfungsi untuk membuat
data hasil rekaman GPR lebih mudah dilihat dengan memperjelas atau menguatkan
pola-pola difraksi pada rekaman. Hasil dari pengolahan inilah yang nantinya akan di
analsis dan di intepretasikan.
Data yang dapat diolah dengan software ini adalah data yang memiliki format rd3,
terdapat beberapa langkah sebagai pengolahan data dasar dari mulai penghilangan noise
hingga penguatan amplitudo yang terekam pada saat pengambilan. Alur prosesing data
GPR ditunjukkan pada Gambar 4.1.

RAW data

filter

Static correction/muting

gain

Data Hasil

Interpretasi data
Gambar 4.1 Bagan Alur kerja pengolahan data GPR

Tahapan pengolahan data sederhana yang dapat digunakan:

a. Substract-mean filter ( Dewow )


Dari raw data tersebut langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan 1-D filter,
pada pengolahan ini digunakan dewow. Dewow adalah langkah awal basic processing,
biasanya digunakan sebagai filter untuk menghapus frekuensi yang sangat kecil pada
data. Frekuensi kecil ini biasanya diakibatkan oleh phenomena induksi. Pada dewow
yang menjadi parameter adalah timewindow, nilai yang dimasukan berupa nilai mean
dari trace yang dipilih. Nilai ini disesuaikan dengan melihat contoh hasil trace yang
telah mengalami filter. Noise dengan frekuensi kecil diusahakan hilang.
b. Move start time
Tahapan ini diperlukan akibat ketika melakukan pengukuran wavelet tidak terletak pada
time zero, untuk mempermudah prosesing berikutnya maka waktu pertama terbentuknya
gelombang dikembalikan pada posisi semula.
c. Static correction
Setelah dilakukan dewow digunakan static correction dan memindahkan starttimenya,
diperlukan akibat adanya delay wakt pada two-way travel time. Agar kita bisa
mengkoreksi topografi sehingga menemukan posisi time zero sebenarnya.
Pada saat pemotongan gambar untuk memudahkan dibutuhkan bantuan zoom atau untuk
lebih jelas kita lihat bentuk wigglenya sehingga memperoleh hasil yang optimal, agar
tepat sejajar semua garis yang terpotong.
d. AGC (automatic gain control)
Langkah selanjutnya lakukan gain, penguatan pada amplitude agar pola difraksi yang
muncul lebih jelas. Gain yang digunakan AGC, Pada gain ini kita secara otomatis
menguatkan seluruh data, pada gain ini kita dapat menentukan lebarnya time window
yang dijadikan nilai penguatnya. Proses ini digunakan untuk mempermudah interpretasi
data.
e. Bandpass-filter
Filter ini memerlukan empat nilai batasan, high cut, low cut, high peteau dan low
peteau. Pada filter ini kita dapat memilih batasan frekuensi yang bisa diloloskan untuk
memperoleh data yang lebih baik.

Setelah dilakukan pengolahan data, untuk target pelapisan sedimen, agar


mempermudah interpretasi, maka dilakukan proses picking velocity dari lapisan
reflektor yang terlihat pada hasil prosesing dan dibuat model pelapisan tanah yang
terbentuk.

Interpretasi data
Setelah dilakukan pengolahan data sederhana pada data hasil pengukuran GPR dapat
dilakukan interpretasi sederhana pada hasil pengolahan tersebut (Gambar 4.2).
a.

Data hasil pengukuran jembatan

Tiang
Lampu
Gambar 4.2 Contoh data hasil pengambilan data GPR untuk
jembatan dan tiang besi

b.

Data hasil pengukuran gorong-gorong

Gambar 4.3 Data hasil pengukuran gorong-gorong

Gambar 4.4 Data hasil pengukuran gorong-gorong dan kabel telphone

Gambar 4.5 Data hasil pengambilan data unuk menentukan bidang gelincir

Tugas Pendahuluan
1. Sebutkan dan jelaskan tahapan pengolahan data GPR?
2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis filter yang biasa digunakan dalam pengolahan
data GPR?

Tugas Akhir
1. Dengan menggunakan data pengambilan data untuk menghitung batimetri
sungai, lakukan pengolahan data dengan menggunakan software reflex!
2. Lakukan analisa dengan membandingkan data hasil GPR dengan data hasil
pengukuran batimetri sebagai berikut?

Anda mungkin juga menyukai